Anda di halaman 1dari 8

ASE – Volume 7 Nomor 2, Mei 2011: 61 - 68

ANALISIS DAYA DUKUNG LAHAN PERTANIAN

Vicky R.B. Moniaga

ABSTRACT

Analysis of the carrying capacity of agricultural land is an analysis to determine the carrying capacity
of land to the caloric needs of the population. Analysis of the carrying capacity of agricultural land can
also find out whether an area has or has not food self-sufficiency based on caloric needs of the population.
The implication of this analysis is that it can find the optimal population that can be supported by existing
agricultural land. From this analysis it can be seen that the area of crops and agricultural productivity are
two factors that can increase the carrying capacity of agricultural land.
Keywords: Analysis, Carrying Capacity, Agricultural Land

PENDAHULUAN Keadaan ini sangatlah kontradiktif, karena


pertambahan penduduk membawa konsekuensi
Latar Belakang peningkatan kebutuhan bahan makanan dan keter-
Indonesia yang merupakan negara agraris, sediaan bahan pangan merupakan hal yang penting
dengan sebagian besar penduduknya bekerja di dalam kehidupan. Oleh sebab itu, hal tersebut ha-
sektor pertanian tentunya menggantungkan hidup- rus mampu dipenuhi oleh daerah dengan cara me-
nya pada lahan pertanian. Lahan pertanian sebagai manfaatkan dan meningkatkan potensi sumber-
tempat beraktifitas bagi petani semakin mengalami daya yang ada terutama lahan pertanian. Apabila
penurunan. Hal ini diakibatkan oleh semakin be- keadaan ini dibiarkan berlangsung terus-menerus
sarnya tekanan penduduk terhadap lahan perta- maka bukan tidak mungkin produksi sudah tidak
nian. Jumlah penduduk yang terus meningkat dan sebanding dengan kebutuhan penduduk yang ada.
aktifitas pembangunan yang dilakukan telah ba- Hal itu berarti bahwa daya dukung lahan pertanian
nyak menyita fungsi lahan pertanian untuk meng- akan semakin kecil.
hasilkan bahan makanan yang diganti dengan pe- Notohadiprawiro (1987) mengemukakan
manfaatan lain, seperti pemukiman, perkantoran bahwa kemampuan lahan menyiratkan daya du-
dan sebagainya. Akibatnya keadaan ini menye- kung lahan. Kemampuan lahan adalah mutu lahan
babkan kemampuan lahan pertanian untuk meme- yang dinilai secara menyeluruh dengan pengertian
nuhi kebutuhan makanan bagi penduduk semakin merupakan suatu pengenal majemuk lahan dan
berkurang. nilai kemampuan lahan berbeda untuk penggunaan
Indonesia yang memiliki luas lahan pertanian yang berbeda. Dalam kaitannya dalam pemenuhan
yang tetap dengan pertumbuhan penduduknya kebutuhan manusia, maka kemampuan lahan ter-
yang besar akan menyebabkan ketersediaan lahan jabarkan menjadi pengertian daya dukung lahan.
pertanian menjadi semakin kecil. Apabila hal ini Imbangan tingkat pemanfaatan lahan dengan
dibiarkan, maka akan terjadi ketidakseimbangan daya dukung lahan menjadi ukuran kelayakan
penduduk yang bekerja sebagai petani pada suatu penggunaan lahan. Sebaliknya jika pemakaian la-
wilayah dengan luas lahan pertanian yang ada. han telah melampaui kemampuan daya dukung
Akibatnya, tekanan penduduk pada lahan perta- lahan, maka pemanfaatan lahan tidak dipakai seca-
nian akan semakin besar atau dengan kata lain wi- ra efektif. Dari uraian tadi, maka secara jelas da-
layah tersebut tidak mampu lagi memenuhi kebu- pat dikatakan bahwa daya dukung lahan adalah
tuhan pangan penduduknya. kemampuan bahan pada suatu satuan lahan untuk
mendukung kebutuhan-kebutuhan manusia dalam

