Anda di halaman 1dari 20

A.

Tujuan
1. Mahasiswa dapat mengidentifikasi macam-macam komponen ligkungan, pada 6
(enam) sistem lingkungan yang berbeda.
2. Mahasiswa dapat mengetahui keterkaitan, atau interaksi antar komponen pada
masing-masing sistem lingkungan yang diperbandingkan.
3. Mahasiswa dapat menyatakan pendapatnya tentang kesempurnaan masing-masing
sistem lingkungan dibandingkan berdasar pada kelengkapan komponen fugsional
masing-masing (setidaknya dari segi arus energi dan siklus materi).
4. Mahasiswa dapat menyatakan pendapatnya, gagasan atau ide, tentang masing-
masing sistem lingkungan yang diperbandingkan untuk pengelolaan selanjutnya.

B. Alat dan Bahan


1. Alat dan Bahan
a. Tali rafia 4x4 m
b. Handphone
c. Alat tulis
2. Format tabulasi data untuk merekam informasi atau data hasil pengamatan
mengenai komponen lingkungan dan keadaan (kondisinya).

C. Cara Kerja
1. Menetapkan 6 (enam) lokasi sebagai daerah studi:
(1) Plunyon, Cangkringan, Sleman, Yogyakarta.
(2) Umbul Lanang, Kali Kuning, Kinahrejo, Cangkringan, Sleman, Yogyakarta.
(3) Pos 1 Srimenganti Jalur Pendakian Gunung Merapi.
(4) Kinahrejo, Cangkringan, Sleman, Yogyakarta.
(5) Petilasan Mbah Hadi, Kinahrejo, Cagkringan, Sleman, Yogyakarta.
(6) Jalur Akasia, Kinahrejo, Cangkringan, Sleman, Yogyakarta.
2. Menentukan sampel objek pada masing-masing lokasi lingkungan dengan cara
ploting, membuat plot-plot (4x4 m) untuk mewakili masing-masing lokasi
lingkungan sebanyak 1 atau 2 plot.
3. Mengamati informasi atau data dari masing-masing sampel lingkungan, dengan
cara mengidentifikasi komponen lingkungan dengan segala kondisinya.
D. Dasar Teori
Lingkungan secara umum mengandung pengertian yang sangat erat hubungannya
dengan kehidupan manusia. Karena itu lingkungan secara eksplisit diartikan sebagai
lingkungan hidup bagi manusia. Dalam pengertian ini komponen lingkungan dapat terdiri
atas komponen:
• Fisis (udara, tanah, dan air)
• Biologis
• Sosio-kultural dan sosio-ekonomis (Wuryadi, 1983: 5)
Lingkungan dapat juga diartikan sebagai suatu sistem kompleks yang berada diluar
individu yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan organisme. Lingkungan
bersifat dinamis yang berarti berubah-ubah setiap saat. Perubahan dan perbedaan yang
terjadi baik secara mutlak maupun relatif dari faktor-faktor lingkungan terhadap tumbuh-
tumbuhan akan berbeda-beda menurut waktu, tempat, dan keadaan tumbuhan itu sendiri
(Zoer’aini, 1992: 109).
Tiap lingkungan tersusun atas komponen-komponen masing-masing yang secara
teratur dan terkontrol membentuk saling hubungan dalam kesatuan yang disebut
ekosistem. Tiap ekosistem tersusun atas keseimbangan antara materi dan energi yang
diatur melalui suatu rangkaian siklus materi dan arus energi antara komponen biotik dan
abiotik. Pengaturan (regulasi) untuk menjamin terjadinya keseimbangan ini merupakan
ciri khas suatu ekosistem dan apabila keseimbangan ini tidak dapat diperoleh maka akan
mendorong terjadinya dinamika perubahan ekosistem untuk mencapai keseimbangan baru
(Wuryadi, 1983: 7).
Siklus-siklus pengubahan materi energi yang terjadi secara alami tidak dapat
dilepaskan dari berbagai peranan biologik makhluk-makhluk hidup. Peranan ini secara
singkat dapat digambarkan sebagai berikut:
Tiap ekosistem memerlukan tenaga masukan. Sumber energi yang paling utama
dalam hal ini adalah sinar matahari. Energi ini dipergunakan oleh produser untuk
melakukan proses fotosintesis, yaitu penggabungan secara khemis CO2 dengan H2O
menjadi senyawa organik kaya energi misalnya glukosa. Produser-produser tersebut
terutama adalah tanaman berdaun hijau, yaitu ganggang di kolam atau lautan, pohon-
pohon di hutan, dan rumput-rumputan, serta plankton di perairan tawar maupun lautan
(Wuryadi, 1983: 9).
Senyawa organik yang dihasilkan oleh produser sebagian terbesar dipergunakan bagi
pertumbuhan dan metabolismenya sendiri namun sebagian dimanfaatkan oleh konsumer
primernya yaitu herbivora, seperti kambing, sapi, kerbau, kelinci, dan lain-lainnya.
Binatang-binatang lain seperti kucing, serigala, burung pemakan serangga, adalah
karnivora yang makan binatang-binatang herbivora tersebut di atas. Karnivora
merupakan konsumer sekunder dan sementara itu herbivora menjadi produser
sekundernya. Karnivora sekunder atau konsumer tersier mempergunakan binatang
karnivora tersebut di atas sebagai sumber makanannya (Wuryadi, 1983: 9-10).
Ini semua merupakan rantai makanan yang berujung sebagai karnivora puncak.
Namun dalam kenyataannya, tidak selalu satu konsumer mempergunakan satu produser
