Anda di halaman 1dari 20

PENCEMARAN TANAH

Nama
:
Fitriyani

(06101381520037)
Mimi Amalia (06101381520038)
Nadhilah Shabrina (06101381520036)
Sari Anggraini (06101381520041)
Kelompok :4
Kelas : Palembang
Dosen Pengasuh : Rodi Edi, S.Pd, M.Si

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SRIWIJAYA

2017
KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan kami kesempatan

untuk menyelesaikan penulisan makalah ini.


Makalah ini membahas tentang “Pencemaran Tanah” dan disusun agar kita

semua dapat memahami tentang pencemaran tanah, penyebab pencemaran tanah,

akibat pencemaran tanah dan bagaimana cara untuk penanggulangan bahan –

bahan yang membuat tanah tercemar.


Penulis mengucapkan terima kasih kepada doesn pembimbing atas tugas

yang diberikan dan arahannya, semoga dengan adanya makalah ini dapat

memberikan banyak informasi, pengetahuan dan wawasan yang lebih luas kepada

kita semua.
Dalam penulisan makalah ini masih terdapat kekurangan, maka dari itu

kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan demi penulisan makalah

kedepannya.

Palembang , April 2017

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR......................................................................................ii
DAFTAR ISI ...................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang............................................................................................1
1.2.Rumusan Masalah.......................................................................................2
1.3.Tujuan Penulisan.........................................................................................2

II
1.4.Manfaat Penulisan.......................................................................................3
BAB II PEMBAHASAN
2.1.Pengertian Pencemaran Tanah....................................................................4
2.2.Sumber Pencemaran Tanah.........................................................................5
2.3.Pendugaan Tingkat Pencemaran Tanah......................................................5
2.4.Komponen-Komponen Pencemaran Tanah................................................6
2.5.Dampak Yang Ditimbulkan Akibat Pencemaran Tanah..............................7
2.6.Penanganan Pencemaran Tanah..................................................................9
2.7.Pencegahan Pencemaran Tanah..................................................................9
2.8.Tanah Tercemar Dan Tidak Tercemar.........................................................10
2.9.Teknologi Pengolahan Sampah..................................................................11
BAB III PENUTUP
3.1. Kesimpulan................................................................................................16
3.2. Saran..........................................................................................................16
DAFTAR PUSTAKA

III
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Indonesia adalah negara yang sangat kaya akan sumber daya alamnya.
Salah satu kekayaan tersebut, Indonesia memiliki tanah yang sangat subur karena
berada di kawasan yang umurnya masih muda, sehingga di dalamnya banyak
terdapat gunung-gunung berapi yang mampu mengembalikan permukaan muda
kembali yang kaya akan unsur hara.
Namun seiring berjalannya waktu, kesuburan yang dimiliki oleh tanah
Indonesia banyak yang digunakan sesuai aturan yang berlaku tanpa
memperhatikan dampak jangka panjang yang dihasilkan dari pengolahan tanah
tersebut.
Salah satu diantaranya, penyelenggaraan pembangunan di Tanah Air tidak
bisa disangkal lagi telah menimbulkan berbagai dampak positif bagi masyarakat
luas, seperti pembangunan industri dan pertambangan telah menciptakan lapangan
kerja baru bagi penduduk di sekitarnya. Namun keberhasilan itu seringkali diikuti
oleh dampak negatif yang merugikan masyarakat dan lingkungan.
Pembangunan kawasan industri di daerah-daerah pertanian dan sekitarnya
menyebabkan berkurangnya luas areal pertanian, pencemaran tanah dan badan air
yang dapat menurunkan kualitas dan kuantitas hasil/produk pertanian,
terganggunya kenyamanan dan kesehatan manusia atau makhluk hidup lain.
Sedangkan kegiatan pertambangan menyebabkan kerusakan tanah, erosi dan
sedimentasi, serta kekeringan. Kerusakan akibat kegiatan pertambangan adalah
berubah atau hilangnya bentuk permukaan bumi (landscape), terutama
pertambangan yang dilakukan secara terbuka (opened mining) meninggalkan
lubang-lubang besar di permukaan bumi. Untuk memperoleh bijih tambang,
permukaan tanah dikupas dan digali dengan menggunakan alat-alat berat. Para
pengelola pertambangan meninggalkan areal bekas tambang begitu saja tanpa
melakukan upaya rehabilitasi atau reklamasi.

