Anda di halaman 1dari 35

LAPORAN PENDAHULUAN

CA PENIS
DI RSUD. Dr. SAIFUL ANWAR
MALANG

Oleh :
Fani Mohamad Yunus
2017.04.006

Program Studi Profesi Keperawatan


Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan
Banyuwangi
2018
LEMBAR PENGESAHAN
NAMA : Fani Mohamad Yunus

NIM : 2017.04.006

JUDUL LP : Ca Penis

Laporan pendahuluan dengan Ca Penis telah di setujui pada tgl dan disahkan oleh :

Banyuwangi, Februari 2018

Mahasiswa

( )

Pembimbing Klinik Pembimbing Institute

( ) ( )

Kepala Ruangan

( )
A. KONSEP DASAR PENYAKIT
1. PENGERTIAN

Kanker Penis adalah keganasan pada penis (Anurogo, 2008).


Kanker Penis adalah kanker yang sangat ganas pada alat reproduksi pria, dan kalau
tidak segera ditangani bisa memicu kanker pada organ tubuh yang lain dan dapat
menyebabkan amputasi pada penis (Bin Muhsin, 2011).
Kanker penis adalah kanker yang terdapat pada kulit dan jaringan penis (Asrul Sani,
2010).
Kanker penis adalah karsinoma sel squamosa dari epitel glans penis atau permukaan
dalam prepusium (Tri Kurnianto, 2008).

Gambar 1. Kanker Penis


2. ETIOLOGI
Hingga saat ini belum diketahui secara pasti penyebab kanker penis. Diduga
penyebabnya adalah smegma (cairan berbau yang menyerupai keju, yang terdapat di
bawah kulit depan glans penis). Tetapi penyebabnya yang pasti tidak diketahui.
Pria tidak disunat yang tidak menjaga kebersihan daerah di bawah kulit depan
glans penis dan pria yang pernah menderita herpes genitalis memiliki resiko tinggi
menderita kanker penis.
Beberapa hal diketahui menjadi faktor resiko penyakit ini, diantaranya :
a. Usia tua.
Usia tua insiden meningkat (85 tahun : 9,2 %).
b. Pria yang tak menjalani sunat. Sirkumsisi dilakukan untuk membantu mencegah
infeksi human papillomavirus (HPV).
c. Kebersihan daerah kemaluan yang tak terjaga. Pria yang menghindari personal
hygiene tubuh akan meningkatkan risiko terkena kanker.
d. Infeksi Human Papilloma Virus, biasanya tertular melalui hubungan intim
bebas
e. Penggunaan produk tembakau.
f. Laki-laki yang kebiasaan mengunyah tembakau dan produk-produk terkait
berada pada risiko lebih tinggi terkena kanker.
g. Kondisi fimosis atau tertutupnya saluran pembuangan akibat lubang pada kulit
bagian depan yang menutup sehingga sulit buang air kecil.
h. Ca serviks pada pasangan seksualnya.
Peranan infeksi virus terus dipelajari. Kanker penis (penile cancer)
berhubungan dengan keberadaan infeksi virus herpes dan human papilloma virus
(HPV). Human papilloma viruses (HPV) tipe 16 dan 18 telah ditemukan pada sepertiga
pria yang menderita kanker penis. Apakah virus ini menyebabkan kanker ataukah hanya
berperan sebagai saprophytes, belum ditetapkan.

Penile intraepithelial neoplasia dipertimbangkan sebagai precursor, tetapi


hanya 5-15% dari lesi ini yang berkembang menjadi invasive squamous cell carcinoma.
Belum ada bukti nyata bahwa smegma merupakan karsinogen (zat penyebab kanker),
meskipun hal ini telah dipercaya secara luas.

(Dito Anurogo, 2008).


3. PATOFISIOLOGI

Kanker penis biasanya dimulai sebagai lesi kecil pada glans atau kepala penis.
Kanker penis berkisar dari putih-abu-abu, tidak teratur, exophytic, massa endofit datar
dan ulserasi. Sel kanker berangsur-angsur tumbuh secara lateral di sepanjang
permukaan penis dan bisa menutupi seluruh kelenjar serta preputium sebelum
menyerang corpora dan keseluruhan batang penis. Semakin luas lesi, semakin besar
kemungkinan invasi lokal dan metastasis nodal. Kanker penis mungkin papilari dan
exophytic atau datar serta ulseratif. Jika kanker penis ini tidak diobati secara dini makan
dapat terjadi autoamputasi. Lesi papilaris dan colitis memiliki tingkat pertumbuhan
yang serupa, tetapi lesi ulseratif cenderung bermetastasis ke kelenjar getah bening dan
hal ini berpengaruh terhadap tingkat kelangsungan hidup dimana lebih rendah dari 5
tahun. Ukuran kanker yang lebih besar dari 5 cm dan melibatkan lebih dari 75% dari
poros tersebut berasosiasi dengan prevalensi tinggi metastasis nodal dan tingkat
kelangsungan hidup lebih rendah, tetapi hubungan yang konsisten antara ukuran
kanker, kehadiran metastasis inguinal node, dan kelangsungan hidup belum
diidentifikasi.

Fasia Buck, yang mengelilingi corpora, bertindak sebagai penghalang


sementara. Jika kanker telah menembus fasia Buck dan albuginea tunika, kanker telah
dapat menyebar ke pembuluh darah dan bahkan secara sistemik. Metastasis ke kelenjar
getah bening femoral dan inguinal adalah jalur awal untuk penyebaran kanker penis.
Oleh karena, crossover kelenjar getah bening maka sel kanker dapat menyebar secara
bilateral ke kedua kelenjar getah bening inguinalis.

Metastase pada simpul-simpul daerah inguinal menyebabkan terjadinya


nekrosis kulit, infeksi kronis, dan, akhirnya kematian akibat dari sepsis atau perdarahan
sekunder terhadap erosi ke dalam pembuluh femoral. Metastase jauh dari sel kanker
dapat menyerang hati, tulang, paru-paru, atau otak. Karsinoma penis terjadi secara
progresif dan terbukti berakibat fatal pada pasien yang tidak diobati dalam waktu 2
tahun (Brosman, 2011).
Gambar 2. Tahap-tahap terjadinya kanker
4. PATHWAY

Usia > 60 th Berganti-ganti Phimosis Tidak Hygiene


pasangan melakukan kurang pada
seksual sirkumsisi gland penis

Penurunan Preputium
degenerative tidak dapat di
Infeksi HPV Prepusium Point de entry
sel tarik
tipe 16 dan menutup kuman
17 gland penis

Preputium Merangsang
menempel pembentukan
Kulit genetalis Penimbunan
dengan gland smegma
smegma
penis

Displasia
Merangsang
pertumbuhan
sel skoumusa
dari epitel
gland penis

Tindakan Ca Penis Tindakan Discontinuitas


Rmabut
kemoterapi pembedahan jaringan
rontok, kulit
kusam

Mual muntah Poliferasi jaringan


Risiko infeksi
berlebih
Gangguan
citra tubuh
Penurunan BB Metastasis

Ketidak seimbangan Ekstensi


nutrisi: kurang dari langsung
kebutuhan tubuh

Radang Pelepasan Penekanan


bradikinin, ujung saraf
Pembesaran Histamine dan simpatik
Menekan pada gland Prostaglandin
ureter Lesi
penis
Respon nyeri

