Anda di halaman 1dari 41

KATA PENGANTAR

Assalammu’alaikum Wr.Wb.

Alhamdulillahirabbil’alamin, banyak nikmat yang Allah SWT berikan, tetapi sedikit


sekali yang kita ingat. Segala puji hanya layak untuk Allah Tuhan seru sekalian alam
atas segala berkat, rahmat, taufik, serta hidayah-Nya yang tiada terkira besarnya,
sehingga penulis dapat menyelesaikan Makalah Seminar Evidence Based Of Nursing
tentang perawatan

Dalam penyusunannya, penulis memperoleh banyak bantuan dari berbagai pihak,


karena itu penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Kedua
orang tua dan segenap sahabat STIKES PERTAMEDIKA yang telah memberikan
dukungan, kasih, dan kepercayaan yang begitu besar.

Dari sanalah semua kesuksesan ini berawal, semoga semua ini bisa memberikan
sedikit kebahagiaan dan menuntun pada langkah yang lebih baik lagi. Meskipun
penulis berharap isi dari makalah ini bebas dari kekurangan dan kesalahan, namun
selalu ada yang kurang.

Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar
makalah ini dapat lebih baik lagi. Akhir kata penulis berharap agar makalah ini
bermanfaat bagi semua pembaca.

Jakarta, April 2017

Kelompok

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................................................................................................... i


DAFTAR ISI .................................................................................................................ii
BAB I ............................................................................................................................ 1
PENDAHULUAN ........................................................................................................ 1
A. Latar Belakang ............................................................................................................ 1

B. Rumusan masalah ....................................................................................................... 3

C. Tujuan .......................................................................................................................... 4

D. Manfaat ........................................................................................................................ 4

BAB II ........................................................................................................................... 5
TINJAUAN TEORI ...................................................................................................... 5
A. Diabetes Mellitus ........................................................................................................ 5

B. Luka Diabetik ........................................................................................................... 16

C. Madu .......................................................................................................................... 25

D. Perawatan luka dengan menggunakan madu ........................................................ 27

E. Resume Jurnal ........................................................................................................... 29

BAB III ....................................................................................................................... 31


ANALISA PICO ......................................................................................................... 31
A. Problem ...................................................................................................................... 31

B. Intervention ............................................................................................................... 31

C. Comparisson.............................................................................................................. 33

D. Outcome..................................................................................................................... 34

BAB IV ....................................................................................................................... 35
PEMBAHASAN ......................................................................................................... 35
A. Karakteristik ruangan .............................................................................................. 35

ii
B. Implikasi keperawatan ............................................................................................. 35

BAB IV ....................................................................................................................... 36
PENUTUP ................................................................................................................... 36
A. Kesimpulan ............................................................................................................... 36

B. Saran........................................................................................................................... 36

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................. 37

iii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Diabetes mellitus merupakan penyakit metabolik dengan karakteristik
peningkatan kadar glukosa darah (hiperglikemia) yang terjadi akibat kelainan
sekresi insulin, kerja insulin keduanya. Glukosa dibentuk di hati dari makanan
yang dikonsumsi dan secara normal bersirkulasi dalam jumlah tertentu dalam
darah. Insulin merupakan suatu hormon yang diproduksi pankreas yang
berfungsi mengendalikan kadar glukosa darah dengan mengatur produksi dan
penyimpanannya (Smeltzer & Bare, 2008).
Diabetes mellitus merupakan salah satu ancaman bagi kesehatan umat
menusia pada abad 21. Menurut data dari kesehatan (WHO), Indonesia saat
ini menempati urutan ke-4 negara dengan jumlah penderita diabetes mellitus
terbesar didunia setelah China, India, dan Amerika (Kemenkes, 2007). Hasil
Riset Kesehatan Daerah (2013), prevalensi tertinggi yang terdiagnosis
diabetes oleh dokter adalah Yogyakarta (2,6%), DKI Jakarta (2,5%), Sulawesi
Utara (2,4%), dan Kalimantan Timur (2,3%).
Penyakit diabetes merupakan salah satu dari berbagai penyakit yang
mengancam banyak orang. Menurut Tjahjadi (2002), diabetes merupakan the
silent killer, karena menyerang penderita secara diam-diam dan tidak disadari
oleh penderita diabetes. Setelah sadar, biasanya penderita memeriksakan ke
pelayanan kesehatan berupa tanda dan gejala komplikasi yang telah terjadi.
Komplikasi diabetes ada bermacam-macam, salah satunya yang paling sering
dijumpai adalah Infeksi Kaki Diabetik (IKD). Infesi Kaki Diabetik merupakan
infeksi yang terjadi di daerah ekstremitas bawah, karena mengalami mati rasa
di daerah tersebut, sehingga penderita tidak menyadari adanya luka di kakinya
(Nabyl, 2009).

1
Menurut Black & Hawks (2005), Infeksi Kaki Diabetik merupakan infeksi
yang paling sering terjadi dan sering dijumpai bersamaan dengan
hiperglikemia. Lebih dari 40% orang dengan IKD kemungkinan harus
diamputasi, dan 5 hingga 10% akan meninggal karena infeksi yang terjadi di
sekitar area yang di amputasi. Menurut Nabyl (2009), setiap 19 menit ada satu
orang di dunia yang harus diamputasi akibat IKD. Berawal dari luka kecil,
lalu terinfeksi yang menyebabkan luka IKD dan bila tidak dirawat akan
menjadi ganggren. Tetapi efek lebih lanjut bila luka ganggren tidak dirawat
juga akan mengakibatkan kematian. Hal ini terjadi karena kurangnya
perawatan luka sejak dini. Perawatan luka ini bertujuan agar luka sembuh dan
infeksi tidak menyebar ke organ lain. Bila yang terkena adalah jantung maka
akan berakibat kematian. Tetapi bila perawatan luka dilakukan sejak dini,
maka efek tersebut tidak akan terjadi (Nabyl, 2009).
Infeksi Kaki Diabetik atau gangren dapat dicegah dengan perawatan yang
tepat dan efektif. Penelitian-penelitian terdahulu menggunakan iodine
povidine dan NaCl untuk perawatan luka IKD. Tetapi banyak sekali artikel-
artikel yang menyatakan bahwa madu alami adalah cairan yang tepat untuk
digunakan sebagai perawatan luka infeksi. Menurut penelitian yang dilakukan
oleh Lisbet (2009), hasil yang didapatkan adalah adanya perubahan yang baik
pada luka yg diberi madu alami.
Menurut Haryanto (2010), madu sering digunakan oleh nenek moyang untuk
menyembuhkan berbagai macam penyakit sejak ribuan tahun yang lalu. Salah
satunya sebagai penyembuh luka infeksi. Madu alami memiliki kandungan
yang dapat menyembuhkan IKD. Sebagai contoh enzim katalase yang
berfungsi sebagai antibakteria dan kandungan air yang kurang dari 18%
memungkinkan madu untuk menarik pus (nanah) di sekitar area luka yang di
oles dengan madu alami tersebut (Suranto, 2007).
Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan mahasiswa program Profesi Ners
STIKes Pertamedika Jakarta di RSUD Pasar Minggu ruang Alamanda tanggal
10 sampai 14 April 2017, ditemukan mayoritas pasien diabetes mellitus

2
dengan luka infeksi kaki diabetic (IKD). Perawatan luka di ruang alamanda lt.
11 RSUD Pasar Minggu biasanya menggunakan NaCl 0,9% dan salep
ikamicetin 15gr atau trifamycetin. Sehingga kami mahasiswa program Profesi
Ners STIKes Pertamedika tertarik untuk menyampaikan seminar evidence
based nursing “Efektivitas pengobatan madu alami terhadap penyembuhan
luka infeksi kaki diabetic (IKD)” sebagai tindakan mandiri keperawatan
dalam perawatan luka.

B. Rumusan masalah
Penyakit diabetes merupakan salah satu dari berbagai penyakit yang
mengancam banyak orang. Menurut Tjahjadi (2002), diabetes merupakan the
silent killer, karena menyerang penderita secara diam-diam dan tidak disadari
oleh penderita diabetes. Setelah sadar, biasanya penderita memeriksakan ke
pelayanan kesehatan berupa tanda dan gejala komplikasi yang telah terjadi.
Komplikasi diabetes ada bermacam-macam, salah satunya yang paling sering
dijumpai adalah Infeksi Kaki Diabetik (IKD).
Infeksi Kaki Diabetik atau gangren dapat dicegah dengan perawatan yang
tepat dan efektif. Penelitian-penelitian terdahulu menggunakan iodine
povidine dan NaCl untuk perawatan luka IKD. Tetapi banyak artikel-artikel
yang menyatakan bahwa madu alami adalah cairan yang tepat untuk
digunakan sebagai perawatan luka infeksi. Menurut penelitian yang dilakukan
oleh Lisbet (2009), hasil yang didapatkan adalah adanya perubahan yang baik
pada luka yg diberi madu alami.
Sehingga kami mahasiswa program Profesi Ners STIKes Pertamedika tertarik
untuk menyampaikan seminar evidence based nursing “efektivitas
pengobatan madu alami terhadap penyembuhan luka infeksi kaki diabetic
(IKD)”.