1
Dampak negatif yang menimpa lahan pertanian dan lingkungannya perlu
mendapatkan perhatian yang serius, karena limbah industri yang mencemari lahan

2
pertanian tersebut mengandung sejumlah unsur-unsur kimia berbahaya
yang bisa mencemari badan air dan merusak tanah dan tanaman serta berakibat
lebih jauh terhadap kesehatan makhluk hidup. Oleh karena itu, sangat diperlukan
pengkajian khusus yang membahas mengenai pencemaran tanah beserta
dampaknya terhadap lingkungan di sekitarnya.

1.2 Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah pada makalah ini adalah sebagai berikut :

1. Apa pengertian pencemaran tanah?

2. Apa saja sumber pencemaran tanah?

3. Pendugaan tingkat pencemaran/kerusakan tanah?

4. Apa saja komponen - komponen pencemaran tanah?

5. Apa dampak yang ditimbulkan oleh pencemaran tanah pada lingkungan


dan kesehatan?

6. Bagaimana cara penanganan pencemaran tanah?

7. Bagaimana cara pencegahan pencemaran tanah?

8. Bagaimana mengetahui tanah yang tercemar dan tanah yang tidak tercemar?

9. Bagaimana teknologi pengolahan sampah?

1.3 Tujuan Penulisan

Adapun tujuan pada makalah ini adalah sebagai berikut :

1. Untuk mengetahui pengertian dari pencemaran tanah

2. Untuk mengetahui apa saja sumber pencemaran tanah

3. Untuk megetahui pendugaan tingkat pencemaran/kerusakan tanah

4. Untuk mengetahui apa saja komponen - komponen pencemaran tanah

5. Untuk mengetahui apa saja dampak yang ditimbulkan oleh pencemaran


tanah pada lingkungan dan kesehatan

6. Untuk mengetahui bagaimana cara penanganan pencemaran tanah

7. Untuk mengetahui bagaimana cara pencegahan pencemaran tanah

3
8. Untuk mengetahui tanah yang tercemar dan tanah yang tidak tercemar

9. Untuk mengetahui teknologi pengolahan sampah

1.4 Manfaat Penulisan

Manfaat dari penulisan makalah ini adalah kita dapat mengetahui lebih dalam
tentang masalah pencemaran tanah beserta dampak yang ditimbulkannya, cara
pencegahan dan penanggulangan pencemaran tanah dan baimana cara mengelolah
sampah yang merupakan salah satu penyebab pencemaran tanah.

4
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Pencemaran Tanah

Pencemaran tanah adalah keadaan di mana bahan kimia buatan manusia


masuk dan merubah lingkungan tanah alami. Pencemaran ini biasanya terjadi
karena: kebocoran limbah cair atau bahan kimia industri atau fasilitas komersial,
penggunaan pestisida, masuknya air permukaan tanah tercemar ke dalam lapisan
sub-permukaan, kecelakaan kendaraaan pengangkut minyak, zat kimia atau
limbah, air limbah dari tempat penimbunan sampah serta limbah industri yang
langsung dibuang ke tanah secara tidak memenuhi syarat (illegal dumping).

Menurut Peraturan Pemerintah RI No. 150 tahun 2000 tentang


Pengendalian kerusakan tanah untuk produksi bio massa: “Tanah adalah salah
satu komponen lahan berupa lapisan teratas kerak bumi yang terdiri dari bahan
mineral dan bahan organik serta mempunyai sifat fisik, kimia, biologi, dan
mempunyai kemampuan menunjang kehidupan manusia dan makhluk hidup
lainnya.”

