Anda di halaman 1dari 32

MAKALAH

MANAJEMEN PENGGANGGARAN
“ANGGARAN BAHAN MENTAH”

S1 Manajemen (Semester IV)

Disusnn Oleh :
Kelompok IV
Yulia Nurhutsna (150253110368)
Yurike Havanny (150253110370)
Riska Afriani Dewita (150253110359)
Intan Widia Cahayu (150253110342)
Aldilla Silmi (150253110329)
Restu Amalia (140753112007)
Yuliandri (13100715311029)

STIE RIAU AKBAR


Jl Hr. Subrantas KM. 12, Panam, Pekanbaru, Indonesia
S1 Manajemen (Semester IV)
2018

29
Kata Pengantar

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang, Kami
panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah,
dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan Makalah Manajemen
Penganggaran tentang “Anggaran Bahan Mentah” dan manfaatnya untuk masyarakat.

Makalah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari berbagai
pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu kami menyampaikan
banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam pembuatan makalah
ini.

Terlepas dari semua itu, Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari
segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan terbuka kami
menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki makalah ini.

Akhir kata kami berharap semoga makalah tentang tentang Makalah Manajemen
Penganggaran dan isinya untuk masyarakat ini dapat memberikan manfaat maupun inpirasi
terhadap pembaca.
Pekanbaru, 23 Maret 2018

Penyusun

29
Daftar isi

Kata pengantar.---------------------------------------------------------------------------------------------i
Daftar isi.---------------------------------------------------------------------------------------------------ii
Bab I pendahuluan.----------------------------------------------------------------------------------------
1
A. Latar belakang.-----------------------------------------------------------------------------------------1
B. Rumusan masalah.-------------------------------------------------------------------------------------2
C. Tujuan penelitian.--------------------------------------------------------------------------------------3
D. Manfaat penelitian.------------------------------------------------------------------------------------4

Bab II tinjauan pustaka dan kerangka berfikir............................................... 4


A. Tinjauan pustaka .................................................................................... 4
B. Kerangka berpikir .................................................................................. 5

Bab III Pembahasan Hasil Penelitian ........................................................... 6


A. Kesalahan fonologi ................................................................................ 6
B. Kesalahan morfologi ............................................................................. 10
C. Kesalahan sintaksis ............................................................................... 11
D. Kesalahan leksikon................................................................................ 11

Bab IV Kesimpulan dan Saran ....................................................................12


A. Kesimpulan ............................................................................................12
B. Saran .....................................................................................................12
Daftar pustaka ............................................................................................13

29
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dalam suatu perusahaan atau organisasi yang didirikan pastilah memiliki suatu tujuan yang
ingin dicapai dengan cara yang efektif dan efisien. Pencapaian tujuan tersebut memerlukan
perencanaan dan pengendalian kegiatan-kegiatan kerja yang baik. Dari perencanaan dan
kegiatan yang baik diharapkan mampu membantu dan mempermudah organisasi dalam
mencapa tujuannya secara efektif dan efisien. Oleh karena itu setiap organisasi diharapkan
menyusun anggaran, karena penganggaran itu penting untuk membuat perencanaan dan
mengendalikan kegiatan perusahaan. Pengendalaian dan perencanaan harus disusun secara
teliti,penuh pertimbangan dan serta disesuakaan dengan kondisi perkembangan yang terjadi
saat ini.
Perlunya anggaran bagi manajemen adalah dapat menjabarkan perencanaan, pengawasan,
pengendlian, koordinasi dan sebagai pendoman kerja secara sistematis, juga digunakan untuk
mengetahui penyimpangan penyimpangan yang terjadi dan terpenting untuk meningkatkan
tanggung jawab dari masing-masing karyawan atas pekerjaan yang menjadi kewajibannya.

Anggaran secara sederhana adalah suatu rencana tertulis untuk operasi-operasi perusahaan.
Anggaran dapat berupa ikhtisar pendapatan atau ikhtisar neraca untuk keseluruhan operasi
perusahaan. Anggaran dapat disajikan untuk lingkungan individual dari aktivitas perusahaan.

Contoh, anggaran bahan mentah dapat memusatkan pada perencanaan pembelian bahan baku
dan aggaran bahan baku mentah dapat merencanakan suatu bagian dari proses produksi. Hal
ini merupakan aspek-aspek penting yang lain untuk persiapan dalam menggunakan seluruh
anggaran.

Pengertian Anggaran
Anggaran merupakan suatu rencana yang disusun secara sistematis dalam bentuk angka dan
dinyatakan dalam unit moneter yang meliputi seluruh kegiatan perusahaan untuk jangka
waktu (periode) tertentu di masa yang akan datang. Oleh karena rencana yang disusun
dinyatakan dalam bentuk unit moneter, maka anggaran seringkali disebut juga dengan
rencana keuangan. Dalam anggaran, satuan kegiatan dan satuan uang menempati posisi

29
penting dalam arti segala kegiatan akan dikuantifikasikan dalam satuan uang, sehingga dapat
diukur pencapaian efisiensi dan efektivitas dari kegiatan yang dilakukan.

Penganggaran merupakan komitmen resmi manajemen yang terkait dengan harapan


manajemen tentang pendapatan, biaya dan beragam transaksi keuangan dalam jangka waktu
tertentu di masa yang akan datang.

Anggaran hanya alat, bagaimanapun baiknya suatu alat, bagaimanapun baiknya suatu
anggaran, tidak akan berfungsi dengan baik bila manusia yang menggunakan alat tersebut
tidak dapat menggunakannya dengan baik.

Anggaran memiliki fungsi yang sama dengan manajemen yang meliputi fungsi perencanaan,
pelaksanaan, dan pengawasan. Hal ini disebabkan anggaran mempunyai fungsi sebagai alat
manajemen dalam melaksanakan fungsinya.

Gambar 1.1
Proses Manajemen

fungsi manajemen dimulai dari fungsi perencanaan (planning), kemudian diadakan


pelaksanaan (actuating) dan perencanaan memberikan proses umpan maju dalam
pelaksanaan pekerjaan sehari -hari, setelah dilakukan pelaksanaan, barulah diadakan
pengawasan (controlling), dan pengawasan memberikan proses umpan balik dalam
perencanaan, artinya pengawasan melakukan evaluasi dengan cara membandingkan rencana
dengan realisasi, apakah pekerjaan sudah dilaksanakan sesuai rencana.

29
1. Perencanaan
Anggaran sebagai alat perencanaan juga harus memperhatikan hubungan (kaitan)
anggaran yang satu dengan anggaran yang lain, misalnya antara anggaran beban distribusi
barang yang dijual dengan anggaran barang yang dijual, apakah peningkatan anggaran
beban distribusi diikuti dengan peningkatan anggaran barang yang dijual (anggaran
jualan).
Aspek lain yang penting dari perencanaan dengan menggunakan anggaran adalah
perencanaan dana yang tersedia seefisien mungkin. Semua belanja memerlukan dana
(uang), dan dana adalah sumber daya yang langka, sudah menjadi kebiasaan bahwa
seringkali keperluan dana melebihi dana yang tersedia. Oleh karena itu, para penyusun
anggaran harus memperhitungkan berbagai kemungkinan belanja dana yang ada, dan
menentukan kemungkinan mana yang paling menguntungkan bagi perusahaan. Jadi, salah
satu fungsi anggaran adalah menentukan rencana belanja dan sumber dana yang ada
seefisien mungkin.
Anggaran merupakan alat perencanaan tertulis menuntut pemikiran yang teliti dan akan
memberikan gambaran yang lebih nyata/jelas dalam unit dan uang.
Misalnya laba tahun 2016 direncanakan setinggi-tingginya. Rencana yang dirumuskan
dengan kata "setinggi-tingginya" tidak jelas maksudnya, karena laba setinggi -tingginya
bagi perusahaan yang satu tidak sama dengan perusahaan yang lain. Dalam anggaran,
rencana laba setinggi-tingginya dirumuskan secara teliti dan nyata, yaitu dinyatakan secara
kuantitatif. Misalnya laba tahun 2016 yang harus dicapai Perusahaan Kecap Sehat
direncanakan setinggi-tingginya Rp 2.835.872,00.

