Anda di halaman 1dari 17

SISTEM UROLOGI

“FIMOSIS”

Dosen Pengajar :
Alik Septian S.Kep.,Ns. M, Kep

Disusun oleh:
Kelompok 1
1. Alifia Rahma N (151001003)
2. Nur Aini (151001033)
3. Nuratri Harmiani (151001034)
4. Puji Rahayu N (151001036)
5. Tiflatul Amin H (151001040)
6. Vina Ismawati (151001044)
7. Verra Sintya P (151001000)

PRODI S1 KEPERAWATAN TINGKAT 1 KELAS B


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
(STIKES) PEMKAB JOMBANG
2017 / 2018

1
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena
berkat limpahan Rahmat dan Karunia-Nya sehingga kami dapat menyusun makalah
ini dengan lancar, serta tepat pada waktunya.
Makalah ini telah dibuat berdasarkan dari berbagai sumber dan beberapa
bantuan dari berbagai pihak untuk membantu menyelesaikan makalah ini.Oleh karena
itu, kami mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam
penyusunan makalah ini.
Kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan yang mendasar pada
makalah ini.Oleh karena itu, kami mengundang pembaca untuk memberikan saran
serta kritik yang dapat membangun kami.Kritik dan saran pembaca sangat kami
harapkan untuk penyempurnaan makalah selanjutnya.
Akhir kata semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi semuanya.

Jombang, 29 April 2016

Penyusun

2
DAFTAR ISI

JUDUL .......................................................................................................................i
KATA PENGANTAR ...............................................................................................ii
DAFTAR ISI ..............................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ...............................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah ..........................................................................................1
1.3 Tujuan ............................................................................................................2
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Definisi Fimosis .............................................................................................3
2.2 Etiologi Fimosis .............................................................................................4
2.3 Patofisiologi Fimosis......................................................................................4
2.4 Tanda dan Gejala Fimosis ..............................................................................5
2.5 Klasifikasi Fimosis .........................................................................................6
2.6 Faktor Resiko Fimosis ...................................................................................7
2.7 Penatalaksanaaan Fimosis ..............................................................................7
2.8 Komplikasi Fimosis .......................................................................................8
BAB III ASUHAN KEPERAWATAN TEORI
3.1 Pengkajian ......................................................................................................9
3.2 Diagnosa Keperawatan...................................................................................10
3.3 Intervensi ........................................................................................................10
3.4 Implementasi
BAB IV PENUTUP
4.1 Kesimpulan ....................................................................................................13
4.2 Saran ...............................................................................................................13
DAFTAR PUSTAKA

3
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pada saat ini banyaksekali masalah penyakit yang timbul pada bayi dan anak.
Banyak sekali faktor pencetus yang membuat anak tersebut mengidap penyakit
tersebut, seperti faktor keturunan, faktor bawaan, ataupun karena terinfeksi oleh
bakteri ataupun virus.
Salah satu penyakit yang beresiko tinggi untuk anak-anak adalah fimosis.
Fimosis adalah penyakit mengganggu saluran perkemihan atau eliminasi pada
anak yang baru lahir. Penyebab penyakit ini adalah infeksi bakteri yang
menyerang pada penis bayi yang baru lahir, sampai saat ini penyebab lain dari
penyakit ini. Dan untuk pencegahannya juga belum pasti untuk mencegah
penyakit ini supaya tidak timbul.
Beberapa penelitian mengatakan kejian fimosis saat lahir hanya 4% bayi yang
prepitiumnya sudah bisa ditarik mundur sepenuhnya sehingga kepala penis
terlihat utuh.Selanjutnya secara perlahan terjadi desquamasi sehingga perlekatan
itu berkurang. Sampai usia 1 tahun, masih 50% yang belum bisa ditarik penuh.
Berturut-turut 30% pada usia 2 tahun. 10% pada 4-5 tahun, 5% pada umur 10
tahun dan masih ada 1% yang bertahan hingga usia 16-17 tahun. Dari kelompok
terakhir ini ada sebagian kecil yang bertahan secara persisten sampai dewasa tidak
tertangani.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa pengertian fimosis?
2. Bagaimana etiologi dari fimosis?
3. Bagaimana patofisiologis dari fimosis?
4. Bagaimana tanda dan gejala dari fimosis?
5. Bagaimana asuhan keperawatan pada pasien fimosis?

