Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH FORMULASI RANSUM AYAM

KAMPUNG FASE GROWER

Dosen Pengampu : Dr. Ir. Adrizal, MS

Nama : Ira Ramadhani


Bp : 1510612141

FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG,2018
I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Umumnya pemeliharaan ayam kampung dilakukan secara tradisional


dengan tujuan hanya sebagai usaha sampingan saja.Sehingga pakan tidak begitu
diperhatikan, ayam kampung dibiarkan mencari pakan sendiri dan diberi pakan
tambahan sekedarnya berupa sisa-sisa makanan yang ada di rumah tanpa
memperhatikan kandungan gizinya.Akan tetapi apabila budidaya ayam kampung
dilakukan dengan tujuan sebagai sumber penghasilan, baik secara intensif maupun
semi intensif, menyusun formula ransum pakan adalah hal penting yang wajib
diutamakan.

Seperti halnya budidaya pemeliharaan ternak ayam pada umumnya,


pemberian pakan pada ayam kampung juga berperan penting dalam menentukan
pertumbuhan ternak ayam.Meski tidak serumit seperti pemberian pakan ayam
broiler, pemberian pakan ayam kampung juga diperlukan beberapa langkah dalam
menyusun ransum pakan ayam yang dibutuhkan. Dalam hal ini pakan yang
dimaksud adalah pakan organik yang memiliki kualitas yang cukup sebagai pakan
ayam kampung. Sebelum menyusun ransum, terlebih dahulu disiapkan bahan
baku pakan organik dalam jumlah yang cukup.

1.2 Tujuan

Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah agar mahasiswa


mengetahui bagaimana cara menyusun formulasi ransum menggunakan program
Lindo.
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Bahan Pakan Unggas
Ransum merupakan kombinasi bahan pakan yang telah diatur
kandungannutrisinya (Kushartono, 2000). Ransum harus dapat memenuhi
kebutuhan zatnutrien yang diperlukan ternak untuk berbagai fungsi tubuhnya,
yaitu untukhiidup pokok, produksi maupun reproduksi (Umiyasih dan
Yenny, 2007). Ransum yang baik memiliki sifat palatabel, tidak mudah rusak
saat penyimpanan,kandungan nutrisi baik, mudah dicerna, menghasilkan
pertambahan bobot badan yang tinggi. Bentuk ransum disesuaikan dengan jenis,
umur dan konsisi ternakyang bersangkutan (Retnani, 2011).
Beberapa jenis bahan pakan unggas yaitu :
1. Jagung Kuning

Jagung kuning merupakan bahan pangan kaya karbohidrat yang


bergunauntuk sumber kalori. Jagung kuning dapat pula dibuat untuk produk
panganolahan maupun produk pakan yang dapat dibuat menjadi tepung.
Komposisi jagung kuning adalah 356,0 kalori, protein 9,0 g, lemak 8,5
g, karbohidrat 64,5 g,kalsium 200 g, fosfor 500 mg, zat besi 10 mg, vitamin
B1 1,2 mg, air 12 g(Rukmana, 1997). Jagung kuning mempunyai warna normal
kuning dan berbaukhas jagung (Suarni, 2009).

2. Bungkil Kedelai

Bungkil kedelai merupakan limbah dari pembuatan minyak kedelai


yangbanyak dimanfaatkan untuk ternak. Bungkil kedelai mengandung protein
kasarsebesar 44,0% dan energi metabolis 2230 kkal/kg (Tangendjaja, 1987).
Bungkil kedelai mempunyi komposisi BK 86%, ABU 5,8%, LK 1,1%, SK 4,4%
BETN30,1% dan PK 44,6% (Hartadi,et al 1980).
3. Bekatul

Bekatul merupakan campuran sedikit pecahan kulit gabah dan banyakkulit


beras, dan termasuk bahan baku sumber energi tetapi mempunyai serat kasaryang
tinggi. Bekatul merupakan bahan makanan yang mempunyai nilai gizi tinggiyaitu
protein, karbohidrat, lemak, mineral, dan vitamin (Houston, 1972).
Bekatulmempunyai kandungan abu 11,7%, ekstrak eter 14,1%, serat kasar 11,6%,
BETN48,7%, protein kasar 13,8% dengan kandungan air 100% (Hartadi, 1993).
4. Tepung Ikan