61
Analisis Daya Dukung Lahan Pertanian………….……….……...................................................................(Vicky R.B. Moniaga)

bentuk penggunaan lahan, yang pada akhirnya tu- TINJAUAN PUSTAKA


juannya adalah untuk memenuhi kebutuhan manu-
sia terutama bahan makanan. Daya Dukung Lahan
Ida Bagus Mantra (1986), mengatakan bahwa Tanaman pangan adalah tanaman-tanaman
penurunan daya dukung lahan dipengaruhi oleh yang menghasilkan bahan makanan utama seperti:
jumlah penduduk yang terus meningkat, luas lahan padi (menghasilkan beras), palawija (menghasil-
yang semakin berkurang, persentase jumlah petani kan jagung), kacang-kacangan dan ubi-ubian. Ta-
dan luas lahan yang diperlukan untuk hidup layak. naman-tanaman dapat diusahakan di atas tanah,
Sedangkan untuk mengatasi penurunan daya du- tanah sawah, ladang, ataupun pekarangan (Mu-
kung lahan menurut Hardjasoemantri (1989) dapat byarto, 1985). Sedangkan swasembada pangan
dilakukan antara lain dengan cara: 1). Konversi merupakan usaha untuk memenuhi kebutuhan
lahan, yaitu merubah jenis penggunaan lahan ke pangan sendiri dengan cara membudidayakan ta-
arah usaha yang lebih menguntungkan tetapi dis- naman pangan seperti seleria (beras dan sejenis-
esuaikan wilayahnya; 2). Intensifikasi lahan, yaitu nya), palawija, cassava (ubi-ubian) dan lain-lain
dalam menggunakan teknologi baru dalam usaha- (Kusnadi dan Santoso dalam kamus istilah perta-
tani; 3). Konservasi lahan, yaitu usaha untuk men- nian, 2000).
cegah. Notohadiprawiro (1987) mengemukakan
Daya dukung lahan pertanian bukanlah besa- bahwa kemampuan lahan menyiratkan daya du-
ran yang tetap, melainkan berubah-ubah menurut kung lahan. Kemampuan lahan adalah mutu lahan
waktu karena adanya perubahan teknologi dan ke- yang dinilai secara menyeluruh dengan pengertian
budayaan. Teknologi akan mempengaruhi pro- merupakan suatu pengenal majemuk lahan dan
duktivitas lahan, sedangkan kebudayaan akan me- nilai kemampuan lahan berbeda untuk penggunaan
nentukan kebutuhan hidup setiap individu. Oleh yang berbeda. Dalam kaitannya dalam pemenuhan
karena itu, perhitungan daya dukung lahan seha- kebutuhan manusia, maka kemampuan lahan ter-
rusnya dihitung dari data yang dikumpulkan cukup jabarkan menjadi pengertian daya dukung lahan.
lama sehingga dapat menggambarkan keadaan Imbangan tingkat pemanfaatan lahan dengan
daerah yang sebenarnya. daya dukung lahan menjadi ukuran kelayakan
Variasi tingkat daya dukung lahan dan faktor- penggunaan lahan. Sebaliknya jika pemakaian la-
faktor yang mempengaruhinya disebabkan karena han telah melampaui kemampuan daya dukung
adanya perbedaan dalam aspek penduduk, sumb- lahan, maka pemanfaatan lahan tidak dipakai seca-
er daya alam dan pengelolaan atau manajemen. ra efektif. Dari uraian tadi, maka secara jelas da-
Kenyataan ini mengisyaratkan bahwa penentuan pat dikatakan bahwa daya dukung lahan adalah
kebijakan, terutama pemilihan dan penentuan alo- kemampuan bahan pada suatu satuan lahan untuk
kasi sumber daya serta prioritas program untuk mendukung kebutuhan-kebutuhan manusia dalam
pembangunan harus dilakukan dengan hati-hati bentuk penggunaan lahan, yang pada akhirnya tu-
dan bijaksana dengan selalu memperhatikan situa- juannya adalah untuk memenuhi kebutuhan manu-
si, kondisi dan potensi wilayah setempat. sia terutama bahan makanan.
Analisis daya dukung lahan pertanian perlu Ida Bagus Mantra (1986), mengatakan bahwa
dilakukan untuk mengetahui kemampuan lahan penurunan daya dukung lahan dipengaruhi oleh
untuk menyediakan pangan bagi pemenuhan kebu- jumlah penduduk yang terus meningkat, luas lahan
tuhan penduduk di suatu daerah dan waktu terten- yang semakin berkurang, persentase jumlah petani
tu. Tulisan ini bertujuan untuk menyajikan anali- dan luas lahan yang diperlukan untuk hidup layak.
sis daya dukung lahan pertanian dengan menggu- Sedangkan untuk mengatasi penurunan daya du-
nakan contoh hasil penelitian oleh Kotambunan kung lahan menurut Hardjasoemantri (1989) dapat
(2006) di Kabupaten Minahasa Provinsi Sulawesi dilakukan antara lain dengan cara : 1). Konversi
Utara. lahan, yaitu merubah jenis penggunaan lahan ke
arah usaha yang lebih menguntungkan tetapi dis-
esuaikan wilayahnya; 2). Intensifikasi lahan, yaitu

