Anda di halaman 1dari 22

1.

1 Limbah Cair
Limbah rumah sakit mengandung bermacam-macam mikroorganisme, bahan-bahan
organik dan an-organik.

1.1.1 Unit Pengelolaan Limbah (UPL) Di Rumah Sakit


1.1.1.1. Kolam Stabilisasi Air Limbah (Waste Stabilization Pond System)
Sistem pengelolaan ini cukup efektif dan efisien kecuali masalah lahan, karena kolam
stabilisasi memerlukan lahan yang cukup luas; maka biasanya dianjurkan untuk rumah sakit di luar
kota (pedalaman) yang biasanya masih mempunyai lahan yang cukup. Sistem ini terdiri dari
bagian-bagian yang cukup sederhana yakni :
1) Pump Swap (pompa air kotor).
2) Stabilization Pond (kolam stabilisasi) 2 buah.
3) Bak Klorinasi
4) Control room (ruang kontrol)
5) Inlet
6) Incinerator antara 2 kolam stabilisasi
7) Outlet dari kolam stabilisasi menuju sistem klorinasi.
1.1.1.2. Kolam Oksidasi Air Limbah (Waste Oxidation Ditch Treatment System)
Sistem ini terpilih untuk pengolahan air limbah rumah sakit di kota, karena tidak
memerlukan lahan yang luas. Kolam oksidasi dibuat bulat atau elips, dan air limbah dialirkan
secara berputar agar ada kesempatan lebih lama berkontak dengan oksigen dari udara (aerasi).
Kemudian air limbah dialirkan ke bak sedimentasi untuk mengendapkan benda padat dan lumpur.
Selanjutnya air yang sudah jernih masuk ke bak klorinasi sebelum dibuang ke selokan umum atau
sungai. Sedangkan lumpur yang mengendap diambil dan dikeringkan pada sludge drying bed
(tempat pengeringan lumpur). Sistem kolam oksidasi ini terdiri dari :
1) Pump Swap (pompa air kotor)
2) Oxidation Ditch (pompa air kotor)
3) Sedimentation Tank (bak pengendapan)
4) Chlorination Tank (bak klorinasi)
5) Sludge Drying Bed ( tempat pengeringan lumpur, biasanya 1-2 petak).
6) Control Room (ruang kontrol)
(Said, 2000)
1.1.1.3. Anaerobic Filter Treatment System
Sistem pengolahan melalui proses pembusukan anaerobik melalui filter/saringan, air
limbah tersebut sebelumnya telah mengalami pretreatment dengan septic tank (inchaff tank).
Proses anaerobic filter treatment biasanya akan menghasilkan effluent yang mengandung zat-zat
asam organik dan senyawa anorganik yang memerlukan klor lebih banyak untuk proses
oksidasinya. Oleh sebab itu sebelum effluent dialirkan ke bak klorida ditampung dulu di bak
stabilisasi untuk memberikan kesempatan oksidasi zat-zat tersebut di atas, sehingga akan
menurunkan jumlah klorin yang dibutuhkan pada proses klorinasi nanti. Sistem Anaerobic
Treatment terdiri dari komponen-komponen antara lain sebagai berikut :
1) Pump Swap (pompa air kotor)
2) Septic Tank (inhaff tank)
3) Anaerobic filter.
4) Stabilization tank (bak stabilisasi)
5) Chlorination tank (bak klorinasi)
6) Sludge drying bed (tempat pengeringan lumpur)
7) Control room (ruang kontrol)
(Said, 2000)
Sesuai dengan debit air buangan dari rumah sakit yang juga tergantung dari besar kecilnya
rumah sakit, atau jumlah tempat tidur, maka kontruksi Anaerobic Filter Treatment Systemdapat
disesuaikan dengan kebutuhan tersebut, misalnya :
1) Volume septic tank
2) Jumlah anaerobic filter
3) Volume stabilization tank
4) Jumlah chlorination tank
5) Jumlah sludge drying bed
6) Perkiraan luas lahan yang diperlukan
(Said, 2000).
Menurut Peraturan Menteri Kesehatan nomor 1204 tahun 2004 tentang persyaratan
kesehatan lingkungan rumah sakit maka limbah cair harus mengikuti ketentuan sebagai berikut :
1. Kualitas limbah (efluen) rumah sakit yang akan dibuang ke badan air ataulingkungan harus
memenuhi persyaratan baku mutu.
2. Efluen sesuai Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor Kep-58/MenLH/12/1995 atau
peraturan daerah setempat.
3. Limbah Cair harus dikumpulkan dalam kontainer yang sesuai dengan keterpaparan bahan
kimia dan radiologi, volume, dan prosedur penanganan dan penyimpangannya.
4. Saluran pembuangan limbah harus menggunakan sistem saluran tertutup, kedap air, dan
limbah harus mengalir dengan lancar, serta terpisah dengan saluran air hujan.
5. Rumah sakit harus memiliki instalasi pengolahan limbah cair sendiri atau bersama-sama secara
kolektif dengan bangunan disekitarnya yang memenuhi persyaratan teknis, apabila belum ada
atau tidak terjangkau sistem pengolahan air limbah perkotaan.
6. Perlu dipasang alat pengukur debit limbah cair untuk mengetahui debit harian limbah yang
dihasilkan.
7. Air limbah dari dapur harus dilengkapi penangkap lemak dan saluran air limbah harus
dilengkapi/ditutup dengan gril.
8. Air limbah yang berasal dari laboratorium harus diolah di Instalasi Pengolahan Air Limbah
(IPAL), bila tidak mempunyai IPAL harus dikelola sesuai kebutuhan yang berlaku melalui
kerjasam dengan pihak lain atau pihak yang berwenang.
9. Frekuensi pemeriksaan kualitas limbah cair terolah (effluent) dilakukan setiap bulan sekali
untuk swapantau dan minimal 3 bulan sekali uji petik sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
10. Rumah sakit yang menghasilkan limbah cair yang mengandung atau terkena zat radioaktif,
pengelolaannya dilakukan sesuai ketentuan BATAN.
11. Parameter radioaktif diberlakukan bagi rumah sakit sesuai dengan bahan radioaktif yang
dipergunakan oleh rumah sakit yang bersangkutan.
(Said, 2000)