2. Pelaksanaan
Anggaran sebagai pedoman pelaksanaan pekerjaan, artinya sebelum pekerjaan
dilaksanakan terlebih dahulu mendapat persetujuan yang berwenang (terutama dalam hal
keuangan).
Pekerjaan disetujui, dilaksanakan bila ada anggarannya, bila tidak menyimpang dari
anggaran. Beli kendaraan tidak akan disetujui bila tidak ada anggarannya, beli bahan lebih
mahal daripada anggaran juga tidak akan disetujui, sebab semua itu akan mengganggu
keuangan perusahaan bila disetujui. Anggaran merupakan pedoman dalam pelaksanaan
pekerjaan sehingga pekerjaan dapat dilaksanakan secara selaras dalam mencapai tujuan
(laba). Jadi anggaran penting untuk menyelaraskan (koordinasi) setiap bagian kegiatan,
seperti : Bagian Pemasaran, Bagian Umum, Bagian Produksi, dan Bagian Keuangan.

29
Contoh:
Untuk mencapai laba tahun 2016 sebesar Rp2.835.872,00 misalnya Bagian Pemasaran
harus menjual pada tahun 2016:
Kecap sedang 12.000 botol @ Rp533,33 = Rp 6.400.000,00
Kecap manis 24.000 botol @ Rp650,00 = Rp15.600.000,00
Kecap asin 18.000 botol @ Rp533,33 = Rp 9.600.000,00
Jumlah 54.000 botol = Rp31.600.000,00

Bagian Produksi pada tahun 2016 harus memproduksi;


Kecap sedang sebanyak 12.020 botol
Kecap manis sebanyak 23.985 botol
Kecap asin sebanyak 18.010 botol
Jumlah 54.015 botol

Bagian Keuangan harus menyediakan dana pada tahun 2016, triwulan:


I = Rp 4.287.991,00
II = Rp 7.191.279,00
III = Rp 7.011.271,00
IV = Rp 7.840.723,00
Jumlah = Rp26.331.264,00

Bagian Umum pada tahun 2016 harus menyediakan tenaga kerja yang diperlukan:
Tenaga produksi 20 orang
Tenaga pemasaran 100 orang
Tenaga lainnya 15 orang
Jumlah 135 orang

Bila salah satu bagian (departemen) saja tidak dapat melaksanakan tugas sesuai dengan
yang direncanakan maka bagian lain juga tidak dapat melaksanakan tugasnya sesuai
rencana. Dengan demikian tiap bagian harus melaksanakan tugasnya secara selaras,
terarah, terkoordinir sesuai dengan yang direncanakan atau yang telah ditetapkan dalam
anggaran.

29
3. Pengawasan
Anggaran merupakan alat pengawasan (controlling). Pengawasan berarti mengevaluasi
(menilai) terhadap pelaksanaan pekerjaan, dengan cara:
a. memperbandingkan realisasi dengan rencana ( anggaran)
b. melakukan tindakan perbaikan apabila dipandang perlu (apabila terdapat penyimpangan
yang merugikan).

Anggaran sebagai alat pengawasan dipakai sebagai pegangan oleh manajer yang
bertanggung jawab menjalankan operasi untuk mengadakan penilaian dari hasil yang
dicapainya. Dapatan (revenues) sesungguhnya yang diperoleh maupun
beban (expenses) sesungguhnya yang dikorbankan dapat dinilai baik atau jelek bila
dihubungkan dengan data yang telah dianggarkan, dan juga bila dihubungkan dengan
perubahan kondisi sejak anggaran disusun.

Manfaat Anggaran
Dengan penyusunan anggaran usaha-usaha perusahaan akan lebih banyak berhasil apabila
ditunjang oleh kebijaksanaan-kebijaksanaan yang terarah dan dibantu oleh perencanaan-
perencanaan yang matang. Perusahaan yang berkecenderungan memandang ke depan, akan
selalu memikirkan apa yang mungkin dilakukannya pada masa yang akan dating. Sehingga
dalam pelaksanaannya, perusahaan-perusahaan ini tinggal berpegangan pada semua rencana
yang telah disusun sebelumnya. Di mana, bagaimana, mengapa, kapan, adalah pertanyaan-
pertanyaan yang selalu mereka kembangkan dalam kegiatan sehari-hari. Apabila pada suatu
kesempatan hal ini ditanyakan kepada seorang General Manager yang sukses, maka sering
didapatkan jawaban bahwa ide-ide untuk kegiatan pada waktu mendatang pada umumnya
didasarkan pada jawaban atas pertanyaan-pertanyaan diatas. Dalam perusahaan-perusahaan
manufatktur ( pabrik) kegiatan akan dilakukan dengan lebih efisien dan tingkat keuntungan
akan lebih besar apabila management memperhatikan rencana untuk aktivitas-aktivitasnya di
masa depan. Karena itu Heckerts dan Wilson mengatakan bahwa manfaat utama daripada
business budgeting adalah dapat ditentukannya kegiatan-kegiatan yang paling profitable yang
akan dilakukan.

29
Sedangkan manfaat lain adalah membantu manajer dalam mengelola perusahaan. Manajer
harus mengambil keputusan-keputusan yang paling menguntungkan perusahaan, seperti
memilih barang-barang atau jasa yang akan diproduksi dan dijual, memilih/menseleksi
langganan, menentukan tingkat harga, metode-metode produksi, metode-metode distribusi,
termin penjualan. Budgeting mempunyai manfaat yang pada dasarnya sama, yakni dalam hal
perencanaan, koordinasi, dan pengawasan.

Dalam bidang perencanaan


 Mendasarkan kegiatan-kegiatan pada penyelidikan-penyelidikan studi dan penelitian-
penelitian. Budget bermanfaat untuk membantu manajer meneliti, mempelari masalah-
masalah yang berhubungan dengan kegiatan yang akan dilakukan. Dengan kata lain,
sebelum merencanakan kegiatan, manajer mengadakan penelitian dan pengamatan-
pengamatan terlebih dahulu. Kebiasaan membuat rencana-rencana akan menguntungkan
semua kegiatan. Terutama kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan kebutuhan
financial, tingkat persediaan, fasilitas-fasilitas produksi, pembelian, pengiklanan,
penjualan , sales promotion, pengembangan produk, expansi dan lain-lain.
 Mengerahkan seluruh tenaga dalam perusahaan dalam menentukan arah/kegiatan yang
paling menguntungkan. Budget yang disusun untuk waktu panjang, akan sangat
membantu dalam mengerahkan secara tepat tenaga-tenaga kepala bagian, salesman,
kepala cabang dan semua tenaga operasional.
 Untuk membantu atau menunjang kebijaksanaan-kebijaksanaan perusahaan
 Menentukan tujuan-tujuan perusahaan. Manajemen yang dapat menentukan tujuannya
secara jelas dan logis ( dapat dilaksanakan) adalah manajemen yang akan berhasil.
Penentuan tujuan ini dibatasi oleh beberapa faktor. Budget dapat membantu manajemen
dalam memilih : mana tujuan yang dapat dilaksanakan dan mana yang tidak.
 Membantu menstabilkan kesempatan kerja yang tersedia. Seorang majikan yang baik
tidak akan pernah mengabaikan atau tidak mempedulikan kesejahteraan pegawainya.
Perencanaan kebutuhan tenaga kerja yang baik akan mengakibatkan dapat
dihindarkannya kelebihan dan kekurangan tenaga kerja. Tanpa rencana tentang
kebutuhan tenaga kerja, mengakibatkan terpaksa diberhentikannya sebagian buruh yang
berlebihan. Bila terus menerus berlangsung hal ini akan mengakinatkan tidak stabilnya
tingkat employment

