Anda di halaman 1dari 14

BAB I

LANDASAN TEORI

I. PENGERTIAN

Perancah (scaffolding) atau steger merupakan konstruksi pembantu pada pekerjaan


bangunan gedung. Perancah dibuat apabila pekerjaan bangunan gedung sudah mencapai
ketinggian 2 meter dan tidak dapat dijangkau oleh pekerja. Perancah adalah work platform
sementara.
Perancah (scaffolding) adalah suatu struktur sementara yang digunakan untuk
menyangga manusia dan material dalam konstruksi atau perbaikan gedung dan bangunan-
bangunan besar lainnya. Biasanya perancah berbentuk suatu sistem modular dari pipa atau
tabung logam, meskipun juga dapat menggunakan bahan-bahan lain. Di beberapa negara Asia
seperti RRT dan Indonesia, bambu masih digunakan sebagai perancah.
Sebelum beton yang dikerjakan selesai dan masih dalam tahap pengecoran, bekisting
dan perancah memiliki peranan yang sangat penting. Apabila terdapat kesaalahan dalam
pemasangan bekisting dan perancah maka konstruksi sementara dari bekisting dan perancah
dapat runtuh. Hal ini akan mengakibatkan kerugian baik secara material, modal, waktu
bahkan nyawa.
Scaffolding sendiri terbuat dari pipa - pipa besi yang dibentuk sedemikian rupa
sehingga mempunyai kekuatan untuk menopang beban yang ada di atasnya. Dalam
pengerjaan suatu proyek, butuh atau tidaknya penggunaan scaffolding bisa tergantung kepada
pemilik proyek. Karena adanya perbedaan antara biaya menggunakan bambu dan scaffolding.
Scaffolding digunakan sebagai pengganti bambu dalam membangun suatu
proyek. Keuntungan penggunaan scaffolding ini adalah penghematan biaya dan efisiensi
waktu pemasangan scaffolding.

II. JENIS-JENIS BEKISTING

Metode Bekisting dan Perancah yang digunakan dalam bidang teknik sipil, diantaranya:
1. Konvensional / Tradisional, merupakan metode dimana bahan yang digunakan masih
menggunakan material lokal (seperti: kayu, bambu, papan, dll). Untuk metode ini
bahan yang dipakai akan banyak yang terbuang, membutuhkan waktu yang
lama dalam pemasangan pekerja yang banyak dalam pemasangan serta pemakaian
berulang yang sangat terbatas.
2. Semi-System, merupakan metode dimana bahan yang digunakan merupakan
campuran dari material lokal dan bahan buatan pabrik. Metode ini sedikit lebih baik
daripada metode konvensional. Metode ini sudah bisa dipakai untuk penggunaan yang
berulang dan terus menerus walaupun masih terbatas tergantung dari kualitas material
lokal yang dipakai.
3. Full-System, merupakan metode dimana bahan yang digunakan sudah
merupakan bahan hasil buatan pabrik. Metode ini akan menjamin keamanaan yang
telah diperhitungkan oleh produsen pembuat dan material bisa dipakai secara terus
menerus. Biaya pembuatan yang relatif mahal harus diperhitungkan dalam pemilihan
metode ini agar biaya proyek tidak terfokus hanya kepada bekisting dan perancah.

Roihans Muhammad Iqbal | 1 – JT | Bekisting/Formwork/Perancah

1
III. FUNGSI BEKISTING

Dengan mendasarkan pada pengertian sebelumnya bahwa bekisting merupakan


konstruksi bersifat sementara maka hakekat dari pada bekisting itu adalah konstruksi
sederhana tapi harus kuat, dan mampu menahan beban yang bekerja selama proses pekerjaan
bekisting, pengecoran serta pasca pengeoran.
Pada dasarnya konstruksi bekisting memiliki tiga hal fungsi:
1. Menentukan bentuk dari konstruksi beton yang dibuat.
2. Memikul dengan aman beban yang ditimbulkan oleh spesi beton serta beban luar
lainya yang menyebabkan perubahan bentuk pada beton. Namun perubahan ini tidak
melampui batas toleransi yang ditetapkan.
3. Bekisting harus dapat dengan mudah dipasang, dilepas dan dipindahkan.
Mempermudah proses produksi beton masal dalam ukuran yang sama.

