Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN KASUS

Tanggal Pemeriksaan : 13-06-2017


Ruangan : Kasuari Bawah RSU Anutapura
Jam : 08.30 WITA

IDENTITAS
Nama : Ny. M Nama Suami : Tn. S
Umur : 26 tahun Umur : 34 tahun
Alamat : Jl. Gawalise No.35 Alamat : Jl. Gawalise
No.35
Pekerjaan : IRT Pekerjaan : Wiraswasta
Agama : Islam Agama : Islam
Pendidikan : SMA Pendidikan : SMA

ANAMNESIS
G3P1A1 Usia Kehamilan : 7-8 minggu
HPHT : 11-04-2017 Menarche : ± 11 tahun
TP : 18-01-2018 Perkawinan : 9 tahun

Keluhan Utama : Perdarahan dari jalan lahir


Riwayat Penyakit Sekarang :
Pasien masuk IGD Kebidanan diantar oleh keluarganya dengan keluhan
keluar darah dari jalan lahir, sejak kurang lebih 1 minggu yang lalu. Darah yang
keluar sedikit-sedikit, berwarna merah segar tidak disertai gumpalan. Pasien
mengatakan 1-2 kali mengganti celana dalam, dalam sehari. Keluhan ini disertai
nyeri perut pada bagian bawah. Riwayat mual (+) dan muntah (+) .

Pasien sebelumnya sudah pernah ke praktek dokter swasta dan melakukan


pemeriksaan, dari hasil USG menurut dokter praktek swasta pasien mengalami
kehamilan kosong, dan dianjurkan untuk dilakukan kuretase.
Riwayat Penyakit Dahulu :

- Keluhan serupa (-) sebelumnya


- Keguguran (+)
- Riwayat asma (-)
- Diabetes melitus (-)
- Penyakit jantung (-)
- Hipertensi (-)
- Hepatitis (-)

Riwayat penyakit keluarga :

- Riwayat asma (-)


- Diabetes melitus (-)
- Penyakit jantung (-)
- Hipertensi (-)
- Hepatitis (-)

Riwayat Obstetri :
 Hamil pertama : Abortus
 Hamil kedua : Tahun 2007, gravid aterm, ahir spt lbk, lahir di
rumah, usia kehamilan aterm. Penolong bersalin bidan, BBL 2500 gram
 Hamil ketiga : Hamil sekarang

Riwayat ANC : Pasien pernah melakukan pemeriksaan di klinik


dokter swasta, kemudian dilakukan USG dan
hasilnya adalah kehamilan kosong. Disarankan
untuk melakukan tindakan kuretase
Riwayat menstruasi :

- menarche : usia 11 tahun


- siklus : 28 hari
- durasi : 7 hari
- banyak : 2x ganti pembalut dalam sehari, tidak
menggumpal
- dismenore : disangkal
- flour albus : disangkal

Riwayat Imunisasi : Tidak ada.

PEMERIKSAAN FISIK
KU : Sedang Tek. Darah : 120/70 mmHg
Kesadaran : Kompos mentis Nadi : 105x/menit
BB : 43 Kg Respirasi : 20x/menit
TB : 152 cm Suhu : 36,7ºC

Kepala – Leher :
Konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterus (-/-), edema palpebra (-/-), pembesaran
KGB (-), pembesaran kelenjar tiroid (-). Mata cekung (-)

Thorax :
I : Pergerakan thoraks simetris, retraksi (-), sikatrik (-)
P : Vocal fremitus kanan-kiri
P : Sonor pada kedua lapang paru, pekak pada jantung, batas paru-hepar SIC
VII linea mid-clavicula dextra, batas jantung dalam batas normal.
A : Bunyi pernapasan vesikular +/+, rhonki -/-, wheezing -/-. Bunyi jantung
I/II murni Reguler

Abdomen :
I : Tampak cembung
A: Peristaltik (+) kesan normal
P: Timpani
P: Nyeri tekan (+) regio inguinal sinistra,

Status Ginekologi :

