Anda di halaman 1dari 13

KEBIJAKAN FISKAL DAN KEBIJAKAN MONETER

(Makalah)

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Ekonomi Makro yang diampu oleh
Bapak Putu Mahardika Adi Saputra, S.E, M.Si, Ph.D

disusun oleh :

Richa Resti Utami (155020301111002)

JURUSAN AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

APRIL 2016

0
DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ........................................................................................................ ii

I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang ................................................................................................ 1

1.2 Rumusan Masalah ........................................................................................... 1

1.3 Tujuan ............................................................................................................. 1

II PEMBAHASAN

2.1 Kebijakan Fiskal.............................................................................................. 2

2.2 Kebijakan Moneter .......................................................................................... 2

2.3 Hubungan antara kebijakan fiskal dan kebijakan moneter ............................. 4

2.4 contoh penerapan kebijakan fiskal dan moneter ............................................. 5

III PENUTUP

3.1 Kesimpulan ..................................................................................................... 10

3.2 Saran ................................................................................................................ 10

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 11

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Perekonomian Indonesia yang tidak stabil memerlukan alat untuk
mengurangi resiko. Pemerintah membuat kebijakan fiskal dan moneter.
Kebijakan fiskal merupakan kebijakan yang dilaksanakan oleh
pemerintah sedangkan kebijakan moneter merupakan kebijakan yang
dilaksanakan oleh bank sentral(BI). Kebijakan fiskal dan kebijakan
moneter dilakukan secara bersamaan agar lebih efektif.
1.2 Rumusan Masalah
1). Apa pengertian kebijakan fiskal?
2). Apa pengertian kebijakan moneter?
3). Bagaimana hubungan antara kebijakan fiskal dan kebijakan
moneter?
4). Apa contoh penerapan kebijakan fiskal dan kebijakan moneter?

1.3 Tujuan
1) Untuk mengetahui pengertian kebijakan fiskal
2) Untuk mengetahui pengertian kebijakan moneter
3) Untuk megetahui hubungan antara kebijakan fiskal dan kebijakan
moneter
4) Untuk memberi contoh penerapan kebijakan fiskal dan kebijakan
moneter

1
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Kebijakan fiskal


Kebijakan fiskal merupakan salah satu kebijakan pemerintah yang
digunakan untuk mengatasi masalah ekonomi makro. Kebijakan fiskal
merupakan kebijakan yang dibuat oleh pemerintah dan dijalankan oleh
pemerintah itu sendiri melalui departemen keuangan. Kebijakan fiskal
menangani masalah ekonomi melalui dua cara yaitu melalui pendapatan
dan pengeluaran pemerintah.
a. Pendapatan pemerintah atau pajak neto (T)
Pendapatan pemerintah berasal dari berbagai sumber
namun pajak merupakan sumber pendapatn terbesar
pemerintahan. Jika terjadi inflasi maka pemerintah akan
menaikkan pajak yang dipungut dari rumah tangga mauun
perusahaan. Peningkatan pajak ini dimaksudkan untuk
mengurangi uang yang beredar di masyarakat. Namun jika
deflasi maka kebijakan yang dijalankan berbeda yaitu dengan
menurunkan tingkat pajak.
b. Pengeluaran pemerintah (G)
Selain pendatapan pemerintah juga memiliki sejumlah
pengeluaran. Ketika ekonomi pada masa inflasi maka
pengeluaran pemerintah(G) diturunkan tujuannya agar
pendapatan nya juga menurun sehingga tidak meningkatkan
permintaan uang dan diharapkan mengurani uang yang
beredar. Namun jika saat deflasi pengeluaran pemerintah
ditingkatkan untuk merangsang peningkatan output. Jika output
meningkat maka pendatan agregat juga akan meningkat.
2.2 Kebijakan moneter
Kebijakan ini juga salah satua dari dua kebijakan yang dibuat pemerintah
untuk menyelesaikan masalah ekonomi. Berbeda dengan kebijakan fiskal

