Anda di halaman 1dari 29

LAPORAN KUNJUNGAN LAPANGAN TAHUN KE III

COMMUNITY AND FAMILY HEALTH CARE WITH INTERPROFESSIONAL


EDUCATION

Diajukan Oleh:

1. Kristia Avi A 13/345200/KU/15651


2. Muhammad Fatoni N 13/346622/KU/15846
3. Ichlasul Amalia 13/346381/KU/15771
4. Katarina Windhi A 13/346464/KU/15798
5. Nurul Kusumawati 13/345995/KU/15689

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA, 2016

1
Nama NIM Prodi Kelom
pok
1. Kristia Avi A 13/345200/KU/15651 Pendidikan Dokter Int
2. Muhammad Fatoni N 13/346622/KU/15846 Pendidikan Dokter
3. Ichlasul Amalia 13/346381/KU/15771 Pendidikan Dokter 29
4. Katarina Windhi A 13/346464/KU/15798 Ilmu Keperawatan
5. Nurul Kusumawati 13/345995/KU/15689 Gizi Kesehatan

A. PENDAHULUAN
Kesehatan merupakan hal paling penting supaya dapat melakukan
aktivitas dengan baik. Tentunya kesehatan perlu dijaga supaya tidak terjangkit
penyakit. Menjaga kesehatan dapat dengan mengonsumsi makanan bergizi
seimbang, beraktivitas fisik sesuai kondisi tubuh, menghindari penyebab
penyakit, dan melakukan cek kesehatan secara berkala.
Diabetes Mellitus merupakan suatu penyakit yang ditandai dengan
glukosa darah melebihi normal (glukosa puasa: 60-120 mg/dL). Gejalanya
seperti sering merasa kehausan (polidipsi), banyak makan (polifagi), sering
buang air kecil (poliuri), badan lemas, dan penurunan berat badan, kadar
glukosa puasa >=126 mmHg/dL dan kadar glukosa sewaktu >200 mg/dL.
Seseorang beresiko tinggi terkena diabetes mellitus apabila berusia di atas 45
tahun, mengalami obesitas (kegemukan), pola makan yang salah, kurang
berolahrga, dan riwayat Diabetes Mellitus pada keluarga. Diabetes Mellitus
terdiri dari dua tipe yaitu DM tipe 1 (Insulin dependent) dan DM tipe 2 (Non-
insulin dependent).
Faktor risiko merupakan suatu keadaan yang dapat bermanifestasi klinis
suatu penyakit. Meskipun pengetahuan tentang faktor- faktor risiko tentang
diabetes mellitus sudah banyak diketahui. Akan tetapi masih banyak
masyarakat yang belum bisa untuk mengimplementasi gaya hidup sehat

2
padahal banyak diantara mereka yang sudah memiliki faktor risiko genetik.
Oleh karena itu diagnosa awal terhadap suatu faktor risiko yang dimiliki
keluarga diharapkan dapat mengurangi angka kesakitan pada keluarga. Upaya
intervensi promotif dan preventif terhadap faktor risiko perlu diberikan dengan
melibatkan setidaknya kolaborasi dari berbagai profesi seperti pendidikan
dokter, ilmu keperawatan dan gizi kesehatan.

B. TUJUAN
Tujuan Umum
a. Mereview faktor risiko kesehatan dalam siklus hidup keluarga binaan
b. Menelusuri kasus dalam keluarga sesuai dengan masing-masing
kompetensi profesi

Tujuan Khusus
a. Menerapkan ketrampilan pemeriksaan fisik biopsikososial spiritual
b. Mahasiswa mampu menilai masalah kesehatan individu dan keluarga
c. Mahasiswa mampu menegakkan diagnosis.
d. Mengeksplorasi hasil penelusuran kasus dan pembahasan sebagai
pertimbangan dalam pengelolaan kasus secara komprehensif
interprofesional
e. Melakukan intervensi sebagai tindak lanjut dari hasil penelusuran
kasus.