62
ASE – Volume 7 Nomor 2, Mei 2011: 61 - 68

dalam menggunakan teknologi baru dalam usaha- Tekanan Penduduk terhadap Lahan Per-
tani; 3). Konservasi lahan, yaitu usaha untuk men- tanian
cegah. Kerusakan sumber daya alam dan lingkungan
Daya dukung lahan pertanian bukanlah besa- hidup yang terjadi selama ini berkaitan erat dengan
ran yang tetap, melainkan berubah-ubah menurut tingkat pertambahan penduduk dan pola penyeba-
waktu karena adanya perubahan teknologi dan ke- ran yang kurang seimbang dengan jumlah dan pola
budayaan. Teknologi akan mempengaruhi pro- penyebaran sumber daya alam serta daya dukung
duktivitas lahan, sedangkan kebudayaan akan me- lingkungan yang ada (Moh. Soerjani, 1987).
nentukan kebutuhan hidup setiap individu. Oleh Masalah kerusakan lingkungan yang paling
karena itu, perhitungan daya dukung lahan seha- kritis adalah tekanan penduduk terhadap terutama
rusnya dihitung dari data yang dikumpulkan cukup pada sektor pertanian. Masalah ini terus mening-
lama sehingga dapat menggambarkan keadaan kat sejalan dengan waktu karena adanya pertam-
daerah yang sebenarnya. bahan penduduk dan dipakainya terus lahan perta-
Variasi tingkat daya dukung lahan dan faktor- nian untuk pembangunan di sektor non pertanian.
faktor yang mempengaruhinya disebabkan karena Akibatnya, pertumbuhan penduduk dan pemanfaa-
adanya perbedaan dalam aspek penduduk, sumb- tan lahan pertanian untuk pembangunan fisik un-
er daya alam dan pengelolaan atau manajemen. tuk mendorong masyarakat untuk membuka lahan-
Kenyataan ini mengisyaratkan bahwa penentuan lahan pertanian baru yang menjadi salah satu pe-
kebijakan, terutama pemilihan dan penentuan alo- nyebab bencana alam seperti longsor dan banjir.
kasi sumber daya serta prioritas program untuk Jumlah penduduk yang terus bertambah me-
pembangunan harus dilakukan dengan hati-hati nyebabkan tingkat pertumbuhan tersebut jauh le-
dan bijaksana dengan selalu memperhatikan situa- bih tinggi dibandingkan tingkat pertambahan luas
si, kondisi dan potensi wilayah setempat. lahan untuk tanaman pangan. Faktor perilaku
Keseimbangan daya dukung lahan pertanian masyarakat terhadap lahan mempengaruhi daya
pada penelitian ini diwujudkan dalam suatu kea- dukung lahan itu sendiri. Di lihat dalam hal ke-
daan dimana terdapat jumlah penduduk optimal pendudukan meliputi kepadatan penduduk, mi-
yang mampu didukung oleh hasil tanaman pangan grasi penduduk komposisi penduduk seperti: (je-
dari lahan pertanian yang ada di wilayah tersebut. nis kelamin, pendidikan, struktur umur dan mata
Asumsi yang digunakan adalah selain jumlah dan pencaharian) serta penguasaan/ pemilikan tanah.
pertumbuhan penduduk, maka faktor-faktor lain Penurunan kualitas sumber daya lahan akibat
dianggap tetap, sehingga penurunan daya dukung semakin kompleksnya permintaan kebutuhan pe-
lahan pertanian merupakan fungsi dari kenaikan milikan lahan atau pengolahan lahan mengaki-
jumlah penduduk. Luas lahan pertanian tahun batkan terjadinya penurunan daya dukung lahan.
2000, sebesar 30 juta hektar. Bila dibandingkan Penurunan daya dukung lahan dipengaruhi oleh
dengan luas daratan Indonesia, memang luas lahan jumlah penduduk yang terus meningkat, luas lahan
pertanian masih sangat rendah yaitu hanya 15,7 yang semakin berkurang, persentase jumlah petani
persen saja. dan luas lahan yang diperlukan untuk hidup layak
Hasil penelitian ini diharapkan dapat diman- (Ida Bagus Mantra, 1986). Tekanan penduduk ba-
faatkan secara langsung dalam perencanaan pem- nyak terjadi di wilayah yang mempunyai kemam-
bangunan dan pembangunan tata ruang, dengan puan lahan rendah. Faktor-faktor yang mempen-
melihat variasi tingkat daya dukung lahan perta- garuhi tekanan penduduk adalah struktur peker-
nian dari setiap wilayah penelitian. Selain itu da- jaan, kemampuan lahan dan kepadatan agraris.
lam analisis, menggunakan data dari beberapa ta- Adanya pertambahan penduduk akan memer-
hun sehingga diharapkan hasil yang didapat meru- lukan pertambahan kebutuhan sandang, pangan
pakan gambaran sebenarnya dari daerah peneli- dan papan. Ketidakseimbangan pertambahan pen-
tian, yang pada akhirnya dapat digunakan untuk duduk dengan pertambahan kebutuhan sangat
perencanaan pembangunan Kabupaten Minahasa mempengaruhi keadaan lingkungan hidupnya, yai-
yang lebih baik. tu lingkungan akan dieksploitasi besar-besaran un-

