Anda di halaman 1dari 18

A.

Tinjauan Tentang Acara Je’ne’- Je’ne Sappara

Selaku masyarakat yang sadar akan kekayaan budaya yang dimiliki, bangsa Indonesia

khususnya masyarakat yang berdomisili di belahan Selatan Pulau Sulawesi memiliki warisan

budaya yang menjelma dalam berbagai bentuk ritual budaya yang masih terjaga eksistensinya

hingga saat ini ditengah modernisasi dan teknologi yang tidak menutup kemungkinan akan

menggerus nilai-nilai budaya tradisional yang dianut oleh masyarakat.

Salah satu ritual budaya masyarakat Sulawesi Selatan, terkhusus lagi bagi masyarakat

di Kabupaten Takalar adalah warisan budaya yang tercermin dalam pelaksanaan upacara adat

yang disebut dengan istilah Je’ne’-Je’ne Sappara.

 Sekilas Tentang Je’ne’-Je’ne Sappara

Je’ne’-Je’ne Sappara adalah istilah yang berasal dari bahasa setempat (bahasa

Jeneponto) untuk menyebutkan suatu pelaksanaan upacara adat yang dilaksanakan oleh

masyarakat di Desa Balangloe Tarowang, Kecamatan Tarowang, Kabupaten Jeneponto. Dari

segi bahasa, Je’ne’-Je’ne Sappara itu sendiri berarti mandi-mandi di bulan safar.

Berdasarkan pengetian tersbut, kita dapat menangkap makna tersirat dari upacara tersebut

bahwa Je’ne’-Je’ne Sappara hadir sebagai ungkapan syukur masyarakat atas pencapaian

yang telah diperoleh selama kehidupannya yang tentunya tidak bisa lepas dari perjalanan

historis upacara tersebut.


Kegiatan Je’ne’-Je’ne Sappara diselenggarakan setiap tahun tepatnya pada bulan

Safar dipenanggalan tahun Hijriah. Setiap tahunnya, kegiatan tersebut terlaksana dengan

kurun waktu selama satu pekan dan puncak acaranya bertepatan pada tanggal 14 Safar.

Sebagai upacara adat, tentunya kegiatan tersebut dipenuhi berbagai ritual yang menjadi

tradisi turun-temurun warga penganutnya dan tentunya memiliki nilai yang sangat penting

dan makna tersendiri bagi masyarakat.

 Latar Historis Acara Je’ne’- Je’ne’ Sappara


Pada zaman dahulu terdapat negeri yang sangat subur dan cukup terkenal karena

terdiri dari tiga dimensi, yaitu gunung, darat dan lautan yang lazim disebut Babana

Binangayya (Babana Tarowang). Wilayah ini dipimpin oleh seorang raja yang bergelar Kr.

Allu keturunan dari Cambang Gallung Ri Allu. Konon Cambang Gallung adalah manusia

berdarah putih dari tujuh bersaudara yang turun dari khayangan (Tumanurung Ri Allu).
Pada abad ke XV, Kerajaan Majapahit ingin menguasai kerajaan di semenanjung

Jazirah (Kerajaan Malaya) dan pernah menaklukkan Kerajaan Bali dan Bone di Sulawesi

Selatan. Bersamaan dengan itu pula, ia ingin menaklukkan kerajaan di Tanah Turatea yang

dipimpin oleh Sultan Soul dari Kerajaan Majapahit.


Menurut cerita rakyat, pada masa kejayaan Kerajaan Majapahit yang diperkirakan

pada abad XV, terdapat perahu/kapal yang berlayar menuju pantai Tarowang lengkap dengan

perbagai peralatan perangnya. Namun pada saat itu, para nelayan setempat yang menyaksikan

kedatangan pasukan dari Kerajaan Majapahit tersebut, langsung menghadap kepada sang

Raja untuk melaporkan hal tersebut. Mendengar laporan tersebut, Kr. Allu seketika mengajak

rakyatnya menuju perkampungan nelayan di pesisir pantai yang diberi nama dengan Pao, dari

kata dasar Tumappau (orang yang melapor).


Pada waktu itu, petang menjelma menjadi malam dan sang purnama menampakkan

cahayanya. Ketika itu, para nelayan sedang memanen ikan balle-balle, salah satu spesies ikan

yang sangat familiar bagi nelayan setempat. Ikan ini merupakan spesies yang memiliki

bentuk yang memanjang menyerupai Mandau/Kalewang, yaitu benda tajam yang berupa

parang memanjang yang bisaa digunakan oleh masyarakat setempat. Karena sinar bulan

purnama yang terang, ikan balle-balle yang dipanen masyarakat ketika itu, laksana kalewang

yang berkilauan jika disaksikan dari kejauhan. Hal ini ternyata mengelabui para pasukan

kerajaan yang datang untuk menaklukkan wilayah tersebut.