1.1.2 Pengumpulan Dan Pembuangan Air Limbah


Pada setiap tempat dimana orang berkumpul akan selalu dihasilkan limbah dan
memerlukan pembuangan. Seperti halnya rumah sakit yang merupakan tempat-tempat umum
menghasilkan limbah yang lazim disebut limbah rumah sakit atau limbah medis. Tetapi sebenarnya
komposisi limbah pada dasarnya tidak banyak berbeda dengan limbah rumah tangga,
bahkan dari segi mikrobiologi sekalipun kecuali limbah yang berasal dari bagian penyakit menular
karena organisme belum dipisahkan melalui proses olahan khusus setempat. Limbah cair medis
adalah semua limbah cair yang berasal dari rumah sakit yang kemungkinan mengandung
mikroorganisme dan bahan kimia beracun. Bila bahan-bahan yang terkontaminasi seperti bedpan,
dressing, tidak ditangani dengan baik selama pengumpulan maka akan dapat terjadi kontaminasi
ruangan secara langsung (Depkes RI, 1995).
Pengelolaan buangan rumah sakit yang baik dan benar adalah dengan melaksanakan
kegiatan sanitasi rumah sakit. Melihat keterpaparan dan dampak-dampak yang dapat ditimbulkan
oleh buangan/limbah rumah sakit seperti tersebut diatas, maka konsep pengelolaan lingkungan
sebagai sebuah sistem dengan berbagai proses manajemen didalamnya yang dikenal sebagai
Sistem Manajemen Lingkungan (Environmental Management System) dan diadopsi Internasional
(Arifin, 2008).

1.1.3. Pengelolaan Limbah Cair Rumah Sakit


Pengelolaan air limbah rumah sakit merupakan bagian yang sangat penting dalam upaya
penyehatan lingkungan rumah sakit yang mempunyai tujuan melindungi masyarakat dari bahaya
pencemaran lingkungan. Air limbah yang tidak ditangani secara benar akan mengakibatkan
dampak negatif khususnya bagi kesehatan, sehingga perlu pengelolaan yang baik agar bila dibuang
ke suatu areal tertentu tidak menimbulkan pencemaran yang didukung dengan Instalasi
Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang dimiliki oleh rumah sakit itu sendiri (Giyatmi, 2003).
Dalam standar Organization for Standar (ISO) yang merupakan salah satu sertifikasi
internasioanal di bidang pengelolaan lingkungan menyebutkan pengelolaan limbah adalah suatu
usaha untuk meningkatkan kualitas dengan menghasilkan limbah yang ramah lingkungan dan tidak
tercemar dan aman bagi masyarakat disekitarnya. Hasil olahan limbah yang ramah lingkungan
merupakan buangan yang tidak menghasilkan bahan-bahan pencemar. Bahan pencemar adalah
jumlah berat zat pencemar dalam satuan waktu tertentu yang merupakan hasil perkalian dari kadar
pencemar dengan debit limbah cair. Dalam pengolahan limbah cair dapat dilakukan dengan
menggunakan cara: 1) trickling filter, 2) kolam aerasi, 3) lumpur aktif, 4) anaerobic lagoon dan
land spraying atau drain field.
1. Pada trickling filter kumpulan benda padat yang berbentuk silinder, pada tempat tersebut
diberikan kerikil, pasir dan subtrak digunakan untuk menyaring air limbah yang akan
disemprotkan dari atas silinder tersebut. Pada kerikil dan pasir tersebut akan membentuk
lapisan biofilm sehingga mampu untuk mendegradasi bahan organik yang berada pada air
limbah tersebut.
2. Kolam aerasi adalah kolam yang diberikan perlakuan aerator sehingga akan mampu untuk
meningkatkan O2 terlarut dalam air limbah tersebut sehingga dapat mencukupi kebutuhan
mikroba.
3. Lumpur aktif merupakan lumpur yang berisi kumpulan mikroba. Aerobic lagoon adalah bak-
bak yang diberikan mikroba anaerob yang mampu berperan dalam mengolah air limbah dalam
kondisi anaerobik.
(Giyatmi, 2003).

