Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Pendidikan Anak Usia Dini sangat penting dilaksanakan sebagai dasar bagi
pembentukan kepribadian manusia secara utuh, yaitu untuk pembentukan karakter,
budi pekerti luhur, cerdas, ceria, terampil dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha
Esa. Pendidikan usia dini dapat dimulai di rumah atau dalam keluarga, perkembangan
anak pada tahun-tahun pertama sangat penting dan akan menentukan kualitasnya di
masa depan. Oleh karena itu, upaya-upaya pengembangan anak usia dini hendaknya
dilakukan melalui belajar dan melalui bermain (learning through games). Hal ini
karena bermain merupakan kegiatan yang menyenangkan bagi anak melalui bermain
anak memperoleh kesempatan untuk bereksplorasi (exploration), menemukan
(finding), mengekspresikan (expression), perasaannya dan berkreasi (creation).
Lingkungan belajar baik didalam kelas maupun diluar kelas merupakan isu
yang selalu mendapat perhatian khusus dalam penyelenggaraan pendidikan TK,
karena lingkungan sekitar baik fisik maupun non fisik mempengaruhi prilaku
manusia. Contohnya adalah pengaturan rumah. Rumah yang bersih dan rapi
memberikan gambaran tentang kebiasaan penghuninya yang hidup teratur dan
menjaga kebersihan. Bertitik tolak dari kesadaran bahwa anak belajar dari
interaksinya dengan lingkungan disekitarnya dan proses belajar berjalan secara positif
dan produktif maka pengaturan lingkungan belajar anak perlu mendapat perhatian
secara khusus. Keberhasilan pelaksanaan program untu pendidikan di TK sangat
tergantung dari cara pengaturan lingkungan belajar dan bermain serta penggunaan
alat permainan baik didalam kelas maupun didalam kelas. Kesenangan anak didik
untuk bersekolah dipengaruhi oleh lingkungan sekolah, maka pengaturan lingkungan,
alat permainan pada khususnya, dan sumber belajar pada umumnya harus rapi
menarik dan dengan efisiensi yang tinggi sehingga dapat dinikmati dan dirasakan
oleh anak.

1
B. Rumusan Masalah
1. Apa Pengertian lingkungan belajar diluar ?
2. Apa saja Prinsip Umum Penataan Area Bermain Outdoor pada AUD ?
3. Apa Pentingnya aktivitas Outdoor dalam optimalkan perkembangan Anak?
4. Apa spesifikasi lingkungan belajar Outdoor ?

C. Tujuan Masalah
1. Pengertian lingkungan belajar diluar !
2. Prinsip Umum Penataan Area Bermain Outdoor pada AUD !
3. Pentingnya aktivitas Outdoor dalam optimalkan perkembangan Anak!
4. Spesifikasi lingkungan belajar Outdoor !

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Lingkungan Belajar Diluar (Outdoor)


Outdoor Suatu kegiatan pembelajaran yang secara langsung dilakukan di alam
terbuka dengan memanfaatkan alam sebagai media pembelajaran, kegiatannya belajar
sambil bermain diisi oleh permainan atau ketangkasan dalam usaha membentuk
kepribadian, memantapkan pemahaman kepemimpinan dan membentuk karakter anak
percaya diri.
Kegiatan permainan dan pembelajaran yang dilaksanakan di luar ruangan
sebagai variasi metode/pendekatan yang digunakan dengan tujuan memperkenalkan
lingkungan, melatih psikomotorik dan mengembangkan wawasan, pengetahuan, sikap
dan perilaku anak usia dini.
Lingkungan belajar outdoor yaitu lingkungan atau sarana belajar yang berada
diluar lingkungan sekolahan, dalam artian lingkungan belajar ini diciptakan tidak
untuk proses belajar mengajar akan tetapi bisa digunakan untuk proses belajar
mengajar, seperti misalnya : museum, masjid, monumen, lapangan, tmpt wisata, dll.
Ada dua alasan penting bermain outdoor diperuntukkan untuk anak-anak usia
dini. Pertama, banyak kemampuan anak yang harus dikembangkan dan didapatkan
oleh anak. Kedua, kebiasaan orang tua yang menjauhkan area bermain dari anak-anak
karena berbagai faktor dan lebih memilih memberikan anak-anak tontonan atau
bermain komputer selain itu faktor lingkungan yang tidak aman membuat orang tua
menjauhkan anak mereka untuk bermain di luar.
Bermain outdoor membuat anak dapat menikmati kesenangan dan sangat
membantu pertumbuhan dan perkembangannya. Berbagai macam area yang ada di
lingkungan bermain outdoor yang dikelilingi alam yang natural sehingga anak-anak
dapat mengobservasi benda-benda yang ada disekitarnya.
Hal yang paling penting dari penataan lingkungan outdoor adalah anak
mendapatkan pengalaman yang unik. Misalnya science yang datang dengan
sendirinya secara natural, yaitu berseksplorasi dan mengobservasi dengan tangannya