63
Analisis Daya Dukung Lahan Pertanian………….……….……...................................................................(Vicky R.B. Moniaga)

tuk memenuhi kebutuhan hidup. Akibatnya daya bagian besar dari mereka yang bekerja ternyata
dukung lingkungan akan berkurang dan terjadi ke- 77,78 persen berpendidikan rendah, sedangkan
rusakan lingkungan yang serius. berpendidikan tinggi di SLTA hanya 4,81 persen.
Pertumbuhan penduduk yang tinggi akan me- Jumlah penganggur mencapai 8 juta orang dan se-
nimbulkan berbagai dampak di antaranya adalah kitar 56,61 persen dari mereka berpendidikan ren-
meningkatkan kebutuhan lahan baik untuk pemu- dah dan 6,75 persen berpendidikan tinggi (Adirat-
kiman, sarana infrastruktur, dan lahan pertanian. ma, 2004).
Pada kenyataannya terjadi kecenderungan pe-
nyempitan lahan untuk pertanian sebagai imbas ANALISIS DAYA DUKUNG LAHAN
dari pembangunan fisik suatu daerah. Di sisi lain PERTANIAN
pertambahan penduduk yang terus meningkat akan
Perhitungan Kebutuhan Fisik Minimum
memicu penurunan kapasitas daya dukung lahan Dalam suatu wilayah yang sama, daya dukung
pertanian. dapat berbeda karena cara pendekatannya yang
Keberlanjutan daya dukung lahan sangat di- berbeda. Untuk daerah-daerah yang sebagian besar
tentukan oleh manusia pemilik atau pengelola la- penduduknya hidup dari sektor pertanian, daya
han dan proses geomorfologi yang terjadi berupa dukung dihitung dari produksi bahan makanan.
erosi dan gerakan tanah, karena proses tersebut Segi perhitungannya dapat dihitung dari Kebutu-
merupakan penyebab terjadinya degradasi lahan. han Fisik Minimum (KFM) yang didasarkan atas
Penggunaan lahan yang bersifat dinamis mempu- kebutuhan kalori per orang per hari yaitu 2600 per
nyai kecenderungan merubah faktor-faktor topo- orang per hari atau 265 kilogram beras per orang
grafi, tanah, dan batuan, hidrologi dan vegetasi. per tahun.
Perubahan tersebut ditentukan oleh kebutuhan hi- Pemahaman kalori sebagai dasar perhitungan
dup manusia dan dapat mengganggu fungsi lahan atas pertimbangan bahwa untuk hidup sehat seseo-
itu sendiri. Bentuk penggunaan lahan pada dasar- rang memerlukan sejumlah kalori tertentu yang
nya adalah wujud nyata dari proses interaksi yang berasal dari bahan makanan berbentuk bahan pro-
terjadi antara aktivitas-aktivitas manusia dan sum- tein, lemak dan karbohidrat ditambah dengan min-
berdaya lahan dalam upaya untuk memenuhi kebu- eral dan vitamin. Dengan dasar kalori ini, semua
tuhan dan meningkatkan taraf hidupnya (Soerjani, bahan makanan telah tercakup di dalamnya. Per-
1987). timbangan lain adalah karena hasil pertanian seba-
Keterbatasan sumberdaya yang ada mengha- gian besar berupa karbohidrat seperti padi, jagung,
ruskan peran perencanaan pembangunan agar da- ubi kayu, ubi jalar, kedelai dan kacang tanah yang
pat mengatur penggunaan sumberdaya secara pro- merupakan sumber kalori terbesar dalam komposi-
porsional sehingga dapat tercapai kualitas ling- si bahan makanan (Odum dkk., dalam Suhardjo
kungan hidup yang optimal. Untuk mencapai ini dan Tukiran, 1990).
harus ada keseimbangan antara jumlah penduduk Nilai kebutuhan pokok fisik minimum adalah