3
C. PENELUSURAN KASUS UTAMA DI KELOMPOK
Resume Pengelolaan Komprehensif dan Terintegrasi
NO Rincian Kompetensi Pendidikan Dokter Keperawatan Gizi Kesehatan
1 Review faktor risiko yang dimiliki Faktor risiko DM pada Faktor risiko: Ibu N Faktor resiko di keluarga:
keluarga keluarga Ibu N yaitu sebenarnya sedikit sudah asupan gula yang berlebih
a. Telaah faktor risiko di keluarga adanya faktor genetik dan mengetahui tanda- tanda dalam minuman, dan
b. Penelusuran kasus utama faktor lingkungan, berupa dari diabetes mellitus kurangnya aktifitas fisik
pola makan terutama antara lain: sering merasa yaitu berolahraga karena
konsumsi gula yang tidak lapar dan haus. Ketika terkendala pekerjaan dan
dibatasi, olahraga kurang, gejala itu terjadi, Ibu N mengurus rumah.
dan ketidakpatuhan Ibu N banyak makan dan minum. Penelusuran kasus utama:
dalam mengkonsumsi obat Ibu N menentukan sendiri kebiasaan membeli
sesuai dosis yang dosis dan frekuensi obat makanan atau jajanan di
dianjurkan dokter. yang telah diresepkan. luar, kurangnya kesadaran
untuk menjaga pola makan
Ibu N belum bisa (rendah gula, garam,
mematuhi dosis obat yang lemak).
diberikan oleh dokter
karena beliau tidak merasa
dirinya sakit meskipun
4
hasil laboratorium
menunjukkan kadar gula
yang sangat tinggi. Tidak
patuhnya dalam meminum
obat menjadi kendala
utama dalam kasus ini
karena efek dari
pengobatan belum bisa
kami lihat.
2 Melakukan anamnesis untuk Dari anamnesis, diperoleh Pengkajian: glukosa darah, Melakukan anamnesis gizi,
menegakkan diagnosis adanya riwayat DM pada pola makan dan aktivitas, riwayat pola makan,
a. Melakukan anamnesis keluarga Ibu N, sehingga tekanan darah, kecepatan antropometri: IMT,
b. Melakukan anamnesis riwayat penyakit ada kemungkinan faktor respirasi, denyut nadi, pemeriksaa biokimia:
sekarang, dahulu individu dan keluarga genetik. Gejala penyerta berat badan dan tinggi Glukosa PP dan Puasa,
c. Menggali gejala yang menyertainya yang dirasakan adalah badan. asupan zat gizi sehari
sering merasa lemas dan Diagnosa medis: melalui recall 24 jam.
mengantuk terutama setiap Diabetess mellitus, Diagnosa gizi:
maghrib, sering terasa hipertensi hiperhlikemia
lapar, dan terkadang Pasien merasakan lapar,
terasa pegal-pegal. haus ketika glukosa
5
darahnya naik.
Dari hasil anamnesis kami
mendapatkan tanda tanda
mudah lapar, senang
ngemil, tidak ada
gangguan dalam
beraktivitas, dan ada
keluarga yang riwayat
penyakit diabetes juga.
pemeriksaan fisik berupa
tanda vital, dan dari hasil
lab beliau diagnosis
terkena penyakit diabetes
mellitus tipe 2 dengan
terapi kombinasi insulin.
3 Melakukan pemeriksaan fisik Dari pemeriksaan fisik RR: 20x/menit Fisik Klinis/Kesan Umum
sederhana tidak ditemukan kelainan. P : 90x/menit Compos mentis, rambut
a. Pemeriksaan fisik Semua masih dalam BP: 150/90mmHg dan konjungtiva
b. Pemeriksaan antropometrik (BB, TB, kondisi normal. Namun, BB: 67 kg normal,kulit berkeringat,
BMI,dll) dari pemeriksaan tanda TB: Ulna : 22 cm gigi sudah ada beberapa
6
c. Pemeriksaan secara bio-psiko- sosio- vital perlu sedikit BMI: 27,53 kg/m3 yang tanggal namun masih
spiritual pengawasan terhadap Biologis: Tidak ada luka, bisa mengunyah dengan
tekanan darah Ibu N. overweight. baik, tidak ada edema.
Psikologi: Ibu menyatakan Vital Sign
Pemeriksaan fisik dan pernah merasa jenuh RR: 20x/menit
antropometrik sudah minum obat, dukungan P : 90x/menit
terlampir. keluarga untuk BP: 150/90mmHg
Untuk pemeriksaan secara memodifikasi gaya hidup BB: 67 kg
bio-psiko-sosio-spiritual cukup baik. Ulna : 24 cm
terdapat masalah pada Sosio: Masih aktif Estimasi TB dari P. Ulna:
kepatuhan minum obat mengikuti kegiatan di 156 cm
dan pola makan yang tidak masyarakat BMI: 27,53
baik dan kami sampaikan Spiritual: Ibu N sering
hal hal yang perlu puasa Senin Kamis.
diterapkan dalam
penanganan penyakit
diabetes tetapi terlihat ibu
N yang masih sulit untuk
menerapkan apa yang
kami sampaikan.
7
4 Melakukan skenario pemeriksaan Pemeriksaan laboratorium Glukosa darah Glukosa darah
laboratorium dan menentukan usulan untuk cek gula darah Puasa: 355 mg/dL Puasa: 355 mg/dL
pemeriksaan penunjang sudah rutin dilakukan. 2 jam post prandial: 496 2 jam PP: 496 mg/dL