Kapal perang yang akan berlabuh di bawah pimpinan Sultan Soul, yang dijuluki

sebagai Kr. Jawayya bersama bala tentaranya ternyata tertipu dengan kondisi yang mereka

saksikan dari kejauhan. Mereka menyangka bahwa kedatangan mereka untuk menyerang dan
menguasai kerajaan di Tanah Turatea telah disambut dengan kesiapan masyarakat setempat

yaitu dengan hadirnya pagar betis yang dilengkapi dengan kalewang di tangan masing-

masing.
Keinginan dan niat busuk dari pasukan Kerajaan Majapahit pun akhirnya reda bahkan

hilang sama sekali. Pasukan yang dipimpin Sultan Soul akhirnya tak bisa berkutik. Kondisi

tersebut semakin diperparah dengan pecahnya kapal yang ditumpangi oleh bala tentaranya

hingga mereka meyerah tanpa melakukan perlawanan. Kala itu, pasukan Kerajaan Majapahit

meyerah dengan meminta tempat agar para anak buah kerajaan dapat menaruh barang-barang

miliknya berupah tanah seluas gubangan kerbau. Namun sebelum barang-barang milik

mereka diturunkan, mereka ingin mengetahui kerajaan apa gerangan yang mereka akan

tempati dengan menggunakan bahasa Jawa ini.


Pada saat yang bersamaan, Kr. Allu selaku raja kemudian memerintahkan rakyatnya

untuk menurunkan barang-barang milik pasukan kerajaan Majapahit dengan berteriak

mengatakan taroangi baranna (turunkan barangnya). Hal itu sebagai pertanda bahwa ia

setuju dengan permintaan dari Sultan Soul. Mendengar perkataan dari Kr Allu, Sultan Soul

akhirnya salah faham dan menyangka bahwa kerajaan ini bernama Kerajaan Tarowang. Sejak

saat itulah, kerajaan Kr. Allu selaku Raja di beri gelar Kr. Tarowang, dan sebaliknya Sultan

Soul di gelar sebagai Kr. Jawayya, yang berarti raja dari Pulau Jawa.
Setelah Sultan Soul mengetahui bahwa permintaannya dikabulkan, mereka

mengambil sehelai kulit kerbau dan diiris-iris memanjang menyerupai tali, yang sekarang

disebut darrisi oleh masyarakat setempat. Darrisi itu kemudian dibentangkan sebagai batas

wilayahnya, tepatnya di sebelah Barat sebuah sungai bercabang tiga yang disebut pangkana.

Di tempat itulah mereka berdomisili dan menyusun strategi untuk mengadakan peperangan

melawan kerajaan Bantaeng.


Menurut cerita rakyat, Kerajaan Bantaeng pada saat itu sempat dikalahkan dan Kr.

Jawayya kembali ingin menguasai Kerajaan Tarowang karena mereka mengganggap dirinya

dapat menaklukkan negeri ini dengan mudah. Keinginan tersebut akhirnya diwujudkan
dengan mengirimkan pemberani sebagai perwakilan kerajaan untuk melawan Kerajaan

Tarowang. Setelah Sultan Soul mengirim tubarani (pemberani) ke Kerajaan Tarowang, Kr.

Tarowang justru menanggapi dengan dalih bahwa percuma saja mengadakan perlawanan

terhadap mereka. Sementara mereka itu adalah pasukan yang pernah meyerah dan takluk

dibawa kekuasaan Kr. Tarowang. Akan tetapi demi menghargai tawaran Sultan Soul, akhirnya

sang raja menerima tawaran tersebut dengan mengadakan pertunjukan berupa mengadu

tubarani dari masing-masing kerajaan, dan barang siapa yang dikalahkan, maka kerajaannya

dinyatakan kalah.
Waktu berjalan begitu cepat. Setelah persiapan yang sangat matang, pertarungan

tubarani dari kedua kerajaan akhirnya digelar tepatnya pada malam bulan purnama di

penanggalan 14 Safar. Kala itu, tubarani dari Tarowang menggunakan keris pendek dari

kuningan yang telah diolesi racun ular berbisa, hanya sarungan keris tersebutlah yang terlihat

panjang. Sementara tubarani dari Kr. Jawayya menggunakan keris besar, sehingga pada saat

mencabutnya mengalami kesulitan dan pada saat itu juga, ia ditikam oleh lawannya. Dengan

sekejap, ia terkapar karena reaksi dari bisa beracun yang sangat dahsyat tersebut. Kematian

tubarani dari pihak Kr. Jawayya, menandakan kemenangan diraih oleh Kr. Tarowang.
Berawal dari kemenangan yang diraih oleh Kerajaan Tarowang kala itu, hingga saat

ini diperingatilah moment bahagia tersebut oleh masyarakat dengan acara yang disebut

Je’ne’- je’ne sappara yang dilaksanakan tepatnya pada tanggal 14 safar dipenanggalan tahun

Hijriah tiap tahunnya. Pelaksanaan acara tersebut bermula dari kepemimpinan raja II di

Kerajaaan Tarowang, yaitu Laso Kr. Silasa hingga saat ini.