Pengeluaran Tidak dapat Gesekan, Luka, ulkus, bau tak


urine tidak melakukan benturan sedap, Nyeri Akut
adekuat hubungan seksual, pendarahan/push
tidak dapat pada penis
mempertahankan
ereksi
Gangguan
eliminasi Kerusakan
urine Intergritas
Kulit
Disfungsi seksual
5. KLASIFIKASI
Pada kanker penis, biasa digunakan sistem klasifikasi Jackson dan TNM sebagai
berikut:
a. Klasifikasi Jackson:
Stage I (A) : tumor terbatas pada glans, prepusium, atau keduanya.
Stage II (B) : tumor mencapai batang penis.
Stage III (C) : tumor bermetastase ke inguinal.
Stage IV (D) : tumor menginvasi struktur di sekitarnya, metastase ke
inguinal, atau metastase jauh.
b. Menurut TNM (tumor, nodus, metastase):
TX : tumor tidak dapat dikaji.
T0 : tumor tidak jelas.
Tis : ada CIS (Carsinoma In Situ).
Ta : ada carsinoma verrucos yang tidak infasif.
T1 : tumor infasif ke jaringan sub epitel.
T2 : tumor infasif ke corpora spongiosum atau cavernosum.
T3 : tumor infasif ke uretra atau prostat.
T4 : tumor infasif ke struktur yang berdekatan.
N : Kelenjar Limfe
N0 : Tidak terdapat metatase ke kelenjar limfe regional.
N1 : Metatase didalam kelenjar limfe inguinal superfasial.
N2 : Metatase multiple / bilateral di kelenjar limfe inguinal superfasial.
N3 : Metatase di kelenjar inguinal profunda/didalam pelvis (unilateral atau
belateral).
M : Metastasis jauh
Mx : Metastasis jauh tidak dapat diperiksa
M0 : Tidak ada metastasis jauh
M1 : Terdapat metastasis jauh Stadium:
Stadium 0 : Tis - N0 - M0
Stadium I : T1 - N0 - M0
Stadium II : T2,T3 - N0 - M0
Stadium III : T4 – N1 - M0
Stadium IV : Tiap T - Tiap N -
M1
Metastasis:
1) Ekstensi Langsung
Lesi distal, umumnya ke korpus penis.
Fasia Buck di penis dapat berfungsi sebagai rintangan sementara sehingga
urethra dan buli-buli jara terlibat.
2) Limfogen
Lesi kulit, preputium ke lnn Inguinalis superfisialis.
Lesi glans, corpus ke lnn inguinalis profundus, iliaca externa, pelvic.
Dapat terjadi penyebaran silang (bilateral), akibat limfe menyilang garis tengah.
3) Hematogen
Terjadi pada stadium lanjut.
(Mellyssa Hutabarat, 2010)
6. MANIFESTASI KLINIS
a. Bengkak pada penis meskipun tidak dalam kondisi ereksi.
b. Terdapat tanda-tanda radang seperti nyeri atau terdapat luka pada penis dengan
sebab yang tidak jelas.
c. Lesi yang sulit sembuh, disertai “subtle induration” pada kulit, pertumbuhan
kecil di kulit (a small excrescence), papula, pustula, tumbuhnya kutil atau
veruka (a warty growth), atau pertumbuhan exophytic.
d. Perubahan warna pada kulit penis juga dapat menjadi tanda awalnya.
e. Terdapat benjolan pada lipat paha, artinya terjadi pembesaran kelenjar getah
bening pada daerah tersebut. Terkadang ditemukan suatu massa, ulceration,
suppuration, atau perdarahan (hemorrhage) di daerah lipat paha (inguinal)
karena nodal metastases. Kondisi ini menandakan bahwa stadium kanker sudah
dalam taraf lanjut.
f. Nyeri penis dan perdarahan dari penis (pada stadium lanjut).
g. Penderita dengan kanker yang telah menyebar luas (advanced metastatic
cancer) dapat mengeluhkan lemah (weakness), penurunan berat badan (weight
loss), kelelahan (fatigue), lesi pada penis kemungkinan dapat berdarah.
h. Banyak pria tidak periksa ke dokter sampai kanker mengerosi (eroded)
preputium dan menjadi berbau tidak sedap karena infeksi dan nekrosis.
(Dito Anurogo, 2008)

Gambar 3. Kanker penis


Kategori lesi pada penis:
a. Lesi yang jinak (benign lesions)
Misalnya: pearly penile papules, hirsute papillomas, dan coronal papillae.
b. Lesi yang berpotensi menjadi ganas (premalignant)
Ini berhubungan dengan Leukoplakia dan squamous cell carcinoma. Contoh
yang paling umum adalah balanitis xerotica obliterans.
c. Lesi yang ganas (malignant neoplasm atau malignant carcinoma)
Ini termasuk variants dari squamous cell carcinoma seperti: carcinoma in situ
(CIS), erythroplasia of Queyrat, dan Bowen disease.
(Dito Anurogo, 2008)
7. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK/PENUNJANG
a. Tidak ada pemeriksaan laboratorium khusus (specific) atau petanda tumor
(tumor markers) pada kanker penis.
b. Pemeriksaan umum, meliputi: hitung darah lengkap, pemeriksaan kimia dengan
tes fungsi hati (a chemistry panel with liver function tests), dan penilaian
(assessment) status jantung, paru-paru, dan ginjal, sangat membantu untuk
mendeteksi masalah yang tak terduga.
c. Pasien dengan penyakit yang parah dapat anemis, dengan leukocytosis dan
hypoalbuminemia.
d. Hypercalcemia ditemukan pada beberapa pasien saat ketiadaan penyebaran
(absence of metastases).
Prosedur diagnostic:
a. Biopsi
Tes diagnostik yang paling penting adalah biopsi. Biopsi diperlukan
untuk menentukan perluasan tumor sehingga dapat direncanakan
pengobatannya. Biopsi adalah pengangkatan dalam jumlah kecil jaringan untuk
diperiksa di bawah mikroskop. Tes-tes lain juga dapat mengindikasikan kanker
yang ada, tetapi hanya biopsi yang dapat membuat diagnosis pasti. Biopsi
kelenjar getah bening sentinel adalah jenis lain dari biopsi. Hal ini penting untuk
mengetahui apakah sel-sel kanker telah menyebar ke daerah lain di luar penis.
Dalam teknik ini, dokter menghapus satu atau beberapa kelenjar getah bening
sentinel-node pertama ke dalam sistem getah bening yang mengalir dekat
dengan nodul untuk memeriksa sel-sel kanker. Dalam kasus kanker penis,
kelenjar getah bening sentinel terletak tepat di bawah kulit di pangkal paha. Jika
sel kanker yang terdeteksi, itu berarti bahwa penyakit ini mungkin telah
menyebar ke kelenjar getah bening lain di wilayah ini atau di luar melalui
pembuluh darah dan getah bening.

b. Imaging Modalitas
Direkomendasikan untuk:

▪ Mengetahui staging dari penyakit

▪ Untuk menentukan tindak lanjut pasien

▪ Untuk menilai penyebaran (metastase) sel kanker


c. USG
USG dilakukan untuk:

▪ Menilai keadaan, luas dan resectability kanker penis.

