Anda di halaman 1dari 4

KRITERIA PENILAIAN :

Setiap Group akan dinilai penampilannya sesuai bidang-bidang penilaian sebagai berikut :
a. Bidang Manthuq Fashahah, dengan bobot nilai maksimal 40,terdiri dari :
 Makharijul Huruf dan sifat Huruf
 Ahkamul Mad Wal Qashar
 Mura’atul Huruf Wal Harakat Wat Tasyidid
 Mura’atul Kalimah Wal Abyat

b. Bidang Lagu dan Suara, dengan bobot nilai maksimal 35, terdiri dari :
 Irama yang di bawa
 Tempo/Gaya dan Variasi Lagu
 Suara

c. Bidang Adab dan Penampilan, dengan bobot nilai Maksimal 25, terdiri dari :
 Keserasian, Kesesuaian dan Kerapian Pakaian;
 Gerak gerik/mimik
 Adab Asmaul Husna
 Ketepatan Waktu;

Berkaitan dengan Fashahah

Fashahah ini adalah banyak bersinggungan dengan Kaidah Bahasa Arab, khususnya Sharaf dan
Nahwu dan selebihnya tentu makna, baik makna ashli atau makna dalam jumlah. Dengan
pengetahuan ini maka peserta akan terhindar dari kesalahan-kesalahan yang tidak perlu dan tidak
seharusnya terjadi.

Dalam Fashahah ini ada 4 hal yang harus benar-benar peserta ketahui.
Hukum waqaf dan Ibtida'
Mura-atul huruf wal harakat
Mura'atul Kalimat wal Ayat
Adabuttilawah

Hukum waqaf dan Ibtida', berati peserta harus faham waqaf-waraf yang baik dalam membaca Al-
Qur'an dan yang tidak baik. Ada empat macam waqaf yaitu; Tam, Kafi, Hasan, dan Qobih.
Begitu pula peserta harus faham dimana harus memulai bacaan. Cara memulai bacaan atau ber-
ibtida' ini sama ada 4 pula. Ada Tam, Kafi, Hasan, dan Qabih. Dari cara waqaf dan ibtida
janganlah sampai ita jatuh pada waraf atau ibtida Qabih. Bila kesalahan dalam hal ini fatal (Jali),
maka nilainya akan dikurang 3. Bila tidak fatal (khafi) maka nilai akan dikurangi 1. Dan catatan
yang harus disampaikan, bila terjadi jal dalam waqaf dan peserta sadar bahwa ia telah melakukan
kesalahan, maka kesalahan Jalinya tidak terhapus.

Mura-atul huruf wal harakat, berarti peserta harus teliti dalam membunyikan huruf-huruf jangan
sampai tertukar. Begitu pula dalam hal harakat janganlah sampai ada yang tertukar. Kesalahan
dalam aspek ini ada yang fatal (Jali) ada juga yang tidak Fatal). Yang fatal adalah yang bisa
merubah arti, misalnya; َ‫ أَ ْنعَ ْمت‬jadi ‫أ َ ْنعَ ْمت‬, atau ‫ العالمين‬jadi ‫اآللمين‬.
Mura'atul Kalimat wal Ayat, berarti peserta harus teliti jangan sampai ada ayat dan kalimat yang
terlewat. Misalnya bila ada petunjuk bahwa kita harus memulai dari ayat ke 25 maka berarti kita
harus membaca dari sebelum bulatan tanda ayat bernomor itu. Dan bila ada kata-kata yang mirip
atau sama, maka janganlah sampai ada yang terlewat. Bila ini ada yang terlewat maka
kesalahannya sangat fatal (Jali) dan dikurangi 3.

Adabuttilawah, berarti etika kita dalam membaca Al-Qur'an. Ini lebih fokus pada soal
penampilan, misalnya pakaian, peci, selendang, rambut, dan lainnya. Jangan sampai ada kancing
baju yang salah tukar tempat atu rambut acak-acakan dan gondrong. Pakaian harus pula bersih
dan rapi, serta sikap tubuh harus khusyu'.

Berkaitan dengan Tajwid

Tajwid ini lebih banyak bersinggungan dengan beberapa hal yang wajib diketahui para peserta
yang ingin berhasil menjuarai MTQ, berikut di antaranya;
Makharijul Huruf
Shifatul Huruf
Ahkamul Huruf
Ahkamul Madd wal Qashr

Berkaitan dengan makharijul huruf, tentu peserta harus berupaya mengenali, menguasai, dan
membunyikan huruf-huruf Al-Qur'an tepat pada tempatnya. Dalam kitab-kitab Tajwid banyak
disebutkan tempat-tempat keluarnya huruf, ada yang menghitung 17 ada yang 18. Semua bisa
dipelajari langsung dari para asatidz di pesantren.