B. Kerangka Konseptual

Sejak beberapa dekade silam, masyarakat di Sulawesi-Selatan dikenal sebagai

masyarakat maritim atau lebih akrab disebut sebagai masyarakat bahari, tak terkecuali

mereka yang berdomisili di wilayah pesisir kabupaten Je’neponto. Secara umum masyarakat
bahari dimaksudkan sebagai, mereka yang mendiami wilayah pesisir atau pulau-pulau dan

memanfaatkan sumberdaya kelautan atau sumberdaya bahari dalam rangka interaksi

sosialnya dalam jangka waktu yang lama dan telah membentuk kehidupan bersama yang

serasi dan “rasa kita” (we -feeling) diantara mereka. We feeling itu terwujud dalam interaksi

mereka dalam mengambil peran (role-taking) secara teratur dan saling bergantung satu sama

lain (Arif, 2009: 1).

Sebagai sebuah realita sosial, masyarakat bahari hadir dengan segala unsur yang

menjadi bagian hidup mereka, singkatnya dapat ditarik sebuah benang merah bahwa

masyarakat bahari merupakan suatu kesatuan yang lahir dengan identitas budaya tersendiri

yang menjadi ciri khas masyarakat tersebut.

Jika kita tarik kembali ke akar permasalahan, yang menjadi objek kajian dalam hal ini

adalah masyarakat bahari. Disadari atau tidak masyarakat bahari hadir dengan berbagai

khazanah kebudayaan yang menjadi bagian terpenting dalam kehidupan mereka. Kebudayaan

bahari dipahami segala segala sesuatu yang terdiri dari berbagai komponen yang saling

terkait yang menjadi bagian dari sistem budaya masyarakat bahari. Salah satu hal yang bisa

kita temukan dalam komunitas mereka adalah hadirnya sistem religi ataupun kepercayaan

masyarakat yang telah dianut dan menjadi bagian urgen dalam kehidupan mereka. Hal itu

tercermin dari berbagai tradisi masyarakat yang dilakukan demi melanggengkan sebuah

kepercayaan yang telah dijunjung tinggi secara turun-temurun.

Hal ini telah dikemukakan oleh pemerhati budaya, Kontjaraningrat yang dilansir dari

sebuah tulisan yaitu :

“Tradisi budaya tampak dalam adat-istiadat yang dianut oleh kelompok


masyarakat. Tradisi budaya menampilkan akumulasi keputusan-keputusan yang
tergabung melalui proses historis dari anggota masyarakat. Akumulasi
keputusan-keputusan itu menyangkut pengertian tentang sifat-sifat kelompok
kebudayaan material, kewajaran dan keinginan untuk bertingkah laku, suasana
dari tingkah laku tersebut” (Soraya, 2009: 7).
Kutipan di atas sekali lagi memberii gambaran bahwa tradisi budaya yang dianut oleh

masyarakat bahari tampak dari perayaan ritual adat maupun acara kebaharian dalam

komunitas mereka. Salah satu ritual yang ditemui pada masyarakat bahari khususnya di

pesisir Kab. Jeneponto adalah hadirnya acara je’ne’-je’ne’ sappara sebagai sebuah tradisi

turun temurun yang dilaksanakan oleh masyarakat di Desa Baltar.


Hal itu merupakan gambaran adanya sistem budaya yang dianut oleh masyarakat

bahari sebagai wujud dari sistem kepercayaan yang dianutnya, sebagaimana dikemukakan

oleh Durkheim dalam teorinya berikut :


“Suatu religi itu adalah suatu sistem berkaitan dari keyakinan-keyakinan dab
upacara-upacara keramat, artinya yang terpisah dan pantang, keyakinan-
keyakinan dan upacara yang berorientasi kepada suatu komunitas moral, yang
disebut uma” (Soraya, 2009: 8).
Secara sederhana dapat dikatakan bahwa kebudayaan sulit untuk dilepaskan dari religi

atau kepercayaan masyarakat. Sebagai suatu bagian dari komponen kebudayaan, sistem

kepercayaan memegang peranan penting dalam masyarakatnya. Hal itulah yang menjadi

landasan mengapa masyarakat bgitu kuat mempertahankan eksistensi sebuah tradisi dan adat

mereka.
Khazanah budaya bahari yang tergambar dari acara je’ne’-je’ne’ sappara, merupakan

sebuah nilai tambah yang dapat dikategorikan sebagai eujud modal sosial bagi masyarakat

pesisir pantai Desa Baltar. Telah dipahami bahwa modal sosial merupakan pengetahuan yang

eksplisit yang muncul dari periode panjang yang berevolusi bersama-sama masyarakat dan

lingkungannya dalam sistem lokal yang sudah dialami bersama-sama. Proses evolusi yang

begitu panjang dan melekat dalam masyarakat dapat menjadikan modal sosial sebagai sumber

energi potensial dari sistem pengetahuan kolektif masyarakat untuk hidup bersama secara

dinamis dan damai.