3
sendiri. Anak dapat melihat tentang perubahan warna, memegang kulit kayu sebatang
pohon, mendengar suara jangkrik atau mencium udara setelah hujan turun, anak-anak
menggunakan semua perasaan mereka untuk belajar tentang dunianya.
Memperhatikan pentingnya tata lingkungan outdoor untuk mendukung pertumbuhan
dan perkembangan anak maka anda harus memberikan perhatian serius dalam
merancang dan menggunakan tempat bermain outdoor.

B. Prinsip Umum Penataan Area Bermain Outdoor Pada Anak Usia Dini
1. Memenuhi Aturan Keamanan
2. Melindungi dan Meningkatan Karakteristik Alamiah Anak
3. Desain Lingkungan Luar Kelas Harus Didasarkan pada Kebutuhan Anak
4. Secara Estetis Harus Menyenangkan

C. Pentingnya Aktivitas Outdoor Dalam Optimalkan Perkembangan Anak


a. Perkembangan Kognitif
a) Membuat keputusan (memilih sebuah aktivitas outdoor).
b) Merencanakan dan memiliki banyak ide (bermain games, membangun
balok, melakukan permainan tukang kayu, membuat karya seni, menanam
pohon).
c) Memecahkan masalah (membuat terowongan di bukit pasir, dapat bermain
dari satu alat permainan ke alat permainan lainnya).
d) Menggali pengalaman melalui berbagai peran, seperti menjadi sopir
ambulans, mengecat pagar dengan air, mencuci boneka atau
menghidangkan makanan.
e) Dapat bekerja sama (bermain pasir bersama dengan menambahkan sedikit
air, berkejar-kejaran hingga menjadi basah).

b. Perkembangan Bahasa
Perkembangan bahasa sendiri juga terkait dengan perkembangan kognitif,
yang berarti faktor intelek/kognisi sangat berpengaruh terhadap perkembangan
kemampuan berbahasa. Bayi yang tingkat intelektual belum berkembang dan
masih sangat sederhana, bahasa yang digunakannya sangat sederhana. Semakin
bayi itu tumbuh dan berkembang serta mulai mampu memahami lingkungan,

4
maka bahasa mulai berkembang dari tingkat yang sangat sederhana menuju ke
bahasa yang kompleks
Perkembangannya itu dipengaruhi oleh :
1. Umur anak
2. Kondisi lingkungan
3. Kecerdasan anak
4. Status sosial ekonomi keluarga
5. Kondisi fisik
c. Perkembangan Sosial dan Emosional
a) Mendemonstrasikan kemampuan sosial dengan membantu merawat
taman, berpartisipasi dalam permainan bersama teman sebaya.
b) Berunding dan kompromi serta kooperatif dengan sesama teman dalam
menggunakan peralatan yang ada di arena bermain, berbagi alat-alat seni,
bermain kelompok.
c) Mengekspresikan kreativitas, dengan membuat berbagai benda seni.
mengembangkan permainan baru.
d) Mempertinggi rasa percaya diri (mampu belajar untuk menggunakan
motorik halus dan motorik kasar).
e) Menambah kemandirian, seperti mendaki sendiri atau turun dengan
menggunakan tali tanpa bantuan.
f) Menunjukkan prestasi yang dibanggakan, seperti memperlihatkan
kekuatan fisik, membawa hewan peliharaan, membawa tumbuhan yang
ditanam dari bibit.

