Anda di halaman 1dari 34

LAPORAN FOTOGRAMETRI I MODUL 4 AEROTRIANGULASI DENGAN PCI

Oleh

Reno Wibowo Putra

15114017

4 AEROTRIANGULASI DENGAN PCI Oleh Reno Wibowo Putra 15114017 PROGRAM STUDI TEKNIK GEODESI DAN GEOMATIKA FAKULTAS

PROGRAM STUDI TEKNIK GEODESI DAN GEOMATIKA FAKULTAS ILMU DAN TEKNOLOGI KEBUMIAN INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG

2016

BAB 1 PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Latar Belakang

Fotogrametri adalah suatu metode pemetaan objek-objek dipermukaan bumi yang menggunakan foto udara sebagai media, dimana dilakukan penafsiran objek dan pengukuran geometri untuk selanjutnya dihasilkan peta garis, peta digital maupun peta foto. Secara umum fotogrametri merupakan teknologi geo-informasi dengan memanfaatkan data geo-spasial yang diperoleh melalui pemotretan udara.

Metode fotogrametri banyak dipakai dalam pembuatan geo-informasi, karena obyek yang terliput terlihat apa adanya, Produk dapat berupa peta garis , peta foto atau kombinasi peta foto-peta garis , Proses pengambilan data geo-spatial relatif cepat, efektif untuk cakupan daerah yang relatif luas.

Sebagai bahan dasar dalam pembuatan geo-informasi secara fotogrametris yaitu foto udara yang saling bertampalan (overlaped foto). Umumnya foto tersebut diperoleh melalui pemotretan udara pada ketinggian tertentu menggunakan pesawat udara. Salah satu metode dalam memperoleh geo-informasi dengan triangulasi udara. Triangulasi Udara merupakan metode penentuan titik kontrol dengan cara melakukan pengukuran koordinat foto atau koordinat model yang selanjutnya diproses dengan perhitungan perataan, sehingga dapat diperoleh koordinat maupun elevasi tanah dengan ketelitian yang memenuhi persyaratan teknik untuk keperluan pemetaan fotogrametri.

indeks

menggunakan aplikasi Autodesk map 5 dan pengadaan data koordinat foto udara

dengan PCI Geomatica V9.

Dalam

praktikum

ini

mempelajari

langkah

pembuatan

peta

garis/peta

Tujuan Praktikum

2.1 Mengetahui langkah dan membuat peta indeks dari foto udara.

2.2 Pengadaan data koordinat foto udara.

Waktu dan Tempat Pelaksanaan

Hari/Tanggal

: Jumat, 11 dan 18 November 2016

Waktu

: 13.00 15.00

Tempat

: Lab Komputer, lantai 2 Gedung Geodesi

Peralatan yang digunakan

a. Laptop

b. Aplikasi Autodesk Map 5

c. Aplikasi PCI Geomatica V9.0

BAB 2

DASAR TEORI

2. Dasar Teori 2.1.Foto Udara dan Jenis Kamera Foto Udara adalah citra fotografi hasil perekaman dari sebagian permukaan bumi yang diliput dari pesawat udara pada ketinggian tertentu menggunakan kamera tertentu. Foto udara yang dipergunakan dapat berupa foto udara metrik, yaitu foto udara yang diambil dengan kamera udara metrik (biasanya berukuran 23 x 23 cm). Foto udara jenis ini sangat tinggi ketelitiannya karena kamera foto dibuat khusus untuk keperluan pemetaan dengan ketelitian tinggi dan resolusi citra foto yang sangat baik. Pada kamera metrik dilengkapi dengan titik-titik yang diketahui koordinatnya (disebut sebagai titik Fiducial Mark) yang akan dipakai sebagai acuan / referensi dalam pengukuran dimensi objek. Jenis foto lainnya adalah foto non-metrik, yaitu foto yang dihasilkan dari kamera non- metrik (kamera biasa atau kamera khusus). Biasanya ukuran foto yang dihasilkan lebih kecil dari foto metrik. Kamera ini biasa dipakai untuk keperluan pengambilan foto secara umum, dan pemotretan udara dengan menggunakan pesawat kecil atau pesawat model. Ketelitian yang diperoleh tidak sebaik kamera metrik dan daerah cakupan jauh lebih kecil. Foto udara selanjutnya diklasifikasikan sebagai foto udara vertikal dan foto udara condong. Foto udara vertikal, yaitu apabila sumbu kamera pada saat pemotretan dilakukan benar-benar vertikal atau sedikit miring tidak lebih dari 3˚. Sebagian besar dari foto-foto udara termasuk dalam jenis foto udara vertikal. Tipe kedua dari foto udara yakni foto udara condong (oblique) yaitu apabila sumbu foto mengalami kemiringan antara 3˚ dan 90˚ dari kedudukan vertikal. Jika horizon tidak tampak, disebut condong / miring rendah. Jika horizon tampak, disebut condong tinggi / sangat miring.