Eksistensi sebuah acara adat sangat ditentukan oleh sebarapa besar efek yang

ditimbulkan yang dapat dilihat dari fungsi pelaksanaan acara tersebut. Hal itu juga menjadi

alasan mengapa hingga saat ini acara je’ne’-je’ne’ sappara masih terus digaungkan di tengah

masyarakat bahari di pesisir Desa Baltar sekalipun masa telah membawa perubahan dalam
dunia teknologi dan sains yang semakin kompleks dan canggih, hal itu tak lantas meredam

dan menciutkan nyali dari masyarakat setempat untuk melanggengkan acara semacam itu

karena menurut mereka hal tersebut merupakan sebuah wujud social capital yang layak untuk

dijaga dan dipertahankan secara turun-temurun.


Soraya mengungkapkan dalam karyanya, “Tinja’na To Pallebo” Studi Tentang Fungsi

Upacara Tradisional Masyarakat Nelayan di Mamuju (2009), bahwa fungsi sosial dari sebuah

adat/tradisi masyarakat, pranata dan tingkah laku manusia dibedakan dalam tiga tingkat

abstraksi, yaitu : Fungsi sosial dari suatu adat, pranata sosial atau unsur kebudayaan pada

tingkat abstraksi pertama mengenai pengaruh atau efeknya terhadap adat, tingkah laku

manusia dan pranata sosial yang lain dalam masyarakat.


Kedua mengenai pengaruh dan efeknya terhadap kebutuhan suatu adat, atau pranata

lain untuk mencapai maksudnya, seperti yang dikonsepsikan oleh warga masyarakat yang

bersangkutan. Fungsi sosial dari suatu adat pranata sosial atau unsur kebudayaan pada tingkat

abstraksi kedua mengenai pengaruh dan efeknya terhadap kebutuhan mutlak untuk

berlangsungnya secara terintegrasi dari suatu sistem sosial tertentu.


Fungsi dan dampak sosial budaya yang menonjol yang dapat disaksikan dari sebuah

prosesi je’ne’-je’ne’ sappara adalah memantapkan hubungan solidaritas masyarakat untuk

menambah keterikatakan antara satu dengan yang lainnya. Selain itu perayaan acara tersebut

menjadi tolak ukur rasa syukur atas berkah yang diperoleh masyarakat setempat dan sebagai

pengharapan masyarakat agar ia dapat terhindar dari berbagai bencana selama menjalankan

kehidupannya sehari-hari.
Auguste Comte telah mengungkapkan di awal perkembangan sosiologi yang mencoba

menggambarkan tahap perkembangan manusia yang berawal dari tahap teologis, metafisik

dan postivistik. Dari uraian Comte, kita dapat mendeskripsikan secara singkat bahwa

masyarakat bahari yang berdiam di pesisir Desa Baltar ini belum mampu pada tahap berfikir

positif karena mereka masih menganut kuat kepercayaan-kepercayaan leluhur mereka, yakni

perkembangan pemikiran manusia yang dipengaruhi oleh adanya kekuatan supranatural,


misalnya adanya roh dan mahluk gaib yang menempati benda atau tempat tertentu (Soekanto,

2010: 350).
Hal yang akan ditekankan disini adalah upacara ataupun ritual adat yang dianut oleh

sebuah komunitas terkhusus mereka yang menjadi bagian dari komunitas bahari tak serta

merta dapat dihilangkan begitu saja seiring perkembangan zaman, hal itu dikarenakan adanya

fungsi/dampak dan nilai yang diperoleh dari ritual semacam itu sebagai suatu khazanah

budaya yang akan dijaga eksistensinya di tengah masyarakat dan akan diwariskan kepada

anak cucu mereka kelak.Gambaran uraian di atas dapat diuraikan dalam sebuah skema

sebagai berikut:

MASYARAKAT BAHARI

ACARA JE’NE’-JE’NE’ SAPPPARA

STRUKTUR SOSIAL INTERPRETASI MASYARAKAT

METODOLOGI PENELITIAN

A. Waktu dan Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari hingga April tahun 2012 di Desa

Balangloe Tarowang Kecamatan Tarowang, Kabupaten Jeneponto.

B. Dasar dan Tipe Penelitian

Dasar penelitian yang dilaksanakan adalah studi kasus, yaitu penelitian yang

digunakan dan dilakukan secara intensif terperinci dan mendalam terhadap suatu objek,

dalam hal ini terkait dengan kearifan lokal masyarakat bahari yang terwujud dalam acara

je’ne’-je’ne sappara di Desa Baltar, Kec. Tarowang, Kab. Jeneponto.


