Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN

A. Judul Percobaan
Konveksi Paksa (Forced Convection)

B. Tujuan Percobaan
Untuk mengetahui harga koefisien transfer panas daripada permukaan
pipa bagian dalam ke udara yang mengalir didalamnya.

C. Latar Belakang
Forced convection adalah mekanisme atau jenis transportasi panas
dimana gerakan fluida yang dihasilkan oleh sumber eksternal (seperti pompa,
kipas angin, alat penghisap,, dll). Ini harus dipertimbangkan sebagai salah satu
metode utama perpindahan panas berguna sebagai sejumlah besar panas dapat
diangkut sebagai sangat efisien dan mekanisme ini ditemukan sangat umum
dalam kehidupan sehari-hari, termasuk pemanas sentral AC, turbin uap dan
mesin lainnya. Konveksi paksa sering dihadapi oleh para insinyur merancang
atau menganalisis penukar panas, aliran pipa, dan aliran atas piring pada suhu
yang berbeda dari aliran.
Bila suatu fluida berkontak dengan permukaan zat padat pada
temperature yang berbeda, maka hasil dari proses pertukaran energi thermos
itu disebut transfer panas secara konveksi. Kebanyakkan masalah transfer
panas sangat kompleks, maka praktis tidak mungkin menghitungkan seluruh
factor-faktor seperti : diameter pipa, kecepatan fluida, densitas, viscositas,
konduktifitas thermal, kapasitas panas, dan lain-lain.

21 | P a g e
BAB II
LANDASAN TEORITIS

A. Defenisi Percobaan
Konveksi paksa adalah perpindahan panas yang mana dialirannya
tersebut berasal dari luar seperti dari blower atau kran dan pompa.
Konveksi paksa dalam pipa merupakan persolaan perpindahan konveksi
untuk aliran dalam atau yang disebut dengan internal flow. Adapun aliran
yang terjadi dalam pipa adalah fluida yang dibatasi oleh suatu
permukaan. Sehingga lapisan batas tidak dapat berkembang secara
bebas seperti halnya pada aliran luar. Macam-macam Perpindahan Panas :
 Perpindahan Panas Konduksi
 Perpindahan Panas Konveksi
 Perpindahan Panas Radiasi
Perpindahan Panas Konduksi Adalah proses transport panas dari
daerah bersuhu tinggi ke daerah bersuhu rendah dalam satu medium (padat,
cair atau gas), atau antara medium – medium yang berlainan yang
bersinggungan secara langsung
Dinyatakan dengan :

dT
q   kA
dx
Dimana :
q = Laju perpindahan panas (w)
A = Luas penampang dimana panas mengalir (m2)
dT/dx = Gradien suhu pada penampang, atau laju perubahan suhu T
terhadap jarak dalam arah aliran panas x
k = Konduktivitas thermal bahan (w/moC)

22 | P a g e
Perpindahan Panas Konveksi Adalah transport energi dengan kerja
gabungan dari konduksi panas, penyimpanan, energi dan gerakan mencampur.
Proses terjadi pada permukaan padat (lebih panas atau dingin) terhadap cairan
atau gas (lebih dingin atau panas).
q = h A (∆T)
Dimana :
q = Laju perpindahan panas konveksi
h = Koefisien perpindahan panas konveksi (w/m2 0C)
A = Luas penampang (m2)
∆T = Perubahan atau perbedaan suhu (0C; 0F)
Perpindahan Panas Radiasi Adalah proses transport panas dari benda
bersuhu tinggi ke benda yang bersuhu lebih rendah, bila benda – benda itu
terpisah didalam ruang (bahkan dalam ruang hampa sekalipun.
q = δ A (T14 – T24)
Dimana :
δ = Konstanta Stefan-Boltzman 5,669 x10- 8 w/m2 k4
A = Luas penampang
T = Temperatur
PERPINDAHAN KALOR KONVEKSI PAKSA
Besarnya perpindahan kalor yang terjadi pada suatu
penampang/saluran yang berbentuk pipa/tabung dapat dinyatakan dengan beda
suhu limbak (bulk temperature):
q = m.Cp(Tb2 – Tb1) = h.A(Tw – Tb)
m = ρ.Um.A
Untuk mengetahui apakah alirannya laminar atau turbulen maka dibutuhkan
bilangan Reynold:
 .U m d
Re 

Dimana :
m = laju aliran fluida (kg/s)

23 | P a g e
Cp = Panas jenis (kj/kg.0C)
Tb = Suhu limbak
Tw = Suhu dinding
Um = Kec. Rata-rata (m/s)
μ = Kekentalan (kg/m.s)
ρ = Kerapatan (kg/m3)
Untuk Aliran Turbulen :
Nud = 0,023.Re0,8. Prn = h.d/k..............pipa licin
n
( f / 8) Re . Pr  b  h.d
N ud    
1,07  12,7( f / 8) (Pr  1)   w 
1/ 2 2/3
k

Untuk pipa licin dgn faktor gesek


Dimana:
n = 0,11 jika Tw >Tb
n = 0,25 jika Tw < Tb

Untuk Aliran Laminar:

N ud  1,86(Re . Pr)1/ 3 (d / L)1/ 3 (  /  w ) 0,14

Konveksi adalah proses perpindahan kalor dari satu bagian fluida


kebagian lain fluida oleh pergerakan fluida itu sendiri. Proses perpindahan
kalor secara konveksi dibedakan menjadi dua yaitu konveksi alamiah dan
konveksi paksa. Konveksi alamiah adalah perpindahan kalor yang terjadi
secara alami, contoh: pemanasan air. Pada pemanasan air, massa jenis air yang
dipanasi mengecil sehingga air yang panas naik digantikan air yang massa
jenisnya lebih besar. Konveksi paksa adalah konveksi yang terjadi dengan
sengaja (dipaksakan), contoh: pada sistem pendingin mesin mobil.