a. Skenario pemeriksaan laboratorium mg/dL HbA1C
b. Skenario pemeriksaan penunjang Pemeriksaan penunjang HbA1C Urine ketone
berupa : urinalisis, Kolestrol total, HDL, LDL,
funduskopi, pemeriksaan Trigliserida.
fungsi ginjal, EKG, xray Urine ketone, serum
thoraks kreatinin
GFR function
5 Melakukan diagnosa Diagnosis yang diberikan Ketidakefektifan
a. Hasil diagnosis yaitu diabetic neuropathy. managemen kesehatan
b. Bentuk perencanaan manajemen berhubungan dengan
selanjutnya Bentuk perencanaan kurang pengetahuan
selanjutnya bisa kami terhadap regimen (Terlampir halaman:18 )
lakukan jika kepatuhan terapeutik.
pengobatan ibu N sudah
baik sehingga hasil Risiko ketidakstabilan
pengobatan dapat kadar glukosa darah
8
dievaluasi, akan tetapi dengan faktor risiko
fokus kami saat ini ketidakefektifan
mengatur pola makan dan manajemen diabetes
mengajak beliau untuk
patuh dalam pengobatan. Risiko infeksi dengan
faktor risiko penyakit kronik
(diabetes mellitus).
(Terlampir halaman: 10 )
9
LAMPIRAN : PENGELOLAAN KASUS PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
Analisis data
Diagnosa
Data Problem Etiologi Symtom
Keperawatan
DO: Ketidakefektifan manajemen Kurang pengetahuan Ketidakmampuan Ketidakefektifan
Diagnosa medis: Diabetes Mellitus, kesehatan terhadap regimen dalam melakukan managemen
hipertensi Domain 1: Promosi terapeutik regimen terapi kesehatan
Pengobatan: Mitformin 3x 8 unit . kesehatan dalam kehidupan berhubungan
Insulin 3 x 8 unit Kelas 2: Manajemen sehari- hari. dengan kurang
Candesartan kesehatan Ketidakefektifan pengetahuan
DS: Definisi: Pengaturan dan pilihan dalam terhadap regimen
Ibu N mengatakan minum kopi, integrasi pola dalam kehidupan sehari- terapeutik.
kurang bisa mengontrol asupan kehidupan sehari- hari hari untuk mencapai
makanan terutama snack regimen terapeutik untuk kesehatan optimal
(lempeng, gorengan). pengobatan penyakit yang Kegagalan dalam
Ibu N mengatakan tidak minum berkelanjutan dimana melakukan aktivitas
obat tidak sesuai aturan, insulin kepuasan tujuan kesehatan dalam mengurangi
hanya diberikan ketika pagi hari spesifik belum tercapai. faktor risiko
dengan menaikan dosis, metformin
diminum 2 kali sehari.
10
DO : Risiko ketidakstabilan kadar Faktor risiko: Risiko
Glukosa darah puasa : 355 mg/dL glukosa darah ketidakefektifan ketidakstabilan
Glukosa darah 2 jam postprandial: Domain 2 : Nutrisi manajemen diabetes kadar glukosa darah
496 mg/dL Kelas 4 : Metabolisme dengan faktor risiko
Diagnosa medis: Diabetes Mellitus, Definisi : Rentan terhadap ketidakefektifan
hipertensi variasi kadar glukosa/ gula manajemen
Pengobatan: Mitformin 3x 8 unit, darah dari rentang normal, diabetes
Insulin 3 x 8 unit yang dapat berpengaruh
Candesartan terhadap kesehatan
DO : Risiko infeksi Faktor risiko: Penyakit Risiko infeksi
Glukosa darah puasa : 355 mg/dL Domain 11: Safety/ protection kronik (diabetes mellitus) dengan faktor risiko
Glukosa darah 2 jam postprandial: Kelas 1 : Infeksi penyakit kronik
496 mg/dL Definisi: Rentan terhadap (diabetes mellitus).
invansi dan multifikasi
organisme patogen yang
dapat berpengaruh terhadap
kesehatan.
11
a. Pengelolaan kasus
Perencanaan Implementasi dan Evaluasi
Perencanaan
Diagnosa Implementasi Evaluasi
NOC NIC
Ketidakefektifan Health Orientation Health System 21/11/2015 S : Ibu N menyatakan, “iya
managemen a. Fokus kesejahteraan* Guidance Mengedukasi pasien harusnya ngurangi manis, kalau
kesehatan b. Fokus terhadap a. Dorong konsultasi perlunya modifikasi diet diminuman bisa diganti sama
berhubungan pemeliharaan dengan tenaga (memisahkan makanan tropicana diabetes tapi kalau
dengan kurang performa peran* kesehatan keluarga dengan pasien ex: dimakanan dikurangi gak bisa
pengetahuan c. Persepsi terhadap profesional (pola sayur pasien disisihkan gak enak.”
terhadap regimen kesehatan yang makan, dosis dan terlebih dahulu sebelum O: Banyak cemilan di ruang
terapeutik. utama untuk frekuensi obat) diberi gula) tamu.
membuat pilihan gaya b. Follow up pasien Menjelaskan kepada pasien A: Pengetahuan terhadap
hidup** Support System mengenai pentingnya manajemen penyakit masih
*dari 3 ke 4 (from Enhancement mengonsumsi obat secara rendah dan keinginan untuk