▪ Penilaian terhadap kelenjar getah bening.

▪ Mendeteksi adanya metastase


d. CT SCAN
CT SCAN dilakukan untuk:

▪ Penilaian kelenjar getah bening

▪ Limited utilitas di lesi primer


e. MRI
Paling akurat dalam mendeteksi penyakit primer dan nodal. MRI
menggunakan medan magnet, bukan x-ray, untuk menghasilkan gambar rinci
dari tubuh. Sebuah media kontras dapat disuntikkan ke pembuluh darah pasien
untuk menciptakan gambaran yang lebih jelas.

f. Tomography Emisi Positron (PET) scan.


PET scan adalah cara untuk membuat gambar organ dan jaringan dalam
tubuh. Sejumlah kecil zat radioaktif disuntikkan ke dalam tubuh pasien. Zat ini
diserap terutama oleh organ dan jaringan yang menggunakan energi. Karena
kanker cenderung untuk menggunakan energi secara aktif, menyerap lebih dari
zat radioaktif. Scanner kemudian mendeteksi zat ini untuk menghasilkan
gambar dari bagian dalam tubuh. Beberapa dokter akan menggunakan PET scan
untuk mencari bukti penyebaran kanker penis, meskipun tidak secara khusus
disetujui untuk menggunakan ini. Hal ini diketahui bermanfaat dalam stadium
kanker paru-paru skuamosa dan kerongkongan, dan meningkatkan pengalaman
yang pada akhirnya dapat menjadi alat yang lebih standar dalam mendiagnosis
kanker penis. (Dito Anurogo, 2008)

8. PENATALAKSANAAN
Pengobatan kanker penis bervariasi, tergandung kepada lokasi dan beratnya tumor,
antara lain:
a. Terapi Medikamentosa
Neoplasma intraepitel seperti Bowen disease atau erythroplasia of Queyrat
dapat diterapi dengan topical 5-fluorouracil.
b. Pembedahan
Pembedahan yang paling sering dilakukan untuk pengobatankanker penis
adalah :
1) Eksisi local
Dilakukan jika kanker masih terbatas pada penis dan masih kecil.
2) Microsurgery
Adalah pembedahan pada tumor penis dengan mikroskop untuk menghilangkan
jaringan tumor dan mempertahankan jaringan yang sehat sekecil mungkin.
3) Bedah laser
Merupakan pembedahan dengan menggunakan sinar laser untuk membakar
atau memotong sinar laser. Bedah laser (Laser surgery) digunakan pada pasien
dengan lesi jinak (benign) dan ganas (malignant) yang ada di permukaan
(superficial). Terapi ini telah diterapkan pada kasus-kasus “local and limited
invasive disease”. Empat tipe laser yang digunakan dalam bedah laser, yaitu:
carbon dioxide, argon, dan potassium-titanyl phosphate (KTP) lasers.

4) Sirkumsisi
Sirkumsisi adalah memotong ujung kulit penis yang terkena kanker. Pada pasien
dengan tumor yang berukuran kecil yang terbatas pada preputium, cukup dengan
khitan (sirkumsisi).

5) Penektomi
Penektomi adalah pemotongan penis sebagian atau total. Penectomi
merupakan pengobatan yang tepat untuk kanker penis. Jika tumornya terbatas
pada daerah kecil di ujung penis, dilakukan penektomi parsial (pengangkatan
sebagian kecil penis). Untuk stadium lanjut dilakukan penektomi total disertai
uretrostomi (pembuatan lubang uretra yang baru di daerah perineum). Amputasi
sebagian (amputasi parsial) cocok jika kanker meliputi glans penis dan bagian
distal penis saat ereksi (distal shaft).

Pada beberapa situasi/keadaan, local wedge resection dapat dikerjakan dengan


mudah, ini berhubungan dengan rata-rata rekurensi sebesar 50%. Jika surgical
resection baik dengan wedge maupun partial penectomy tidak memberikan
kebebasan yang cukup (adequate margin), maka strategi total penectomy
haruslah dipertimbangkan. Jika sebagian sisa penis (residual penis) dan urethra
tidak cukup bagi pasien untuk kencing sambil berdiri, maka dapat dilakukan
tindakan perineal urethrostomy.

Gambar 5. Post Operasi Penektomi


6) Mohs micrographic surgery (MMS)
Teknik bedah lainnya adalah Mohs micrographic surgery (MMS), yang dapat
dipakai (applicable) untuk pasien dengan noninvasive disease.
c. Kemoterapi
Kemoterapi bisa dilakukan sebagai tambahan terhadap pengangkatan tumor.
Obatobatan yang paling banyak digunakan antara lain: cisplatin, bleomycin,
methotrexate, dan fluorouracil.

d. Terapi Radiasi/Radioterapi

Radioterapi perupakan pengobatan pelengkap dari pembedahan yang bertujuan


mengurangi resiko kekambuhan/rekurensi. Pada stadium lanjut kombinasi
pembedahan, kemoterapi dan radioterapi mungkin diperlukan.

Macamnya:

1. External beam radiation therapy


2. Brachytherapy
Indikasi terapi radiasi:
1. Pria muda dengan kanker pada glans atau coronal sulcus dengan ukuran
kecil (<3 cm), superficial, lesi exophytic, atau noninvasive.
2. Pasien menolak tindakan bedah atau datang dengan metastatic disease dan
memerlukan terapi "palliative". Khitan/sunat (circumcision)
direkomendasikan sebelumnya untuk memulai terapi radiasi untuk kanker
yang melibatkan/menyertai preputium (kulup zakar).
3. Terapi radiasi memiliki kekurangan. Squamous cell carcinomas cenderung
resistant, dan dosis untuk “high tumor” yaitu 0.6 Gy yang diperlukan untuk
merawat tumor dapat menyebabkan urethral fistulae, strictures, penile
necrosis, nyeri, dan edema.

Jika kanker terinfeksi, maka efek terapi dapat berkurang, sedangkan risiko terjadinya
komplikasi akan meningkat.

Terapi radiasi dilakukan setelah pengangkatan tumor yang terlokalisir dan tumor yang
belum menyebar. Efek samping dari terapi radiasi adalah nafsu makan berkurang, lelah,
reaksi kulit (misalnya iritasi dan kemerahan), cedera atau luka bakar pada rektum,
sistitis dan hematuria. Radiasi biasanya dilakukan sebanyak 5 kali/minggu selama 6-8
minggu. (Asrul, 2010).

Penatalaksanaan berdasarkan stadium tumor:

A. Tumor primer.
1) Sirkumsisi.

Terbatas pada lesi superfisial, noninvasif terbatas pada/di preputium.

2) Partial panectomy.

Pilihan untuk lesi distal (amputasi 2 cm dati tepi tumor).