2
kebijakan moneter ini dijalankan oleh bank sentral. Bank sentral indonesia
yaitu Bank Indonesia(BI).
a. Politik diskonto
Politik ini hanya bisa diatur oleh banllk indonesia. Politik diskonto atau
politik untuk tingkat bunga menjadi salah satu alat yang digunakan untuk
menstabilkan ekonomi negara. Misalnya, ketika suatu negara mengalami
inflasi maka tingkat suku bunga deposito akan dinaikkan pada tingkat
tertentu untuk menarik rumah. Bank sentral akan menurunkan tingkat bunga
dengan maksud agar rumah tangga kurang tertarik untuk menabung kan
pendatang yang diperolehnya, sehingga tidak mengurangi lagi uang yang
hanya sedikit beredar di masyarakat. Namun tingkat bunga tidak lebih tinggi
dari tingkat inflasi maupun deflasi.
b. Rasio cadangan
Rasio cadangan merupakan kas bank yang harus disimpan di bank sentral
sebagai cadangan untuk hal-hal yang tak diinginkan. Misalnya seperti
penarik yang dilakukan rumah tangga secara bersamaan dan dana yang di
miliki bank A kurang maka bank A dapat mengambil simpanan nya di bank
sentral. Rasio cadangan ini jika terjadi inflasi akan dinaikkan untuk
mengurangi banyaknya uang yang beredar. Sedangkan saat deflasi rasio
cadangan diturunkan agar uang yang beredar lebih banyak lagi. Apabila
cadangan kas yang ada di bank banyak maka akan mempermudah kredit
masyarakat, sehingga uang masyarakat lebih banyak lagi.
c. Operasi pasar terbuka
Operasi pasar terbuka yang dimaksud disini bukan penertiban pasar yang
dilakukan pada para pedagang di pasar. Namun operasi pasar terbuka ini
merupakan salah satu kebijakan bank sentral untuk menjual atau membeli
surat-surat berharga. Kebijakan ini dijalankan baik untuk mengatasi inflasi
maupun deflasi. Misalnya ketika terjadi inflasi maka bank sentral akan
menjual surat-surat berharga, dengan maksud mengumpulkan dana dari
masyarakat sehingga uang yang ada di masyarakat berkurang. Dan ketika
terjadi deflasi bank sentral akan menarik surat berharga tersebut dengan cara
membelinya kembali.

3
d. Kebijakan kredit
Kebijakan kredit dibagi menjadi dua yaitu kebijakan kredit ketat dan
kebijakan kredit longgar. Kebijakan kredit ketat dijalankan saat terjadi
inflasi. Kebijakan ini dimaksudkan saat terjadi inflasi kredit diperketat agar
tidak menambah banyak uang yang beredar di masyarakat. Kebijakan kredit
longgar dijalankan ketika terjadi deflasi karena uang yang beredar di
masyarakat sedikit untuk menormalkan kembali dengan memberi
kelonggaran bagi para debitur untuk meminjam uang di bank. Syarat dan
peraturan yang akan menentukan ketat longgar nya kredit.

2.3 Hubungan antara kebijakan fiskal dan kebijakan moneter


Kebijakan fiskal dan moneter merupakan dua kebijakan yang
dibuat pemerintah untuk mengatur ekonomi nasional. Dan kedua nya dapat
dijalankan secara bersamaan pada suatu saat tertentu. Kebijakan tersebut
ada dua ekspansif dan kontraktif. Kebijakan fiskal ekspansif peningkatan
pengeluaran pemerintah(G) atau menurunkan pendapatan pajak(T) (Case,
2007:177). Pengeluaran negara (G) meningkat menggerakkan produsen
untuk memproduksi lebih banyak lagi dan akan menyebabkan pendapatan
agregat(output) (Y) meningkat dengan banyak nya produk yang ada
permintaan akan uang pun meningkat(Md). Untuk mencegah terjadinya
peredaran uang yang berlebih maka kebijakan moneter berlaku yaitu
meningkatkan tingkat bunga(r). Karena tingkat bunga yang tinggi maka
masyarakat lebih tertarik menabung daripada investasi. Kebijakan fiskal
kontraktif, menurunkan pengeluaran agregat pemerintah(G) atau
meningkatkan pajak neto(T) (Case, 2007:182). Kebijakan fiskal kontraktif
ini akan menurunkan pengeluaran Negara atau peningkatan pajak neto
menyebabkan penurunan pendapatan agregat (Y), penurunan permintaan
akanuang(Md) dan penurunan tingkat suku bunga(r). penurunan suku
bunga ini akan menarik masyarakat untuk berinvestasi daripada