1.1.4 Teknologi Pengolahan Air Limbah


Untuk mengolah air yang mengandung senyawa organik umumnya menggunakan
teknologi pengolahan air limbah secara biologis atau gabungan antara proses biologis dengan
proses kimia-fisika. Proses secara biologis tersebut dapat dilakukan pada kondisi aerobik (dengan
udara), kondisi anaerobik (tanpa udara) atau kombinasi anaerobik dan aerobik. Proses biologis
aeorobik biasanya digunakan untuk pengolahan air limbah dengan beban BOD yang tidak terlalu
besar, sedangkan proses biologis anaerobik digunakan untuk pengolahan air limbah dengan beban
BOD yang sangat tinggi (Said, 2000).
Pengolahan air limbah secara bilogis aerobik secara garis besar dapat dibagi menjadi tiga
yakni proses biologis dengan biakan tersuspensi (suspended culture), proses biologis dengan
biakan melekat (attached culture) dan proses pengolahan dengan sistem lagoon atau kolam. Proses
biologis dengan biakan tersuspensi adalah sistem pengolahan dengan menggunakan aktifitas
mikroorganisme untuk menguraikan senyawa polutan yang ada dalam air dan mikroorganime yang
digunakan dibiakkan secara tersuspesi di dalam suatu reaktor. Beberapa contoh proses pengolahan
dengan sistem ini antara lain : proses lumpur aktif standar/konvesional (standard activated sludge),
step aeration, contact stabilization, extended aeration, oxidation ditch (kolam oksidasi sistem parit)
dan lainya. Proses biologis dengan biakan melekat yakni proses pengolahan limbah dimana mikro-
organisme yang digunakan dibiakkan pada suatu media sehingga mikroorganisme tersebut melekat
pada permukaan media. Beberapa contoh teknologi pengolahan air limbah dengan cara ini antara
lain : trickling filter atau biofilter, rotating biological contactor (RBC), contact aeration/oxidation
(aerasi kontak) dan lainnnya (Said, 2000).
Proses pengolahan air limbah secara biologis dengan lagoon atau kolam adalah dengan
menampung air limbah pada suatu kolam yang luas dengan waktu tinggal yang cukup lama
sehingga dengan aktifitas mikro-organisme yang tumbuh secara alami, senyawa polutan yang ada
dalam air akan terurai. Untuk mempercepat proses penguraian senyawa polutan atau
memperpendek waktu tinggal dapat juga dilakukam proses aerasi. Salah satu contoh proses
pengolahan air limbah dengan cara ini adalah kolam aerasi atau kolam stabilisasi (stabilization
pond). Proses dengan sistem lagoon tersebut kadang-kadang dikategorikan sebagai proses
biologis dengan biakan tersuspensi. Secara garis besar klasifikasi proses pengolahan air limbah
secara aerobik karakteristik pengolahan, parameter perencanaan serta efisiensi pengolahan untuk
tiap-tiap jenis proses. Untuk memilih jenis teknologi atau proses yang akan digunakan untuk
pengolahan air limbah, beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain yakni karakteristik air
limbah, jumlah limbah serta standar kualitas air olahan yang diharapkan (Said, 2000).
Teknologi proses pengolahan air limbah yang digunakan untuk mengolah air limbah rumah
sakit pada dasarnya hamper sama dengan teknologi proses pengolahan untuk air limbah yang
mengandung polutan organik lainnya. Pemilihan jenis proses yang digunakan harus
memperhatikan beberapa faktor antara lain yakni kualitas limbah dan kualitas air hasil olahan yang
diharapkan, jumlah air limbah, lahan yang tersedia dan yang tak kalah penting yakni sumber energi
yang tersedia. Berapa teknologi proses pengolahan air limbah rumah sakit yang sering digunakan
yakni antara lain: proses lumpur aktif (activated sludge process), reaktor putar biologis (rotating
biological contactor, RBC), proses aerasi kontak (contact aeration process), dan proses dengan
biofilter “Up Flow” .
Gambar. Klasifikasi proses pengolahan air limbah secara biologis aerobik. (Said, 2000).
1.1.4.1. Pengolahan Air Limbah Dengan Proses Lumpur Aktif
Pengolahan air limbah dengan proses lumpur aktif secara umum terdiri dari bak pengendap
awal, bak aerasi dan bak pengendap akhir, serta bak khlorinasi untuk membunuh bakteri patogen.
Secara umum proses pengolahannya adalah sebagai berikut, Air limbah yang berasal dari rumah
sakit ditampung ke dalam bak penampung air limbah. Bak penampung ini berfungsi sebagai bak
pengatur debit air limbah serta dilengkapi dengan saringan kasar untuk memisahkan kotoran yang
besar. Kemudian air limbah dalam bak penampung di pompa ke bak pengendap awal. Bak
pengendap awal berfungsi untuk menurunkan padatan tersuspensi (Suspended Solids) sekitar 30 -
40 %, serta BOD sekitar 25 %. Air limpasan dari bak pengendap awal dialirkan ke bak aerasi
secara gravitasi. Di dalam bak aerasi ini air limbah dihembus dengan udara sehingga mikro
organisme yang ada akan menguraikan zat organik yang ada dalam air limbah. Energi yang
didapatkan dari hasil penguraian zat rganik tersebut digunakan oleh mikrorganisme untuk proses
pertumbuhannya (Khairul, 2012).
Dengan demikian didalam bak aerasi tersebut akan tumbuh dan berkembang biomasa
dalam jumlah yang besar. Biomasa atau mikroorganisme inilah yang akan menguaraikan senyawa
polutan yang ada di dalam air limbah. Dari bak aerasi, air dialirkan ke bak pengendap akhir. Di
dalam bak ini lumpur aktif yang mengandung massa mikroorganisme diendapkan dan dipompa
kembali ke bagian inlet bak aerasi dengan pompa sirkulasi lumpur. Air limpasan (over flow) dari
bak pengendap akhir dialirkan ke bak khlorinasi. Di dalam bak kontaktor khlor ini air limbah
dikontakkan dengan senyawa khlor untuk membunuh microorganisme patogen. Air olahan, yakni
air yang keluar setelah proses khlorinasi dapat langsung dibuang ke sungai atau saluran umum.
Dengan proses ini air limbah rumah sakit dengan konsentrasi BOD 250 -300 mg/lt dapat di
turunkan kadar BOD nya menjadi 20 -30 mg/lt. Skema proses pengolahan air limbah rumah sakit
dengan sistem aerasi kontak dapat dilihat pada Gambar di bawah ini.
Gambar 2.2 proses pengolahan air limbah dengan proses lumpur
aktif (Khairul, 2012).
Surplus lumpur dari bak pengendap awal maupun akhir ditampung ke dalam bak pengering
lumpur, sedangkan air resapannya ditampung kembali di bak penampung air limbah. Keunggulan
proses lumpur aktif ini adalah dapat mengolah air limbah dengan beban BOD yang besar, sehingga
tidak memerlukan tempat yang besar. Proses ini cocok digunakan untuk mengolah air limbah
dalam jumlah yang besar. Sedangkan beberapa kelemahannya antara lain yakni kemungkinan
dapat terjadi bulking pada lumpur aktifnya, terjadi buih, serta jumlah lumpur yang dihasilkan
cukup besar (Khairul, 2012).