3
C. Tujuan
Tujuan dari penyampaian seminar evidence based nursing ini adalah untuk
menambah wawasan tentang perawatan luka infeksi kaki diabetik dengan
menggunakan madu sebagai tindakan mandiri perawat dalam perawatan luka.
Sehingga penyembuhan luka infeksi kaki diabetic dapat lebih baik, infeksi
tidak menyebar ke organ lain dan mengurangi resiko amputasi.

D. Manfaat
1. Bagi perawat
Diharapkan seminar evidence based nursing ini menambah wawasan
perawat tentang perawatan luka infeksi kaki diabetik dengan
menggunakan madu sebagai tindakan mandiri perawat dalam perawatan
luka.
2. Bagi pasien
Setelah diterapkan evidence based nursing ini diharapkan penyembuhan
luka infeksi kaki diabetic dapat lebih baik, infeksi tidak menyebar ke
organ lain dan mengurangi resiko amputasi.

4
BAB II

TINJAUAN TEORI

A. Diabetes Mellitus
1. Definisi
Diabetes mellitus merupakan gangguan metabolisme yang ditandai dengan
hiperglikemia karena kerusakan pada sekresi insulin. Dalam jangka
panjang dapat menyebabkan komplikasi yang dapat mempengaruhi mata,
ginjal dan saraf, serta meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular
(Canadian Diabetes Association, 2013).

Diabetes mellitus atau disebut diabetes saja merupakan penyakit gangguan


metabolik menahun akibat pankreas tidak memproduksi cukup insulin atau
tubuh tidak dapat menggunakan insulin yang diproduksi secara efektif.
Insulin adalah hormon yang mengatur keseimbangan kadar gula.
Akibatnya terjadi peningkatan konsentrasi glukosa didalam darah
(hiperglikemia) (Depkes;Infodatin, 2014). Sedangkan menurut American
Diabetes Association (2015), diabetes merupakan suatu penyakit kronis
yang membutuhkan perawatan medis yang lama atau terus menerus dengan
cara mengendalikan kadar gula darah untuk mengurangi risiko
multifaktoral.

2. Etiologi
Menurut Susilo dan Wulandari (2011), penyakit diabetes mellitus secara
umum diakibatkan oleh konsumsi makanan yang tidak terkontrol atau
sebagai efek samping dari pemakaian obat-obat tertentu. Selain itu,
diabetes mellitus dapat disebabkan oleh tidak cukupnya hormon insulin
yang dihasilkan pankreas untuk menetralkan gula darah dalam tubuh.

5
a. Faktor keturunan
Penyakit diabetes mellitus kebanyakan adalah penyakit keturunan,
bukan penyakit menular.
b. Obesitas (Kegemukan)
Obesitas (kegemukan) termasuk hal yang menyebabkan terjadinya
diabetes mellitus. Semua makanan berkarbohidrat pasti mengandung
kalori. Karbohidrat didalam tubuh akan diubah menjadi gula untuk
dijadikan energi (tenaga). Jika jumlah insulin yang dihasilkan pankreas
tidak mencukupi untuk mengendalikan tingkat kadar gula didalam
tubuh, maka kelebihan gula tersebut akan menyebabkan gula darah
menjadi tinggi yang disebut dengan diabetes.
c. Angka trigliserida dan level kolesterol yang tinggi
Trigliserida adalah salah satu jenis molekul lemak yang tinggi. Selain
LDL (Low Density Lipoprotein), yaitu jenis kolesterol jahat dan HDL
(High Density Lipoprotein), yaitu jenis kolesterol baik, yang penting
untuk diketahui juga adalah trigliserida, yaitu jenis lemak yang terdapat
dalam darah dan berbagai organ dalam tubuh. Meningkatnya kadar
trigliserida akan mempengaruhi sensitivitas insulin. Apabila kadar
trigliserida tinggi, sensitivitas insulin akan menurun. Hal ini akan
memicu terjadinya diabetes mellitus.
Diabetes yang tidak terkontrol dengan kadar glukosa yang tinggi
cenderung meningkatkan kadar kolesterol dan trigliserida dalam tubuh.
Kolesterol LDL pada penderita diabetes lebih ganas kerena bentuknya
lebih padat dan ukurannya lebih kecil (small dense LDL) sehingga
sangat mudah masuk dan menempel pada lapisan pembuluh darah yang
lebih dalam (aterogenik). Kadar gula darah yang tinggi dan berlangsung
lama akan memicu terjadinya aterosklerosis (kerusakan dinding

6
pembuluh darah) pada arteri koroner dan menyebabkan penyakit jantung
koroner.
d. Mengkonsumsi makanan instan
Makanan instan atau makanan cepat saji yang banyak mengandung
garam dan penyedap rasa. Kandungan ini bila dikonsumsi secara terus-
menerus dan tidak diimbangi dengan pola hidup yang tidak sehat, akan
menyebabkan terganggunya kesehatan, seperti kegemukan, tinggi
kolesterol, dan lain-lain. Inilah yang memicu terganggunya metabolisme
dalam tubuh, termasuk sensitivitas insulin yang menyebabkan diabetes
mellitus.
e. Merokok dan stress
Darah yang sudah teracuni oleh nikotin akan menyebabkan sensitivitas
insulin terganggu. Stress sebenarnya tidak menyebabkan penyakit fisik
secara langsung. Namun, karena pada saat stress hormon-hormon racun
diproduksi, maka kondisi stress yang berlangsung terus-menerus akan
menyebabkan terjadi kandungan racun yang melimpah didalam tubuh.
Sensitivitas insulin pun terganggu dan menyebabkan diabetes mellitus.
f. Terlalu banyak mengkonsumsi karbohidrat
Sebagian penderita diabetes mellitus bisa mengendalikan gula darahnya
dengan makan tiga kali sehari dan menghindari makanan yang manis.
Orang yang turunnya toleransi glukosa, terjadi resistensi insulin,
stimulasi glukoneogenesis yang merupakan tahapan metabolisme
glukosa. Hipersekresi hormon pada kelenjar tiroid berupa tri-
iodotironina dan hipertiroidisme yang menyebabkan tidak normalnya
toleransi glukosa.

3. Patofisiologi Diabetes Mellitus


Menurut Aini & Aridiana (2016), sebagian besar patologi diabetes mellitus
dapat dihubungkan dengan efek utama kekurangan insulin, yaitu sebagai
berikut:

7
a. Pengurangan penggunaan glukosa oleh sel-sel tubuh, yang
mengakibatkan peningkatan konsentrasi glukosa darah sampai setinggi
300 sampai 1.200 mg per 100 ml. Insulin berfungsi membawa glukosa
ke sel dan menyimpannya sebagai glikogen. Sekresi insulin normalnya
terjadi dalam dua fase yaitu fase I, terjadi dalam beberapa menitsetelah
suplai glukosa dan kemudian melepaskan cadangan insulin yang
disimpan dalam sel β, dan fase II, merupakan pelepasan insulin yang
baru disintesis dalambeberapa jam setelah makan. pada DM tipe 2,
pelepasan insulin fase II sangat terganggu.
b. Peningkatan mobilisasi lemak dan daerah penyimpanan lemak sehingga
menyebabkan kelainan metabolisme lemak maupun pengendapan lemak
pada dinding vascular.
c. Pengurangan protein dalam jaringan tubuh.