Tipe penelitian ini adalah deskriptif kualitatif, yaitu penelitian dengan memberiikan

gambaran secara jelas dan sistematis terkait dengan objek yang diteliti demi memberii

informasi dan data yang valid terkait dengan fakta dan fenomena yang ada di lapangan.

Penelitian ini adalah penelitian antropologi yang memakai pendekatan kualitatif, yaitu suatu

pendekatan yang memfokuskan perhatian pada prinsip-prinsip umum yang mendasari

perwujudan satuan gejala dalam kehidupan manusia atau biasa dikenal dengan pola-pola3.

Pendekatan ini dipakai untuk memperoleh data tentang pelaksanaan upacara mandi syafar.

Penelitian ini tipe deskriptif analitik, yaitu berusaha menggali dan menjelaskan realitas yang

kompleks. Permasalahan penelitian dipahami dan digambarkan sesuai dengan makna yang

diberikan oleh subjek penelitian (para peserta yang melakukan ritual mandi syafar, tokoh adat

dan agama sebagai informan kunci dalam penelitian ini), sehubungan dengan itu maka teknik

penjaringan data yang utama adalah observasi (pengamatan) dan wawancara bebas serta

mendalam.

Penelitian ini didasari dengan maksud untuk menggambarkan secara deskriptif

bagaimana seluk-beluk acara je’ne’-je’ne sappara tersebut, khususnya dalam hal struktur

sosial acara tersebut serta bagaimana interpretasi masyarakat terkait pelaksanaan acara

tersebut. Hal-hal tersebutlah yang menjadi fokus dan dikaji serta dianalisis secara deskriptif

kualitatif dalam penelitian ini.

C. Informan Penelitian

Informan adalah pihak yang ditentukan oleh peneliti yang akan memberiikan

informasi terkait obyek yang akan diteliti. Penentuan informan dalam penelitian ini dilakukan

dengan teknik snowball, atau dikenal dengan teknik bola salju, yaitu penentuan informan

dengan mencari tahu siapa tokoh yang memiliki pengetahuan yang mapan terkait masalah

yang diteliti, kemudian informan yang terpilih tersebut menunjuk pihak lain lagi untuk
dijadikan informan selanjutnya. Begitulah proses penentuan informan hingga mendapatkan

informasi yang sesuai dengan masalah yang diteliti.

Pihak-pihak yang menjadi informan dalam penelitian ini ada 7 (tujuh) orang, antara

lain:

1) Kepala Desa setempat yang berinisial SD (46 tahun). Beliau dipilih karena merupakan

penduduk asli yang notabene adalah pimpinan di desa Baltar. Tak hanya itu, ia juga

merupakan pihak yang terlibat langsung dalam pelaksanaan acara je’ne’-je’ne sappara.

2) Tokoh adat setempat yang disebut dengan istilah Tabbika oleh masyarakat setempat.

Informan yang berinisial KD (± 70 tahun) ini dipilih karena dianggap mengetahui

seluk-beluk acara karena ia merupakan menjadi juru kunci dalam pelaksanaan acara

je’ne’-je’ne sappara.

3) Tokoh masyarakat yang merupakan pihak-pihak yang banyak mengetahui latar historis

pelaksanaan acara je’ne’-je’ne sappara karena mereka tak lain adalah keturunan darah

biru atau memiliki pertalian darah dengan Raja yang pernah berkuasa di Kerajaan

Tarowang. Informan ini antara lain AS (59 tahun) yang merupakan anak dari Raja

Tarowang dan AW (53 tahun), keturunan darah biru yang juga merupakan inisiator

lahirnya kepanitiaan dalam acara je’ne’-je’ne sappara.

4) Pelaksana acara je’ne’-je’ne sappara, yakni informan yang berinisial AP (59 tahun)

dan AG (44 tahun). Mereka merupakan pihak yang terlibat langsung dalam pelaksanaan

acara dari tahun ke tahun.

5) Penduduk asli yang mendiami lokasi penelitian yang berinisial HD (70 tahun).

Perempuan satu ini adalah informan yang tiap tahunnya menyaksikan secara langsung

bagaimana semaraknya pelaksanaan acara je’ne’-je’ne sappara di desanya.

D. Teknik Pengumpulan Data


Data dalam penelitian dapat diklasifikasikan menjadi dua jenis data yakni data primer

dan data sekunder dengan teknik pengumpulan data yang berbeda. Berikut uraian teknik

pengumpulan data masing-masing data tersebut :

 Data Primer

1. Observasi (observation)

Untuk memperoleh gambaran konkrit bagaimana acara je’ne’-je’ne sappara

sebagai sebuah fenomena sosial yang menggambarkan terjaganya eksistensi nilai

dan khazanah kekayaan social capital yang dimiliki oleh masyarakat di Desa Baltar,

peneliti melakukan pengamatan secara langsung terhadap pelaksanaan acara je’ne’-

je’ne sappara yang diselenggarakan tepatnya pada tanggal 14 Safar penanggalan

Hijriah tahun ini.


