Anda di halaman 1dari 6

PUTUSAN

NOMOR 77/PUU-XII/2014

PEMOHON :

Nama : Dr. M. Akil Mochtar, S,H., M.H.

Alamat : Jalan Pancoran Indah III Nomor 8 RT 009/RW 002 Kelurahan Pancoran, Kecamatan
Pancoran, Jakarta Selatan.

DUDUK PERKARA :

Menimbang bahwa pemohon telah mengajukan pemohon dengan surat


permohonan bertanggal 11 Agustus2014, yang di terima di kepaniteraan Mahkamah
Konstitusi (Selanjutnya disebut kepaniteraan Mahkamah) pada tanggal 11 Agusutus 2014
berdasarkan Akta Penerimaan Berkas Permohonan Nomor 177/PAN.MK/2014 dan telah di
catat dalam Buku Registrasi Perkara Konstitusi pada tanggal 13 Agustus 2014 dengan Nomor
77/PUU-XII/2014, yang telah di perbaiki dan diterima di kepanitraan Mahkamah pada
tanggal 4 September 2014, yang pada pokoknya menguraikan hal-hal sebagai berikut :

LEGAL STENDING:

1. Bahwa Pasal 51 ayat (1) UU MK “menyatakan bahwa Pemohon pengujian undang-


undang adalah pihak yang menganggap hak dan/atau kewenangan konstitusionalnya
di rugikan oleh berlakunya undang-undang” yang dalam huruf a menyebutkan
perorangan warga negara Indonesia. Selanjutnya dalam Penjelasan atas 51 ayat (1)
UU MK disebutkan bahwa yang di maksud dengan hak konstitusional adalah hak-hak
yang di atur dalam UUD 1945.
2. Bahwa pendirian Mahkamah Konstitusi sebagaimana tertuang dalam Putusan Nomor
006/PUU-III/2005 tanggal 31 Mei 2005 jucto Putusan Nomor 11/PUU-V/2007 tanggal
20 September 2007, dan Putusan Mahkamah konstitusi selanjutnya telah secara
tegas memberikan peringatan dan batasan kumulatif perihal “kerugian
konstitusional” terkait dengan berlakunya suatu norma Undang-Undang, yaitu : (1)
adanya hak konstitusional Pemohon yang di berikan oleh UUD 1945; (2) bahwa hak
konstitusional tersebut dianggap oleh pemohon telah di rugikan oleh suatu undang-
undang yang di uji; (3) kerugian konstitusional pemohon yang di maksud bersifat
spesifik (khusus) dan aktual, atau setidak-tidaknya bersifat potensial yang menurut
penalaran yang wajar dapat dapat di pastikan akan terjadi; (4) adanya hubungan
sebab-akibat (causal verband) antara kerugian dan berlakunya undang-undang yang
di mohonkan untuk di uji; dan (5) adanya kemungkinan bahwa dengan di
kabulkannya permohonan, maka kerugian konstitusional yang di dalilkan tidak akan
atau tidak lagi terjadi;
3. Bahwa sehubungan dengan permohonan ini, pemohon secara tegas pula
menyatakan bahwa pemohon memiliki hak-hak konstitusional yang di berikan oleh
UUD 1945, baik yang bersifat langsung maupun bersifat tidak langsung. Hak
konstitusional yang bersifat langsung tersebut antara lain adalah hak atas
pengakuan, jaminan, perlindungan, dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan
yang sama di hadapan hukum, sebagaimana di jamin dalam pasal 28D ayat (1) UUD
1945. Selain itu, ada juga konstitusional pemohon untuk tidak di tuntut atas dasar
hukum yang berlaku surut dalam naungan Negara Hukum Republik Indonesia
sebagaimana di maksud Pasal 1 ayat (3), Pasal 28I ayat (1) UUD 1945;
4. Bahwa selanjutnya, hak-hak konstitusional pemohon tersebut telah secara nyata di
rugikan oleh berlakunya pasal 2 ayat (2), pasal 3, pasal 4, pasal 5 ayat (1), pasal 69,
pasal 76 ayat (1), pasal 77, pasal 78 ayat (1) dan pasal 95 UU 8/2010;
5. Bahwa berdasarkan Surat Dakwaan Nomor DAK-04/24/02/2014 tanggal 10 Februari
2014 Jaksa Penuntut Umum Komisi Pemberantasan Korupsi (Penuntut Umum KPK)
pada Pengadilan Tindak Pidana Korupsi pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dalam
perkara di bawah register Nomor 10/Pidsus/TPK/2014/PN.Jkt.Pst.
6. Bahwa sebagai warga negara yang baik, pemohon telah menunjukkan sikap
menghormati dan mematuhi hukum sepanjang pelaksanaan dan norma hukum yang
di gunakan tersebut tidak bertentangan dengan hukum itu sendiri serta sesuai
dengan asas negara hukum serta asas kepastian hukum dan keadilan.
7. Bahwa penerapan pasal 2 ayat (2), pasal 3, pasal 4, pasal 5 ayat (1) pasal 69, pasal 76
ayat (1),pasal 77, pasal 78 ayat (1) dan pasal 95 UU 8/2010 adalah multi tafsir
dan/atau telah menimbulkan ketidakpastian hukum yang adil.
8. Bahwa berdasarkan argumentasi sebagaimana telah di uraikan pada angka 1 sampai
dengan angka 7 di atas, maka pemohon berkesimpulan bahwa pemohon memiliki
kedudukan legal hukum atau legal standing untuk mengajukan permohonan ini.