Berdasarkan fungsi, konstruksi bekisting dapat dibagi dalam 3 bagian konstruksi,


1. Bekisting kontak
2. Konstruksi penopang
3. Bracing / skur (penjaga kestabilan).

Dalam proses desain cetakan perlu memperhatikan beberapa hal,


1. Kualitas material cetakan yang digunakan harus mampu menghasilkan permukaan
beton yang baik dan ketepatan ukuran bekisting yang sesuai.
2. Keamanan dari cetakan harus diperhitungkan dari perubahan pembebanan yang akan
terjadi, tanpa menimpulkan bahaya bagi material maupun pekerja konstruksi itu
sendiri.
3. Memperhatikan faktor ekonomis agar dapat mereduksi biaya operasional bekisting.

IV. PERSYARATAN KONSTRUKSI BEKISTING

Bekisting merupakan unsur yang sangat penting dalam mekanisme pengecoran beton,
persyaratan terpenting adalah bahwa dimensi beton harus akurat dan tepat. Dibawah ini
disebutkan beberapa persyaratan konstruksi bekisting,
1. Konstruksi harus kuat
2. Presisi
3. Bentuk bekisting harus sesuai dengan bentuk konstruksi beton yang akan dicor dan
memiliki unsur ketepatan yaitu: ukuran, ketegakan, kelurusan, kesikuan dan kerataan
sehingga mendapatkan dimensi yang akurat.
4. Tidak bocor
5. Kedap air
6. Mudah dibongkar
7. Awet
8. Aman, struktur bekisting harus menjamin keaman bagi pekerja maupun bagi beton itu
sendiri.
9. Bersih, memungkinkan hasil finishing permukaan beton yang baik.
10. Ekonomis.
11. Daya lekat yang rendah

Roihans Muhammad Iqbal | 1 – JT | Bekisting/Formwork/Perancah

2
Oleh sebab itu, sebuah bekisting harus diperhitungkan atas kekuatan,kekakuan serta
kestabilan bagian – bagian dari konstruksi bekisting. Perubahan-perubahan yang terjadi yang
menyebabkan perubahan bentuk pada beton tidak boleh melampui toleransi yang ditentukan.
Persyaratan teknis diatas merupakan mutu dan kualitas bekisting yang harus
dikendalikan, sehingga perlu dikalukan pengontrolan agar kualitas bekisting dapat dicapai.

V. PEMBEBANAN

Berbagai beban yang perlu diperhatikan dalam merencanakan sebuah bekisting,pada


prinsipnya berawal dari beban vertical dan beban horizontal serta pengaruh khusus angin dan
getaran yang ditimbulkan oleh vibrator. Dengan demikian sebuah bekisting harus
diperhitungkan terhadap kekuatan, kekakuan dan kestabilan
Beban yang dipikul dan harus diperhitungkan dalam perencanaan bekisting adalah
sebagai berikut :
1. Beban tetap, yaitu berat sendiri dari bekisting, beton segar serta besi tulang
2. Beban tidak tetap, adalah berat peralatan, pekerja, dan barang lainnya.
Beban ini harus mampu dipikul oleh bekisting dan hanya diperbolehkan terjadi
lendutan sebesar maksimum yang diijinkan. Perhitungan beban vertikal yang
direkomendasikan oleh Commitee ACI, sebagai dasar perhitungan adalah :
 Beton bertulang : 2400 kg/m3
 Bekisting : 70 kg/m2
 Beban hidup : 235kg/m2
 Beban hidup min : 150-250 kg/m2

Sedangkan beban horisontal terjadi pada proses pengecoran sebagai akibat dari
tekanan hidrostatis. Jadi, tekanan horisontal dipengaruhi oleh:
1. Mortal beton, berat volume, plastisitas dan kecepatan pengerasan
2. Proses pengeoran, temperatur lapangan, kecepatan pengecoran, metode kerja serta
pemadatan
3. Beksiting, tinggi,bentuk dan dimensi
4. Kondisi tulangan : jarak dan besar tulangan.

Besarnya defleksi yang diperkenankan pada konstruksi beton dan dapat dipakai pada
konstruksi bekisting adalah antara 1/300 -1/360 L. Dan beberapa bagian bekisting yang harus
dikontrol defleksinya antara lain:
 Lapis penutup
 Balok pembagi
 Pendukung joist/stud dan juga waler (klem)

Roihans Muhammad Iqbal | 1 – JT | Bekisting/Formwork/Perancah

3
VI. KESTABILAN DAN KEKAKUAN BEKISTING

Stabilitas merupakan suatu yang sangat penting bagi sebuah konstruksi bekisting.
Sering terjadi keruntuhan pada bekisting akibat kurang memperhatikan kekuatan dan
kestabilan bekisting, oleh sebab itu penting untuk diperhatikan dalam perencanaan bekisting
yang disertai dengan penekanan pada bracing atau penguat.
Untuk menjaga kestabilan bekisting, maka perlu penempatan skur yang cukup dan
tepat sehingga dapat mengantisipasi kemungkinan terjadi tekuk. Tidak stabilnya bekisting
dapat diakibatkan oleh beberapa hal, diantaranya ketidakstabilan yang terjadi akibat cara
pengecoran, kecepatan pengecoran tidak terkendali akan mengakibatkan penumpukan beton
segar sehingga akan terjadi ketidakmampuan bekisting pada saat memikul beban

