Anda di halaman 1dari 2

BAB I

PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang

Saat ini penyakit muskuloskeletal telah menjadi masalah yang banyak dijumpai di
pusat-pusat masalah kesehatan di seluruh dunia. Salah satu masalah pada tulang yang
mengakibatkan keparahan diasabilitas adalah fraktur. Fraktur adalah terputusnya
kontinuitas struktur tulang atau tulang rawan bisa komplet atau inkomplet atau
diskontinuitas tulang yang disebabkan oleh gaya yang melebihi elastisitas tulang.4 Fraktur
juga melibatkan jaringan otot, saraf, dan pembuluh darah di sekitarnya. Secara klinis,
fraktur dibagi menjadi fraktur terbuka (open/compound fracture), yaitu jika patahan
tulang itu menembus kulit sehingga berhubungan dengan udara luar, dan fraktur tertutup
(simple fracture), yaitu jika fragmen tulang tidak berhubungan dengan dunia luar atau
kulit di lokasi fraktur masih intak. Pembagian fraktur terbuka berdasarkan Gustillo dan
Anderson dibagi menjadi derajat I, II, IIIA, IIIB, dan IIIC.1
Badan Kesehatan Dunia (WHO 2011) dan Depkes 2007 mencatat bahwa
kecelakaan lalu lintas menewaskan hampir 1,3 juta jiwa diseluruh dunia atau 3000
kematian setiap hari dan menyebabkan cedera sekitar 6 juta orang setiap tahunnya.1,2
Kecelakaan di Indonesia menunjukkan peningkatan 6,72% dari 57.726 kejadian di tahun
2009 menjadi 61.606 insiden di tahun 2010 atau berkisar 168 insiden setiap hari dan
10.349 meninggal dunia atau 43,15%.1 Kecelakaan lalu lintas merupakan penyebab
terbanyak terjadinya fraktur, tapi fraktur juga bisa terjadi akibat faktor lain seperti proses
degeneratif dan patologi.2 Kejadian fraktur di Indonesia sebesar 1,3 juta setiap tahun
dengan jumlah penduduk 238 juta, merupakan terbesar di Asia Tenggara.3 Hasil tim
survei Depkes RI 2007 didapatkan 25% penderita fraktur mengalami kematian, 45%
mengalami cacat fisik, 15% mengalami stres psikologis dan bahkan depresi, serta 10%
mengalami kesembuhan.1,2
Salah satu fraktur yang paling sering terjadi adalah pada bagian paha
(tulang femur). Dari 45.987 orang dengan kasus fraktur ekstremitas bawah akibat
kecelakaan, 19.629 orang mengalami fraktur pada tulang femur, 14.027 orang mengalami
fraktur cruris, 3.775 orang mengalami fraktur tibia, 970 orang mengalami fraktur pada

1
2

tulang-tulang kecil di kaki dan 336 orang mengalami fraktur fibula.2 Fraktur dapat terjadi baik
dari distal sampai ke proksimal femur. Fraktur femur secara umum dibedakan atas : fraktur collum femur,
fraktur subtrokanter, fraktur batang femur, fraktur suprakondiler dan fraktur interkondiler. Dalam
beberapa penelitian disebutkan bahwa fraktur femur pada anak terjadi di region
subtrokanter dan suprakondilar berkisar 1,6%. Rasio antara laki-laki dan perempuan
adalah 2:1.3,4
Penanganan fraktur terdiri atas penanganan preoperatif, intra operatif dan
pascaoperatif.4,6 Untuk mengatasi berbagai pemasalahan yang akan timbul akibat trauma
tersebut baik pre operasi maupun post operasi maka diperlukan juga kerjasama yang
melibatkan berbagai rehabilitasi medis antara lain dokter, fisioterapi, okupasi terapi, yang
secara bersama-sama bertugas memperbaiki, menjaga dan memulihkan organ-organ yang
terkena.3

1.2.Tujuan

Tujuan dari penulisan refrat ini adalah untuk mengetahui cara penegakkan diagnosa
dari fraktur shaft femur serta penatalaksanaan dari fraktur shaft femur baik dari segi
operasi terutama dari segi rehabilitasi medik, demi tercapainya fungsi femur secara
normal.