Anda di halaman 1dari 26

SUSTAINABLE DEVELOPMENT GOALS

PERSPEKTIF AGAMA ISLAM TERHADAP KEMISKINAN


“Pemberdayaan Ekonomi Syariah Dan Sedekah Sukarela Sebagai Solusi
Mengentaskan Kemiskinan Menurut Syariah Islam”

MAKALAH
Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas individu mata kuliah TPB

Disusun oleh :

Firman Sugiharto (220110170007)

FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
JATINANGOR
2017
ii

KATA PENGANTAR

Puji syukur kita ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat
dan karunia-Nya sehingga saya bisa menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu.
Meskipun terdapat banyak rintangan dan hambatan dalam pembuatan makalah ini.
Namun berkat usaha dan kerja keras saya, makalah ini bisa terselesaikan dengan tepat
waktu. Adapun makalah ini saya susun dengan tujuan untuk memenuhi tugas individu
mata kuliah TPB (Tahap Persiapan Bersama) yang membahas tentang Sustainable
Development Goals.
Makalah ini mengambil poin pertama dalam tujuan SDGs (Sustainable
Developement Goals) yaitu Dunia Tanpa Kemiskinan yang dipandang dalam sudut Agama
Islam dengan judul “Pemberdayaan Ekonomi Syariah Dan Sedekah Sukarela Sebagai
Solusi Mengentaskan Kemiskinan Menurut Syariah Islam”. Tulisan ini membahas
tentang mengurangi kemiskinan dengan bersedekah dan kebajikan individu lainnya sesuai
syariah Islam. Tulisan ini dibuat agar pembaca lebih memahami bagaimana penanganan
kemiskinan melalui bersedekah dan kebajikan lainnya sebagai cara produktif untuk
mengentaskan kemiskinan.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang membaca makalah
ini dan dapat mengetahui mengenai salah satu program sekaligus tujuan SDGS yaitu
Dunia Tanpa Kemiskinan. Makalah ini saya susun dari sumber-sumber yang terpercaya
dan berkaitan dengan tema. Mohon maaf atas kekurangan makalah ini. Saya
mengharapkan kritik dan saran untuk memperbaiki makalah kami, dikarenakan
ketidaksempurnaan makalah ini.

Sumedang, 06 Januari 2018

Firman Sugiharto
iii

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ......................................................................................................... ii

DAFTAR ISI ....................................................................................................................... iii

BAB 1 PENDAHULUAN ................................................................................................... iii

1.1 Latar Belakang ....................................................................................................... iii

1.2 Rumusan Masalah ................................................................................................... v

1.3 Tujuan ..................................................................................................................... v

1.4 Manfaat .................................................................................................................. vi

BAB 2 LANDASAN TEORI ............................................................................................... 1

2.1 Pengertian Kemiskinan Secara Umum ................................................................... 1

2.2 Jenis – Jenis Kemiskinan ........................................................................................ 1

2.3 Kondisi Kemiskinan Di Indonesia .......................................................................... 3

2.4 Faktor Yang Menyebabkan Kemiskinan ................................................................ 4

2.5 Cara Mengurangi Masalah Kemiskinan Yang Ada Di Indonesia ........................... 4

2.6 Dampak Kemiskinan ............................................................................................... 5

2.7 Kasus Kemiskinan di Indonesia .............................................................................. 5

2.8 Pandangan Islam Terhadap Kemiskinan ................................................................. 6

2.9 Sedekah Sebagai Solusi Untuk Mengentaskan Bencana Kemiskinan .................. 10

2.10 Ekonomi Syariah Sebagai Solusi Utama Dalam Mengentaskan Masalah


Kemiskinan .............................................................................................................. 13

BAB III PENUTUP ........................................................................................................... 18

3.1 Kesimpulan ................................................................................................................ 18

3.2 Saran .......................................................................................................................... 19

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................................ 20


iv

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Sustainable Development Goals (SDGs) merupakan suatu program untuk acuan


dalam pembangunan berkelanjutan dan perundingan negara-negara di dunia. Selain itu
SDGs adalah salah satu program pemerintah yang bertujuan untuk menyejahterakan
masyarakat indonesia secara menyeluruh dan tidak pandang ras, suku serta agama
manapun. SDGs sendiri memiliki konsep yang diperlukan untuk pembangunan baru secara
universal. SDGs ini memang melanjutkan konsep dari MDGs yang sudah berakhir pada
tahun 2015. Dalam konsep pengembangan SDGs memiliki tiga pilar utama yaitu indikator
pembangunan manusia di antaranya pendidikan dan kesehatan, indikator lingkungan kecil
seperti ketersediaan saran, prasarana lingkungan, dan pertumbuhan ekonomi dan pilar yang
terakhir yaitu indikator lingkungan lebih besar berupa ketersediaan sumber daya alam dan
kualitas lingkungan yang baik. SDGs mempunyai pondasi dasar dalam tujuannya yaitu
kesejahteraan dan perdamaian, manusia, kemitraan dan manusia. Lima pondasi tersebut
memiliki tujuan pada tahun 2030 mendatang yaitu mengakhiri permasalahan yang
membuat suatu negara terpuruk dan menderita total baik dalam segi material maupun
formil. Salah satu tujuan dari program SDGs ini adalah “Dunia Tanpa Kemiskinan” yang
mana diharapkan disuatu Negara tidak terjadi masalah ekonomi seperti kemiskinan.
Terdapat 3 prinsip SDGs sendiri yaitu universal, integrasi dan no one left behind atau
dalam menjalankan kegiatan harus melibatkan semua komponen dan tidak ada yang
tertinggalkan.
Kemiskinan adalah salah satu masalah sosial sekaligus menjadi masalah ekonomi
yang terjadi di beberapa negara termasuk Negara Indonesia. Di Indonesia sendiri
kemiskinan mengalami peningkatan drastis setiap tahunnya, hal ini yang menyebabkan
Negara Indonesia masih dikategorikan sebagai Negara berkembang sampai sekarang ini.
Terdapat 2 tingkatan kemiskinan, yaitu kemiskinan absolut dan kemiskinan relatif.
Masalah kemiskinan menjadi masalah besar bagi umat muslim untuk sekarang ini.
Disamping dilambangkan sebagai suatu kebodohan baik jasmani maupun rohani, itulah
yang menjadi ciri khas umat islam saat ini. Agama islam memandang kemiskinan sebagai
bentuk kemalasan seseorang yang tidak mau berusaha dalam merubah nasibnya.
v