Pemeriksaan Luar

- Inspeksi : sikatrik (-), tanda radang (-), dinding perut datar, linea
nigra (-) striae gravidarum (-) perdarahan flek-flek (+)
- Palpasi : nyeri tekan (-), TFU: Tidak teraba
- Inspekulo : vulva uretra dan vagina tidak ada kelainan permukaan
portio licin, erosi (-), massa (-), ostium uteri externa tertutup, fluksus (+)

Pemeriksaan Dalam

- Fluksus : (+)
- Flour albus : (-)
- Vulva uretra vagina : tidak ada kelainan, dinding vagina licin
- Portio : lunak, ostium uteri externa tertutup, nyeri tekan (-)
penipisan (-)
- Corpus uteri : teraba massa (-)
- Cavum douglas : tidak menonjol
- Adneksa parametrium :
kanan : tidak teraba massa
kiri : tidak teraba massa

Ekstremitas : Edema ekstremitas bawah -/-, turgor < 2 detik.


PEMERIKSAAN PENUNJANG
Darah lengkap :
 WBC : 8 x 103/mm3
 HGB : 12,8 gr/dL
 MCV : 79,5 fL
 MCH : 27,4 pg
 MCHC : 34,4 g/dL
 HCT : 37.2 %
 PLT : 242 x 103/mm3
 RBC : 4.7 x 106/mm3
Pemeriksaan urin:
Plano test: Positif (+)
USG :
Kesan : G3P1A1 hamil 7-8 minggu dengan Blighted ovum

RESUME
Pasien perempuan 31 tahun dengan G3P1A1 gravid 7-8 minggu
masuk dengan keluhan perdarahan pervaginam, sejak kurang lebih 1
minggu yang lalu, darah yang keluar sedikit-sedikit. Keluhan ini disertai
nyeri perut pada bagian bawah. Riwayat mual (+) dan muntah (+) pada 1
minggu sebelum masuk RS.

Berdasarkan pemeriksaan fisik didapatkan TD : 110/80 mmHg,


takikardi, konjungtiva anemis (+/+). Pemeriksaan Ginekologis: perut
membesar (+), cicatrix (-), Uterus tidak teraba, massa tidak teraba.
Pemeriksaan dalam : fluksus (+) darah,

Pemeriksaan laboratorium: Wbc : 8 x 109/l, Hb: 12,8 gr/dl, Plt: 242 x 109/l,
HbSAg negatif.

DIAGNOSIS
GIIIP1A1 gravid 7-8 minggu + Blighted Ovum
PENATALAKSANAAN
Pre-curetage

 Pasang IVFD RL
 Drips oxytocin 1 amp/24 jam
 Konsul anestesi
 Informed consent, puasakan.
 Observasi TTV KU
 Rencana kuretase

Laporan Operasi kuretase :


1) Posisikan pasien pada posisi litotomi dengan anastesi intravena dibawah
pengaruh anastesi
2) Disinfeksi vulva dan vagina dengan menggunakan kasa dan betadine
3) Dipasang speculum Sims, jepit portio dengan tenakulum ovum pada arah
jam 11
4) Dilakukan sonde ke dalam cavum uteri (± 9 cm)
5) Dilakukan evaluasi ke dalam cavum uteri dengan abortus tang
6) Dilanjutkan kuretase dengan sendok kuret tumpul lalu bagian tajam secara
sistematik
7) Kuretase dibersihkan setelah dipastikan tidak ada perdarahan
8) Mencabut tenakulum ovum, dan speculum Sims
9) Bersihkan area operasi dengan kasa steril dan betadine
10) Operasi selesai

Dokumentasi :
G. PENATALAKSANAAN POST OPERATIF
 Drips oxytocin 1 amp dalam 2 kolf RL
 Methylergometrin 3x1
 Asam mefenamat 3x500mg
 Vitamin C 3x50mg
 Cefadroxyl 2x500mg
 Observasi TTV KU
BAGIAN OBSTETRI – GINEKOLOGI