Keuntungan foto udara vertikal dibandingkan dengan foto udara condong

a. Skala foto vertikal kira-kira selalu tetap dibandingkan dengan skala foto condong. Ini menyebabkan lebih mudah untuk melakukan pengukuran- pengukuran pada foto dan hasil yang diperoleh lebih teliti.

b. Untuk keperluan tertentu foto udara vertikal dapat digunakan sebagai pengganti

peta.

c. Foto udara vertikal lebih mudah diinterpretasi dari pada foto udara condong. Ini dikarenakan skala dan obyek-obyek yang lebih tetap bentuknya, tidak menutupi obyek- obyek lain sebanyak yang terjadi pada foto udara condong. Keuntungan foto udara condong dibandingkan dengan foto udara vertical

a. Foto udara condong meliputi kawasan yang lebih luas dari pada kawasan yang diliput oleh suatu foto udara vertikal.

b. Jika lapisan awan seringkali menutupi suatu daerah yang tidak memungkinkan dilakukan dengan pemotretan vertikal, maka dapat dilakukan dengan pemotretan condong.

c. Beberapa obyek yang tidak dapat dilihat / tersembunyi dari atas pada foto udara vertikal,misalnya : obyek dibawah bangunan tinggi, dapat terlihat pada pemotretan condong.

2.2.Triangulasi Udara Triangulasi udara merupakan metode penentuan titik kontrol dengan cara

melakukan pengukuran koordinatfoto atau koordinat model yang selanjutnya diproses dengan perhitungan perataan, sehingga dapat diperoleh koordinat maupun elevasi tanah dengan ketelitian yang memenuhi persyaratan teknik untuk keperluan pemetaan fotogrametri. Berdasarkan data koordinat yang diukur, maka triangulasi udara dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu :

a. Aeropoligon dengan data input berupa koordinat strip

b. Independent Model Triangulation , data input berupa koordinat model.

c. Bundle Adjustment , data input berupa koordinat foto.

Triangulasi udara adalah bagian kegiatan dalam pemetaan fotogrametri dengan cara mengukur titik-titik minor foto, kemudian ditranformasi ke titik referensi (titik kontrol tanah). Kegiatan triangulasi udara ini dapat dilaksanakan dalam waktu yang singkat dan biaya yang lebih murah dibandingkan dengan metode konvensional yang dilakukan secara terestris dilapangan. Berdasarkan cara pengukuran yang dilakukan dan instrument yang digunakan yaitu menggunakan metode Model Bebas (independent model) yang berdasarkan pada unit dasar model dimana dilakukan pengukuran koordinat titik-titik model hasil orientasi relatif dan pengukuran koordinat pusat proyeksi foto udara.

pengukuran koordinat titik-titik model hasil orientasi relatif dan pengukuran koordinat pusat proyeksi foto udara.

a. Persebaran titik kontrol tanah vertikal dan horizontal

a. Persebaran titik kontrol tanah vertikal dan horizontal b. Triangulasi Udara (titik-titik van gubber)

b. Triangulasi Udara (titik-titik van gubber)

a. Persebaran titik kontrol tanah vertikal dan horizontal b. Triangulasi Udara (titik-titik van gubber)

c.

