Anda di halaman 1dari 34

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kondisi pembelajaran menyimak saat masih cukup memprihatinkan.
Pembelajaran menyimak masih dianggap sebagai pembelajaran yang kurang
penting dibanding dengan pembelajaran keterampilan berbahasa yang lain. Hal
tersebut menyebabkan pembelajaran menyimak banyak ditinggalkan oleh guru
dan sering disalahartikan. Kondisi ini diperparah dengan kondisi bahwa
kemampuan dan kesulitan anak jarang dinilai. Bahkan dari sisi metodologi,
metode pembelajaran menyimak pun jarang diteliti. Akhirnya, pembelajaran
menyimak tenggelam di antara pembelajaran membaca dan menulis.
Pembelajaran menyimak yang selama ini dilakukan di sekolah masih
terdapat kekurangtepatan pelaksanaan pembelajaran menyimak. Beberapa
kekurangtepatan tersebut anatara lain (1) pembelajaran menyimak hanya
dilakukan untuk menjawab pertanyaan, (2) pembelajaran menyimak dilakukan
sebagaimana layaknya pembelajaran membaca, (3) pengukuran kemampuan
menyimak masih bersifat bias sebab guru menggunakan bahan simakan yang
telah terlebih dahulu dibaca siswa, dan (4) pembelajaran menyimak tidak
diarahkan pada pengembangan karakter siswa.
Pendidikan abad ke-21 menawarkan sebuah solusi agar pembelajaran
menyimak di sekolah dapat mengarah kepada pembelajaran menyimak yang
sesungguhnya sehingga pembelajaran menyimak dapat mencapai tujuannya
dengan tepat. Pendidikan abad ke-21 menganjurkan agar pembelajaran bahasa
dalam empat keterampilan berbahasa menggunakan pembelajaran berbasis
Multiliterasi Integratif Diferensiasi (MID). Tuntutan pendidikan abad ke-21
untuk menerapkan pembelajaran berbasis MID diharapkan dapat menangani
kondisi pembelajaran menyimak saat ini. Makalah ini akan membahas
mengenai pembelajaran menyimak, pembelajaran berbasis MID, dan
pembelajaran menyimak berbasis MID.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka rumusan masalah yang akan
dibahas pada makalah ini adalah sebagai berikut.
1. Apa pengertian pembelajaran menyimak?
2. Apa pengertian pembelajaran berbasis MID?
3. Bagaimana penerapan pembelajaran menyimak berbasis MID?

C. Tujuan
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut.
1. Untuk mengetahui pengertian pembelajaran menyimak.
2. Untuk mengetahui pengertian pembelajaran berbasis MID.
3. Untuk mengetahui penerapan pembelajaran menyimak berbasis MID.

D. Sistematika Penulisan
BAB I Pendahuluan membahas latar belakang, rumusan masalah, tujuan,
dan sistematika penulisan.
BAB II Pembahasan

BAB III Penutup membahas kesimpulan dan saran.