ALASAN :
1. Bahwa permohonan ini adalah permohonan pengujian undang-undang terhadap
UUD 1945, yang berdasarkan pasal 24C ayat (1) UUD 1945 dan ketentuan UUD 1945
dan ketentuan undang-undang lainnya dan kewenangan memeriksa, mengadili dan
memutus permohonan pengujian undang-undang merupakan kewenangan
Mahkamah Konstitusi.
2. Bahwa pemohon adalah perorangan warga negara indonesia yang memiliki hak-hak
konstitusional yang di berikan oleh UUD 1945 sebagaimana secara langsung di
berikan oleh pasal 28D ayat (1), pasal 28I ayat (1), dan pasal 28G ayat (1) UUD 1945.
3. Bahwa pasal 76 ayat (1) UU 8/2010 menimbulkan ketidakpastian hukum karena tidak
memberikan kejelasan tentang siapa yang di maksud dengan “Penuntut Umum”
sehingga bertentangan dengan pasal 28D ayat (1) UUD 1945.
4. Bahwa pasal 77 dan pasal 78 ayat (1) UU 8/2010 merupakan ketentuan yang tidak
proporsional, tidak terukur dalam penerapannya karena tidak memberikan kejelasan
tentang “Harta kekayaan yang harus di buktikan asal-usulnya” serta menimbukan
ketidakpastian hukum karena dapat di tafsirkan semau-maunya sessuai dengan
kepentingan pemegang otoritas tertentu yang berwenang menerapkan ketentuan
undang-undang tersebut.

PETITUM :

Bahwa berdasarkan seluruh dalil yang telah pemohon kemukakan, maka dengan ini
pemohon memohon kehadapan Yang Mulia Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi yang
mengadili permohonan ini agar berkenan memberikan putusan sebagai berikut.

1. Mengabulkan permohonan Pemohon


2. Menyatakan :
2.1.1 Frasa “atau patut di duga” dalam pasal 2 ayat (2) undang-undang nomor 8
tahun 2010 tentang pencegahan dan pemberantasan tindak pidana
pencurian bertentangan dengan undang-undang dasar 1945
2.1.2 Pasal 77 undang-undang Nomor 8 tahun 2010 tentang pencegahan dan
pemberantasan tidak pidana pencurian uang bertentangan dengan
undang-undang dasar 1945
2.1.3 Pasal 78 ayat (1) undang-undang Nomor 8 tahun 2010 tentang
pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian uang
bertentangan dengan Undang-Undang Dasar 1945
2.1.4 Pasal 95 undang-undang Nomor 8 tahun 2010 tentang pencegahan dan
pemberantasan tindak pidana pencurian uang tidak mempunyai kekuatan
hukum mengikat.
3. Memerintahkan pemuatan putusan ini dalam berita Negara Republik Indonesia
dengan sebagaimana mestinya.
Atau apabila yang Mulia Majelis Hakim Mahkamah konstitusi berpendapat lain,
mohon putusan yang seadil-adilnya.
4. Menimbang bahwa untuk membuktikan dalil-dalinya, pemohon telah mengajukan
alat bukti surat/tulisan.

PUTUSAN :

Menyatakan menolak permohonon pemohon untuk seluruhnya.