dan luas lahan bersama sumberdaya yang dikan- nilai yang menunjukkan seseorang dapat hidup
dungnya, khususnya sumberdaya yang dapat di-
secara normal, sehingga dapat bekerja untuk me-
perbaharui pada lahan pertanian.
menuhi kebutuhan hidupnya. Untuk itu diperlukan
Dari luas daerah seluruh Indonesia 1,9 juta
2 bahan makanan sebagai kebutuhan pokok manu-
km atau 191 juta hektar, jumlah penduduknya
sia.
pada tahun 1930 mencapai sekitar 60 juta jiwa dan
pada tahun 2000 sudah menjadi 206,3 juta jiwa
Luas Lahan Tanaman Pangan yang Diperlukan
dengan pertambahan sebesar 1,49 persen per tahun
per Kapita untuk Swasembada Pangan
(Adiratma, 2004). Pada tahun 2001, penduduk Luas lahan tanaman pangan yang dibutuhkan
usia kerja atau berumur di atas 10 tahun sebanyak per kapita untuk swasembada pangan “K”
144 juta penduduk di Indonesia. Dari total angka- (ha/orang) merupakan salah satu komponen yang
tan kerja sebesar 98,8 juta sekitar 91,9 persen telah sangat penting dalam perhitungan tingkat daya
bekerja dan sisanya masih mencari pekerjaan. Se-

64
ASE – Volume 7 Nomor 2, Mei 2011: 61 - 68

dukung lahan pertanian. Nilai K diperhitungkan penurunan daya dukung lahan pertanian
dengan membagi nilai kebutuhan fisik minimum merupakan fungsi dari kenaikan jumlah penduduk.
(KFM) dsengan produksi tanaman pangan per Nilai kebutuhan pokok fisik minimum adalah nilai
tahun yang tadinya dalam satuan ton, dikonversi yang menunjukkan seseorang dapat hidup sehat
menjadi kalori kemudian dikonversi lagi menjadi secara normal, sehingga dapat bekerja untuk
kg beras untuk tiap komoditi. Nilai ini akan memenuhi kebutuhan hidupnya, diperlukan bahan
dibandingkan dengan produksi tanaman pangan makanan sebagai kebutuhan pokok manusia.
dari tiap daerah yang sudah dikonversi tadi
sehingga satuannya menjadi kilogram Teknik Analisis
beras/orang/tahun. Semakin kecil nilai K maka Teknik analisis data untuk menentukan ting-
tingkat daya dukung lahan pertanian akan semakin kat daya dukung lahan pertanian digunakan rumus
baik. Luas lahan tanaman pangan yang dibutuhkan matematika dari konsep gabungan atas teori
per kapita untuk swasembada pangan, nilainya Odum, Christeiler, Ebenezer Howard dan Issard
selalu berubah-ubah menurut waktu dan ruang dalam Soehardjo dan Tukiran, 1990) yaitu:
karena dipengaruhi oleh KFM dan kemampuan
lahan untuk memproduksi tanaman pangan. X
Semakin kecil nilai K maka kemampuan daya σ =
K
dukung lahan pertanian semakin besar. Untuk itu
pada daerah-daerah yang memiliki nilai K tinggi dimana: σ = Tingkat daya dukung lahan
diperlukan usaha untuk menurunkan angka terse- pertanian
but melalui peningkatan produktivitas tanaman X = Luas panen tanaman pangan
pangan atau memperluas areal tanaman pangan. per kapita
K = Luas lahan untuk swasembada
Luas Panen Tanaman Pangan yang Tersedia pangan
per Kapita dengan:
Komponen lain yang penting dalam
L
u
a
s
P
a
n
e
n
h
perhitungan daya dukung lahan pertanian adalah
a
︵ ︶
J
u
m
l
a
h
p
e
n
d
u
d
u
k
j
i
w
luas panen tanaman pangan yang tersedia per X = a
kapita (X). Nilai X ini diperoleh dari luas panen ︵ ︶
tanaman pangan pada suatu daerah dibagi dengan
jumlah penduduk pada daerah tersebut. Luas
K
e
b
u
t
u
h
a
n
F
i
s
i
k
M
i
n
i
m
u
m
K
F
M