1.1.4.2. Pengolahan Air Limbah Dengan Proses Reaktor Biologis Putar (Rotating Biological
Contactor, RBC)
Reaktor biologis putar (rotating biological contactor) disingkat RBC adalah salah satu
teknologi pengolahan air limbah yang mengandung polutan organik yang tinggi secara biologis
dengan sistem biakan melekat (attached culture). Prinsip kerja pengolahan air limbah dengan RBC
yakni air limbah yang mengandung polutan organik dikontakkan dengan lapisan mikroorganisme
(microbial film) yang melekat pada permukaan media di dalam suatu reaktor. Media tempat
melekatnya film biologis ini berupa piringan (disk) dari bahan polimer atau plastik yang ringan
dan disusun dari berjajar-jajar pada suatu poros sehingga membentuk suatu modul atau paket,
selanjutnya modul tersebut diputar secara pelan dalam keadaan tercelup sebagian ke dalam air
limbah yang mengalir secara kontinyu ke dalam reaktor tersebut. Dengan cara seperti ini
mikroorganisme miaslanya bakteri, alga, protozoa, fungi, dan lainnya tumbuh melekat pada
permukaan media yang berputar tersebut membentuk suatu lapisan yang terdiri dari
mikroorganisme yang disebut biofilm (lapisan biologis) (Said, 2000).
Mikro-organisme akan menguraikan atau mengambil senyawa organik yang ada dalam air
serta mengambil oksigen yang larut dalam air atau dari udara untuk proses metabolismenya,
sehingga kandungan senyawa organik dalam air limbah berkurang. Pada saat biofilm yang melekat
pada media yang berupa piringan tipis tersebut tercelup kedalam air limbah, mikroorganisme
menyerap senyawa organik yang ada dalam air limbah yang mengalir pada permukaan biofilm,
dan pada saat biofilm berada di atas permuaan air, mikroorganisme menyerap okigen dari udara
atau oksigen yang terlarutdalam air untuk menguraikan senyawa organik. Enegi hasil penguraian
senyawa organik tersebut digunakan oleh mikroorganisme untuk proses perkembang-biakan atau
metabolisme. Senyawa hasil proses metabolisme mikro-organisme tersebut akan keluar dari
biofilm dan terbawa oleh aliran air atau yang berupa gas akan tersebar ke udara melalui rongga-
rongga yang ada pada mediumnya, sedangkan untuk padatan tersuspensi (SS) akan tertahan pada
pada permukaan lapisan biologis (biofilm) dan akan terurai menjadi bentuk yang larut dalam air.
Pertumbuhan mikro-organisme atau biofilm tersebut makin lama semakin tebal, sampai akhirnya
karena gaya beratnya sebagian akan mengelupas dari mediumnya dan terbawa aliran air keluar.
Selanjutnya, mikro-organisme pada permukaan medium akan tumbuh lagi dengan sedirinya
hingga terjadi kesetimbangan sesuai dengan kandungan senyawa organik yang ada dalam air
limbah. Secara sederhana proses penguraian senyawa organik oleh mikroorganisme di dalam RBC
dapat digambarkan seperti pada Gambar 3.3 .

Gambar. Proses penguraian senyawa organik oleh miroorganisme di dalam RBC (Said, 2000)
1. Proses Pengolahan
Secara garis besar proses pengolahan air limbah dengan sistem RBC terdiri dari bak
pemisah pasir, bak pengendap awal, bak kontrol aliran, reaktor/kontaktor biologis putar (RBC),
Bak pengendap akhir, bak khlorinasi, serta unit pengolahan lumpur. Diagram proses pengolahan
air limbah dengan sistem RBC :

Gambar 2.4 Diagram pengolahan limbah dengan sistem RBC


(Said, 2000)
2. Bak Pemisah Pasir
Air limbah dialirkan dengan tenang ke dalam bak pemisah pasir, sehingga kotoran yang
berupa pasir atau lumpur kasar dapat diendapkan. Sedangkan kotoran yang mengambang misalnya
sampah, plastik, sampah kain dan lainnya tertahan pada sarangan (screen) yang dipasang pada inlet
kolam pemisah pasir tersebut. Bak Pengendap Awal dari bak pemisah/pengendap pasir, air limbah
dialirkan ke bak pengedap awal. Di dalam bak pengendap awal ini lumpur atau padatan tersuspensi
sebagian besar mengendap. Waktu tinggal di dalam bak pengedap awal adalah 2 - 4 jam, dan
lumpur yang telah mengendap dikumpulkan daan dipompa ke bak pengendapan lumpur (Said,
2000).