Tepung ikan terbuat dari sisa daging, tulang ikan yang tidak dikonsumsi dankemudian
diolah menjadi suatu tepung. Kandungan protein dalam tepung ikan sangatbesar
yang menghasilkan asam amino esensial.
Tepung ikan merupakan bahan padat yang dihasilkan dengan mengeluarkan sebagian
besar air, sebagian atau seluruhlemak dari bahan yang berupa daging dan ikan
(Ilyas 1982). Kandungan nutrienyang terdapat dalam tepung ikan antara lain kadar
86 bahan kering, 72% proteinkasar, 3% serat, 2.32% kalsium, dan 1.89%
phosphor (Hartadi et al., 2005).

5. Premix

Premix merupakan bahan pakan pelengkap yang bersumber dari


vitaminatau mineral (Kartadisastra, 1994). Premix juga berperan dalam
pembentukan darah, pembentukan jaringan tubuh serta diperlukan sebagai
komponen enzimyang berperan dalam metabolisme (Setiadi dan Inouno, 1991).
Premix memilikiaroma yang khas, tidak berbau dan bertekstur halus (Farban,
2003).

6. Poultry Meat Meal(PMM)

Poultry meat meal (PMM)adalah hasil dari limbah pengolahan dagingunggas


atau tulang unggas yang kemudian dihancurkan dan digiling hinggamerata. PMM adalah
suatu bahan alternatif yang baik sebagai campuran ransumsebagai sumber protein
(Irawanet al., 2012). PMM termasuk sebagai sumberprotein dan umumnya
mengadung protein kasar yang relatif tinggi yaitu 54,58 %(Setiawanet al., 2013).
PMM berbau amis, teksturnya agak kasar, dan rasanyagurih (Zulkarnainet al.,
2013).

2.2 Kebutuhan Gizi Ternak Ayam Kampung Fase Grower


Tatalaksana pemeliharaan ayam kampung super guna mendapatkan
produktivitas yang maksimal tidak lepas dari penyusunan ransum yang sesuai
kebutuhan. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi penyusunan ransum untuk 5
unggas diantaranya bobot badan, umur, jenis kelamin, genetik dan
lingkungan(Samadi, 2012). Kandungan nutrien dalam bahan pakan penyusun
ransum unggas yang baik untuk produktivitas yaitu karbohidrat, protein, energi,
lemak, vitamin, mineral dan air (Ketaren, 2010). Kebutuhan nutrisi ayam
kampung berbagai fase disajikan pada Tabel 2.
Nutrisi Pakan 0-8 8-12 12-18 18-70
(starter) (grower 1) (grower 2) (layer)
Energi 2.900,00 2.900,00 2.900.00 2.750,00
(kkal/kg)
Protein (%) 18-19,00 16-17,00 12-14,00 15,00
Lemak kasar 4-5,00 4-7,00 4-7,00 5-7,00
(%)
Serat Kasar (%) 4-5,00 4-5,00 7-9,00 7-9,00
Kalsium (%) 0,90 1-1,20 1-1,20 2,75
Methionin(%) 0,30 0,25 0,20 0,30
Lisin (%) 0,85 0,60 0,45 0,70

Nutrisi dalam ransum yang mempengaruhi tingkat produktivitas ayam


kampung super yaitu protein. Kualitas protein ransum yang baik apabila
mengandung asam amino yaitu asam amino esensial dan asam amino non esensial
dengan jumlah yang sesuai. Asam amino di dalam protein dibutuhkan unggas
untuk pembentukan sel, mengganti sel mati, membentuk jaringan tubuh seperti
daging, kulit, telur, embrio dan bulu (Ketaren, 2010). Asam amino esensial
merupakan asam amino yang tidak dapat disintesis oleh unggas sehingga harus
ada didalam ransum, sedangkan asam amino non esensial dapat disintesis oleh
unggas. Senyawa asam amino esensial diantaranya arginin, lisin, methionin, valin,
isoleusin, histidin, fenilalanin, leusin, threonin, triptofan, sistein, tirosin dan glisin
6 (Ravindran, 2015). Asam amino non esensial diantaranya asam aspartat, alanin,
asam glutarat, hidroksiprolin dan serin. Keseimbangan yang baik antara protein,
asam amino esensial dan energi metabolis dapat menghasilkan produktivitas yang
maksimal pada unggas.