29
 Mengakibatkan pemakaian alat-alat fisik secara lebih efektif. Dengan disusunnya
perencanaan yang terperinci, dapat dihindarkan biaya-biaya yang timbul karena kapasitas
yang berlebihan. Pemakaian alat-alat fisik yang efektif dan ekonomis akan
membantu/menyokong tujuan akhir perusahaan yaitu keuntungan yang maksimum.

Dalam bidang koordinasi


 Membantu mengkoordinasikan faktor manusia dengan perusahaan. Dalam beberapa
situasi mungkin faktor hubungan manusia dengan perusahaan ini adalah yang terpenting.
Seringkali terjadi kasus di mana manajer tidak tahu apa yang akan dilakukannya di
tahun-tahun mendatang. Akibatnya kadang-kadang manajer frustasi dan merasa makin
lama semakin tidak mampu mengatasinya. Penyusunan rencana yang terperinci (beruapa
budget) membantu manajer mengatasi masalah itu, sehingga ia kembali merasa adanya
hubungan antara kemampuannya dengan perusahaan yang dipimpinnya.
 Menghubungkan aktivitas perusahaan dengan trend dalam dunia usaha. Dalam
penelitian-penelitian yang telah dilakukan tampak bahwa trend keuntungan yang didapat
oleh perusahaan tergantung juga kepada keadaan dunia usaha pada umumnya. Karena itu
dengan disusunnya budget, dapat dinilai apakah rencana ter sebut sesuai denagn keadaan
dunia usaha yang akan dihadapi.
 Menempatkan penggunaan modal pada saluran-saluran yang menguntungkan, dalam arti
seimbang dengan program-program perusahaan. Sebelum membelanjakan uangnya,
perusahaan harus mempelajari terlebih dahulu saluran-saluran mana yang paling
menguntungkan atau yang paling sesuai dengan program perusahaan. Sebagian dana
digunakan untuk peralatan dan persediaan barang, sedangkan bagian yang lain
dipergunakan untuk promosi dan biaya penjualan lain. Kedua bagian tersebut harus
seimbang . Tanpa perencanaan yang baik mungkin saja terjadi persediaan barang terlalu
jauh di atas kemampuan penjualan atau produksi.
 Untuk mengetahui kelemahan-kelemahan dalam organisasi. Setelah rencana yang baik
disusun dan kemudian dijalankan. Kelemahan-kelemahan dapat dilihat untuk kemudian
diperbaiki.

Dalam bidang pengawasan


 Untuk mengawasi kegiatan-kegiatan dan pengeluaran-pengeluaran. Tujuan utama dari
perencanaan adalah memilih kegiatan yang paling menguntungkan. Kegiatan tersebut
tidak hanya direncanakan saja, tetapi di dalam peleksanaannya harus diadakan

29
pengawasan agar betul-betul seperti yang direncanakan. Beberapa kegiatan dan
pengeluaran sangat perlu diawasi. Misalnya : kegiatan promosi penjualan, kadang-
kadang mengeluarkan terlalu banyak biaya tanpa menghasilkan kenaikan penjualan yang
sepadan. Atau kegiatan produksi yang terlalu jauh menyimpang dari rencana sehingga
harga pokok per unit produk demikian tinggi.
 Untuk pencegahan secara umum pemborosan-pemborosan, sebetulnya ini adalah tujuan
yang paling umum daripada penyusunan budget. Kontrol terhadap pelaksanaan
diharapkan dapat mengurangi pemborosan-pemborosan.

Dengan melihat uraian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa manfaat penyusunan anggaran
adalah :
 Adanya perencanaan terpadu. Anggaran perusahaan dapat digunakan sebagi alat untuk
merumuskan rencana perusahaan dan untuk menjalankan pengendalian terhadap berbagai
kegiatan perusahaan secara menyeluruh. Dengan demikian, anggaran merupakan suatu
alat manajemen yang dapat digunakan baik untuk keperluan perencanaan maupun
pengendalian.
 Sebagai pedoman pelaksanaan kegiatan perusahaan. Anggaran dapat memberikan
pedoman yang berguna baik bagi manajemen puncak maupun manajemen menengah.
Anggaran yang disusun dengan baik akan membuat bawahan menyadari bahwa
manajemen memiliki pemahaman yang baik tentang operasi perusahaan dan bawahan
akan mendapatkan pedoman yang jelas dalam melaksanakan tugasnya. Disamping itu,
penyusunan anggaran memungkinkan perusahaan untuk mengantisipasi perunahan dalam
lingkungan dan melakukan penyesuaian sehingga kinerja perusahaan dapat lebih baik.
 Sebagai alat pengkoordinasian kerja. Penganggaran dapat memperbaiki koordinasi kerja
intern perusahaan. Sistem anggaran memberikan ilustrasi operasi perusahaan secara
keseluruhan. oleh karenanya system anggaran memungkinkan para manajer divisi untuk
melihat hubungan antarbagian (divisi)
 Sebagai alat pengawasan kerja. Anggaran memerlukan serangkaian standar prestasi atau
target yang bisa dibandingkan dengan realisasinya sehingga pelaksanaan setiap aktivitas
dapat dinilai kinerjanya. Dalam menentukan standar acuan, diperlukan pemahaman yang
realistis dan analisis yang saksama terhadap kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh
perusahaan. Penentuan standar yang sembarangan tanpa didasari oleh pengetahuan dapat
menimbulkan lebih banyak masalah daripada manfaat. Hal ini mengingat standar dalam
anggaran yang ditetapkan secara sembarangan tersebut mungkin merupakan target yang

29
mustahil untuk dicapai karena terlalu tinggi atau terlalu rendah. Standar yang ditetapkan
terlalu tinggi akan menimbulkan frustasi atau ketidakpuasan. sebaliknya penetapan
standar yang terlalu rendah akan menjadikan biaya menjadi tidak terkendalikan,
menurunkan laba dan semangat kerja.
 Sebagai alat evaluasi kegiatan perusahaan. Anggaran yang disusun dengan baik
menerapkan standar yang relevan akan memberikan pedoman bagi perbaikan operasi
perusahaan dalam menentukan langkah-langkah yang harus ditempuh agar pekerjaan
bisa diselesaikan dengan cara yang baik, artinya menggunakan sumber-sumber daya
perusahaan yang dianggap paling menguntungkan. Terhadap penyimpangan yang
mungkin terjadi dalam operasionalnya perlu dilakukan evaluasi yang dapat menjadi
masukan berharga bagi penyusunan anggaran selanjutnya.