3) Total panectomy dengan oerineal urethrostomy.

Lesi proximal, ada infiltasi ke profunda.

4) Lymphadenectomy.

Radial ilioinguinal lymphadenectomy pada Ca Penis masih kontroversi.

5) Sentinel node biopsy (cabanas 1977).


Sentinel node terletak 32 jari laterodistal dari tuberculum pubicum pada
pertemuan v. epigastrica superficial dan v. saphena. Bila kelenjar positif
dilakukan Lymphadenectomy.

B. Tumor lanjut dan metastasis.


Bersifat paliatif. Untuk mengatasi nyeri, perdarahan, massa inguinal superfisial.

1) Kemoterapi : Bleomycin, methorexate, cisplatin, 5FU.


2) Radiasi: Bila penderita menolak operasi.

6.000 rad selama 3 – 6 minggu. Dapat digunakan brakiterapi dengan Iridium


192. (Tri Kurnianto, 2008)
9. KOMPLIKASI
Sedikit komplikasi bedah yang dijumpai pada eksisi tumor primer, penectomy partial
atau complete, misalnya:
a. Infeksi
b. Edema
c. Striktua uretra jika urethral meatus yang baru harus dibuat.
Komplikasi yang berhubungan dengan inguinal node dissections:
a. Komplikasi dini (early complications) misalnya: infeksi luka (wound infection),
seroma, skin flap necrosis, phlebitis, dan emboli paru-paru (pulmonary
embolus)
b. Komplikasi lanjutan (late complications) misalnya: lymphedema pada scrotum
dan anggota gerak bagian bawah (kaki).
Komplikasi terapi radiasi:
Biasanya terlihat pada tumor yang berukuran lebih besar dari 4 cm.
a. urethral strictures (pada 50% pasien)
b. urethral fistula
c. penile necrosis
d. edema
e. nyeri pada penis
Pembedahan setelah terapi radiasi diperlukan pada 20-60% pasien. (Dito Anurogo,
2008)
B. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN
1. PENGKAJIAN

1) Keadaan Umum
Meliputi kondisi seperti tingkat ketegangan/kelelahan, tingkat kesadaran
kualitatif atau GCS dan respon verbal klien.
2) Tanda-tanda Vital
Meliputi pemeriksaan:
1. Tekanan darah: pada kanker yang telah lanjut, awitan nyeri yang timbul
dapat meningkatkan tekanan darah (>120/80 mmHg).
2. Pulse rate: biasanya meningkat akibat nyeri yang dirasakan (di atas
100x/menit pada orang dewasa, dan di atas 120x/menit pada anak kecil).
3. Respiratory rate: biasanya meningkat (di atas 20x/menit), perubahan RR
dapat terjadi jika adanya metastase sel kanker yang mencapai paru-paru.
4. Suhu: biasanya normal (36-37,5°C), dapat terjadi peningkatan suhu yang
mengindikasikan terjadinya infeksi sistemik.
3) Riwayat penyakit sebelumnya
Ditanyakan sebelumnya apakah klien pernah menderita tumor atau keganasan
lainnya. Ditanyakan apakah istrinya menderita Ca servix karena dapat menjadi
risiko untuk meningkatkan kejadian ca penis.
4) Anamnesa dan observasi
a. Aktivitas dan istirahat
 Klien mengatakan mengalami nyeri sehingga mengganggu
aktivitasnya.
 Klien tampak meringis ketika menggerakkan tubuhnya (daerah
perineal sampai ke paha).
 Klien mengatakan mengalami kelemahan dan/keletihan.
 Klien tampak lemah.
 Klien mengatakan apabila merasa nyeri istirahatnya menjadi sedikit
terganggu.
 Klien mengatakan aktivitas di luar rumah berkurang karena klien
merasa malu dengan penyakitnya.
b. Sirkulasi
 Tekanan darah dapat meningkat (>120/80 mmHg) akibat nyeri yang
dirasakan.
 Takikardi.
 Akral dingin.
 Klien mengalami perdarahan akibat luka terbuka pada penis.
 Terjadi peningkatan leukosit (leukositosis)
c. Integritas ego
 Masalah tentang perubahan dalam penampilan dan kondisi fisik.
 Menyangkal, menarik diri.
d. Eliminasi
 Klien bisa mengalami gangguan eliminasi seperti nyeri berkemih
dan kesulitan dalam berkemih.
e. Makan/cairan
 Nafsu makan klien dapat normal atau berkurang terkait psikologis
klien, dan perkembangan kanker.
 Berat badan klien menurun.
 Kadar albumin klien menurun (<3,4 g/dL).
f. Sensori/neural
 Klien tidak mengalami gangguan neural, persepsi, maupun sensori.
g. Nyeri/kenyamanan
 Klien mengatakan merasa nyeri:
P : nyeri terjadi akibat hyperplasia sel kanker yang mendesak dan
mensensitisasi jaringan sekitar kanker.
Q : klien mengatakan nyeri terasa seperti ditusuk-tusuk.
R : klien mengatakan nyeri terjadi pada daerah penis, menjalar ke
lipatan paha.
S : klien mengatakan skala nyeri 1-10.
T : klien mengatakan nyeri berlangsung terus-menerus.
 Klien tampak tidak nyaman (posisi melindungi bagian yang nyeri).
 Klien tampak berhati-hati saat menggerakkan bagian tubuh yang
nyeri
 Klien tampak gelisah.
h. Respirasi
 Tidak adanya sesak
 Tidak tampak adanya penggunaan otot-otot bantu pernapasan.
 Frekuensi pernapasan klien normal/meningkat.
i. Keamanan
 Klien mengatakan cemas.
 Klien mengatakan merasa malu terhadap penyakitnya.
j. Seksualitas
 Klien mengatakan mengalami masalah seksual dalam melakukan
coitus karena penyakit yang dideritanya.
k. Interaksi sosial
 Klien mengalami masalah tentang fungsi/tanggung jawab peran
dalam memenuhi kebutuhan biologis (seksualitas) dengan
pasangannya.
5) Pemeriksaan Fisik
a. Inspeksi :
• Tampak adanya bengkak pada penis
• Tampak adanya perubahan warna pada penis
• Tampak adanya kutil pada kulit penis
• Tampak adanya lesi pada penis
• Tampak adanya massa, ulceration, suppuration, atau perdarahan
(hemorrhage) di daerah lipat paha (inguinal) karena nodal metastases.
• Tampak adanya nekrosis pada preputium dan berbau tak sedap.
• Klien tampak meringis akibat nyeri
• Apabila kanker sampai metastase jauh maka klien tampak kurus dan
lemah.
b. Palpasi :
• Adanya massa pada daerah inguinal.
2. DIAGNOSA KEPERAWATAN
A. DIAGNOSA PRE-OPERASI

1. Nyeri akut berhubungan dengan agen injury fisik (kanker), ditandai dengan
klien mengatakan merasa nyeri pada daerah penis, klien mengatakan nyeri
seperti ditusuk-tusuk, klien mengatakan nyeri terus-menerus dengan skala nyeri
1-10, klien tampak gelisah dan meringis kesakitan, klien tampak melidungi
bagian tubuh yang nyeri, TD klien meningkat (>120/80 mmHg), nadi klien
meningkat (>100 kali/menit).