Jika melihat sisi idealitasnya, observasi yang dilakukan oleh peneliti saat

peringatan acara je’ne’-je’ne sappara berlangsung di pesisir pantai Desa Baltar

sebenarnya di luar jadwal pelaksanaan penelitian. Karena pada saat acara tersebut

dilangsungkan, peneliti baru memasuki tahap awal persiapan penelitian. Oleh

karena itu, observasi yang dilakukan peneliti ketika itu tidak didukung oleh

maksimalnya dokumentasi beberapa item acara yang diselenggarakan karena

keterbatasan media untuk mengabadikan momen penting tersebut.


Selain melakukan observasi pada saat acara diselenggarakan, peneliti juga telah

mengamati secara langsung bagaimana kondisi ril lokasi acara yang

diselenggarakan dipesisir pantai desa setempat. Tak cukup sampai disitu, peneliti

juga mengamati bagaimana gambaran realitas masyarakat setempat yang notabene

adalah subyek pelaksanaan acara tersebut.


Dengan teknik seperti ini, peneliti mendapatkan informasi yang menjadi salah

satu pendukung terwujudnya validitas data yang diperoleh dari penelitian yang

dilakukan.
2. Wawancara Mendalam (indepth interview)

Demi memperoleh data dan informasi yang dibutuhkan, peneliti dalam hal ini

telah melakukan wawancara secara intens kepada informan yang telah ditentukan.

Wawancara mendalam yang dilakukan peneliti didukung dengan adanya pedoman

wawancara (guide of interview) yang sebelumnya telah disediakan oleh peneliti.


Menyadari betapa pentingnya wawancara sebagai sebuah teknik pengumpulan

data yang relevan dalam penelitian ini, peneliti telah melakukan beberapa kali

proses wawancara secara intens kepada para informan antara lain kepada kepala

desa, tokoh masyarakat, pemuka adat, pelaksana acara ataupun kepada mereka yang

memiliki garis keturunan dengan kaum bangsawan di lokasi penelitian.


Dalam melakukan indepth interview kepada informan yang terpilih dengan

teknik snowball, selain didukung dengan adanya pedoman wawancara, peneliti juga

menggunakan alat bantu berupa alat perekam demi mengabadikan informasi yang

diperoleh dari wawancara tersebut.


Dalam melakukan pengumpulan data dan informasi dengan menggunakan

teknik wawancara kepada para informan di lapangan, peneliti diperhadapkan

dengan beberapa hambatan mendasar. Hal-hal yang dinilai menjadi kendala atau

penghambat dalam mendapatkan informasi yang dibutuhkan oleh peneliti antara lain

keterbatasan peneliti dalam memahami beberapa kosa kata bahasa lokal yang

digunakan oleh informan yang tidak dapat berkomunikasi dengan mengggunakan

bahasa Indonesia. Hal tersebut dapat dilihat ketika peneliti diperhadapkan dengan

informan yang berinisial HD, seorang perempuan yang merupakan penduduk asli di

Desa Baltar dan mengikuti bagaimana perkembangan acara je’ne’-je’ne sappara

setiap tahunnya.
Kendala yang dihadapi peneliti tak hanya seputar kesulitan dalam memahami

bahasa lokal yang digunakan oleh informan. Peneliti pun terkendala dengan

keterbatasan yang dimiliki oleh salah satu informan yang merupakan tokoh penting
yang mampu memberii banyak informasi terkait masalah yang diteliti. Informan

yang berinisial KD yang notabene berprofesi sebagai seorang pemuka adat yang

disebut dengan istilah Tabbika oleh masyarakat setempat, memiliki keterbatasan

indera pendengaran karena usianya yang telah beranjak senja. Hal tersebutlah yang

juga menjadi kendala bagi peneliti dalam menjalin komunikasi yang efektif dengan

informan tersebut.
Hambatan ataupun kendala yang ditempuh saat berada di lokasi penelitian tak

serta-merta menyurutkan niat dan kerja keras yang ditempuh oleh peneliti. Hal

tersebut justru menjadi tantangan tersendiri yang kian memicu adrenalin peneliti

untuk mencari alternatif sehingga hal tersebut tidak menjadi faktor yang akan

menghambat jalannya proses penelitian. Dengan alasan tersebut, peneliti berinisiatif

untuk mencari bantuan dari beberapa pihak khususnya kepada pemuda desa dan

kepada sanak keluarga yang sedikit banyaknya memahami bahasa lokal di desa

tersebut. dengan upaya seperti itu, akhirnya peneliti mampu melewati beberapa

kendala yang datang menghampiri.