2.3 Teknik Formulasi Ransum


1. Metode Coba-coba (Trial and Error Method)
Trial and Error Method merupakan metode yang paling sederhana.
Aplikasinya hanya dengan mencoba-coba mencampurkan beberapa bahan pakan
tanpa pertimbangan yang masak. Pakan tersebut kemudian dicobakan pada
unggas. Apabila hasilnya baik akan digunakan seterusnya. Tetapi umumnya hasil
yang diperoleh lebih banyak gagalnya. Semakin di trial semakin error. Cara ini
umumnya dilakukan oleh para peternak yang belum mempunyai latar belakang
ilmu makanan ternak yang memadai. Hasil yang diperoleh apabila dipergunakan
akan rawan dengan beberapa kesalahan seperti harga yang relatif lebih mahal,
bahan pakan yang salah dalam penggunaan dan ketidakmengertian tentang
komposisi nutrisi yang harus diberikan. Umumnya penyusunan pakan model ini
menyebabkan harga yang diperoleh tidak semakin murah, tetapi semakin mahal
akibat ketidaktahuan tentang harga pakan. Akibat selanjutnya adalah
ketidakefisienan dalam biaya pakan dalam biaya produksi peternakan unggas.
2. Metode Segi Empat (Pearson’s Square Method)
Square method atau metode segi empat merupakan sistem pencampuran
pakan dengan memakai metode matematika secara sederhana. Sistem ini mencoba
mengurangkan dan menambahkan komposisi zat-zat makanan yang dicampurkan.
Kelemahan sistem ini
adalah tidak dapat menyusun bahan makanan dan kebutuhan zat-zat makanan
dalam jumlah banyak.
Contoh 1 :
Susunlah pakan dengan Protein Kasar (PK) = 18% dengan komposisi bahan pakan
sebagai berikut :
1. Basal mix (10% PK)
2. Protein mix (45 % PK)
3. Mineral mix (4%)
Jika disusun 100 kg pakan jadi, yang mengandung mineral mix = 4%, tersisa basal
mix dan protein mix = 100 – 4 = 96 kg.
96 kg mengandung 18 % PK berarti kandungan PK apabila dikonversikan ke
100% akan didapat nilai sebesar : 18/96 x 100 % = 18,75 % PK
selanjutnya dilakukan metode segi empat untuk mencari komposisi campuran
pakan basal mix dan protein mix sebagaimana berikut ini :

Nilai kandungan PK campuran ransum sebesar 18,75% ditaruh di tengah-tengah


segi empat, dan diapit oleh nilai PK basal mix (10%) dan protein mix (45%).
Ketentuan umum dari metode ini adalah nilai kandungan campuran pakan harus
selalu berada diantara nilai bahan penyusun pakan. Apabila nilai kandungan bahan
penyusun pakan semuanya lebih besar atau lebih kecil, maka tidak dapat
dilakukan penyusunan pakan. Nilai kandungan bahan penyusun pakan yang lebih
besar (dalam hal ini protein mix = 45%) dari nilai kandungan campuran
pakan (18,75%) dikurangkan dengan nilai kandungan pakan yaitu 45% - 18,75%
= 26,25%. Sedangkan nilai kandungan bahan penyusun pakan yang lebih rendah
(dalam hal ini basal mix = 10%) dari nilai kandungan campuran pakan dilakukan
penghitungan dengan mengurangkan nilai kandungan campuran pakan dengan
nilai kandungan bahan penyusun pakan yaitu 18,75% - 10% = 8,75%.
Jadi supaya campuran basal mix dan protein mix mengandung 18,75% PK, maka
campuran tersusun atas :
Basal mix : 26,25/35 x 100% = 75%
Protein total : 8,75/35 x 100% = 25%
Jadi untuk pakan jadi terdiri atas basal mix, protein mix dan mineral mix tersusun
dari :
Basal mix = 75/100 x 96 kg = 72 kg
Protein mix = 25/100 x 96 kg = 24 kg
Subtotal = 96 kg
Mineral mix = 4 kg
Total = 100 kg