3. Bak Kontrol Aliran


Jika debit aliran air limbah melebihi kapasitas perencanaan, kelebihan debit air limbah
tersebut dialirkan ke bak kontrol aliran untuk disimpan sementara. Pada waktu debit aliran turun
/ kecil, maka air limbah yang ada di dalam bak kontrol dipompa ke bakpengendap awal bersama-
sama air limbah yang baru sesuai dengan debit yang diinginkan. Kontaktor (reaktor) Biologis
Putar Di dalam bak kontaktor ini, media berupa piringan (disk) tipis dari bahan polimer atau plastik
dengan jumlah banyak, yang dilekatkan atau dirakit pada suatu poros, diputar secara pelan dalam
keadaan tercelup sebagian ke dalam air limbah. Waktu tinggal di dalam bak kontaktor kira-kira
2,5 jam. Dalam kondisi demikian, mikro-organisme akan tumbuh pada permukaan media yang
berputar tersebut, membentuk suatu lapisan (film) biologis. Film biologis tersebut terdiri dari
berbagai jenis/spicies mikroorganisme misalnya bakteri, protozoa, fungi, dan lainnya.
Mikroorganisme yang tumbuh pada permukaan media inilah yang akan menguraikan senaywa
organik yang ada di dalam air limbah. Lapsian biologis tersebut makin lama makin tebal dan
kerena gaya beratnya akan mengelupas dengan sedirinya dan lumpur orgnaik tersebut akan
terbawa aliran air keluar. Selanjutnya laisan biologis akan tumbuh dan berkembang lagi pada
permukaan media dengan sendirinya. Bak Pengendap Akhir Air limbah yang keluar dari bak
kontaktor (reaktor) selanjutnya dialirkan ke bak pengendap akhir, dengan waktu pengendapan
sekitar 3 jam. Dibandingkan dengan proses lumpur aktif, lumpur yang berasal dari RBC lebih
mudah mengendap, karena ukurannya lebih besar dan lebih berat. Air limpasan (over flow) dari
bak pengendap akhir relaitif sudah jernih, selanjutnya dialirkan ke bak khlorinasi. Sedangkan
lumpur yang mengendap di dasar bak di pompa ke bak pemekat lumpur bersama-sama dengan
lumpur yang berasal dari bak pengendap awal (Said, 2000).

4. Bak Khlorinasi
Air olahan atau air limpasan dari bak pengendap akhir masih mengandung bakteri coli,
bakteri patogen, atau virus yang sangat berpotensi menginfeksi ke masyarakat sekitarnya. Untuk
mengatasi hal tersebut, air limbah yang keluar dari bak pengendap akhir dialirkan ke bak khlorinasi
untuk membunuh mikroorganisme patogen yang ada dalam air. Di dalam bak khlorinasi, air limbah
dibubuhi dengan senyawa khlorine dengan dosis dan waktu kontak tertentu sehingga seluruh
mikroorgnisme patogennya dapat di matikan. Selanjutnya dari bak khlorinasi air limbah sudah
boleh dibuang ke badan air (Said, 2000).

5. Bak Pemekat Lumpur


Lumpur yang berasal dari bak pengendap awal maupun bak pengendap akhir dikumpulkan
di bak pemekat lumpur. Di dalam bak tersebut lumpur di aduk secara pelan kemudian di pekatkan
dengan cara didiamkan sekitar 25 jam sehingga lumpurnya mengendap,
selanjutnya air supernatant yang ada pada bagian atas dialirkan ke bak pengendap awal, sedangkan
lumpur yang telah pekat dipompa ke bak pengering lumpur atau ditampung pada bak tersendiri
dan secara periodik dikirim ke pusat pengolahan lumpur di tempat lain (Said, 2000).
Beberapa keunggulan proses pengolahan air limbah dengan sistem RBC antara lain :
Pengoperasian alat serta perawatannya mudah.

Untuk kapasitas kecil / paket, dibandingkan dengan proses lumpur aktif konsumsi energi
lebih rendah.
Dapat dipasang beberapa tahap (multi stage), sehingga tahan terhadap fluktuasi beban
pengoalahan.
Reaksi nitrifikasi lebih mudah terjadi, sehingga efisiensi
penghilangan ammonium lebih besar.
Tidak terjadi bulking ataupun buih (foam) seperti pada proses lumpur aktif.
(Said, 2000).
Sedangkan beberapa kelemahan dari proses pengolahan air limbah dengan sistem RBC
antara lain :
Pengontrolan jumlah mikro-organisme sulit dilakukan.
Sensitif terhadap perubahan temperatur.
Kadang-kadang konsentrasi BOD air olahan masih tinggi.
Dapat menimbulkan pertumbuhan cacing rambut, serta kadang-kadang timbul bau yang
kurang busuk.
(Said, 2000)