2. Risiko infeksi berhubungan dengan pertahanan primer tidak adekuat (kulit tak
utuh, trauma jaringan).

3. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan


peningkatan metabolisme akibat kanker, ditandai dengan klien mengatakan
mengalami penurunan BB >20%, kadar albumin klien menurun (<3,4 g/dL),
terjadi penurunan intake makanan, nafsu makan menurun, kelemahan.
4. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan hyperplasia sel kanker, ditandai
dengan adanya luka terbuka yang menyerupai jerawat atau kutil pada penis.
5. PK : Perdarahan

6. Kelemahan berhubungan dengan penurunan kondisi fisik akibat pertumbuhan


sel kanker, ditandai dengan klien mengeluh lemah, klien mengatakan tidak
dapat melakukan aktivitas sehari-hari, adanya ketidaksanggupan dalam
menjaga level aktivitas fisik seperti biasa, meningkatnya kebutuhan beristirahat
dan kekurangan energi.

7. Ansietas berhubungan dengan perubahan dalam status kesehatan, ditandai


dengan klien tampak gelisah, klien mengungkapkan perasaan takut, khawatir,
wajah tampak tegang, peningkatan tanda-tanda vital (TD klien meningkat
(>120/80 mmHg), nadi klien meningkat (>100 kali/menit).

B. DIAGNOSA POST OPERASI


1. Nyeri akut berhubungan dengan agen injury fisik (tindakan pembedahan),
ditandai dengan klien mengatakan merasa nyeri pada daerah pembedahan, klien
mengatakan nyeri seperti ditusuk-tusuk, klien mengatakan nyeri hilang timbul,
bertambah berat saat bergerak dan berkurang saat istirahat dengan skala nyeri
110, klien tampak gelisah dan meringis kesakitan, klien tampak melidungi
bagian tubuh yang nyeri, TD klien meningkat (>120/80 mmHg, nadi klien
meningkat (>100 kali/menit).
2. Risiko infeksi berhubungan dengan pertahanan primer tidak adekuat (kulit tidak
utuh) akibat luka post operasi.
3. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan pembedahan, ditandai dengan
pasien mengatakan malu dengan kondisi dirinya karena penisnya sudah tidak
utuh lagi.
C. DIAGNOSA POST KEMOTERAPI
1. Nausea berhubungan dengan terapi (kemoterapi) ditandai dengan klien
mengeluh mual, terjadi penurunan nafsu makan, terjadi peningkatan saliva,
klien tidak dapat menghabiskan makanan sesuai porsi yang disediakan.
2. Risiko infeksi berhubungan dengan efek kemoterapi.
3. PK: Anemia
4. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan perubahan penampilan tubuh
ditandai dengan pasien mengatakan malu dengan kondisi dirinya, dimana
rambutnya menjadi rontok.
3. INTEVENSI KEPERAWATAN
1. Nyeri Akut

Tujuan Intervensi
Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 3 x 24 jam diharapkan 1. Lakukan pengkajian yang komprehensif terhadap nyeri, meliputi
nyeri dapat berkurang. lokasi, karasteristik, onset/durasi, frekuensi, kualitas, intensitas
nyeri, serta faktor-faktor yang dapat memicu nyeri.
Kriteria Hasil: Rasional: pengkajian berguna untuk mengidentifikasi nyeri yang
- Klien tidak melaporkan adanya nyeri (skala nyeri 1 – 2) dialami klien meliputi lokasi, karasteristik, durasi, frekuensi,
- Klien tidak merintih ataupun menangis kualitas, intensitas nyeri serta faktor-faktor yang dapat memicu
- Klien tidak menunjukkan ekspresi wajah terhadap nyeri nyeri klien sehinggga dapat menentukan intervensi yang tepat.
- Klien tidak tampak berkeringat dingin 2. Observasi tanda-tanda non verbal atau isyarat dari
- RR dalam batas normal (16-20 x/mnt) ketidaknyamanan. Rasional: dengan mengetahui rasa tidak nyaman
- Nadi dalam batas normal (60-100x/mnt) klien secara non verbal maka dapat membantu mengetahui tingkat
- Tekanan darah dalam batas normal (120/80 mmHg) dan perkembangan nyeri klien.
- Klien dapat mengontrol nyerinya dengan menggunakan teknik 3. Gunakan strategi komunikasi terapeutik dalam mengkaji
manajemen nyeri non farmakologis pengalaman nyeri dan menyampaikan penerimaan terhadap respon
- Klien dapat menggunakan analgesik sesuai indikasi klien terhadap nyeri.
- Klien melaporkan nyeri terkontrol Rasional: membantu klien dalam menginterpretasikan nyerinya.
4. Kaji tanda-tanda vital klien.
Rasional: peningakatan tekanan darah, respirasi rate, dan denyut
nadi umumnya menandakan adanya peningkatan nyeri yang
dirasakan.
5. Kontrol faktor lingkungan yang dapat menyebabkan
ketidaknyamanan, seperti suhu ruangan, pencahayaan, kebisingan.
Rasional: membantu memodifikasi dan menghindari faktor-faktor
yang dapat meningkatkan ketidaknyamanan klien.
6. Ajarkan prinsip-prinsip manajemen nyeri non farmakologi, teknik
terapi musik, distraksi, guided imagery, masase dll)
Rasional: membantu mengurangi nyeri yang dirasakan klien, serta
membantu klien untuk mengontrol nyerinya.
7. Kolaborasi dalam pemberian analgetik sesuai indikasi.
Rasional: membantu mengurangi nyeri yang dirasakan klien.