Masalah kemiskinan menjadi hal pokok yang harus segera diselesaikan baik oleh
individu maupun oleh pemerintah, karena masalah ini banyak sekali dampak yang
ditimbulkannya. Dalam dunia pendidikan kemiskinan sebagai faktor penghambat dalam
pelaksanaan program pemerintah berbasis pendidikan berkualitas, dampak lain yang
ditimbulkan yaitu meningkatnya angka kriminalitas di Indonesia. Dampak dalam
pandangan Islam meliputi kemiskinan membahayakan aqidah, akhlak, moral dan
kehidupan berkeluarga.
Namun, masyarakat kebanyakan enggan peduli terhadap masalah kemanusiaan ini,
kesadaran rasa peduli masyarakat terhadap orang di sekitar masih rendah. Tali
persaudaraan sesama muslim haruslah di tingkatkan sebagai solusi untuk mengatasi
masalah kemiskinan.
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Apa pengertian kemiskinan secara umum?
1.2.2 Apa saja faktor yang menyebabkan kemiskinan?
1.2.3 Apa saja jenis-jenis kemiskinan?
1.2.4 Bagaimana kondisi kemiskinan di Indonesia?
1.2.5 Bagaimana upaya dan solusi untuk mengatasi kemiskinan di Indonesia?
1.2.6 Bagaimana Agama Islam memandang Kemiskinan?
1.2.7 Bagaimana Pandangan Islam mengenai Sedekah?
1.2.8 Mengapa Sedekah sebagai solusi untuk mengentaskan kemiskinan menurut
Agama Islam?
1.2.9 Mengapa Ekonomi Syariah sebagai solusi untuk mengentaskan kemiskinan
menurut Agama Islam?
1.3 Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
1.3.1 Mengetahui konsep kemiskinan dalam segala aspek.
1.3.2 Mengetahui solusi dan upaya pencegahan dari masalah kemiskinan.
1.3.3 Mengetahui kondisi dan kasus-kasus kemiskinan di indonesia.
1.3.4 Mengetahui pandangan islam mengenai kemiskinan.
1.4 Manfaat
1.4.1 Menambah pengetahuan dan wawasan tentang konsep kemiskinan.
1.4.2 Sebagai literatur bagi mahasiswa, khususnya mahasiswa Universitas
Padjadjaran.
BAB 2

LANDASAN TEORI

2.1 Pengertian Kemiskinan Secara Umum


Kemiskinan adalah suatu keadaan di mana suatu individu atau kelompok
masyarakat dalam keadaan tidak mampu baik dalam keperluan sandang,papan maupun
pangan dan bisa juga dikatakan serba kekurangan. Seperti halnya seseorang tidak
mempunyai tempat untuk berteduh (rumah) dan kekurangan pangan, dalam hal ini
seseorang bisa dikatakan dalam keadaan kemiskinan.
Kemiskinan adalah suatu keadaan yang berada dibawah suatu garis kemiskinan.
Garis kemiskinan merupakan tolak ukur dalam hal pendapatan seseorang setiap bulannya,
ada beberapa aspek dalam garis kemiskinan sendiri yaitu :
a. Tempat berlindung;
b. Pangan;
c. Kesehatan;
d. Pendidikan;
e. Kendaraan atau Transportasi.
Seseorang dikatakan bebas dari kemiskinan yaitu jika seseorang yang sudah
memenuhi beberapa aspek tersebut.
2.2 Jenis – Jenis Kemiskinan
Kemiskinan dalam segi umum dibagi menjadi 3 kategori tingkatan yaitu :
a. Kemiskinan Absolut
Kemiskinan Absolut adalah di mana suatu keadaan seseorang tidak bisa
memenuhi kebutuhan kesehariannya (makan.minum,pendidikan,dan kesehatan)
serta pendapatannya kurang dari garis kemiskinan.
b. Kemiskinan Relatif
Kemiskinan Relatif adalah kemiskinan yang dipengaruhi oleh tingkat kepuasan
seseorang dalam menilai suatu hal atau kondisi, tentunya kemiskinan relatif ini
lebih baik diatas kemiskinan absolut, serta pendapatan seseorang diatas garis
kemiskinan.
c. Kemiskinan Struktural
Kemiskinan kultural merupakan jenis kemiskinan yang sangat berkaitan
dengan sikap individu atau kelompok masyarakat tertentu yang enggan berusaha
2

menciptakan kehidupan yang lebih baik lagi sekalipun terdapat bantuan dan usaha
dari orang lain yang membantunya (Nur Kholis, 2014).
Sedangkan dalam islam jenis kemiskinan dapat dibagi 2 yakni :
a. Fakir
Fakir adalah keadaan seseorang yang tidak mampu memenuhi kebutuhan
hidupnya dalam segala aspek, bisa dibilang tidak memiliki apapun untuk memenuhi
kehidupannya.
Secara bahasa, fakir berasal dari kata faqrun yang bermakna hal yang lepas
dari segala sesuatu baik anggota tubuh maupun lainnya. Ibnu Faris berkata bahwa
ahli bahasa berkata bahwa orang fakir ialah orang yang seakan-akan patah tulang
punggungnya karena tergelincir dalam kemiskinan itu sendiri. Di kitab suci umat
Islam, kata fakir baik dalam bentuk tunggal maupun jamak dapat ditemukan di 8
ayat Alquran. Sedangkan KBBI edisi kelima mendefinisikan fakir sebagai, “orang
yang berkekurangan;orang yang terlalu miskin.”
b. Miskin
Miskin adalah keadaan seseorang yang mana bisa dikatakan mampu
memenuhi namun hanya sebagian yang terpenuhi, intinya keadaan miskin disini
mempunyai sebagian harta namun belum cukup untuk memenuhi kebutuhan
hidupnya.

Kata miskin berasal dari kata as-sakan yang berarti lawan kata dari
bergerak. Dapat diartikan bahwa mereka yang miskin adalah mereka yang tidak
memiliki apa-apa atau kepemilikan mereka tidak mencukupi kebutuhan mereka.
Dapat diartikan pula bahwa mereka tidak dapat bergerak bebas atau bahkan tidak
bergerak sama sekali sehingga memilih berdiam saja dan tidak meminta-minta
kepada orang lain. Dapat didefinisikan pula bahwa orang miskin akibat kekurangan
dan ketidakmampuannya membuat ruang geraknya sempit dan ia tidak dapat
bergerak bebas karena fokusnya hanya pada pemenuhan kebutuhan dasarnya
semata.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa keadaan seseorang dalam kategori fakir
lebih parah dibandingkan keadaan miskin. Namun masyarakat banyak yang
beranggapan bahwa fakir dan miskin merupakan hal yang sama.
3