d. Perkembangan Psikomotorik
a) Mengembangkan motorik kasar (mendaki, bergelayutan, melompat, loncat
tali dan berlari-lari).
b) Mengembangkan motorik halus (bermain dengan air dan pasir,
menggambar, melukis, mengumpulkan benda-benda kecil).
c) Menambah koordinasi gerakan dengan mata dan tangan (menangkap,
melempar, pekerjaan tukang kayu, menghias sisi jalan dengan kapur).
d) Mengatur keseimbangan (mendaki, berayun, meluncur, menggunakan
balok untuk berlatih keseimbangan, menggunakan alat pelontar,
melompat-lompat, berjalan di atas permukaan yang berbeda).

5
e) Menambah kesadaran akan ruang dan tempat (berayun, mendaki,
menurun, masuk, keluar, di atas dan di bawah).
f) Menunjukkan ketekunan dan ketahanan, bermain pada area mendaki,
menancapkan ujung kuku pada pohon.
e. Perkembangan Moral dan Agama
a) Anak diajak untuk melihat gambar dan bercerita tentang gambar yang
dilihatnya dengan bimbingan guru, misalkan untuk melatih anak hidup
tertib dengan bimbingan guru (misalkan untuk melatih anak hidup tertib
dan teratur dalam makan dan minum, bangun tidur, bermain dan lain-lain,
anak bisa diajak komunikasi melalui gambar yang ditunjukkan).
b) Membacakan pertanyaan sederhana dan mendorong anak menjawab
berdasarkan gambar yang dilihatnya, misalkan gambar seseorang yang
sedang beribadah, berjabat tangan, dan lain-lain.
c) Memperagakan sesuatu yang diajarkan di hadapan anak, kemudian anak
diajak langsung menirukannya. Sementara itu terkait dengan sifat
pemahaman anak usia dini terhadap nilai-nilai keagamaan (dan moral)
pada saat proses belajar
D. Desain Lingkungan Berdasarkan pada Kebutuhan Anak Secara Estetis dan
Menyenangkan
1. Spesifikasi Lingkungan Belajar Outdoor
a. Lokasi
Sebelum mendirikan sebuah bangunan PAUD, yayasan pendiri harus
berkonsultasi kepada tokoh masyarakat mengenai lokasi yang strategis untuk
didirikan lembaga PAUD. Karena tokoh masyarakat jauh lebih mengetahui
tentang kawasan tempatnya bermukim daripada pihak lain. Hal ini
dimaksudkan agar pendirian lembaga PAUD benar-benar berada di pusat
kawasan atau area perkampungan sehingga semua anak-anak di kawasan
tersebut dapat mengakses lembaga PAUD secara lebih mudah. Tetapi jika
pihak yayasan pendiri PAUD sudah mempunyai lokasi yang disediakan
khusus, maka tidak perlu lagi konsultasi dengan tokoh masyarakat melainkan

6
meminta persetujuan dan dukungan, terutama tetangga yang paling dekat
dengan lokasi.
Pada prinsipnya, lokasi pendirian PAUD adalah area yang paling
strategis sekaligus paling kondusif sehingga proses pembelajaran dapat
pembelajaran dapat berjalan dengan nyaman, tenang, dan mencerdaskan.
Selain itu jalur transportasi yang memadai, sehingga semua orang tua yang
mempunyai anak usia dini dikawasan tersebut dapat mengakses lembaga
PAUD dengan mudah dan aman.
b. Ukuran
Sangat penting setiap pembangunan atau pendirian PAUD
memperhatikan luas tanah dan bentuk gedung guna membuat anak menjadi
nyaman dan betah untuk sekolah.
c. Luas Tanah
Seperti halnya yang terdapat dalam standar pendidikan anak usia dini,
suatu pendirian bangunan ada beberapa standar mengenai sarana prasarana,
diantaranya:
Aman, nyaman, terang, memenuhi criteria kesehatan bagi anak dan
sesuai tingkat perkembangan anak.
Luas lahan minimal 300 meter2 (ruang guru, ruang kepala TK, UKS,
kamar mandi/ WC untuk guru dan anak).
Ruang anak dengan rasio 3 m 2 per anak. Memiliki fasilitas permainan baik
didalam maupun diluar ruangan.
Pada prinsipnya terdapat rasionalisasi perbandingan antara luas tanah,
luas bangunan, dan daya tamping anak didik yang akan direkrut. Luas tanah
berkaitan dengan penyediaan lahan bermain di area terbuka, beserta
kelengkapan sarana prasarana, sedangkan luas bangunan berkaitan dengan
kapasitas jumlah anak didik yang akan ditampung. Jika merujuk pada teori-
teori ilmu pertanahan (agrarian), luas bangunan dalam sebidang tanah

