Anda di halaman 1dari 7

MODUL 2

POUR POINT TEST

2.1 Tujuan Percobaan


a) Menentukan titik kabut (cloud point) untuk minyak mentah.
b) Menentukan titik tuang (pour point)untuk minyak mentah.
c) Menentukan titik beku (cold point) untuk minyak mentah.

2.2 Teori Dasar


Pada perjalanan dari formasi menuju permukaan, minyak bumi mengalami
penurunan temperatur. Apabila hal ini tidak diwaspadai, maka akan terjadi
pembekuan minyak di dalam pipa, sehingga tidak bisa lagi untuk mengalir.
Penurunan temperatur ini akan memyebabkan suatu masalah yang akan menjadi
besar akibatnya apabila tidak segera diatasi.
Harus diketahui dimana minyak mengalami perubahan temperatur, agar
dapat mengetahui atau mengantisipasi dan mengambil tindakan yang terbaik agar
minyak dapat ditranspotasikan secara lancar dari formasi ke permukaan sesuai
dengan kebutuhan. Untuk mengatasi hal tersebut di atas, kita dapat mengambil
sample minyak formasi dan mengadakan uji coba untuk mengetahui titik kabut,
titik beku, dan titik tuang minyak tersebut. Definisi dari titik kabut, titik beku, dan
titik tuang adalah sebagai berikut :
1. Titik kabut adalah temperatur dimana lilin parafin atau padatan lain mulai
mengkristal atau memisahkan diri dari larutan bila minyak didinginkan
pada kondisi tertentu.
2. Titik beku adalah temperatur terendah dimana minyak sudah tidak dapat
bergerak lagi atau mengalir lagi.
3. Titik tuang adalah temperatur terendah dimana minyak masih dapat
dituang atau mengalir bila minyak tersebut didinginkan dengan tanpa
diganggu pada kondisi yang ditentukan.
Titik kabut dan titik tuang berfungsi untuk mendeterminasi jumlah relatif
kandungan lilin pada crude oil, namun tes ini tidak menyatakan jumlah kandungan
lilin secara absolut, begitu juga kandungan materi solid lainnya di dalam minyak.

11
Dikarenakan pada transportasi minyak dari formasi ke permukaan
mengalami penurunan temperatur dan tekanan sehingga membuat kita harus
memperhatikan kapan minyak mengalami pembekuan dan cara bagaimana supaya
tidak terjadi proses pembekuan dengan mengetahui besar dari titik kabut, titik
beku, dan titik tuangnya.
Titik beku, titik tuang, dan titik kabut dipengaruhi oleh komposisi
penyusun minyak. Maksudnya, pada minyak berat lebih banyak mengandung
padatan-padatan jika dibandingkan dengan minyak ringan yang lebih banyak
mengandung gas sehingga minyak berat yang lebih dulu mengalami pembekuan
dari pada minyak ringan. Jadi untuk menghindari pembekuan maka diusahakan
agar temperatur minyak yang diproduksi tetap stabil.
Titik beku suatu minyak memiliki angka temperatur yang lebih rendah
dibandingkan dengan angka temperatur titik tuang maupun titik kabutnya. Dan
titik kabut merupakan angka temperatur yang paling tinggi dibandingkan titik
tuang maupun titik beku. Sesuai dengan definisi titik tuang, titik kabut, dan titik
beku dapat diperkirakan bahwa titik kabut minyak memiliki temperatur lebih
rendah daripada titik kabutnya.
Salah satu sifat hampir semua minyak adalah membeku menjadi semi
fluid atau massa solid yang sukar bergerak jika padanya terjadi penurunan
temperature. Test titik kabut umumnya dilakukan pada minyak yang dihasilkan
dengan destilasi. Test ini menentukan temperatur dimana Wax (lilin paraffin)
mulai mengkristal dan terpisah dari minyak membentuk semacam kabut tipis.
Test ini dilakukan untuk menentukan temperature dimana minyak tidak
dapat mengalir lagi. Besarnya pour point berbeda – beda untuk setiap tipe minyak
tergantung pada komposisi zat yang dikandungnya. Untuk melaksanakan test ini,
sample minyak ditempatkan pada tube atau gelas ukur yang dilengkapi
termometer. Kemudian sample diletakkan di tengah-tengah kotak es yang sudah
berisi es untuk diamati temperature dan fluidanya. Untuk menentukan titik kabut,
sample diamati pada tiap penurunan temperature 2 ˚F (-16.6667 ˚C) hingga
terbentuk endapan (kabut). Sedangkan untuk titik tuang, sample diamati pada tiap
penurunan suhu 5 ˚F (-15 ˚C) hingga minyak tidak mengalir lagi jika dituangkan.