Tetapi apa yang terjadi, akibat kegiatan manusia, banyak terjadi kerusakan
tanah. Di dalam PP No. 150 th. 2000 di sebutkan bahwa “Kerusakan tanah untuk
produksi biomassa adalah berubahnya sifat dasar tanah yang melampaui kriteria
baku kerusakan tanah”.

Ketika suatu zat berbahaya/beracun telah mencemari permukaan tanah,


maka ia dapat menguap, tersapu air hujan dan atau masuk ke dalam tanah.
Pencemaran yang masuk ke dalam tanah kemudian terendap sebagai zat kimia
beracun di tanah. Zat beracun di tanah tersebut dapat berdampak langsung kepada
manusia ketika bersentuhan atau dapat mencemari air tanah dan udara di atasnya.

5
2.2 Sumber Pencemaran Tanah
Sumber pencemar tanah, karena pencemaran tanah tidak jauh beda atau
bisa dikatakan mempunyai hubungan erat dengan pencemaran udara dan
pencemaran air, maka sumber pencemar udara dan sumber pencemar air pada
umumnya juga merupakan sumber pencemar tanah.
Sebagai contoh gas-gas oksida karbon, oksida nitrogen, oksida belerang
yang menjadi bahan pencemar udara yang larut dalam air hujan dan turun ke tanah
dapat menyebabkan terjadinya hujan asam sehingga menimbulkan terjadinya
pencemaran pada tanah.
Air permukaan tanah yang mengandung bahan pencemar misalnya tercemari
zat radioaktif, logam berat dalam limbah industri, sampah rumah tangga, limbah
rumah sakit, sisa-sisa pupuk dan pestisida dari daerah pertanian, limbah deterjen,
akhirnya juga dapat menyebabkan terjadinya pencemaran pada tanah daerah
tempat air permukaan ataupun tanah daerah yang dilalui air permukaan tanah yang
tercemar tersebut. Maka sumber bahan pencemar tanah dapat dikelompokkan juga
menjadi sumber pencemar yang berasal dari, sampah rumah tangga, sampah pasar,
sampah rumah sakit, gunung berapi yang meletus / kendaraan bermotor dan
limbah industri.

2.3 Pendugaan Tingkat Pencemaran/Kerusakan Tanah


Gejala pencemaran tanah dapat diketahui dari tanah yang tidak dapat
digunakan untuk keperluan fisik manusia. Tingkat pencemaran tanah diukur dari
banyak tidaknya bahan pencemar yang terkandung di dalamnya. Bahan
pencemarnya antara lain, sampah organik, sampah senyawa organik atau sampah
anorganik, sampah dari pengelolaan limbah industri, sampah zat radioaktif,
penggunaan pupuk yang menggunakan senyawa kimia atau pestisida, dan
sampah-sampah dari limbah rumah tangga.
Tingkat pencemaran/kerusakan tanah dapat dibedakan menjadi sebagai
berikut :
1. Pencemaran Ringan
Pencemaran ringan yaitu pencemaran yang mulai menimbulkan gangguan
pada ekosistem lain. Contohnya tanah yang tidak dapat lagi ditumbuhi tanaman
tertentu. Biasanya tanah ini banyak terdapat sampah-sampah anorganik yang
tidak dapat terurai oleh tanah dengan sempurna, sehingga menyebabkan sebagian

6
tanaman lain tidak dapat hidup karena kesulitan mendapatkan makanan didalam
tanah.
2. Pencemaran Kronis
Pencemaran kronis yaitu pencemaran yang mengakibatkan penyakit
kronis. Biasanya tanah ini tercemar oleh limbah pabrik yang dapat mengkibatkan
penyakit.
3. Pencemaran Akut
Pencemaran akut yaitu pencemaran yang mengakibatkan tanah tidak dapat
lagi dimamfaatkan seperti sediakala. Biasanya tanah ini terlalu banyak
mengunakan pupuk yang mengandung bahan kimia dan tidak mematuhi aturan.
Ciri-ciri tanah ini biasanya tanahnya kering dan tandus.