2.3 Kondisi Kemiskinan Di Indonesia

Grafik persentase kemiskinan 1

Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan, dari tahun 1998 sampai
tahun 2017 tingkat kemiskinan di Indonesia mengalami pasang surut. Dilihat dari grafik
angka kemiskinan tersebut tingkat kemiskinan yang paling parah yaitu pada tahun 1998
yang diakibatkan masih banyaknya pengangguran dan terbatasnya pendidikan yang
diperoleh masyarakat, sedangkan tingkat kemiskinan yang paling rendah adalah pada tahun
2013, dikarenakan pendidikan yang sudah lumayan dan banyak dari program pemerintah
yang terealisasikan kepada masyarakat kalangan bawah seperti bantuan langsung tunai,
tunjangan pendidikan, bantuan sandang dan pangan sudah terealisasikan, dan pada tahun
2015 sampai tahun 2017 tingkat kemiskinan bisa dibilang cukup stabil.
Tingkat kemiskinan di Indonesia disebabkan karena paradigma masyarakat yang
masih cenderung mengekang terhadap adat istiadat dan kebiasaan setiap harinya di
masyarakat. Hal in yang menjadi tantangan bagi pemerintah maupun masyarakat Indonesia
sendiri. Selain paradigma masyarakat, yang menjadi faktor lainnya yaitu pemerintah dalam
pemberian komidi makanan terhadap warga miskin lebih besar dibandingan komoditi
bukan makanan (pendidikan, kesehatan, dan tempat tinggal). Hal ini juga dapat
memengaruhi karena dominan penyebab dari meningkatnya kemiskinan adalah pendidikan
yang rendah dan banyak masyarakat yang sakit, sehingga mereka tidak bisa bekerja.
Badan pusat statistik (BPS) mencatat, pada Maret 2017 jumlah penduduk miskin
yaitu penduduk yang pengeluaran per kapita di bawah garis kemiskinan berjumlah 27,77
juta orang atau setara dengan 10,64 persen jumlah penduduk indonesia. Jumlah tersebut
merupakan angka yang lumayan banyak. Jika ditinjau dari Sumber Daya Alam yang
dimiliki oleh Indonesia, seharusnya angka kemiskinan tersebut dapat dikuruskan lagi,
4

namun karena belum meratanya pengelolaan Sumber Daya Alam sehingga tingkat
kemiskinan semakin gendut kian tahun.

2.4 Faktor Yang Menyebabkan Kemiskinan


Berikut adalah faktor-faktor penyebab terjadinya bencana kemiskinan di beberapa
negara :
a. Seseorang malas dan tidak ada usaha untuk bekerja;
b. Lapangan pekerjaan yang tidak mumpuni;
c. Rendahnya pendidikan seseorang yang dapat menyebabkan sulit untuk mencari
pekerjaan;
d. Rendahnya daya kreativitas seseorang sehingga dapat menyebabkan keterbatasan
inovasi;
e. Faktor budaya dan adat istiadat juga salah satu faktor yang memengaruhi
kemiskinan;
f. Pekerja buru hanya bergantung pada musim, sehingga pendapatan yang dihasilkan
kurang maksimal atau kurang memenuhi untuk kehidupan kesehariannya;
g. Kurangnya motivasi atau dorongan dari keluarga dan masyarakat sekitar akan
pentingnya suatu pekerjaan dalam menjalani kehidupan;
h. Laju pertumbuhan penduduk yang sangat drastis;
i. Rendahnya pendapatan seseorang;
j. Lemahnya mentalitas seseorang mengakibatkan munculnya sikap putus asa;
k. Tidak tersalurkannya bantuan pokok dari pemerintah.
2.5 Cara Mengurangi Masalah Kemiskinan Yang Ada Di Indonesia
Upanya mengurangi masalah sosial ini perlu dilakukan oleh beberapa pihak yang
saling berkaitan, diantaranya :
a. Pemerintah
- Menurunkan harga BBM yang menjadi kebutuhan dasar masyarakat;
- Membuka lapangan pekerjaan sebanyak mungkin untuk para pengangguran;
- Memperbaiki sistem pendidikan yang ada di sekolah-sekolah maupun di
perguruan tinggi;
- Pengelolaan sumber daya alam yang baik, tidak hanya bergantung dengan
negara lain;
- Melaksanakan program BLT (Bantuan Langsung Tunai);
5

- Memberantas para koruptor yang dapat menyebabkan krisis moneter di negara


Indonesia;
- Mengadakan sosialisasi atau pemeriksaan gratis bagi orang miskin.
b. Individu
- Semangat dalam menuntut ilmu untuk mendapatkan gelar setinggi-tingginya;
- Menabung adalah salah satu cara praktis;
- Mencari pekerjaan yang layak;
- Saling berbagi dan tolong menolong sesama umat manusia khususnya umat
muslim;
- Saling menasehati atar sesama umat muslim;
- Selalu bersyukur atas nikmat yang dikaruniai Allah SWT.
2.6 Dampak Kemiskinan
Dampak yang akan ditimbulkan dari masalah sosial kemiskinan ini adalah sebagai
berikut :
- Meningkatnya jumlah pengangguran;
- Meningkatnya tingkat kriminalitas;
- Banyak masyarakat yang mengalami kelaparan;
- Muncul berbagai penyakit karena kelaparan, misalnya : Gizi buruk;
- Rendahnya pendidikan seseorang;
- Tingkat kesehatan masyarakat semakin memburuk;
- Terhambatnya infrastruktur di suatu negara;
- Terhambatnya proses pendidikan;
- Menimbulkan konflik permusuhan dalam kehidupan masyarakat.
2.7 Kasus Kemiskinan di Indonesia
Ada 2 contoh kasus yang dilatarbelakangi oleh dampak kemiskinan, antara lain :
a. Pembunuhan
Kejadian pembunuhan ini terjadi di Kota Jakarta, pelaku pembunuhan
bernama Baekuni. Baekuni ini adalah pelaku pembunuhan sekaligus mutilasi tujuh
orang anak kecil. Masyarakat mengira jika Baekuni ini menderita sakit jiwa dan stress
sehingga berani melakukan perbuatan keji seperti ini. Ada juga dugaan mengenai
pelaku pembunuhan berantai ini terlibat dalan transaksi jual beli organ manusia,
karena hal ini disertai dengan bukti bahwa pelaku tidak memiliki salah satu bagian
organnya, sebut saja ginjalnya.
6

Seorang psikolog universitas indonesia, Prof Dr. Sarlito wirawan mengatakan


bahwa pelaku mengalami gangguan jiwa ataupun terlibat dalam transaksi jual beli
organ manusia, melainkan pelaku mengalami stres dan depresi yang diakibatkan
masalah ekonomi yang di derita selama hidupnya.
b. Bunuh Diri
Seorang kakek berasal dari Desa Sangkanayu, Purbalingga, Jawa Tengah ini
melakukan aksi bunuh diri di dekat rumahnya. Kakek ini menggantungkan dirinya
dibawah pohon kopi dengan leher diikat menggunakan tali plastik. Nuryati selaku
anak korban bercerita mengenai korban, sebelum korban melakukan aksi ini,
korban sempat mengeluh mengenai kondisi fisik yang tidak memungkinkan untuk
bekerja kembali hal ini membuat korban depresi dan nekat untuk melakukan aksi
bunuh diri.