dan satu produser dipergunakan oleh satu konsumer. Oleh karena itu, bentuk hubugan
makanan antara produser dan konsumernya dapat berbentuk sebagai jaring-jaring
makanan (Wuryadi, 1983: 10).
Semuaorganisme tersebut di atas dalam masa hidupya dapat dimanfaatkan oleh
konsumer mikro yang berkedudukan sebagai parasit. Limbah dan sisa-sisa tubuh
organisme yang telah mati menjadi bahan detritus yang dapat dipergunakan oleh
detritivora atau reduser sebagai sumber makanannya. Reduser yang berupa bakteri dan
jamur mengubah detritus ini menjadi mineral dan senyawa anorganik kembali untuk
memasuki kembali siklus materi selama energi sinar matahari tetap ada(Wuryadi, 1983:
10). Namun, kenyataan alami menunjukkan bahwa tidak semua bahan organik dapat
dikembalikan sepenuhnya menjadi bahan-bahan anorganik. Bahan organik yag tidak
dapat dipecah sepeuhnya menjadi bahan anorganik misalya lignin, asam humat, dan
senyawa-senyawa fenolik (Wuryadi, 1983: 12).Manusia sendiri secara alami dapat
megambil peran sebagai salah satu bagian konsumer sekunder atau tersier yang sangat
bergantung pada ekosistemnya (Wuryadi, 1983: 10).
Namun manusia sebagai makhluk sosial yang berbudaya, kadang-kadang mempunyai
kepentingan yang bertentangan dengan mekanisme alami yang terjadi pada ekosistemnya.
Dalam kedudukan seperti ini maka manusia dapat berperan sebagai destruktor (perusak)
ekosistemnya sendiri (Wuryadi, 1983: 10).
Secara sederhana, gambaran ekosistem alami tersebut di atas dapat disajikan dalam
bentuk skema seperti terlihat di bawah ini:
(Wuryadi, 1983: 11)
Komponen biotik dalam ekosistem lingkungan pada dasarnya terdiri atas biophag
yang mempergunakan makhluk hidup lain sebagai sumber energinya, saprophag yang
mempergunakan bahan bahan organik mati sebagai sumber energi, dan autotroph yang
mempergunakan bahan anorganik sebagai sumber materi. Biophag dan saprophag
merupakan makhluk heterotroph yang dalam kenyataannya dapat berupa konsumer makro
dan konsumer mikro (Wuryadi, 1983: 11).
Siklus materi yang melibatkan makhluk-makhluk hidup dan juga yang memberi
peluang peluang kehidupan bagi makhluk-makhluk hidup tersebut merupakan siklus
makanan. Siklus ini sangat mendasar sifatnya dan mempunyai sifat yang mengikat sekali
terhadap komponen-komponen sistem. Siklus makanan ini merupakan bagian dari
rangkaian proses trasfer materi-energi dan dengan demikian tidak dapat terlepas dari
Hukum Termodinamika I dan II (Wuryadi, 1983: 13).
Hukum Termodinamika I: meyebutkan bahwa energi dapat diubah dari suatu
bentuk ke bentuk yang lain, tetapi tidak pernah dapat diciptakan ataupun dimusnahkan.
Dalam arti kata lain maka terjadi kekekalan energi di dalam alam (Wuryadi, 1983: 13).
Hukum Termodinamika II: menyebutkan bahwa pada dasarnya tidak pernah
diperoleh suatu sistem konversi energi yang benar-benar efisien 100%. Selalu terdapat
bagian energi yang tidak dapat dikonversikan dan degan demikian tidak dapat
dimanfaatkan oleh sistem kehidupan (lingkungan hidup). Energi tersebut disebut sebagai
entropi (Wuryadi, 1983: 13).
Dalam siklus makanan, entropi berbentuk sebagai bahan organik yang tidak dapat
dikonversikan kembali menjadi bahan aorganik (mineral, air, da gas CO2). Dengan
pengertian seperti ini maka dapat dinyatakan bahwa siklus makanan tidak sepenuhnya
efisien 100% (Wuryadi, 1983: 13).
Rantai makanan yang terjadi antar organisme mulai dari produser sampai ke
konsumer terminalnya, merupakan rangkaian konversi energi dengan hasil samping
entropinya. Kompleksitas struktur ekosistem merupakan jaminan efisiensi yang lebih
baik. Karena itu secara alamiah perkembangan ekosistem selalu menuju ke kompleksitas
dan dengan demikian menuju kepada efisiensi dalam konversi energi. Dalam keadaan
yang seperti ini yang umum terjadi adalah jaring-jaring makanan (food web) (Wuryadi,
1983: 13-14).
Hubungan antara organisme dengan lingkungan bersifat timbal balik, artinya
keberhasilan hidup hewan sangat ditentukan oleh kondisi dan sumberdaya yang terdapat
di lingkungan tersebut. Semua faktor abiotik dan biotik yang ada disekitar sangat
berpengaruh (Agus Dharmawan, 2005: 13).
Selain faktor biotik dan abiotik, dalam lingkungan juga terjadi interaksi antar
individu-individu dari berbagai spesies lain dalam komunitas. Interaksi timbal balik
antara komponen biotik dan abiotik membentuk ekosistem. Hubungan antara organisme
dengan lingkungannya menyebabkan terjadinya aliran energi serta siklus materi dalam
sistem itu. Selain aliran energi, di dalam ekosistem terdapat juga tingkatan trofik
(berkaitan dengan proses makan dan dimakan) (Campbell, 2010:380).