4
1.3 Tujuan
1. Tujuan Umum
Mahasiswa dapat mengenal dan mampu menganalisa tentang penyakit
fimosis pada anak.
2. Tujuan Khusus
a. Mahasiswa mengerti tentang pengertian, etiologi, patofisiologi, dari
kasus fimosis pada anak.
b. Mahasiswa mampumelakukan suatu asuhan keperawatan pada anak
dengan fimosis.

5
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Fimosis


Fimosis (Phimosis) merupakan salah satu gangguan yang timbul pada organ
kelamin bayi laki-laki, yang dimaksud dengan fimosis adalahkeadaan dimana
kulit kepala penis (preputium) melekat pada bagian kepala (glans) dan
mengakibatkan tersumbatnya lubang di bagian air seni,sehingga bayi dan anak
kesulitan dan kesakitan saat kencing, kondisi inimemicu timbulnya infeksi kepala
penis (balantis). Jika keadaan inidibiarkan dimana muara saluran kencing di
ujung penis tersumbat makadokter menganjurkan untuk disunat. Tindakan ini
dilakukan dengan membuka dan memotong kulit penis agar ujungnya terbuka
(Rukiyah,2010:230)
Menurut (Muslihatun,2010:160) Fimosis adalah keadaan kulit penis
(preputium) melekat pada bagian kepala penis dan mengakibatkan tersumbatnya
lubang saluran air kemih, sehingga bayi dan anak jadi kesulitan dan kesakitan
saat kencing. Sebenarnya yang berbahaya bukanlah fimosis sendiri, tetapi
kemungkinan timbulnya infeksi pada uretra kiri dan kanan, kemudian ke
ginjal.Infeksi ini dapat menimbulkan kerusakan pada ginjal.
Merupakan kondisi penis dengan kulit yang melingkupi kepala penis (glans)
tidak bisa ditarik ke belakang untuk membuka seluruh bagian kepala penis
(kulup,prepuce, preputium, foreskin). Preputium terdiri dari dua lapis, bagian
dalam dan luar, sehingga dapat ditarik ke depan dan belakang pada batang penis.
Pada fimosis, lapis bagian dalam preputium melekat pada glans
penis.Kadangkala perlekatan cukup luas sehingga hanya bagian lubang untuk
berkemih (meatus urethra externus) yang terbuka.
Apabila preputium melekat pada glans penis, maka cairan smegma, yaitu
cairan putih kental yang biasanya mengumpul di antara kulit kulup dan kepala
penis akan terkumpul di tempat itu, sehingga mudah terjadi infeksi. Umumnya

6
tempat yang diserang infeksi adalah ujung penis, sehingga disebut balantis.
Sewaktu anak buang air kecil, anak akan menjadi rewel dan yang terlihat adalah
kulit preputium terbelit dan menggelembung.(Sudarti, 2012:184)
Fimosis bisa merupakan kelainan bawaan sejak lahir (kongenital) maupun
didapat. Fimosis kongenital (true phimosis) terjadi apabila kulit preputium selalu
melekat erat pada glans penis dan tidak dapat ditarik ke belakang pada saat lahir,
namun seiring bertambahnya usia serta, diproduksinya hormone dan faktor
pertumbuhan, terjadi proses keratinisasi lapisan epitel dan deskuamasi antara
glans penis dan lapis bagian dalampreputium sehingga akhirnya kulit preputium
terpisah dari glans penis. (Muslihatun, 2010:161)

