Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN TETAP

PRAKTIKUM KIMIA ANALITIK


PENGENCERAN LARUTAN

Tasya Dita Salsa


05031181722010

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI HASIL PERTANIAN


JURUSAN TEKNOLOGI PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2018
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Terdapat banyak reaksi kimia yang dikenal, terutama di dalam laboratorium
atau di industri yang terjadi di dalam larutan. Dalam reaksi-reaksi kimia biasanya
berlangsung reaksi antara dua campuran zat murni. Salah satu bentuk yang umum
dari campuran adalah larutan. Larutan adalah suatu campuran yang homogen
yang komposisinya dapat berbeda, misalnya sejumlah garam dalam sejumlah air
yang diketahui, dapat berbeda dari satu larutan ke larutan yang lain. Dalam
larutan ada dua komponen yaitu solven dan solute. Dalam proses pembuatan
larutan, juga dikenal istilah pengenceran. Pengenceran juga merupakan hal yang
penting dalam bidang industri maupun laboratorium. Pengenceran pada
prinsipnya hanya menambahkan pelarut saja, sehingga jumlah mol zat terlarut
sebelum pengenceran sama dengan jumlah mol zat terlarut sesudah pengenceran.
Dengan kata lain jumlah mol zat terlarut sebelum pengenceran sama dengan
jumlah mol zat terlarut sesudah pengenceran (Taufiqurrahman et al, 2012).
Dalam kimia, pengenceran diartikan pencampuran yang bersifat homogen
antara zat terlarut dan pelarut dalam larutan. Pengenceran juga bisa dilakukan
dengan cara mencampur larutan pekat dengan cara menambahkan pelarut agar
diperoleh volume akhir yang lebih besar. Jika suatu larutan senyawa kimia yang
pekat diencerkan, terkadang ada sejumlah kalor dilepaskan. Hal ini terutama
dapat terjadi pada pengenceran asam sulfat pekat. Agar panas ini dapat
dihilangkan dengan aman, asam sulfat pekat yang harus ditambahkan ke dalam
air, tidak boleh sebaliknya. Jika air ditambahkan ke dalam asam sulfat pekat,
panas yang dilepaskan sedemikian besar yang dapat menyebabkan air mendadak
mendidih dan menyebabkan asam sulfat memercik. Jika kita berada di dekatnya,
percikan asam sulfat ini merusak kulit (Sutrisna et al, 2012).

1.2. Tujuan
Tujuan dari praktikum kali ini adalah mengetahui cara mengencerkan
suatu larutan dengan berbagai konsentrasi.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Karakteristik Asam Klorida Pekat