7
maksimal ¾ dari luas tanah dan ¼ tanah tersebut digunakan untuk
membangun sebuah taman.
Sedangkan dalam konteks PAUD, keberadaan ruang terbuka
merupakan suatu keniscayaan. Sebab, ruang terbuka akan menjadi ajang
kreativitas tanpa batas untuk anak-anak. Oleh karena itu, keberadaannya
sangat dibutuhkan. Tetepi hal ini justru sangat jarang sekali bisa dijumpai
perkotaan. Justru kebanyakan PAUD yang ada diperkotaan menggunakan
seluruh tanah untuk membangun sebuah gedung dan menempatkan srea
bermain di dalam ruangan. Sehingga alternatif berkarya wisata pun selalu
diagendakan guna memenuhi kebutuhan anak untuk bermain di ruang terbuka
dan mengenal dunia luar selain di ruang kelas.
d. Pagar
Pagar pembatas area outdoor dengan tempat umum di luar lembaga
diperlukan untuk memastikan bahwa anak-anak tidak bisa terdorong ke dalam
situasi berbahaya. Desain dan ketinggian pagar harus sedemikian rupa untuk
mencegah anak dapat keluar dengan cara merangkak di bawah. Mekanisme
penguncian harus disediakan untuk mengatasi potensi berbahaya ketika
gerbang tidak ditutup. Pagar dapat menjadi sentra berkebun anak, agar anak
terjaga rasa aman bermain di luar kelas harus mempertimbangkan hal-hal
sebagai berikut :
1. Adanya pagar pengaman (tingginya minimum 4 kaki),
2. Jarak area bermain,
3. Alat-alat yang dipergunakan hendaknya sesuai dengan usia tahap usia
anak,
4. Alat bermain sebaiknya dirancang sedemikian rupa sehingga tidak ada
bagian yang tajam, runcing, dan mudah rusak,
5. Alat-alat hendaknya kuat dan tidak mudah lepas bagian-bagiannya,
6. Tempat bermain harus bebas dari aliran listrik yang membahayakan, dan
7. Pengawasan dari guru yang memadai.

8
e. Permukaan
Keseimbangan Area, Dapat diwujudkan dengan menciptakan beberapa
area sebagai berikut :
1. Area tubuh,
2. Area terbuka untuk sinar matahari,
3. Area melompat,
4. Area memanjat dan bergantungan,
5. Area mendaki,
6. Area untuk menanam/bunga-bungaan, dan
7. Area bermain pasir.
8. Jalan Kecil/Trotoar
f. Atap atau naungan
Kebanyakan yang sering dilihat bentuk bangunan PAUD itu cenderung
hampir sama dengan bentuk bangunan lain, seperti rumah, toko, dsb. Cuma
yang membedakan adalah warna cet dan gambar-gambar yang terpampang di
tembok-tembok sekolah saja.
Bentuk gedung PAUD sebenarnya tidak harus kotak. Tetapi bisa
berupa ruang lingkaran, elips, segitiga, dan lain sebagainya. Misalnya: kelas
A1 berbentuk elips, kelas A2 berbentuk geometri, kelas B1 berbentuk
pesawat, dan kelas B2 berbentuk alam terbuka, dan lain sebagainya.
Jika gedung PAUD seperti ini berhasil diwujudkan maka PAUD yang
demikian akan menjadi “surga para pembelajar sejati”, yakni anak usia dini.
Nuansa yang berbeda-beda tersebut membuat anak senantiasa betah dan tidak
pernah merasa bosan di sekolah.
Demikian pula dengan fasilitas bermain anak yang lainnya, seperti
kolam renang. Desain kolam renang juga tidak boleh terlalu sederhana, yaitu
kotak, bujur sangkar, dan lingkaran. Sebaiknya desain kolam renang untuk
anak dibuat dengan bentuk unik, seperti geometri, elips, tak beraturan, dan
sebagainya.