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TADULAKO

RSUD UNDATA PALU

FOLLOW UP

14 Juni 2017
S : Perdarahan Per Vaginam (+), sedikit-sedikit, tdk bergumpal, Nyeri Perut
(+), mual (-), muntah (-), pusing (-), sakit kepala (-), BAB (+), BAK (+)
O : TD : 120/70 mmHg
N : 86x/menit
R : 20 x/menit
S : 36,8ºC
A : P1AII Post kuretase H1 a/I Blighted Ovum
P :
 IVFD RL 28 Tpm
 Methylergometrine 3 x 1
 Asam mefenamat 3x1
 Vit C 3 x1
 Cefadroxyl 2 x 500 mg

15 Juni 2017
S : Perdarahan Per Vaginam (+), sedikit-sedikit, Nyeri Perut (+), mual (-),
muntah (-), pusing (-), sakit kepala (-), BAB (+), BAK (+)

O : TD : 110/80 mmHg
N : 72x/menit
R : 16x/menit
S : 36,8ºC
A : P1AII Post kuretase H1 a/I Blighted Ovum
P :
 Methylergometrine 3 x 1
 Asam mefenamat 3x1
 Vit C 3 x1
 Cefadroxyl 2 x 500 mg
 Pasien Boleh pulang, Rawat Jalan dan kontrol di Poli kandungan
PEMBAHASAN

Pada kasus ini, pasien datang dengan keluhan perdarahan pervaginam,


sejak kurang lebih 1 minggu yang lalu, darah yang keluar sedikit-sedikit. Keluhan
ini disertai nyeri perut pada bagian bawah. Riwayat mual (+) dan muntah (+). Dari
hasil anamnesis yang diperoleh dari pasien, hal tersebut sesuei dengan teori untuk
kehamilan kosong atau blighted ovum dimana gejalanya sama dengan kehamilan
normal seperti terlambat menstruasi, mual muntah pada awal kehamilan, payudara
mengeras, serta terjadi pembesaran perut, bahkan saat dilakukan tes kehamilan
hasilnya pun positif.
Pada pemeriksaan fisik ditemukan bahwa terlihat perut sedikit membesar,
terdapat nyeri tekan pada perut. Hal tersebut sesuei dengan teori dimana pada
kehamilan kosong atau blighted ovum, didapatkan tanda tanda seperti kehamilan
normal. Dari pemeriksaaan fisik juga ditemukan keluarnya bercak-bercak
perdarahan dari vagina. Dari gejala tersebut juga dimungkinkan bahwa pasien
mengalami abortus. Akan tetapi perlu dipastikan melalui pemeriksaan penunjang
USG mengenai kondisi dalam rahim ibu sehingga dapat disimpulkan diagnosis
pasti yang ada. Pada pemeriksaan USG terlihat kantung kehamilan tanpa janin
intrauterin didalamnya. Disimpulkan diagnosis dari kasus ini adalah blighted
ovum atau kehamilan kosong dimana terbentuk kantung kehamilan dan plasenta
tetapi tidak ada pembentukan embrio. Blighted ovum pada awalnya tidak dapat
dibedakan gejalanya hingga terjadi abortus spontan atau telah dilakukan
pemeriksaan USG.
Setelah dicapai diagnosis pasti blighted ovum, tindakan selanjutnya adalah
kuretase. Pada pasien ini telah dilakukan tindakan kuretase, dimana bertujuan
untuk membersihkan sisa-sisa jaringan, mencegah infeksi, sehingga rahim siap
untuk kehamilan berikutnya. Pemberian pengobatan medikamentosa pada kasus
ini adalah pemberian antibiotik, pemberian analgesik, pemberian uterotonik dan
pemberian vitamin.
BAB I

PENDAHULUAN

Abortus juga disebut keguguran adalah hilangnya kehamilan sebelum


kehamilan 20 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram. Abortus yang
berlangsung tanpa tindakan disebut abortus spontan, sedangkan abortus yang
terjadi dengan sengaja dilakukan disebut abortus provokatus. Dikenal berbagai
macam abortus sesuei dengan gejala, tanda, dan proses patologi yang terjadi,
diantaranya adalah : Abortus iminens, Abortus insipiens, Abortus kompletus,
Abortus Inkompletus, Missed Abortus, Abortus Habitualis, Abortus Infeksiosus,
Abortus Septic, Kehamilan Anembrionik (Blighted Ovum)[1]

Blighted Ovum merupakan salah satu perdarahan pada kehamilan muda.