Contoh persebaran titik triangulasi udara dengan 2 jalur Gambar di atas menunujukkan 2 jalur terbang yang berisi titik persebaran

Triangulasi Udara baik titik kontrol vertikal maupun titik kontrol horisontal. Pengambilan data koordinat untuk keperluan triangulasi udara dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu :

i. Pengadaan data koordinat strip Pengadaan data koordinat strip antara lain dapat dilakukan dengan menggunakan alat multiplex. Data hasil pengamatan berupa data koordinat strip. Strip adalah gabungan dari beberapa foto udara yang saling overlap antara satu foto dengan foto berikutnya. Untuk menggabungkan foto udara tersebut dilakukan dengan mengidentifikasi obyek yang sama antara dua foto udara yang berurutan, selanjutnya kedua foto udara tersebut disambungkan pada obyek yang sama, sehingga antara satu foto dengan foto berikutnya menjadi mosaik foto udara. Dengan cara yang sama dilakukan penyambungan foto berikutnya, sehingga akan membentuk satu strip memanjang dari foto udara dalam satu jalur penerbangan.

ii. Pengadaan data koordinat model Pengadaan data koordinat model dapat dilakukan dengan dua cara sebagai berikut :

a. Dengan menggunakan alat stereo plotter. Hasil pengukuran dengan stereo plotter adalah koordinat model dengan sisitem koordinat yang independent (bebas).

b. Dengan menggunakan Komparator Hasil ukuran denga alat komparator adalah data koordinat komparator. Data koordinat komparator ini terlebih dahulu diubah ke sistem koordinat foto dengan software tertentu. Selanjutnya data koordinat foto ini ditransformasikan ke sistem koordinat model dengan suatu program yang disebut Digital Relative Orientation ( DRO ).

c. Pengadaan data koordinat foto Pengadaan data koordinat foto dilakukan dengan menggunakan alat komparator. Hasil pengukuran dengan komparator ini berupa koordinat komparator yang selanjutnya diubah ke sistem koordinat foto.

BAB 3

LANGKAH KERJA PRAKTIKUM

3. Langkah Kerja Praktikum 3.1.Pembuatan pete indeks dengan autodesk map 5

a. Memasukan citra foto udara ke jendela kerja autodeskmap Klik menu map -> image -> insert

kerja autodeskmap Klik menu map -> image -> insert b. Pilih foto satu persatu mulai dari

b. Pilih foto satu persatu mulai dari R6_10 sampai R8_17 ->open -> klik ok

menu map -> image -> insert b. Pilih foto satu persatu mulai dari R6_10 sampai R8_17
menu map -> image -> insert b. Pilih foto satu persatu mulai dari R6_10 sampai R8_17

c.

Susun urutan foto

R6_10

R6_11

R6_12

R7_15

R7_16

R7_17

R8_15

R8_16

R8_17

R7_15 R7_16 R7_17 R8_15 R8_16 R8_17 d. Buat layer dengan menu layer pada toolbar ->klik new

d. Buat layer dengan menu layer pada toolbar ->klik new Layer terdidri dari

i. R6_10

ii. R6_11

iii. R6_12

iv. R7_15

v. R7_16

vi. R7_17

vii. R8_15

viii. R8_16

ix. R8_17

x. Frame -> warna abu-abu

xi. Garis koneksi -> warna biru muda

xiii.

TP (tie point) -> warna kuning

xiv. PP (past point) -> warna merah

xv. Text ->warna biru

xvi. Point -> warna jingga

xvii. PPA (principal point of auto-collimation) -> warna hijau

Text ->warna biru xvi. Point -> warna jingga xvii. PPA (principal point of auto-collimation) -> warna
Text ->warna biru xvi. Point -> warna jingga xvii. PPA (principal point of auto-collimation) -> warna

e. Pada tiap foto terdapat lingkaran hitam. Tandai lingkaran hitam pada bagian atas, tengah , dan bawah foto. Klik circle -> buat lingkaran -> klik modify -> offset -> klik lingkaran -> klik lingkaran bagian luar, maka akan terbentuk dua longkaran yang saling bertampalan. Lingkaran pada bagian atas dan bawah foto dideskripsikan dalam layer TP dan lingkaran tengah sebagai layer PP.