DISETTING OPINION :

Hakim konstitusi Aswanto dan Hakim Konstitusi Maria Farida Indrati

Bahwa UU 8/2010 pada hakikatnya bukanlah untuk mencegah dan memberantas tindak
pidana asal (predicate crimes atau predicate offence). Bahwa dalam teori Hukum Pidana
dinyatakan, “ dala tiap-tiap delik terdiri dari unsur bestanddelen) dan elementen.
Bestandeel (inti delik) adalah unsur yang di cantumkan dalam rumusan delik dan karena
dicantumkan maka harus semua unsur tersebut di cantumkan juga dalam surat dakwaan
dan harus di buktikan. Konsekuensinya apabila salah satu unsur bestanddeel (inti delik)
tidak terbukti maka perkara harus bebas. Sedangkan elemen delik adalah unsur yang
tidak di cantumkan tetapi diam-diam harus selalu di anggap ada, maka karena di
cantumkan dalam rumusan delik sehingga tidak perlu di cantumkan juga dalam dakwaan
dan tidak perlu di buktikan kecuali menimbulkan keragu-raguan hakim.

KONKULASI

Berdasarkan penilaian atas fakta dan hukum sebagaimana diuraikan ditas,


makhkamah berkesimpulan :

Mahkamah berwenang mengadili permohonan a qou

Pemohon memiliki kedudukan hukum ( legal standing) untuk mengajukan permohonan a


qou ;

Permohonan pemohon tidak beralasan menurut hukum

Berdasarkan undang-undang dasar negara republik indonesia tahun 1945, undang-


undang nomor 24 tahun 2003 tentang mahkamah konstitusi sebagaimana telah diubah
dengan undang-udang nomor 8 tahun 2011 tentang perubahan atas undang-undang nomor
24 tahun 2003 tentang mahkamah konstitusi ( lembaran negara republik indonesia tahun
2011 nomor 70, tambahan lembaran negara republik indonesia nomor 5226) dan undang-
undang nomor 48 tahun 2009 tentng kekuasaan kehakiman ( lembaran negara republik
indonesia tahun 2009 nomor 157, tambahan lembaran negara republik indonesia nomor
5076).

II. KEWENANGAN MAHKAMAH KONSTITUSI

1. Bahwa pemohon memohon mahkamah konstitusi (MK) untuk menguji pasal 2 ayat
(2), pasal 3, pasal 4, pasal 5 ayat (1), pasal 69, pasal 76 ayat (1), pasal 77, pasal 78
ayat(1) dan pasal 95 UU nomor 8 tahun 2010 tentang pencegahan dan
pemberatasan tindak pidana pencucian uang ( selanjutnya disebut UU 8/2010)
terhadap pasal 1 ayat (3), pasal 28 D ayat (1), pasal 28G ayat (1), pasal 28H ayat (4)
dan pasal 28i ayat (1) UUD negara republik indonesia tahun 1945 ( selanjutya
disebut UU 1945) sehingga mendapatkan putusan yang seadil-adilnya dan bersifat
final. Adapun pasal-pasal yang dimohonkan pemohon untuk diuji oleh mahkamah
konstitusi selengkapnya adalah sebagai berikut:
- Pasal 2 ayat (2) UU 8/2010
“ harta kekayaan yang diketahui atau patut diduga akan digunakan dan atau
digunakan secara langsung atau tidak langsung untuk kegiatan terorisme,
organisasi teroris, atau teroris perseorangan disamakan sebagai hasil tindak
pidana sebagai dimaksud pada ayat (1) huruf N”.
- Pasal 3 UU 8/2010
“setiap orang yang menempatkan, mentransfer, mengalihkan, membelanjakan,
membayarkan, menghibahkan, menitipkan, membawa keluar negeri, mengubah
untuk, menukarkan dengan mata uang atau surat berharga atau perbuatan lain
atas harta kekayaan yang diketahuinya atau patut diduganya merupakan Hasil
tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 ayat (1)dengan tujuan
menyembunyikan atau menyamarkan asal usul harta kekayaan dipidana karena
tindak pidana pencucian uang dengan pidana penjara paling lama 20 (dua puluh)
tahun dan denda paling banyak Rp.10.000.000.000. (sepuluh milyar rupiah)”.
- Pasal 4 UU 8/2010
“ setiap orang yang menyembunyikan atau menyamarkan asal usul, sumber,
lokasi, peruntukan, pengalihan hak-hak, atau kepemilikan yang sebenarnya atas
harta kekayaan yang diketahui atau patut
KETUA

ttd

Arief Hidayat

ANGGOTA-ANGGOTA

ttd ttd

Anwar Usman Muhammad Alim

ttd ttd

Aswanto Patrialis Akbar

ttd ttd

Maria Farida Indrati Wahiduddin Adams

ttd ttd

I Dewa Gede Paiguna Suhartoyo