Tabel Tipe Interaksi Antara Dua Spesies (Starr: 1978)


Efek langsung dari interaksi
No. Tipe interaksi
Spesies 1 Spesies 2
1 Netral 0 0
2 Komensalisme + 0
3 Mutualisme + +
4 Kompetensi interspesifik - -
5 Predasi + -
6 Parasitisme + -
E.
F. Pembahasan
Observasi dengan topik utama yaitu “Lingkungan sebagai Suatu Sistem” dilakukan
disekitar wilayah lereng selatan Gunung Merapi Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
Objek observasi dibagi menjadi 6 wilayah transek yang masing-masing transek memiliki
posisi geografis yang berbeda. Tujuan observasi ini ialah mampu mengidentifikasi
macam-macam komponen lingkungan pada sistem lingkungan yang berbeda, mengetahui
keterkaitan, atau interaksi antar komponen pada masing-masing sistem lingkungan,
menyatakan pendapat tentang kesempurnaan sistem lingkungan berdasar pada
kelengkapan komponen fungsional, serta menyatakan pendapat, gagasan atau ide tentang
sistem lingkungan untuk pengelolaan selanjutnya.
Lokasi observasi merupakan daerah yang berada di bagian selatan sekitar Gunung
Merapi. Gunung Merapi berada di tengah pulau Jawa yang merupakan salah satu gunung
api teraktif di Indonesia. Lereng sisi selatan berada dalam administrasi Kabupaten
Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan sisanya berada dalam wilayah Provinsi Jawa
Tengah, yaitu Kabupaten Magelang di sisi barat, Kabupaten Boyolali di sisi utara dan
timur, serta Kabupaten Klaten di sisi tenggara. Kawasan hutan di sekitar puncaknya
menjadi kawasan Taman Nasional Gunung Merapi sejak tahun 2004.
Letusan Gunung Merapi yang terjadi pada Selasa, 26 Oktober 2010 secara dominan
mengakibatkan kerusakan atau bahkan musnahnya segala kehidupan yang berada pada
titik rawan Gunung Merapi. Hutan tropis yang pada awalnya memiliki vegetasi beragam
menjadi gundul dan gersang akibat semburan lava pijar dan awan panas. Kerusakan yang
terjadi mengakibatkan perubahan yang sangat drastis di wilayah sekitar Gunung Merapi,
termasuk wilayah sekitar kawasan Gunung Merapi yang berada di Yogyakarta.
Tidak hanya di kawasan pemukiman, di kawasan hutan yang menjadi habitat makhluk
hidup selain manusia dan jarang sekali terjamah oleh tangan-tangan manusia atau para
pendaki, yang kemungkinan memiliki vegetasi tumbuhan beragam mulai dari Lichenes,
rumput, herba, semak dan pohon akhirnya lenyap akibat letusan Gunung
Merapi.Lenyapnya seluruh sumberdaya yang berasal dari wilayah Gunung Merapi tidak
serta merta menghilangkan energi yang dihasilkan dari sumberdaya tersebut. Energi dari
sumberdaya yang digunakan oleh makhluk hidup yang ada disekitar wilayah tersebut
tidak hilang melainkan energi tersebut berubah ke bentuk energi lain. Hal ini sesuai
dengan kaidah ilmu lingkungan yang berbunyi “Energi dapat ditranformasikan dari satu
bentuk ke bentuk lain, akan tetapi tidak dapat hilang atau dihancurkan”.
Ilmu lingkungan dikembangkan dengan ekologi sebagai dasar. Jika ekologi
mempelajari susunan serta fungsi seluruh makhluk hidup dan komponen kehidupan
lainnya maka ilmu lingkungan mempelajari tempat dan peranan manusia diantara
makhluk hidup dan komponen kehidupan lainnya. Menurut Moh. Soerjani (1987, 3-5)
lingkungan hidup adalah sistem kehidupan dimana terdapat campur tangan manusia
terhadap tatanan ekosistem. Oleh karena itu menurut batasan yang ada dalam Undang-
Undang No. 4/1982 tentang ketentuan pokok pengelolaan lingkungan hidup. Lingkungan
hidup adalah sistem yang merupakan kesatuan dengan semua benda, daya keadaan dan
makhluk hidup termasuk manusia dan perilakunya yang menentukan perikehidupan serta
kesejahteraan manusia dan makhluk hidup lainnya.
Interaksi antara komponen abiotik dan komponen biotik yang ada menjadikan
lingkungan sebagai suatu sistem kehidupan yang saling terkait untuk mendukung suatu
ekosistem. Pada bahasan ekologi manusia memiliki posisi yang sama sebagai aktor
(komponen biotik) dalam mendukung terciptanya suatu kestabilan ekosistem. Namun
dalam kenyataannya (bahasan ilmu Lingkungan) manusia memiliki andil yang lebih besar
(dibanding makhluk hidup lain) dalam memanipulasi keadaan ekosistem yang
ada.Banyak sedikitnya jumlah tumbuhan ataupun hewan di alam disebabkan oleh perilaku
manusia sebagai pengelola, dan kondisi alam sebagai suksesinya.
Kami menentukan objek observasi menjadi 6 wilayah transek yang
harapannyamasing-masing dapat mewakili gambaran sistem lingkungan yang ada
disekitar kawasan Gunung Merapi di Provinsi D.I.Yogyakarta. Berikut ini merupakan
paparan lingkungan disekitar wilayah Gunung Merapi yang kami observasi pasca letusan
yang terjadi pada tahun 2010. Observasi dilakukan pada bulan Maret 2017.