2.4 Komponen - Komponen Pencemaran Tanah

Secara umum, pencemaran tanah dapat disebabkan oleh limbah domestik,


limbah industri, dan limbah pertanian .

a. Limbah domestik

Limbah domestik dapat berasal dari daerah: pemukiman penduduk,


perdagangan/pasar/tempat usaha hotel dan kelembagaan misalnya kantor-kantor
pemerintahan dan tempat wisata. Limbah domestik dapat berupa limbah padat dan
cair.

1. Limbah padat berupa: sampah anorganik. Jenis sampah ini tidak dapat
diuraikan oleh mikroorganisme (non-biodegradable), misalnya kantong
plastik, bekas kaleng minuman, bekas botol plastik air mineral, dsb.

2. Limbah cair berupa: tinja, deterjen, oli, cat. Limbah cair ini jika meresap
kedalam tanah akan merusak kandungan air tanah bahkan dapat
membunuh mikroorganisme di dalam tanah.

b. Limbah industri

Limbah Industri berasal dari sisa-sisa produksi industri.

7
1. Limbah industri berupa limbah padat yang merupakan hasil buangan industri
berupa padatan, lumpur, bubur yang berasal dari proses pengolahan. Misalnya
sisa pengolahan pabrik gula, pulp, kertas, rayon, plywood, pengawetan buah,
ikan daging dll.

2. Limbah cair yang merupakan hasil pengolahan dalam suatu proses produksi,
misalnya sisa-sisa pengolahan industri pelapisan logam dan industri kimia
lainnya. Tembaga, timbal, perak, khrom, arsen dan boron adalah zat-zat yang
dihasilkan dari proses industri pelapisan logam.

c. Limbah pertanian

Limbah pertanian dapat berupa sisa-sisa pupuk sintetik untuk


menyuburkan tanah atau tanaman, misalnya pupuk urea dan pestisida untuk
pemberantas hama tanaman. Penggunaan pupuk yang terus menerus dalam
pertanian akan merusak struktur tanah, yang menyebabkan kesuburan tanah
berkurang dan tidak dapat ditanami jenis tanaman tertentu karena hara tanah
semakin berkurang. Dan penggunaan pestisida bukan saja mematikan hama
tanaman tetapi juga mikroorganisme yang berguna di dalam tanah. Padahal
kesuburan tanah tergantung pada jumlah organisme di dalamnya. Selain itu
penggunaan pestisida yang terus menerus akan mengakibatkan hama tanaman
kebal terhadap pestisida tersebut

2.5 Dampak Pencemaran Tanah

a. Pada Kesehatan

Dampak pencemaran tanah terhadap kesehatan tergantung pada tipe


polutan, jalur masuk ke dalam tubuh dan kerentanan populasi yang terkena.
Kromium, berbagai macam pestisida dan herbisida merupakan bahan karsinogenik
untuk semua populasi. Timbal sangat berbahaya pada anak-anak, karena dapat
menyebabkan kerusakan otak, serta kerusakan ginjal pada seluruh populasi.

Paparan kronis (terus-menerus) terhadap benzena pada konsentrasi tertentu


dapat meningkatkan kemungkinan terkena leukemia. Merkuri (air raksa) dan
siklodiena dikenal dapat menyebabkan kerusakan ginjal, beberapa bahkan tidak

8
dapat diobati. PCB dan siklodiena terkait pada keracunan hati. Organofosfat dan
karmabat dapat dapat menyebabkan ganguan pada saraf otot. Berbagai pelarut
yang mengandung klorin merangsang perubahan pada hati dan ginjal serta
penurunan sistem saraf pusat. Terdapat beberapa macam dampak kesehatan yang
tampak seperti sakit kepala, pusing, letih, iritasi mata dan ruam kulit untuk
paparan bahan kimia yang disebut di atas. Yang jelas, pada dosis yang besar,
pencemaran tanah dapat menyebabkan kematian.