Blighted Ovum terjadi karena adanya kegagalan perkembangan embrio pada awal
masa kehamilan, sehingga hanya ditemukan kantung kehamilan disertai ada atau
tidaknya selaput kuning telur. Kegagalan perkembangan kasus blighted ovum
terjadi pada 6-7 minggu usia kehamilan[1]

Penyebab utama abortus spontan pada kehamilan trimester pertama adalah


blighted ovum, terhitung sebesar 50% dari semua kejadian abortus pada
kehamilan trimester pertama. Prevalensi angka kejadian blighted ovum menurut
WHO (2012) di ASEAN adalah 51 %, dan di Indonesia mencapai 37% dari 100
kehamilan. Abortus spontan kemungkinan akan terjadi pada kehamilan blighted
ovum pada usia kehamilan 14-16 minggu. Berdasarkan data yang diperoleh di
RSUD Kota Semarang tahun 2010-2013, prevalensi blighted ovum (BO) tahun
2010 sebanyak 40 kasus. Pada tahun 2011 sebanyak 28 kasus. Pada tahun 2012
diperoleh data sebanyak 35 kasus blighted ovum (BO). Sedangkan ditahun 2013
untuk bulan januari sampai tanggal 20 juli terdapat 48 kasus [2, 3]
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

1. DEFINISI
Blighted ovum merupakan keadaan dimana terbentuknya gestational sac
namun embrio tidak terbentuk atau berhenti terbentuk sehingga terabsorbsi
kembali oleh tubuh. Keadaan dimana seorang wanita dalam keadaan hamil tetapi
tidak ada janin di dalam kandungan. Seorang wanita yang mengalaminya juga
merasakan gejala-gejala kehamilan seperti terlambat menstruasi, mual muntah
pada awal kehamilan, payudara mengeras, serta terjadi pembesaran perut, bahkan
saat dilakukan tes kehamilan maupun laboratorium hasilnya pun positif [1,9]
Blighted ovum yang terjadi ketika ovum yang telah dibuahi menempel
pada dinding uterus, tetapi embrio tidak berkembang. Sel berkembang
membentuk kantung kehamilan, tetapi tidak membentuk embrio itu sendiri.
Blighted ovum biasanya terjadi dalam trimester pertama sebelum seorang wanita
tahu tentang kehamilannya. Tingginya tingkat kelainan kromosom biasanya
menyebabkan tubuh wanita secara alami mengalami keguguran[1,2]

2. ETIOLOGI DAN FAKTOR RISIKO


Biasanya merupakan hasil dari masalah kromosom dan penyebab sekitar
50% dari keguguran trimester pertama, atau mungkin paparan teratogens. Tubuh
wanita mengenali kromosom abnormal pada janin dan secara alami tubuh
berusaha untuk tidak meneruskan kehamilan karena janin tidak berkembang
menjadi bayi normal dan sehat. Hal ini dapat disebabkan oleh pembelahan sel
yang abnormal, atau kualitas sperma atau ovum yang buruk [2,10]

Sekitar 60% Blighted ovum disebabkan kelainan kromosom dalam proses


pembuahan sel telur dan sperma. Infeksi TORCH, dan streptokokus, riwayat
diabetes mellitus yang tidak terkontrol, rendahnya kadar beta HCG serta faktor
imunologis seperti adanya antibodi terhadap janin juga dapat menyebabkan
blighted ovum. Risiko juga meningkat bila usia suami atau istri semakin tua
karena kualitas sperma atau ovum menjadi turun[8,10]