2.2 Etiologi Fimosis


Fimosis pada bayi laki-laki baru lahir terjadi karena ruang ini antara kutup
dan penis tidak berkembang dengan baik.Kondisi ini menyebabkan kulup menjadi
melekat pada glands penis, sehingga sulit ditarik ke arah pangkal.Penyebabnya
bisa dari bawaan lahir atau didapat, misalnya karena infeksi atau benturan.
Fimosis dapat disebabkan oleh :
1. Kegagalan kutup untuk melonggar selama proses pertumbuhan
2. Infeksi (balanitis)
3. Cacat karena trauma
4. Penyakit pada alat kelamin

2.3 Patofisiologis Fimosis


Fimosis dialami oleh sebagian besar bayi baru lahir karena terdapat adesi
alamiah antara prepitium dengan glands penis. Hingga usia 3-4 tahun penis
tumbuh dan berkembang dan debris yang dihasilkan oleh epitel prepitium
(smegma) mengumpul di dalam prepitium dan perlahan-lahan memisahkan
prepitium dari gland penis. Ekresi penis yang terjadi secara berkala membuat

7
prepitium terdilatasi secara perlahan-lahan sehingga prepitium menjadi retraktil
dan dapat ditarik ke proksimal.
Fimosis pada bayi laki-laki yang baru lahir terjadi karena ruang di antara
kutup dan penis tidak berkembang dengan baik.Kondisi ini menyebabkan kutup
menjadi melekat pada kepala penis, sehingga sulit di tarik ke
pangkal.Penyebabnya bisa dari bawaan lahir atau didapat, misalnya karena
infeksi atau benturan.

penumpukan
urine diujung nyeri akut
penis luka insisi

gangguan pola resiko infeksi


nyeri akut resiko infeksi
eliminasi

2.5 Tanda dan Gejala Pada Fimosis


a. Nyeri saat buang air kecil
b. Mengejan saat buang air kecil
c. Pancaran urin mengecil
d. Menggelembungnya ujung prepitium saat berkemih
e. Kecing berdarah
f. Nyeri saat ereksi

8
g. Benjolan lunak berwarna kemerahan diujung penis akibat tumpukan smegma
h. Kulit kathan tidak dapat diretraksi

2.4 Klasifikasi Fimosis


Secara umum terdapat dua macam jenis fimosis, yaitu :
1. Fimosis fisiologis
Merupakan kondisi yang normal pada bayi dan anak laki-
laki.Dalam kondisi normal, prepitium seharusnya dapat diretraksi.
Namun, pada sebagian kasus prepitium tetap lengket pada glands penis
sehingga ujungnya mengalami penyempitan yang dapat menyebabkan
terganggunya proses berkemih.
2. Fimosis patologik
Fimosis ini timbul karena tidak mengalami penyunatan. Hal ini
berkaitan dengan kebersihan alat kelamin yang buruk , peradangan
glands penis atau penarikan berlebihan pada kulit prepitium.
Dampaknya, timbul jaringan parut kaku yang menghalangi retraksi
Klasifikasi berdasarkan tingkat beratnya fimosis menurut Kikiros, dkk,
antara lain :
Derajat 0 : prepitium bisa diretraksi penuh
Derajat 1 : prepitium dapat diretraksi penuh tapi prepitium tegang di belakang
glands
Derajat 2 : eksposure parsial glands
Derajat 3 : retraksi parsial dengan eksposure hanya pada meatus
Derajat 4 : retraksi dapat dilakukan sedikit sekali dengan glands dan meatus
tidak terekspose sama sekali
Derajat 5 : sama sekali tidak bisa retraksi

9
2.6 Faktor Resiko Fimosis
Berikut beberapa faktor yang dapat menyebabkan seseorang lebih rentan
terkena fimosis :
1. Hygiene yang buruk
2. Usia; seiring dengan bertambahnya usia, pria lebih rentan terkena fimosis
karena berkurangnya frekuensi ereksi serta kulit yang perlahan kehilangan
tingkat elastisistasnya
3. Episode berulang radang batang penis (balanitis) serta riwayat trauma pada
kulit khatam
4. Penis yang belum dikhitan; sebuah studi mengungkapkan bahwa 1% pria
yang tidak menjalani khitan terkena penyakit ini