12
2.3 Alat dan Bahan
a) Gelas Ukur
b) Es Batu
c) Termometer
d) Kotak Es
e) Bio Diesel B 80 dan B 100

Gambar 2.3.a Gelas Ukur

Gambar 2.3.c Es Batu

13
Gambar 2.3.c Termometer

Gambar 2.3.d Kotak Es

Gambar 2.3.e Bio Diesel B 80 dan B 100

14
2.4. Prosedur Percobaan
Penentuan Titik Kabut ( Cloud Point ) dan Titik Beku ( Cold Point )
a) Mengambil sample dan memasukkannya ke dalam tube atau gelas ukur
sampai garis batas.
b) Menyiapkan es didalam kotak es
c) Memasukkan thermometer ke dalam tube atau gelas ukur.
d) Meletakkan tube atau gelas ukur yang berisi sample dan thermometer di
tengah-tengah kotak es yang sudah berisi es.
e) Mengamati temperatur dan kondisi sample yang diteliti setiap 3 menit.
f) Mencatat pembacaan temperatur ( dalam Celcius atau Fahrenheit ) pada
saat terjadinya kabut atau disebut juga Cloud Point.
g) Kemudian melanjutkannya sampai sample diyakini telah membeku
atau Cold Point.

Penentuan Titik Tuang ( Pour Point )


a) Setelah mendapatkan titik beku, mengeluarkan tube yang berisi sample
dari dalam bath pada kondisi sample masih beku.
b) Mendiamkan pada temperatur kamar.
c) Mengamati perubahan temperatur pada saat seluruh sample dapat
dituangkan. Melaporkan temperatur tersebut sebagai Pour Point.

(a) (b) (c)


Gambar 2.4.1. Proses Pengujian Pour Point Test.

15
2.5 Analisa
Dalam spesifikasi bahan bakar, pour point merupakan salah satu sifat yang
sangat penting khususnya di daerah subtropis. Biasanya nilai pour point dibatas
sebagai nilai maksimal. Salah satu hampir semua minyak terutama bahan bakar
adalah membeku menjadi semi fluida atau massa solid yang sukar bergerak
jika padanya terjadi penurunan temperatur.
Besarnya pour point berbeda-beda untuk setiap tipe minyak tergantung
pada komposisi zat yang dikandungnya. Untuk melaksanakan test ini, sample
bahan bakar minyak jenis solar ditempatkan pada tube atau gelas ukur yang
berisi sample solar di letakkan ditengah-tengah kotak es yang berisi batu es.
Untuk pengamatan, sample tersebut diamati setiap 3 menit dengan 3 kali
percobaan.
Sample yang diuji seperti berikut ini :
Sample Waktu (Menit) Suhu Keterangan
3 Menit Berwujud kabut dapat mengalir
7,8°C
Pertama lancar
Berwujud hampir es namun
B100 3 Menit Kedua 6,9°C
masih mengalir
Berwujud es dan tidak dapat
3 Menit Ketiga 5,1°C
mengalir
3 Menit
8°C Berwujud titik-titik kabut
Pertama
B80 3 Menit Kedua 7,6°C Berwujud kabut
Berwujud es namun masih dapat
3 Menit Ketiga 6,6°C
mengalir

Hal tersebut dapat dijelaskan bahwa bahan bakar tipe B 100 bila berada
pada temperatur yang sangat rendah dan pada waktu yang sama maka wujud
bahan bakar tersebut cenderung menjadi padat dan bahan bakar tidak mengalir
sama sekali, sedangkan bahan bakar tipe B 80 bila berada temperatur yang
sangat rendah dan pada waktu yang sama memang wujudnya susah padat
namun aliran bahan bakar masih terlaksana dengan baik.

16
2.6 Kesimpulan
Berdasarkan percobaan yang sudah dilakukan dapat diambil kesimpulan
bahwa bahan bakar terutama solar mempunyai titik kabut, titik beku, dan titik
tuang pada suhu-suhu tertentu.
Apabila viskositas dan densitas bahan bakar tinggi maka titik bekunya itu
semakin kecil. Jadi, apabila suatu bahan bakar memiliki titik kabut dan titik
beku yang rendah, maka dapat dipastikan bahan bakar tersebut memiliki
viskositas yang tinggi, karena viskositas yang tinggi maka kualitas bahan bakar
tersebut buruk.

17