1. Transek 1
Observasi untuk objek ini dilakukan pada Sabtu, 04 Maret 2017 pukul 10.30 WIB.
Lokasi transek ini berada di wilayah Plunyon, Cangkingan, Sleman, Yogyakarta.
Lokasi yang kami amati merupakan daerah yang dekat dengan lembah (sungai). Pada
lokasi pengamatan banyak tumbuh pohon pinus ditepi bukit, dengan tanah yang
ditutupi oleh rumput gajah. Selain itu disekitar plot yang kami buat ditemukan banyak
kayu-kayu yang dijadikan sebagai alas tempat duduk dan sampah-sampah (khususnya
sampah plastik) berserakan didekat tempat duduk yang terbuat dari semen. Melihat
dari keadaan lingkungan yang ada dapat disimpulkan bahwa lokasi ini sering dijamah
oleh manusia. Memang, kawasan ini merupakan sebuah obyek wisata alam.
Pengunjung maupun pihak pemangku kepentingan di sini tidak mengelola
lingkungan berdasarkan ekologi. Manusia sebagai makhluk sosial yang berbudaya,
kadang-kadang mempunyai kepentingan yang bertentangan dengan mekanisme alami
yang terjadi pada ekosistemnya. Dalam kedudukan seperti ini maka manusia dapat
berperan sebagai destruktor (perusak) ekosistemnya sendiri (Wuryadi, 1983: 10).
Peran manusia disini (tindakan membuang sampah sembarangan) bisa jadi merugikan
bagi manusia lain, makhluk hidup dan lingkungan serta mengganggu komposisi
stabilnya suatu ekosistem.
Pada transek ini kami membuat plot dengan ukuran 2m x 2m. Komponen abiotik
pendukung ekosistem pada transek ini tidak kami amati menggunakan alat ukur. Hasil
perolehan data yang kami dapatkan melalui prakiraan, sehingga ketepatan data yang
kami peroleh bisa dibilang kurang akurat. Suhu udara saat melakukan observasi yaitu
290C diukur menggunakan Smartphone. Angin bertiup pelan, udara saat pengamatan
dapat dikatakan sejuk, pengamatan dilakukan setelah turun hujan sehingga
kelembaban udara yang ada cukup lembab (tinggi) dan intensitas cahaya matahari
rendah. Sedangkan dari bagian edafik, plot yang kami buat memiliki tekstur tanah
yang padat dengan struktur tak berhumus dan tak berpasir. Tanah pada transek ini
memiliki porusitas yang rendah.
Selain komponen abiotik yang teramati kami juga mengamati komponen biotik
yang berada dalam plot kami. Kami menemukan rumput gajah yang hampir 70%
menutupi wilayah plot yang kami buat, pinus (Pinus merkusii), sirsak (Annona
muricata),rumput lain, belalang (Valanga sp.), laba-laba (Argiope sp.), semut
(Dolichoderus sp.), lalat (Musca domestica), dan Nyamuk (Anopheles sp.).
Dari komponen-komponen biotik yang ditemukan tumbuhan seperti rumput gajah,
pinus (Pinus merkusii), sirsak (Annona muricata), rumput lain dikelompokkan
kedalam kategori produser. Dimana tumbuhan ini masing masing dapat mengolah
sendiri nutrisi untuk tubuhnya dan menghasilkan nutrisi yang dapat digunakan oleh
makhluk hidup lain seperti hewan dan manusia. Sedangkan belalang (Valanga sp.),
laba-laba (Argiope sp.), semut (Dolichoderus sp.), lalat (Musca domestica), dan
Nyamuk (Anopheles sp.) merupakan kelompok konsumen, dimana mereka
memperoleh nutrisi (sumber energi) dari produser langsung (konsumen I) atau dari
hewan lainnya (konsumen II/III). Kelengkapan suatu ekosistem juga dipengaruhi
adanya kelompok dekomposer. Dimana kelompok ini memiliki peran dalam mengurai
sisa-sisa makhluk hidup. Sehingga hasil penguraian sisa-sisa makhluk hidup yang
masih memiliki energi dapat ditranformasi ke bentuk energi lain yang dapat
digunakan kembali. Dalam pengamatan kami, kami tidak menemukan unsur makro
dari kelompok dekomposer. Dari komponen-komponen biotik yang kami temukan
saat melakukan observasi kami dapat membentuk suatu kemungkinan jaring-jaring
makanan (salah satu proses pengalihan energi) yang terjadi antar interaksi komponen
biotik. Berikut ini merupakan jaring-jaring makanan yang kami bentuk:

Rumput gajah, Belalang (Valanga laba-laba (Argiope


rumput lain pinus
(Pinus merkusii),
sirsak (Annona
muricata) Semut (Dolichoderus Nyamuk (Anopheles

lalat (Musca

Dalam jaring-jaring makanan yang dibentuk diatas, semua produser berasal dari
tumbuhan, sedangkan konsumen dapat menempati tingkat I maupun konsumen
tingkat II sekaligus. Misalnya semut, semut dapat dikelompokkan menjadi konsumen
I karena semut memperoleh energi langsung dari produsen (sirsak /Annona muricata),
semut dikategorikan dalam kelompok konsumen II jika mereka memperoleh energi
tidak langsung dari tumbuhan (belalang). Persoalan seperti semut ini dapat juga
dikelompokkan dalam kelompok hewan omnivora.

Berdasarkan komponen rantai makanan tersebut dapat digambarkan bahwa lokasi


tersebut memiliki komponen ekosistem yang sudah cukup lengkap. Artinya bahwa
system lingkungan di lokasi tersebut sudah cukup lengkap walaupun tidak sempurna
karenaekosistemnya masih belum stabil. Hal tersebut ditandai dengan salah satu
komponen rantai makanannya belum lengkap. Komponen yang lengkap ditandai
dengan adanya produsen sampai dekomposer. Kelengkapan suatu ekosistem juga
dipengaruhi adanya kelompok decomposer, dimana kelompok ini memiliki peran
dalam mengurai sisa-sisa makhluk hidup. Sehingga hasil penguraian sisa-sisa
makhluk hidup yang masih memiliki energy dapat ditranformasi ke bentuk energy
lain yang dapat digunakan kembali. Dalam pengamatan kami, kami tidak menemukan
unsure makro dari kelompok decomposer.