3. Metode Persamaan Aljabar (Simultaneus Equation)


Simultaneus equation method/persamaan aljabar/persamaan x – y
merupakan pengembangan metode segi empat. Metode ini mengatasi kelemahan
dari metode segi empat tersebut karena dapat membuat pakan dengan jumlah
bahan makanan dan macam kebutuhan zat-zat makanan unggas dalam jumlah
yang lebih banyak.
Secara garis besar, prinsip dari metode persamaan simultan adalah membuat
model persamaan baru kemudian menyamakan seluruh persamaan yang ada
secara simultan. Persamaan ini hanya diselesaikan jika jumlah bilangan yang
dicari sama dengan jumlah persamaan yang dibuat. Jadi, apabila akan mencari
sepuluh bilangan, kita harus membuat sepuluh persamaan. Jika syarat ini tidak
terpenuhi, tidak mungkin kita bisa menyelesaikan persamaan tersebut. Kelemahan
metode ini adalah hasil perhitungan bisa saja menunjukkan angka negatif. Jika hal
ini terjadi, berarti kita salah membuat model persamaan atau nilai yang
dimasukkan ke dalam persamaan atau mengganti nilai yang ada dalam persamaan
tersebut. Dengan kata lain, kita harus mencoba menghitungulang hasil
perhitungan yang telah dihasilkan dengan metode konstan kontrol.

4. Metode Konstan Kontrol

Metode ini dipilih karena dapat menghitung kebutuhan nutrisi unggas


secara lebih lengkap dan teliti. Tidak seperti metode segi empat atau metode
grafik yang hanya mampu menghitung nutrisi pakan berdasarkan tingkatan energi
metabolisme dan protein, metode konstan kontrol sanggup menghitung kebutuhan
nutrisi ayam ras pedaging lainnya, misalnya lemak, serat, mineral, dan asam
amino esensial. Metode ini memerlukan ketelitian tinggi. Tahapan penghitungan
yang dilakukan langkah demi langkah (step by step) memerlukan waktu yang
cukup lama. Peternak yang mampu mengoperasikan personal komputer untuk
aplikasi spread sheat, seperti Microsoft Excel atau Lotus 123, bisa
menggunakannya untuk membantu penghitungan. Namun jika tidak
memahaminya, bisa dolakukan secara manual dan tentu saja akan memerlukan
waktu yang lebih lama.
4.Metode Pendugaan
Cara ini tergolong paling sederhana. Kita hanya menduga atau mengira-
ngira saja bahan yang akan diberikan. Kelemahan metode ini adalah kurang
menjamin kadar gizi yang diberikan. Kunci yang digunakan dalam metode
pendugaan adalah kadar protein bahan yang digunakan (lihat tabel 2 sebagai
pedoman). Cara ini cukup praktis untuk jumlah ternak unggas yang hanya
beberapa ekor atau sedikit dan sistem peternakannya tidak terlalu mengejar segi
komersial. Namun, cara ini tidak dianjurkan untuk peternakan ternak unggas skala
besar dan dikelola secara sungguh-sungguh.
III MATERI dan METODA

3.1 Data Bahan Pakan


Data Pakan Harga Pakan (Rp)
Jagung 4000
Dedak Padi 2000
Bekatul 2000
Tepung Ikan 8000
Bungkil Kelapa 2500
Premix 5000

3.2 Data Kebutuhan Gizi

Data Pakan PK ME Liosin Metionin Ca P


Jagung 8,5 3300 0,20 0,18 0,02 0,30
Dedak Padi 13 1900 1,7 0,6 0,9
Tepung Ikan 55,0 2960 5,07 1,79 5,3 2,85
Bungkil 18,6 1410 0,55 0,30 0,10 0,60
Kelapa
Premix 0 0 0 0 25 0