Tujuan Anggaran
Adapun tujuan penyusunan anggaran adalah :
 Untuk menyatakan harapan/sasaran perusahaan secara jelas dan formal, sehingga bisa
menghindari kerancuan dan memberikan arah terhadap apa yang hendak dicapai
manajemen.
 Untuk mengkomunikasikan harapan manajemen kepada pihak-pihak terkait sehingga
anggaran dimengerti, didukung, dan dilaksanakan.
 Untuk menyediakan rencana terinci mengenai aktivitas dengan maksud mengurangi
ketidakpastian dan memberikan pengarahan yang jelas bagi individu dan kelompok
dalam upaya mencapai tujuan perusahaan.
 Untuk mengkoordinasikan cara/metode yang akan ditempuh dalam rangka
memaksimalkan sumber daya.
 Untuk menyediakan alat pengukur dan mengendalikan kinerja individu dan kelompok,
serta menyediakan informasi yang mendasari perlu-tidaknya tindakan koreksi.

Anggaran Harga Pokok Barang Yang Dijual


Estimasi diperlukan sebelum anggaran harga pokok yang dijual disusun. Estimasi tersebut
adalah:
1. Jumlah unit dan biaya tiap-tiap bahan mentah yang dipakai.
2. Jumlah unit dan biaya tiap-tiap bahan mentah yang dibeli.
3. Kualitas dan biaya tenaga kerja langsung yang diperlukan.
4. Overhead pabrik yang diperkirakan akan dikeluarkan.

29
Tiap-tiap estimasi tersebut dapat berbentuk sebuah aggaran seperti yang akan dibahas pada
uraian berikut:

Anggaran pemakaian bahan mentah dan pembelian


Perhatikan bahwa anggaran pamakaian bahan mentah dan pembelian sangat erat kaitannya
dengan aggaran tingkat produksi yang telah dijelaskan sebelumnya. Jumlah unit tiap-tiap
bahan mentah yang dipakai dan yang dibeli secara langsung bergantung pada tngkat produksi
standar penting yang termasuk dalam anggaran tersebut adalah:
a. Biaya perunit bahan mentah yang diperkirakan
b. Kualitas tiap-tiap jenis bahan yang diperkirakan dipakai untuk tiap produk jadi.

B. Rumusan Masalah
Sesuai dengan latar belakang yang telah diuraikan diatas, penulis bermaksud untuk
menjelaskan hal-hal yang berhubungan dengan Manajemen Penganggaran yaitu Anggaran
Bahan Mentah. Adapun hal-hal yang akan penulis angkat pada penulisan Makalah ini untuk
dibahas lebih lanjut adalah:
1. Anggaran Kebutuhan Bahan Mentah
2. Anggaran Pembelian Bahan Mentah
3. Anggaran Persediaan Bahan Mentah
4. Anggaran Biaya Bahan Mentah yang Habis digunakan
5. Study Kasus

C. Tujuan Penelitian
Adapun manfaat yang diharapkan dari penulisan ini, antara lain:
Tujuan Umum>Memahami konsep dasar dan mengetahui komponen-komponen mengenai
penyusunan anggaran bahan mentah, serta mampu mengendalikan bahan
mentah.

BAB II
LANDASAN TEORI

29
A. Pengertian
Menurut pengertian para ahli bahan mentah yang di perlukan untuk proses produksi dibagi
menjadi dua macam yaitu :
 Bahan Mentah Langsung.
Bahan mentah langsung atau direct material adalah semua bahan mentah yang
merupakan bagian daripada barang jadi yang di hasilkan, bahan mentah langsung ini
apabila di masukkan ke dalam pencatatan penganggaran di catat ke dalam anggaran
bahan mentah.

 Bahan Mentah Tidak Langsung.


Bahan Mentah tidak langsung atau disebut juga dengan indirect material, adalah bahan
baku yang ikut berperan dalam proses produksi tetapi tidak secara langsung tampak pada
barang jadi yang di hasilkan. Bahan mentah tidak langsung ini apabila di lakukan
pencatatan di dalam penganggaran perusahaan dicatat di dalam anggaran B.O.P atau
Biaya Over Head Pabrik.

Secara ringkas tujuan penyusunan anggaran bahan mentah dapat dikatakan sebagai berikut :
a. Memperkirakan jumlah kebutuhan bahan mentah
b. Memperkirakan jumlah pembelian bahan mentah yang dipergunakan
c. Sebagai dasar untuk memperkirakan kebutuhan dana yang diperlukan untuk melaksanakan
pembelian bahan mentah
d. Sebagai dasar penyusunan product costing
e. Sebagai dasar melaksanakan fungsi pengawasan bahan mentah

Anggaran bahan mentah terdiri dari:


1. Anggaran Kebutuhan Bahan Mentah
Anggaran ini disusun sebagai perencanaan jumlah bahan mentah yang dibutuhkan untuk
keperluan produksi pada periode mendatang. Kebutuhan bahan mentah diperinci menurut
jenisnya, menurut macam barang jadi yang akan dihasilkan, serta menurut bagian-bagian
dalam pabrik yang menggunakan bahan mentah tersebut.

2. Anggaran Pembelian Bahan Mentah

29
Anggaran ini disusun sebagai perencanaan jumlah bahan mentah yang harus dibeli pada
periode mendatang.Bahan mentah yang harus dibeli diperhitungkan dengan
mempertimbangkan faktor-faktor persediaan dan kebutuhan bahan mentah.

3. Anggaran Persediaan Bahan Mentah


Jumlah bahan mentah yang dibeli tidak harus sama dengan jumlah bahan mentah yang
dibutuhkan, karena adanya faktor persediaan. Anggaran ini merupakan suatu perencanaan
yang terperinci atas kuantitas bahan mentah yang disimpan sebagai persediaan.

4. Anggaran Biaya Bahan Mentah yang Habis Digunakan dalam Produksi.


Sebagian bahan mentah disimpan sebagai persediaan, dan sebagian dipergunakan dalam
proses produksi, anggaran ini merencanakan nilai bahan mentah yang digunakan dalam
satuan uang.

B. Anggaran Kebutuhan Bahan Mentah


Bahan mentah yang dipakai dalam proses produksi dikelompokkan menjadi bahan mentah
langsung dan tak langsung. Anggaran kebutuhan bahan mentah disusun untuk merencanakan
jumlah fisik bahan mentah langsung yang diperlukan, bukan nilainya dalam rupiah. Secara
terperinci pada anggaran ini harus dicantumkan:
 Jenis barang jadi yang dihasilkan.
 Jenis bahan mentah yang digunakan.
 Bagian-bagian yang dilalui dalam proses produksi.
 Standar penggunaan bahan mentah.
 Waktu penggunaan bahan mentah.

Menentukan Kebutuhan Bahan Mentah


Jumlah bahan mentah yang dibutuhkan untuk proses produksi dalam satu periode waktu
tertentu dapat ditentukan dengan berbagai cara, yakni :
1. Perkiraan langsung
Cara ini mengandung banyak resiko, antara lain berupa terlalu besar atau terlalu
kecilnya perkiraan. Karena itu cara ini lebih baik diserahkan pada pihak-pihak yang
telah berpengalaman dalam memproduksi barang yang sama pada waktu-waktu
sebelumnya. Bagi mereka cara ini lebih menguntungkan karena :
 Lebih mudah

29
 Lebih cepat
 Lebih ringan biayanya

2. Berdasarkan perhitungan standart penggunaan bahan


Standart penggunaan dihitung dengan berbagai cara, seperti dengan melakukan
percobaan-percobaan di laboratorium dan melakukan percobaan khusus didalam
pabrik, dengan mendasarkan diri pada pemakaian nyata waktu yang lalu tercatat pada
bill of material, dan dengan melihat angka penggunaan rata-rata yang ditentukan
secara statis.