Di bawah ini digambarkan stabilitas dalam sebuah prinsip skema-skema

Skema 1

Gbr. 1. Skema Stabilitas bekistin

Skema 2

Gbr. 2. Skema Stabilitas bekisting

Skema 3

Roihans Muhammad Iqbal | 1 – JT | Bekisting/Formwork/Perancah

4
Gbr. 3. Skema Stabilitas bekisting

Skema 4

Gbr. 4. Skema Stabilitas bekisting

Skema 5

Gbr. 5. Skema Stabilitas bekisting

Skema 6

Gbr. 6. Skema kestabilan bekisting

Disamping skema seperti diatas ada juga beberapa faktor yang mempengaruhi
kestabilan bekesting, diantaranya landasan untuk mendirian perancah, kekuatan material
bekiating, dimensi dan jarak beam dan staiger, dan lainnya.
Dengan memahami beban yang harus dipikul oleh bekisting atau kestabilan bekisting,
maka dapat dilakukan antisipasi dan pengendalian terhadap kualitas dari bekisting
tersebut.Dengan demikian bekisting dan perancah harus memenuhi unsur-unsur seperti
tersebut diatas yaitu: material berkualitas, aman, awet, efesien, kekuatan dan kestabilan.
Dengan terpenuhinya unsur-unsur tersebut diatas dapat menjamin kualitas beton yang akan
dicor menjadi baik.

Roihans Muhammad Iqbal | 1 – JT | Bekisting/Formwork/Perancah

5
BAB II

ANALISIS PERBANDINGAN BEKISTING METODE


SEMI SISTEM DAN FULL SISTEM
PADA SUATU PROYEK BANGUNAN

Dalam menghitung anggaran biaya, perlu memperhatikan ketentuan-ketentuan


sebagai berikut : Semua bahan untuk penyusunan anggaran biaya dikumpulkan dan diatur
dengan rapih; Gambar-gambar rencana/gambar bestek dan penjelasan atau keterangan yang
tercantum dalam peraturan dan syarat-syarat ; Membuat catatan sebanyak mungkin yang
penting, baik mengenai gambar.; Menentukan system yang tepat dan teratur yang akan
dipakai dalam perhitungan. Penyusunan anggaran biaya dilaksanakan dengan cara pembuatan
daftar-daftar sebagai berikut,

Waktu pelaksanaan proyek konstruksi merupakan salah satu elemen hasil


perencanaan, yang dapat memberikan informasi tentang jadwal rencana dan kemajuan proyek
konstruksi dalam hal kinerja sumber daya berupa biaya, tenaga kerja, peralatan, dan material
serta rencana durasi proyek dan progress waktu untuk penyelesaian proyek konstruksi.
Bekisting disebut juga acuan dan perancah. Acuan yaitu bagian dari konstruksi
bekisting yang berfungsi untuk membuat cetakan beton sesuai yang diinginkan. Suatu
konstruksi acuan yang telah dibuat dan akan dipakai harus kuat untuk menahan beban yang
masih basah dan liat. Konstruksi acuan sendiri terdiri dari papan cetakan dan pengaku
cetakan.
Dalam sebuah konstruksi acuan dibagi dalam 2 (dua) macam :Acuan tetap adalah
acuan yang dipasang untuk tidak dibongkar lagi dan acuan tersebut tidak mengurangi
kekuatan dan tidak berpengaruh buruk pada konstruksi bangunan. Acuan tidak Tetap adalah
acuan yang dipasang dan dapat dibongkar setelah beton cukup kuat untuk menahan bebannya
sendiri. Contoh bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan acuan sementara adalah
papan kayu, kayu balok, plywood, panel-panel baja, fiberglass, dan lain-lain.

Bekisting Semi Sistem

Bekisting semi sistem adalah bekisting yang bahan dasarnya disesuaikan dengan
konstruksi beton, sehingga pengulangannya dapat dilakukan lebih banyak apabila konstruksi
beton itu sendiri tidak terjadi perubahan bentuk maupun ukuran.