1.1.4.3. Pengolahan Air Limbah Dengan Proses Aerasi Kontak


Proses ini merupakan pengembangan dari proses lumpur aktif dan proses biofilter.
Pengolahan air limbah dengan proses aerasi kontak ini terdiri dari dua bagian yakni pengolahan
primer dan pengolahan sekunder
1. Pengolahan Primer
Pada pengolahan primer ini, air limbah dialirkan melalui saringan kasar (bar screen) untuk
menyaring sampah yang berukuran besar seperti sampah daun, kertas, plastik dll. Setelah melalui
screen air limbah dialirkan ke bak pengendap awal, untuk mengendapkan partikel
lumpur, pasir dan kotoran lainnya. Selain sebagai bak pengendapan, juga berfungasi sebagai bak
pengontrol aliran (Said, 2000).
2. Pengolahan Sekunder
Proses pengolahan sekunder ini terdiri dari bak kontaktor anaerob (anoxic) dan bak
kontaktor aerob. Air limpasan dari bak pengendap awal dipompa dan dialirkan ke bak penenang,
kemudian dari bak penenang air limbah mengalir ke bak kontaktor anaerob dengan arah aliran dari
bawah ke atas (Up Flow). Didalam bak kontaktor anaerob tersebut diisi dengan media dari bahan
plastik atau kerikil/batu split. Jumlah bak kontaktor anaerob ini bisa dibuat lebih dari satu sesuai
dengan kualitas dan jumlah air baku yang akan diolah (Said, 2000).
Air limpasan dari bak pengendap awal dipompa dan dialirkan ke bak penenang, kemudian
dari bak penenang air limbah mengalir ke bak kontaktor anaerob dengan arah aliran dari bawah ke
atas (Up Flow). Di dalam bak kontaktor anaerob tersebut diisi dengan media dari bahan plastik
atau kerikil/batu split. Jumlah bak kontaktor anaerob ini bisa dibuat lebih dari satu sesuai dengan
kualitas dan jumlah air baku yang akan diolah. Air limpasan dari bak kontaktor anaerob dialirkan
ke bak aerasi. Di dalam bak aerasi ini diisi dengan media dari bahan pasltik (polyethylene), batu
apung atau bahan serat, sambil diaerasi atau dihembus dengan udara sehingga mikro organisme
yang ada akan menguraikan zat organik yang ada dalam air limbah serta tumbuh dan menempel
pada permukaan media. Dengan demikian air limbah akan kontak dengan mikroorgainisme yang
tersuspensi dalam air maupun yang menempel pada permukaan media yang mana hal tersebut
dapat meningkatkan efisiensi penguraian zat organik. Proses ini sering di namakan Aerasi Kontak
(Contact Aeration). Dari bak aerasi, air dialirkan ke bak pengendap akhir. Di dalam bak ini lumpur
aktif yang mengandung massa mikro-organisme diendapkan dan dipompa kembali ke bagian inlet
bak aerasi dengan pompa sirkulasi lumpur. Sedangkan air limpasan (over flow) dialirkan ke bak
khlorinasi. Di dalam bak kontaktor khlor ini air limbah dikontakkan dengan senyawa khlor untuk
membunuh mikroorganisme patogen. Air olahan, yakni air yang keluar setelah proses khlorinasi
dapat langsung dibuang ke sungai atau saluran umum. Dengan kombinasi proses anaerob dan
aerob tersebut selain dapat menurunkan zat organik (BOD, COD), cara ini dapat menurunkan
konsentrasi nutrient (nitrogen) yang ada dalam air limbah.Dengan proses ini air limbah rumah
sakit dengan konsentrasi BOD 250 -300 mg/lt dapat di turunkan kadar BOD nya menjadi 20 -30
mg/lt. Skema proses pengolahan air limbah rumah sakit dengan sistem aerasi kontak dapat dilihat
pada Gambar 2.5.
Gambar. Diagram Pengolahan Air Limbah Dengan Aerasi Kontak
(Said, 2000).
Surplus lumpur dari pengendap awal maupun akhir ditampung ke dalam bak pengering
lumpur, sedangkan air resapannya ditampung kembali di bak penampung air limbah (Said, 2000).
Keunggulan Proses Aerasi Kontak :
Pengelolaannya sangat mudah.
Biaya operasinya rendah.
Dibandingkan dengan proses lumpur aktif, lumpur yang dihasilkan relatif sedikit.
Dapat menghilangkan nitrogen dan phospor yang dapat menyebabkan euthropikasi.
Suplai udara untuk aerasi relatif kecil.
Dapat digunakan untuk air limbah dengan beban BOD yang cukup besar.
(Said, 2000)

1.1.4.4. Pengolahan Air Limbah Dengan Proses Biofilter “Up Flow”


Proses pengolahan air limbah dengan biofilter “up flow” ini terdiri dari bak pengendap,
ditambah dengan beberapa bak biofilter yang diisi dengan media kerikil atau batu pecah, plastik
atau media lain. Penguraian zat-zat organik yang ada dalam air limbah dilakukan oleh bakteri
anaerobik atau facultatif aerobik Bak pengendap terdiri atas 2 ruangan, yang pertama berfungsi
sebagai bak pengendap pertama, sludge digestion (pengurai lumpur) dan penampung lumpur
sedangkan ruang kedua berfungsi sebagai pengendap kedua dan penampung lumpur yang tidak
terendapkan di bak pertama, dan air luapan dari bak pengendap dialirkan ke media filter dengan
arah aliran dari bawah ke atas (Ningsih, 2009).
Setelah beberapa hari operasi, pada permukaan media filter akan tumbuh lapisan film
mikroorganisme. Mikroorganisme inilah yang akan menguraikan zat organik yang belum sempat
terurai pada bak pengendap. Air luapan dari biofilter kemudian dibubuhi dengan khlorine atau
kaporit untuk membunuh mikroorganisme patogen, kemudian dibuang langsung ke sungai atau
saluran umum. Skema proses pengolahan air limbah dengan biofilter “Up Flow” dapat dilihat
seperti terlihat dalam Gambar 3.6