Asam klorida mempunyai banyak manfaat di laboratorium, antara lain adalah
sebagai pembersih kerak, sebagai penetral basa, sebagai penentuan kadar basa di
dalam larutan. Asam monoprotik memiliki satu tetapan disosiasi asam, Ka, yang
mengindikasikan tingkat disosiasi zat tersebut dalam air. Untuk asam kuat seperti
HCl, nilai Ka cukup besar. Beberapa usaha perhitungan teoritis telah dilakukan
untuk menghitung nilai Ka HCl. Ketika garam klorida seperti NaCl ditambahkan
ke larutan HCl, ia tidak akan mengubah pH larutan secara signifikan. Hal ini
mengindikasikan bahwa Cl− adalah konjugat basa yang sangat lemah dan HCl
secara penuh berdisosiasi dalam larutan tersebut. Untuk larutan asam klorida
yang kuat, asumsi bahwa molaritas H+ sama dengan molaritas HCl cukuplah baik,
dengan ketepatan mencapai empat digit angka bermakna. Seperti disebutkan
dalam pendahuluan, asam klorida adalah asam kuat, dan terbuat dari atom
hidrogen dan klorin. Atom Hidrogen dan klorin berpartisipasi dalam ikatan
kovalen, yang berarti bahwa hidrogen akan berbagi sepasang elektron dengan
klorin (Iskandar et al, 2012).
Ikatan kovalen hadir sampai air ditambahkan ke HCl. Setelah ditambahkan ke
dalam air, HCl akan terpisah menjadi ion hidrogen (yang positif dan akan
melakat pada molekul air) dan ion klorida (yang negatif). HCl bening dan tidak
berwarna ketika ditambahkan ke air. Namun, asam klorida memiliki bau yang
kuat, dan mengandung rasa asam yang khas dari kebanyakan asam. Asam klorida
mudah larut dalam air pada semua konsentrasi, dan memiliki titik didih sekitar
110 derajat Celcius. Asam klorida bersifat korosif, yang berarti akan merusak dan
mengikis jaringan biologis bila tersentuh. Selanjutnya, HCl dapat menyebabkan
kerusakan besar internal jika terhirup atau tertelan. Untuk alasan ini, disarankan
bahwa seseorang yang menangani HCl harus menggunakan sarung tangan,
kacamata, dan masker saat bekerja dengan asam ini. Secara historis disebut asam
muriatat, asam hidroklorida dihasilkan dari vitriol atau asam sulfat dan garam
biasa (Killeainda et al, 2015).
2.2. Karakteristik NaOH
NaOH berwarna putih atau praktis putih, berbentuk pellet, serpihan atau
batang atau bentuk lain. Sangat basa, keras, rapuh dan menunjukkan pecahan
hablur. Bila dibiarkan di udara akan cepat menyerap karbondioksida dan lembab.
mudah larut dalam air dan dalam etanol tetapi tidak larut dalam eter. NaOH
membentuk basa kuat bila dilarutkan dalam air, NaOH murni merupakan padatan
berwarna putih. Senyawa ini sangat mudah terionisasi membentuk ion natrium
dan hidroksida. Natrium hidroksida (NaOH) dikenal sebagai soda kaustik, soda
api, atau sodium hidroksida adalah sejenis basa logam kaustik. Natrium
Hidroksida terbentuk dari oksida basa Natrium Oksida dilarutkan dalam air.
Natrium hidroksida membentuk larutan alkalin yang kuat ketika dilarutkan ke
dalam air. NaOH digunakan di berbagai macam bidang industri, kebanyakan
digunakan sebagai basa dalam proses produksi bubur kayu dan kertas, tekstil, air
minum, sabun dan deterjen. Natrium hidroksida murni berbentuk putih padat dan
tersedia dalam bentuk pelet, serpihan, butiran ataupun larutan jenuh 50% yang
biasa disebut larutan Sorensen (Octovianto et al, 2015).
Natrium hidroksida bersifat lembab cair dan secara spontan menyerap karbon
dioksida di udara bebas karena sangat larut dalam air dan akan melepaskan panas
ketika dilarutkan, karena pada proses pelarutannya dalam air bereaksi secara
eksotermis. Natrium hidroksida juga larut dalam pelarut metanol walapun
kelarutannya dalam cairan tersebut lebih kecil daripada kelarutan senyawa
kalium hidroksida. NaOH sangat larut dalam air dan akan melepaskan panas
ketika dilarutkan, karena pada proses pelarutannya dalam air bereaksi secara
eksotermis, yaitu pelepasan kalor dari sistem ke lingkungan karena titik didih.
Tingkat kelarutannya di dalam air juga cukup tinggi seperti yang sudah dijelaskan
sebelumnya. Hal ini dikarenakan pelarut dari senyawa ini bersifat eksotermik
sehingga sejumlah kalor akan dilepaskan ke lingkungan. Selain itu ketika NaOH
dilarutkan dalam air, NaOH akan terurai secara sempurna menjadi ion Na (Na+)
dan ion OH-, dimana ion Na oleh keaktifan lagam Na itu sendiri, sehingga dapat
menimbulkan panas serta untuk memutuskan ikatan hidrogen jaga saat
penguraian NaOH maka dilepaskan kalor yang besar oleh NaOH kedalam larutan
sehingga terjadilah reaksi eksoterm (Widihastuti et al, 2015).
2.3. Pengenceran Larutan
Pengenceran pada prinsipnya hanya menambahkan pelarut saja, sehingga
jumlah mol zat terlarut sebelum pengenceran sama dengan jumlah mol zat
terlarut sesudah pengenceran. Dengan kata lain jumlah mol zat terlarut sebelum
pengenceran sama dengan jumlah mol zat terlarut sesudah pengenceran atau
jumlah massa zat terlarut sebelum pengenceran sama dengan jumlah massa zat
terlarut sesudah pengenceran. Pengenceran dilakukan dengan menambahkan
akuades ke dalam larutan yang pekat. Penambahan aquades ini mengakibatkan
konsentrasi berubah, bertambahnya volume namun, jumlah mol zat terlarut tetap.
Pengenceran adalah mencampur larutan pekat (konsentrasi tinggi) dengan cara
menambahkan pelarut agar diperoleh volume akhir yang lebih besar. Jika suatu
larutan senyawa kimia yang pekat diencerkan, terkadang terdapat sejumlah panas
dilepaskan. Hal ini terutama dapat terjadi pada pengenceran. Agar panas ini dapat
dihilangkan dengan aman, asam klorida pekat yang harus ditambahkan ke dalam
air, tidak boleh sebaliknya. Jika air ditambahkan ke dalam asam klorida pekat,
panas yang dilepaskan sedemikian besar yang dapat menyebabkan air mendadak
mendidih dan menyebabkan asam klorida memercik. Jika kita berada di dekatnya,
percikan asam klorida ini bisa merusak kulit (Rivai et al, 2013).
Proses pengenceran adalah mencampur larutan pekat dengan konsentrasi
tinggi dengan cara menambahkan pelarut agar diperoleh volume akhir yang lebih
besar. jika suatu larutan senyawa kimia yang pekat diencerkan, kadang- kadang
sejumlah panas dilepaskan. Dengan kata lain jumlah mol zat terlarut sebelum
pengenceran sama dengan jumlah mol zat terlarut sesudah pengenceran. Di dalam
laboratorium maupun di industri juga dikenal pencampuran, dimana dua atau
lebih senyawa yang memiliki konsentrasi yang berbeda dicampurkan menjadi
satu. Baik itu berbentuk cair, padat, maupun gas. Pengenceran merupakan proses
yang dapat dikatakan sebagai penggabungan dari dua atau lebih senyawa, baik itu
berbentuk cair, padat, maupun gas. Proses pengenceran dimaksudkan untuk
membuat suatu bentuk keseragaman. Pengenceran bertujuan untuk
mencampurkan satu atau lebih bahan dengan menambahkan satu bahan ke dalam
bahan lainnya dan dihasilkan suatu bentuk yang seragam dari beberapa konstituen
baik padat, padat menjadi cair, maupun cair menjadi gas (Hersinta et al, 2011).
BAB 3
METODOLOGI PRAKTIKUM