Roihans Muhammad Iqbal | 1 – JT | Bekisting/Formwork/Perancah

6
Pertimbangan penggunaan bekisting semi sistem adalah pada konstruksi yang cukup
tinggi pengulangan penggunaan bekisting pada suatu pekerjaan cetakan sistem ini terbuat dari
material kayu lapis atau plat, sedangkan perancah penopangnya terbuat dari baja yang
dipabrikasi. Bekisting semi sistem merupakan perkembangan dari bekisting konvesional,
peningkatan kualitas dari bekisting konvesional menjadi bekisting semi sistem terletak pada
penggunaan ulang bekisting itu sendiri. Material yang dibutuhkan untuk bekisting semi
sistem adalah: Scaffolding (perancah) ,U-Head , Vertical support tube , Horizontal support
tube , Jack base , Joint pin , Alat-alat pendukung

Bekisting Full Sistem

Bekisting sistem atau disebut juga bekisting full system adalah bekisting yang
mengalami perkembangan lebih lanjut kesebuah bekisting universal yang dengan segala
kemungkinannya dapat digunakan pada berbagai macam bangunan, penggunaan bekisting
sistem bertujuan untuk penggunaan ulang pakai. Pelaksanaan bekisting sistem lebih cepat
dibandingkan dengan bekisting konvensional dan semi sistem karena komponen-komponen
bekisting sistem sudah ada ukuran standarnya. Pembiayaan bekisting sistem pada awalnya
dapat dikatakan mahal, tetapi dengan adanya pelaksanaan yang relatif singkat dan
penggunaan berulang kali, maka penambahan biaya tidak terlalu mengikat.
Alat bekisting balok : Hollow 50.50 , Double siku Tie rod T dan Wing nut , Suri
Hollow, Batang horizontal, Jack base, Double wing Komponen bekisting plat lantai :
Plywood phenolic 15 mm, Hollow 50.50, U-head, Batang horizontal , Batang vertical ,
Batang vertikal joint , Jack base.

Rekapitulasi Material & Peralatan.

NO MATERIAL PERALATAN
Bekisting metode semi Bekisting Metode Full Bekisting Semi
sistem Sistem Sistem & Full
Sistem

Berdasarkan landasan teori pada Bab I dan data-data pendukung, maka pada bab II
akan dianalisis mengenai perbedaan efektivitas serta efisiensi dari metode semi sistem dan

Roihans Muhammad Iqbal | 1 – JT | Bekisting/Formwork/Perancah

7
metode full sistem pada harga satuan per-m2 pekerjaan bekisting balok dan pelat lantai
metode semi sistem dan metode full sistem lt.2 dan lt.3. Analisis anggaran biaya dan waktu
ini menggunakan data dari salah satu proyek konstruksi yang ada di Jakarta.

Analisa harga satuan per-m2 pekerjaan bekisting balok metode semi sistem lt.2

Harga satuan per-m2 pekerjaan bekisting balok lt.3 metode semi sistem adalah:
Rp. 426.977,9,- (beda di tower crane)

Roihans Muhammad Iqbal | 1 – JT | Bekisting/Formwork/Perancah

8
Analisa harga satuan per-m2 pekerjaan bekisting balok metode full semi sistem lt.2
Harga satuan per-m2 pekerjaan bekisting balok lt.3 metode full sistem adalah:
Rp. 683.523,6,- (beda di sukur vertical)

Analisa harga satuan per-m2 pekerjaan bekisting pelat lantai metode semi sistem lt.2

Harga satuan per-m2 pekerjaan bekisting lantai, lt.3 metode semi sistem adalah:
Rp. 425.270,6,- (beda di tower crane)

Analisa harga satuan per-m2 pekerjaan bekisting pelat lantai metode full sistem lt.2

Roihans Muhammad Iqbal | 1 – JT | Bekisting/Formwork/Perancah

9
Jadi harga satuan per-m2 pekerjaan bekisting pelat lantai, lt.3 metode sistem adalah :
Rp. 392.973,5,-

Rencana anggaran biaya per-m2 pekerjaan bekisting metode semi sistem & sistem
pada lt.2 dan lt.3.

Analisa waktu pelaksanaan pekerjaan bekisting balok metode semi sistem (SS) dan
metode full sistem (s) lt.2 dan lt.3.

Roihans Muhammad Iqbal | 1 – JT | Bekisting/Formwork/Perancah

10
Analisa waktu pelaksanaan pekerjaan bekisting pelat lantai metode semi sistem dan
metode full system lt.2 dan lt.3.

Analisa tenaga kerja pada pelaksanaan pekerjaan bekisting balok dan pelat lantai
metode semi sistem dan metode full sistem lt.2 dan lt.3.
Pada analisa tenaga kerja ini, untuk mendapatkan hasil tenaga kerja yang dibutuhkan,

antara kuantitas bekisting semi sistem dijumlah dengan vkuantitas bekisting sistem lalu
dirata-ratakan.