2. Transek 2
Observasi untuk objek ini dilakukan pada Sabtu, 11 Maret 2017 pukul 11.25 WIB.
Lokasi transek ini berada di wilayah Umbul Lanang, Kalikuning, Kinahrejo, Sleman,
Yogyakarta. Lokasi plot yang kami amatimerupakan daerah yang dekatdenganlembah
(sungai). Dibandingkan dengan lokasi pada transek 1, intensitas adanya manusia pada
lokasi transek tempat kami observasi tidak memiliki frekuensi yang lebih tinggi. Bisa
dikatakatan bahwa transek tempat kami melakukan observasi tidak sering dijamah
oleh manusia.
Ukuran plot pada transek sebesar 4m x 4m. Komponen abiotik pendukung
ekosistem pada transek ini tidak kami amati menggunakan alat ukur. Suhu udara saat
melakukan observasi yaitu 220C diukur menggunakan Smartphone. Angin bertiup
pelan dengan kecepatan angin 1,2 m/s, udara yang dapat dirasakan saat pengamatan
dapat dikatakan dingin sejuk, pengamatan dilakukan dengan cuaca mendung berawan
sehingga kelembaban udara yang tinggi dengan ukuran kelembaban udara sebesar
90% dan intensitas cahaya matahari rendah sekitar 0,3 lux. Sedangkan dari bagian
edafik, plot yang kami buat memiliki tekstur tanah yang kasar dengan struktur
merupakan berpasir. Tanah pada transek ini memiliki porusitas yang agak tinggi
karena mudah dilalui air. Kelembaban cukup tinggi 42% sehingga berasa dingin dan
suhu tanah sebesar 230C.
Selain komponen abiotik yang teramati kami juga mengamati komponen biotik
yang berada dalam plot kami. Komponen biotik yang kami temukan selanjutnya kami
kelompokkan menjadi 3 kelompok besar yaitu kelompok produser, konsumer dan
dekomposer. Berikut ini merupakan data biotik yang kami temukan pada plot yang
kami buat:
Tingkat Tropik Macam Ukuran Keterangan
Produsen Tanaman A 10 cm 6
Tanaman B 30cm-100cm >50
Mimosa sp. 20cm 2
Ageratum conyzoides 30cm 10

Konsumer Solenopsis invicta kecil 6


(Semut merah)
Delichoderus thoracicus kecil >10
(Semut hitam)
Lepidoptera (Kupu- sedang 1
kupu)
Dekomposer

Semua tumbuhan yang kami temukan digolongkan kedalam kelompok produser


dengan pertimbangan bahwa semua tumbuhan yang kami temukan memiliki zat hijau
daun klorofil yang merupakan komponen utama dalam fotosintesis tumbuhan untuk
mengolah nutrisi (kelompok autrotrof). Tumbuhan pada plot yang kami buat termasuk
pula dalam kelompok tumbuhan herba dan semak. Selain kelompok produser kami
dapat pula menemukan komponen biotik lain yang dalam suatu jaring makanan
memiliki tingkat trofik sebagai konsumen, baik konsumen I maupun II. Organisme
yang memiliki posisi sebagai konsumen I atau Konsumen II yaitu Semut merah
(Solenopsis invicta), Semut hitam (Delichoderus thoracicus) dan Kupu-kupu
(Lepidoptera). Sedangkan kelompok dekomposer secara makroskopis pada plot yang
kami buat tidak ditemukan. Berikut ini merupakan rantai makanan yang dapat kami
bentuk dari komponen biotik yang ditemukan:

Tanaman A
Tanaman B Semut merah (Solenopsisinvicta),
Mimosa sp. Semut hitam(Delichoderus thoracicus),
Ageratum conyzoides Kupu-kupu (Lepidoptera)
Ageratum conyzoides
Dari gambaran rantai makanan diatas secara ekologi belum dapat dikatakan suatu
aliran energi yang lengkap, dimana pada bagan diatas hanya bisa dibentuk satu
interaksi antara produser dan konsumen tingkat I.

3. Transek 3
Observasi untuk objek ini dilakukan pada Sabtu, 04 Maret 2017. Lokasi transek
ini berada di POS 1 Srimenganti jalur pendakian Gunung Merapi via Kinahrejo.
Lokasi transek yang kami amati dapat ditempuh selama 2 jam berjalan dari petilasan
Mbah Maridjan. Transek yang kami amati termasuk daerah yang jarang dijamah oleh
manusia. Hanya pada waktu tertentu saja, misal pendakian Gunung Merapi atau acara
Labuhan penduduk saja daerah ini didatangi manusia. Dibanding dengan transek yang
lain, transek yang kami amati termasuk daerah yang memiliki variasi tumbuhan yang
lebih banyak dan sudah ditemukan banyak tumbuhan tinggi yang dapat tumbuh
ditransek ini. Selain itu, hewan yang kami temukan juga lebih bervariasi dibanding
dengan transek lainnya. Artinya bahwa wilayah transek ini sudah mampu menjadi
habitat ekosistem bagi organisme hidup yang ada.
Komponen abiotik yang kami amati juga berdasarkan prakiraan, sehingga data
yang kami peroleh kurang akurat. Suhu udara pada saat pengamatan sekitar 31,50C.
Kondisi cahaya di transek kami cukup terang dengan kelembaban 50% dan kecepatan
angin yang kecil berarah ke arah timur. Tanah memiliki suhu 200C, dengan tekstur
tanah yang padat dan memiliki kelembaban yang cukup tinggi karena pengamatan
dilakukan setelah hujan. Porusitas tanah cukup kecil jika dibandingkan dengan
transek lain yang diamati. Namun bisa dikatakan tinggi jika dibandingkan dengan
tanah yang ada di kota, misal tanah yang ada di sekitar kampus UNY.
Pada transek ini kami membuat 2 plot area pengamatan dengan masing-masing
berukuran 4m x 4m. Kami menemukan komponen biotik pada kedua plot yang
masing-masing kemudian kami kelompokkan kedalam kelompok produser, konsumer,
dan dekomposer. Pada plot pertama kami menemukan tumbuhan seperti Eupatorium
reparium, Impatiens platypetala, Pohon X, pohon Y, serta Lichen. Sedangkan pada
plot kedua kami menemukan tumbuhan berupa lumut, paku-pakuan, Lichen,
tumbuhan herba, Eupatorium reparium dan pohon Z. Seluruh tumbuhan tersebut
berperan sebagai produser dalam suatu ekosistem yang tercipta pada plot yang kami
amati.
Kemudian kelompok yang memerankan fungsi konsumen baik tingkat I dan II
adalah hewan-hewan yang kami temukan dalam plot. Hewan yang kami temukan
pada plot 1 yaitu Ulat, laba-laba, nyamuk dan belalang. Sedangkan pada plot kedua
kami tidak menemukan satupun hewan. Dari data yang kami dapatkan kami dapat
menentukan kemungkinan jaring-jaring makanan yang terjadi antar organisme yang
ada. Berikut adalah jaring-jaring makan antar organisme dari plot 1 dan 2.