Contoh Soal :
PT. Dua Saudara memproduksi 2 macam barang yakni barang A dan barang B dengan
menggunakan bahan mentah X, Y, Z. rencana produksi selama 3 bulan mendatang
adalah :

Bulan A B
Januari 10.000 7.000
Februari 12.000 8.000
Maret 11.000 7.000

Standart penggunaan untuk setiap jenis bahan mentah adalah :

Bahan Mentah
barang
X Y Z
A 3 3 1
B 2 3 2
Harga setiap unit masing-masing jenis bahan mentah adalah :
X = Rp. 80,-
Y= Rp. 70,-
Z = Rp. 60,-

PT. DUA SAUDARA


Anggaran Kebutuhan Bahan Mentah
Januari-Maret 2014

29
Bahan Bahan Bahan
produksi mentah X mentah Y mentah Z
SP kebutuhan SP kebutuhan SP kebutuhan
Barang A
Januari 10.000 30.000 30.000 10.000
Februari 12.000 3 36.000 3 36.000 1 12.000
Maret 11.000 33.000 33.000 11.000
Jumlah 33.000 99.000 99.000 33.000
Barang B
Januari 7.000 14.000 21.000 14.000
Februari 8.000 2 16.000 3 24.000 2 16.000
Maret 7.000 14.000 21.000 14.000
Jumlah 22.000 44.000 66.000 44.000
Jumlah kebutuhan 143.000 165.000 77.000

C. Anggaran Pembelian Bahan Mentah


Anggaran pembelian bahan mentah berisi rencana kuantitas bahan mentah yang harus dibeli
oleh perusahaan dalam periode waktu mendatang.Ini harus dilakukan secara hati-hati
terutama dalam jumlah dan waktu pembelian. Apabila jumlah bahan mentah yang dibeli
terlalu besar akan mengakibatkan berbagai risiko seperti : bertumpuknya bahan mentah di
gudang, yang mungkin mengakibatkan penurunan kualitas, terlalu lamanya bahan mentah
menunggu giliran diproses, atau biaya penyimpangan yang menjadi lebih besar. Apabila
jumlah bahan mentah yang dibeli terlalu kecil; juga akan mendatangkan risiko berupa
terhambatnya kelancaran proses produksi akibat kehabisan bahan mentah, serta timbulnya
biaya tambahan untuk mencari bahan mentah pengganti secepatnya.

Jumlah Pembelian Yang Paling Ekonomis


(Economical Order Quantity/EOQ)
Hal yang perlu selalu dipikirkan oleh perusahaan selain besarnya kebutuhan juga
besarnya (jumlah) bahan mentah setiap kali dilakukan pembelian, yang menimbulkan
biaya paling rendah tetapi tidak mengakibatkan kekurangan bahan mentah.Jumlah

29
pembelian yang paling ekonomis ini disebut sebagai Economical Order Quantity (EOQ).
Menghitung EOQ dipertimbangkan dua jenis biaya yang bersifat variabel, yaitu:

a. Biaya Pemesanan
Biaya pemesanan yaitu biaya-biaya yang dikeluarkan sehubungan dengan kegiatan
pemesanan bahan mentah. Biaya ini berubah-ubah sesuai dengan frekuensi pemesanan,
semakin tinggi frekuensi pemesanannya semakin tinggi pula biaya
pemesanannya.Sebaliknya biaya ini berbanding terbalik dengan jumlah (kuantitas) bahan
mentah setiap kali pemesanan.
Hal ini disebabkan karena semakin besarnya jumlah setiap kali pemesanan dilakukan,
berarti frekuensi pemesanan menjadi semakin rendah.Seperti:
 biaya-biaya persiapan pemesanan;
 biaya administrasi;
 biaya pengiriman pesanan;
 biaya mencocokkan pesanan yang masuk;
 biaya mempersiapkan order pembayaran.

b.Biaya Penyimpanan
Biaya penyimpanan yaitu biaya-biaya yang dikeluarkan sehubungan dengan kegiatan
penyimpanan bahan mentah yang telah dibeli.Biaya ini berubah-ubah sesuai dengan
jumlah bahan mentah yang disimpan. Semakin besar jumlah bahan mentah setiap kali
pemesanan maka biaya penyimpanan akan semakin besar pula. Jelaslah bahwa biaya
penyimpanan mempunyai sifat yang berlawanan dengan biaya pemesanan. Seperti:
 biaya pemeliharaan;
 biaya asuransi administrasi;
 biaya perbaikan kerusakan.

Dengan memperhatikan kedua jenis biaya di atas, maka jumlah pembelian yang paling
ekonomis dapat dihitung dengan rumus:

29
Dimana :
R = jumlah bahan mentah yang akan dibeli dalam suatu jangka waktu tertentu.
S = biaya pemesanan.
P = harga per unit bahan mentah.
I = biaya penyimpanan yang dinyatakan dalam persentase dari persediaan rata-rata.

Contoh Soal 1
PT. SSS memperkirakan kebutuhan bahan mentah selama tahun 2014 sebanyak 3.000 kg.
setiap kali dipesan, akan dikeluarkan biaya sebesar Rp. 100,- sebagai biaya perangko.
Harga per Kg bahan mentah adalah Rp. 50,-. Biaya penyimpanan akan sebesar 50 % dari
persediaan rata-rata. Maka jumlah pembelian yang paling ekonomis adalah :
2.3000 .100
EOQ = √
50.50
= 154,92 = 155

Contoh Soal 2
Biaya penyimpangan dan pemeliharaan di gudang (Carrying cost) adalah 40 % dari nilai
average inventory. Biaya pesanan (procurement cost) adalah Rp.15, setiap kali pesan.
Jumlah material yang dibutuhkan selama setahun sebanyak 1.200 unit dengan harga
Rp.1.00 per unitnya.

EOQ = 2 x 1.200 x 15 = 36.000 = 90.000


1 x 0,40 40/100

= 300 Unit

Berdasarkan hasil analisis di atas, bahwa cara pembelian yang paling ekonomis ialah
pembelian bahan sebanyak 300 unit setiap kali pesan yang ini berarti bahwa kebutuhaan
material sebanyak 1.200 unit selama 1 tahun akan dipenuhi dengan 4 kali pesan 300 unit.
Pada jumlah pesanan inilah tercapai biaya pembelian yang minimal.

Contoh Soal 3 :

29
Jumlah material yang dibutuhkan selama setahun = 1.600 unit pesanan sebesar Rp.
100,00 setiap kali pesanan Biaya penyimpangan per unit = Rp. 0,50. Besarnya EOQ
adalah ?
2 x 1.600 x 100 = 640.000 = 800 unit
Biaya-biaya yang termasul dalam carrying cost adalah :
1. Biaya penggunaan/ sewa ruangan gudang.
2. Biaya pemeliharaan material dan allowances untuk kemungkinan rusak
3. Biaya untuk menghitung/ menimbang barang yang dibeli
4. Biaya asuransi
5. Biaya absolesnce
6. Biaya modal
7. Pajak dari persediaan yang ada dalam gudang.