panen tanaman pangan ini nilainya selalu ︵ ︶


P
r
o
d
u
k
s
i
t
a
n
a
m
a
n
p
a
n
g
a
n
/
h
a
/
t
a
h
u
n

berubah–ubah baik antara daerah maupun antara K=


waktu. Nilai X ini merupakan kebalikan dari nilai
K, karena semakin besar nilai X maka akan
semakin baik tingkat daya dukung lahan pertanian Oleh Odum dkk., dalam Soehardjo dan
di daerah tersebut Tukiran (1990), wilayah yang mampu swasemba-
Daya dukung lahan yang seimbang ditentukan da pangan adalah wilayah yang dapat memenuhi
apabila luas lahan pertanian yang ada pada suatu kebutuhan fisik minimum penduduk sebesar 1600
wilayah dapat memenuhi kebutuhan fisik kalori/orang/hari atau setara dengan 265 kilogram
minimum penduduknya. Keseimbangan daya beras/orang/tahun. Sedangkan untuk wilayah yang
dukung lahan pertanian pada penelitian ini mampu memberikan kehidupan yang layak bagi
diwujudkan dalam suatu keadaan di mana jumlah penduduk yang tergantung pada tanaman pangan
penduduk optimal yang mampu didukung oleh adalah wilayah yang dapat memenuhi kebutuhan
hasil tanaman pangan dari lahan pertanian yang penduduk dalam taraf yang layak yaitu setara
ada. Asumsi yang digunakan adalah selain jumlah dengan 650 kilogram beras/orang/tahun atau 2,466
dan pertumbuhan penduduk, maka faktor–faktor kali KFM. Berdasarkan nilai–nilai tersebut maka
lain yang mempengaruhi dianggap tetap sehingga klasifikasi yang ditetapkan adalah:

65
Analisis Daya Dukung Lahan Pertanian………….……….……...................................................................(Vicky R.B. Moniaga)

1. Kelas I σ > 2,47 : Tabel 1. Kecamatan-kecamatan di Kabupaten


Wilayah yang mampu swasembada pangan Minahasa Menurut Klasifikasi Tingkat
dan mampu memberikan kehidupan yang layak Day a Dukung Lahan Pertanian Tahun
bagi penduduknya. 2004
2. Kelas II 1 ≤ σ ≤ 2,7 :
Daya Dukung Jumlah
Wilayah yang mampu swasembada pangan
Kelas Lahan Perta- Keca- Kecamatan
tetapi belum mampu memberikan kehidupan
nian matan
yang layak bagi penduduknya
I σ > 2,47 2 Kakas, Tompaso
3. Kelas III σ < 1:
II l< σ <2,47 7 Langowan Ba-
Wilayah yang belum mampu swasembada
rat, Langowan
pangan
Timur, Rembo-
ken, Kawang-
Dari rumusan di atas maka dapat diturunkan rumus
koan, Sonder,
untuk mencari jumlah penduduk optimal (JPO)
Tondano Barat,
yang dapat didukung oleh hasil tanaman pangan
Tondano Timur
dari lahan pertanian yang ada di wilayah tersebut,
yaitu: III σ <l 6 Tombariri, Eris,
Lembean Timur,
J
P
O
D
a
y
a
D
u
k
u
n
g
L
a
h
a
n
J
u
m
l
a
h
P
e
n
d
u
d
u
k

