Anda di halaman 1dari 8

Pengumpulan Pengangkutan dan Penyimpanan Limbah Cair

Limbah cair harus dikumpulkan dalam kontainer yang sesuai dengan karakteristik bahan kimia
dan radiologi, volume, dan prosedur penanganan dan penyimapangannya.

a. Saluran pembuangan limbah harus menggunakan system saluran tertutup, kedap air, dan
limbah harus mengalir dengan lancar, serta terpisah dengan saluran air hujan.
b. Rumah sakit harus memiliki instalasi pengolahan limbah cair sendiri atau bersama-sama
secara kolektif dengan bangunan disekitarnya yang memenuhi persyaratan teknis, apabila belum
ada atau tidak terjangkau sistem pengolahan air limbah perkotaan.
c. Perlu dipasang alat pengukur debit limbah cair untuk mengetahui debit harian limbah yang
dihasilkan.
d. Air limbah dari dapur harus dilengkapi penangkap lemak dan saluran air limbah harus
dilengkapi/ditutup dengan gril.
e. Air limbah yang berasal dari laboratorium harus diolah di Instalasi Pengolahan Air Limbah
(IPAL), bilatidak mempunyai IPAL harus dikelola sesuai kebutuhan yang berlaku melalui
kerjasam dengan pihak lain atau pihak yang berwenang.
f. Frekuensi pemeriksaan kualitas limbah cair terolah (effluent) dilakukan setiap bulan sekali
untuk swapantau dan minimal 3 bulan sekali uji petik sesuai dengan ketentuan yangberlaku.
g. Rumah sakit yang menghasilkan limbah cair yang mengandung atau terkena zat radioaktif,
pengelolaannya dilakukan sesuai ketentuan.
h. Parameter radioaktif diberlakukan bagi rumah sakit sesuai dengan bahan radioaktif yang
dipergunakan oleh rumah sakit yang bersangkutan.

Menurut Peraturan Menteri Kesehatan nomor 1204 tahun 2004 tentang persyaratan
kesehatan lingkungan rumah sakit maka limbah cair harus mengikuti ketentuan sebagai berikut :

1. Kualitas limbah (efluen) rumah sakit yang akan dibuang ke badan air ataulingkungan harus
memenuhi persyaratan baku mutu.

2. Efluen sesuai Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor Kep-58/MenLH/12/1995 atau


peraturan daerah setempat.
3. Limbah Cair harus dikumpulkan dalam kontainer yang sesuai dengan keterpaparan bahan
kimia dan radiologi, volume, dan prosedur penanganan dan penyimpangannya.

4. Saluran pembuangan limbah harus menggunakan sistem saluran tertutup, kedap air, dan
limbah harus mengalir dengan lancar, serta terpisah dengan saluran air hujan.

5. Rumah sakit harus memiliki instalasi pengolahan limbah cair sendiri atau bersama-sama secara
kolektif dengan bangunan disekitarnya yang memenuhi persyaratan teknis, apabila belum ada
atau tidak terjangkau sistem pengolahan air limbah perkotaan.

6. Perlu dipasang alat pengukur debit limbah cair untuk mengetahui debit harian limbah yang
dihasilkan.

7. Air limbah dari dapur harus dilengkapi penangkap lemak dan saluran air limbah harus
dilengkapi/ditutup dengan gril.

8. Air limbah yang berasal dari laboratorium harus diolah di Instalasi Pengolahan Air Limbah
(IPAL), bila tidak mempunyai IPAL harus dikelola sesuai kebutuhan yang berlaku melalui
kerjasam dengan pihak lain atau pihak yang berwenang.

9. Frekuensi pemeriksaan kualitas limbah cair terolah (effluent) dilakukan setiap bulan sekali
untuk swapantau dan minimal 3 bulan sekali uji petik sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

10. Rumah sakit yang menghasilkan limbah cair yang mengandung atau terkena zat radioaktif,
pengelolaannya dilakukan sesuai ketentuan BATAN.

11. Parameter radioaktif diberlakukan bagi rumah sakit sesuai dengan bahan radioaktif yang
dipergunakan oleh rumah sakit yang bersangkutan.