Lingkaran pada bagian atas dan bawah foto dideskripsikan dalam layer TP dan lingkaran tengah sebagai layer
Lingkaran pada bagian atas dan bawah foto dideskripsikan dalam layer TP dan lingkaran tengah sebagai layer
f. Memberi warna pada lingkaran dengan cara, klik kedua lingkaran yang terbentuk - > draw

f. Memberi warna pada lingkaran dengan cara, klik kedua lingkaran yang terbentuk - > draw -> hatch.

f. Memberi warna pada lingkaran dengan cara, klik kedua lingkaran yang terbentuk - > draw ->

g. Pada jendela boundary hatch pilih pattern solid -> pick point -> Pilih kembali kedua lingkaran -> enter -> ok, maka akan terbentuk fill warna antara dua lingkaran. (warnai sesuai dengan warna layer). Lakukan langkah yang sama untuk membuat lingkaran pada foto lain atau bisa dengan melakukan copy-paste lingkaran agar lebih cepat.

langkah yang sama untuk membuat lingkaran pada foto lain atau bisa dengan melakukan copy-paste lingkaran agar
langkah yang sama untuk membuat lingkaran pada foto lain atau bisa dengan melakukan copy-paste lingkaran agar

h. Membuat PPA (principle point of auto-collimation). Ditiap ujung foto terdapat lingkaran dengan tanda silang yang bernama Fiducial Mark. Hubungkan tiap fiducial mark dengan menarik garis searah diagonal foto sehingga terbentuk persilangan ditengah foto. Pilih line pada toolbar -> klik pada persilangan Fiducial Mark -> tarik searah diagonal -> klik kanan -> ok. Tandai perpotongan garis diagonal tadi dengan lingkaran dengan layer PPA.

searah diagonal -> klik kanan -> ok. Tandai perpotongan garis diagonal tadi dengan lingkaran dengan layer
Dapat dilihat adanya pergeseran antara pusat sistem koordinat foto dengan kamera. i. Menampalkan foto yang

Dapat dilihat adanya pergeseran antara pusat sistem koordinat foto dengan kamera.

i. Menampalkan foto yang satu dengan yang lain. Pilih foto beserta seluruh penanda (PP, TP, PPA) -> klik kanan -> move -> klik bagian objek yang ingin ditampalkan (objek foto harus sama). Lakukan hingga semua foto saling bertampalan.

-> klik bagian objek yang ingin ditampalkan (objek foto harus sama). Lakukan hingga semua foto saling
j. Buat garis koneksi untuk menghubungkan antara titik-titik (PP dan TP) pada foto. Deskripsikan sebagai

j. Buat garis koneksi untuk menghubungkan antara titik-titik (PP dan TP) pada foto. Deskripsikan sebagai layer garis koneksi. Dan menamai tiap titik dengan tool Text. Hilangkan layer citra dengan menonaktifkan simbol lampu pada menu layer untuk mempermudah pembuatan garis koneksi.

Text. Hilangkan layer citra dengan menonaktifkan simbol lampu pada menu layer untuk mempermudah pembuatan garis koneksi.

k. Membuat frame dengan tool ractangle pada toolbar. Lalu buat legenda dengan tool Text.

ractangle pada toolbar. Lalu buat legenda dengan tool Text. l. Save peta indeks yang telah dibuat

l. Save peta indeks yang telah dibuat dengan cara, klik meni file -> plot -> masukan nama file -> pilih direktori penimpanan file -> pilih format -> ok.

klik meni file -> plot -> masukan nama file -> pilih direktori penimpanan file -> pilih

m. Hasil peta indeks yang telah disimpan.

m. Hasil peta indeks yang telah disimpan.