9
1. Desain dan Setting Area dan Lingkungn Belajar diluar Kelas (outdoor)
Jenis permainan dan Perlengkapan aktivitas diluar sekolah
a) Area Bermain Bebas
b) Area Memanjat
c) Area Transportasi
d) Area Pertukangan
e) Area Kebun

E. Strategi Belajar Outdoor


1. Pengelolaan Lingkungan Belajar Door Di Lembaga PAUD
Pada saat ini pendekatan model sentra menjadi tren dalam
menyelenggarakan PAUD, berikut akan dibahas alasan penggunaan sentra
dalam PAUD, yang meliputi :
1. Nilai bermain
Seperti telah kita ketahui bahwa semboyan kegiatan pengembangan pada
anak usia dini adalah ”bermain sambil belajar dan belajar seraya bermain”.
Bermain adalah pekerjaan anak-anak dan anak-anak selalu ingin bermain.
Dalam bermain anak-anak mengembangkan sesuatu yang berbeda dan
membedakan pendekatan yang terbaik. Dalam bermain anak-anak
menggunakan bahasa untuk melancarkan kegiatan, menjelajah dan menyaring
bahasa mereka ketika mereka bicara dan mendengarkan anak-anak lainnya.
2. Pusat Minat atau Pusat kegiatan (Sentra)
Salah satu pendekatan yang membantu kreativitas dalam penggunaan
peralatan adalah dengan menyediakan salah satu bagian dari kegiatan, minat
dan lingkungan dengan mengidentifikasi kegiatan dan peralatan untuk setiap
kelompok anak di kelas.
Dalam ruang kelas untuk anak usia dini, lingkungan didesain untuk
pengembangan total secara alamiah bagi anak-anak. Kegiatan kelas
menyediakan kesempatan pada anak-anak untuk berpartisipasi secara
individual dalam tim dan kelompok kecil.
3. Sentra adalah pembelajaran terpadu

10
Sentra adalah pembelajaran terpadu yang terbaik. Sentra
dapat membantu anak-anak mengembangkan seluruh kemampuannya secara
bersamaan. Dalam satu kegiatan belajar, anak- anak dapat mengembangkan
aspek bahasa, kognitif fisik motorik, sosial emosionalnya dalam satu
kesempatan.
Penataan ruangan di lembaga PAUD yang dibahas dalam kegiatan
belajar ini, ditujukan untuk pendidik (guru dan pengasuh) yang menginginkan
kelasnya menjadi tempat yang menarik atau memadai sebagai tempat bermain
dan belajar. Selain itu, dengan membaca kegiatan belajar ini, diharapkan para
pendidik untuk lembaga PAUD tertarik mencoba menyusun ruangan sentra
yang sesuai dengan kebutuhan, minat dan kondisi lingkungan di lembaga
PAUD di manapun berada dan memberi kesempatan kepada pendidik untuk
menata dan mendesain ruangan kelasnya dengan cara yang kreatif sehingga
proses pengembangan kemampuan anak dapat lebih optimal.
Ada dua alasan penting bermain outdoor diperuntukkan untuk anak-
anak usia dini. Pertama, banyak kemampuan anak yang harus dikembangkan
dan didapatkan oleh anak. Kedua, kebiasaan orang tua yang menjauhkan area
bermain dari anak-anak karena berbagai faktor dan lebih memilih memberikan
anak-anak tontonan atau bermain komputer selain itu faktor lingkungan yang
tidak aman membuat orang tua menjauhkan anak mereka untuk bermain di
luar.
Bermain outdoor membuat anak dapat menikmati kesenangan dan
sangat membantu pertumbuhan dan perkembangannya. Berbagai macam area
yang ada di lingkungan bermain outdoor yang dikelilingi alam yang natural
sehingga anak-anak dapat mengobservasi benda- benda yang ada di
sekitarnya.
Hal yang paling penting dari penataan lingkungan outdoor adalah anak
mendapatkan pengalaman yang unik. Misalnya science yang datang dengan
sendirinya secara natural, yaitu bereksplorasi dan mengobservasi dengan