Keadaan patologi tersebut menurut Camacho, P.M., dkk, (2007); Baradero,


M., dkk, (2009), akan mengakibatkan beberapa kondisi sebagai berikut:

a. Hiperglikemia
Normalnya asupan glukosa atau produksi dalam tubuh akan difasilitasi
oleh insulin untuk masuk ke dalam sel tubuh. Glukosa itu kemudian
diolah untuk menjadi bahan energi, apabila bahan energi yang
dibutuhkan masih ada sisa akan disimpan sebagai glikogen dalam sel
hati dan sel otot (sebagai massa sel otot). Proses ini tidak dapat
berlangsung dengan baik pada penderita diabetes sehingga glukosa
banyak yang menumpuk didarah (hiperglikemia).
Proses terjadinya hiperglikemia karena defisit insulin diawali dengan
berkurangnya transpor glukosa yang melintasi membrane sel. Kondisi
ini memicu terjadinya penurunan glikogenesis (pembentukan glikogen
dari glukosa) namun tetap terdapat kelebihan glukosa dalam darah
sehingga meningkatkan glikolisis (pemecahan glikogen). Cadangan
glikogen menjadi berkurang dan glukosa yang tersimpan dalam hati

8
dikeluarkan terus-menerus melebihi kebutuhan. Peningkatan
glukoneogenesis (pembentukan glukosa dari unsur nonkarbohidrat
seperti asam amino dan lemak) juga terjadi sehingga glukosa dalam hati
semakin banyak yang dikeluarkan.
Hiperglikemia berbahaya bagi sel dan sistem organ karena pengaruhnya
terhadap sistem imun, yang dapat memediasi terjadinya inflamasi.
Inflamasi ini mengakibatkan respons vaskular (antara lain memudahkan
terjadinya gagal jantung), respons sel otak, keruskan saraf, penurunan
aktivitas fibrinolisis plasma, dan aktivitas aktivator plasminogen
jaringan. Seseorang dengan kondisi hiperglikemia akan mudah
terinfeksi karena adanya disfungsi fagosit serta merangsang inflamasi
akut yang tampak dari terjadinya peningkatan petanda sitokin
proinflamasi seperti tumor necrosis factor -α (TNF-α) dan interleukin-6
(IL-6). Peningkatan petanda sitokin inflamasi tersebut kemungkinan
terjadi melalui induksi faktor transkripsional proinflamasi, yaitu nuclear
factor (NF-β).
b. Hiperosmolaritas
Hiperosmolaritas adalah suatu keadaan seseorang dengan kelebihan
tekanan osmotik pada plasma sel karena adanya peningkatan konsentrasi
zat. Sedangkan tekanan osmosis merupakan tekanan yang dihasilkan
karena adanya peningkatan konsentrasi larutan pada zat cair. Pada
penderita diabetes mellitus terjadinya hiperosmolaritas terjadi karena
adanya peningkatan konsentrasi glukosa dalam darah (yang notabene
komposisi terbanyaknya adalah zat cair). Peningkatan glukosa ini
mengakibatkan kemampuan ginjal untuk memfiltrasi dan reabsorpsi
glukosa menurun sehingga glukosa terbuang melalui urin (glukosuria).
Ekskresi molekul glukosa yang aktif secara osmosis menyebabkan
kehilangan sejumlah besar air (diuresis osmotik) dan berakibat
peningkatan volume air (poliura). Proses seperti ini mengakibatkan
dehidrasi dengan ekstraseluler dan juga diruangan intraseluler.

9
Glukosuria dapat mencapai 5-10% dan osmolaritas serum lebih dan
370-380 mosmols/dl dalam keadaan tidak terdapatnya keton darah.
Kondisi ini dapat berakibat koma hiperglikemik hiperosmolar
nonketotik.
c. Starvasi selular
Starvasi selular merupakan kondisi kelaparan yang dialami oleh sel
karena glukosa sulit masuk padahal disekeliling sel banyak sekali
glukosa. Kalau kita meminjam istilah "kelaparan ditengah lumbung
padi". Ada banyak bahan makanan tetapi tidak bisa dibawa untuk
diolah. Sulitnya glukosa masuk karena tidak ada yang memfasilitasi
untuk masuk sel yaitu insulin.
Dampak starvasi selular akan terjadi proses kompensasi selular agar
tetap mempertahankan fungsi sel. Proses itu antara lain sebagai berikut.
1) Defisiensi insulin gagal untuk melakukan asupan glukosa pada
insulin (otot rangka dan jaringan lemak). Jika tidak terdapat glukosa,
sel-sel otot memetabolisme cadangan glikogen yang mereka miliki
untuk dibongkar menjadi glukosa, mungkin juga akan menggunakan
asam lemak bebas (keton). Kondisi ini berdampak pada penurunan
massa otot, kelemahan otot, dan perasaan mudah lelah.
2) Starvasi selular mengakibatkan peningkatan metabolisme protein dan
asam amino yang digunakan sebagai substrat yang diperlukan untuk
glukoneogenesis dalam hati. Hasil dari glukoneogenesis akan
dijadikan untuk proses aktivitas sel tubuh. Protein dan asam amino
yang mengalami proses glukoneogenesis akan dirubah menjadi CO2
dan H2O serta glukosa. Perubahan ini berdampak pada penurunan
sintesis protein. Proses glukoneogenesis yang menggunakan asam
amino menyebabkan penipisan simpanan protein tubuh karena unsur
nitrogen (sebagai unsur pemecahan protein) tidak digunakan kembali
untuk semua bagian tetapi diubah menjadi urea dalam hepar dan
diekskresikan dalam urin. Ekskresi nitrogen yang banyak akan

10
berakibat pada keseimbangan negative nitrogen. Depresi protein akan
mengakibatkan tubuh menjadi kurus, penurunan resistansi terhadap
infeksi, dan sulitnya pengambilan jaringan yang rusak (sulit sembuh
kalau ada cedera).
3) Starvasi sel juga berdampak pada peningkatan mobilisasi dan
metabolisme lemak (lipolisis) asam lemak bebas, trigliserida, dan
gliserol yang meningkat bersirkulasi dan menyediakan substrat bagi
hati untuk proses ketogenesis yang digunakan sel untuk melakukan
aktivitas sel. Ketogenesis mengakibatkan peningkatan kadar asam
organik (keton), sementara keton menggunakan cadangan alkali
tubuh untuk buffer PH darah menurun. Pernapasan kussmaul
dirangsang untuk mengkompensasi keadaan asidosis metabolik.
Diuresis osmotik menjadi bertambah buruk dengan adanya
ketoanemis dan dari katabolisme protein yang meningkatkan asupan
protein ke ginjal sehingga tubuh banyak kehilangan protein.
Adanya starvasi selluler akan meningkatkan mekanisme penyesuaian
tubuh untuk meningkatkan pemasukan dengan munculnya rasa ingin
makan terus (polifagi). Starvasi selluler juga akan memunculkan
gejala klinis kelemahan tubuh karena terjadi penurunan produksi
energi. Kerusakan berbagai organ reproduksi yang salah satunya
dapat timbul impotensi dan organ tubuh yang lain seperti persarafan
perifer dan mata (muncul rasa baal dan mata kabur).

3. Manifestasi Klinis
Menurut Mahendra, Tobing, Krisnatuti dan Alting (2008), menerangkan
gejala klinis pada penderita diabetes mellitus tipe 1 dan 2 tidak banyak
berbeda, hanya gejala dan proses terjadinya, gejala klinis tersebut adalah
sebagai berikut.
a. Gangguan fungsi pembuluh otak

11
Pasien sering merasakan berat dibelakang kepala, leher dan pundak,
pusing (vertigo), serta pendengaran dan penglihatan terganggu. Jika hal
ini dibiarkan, gangguan neurologisa akan muncul, misalnya dalam
bentuk stroke yang disebabkan oleh penyumbatan atau pendarahan.
b. Gangguan pembuluh darah dikaki
Berkurangnya sirkulasi darah dan oksigen ke kaki atau betis
menyebabkan rasa sakit dibetis muncul sewaktu berjalan kaki. Selain
penyumbatan pembuluh darah besar pada kaki, mikrosirkulasi dikaki
juga mudah terhambat. Hal ini adalah penyebab utama gangren
(pembusukan jaringan) yang sering diderita oleh pasien diabetes
mellitus.
c. Tidak stabilnya tekanan darah
Tidak stabilnya atau seimbangnya tekanan darah yakni kadang tinggi
atau rendah banyak terjadi pada pasien diabetes mellitus. Tekanan darah
tinggi disebabkan oleh buruknya kondisi pembuluh darah dan
memburuknya fungsi ginjal. Menurut kedokteran timur, menurunnya
tekanan darah merupakan sinyal dari defisiensi chi dan terhambatnya
aliran darah (stagnasi darah).
d. Gangguan pada sistem saraf
Neuropathy adalah salah satu komplikasi diabetes mellitus. Kerusakan
pada sistem saraf ini lebih mengacu pada saraf sensorik (saraf perasa),
menimbulkan rasa sakit, kesemutan, serta baal (matirasa) pada kaki dan
tangan. Kerusakan pada sistem motorik memang lebih sedikit, gangguan
ini termanifestasi pada berkurangnya tenaga otot dan volume dari
jaringan otot.
Diabetes mellitus tipe 2 juga bisa mengganggu fungsi saraf outonom
(saraf vegetative) yang mempengaruhi fungsi organ seperti organ
pencernaan (sakit maag, mual, kembung, obstipasi, dan diare), keluhan
pada jantung (berdebar dan sesak napas), gangguan pada sistem

12
urinarius (inkontinensia dan infeksi kandung kemih), gangguan pada
aktivitas seksual, serta gangguan psikologis.
e. Gangguan mata (Retinopathy)
Retinopathy disebabkan memburuknya kondisi mikrosirkulasi sehingga
terjadi kebocoran pada pembuluh darah retina. Hal ini bahkan bisa
menjadi salah satu penyebab kebutaan.
f. Gangguan ginjal (Nefropathy)
Sebab utama gangguan ginjal pada pasien diabetes mellitus adalah
buruknya mikrosirkulasi. Gangguan ini sering muncul paralel dengan
gangguan pembuluh darah dimata. Penyebab lainnya adalah proses
kronis dari hipertensi yang akhirnya merusak ginjal.
g. Gangguan pada kaki
Kaki adalah bagian tubuh yang paling sensitive pada pasien diabetes
mellitus. Ada beberapa faktor yang berperan dalam perubahan ini yaitu:
1) Terhambatnya sirkulasi menimbulkan rasa sakit pada betis kaki
sewaktu berjalan, gangren (gangguan makro dan mikrosirkulasi-
vasculopathy).
2) Gangguan pada saraf (neuropathy) yakni kerusakan pada saraf diotot,
kulit, dan kerusakan saraf autonom yang mengganggu regulasi
keringat.
3) Sensitif terhadap infeksi dikaki.
h. Gangguan pada otot dan sendi-sendi
Terhambatnya ruang gerak sendi dan otot banyak diderita pada
orangtua. Namun kini gejala tersebut juga kerap dirasakan pada pasien
usia muda yang menderita diabetes mellitus tipe 2.