2.6 Penatalaksanaan Fimosis


Ketika seorang anak dibawa dengan riwayat ketidakmampuan retraksi
prepitium, penting untuk mengkonfirmasi apakah itu fimosis fisiologis atau
patologis. Manajemen fimosis tergantung pada usia anak, jenis fimosis, derajat
keparahan, penyebab dan kondisi mordibitas yang terkait.
Penatalaksanaan fimosis ditunjukan untuk mengurangi keluhan,
menghilangkan obstruksi dan gangguan kemih serta mencegah
komplikasi.Penatalaksaan dipilih berdasarkan berat ringannya penyakit.
a. Pada kasus yang asimptomatis, dilakukan pemberian krim steroid topical ;
betamethasone selama 4-6 minggu pada daerah glands penis
b. Pada kasus yang menimbulkan keluhan miksi, menggelembungnya uhung
prepitium pada saat miksi atau disertai balanopositis maka dapat dilakukan
tindakan bedah :
1) Sirkumsisi (membuang sebagian atau seluruh bagian kulit preputium).
2) Preputioplasty (memperlebar bukaan kulit preputium tanpa
memotongnya).

10
2.7 Komplikasi Fimosis
Komplikasi yang dapat terjadi pada anak /bayi yang mengalami fimosis,
antara lain :
1) Ketidaknyaman / nyeri saat berkemih
2) Terbentuknya jaringan parut
3) Retensi urin
4) Ballonitis (pembengkakan atau perandangan pada ujung kemaluan)
5) Infeksi pada ureter kiri dan kanan
6) Kerusakan ginjal
7) Kanker penis

11
BAB III
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN FIMOSIS

3.1 Pengkajian
3.1.1 Identitas Klien
Berisi nama, umur, jenis kelamin, suku bangsa, pekerjaan, agama,
pendidikan, alamat, no. registrasi, tanggal MRS, dx medis, tanggal
pengkajian
3.1.2 Identitas Penanggung Jawab
Biasanya identitas pasien berisi nama, umur, jenis kelamin, suku bangsa,
pekerjaan, agama, pendidikan, alamat, status hubungan dengan pasien
3.1.3 Pemeriksaan Fimosis
1. Keluhan : menggelembungnya ujung penis saat BAK. Dapat disertai
dengan keluhan sulit buang air kecil, nyeri bahkan demam.
Kadangkala terdapat bejolan putih lunak di ujung penis.
2. Pemeriksaan fisik : preputium penis melekat dan sulit di retraksi,
adanya gelembung pada ujuang penis saat buang air kecil, inflamasi
serta suhu tubuh yang subfrebis
3. Kaji keadaan umum : umumnya baik
4. Kaji penyebab fimosis : kongenital / peradangan
5. Kaji pola eliminasi (BAK) :
- Frekuensi : jarang karena adanya retensi
- Jumlah : menurun
- Intensitas : adanya nyeri saat BAK
6. Kaji kebersihan genital : adanya bercak putih
7. Kaji perdarahan : jumlah dan warna
8. Kaji tanda-tanda infeksi : rubor, tumor, kalor, dolor dan fungsio laesa

3.2 Diagnosa Keperawatan

12
A. Pre Operasi
1. Nyeri akut berhubungan dengan agen cidera biologis
2. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan kurangnya perawatan penis
3. Gangguan pola eliminasi urin berhubungan dengan infeksi pada
saluran perkemihan
B. Post Operasi
1. Nyeri akut berhubungan nengan agen cedera fisik
2. Resiko infeksi berhubungan dengan adanya luka insisi
3.3 Intervensi
A. Diagnosa Keperawatan Pre Operasi
1. Nyeri akut berhubungan dengan agen cidera biologis
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam
diharapkan nyeri dapat berkurang atau hilang
Kriteria Hasil : pasien terlihat tenang
Intervensi :
- kaji skala nyeri
- ajarkan teknik distraksi dan relaksasi
- atur posisi senyaman mungkin
- berikan lingkungan yang nyaman dan tenang
- kolaborasi pemberian analgesik
2. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan kurangnya perawatan penis
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam
diharapkan faktor resiko infeksi dapat hilang
Kriteria Hasil :
- tidak adanya tanda-tanda infeksi
- menunjukan hygiene pribadi yang adekuat
Intervensi
- kaji tanda-tanda infeksi
- kaji faktor yang meningkatkan serangan infeksi