moderate to strong) a. Kaji keadekuatan teratur dan sesuai dosis berubah masih kurang.
*dari 2 ke 4 ( from weak jaringan sosial yang ditentukan. P: Edukasi modifikasi diet dan
to strong) pasien. Melibatkan keluarga dalam medikasi.
Knowledge: Treatment b. Libatkan keluarga memberikan dukungan dan
Regiment atau teman dalam pengawasan pasien.
12
a. Diet yang diresepkan perencanaan
* modifikasi gaya
b. Medikasi yang hidup.
diresepkan * Teaching: Prescribed
c. Keuntungan Diet
manajemen penyakit a. Kaji tingkat
* pengetahuan
*dari 2 ke 4 (from limited pasien terhadap
knowledge to substantial diet yang
knowledge) direkomendasikan
b. Informasikan lama
diet harus diikuti
c. Bantu pasien
mengenai makanan
pengganti
d. Arahkan pasien ke
ahli gizi
Teaching: Prescribed
Medication
a. Review
13
pengetahuan
pasien tentang
regimen medikasi
b. Instruksikan pasien
untuk mematuhi
dosis, rute,
frekuensi dan
durasi medikasi
c. Informasikan
konsekuensi jika
tidak mematuhi
pengonsumsian
medikasi
Risiko Blood Glucose Level Hyperglycemia 7/5/2015 S: Ibu N menyatakan, “terakhir
ketidakstabilan Kadar glukosa darah (dari Management Mengajari senam kaki ngecek gula darahnya tinggi
kadar glukosa 2 ke 4 from substantial a. Monitor level gula diabetik untuk meningkatkan banget he mbak.”
darah dengan faktor deviation from normal darah aktivitas pasien. O: Glukosa darah puasa : 355
risiko range to no deviation from b. Review data gula 21/11/2015 mg/dL , Glukosa darah 2 jam
ketidakefektifan mild range) darah dengan Mengedukasi rentang postprandial 496 mg/dL.
manajemen Adherence Behavior : pasien dan normal glukosa darah A: Glukosa darah rentang tinggi
14
diabetes. Healthy Diet keluarga Mengedukasi pasien untuk P: Manajemen diet dan
a. Menggunakan c. Instruksikan pasien memodifikasi diet untuk medikasi.
nutritional guidlines dalam manajemen membatasi gula dan garam.
yang direkomendasi diabetes termasuk Mengedukasi mengenai
dalam perencanaan pengadministrasian makanan yang seharusnya
makan* insulin , obat oral, dihindari, dibatasi dan boleh
b. Memilih makanan monitor intake dimakan.
berdasarkan cairan dan Menginstruksikan pasien
informasi nutrisi* makanan, untuk mematuhi
c. Makan sayur dan karbohidrat dan pengonsumsian obat
buah setiap hari.** kontrol ke tenaga terutama dosis dan frekuensi
*1 ke 4 (from never kesehatan. yang telah diresepkan.
demonstrated to often Nutrition Counseling
demonstrated) a. Kaji intake makan
*3 ke 5 (from sometimes dan perilaku makan
demonstrated to pasien
consistenly b. Sediakan informasi
demonstrated) mengenai
Knowledge: Diabetes modifikasi diet
Management (pembatasan
15
a. Tanda gejala glukosa, natrium)
hiperglikemi dan c. Diskusikan
hipogligemi* makanan yang
b. Peran makanan disukai dan tidak
dalam mengontrol disukasi
kadar gula darah* d. Evaluasi kemajuan
c. Peran aktivitas dalam modifikasi diet
mengontrol kadar dalam interval
gula darah* waktu tertentu.
d. Pentingnya menjaga Medication
kadar gula darah Management
dalam rentang a. Kaji pengetahuan
normal* pasien tentang
e. Benar menggunakan medikasi
/mengonsumsi insulin b. Bantu pasien dan
dan obat yang anggota keluarga
diresepkan* dalam pengaturan
*dari 2 ke 4 (from limited gaya hidup
knowledge to substantial berhubungan
knowledge) dengan mediakasi
16
c. Review strategi
pasien dalam
manajemen
regimen medikasi.
Risiko infeksi Risk Control Risk Identification 7/5/2015 S: Ibu N menyatakan jika kena
dengan faktor risiko a. Mengetahui faktor a. Pastikan pasien Mengkaji apakah ada luka. luka langsung saya ke dokter.
penyakit kronik risiko* mendapatkan Mengedukasi pasien O: Tidak ada infeksi
(diabetes mellitus). b. Modifikasi gaya hidup dukungan dari pentingnya mengontrol gula A: Tidak ada luka infeksi
untuk mengurangi keluarga dan darah. P: Edukasi mengenai kontrol
faktor risiko* masyarakat Mengedukasi pasien apabila gula darah dan manajemen
c. Monitor perubahan b. Kurangi aktivitas mengalami perlukaan keamanan lingkungan.
status kesehatan* * berisiko segera dibersihkan dan
*dari 2 ke 4 (from rarely mencari pelayanan
demonstrated to often kesehatan terdekat.
demonstrated)
*dari 3 ke 4 (from
sometimes demonstrated
to often demonstrated)
17
LAMPIRAN : PENGELOLAAN KASUS PROGRAM STUDI GIZI KESEHATAN