3.2.Proses pendeskripsian koordinat dengan PCI geomatik

a. Buka PCI Geomatika

koordinat dengan PCI geomatik a. Buka PCI Geomatika b. Pilih menu orthoengine c. Buka file dengan

b. Pilih menu orthoengine

PCI geomatik a. Buka PCI Geomatika b. Pilih menu orthoengine c. Buka file dengan format *.prj,

c. Buka file dengan format *.prj, klik file -> open

PCI geomatik a. Buka PCI Geomatika b. Pilih menu orthoengine c. Buka file dengan format *.prj,

d.

Pada processing step, pilih tool camera callibration -> masukkan data dari kal.xls

d. Pada processing step, pilih tool camera callibration -> masukkan data dari kal.xls
d. Pada processing step, pilih tool camera callibration -> masukkan data dari kal.xls

e. Pilih tool project information, pilih aerial photography.

e. Pilih tool project information, pilih aerial photography. f. Pada menu project, klik tool set projection
e. Pilih tool project information, pilih aerial photography. f. Pada menu project, klik tool set projection

f. Pada menu project, klik tool set projection -> ubah data sesuai gambar dibawah.

pilih aerial photography. f. Pada menu project, klik tool set projection -> ubah data sesuai gambar
pilih aerial photography. f. Pada menu project, klik tool set projection -> ubah data sesuai gambar

g. Pada processing step pilih menu data input, klik tool open a new existing photo, pilih foto R610, R611 dan R612.

g. Pada processing step pilih menu data input, klik tool open a new existing photo, pilih
g. Pada processing step pilih menu data input, klik tool open a new existing photo, pilih
g. Pada processing step pilih menu data input, klik tool open a new existing photo, pilih
g. Pada processing step pilih menu data input, klik tool open a new existing photo, pilih

h. Pada jendela Open Photo pilih tab open -> pilih fiducial mark pada foto sesuai dengan daftar fiducial mark di jendela fiducial mark collection.

tab open -> pilih fiducial mark pada foto sesuai dengan daftar fiducial mark di jendela fiducial
tab open -> pilih fiducial mark pada foto sesuai dengan daftar fiducial mark di jendela fiducial

i. Pada processing step pilih menu GCP/TP collection -> klik tool import GCP’s from file untuk mendapat koordinat titik yang diketahui -> pilih format IXYE -> pada bagian select cari file *.txt yang berisi data koordinat GCP.

titik yang diketahui -> pilih format IXYE -> pada bagian select cari file *.txt yang berisi
titik yang diketahui -> pilih format IXYE -> pada bagian select cari file *.txt yang berisi
titik yang diketahui -> pilih format IXYE -> pada bagian select cari file *.txt yang berisi

j. Klik tool collect GCP’s manually -> pilih foto R610 -> pilih titik yang diketahui koordinatnya dari data koordinat yang diketahui -> klik transfer GCP to collection panel > pada foto klik use point sehingga diketahui koordinat foto pada titik -> Pilih foto R611 -> klik titik yang sama seperti pada foto R610 sehingga didapat koordinat foto berbeda dengan titik yang sama.

R611 -> klik titik yang sama seperti pada foto R610 sehingga didapat koordinat foto berbeda dengan
R611 -> klik titik yang sama seperti pada foto R610 sehingga didapat koordinat foto berbeda dengan

k. Selanjutnya untuk titik TP, klik tool manually collect tie points -> klik pada titik yang diketahui sebagai tie points -> klik use points -> pada foto yang berbeda pada tie points ID ketik nama titik -> klik use point. Untuk mengetahui titik yang dipilih benar, keluar dari manually collect tie point -> klik titik pada accepted tie points.

mengetahui titik yang dipilih benar, keluar dari manually collect tie point -> klik titik pada accepted
mengetahui titik yang dipilih benar, keluar dari manually collect tie point -> klik titik pada accepted