Belalang
Tumbuhan
Ulat Laba-laba

Nyamuk

Tumbuhan menjadi produser bagi para konsumer, dimana tumbuhan mampu


menyediakan energi bagi dirinya sendiri maupun organisme lain (konsumen).
Belalang, ulat dan nyamuk dikelompokkan kedalam kelompok konsumen tingkat I
karena memperoleh energi langsung dari produsen (tumbuhan). Sedangkan laba-laba
dalam tingkatan trofik energi termasuk kedalam kelompok konsumen tingkat II yaitu
konsumen yang mendapat energi tidak langsung dari produser melainkan dari
konsumen tingkat I.

4. Transek 4
Observasi untuk objek ini dilakukan pada Sabtu, 11 Maret 2017 pukul 09.00 WIB
sampai 10.00 WIB. Lokasi transek ini berada di wilayah Kinahrejo, Sleman,
Yogyakarta. Lokasi observasi dapat ditemukan dari Petilasan rumah mbah Maridjan
berjalan kearah timur sekitar 2-4 menit. Transek 4 ini termasuk daerah yang sepi
namun sering dijamah oleh manusia. Terbukti banyak jejak ban sepeda motor trail
yang ada di sini. Transek ini berupa lahan berpasiryang kasar dan berbatu. Setelah
letusan Gunung Merapi, wilayah transek ini belum banyak ditumbuhi oleh tumbuhan
tinggi. Secara makro, transek yang kami amati seperti suatu tanah lapang yang
gersang dan berbatu.
Pada transek ini kami membuat 2 plot area untuk diamati. Masing-masing plot
berukuran 4m x 4m. Pada saat pengamatan suhu udara terasa dingin atau rendah,
dengan intensitas cahaya rendah karena langit mendung (berawan). Angin bertiup
cukup kencang, dengan kelembaban udara sekitar 50%. Sedangkan keadaan edafik
tanah pada plot yang kami amati berupa tanah yang kasar, berpasir atau sebagian
berbatu (kerikil). Tanah dalam plot kami memiliki kelembaban yang cukup tinggi dan
porusitas yang ada bisa dikatakan tinggi (lebih tinggi dibanding transek 1-3).
Plot 1 merupakan daerah yang terjamah manusia, ditemukan tilas tapak ban
kendaraan dan ditemukan sampah bungkus makanan sebanyak 2 buah. Tumbuhan
yang kami temukan dalam plot yang kami buat yaitu Asplenium caudatum,
Eupatorium triplinerve vahl, Imperata cylindrica, Borreria, Muntingan calabura,
tanaman F1, Anaphalis javanica, Pityrogramma calomelanos, tanaman I1, tanaman
J1, tanaman K1, dan sphagnum sp.
Plot 2 yang kami amati seperti halnya plot 1 daerah ini sudah dijamah manusia,
terbukti dengan banyaknya sampah sisa-sisa makanan manusia lebih dari 5 buah.
Tumbuhan yang dapat tumbuh di transek ini khususnya plot 2 yaitu Ilex verticulata,
Eleusine indica, Anaphalis javanica, Aster umbellatus, Sphagnum sp., Borreria
latifolia, Cyperus rotundus, Asplenium caudatum, Borreria, dan Eupatorium
triplinerve vahl. Hewan yang ditemukan pada kedua plot hanyalah semut. Keadaan
lingkungan dengan komponen tanah yang berpasir dan berbatu belum memungkinkan
adanya nisia ataupun habitat bagi hewan lain.
Komponen biotik yang ada dapat dikelompokkan menjadi 2 kelompok yaitu
kelompok produser yang diperankan oleh tumbuhan yang ada dan peran konsumen
dimiliki oleh semut. Rantai makanan yang terjadi belum komplek jika dilihat dari data
biotik yang kami temukan dalam kedua plot. Kami tidak mengamati adanya
organisme yang berperan sebagai dekomposer. Berikut merupakan rantai makanan
dari objek yang ditemukan.