Waktu pembelian bahan mentah


Untuk menjaga kelancaran proses produksi tidak cukup hanya ditentukan jumlah bahan
mentah yang dibeli. Harus ditentukan pula kapan pemesanan bahan mentah, hal ini harus
dilakukan agar bahan mentah itu dapat datang tepat pada waktu dibutuhkan. Bahan
mentah yang datang terlambat dapat mengakibatkan terganggunya kelancaran proses
produksi, sebaliknya bahan mentah yang datang terlalu awal akan menimbulkan masalah
pula. Karena itu dalam menentukan waktu pemesanan bahan mentah perlu diperhatikan
faktor LEAD TIME. Setelah sitentukan faktor lead time, maka dapat ditentukan
REORDER POINT.
Untuk merencanakan saat pemesanan bahan mentah pada periode mendatang, perlu
diperhatikan faktor-faktor :
1. lead time yang terjadi pada pemesanan-pemesanan sebelumnya (data historis)
2. extra-carrying cost
3. stock out cost
Dalam melakukan pengamatan data historis, harus dilakukan terhadap beberapa data,
untuk kemudian dihitung probabilitasnya dari total pengamatan.

Bentuk dasar anggaran pembelian bahan mentah

29
Telah diuraikan di muka bahwa anggaran pembelian bahan mentah dapat disusun apabila
total kebutuhan bahan mentah untuk suatu periode telah ditentukan, dengan perhitungan
sebagai berikut.

Persediaan akhir...................................................XX
Kebutuhan bahan mentah....................................XX +
Jumlah kebutuhan................................................XX
Persediaan awal...................................................XX _
Pembelian bahan mentah.....................................XX

Dalam anggaran pembelian bahan mentah dicantumkan


a. jenis bahan mentah yang digunakan dalam proses produksi
b. jumlah yang harus dibeli
c. harga per satuan bahan mentah
Dengan mencantumkan harga per satuan bahan mentah, maka dapat dihitung jumlah
uang yang akan dikeluarkan oleh perusahaan untuk pembelian bahan mentah.

D. Anggaran Persediaan Bahan Mentah


Dalam penyusunan anggaran kebutuhan bahan mentah dan anggaran pembelian bahan
mentah di muka, tampak bahwa masalah nilai persediaan awal dan persediaan akhir bahan
mentah selalu diperhitungkan.
Setiap perusahaan dapat mempunyai kebijaksanaan dalam menilai persediaan yang berbeda.
Tetapi pada dasarnya kebijaksanaan tentang penilaian persediaan dapat dikelompokkan
menjadi:
1. Kebijaksanaan FIFO (First In First Out).
2. Kebijaksanaan LIFO (Last In First Out).

Dalam kebijaksanaan FIFO, bahan mentah yang lebih dahulu digunakan untuk produksi
adalah bahan mentah yang lebih dahulu masuk di gudang, sehingga sering pula
diterjemahkan ”pertama masuk pertama keluar”. Dengan kata lain, penilaian bahan mentah di
gudang nilainya diurutkan menurut urutan waktu pembeliannya. Sebaliknya dalam
kebijaksanaan LIFO, harga bahan mentah yang masuk ke gudang lebih akhir justru dipakai
untuk menentukan nilai bahan mentah yang digunakan dalam produksi, meskipun pemakaian
fisik tetap diurutkan menurut urutan pemasukannya.

29
Perlu ditetapkan terlebih dahulu oleh perusahaan, kebijaksanaan mana yang dipilih.Hal ini
penting dalam rangka penyusunan anggaran persediaan bahan mentah dan anggaran biaya
bahan mentah yang habis digunakan, karena adanya faktor perbedaan harga dari waktu ke
waktu.Harga bahan mentah mungkin berbeda dari waktu ke waktu, dan ini perlu diperhatikan
karena nilai bahan mentah yang ada di dalam gudang dan yang dipakai untuk produksi juga
berbeda dari waktu ke waktu.Karena itu harus diperhitungkan, apakah bahan mentah
digunakan secara FIFO atau LIFO.

Besarnya bahan mentah yang harus tersedia untuk kelancaran proses produksi tergantung
pada beberapa faktor, seperti :
1. Volume produksi selama satu periode waktu tertentu (ini dapat dilihat dalam Anggaran
produksi)
2. Volume bahan mentah minimal, yang disebut safety stock (persedian besi)
3. Besarnya pembelian yang ekomomis
4. Estimasi tentang naik turunnya harga bahan mentah pada waktu-waktu mendatang
5. Biaya-biaya penyimpanan dan pemeliharaan bahan mentah
6. Tingkat kecepatan bahan mentah menjadi rusak

Persediaan Besi
Persediaan besi adalah persediaan minimal bahan mentah yang harus dipertahankan
untuk menjamin kelangsungan proses produksi. Besarnya persediaan bahan besi
ditentukan oleh berbagai faktor yakni :
1. Kebiasaan leveransir menyerahkan bahan mentah yang dipesan, apakah selalu tepat
waktunya atau tidak.
2. Jumlah bahan mentah yang dibeli setiap kali pemesanan
3. Dapat diperkirakan atau tidaknya kebutuhan bahan mentah secara tepat
4. Perbandingan antara biaya penyimpanan bahan mentah dan biaya ekstra karena
kehabisan bahan mentah

Bentuk Dasar Anggaran Persediaan Bahan Mentah


Dalam anggaran persediaan bahan mentah perlu diperincikan hal-hal sebagai berikut :
1. Jenis bahan mentah yang digunakan
2. Jumlah masing-masing jenis bahan mentah yang tersisa sebagai persediaan

29
3. Harga per unit masing-masing jenis bahan mentah
4. Nilai bahan mentah yang disimpan sebagai persediaan

E. Anggaran Biaya Bahan Mentah Yang Habis Digunakan


Tidak semua bahan mentah yang tersedia akan habis digunakan untuk produksi. Hal ini
disebabkan karena dua hal, yakni:
1. Perlu adanya persediaan akhir, yang akan menjadi persediaan awal periode
berikutnya.
2. Perlu adanya persediaan besi agar kelangsungan produksi tidak terganggu akibat
kehabisan bahan mentah.

Bahan mentah yang telah habis digunakan dalam proses produksi harus dihitung nilainya.
Rencana besarnya nilai bahan mentah yang habis digunakan dalam proses produksi
dituangkan dalam suatu anggaran tersendiri di sebut anggaran biaya bahan mentah yang habis
digunakan.
Manfaat disusunnya anggaran biaya bahan mentah yang habis digunakan antara lain adalah:
1. Untuk keperluan Product Costing, yakni perhitungan harga pokok barang yang
dihasilkan perusahaan.
2. Untuk keperluan pengawasan penggunaan bahan mentah.

Bentuk Dasar Anggaran Biaya Bahan Mentah yang Habis Digunakan


Dalam anggaran ini standart penggunaan bahan mentah masi diperhatikan, tetapi tidak
dicantumkan lagi karena sudah dicantumkan pada Anggaran Kebutuhan Bahan Mentah.
Anggaran biaya bahan mentah yang habis digunakan perlu memperinci hal-hal :
1. Jenis bahan mentah yang diguanakan
2. Jumlah masing-masing jenis bahan mentah yang habis digunakan untuk produksi
3. Harga per unit masing-masing jenis bahan mentah
4. Nilai masing-masing bahan mentah yang habis digunakan untuk produksi
5. Jenis barang yang (dihasilkan dan) menggunakan bahan mentah
6. Waktu penggunaan bahan mentah

Fungsi Perencanaan, Koordinasi, dan Pengawasan pada Anggaran-Anggaran


Bahan Mentah

29
Seperti halnya anggaran produksi, anggaran kebutuhan barang mentah, persediaan bahan
mentah dan pembeliaan bahan mentah merupakan alat perencana bagi perusahaan.Dalam
anggaran-anggaran tersebut secara terperinci dibuat rencana tentang segala sesuatu yang
berhubungan dengan penggunaan bahan mentah pada waktu mendatang.