3.3 Model Matematika


Min Harga:
4000 jg + 2000dp + 8000 tpi + 2500bkl+ 5000pmix
Jg=jagung; dp= dedak padi; tpi=tepung ikan ; bkl=bungkil kelapa; pmix=
premix
Jumlah Variabel =5

min 4000 jg +2000dp +8000tpi + 2500bkl + 5000pmix


Subject to

0.08 jg+0,13dp + 0.60 tpi +0.205 bkl >= 18

33.40 jg+19.00 dp + 27.20 tpi +15.40 bkl >= 2800

0.038 jg+0.017 dp+ +0.02tpi +0.067 bkl =< 6

0.025 jg+0.12 dp +0.01 tpi+0.12 bkl =< 6

0.001 jg+0.006 dp +0.065 tpi+0.002 bkl >= 1

0.0013 jg+0.009 dp+ +0.035 tpi0.003 bkl >= 0.4

Tpi =< 10

bkl=<15

pmix=0,5

1jg+1 dp+ +1 tpi+1 bkl + 1 pmix=100


IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Formula Ransum

LP OPTIMUM FOUND AT STEP 5

OBJECTIVE FUNCTION VALUE

1) 405125.7

VARIABLE VALUE REDUCED COST


JG 68.193947 0.000000
DP 13.408235 0.000000
BKL 0.000000 601.202698
BKD 14.471093 0.000000
TPI 0.000000 784.715210
TTL 3.426727 0.000000
TMIX 0.500000 0.000000

4.2 Pembahasan
Adapun hasil yang didapatkan dalam penyusunan ransum ayam kampong
fase grower menggunakan apliakasi Lindo yaitu bungkil kelapa dan tepung ikan
didapatkan hasil 0, jadi ransum belum layak sehingga harus dilakukan revisi
dengan memasukkan persyaratan baru tpi >=7.
V. PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Lindo (Linear Ineraktive Discrete Optimizer) adalah software yang dapat
digunakan untuk mencari penyelesaian dari masalah pemrograman linear. Dengan
menggunakan software ini memungkinkan perhitungan masalah pemrograman
linear dengan n variabel. Prinsip kerja utama Lindo adalah memasukkan data,
menyelesaikan, serta menaksirkan kebenaran dan kelayakan data berdasarkan
penyelesaiannya.
Namun, pada makalah kali ini penyususnan ransum menggunakan lindo
belum betul karena yaitu bungkil kelapa dan tepung ikan didapatkan hasil 0, jadi
ransum belum layak sehingga harus dilakukan revisi dengan memasukkan
persyaratan baru tpi >=7.

5.2 Saran
Dalam melakukan penyusunan ransum harus memperhatikan kebutuhan
dari gizi kebutuhan bahan pakan agar kebutuhan nutrisi terpenuhi secara baik dan
benar
VI. DAFTAR PUSTAKA

Adnan. 2005. Tabel Komposisis Pakan untuk Indonesia. Gadjah Mada


UniversityPress.

Yogyakarta.Basya, S. S. 2008. Penggemukan Sapi. Penebar Swadaya, Jakarta.


BSN. 2006. Pakan Anak Ayam Ras Pedaging (Broiler) SNI 01-3930/3931.
BadanStandardisasi Nasional, Jakarta

Farban, E. dan M. Mulki. 2003. Kajian Proses Pembuatan Premix Tahu


InstanFungsional dari Tepung Kedelai Berlemak Penuh. Skripsi
. IPBHartadi, H. 1993. Daftar Komposisi Bahan Makanan Ternak Untuk
Indonesia. PT.Gramedia, Jakarta.

Hartadi. H. S., Reksohadiprojo dan A. D. Tillman. D.A. 2005. Tabel


KomposisiPakan untuk Indonesia. Cetakan ke IV. Gadjah Mada University
Press,Yogyakarta.

Ilyas, S. 1982. Teknologi Pemanfaatan Lemuru Selat Bali. Balai


PenelitianTeknologi Perikanan. Jakarta.

Anda mungkin juga menyukai