Seluruh tembuhan yang


semut
ditemukan dalam plot area

Dari gambaran rantai makanan diatas secara ekologi belum dapat dikatakan
suatu aliran energi yang lengkap, dimana pada bagan diatas hanya bisa dibentuk satu
interaksi antara produser dan konsumen tingkat I.
5. Transek 5
Tempat pengambilan data di Petilasan rumah MbahAdi, Kinahrejo, Cangkringan,
Sleman, Yogyakarta. Waktu pengambilan data Sabtu, 11 Maret 2017 pukul 09.00-
09.30 WIB. Keadaan lokasi tempat kami mengambil data tersebut keadaannya cukup
panas dengan intensitas cahaya cukup tinggi ditambah keadaan lokasi yang tidak
ternaung, tetapi kecepatan angin rendah sehingga udara disekitarnya cukup lembab
dengan tekstur tanah yang kasar. Lokasi tersebut merupakan bekas rumah atau
petilasan rumah dari salah satu warga korban erupsi merapi yaitu Mbah Adi.
Substrat dari lokasi tersebut adalah tanah, dengan keadaan tersebut vegetasi yang
menghuni lokasi tersebut juga beragam, diantaranya Pennisteum purpureum, Mimosa
pudica, Cyperus rotundus, Laurentina longiflora, Maniho tutilisima, Pteridium
aquilinum, Synderella nodiflora, Ageratum conyzoldes, Musa sp. Hewan-hewan yang
menghuni lokasi tersebut dijumpai uret atau larva kumbang (Lepidiota stigma) dan
Scapanes australis.
Dari vegetasi yang tumbuh di lokasi tersebut notabene adalah tumbuhan yang
dapat hidup di lingkungan yang cukup lembab atau lingkungan rumahan, karena
tempat tersebut merupakan petilasan rumah. Sehingga lokasi tersebut sudah terjamah
oleh manusia tetapi masih dalam kategori sedikit dan jarang.
Organisme yang dapat hidup ditempat tersebut artinya sesuai dengan kondisi dan
sumber daya lingkungannya. Melihat organism terutama hewan dilokasi tersebut tidak
begitu banyak artinya bahwa sumber daya dilingkungan tersebut kurang dan kondisi
lingkungan tidak memungkinkan untuk hidup hewan-hewan herbivor, karnivor,
sampai pengurai. Selain factor biotic dan abiotilk hubungan timbale balik antara
lingkungan dengan organism dapat diwujudkan dalam rantai makanan dengan adanya
aliran energy sebagai berikut:
Pennisteum purpureum
Mimosa pudica
Cyperu srotundus
Lepidiota stigma
Laurentina longiflora
Scapanes australis
Maniho tutilisima
Pteridium aquilinum Konsumen 1
Synderella nodiflora
Ageratum conyzoldes
Musa sp.

Produser

Tumbuhan menjadi produser bagi para konsumer, dimana tumbuhan mampu


menyediakan energi bagi dirinya sendiri maupun organisme lain (konsumen). Uret
atau larva kumbang (Lepidiota stigma) dan Scapanes australis dikelompokkan
kedalam kelompok konsumen tingkat I karena memperoleh energy langsung dari
produsen (tumbuhan).
Berdasarkan komponen rantai makanan tersebut dapat digambarkan bahwa lokasi
tersebut memiliki komponen ekosistem yang tidak lengkap. Artinya bahwa system
lingkungan di lokasi tersebut belum lengkap sehingga belum terjadi kestabilan
ekosistem. Berdasarkan gambaran rantai makanan diatas secara ekologi belum dapat
dikatakan suatu aliran energi yang lengkap, dimana pada bagan diatas hanya bisa
dibentuk satu interaksi antara produser dan konsumen tingkat I.

6. Transek 6
Tempat pengambilan data berada di Petit (hulu) SungaiOpak, Kinahrejo,
Umbulharjo, Cangkringan, Sleman, Yogyakarta. Waktu pengambilan data Sabtu, 11
Maret 2017 pukul 11:00 WIB. Keadaan lokasi tempat pengambilan data tersebut
keadaan udaranya bersuhu 250C dengan intensitas cahaya cukup tinggi ditandai
dengan saat pengambilan data langit cerah berawan. Lokasi tersebut merupakan bekas
aliran sungai Opak sehingga disebut Petit Opak. Sehingga dapat digambarkan bahwa
kondisi lingkungan dilokasi ini banyak batu-batu besar hingga kecil disekitarnya,
substratnya sendiri adalah pasir sehingga memiliki daya porusitas yang tinggi. Tekstur
dari substrat tersebut sangat kasar dan kering. Lokasi ini berada dibawah tebing-
tebing tinggi dan merupakan jalur tumbuhan akasia.
Berdasarkan gambaran lingkungan tersebut organisme yang menghuni lingkungan
tersebut sangat khas yaitu tumbuhan yang hidup di lingkungan yang kering dengan
substrat pasir. Tumbuhan yang hidup dikawasan inia dalah Akasia, Rumput Gajah,
Paku-pakuan, Edelweiss, Sesembukan, Kerojadan Lichen. Sedangkan hewan yang
hidup di lokasi ini tidak begitu beragam hanya ditemukan semut hitam, semut merah,
laba-laba, belalang hijau, dan belalang coklat. Ciri khas dari lokasi ini adalah
hidupnya tumbuhan Edelweiss yang notabene hanya dapat hidup didataran tinggi
dengan substrat pasir dan kering. Lokasi ini sudah terjamah oleh manusia karena
dekat dengan kawasan wisata, hanya saja masih dalam kategori sedikit atau jarang,
ditemukan pula adanya penambangan pasir yangartinya sudah ada campur tangan
manusia dalam ekosistem ini.
Selain factor biotic dan abiotik, dalam lingkungan juga terjadi interaksi antar
individu-individu dari berbagai spesies lain dalam komunitas. Interaksi timbale balik
antara komponen biotic dan abiotik membentuk ekosistem. Hubungan antara
organism dengan lingkungannya menyebabkan terjadinya aliran energy serta siklus
materi dalam system itu. Selain aliran energi, di dalam ekosistem terdapat juga
tingkatan trofik (berkaitan dengan proses makan dan dimakan) (Campbell, 2010:
380).
Hubungan timbale balik antara organism dan lingkungannya dilokasi tersebut
diwujudkan dalam aliran energy dalam sebuah system rantai makanan berikut :

Akasia BelalangHij Laba-Laba


Edelweiss
Sembukan Semut
Keroja Merah
Rumput Gajah S
Paku-pakuan BelalangCokla Laba-Laba
Lycen Scavenge