Dilain pihak anggaran bahan mentah berfungsi sebagai alat pengkoordinasian kebutuhan
bahan mentah dengan tingkat persediaan dan kebutuhan bahan mentah.Koordinasi antara
tiga faktor ini sangat perlu diperhatikan agar tidak menghambat kelancaran
produksi.Anggaran bahan mentah berfungsi pula sebagai alat pengawasan.Sebagai
pelengkap fungsi pengawasan maka disusun laporan pengawasan, yang menunjukan
perbandingan antara rencana dengan realisasi daripada pembelian bahan mentah dan
penggunaan bahan mentah.
1. Laporan Pelaksanaan Tentang Pembelian Bahan Mentah
Laporan ini digunakan sebagai alat untuk mengetahui perbandingan dan
penyimpangan yang terjadi.

Contoh :
Dari anggaran pembelian bahan mentah diperoleh data tentang pembelian bulan
Januari sbb :
Unit yang dibeli 15.000
Harga per unit Rp.2,-
Sedangkan realisasinya adalah sbb :
Unit yang dibeli 13.500
Harga per unit Rp. 2,2
Laporan Pelaksanaannya
Januari 2014
Penyimpangan
Rencana Realisasi
Jumlah Persentase
Unit yg dibeli 15.000 13.500 1.500 10
Harga per unit Rp. 2,- Rp.2,2 Rp. 0,2 9

2. Laporan Pelaksanaan Tentang Pemakaian Bahan Mentah


STUDY KASUS

Contoh Soal 1

29
PT. Yogya memperkirakan kebutuhan bahan mentah selama satu tahun sebesar 6.000 unit,
untuk merencanakan saat pemesanaan yang tepat harus di lakukan maka diamati 20 buah data
pemesanan yang terjadi pada tahun- tahun sebelumnya. Dari pengamatan tersebut di peroleh
kenyataan:
Lead time 4 hari = 3 buah.
Lead time 5 hari = 6 buah.
Lead time 6 hari = 5 buah.
Lead time 7 hari = 6 buah.
Biaya penyimpanan bahan mentah perunit pertahun adalah Rp 6,- biaya pemesanan setiap
kali pesan Rp 500,-. Apabila kehabisan bahan mentah maka dapat di cari bahan mentah
pengganti, untuk itu di perlukan biaya Rp 1,5,- bagi setiap unit bahan mentah pengganti .
safety stock sebesar 200 unit. Apabila 1 tahun dianggap 360 hari , maka kapan pemesanan
kembali harus di lakukan? Dan kapan bahan mentah harus di pesan kembali?

Jawab
Kebutuhan (R) = 6.000 unit.
Carrying cost (C) = Rp 6 / unit.
Biaya pesan (S) = Rp 500,-
Stock out cost = Rp 1,5 / unit.

Rumus yang di gunakan : EOQ = √(2 R.S)/(C/unit) .


Alasan menggunakan rumus di atas diantara kedua rumus EOQ yang sudah ada karena
terdapat carrying cost dan stock out cost.
Maka perhitungannya menjadi :
EOQ = √(2 x (6.000 x 500))/6
= √6.000.000/6
= √1.000
= 1.000 unit.

Sehingga frekuensi pemesanan menjadi :


R : EOQ. = 6.000 : 1.000. = 6 kali.
Untuk mengetahui kapan bahan mentah tersebut harus dipesan kembali, maka harus di
ketahui terlebih dahulu kapan waktu tunggu yang paling ekonomis.
Carrying Cost adalah biaya pemeliharaan dari bahan mentah yang ada di karenakan bahan

29
mentah yang di butuhkan tersebut datang terlalu cepat, sehingga dalam menghitung Extra
Carrying Cost maka harus dimulai dari hari yang paling terkecil terlebih dahulu, dan ini di
karenakan kebutuhan pemeliharaan dari bahan mentah yang datang terlalu awal tadi.
Caryying Cost perhari perorder dapat di cari dengan menggunakan rumus :
(EOQ x C/Unit)/(∑▒〖hari ( 1Tahun )〗)
=(1.000x 6)/(360)
=16,67.

Bila lead time 4 hari.


ECC = 0.
Alasannya di karenakan dalam waktu 4 hari merupakan waktu yang paling cepat menurut
data yang ada sebelumnya sehingga tidak mungkin datang lebih cepat lagi, maka nilainya
menjadi 0.

Bila lead time 5 hari.


Maka perhitungan ECC menjadi :
=1(0,15)(16,67). =2,50.
Terdapat kemungkinan bahwa bahan mentah yang di pesan bisa datang dalam jangka waktu 4
hari, atau 1 hari lebih cepat, sehingga memiliki nilai probabilitas sebesar 0,15, sedangkan
nilai 0,15 diperoleh dari hasil pembagian antara data lead time historis pada soal dengan
jumlah lead time pada hari ke 4 dan di kalikan 100 % :
3 : 20 (100%) =0,15.

Bila lead time 6 hari.


Maka perhitungan ECC menjadi :
2(0,15)(16,67) = 5.
1(0,30)(16,67) = 5.
Hasil jumlah dari keduanya menjadi: 5 + 5 = 10.
Dari data lead time 6 hari dapat di simpulkan bahwa bahan mentah dapat datang dalam waktu
4 hari atau 2 hari lebih cepat dengan probabilitas 0,15 atau bisa juga datang pada hari ke 5
atau 1 hari lebih cepat dengan tingkat probabilitas sebesar 0,30 ,yang mana nilai 0,30 dapat
dicari dengan cara yang sama dengan probabilitas pada hari ke 4 tadi yaitu :
Lead time hari ke 5 di bagi dengan jumlah seluruh data di kalaikan dengan 100 %:
6 : 20 (100%). = 0,30.

29
Bila lead time 7 hari.
Maka perhitungan ECC menjadi :
3(0,15)(16,67) = 7,50.
2(0,30)(16,67) = 10.
1(0,25)(16,67) = 4,17.
Hasil jumlah dari ketiganya menjadi : 21,67.
Dari lead time dengan jangka waktu 7 hari dapat di lihat bahwa ada kemungkinan bahwa
bahan mentah datang dalam 4 hari atau 3 hari lebih cepat dengan nilai probabilitas sebesar
0,15, dan bisa juga datang dalam waktu 5 hari atau 2 hari lebih cepat dengan memiliki
probabilitas sebesar 0,30 tetapai bisa juga datang dalam waktu 6 hari atau 1 hari lebih cepat
dengan tingkat probabilitas sebesar 0,25, sedangkan nilai 0,25 dapat dihitung sengan cara
yang sama dengan yang diatas yaitu :
5 : 20 (100%) = 0,25.

Stock Out Cost.


Stock out cost adalah biaya bahan mentah yang timbul di karenakan bahan mentah yang di
pesan datang terlambat, sehingga perusahaan harus mengeluarkan biaya tambahan akibat
keterlambatan pengiriman dari bahan mentah yang dibutuhkan tersebut, oleh karena
pengertian tersebut maka dalam mencari perhitungan Stock Out Cost dimulai dari hari yang
paling terakhir. Stock out cost perhari dapat di cari dengan menggunakan rumus :
R : ∑ Hari ( 1 Tahun ).
6.000 : 360 = 16,67= 17 unit.

Bila lead time 7 hari.