2.8 Pandangan Islam Terhadap Kemiskinan

Islam sendiri mengajarkan kita untuk semangat dan tawakal dalam menghadapi
kekurangan yang dikaruniai Allah SWT. Dalam Agama Islam sendiri tidak mengenal
yang dinamakan kemiskinan, karena Agama Islam juga mengajarkan kita sifat
“qana’ah” yang artinya merasa cukup dalam segala hal. Kita harus banyak bersyukur
atas apa yang telah diberikan oleh Tuhan kepada kita.
Agama Islam melihat kemiskinan sebagai bentuk kemalasan seseorang dalam
merubah nasibnya untuk lebih baik lagi. Dalam Agama Islam takdir itu dibagi menjadi
2 yaitu qada dan qadar. Qada itu takdir yang tidak bisa diubah sedangkan Qadar yaitu
takdir yang masih bisa diubah dengan cara kita bekerja keras, tawakal dan tentunya
disertai dengan berdoa. Jadi, dengan kata lain takdir kemiskinan itu bisa diubah asalkan
orang tersebut berniat untuk merubahnya. Allah SWT menurunkan rezekinya untuk
seseorang yang mau berusaha dan bertawakkal dijalannya, Allah tidak menyukai
orang-orang yang mudah putus asa hanya dengan cobaan sedikit yang diberinya dan
juga Allah pasti akan memberikan jalan keluar yang terbaik untuk umatnya.
Islam tidak memandang harta sebagai tolak ukur kekayaan, akan tetapi islam
memandang seseorang dilihat dari kekayaan hatinya dan rasa kepuasannya. 10
Kosakata Islam menurut Al-Qur’an mengenai kemiskinan yakni al-dha’if (lemah), al-
mu’tarr (seseorang yang memerlukan bantuan), al-mahrum (tidak berdaya), al-qani
7

(kekurangan),al-maskanat (kemiskinan), al-faqr (kefakiran), al-imlaq (kekurangan


harta), al-sail (peminta), al-’ailat (mengalami kekurangan), al-ba’sa (kesulitan hidup).
Dari beberapa 10 kata diatas menerangkan mengenai kemiskinan dan bagaimana
cara menanggulanginya.
Faktor Kemiskinan menurut pandangan islam :
- Penindasan (QS Al-Hasyr/59: 8);
- Keterbatasan untuk berusaha (Q.S. Al-Baqarah/2: 273);
- Cobaan Tuhan (QS Al-An’am/6: 42);
- Pelanggaran terhadap hukum-hukum Tuhan (QS Al-Baqarah/2: 61).
Masalah kemiskinan bisa dikatakan sebagai masalah seumur hidup,walaupun
pemerintah sudah menanggulanginya dan memang pada kenyataannya sedikit berhasil
mengurangi kemiskinan ini, namun hanya saja masih terdapat daerah yang benar-benar
dibawah ambang antara hidup atau mati karena kondisi kelaparan. Maka dari itu kita
harus menyadari bahwa kenyataan dari hasil survei pemerintah dengan kenyataannya
berbeda.
Dampak dari masalah ini juga sangat banyak seperti, kelaparan, kekurangan gizi,
kekerasan dalam rumah tangga dan bahkan akan menimbulkan kriminalitas yang akan
membahayakan bagi masyarakat sekitar. Dalam hal ini terdapat hukum alam yang mana
terdapat si kaya dan miskin. Islam mengajarkan kita di mana seseorang yang kaya disini
wajib membantu orang miskin atau orang yang membutuhkan bantuan.
Adapun solusi yang diajarkan Agama Islam untuk mengurangi kemiskinan atau
bahkan menghilangkan kemiskinan untuk yang mampu secara materi atau finansial yaitu
dengan memberikan zakat, infak, sedekah, memberikan hadiah dan lain-lain. Sedangkan
yang tidak mampu secara materi bisa dengan menasehati, memotivasi, dan
menyemangatkan kepada kalangan orang pinggiran.

2.8.1 Dampak kemiskinan menurut pandangan Agama Islam


1. Kemiskinan membahayakan Aqidah
Tidak bisa di pungkiri bahwa kemiskinan merupakan penyakit dalam keruntuhan
aqidah seseorang. Terutama jika orang miskin sudah bekerja dengan keras dan mati-
matian namun hasil yang didapatkan tidak ada apa-apanya atas kerja yang dilakukannya
atau bahkan tidak menimbulkan hasil sama sekali. Tetapi, di balik itu terdapat orang
kaya yang hanya duduk bersantai menikmati materi yang dimilikinya. Disinilah orang-
8

orang miskin mulai berpikir keraguan kepada Allah SWT atas keadilan dan
kesejahteraan yang diberikan Tuhan terhadapnya.
2. Kemiskinan membahayakan Akhlak dan Moral
Banyak kejahatan kriminalitas yang timbul di negara kita sebagai contoh
rendahnya Akhlak dan moral yang dimiiki seseorang. Hal ini diakibatkan karena
seseorang sudah tidak tahan lagi akan kehidupan miskin yang di rasakannya mulai dari
pangan dan sandang atau bahkan kesehatan yang tidak bisa ia dapatkan. Maka tidak
heran banyak sekali pelanggaran kriminalitas yang terjadi di Indonesia yang bersumber
dari masalah kemiskinan.
3. Kemiskinan membahayakan kehidupan keluarga
Pandangan seorang wanita terhadap pria yang akan di nikahinya adalah dilihat dari
seberapa kayanya dia. Hal ini merupakan langkah awal rusaknya hubungan keluarga.
Setelah menjalin sebuah keluarga, kemiskinan sebagai indikator bahwa keluarga tersebut
dikatakan bahagia atau sengsara. Jika dalam sebuah keluarga dilanda masalah
kemiskinan, akibat buruknya yaitu akan timbul konflik dan berujung pada perceraian.
Perceraian merupakan hal yang sangat dibenci Allah SWT, perceraian ini timbul karena
seorang istri tidak tahan lagi terhadap suami yang tidak bisa menafkahi keluarganya.
2.8.2 Solusi menanggulangi kemiskinan menurut Agama Islam :
1. Pemberian Makanan
Pemberian makanan kepada orang-orang yang miskin sendiri adalah salah satu
cara bagaimana supaya kita semua umat islam terbebas dari kemiskinan. Namun makanan
yang diberikan juga harus diperhatikan,tidak makanan yang sudah lama membusuk
dikasihkan ke orang miskin, yang dianjurkan adalah makanan yang disukai oleh para
orang yang kurang mampu. Dasar dari pemberian makanan ini adalah jawaban dari orang-
orang yang berdosa dalam (QS. Al-Muddatsir : 44) yang artinya yakni "Dan kami tidak
memberi makan terhadap orang miskin."
2. Infak
Dasarnya adalah (Q.S : Al-Baqarah 2:177) yang artinya yakni “... dan memberikan
harta yang dicintainya kepada kaum kerabatnya dan orang-orang miskin...". Agama
Islam mengajarkan kita saling membantu dan saling mengasihi. Terutama kepada orang
pinggiran yang bisa dikatakan sebagai orang miskin. Sesungguhnya Allah SWT telah
berfirman yang berbunyi “ Seseorang yang melaksanakan infak baik itu harta maupun
benda maka tidak berkurang satupun harta dan bendanya”. Maksudnya jika kita
9