b. Pada Ekosistem

Perubahan kimiawi tanah yang radikal dapat timbul dari adanya bahan
kimia beracun/berbahaya bahkan pada dosis yang rendah sekalipun. Perubahan ini
dapat menyebabkan perubahan metabolisme dari mikroorganisme endemik dan
antropoda yang hidup di lingkungan tanah tersebut. Akibatnya bahkan dapat
memusnahkan beberapa spesies primer dari rantai makanan, yang dapat memberi
akibat yang besar terhadap predator atau tingkatan lain dari rantai makanan
tersebut. Bahkan jika efek kimia pada bentuk kehidupan terbawah tersebut rendah,
bagian bawah piramida makanan dapat menelan bahan kimia asing yang lama-
kelamaan akan terkonsentrasi pada makhluk-makhluk penghuni piramida atas.
Banyak dari efek-efek ini terlihat pada saat ini, seperti konsentrasi DDT pada
burung menyebabkan rapuhnya cangkang telur, meningkatnya tingkat kematian
anakan dan kemungkinan hilangnya spesies tersebut.

Sampah anorganik tidak ter-biodegradasi, yang menyebabkan lapisan


tanah tidak dapat ditembus oleh akar tanaman dan tidak tembus air sehingga
peresapan air dan mineral yang dapat menyuburkan tanah hilang dan jumlah
mikroorganisme di dalam tanahpun akan berkurang akibatnya tanaman sulit
tumbuh bahkan mati karena tidak memperoleh makanan untuk berkembang.

Dampak pada pertanian terutama perubahan metabolisme tanaman yang


pada akhirnya dapat menyebabkan penurunan hasil pertanian. Hal ini dapat
menyebabkan dampak lanjutan pada konservasi tanaman di mana tanaman tidak
mampu menahan lapisan tanah dari erosi. Beberapa bahan pencemar ini memiliki

9
waktu paruh yang panjang dan pada kasus lain bahan-bahan kimia derivatif akan
terbentuk dari bahan pencemar tanah utama.

2.6 Penanganan Pencemaran Tanah

a. Remediasi

Remediasi adalah kegiatan untuk membersihkan permukaan tanah yang


tercemar. Ada dua jenis remediasi tanah, yaitu in-situ (atau on-site) dan ex-situ
(atau off-site). Pembersihan on-site adalah pembersihan di lokasi. Pembersihan ini
lebih murah dan lebih mudah, terdiri dari pembersihan, venting (injeksi), dan
bioremediasi.

Pembersihan off-site meliputi penggalian tanah yang tercemar dan


kemudian dibawa ke daerah yang aman. Setelah itu di daerah aman, tanah tersebut
dibersihkan dari zat pencemar. Caranya yaitu, tanah tersebut disimpan di bak/tanki
yang kedap, kemudian zat pembersih dipompakan ke bak/tangki tersebut.
Selanjutnya zat pencemar dipompakan keluar dari bak yang kemudian diolah
dengan instalasi pengolah air limbah. Pembersihan off-site ini jauh lebih mahal
dan rumit.

b. Bioremediasi

Bioremediasi adalah proses pembersihan pencemaran tanah dengan


menggunakan mikroorganisme (jamur dan bakteri). Bioremediasi bertujuan untuk
memecah atau mendegradasi zat pencemar menjadi bahan yang kurang beracun
atau tidak beracun (karbon dioksida dan air).

2.7 Pencegahan Pencemaran Tanah

Tindakan pencegahan dan tindakan penanggulangan terhadap terjadinya


pencemaran dapat dilakukan dengan berbagai cara sesuai dengan macam bahan
pencemar yang perlu ditanggulangi. Langkah-langkah pencegahan dan
penanggulangan terhadap terjadinya pencemaran antara lain dapat dilakukan
sebagai berikut:

Langkah pencegahan

10
Pada umumnya pencegahan ini pada prinsipnya adalah berusaha untuk tidak
menyebabkan terjadinya pencemaran, misalnya mencegah/mengurangi terjadinya
bahan pencemar, antara lain:

1) Sampah organik yang dapat membusuk/diuraikan oleh mikroorganisme


antara lain dapat dilakukan dengan mengukur sampah-sampah dalam tanah
secara tertutup dan terbuka, kemudian dapat diolah sebagai
kompos/pupuk.