BAB 4

PENGOLAHAN DATA DAN ANALISIS

4. Pengolahan Data dan Analisis 4.1.Pengolahan Data (terlampir)

4.2.Analisis

Pada pengolahan foto udara yang berbasis komputer ini sangatlah simpel dan mudah, karena selain tidak mempergunakan benyak elemen tombol seperti pada alat restitusi foto ganda (Demo Analog) dalam melakukan penggambaran detil objek dan penggambaran kontur dari foto udara juga dapat dilakukan dengan hasil yang lebih teliti. Hal ini disebabkan dari dapat di zoom-nya foto udara sampai berkali-kali lipat dari alat restitusi fota ganda manual sehingga detil objek yang di digitasinya menjadi lebih tepat, dan jenis garisnya bervariasi mulai dari 0.01 mm sampai 1 mm. Menjadikan hasil digitasinya lebih akurat jika dibandingkan dengan menggunakan alat restitusi foto ganda. Dimana kelemahan restitusi foto ganda adalah tidak dapat diperbesar berkali- kali lipat dan tumpulnya pensil gambar, yang menyebabkan objek hasil digitasi melebar. Sehingga dapat disimpulkan penggunaan software PCI-Geomatika akan lebih efektif dan tepat guna karena disamping cepat dapat menghasilkan produk peta yang berketelitian tinggi. Software ini sudah lengkap dan sangat cocok digunakan untuk pengolahan foto udara. Pengolahan foto udara secara digital dengan menggunakan Komputer memang sangat praktis. Karena selain alatnya (komputer) tidak memerlukan tempat/ruangan yang cukup besar (jika dibandingkan dengan alat restitusi foto ganda yang memerlukan ruangan yang lumayan besar) hasilnya pun sudah dalam format digital dan dapat dijadikan apa saja. Disamping itu software PCI-Geomatica lebih mudah untuk di dapatkan dan bersifat dinamis atau dapat dibawa atau dipindah- instalkan, sementara untuk manual restitusi foto ganda disamping sulit untuk diperoleh, berat, juga memerlukan perawatan alat yang cukup tinggi.

5.

5.1.Kesimpulan

Penutup

BAB 5

PENUTUP

a. Langkah dalam membuat peta indeks di Autodesk Map 5 :

i. Menandai titik yang merupakan tie point, pass point dan ground control point

ii. Mencari PPA dengan menghubungkan titik fiducial mark dengan garis

iii. Menampali foto dengan mencari objek yang sama pada foto lain

iv. Menghubungkan titik GCP/TP/PP dengan garis koneksi

v. Membuat legenda

vi. Peta Indeks

b. Langkah memberi koordinat pada foto udara di PCI Geomatica V9.0

i.

Membuat projek dalam mode aero triangulation

ii.

Memasukkan data kalibrasi kamera

iii.

Memasukkan data proyeksi peta

iv.

Memasukkan data foto udara

v.

Memasukkan data koordinat fiducial mark

vi.

Memasukkan data koordinat yang diketahui untuk GCP

vii.

Mengintegrasikan titik GCP dari foto yang berbeda

viii.

Memilih data TP pada foto ayang ditandai

ix.

Mengintegrasikan titik TP pada foto yang berbeda

5.2.Saran

a. Perlu penjelasan mengenai Tie Point, Past Point, Ground Control Point, dan Principal Point of Auto-collimation serta kenapa dan bagaimana titik tersebut bisa terbentuk dalam citra foto.

b. Untuk penjelasan mengenai PCI nya masih kurang karena tidak praktik secara langsung dan lebih mengutamakan dalam pembuatan peta indeksnya. Perlu diseimbangkan dalam penjelasan materinya.

DAFTAR PUSTAKA

Suparna Asep, Modul AT_PCI, 2008

Santoso ,Bobby. 2001. Pengantar Fotogrametri, Catatan Kuliah, DTGD.Bandung: Penerbit ITB.

Paul R.Wolf, Bon A. 2000. Elements of Photogrammetry. Dewitt : McGraw-Hill.

LAMPIRAN

LAMPIRAN
LAMPIRAN