Menurut Tjokoprawiro & Askandar (2006), gejala akut pada diabetes


mellitus, gejala penyakit dari penderita yang satu dengan yang lain tidak
selalu samabahkan ada penderita yang tidak menunjukkan gejala apapun.

13
Gejala awal yang khas pada penderita diabetes mellitus dikenal TRIAS P,
yaitu:
a. Polifagia (banyak makan)
b. Poliuria (banyak kencing)
c. Polidipsia (banyak minum)

4. Komplikasi Diabetes Mellitus


a. Komplikasi yang bersifat akut
1) Koma hipoglikemia
Koma hipoglikemia terjadi karena pemakaian obat-obat diabetik
yang melebihi dosis yang dianjurkan sehingga penurunan glukosa
dalam darah. Glukosa yang ada sebagian besar difasilitasi untuk
masuk ke dalam sel.
2) Ketoasidosis
Minimnya glukosa didalam sel akan mengakibatkan sel mencari
sumber alternatif untuk dapat memperoleh energi sel. Kalau tidak ada
glukosa maka benda-benda keton akan dipakai sel. Kondisi ini akan
mengakibatkan penumpukkan residu pembongkaran benda-benda
keton yang berlebihan yang dapat mengakibatkan asidosis.
3) Koma hiperosmolar nonketotik
Koma ini terjadi karena penurunan komposisi ciran intrasel dan
ektrasel karena banyak diekresi lewat urin.
b. Komplikasi yang bersifat kronik
1) Makroangiopati yang mengenai pembuluh darah besar, pembuluh
darah jantung, pembuluh darah tepi, pembuluh darah otak. Perubahan
pada pembuluh darah besar dapat mengalami aterosklerosis sering
terjadi pada DMTTI/NIDDM. Komplikasi makroangiopati adalah
penyakit vaskular otak, penyakit arteri koronaria dan penyakit
vaskular perifer.

14
2) Mikroangiopati yang mengenai pembuluh darah kecil, retinopati
diabetika, nefropati diabetik. Perubahan-perubahan mikrovaskuler
yang ditandai dengan penebalan dan kerusakan membran diantara
jaringan dan pembuluh darah sekitar. Terjadi pada penderita
DMTI/IDDM yang terjadi neuropati, nefropati, dan retinopati.
Nefropati terjadi karena perubahan mikrovaskuler pada struktur dan
fungsi ginjal yang menyebabkan komplikasi pada pelvis ginjal.
Tubulus dan glomerulus penyakit ginjal dapat berkembang dari
proteinuria ringan ke ginjal.
Retinopati adanya perubahan dalam retina karena penurunan protein
dalam retina. Perubahan ini dapat berakibat gangguan dalam
penglihatan. Retinopati mempunyai dau tipe, yaitu:
a. Retinopati back ground dimulai dari mikroneuronisma didalam
pembuluh retina menyebabkan pembentukan eksudat keras.
b. Retinopati proliferatif yang merupakan perkembangan lanjut dari
retinopati back ground, terdapat pembentukan pembuluh darah
menciut dan menyebabkan tarikan pada retina dan perdarahan
didalam rongga vitreum. Juga mengalami pembentukan katarak
yang disebabkan oleh hiperglikemia yang berkepanjangan
menyebabkan pembengkakan lensa dan kerusakan lensa.
3) Neuropati diabetika
Akumulasi orbital didalam jaringan dan perubahan metabolik
mengakibatkan fungsi sensorik dan motorik saraf menurun
kehilangan sensori mengakibatkan penurunan persepsi nyeri.
4) Rentan infeksi seperti tuberculosis paru, gingivitis, dan infeksi
saluran kemih.
5) Kaki diabetik
Perubahan mikroangiopati, makroangiopati dan neuropati
menyebabkan perubahan pada ekstremitas bawah. Komplikasinya
dapat terjadi gangguan sirkulasi, terjadi infeksi, gangren, penurunan

15
sensasi dan hilangnya fungsi saraf sensorik dapat menunjang terjadi
trauma atau tidak terkontrolnya infeksi yang mengakibatkan gangren
(Riyadi & Sukarmin, 2008).

B. Luka Diabetik
1. Definisi
Luka diabetes ( diabetic ulcers) sering kali disebut diabetics foot ulcers,
luka neuropati, luka diabetik neuropath (Maryunani, 2013). Luka diabetes
atau neuropati adalah luka yang terjadi pada pasien yang diabetik
melibatkan gangguan pada saraf perifer dan otonomik ( Suriadi, 2004
dalam Maryunani, 2013).
Luka diabetes adalah luka yang terjadi pada kaki penderita diabetes,
dimana terdapat kelainan tungkai kaki bawah akibat diabetes melitus yang
tidak terkendali. Kelainan kaki diabetes mellitus dapat disebabkan adanya
gangguan pembuluh darah, gangguan persyarafan dan adanya infeksi (
Tambunan, 2007 dalam Maryunani, 2013).
Luka diabetes dengan gangren didefinisikan sebagai jaringan nekrosis
atau jaringan mati yang disebabkan oleh karena adanya emboli pembuluh
darah besar arteri pada bagian tubuh sehingga suplai darah terhenti. Dapat
terjadi sebagai akibat proses inflamasi yang memanjang , perlukaan (
digigit serangga, kecelakaan kerja atau terbakar), proses degenerative (
arteriosklorosis) atau gangguan metabolik (diabetes melitus). (Taber,
1990 dalam Maryunani,2013).

2. Klasifikasi luka
a. Berdasarkan kedalaman jaringan
1) Partial Thickness adalah luka mengenai lapisan epidermis dan
dermis

16
2) Full Thickness adalah luka mengenai lapisan epidermis, dermis
dan subcutaneous. dan termasuk mengenai otot, tendon dan tulang
( Ekaputra,2013).
b. Berdasarkan waktu dan lamanya
1) Akut
Luka baru, terjadi mendadak dan penyembuhannya sesuai dengan
waktu yang diperkirakan ( Moreau, 2003 dalam Ekaputra, 2013).
Luka akut merupakan luka trauma yang biasanya segera mendapat
penanganan dan biasanya dapat sembuh dengan baik bila tidak
terjadi komplikasi ( Ekaputra, 2013).
2) Kronik
Luka yang berlangsung lama atau sering timbul kembali (rekuren),
terjadi gangguan pada proses penyembuhan yang biasanya
disebabkan oleh masalah multifaktor dari penderita (Fowler
E,1990). Pada luka kronik luka gagal sembuh pada waktu yang
diperkirakan, tidak berespon baik terhadap terapi dan punya
tendensi untuk timbul kembali (Moreau , 2003 dalam Ekaputra,
2013).

3. Grade Wagner luka diabetes mellitus


Derajat 0 = Tidak ada lesi yang terbuka, Bisa terdapat deformitas atau
selulitis (dengan kata lain: kulit utuh, tetapi ada kelainan bentuk kaki
akibat neuropati).
Derajat 1= luka superficial terbatas pada kulit.
Derajat 2= luka dalam sampai menembus tendon, atau tulang
Derajat 3= luka dalam dengan abses, osteomielitis atau sepsis persendian
Derajat 4= Gangren setempat, di telapak kaki atau tumit ( dengan kata
lain, gangren jari kaki atau tanpa selulitis)
Derajat 5= Gangren pada seluruh kaki atau sebagian tungkai bawah.
(Muryunani, 2013).