Gambar 2.6 Diagram Pengolahan Air Limbah dengan Sistem Biofilter “Up
Flow” (Ningsih, 2009).
Biofilter “Up Flow” ini mempunyai 2 fungsi yang menguntungkan dalam proses
pengolahan air buangan yakni antara lain :
Adanya air buangan yang melalui media kerikil yang terdapat pada biofilter lama kelamaan
mengakibatkan timbulnya lapisan lendir yang menyelimuti kerikil atau yang disebut juga
biological filmAir limbah yang masih mengandung zat organik yang belum teruraikan pada
bak pengendap bila melalui lapisan lendir ini akan mengalami proses penguraian secara
biologis. Efisiensi biofilter tergantung dari luas kontak antara air limbah dengan mikro-
organisme yang menempel pada permukaan media filter tersebut. Makin luas bidang
kontaknya maka efisiensi penurunan konsentrasi zat organiknya (BOD) makin besar. Selain
menghilangkan atau mengurangi konsentrasi BOD cara ini dapat juga mengurangi konsentrasi
padatan tersuspensi atau suspended solids (SS) dan konsentrasi total nitrogen dan posphor.
Biofilter juga berfungsi sebagai media penyaring air limbah yang melalui media ini. Sebagai
akibatnya, air limbah yang mengandung suspended solids dan bakteri E.Coli setelah melalui
filter ini akan berkurang konsentrasinya. Efesiensi penyaringan akan sangat besar karena
dengan adanya biofilter up flow yakni penyaringan dengan sistem aliran dari bawah ke atas
akan mengurangi kecepatan partikel yang terdapat pada air buangan dan partikel yang tidak
terbawa aliran ke atas akan mengendapkan di dasar bak filter. Sistem biofilter Up Flow ini
sangat sederhana, operasinya mudah dan tanpa memakai bahan kimia serta tanpa
membutuhkan energi. Proses ini cocok digunakan untuk mengolah air limbah dengan kapasitas
yang tidak terlalu besar.
(Ningsih, 2009).
Kriteria perencanaan bak pengendap harus memenuhi persyaratan tertentu antara lain:
Bahan bangunan harus kuat terhadap tekanan atau gaya berat yang mungkin timbul dan harus
tahan terhadap asam serta harus kedap air.
Jumlah ruangan disarankan minimal 2 (dua) buah.
Waktu tinggal (residence time) 1s/d 3 hari.
Bentuk Tangki empat persegi panjang dengan perbandingan panjang dan lebar 2 s/d 3 : 1.
Lebar Bak minimal 0,75 meter dan panjang bak minimal 1,5 meter.
Kedalaman air efektif antara 1-2 meter, tinggi ruang bebas air 0,2 - 0,4 meter dan tinggi
ruang .
Untuk penyimpanan lumpur 1/3 dari kedalaman air efektif (laju produksi lumpur sekitar 0,03
- 0,04 M3/orang /tahun ).
Dasar bak dapat dibuat horizontal atau dengan kemiringan tertentu untuk memudahkan
pengurasan lumpur.
Pengurasan lumpur minimal dilakukan setiap 2 - 3 tahun.
(Ningsih, 2009).
Kriteria perencanaan biofilter “Up Flow” harus memenuhi beberapa persyaratan atara
lain yakni :
Bak biofilter terdiri dari 1 (satu) ruangan atau lebih.
Media filter terdiri dari kerikil atau batu pecah atau bahan plastik dengan ukuran diameter
rata-rata 20 -25 mm , dan ratio volume rongga 0,45.
Tinggi filter (lapisan kerikil) 0,9 -1,2 meter.
Beban hidrolik filter maksimum 3,4 M3/m2/hari.
Waktu tinggal dalam filter 6 -9 jam (didasarkan pada volume rongga filter).
(Ningsih, 2009).

1.1.4.5. Pengolahan Air Limbah Rumah Sakit Dengan Proses Biofilter Anaerob-Aerob
Proses ini pengolahan dengan biofilter anaerob-aerob ini merupakan pengembangan dari
proses proses biofilter anaerob dengan proses aerasi kontak Pengolahan air limbah dengan proses
biofilter anaerob-aerob terdiri dari beberapa bagian yakni bak pengendap awal, biofilter anaerob
(anoxic), biofilter aerob, bak pengendap akhir, dan jika perlu dilengkapi dengan bak kontaktor
khlor. Air limbah dialirkan melalui saringan kasar (bar screen) untuk menyaring sampah yang
berukuran besar seperti sampah daun, kertas, plastik dll. Setelah melalui screen air limbah
dialirkan ke bak pengendap awal, untuk mengendapkan partikel lumpur, pasir dan kotoran lainnya.
Selain sebagai bak pengendapan, juga berfungasi sebagai bak pengontrol aliran, serta bak pengurai
senyawa organik yang berbentuk padatan, sludge digestion (pengurai lumpur) dan penampung
lumpur. Air limpasan dari bak pengendap awal selanjutnya dialirkan ke bak kontaktor anaerob
dengan arah aliran dari atas ke bawah dan bawah ke atas. Di dalam bak kontaktor anaerob tersebut
diisi dengan media dari bahan plastik atau kerikil/batu split. Jumlah bak kontaktor anaerob ini bisa
dibuat lebih dari satu sesuai dengan kualitas dan jumlah air baku yang akan diolah. Penguraian
zat-zat organik yang ada dalam air limbah dilakukan oleh bakteri anaerobik atau facultatif aerobic
(Said, 2000).
Setelah beberapa hari operasi, pada permukaan media filter akan tumbuh lapisan film
mikroorganisme. Mikroorganisme inilah yang akan menguraikan zat organik yang belum sempat
terurai pada bak pengendap Air limpasan dari bak kontaktor anaerob dialirkan ke bak kontaktor
aerob. Di dalam bak kontaktor aerob ini diisi dengan media dari bahan kerikil, pasltik
(polyethylene), batu apung atau bahan serat, sambil diaerasi atau dihembus dengan udara sehingga
mikroorganisme yang ada akan menguraikan zat organik yang ada dalam air limbah serta tumbuh
dan menempel pada permukaan media. Dengan demikian air limbah akan kontak dengan
mikroorganisme yang tersuspensi dalam air maupun yang menempel pada permukaan media yang
mana hal tersebut dapat meningkatkan efisiensi penguraian zat organik, deterjen serta
mempercepat proses nitrifikasi, sehingga efisiensi penghilangan ammonia menjadi lebih besar.
Proses ini sering di namakan Aerasi Kontak (Contact Aeration). Dari bak aerasi, air dialirkan ke
bak pengendap akhir. Di dalam bak ini lumpur aktif yang mengandung massa mikroorganisme
diendapkan dan dipompa kembali ke bagian inlet bak aerasi dengan pompa
sirkulasi lumpur. Sedangkan air limpasan (over flow) dialirkan ke bak khlorinasi. Di dalam bak
kontaktor khlor ini air limbah dikontakkan dengan senyawa khlor untuk membunuh
microorganisme patogen. Air olahan, yakni air yang keluar setelah proses khlorinasi dapat
langsung dibuang ke sungai atau saluran umum. Dengan kombinasi proses anaerob dan aerob
tersebut selain dapat menurunkan zat organik (BOD, COD), ammonia, deterjen, padatan
tersuspensi (SS), phospat dan lainnya. Skema proses pengolahan air limbah rumah sakit dengan
sistem biofilter anaerob-aerob dapat dilihat pada Gambar 3.7.

