Anda di halaman 1dari 5

PENGUJIAN SUBSTANTIF ATAS SALDO HUTANG

USAHA

OLEH :

KELOMPOK 6

ROSANI CHAERUNNISA IKHSAN (A31115035)

NUR MULTAZAM NURDIN (A31115511)

DEPARTEMEN AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS HASANUDDIN

2018
A. PENENTUAN RISIKO DETEKSI UNTUK PENGUJIAN RINCIAN

Hutang usaha dipengaruhi baik oleh transaksi pembelian yang menambah saldo maupun oleh

transaksi pengeluaran kas yang menurunkan saldo tersebut. Auditor menggunakan metodologi untuk

menghubungkan penilaian risko pengendalian yang tepat atas asersi kelompok transaksi guna

mencapai penilaian risiko pengendalian untuk asersi-asersi saldo akun hutang usaha. Metodologi

tersebut meliputi matriks risiko deteksi yang dapat diterima pada tahap pengujian rincian. Tingkat

risiko spesifik ini hanya bersifat ilustratif dan bervariasi menurut situasi yang dihadapi klien.

Eksistensi Penilaian
atau Hak dan atau Penyajian dan
Komponen Risiko Kejadian Kelengkapan Kewajiban Alokasi Pengungkapan
Risiko Audit Rendah Rendah Rendah Rendah Rendah
Risiko Inheren Tinggi Tinggi Sedang Tinggi Tinggi
Risiko Prosedur Sedang Tinggi Sedang Sedang Tinggi
Analitis
Risiko Pengendalian- Rendah Tinggi Sedang Tinggi Sedang
Transaksi Pembelian
Risiko Pengendalian-
Transaksi Sedang Rendah Rendah Rendah Rendah
Pengeluaran Kas
Risiko Pengendalian Sedang Tinggi Sedang Tinggi Sedang
Gabungan
Risiko Pengujian Sedang Sangat Rendah Sedang Sedang Sangat Rendah
Rincian yang Dapat
Diterima

B. PERANCANGAN PENGUJIAN SUBSTANTIF

Kerangka kerja umum untuk mengembangkan program audit atas pengujian substantif dapat

digunakan dalam merencanakan pengujian substantif untuk hutang usaha. Daftar pengujian substantif

yang mungkin, dimasukkan dalam program audit yang dikembangkan atas dasar ini. Pengujian

tersebut diarahkan pada satu atau lebih tujuan audit atas saldo akun spesifik untuk hutang usaha. Juga

perlu diperhatikan bahwa pengujian berganda diarahkan ke setiap tujuan audit atas saldo akun.

C. PROSEDUR AWAL

Titik awal bagi setiap pengujian audit adalah mendapatkan pemahaman tentang bisnis dan

industri klien. Pemahaman atas pemicu dan penggerak ekonomi perusahaan, termin perdagangan
standar, dan konsentrasi bisnis dengan pemasok tertentu menyediakan konteks untuk mengevaluasi

hasil prosedur analitis, pengujian pengendalian, dan pengujian substantif. Prosedur awal lainnya

adalah menelusuri saldo awal kertas kerja tahun sebelumnya, dan menggunakan perangkat lunak audit

tergeneralisasi dalam memeriksa akun buku besar untuk melihat setiap ayat jurnal yang tidak biasa,

serta untuk mengembangkan daftar jumlah yang terutang pada tanggal neraca.

D. PROSEDUR ANALITIS

Pengujian analitis dimaksudkan membantu dalam memahami bisnis klien dan menemukan apa

yang diperlukan audit lebih intensif. Selain itu, untuk mengembangkan ekspektasi atas saldo akun

hutang dan hubungan antar hutang usaha dengan akun-akun seperti pembelian atau persediaan.

Prosedur analitis akan dilakukan pada tahap akhir penugasan untuk memastikan bahwa bukti yang

dievaluasi dalam pengujian rincian telah konsisten dengan gambaran menyeluruh yang dilaporkan

dalam laporan keuangan.

E. PENGUJIAN RINCIAN TRANSAKSI

Tujuan pengujian saldo akun utang rinci adalah untuk memverifikasi:

 Keberadaan dan keterjadian

 Kelengkapan

 Kewajiban

 Penyajian dan pengungkapan

Keberadaan, kelengkapan, kewajiban serta penyajian dan pengungkapan utang usaha di neraca

dibuktikan oleh auditor dengan mengirimkan surat konfirmasi kepada debitor dan rekonsiliasi utang

usaha yang tidak dikonfirmasi pernyataan piutang bulanan yang diterima oleh klien dari kreditur.

Auditor akan menitikberatkan pada pendeteksian kurang saji hutang yang dicatat serta hutang yang

belum tercatat. Seberapa luas setiap pengujian dilakukan akan bervariasi menurut tingkat risiko

deteksi spesifik yang diterima untuk asersi-asersi terkait.