KASUS UTAMA
COMPREHENSIVE FAMILY HEALTH CARE
KELOMPOK 29

BAB I. ASESMEN GIZI

A. ANAMNESIS
1. Identitas Pasien
Nama : Ny. N Pekerjaan : IRT
Umur : 46 tahun Pendidikan : SMK
Sex : Perempuan Agama : Islam
Alamat : Desa Bedingin, Sumberadi, Sleman Diagnosis medis : DM

2. Berkaitan dengan Riwayat Penyakit


Keluhan Utama Pusing (+) setelah bangun tidur
Riwayat penyakit Batuk pilek (+), pusing (+), sadar (+)
sekarang
Riwayat penyakit dahulu DM, Hipertensi
Riwayat penyakit keluarga DM, Batuk

3. Berkaitan dengan Riwayat Gizi


Data sosial ekonomi Penghasilan: Menengah
Jumlah anggota keluarga: 5
Suku: Jawa
Aktifitas fisik Jenis pekerjaan: IRT
Jumlah jam kerja: -
Jenis olahraga: Senam Diabetes, Bersepeda
Frekuensi: 1x/bulan
Jumlah jam tidur: 4,5 jam (pukul 02.30-07.00)

18
Alergi makanan Makanan :-
Penyebab :-
Jenis diet khusus: Rendah garam, rendah gula, rendah lemak
Alasan : Mengontrol glukosa darah dan mecegah hipertensi
Yang menganjurkan : Dokter Keluarga
Masalah Nyeri ulu hati :Tidak Mual :Tidak Muntah :Tidak
gastrointestinal Diare :Tidak Konstipasi :Tidak Anoreksia :Tidak
Perubahan pengecapan/penciuman : -
Penyakit kronik Jenis penyakit : DM, Hipertensi
Modifikasi diet : Rendah gula, garam, dan lemak
Jenis dan lama pengobatan : bertahun-tahun yang lalu
Kesehatan mulut Sulit menelan :Tidak
Stomatis :Tidak
Gigi lengkap : Beberapa gigi tanggal namun masih dapat
mengunyah dengan baik
Pengobatan Vitamin/mineral/suplemen gizi lain: -
Frekuensi dan Jumlah: -
Perubahan berat Bertambah/berkurang: - Lamanya : -
badan Tidak disengaja: -
Mempersiapkan Fasilitas memasak: memasak sendiri, kadang membeli di luar
makanan Fasilitas penyimpanan makanan: kulkas, almari
Riwayat/ pola makan Frekuensi makanan pokok 3x/hari dan selingan 2x/hari
Makanan pokok: Nasi 1 centong penuh per porsi makan, tela kukus
4x/minggu sebanyak 1 genggam, jagung 1x/bulan sebanyak 1
bonggol.
Sumber protein hewani: Ayam 1x/minggu, telur 1x/hari
Sumber protein nabati: tempe-tahu kuning setiap hari sebanyak 1
ptg, bubur kacang hijau dengan ketan hitam 1x/minggu
Sayur: Kangkung, kacang panjang. Olahan sayur seperti sup, sayur
lodeh, oseng-oseng
Buah: Pisang Raja/Kapok 1x/hari, papaya 3x/minggu sebanyak 100
gram
Minum: Air putih 4-5 gelas sehari, teh dengan gula “Tropicana Slim”

19
1 sachet atau “Thermolite” ½ sachet 1x/hari, kopi instan “Nescafe” ½
sachet dengan gula “Tropicana Slim” (250 ml) 1-2x/hari

Kesimpulan:
Pasien berusia 46 tahun dengan diagnosis medis Diabetes Mellitus
Dependent Insulin sejak beberapa tahun yang lalu. Pasien mengakui bahwa ada
kerabatnya yang sama-sama memiliki DM dan Hipertensi. Pasien sudah
mengetahui aturan makan terkait penyakitnya dari dokter keluarga, namun dalam
aplikasinya pasien masih sering melanggar aturan tersebut, seperti sering jajan di
luar, membuat minuman dengan tambahan gula, memakan keripik gurih sebagai
selingan.
B. ANTROPOMETRI
Panjang Ulna Estimasi TB BB IMT
22 cm 156 cm 67 kg 27,53

Kesimpulan:
Estimasi tinggi badan menurut panjang ulna berdasarkan tabel dari BAPEN
(The British Association of Parenteral and Enteral Nutrition). Berdasarkan Kategori
IMT untuk Indonesia (Depkes, 1994 dalam Anggraeni, 2012), kategori IMT Ny. N
berada pada kategori kelebihan berat badan berat yaitu IMT >27,0.

C. PEMERIKSAAN BIOKIMIA
Parameter Nilai Normal Hasil Pemeriksaan Satuan Keterangan
Glukosa PP <200 496 mg/dl Tinggi
Glukosa Puasa 75-125 355 mg/dl Tinggi

Kesimpulan :
Hasil pemeriksaan glukosa PP dan puasa keduanya menunjukkan hasil yang
melebihi normal (Wahyuningsih, 2013). Pasien positif mengidap DM dengan adanya
hiperglikemia.