3. PATOFISIOLOGI
Pada saat konsepsi, sel telur (ovum) yang matang bertemu sperma. Namun
akibat berbagai faktor maka sel telur yang telah dibuahi sperma tidak dapat
berkembang sempurna, dan hanya terbentuk plasenta yang berisi cairan.
Meskipun demikian plasenta tersebut tetap tertanam di dalam rahim. Plasenta
menghasilkan hormon HCG (human chorionic gonadotropin) dimana hormon ini
akan memberikan sinyal pada indung telur (ovarium) dan otak sebagai
pemberitahuan bahwa sudah terdapat hasil konsepsi di dalam rahim. Hormon
HCG yang menyebabkan munculnya gejala-gejala kehamilan seperti mual,
muntah, dan menyebabkan tes kehamilan menjadi positif. Karena tes kehamilan
baik test pack maupun laboratorium pada umumnya mengukur kadar hormon
HCG (human chorionic gonadotropin) yang sering disebut juga sebagai hormon
kehamilan[1,5,9]

4. GEJALA DAN TANDA


Blighted ovum sering tidak menyebabkan gejala sama sekali.
Gejala dan tanda-tanda termasuk:
 Periode menstruasi terlambat
 Nyeri perut
 Perdarahan berupa bercak
 Tes kehamilan positif pada saat gejala
 Ditemukan setelah akan tejadi keguguran spontan dimana muncul
keluhan perdarahan
 Hampir sama dengan kehamilan normal [1,4,8]
5. DIAGNOSIS KERJA
1. Anamnesis
2. Pemeriksaan Fisik
3. Pemeriksaan Penunjang (USG)  diagnosis pasti, bisa dilakukan
saat kehamilan memasuki usia 7-8 minggu (transvaginal). Sebab
saat itu diameter kantung kehamilan sudah lebih besar dari 16
milimeter sehingga bisa terlihat lebih jelas. Dari situ juga akan
tampak, adanya kantung kehamilan yang kosong dan tidak berisi
janin. Diagnosis kehamilan anembriogenik dapat ditegakkan bila
pada kantong gestasi yang berdiameter sedikitnya 25 mm, tidak
dijumpai adanya struktur mudigah dan kantong kuning telur [1,5,8]

Gambar 1 : Blighted Ovum Gambar 2 : Kehamilan Normal

6. DIAGNOSIS BANDING
- Kehamilan Ektopik Terganggu (KET) : pada KET terdapat nyeri goyang
serviks, perdarahan pervaginam sedikit atau bahkan tidak ada, terdapat
kavum douglas yang menonjol dan nyeri perut yang hebat.
- Pada abortus imminens dan insipiens perdarahan lebih banyak dan lebih
merah sesudah amenorea, rasa nyeri yang lebih kurang berlokasi di daerah
median dan bersifat nyeri [7,8]

7. PENATALAKSANAAN
Jika telah di diagnosis blighted ovum, maka tindakan selanjutnya adalah
mengeluarkan hasil konsepsi dari rahim (kuretase). Hasil kuretase akan dianalis
untuk memastikan apa penyebab blighted ovum lalu mengatasi penyebabnya. Jika
karena infeksi maka maka dapat diobati agar tidak terjadi kejadian berulang. Jika
penyebabnya antibodi maka dapat dilakukan program imunoterapi sehingga kelak
dapat hamil sungguhan [1,3,8]
Penyebab blighted ovum yang dapat diobati jarang ditemukan, namun
masih dapat diupayakan jika kemungkinan penyebabnya diketahui. Sebagai
contoh, tingkat hormon yang rendah mungkin jarang menyebabkan kematian dini
ovum. Dalam kasus ini, pil hormon seperti progesteron dapat bekerja. Namun
efek samping dari pemakaian hormon adalah sakit kepala, perubahan suasana hati,
dan lain-lain. Jika terjadi kematian telur di awal kehamilan secara berulang, maka
pembuahan buatan mungkin efektif dalam memproduksi kehamilan. Dalam hal ini
perlu donor sperma atau ovum untuk memiliki anak. Akan tetapi, pembuahan
buatan itu mahal dan tidak selalu bekerja dan risiko kelahiran kembar seringkali
lebih tinggi. Jika belum berhasil maka adopsi adalah pilihan lain bagi banyak
pasangan [1,6]
Pada pasien diterapi dengan pemberian preparat misoprostol, setelah
terjadi dilatasi serviks kemudian dilakukan kuretase [6]