= × Kombi, Pine-
leng, Tombulu
Hasil Penelitian yang dilakukan oleh Kotam- Total - 15 -
bunan, J., A., (2006) menunjukkan bahwa tingkat Sumber: Kotambunan, J., A., (2006)
daya dukung lahan pertanian di Kabupaten Mina-
hasa Tahun 2004 adalah.sebesar 1,25, atau berada Tabel 2. Jumlah Penduduk Optimal Menurut Ke-
kelas II menurut klasifikasi tingkat daya dukung camatan di Kabupaten Minahasa Tahun
lahan pertanian. Ini berarti Kabupaten Minahasa 2004
sudah mampu swasembada pangan tetapi belum Jumlah
Daya Jumlah
mampu memberikan kehidupan yang layak bagi No. Kecamatan Pendu-
Dukung Penduduk
penduduknya. Selanjutnya, hasil penelitian Ko- duk
Lahan Optimal
tambunan, J., A., (2006) lainnya, yaitu bahwa pada (jiwa)
Tahun 2004 di Kabupaten Minahasa, dari 15 ke- 1. Langowan Barat 22.017 1,57 34.567
camatan hanya Kecamatan Kakas dan Tompaso 2. Langowan Timur 22.393 2,14 47.921
tingkat daya dukung lahan pertanian berada pada 3. Kakas 22.316 2,50 55.790
kelas I dimana pada kelas ini kedua kecamatan 4. Tompaso 15.128 2,57 38.879
tersebut sudah mampu swasembada pangan dan 5. Remboken 10.939 1,22 13.346
mampu memberikan kehidupan yang layak bagi 6. Kawangkoan 26.338 2,11 55.573
penduduknya. Secara lengkap, kecamatan- 7. Tombariri 25.765 0,36 9.275
kecamatan di Kabuapten Minahasa menurut kelas 8. Sonder 18.020 1,50 27.030
daya dukung lahan pertanian tahun 2004 dapat di- 9. Tondano Barat 35.768 1,25 44.710
lihat pada Tabel 1. 10 Tondano Timur 14.402 1,75 25.204
Berdasarkan angka daya dukung lahan per- 11 Eris 10.829 0,67 7.255
tanian dan jumlah penduduk diperoleh jumlah 12 Lembean Timur 8.803 0,50 4.402
penduduk optimal. Hasil penelitian Kotambunan, 13 Kombi 11.974 0,50 5.987
J., A., (2006) sebagaimana Tabel 2 memperli- 14 Pineleng 34.918 0,25 8.730
hatkan jumlah penduduk optimal yang dapat didu- 15 Tombulu 13.918 0,50 6.959
kung oleh lahan pertanian di Kabuapaten Minaha- Kab. Minahasa 293,528 1,25 366,910
sa Tahun 2004. Sumber: Kotambunan, J., A., (2006)