BAB II
PEMBAHASAN

A. Konsep Pembelajaran Multiliterasi Integarsi Diferensiasi (MID)


Multiliterasi berawal dari konsep literasi. Literasi sendiri dapat diartikan
sebagai kemampuan membaca dan menulis. Kemelekaksaraan adalah konsep
awal literasi yang kemudian berkembang menjadi kemelekwacanaan dan
berkembang menjadi kemelekpengetahuan. Dasar literasi berkenaan dengan
kemampuan berbahasa. Kemampuan itu hanya bermakna apabila
bersinggungan dengan konteks tertentu bahkan budaya tertentu. Kemapuan
tersebut juga mungkin hanya bermakna pada media komunikasi tertentu dan
tidak bermakna pada media komunikasi yang lain. Persinggungan literasi
dengan konteks, budaya, dan media komunikasi inilah yang kemudian
melahirkan istilah multiliterasi.
Multiliterasi merupakan kemampuan berbahasa yang berkaitan dengan
konteks, budaya, dan media. Wujud dasarnya adalah keterampilan berbahasa
yakni keterampilan menyimak, keterampilan berbicara, keterampilan
membaca, dan keterampilan menulis. Kaitannya dengan isi, keempat
keterampilan tersebut akan berhubungan dengan berbagai disiplin ilmu dan
berbagai budaya. Atas konsepsi pembentukkannya ini, keterampilan berbahasa
tersebut mengalami berbagai penyesuaian makna.
Pembelajaran multiliterasi merupakan sebuah pembelajaran yang
mengembangkan kemampuan berbahasa siswa yang dikaitkan dengan konteks,
budaya dan media. Dalam perkembangannya, konsep literasi mengalami
berbagai perubahan seperti telah disebutkan di awal pembahasan mengenai
multiliterasi. Hal ini berimbas juga terhadap tujuan pembelajaran literasi. Pada
awalnya, pembelajaran literasi di sekolah hanya bertujuan agar siswa terampil
menguasai dimensi literasi linguistik yaitu sistem bahasa mencakup fonem,
morfem, grafofonemis, morfofonemi, dan sintaksis; konteks bahasa; dan
variasi bahasa. Dalam perkembangan selanjutnya pembelajaran literasi
bertujuan agar siswa mampu menguasai dimensi bahasa dan dimensi kognitif
literasi mencakup proses pemahaman, proses membaca, proses menulis, dan
konsep analisis wacana tertulis.
Memasuki abad ke-21 pembelajaran literasi memiliki tujuan utama untuk
memberikan kesempatan atau peluang kepada siswa dalam mengembangkan
dirinya sebagai komunikator yang kompeten dalam multikonteks, multikultur,
dan multimedia melalui pembelajaran multiintelegensi yang dimilikinya.
Berkaitan dengan tujuan utama ini, pembelajaran literasi pada abad ke-21
menurut The Ontario Ministry of Education memiliki tujuan-tujuan sebagai
berikut.
1. Membentuk siswa menjadi pembaca, penulis, dan komunikator yang
strategis.
2. Meningkatkan kemampuan berpikir dan mengembangkan kebiasaan
berpikir pada siswa.
3. Meningkatkan dan memperdalam motivasi belajar siswa.
4. Mengembangkan kemandirian siswa sebagai seorang pembelajar yang
kreatif, inovatif, produktif, dan sekaligus berkarakter.
Pembelajaran multilietarsi harus dilakukan dengan mempertimbangkan
empat komponen pembelajaran bahasa yaitu teks multimodal, pembelajaran
berdiferensiasi, keterampilan berfikir, dan tujuan multikompetensi. Teks
multimodal merupakan teks yang tidak hanya dibatasi dengan kata-kata,
namun lebih luas dapat berwujd gambar, visual, performa, musikal, ataupun
teks digital berbasis teknologi informasi dan komunikasi. Teks yang bersifat
multimodal juga bersifat literasi lintas disiplin ilmu. Dalam konteks
pembelajaran teks multimodal relevan dengan konsep pembelajaran literasi
lintas kurikulum yang mengubungkan dimensi pembelajaran bahasa dengan
pengetahuan yang keilmuan yang dibicarakannya. Pemaduan ini menghasilkan
pembelajaran integratif.
Pembelajaran Integratif merupakan pembelajaran yang memadukan
berbagai disiplin ilmu. Pemaduan ini dilakukan bukan hanya pada konten
materi pembelajaran ataupun konten kompetensi memainkan lebih jauh
memadukan konteks hasil belajar, konteks pengalaman belajar, dan konteks
belajar. Pemaduan konteks hasil belajar berarti dalam pembelajaran integratif
sikap, keterampilan, dan pengetahuan diperoleh siswa secara terpadu.
Pemaduan konteks pengalaman belajar artinya bahwa dalam pembelajaran
integratif satu konteks kehidupan nyata dapat digunakan sebagai dasar bagi
pelaksanaan berbagai mata pelajaran. Pemaduan konteks belajar artinya konten
belajar dari satu mata pelajaran dapat dijadikan konten mata pelajaran lain.
Drake (dalam) menyatakan bahwa jenis-jenis pembelajaran integratif dapat
disajikan dalam tiga bentuk integrasi yakni multidisipliner, integrasi
interdisipliner, dan integrasi transdisipliner.
Pembelajaran literasi secara integratif dan lintas disiplin ilmu merupakan
pembelajaran yang mempertimbangkan karakteristik siswa. Pembelajaran
literasi tersebut merupakan salah satu wujud nyata pembelajaran
berdiferensiasi. Tomlinson dan Eidson (dalam ) menyatakan pembelajaran
berdiferensiasi pada jenjang sekolah dasar dapat didefinisikan sebagai
pembelajaran yang secara proaktif melibatkan siswa selama prosesnya dan
memandang kelas-kelas sekolah dasar sebagai kelas yang memadukan
berbagai kesiapan, minat, dan bakat belajar siswa. Pembelajaran
berdiferensiasi didasarkan atas asumsi bahwa siswa berbeda dan mereka
belajar dengan cara yang berbeda. Pembelajaran berdiferensiasi hendaknya
dilaksanakan berdasarkan kondisi awal siswa bukan berdasarkan apa yang
harus dicapai siswa.
B. Konsep Dasar Pembelajaran Menyimak Berbasis MID
1. Pengertian Menyimak
Menyimak merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang
bersifat reseptif dan apresiatif. Reseptif berarti bahwa dalam menyimak
pelibat harus mampu memahami apa yang terkandung dalam bahan
simakan. Bersifat apresiatif artinya bahwa menyimak menuntut pelibat
untuk tidak hanya mampu memahami pesan apa yang terkandung dalam
bahan simakan tetapi lebih jauh memberikan respons atas bahan simak
tersebut. Berdasarkan kedua hal tersebut menyimak dapat diartikan sebagai
kegiatan aktif yang dilakukan secara sungguh-sungguh untuk memahami
pesan yang terkandung dalam bahan simakan yang diperdengarkan secara
lisan.
Menyimak bukanlah sebuah kegiatan pasif melainkan sebuah
kegiatan aktif. Berkenaan dengan menyimak sebagai kegiatan aktif,
terdapat minimalnya tiga istilah yang kadang dipertukarkan
penggunaannya. Ketiga istilah tersebut adalah mendengar, mendengarkan,
dan menyimak. Mendengar adalah kegiatan menangkap bunyi bahasa
yang dilakukan tanpa sengaja. Mendengarkan adalah kegiatan yang
dilakukan secara sengaja untuk menangkap bunyi bahasa walaupun belum
berorientasi pada pembentukan pemahaman atas pesan yang terkandung
dalam bunyi bahasa tersebut. Menyimak merupakan kegiatan yang
dilakukan secara sungguh-sungguh untuk beroleh pesan, pengetahuan, dan
informasi yang terkandung dalam bunyi bahasa yang didengarkan dengan
serius dan penuh perhatian. Dengan demikian menyimak benar-benar
harus dilakukan secara aktif dan bukan merupakan kegiatan yang pasif.
Melihat perbedaan ketiga istilah ini, menyimak merupakan kegiatan
berbahasa yang melibatkan penggunaan indra pendengaran dan kognisi
serta persepsi pada tahapan tertinggi dibanding mendengarkan dan
mendengar.
Sejalan dengan perbedaan ketiga istilah diatas, istilah menyimak
merupakan istilah yang paling tepat dalam kaitannya dengan kegiatan
pembelajaran bahasa. Namun demikian, dalam kurikulum terbaru
Depdiknas lebih memilih istilah mendengarkan dibanding istilah
menyimak. Penggunaan istilah mendengarkan yang disejajarkan dengan
kata menyimak memang terbukti cukup efektif bagi pelaksanaan
pembelajaran disekolah sehingga pembelajaran menyimak tidak lagi
dilakukan melalui kegiatan membaca. Namun penyelesaian masalah secara
pintas ini sebenarnya mendatangkan masalah baru yakni bahwa
mendengarkan sebenarnya memiliki kadar lebih rendah dibanding dengan
menyimak. Hasilnya siswa cenderung hanya berusaha mendengarkan
bahan simakan yang disajikan tanpa secara serius menguasai pesan atau
gagasan yang terkandung dalam bahan simakan tersebut.
2. Pembelajaran Menyimak
Pembelajaran menyimak merupakan serangkaian aktifitas yang
dilakukan siswa untuk beroleh dan memahami pesan, informasi, dan
serangkaian gagasan yang terkandung dalam bahan simakan melalui
bimbingan, arahan, dan motivasi guru. Dalam pengertian ini, pembelajaran
menyimak harus dilakukan melalui pelibatan siswa secara aktif melalui
berbagai aktifitas yang mampu melatih mereka agar beroleh berbagai
macam keterampilan untuk menangkap dan memahami bahasa lisan.
Pembelajaran menyimak bukan sekedar agar anak mampu menjawab
pertanyaan, melainkan harus mampu membina siswa agar mampu
menguasai berbagai jenis pengetahuan, baik pengetahuan informasional,
konseptual, procedural, maupun metakognitif. Guru didorong untuk
menguasai berbagai konsep tentang pembelajaran menyimak agar mampu
melaksanakan pembelajaran menyimak secara benar. Tanpa kesadaran
penuh bahwa pembelajaran menyimak merupakan serangkaian aktifitas
yang harus dirancang guru untuk dilakukan siswa, pembelajaran
menyimak yang diampu guru tidak akan mampu mencapai tujuan yang
diharapkan.
Keterampilan menyimak dalam konteks multiliterasi merupakan
keterampilan yang dimiliki untuk beroleh beragam pengetahuan yang
kemudian diolah secara kritis dan kreatif. Hal ini berarti keterampilan
menyimak bukan hanya sekedar mampu menyandikan bahasa melainkan
lebih jauh meresepsi dan mereproduksi berbagai wawasan keilmuan dari
pokok pembicaraan yang disimak.