2) Sampah senyawa organik atau senyawa anorganik yang tidak dapat


dimusnahkan oleh mikroorganisme dapat dilakukan dengan cara
membakar sampah-sampah yang dapat terbakar seperti plastik dan serat
baik secara individual maupun dikumpulkan pada suatu tempat yang jauh
dari pemukiman, sehingga tidak mencemari udara daerah pemukiman.
Sampah yang tidak dapat dibakar dapat digiling/dipotong-potong menjadi
partikel-partikel kecil, kemudian dikubur.

3) Pengolahan terhadap limbah industri yang mengandung logam berat yang


akan mencemari tanah, sebelum dibuang ke sungai atau ke tempat
pembuangan agar dilakukan proses pemurnian.

4) Penggunaan pupuk, pestisida tidak digunakan secara sembarangan namun


sesuai dengan aturan dan tidak sampai berlebihan.

5) Usahakan membuang dan memakai detergen berupa senyawa organik yang


dapat dimusnahkan/diuraikan oleh mikroorganisme.

2.8 Tanah Tercemar dan Tidak Tercemar

a. Tanah tercemar

Tanah indonesia terkenal dengan kesuburanya. Kesuburan itu telah


mengundang para penjajah asing untuk mengeksploitasinya. Fenomena sekarang
lain lagi. Sebagian tanah Indonesia tercemar oleh polusi yang diakibatkan oleh
kelainan masyarakat. Pencemaran ini menjadikan tanah rusak dan hilang
kesuburanya, mengandung zat asam tinggi, berbau busuk, kering, mengandung

11
logam berat, dan sebagainya. Kalau sudah begitu maka tanah akan sulit untuk
dimanfaatkan.

Dari pernyataan diatas, bisa ditarik kesimpulan bahwa ciri-ciri tanah


tercemar adalah :

1. Tanah tidak subur


2. Ph dibawah 6 (tanah asam) atau Ph diatas 8 (tanah basa)
3. Berbau busuk
4. Kering
5. Mengandung logam berat
6. Mengandung sampah anorganik
b. Tanah tidak tercemar

Tanah yang tidak tercemar adalah tanah yang masih memenuhi unsur
dasarnya sebagai tanah. Ia tidak mengandung zat-zat yang merusak keharaanya.
Tanah tidak tercemar bersifat subur, tidak berbau busuk, tingkat keasaman norma
dan yang paling utama adalah tidak mengandung logam berat. Tanah yang tidak
tercemar besar potensinya untuk alat kemaslahatan umat manusia. Pertanian
dengan tanah yang baik bisa mendatangkan keuntungan berlipat ganda.

Dari pernyataan diatas, bisa ditarik kesimpulan bahwa ciri-ciri tanah


tercemar adalah :
1. Tanahnya subur
2. Trayek Ph minimal 6 dan maksimal 8
3. Tidak berbau busuk
4. Tidak kering, memiliki tingkat kegemburan yang normal
5. Tidak Mengandung logam berat
6. Tidak mengandung sampah anorganik

2.9 Teknologi Pengolahan Sampah


1. Penanganan Limbah Organik
Limbah organik dapat dimanfaatkan, baik secara langsung (contohnya
untuk makanan ternak) maupun secara tidak langsung karena memerlukan proses
terlebih dahulu yaitu proses daur ulang (contohnya pengomposan dan biogas).
a. Makanan Ternak
Sampah organik yang mudah rusak dapat dimanfaatkan untuk makanan