13
- anjurkan untuk meningkatkan hygiene pribadi pasien
- anjarkan teknik mencuci tangan yang benar pada pasien dan
keluarga
- kolaborasi pemberian antibiotik
3. Gangguan pola eliminasi urin berhubungan dengan infeksi pada saluran
perkemihan
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam
diharapkan gangguan pola eliminasi dapat diatasi
Kriteria Hasil :
- pasien dapat berkemih >50-100cc setiap kali BAK
- tidak adanya hematuria
Intervensi :
- Pantau eliminasi urine meliputi frekuensi, konsistensi, bau,
volume dan warna yang tepat
- Anjurkan untuk memcatat haluaran urine
- Kolaborasi dengan dokter untuk tindakan sirkumsisi
B. Diagnosa Keperawatan Post Operasi
1. Nyeri akut berhubungan nengan agen cedera fisik.
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam
diharapkan nyeri dapat berkurang atau hilang
Kriteria Hasil : pasien terlihat tenang
Intervensi :
- kaji skala nyeri
- ajarkan teknik distraksi dan relaksasi
- atur posisi senyaman mungkin
- berikan lingkungan yang nyaman dan tenang
- kolaborasi pemberian analgesik
2. Resiko infeksi berhubungan dengan adanya luka insisi

14
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam
diharapkan faktor resiko infeksi dapat hilang
Kriteria Hasil : tidak adanya tanda-tanda infeksi
Intervensi
- kaji tanda-tanda infeksi
- kaji faktor yang meningkatkan serangan infeksi
- lakukan perawatan luka insisi
- anjurkan untuk meningkatkan hygiene pribadi pasien
- kolaborasi pemberian antibiotik

15
BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Fimosis adalah keadaan kulit penis (preputium) melekat pada bagian kepala
penis dan mengakibatkan tersumbatnya lubang saluran air kemih, sehingga bayi
dan anak jadi kesulitan dan kesakitan saat kencing.
Penyebabnya bisa dari bawaan lahir atau didapat, misalnya karena infeksi
atau benturan. Fimosis dapat disebabkan oleh :
5. Kegagalan kutup untuk melonggar selama proses pertumbuhan
6. Infeksi (balanitis)
7. Cacat karena trauma
8. Penyakit pada alat kelamin
Diagnosa fimosis yang dapat muncul dibagi menjadi diagnose pre-operasi
dan pra-operasi, diagnosanya antara lain :
A. Pre Operasi
1. Nyeri akut berhubungan dengan agen cidera biologis
2. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan kurangnya perawatan penis
3. Gangguan pola eliminasi urin berhubungan dengan infeksi pada saluran
perkemihan
C. Post Operasi
1. Nyeri akut berhubungan nengan agen cedera fisik
2. Resiko infeksi berhubungan dengan adanya luka insisi

4.2 Saran
Dengan adanya makalah fimosisi ini, diharapkan mahasiswa dapat mengerti
tentang penyakit fimosis dan mampu memberikan suatu asuhan keperawatan
yang benar pada klien yang menderita fimosis.

16
DAFTAR PUSTAKA

http://www.mitrahomecare.com/2010/10/askep-anak-dengan-fimosis.html

http://bedahurologi.wordpress.com/2014/07/02/phimosis/

http://www.go-dok.com/fimosis-penyebab-gejala-dan-penanganan/

http://updoc.tips/download/free-pdf-ebook-fimosis-221828887

17