2. Resiko Infeksi
Tujuan Intervensi
Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3 x 24 jam diharapkan 1. Bersihkan lingkungan setelah digunakan oleh klien.
tidak terjadi infeksi. Rasional: Agar bakteri dan penyakit tidak menyebar dari
lingkungan dan orang lain.
Kriteria Hasil : 2. Jaga agar barier kulit yang terbuka tidak terpapar lingkungan
- Tidak ada kemerahan dengan cara menutup dengan kasa streril.
- Tidak terjadi hipertermia Rasional: Mengurangi paparan dari lingkungan.
- Tidak ada nyeri 3. Ajarkan klien dan keluarga tekhnik mencuci tangan yang benar.
- Tidak ada pembengkakan Rasional: Mencegah terjadinya infeksi dari mikroorganisme yang
- Klien mampu menyebutkan factor-faktor resiko penyebab infeksi ada di tangan.
- Klien mampu memonitor lingkungan penyebab infeksi 4. Pergunakan sabun anti microbial untuk mencuci tangan.
- Klien mampu memonitor tingkah laku penyebab infeksi Rasional: Mencuci tangan menggunakan sabun lebih efektif untuk
- Tidak terjadi paparan saat tindakan keperawatan membunuh bakteri.
5. Cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan
keperawatan. Rasional: Mencegah infeksi nosokomial.
6. Terapkan Universal precaution.
Rasional: Mencegah infeksi nosokomial.
7. Pertahankan lingkungan aseptik selama perawatan.
Rasional: untuk meminimalkan terkontaminasi mikroba atau
bakteri.
8. Anjurkan klien untuk memenuhan asupan nutrisi dan cairan
adekuat. Rasional: Menjaga ketahanan sistem imun.
9. Ajarkan klien dan keluarga untuk menghindari infeksi.
Rasional: infeksi lebih lanjut dapat memperburuk resiko infeksi
pada klien.
10. Ajarkan pada klien dan keluarga tanda-tanda infeksi.
Rasional: agar dapat melaporkan kepada petugas lebih cepat,
sehingga penangan lebih efisien.
11. Kolaborasi pemberian antibiotik bila perlu.
Rasional: untuk mempercepat perbaikan kondisi klien
12. Monitor tanda dan gejala infeksi sistemik dan lokal.
Rasional: agar memudahkan pengambilan intervensi.
13. Monitor hitung granulosit, WBC.
Rasional: sebagai monitor adanya reaksi infeksi.
14. Monitor kerentanan terhadap infeksi.
Rasional: untuk mengetahui tinggi/rendahnya tingkat infeksi pada
klien, sehingga memudahkan pengambilan intervensi.
15. Berikan perawatan kulit.
Rasional: kulit merupakan pertahanan pertama dari bakteri.
16. Inspeksi kulit dan membran mukosa terhadap kemerahan, panas
dan drainase.
Rasional: merupakan tanda-tanda terjadinya inspeksi.
17. Inspeksi kondisi luka.
Rasional: untuk mempermudah pengambilan intervensi
selanjutnya
3. Ketidak Seimbangan Nutrisi Kurang Dari Kebutuhan Tubuh
Tujuan Intervensi
Setelah diberikan asuhan keperawatan 3 x 24 jam diharapkan pemenuhan 1. Kaji status nutrisi klien
nutrisi adekuat. Rasional: pengkajian penting untuk mengetahui status nutrisi klien
dapat menentukan intervensi yang tepat.
Kriteria Hasil: 2. Monitor masukan makanan atau cairan dan hitung kebutuhan kalori
- Masukan makanan dalam batas normal harian.
- Masukan kalori dalam batas normal Rasional: dengan mengetahui masukan makanan atau cairan dapat
- Nutrisi dalam makanan cukup mengandung protein, lemak, karbohidrat, mengetahui apakah kebutuhan kalori harian sudah terpenuhi atau
serat, vitamin, mineral, ion, kalsium, sodium belum.
- Serum albumin dalam batas normal (3,4-4,8 gr/dl) 3. Tentukan jenis makanan yang cocok dengan tetap mempertimbangkan
aspek agama dan budaya klien.
Rasional: memenuhi kebutuhan nutrisi klien dengan tetap
memperhatikan aspek agama dan budaya klien sehingga klien bersedia
mengikuti diet yang ditentukan.
4. Anjurkan untuk menggunakan suplemen nutrisi sesuai indikasi.
Rasional: dapat membantu meningkatkan status nutrisi selain dari diet
yang ditentukan.
5. Dorong klien untuk mengkonsumsi makanan tinggi kalori, tinggi
protein sesuai kebutuhan.
Rasional: untuk membantu memenuhi kalori, dan protein sesuai
kebutuhan.
6. Jaga kebersihan mulut, ajarkan oral higiene pada klien/keluarga.
Rasional: menjaga kebersihan mulut dapat meningkatkan nafsu
makan.
7. Ajarkan orang tua klien tentang pengaturan diet sesuai kebutuhan.
Rasional: memberikan informasi tentang kebutuhan diet klien agar
dapat diaplikasikan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi klien.
8. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan jenis
nutrisi yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi.
Rasional: untuk menentukan jumlah kalori dan jenis nutrisi yang
sesuai dengan kebutuhan klien.
9. Timbang berat badan klien secara teratur.
Rasional: dengan memantau berat badan klien dengan teratur dapat
mengetahui kenaikan ataupun penurunan status gizi.
10. Diskusikan dengan keluarga klien hal-hal yang menyebabkan
penurunan berat badan.
Rasional: membantu memilih alternative pemenuhan nutrisi yang
sesuai dengan kebutuhan dan penyebab penurunan berat badan.
11. Pantau konsumsi kalori harian.
Rasional: membantu mengetahui masukan kalori harian klien
disesuaikan dengan kebutuhan kalori sesuai usia.
12. Pantau hasil laboratorium, seperti kadar serum albumin, dan elektrolit.
Rasional: kadar albumin dan elektrolit yang normal menunjukkan
status nutrisi baik. Sajikan makanan dengan menarik.
13. Tentukan makanan kesukaan, rasa, dan temperatur makanan.
Rasional: meningkatkan nafsu makan dengan intake dan kualitas yang
maksimal.
14. Anjurkan penggunaan suplemen penambah nafsu makan.
Rasional: dapat membantu meningkatkan nafsu makan klien sehingga
dapat meningkatkan masukan nutrisi.
4. Kerusakan integritas kulit
Tujuan Intervensi
Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3 x 24 jam diharapkan 1. Pantau perkembangan kerusakan kulit klien setiap hari. Rasional:
integritas kulit klien tidak mengalami kerusakan lebih jauh. mengevaluasi status kerusakan kulit sehingga dapat memberikan
intervensi yang tepat.
Kriteria Hasil : 2. Cegah penggunaan linen bertekstur kasar dan jaga agar linen tetap
- Temperatur kulit normal bersih, tidak lembab, dan tidak kusut.
- Sensasi kulit normal Rasional: keadaan yang lembab dapat meningkatkan
- Elastisitas kulit normal perkembangbiakan mikroorganisme dan untuk mencegah terjadinya
- Hidrasi kulit normal 3. Lakukan perawatan kulit secara aseptik 2 kali sehari.
- Warna kulit normal Rasional: untuk meningkatkan proses penyembuhan lesi kulit serta
- Tekstur kulit normal mencegah terjadinya infeksi sekunder
- Ketebalan kulit normal
- Bebas lesi jaringan
- Kulit intak (tidak ada eritema dan nekrosis)

5. PK : Perdarahan
Tujuan Intervensi
Setelah diberikan tindakan keperawatan selama 1 x 12 jam, perawat dapat 1. Kaji pasien untuk menemukan bukti-bukti perdarahan atau hemoragi.
meminimalkan perdarahan dan mencegah komplikasi perdarahan. Rasional: untuk mengetahui tanda-tanda perdarahan yang terjadi dan
mempermudah menentukan intervensi selanjutnya.
Kriteria Hasil: 2. Pantau hasil laboratorium berhubungan dengan tanda perdarahan.
- Nilai Hb dalam batas normal (12-16g/dL). Rasional: untuk mengetahui tanda-tanda perdarahan sesuai dengan
- Nilai Ht dalam batas normal (40-45%). hasil laboratorium untuk mempermudah menentukan intervensi
- Klien tidak mengalami episode perdarahan. selanjutnya.
- Tanda-tanda vital dalam batas normal (TD: 120/80 mmHg, nadi: 60100 3. Lindungi pasien terhadap cedera dan terjatuh.
x/menit, suhu: 36-37,5°C, RR: 16-20 x/menit). Rasional: untuk menghindari terjadinya perdarahan.
4. Hindari aktivitas yang membuat pasien mengejan, mengangkat atau
membalik badan.
Rasional: untuk menghindari terjadinya perdarahan.
5. Siapkan pasien secara fisik dan psikologis untuk menjalani bentuk
terapi lain jika diperlukan.
Rasional: untuk menghindari komplikasi perdarahan.
6. Kolaborasi pemberian transfusi sesuai indikasi.
Rasional: transfusi darah diperlukan jika untuk menghindari
kehilangan darah berlebih akibat pendarahan