8. PENCEGAHAN
Dalam banyak kasus blighted ovum tidak bisa dicegah. Beberapa pasangan
seharusnya melakukan tes genetika dan konseling jika terjadi keguguran berulang
di awal kehamilan. Blighted ovum sering merupakan kejadian satu kali, dan jarang
terjadi lebih dari satu kali pada wanita.Untuk mencegah terjadinya blighted ovum,
maka dapat dilakukan beberapa tindakan pencegahan seperti pemeriksaan
TORCH, imunisasi rubella pada wanita yang hendak hamil, bila menderita
penyakit disembuhkan dulu, dikontrol gula darahnya, melakukan pemeriksaan
kromosom terutama bila usia diatas 35 tahun, menghentikan kebiasaan merokok
agar kualitas sperma/ovum baik, memeriksakan kehamilan yang rutin dan
membiasakan pola hidup sehat [1]

9. PROGNOSIS
Prognosis buruk bila terus menerus terjadi perdarahan per vaginam.
Prognosis dubia ad malam bila terus menerus terjadi perdarahan per vaginam. Jika
penyebabnya sudah dapat dipastikan misalnya karena adanya kelainan kromosom,
kemungkinan besar prognosis dubia ad malam, namun jika penyebabnya
disebabkan oleh infeksi TORCH, prognosisnya menjadi dubia ad bonam jika
sebelum hamil infeksi TORCH nya diterapi terlebih dahulu.[1]
DAFTAR PUSTAKA

1. Sarwono,P, dkk, 2010. Ilmu Kebidanan. PT Bina Pustaka Sarwono


Prawirohardjo, Jakarta
2. Hafiffa, P. dkk. 2015. Kehamilan 13 Minggu Dengan Blighted Ovum, IJMS -
Indonesian Journal On Medical Science - Volume 2 No 2 - Juli 2015

3. Sahar Shekoohi, Majid Mojarrad, Reza Raoofian, 2016. Chromosomal Study


of Couples with the History of Recurrent Spontaneous Abortions with
Diagnosed Blightded Ovum. Department of Medical Genetics, School of
Medicine, Mashhad University of Medical Sciences, Mashhad, Iran.

4. Schorge JO, Schaffer JI, Halvorson LM, Hoffman BL, Bradshaw KD, 2008.
Cunningham FG. First trimester abortion. In: Williams Gynecology 22nd ed.
New York: McGraw-Hill; 298-325
5. Porter FT, Branch DW, Scott JR. Early pregnancy loss. 2009. In: Danforth’s
Obstetric and Gynecology 10th ed. New York. Lippincott Williams & Wilkins
: 61-70.
6. Zoleikha Atarod, Fatemeh Talebi1, Seyyed Abbas Hashemi, 2013.
Comparison of vaginal misoprostol application versus curettage in treatment
of early pregnancy failure: A randomization clinical trial study. Department
of Obstetrics and Gynecology, Faculty of Medicine, Mazandaran University
of Medical Sciences, Sari, Iran.

7. Hatasaka HH. 1994. Recurrent miscarriage: epidemiologic factors, definitions


and incidence. In: Clin obstet gynecol 37 ; 625-634.
8. Agnes, dkk. 2012. Gynecology and Obstetrics Clinical Protocol. Treatment
Guidelines. Ministry Of Health . accesed on : www.moh.gov.rw

9. Hunt JS, Roby KF. 1994. Implantation factors. In: Clin obstet gynecol 37 ;
635-645.
10. Brent RL, Beckman DA1994. The contributional of environmental teratogens
to embryonic and fetal loss. In: Clin obstet gynecol 37 ; 646-664