C. Arah dan Orientasi Pembelajaran Menyimak Berbasis MID


Pembelajaran menyimak dilaksanakan untuk mencapai berbagai tujuan.
Secara esensial minimalnya ada tiga tujuan penting pembelajaran menyimak di
sekolah yaitu sebagai berikut.
1. Melatih daya konsentrasi siswa
Hal ini berarti pembelajaran menyimak diorientasikan agar siswa
benar-benar mampu memusatkan perhatiannya terhadap bahan simakan
yang diperdengarkan. Atas dasar tersebut, selama pembelajaran menyimak
guru seharusnya mampu memberikan pengetahuan, melatih, dan
membiasakan siswa untuk memusatkan perhatian melalui berbagai strategi
peningkatan konsentrasi secara tepat. Hal ini dapat dilakukan jika guru
mampu memaknai istilah strategi konssentrasi secara tepat. Hal yang
dilakukan siswa adalah melakukan aktifitas nyata yang mampu
membantunya memusatkan perhatian selama menyimak, misalnya
menulis ide pokok bahan simakan, membuat peta konsep atas isi bahan
simakan, membuktikan prediksi isi bahan simakan, dan sebagainya.
2. Melatih daya paham siswa
Hal ini berarti pembelajaran menyimak tidak sekedar melibatkan
kemampuan auditif siswa tetapi juga melibatkan kemampuan kognitifnya.
Tujuan ini bisa tercapai jika guru menguasai benar berbagai strategi
pemahaman yang dapat dipilih siswa selama proses pembelajaran
menyimak. Strategi dimaksud misalnya bertukar ide, beradu argument,
menyusun respon terhadap isi bacaan, dan berbagai jenis kegiatan lainnya.
Tanpa pengguanaan berbagai strategi pemahaman ini, pembelajaran
menyimak hanya akan berorientasi pada pembentukan keterampilan
menyimak semu, yakni siswa mampu menjawab pertanyaan dan tidak
lebih dari itu.
3. Melatih daya kreatif siswa
Hal ini berarti pembelajaran menyimak harus pula diorientasikan
agar siswa mampu berkreasi atas dasar ide simakan yang diperolehnya.
Pembelajaran menyimak tidaklah lepas dari kegiatan berbahasa lain
misalnya menulis dan berbicara. Justru keterampilan kreatif ini menuntut
siswa berkreasi melalui menulis dan berbicara atas dasar ide dan gagasan
yang diperolehnya dari bahan simakan. Atas dasar tujuan ini, dikenal
istilah menyimak kritis kreatif yakni salah satu jenis menyimak yang
menuntut penyimak agar mampu mengkritisi isi bahan simakan dan secara
kreatif menampilkan produk lain atas dasar bahan simakan tersebut.
Berdasarkan tiga tujuan dan orientasi pembelajaran menyimak di atas,
pembelajaran menyimak sebaiknya diarahkan agar siswa mampu membangun
konsepsi secara luas terhadap isi bahan simakan. Pengetahuan lain yang harus
dibangun siswa setelah mengikuti pembelajaran menyimak adalah pengetahuan
prosedural yakni serangkaian pengetahuan yang dapat diaplikasikan siswa agar
mampu menyimak dengan tepat. Pengetahuan ini menjadikan siswa mandiri
dalam menyimak dan mampu menyimak untuk berbagai tujuan komunikatif
dalam kehidupan sehari-harinya. Pengetahuan yang tak kalah pentingnya adalah
pengetahuan metakognitif siswa.
Guna memperjelas tujuan pembelajaran menyimak di atas, ada tujuan
pembelajaran menyimak berdasarkan pendekatan yang digunakan dalam
pembelajaran bahasa saat ini. Berdasarkan pendekatan komunikatif, tujuan
pembelajaran menyimak menurut Flowerdew & Miller (dalam Abidin hlm)
adalah (1) to process spoken discourse for functional purposes and (2) to listen
and interact with the speaker and/or complete a task. Berdasarkan pendekatan
berbasis penugasan, tujuan pembelajaran menyimak adalah (1) to process
listening for functional purposes and (2) to listen and carry out real tasks using
the information. Dalam pendekatan berbasis pembelajaran tujuan pembelajaran
menyimak adalah (1) to develop an awereness of skills related to listening and
(2) to use a variety of listening skills effectively in achieving an objective.
Bertemali dengan beberapa tujuan di atas, jelaslah bahwa pembelajaran
menyimak memang bertujuan untuk membangun daya konsentrasi, daya paham,
dan daya kreatif sebagaimana dibahas sebelumnya.
Selain tujuan di atas, pembelajaran menyimak pun harus mampu
mengembangkan karakter siswa. Berkenaan dengan tujuan ini, pembelajaran
menyimak harus dilakukan melalui penyediaan serangkaian aktifitas yang
menuntut siswa mengunjuk kerjakan karakter dirinya selama pembelajaran.
Melalui berbagai aktifitas yang menantang diharapkan siswa mampu aktif
bekerja keras sehingga secara tidak sadar ia telah berupaya pula membangun
karakter positif selama pembelajaran.

D. Prinsip Pembelajaran Menyimak Berbasis MID


Dalam melaksanakan pembelajaran menyimak, perlu diperhatikan
sejumlah prinsip pembelajaaran menyimak. Brown (2001: 258-260)
menyatakan minimalnya ada enam prinsip yang harus diperhatikan dalam
pembelajaran menyimak sebagai berikut.
1. Pembelajaran menyimak hendaknya dilakukan secara terpadu dengan
keterampilan berbahasa yang lain dengan tepat memfokuskan diri pada
pengembangan kemampuan menyimak pemahaman
2. Pembelajaran menyimak hendaknya dilakukan dengan menerapkan
srtategi pembelajaran yang mampu memotivasi siswa secara intrinsic.
3. Pembelajaran menyimak hendaknya dilakukan dengan mengguanakan
bahasa dan konteks yang otentik bagi siswa.
4. Pembelajaran menyimak hendaknya dilakukan dengan menggunakan
bentuk respons yang tepat.
5. Srategi pembelajaran menyimak yang digunakan hendaknya secara nyata
mampu mendorong perkembangan kemampuan menyimak siswa.
6. Gunakan secara tepat model bottom-up dan top-dwon selama
pembelajaran menyimak.
Memerhatikan ke enam prinsip pembelajaran menyimak di atas, jelaslah
bahwa pembelajaran menyimak tidak dapat dilakukan secara asal-asalan.
Pembelajaran menyimak harus dilakukan guru secara sungguh-sungguh
sehingga kemampuan siswa dalam hal menyimak akan mampu berkembang.
Pengembangan kemampuan menyimak tidak bisa lepas dari penerapan model
whole language selama pembelajaran, yakni model pembelajaran yang
menekankan bahwa pembelajaran bahasa harus memadukan seluruh
keterampilan berbahasa. Pembelajaran menyimak pun harus dilakukan dengan
menerapkan strategi yang tepat sehingga siswa akan mampu terdorong
melakukan kegiatan menyimak secara intrinsik. Lebih jauh, upaya memahami
kemampuan menyimak harus pula dilakukan secara tepat yakni melalui
berbagai respons siswa atas bahan simakan yang didengarnya. Bahan simakan
pun haruslah bahasa otentik bagi siswa yakni bahasa yang benar-benar nyata
dikuasai siswa dan merupakan bahasa yang penting dikuasai siswa karena
digunakan siswa dalam kehidupan sehari-harinya.bahan simakan yang
demikian akan mampu mengoptimalkan skema siswa sehingga siswa
menyimak tidak sekadar mengandalkan kemampuan auditornya namun juga
menggunakan memori kognisi yang telah dimilikinya.
Sedikit berbeda dengan Brown, Nation dan Newton (2009: 19-22)
menyatakan bahwa beberapa prinsip pembelajaran menyimak adalah sebagai
berikut.
1. Focus on meaningful and relevant content
2. Maintain interest through a variety of activities.
3. Avoid overloading learners with too much new language.
4. Provide plenty of comprehensible input.
5. Create a friendly, dafe, cooperative classroom environment.
Bertemali dengan prinsip di atas, pembelajaran menyimak hendaknya
dilaksanakan dengan memfokuskan diri pada materi ajar yang bermakna dan
kontekstual. Materi tersebut selanjutnya harus dijadikan dalam pembelajaran
melalui berbagai aktifitas yang mampu menarik minat siswa sehingga siswa
termotivasi untuk belajar. Pada tahap awal menyimak dapat dilakukan dengan
menggunakan bahasa ibu sehingga siswa akan memahami apa yang
disimaknya. Lebih lanjut, pembelajaran menyimak hendaknya dilakukan
dalam kelas yang nyaman, kondusif, dan kooperatif. Berdasarkan prinsip ini,
pembelajaran menyimak harus dikemas secara aktif, integrative dan otentik.
Selain prinsip pembelajaran menyimak seperti dikemukakan Brown dan
Nation serta Newton di atas, berikut dikemukakan pula beberapa prinsip
pembelajaran menyimak yang penting diperhatikan guru.
1. Pembelajaran menyimak hendaknya tidak dilakukan sebatas menguji
kemampuan siswa menyimak tetapi harus diarahkan pada pembentukan
keterampilan menyimak.
2. Pembelajaran menyimak hendaknya dikemas oleh guru melalui berbagai
aktifitas aktif kreatif bagi siswa selama pembelajaran sehingga mampu
membentuk keterampilan menyimak dan mampu pula mengembangkan
karakter siswa.
3. Pembelajaran menyimak harus dilakukan dengan berbasis proses
menyimak disertai dengan penilaian otentik di dalamnya.
4. Pembelajaran menyimak hendaknya dilakukan sesuai dengan kemampuan
siswa dengan berorientasi terhadap pembentukan perilaku menyimak yang
baik.
5. Pembelajaran menyimaka hendaknya dilakukan dengan menggunakan
berbagai media pembelajaran yang tepat.
Demikianlah beberapa prinsip pembelajaran menyimak yang harus
diperhatikan guru. Seluruh prinsip pembelajaran menyimak ini harus
digunakan sebagai jiwa bagi pelaksanaan pembelajaran menyimak sehingga
pembelajaran menyimak benar-benar berorientasi pada tujuan pembelajaran
menyimak yang telah digariskan. Sejalan dengan tuntutan ini, guru
seyogyianya memahami benar berbagai aktifitas yang dapat dilakukan siswa
selama proses pembelajaran menyimak.
Bertemali dengan prinsip pembelajaran menyimak di atas, ada beberapa
konsekuensi yang harus dilakukan guru selama pemebelajaran menyimak.
Beberapa konsekuensi tersebut adalah sebagai berikut.
1. Selama pembelajaran menyimak guru hendaknya senantiasa melatih daaya
simak siswa.
2. Selama pembelajaran menyimak guru hendaknya senantiasa melatih daya
paham simak siswa.
3. Selama pembelajaran menyimak guru hendaknya senantiasa melatih daya
kreatif siswa.
Beberapa peran guru dalam pembelajaran menyimak adalah sebagai
berikut.
1. Menyeleksi dan mengorganisasikan bahan simakan secara mandiri dan
tidak bergantung pada buku teks. Hal ini perlu dilakukan agar kegiatan
pembelajaran menyimak tidak sama dengan pembelajaran membaca dan
penilaian kemampuan menyimak menjadi tidak bias.
2. Menentukan aktifitas menyimak yang harus dilakukan siswa selama
proses pembelajran menyimak. Hal ini dilakukan agar siswa mampu
menyimak secara aktif dan sekaligus membangun karakter positif dalam
dirinya.
3. Memilih dan memperkenalkan berbagai strategi yang mampu melatih
siswa berkonsentrasi, memahami bahan simakan, dan kreatif pasca
menyimak. Hal ini harus dilakukan agar siswa beroleh berbagai strategi
menyimak yang tepatyang akan mereka pilih dan gunakan dalam berbagai
kegiatan menyimak sehari-hari.
4. Merancang pembelajaran menyimak berbasis kinerja aktif siswa. Hal ini
harus dilakukan agar proses pembelajaran menyimak bersifat aktif,
menyenangkan, dan sekaligus mampu membentuk keterampilan
menyimak pada diri siswa. Ingatlah bahwa pembelajaran menyimak bukan
bertujuan agar siswa hanya beroleh pengetahuan informasional melainkan
beroleh pengetahuan konsepsional, procedural, dan metakognitif.
5. Mengukur kemampuan menyimak siswa secara tepat dan tidak bias.
Pengukuran kemampuan menyimak pun hendaknya tidak dilakukan tanpa
program tetapi harus dilakukan secara intensif agar diketahui
perkembangan kemampuan siswa dalam menyimak.