11
tangannya sendiri. Anak dapat melihat tentang perubahan warna, memegang
kulit kayu sebatang pohon, mendengar suara jangkrik atau mencium udara
setelah hujan turun, anak-anak menggunakan semua perasaan mereka untuk
belajar tentang dunianya. Memperhatikan pentingnya tata lingkungan outdoor
untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak maka anda harus
memberikan perhatian serius dalam merancang dan menggunakan tempat
bermain outdoor.
Prinsip penataan area bermain outdoor pada anak usia dini adalah :
1. Memenuhi aturan keamanan
2. Harus sesuai dengan karakteristik alamiah anak
3. Harus didasarkan pada kebutuhan anak dan
4. Secara estetis harus menyenangkan

Spesifikasi alat permainan untuk arena bermain outdoor harus


cukup fleksibel untuk memenuhi kebutuhan dan prasyarat minimal serta
memasukkan faktor lokasi, ukuran pagar, tanah lapang, permukaan dan
naungan. Dalam merancang tempat bermain outdoor cara yang baik
untuk memulai adalah mempertimbangkan beberapa variasi pengalaman
yang akan anda berikan kepada anak didik. Beberapa pertimbangan yang
dapat menjadi masukan ke dalam area aktivitas anak adalah variasi alat-
alat permainan, aktivitas menggali dan menimbun, membersihkan
permainan yang membutuhkan keheningan, bermain dengan binatang,
berkebun, menjadi tukang kayu.
Kunci sukses dalam menggunakan area outdoor adalah amar,
jauh dari kebisingan lalu lintas. Anak dapat dengan leluasa
mengekspresikan idenya dengan aktivitas yang dilakukannya. Salah
satu faktor keselamatan dan keamanan adalah penyesuaian perlengkapan
dan peralatan berkenaan dengan ukuran fisik anak. Kecelakaan sering

12
terjadi apabila perlengkapan dan peralatan tidak cocok dengan
kemampuan dan ukuran fisik anak. Alasan mengapa anak-anak merasa
tidak nyaman terhadap perlengkapan di area bermain adalah :
1. Kecenderungan berfokus hanya pada satu aspek situasi;
2. Kesulitan menilai ukuran;
3. Anak kurang perhatian terhadap apa yang terjadi di sekitarnya.
Untuk mencapai tujuan dari area bermain outdoor, pada kegiatan
program dapat menambahkan atau menyertakan staf pengajar dan peneliti
untuk mendukung hal tersebut dengan melakukan penelitian di area
tersebut.
Pelaksanaan outdoor antara lain: (a) menggunakan model pembelajaran
contextual teaching learning, (b) pendekatan kelas

13
dilakukan dengan menggunakan aturan serta tata tertib, (c) pengelolaan
prilaku untuk anak yang tidak disiplin di Strategi Belajar Outdoor
dilakukan dengan memberikan teguran, peringatan, serta ancaman, (d)
guru memberikan kebebasan kepada anak saat bermain di area Alat
Permainan Edukatif, tetapi guru juga bertindak mengawasi serta
mengarahkan anak ketika terjadi penyimpangan prilaku anak.

14
BAB III
KESIMPULAN
A. Kesimpulan
Outdoor Suatu kegiatan pembelajaran yang secara langsung dilakukan di alam
terbuka dengan memanfaatkan alam sebagai media pembelajaran, kegiatannya belajar
sambil bermain diisi oleh permainan atau ketangkasan dalam usaha membentuk
kepribadian, memantapkan pemahaman kepemimpinan dan membentuk karakter anak
percaya diri.
Spesifikasi lingkungan belajar diluar kelas :
a. Lokasi
b. Ukuran
c. Pagar
d. Tanah lapang
e. Permukaan
f. Atap/naungan
Strategi Outdoor bermanfaat bagi:
1. Manfaat fisik: dengan bergerak bertujuan (bukan sekedar bergerak), anak akan
belajar koordinasi motorik kasar, yang merupakan dasar dari segala
keseimbangan tubuh dan pikiran kelak. Anak juga belajar kelincahan, yang
nantinya di generalisasi untuk kelincahan berpikir. Banyak bergerak juga membuat
anak lebih sehat, jadi modal dasar buat segala pertumbuhan perkembangan yang
lain.
2. Manfaat kognitif: dengan bermain di luar ruang, anak akan lebih luas
wawasannya, mulai dari wawasan lingkungan, sampai wawasan segala strategi
permainan yang dimainkan. Luasnya wawasan bisa meningkatkan keluasan minat,
juga bisa meningkatkan kreativitas untuk memecahkan berbagai masalah.
Koordinasi motorik kasar yang baik meningkatkan kemampuan anak dalam
berkonsentrasi, dan ini berkaitan dengan kemampuan mengingat anak.
3. Manfaat bahasa: anak mendapatkan berbagai kosakata tentang kehidupan di luar
ruang. Ketika berinteraksi dengan teman-teman, ia juga belajar tentang cara
berkomunikasi dengan teman-teman bermain.