Konsumer 1 Konsume
Produser

Tumbuhan menjadi produser bagi para konsumer, dimana tumbuhan mampu


menyediakan energi bagi dirinya sendiri maupun organisme lain (konsumen).
Belalang dikelompokkan kedalam kelompok konsumen tingkat I karena memperoleh
energi langsung dari produsen (tumbuhan). Sedangkan laba-laba dalam tingkatan
trofik energi termasuk kedalam kelompok konsumen tingkat II yaitu konsumen yang
mendapat energi tidak langsung dari produser melainkan dari konsumen tingkat I.
Semut selain dalam kategori kelompok omnivora juga dapat sebagai scavenger yaitu
pemakan sisa-sisa organisme tetapi tidak diuraikan kedalam energi kembali untuk
ditransformasikan.
Berdasarkan komponen rantai makanan tersebut dapat digambarkan bahwa lokasi
tersebut memiliki komponen ekosistem yang sudah cukup lengkap. Artinya bahwa
sistem lingkungan di lokasi tersebut sudah cukup lengkap walaupun tidak sempurna
karena ekosistemnya masih belum stabil. Hal tersebut ditandai dengan salah satu
komponen rantai makanannya belum lengkap. Komponen yang lengkap ditandai
dengan adanya produsen sampai dekomposer. Dalam ekosistem ini belum dijumpai
dekomposer tetapi masih scavenger yaitu semut. Kelengkapan suatu ekosistem juga
dipengaruhi adanya kelompok dekomposer. Dimana kelompok ini memiliki peran
dalam mengurai sisa-sisa makhluk hidup. Sehingga hasil penguraian sisa-sisa
makhluk hidup yang masih memiliki energi dapat ditranformasi ke bentuk energi lain
yang dapat digunakan kembali. Dalam pengamatan, kami tidak menemukan unsur
makro dari kelompok dekomposer. Kemudian di lokasi ini juga tidak dijumpai adanya
organisme yang besar.

Adanya perbedaan lokasi tempat pengambilan data tetapi masih dalam kawasan yang
sama yaitu kawasanGunungMerapipascaerupsimembuat kami dapat mengetahui
bagaimana keadaan kawasan Gunung Merapi pascaerupsi. Berdasarkan data yang kami
dapatkan lokasi yang masih asli dan belum terjamah oleh manusia adalah POS 1
Srimenganti jalur pendakian Gunung Merapi hal tersebut ditandai dengan dibandingkan
dengan transek yang lain, transek ini termasuk daerah yang memiliki variasi tumbuhan
yang lebih banyak dan sudah ditemukan banyak tumbuhan tinggi yang dapattumbuh
ditransekini. Selain itu, hewan yang kami temukan juga lebih bervariasi dibanding dengan
transek lainnya.Artinya bahwa wilayah transek ini sudah mampu menjadi habitat
ekosistem bagi organisme hidup yang ada.Kemudian untuk wilayah yang sudah terjamah
manusia atau manusia sudah ikut terlibat dalam ekosistem tersebut adalah wilayah
Plunyon, Cangkingan, Sleman, Yogyakarta. Hal tersebutditandaidenganditemukannya
disekitar plot yang dibuatbanyakkayu-kayu yang dijadikansebagai alas
tempatdudukdansampah-sampah (khususnyasampahplastik) berserakan
didekattempatduduk yang terbuatdari semen. Melihatdarikeadaanlingkungan yang
adadapatdisimpulkanbahwalokasiiniseringdijamaholehmanusia.

Menanggapi hal tersebut, terbukti bahwa manusia kenyataannya memiliki peranan


yang dominan dibandingkan komponen abiotik lainnya dalam sebuah sistem lingkungan.
Dimana manusia sendirilah yang akan membawa dan merubah ekosistem dilingkungan
tersebut. Kegiatan dan perbuatan manusialah yang nantinya akan mementukan bagaimana
kestabilan ekosistem dalam suatu sistem lingkungan. Agar terjadi kestabilan
ekosistem,hendaknya manusia memiliki kesadaran atas peranannya dalam sebuah
ekosistem, mampu mengendalikan dirinya untuk tidak serakah terhadap sumber daya
lingkungannya karena tidak hanya manusia yang membutuhkan tetapi makhluk hidup
lain, yaitu tumbuhan dan hewan yang ada disekitarnya.

G. Kesimpulan
Adanya sistem lingkungan yang berbeda, menyebabkan adanya perbedaan pula pada
komponen-komponen lingkungan yang ada. Lingkungan yang sedikit atau bahkan belum
dijamah manusia memiliki komponen biotik yang dapat dikatakan lebih banyak/beragam
daripada lingkungan yang sering dijamah manusia. Hal ini membuat interaksi atau
keterkaitan antarkomponen tersebut lebih beragam pula jika dibandingkan lingkungan
yang banyak dijamah manusia. Jika dilihat dari data yang kami temukan di lapangan dan
pembahasan di atas, tingkat kesempurnaan dari 2 sistem lingkungan yang berbeda
belumlah terlalu sempurna, mengingat pada semua plot tidak ditemukan adanya
dekomposer. Namun pada lingkungan dengan komponen yang lebih beragam (lingkungan
sedikit terjamah), siklus materi akan berlangsung lebih lama karena energi yang
digunakan juga lebih besar. Mengingat kawasan observasi ini memiliki potensi pariwisata
yang besar, maka diperlukan kesadaran dari semua pihak terutama pemerintah, pengelola
obyek wisata, dan pengunjung untuk mempertimbangkan aspek-aspek lingkungan guna
menjaga kelestarian ekosistem kawasan tersebut.
H. Daftar Pustaka
Campbell, Neil A. 2010. Biologi. ed 8thjilid 2. Jakarta: Erlangga.
Dharmawan, Agus. 2005. Ekologi Hewan. Malang: UM Press.
Soerjani, Moh, dkk. 1987. Lingkungan: Sumberdaya Alam dan Kependudukan dalam
Pembangunan. Jakarta: UI-Press.
Starr, Cecie dan Ralph Taggart. 1978. Biology The Unity and Diversity of Life. New
York: McGraw-Hill, Inc.
Wuryadi. 1983. Ilmu Pengetahuan Ligkungan Dasar dan Terapannya. Yogyakarta: IKIP
Yogyakarta.
Zoer’aini. 1992. Prinsip-Prinsip Ekologi. Jakarta: Bumi Aksara.