bersedekah kepada seseorang, itu tidak akan membuat kita miskin atau jatuh bangkrut.
Karena semua itu pasti akan ada balasannya kelak.
3. Fidya
Fidya adalah kewajiban seseorang untuk memberikan infak atau shadaqah yang di
maksudnya untuk menghapus dosa-dosa seseorang karena tidak melaksanakan kewajiban
umat muslin, seperti puasa ramadan. Fidya diberikan ke orang-orang yang tidak mampu,
anak yatim dan orang tua yang dikatakan tidak bisa mencari pekerjaan yaitu orang jompo.
Bentuk dari fidya sendiri bisa berupa beras,makanan, ataupun uang.
4. Pemberian Sebagian Warisan
Pemberian sedikit harta dari hasil warisan keluarga adalah salah satu cara untuk
menanggulangi masalah kemiskinan ini.
5. Zakat
Zakat dimaksudkan untuk membersihkan dan mensucikan diri kita dari dosa
yang telah kita perbuat. Orang-orang muslim beranggapan jika kita memberikan sebagian
harta kita (dalam artian zakat) niscaya harta kita akan bertambah banyak. Kandungan
yang penting dalam zakat adalah untuk mensucikan hati dan harta dari akhlak yang
kurang baik dan niscaya akan terhindar dari hina dan perzinaan.
Namun, banyak sekali umat muslim menganggap zakat itu seperti sedekah.
Zakat berbeda dengan shadaqah, zakat bagi umat muslim itu hukumnya wajib terdapat
pada salah satu nilai dari Rukun Islam yaitu ruku islam yang ke 3. Sedangkan shodaqah
hukumnya sunnah, sedekah dimaksudnya seseorang untuk lebih mendekatkan diri kepada
Allah SWT.
6. Bantuan Rutin
Dalam kehidupan bermasyarakat ada orang miskin yang memang tidak
memungkinkan untuk bekerja yaitu orang-orang yang sudah tua dan cacat. Rasulullah
SAW mengajarkan kita untuk saling berbagi dan bersedekah kepada orang yang tidak
mampu. Sedekah bisa dilakukan perseorangan kepada orang yang tidak mampu atau bisa
juga kepada lembaga yang memang dalam kerjaannya mengurus hal sedekah.
Pemberian sedekah rutin kepada orang yang tidak mampu untuk bekerja itu telah
dipraktikan oleh Nabi Muhammad SAW. Sebagaimana Hadist Rasulullah SAW yang
berbunyi :
“Telah menceritakan kepada kami Musaddad, telah menceritakan kepada
kami ‘Īsā ibn Yūnus, telah menceritakan kepada kami Hishām ibn ‘Urwah
10

dari ayahnya dari ‘Ubaid al-Allāh ibn ‘Adῑ ibn al-Khiyār berkata: telah
mengabarkan kepadaku dua orang yang telah menemui Rasulullah asw.
pada waktu haji wadā‘ sementara beliau sedang membagikan zakat, mereka
berdua meminta kepada beliau sebagian dari zakat tersebut, lalu beliau
mengangkat pandangannya kepada kami lalu menundukkannya dan beliau
melihat kami adalah orang yang kuat, lalu beliau berkata: “Kalau kalian
berdua menginginkannya maka kami akan memberikan kepada kalian
berdua, dan tidak ada bagian dalam zakat tersebut bagi orang yang kaya
dan orang yang mampu untuk bekerja”.
Maksud hadist di atas , Nabi Muhammad SAW menjelaskan terlebih dahulu siapa
saja yang layak dan tidak layak untuk diberikan bantuan sedekah. Golongan yang tidak
layak mendapatkan sedekah yakni orang kaya dan orang yang masih bisa untuk bekerja
dan berusaha selama hidupnya, dan yang layak untuk diberikan sedekah atau bantuan
rutin adalah orang yang sudah tua (yang tidak kuat untuk bekerja) dan cacat.
Oleh karena itu, jika terjadi kemiskinan orang-orang miskin diberi hak atas
sebagian harta dari orang-orang kaya, karena sebenarnya dalam harta orang-orang kaya
itu terdapat hak bagi orang-orang miskin (QS. Al-Ma’arij : 24-25).
Dari uraian di atas, Pandangan Islam terhadap kemiskinan bahwa harta yang Allah
SWT titipkan kepada orang-orang kaya itu bersifat relatif, maksudnya yakni harta akan
hilang dengan sekejap jika Allah SWT menghendakinya. Allah SWT menitipkan harta
lebih kepada orang-orang kaya senantiasa agar disalurkan ke hal yang diinginkannya.
2.9 Sedekah Sebagai Solusi Untuk Mengentaskan Bencana Kemiskinan
Al-Qur’an adalah kitab Allah SWT yang berisi firman-firman Allah yang
diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW yang bertujuan sebagai pedoman hidup umat
muslim seluruh dunia. Salah satu isi pokok dari Al-Qur’an yaitu tata cara bagaimana
seharusnya seseorang dalam mengentaskan suatu permasalahan salah satunya adalah
masalah kemanusiaan yaitu kemiskinan. Al-Qur’an memberikan solusi untuk
mengentaskan kemiskinan ini dengan cara bersedekah.
Dalam Al-Qur’an pada surah Al-Juma’ah ayat 10 yang bermakna mengenai cara
islam dalam mengentaskan kemiskinan ini salah satunya dengan bersedekah, baik
sedekah yang sifatnya wajib maupun sedekah yang bersifat sunnah. Sedekah dalam islam
dibagi 2, ada yang bersifat wajib yaitu Zakat dan yang sunnah yaitu sedekah sukarela. Di
mana Islam tidak mewajibkan kepada kaum kafir miskin untuk melaksanakan sedekah
11

ini, kewajiban ini diatur dalam Al-Qur’an yang dituju kepada kaum muslim sesuai dengan
kemampuan masing-masing.
2.9.1 Pengertian sedekah
Sedekah merupakan sesuatu (harta, ilmu, dan informasi) yang dikeluarkan dan
dilakukan oleh seorang umat muslim yang bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah
SWT.
2.9.2 Hukum Bersedekah
Banyak sekali hadist dan dalil yang mengatur mengenai sedekah, sebagaimana
firman Allah SWT dalam bersedekah :
Artinya : “Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka,
kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi
sedekah, atau berbuat ma'ruf, atau mengadakan perdamaian di antara
manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari
keridhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang
besar.” (QS. An-nisa : 114).

