Anda di halaman 1dari 1

Demokrasi dan Supremasi Sipil

Dalam konteks reformasi sektor keamanan, konsep negara demokratik dapat


digunakan sebagai pisau analisis. alasannya, karena filosofi dasar dari SS
RPengakuan terhadap supremasi sipil. karena itu, prinsip yang patut
digarisbawahi adalah militer TNI dan Polri tunduk dan patuh terhadap otoritas
pemerintahan sipil yang demokratis.

Adapun pengertian supremasi sipil itu dapat dirumuskan dan uraian


sederhana. pertama, Konsep supremasi sipil harus dipahami merujuk pada
pengertian sebagai civil supremacy of rule/law. Dengan kata lain, setelah masa
dalam hukum yang dibuat oleh sipil, dan bukan supremasi sipil di atas
hukum. selanjutnya, dalam sistem demokrasi, pemegang otoritas supremasi
sipil itu tidak terfokus pada, atau didominasi oleh satu pusat kekuasaan, tetapi
dianya Terbagi 3 secara seimbang yaitu antara eksekutif, legislatif dan yudikatif
dengan istilah yang lazim dikenal sebagai check and balances.

Bentuk eksekutif, ada dua kemungkinan pemegang otoritas sipil yaitu dalam
kabinet presidensial ada di tangan Presiden dalam kabinet parlementer ada
ditangan perdana menteri. implikasinya adalah bahwa seluruh
aparat pertahanan- keamanan negara harus bekerja dalam kerangka sistem
demokrasi parlementer atau pilihan lainnya dalam sistem demokrasi presidensial.

catatan tentang konsep ini kemudian adalah bahwa konsep supremasi sipil tidak
bisa dipisahkan dari kebutuhan untuk melakukan check and balances dan
sepanjang sistem check and balances Diantara ketiga cabang kekuasaan itu
tidak terwujud maka gagasan supremasi sipil itu juga akan sulit untuk
diwujudkan. implikasi dari pemuaian ini adalah bahwa SSR tidak selalu
berhubungan dengan ada atau tidaknya pemimpin nasional yang berasal dari
sipil. dapat saja terjadi, suatu negara yang dipimpin oleh seorang sipil tetapi
tidak terdapat mekanisme check and balances, misalnya negara
komunis. dalam sistem seperti ini aparat pertahanan-keamanan merupakan alat
dari partai. Karena itu sering juga dikatakan bahwa SR dalam negara demokratis
harus dipahami dalam pengertian democratic control. Artinya bahwa ternyata
sipil yang mengontrol atau mengendalikan adalah otoritas yang dipilih oleh rakyat
melalui pemilu yang kompetitif dan dilakukan secara regular. prinsip dasarnya
kemudian adalah bagaimana memposisikan (kedudukan) serta peran (role)
Dalam sistem demokrasi semacam itu. TNI bukan lagi sebagai Political
army tetapi sebagai professional army. Dalam prinsip tersebut, pihak TNI dan
Polri benar-benar hanya akan melakukan sesuatu berdasarkan atas kebijakan
yang telah dibuat oleh pemerintah sipil, dan tidak membuat kebijakan sendiri.