17
4. Proses terjadinya luka diabetes melitus
Luka diabetes melitus terjadi karena kurangnya kontrol diabetes melitus
selama bertahun-tahun yang sering memicu terjadinya kerusakan syaraf
atau masalah sirkulasi yang serius yang dapat menimbulkan efek
pembentukan luka diabetes melitus (Maryunani, 2013). Ada 2 tipe
penyebab ulkus kaki diabetes secara umum yaitu:
a. .Neuropati
Neuropati diabetik merupakan kelainan urat syaraf akibat diabetes
melitus karena kadar gula dalam darah yang tinggi yang bisa merusak
urat syaraf penderita dan menyebabkan hilang atau menurunnya rasa
nyeri pada kaki, sehingga apabila penderita mengalami trauma
kadang- kadang tidak terasa. Gejala-gejala neuropati meliputi
kesemutan, rasa panas, rasa tebal di telapak kaki, kram, badan sakit
terutama dimalam hari (Maryunani, 2013).
b. Angiopathy
Angiopathy diabetik adalah penyempitan pembuluh darah pada
penderita diabetes. Apabila sumbatan terjadi di pembuluh darah
sedang/ besar pada tungkai, maka tungkai akan mudah mengalami
gangren diabetik, yaitu luka pada kaki yang merah kehitaman atau
berbau busuk. Angiopathy menyebabkan asupan nutrisi, oksigen serta
antibiotik terganggu sehingga menyebabkan kulit sulit sembuh.
(Maryunani, 2013).

5. Fase Penyembuhan Luka (Wound Healing)


a. Fase Inflamasi
Merupakan awal dari proses penyembuhan luka sampai hari kelima.
Proses peradangan akut terjadi dalam 24-48 jam pertama setelah
cedera. Proses epitalisasi mulai terbentuk pada fase ini beberapa jam
setelah terjadi luka. Terjadi reproduksi dan migrasi sel dari tepi luka

18
menuju ke tengah luka. Fase ini mengalami konstriksi dan retraksi
disertai reaksi hemostasis yang melepaskan dan mengaktifkan sitokin
yang berperan untuk terjadinya kemoktasis retrofil, makrofag, mast
sel, sel endotel dan fibrolas. Kemudian terjadi vasodilatasi dan
akumulasi leukosit dan mengeluarkan mediator inflamasi TGF Beta 1
akan mengaktivasi fibrolas untuk mensintesis kolagen (Ekaputra,
2013).
b. Fase Proliferasi
Fase ini mengikuti fase inflamasi dan berlangsung selama 2 sampai 3
minggu (potter dan perry, 2006). Pada fase ini terjadi neoangiogenesis
membentuk kapiler baru. Fase ini disebut juga fibroplasi menonjol
perannya. Fibroblast mengalami proliferasi dan berfungsi dengan
bantuan vitamin B dan vitamin C serta oksigen dalam mensintesis
kolagen. Serat kolagen kekuatan untuk bertautnya tepi luka. Pada fase
ini mulai terjadi granulasi, kontraksi luka dan epitelisasi.( Ekaputra,
2013).
c. Fase Remodeling atau Maturasi
Fase ini merupakan fase yang terakhir dan terpanjang pada proses
penyembuhan luka. Terjadi proses yang dinamis berupa remodeling
kolagen, kontraksi luka dan pematangan parut. Fase ini berlangsung
mulai 3 minggu sampai 2 tahun. Akhir dari penyembuhan ini
didapatkan parut luka yang matang yang mempunyai kekuatan 80%
dari kulit normal (Ekaputra,2013).

6. Faktor-faktor yang mempengaruhi proses penyembuhan luka


a. Faktor Umum
1) Perfusi dan oksigenasi jaringan
Proses penyembuhan luka tergantung suplai oksigen. Oksigen
merupakan kritikal untuk leukosit dalam menghancurkan bakteri
dan untuk fibroblast dalam menstimulasi sintesis kolagen. Selain

19
itu kekurangan oksingen dapat menghambat aktifitas fagositosis.
Dalam keadaan anemia dimana terjadi penurunan oksigen jaringan
maka akan menghambat proses penyembuhan luka (Ekaputra,
2013).
2) Status nutrisi
Kadar serum albumin rendah akan menurunkan difusi
(penyebaran) dan membatasi kemampuan neutrofil untuk
membunuh bakteri. Oksigen rendah pada tingkat kapiler
membatasi profilerasi jaringan granulasi yang sehat. Defisiensi zat
besi dapat melambatkan kecepatan epitelisasi dan menurunkan
kekuatan luka dan kolagen. Jumlah vitamin A dan C zat besi dan
tembaga yang memadai diperlukan untuk pembentukan kolagen
yang efektif. Sintesis kolagen juga tergantung pada asupan protein,
karbohidrat dan lemak yang tepat. Penyembuhan luka
membutuhkan dua kali lipat kebutuhan protein dan karbohidrat
dari biasanya untuk segala usia. Diet seimbang mengandung bahan
nutrisi yang dibutuhkan untuk perbaikan luka seperti asam amino (
daging, ikan dan susu), energi sel (biji-bijian, gula, madu, buah-
buahan dan sayuran), vitamin C ( buah kiwi, strawberry, dan
tomat), vitamin A ( hati, telur, buah berwarna hijau cerah, dan
sayur-sayuran), Vitamin B ( kacang, daging dan ikan), zinc
(makanan laut, jamur, kacang kedelai, bunga matahari), bahan
mineral (makanan laut dan kacang dari biji-bijian), air (Ekaputra,
2013).
3) Stres fisik dan psikologis
Stres, cemas dan depresi telah dibuktikan dapat mengurangi
efisiensi dari sistem imun sehingga dapat mempengaruhi proses
penyembuhan. Suatu sikap positif untuk memberikan
penyembuhan oleh tiap pasien dan perawat dapat mempengaruhi
dalam meningkatkan penyembuhan luka (Ekaputra, 2013).

20
4) Gangguan sensasi atau gerakan
Gangguan aliran darah yang disebabkan oleh tekanan dan gesekan
benda asing pada pembuluh darah kapiler dapat menyebabkan
jaringan mati pada tingkat lokal. Gerakan/ mobilisasi diperlukan
untuk membantu sistem sirkulasi, khususnya pembuluh darah balik
(vena) pada ekstremitas bawah (Ekaputra, 2013).
b. Faktor local
1) Praktek managemen luka
Tidak sesuainya penanganan luka secara umum dapat
mempengaruhi penyembuhan, untuk mencengah dan
mengidentifikasi masalah tersebut, fisiologi penyembuhan luka
harus dipahami sebagai kebutuhan dari proses penyembuhan
tersebut. Pengetahuan beberapa jenis atau kategori dari produk
perawatan luka dan bentuk pemberian pelayanan mereka
merupakan sesuatu yang penting. Luka harus dilakukan dalam
sebuah metode dengan mempertimbangkan suatu keadaan dari
jaringan luka tersebut. Luka, pasien/ personal dan kebersihan
lingkungan harus lebih optimal, untuk mengurangi resiko
terjadinya infeksi silang (Ekaputra, 2013).
2) Hidrasi luka
Penanganan luka secara tradisional didukung dengan keadaan
lingkungan luka yang kering, karena berdasarkan keyakinan
bahwa luka kering akan mencengah infeksi. Keadaan luka kering
akan menghambat migrasi sel epitel. Sebuah luka dengan
lingkungan yang lembab membantu pertumbuhan sel untuk
mempertahankan dasar luka yang baik dan membantu proses
migrasi permukaan luka. Sebuah lingkungan yang lembab akan
membantu autolitik debridement. Nyeri pada luka berkurang jika
persyarafan tetap dalam keadaan lembab (Ekaputra, 2013).
3) Temperatur luka

21
Dalam studi tentang efek temperatur pada penyembuhan luka,
Lock (1979) mendemonstrasikan bahwa sebuah temperatur yang
konstan kira-kira 37⁰C mempunyai dampak yang signifikan yaitu
peningkatan 108% pada aktifitas mitotik pada luka. Dengan
demikian jika penyembuhan ingin ditingkatkan, temperatur luka
harus dipertahankan. Seringnya luka tanpa dressing dan
penggunaan larutan dingin perlu dipertanyakan. Dressing yang
mengurangi proses penggantian dan mempertahankan kelembapan
lebih kondusif dalam proses penyembuhan( Ekaputra, 2013).
4) Tekanan dan gesekan
Kapiler merupakan sel yang sangat tipis. Penekanan pada arteri
dan kapiler dengan tekanan 30 mmhg dengan penekanan terus-
menerus dapat menurunkan aliran ke akhir venous. Jika
penyumbatan pembuluh darah terjadi, hipoksia jaringan dan
menyebabkan kematian. Tekanan, gesekan dan shearing
merupakan akibat dari aktifitas atau tanpa aktifitas, retraksi
kantong atau pakaian, abrasi atau tekanan dari dressing luka.
Perlindungan luka merupakan sesuatu yang utama untuk
meningkatkan vaskularisasi dan penyembuhan (Ekaputra, 2013)
5) Adanya benda asing
Beberapa benda asing pada luka dapat menghambat penyembuhan.
Secara umum benda asing yang ditemukan diluka adalah debris
luka, jahitan, lingkungan debris (misalnya kotoran,rambut dan
glass), debris produk dressing (misalnya benang, serat kasa),
infeksi. Semua luka tersebut akan menghambat penyembuhan dan
perlu diperhatikan adanya benda asing dan sinar-X mungkin
dibutuhkan. Pembersihan luka secara hati-hati, dan cairan yang
dingunakan untuk membersihkan harus non toksis, misalnya
normal salin (Ekaputra, 2013).