12
ternak. Di Indonesia, sampah organik berupa sayur-sayuran (contohnya kubis,
selada air dan sawi) biasanya dimanfaatkan untuk makanan kelinci, kambing,
ayam atau itik. Hal ini sangat menguntungkan karena selain untuk hewan ternak.
Namun, sampah organik ini harus dibersihkan dan dipilih terlebih dahulu sebelum
dikonsumsi ternak. Jika sampah organik bercampur dengan sampah yang
mengandung logam-logam berat, maka dapat terakumulasi di dalam ternak.

b. Pengomposan (Composting)
Pengomposan merupakan upaya pengolahan limbah dengan menggunakan
prinsip penguraian bahan-bahan organik menjadi bahan-bahan anorganik oleh
aktivitas organisme. Proses pengomposan menghasilkan kompos yang dapat
menyuburkan tanah. Organisme yang berperan dalam proses ini adalah bakteri,
jamur, khamir dan hewan seperti insekta serta cacing. Agar pertumbuhan
organisme optimum diperlukan beberapa kondisi, diantaranya campuran yang
seimbang antara komponen karbon dan nitrogen, suhu, kelembapan udara serta
cukupnya kandungan oksigen.
Sistem pengomposan memiliki beberapa keuntungan, antara lain
1. Kompos merupakan jenis pupuk yang ekologis dan tidak merusak lingkungan
2. Bahan yang dipakai tersedia (tidak perlu dibeli)
3. Masyarakat dapat membuatnya sendiri (tidak memerlukan peralatan yang
mahal)
4. Unsur hara dalam pupuk kompos lebih tahan lama jika dibandingkan dengan
pupuk buatan.

c. Biogas
Biogas adalah gas-gas yang dapat digunakan sebagai bahan bakar yang
dihasilkan dari proses pembusukkan sampah organik secara anaerob. Bahan
bakunya dapat di ambil dari kotoran hewan, sisa-sisa tanaman, atau campuran dari
keduanya. Secara garis besar, biogas dapat dibuat dengan cara mencampur
sampah organik dengan air kemudian dimasukkan ke dalam tempat yang kedap
udara. Selanjutnya, campuran tersebut dibiarkan selama kurang lebih dua minggu.
Biogas memiliki beberapa kelebihan antara lain:

13
1. Mengurangi jumlah limbah
2. Sumber energi yang tidak merusak lingkungan
3. Nyala api bahan bakar biogas lebih terang atau bersih
4. Residu dari biogas dapat dimanfaatkan untuk pupuk
2. Penanganan Limbah Anorganik
Limbah anorganik dapat dimanfaatkan kembali melalui proses daur ulang.
Limbah anorganik yang dapat di daur ulang anatara lain plastik, logam dan kaca.
Namun, limbah yang dapat didaur ulang harus diolah terlebih dahulu yaitu dengan
sanitary landfill, pembakaran (incineration) atau penghancuran (pulverisation).
a. Sanitary Landfill

Gambar 1.1.
Teknologi
Landfill
Sanitary
Landfill
merupakan
salah satu
metode
pengolahan sampah terkontrol denagn sistem sanitasi yang baik. Sampah dibuang
tempat, kemudian dipadatkan dengan traktor. Selanjutnya sampah ditutup tanah.
Pada bagian dasar tempat tersebut dilengkapi sistem saluran yang berfungsi
sebagai saluran limbah cair sampah yang harus diolah terlebih dahulu sebelum
dibuang ke sungai atau lingkungan. Pada sanitary landfill juga dipasang pipa gas
untuk mengalirkan gas hasil aktivitas penguraian sampah. Cara ini sangat
menguntungkan karena menghilangkan polusi udara.

b. Pembakaran sampah
Sampah padat di bakar di dalam insinerator. Hasil pembakaran adalah gas
dan residu pembakaran. Penurunan volume sampah padat hasil pembakaran dapat
mencapai 70%. Namun, cara relatif lebih mahal dibanding dengan sanitary landfill
yaitu sekitar tiga kali lipatnya.