6. Kelemahan
Tujuan Intervensi
Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 3 x 24 jam diharapkan 1. Tentukan tingkat keterbatasan fisik klien, Tentukan persepsi klien
kelemahan teratasi. terhadap penyebab kelemahan, Tentukan penyebab kelemahan (seperti
nyeri, medikasi, perawatan)
Kriteria Hasil : Rasional : dengan menentukan persepsi penyebab dan tingkat
- Kesesuaian Saturasi oksigen dengan aktivitas keterbatasan fisik dapat membantu intervensi selanjutnya.
- Kesesuaian Denyut nadi dengan aktivitas 2. Monitor status nutrisi untuk memenuhi kebutuhan energy yang
- Kesesuaian Respiratory rate dengan aktivitas adekuat.
- Kesesuaian Sistolic blood presure dengan aktivitas Rasional : status nutrisi yang adekuat dapat meningkatkan energy
- Kesesuaian Diastolic blood presure dengan aktivitas sehingga mengatasi kelemahan.
- Peningkatan kemampuan dalam melakukan ADL 3. Konsultasikan dengan ahli gizi tentang cara meningkatkan masukan
- Klien tidak mengalami kelemahan makanan tinggi energi.
- Klien dapat melakukan aktivitas sehari-hari Rasional : konsultasi ahli gizi dapat menentukan komposisi makanan
- Klien dapat melakukan aktivitas kerja yang sesuai untuk klien dan dapat memberikan energy yang adekuat.
- Kualitas istirahat klien tidak bermasalah 4. Monitor respon kardiopulmonal terhadap aktivitas (seperti takikardi,
- Keseimbangan diantara istirahat dan aktivitas klien tidak bermasalah disaritmia, dispnea, diaphoresis).
Rasional : takikardi, disaritmia, dispnea, dan diaphoresis menunjukkan
respon abnormal tubuh terhadap aktivitas terhadap kelemahan.
5. Monitor dan catat pola tidur klien dan durasi tidur.
Rasional: tidur yang adekuat memungkinkan terjadi penyimpanan
energi.
6. Monitor lokasi ketidaknyaman/nyeri selama pergerakan atau aktivitas.
Rasional: mengetahui lokasi nyeri dapat membantu membatasi
7. Anjurkan tirah baring selama fase akut.
Rasional: Selama fase akut diperlukan energy yang lebih banyak untuk
melawan pertumbuhan penyakit.
8. Atur aktivitasi fisik (contoh kurangi aktifitas setelah makan). Rasional:
untuk mengurangi kebutuhan oksigen.
9. Lakukan latihan ROM pasif atau aktif.
Rasional: untuk menurunkan tekanan otot, mencegah atropi otot.
10. Bantu klien untuk membuat jadwal istirahat.
Rasional: keseimbangan antara aktivitas dan istirahat membantu
manajemen pengeluaran energy sehingga tidak terjadi kelemahan
lebih lanjut.
11. Rencanakan aktivitas ketika klien memiliki cukup energy. Rasional:
untuk meningkatkan toleransi klien terhadap aktivitas.

7. Ansietas
Tujuan Intervensi
Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 3 x 24 jam diharapkan level 1. Gunakan pendekatan yang menenangkan dan menenteramkan hati.
ansietas klien berkurang. Rasional: pendekatan yang menenangkan dapat mengurangi
kecemasan klien.
2. Kaji mengenai pandangan klien tentang situasi stress.
Kriteria Hasil: Rasional: untuk mengetahui tingkat kecemasan klien.
- Klien tidak gelisah 3. Sediakan informasi yang aktual mengenai diagnosa, terapi, dan
- Klien tidak mengalami distress prognosis.
- Klien tidak panik Rasional: pemberian informasi yang aktual dapat mengurangi
- Klien tidak mengungkapkan ansietas kecemasan klien terhadap penyakitnya.
- Klien tidak mengalami peningkatan tekanan darah (TD = 120/80 mmHg) 4. Temani klien untuk meningkatkan rasa nyaman dan mengurangi rasa
- Klien tidak mengalami peningkatan denyut nadi (60-100 x/menit) - Klien takut.
tidak mengalami peningkatan RR (16-20 x/menit) Rasional: dengan menemani klien, dapat memberikan rasa aman dan
mengurangi kecemasan klien.
5. Dorong keluarga untuk selalu menemani klien.
Rasional : dengan ditemani keluarga, klien akan merasa termotivasi
menghadapi penyakitnya.
6. Dorong klien untuk dapat mengungkapkan perasaan, persepsi dan rasa
takut secara verbal.
Rasional: untuk mengetahui sejauh mana tingkat kecemasan klien.
7. Identifikasi apabila level ansietas klien berubah.
Rasional: untuk memberikan intervensi yang tepat.
8. Bantu klien untuk mengidentifikasi situasi yang dapat memunculkan
kecemasan.
Rasional: untuk membantu klien mengatasi kecemasan yang dialami
secara mandiri
9. Kontrol stimuli secara tepat sesuai dengan kebutuhan klien.
Rasional: membantu klien untuk mengontrol faktor-faktor yang dapat
menstimulasi kecemasannya.
10. Dukung mekanisme pertahanan yang diperlukan secara tepat.
Rasional: mekanisme pertahanan diri yang tepat dapat membantu
mengurangi kecemasan.
11. Instruksikan klien dalam penggunaan teknik relaksasi.
Rasional: teknik relaksasi dapat membantu memberikan rasa nyaman
kepada klien
12. Observasi tanda verbal dan nonverbal ansietas klien.
Rasional: dengan mengobservasi tanda verbal dan nonverbal dapat
mengetahui tingkat ansietas klien.
13. Berikan informasi yang memadai pada pasien tentang penatalaksanaa
seperti operasi penektomi yang dilakukan, prosedur, akibat operasi,
tujuan dan proses operasi.
Rasional: informasi yang memadai dapat mengurangi kecemasan klien
dan meningkatkan kesiapan klien dalam menghadapi operasi.
8. Gangguan Citra Tubuh
Tujuan Intervensi
Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 3 x 24 jam, diharapkan klien 1. Kaji harapan citra tubuh klien yang berdasarkan tahap perkembangan.
tidak mengalami gangguan citra tubuh dengan Rasional: dengan mengetahui harapan klien mengenai citra tubuhnya
dapat membantu kita menilai seberapa besar gangguan citra diri yang
dialami klien.
Kriteria Hasil : 2. Bantu klien untuk mendiskusikan penyebab perubahan karena
penyakitnya.
- Klien mengatakan bisa menerima kondisi fisiknya. Rasional: dengan mengetahui penyebab perubahan diri klien karena
- Klien mengungkapkan kesesuaian antara body reality, body ideal, dan
penyakitnya diharapkan klien dapat memahami proses penyakitnya
body presentation.
dan bisa menerima kondisinya.
3. Monitor frekuensi pernyataan mengkritik diri.
Rasional: dengan menghitung frekuensi klien dalam mengkritik
dirinya dapat membantu mengevaluasi beratnya gangguan citra diri
klien.
4. Identifikasi strategi koping yang digunakan klien dalam merespon
perubahan penampilan.
Rasional: untuk mengetahui koping klien terhadap perubahan kondisi
fisiknya.
5. Bantu klien dalam mengidentifikasi bagian tubuh yang dipersepsikan
positif.
Rasional: dengan mengetahui dan dapat menilai sisi positif dari tubuh
klien diharapkan klien tidak malu lagi terhadap dirinya.
6. Fasilitasi kontak dengan individu yang memiliki perubahan pada citra
tubuh yang sama dengan klien.
Rasional: klien dapat saling berbagi dengan individu yang memiliki
pengalaman yamg sama sehingga dapat membantu klien dalam
mengatasi gangguan citra tubuhnya.
7. Identifikasi support groups/keluarga untuk klien.
Rasional: support group/keluarga sangat penting untuk selalu
mendukung klien dan meningkatkan citra tubuh klien.