Teknik wawancara yang ditempuh oleh peneliti dalam hal ini tak hanya

diperhadapkan dengan kendala tersebut. Satu kendala yang juga menjadi catatan

bagi peneliti adalah padatnya kesibukan beberapa informan yang terkadang

mengharuskan mereka mesti ke luar kota. Misalnya untuk informan yang berinisial

AW (53 tahun), yang juga berprofesi sebagai seorang jurnalis yang memimpin

sebuah redaksi di luar kota, terkadang sulit untuk ditemui. Selain itu, SD yang

berperofesi sebagai Kepala Desa setempat, juga terkadang ke luar kota dalam

jangka waktu tertentu untuk melakukan perjalanan dinas dan lainnya. Kondisi

seperti itu menjadi sebuah kendala tersendiri yang menghambat proses

pengumpulan data dan informasi karena peneliti mesti memahami kesibukan

informan meskipun sebelumnya telah melakukan kesepakatan untuk mengadakan


wawancara. Kesepakatan yang telah terjalin mesti ditunda karena jadwal para

informan yang terkadang mendadak dan perlu untuk dihadiri sehingga mau tidak

mau proses wawancara terhambat hingga beberapa kali.


Jika dirumuskan secara umum dalam mengumpulkan data primer di lapangan,

satu hal yang menjadi kendala utama bagi peneliti adalah akses jarak yang terbilang

cukup jauh dari tempat peneliti berdomisili yakni di Kabupaten Bantaeng. Jadi bisa

dikatakan bahwa setiap melakukan observasi, kunjungan dan wawancara dengan

para informan, peneliti mesti melalui jalur lintas kabupaten yang relatif cukup jauh

dan ditempuh kurang lebih 45 menit dari kediaman peneliti. Tak berhenti sampai

disitu, peneliti juga meski sabar dan berjuang untuk menaklukkan rasa lelah karena

mesti melalui jalur jalan raya yang kondisinya sangat memprihatinkan. Akses jalan

yang saat ini masih sementara berada dalam status perbaikan menjadi tantangan

tersendiri bagi peneliti dalam melancarkan misinya untuk menyelesaikan penelitian.


Selain itu, suhu udara dan cuaca yang tidak bersahabat juga menjadi satu

kendala bagi pelaksanaan penelitian. Cuaca yang tak menentu, terkadang panas terik

yang seolah membakar kulit dan derasnya hujan yang mengguyur lokasi penelitian

menjadi tantangan tersendir yang kian menguji eksistensi peneliti. Namun dengan

tekad kuat, peneliti mampu melalui semua kendala tersebut dan menjadi satu catatan

manis bagi peneliti yang akan dikenang hingga akhir nanti.

 Data Sekunder

1) Studi Kepustakaan & Dokumentasi

Berangkat dari asumsi bahwa studi merupakan salah satu teknik pengumpulan

data yang dianggap mampu mendukung validitas data penelitian dengan

menggunakan media kepustakaan sebagai sumber informasi, peneliti melakukan

penjelajahan informasi melalui berbagai referensi terkait masalah acara je’ne’-je’ne

sappara.
Dalam hal ini, peneliti menggunakan berbagai sumber referensi berupa buku-

buku, laporan dari Badan Pusat Statistik Kabupaten Jeneponto tentang Jeneponto

Dalam Angka 2011 (Jeneponto In Figures 2011), laporan tentang Tarowang Dalam

Angka 2010 (Tarowang in Figures 2010), Profil Desa Baltar, artikel tentang upacara

adat, serta beberapa dokumen dan arsip yang berkaitan dengan masalah yang diteliti

seperti proposal kegiatan pesta adat je’ne’-je’ne sappara dan dokumen tentang

sejarah Kerajaan Tarowang yang merupakan arsip dari tokoh masyarakat yang

merupakan keturunan bangsawan.


Selain beberapa sumber data di atas, peneliti juga menggunakan dokumentasi

berupa foto-foto pelaksanaan acara je’ne’-je’ne sappara yang diselenggarakan

tahun ini yang diabadikan oleh peneliti sebagai data pendukung demi memperkuat

informasi yang diperoleh dari berbagai sumber.

2) Internet Searching

Penelitian dengan menggunakan internet searching sebagai salah satu

mekanisme pengumpulan data yakni dengan mencari artikel dan materi-materi yang

terkait dengan masalah yang sedang di teliti dengan menggunakan media internet.
Teknik ini dilakukan peneliti khususnya dalam membantu peneliti untuk

memperkaya khazanah teoritis yang digunakan dalam penelitian ini. Oleh karena

itu, beberapa teori yang digunakan oleh peneliti dapat difahami dengan

menganalisis artikel yang didapatkan dari sumber internet tersebut dengan

mengunjungi berbagai situs ataupun website dan link yang terkait dengan masalah

yang dikaji.
Tekait dengan teknik yang satu ini, peneliti mengalami kendala berupa

sulitnya menemukan referensi melalui media internet khususnya yang terkait

langsung dengan masalah uapacara adat je’ne’-je’ne sappara, hal ini dikarenakan

acara tersebut merupakan sebuah acara yang masih belum memperoleh publikasi
sebagaimana pesta adat yang ada di daerah lain yang sudah menjadi ajang

pembicaraan banyak orang terlebih dalam media internet sekalipun. Namun kendala

itu tak menjadi kerikil tajam yang melumpuhkan langkah peneliti dalam mencari

berbagai sumber data. Dengan menggunakan beberapa teknik, akhirnya peneliti

mampu memperoleh data yang dibutuhkan saat penelitian dilangsungkan.