D. PEMERIKSAAN FISIK KLINIS


1. Kesan umum : CM

20
2. Vital Sign
Tekanan Darah : 150/90 mmHg (N 120/80 mmHg)
Nadi : 90 x/menit (N 60-100 x/menit)
Respirasi : 20 x/menit (N 16-24 x/menit)
Suhu :-
3. Kepala/abdomen/ekstermitas : normal, tidak ada edema

Kesimpulan :
Kesan umum Ny. N compos mentis, tekanan darah termasuk kategori
Hipertensi tingkat 1 karena yaitu sistolik 140-159 mmHg dan diastolik 90-99 mmHg
(Dipiro et al., 2006). Selain itu, vital sign nadi dan respirasi normal dan tidak ada
edema.

E. ASUPAN ZAT GIZI


Hasil recall 24 jam : di rumah
Tanggal : 21 November 2015
Energi (kkal) Protein (g) Lemak (g) KH (g)
Asupan 940,7 27,9 35,8 134,9
Kebutuhan (AKG, 2619 69,4 73 393
2013)
% asupan/ standar 35,9 40,2 49 34,3

Kesimpulan :
Berdasarkan hasil recall 24 jam dibandingkan dengan kebutuhan
berdasarkan AKG 2013, diketahui bahwa presentase asupan energi, protein, lemak,
dan karbohidrat kurang. Persentase tingkat kecukupan dikatakan baik apabila ≥
80% dan kurang apabila < 80% (Roedjito, 1989).

F. TERAPI MEDIS
Jenis Obat/ Fungsi Interaksi Dengan Zat Solusi
Tindakan Gizi
Insulin Terapi Diabetes Dapat memperlambat Diberikan segera
NovoMix 30 Mellitus absorpsi makanan dan sebelum atau

21
100 U/mL atau meningkatkan setelah makan
Flexpen kebutuhan insulin.
Preparat yang
mengandung metacresol
yang dapat menyebabkan
reaksi alergi.
Metformin Memperbaiki - Diberikan
sensitivitas hepatik bersamaan atau
dan periferal sesudah makan
terhadap insulin
tanpa menstimulasi
sekresi insulin serta
menurunkan
absorpsi glukosa
dari saluran
lambung-usus
Candesartan Menghambat - -
reseptor angiotensin
untuk mengobati
hipertensi
Sumber: www.mims.com

B. DIAGNOSIS GIZI

Riwayat mengonsumsi makanan: kebiasaan konsumsi tinggi gula dan lemak (NI-
5.8.2) berkaitan dengan peningkatan kadar glukosa darah ditandai oleh
pemeriksaan biokimia berupa kadar glukosa puasa ≥126 mg/dl dan post-prandial
≥200 mg/dl.

C. INTERVENSI GIZI

1. PLANNING
a. Tujuan Diet:

22
1) Mempertahankan kadar glukosa daarah agar mendekati normal dengan
menyeimbangkan asupan makanan dengan insulin, obat penurun glukosa
oral, serta aktifitas fisik.
2) Menghindari komplikasi akut pasien yang menggunakan insulin seperti
hipoglikemia, komplikasi jangka pendek, dan jangka lama serta masalah yang
berhubungan dengan latihan jasmani.

b. Syarat / prinsip Diet:


1) Energi cukup, yaitu 25 kkal/kg BB secara bertahap
2) Protein cukup, yaitu 10-15% dari kebutuhan energi total
3) Lemak sedang, yaitu 25% dari kebutuhan energi total
4) Karbohidrat by difference
5) Serat 25 g/hari
6) Penggunaan gula murni dalam makanan dan minuman tidak diperbolehkan
7) Penggunaan gula alternatif dalam jumlah terbatas
8) Penggunaan garam dapur <3000 mg/hari
9) Cukup vitamin dan mineral

c. Perhitungan kebutuhan energi dan zat gizi :


1) Kebutuhan Energi menggunakan formula PERKENI (2011)
BMR = 25 kkal x BB – (5% x 25 kkal x BB)
= 25 kkal x 67 kg – (83,75 kkal)
= 1.675 kkal – 83,75 kkal
= 1.591,25 kkal
Total Energi = BMR x Faktor Aktivitas
= 1.591,25 kkal x 1,375
= 2.187,9 kkal
2) Kebutuhan Protein
Kebutuhan protein = 10-15% x Kebutuhan Energi Total
= 1 g/kg BB (berada 10-15% x Kebutuhan Energi Total)
= 1 g x 67 kg
= 67 g (268 kkal)

3) Kebutuhan Lemak

23
Kebutuhan lemak = 25% x Kebutuhan Energi Total
= 25% x 2.187,9 kkal
= 546,9 kkal (60,7 g)
4) Kebutuhan Karbohidrat
Kebutuhan karbohidrat = Kebutuhan total – (energi protein + energi
lemak)
= 2.187,9 kkal - (268 kkal + 546,9 kkal)
= 1373 kkal (343,25 g)

d. Terapi Diet, Bentuk Makanan dan Cara pemberian


Terapi Diet : Diabetes Mellitus VI (2100 kkal)
Bentuk makanan : Biasa
Cara pemberian : Oral