4
menabung, sehingga investasi meningakat. Kebijakan moneter ekspansif
peningkatan penawaran uang(Case, 2007:179). Penawaran uang(Md)
ditingkatkan diikuti dengan penurunan tingkat bunga(r). Karena
investasi(I) mengalami peningkatan karena masyarakat lebih suka
investasi daripada menabungkan uangnya di bank sehingga pendapatan
agregat(Y) output meningkat begitu pula pada permintaan uang(Md)
meningkat. Kebijakan moneter kontraktif penurunan penawaran
uang(Case, 2007:179). Penawaran uang(Ms) diturunkan namun tingkat
bunga(r) dinaikkan. Peningkatan tingkat bunga akan menyebabkan
investasi(I) turun dan juga akan menurunkan output(pendapatan)
agregat(Y) dan permintaan akan uang(Md) menurun. Misalkan pada waktu
tertentu dijalankan kebijakan fiskal ekspansif dan kebijakan moneter
ekspansif. Kebijakan fiskal ekspansif berfokus pada peningkatan
pengeluaran pemerintah sedangkan kebijakan moneter ekspansif
peningkatan pada penawaran uang. Peningkatan pengeluaran pemerintah
dan penawwaran uang ini akan menyebabkan inflasi namun inflasi tersebut
masih dapat diatasi dengan politik tingkat bunga yaitu dengan cara
merendahkan tingakt suku bunga sehingga masyarakat tertari untuk
investasi dari pada menabung. Investasi ini memiliki waktu
pengemabalian yang lebih panjang daripada dengan cara meningkatkan
suku bunga masyarakat lebih suka menabung dan penawaran uang akan
lebih banyak lagi.

2.4 Contoh kebijakan fiskal dan kebijakan moneter

Indeks Umum , Inti, Harga Yang Diatur Pemerintah, dan Barang


Bergejolak Inflasi Indonesia, 2014 - Maret 2016
Harga
Yang Barang
Tahun/Bulan Umum Inti
Diatur Bergejolak
Pemerintah
2016 0.62 0.80 -1.64 2.47

5
Maret 0.19 0.21 -0.35 0.75
Februari -0.09 0.31 -0.76 -0.68
Januari 0.51 0.29 -0.55 2.40
2015 3.35 3.95 0.39 4.84
2014 8.36 4.93 17.57 10.88
Sumber: bps.go.id

Realisasi Penerimaan Negara (Milyar Rupiah), 2014-2016

Sumber Penerimaan 2014 1) 2015 2) 2016 3)

Penerimaan
I. Dalam 1,545,456.30 1,758,330.90 1,846,075.50
Negeri

Penerimaan Perpajakan 1,146,865.80 1,489,255.50 1,565,784.10

Sumber: bps.go.id

BI Rate
(Berdasarkan hasil dari Rapat Dewan Gubernur)

Tanggal BI Rate
17 Maret 2016 6.75 %
18 Februari 2016 7.00 %
14 Januari 2016 7.25 %
17 Desember 2015 7.50 %
17 Nopember 2015 7.50 %
15 Oktober 2015 7.50 %
17 September 2015 7.50 %
18 Agustus 2015 7.50 %
14 Juli 2015 7.50 %
18 Juni 2015 7.50 %

6
19 Mei 2015 7.50 %
14 April 2015 7.50 %
17 Maret 2015 7.50 %
17 Februari 2015 7.50 %
15 Januari 2015 7.75 %
11 Desember 2014 7.75 %
18 Nopember 2014 7.75 %
13 Nopember 2014 7.50 %
7 Oktober 2014 7.50 %
11 September 2014 7.50 %
14 Agustus 2014 7.50 %
10 Juli 2014 7.50 %
12 Juni 2014 7.50 %
8 Mei 2014 7.50 %
8 April 2014 7.50 %
13 Maret 2014 7.50 %
13 Februari 2014 7.50 %
9 Januari 2014 7.50 %
Sumber : bi.go.id

Dari data inflasi yang terjadi pada tahun 2014-2016 bulan maret,
data pendapatan pajak yang diterima pemerintah tahun 2014-2016 bulan
maret dan data tingkat bunga bank tahun 2014-2016 bulan maret. Dari
beberapa data tersebut menunjukkan bahwa tingkat inflasi tahun 2014
menunjukkan sebesar 8,26% , untuk mencegah peningkatan inflasi maka
pemerintah melakukan peningkatan pendapatan Negara melalui pajak baik
dari dalam maupun dari luar negeri pada tahun 2014 sampai 2016
1.146.865,80; 1.489.255,50; 1.565.784,10. Sedangkan BI melakukan
kebijakan penetapan suku bunga setiap bulannya pada tahun 2014 sampai
2016 bulan maret pada kisaran 7,5%. Dan upaya pemerintah yang
berkoordinasi dengan BI terbukti dapat menurunkan tingkat inflasi pada
tahun 2014 yang sebesar 8.36 mnjadi 3.35 pada tahun 2015. Pada bulan