E. Prosedur Pembelajaran Menyimak Berbasis MID


Pembelajaran menyimak harus dilakukan berbasis prinsip pembelajaran
yang tepat. Sejalan dengan prinsip tersebut, prosedur pemebelajaran menyimak
pun harus pula memerhatikan beberapa cara ynag secara teknis dapat
mengingatkan kemampuan siswa dalam menyimak. Nation and Newton (2009:
46) menegaskan bahwa guna meningkatkan daya simak siswa, pembelajaran
menyimak hendaknya memerhatikan hal berikut.
1. By providing prior ewperience with aspects of the text (i.e., with language,
ideas, skills or text type).
2. By guiding the learners through the text.
3. By setting up cooperative learning arrangements (for example, shared
reading approaches).
4. By providing the means by which learners can achieve pomprehension by
themselves.
Berdasarkan saran di atas, proses pembelajaran menyimak dapat
dilakukan melalui tiga tahapan pembelajaran yakni tahap prasimak, tahap
menyimak, dan tahap pascasimak. Field (2008: 1) menegaskan bahwa
sebaiknya pembelajaran menyimak dikemas dalam prosedur sebagai berikut.
1. Pre-listening (establish context; create motivation for listening; and pre-
teach only critical vocabulary).
2. During listening (extensive listening: general questions on context and
attitude of speakers; and intensive listening: pre-set question; intensive
listening nad checking answers to questions).
3. Post listening (funcitional language in listening passage; learners infer
the meaning of unknown words from the sentences in which they appear;
final play; learners look at transcript).
Sejalan dengan pendapat Field di atas, pembelajaran menyimak hendaknya
dikemas dengan memperhatikan proses menyimak. Proses menyimak yang
dimaksud adalah tahap prasimak yang berfungsi sebagai sarana untuk
membangkitkan schemata dan motivasi anak, tahap menyimak yang melalui
aktifitas aktif, baik untuk menyimak intensif maupun ekstensif, dan tahap
prasimak yang berfungsi unruk mengetahui pemahaman anak terhadap materi
simakan yang dipelajarinya. Guna lebih mengoperasionalkan prosedur
pembelajaran menyimak, berikut disajikan prosedur pembelajaran menyimak
berbasis proses menyimak.
1. Tahap Prasimak
Tahap prasimak merupakan tahapan yang dilakukan sebelum siswa
menyimak. Hal ini berarti tahapan ini berisis sejumlah aktifitas yang dapat
dilakukan siswa sebelum ia menyimak bahan bacaan. Tahapan prasimak
ini memiliki tujuan yakni sebagai berikut.
a. Membangun hubungan baik antara siswa dan materi simakan.
b. Membangun kebiasaan menyimak bertujuan.
c. Membangkitkan motivasi siswa untuk menyimak.
d. Memusatkan perhatian siswa terhadap bahan siswa.
e. Memandu kegiatan menyimak yang harus dilakukan siswa selama
pemebelajaran.
f. Memahami benar berbagai aktifitas yang harus siswa lakukan
selama proses pembelajaran menyimak.
Sejalan dengan tujuan kegiatan prasimak di atas, berikut diuraikan
berbagai aktifitas yang dapat siswa lakukan pada tahapan ini.
a. Memprediksi cerita
Aktifitas ini dapat dilakukan siswa sebelum siswa menyimak utuh
semua cerita yang akan diperdengarkan. Guru seyogyianya
menyiapkan bahan simakan berupa cerita yang bersifat misterius,
penuh jebakan, menuntut siswa berperansebagai seorang detektif ,
dan tentu saja mengandung muatan moral. Aktifitas ini dapat
digunakan dengan cara guru membacakan atau mendengarkan
seperempat cerita atau sampai pada peristiwa yang memerlukan
penyelesaian dan selanjutnya siswa disuruh menebak kelanjutan
cerita tersebut. Dalam kondisi siswa belum mampu menyusun
sendiri tebak cerita, guru dapat menyusun sejumlah pertanyaan yang
mengiring siswa untuk menebak kejadian selanjutnya dalm cerita
tersebut, baik berkenaan dengan nasib tokoh, alur cerita, seting
cerita, maupun akhir cerita.
b. Menebak cerita
Aktifitas ini dapat diterapkan dengan jalan guru menyiapkan dua
buah gambar atau ilustrasi yang berhubungan dengan cerita. Siswa
diminta mengamati kedua ilustrasi tersebut kemudian disuruh
menebak ilustrasi mana yang akan berhubungan dengan cerita yang
akan diperdengarkan. Variasi lain adalah siswa disuruh menebak
cerita yang mana yang paling menarik berdasarkan kedua ilustrasi
tersebut. Selanjutnya siswa diminta menebak bagaimana kira-kira isi
cerita dari kedua ilustrasi tersebut.
c. Curah pendapat
Aktifitas ini dapat dilakukan jika bahan simakan yang akan
diperdengarkan bersifat problematic (mengandung unsure
pemecahan masalah). Siswa diminta mencurahkan gagasannya
dalam hal memecahkan masalah tersebut. Misalnya, wacana yang
akan dibahas adalah “Menghemat Listrik” yang didalmnya
membicarakan pentingnya menghemat listrik dan bagaimana cara
menghemat listrik. Setelah mendengar tema bahan simakan, siswa
disuruh mencurahkan gagasannya tentang pentingnya menghemat
listrik dan cara menghemat listrik. Setelah siswa menuliskan atau
menyampaikan gagasannya barulah siswa diperdengarkan bahan
simakan tersebut.
d. Observasi gambar dan ilustrasi
Aktivitas ini dapat dilakukan jika bahan simakan berhubungan erat
dengan kehidupan anak.Pada tahap ini siswa diminta mengobservasi
gambar kemudian disuruh menuliskan segala yang mereka ketahui
tentang berbagai hal yang berhubungan dengan gambar
tersebut.Missal, guru menunjukan gambar berbagai alat komunikasi,
siswa kemudian disuruh mengamati gambar tersebut untuk
selanjutnya mereka disuruh menuliskan atau menyampaikan
berbagai hal tentang gambar tersebut, baik berupa jenis, karakter,
maupun ciri-ciri alat komunikasi tersebut.Uraikan yang harus dibuat
siswa cukup deskriptif.
e. Arisan Keinginan
Aktivitas ini bertujuan agar siswa termotivasi untuk mendengar
berbagai hal yang terkandung dalam bahan simakan. Aktivitas ini
dilakukan melalui pertanyaan pancingan guru tentang hal apa saja
yang belum diketahui oleh siswa tentang bahan simakan.
f. Pertanyaan pemandu
Aktivitas ini merupakan kegiatan yang harus dilakukan dengan jalan
menyusun pertanyaan seputar isi bahan simakan. Aktivitas ini
dilakukan setelah siswa mengetahui tema yang akan dipelajari
selanjutnya. Kemudian guru meminta siswa untuk membuat daftar
pertanyaan seputar isi bacaan.Dalam kondisi siswa belum mampu
menyusun pertanyaan, guru dapat membantu siswa dalam
mengarahkan.
g. Menyusun peta semantik
Dilakukan setelah siswa menerima peta semantik yang berisi hal-hal