(Said, 2000)
. Pengumpulan Dan Pembuangan Air Limbah

Pada setiap tempat dimana orang berkumpul akan selalu dihasilkan limbah dan
memerlukan pembuangan. Seperti halnya rumah sakit yang merupakan tempat-tempat umum
menghasilkan limbah yang lazim disebut limbah rumah sakit atau limbah medis. Tetapi sebenarnya
komposisi limbah pada dasarnya tidak banyak berbeda dengan limbah rumah tangga, bahkan dari
segi mikrobiologi sekalipun kecuali limbah yang berasal dari bagian penyakit menular karena
organisme belum dipisahkan melalui proses olahan khusus setempat. Limbah cair medis adalah
semua limbah cair yang berasal dari rumah sakit yang kemungkinan mengandung mikroorganisme
dan bahan kimia beracun. Bila bahan-bahan yang terkontaminasi seperti bedpan, dressing, tidak
ditangani dengan baik selama pengumpulan maka akan dapat terjadi kontaminasi ruangan secara
langsung (Depkes RI, 1995).

Pengelolaan buangan rumah sakit yang baik dan benar adalah dengan melaksanakan
kegiatan sanitasi rumah sakit. Melihat keterpaparan dan dampak-dampak yang dapat ditimbulkan
oleh buangan/limbah rumah sakit seperti tersebut diatas, maka konsep pengelolaan lingkungan
sebagai sebuah sistem dengan berbagai proses manajemen didalamnya yang dikenal sebagai
Sistem Manajemen Lingkungan (Environmental Management System) dan diadopsi Internasional
(Arifin, 2008).

Penyimpanan limbah

Cara penyimpanan limbah adalah sebagai berikut :

a. Kantung-kantung dengan warna harus dibuang jika telah berisi 2/3 bagian.Kemudian diikat
bagian atasnya dan diberi label yang jelas.

b. Kantung harus diangkut dengan memegang lehernya, sehingga kalau dibawamengayun


menjauhi badan, dan diletakkan di tempat-tempat tertentu untukdikumpulkan.

c. Petugas pengumpul limbah harus memastikan kantung-kantung dengan warnayang sama


telah dijadikan satu dan dikirim ke tempat yang sesuai.
d. Kantung harus disimpan di kotak-kotak yang kedap terhadap kutu dan hewanperusak
sebelum diangkut ke tempat pembuangannya.

Penanganan limbah

Petugas pengangkut limbah memperlakukan limbah sebagai berikut:

a. Kantung-kantung dengan kode warna hanya boleh diangkut bila telah ditutup.

b. Kantung dipegang pada lehernya.

c. Petugas harus mengenakan pakaian pelindung, misalnya dengan memakaisarung tangan yang
kuat dan pakaian terusan (overal), pada waktumengangkut kantong tersebut.

d. Jika terjadi kontaminasi diluar kantung diperlukan kantung baru yang bersihuntuk
membungkus kantung baru yang kotor tersebut seisinya (doublebagging).

e. Petugas diharuskan melapor jika menemukan benda-benda tajam yang dapatmencederainya


di dalma kantung yang salah.

f. Tidak ada seorang pun yang boleh memasukkan tangannya kedalam kantung limbah.

Pengangkutan Limbah

Kantung limbah dikumpulkan dan sekaligus dipisahkan menurut kodewarnanya. Limbah


bagian bukan klinik misalnya dibawa ke kompaktor, limbah bagian klinik dibawa ke insinerator.
Pengangkutan dengan kendaran khusus (mungkin ada kerjasama dengan Dinas Pekerjaan Umum)
kendaraan yang digunakan untuk mengankut limbah tersebut sebaiknya dikosongkan dan
dibersihkan tiap hari, kalau perlu (misalnya bila ada kebocoran kantung limbah) dibersihkan
dengan menggunakan larutan klorin.
Pembuangan Limbah

Setelah dimanfaatkan dengan kompaktor, limbah bukan klinik dapatdibuang ditempat


penimbunan sampah (land-fill site), limbah klinik harus dibakar (insinerasi), jika tidak mungkin
harus ditimbun dengan kapur dan ditanam limbah dapur sebaiknya dibuang pada hari yang sama
sehingga tidak sampai membusuk. Kemudian mengenai limbah gas, upaya pengelolaannya lebih
sederhana dibanding dengan limbah cair, pengelolaan limbah gas tidak dapat terlepas dari upaya
penyehatan ruangan dan bangunan khususnya dalam memelihara kualitas udara ruangan (indoor)
yang antara lain disyaratkan agar:

a. Tidak berbau (terutania oleh gas H2S dan Amoniak).

b. Kadar debu tidak melampaui 150 Ug/m3 dalam pengukuran rata-rata selama 24 jam.

c. Angka kuman. Ruang operasi: kurang dan 350 kalori/m3 udara dan bebas kuman pada gen
(khususnya alpha streptococus haemoliticus) dan spora gasgangrer. Ruang perawatan dan
isolasi: kurang dan 700 kalorilm udara dan bebas kuman patogen. Kadar gas dan bahan
berbahaya dalam udara tidak melebihi konsentrasi maksimum yang telah ditentukan.