22
6) Luka infeksi
Semua luka terkontaminasi, tetapi tidak mengakibatkan terjadinya
sepsis (Smith, 1983). Adanya bakteri sebagai bagian dari suatu
flora dari kulit, dan organisme pindah ke dalam luka dari sekitar
kulit. Secara sehat individu hidup dalam harmoni dengan jumlah
besar bakteri. Flora kulit kering rata-rata 10 sampai 1000 bakteri
per gram tiap jaringan dengan mengalami peningkatan secara
dramatis dalam bakteri dari jaringan lembab, saliva atau feses
(Laurence, 1992). Tempat flora kulit akan berkoloni dengan luka
yang menempati seluruh permukaan kulit. Sebuah luka dikatakan
infeksi jika adanya tingkat pertumbuhan bakteri 100.000
organisme per gram dari jaringan. Infeksi pada luka menghasilkan
jaringan kurang sehat atau devital. Luka infeksi kemungkinan
menyebabkan infeksi sistemik, yang tidak hanya berdampak pada
proses penyembuhan tetapi dapat juga pada kondisi pengobatan
(Ekaputra, 2013)

7. Pencegahan Luka Diabetes Mellitus


Menurut Katsilambros, N., dkk., 2010; Regina (2013), pengawasan dan
perawatan penyakit diabetes dapat mencegah ulkus diabetes. Regulasi
kadar gula darah dapat mencegah neuropati perifer atau mencegah
keadaan yang lebih buruk. Penderita diabetes harus memeriksa kakinya
setiap hari, menjaga kakinya tetap bersih dengan sabun dan air, serta
menjaga kelembapan kaki dengan pelembap topikal. Sepatu dan alas kaki
harus dipilih secara khusus untuk mencegah adanya gesekan atau tekanan
pada kaki. Cara melakukan perawatan kaki pada pasien diabetes mellitus
adalah sebagai berikut:
a. Mencuci kaki dengan sabun dan air hangat (kaki tidak boleh direndam,
karena akan mudah infeksi) kemudian keringkan sampai ke sela-sela
jari kaki.

23
b. Berikan pelembap untuk mencegah kaki kering (tetapi jangan
mengoleskan pelembap pada sela-sela jari kaki).
c. Saat melakukan perawatan kaki, perhatikan kondisi kaki (misalnya
apakah ada kemerahan, kapalan/kulit mengeras, luka, kondisi kuku,
dan warna kulit kaki. Warna kulit kaki biru/hitam menandakan aliran
darah buruk).
d. Gunting kuku jari dengan arah lurus. Kikir ujung-ujung kuku yang
tajam dengan pengikir kuku dan jangan menggunting kutikula kuku.
e. Memakai alas kaki yang nyaman (tidak boleh kebesaran/kekecilan
karena akan menyebabkan kaki lecet), baik didalam maupun diluar
rumah. Pasien tidak boleh berjalan tanpa alas kaki. Tidak boleh
memakai sepatu tanpa kaos kaki. Sepatu baru tidak boleh dipakai lebih
dari satu jam dalam sehari dan kaki harus diperiksa setelah memakai
sepatu baru. Bila ada tanda-tanda iritasi, maka harus dilaporkan ke
tenaga kesehatan. Sepatu yang baik untuk pasien diabetes adalah
sepatu yang bagian depannya lebar, untuk mencegah gesekan dan
tekanan pada jari kaki. Pasien tidak boleh memakai sepatu hak tinggi,
karena beban tubuh akan berada dikaki depan dan meningkatkan
tekanan pada metatarsal.
f. Agar aliran darah ke kaki, angkat kaki saat duduk. Lalu gerakkan jari-
jari kaki dan pergelangan kaki keatas dan kebawah selama 5 menit
sebanyak 2-3 kali sehari, dan jangan melipat kaki dalam waktu lama.
Banyak pasien diabetes mellitus yang lanjut usia menderita gangguan
peredaran darah terutama pada kakinya. Apabila meraka berjalan
walaupun tidak jauh mereka sudah merasakan nyeri atau sakit pada
betis. Senam kaki dapat membantu memperlancar aliran darah ke kaki
(Soegondo, 2008).

24
C. Madu
Madu berasal dari nektar bunga yang disimpan oleh lebah dari kantung madu.
Oleh lebah nektar tersebut diolah sebelum akhirnya menghasilkan madu
dalam sarangnya. Madu dihasilkan oleh serangga lebah madu (Apis mellifera)
termasuk dalam superfamili apoidea. Madu adalah obat alami karena tidak
pelru diolah di laboratorium. Madu sudah ada di alam dan tinggal diolah dari
sarangnya (Susan, 2008).
Madu mengandung senyawa radikal hidrogen peroksida yang bersifat dapat
membunuh mikroorganisme patogen. Berdasarkan hasil penelitian
Kamaruddin (1997), peneliti dari fakultas kedokteran Universitas Malaysia, di
Kuala Lumpur adanya senyawa organik yang bersifat antibakteri antara lain
seperti polypenol, dan glikosida. Selain itu dalam madu terdapat banyak
sekali kandungan vitamin, asam mineral, dan enzim yang sangat berguna bagi
tubuh sebagai pengobatan secara tradisional, antibod, dan penghambat
pertumbuhan sel kanker, atau tumor. Madu juga mengandung antioksidan,
asam amino essensial, dan non essensial.
Beberapa penelitian menyebutkan bahwa madu bermanfaat sebagai antiseptik
dan antibakteri (mengatasi infeksi pada daerah luka dan memperlancar proses
sirkulasi yang berpengaruh pada proses penyembuhan luka) (Yudith, 2003).
Madu juga merangsang pertumbuhan jaringan baru sehinga selain
mempercepat penyembuhan juga mengurangi timbulnya parut atau bekas luka
pada kulit. Medu memiliki efek osmotik dengan tinginya kadar gula dalam
madu terutama fruktosa, dan kadar air yang sangat sedikit menyebabkan madu
memiliki efek osmotik yang tinggi. Dengan adanya efek tersebut
memungkinkan mikroorganisme yang ada dalam tubuh sukar tumbuh dan
berkembang. Madu memiliki kadar asam yang tingi dengan pH sekita antara
3.2-4.5 (sangat asam). Dengan adanya kadar asam yang tingi inilah
mikroorganisme yang tidak tahan asam akan mati. Madu mampu
mengabsorbsi pus atau nanah atau luka, sehingga secara tidak langsung madu
akan membersihkan luka tersebut. Madu menimbulkan efek analgetik

25
(penghilang nyeri), mengurangi iritasi, dan dapat mengeliminasi bau yang
menyengat pada luka. Madu juga berfungsi sebagai antioksidan karena
adanya vitamin C yang banyak terkandung pada madu. Secara tidak langsung
madu mengeliminasi zat radikal bebas yang ada pada tubuh kita (Abdillah,
2008).
Dari beberapa penelitian yang dilakukan salah satunya oleh Dr. Jamal Burhan
dari universitas Iskandariyah Mesir pada tahun 1991 menyebutkan madu
sangat efektif untuk pengobatan luka dan telah dilakukan eksperimen
pengobatan terhadap luka bakar dengan mengunakan madu dan setelah
dilakukan perbandingan dengan pengobatan modern yaitu SS, hasilnya setelah
7 hari, kelompok yang diobati dengan madu 91% bebas dari infeksi
sedangkan yang diobati dengan SS hanya 7% yang bebas infeksi. Setelah
pengobatan berjalan 15 hari, 87% pasien yang diobati madu sembuh
sedangkan yang diobati dengan SS hanya 10%yang sembuh. Penelitian pada
tahun 1992 dan 1993 juga membuktikan bahwa pasien luka bakar yang
diobati dengan madu, hanya 20% yang menyisakan luka luka ditubuhnya,
sedangkan pengobatan modern dengan obat farmakologis menyisakan sekitar
65% pasien meninggalkan bekas luka (Suryadhine, 2007).
Pengobatan madu yang dicampur dengan minyak zaitun dan lilin lebah para
dokter di Dubai Specialized Medical Centre dibawah pimpinan Noori Al Wali
telah berhasil mencapai tingkat penyembuhan tertingi 86% untuk penyakit
infeksi kulit karena jamur (Iqbal, 2008). Peneliti Jennifer Edy dari Universitas
Wisconsin menyebutkan madu efektif dalam mengobati luka diabetes karena
kandungan airnnya rendah, juga pH madu yang asam serta kandungan
hidrogen peroxidanya mampu membunuh bakteri dan mikroorganisme yang
masuk kedalam tunuh kita (Iqbal, 2008). Dalam perawatan luka diabetes
madu dapat digunakan dengan cara madu ditaruh pada balutan, kemudian
sebelum luka diabalut terlebih dahulu luka haruslah terlebih dahulu diolesi
dengan madu sampai merata menutup seluruh permukaan luka. Setelah itu
luka dibalut dengan balutan yang telah diolesi madu terlebih dahulu. Namun