14
Pirolisa merupakan proses konversi bahan organik padat melalui
pemanasan tanpa kehadiran oksigen. Dengan adanya proses pemanasan dengan
temperatur tinggi, molekul-molekul organik yang berukuran besar akan terurai
menjadi molekul organik yang kecil dan lebih sederhana. Hasil pirolisa dapat
berupa tar, larutan asam asetat, methanol, padatan char, dan produk gas.
Gasifikasi merupakan proses konversi termokimia padatan organik menjadi gas.
Gasifikasi melibatkan proses perengkahan dan pembakaran tidak sempurna pada
temperatur yang relatif tinggi (sekitar 900-1100 C). Seperti halnya pirolisa, proses
gasifikasi menghasilkan gas yang dapat dibakar dengan nilai kalor sekitar 4000
kJ/Nm3.

HYPERLINK
"http://1.bp.blogspot.com/-kNQaSeptzQw/TYiyOKb63yI/AAAAAAAAABo/L768-
REMTOI/s1600/WP-34-Project-Graphic_medium.jpg"
Gambar 1.2. Insinerator

c. Penghancuran (Pulverisation)
Pengancuran sampah dilakukan di dalam mobil pengumpul sampah yang
telah dilengkapi alat pelumat sampah. Sampah langsung dihancurkan menjadi
potongan-potongan kecil yang dapat dimanfaatkan untuk menimbun tanah yang
letaknya rendah.

d. Daur ulang Limbah Organik


Masyarakat indonesia secara tradisional memiliki kebiasaan melakukan
daur ulang, misalnya pemulungan sampah, usaha daur ulang di masing-masing
rumah tangga dan pengomposan. Daur ulang merupakan salah satu cara untuk
untuk mengolah sampah organik maupun anorganik menjadi benda-benda yang
bermanfaat.

15
Daur ulang memiliki potensi yang besar untuk mengurangi timbunan,
biaya pengolahan dan tempat pembuangan akhir sampah. Manfaat dari daur ulang
adalah adanya produk hasil yang berguna.

e. Daur Ulang Kertas


Salah satu contoh sampah yang dapat di daur ulang adalah sampah kertas.
Sampah kertas dapat berasal dari rumah tangga maupun industri, misalnya dari
kegiatan administrasi perkantoran, pembungkus dan media cetak. Sampah kertas
dapat dimanfaatkan dengan cara didaur ulang. Kertas daur ulang memiliki
sentuhan tekhnologi dan seni.

BAB III

16
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Pencemaran tanah adalah keadaan di mana bahan kimia buatan manusia


masuk dan merubah lingkungan tanah alami. Pencemaran ini biasanya terjadi
karena:
1. kebocoran limbah cair atau bahan kimia industri atau fasilitas komersial
2. Penggunaan pestisida
3. Masuknya air permukaan tanah tercemar ke dalam lapisan sub-permukaan
4. Kecelakaan kendaraan pengangkut minyak, zat kimia, atau limbah
5. Air limbah dari tempat penimbunan sampah serta limbah industri yang
langsung dibuang ke tanah secara tidak memenuhi syarat (illegal dumping).

Ada beberapa cara untuk mengurangi dampak dari pencemaran tanah,


diantaranya dengan remediasi dan bioremidiasi.
1. Remediasi yaitu dengan cara membersihkan permukaan tanah yang tercemar.
2. Sedangkan Bioremediasi dengan cara proses pembersihan pencemaran tanah
dengan menggunakan mikroorganisme (jamur, bakteri).

3.2 Saran

1. Diperlukan adanya sikap mental yang mendukung keberhasilan upaya –


upaya mencegah terjadinya pencemaran tanah.

2. Diperlukan adanya tindakan yang nyata dalam usaha untuk mencegah


terjadi pencemarn tanah

3. Diperlukan adanya peraturan yang mendukung usaha penyelamatan


Sumber Daya Alam khususnya tanah.

17