pokok yang terkandung dalam bahan simakan.Bahan simakan yang
terpetak secara semantic hendaknya berisi seperangkat opini dan
fakta sehingga siswa menyusunnya dalam dua kategori yaitu fakta
dan opini.
h. Memerankan adegan/tokoh
Guru menunjuk beberapa siswa memerankan adegan/tokoh cerita
dengan membacakan dialog di depan kelas dan siswa lainnya
menyimak dialog tersebut. Alternative lain adalah guru menyuruh
siswa memerankan beberapa tokoh cerita.Siswa harus mampu
menyusun tebakan atas karakter tokoh tersebut.
i. Membongkar skemata
Siswa diminta menuliskan segala sesuatu yang telah diketahuinya
berkenaan dengan tema yang akan dijadikan bahan simakan.
2. Tahap menyimak
Tahap menyimak merupakan dilakukan selama siswa menyimak
atau selama kegiatan inti pembelajaran menyimak.Tahapan ini berisi
aktivitas yang dapat dilakukan siswa selama menyimak. Tujuan tahapan
menyimak:
a. Melatih konsentrasi siswa selama proses menyimak.
b. Menjembatani kegiatan bertukar ide bagi para siswa.
c. Meningkatkan kinerja siswa selama dan setelah menyimak.
d. Membangun pemahaman para siswa secara komprehensif.
e. Memunculkan ide kreatif berdasarkan bahan simakan.
Sejalan dengan tujuan tahapan di atas, berikut berbagai akktivitas
yang dapat siswa lakukan pada tahapan menyimak:
a. Mengisi peta konsep
Tujuan pada tahapan ini yaitu agar siswa benar-benar berkonsentrasi
menyimak bahan simakan yang diperdengarkan.
b. Menangkap ide pokok
Aktiitas ini dilakukan oleh siswa selam menyimak bahan simakan
yang diperdengarkan.Hal ini mirip dengan kegiatan mengisi peta
konsep, hanya bentuknya bebas dibuat oleh siswa.
c. Menjawab pertanyaan pemandu
Menjawab pertanyaan pemandu dilakukan oleh siswa saat proses
menyimak sedang berlangsung. Aktivitas ini dapat pula dilakukan
oleh siswa pada saat proses menyimak telah selesai dengan catatan
siswa teah mencatat ide pokok bahan simakan.
d. Diskusi ide pokok
Tahap ini dilakukan oleh siswa secara kooperatif dalam rangka
memecahkan masalah yang diperoleh pada saat mereka menyimak.
Proses diskusi sebaiknya dipandu oleh lembar kerja proses yang
dapat mengukur kolektif.
e. Membedakan fakta dan Opinia
Hal ini dilakukan jika bahan simakan berisi seperangkat fakta dan
opini. Siswa dituntut dapat membedakan fakta dan opini sekaligus
dapat memberi tanggapan berdasarkan cara pandang mereka sendiri.
f. Membangun peta cerita
Membangun peta cerita dilakukan setelah siswa selesai
menyimak.Siswa harus mampu menyusun seluruh peristiwa dan
bahan simakan yang diperdengarkan dan kemudian mengurutkannya
menjadi sebuah peta cerita.
g. Menyusun ide pokok menjadi kerangka karangan
Tahap ini merupakan kelanjutan atas aktivitas mencatat ide pokok.
Setelah ide pokok diperoleh siswa selama proses menyimak siswa
harus mampu menyusun ide tersebut secara terstruktur sehingga
membentuk sebuah kerangka karangan.
h. Menguji prediksi
Menguji prediksi pada tahap ini dilakukan siswa untuk menguji
prediksi pada tahap prasimak.Jika ternyata prediksinya salah maka
siswa harus memperbaikinya.
i. Membandingkan bahan simak dengan wacana lain
Kegiatan ini dilakukan agar siswa memperoleh pengetahuan lebih
luas atas tema bahan simakan yang diperdengarkannya .hasil dari
aktivitas ini adalah pemahaman siswa tentang kesamaan isi
perbedaan isi ataupun penilaian isi atas bahan simakan yang
diperbandingkan.
3. Tahap Pascasimak
Tahap ini merupakan tahapan yang dilakukan dengan tujuan utama
menguji kemampuan menyimak siswa. Hal ini merupakan sejumlah
aktivitas yang dapat dilakukan oleh siswa selama proses menyimak selesai
dan membahas isi simakan. Tahapan pascasimak ini memiliki tujuan yaitu
diantaranya:
a. Menguji kemampuan menyimak.
b. Menciptakan produk kreatif atas dasar bahan simakan.
c. Meningkatkan pengetahuan umum yang yang berkaitan dengan
iformasi yang terdapat dalam bahan simakan.
Sejalan dengan hal tersebut, berikut terdapat beberapa aktiitas yang
dapat siswa lakukan pada tahap pascasimak:
a. Menjawab pertanyaan sebagai bentuk tes kemampuan menyimak.
b. Meringkas atau menceritakan kembali isi bahan simakan.
c. Membuat cerita versi sendiri berdasarkan bahan simakan yang telah
diperdengarkan.
d. Membuat komik sederhana atas dasar bahan simakan.
e. Bermain peran.
f. Mengubah genre isi simakan.
g. Membuat intisari bahan simakan.
h. Membuat daftar istilah penting berdasarkan hasil kegiatan
menyimak.
E. Keterpaduan Prosedur Pembelajaran Menyimak dengan Pendidikan
Karakter
Keterkaitan antara pembelajaran menyimak dengan pendidikan karakter,
proses pembelajaran menyimak merupakan saluran pendidikan
karakter.Tahapan-tahapan dalam menyimak mengandung kegiatan-kegiatan
yang harus dilakukan oleh siswa.Secara tidak disadari, dalam kegiatan yang
dilakukan oleh siswa tersebut menunjukkan karakter dirinya sendiri. Untuk
memperjelas hubungan prosedur pembelajaran menyimak dengan
pengembangan karakter siswa, terdapat analisis aktivitas pembelajaran
menyimak pada setiap tahapan, seperti berikut.
1. Pada tahapan prasimak, siswa dapat melakukan serangkaian aktivitas
seperti curah pendapat tentang hal umum yang mungkin terkandung dalam
materi simakan. Kegiatan ini akan menuntut siswa mengungkapkan
pengetahuan yang dimilikinya sehingga ia akan lebih mudah menangkap
isi bacaan. Pada saat itu, sebenarnya siswa sedang membiasakan diri untuk
berkata jujur mengatakan hal yang telah diketahuinya. Selain jujur,
terdapat juga nilai keberanian, perhatian dan percaya diri. Pada kegiatan
membuat prediksi siswa dituntut untuk mengembangkan nilai karakter
perhatian komitmen, percaya diri kreativitas, kepekaan dan kontrol diri.
2. Pada tahap menyimak, siswa dapat melakukan kegiatan menyimak dengan
mengisi peta konsep. Aktivitas ini membentuk siswa untuk memiliki sifat
teliti, cermat, beretos kerja tinggi dan disiplin. Jika serangkaian kegiatan
menyimak dilakukan secara berkelompok, akan terdapat nilai gotong
royong, toleransi, demokratis dan tanggung jawab yang dikembangkan
oleh siswa.
3. Pada tahap pascasimak, tahap ini membentuk siswa jujur dalam menjawab
pertanyaan, kreatif mengubah isi materi menjadi wacana lain, dan berani
mengemukakan hasil pemahamannya atas sebuah bahan simakan. Selain
itu masih banyak lagi aktivitas pascasimak yang dapat mengembangkan
karakter siswa.