66
ASE – Volume 7 Nomor 2, Mei 2011: 61 - 68

Apabila jumlah penduduk optimal yang di- Hardjasoemantri, 1989. Hukum Tata Ling-
peroleh lebih kecil dari jumlah penduduk yang kungan. Edisi Ke-empat, Universitas Gad-
terdata, maka diperlukan tambahan luas panen jah Mada Press, Yogyakarta.
yang dapat mendukung penduduk tersebut. Se- Ida Bagoes Mantra, 1986. Pengantar Studi Demo-
lain tambahan luas panen, dapat juga dilakukan grafi, Nur Cahaya, Yogyakarta.
dengan cara peningkatan produksi tanaman
pangan meialui usaha intensifikasi untuk mendu- Kotambunan, J, A, 2006. Daya Dukung Lahan
kung penduduk tersebut. Pertanian Tanaman Pangan di Kabupaten Mi-
nahasa. (Skripsi). Jurusan Sosial Ekonomi
Fakultas Pertanian Universitas Sam Ratulan-
PENUTUP gi, Manado.
Kusnadi dan Santoso, 2000. Kamus Istilah Perta-
Dalam kaitannya dalam pemenuhan kebutu- nian. Cetakan Kelima, Kanisius, Yogyakarta.
han manusia, maka kemampuan lahan terjabarkan
menjadi pengertian daya dukung lahan. Mubyarto, 1985. Pengantar Ekonomi Pertanian,
Analisis daya dukung lahan pertanian meru- LP3ES. Jakarta.
pakan suatu analisis untuk mengetahui daya du- Muhammad Soerjani, 1987. Lingkungan Sumber
kung lahan terhadap kebutuhan kalori penduduk. Daya Alam dan Kependudukan Dalam Pem-
Analisis daya dukung lahan pertanian juga dapat bangunan. Universitas Indonesia Press, Jakar-
mengetahui apakah suata daerah sudah atau belum ta.
swasembada pangan yang didasarkan pada kebu-
tuhan kalori penduduk. Implikasi dari analisis ini Notohadiprawiro, 1987, Tanah, Tata Guna Lahan
adalah dapat mengetahui jumlah penduduk optimal dan Tata Ruang Dalam Analisis Dampak
yang dapat didukung oleh lahan pertanian yang Lingkungan, Universitas Gadjah Mada Press,
ada. Dari analisis ini dapat diketahui bahwa luas Yogyakarta.
panen dan produktivitas pertanian merupakan dua Suhardjo dan Tukiran, 1990. Studi Literatur Kon-
faktor yang dapat meningkatkan daya dukung la- sep yang Sudah ada Mengenai Daya Tam-
han pertanian.
pung Wilayah. Kantor Menteri Negara Ke-
pendudukan dan Lingkungan Hidup, Jakarta.
DAFTAR PUSTAKA
Soerjani, 1987. Lingkungan: Sumberdaya Alam,
Adiratma, R, 2004. Stop Tanam Padi, Penebar Kependudukan, dalam Pembangunan, Un-
Swadaya, Jakarta. iversitas Indonesia Press, Jakarta.

67
Analisis Daya Dukung Lahan Pertanian………….……….……...................................................................(Vicky R.B. Moniaga)

Lampiran 1. Daya Dukung Lahan Pertanian Kabupaten Minahasa Tahun 2004


Produksi Produktivitas
Jumlah Luas panen
tanaman tanaman Daya Dukung
No. Kecamatan penduduk tanarnan Nilai X Nilai K
pangan pangan Lahan Pertanian
(jiwa) pangan (ha)*
(kg beras)** (kg beras)
1. Langowan Barat 22.017 2.373 8.335.000 3.512 0,11 0,07 1,57
2. Langowan Timur 22.393 3.305 12.153.000 3.677 0,15 0,07 2,14
3. Kakas 22.316 4.466 15.486.000 3.467 0,20 0,08 2,50
4. Tompaso 15.128 2.725 9.796.000 3.594 0,18 0,07 2,57
5. Remboken 10.939 1.197 3.471.000 2.899 0,11 0,09 1,22
6. Kawangkoan 26.338 5.070 14.979.000 2.954 0,19 0,09 2,11
7. Tombariri 25.765 953 2.242.000 2.352 0,04 0,11 0,36
8. Sonder 18.020 2.102 7.082.000 3.369 0,12 0,08 1,50
9. Tondano Barat 35.768 3.498 12.061.000 3.447 0,10 0,08 1,25
10. Tondano Timur 14.402 2.078 7.050.000 3.392 0,14 0,08 1,75
11. Eris 10.829 615 1.714.000 2.786 0,06 0,09 0,67
12. Lembean Timur 8.803 515 1.165.000 2.262 0,06 0,12 0,50
13. Eris 11.974 576 1.497.000 2.598 0,05 0,10 0,50
14. Pineleng 34.918 636 2.044.000 3.213 0,02 0,08 0,25
15. Tombulu 13.918 640 1.637.000 2.557 0,05 0,10 0,50
Kab. Minahasa 303.544 31.754 102.165.000 3.217 0,10 0,08 1,25

Keterangan:
* Luas panen tanaman pangan adalah penjumlahan dari luas panen padi, jagung, ubi kayu, ubi
jalar, dan kacang tanah
** 1 kg beras=3.600 kalori, 1 kg jagung=3.610 kalori, 1 kg ubi kayu=1.460 kalori,
1 kg ubi jalar = 1.230 kalori, dan 1 kg kacang tanah=4.520 kalori

Sumber: Kotambunan, J., A., (2006)

68