Di mana dalil tersebut mengarahkan kepada umat muslim supaya bersedekah


apabila dia mampu yang berguna untuk membersihkan harta yang dimilikinya. Hukum
bersedekah bergantung pada jenis bersedekahnya. Ada juga sedekah yang menjadi haram
ketika seorang pemberi sedekah mengetahui bahwa penerima sedekah akan menggunakan
pemberiannya untuk perbuatan yang haram dan keji, ada pula yang bersifat wajib jika
dalam keadaan seseorang melihat orang yang sedang kelaparan dan sangat membutuhkan
bantuan atau bahkan akan mengancam kehidupannya, dalam hal ini sedekah bagi orang
yang melihatnya bersifat wajib. Ada hal lain juga yang menyebabkan sedekah menjadi
wajib yaitu ketika seseorang sudah bernazar untuk bersedekah pada suatu kelompok fakir
atau ke suatu lembaga.
2.9.3 Sasaran sedekah
Sasaran sedekah yang paling utama itu kepada kerabat atau saudara dekat terlebih
dahulu, lalu apabila tidak ada ke tetangga , dan kemudian ke orang lain yang kita tidak
kenal yang sangat membutuhkan bantuan dan bisa dibilang dapat mengancam
kehidupannya.
2.9.4 Etika dalam bersedekah
Hal –hal yang harus diperhatikan oleh seseorang apabila hendak bersedekah, antara
lain :
12

a. Cara bersedekah
Allah SWT mengajarkan kita sikap sopan dan santun, maka dari itu apabila
seseorang ingin bersedekah harus memerhatikan keadaan si penerima dengan cara tidak
membuat perasaannya tersinggung atau bahkan melukai hati penerima.
b. Larangan mengungkit-ungkit sedekah
Sedekah yang diterima oleh Allah SWT adalah sedekah yang benar-benar ikhlas
dan yang bertujuan untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Allah juga memerintahkan kita
agar tidak bersifat riya dalam segala hal termasuk bersedekah, karena sifat riya tersebut
bisa menghapus segala pahala termasuk pahalah bersedekah.
c. Sedekah dengan sembunyi-sembunyi
Al-Qur’an menganjurkan kepada seluruh umat muslim jikalau dari mereka yang
ingin bersedekah diutamakan bersedekah dengan sembunyi-sembunyi. Hal ini
dimaksudkan agar tidak ada pandangan sebelah mata atau berpikiran buruk terhadap
kegiatan sedekah.
d. Bersedekah dengan keikhlasan
Pada dasarnya semua hal yang kita lakukan haruslah kita berikan dengan ikhlas
dan tidak mengharapkan imbalan apapun, apalagi jika niat bersedekah hanya untuk
eksistensi seseorang dalam status masyarakatnya.
2.9.5 Balasan bagi orang yang bersedekah
Dalam Al-Qur’an perintah untuk bersedekah pada awalnya tidak mewajibkan
seseorang untuk melakukannya, namun hanya sebagai anjuran. Sebagaimana yang firman
Allah SWT yang berbunyi :
Artinya : “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang
yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir
benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji.
Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan
Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah
: 261).
Balasan bagi orang-orang yang bersedekah di lihat dari banyaknya manfaat dari
bersedekah, antara lain :
a. Sedekah dapat menambah rezeki;
b. Menghilangkan sifat kikir dan dengki;
13

c. Menghilangkan sifat riya dan sombong;


d. Membersihkan harta dari segala hal yang mengharamkan;
e. Bersedekah sebagau tolak bala (menolak musibah);
f. Dapat menciptakan suasana ketentraman dan kesejahteraan seseorang.
Islam mengajarkan umatnya untuk memiliki kemurahan hati dan kelapangan
untuk memberikan kepada yang lebih membutuhkan. Dalam keadaan apapun umat Islam
dianjurkan untuk selalu bersedekah. Selain untuk membantu menghilangkan kemiskinan,
bersedekah juga mendatangkan pahala bagi orang yang memberi sedekah.
Islam sudah menafsirkan segala solusi suatu permasalahan dalam Al-Qur’an,
segala permasalahan pasti ada jalan keluarnya. Untuk masalah kemiskinan ini , bersumber
dari sifat kikir, riya, dan sombong seseorang sehingga harta yang dimilikinya tidak
terbuang dengan sia-sia dan yang pasti harta yang diperoleh akan lebih banyak dan
bermanfaat bagi semua orang yang membutuhkan. Sebagaimana yang sudah diajarkan
dari sejarah Rasulullah saw, yang hidupnya mengutamakan orang lain dibandingkan diri
sendiri. Salah satunya yang dicontohkan yaitu mengenai sedekah , yang mana sedekah
adalah sebagai solusi untuk mengatasi atau bahkan mencegah bencana kemiskinan umat
muslim di seluruh dunia.
2.10 Ekonomi Syariah Sebagai Solusi Utama Dalam Mengentaskan Masalah
Kemiskinan
2.10.1 Pengertian Ekonomi syariah
Ekonomi syariah merupakan suatu usaha yang dilakukan oleh perseorangan,
kelompok, dan badan hukum ataupun tidak berbadan hukum yang bertujuan untuk
memenuhi kebutuhan kelangsungan hidup yang bersifat niaga dan tidak niaga di mana
semua proses yang dilaksanakan sesuai dengan prinsip-prinsip syariah.
2.10.2 Prinsip Ekonomi Syariah
Berikut adalah prinsip-prinsip ekonomi syariah :
a. Kebebasan Individu
Individu memiliki hak dan kesempatan yang luas dan sama di mana semua itu
berorientasi agar suatu individu dapat mengeksplor daya kreativitasnya dalam rangka
melakukan suatu inovasi dalam hidupnya.
b. Hak Terhadap Harta
14