9. Nausea
Tujuan Intervensi
Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 3 x 24 jam diharapkan 1. Dorong klien untuk mempelajari strategi untuk memanajemen mual
terjadi penurunan derajat mual dan muntah. Rasional: Dengan mendorong klien untuk mempelajari strategi
manajemen mual, akan membantu klien untuk melakukan manajemen
Kriteria Hasil: mual secara mandiri.
- Klien mengatakan tidak ada mual 2. Kaji frekuensi mual, durasi, tingkat keparahan, factor frekuensi,
- Klien mengatakan tidak muntah presipitasi yang menyebabkan mual.
- Tidak ada peningkatan sekresi saliva Rasional: Penting untuk mengetahui karakteristik mual dan
- Keinginan klien untuk makan meningkat faktorfaktor yang dapat menyebabkan atau meningkatkan mual
- Intake makanan adekuat muntah pada klien dan membantu dalam memberikan intervensi yang
- Intake cairan adekuat tepat.
3. Kaji riwayat diet meliputi makanan yang tidak disukai, disukai, dan
budaya makan.
Rasional: Untuk mengetahui makanan yang dapat menurunkan dan
meningkatkan nafsu makan klien selama tidak ada kontra indikasi.
4. Kontrol lingkungan sekitar yang menyebabkan mual.
Rasional: Faktor-faktor seperti pemandangan dan bau yang tidak
sedap saat makan dapat meningkatkan perasaan mual pada klien.
5. Ajarkan teknik nonfarmakologi untuk mengurangi mual (relaksasi,
guide imagery, distraksi).
Rasional: Teknik manajemen mual nonfarmakologi dapat membantu
mengurangi mual secara nonfarmakologi dan tanpa efek samping.
6. Dukung istirahat dan tidur yang adekuat untuk meringankan nausea.
Rasional: Tidur dan istirahat dapat membantu klien lebih relaks
sehingga mengurangi mual yang dirasakan.
7. Ajarkan untuk melakukan oral hygine untuk mendukung kenyaman
dan mengurangi rasa mual.
Rasional: Mulut yang tidak bersih dapat mempengaruhi rasa makanan
dan menimbulkan mual.
8. Anjurkan untuk makan sedikit demi sedikit.
Rasional: Pemberian makan secara sedikit demi sedikit baik untuk
mengurangi rasa penuh dan enek di perut.
9. Pantau masukan nutrisi sesuai kebutuhan kalori.
Rasional: Kebutuhan kalori perlu dipertimbangkan untuk tetap
mempertahankan asupan nutrisi adekuat.

10. PK : Anemia
Tujuan Intervensi
Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 3 x 24 jam, perawat dapat 1. Pantau tanda dan gejala anemia yg terjadi.
meminimalkan komplikasi anemia yang terjadi. Rasional: memantau gejala anemia klien penting dilakukan agar tidak
terjadi komplikasi yang lebih lanjut.
Kriteria Hasil: 2. Pantau tanda-tanda vital klien.
- TTV dalam batas normal (TD: 120/80 mmHg, nadi: 60-100 x/menit, Rasional: perubahan tanda vital menunujukkan perubahan pada
suhu: 36-37,5°C, RR: 16-20 x/menit). kondisi klien.
- Konjungtiva berwarna merah muda. 3. Anjurkan klien mengkonsumsi makanan yang mengandung banyak
- Hb klien dalam batas normal (12-16 g/dL). zat besi dan vit B12.
- Mukosa bibir berwarna merah muda. Rasional: konsumsi makanan yang mengandung vitamin B12 dan
- Klien tidak mengalami lemas dan lesu. asam volat dapat menstimulasi pemebntukan Hemoglobin.
4. Minimalkan prosedur yg bisa menyebabkan perdarahan.
Rasional: prosedur yang menyebabkan perdarahan dapat
memperparah kondisi klien yang mengalami anemia.
5. Kolaborasi pemberian tranfusi darah sesuai indikasi.
Rasional: transfusi darah diperlukan jika kondisi anemia klien buruk
untuk menambah jumlah darah dalam tubuh
DAFTAR PUSTAKA

Akatsuki. 2010. Kanker Penis. http://akatsuki-ners.blogspot.com/ [Akses: 5 Februari 2018]

Anurogo, Dito. 2008. Kanker Penis. http://www.kabarindonesia.com/berita.php?


pil=3&dn=20080218175411. [Akses: 5 Februari 2018]
Asrul. 2010. Kanker Penis. http://dokter-herbal.com/kanker-penis.html. [Akses: 5 Februari
2018]
Brunner & Suddarth. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC
Brosman, Stanley. 2011. Penile Cancer.
http://emedicine.medscape.com/article/446554overview#a0199 [Akses: 5 Februari 2018]
Craft, Martha. 2010. Diagnosa Keperawatan Nanda. Yogyakarta: Digna Pustaka
Hutabarat, Mellyssa. 2010. Kanker Penis.
http://www.meillyssach.co.cc/2010/09/kankerpenis.html. [Akses: 5 Februari 2018]
Kurnianto, Tri. 2008. Perawatan Ca Penis.
http://trikurnianto.multiply.com/photos/album/19/Perawatan_CA_penis. [Akses: 5 Februari
2018]
Muhsin, Bin. 2011. Kanker Penis.
http://islamicherbalmedicine.blogspot.com/2011/03/kanker-penis.html. [Akses: 5 Februari
2018]
Sylvia & Price. 2006. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Jakarta: Penerbit
Buku Kedokteran EG