F. Metode-Metode Pembelajaran Menyimak Berbasis MID


Metode pada pembelajaran menyimak umunya berisi kegiatan siswa
selama menyimak baik prasimak, menyimak maupun pascasimak. Metode
menyimak yang dibuat oleh guru bias saja lebih efektif daripada metode yang
telah ada sebelumnya,, kerena gurulah yang mengetahui kondisi dan situasi
siswa-siswa di kelas dan hal yang harus dikembangkan oleh siswa dalam
pembelajaran menyimak ini.
1. Metode Cox
Metode Cox sebenarnya merupakan tawaran yang digagas Cox
(1999) bagi para guru untuk melaksanakan pembelajaran menyimak. Cox
sendiri sebenarnya tidak menamakan metode ini dengan metode
Cox.Namun demikian, guna menjamin keaslian pengembangnya, penulis
menamakan metode ini sebagai metode Cox.
Metode Cox merupakan metode pembelajaran menyimak yang
terdiri atas empat tahap pembelajaran yakni experiencing, sharing,
discussing, and reporting.Tujuan utama metode ini adalah agar siswa
mampu memiliki kemampuan menyimak yangtinggi berbasis kinerja
nyata aktif para siswa. Dalam praktik metode ini disarankan Cox untuk
digunakan dalam materi sastra, namun sebenarnya dapat pula digunakan
untuk materi yang lain. Secara terperinci tahap penerapan metode Cox
diuraikan sebagai berikut.
a. Tahap Prasimak
1) Apersepsi. Pada tahap ini guru melakukan kegiatan apersepsi
dengan cara mengaitkan materi simakan dengan pengalaman
siswa. Tujuan tahapan ini adalah untuk membangkitkan motivasi
siswa karena siswa sadar bahwa materi hari ini bermakna
baginya.
2) Mengalami. Pada tahap ini siswa dapat menstimulus perasaan,
emosi, dan ide yang dimilikinya. Siswa ditugaskan guru untuk
berbagi pengalaman tentang tema simakan yang telah
diungkapkan guru. Semakin banyak yang telah menyampaikan
pengalamannya, semakin baik pembelajaran. Oleh karena itu,
agar seluruh siswa berpartisipasi guru hendaknya menyuruh
siswa menuliskan pengalamannya secara singkat pada LKP dan
selanjutnya meminta beberapa siswa membacakannya di depan
kelas.
b. Tahap Menyimak
3) Siswa menyimak materi simakan yang diperdengarkan. Selama
siswa menyimak siswa mencatat beberapa hal penting yang
terdapat dalam bahan simakan misalnya tikoh dan karakternya,
setting, dan jalan cerita.
4) Diskusi. Siswa diminta berdiskusi tentang isi bahan simakan.
Hal-hal yang siswa diskusikan disusun oleh guru dalam LKP. Hal
yang didiskusikan bisa mencakup isi cerita, makna cerita, pesan
atupun amanat yang ada dalam cerita.
5) Menulis Laporan. Siswa diminta menyusun laporan diskusi yang
nanti akan disajikan di depan kelas. Usahakan dalam menyusun
laporan seluruh siswa terlibat. Oleh sebab itu, LKP yang guru
susun harus menerapkan prinsip kinerja kooperatif.
6) Presentasi. Pada tahap ini perwakilan kelompok menyajikan hasil
diskusi di depan kelas. Guru sebaiknya memilih anggota
kelompok secara acak untuk persentasi bukan ketua kelompok.
Setelah persentasi baiknya dilakukan Tanya jawab ataupun
diskusi kelas untuk memberikan kesempatan pada siswa lain
menanggapi hasil diskusi temannya.
c. Tahap Pascasimak
7) Menceritakan kembali. Pada tahap ini siswa secara individu
ditugaskan guru untuk menceritakan kembali isi wacana dengan
menggunakan bahasa sendiri.Kegiatan ini bertujuan untuk
mengukur kreativitas dan pemahan siswa menyimak.
2. Metode DLA ( Directed Listening Activity )
Metode DLA adalah metode pembelajaran terstruktur yang
digunakan oleh guru untuk meningkatkan kemampuan dan pemahaman
siswa dalam hal menyimak. DLA juga dimaksudkan agar siswa
mempunyai tujuan menyimak yang jelas dengan menghubungkan
berbagai pengetahuan yang telah dipunyai siswa sebelumnya untuk
membangun pemahaman.
Tujuan DLA adalah untuk (1) memberi guru format dasar dalam
memperkenalkan pembelajaran yang sistematis; (2) meningkatkan
rekognisi dan pemahaman siswa, dan (3) memandu siswa melaksanakan
menyimak secara cermat, dan (4) meningkatakan kemampuan siswa dalam
memahami isi materi simakan. DLA dilaksanakan dalam Lima tahap, yaitu
persiapan, menyimak, mengecek pemahaman dan diskusi, membacakan
hasil, dan tindak lanjut. Kelima tahapan tersebut diuraikan sebagai berikut:
a. Tahap Prasimak
1) Persiapan. Tahap ini dimaksudkan agar siswa memiliki persiapan
sebelum menyimak. Guna mempersiapkan siswa menyimak
haruslah dilakukan beberapa kegiatan sebagai berikut.
a) Membangkitkan skemata anak dengan cara menghubungkan
isis teks dengan pengalaman siswa ataupun denan materi
yang pernah siswa bahas.
b) Membangkitkan minat, guru membangun minat dan
antusiasme siswa untuk menyimak dengan cara
menggunakan berbagai media pembelajaran yang menarik
atau dengan cara menyajikan bagian bahan simakan yang
menumbuhkan keingintahuan siswa atas isi materi secara
lengkap.
c) Memperkenalkan beberapa kosakata baru yang mungkin
baru dikenal siswa yang terkandung dalam bahan simakan
d) Menetapkan tujuan menyimak, guru secara jelas menjelaskan
tujuan menyimak yang harus dicapai siswa setelah mereka
membaca. Tujuan menyimak juga dapat dinyatakan dalam
bentuk pertanyaan-pertanyaan pemandu sehingga siswa
memiliki arah yang jelas selama menyimak.
b. Tahap Menyimak
2) Menyimak. Pada tahap ini siswa melaksanakan kegiatan
menyimak guna menemukan jawaban atas pertanyaan tujuan
(pertanyaan pemandu) yang disampaikan guru pada tahap
prasimak. Usahakan guru mengurangi bantuan pada saat siswa
menyimak, namun tetap memperhatikan berbagai perilaku siswa
selama menyimak.
3) Mengecek pemahaman dan diskusi. Pada tahap ini siwa
berdiskusi dengan temannya untuk mengerjakan tugas yang
diberikan guru. Tugas tersebut bisa saja pertanyaan pemandu
yang telah ditetapkan ataupun tugas baru yang diberikan guru.
4) Membacakan Hasil Diskusi. Tahap ini berhubungan dengan tahap
sebelumnya. Yang dibacakan secara nyaring dalam hal ini adalah
jawaban-jawaban pertanyaan yang telah ditulis siswa selama
diskusi. Biasanya yang paling ditekankan adalah jawaban yang
kebenarnya masih diragukan oleh siswa sehingga perlu
pemecahan masalah secara bersama dengan bantuan guru. Jika
ditemukan masalah demikian, siswa akan dapat diperdengarkan
kembali bagi materi yang belum siswa ketahui.
c. Tahap Pascasimak
5) Tahap tindak lanjut. tahap ini bertujuan agar siswa semakin
memahami materi yang telah disimaknya serta memperkaya
pemahaman tentang konsep isi bahan simakan. Pada saat ini guru
juga dapat menyampaikan berbagai temuan yang diperolehnya
selama pembelajaran berlangsung termasuk membahas prilaku
menyimak siswa yang kurang baik. Kegiatan tindak lanjut ini
dapat diwujudkan dengan pemberian tugas kepada siswa untuk
menulis persi lain cerita, tugas membaca ekstensif dari berbagai
buku di perpustakaan dengan tema yang sama, ataupun melalui
kerja kreatif yakni dengan membuat ilustrasi isi cerita dan
membuat cerita berdasarkan versi siswa.
3. Metode DLTA (Directed Listening Thinking Activity)
Metode DLTA memfokuskan keterlibatan siswa dengan teks karena
siswa harus membuat prediksi dan membuktikannya ketika mereka
menyimak. Secara umum DLTA bertujuan agar siswa memiliki
kemampuan menyimak kritis dan reflektif. Secara khusus DLTA bertujuan
untuk mengembangkan kemampuan siswa dalam (1) menjelaskan tujan
menyimak; (2) mengutip, memahami, dan mengasimilasikan informasi;
(3) membahas bahan simakan berdasarkan tujuan menyimak; (4)
menggantungkan keputusan; dan (5) membuat keputusan berdasarkan
informasi yang diperoleh dari kegiatan menyimak. Adapun tahapan
metode DLTA dalam pembelajaran sebagai berikut.
a. Tahap prasimak
1) Guru memperkenalkan materi simakan, dengan cara
menyampaikan informasi tentang isi simakan.
2) Siswa membuat prediksi atas materi yang akan disimaknya.
b. Tahap Menyimak
3) Siswa menyimak materi secara cermt untuk mengecek prediksi
yang telah dibuatnya.
4) Menguji prediksi, siswa mengecek prediksi yang telah dibuatnya.
c. Tahap Pascasimak
5) Pelatihan keterampilan kreatif.
4. Metode KWL
KWL diciptakan atas dasar bahwa menyimak akan berhasil jika
diawali dengan kepemilikan skemata atas isi materi. Metode ini