26
pada kondisi luka yang penuh dengan cairan cara ini tidak dianjurkan (Iqbal,
2008).
Untuk luka yang mengeluarkan cairan yang banyak, pembalut madu yang
kedua dapat diterapkan diatas pembalut yang pertama untuk menampung
rembesan cairan dari pembalut pertama. Madu aman untuk dioleskan
langsung kedarerah luka yang terbuka karena madu selalu larut dalam air dan
mudah dibersihkan.
Pengunaan madu pada luka gangren tergantung dari jumlah cairan yang
keluar dari luka. Frekuensi penggantian pembalut madu tergantung dari
beberapa cepat madu tercampur dengan cairan yang keluar dari luka. Luka
yang tidak mengeluarkan cairan, penggantian pembalut dapat dilakukan 3 kali
semingu. Cara pemeberian madu yang baik adalah madu ditaruh dahulu pada
pembalut yang dapat menyerap madu, karena apabila dituangkan langsung,
madu akan menyebar kemana-mana dan tidak mengenai sasaran. Balutan
yang digunakan harus yang berpori agar madu dapat mencapai bagian tubuh
yang luka. Pembalut alginate yang diisi madu dapat juga diapakai sebagai
pengganti pembalut dari selulosa karena alginate akan berubah menjadi gel
yang lunak yang mengandung madu. Madu aman untuk dioleskan langsung ke
daerah luka yang terbuka karena madu selalu larut dalam air dan mudah
dibersihkan. Dianjurkan selama pengunaan madu ini, pasien tetap dalam
pengawasan dokter (Iqbal, 2008) penerapan terapi madu pada luka gangren
diabetes dapat dilihat pada protokol penelitian efektivitas madu terhadap
penyembuhan luka DM.

D. Perawatan luka dengan menggunakan madu


Penggunaan madu pada luka gangren diabetes adalah perawatan luka diabetes
dengan menggunakan madu sebagai alternatif terapi tradisional pada luka
gangren diabetes dimana luka diabetes akan dioles dengan madu secara
merata kemudian dibalut. Prosedur tindakan sebagai berikut:

27
1. Persiapan Alat dan Bahan
Pinset anatomis dan cirurgis masing-masing 1 buah, Bengkok, Larutan
NaCl 0,9 %, Sarung tangan steril 1 pasang, Kassa steril, Madu,
Plester/balutan, Gunting perban, Gunting Jaringan.
2. Persiapan Pasien
Perawat memperkenalkan diri dan memberikan penejalasan kepada
pasien, bantu pasien dalam posisi nyaman selama proses perawatan luka.
3. Pelaksanaan
a. Perawat mencuci tangan dan menggunakan sarung tangan non steril
sebelum melakukan perawatan luka dengan terapi madu
b. Buka balutan dan observasi keadaan luka diabetes pasien dengan
menggunakan kriteria push score
c. Gunakan sarung tangan steril untuk memberihkan luka dengan
menggunakan pinset dan kassa steril dari arah dalam ke luar.
d. Cuci luka dengan menggunakan NaCl 0,9% sambil digosok secara
lembut
e. Keringkan luka dengan kassa steril
f. Setelah luka bersih kemudian madu ditaruh pada luka gangren secara
merata, begitu juga dengan balutan yang akan digunakan untuk
membalut harus diolesi dengan madu terlebih dahulu sebelum
digunakan untuk membalut luka gangrene, hal ini agar komponen anti
bakteri dari madu seluruhnya terserap oleh jaringan luka. Kemudian
luka gangren yang sudah bersih dibalut dengan balutan yang sudah
diolesi dengan madu.
g. Setelah luka gangren selesai dibalut dengan madu, observasi respon
pasien dengan menanyakan pada pasien apakah pasien merasa nyaman
dengan perawatan.
h. kemudian rapikan alat dan mencuci tangan.

28
E. Resume Jurnal
Judul jurnal:
efektivitas pengobatan madu alami terhdapa penyembuhan luka infeksi kaki
diabetic (IKD) di Puskesmas Bangetayu dan Puskesmas Genuk Semarang.

Nama peneliti:
1. Radiant Eka Pramana
2. Maria suryani
3. Mamat supriyono

Tempat dan waktu:


Puskesmas Bangetayu dan Puskesmas Genuk Semarang. September 2011 –
februari 2012.

Tujuan penelitian:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas pengobatan madu
terhadap penyembuhan luka IKD.

Populasi dan sampling:


Populasi pada penelitian ini adalah pasien puskesmas Bangetayu dan
Puskesmas Genuk Semarang yang menderita diabetes mellitus dengan luka
IKD. Jumlah sampel 14 responden, terbagi 2 manjadi kelompok control dan
kelompok perlakuan.

Teknik sampling:
Total sampling

Metode penelitian:
Quasy eksperiment dengan kelompok pembanding

29
Instrument:
Penelitian ini menggunakan madu alami yang memiliki kandungan air kurang
dari 18%, kasa, pinset anatomis, pinset cirugis, plester, bengkok, cairan NaCl
0,9%, lidi kapas, lembar observasi, dan kamera sebagai alat pengumpul data.

Uji statistic:
Mann whitney

30
BAB III

ANALISA PICO

A. Problem
Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan mahasiswa program Profesi Ners
STIKes Pertamedika Jakarta di RSUD Pasar Minggu ruang Alamanda tanggal
10 sampai 14 April 2017, ditemukan mayoritas pasien diabetes mellitus
dengan luka infeksi kaki diabetic (IKD). Perawatan luka di ruang alamanda lt.
11 RSUD Pasar Minggu biasanya menggunakan NaCl 0,9% dan salep
ikamicetin 15gr atau trifamycetin. Sehingga kami mahasiswa program Profesi
Ners STIKes Pertamedika tertarik untuk menyampaikan seminar evidence
based nursing “Efektivitas pengobatan madu alami terhadap penyembuhan
luka infeksi kaki diabetic (IKD)” sebagai tindakan mandiri keperawatan
dalam perawatan luka.

B. Intervention
Menurut penelitian Pramana, Suryani, dan Supriyono (2012), dengan judul
“efektivitas pengobatan madu alamani terhadap penyembuhan luka infeksi
diabetic (IKD) di Puskesmas Bangetayu dan Puskesmas Genuk Semarang”.
Jumlah sampel pada penelitian ini adalah 14 responden, terbagi dua menjadi
kelompok kontrol dan kelompok perlakuan. Penelitian ini menggunakan madu
alami yang memiliki kandungan air kurang dari 18%, kasa, pinset anatomis,
pinset cirugis, plester, bengkok, cairan NaCl 0,9%, lidi kapas, lembar
observasi, dan kamera sebagai alat pengumpul data. Dengan penatalaksanaan
sebagai berikut:
1. Persiapan Alat dan Bahan

31
Pinset anatomis dan cirurgis masing-masing 1 buah, Bengkok, Larutan
NaCl 0,9 %, Sarung tangan steril 1 pasang, Kassa steril, Madu,
Plester/balutan, Gunting perban, Gunting Jaringan.
2. Persiapan Pasien
Perawat memperkenalkan diri dan memberikan penejalasan kepada
pasien, bantu pasien dalam posisi nyaman selama proses perawatan luka.
3. Pelaksanaan
a. Perawat mencuci tangan dan menggunakan sarung tangan non steril
sebelum melakukan perawatan luka dengan terapi madu
b. Buka balutan dan observasi keadaan luka diabetes pasien dengan
menggunakan kriteria push score
c. Gunakan sarung tangan steril untuk memberihkan luka dengan
menggunakan pinset dan kassa steril dari arah dalam ke luar.
d. Cuci luka dengan menggunakan NaCl 0,9% sambil digosok secara
lembut
e. Keringkan luka dengan kassa steril
f. Setelah luka bersih kemudian madu ditaruh pada luka gangren secara
merata, begitu juga dengan balutan yang akan digunakan untuk
membalut harus diolesi dengan madu terlebih dahulu sebelum
digunakan untuk membalut luka gangrene, hal ini agar komponen anti
bakteri dari madu seluruhnya terserap oleh jaringan luka. Kemudian
luka gangren yang sudah bersih dibalut dengan balutan yang sudah
diolesi dengan madu.
g. Setelah luka gangren selesai dibalut dengan madu, observasi respon
pasien dengan menanyakan pada pasien apakah pasien merasa nyaman
dengan perawatan.
h. kemudian rapikan alat dan mencuci tangan.