Roihans Muhammad Iqbal | 1 – JT | Bekisting/Formwork/Perancah

11
Sehingga dari kedua data perbandingan anggaran biaya dan waktu di atas, dapat
disimpulkan bahwa biaya antara pekerjaan bekisting metode full sistem lebih mahal
dibandingkan dengan bekisting metode semi sistem.
Waktu pekerjaan bekisting metode sistem lebih cepat penyelesaiannya dibandingkan
metode semi sistem. Jadi bekisting metode full sistem dipakai atau dipilih apabila proyek
konstruksi dituntut untuk lebih cepat dan perusahaan mendapatkan proyek yang sama atau
berulang-ulang.
Penggunaan bekistin semi system maupun full system kembali lagi kepada tujuan dan
fungsi yang ingin dicapai dari konstruksi. Berdasarkan hasil analisis di atas, jika suatu proyek
ingin cepat selesai tanpa mempertimbangkan biaya dan hal lainnya, metode cara full system
lebih dianjurkan dibandingkan metode semi system. Namun, jika suatu proyek sangat
menghemat anggaran dan bukan suatu proyek yang dikejar waktu cepat, metode semi system
lebih dianjurkan karna harganya yang lebih murah.

Roihans Muhammad Iqbal | 1 – JT | Bekisting/Formwork/Perancah

12
BAB III

PENUTUP

I. KESIMPULAN

Bekisting atau formwork adalah suatu konstruksi pembantu yang bersifat sementara
yang merupakan cetakan / mal ( beserta pelengkapnya pada bagian samping dan bawah dari
suatu konstruksi beton yang dikehendaki. Bekisting adalah cetakan sementara yang
digunakan untuk menahan beton selama beton dituang dan dibentuk sesuai dengan bentuk
yang diinginkan. Terdapat tiga jenis bekisting; konvensional/tradisional, semi system, dan full
system.
Seiring dengan perkembangan zaman, metode yang masih digunakan saat ini yaitu
bekisting semi system atau full system. Penggunaan kedua metode tersebut dilandaskan pada
tujuan dan syarat-syarat yang ingin dituju dari suatu proyek, diantaranya waktu dan biaya.
Berdasarkan analisis efektivitas dan efisiensi dari pekerjaan bekisting metode semi system
dan full system, didapatkan hasil bahwa biaya antara pekerjaan bekisting metode full sistem
lebih mahal dibandingkan dengan bekisting metode semi sistem. Sedangkan waktu pekerjaan
bekisting metode sistem lebih cepat penyelesaiannya dibandingkan metode semi sistem.

II. SARAN

Mengingat begitu pentingnya pemilihan penggunaan metode pekerjaan bekisting pada


proyek pembangunan maka di sarankan agar melakukan persiapan sematang – matangnya
dalam melakukan perencanaan menimbang tujuang, fungsi, dan kondisi lingkungan tempat
proyek berada.
Secara khusus, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi saya khususnya dan bagi
masyarakat umum khususnya yang memiliki latar belakang teknik sipil.

Roihans Muhammad Iqbal | 1 – JT | Bekisting/Formwork/Perancah

13
DAFTAR PUSTAKA

1. Ibrahim, B. 2007. Rencana dan Estimate Real of Cost, Jakarta : Bumi Aksara.
2. M. Novian, suryoreso. 1997. Efesiensi pekerjaan Acuan dan perancah pada Industri
Konstruksi. Politeknik ITB: Bandung.
3. SNI. 2008. Analisa Biaya Konstruksi Bangunan Gedung dan Perumahan Pekerjaan
Beton, Bandung : BSN.
4. Soedrajat, A. 1984. Analisa Anggaran Biaya Pelaksanaan, Bandung : Nova.
5. Wigbout, F.Ing, 1992. Pedoman Tentang Bekisting (Kotak Cetak). Erlangga. Jakarta
6. http://dams-civilengineering.blogspot.co.id/2013/04/bekisting-dan-perancah.html
7. http://dams-civilengineering.blogspot.co.id/2013/04/bekisting-dan-perancah.html
8. http://tukangbata.blogspot.co.id/2013/03/bekisting-atau-formwork-dan-jenisnya.html
9. http://www.vedcmalang.com/pppptkboemlg/index.php/menuutama/departemen-
bangunan-30/1498-ubr
10. http://rafijrin.blogspot.co.id/2011/02/acuan-dan-perancah.html
11. http://yooungengineer.blogspot.co.id

Roihans Muhammad Iqbal | 1 – JT | Bekisting/Formwork/Perancah

14