dikembangkan oleh Ogle untuk membantu guru menghidupkan latar
belakang pengetahuan dan minat siswa pada suatu topik. Tahapan KWL
dapat diuraikan sebagai berikut.
a. Tahap Prasimak
1) Tahap Know (Apa yang diketahui)
Langkah pertama terdiri dari dua tahap yakni curah pendapat dan
menghasilkan kategori ide. Curah pendapat dilakukan guna
menggali berbagai pengetahuan yang telah siswa miliki tentang
topik yang akan dibahas. Berdasarkan curah pendapat tersebut,
selanjutnya guru membimbing siswa guna dapat membuat
kategori ide yang mungkin terkandung dalam bahan simakan
yang akan disimaknya.
2) Tahap What I want to Learn? (apa yang ingin saya ketahui)
Guru menuntun siswa menyusun tujuan khusus menyimak. Dari
minat, rasa ingin tahu, dan ketidakjelasan, yang ditimbulkan
selama langkah pertama guru mengajak siswa untuk membuat
berbagai pertanyaan yang jawabannya ingin diketahui siswa.
b. Tahap Menyimak
3) Tahap What I Have Learned (L)
Siswa menyimak secara sungguh-sungguh wacana ekspositori
yang diberikan guru. Kegiatan merupakan tindak lanjut untuk
menentukan, memperluas, dan menentukan seperangkat tujuan
menyimak. Selesai menyimak siswa menuliskan semua hal yang
telah diperolehnya sesuai dengan pertanyaan yang diajukannya.
c. Tahap Pascasimak
4) Tahap Tindak lanjut
Pertanyaan-pertanyaan yang tidak dapat dijawab oleh siswa
dibahas oleh guru. Setelah semua prioritas menyimak tuntas,
jelas, dan lengkap, guru dapat menugaskan siswa menceritakan
isi wacana, baik secara lisan maupun tulisan.
5. Metode PORPE (Predict, Organize, Rehears, Practise, Evaluate)
Pencetus metode PORPE adalah Simpson. PORPE pada dasarnya
adalah metode yang bertujuan untuk membuktikan bahwa menulis dapat
digunakan sebagai sarana terbaik dalam membentuk kemandirian
menyimak pada setiap jenis bahan simakan dan mengatasi kelemahan
siswa ketika menghadapi soal esai. PORPE secara umum bertujuan untuk
membantu siswa dalam (1) mengaktifkan dirinya dalam mempelajari
sebuah konsep melalui kegiatan merencanakan, memonitor, dan
mengevaluasi tahapan belajar yang dilaksanakannya, (2) mempelajari
proses yang berkenaan dengan mempersiapkan diri menghadapi ujian
uraian, dan (3) menggunakan proses menulis sebagai alat untuk
mempelajari teks bacaan. Tahapan pelaksanaan pembelajaran dengan
menggunakan metode PORPE adalah sebagai berikut.
a. Tahap Prasimak
1) Mempersiapkan bahan simakan
2) Menjelaskan prosedur pembelajaran
3) Menyusun prediksi
4) Mengorganisasikan pertanyaan
b. Tahap Menyimak
5) Konsentrasi
6) Praktikum
c. Tahap Pascasimak
7) Evaluasi
Selain kelima metode di atas berikut adalah beberapa metode
pembelajaran menyimak sebagai hasil memadukan berbagai aktivitas
menyimak.
1. Metode Rangsang Visual
Metode rangsang visual merupakan metode menyimak yang disusun
atas dasar rangsangan visual yang diberikan kepada siswa sebagai jalan
mendayagunakan skemata anak. Bahan simakan sebaiknya adalah hal yang
kontekstual bagi siswa. Tujuan utama metode ini adalah memaksimalkan
skemata bagi peningkatan kemampuan menyimak pemahaman.
Langkah-langkah metode ini adalah sebagai berikut.
a. Tahap Prasimak
1) Apersepsi. Pada tahap ini guru menghubungkan bahan simakan
dengan kehidupan sehari-hari siswa.
2) Observasi gambar dan ilustrasi. Siswa ditugaskan menuliskan
segala yang mereka ketahui tentang berbagai hal yang
berhubungan dengan gambar tersebut.
b. Tahap Menyimak
3) Mengisi peta konsep sesuai bahan simakan.
4) Menyusun ide pokok menjadi kerangkan karangan. Kelanjutan
dari tahap ini adalah siswa dapat menyusun ide pokok menjadi
ringkasan cerita menggunakan bahasa sendiri.
c. Tahap Prasimak
5) Menceritakan kembali. Pada tahap ini siswa menyampaikan hasil
karangannya di depan kelas.
2. Metode Rangsangan Imajinatif
Metode Rangsangan Imajinatif adalah mtode pembelajaran menyimak
yang memaksimalkan daya bayang siswa atas bahan simakan. Bahan
simakan dapat berupa cerita yang menarik bagi siswa. Tujuan utama metode
ini adalah mengembangkan kemampuan menyimak ekstensif pada diri
siswa. Langkah-langkah penerapan metode ini adalah sebagai berikut.
a. Tahap Prasimak
1) Apersepsi. Guru memperkenalkan dua atau tiga cerita yang akan
dibahas.
2) Menebak cerita.
b. Tahap Menyimak
3) Menangkap satuan peristiwa. Siswa ditugaskan mencatat setiap
satuan peristiwa pada cerita yang diperdengarkan.
4) Merespon karya. Siswa menanggapi cerita yang telah
disimaknya.
5) Membandingkan cerita.
6) Menguji cerita. Siswa ditugaskan menuliskan kesamaan,
perbedaan, atau penilaian isi atas dua cerita yang telah
diketahuinya.
c. Tahap Pascasimak
7) Membuat cerita versi sendiri.
3. Metode Rangsang Gagasan
Metode Rangsang Gagasan merupakan metode pembelajaran menyimak
yang berdasarkan kegiatan curah gagasan yang dilakukan siswa sebelum
proses menyimak. Bahan ajar yang digunakan sebaikya bahan ajar yang
problematik sehingga nantinya dapat merumuskan alternatif pemecahan
masalah, baik berdasarkan versi teks sebagai wujud pemahaman maupun
versi siswa sendiri sebagai wujud penalaran. Tujuan utama metode ini
adalah meningkatkan kemampuan daya simak siswa sekaligus membangun
kemampuan penalaran siswa. Langkah-langkah metode ini adalah sebagai
berikut.
a. Tahap Prasimak
1) Apersepsi. Guru memperkenalkan tema wacana yang akan siswa
pelajari selama pembelajaran menyimak.
2) Curah pendapat. Siswa ditugaskan untuk mencurahkan
gagasannya dalam hal memecahkan masalah seputar tema materi
simakan.
b. Tahap Menyimak
3) Menangkap ide. Siswa ditugaskan mencatat semua ide penting
yang berhubungan dengan upaya pemecahan masalah tema yang
dibahas.
4) Membedakan fakta dan opini. Selain membedakan fakta dan
opini siswa juga harus menaggapi fakta dan opini pada bahan
simakan sesuai pemahaman mereka.
5) Diskusi ide pokok.
c. Tahap Pasacasimak
6) Membuat intisari. Kegiatan ini bertujuan untuk menguji
kemampuan menyimak siswa dan juga daya nalar siswa.
7) Menjawab pertanyaan
4. Metode Rangsang Peran
Metode Rangsang Peran adalah metode pembelajaran menyimak yang
dilakukan dengan bermain peran sebagai rangsangan bagi siswa untuk
membangun kemampuannya dalam menyimak. Bahan ajar yang digunakan
sebaiknya adalah naskah drama pendek atau berupa rekaman drama atau
film. Tujuan utama metode ini adalah membangkitkan kemampuan siswa
menyimak dan mengembangkan daya kreatif siswa pascamenyimak.
Langkah-langkah metode ini adala sebagai berikut.
a. Tahap Prasimak
1) Pemilihan bahan dan pemain. Sebaiknya bahan simakan
diperankan minimal 3 orang.
2) Memerankan adegan/tokoh.
b. Tahap Menyimak
3) Peran lanjutan
4) Diskusi struktur cerita. Hal yang dibahas berupa alur, tokoh dan
penokohan, setting, dan makna cerita.
c. Tahap Pascasimak
5) Membuat komik sederhana
5. Metode Rangsang Tujuan
Metode Rangsang Tujuan merupakan metode pembelajaran menyimak
yang diawali dengan pelibatan siswa untuk mengemukakan berbagai
keingintahuannya tentang bahan simakan. Bahan ajar yang digunakan
sebagai berupa wacana yang bersifat persuasif. Tujuan utama penerapan
metode ini adalah untuk meningkatkan keterampilan siswa menyimak
sekaligus meningkatkan kemampuannya dalam mengemukakan gagasan
persuasif. Langkah-langkah penerapan metode ini adalah sebagai berikut.
a. Tahap Prasimak
1) Arisan keinginan. Guru memberikan pertanyaan pancingan
tentang apa saja yang belum siswa ketahui tentang bahan simakan
sehingga mereka ingin mengetahuinya.
2) Pertanyaan pemandu. Keinginan yang telah dibuat pada tahap
sebelumnya dijadikan sebuah pertanyaan yang harus mereka
jawab selama proses pembelajaran.
b. Tahap Menyimak
3) Menjawab pertanyaan pemandu.
4) Diskusi persuasif. Siswa berdiskusi untuk merumuskan berbagai
upaya yang dapat mereka lakukan dalam rangka membujuk orang
lain agar tertarik dengan ide mereka.
c. Tahap Pascasimak
5) Mengubah genre. Siswa menulis sebuah naskah pidato pendek
atas dasar bahan simakan yang telah mereka pahami.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
B. Saran