32
C. Comparisson
1. Anshori, Widayati, dan Ardiana (2014), dengan judul “Pengaruh
Perawatan Luka Menggunakan Madu terhadap Kolonisasi Bakteri
Staphylococcus Aureus pada Luka Diabetik Pasien Diabetes Mellitus di
Wilayah Kerja Puskesmas Rambipuji Kabupaten Jember”. Desain
penelitian yang digunakan adalah pre eksperiment dengan rancangan one
group pretest and posttest. Teknik pengambilan sampel menggunakan
consecutive sampling dengan 7 responden. Analisa data menggunakan uji
dependent t-test dan didapatkan nilai p value 0,000 (p value < α = 0,05),
maka dapat disimpulkan ada pengaruh perawatan luka menggunakan
madu terhadap kolonisasi bakteri Staphylococcus aureus pada luka
diabetik pasien Diabetes Mellitus di wilayah kerja Puskesmas Rambipuji
Kabupaten Jember. Saran yang dapat diberikan adalah menerapkan
penggunaan madu sebagai agen perawatan luka karena memiliki sifat
antibakteri yang dapat mencegah terjadinya infeksi dan mempercepat
proses penyembuhan luka.
2. Nurman (2015), dengan judul “perbandingan efektivitas madu = NaCl
0,9% dengan NaCl 0,9% saja terhadap penyembuhan luka ganggren pada
pasien diabetes mellitus tipe II di wilayah kerja Puskesmas Bangkingan
Kota”. Desain penelitian yang digunakan adalah quasi eksperimen dengan
rancangan control time series design. Sampel penelitian adalah 20 pasien
yang dibagi menjadi 2 kelompok dengan rincian 10 pasien sebagai
perawatan luka menggunakan madu + NaCl 0,9% dan 10 pasien lainnya
perawatan luka menggunakan NaCl 0,9%. Teknik analisa data yang
digunakan adalah uji parametik yaitu uji statistic uji T-test atau Paired T-
test yaitu uji dependen dan independen dengan nilai α = 0,5. Hasil uji T
dependen menunjukan ada perbedaan signifikan sebelum dan sesudah
perawatan luka denggunakan madu + NaCl 0,9% yaitu p value = 0,001 <
α, serta sebelum dan sesudah perawatan luka menggunakan NaCl 0,9%
yaitu p value = 0,003 < α. Hasil dari T independen yaitu ada perbandingan

33
antara perawatan luka menggunakan madu + NaCl 0,9% dengan NaCl
0,9% saja. Saran yang diberi dalam penelitian ini adalah menerapkan
penggunaan madu sebagai agen perawatan luka karena memiliki
efektivitas yang baik untuk proses penyembuhan luka.

D. Outcome
Pada penelitian yang dilakukan oleh Pramana, Suryani, dan Supriyono (2012),
dengan judul “efektivitas pengobatan madu alamani terhadap penyembuhan
luka infeksi diabetic (IKD) di Puskesmas Bangetayu dan Puskesmas Genuk
Semarang”. Analisa data menggunakan Uji Mann Whitney (p<0,05). Di
dapatkan hasil skor adalah 0,008 (p<0,05). Ini menunjukan bahwa
penggunaan madu alami dan NaCl 0,9% lebih efektif dibandingkan dengan
yang hanya mneggunakan NaCl 0,9%.

34
BAB IV

PEMBAHASAN

A. Karakteristik ruangan
1. Pasien
Mayoritas kasus pada pasien di ruang Alamanda lt. 11 RSUD Pasar
Minggu adalah diabetes mellitus dengan luka infeksi kaki diabetic (IKD).
Perawatan luka di ruang alamanda lt. 11 RSUD Pasar Minggu biasanya
menggunakan NaCl 0,9% dan salep ikamicetin 15gr atau trifamycetin.
2. Perawat
Jumlah perawat di ruang Alamanda lt. 11 RSUD Pasar Minggu adalah 29
orang, terdiri dari 1 kepala ruangan, 3 kepala tim, 8 penanggung jawab
shift, dan 17 perawat pelaksana.

B. Implikasi keperawatan
Evidence Based Nursing ini memungkinkan untuk diterapkan diruangan
sebagai tindakan mandiri keperawatan dalam perawatan luka diabetes, karena
madu alami memiliki kandungan seperti enzim katalase yang berfungsi
sebagai antibakteria dan kandungan air yang kurang dari 18% memungkinkan
madu untuk menarik pus disekitar area luka yang dioles dengan dengan madu
tersebut, sehingga proses penyembuhan luka menjadi lebih baik, infeksi tidak
menyebar ke organ lain dan mengurangi resiko amputasi.

35
BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Sebanyak 7 responden pada kelompok pembanding memiliki range score
8-10 yang berarti tidak ada perubahan. Sebanyak 7 responden pada
kelompok perlakuan memiliki range score 10-14 yang berarti ada
perubahan.
2. Penggunaan madu alami (kandungan air < 18%) dan NaCl 0,9% lebih
efektif dibanding hanya menggunakan NaCl 0,9%.
3. Intervesi ini dapat dijadikan rekomendasi oleh perawat diruangan sebagai
tindakan mandiri keperawatan dalam perawatan luka diabetes, karena
madu alami memiliki kandungan seperti enzim katalase yang berfungsi
sebagai antibakteria dan kandungan air yang kurang dari 18%
memungkinkan madu untuk menarik pus disekitar area luka yang dioles
dengan dengan madu tersebut, sehingga proses penyembuhan luka
menjadi lebih baik, infeksi tidak menyebar ke organ lain dan mengurangi
resiko amputasi.

B. Saran
Intervensi ini dapat dijadikan metode alternative dalam memberikan tindakan
mandiri keperawatan untuk perawatan luka pada pasien IKD. Sehingga
penyembuhan luka infeksi kaki diabetic (IKD) dapat lebih baik, infeksi tidak
menyebar ke organ lain dan mengurangi resiko amputasi.

36
DAFTAR PUSTAKA

Aini, N. & Aridiana, Ledy Martha. (2016). Asuhan Keperawatan pada Sistem
Endokrin dengan Pendekatan NANDA NIC NOC. Jakarta: Salemba Medika.
American Diabetes Association. (2003). Physical activity/exercise and diabetes.
http://www.uhs.wisc.edu.
Anshori, Widayati, dan Ardiana (2014), dengan judul “Pengaruh Perawatan Luka
Menggunakan Madu terhadap Kolonisasi Bakteri Staphylococcus Aureus pada
Luka Diabetik Pasien Diabetes Mellitus di Wilayah Kerja Puskesmas
Rambipuji Kabupaten Jember”. Program studi ilmu keperawatan: Universitas
Jember
Black, J.M and Hawks, J.H. (2005). Medical surgical nursing clinical management
for positive outcomes. Sevent edition. Philadelpia. Mosby
Canadian Diabetes Association, (2013). Definition, Classification and diagnosis of
Diabetes, Prediabetes and metabolic syndrome. Canadian Journal of Diabetes,
Vol 37: S8-S11.
Depkes, (2014). InfoDatin Pusat Data dan Informasi Kementrian Kesehatan RI.
Nabyl, R.A. (2009). Cara mudah mencegah dan mengatasi diabetes mellitus.
Yogyakarta: aulia publishing
Nurman (2015), dengan judul “perbandingan efektivitas madu = NaCl 0,9% dengan
NaCl 0,9% saja terhadap penyembuhan luka ganggren pada pasien diabetes
mellitus tipe II di wilayah kerja Puskesmas Bangkingan Kota”. STIKes Tuanku
Tambusai: Riau
Pramana, Suryani, dan Supriyono (2012), dengan judul “efektivitas pengobatan madu
alamani terhadap penyembuhan luka infeksi diabetic (IKD) di Puskesmas
Bangetayu dan Puskesmas Genuk Semarang”. STIKes Elizabeth Semarang
Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas). (2013). Badan Penelitian dan Pengembangan
Kesehatan Kementerian RI tahun 2013.

37
Riyadi, S & Sukarmin. (2008). Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Gangguan
Eksokrin Dan Endokrin Pada Pankreas. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Smeltzer, S. C., & Bare B. G. (2008). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah.
Brunner & Suddarth ( Edisi 8 Volume 1). Jakarta: EGC.
http://www.depkes.go.id/resources/download/general/Hasil%20Riskesdas%20
2013. Pdf. Diakses: 25 April 2017
Suranto, A. (2007). Terapi Madu. Jakarta: KDT
Susilo,Y.,Wulandari,A. (2011). Cara Jitu Mengatasi Kencing Manis. Yogyakarta:
C.V Andi Offset.
Tjahjadi, V. (2002). Mengenal, mencegah, mengatasi silent killer: diabetes.
Semarang: Pustaka Widyamara

38