3.1. Waktu dan Tempat


Praktikum ini dilaksanakan pada Laboratorium Kimia Hasil Pertanian,
Jurusan Teknologi Hasil Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Sriwijaya.
Pada tanggal 19 Maret 2018, pukul 10.00 sampai dengan pukul 11.50 WIB.

3.2. Alat dan Bahan


Alat yang digunakan adalah 1) Beaker glass, 2) Gelas ukur, 3) Labu ukur,
dan 4) Pipet tetes.
Bahan yang digunakan adalah 1) Aquadest, 2) Larutan HCL, dan 3) Larutan
NaOH.

3.3. Cara Kerja


Cara kerja pada praktikum pengenceran larutan ini adalah :
1. Siapkan labu ukur 100 mL dan bilas 2x dengan aquadest,
2. Pipet larutan NaOH sebanyak sesuai yang telah saudara hitung pada
perhitungan di atas.
3. Masukkan alikuot kedalam labu ukur yang telah disiapkan dan tambahkan
aquadest ke dalamnya sebanyak 50 mL, dan gojog secara perlahan dengan
posisi tutup labu di bawah.
4. Tambahkan aquadest lagi sampai batas tandada pada labu dan gojog kembali
secara perlahan.
5. Larutan ini akan digunakan untuk titrasi.
BAB 4
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil
Hasil yang didapatkan pada praktikum kali ini adalah:

HCL NaOH
Dik : M1 = 1 M Dik : M1 = 1 M
V2 = 100 mL V2 = 100 mL
M2 = 0,1 M M2 = 0,1 M
Dit : V1… ? Dit : V1… ?
Dij : M1 x V1 = M2 x V2 Dij : M1 x V1 = M2 x V2
1 M x V1= 0,1 M . 100 mL 1 M x V1= 0,1 M . 100 mL
V1 = 0,1 M . 100 mL V1 = 0,1 M . 100 mL
1M 1M
V1 = 10 mL V1 = 10 mL

4.2. Pembahasan
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, larutan dapat diencerkan
apabila konsentrasinya terlalu pekat. Pengenceran dilakukan dengan
menambahkan aquadest ke dalam larutan yang pekat. Jika suatu larutan senyawa
kimia yang pekat diencerkan, terkadang terdapat sejumlah panas dilepaskan. Saat
pembuatan larutan asam klorida terjadi reaksi eksoterm yaitu melepaskan panas
dari sistem ke lingkungan, temperatur dari campuran reaksi akan naik dan energi
potensial dari zat-zat kimia yang bersangkutan akan turun. Sedangkan untuk
reaksi endoterm yaitu menyerap panas dari lingkungan ke sistem, temperatur dari
campuran reaksi akan turun dan energi potensial dari zat-zat imia tersebut akan
naik. Dalam pembuatan larutan HCl dan aquadest, jika kita salah melakukan
percobaan HCl dan aquadest maka dapat meledak. Konsentrasi HCl yang pekat
sehingga jika kita masukkan aquadest ke dalam HCl pekat maka larutan dapat
meledak dan dapat merusak jaringan pada kulit karena memiliki sifat korosif. Hal
ini terutama dapat terjadi pada pengenceran asam klorida pekat. Agar panas ini
dapat dihilangkan dengan aman, asam klorida pekat yang harus ditambahkan ke
dalam air, tidak boleh sebaliknya. Jika air ditambahkan ke dalam asam klorida
pekat, panas yang dilepaskan sedemikian besar yang dapat menyebabkan air
mendadak mendidih dan menyebabkan asam klorida memercik. Pengenceran
selalu menggunakan labu ukur. Pelarut harus ditambahkan sedikit demi sedikit
sampai volume larutan mencapai tanda batas labu takar. Larutan yang dibuat oleh
praktikan akan ditentukan konsentrasinya dengan dua cara yaitu melalui
perhitungan pengenceran dan melalui proses titrasi. Labu ukur digunakan karena
penggunaan labu takar akan lebih tepat dalam penakaran volume. Prinsip
percobaan pengenceran larutan di dasarkan pada konsentrsi suatu zat yang akan
dibuat, serta menggunakan ketelitian tinggi, karena jika terjadi kesalahan yang
kecil, maka larutannya tidak akan menjadi larutan yang diinginkan. Percobaan
kali ini, sebelum melakukan pembuatan larutan HCl, terlebih dahulu dilakukan
penimbangan kelas ukur dan labu takar. Hal ini dilakukan untuk mengetahui berat
larutan yang sebenarnya. Jika pada penimbangan ini terdapat kesalahan, maka
akan berpengaruh terhadap perhitungan nantinya.
Pengenceran larutan NaOH yaitu menyebabkan dapat terionisasi dengan
sempurna di dalam air, karena NaOH mempunyai kelarutan yang besar sehingga
sangat mudah terionisasi di dalam air. Untuk dapat membuat suatu senyawa
NaOH dapat dilakukan dengan cara melarutkan zat terlarut yang berada dalam
bentuk padatan yang telah di lakukan dalam percobaan ini yaitu dengan
melarutkan NaOH ke dalam gelas beker yang telah diisi dengan menggunakan
akuades dan mengaduk larutan tersubut untuk mempercepat laju reaksi dan
mendapatkan suatu larutan yang homogen maka senyawa NaOH yang berupa
butiran akan bereaksi dengan air dan akan terurai menjadi suatu ion Na dan ion
hidroksida sehingga dihasilkan konsentrasi larutan NaOH. NaOH sangat larut
dalam air dan akan melepaskan panas ketika dilarutkan, karena pada proses
pelarutannya dalam air bereaksi secara eksotermis, yaitu pelepasan kalor dari
system ke lingkungan karena titik didih NaOH lebih besar dibandingakan titik
didih air. Semakin banyak massa NaOH maka larutan akan semakin panas dan
kalor yang dilepas juga semakin besarKetika NaOH dilarutkan dalam aquadest
NaOH akan terurai secara sempurna menjadi ion Na+ dan ion OH-, dimana ion Na
oleh keaktifan logam Na dapat menimbulkan panas. NaOH sangat larut dalam
air.dan akan melepaskan panas ketika dilarutkan, karena pada proses pelarutan.
BAB 5
KESIMPULAN