E. Teknik Analisis Data

Teknik analisis data yang digunakan peneliti dalam penelitian ini adalah teknik

analisis deskriptif kualitatif, yaitu data yang diperoleh dari hasil penelitian dengan

menggunakan beberapa teknik pengumpulan data yang telah dikemukakan sebelumnya, akan

dianalisis dengan metode menyusun data yang diperoleh kemudian diinterpretasikan dan

dianalisis sehingga memberiikan informasi demi menjawab fokus permasalahan yang

menjadi inti dari penelitian yang dilaksanakan.

Secara lebih rinci, berikut akan diuraikan bagaimana tahapan yang dilakukan oleh

peneliti dalam menganalisa penelitian kualitatif :

 Mengorganisasikan data

Dalam tahap ini, data yang diperoleh peneliti dengan menggunakan berbagai teknik

khususnya dari hasil wawancara mendalam yang dituliskan dan direkam oleh peneliti,

kemudian dibuat transkipnya dengan mengubah data berupa rekaman menjadi data yang

tertera dalam bentuk uraian tertulis. Data yang diperoleh peneliti terkait acara je’ne’- je’nes

sappara dari semua informan yang terpilih, kemudian dibaca berulang-ulang oleh peneliti

untuk mendapatkan gambaran hasil yang jelas.

 Pengelompokan data

Pada tahap ini dibutuhkan pengertian yang mendalam terhadap data, perhatian yang

penuh dan keterbukaan terhadap hal-hal yang muncul di luar apa yang ingin digali.

Berdasarkan kerangka teori dan pedoman wawancara, peneliti menyusun sebuah kerangka
awal analisis sebagai acuan dan pedoman dalam melakukan coding. Dengan pedoman ini,

peneliti kemudian membaca kembali transkrip wawancara dan melakukan coding, melakukan

pemilihan data yang relevan dengan pokok pembicaraan. Data yang relevan diberi kode dan

penjelasan singkat kemudian dikelompokkan dan dikategorikan berdasarkan kerangka

analisis yang telah dibuat

Jadi pada tahap ini, semua data yang diperoleh peneliti di lapangan melalui beberapa

teknik pengumpulan data yang digunakan, dikelompokkan berdasarkan tipe yang dibutuhkan

oleh peneliti. Hal ini ditempuh untuk menentukan apakah data yang telah didapatkan bisa

menjawab rumusan masalah tentang struktur sosial dan interpretasi masyarakat terhadap

acara je’ne’- je’nes sappara ataukah tidak. Sehingga tahap ini menjadi bagian penting dalam

analisis data.

 Menguji asumsi atau permasalahan yang ada terhadap data

Setelah kategori data telah tergambar dengan jelas, peneliti menguji data terhadap

asumsi yang dikembangkan dalam penelitian ini. Pada tahap ini, kategori yang telah didapat

melalui analisis ditinjau kembali berdasarkan tinjauan teori yang digunakan, sehingga dapat

diuji apakah ada kesamaan antara landasan teoritis dengan hasil yang diperoleh.

Jadi pada tahap ini, peneliti melihat dari data yang dikelompokkan, apakah data

tersebut sesuai dengan asumsi yang dikembangkan oleh peneliti tentang acara je’ne’- je’nes

sappara itu sesuai atau tidak dengan temuan di lapangan.

 Mencari alternatif penjelasan bagi data

Dalam tahap ini, peneliti melakukan penjelasan terkait data yang telah diperoleh. Tak

hanya itu, peneliti juga mencari alternatif penjelasan lain karena bisa saja ditemukan adanya

hal baru yang berbeda dengan kesimpulan awal yang didapatkan atau menyimpang dari

asumsi terkait acara je’ne’- je’nes sappara yang semula dikembangkan peneliti dan tidak

pernah terfikirkan sebelumnya. Tahap penjelasan ini dibantu dengan berbagai referensi
teoritis untuk memudahkan peneliti dalam menarik sebuah kesimpulan penelitian.

 Menuliskan Hasil Penelitian

Pada tahap ini peneliti mulai menuliskan hasil penelitian yang didapatkan di lapangan

untuk mengantarkan peneliti dalam merumuskan sebuah kesimrpulan tentang bagaimana

gambaran acara je’ne’- je’nes sappara tersebut, khususnya terkait struktur sosial serta

interpretasi masyarakat melihat acara je’ne’- je’nes sappara.