e. Rencana Monitoring dan Evaluasi


Yang diukur Pengukuran Evaluasi/ target
Antropometri BB Akhir kasus Tetap/Berkurang
Biokimia Glukosa PP dan Puasa Menyesuaikan Normal
Fisik Klinis Vital Sign (Tekanan Normal
darah, nadi, dan
Menyesuaikan
respirasi)
Keluhan: Luka Tidak ada/Berkurang
Asupan zat Energi, protein, lemak Minimal memenuhi 80%
gizi dan karbohidrat Setiap hari kebutuhan energi total
Daya terima Baik

f. Rencana Konsultasi Gizi


Masalah gizi Tujuan Materi konseling Keterangan
Pengurangan Memberikan pemahaman Pentingnya mengurangi
asupan gula, kepada pasien dan keluarga penggunaan gula,
garam, dan pasien tentang pentingnya garam, dan lemak Di rumah
lemak terkait pengaturan konsumsi gula, (minyak) untuk
DM dan garam, dan lemak mengontrol DM dan

24
Hipertensi Hipertensi
Penggantian Memberikan pengetahuan § Manfaat
makanan kepada pasien dan keluarga mengonsumsi bahan
sumber pasien tentang manfaat makanan sumber
karbohidrat karbohidrat kompleks karbohidrat kompleks
Di rumah
menjadi § Jenis bahan makanan
karbohidrat yang termasuk
kompleks karbohidrat kompleks

Pembahasan Preskripsi Diet :


Kebutuhan energi saat sedang sakit akan mengalami perubahan (Almatsier,
2006). Diet yang Kami rekomendasikan adalah diet DM 2100 kkal. Menurut
PERKENI (2011) kebutuhan kalori basal wanita 25 kkal/kg BB, aktifitas fisik
dikategorikan ringan karena Ny. N seorang IRT, penurunan kebutuhan kalori di
atas usia 40 tahun sebesar 5% untuk tiap dekade antara 40-59 tahun.

2. IMPLEMENTASI
a. Rekomendasi Diet
Waktu
Gol PNK Nama Makanan Bahan Makanan URT
Makan
Makan KH 1½ Nasi Merah Beras Merah 1 gls
Pagi PH Rendah Pepes Ikan Ikan Mas 1 ptg sdg
1
Lemak
PN 1 Tempe 1 ptg sdg
Tempe goreng
Minyak 2 Minyak Kelapa 2 sdt
Sayuran A ½ Sop Oyong-tomat Oyong, Tomat ½ gls
Selingan Buah 1 Pepaya Pepaya 1 ptg sdg
Siang KH 2½ Ubi Ungu Kukus Ubi Ungu 2 ptg sdg
PH Lemak
1 Telur Ayam 1 btr
Sedang
Telur Orak-arik
½ Buncis ½ gls
Sayuran
Sayuran B
½ Wortel ½ gls

25
Minyak 3 Minyak Kelapa 3 sdt
PN 1 Kacang Merah Kacang Merah 2 sdm
Sayuran A ¼ Jus Tomat Tomat Merah ¼ gls
Buah ½ Melon Melon 1 ptg sdg
Selingan Buah 1½ Mangga Mangga 2 bh sdg
Malam KH 2 Nasi Merah Beras Merah 1 ¾ gls
PH Rendah Daging ayam 1 ptg sdg
1
Lemak Ayam Goreng tanpa kulit
Minyak 1 Minyak Kelapa 1 sdt
PN 1 Tahu Kuning 1 ptg
Tahu Goreng
Minyak 1 Minyak Kelapa 1 sdt
Sayuran A ¼ Oyong ¼ gls
Sayur Bayam
½ Wortel ½ gls
Sayuran B Bening
½ Bayam ½ gls
Buah 1 Pisang mas Pisang mas 1 bh

Kajian Rekomendasi Diet


Energi (kal) Protein (g) Lemak (g) KH (g)
Rekomendasi Diet 2100 62 53 319
Kebutuhan (planning) 2187,9 67 60,7 343,25
% rekomendasi/kebutuhan 93,7 92,5 87,3 92,9

b. Penerapan Diet Berdasarkan Rekomendasi


Pemesanan Diet : Makanan Biasa Diet DM VI
Pemberian rekomendasi diet berupa makanan biasa Diet DM VI mengandung
2100 kkal berdasarkan perhitungan kebutuhan energi. Berdasarkan persentase
rekomendasi diet telah ≥ 80%.

c. Penerapan Konseling
1) Sasaran Konseling
a) Keluarga pasien
b) Pasien
2) Tujuan Konseling