Shifatul Huruf, berkenaan dengan karakteristik huruf-huruf Al-Qur'an. Bila dirinci maka akan
ada klasifikasi Ashli bukan ashli (Ashl wa Far'), Ada Kuat dan rendahnya tekanan (Qawiy wa
Ghair Qawiy), ada yang punya lawan ada juga yang punya sifat lain. Dalam beberapa hal dapat
disimpulkan menjadi 3. Yaitu Ashliyah, Lazimah, dan Fa'iyyah. Semua harus dipelajari dengan
talaqqi epada para ustadz yang fasih, dan teorinya bisa dipelajari dalam kitab-kitab tajwid.

Ahkamul Huruf, berkaitan dengan hukum Nun Sukun dan Tanwin, Hukum Mim Sukun, Hukum
Al, Hukum Ghunnah. Maka ini meliputi hukum Idgham, Izhhar, Iqlab, dan Ikhfa dalam setiap
bagiannya. Ini harus diketahui dan diterapkan dengan baik. Dan jangan sampai salah
menerapkannya. Satu kesalahan walaupun bukan jali atau fatal namun dapat mengurangi nilai
para peserta sekalian.

Ahkamul Madd wal Qashr, berkaitan dengan hukum memanjangkan dan memendekkan bunyi
bacaan-bacaan Al-Qur'an. DDisini perlu latihan dan penguatan. Penerapannya harus dibuat
sebaik mngkin dan sekonsisten mungkin. Bila mad thabi'i maka jangan lebih dan jangan kurang.
Sedangkan bila mad 'aridh lissukun pertama membaca 4 harakat maka selanjutnya harus
konsisten pada 4 harakat tersebut.

Berkaitan dengan Naghmah (Suara dan Lagu)


Jumlah poin untuk di Kabupaten adalah 40 dan tidak dipisahkan. Dalam bidang ini ada yang
sangat penting bahwa suara yang baik untuk membaca dan melantunkan Al-Qur'an pada
pelaksanaan MTQ adalah suara yang bagus da indah. Suara yang bagus adalah;

 Ada getaran dzauq


 Berlahjah dan vibra Arabi
 Tidak parau
 Tidak sengau
 Tidak sumbang
 Tidak terlalu bergetar
 Tidak terlalu halus
 Tidak serak
 Tidak berdzauq
 Tidak terlalu melo

Dari hal-hal di atas maka suara yang paling baik adalah suara yang bulat dan tidak sengau masuk
ke hidung. Maka dengan ini penting untuk memperbaiki kualitas dan keajegan suara. Disinilah
endurance atau daya tahan peserta harus diperbaiki. Kwalitas suara yang merata dari awal sampai
akhir merupakan plus tersendiri.

Maka dalam hal Lagu tidak terlepas dari;


Jumlah lagu
Peralihan, Keutuhan, dan Tempo
Irama, Gaya dan Variasi

Jumlah Lagu dalam MTQ untuk anak-anak minimal 3 ditambah bayyati. Dan untuk golongan
remaja dan dewasa paling minimal 4 ditambah bayyati. Bila kurang maka itu tergolong
kesalahan fatal (Jali) karena komposisi lagunya kurang. Dan untuk babak penyisihan, yang harus
diperhatikan adalah harus dimulai dengan lagu bayyati. Bayyati ini punya nilai 6 dengan 3
tingkatan nada; Qarar, Jawab (Husaini), dan jawabul Jawab. Dalam tiga tingkatan nada tersebut
harus dilantunkan minimal 2 tangga dari setiap taangga nada.

Peralihan, Keutuhan, dan Tempo berkaitan dengan peralihan dari satu lagu ke lagu yang lainnya.
Peserta harus jeli dan teliti jangan sampai pindah interval nada atau tempo. Yang penting lagi
jangan sampai tidak menuntaskan lagu dengan utuh. Misalkan beralih dari lagu Rasyt ke lagu
Nahawand sementara lagu pertama baru pada tangga nada Ashli, sementara rasyt paling sedikit
harus memiliki tiga tangga nada, yaitu ashli, nawa, dan jawab, atau janjiran. Bila lansung
disambung ke Nahawand sementara nada baru selesai dari rasyt ashli maka itu termasuk
peralihan lagu yang tidak rapi.

Masih berkaitan dengan peralihan, keutuhan dan tempo jangan sampai ada tempo yang jomplang
dari yang tadinya cepat menjadi sangat lambat. Maka ini terjadi inkonsistensi dalam tempo.
Sangat baik untuk diperhatikan, bahwa melantunkan Al-Qur'an temponya harus tepat. Tidak
terlalu cepat tidak pula terlalu lambat, dan suara yang lebay atau terlalu melo biasanya akan
menyita jatah waktu yang ada. Ini bisa membuat jumlah lagu menjadi berkurang sementara untuk
mengejar jumlah semestinya ternyata waktunya habis.

Irama, Gaya dan Variasi adalah berkaitan dengan harmoni suara yang menghasilkan citra indah
dengan bobot yang bervariasi dari yag mudah sampai sulit. Yang terpenting dalam hal ini adalah
peserta harus berupaya melantunkan Al-Qur'an dengan Lahjah Arabiyah. Sedangkan gaya yang
dipakai atau variasi yang digunakan harus diimbangi dengan dzauq atau citra yang timbul dari
penghayatan keagngan makna-makna ajaran Allah dalam Al-Qu'an.