Kesimpulan pada praktikum pengenceran larutan adalah :


1. Larutan dapat diencerkan apabila larutan itu konsentrasinya t erlalu pekat.
2. Prinsip pengenceran larutan didasarkan pada konsentrsi suatu zat yang akan
dibuat, serta menggunakan ketelitian tinggi.
3. Pengenceran dilakukan dengan cara mencampur larutan pekat (konsentrasi
tinggi) dengan cara menambahkan pelarut agar diperoleh volume akhir yang
lebih besar.
4. Penambahan aquades ini mengakibatkan konsentrasi berubah, bertambahnya
volume namun, jumlah mol zat terlarut tetap.
5. Pengenceran dilakukan dengan menambahkan akuades ke dalam larutan yang
pekat.
DAFTAR PUSTAKA

Hersinta, A., dan Sari, P. 2011. Pembuatan Larutan dengan Pereaksi Pemisahan
Jenis KTA VIS T7. Jurnal Radioisotop. 13(4), 11-22.
Iskandar, D., A., dan Adhitama, I. 2012. Pengaruh Katalis Asam Klorida
Terhadap Sintetik Polieugenol dari Minyak Cengkeh (Syzgium
aromaticum). Jurnal Kimia. 17(2), 44-56.
Killeainda, E., S., Ginting, E., Suprihatin, J. 2015. Pengaruh Konsentrasi Larutan
Asam Klorida Tanpa dan dengan Inhibitor Kalium Kromat 0,2%
Terhadap Laju Korosi Baja Api 51 Grade B PsL 1. Jurnal Teori dan
Aplikasi Kimia. 3(1), 53-62.
Octovianto, B., Primudian, A., dan Wardhana, I. 2015. Pengaruh Natrium
Hidroksida pada Sintesis 2,6-BIS (4-Metoksibenzilin) Sikloheksanon
Melalui Reaksi Schmidit. Jurnal Industri Kimia. 20(2), 72-81.
Rivai, H., Sulistiawati, N., dan Krisyanella, Z. 2013. Pembuatan Larutan dan
Karakterisasi serta Penentuan Kadar Flavonoid dari Ekstrak Kering Herba
Meniran. Jurnal Sains Farmasi dan Farmakologi. 5(1), 43-55.
Sutrisna, C., Abimayyu, O., H., dan Kartohardjo, W. 2012. Pengaruh
Pengenceran Larutan Al2SO4 0,1% dengan Katalis H2SO4 Terhadap
Ketahanan Korosi Baja Galvanis pada Pipa Air Minum. Jurnal Kimia
Fisika. 9(5), 23-33.
Taufiqurrahman, H., Daryanti, V., dan Wasti, N. 2012. Pengaruh Berbagai
Macam Konsentrasi Bahan dalam Proses Pengenceran Ekstrak Kulit
Batang Jambu Biji. Jurnal Farmakologi. 7(1), 10-21.
Widihastuti, K., Jauhari, P., S., dan Omani, K. 2015. Pengaruh Konsentrasi
NaOH pada Proses Pemasakan Buah (Agave) Terhadap Sifat-Sifat Fisis
Serat. Jurnal Edukasi Kimia. 2(2), 30-39.