7
maret 2016 tingkat suku bunga menurun hingga 6,75%. Keputusan
tersebut sejalan dengan masih terbukanya ruang pelonggaran kebijakan
moneter sejalan dengan terjaganya stabilitas makroekonomi, khususnya
terus menurunnya tekanan inflasi di 2016 dan 2017, serta meredanya
ketidakpastian di pasar keuangan global. Bank Indonesia juga akan terus
memperkuat koordinasi dengan Pemerintah untuk memastikan
pengendalian inflasi, penguatan stimulus pertumbuhan, dan reformasi
struktural berjalan dengan baik, sehingga mampu menopang pertumbuhan
ekonomi yang berkelanjutan (bi.go.id).

Koordinasi Pengendalian Inflasi

Inflasi yang rendah dan stabil merupakan prasyarat untuk mewujudkan


kesejahteraan masyarakat. Sementara itu, sumber tekanan inflasi Indonesia tidak
hanya berasal dari sisi permintaan yang dapat dikelola oleh Bank Indonesia. Dari
hasil penelitian, karakteristik inflasi di Indonesia masih cenderung bergejolak
yang terutama dipengaruhi oleh sisi suplai (sisi penawaran) berkenaan dengan
gangguan produksi, distribusi maupun kebijakan pemerintah. Selain itu, shocks
terhadap inflasi juga dapat berasal dari kebijakan pemerintah terkait harga
komoditas strategis seperti BBM dan komoditas energi lainnya (administered
prices).

Berdasarkan karakteristik inflasi yang masih rentan terhadap shocks


tersebut, untuk mencapai inflasi yang rendah, pengendalian inflasi memerlukan
kerjasama dan koordinasi lintas instansi, yakni antara Bank Indonesia dengan
Pemerintah. Diharapkan dengan adanya harmonisasi dan sinkronisasi kebijakan
tersebut, inflasi yang rendah dan stabil dapat tercapai yang pada gilirannya
mendukung kesejahteraan masyarakat.

8
Gambar I. Koordinasi Antara Bank Indonesia dan Pemerintah Dalam Pengendalian Inflasi

Menyadari pentingnya peran koordinasi dalam rangka pencapaian inflasi


yang rendah dan stabil, Pemerintah dan Bank Indonesia membentuk Tim
Pemantauan dan Pengendalian Inflasi (TPI) di level pusat sejak tahun 2005.
Penguatan koordinasi kemudian dilanjutkan dengan membentuk Tim
Pengendalian Inflasi di level daerah (TPID) pada tahun 2008. Selanjutnya, untuk
menjembatani tugas dan peran TPI di level pusat dan TPID di daerah, maka pada
Juli 2011 terbentuk Kelompok Kerja Nasional (Pokjanas) TPID yang diharapkan
dapat menjadi katalisator yang dapat memperkuat efektivitas peran TPID.
Keanggotaan Pokjanas TPID adalah Bank Indonesia, Kemenko Perekonomian dan
Kemendagri(bi.go.id).

9
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Kebijakan fiskal dilaksanakan oleh pemerintah sedangkan kebijakan


moneter dijalankan oleh Bank Indonesia. Dalam waktu tertentu penyelesaian
masalah ekonomi dapat dilakukan dengan mengkoordinasikan kebijakan fiskal
dan moneter.

3.2 Saran

Penyelesaian masalah ekonomi agar lebih efektif kebijakan fiskal dan kebijakan
moneter dijalankan secara bersamaan. Namun pelaksanaannya harus dengan porsi
yang seimbang.

10
DAFTAR PUSTAKA

bi.2016.http://bi.go.id. diakses pada tanggal 10 April 2016 pukul 17.00 WIB

bps.2016.http://bps.go.id. diakses pada tanggal 10 April 2016 pukul 17.00 WIB

Case, Karl E. dan Ray C. Fair. 2007. Prinsip-prinsip Ekonomi. Jakarta: Erlangga

11