Dalam kepimilikan harta dan hasil keuntungan sudah diatur dalam perundang-
undangan ekonomi syariah di mana didasarkan atas kesepakatan bersama, sehingga akan
timbul sikap menghargai dan menghormati akibat keberadaannya harta tersebut.
c. Jaminan Sosial
Ekonomi syariah juga sangat memerhatikan lingkungan sosial dan keadaan sosial
melalui program zakat, infak, sedekah sukarela dan bantuan langsung tunai yang
bertujuan untuk kesejahteraan masyarakat.
d. Larangan Menimbun Kekayaan Dan Pentingnya Mendistribusikan Harta
Pembatasan penimbunan harta kekayaan yang dianjurkan dalam aturan ekonomi
syariah ini sangat bermanfaat bagi kehidupan kita, karena dengan hal ini kita bisa
terhindar dari sifat kikir atau penuh perhitungan. Sebenarnya dalam ekonomi syariah
hanya sebatas membatasi tidak melarang seseorang untuk menimbun hartanya.
e. Kesejahteraan Individu dan masyarakat
Masyarakat merupakan faktor utuh dalam pembentukan karakter suatu individu
dalam kesehariannya. Dalam hal ini keberadaan dan keterlibatan masyarakat dan individu
sangat penting dalam program pembangunan ekonomi syariah yang lebih maju.

2.10.3 Ruang Lingkup dan Sumber Ekonomi Syariah


1. Ruang Lingkup Ekonomi Syariah :
Menurut UU No. 3 Tahun 2006 tentang Perubahan atas UU No. 7 Tahun 1989
tentang Peradilan Agama, maka dapat diketahui bahwa ruang lingkup ekonomi syariah
meliputi :
- Bank Syariah;
- Lembaga Keuangan Mikro Syariah;
- Asuransi Syariah;
- Reasuransi Syariah;
- Reksadana Syariah;
- Obligasi Syariah dan Surat Berjangka Menengah Syariah;
- Sekuritas Syariah;
- Pembiayaan Syariah;
- Pegadaian Syariah;
- Dana Pensiunan Lembaga Keuangan Syariah;
- Bisnis Syariah.
15

2. Sumber Ekonomi syariah meliputi :


a. Al-Quran
Al-Quran merupakan sumber pokok yang terpercaya dalam pelaksanaan ekonomi
syariah. Di mana dalam Al-Quran sudah tercantum aturan dan pedoman mengenai
pembagian hasil, makna riba, dan syarat-syarat adanya transaksi perdagangan.
b. As Sunnah an-Nabawiyah
As Sunnah an-Nabawiyah merupakan sumber kedua yang didalamnya tertera
perundang-undangan ekonomi islam.
c. Ijtihad
Ijtihad merupakan suatu kemampuan seorang faqih dalam proses analisis hukum-
hukum islam.
2.10.4 Tujuan Ekonomi Syariah
Berikut ada beberapa tujuan dari ekonomi syariah, antara lain :
a. Menciptakan kesejahteraan dalam lingkup ekonomi islam;
b. Membentuk perilaku masyarakat dalam hal solidaritas dan peduli terhadap
lingkungan sekitar;
c. Meningkatkan pendapatan yang selaras;
d. Menciptakan kebebasan individu dalam hal keselarasan dan kesejahteraan
baik sosial maupun ekonomi.
2.10.5 Manfaat Ekonomi Syariah
Berikut ada beberapa manfaat dari ekonomi syariah, antara lain :
a. Membentuk karakter seorang muslim dalam meningkatkan integritas yang
jujur dan universal;
b. Pahala dunia dan akhirat;
c. Transaksi dan praktik langsung dalam kegiatan ekonomi syariah merupakan
suatu ibadah, karena kita sudah mengamalkan perintah-perintah Allah SWT;
d. Apabila kita menabung dan bertransaksi dengan menggunakan bank syariah
merupakan langkah awal dalam mendukung perekonomian muslim ;
e. Dalam proses transaksi semua pihak mendapat keuntungan;
f. Pendistribusian merata;
g. Terhindar dari hal-hal yang mengandung riba;
h. Terbebas dari masalah kemiskinan.
16

2.10.6 Peran Ekonomi Syariah Dalam Mengentaskan Kemiskinan


(Mervyn K. Lewis & Latifa M. Algaoud, 2001) dalam bukunya Perbankan
Syariah yang diterjemahkan oleh Burhan Subrata, mengatakan lembaga keuangan syariah
hadir untuk memberikan jasa keuangan yang halal kepada komunitas muslim.
Sasaran pokok program ekonomi syariah adalah kesejahteraan ekonomi
masyarakat dengan cara keselarasan dalam pendistribusian, program perluasan pekerjaan,
proses stabilisasi nilai mata uang sehingga tidak terjadi masalah inflasi, dan dalam bentuk
investasi permodalan. Di mana semua hal tersebut bertujuan untuk meningkatkan
pembangunan ekonomi yang menghasilkan jaminan keuntungan kepada semua pihak
yang terlibat didalamnya.
Keunggulan dari bank syariah dalam memberantas masalah kemiskinan :
a. Bank syariah menjadi lembaga yang memberi pinjaman sebagai mitra usaha;
b. Dalam pembagian bagi hasil bank syariah tidak ada yang dirugikan, bank syariah
cocok untuk para petani, pekebun, dan nelayan untuk menjalankan usahanya;
c. Mengoptimalkan Qardhul Hasar.
Prinsip yang paling dominan pada ekonomi islam yaitu, menekankan keadilan,
mengajarkan konsep yang berkualitas dalam menangani masalah-masalah moneter serta
penghapusan riba.
2.10.7 Upaya menanggulangi kemiskinan melalui produk perbankan syariah
Produk pembiayaan yang cocok untuk mengatasi masalah kemiskinan yaitu
dengan menerapkan pembiayaan mudharabah, karena sebagai core product bank syariah
merupakan tulang punggung dalam perbankan syariah untuk melaksanakan fungsi
intermediensinya (Darajat, 2007).
Mudharabah merupakan suatu kerja sama antara suatu lembaga dengan penanam
modal yang dilakukan untuk usaha dengan pembagian keuntungan sesuai nisbah.
Pembiayaan mudharabah berbeda dengan pembiayaan bank konvensional, letak
perbedaannya pada pembagian hasil keuntungan. Hasil keuntungan mudharabah dibagi
sesuai nisbah atau kesepakatan awal yang mana tidak ada pihak yang dirugikan,
sedangkan bank konvesional ada beberapa yang menguntungkan kedua belah pihak dan
ada juga salah satu pihak dirugikan, hampir semua bank konvensional merugikan pihak
nasabah.
Mudharabah ini cocok untuk individu yang akan memulai usaha kecil atau
menengah, namun dengan usaha kecil atau menengah ini tidak menutup kemungkinan
17