DAFTAR PUSTAKA
PEMBELAJARAN MENYIMAK BERBASIS MID

MAKALAH

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Model-Model


Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia

Dosen Pengampu:

Dra. Hj. Etty Rohayati, M.Hum.


Disusun oleh:
Kelompok 3
Eka Sri Hilmawati 1304324
Fikri Khairusy Syakirin 1304973
Lerina Depi Permana 1305210
Wulan Rimawati
Semester 7 Paket 2B

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR


UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
KAMPUS CIBIRU
BANDUNG
2016

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT karena berkat
rahmat dan karunia-Nya saya dapat menyelesaikan makalah yang berjudul
“Analisis Buku Siswa Tema 1 Kelas III Kurikulum 2013” ini. Shalawat serta
salam kami sampaikan kepada Nabi Muhammad SAW, kepada keluarga, sahabat,
serta pengikutnya, yang semoga sampai kepada kita selaku umatnya hingga akhir
zaman.
Kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu
terselesaikannya makalah ini. Makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas
mata kuliah Pembelajaran Terpadu dengan dosen pengampu Ibu Dra. Susilowati,
M.Pd. dan Bapak Rosyanto, M.Pd.
Semoga makalah ini bisa memberikan manfaat, baik kepada para pembaca
umumnya dan bagi kami selaku penyusun khususnya. Makalah ini bukanlah karya
yang sempurna karena masih memiliki banyak kekurangan, baik dalam hal isi
maupun sistematika dan teknik penulisannya. Oleh sebab itu, kami sangat
mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari para pembaca demi
kesempurnaan makalah ini.

Bandung, Oktober 2016


Penyusun

DAFTAR ISI
i
KATA PENGANTAR .................................................................................... i
DAFTAR ISI ................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang .............................................................................. 1
B. Rumusan Masalah ......................................................................... 2
C. Tujuan Penulisan ........................................................................... 2
D. Sistematika Penulisan.................................................................... 3
BAB II PEMBAHASAN
A. Buku Siswa Kelas III Tema 1 ....................................................... 4
B. Analisis Masing-Masing Subtema Buku Siswa Kelas III Tema 1 4
SUBTEMA 1 Perkembangbiakkan dan Daur Hidup Hewan ........ 4
SUBTEMA 2 Perkembangbiakkan Tumbuhan ............................. 25
SUBTEMA 3 PELESTARIAN HEWAN DAN TUMBUHAN
LANGKA ...................................................................................... 43
SUBTEMA 4 KEGIATAN BERBASIS PROYEK ...................... 64
C. Pembahasan Hasil Analisis Subtema Buku Siswa Kelas III
Tema 1 ........................................................................................... 65
D. Keterkaitan Tema dengan Siswa ................................................... 66
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan.................................................................................... 71
B. Saran .............................................................................................. 71
DAFTAR PUSTAKA