Menelusuri Hutang yang Dicatat ke Dokumentasi Pendukung

Ayat jurnal kredit pada hutang usaha akan ditelusuri ke dokumentasi pendukung dalam file klien,

seperti voucher, faktur penjualan, laporan penerimaan, dan pesanan pembelian. Pendebetannya akan

ditelusuri ke dokumen transaksi pengeluaran kas, seperti buku pengeluaran cek, atau memo dari

penjual menyangkut retur pembelian dan pengurangan harga.. Pengujian ini akan menghasilkan bukti

untuk tujuan audit spesifik kecuali asersi kelengkapan karena tidak dapat mendeteksi hutang yang

tidak pernah dicatat.

Melaksanakan Pengujian Pisah Batas Pembelian

Pengujian pisah batas pembelian mencakup penentuan bahwa transaksi pembelian yang terjadi

mendekati tanggal neraca telah dicatat pada periode yang tepat. Hal ini dilakukan dengan menelusuri

tanggal-tanggal laporan penerimaan ke ayat jurnal register pendukungnya. Berkaitan dengan asersi

eksistensi dan kelengkapan, dalam memeriksa dokumentasi sebagai bagian dari pengujian ini,

pertimbangan khusus harus diberikan atas barang yang masih dalam perjalanan per tanggal neraca.

Melaksanakan Pengujian Pisah Batas Pengeluaran Kas

Pisah batas yang tepat atas transaksi pengeluaran kas pada akhir tahun sangat penting untuk

penyajian kas dan hutang usaha yang benar pada tanggal neraca. Bukti tentang pengujian pisah batas

pengeluaran kas dapat diperoleh melalui observasi langsung dan review atas dokumentasi internal.

Melakukan Pencarian Hutang yang Belum Tercatat

Pencarian hutang usaha yang belum tercatat terdiri dari prosedur terdiri dari prosedur-prosedur

yang dirancang secara khusus untuk mendeteksi kewajiban signifikan yang belum dicacat pada

tanggal neraca.

Pembayaran Kemudian. Pemeriksaan ini terdiri dari pemeriksaan dokumentasi untuk cek-cek yang

diterbitkan atau voucher yang dibayar setelah tanggal neraca. Apabila menunjukkan pembayaran

tersebut untuk membayar kewajiban pada tanggal neraca, maka auditor harus menelusuri daftar

hutang usaha guna menentukan hal tersebut sudah termasuk dalam daftar hutang usaha.

Prosedur Lainnya. Prosedur lainnya yang dapat mengungkapkan hutang yang belum dicacat

meliputi: (1) menginvestigasi pesanan pembelian, laporan penerimaan, dan faktur penjualan yang

tidak sesuai pada akhir tahun, (2) mengajukan pertanyaan kepada personil akuntansi dan pembelian
tentang hutang yang belum dicatat, serta (3) mereview anggaran modal, perintah kerja, dan kontrak

konstruksi untuk mencari bukti adanya hutang yang belum dicatat.

F. PENGUJIAN RINCIAN SALDO

1. Konfirmasi Hutang Usaha

Direkomendasikan apabila risiko deteksi rendah, terdapat kreditor individual dengan saldo yang

relatif besar, atau perusahaan mengalami kesulitan dalam memenuhi kewajibannya. Seperti kasus

konfirmasi piutang usaha, auditor harus mengendalikan pembuatan dan pengiriman permintaan

konfirmasi serta harus meminta jawaban langsung dari respondensi. Pengujian ini dapat memberikan

bukti untuk semua asersi hutang usaha.

2. Merekonsiliasi Hutang yang Belum Dikonfirmasi dengan Laporan Pemasok

Dalam banyak kasus, para pemasok biasanya mengirimkan laporan bulanan yang bisa dijumpai

dalam file klien, jumlah yang terutang kepada pemasok menurut daftar hutang klien dapat

direkomendasikan dengan laporan tersebut. Bukti yang diperoleh dari prosedur ini juga berlaku untuk

asersi yang sama tetapi kurang dapat diandalkan karena laporan pemasok telah dikirimkan kepada

klien, dan bukan langsung kepada auditor.

PERBANDINGAN PENYAJIAN LAPORAN DENGAN GAAP

Hutang usaha harus diidentifikasikan secara tepat sebagai kewajiban lancar. Jika saldo hutang

mencakup pembayaran dimuka yang material kepada beberapa pemasok untuk pengiriman barang dan

jasa di masa depan, maka jumlah semacam itu harus diklasifikasi sebagai uang muka kepada pemasok

dan dicatat sebagai aktiva. Selain itu, pengukuran juga perlu dilakukan atas penjaminan dan serta

kewajiban kontinjensi. Jadi, penyajian dan pengungkapan manajemen harus dibandingkan dengan

persyaratan GAAP.

JASA BERNILAI TAMBAH

Apabila auditor telah menyelesaikan suatu audit, maka biasanya mereka sangat mengetahui

tentang bisnis dan praktek bisnis klien, hasil operasi dan arus kasnya, serta pengendalian internal

perusahaan. Manajemen dan dewan komisaris biasanya ingin secara penuh memanfaatkan

pengetahuan auditor itu.