15
4. Manfaat emosi: anak belajar mengalami ragam emosi (senang, girang, sedih,
marah, malu, merasa bersalah, dll) dalam konteks bermain, dan belajar
mengatasinya. Bermain di luar ruang dan banyak bergerak juga melepaskan
tekanan emosi anak sehingga emosi negatif (marah, sedih, kesal, dll) cenderung
berkurang, stres pun ikut berkurang.
5. Manfaat sosial: terutama didapat ketika anak bermain dengan anak lain. Mereka
belajar bekerja sama dalam 1 tim, belajar saling memengaruhi, saling
menjatuhkan, saling menolong, dan berbagai keterampilan sosial lainnya. Teman-
teman yang didapat juga bisa jadi teman masa kecil yang dikenang, atau jadi
teman seumur hidup untuk kelak bermanfaat di masa dewasa

B. Saran
Saran antara lain: (1) kepala TK lebih mempersiapkan guru-guru yang
ditempatkan di outdoor dengan meningkatkan kemampuan pengelolaan Strategi
Belajar Outdoor yang lebih baik, (2) guru dalam melakukan pengelolaan Strategi
Belajar Outdoor hendaknya lebih meningkatkan pengawasan terhadap anak-anak,
dan meningkatkan manajemen waktu secara efektif dan efisien, (3) guru kelas
diharapkan untuk selalu melakukan kerjasama dan komunikasi dengan guru
Strategi Belajar Outdoor dalam memantau perkembangan anak-anak, (4)
Akademisi Pendidikan untuk memperdalam kajian tentang manajemen
pendidikan anak usia dini khususnya pada pengelolaan Strategi Belajar Outdoor,
dan (5) peneliti lain dapat dijadikan sebagai salah satu bahan referensi sekaligus
informasi awal untuk dikembangkan dalam pelaksanaan penelitian sejenis,
sehingga dapat bermanfaat bagi peningkatan kualitas pengelolaan Strategi Belajar
Outdoor.

DAFTAR PUSTAKA

16
Samal, Sharon E., Dino dkk., Teknologi Pembelajaran dan Media Untuk Belajar
(Jakarta: Kencana, 2011).

Mariyana, Rita, dkk. (2010). Strategi Pengelolaan Lingkungan Belajar. Jakarta :


Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi

Slavin Robert.E (2009). Psikologi Pendidikan, edisi kesembilan. Jakarta: Erlangga

Direktorat PAUD, Ditjen PLS. (2006). Pedoman Teknis Penyelenggaraan Kelompok


Bermain. Jakarta : Depdiknas

Dockett, Sue dan Marilyn Fleer. (2002). Play and Pedagogy in Early Childhood, Fried
Robert L.[2005], The Game of School [Why We All Play It, How It Hurts
Kids, and What It Will Take to Change It] Jossey Bass, San Farncisco. CA

Ibrahim, R & Syaodih. (2003). Perencanaan Pengajaran. Jakarta : Rineka Cipta.

Jene kemp & Clare Walter [2004], Brain Games [permainan yang merangsang otak],
Karisma Publishing Group, Jakarta

Pepen Supendi Dkk [2007], 50 Permainan fun game, menyenangkan di indoor dan
outdoor, Penerbit Penebar Swadaya Jakarta

17