Stock out cost = 0.
Karena waktu 7 hari adalah waktu yang paling lama untuk keterlambatan bahan baku yang
datang di perusahaan.

Bila lead time 6 hari.


SOC
1(0,30)(17)(1,5) = 7,65.

29
Ada kemungkinan bagi bahan baku untuk datang terlambat selama 7 hari atau 1 hari lebih
lambat dengan probabilitas 0,30. Dengan cara penghitungan probabilitas sama dengan ECC.

Bila lead time 5 hari.


SOC
2(0,30)(17)(1,5) = 15,3.
1(0,25)(17)(1,5) = 6,38.
Jumlah
15,3 + 6,38 = 21,68.
Ada kemungkinan bahwa Bahan Mentah datang dalam 7 hari atau 2 hari lebih lambat dengan
probabilitas 0,30. Dan bisa juga Bahan Mentah datang 6 hari atau 1 hari lebih lambat dengan
probabilitas 0,25.

Bila Lead Time 4 hari.


SOC
3(0,30)(17)(1,5) = 22,95
2(0,25)(17)(1,5) = 12,75.
1(0,30)(17)(1,5) = 7,65.
Jumlah.
22,95+12,75+7,65 = 43,35.
Ada kemungkinan bahwa bahan mentah datang dalam 7 hari atau 3 hari lebih lambat dan
mempunyai probabilitas 0,30. Bisa juga bahan mentah datang dalam 6 hari atau 2 hari lebih
lambat dengan probabilitas 0,25. Dan ada kemungkinan juga bahan mentah datang dlam 5
hari atau 1 hari lebih lambat dengan memiliki probabilitas 0,30.
Dari perhitungan ECC dan SOC diatas maka dapat diperoleh data Lead Time atau waktu
tunggu, yaitu sebagai berikut :
Lead Time 4 hari: 0 + 43,35 = 43,35.
Lead Time 5 hari : 2,50 + 21,68 = 24,18.
Lead Time 6 hari : 10 + 7,65 = 17,65.
Lead Time 7 hari : 21,67 + 0 = 21,67.
Jadi berdasarkan perhitungan ECC dan SOC diatas lead time 6 hari mempunyai total biaya
ekstra yang paling terkecil, dengan demikian reorder point atau waktu pemesanan kembali
bahan mentah yang di butuhkan dapat di ketahui dengan cara menambahkan jumlah safety
stock dengan kebutuhan selama lead time,

29
Kebutuhan selama lead time
6 X 17 unit = 102.
Reorder Point
200 + 102 = 302 Unit.
Dari perhitungan reorder point atau ROP tersebut, mempunyai pengertian bahwa bahan
mentah harus dilakukan pemesanan kembali pada saat tingkat persediaan bahan menunjukkan
angka 302 unit.

BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN

29
Suatu anggaran adalah merupakan suatu rencana keuangan periodic yang disusun bedasarkan
program-program yang telah disahkan, bisa juga diartikan anggaran adalah rencana tertulis
mengenai kegiatan suatu organisasi yang dinyatakan secara kuantitatif dan umumnya
dinyatakan dalam satuan uang dalam jangka waktu tertentu.
Anggaran mempunyai fungsi sebagai fungsi perencanaan, fungsi pelaksanaan, dan fungsi
pengawasan dimana semua fungsi tersebut dimanfaatkan uintuk mencapai tujuan dan apa
yang telah diharapkan dari penyusunan anggaran tersebut, sehingga berjalan baik sesuai apa
yang telah diharapkan.Anggaran terdiri darim berbagai macam diantaranya anggaran menurut
dasar penyusunan, cara penyusunan, jangka waktunya, bidang anggaran, badasarakan
kemampuan anggaran, dan menurut fungsinya dimana semua macam anggaran ini dibagi jadi
beberapa lagi.
Pada hakikatnya suatu anggaran itu merupakan bagian yang sangat penting untuk
perencanaan efektif jangka pendek dan control dalam organisasi. Dengan adanya suatu
anggaran maka setiap perusahaan dapat mengestimasikan kinerja yang hendak di capai
selama jangka waktu tertentu yang dinyatakan dalam ukuran keuangan,mengidentifikasi
sumber daya dan komitmen, dan pengangaran berperan penting dalam perencanaan,
pengendalian, dan untuk pembuatan serta pengambilan keputusan.

Dalam organisasi dan perusahaan anggaran sangat dibutuhkan sebagai alat untuk pengawasan
dan pengendalian dan juga untuk esiensi dan efektifitas dana suatu organisasi. Anggran juga
mempunyai beberrapa komponen dantaranya anggaran operational dan keuangan, dan masih
terbagi beberapa komponen lagi, dan semuanya saling mempunyai keterkaitan satu sama
lainnya.

B. SARAN
Demikian yang dapat kami paparkan mengenai materi yang menjadi pokok bahasan dalam
makalah ini tentang “Anggaran Bahan Mentah”, tentunya masih banyak kekurangan dan
kelemahannya, kerena terbatasnya Pengetahuan dan kurangnya rujukan atau referensi yang

29
ada hubungannya dengan Judul makalah ini. Penulis banyak berharap para pembaca
memberikan kritik dan Saran yang membangun kepada penulis demi sempurnanya makalah
ini dan dan Penulisan makalah di kesempatan-kesempatan berikutnya. Semoga makalah ini
Berguna bagi penulis pada khususnya juga para pembaca pada umumnya.

DAFTAR PUSTAKA

Anthony, Robert. N dan Vijay Govindarajan . 2005 . Management Control System . Jakarta :
Salemba Empat

29
Nafarin, Muhammad . 2000 . Penganggaran Perusahaan . Jakarta : Salemba Empat
http://elearning.gunadarma.ac.id/docmodul/perenckeu_pdf/BAB1-PERENCKEU.pdf
http://jurnal-sdm.blogspot.com/2010/01/penganggaran-definisi-fungsi-manfaat.html
http://www.anakciremai.com/2008/05/makalah-manajemen-tentang-organisasi.html
Sadeli, Lili M dkk. AKUNTANSI MANAJEMEN Sistem, Proses dan pemecahan soal. 1997.
Jakarta: Bumi Aksara Supriyono. proses pengendalian manajemen. 2001. Yogyakarta : BPFE-
yogyakarta
Simamora, henry. Akutansi manajemen edisi II. 2002. Jakarta selatan : UUP AMP YKPN
Ahmad, Kamaruddin. 2014. Akuntansi manajemen. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada
http://www.anggaran.depkeu.go.id/web-print-list.asp?ContentId=98
http://annalatifah.blogspot.co.id/2012/04/pendekatan-dan-penyusunan-anggaran.html
https://kelastambahan.wordpress.com/2010/04/26/pengertian-anggaran-pengaggaran-tujuan-
anggaran-manfaat-dan-kelemahan-anggaran-fungsi-dan-macam-anggaran/
http://accounting-media.blogspot.co.id/2013/06/tahap-tahap-penyusunan-anggaran.html
http://denok-s-wien.blogspot.co.id/2015/11/anggaran-fleksibel-sebagai-alat.html
Tendi Haruman & Sri Rahayu, 2007, Penyusunan Anggaran Perusahaan, Edisi Kedua
Cetakan Pertama, Penerbit Graha Ilmu, Yogyakarta.
M. Nafarin, 2007, Penganggaran Perusahaan, Edisi Ketiga, Penerbit Salemba Empat, Jakarta.
WWW.ANGGARAN BAHAN BAKU LANGSUNG

29