bisa memberikan lapangan pekerjaan kepada masyarakah sekitar. Dengan hal ini masalah
pengangguran bisa sedikit teratasi dan ini juga bisa sebagai obat masalah kemiskinan
yang merupakan masalah sejuta umat di dunia. Seseorang yang memilih membuka usaha
dengan pembiayaan mudharabah sangat memiliki banyak keuntungan, dari segi bagi hasil
yang menguntungkan kedua belah pihak, ada juga keuntungan lainnya yaitu ketika
melakukan pembayaran jumlah biaya yang di setor tidak terlalu besar bagi para usahawan
mikro, kecil maupun menengah, sehingga hal ini bisa sedikit mengatasi masalah
kemiskinan.
Namun, sebenarnya banyak sekali produk perbankan syariah lainnya yang tidak
kalah menguntungkan bagi kita, seperti murabahah , musyarakah , dan masih banyak lagi.
Untuk itu, kita sebagai umat muslim terbanyak di dunia kita harus memanfaatkan
kesempatan langka seperti ini. Dengan menggunakan produk syariah seperti ini, Insyallah
semua masalah yang terkait kemiskinan bisa teratasi.
18

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Kemiskinan adalah suatu keadaan di mana suatu individu atau kelompok
masyarakat dalam keadaan tidak mampu baik dalam keperluan sandang,papan maupun
pangan. Terdapat 3 tingkatan kemiskinan, yaitu kemiskinan absolut, kemiskinan relatif
dan kemiskinan struktural sedangkan jenis kemiskinan menurut Agama Islam yaitu fakir
dan miskin. Kemiskinan adalah salah satu masalah besar yang ada di Negara Indonesia,
untuk mengatasinya dibutuhkan kerja sama antara pemerintah dengan masyarakat supaya
berjalan dengan stimulus. Pemerintah memberikan lowongan pekerjaan sedangkan
masyarakat harus semangat dalam mencari pekerjaan, semangat belajar dan tidak
bermalas-malasan.
Agama Islam melihat kemiskinan sebagai bentuk kemalasan seseorang dalam
merubah nasibnya untuk lebih baik lagi. Dampak yang ditimbulkan dari masalah
kemanusiaan ini banyak sekali mulai dari membahayakan aqidah seseorang, akhlak dan
moral seseorang dan bahkan menimbulkan konflik dalam sebuah hubungan keluarga yang
berujung perceraian.
Agama Islam sudah memberikan solusi untuk mengurangi masalah kemiskinan ini
yang tercantum dalam Al-Quran. Banyak sekali solusi yang ditawarkan untuk mengatasi
masalah kemiskinan ini seperti pemberian makanan, infak, zakat, fidya, sedekah dan
terakhir bantuan rutin. Namun banyak sekali masyarakat yang mengabaikan hal ini. Poin
penting yang harus kita ingat adalah bahwa Allah SWT tidak memberikan cobaan berat
diatas kemampuan hamba-Nya.
Al-Qur’an sudah menafsirkan segala akar permasalahan-permasalahan di dunia
yang mana terdapat segala solusi dan cara pencegahannya, salah satu masalah saat ini
yaitu kemiskinan. Menurut Al-Qur’an untuk mengatasi masalah kemiskinan ini adalah
dengan bersedekah sukarela dan juga dengan peningkatan ekonomi syariah dalam artian
kita menggunakan produk bank syariah yang sangat menguntungkan bagi kita semua.
Jadi, kita selaku masyarakat Indonesia yang sadar akan pentingnya pekerjaan dan
bersedekah maka dari itu kita harus semangat dalam menjalani hidup, tidak mudah putus
asa, selalu bersyukur, membagikan sebagian rezeki yang kita miliki, dan percaya bahwa
Allah SWT tidak memberikan ujian melebihi batas kemampuan kita.
19

3.2 Saran
Diharapkan kepada para pembaca untuk memperdalam lagi ilmu-ilmu sosial
kemanusiaan seperti ilmu mengenai masalah kemiskinan ini. Setelah pembaca
memperdalam konsep ilmu sosial, hal ini menjadi langkah awal untuk menuju dunia tanpa
kemiskinan baik di negara Indonesia dan negara berkembang lainnya. Makalah ini dibuat
sebagaimana untuk menyalurkan saran-saran dan memberitahu kepada para pembaca
bahwa banyak sekali upaya dan cara pencegahan untuk mengatasi masalah kemanusiaan
ini. Diharapkan para pembaca memahami dengan benar-benar apa yang terdapat dalam
makalah ini.
20

DAFTAR PUSTAKA

__________. (1995). Kiat Islam Mengentaskan Kemiskinan. jakarta: Gema Insani Press.

Al-Qardhawy,Y.(1996). Konsep Islam dalam mengentaskan kemiskinan. Surabaya: Bina


Islam.

Alquran (Versi Aplikasi)

Cahya,B.(2015).Kemiskinan Ditinju dari Perspektif Alquran dan Hadist. Jurnal Penelitian,


1, 45-49.

http://journal.stainkudus.ac.id/index.php/jurnalPenelitian/article/view/850/799

( Diakses pada tanggal 14 Desember 2017 ).

Contoh Kasus Kemiskinan Pembunuhan Berantai.4 Januari 2018.Diambil


dari:http://www.republika.co.id/berita/shortlink/101158

Contoh Kasus Kemiskinan Bunuh Diri.4 Januari 2018.Diambil dari:


http://nasional.kompas.com/read/2017/09/12/14170551/bunuh-diri-kemiskinan-dan-
korupsi-di-indonesia

Darajat.(2007). Produk Perbankan Syariah.

El-Bantanie, M. S. (2009). Zakat, Infak & sadakah. Bandung: Salmadani.

Grafik persentase penduduk miskin.28 Desember 2017.Diambil dari:


https://www.bps.go.id/pressrelease/2018/01/02/1413/persentase-penduduk-miskin-
september-2017-mencapai-10-12-persen.html

Hudzaifah, A. (2007). Sedekah Orang Miskin. Solo: Mumtaza.

Lewis,Mervyn K & Algaoud, Latifa M.(2001).Perbankan Syariah.

Mardani,Dr.(2011).Hukum Ekonomi Syariah di Indonesia.Bandung : PT Refika Aditama.


Diakses dari : http://deerham.com/manfaat-penerapan-sistem-ekonomi-syariah

Kholis,Nur.(2004.)Pengertian Kemiskinan Struktural.


21