Gambar 2.7 Proses dengan Biofilter “Anaerob-Aerob”


(Said, 2000).

Keuntungan Proses dengan Biofilter “Anaerob-Aerob” yakni :


Adanya air buangan yang melalui media kerikil yang terdapat pada biofilter mengakibatkan
timbulnya lapisan lendir yang menyelimuti kerikil atau yang disebut juga biological film. Air
limbah yang masih mengandung zat organik yang belum teruraikan pada bak pengendap bila
melalui lapisan lendir ini akan mengalami proses penguraian secara biologis. Efisiensi biofilter
tergantung dari luas kontak antara air limbah denganmikroorganisme yang menempel pada
permukaan media filter tersebut. Makin luas bidang kontaknya maka efisiensi penurunan
konsentrasi zat organiknya (BOD) makin besar. Selain menghilangkan atau mengurangi
konsentrasi BOD dan COD, cara ini dapat juga mengurangi konsentrasi padatan tersuspensi
atau suspended solids (SS) , deterjen (MBAS), ammonium dan posphor.
Biofilter juga berfungsi sebagai media penyaring air limbah yang melalui media ini. Sebagai
akibatnya, air limbah yang mengandung suspended solids dan bakteri E.coli setelah melalui
filter ini akan berkurang konsentrasinya. Efesiensi penyaringan akan sangat besar karena
dengan adanya biofilter up flowyakni penyaringan dengan sistem aliran dari bawah ke atas
akan mengurangi kecepatan partikel yang terdapat pada air buangan dan partikel yang tidak
terbawa aliran ke atas akan mengendapkan di dasar bak filter. Sistem biofilter anaerob-aerob
ini sangat sederhana, operasinya mudah dan tanpa memakai bahan kimia serta tanpa
membutuhkan energi. Poses ini cocok digunakan untuk mengolah air limbah dengan kapasitas
yang tidak terlalu besar
Dengan kombinasi proses “Anaerob-Aerob”, efisiensi penghilangan senyawa phospor menjadi
lebih besar bila dibandingankan dengan proses anaerob atau proses aerob saja. Phenomena
proses penghilangan phosphor oleh mikroorganisne pada proses pengolahan anaerob-aerob
dapat diterangkan seperti pada Gambar 3.7. Selama berada pada kondisi anaerob, senyawa
phospor anorganik yang ada dalam sel-sel mikrooragnisme akan keluar sebagi akibat hidrolosa
senyawa phospor. Sedangkan energi yang dihasilkan digunakan untuk menyerap BOD
(senyawa organik) yang ada di dalam air limbah. Efisiensi penghilangan BOD akan berjalan
baik apabila perbandingan antara BOD dan phospor (P) lebih besar 10. Selama berada pada
kondisi aerob, senyawa phospor terlarut akan diserap oleh bakteria/mikroorganisme dan akan
sintesa menjadi polyphospat dengan menggunakan energi yang dihasikan proses oksidasi
senywa organik (BOD). Dengan demikian dengan kombinasi proses anaerob-aerob dapat
menghilangkan BOD maupun phospor dengan baik. Proses ini dapat digunakan untuk
pengolahan air limbah dengan beban organik yang cukup besar.
(Said, 2000)
Keunggulan Proses Biofilter “Anaerob-Aerob” Beberapa keunggulan proses
pengolahan air limbah dengan biofilter anaerob-aerob antara lain yakni:
Pengelolaannya sangat mudah.
Biaya operasinya rendah.
Dibandingkan dengan proses lumpur aktif, Lumpur yang dihasilkan relatif sedikit.
Dapat menghilangkan nitrogen dan phospor yang dapat menyebabkan euthropikasi.
Suplai udara untuk aerasi relatif kecil.
Dapat digunakan untuk air limbah dengan beban BOD yang cukup besar.
Dapat menghilangan padatan tersuspensi (SS) dengan baik.
( Said, 2000)

1.2 Pengangkutan Limbah Cair

Pengangkutan limbah cair rumah sakit dilakukan dengan menggunakan saluran IPAL
baik diluar maupun didalam Rumah Sakit.

DAFTAR PUSTAKA

Depkes, 1995. Pokok-Pokok Pemantapan Kesehatan dan Pengembangan Sistem Informasi


Kesehatan. Jakarta

Giyatmi, 2003. Efektivitas Pengolahan Limbah Cair Rumah Sakit Dokter Sardjito Yogyakarta
Terhadap Pencemaran Radioaktif. Yogyakarta : Pasca Sarjana Universitas Gadjah Mada

Ningsih, D.P. 2009. Penggunaan Up Flow Anaerob Biofilter Dalam Menurunkan Kadar BOD Air
Limbah Tahu di Desa Ngepos, Kecamatan Tegalrejo, Kabupaten Magelang. Semarang :
Eprints Undip

Said, Nusa Idaman. 2000. Pengelolaan Air Limbah Domestik di DKI Jakarta. Jakarta : Pusat
Teknologi Lingkungan