26
a) Memberikan pemahaman kepada pasien dan keluarga pasien tentang
pentingnya pengaturan konsumsi gula, garam, dan lemak
b) Memberikan pengetahuan kepada pasien dan keluarga pasien tentang
manfaat karbohidrat kompleks
3) Target Konseling
a) Pasien dan keluarga dapat memahami dan melakukan apa yang
disampaikan
b) Keluarga mendukung rekomendasi pola makan yang diberikan
4) Waktu Konseling
Konseling dilakukan sekitar kurang lebih 20 menit.
5) Metode Konseling
Metode konseling yang digunakan adalah diskusi berdasarkan hasil
penggalian data melalui wawancara mengenai riwayat kesehatan pasien,
kebiasaan, dan pola makan pasien.
6) Alat Bantu Konseling
a) Leaflet diet DM dan Hipertensi sebagai pedoman pemberian konseling.
b) Perolehan data antropometri, biokimia dan fisik-klinis berasal dari rekam
medis.
7) Materi Konseling
a) Pentingnya mengurangi penggunaan gula, garam, dan lemak (minyak)
untuk mengontrol DM dan Hipertensi
b) Manfaat dan mengonsumsi bahan makanan sumber karbohidrat kompleks
c) Jenis bahan makanan yang termasuk karbohidrat kompleks

27
BAB II. DASAR TEORI

A. Diabetes Mellitus
Menurut Wahyuningsih (2013) Diabetes Mellitus merupakan suatu kumpulan
gejala yang timbul pada seseorang yang disebabkan oleh peningkatan kadar
glukosa darah akibat kekurangan insulin baik absolut maupun relatif. Klasifikasi DM
berdasarkan kemampuan pancreas menghasilkan hormon insulin:
a. Diabetes Mellitus Tipe I
Pada kondisi ini terjadi proses autoimun yaitu penghancuran sel-β pankreas
sehingga insulin yang diproduksi sangat rendah. Kadar gula darah yang tinggi
diekskresikan melalui urin apabila mencapai di atas 180 mg/dl. Terapi untuk
penderita DM Tipe I adalah penyuntikan insulin. Beberapa gejala umum pada
penderita DM Tipe I antara lain poliuri, polidipsi, polifagi, dan penurunan berat
badan.
b. Diabetes Mellitus Tipe II
Pada kondisi ini pancreas masih dapat memproduksi insulin namun jumlah
insulin tersebut tidak mampu memasukkan semua gula darah ke dalam sel.
Lama-kelamaan jumlah sel-β pankreas akan berkurang (resistensi insulin) hingga
akhirnya mendapatkan perlakuan yang sama dengan DM I yaitu penyuntikan
insulin. Gejala munculnya DM Tipe II membutuhkan waktu lama sebagai akibat
dari pola makan yang salah.

Penegakan Diagnosis Penyaring Pasien DM


Pemeriksaan Bukan DM Belum Pasti DM DM
Kadar Glukosa Plasma Vena <100 100-199 ≥200
Darah Sewaktu Darah Kapiler <90 90-199 ≥200
(mg/dl) <100 100-125 ≥126
Kadar Glukosa Plasma Vena <90 90-99 ≥100
Darah Puasa Darah Kapiler
(mg/dl)

B. Hipertensi
Hipertensi adalah penyakit yang terjadi akibat peningkatan tekanan darah.
Tekanan darah (TD) ditentukan oleh dua faktor utama yaitu curah jantung dan

28
resistensi perifer. Curah jantung adalah hasil kali denyut jantung dan isi sekuncup.
Besar ini sekuncup ditentukan oleh kekuatan kontraksi miokard dan alir balik vena.
Resistensi perifer merupakan gabungan resistensi pada pembuluh darah (arteri dan
arteriol) dan viskositas darah. Resistensi pembuluh darah ditentukan oleh tonus otot
polos arteri dan arteriol dan elastisitas dinding pembuluh darah
(Ganiswara,1995:50).
Diagnosis hipertensi tidak boleh ditegakan berdasarkan sekali pengukuran,
kecuali bila tekanan darah diastolik (TDD) ≥ 120 mmHg dan atau tekanan darah
sistolik (TDS) ≥ 210 mmHg. Pengukuran pertama harus dikonfirmasi pada
sedikitnya dua kunjungan lagi dalam waktu satu sampai beberapa minggu
(tergantung dari tingginya tekanan darah tersebut). Diagnosis hipertensi ditegakan
bila dari pengukuran berulang-ulang tersebut diperoleh nilai rata-rata TDD ≥ 90
mmHg dan atau TDS ≥ 140 mmHg (Ganiswara, 1995:316).

Klasifikasi tekanan dar ah menur ut T he Sevent Joint National Com m ittee on


Prevention Detection Evaluation and T reatm ent of High Blood Pressure (J NC7).
Klasifikasi Sistolik (mmHg) Diastolik (mmHg)
Normal <120 <80
Prehipertensi 120-139 80-89
Hipertensi tingkat 1 140-159 90-99
Hipertensi tingkat 2 ≥160 ≥100
(Sumber: Dipiro et al., 2006)

DAFTAR PUSTAKA

Anggraeni, A. C. 2012. Asuhan Gizi. Yogyakarta: Graha Ilmu.


Perkumpulan Endokrinologi Indonesia. 2011. Konsensus Pengelolaan dan
Pencegahan Dibertes Melitus Tipe 2 di Indonesia.
Roedjito, D. 1989. Kajian Penelitian Gizi. PT. Mediyatama Sarana Perkasa, Jakarta
Wahyuningsih, Retno. 2013. Penatalaksanaan Diet Pada Pasien. Yogyakarta: Graha
Ilmu.

29

Beri Nilai