24 | P a g e
Contoh peristiwa Konveksi : Angin laut bertiup pada siang hari.
Daratan yang memiliki kalor jenis kecil, pada siang hari lebih cepat menyerap
panas matahari dibandingkan dengan lautan yang memiliki kalor jenis besar.
Dengan demikian, suhu udara di atas daratan lebih tinggi daripada suhu udara
di atas permukaan laut. Daratan yang mempunyai suhu lebih tinggi
menyebabkan tekanan udaranya lebih kecil daripada tekanan udara di atas laut
dengan suhu udara lebih rendah. Karena tekanan udara di atas laut lebih besar,
terjadilah aliran udara dari laut ke darat. Udara yang mengalir dari laut ke
darat disebut angin laut. Sebaliknya, pada malam hari, daratan yang memiliki
kalor jenis kecil lebih cepat melepas panas dibandingkan dengan lautan yang
memiliki kalor jenis besar. Dengan demikian, suhu udara di atas daratan lebih
rendah daripada suhu udara di atas lautan. Karena suhu udara di atas lautan
tinggi, tekanan udaranya rendah. Terjadilah aliran udara dari darat ke laut.
Udara yang mengalir dari darat ke laut disebut angin darat. Laju perpindahan
kalor pada peristiwa konveksi tergantung pada :

 luas permukaan benda


 selisih suhu antara dua bidang
 jenis fluida.

Jenis Perpindahan Panas Konveksi

Menurut keadaan alirannya perpindahan panas secara konveksi


dikategorikan menjadi dua yaitu :

1. Konveksi bebas yang mana aliran fluida disebabkan oleh adanya variasi
masa jenis yang selalu diikuti dengan adanya perbedaan
Temperatur dalam fluida.
2. Konveksi paksa yang mana aliran disebabkan oleh beberapa cara yang
berasal dari luar. Misalnya dari fan, pompa, ataupun tiupan angin.

25 | P a g e
Hal Yang Diperhatikan Dalam Perpindahan Konveksi
Perpindahan panas konveksi sebagai perpindahan energi terjadi
dalam fluida akibat dari efek kombinasi dari konduksi dan pergerakan kasar
fluida. Adapun energi yang dipindahkan adalah energi dalam fluida. Begitu
pula dengan konveksi sebagai pertukaran panas latent yang dihubungkan
dengan perubahan fase antara keadaan cairan dan uap fluida. Dengan
memperhatikan kondisi aliran fluida tanpa melihat cara perpindahan
panas konveksi.
Persamaan laju dinyatakan dalam bentuk :
q'' = h (Ts – T∞)
dimana :
q'' : flux panas konveksi (W/m2) adalah berbanding lurus dengan
perbedaan temperature antara permukaan & fluida untuk masing-
masing Ts dan T∞ (temperatur).
h : koefisien konveksi lokal atau koefisien perpindahan panas.

Adapun koefisien perpindahan panas tergantung pada geometri


permukaan, cara dari pergerakan fluida dan sejumlah dari sifat termodinamika
dan transport dari fluida.

Pengertian Konveksi Paksa


Konveksi paksa adalah perpindahan panas yang mana dialirannya tersebut
berasal dari luar seperti dari blower atau kran dan pompa. Konveksi paksa
dalam pipa merupakan persolaan perpindahan konveksi untuk aliran dalam
atau yang disebut dengan internal flow. Adapun aliran yang terjadi dalam
pipa adalah fluida yang dibatasi oleh suatu permukaan. Sehingga lapisan
batas tidak dapat berkembang secara bebas seperti halnya pada aliran
luar.

26 | P a g e
B. Perkembangan Serta Penggunaan Dalam Dunia Industri
Forced convection adalah mekanisme atau jenis transportasi panas
dimana gerakan fluida yang dihasilkan oleh sumber eksternal (seperti pompa,
kipas angin, alat penghisap,, dll). Ini harus dipertimbangkan sebagai salah satu
metode utama perpindahan panas berguna sebagai sejumlah besar panas dapat
diangkut sebagai sangat efisien dan mekanisme ini ditemukan sangat umum
dalam kehidupan sehari-hari, termasuk pemanas sentral AC, turbin uap dan
mesin lainnya. Konveksi paksa sering dihadapi oleh para insinyur merancang
atau menganalisis penukar panas, aliran pipa, dan aliran atas piring pada suhu
yang berbeda dari aliran.
Angin laut bertiup pada siang hari. Daratan yang memiliki kalor jenis
kecil, pada siang hari lebih cepat menyerap panas matahari dibandingkan
dengan lautan yang memiliki kalor jenis besar. Dengan demikian, suhu udara
di atas daratan lebih tinggi daripada suhu udara di atas permukaan laut.
Daratan yang mempunyai suhu lebih tinggi menyebabkan tekanan udaranya
lebih kecil daripada tekanan udara di atas laut dengan suhu udara lebih rendah.
Karena tekanan udara di atas laut lebih besar, terjadilah aliran udara dari laut
ke darat. Udara yang mengalir dari laut ke darat disebut angin laut.
Sebaliknya, pada malam hari, daratan yang memiliki kalor jenis kecil lebih
cepat melepas panas dibandingkan dengan lautan yang memiliki kalor jenis
besar. Dengan demikian, suhu udara di atas daratan lebih rendah daripada
suhu udara di atas lautan. Karena suhu udara di atas lautan tinggi, tekanan
udaranya rendah. Terjadilah aliran udara dari darat ke laut. Udara yang
mengalir dari darat ke laut disebut angin darat.

27 | P a g e
BAB III
MATERI DAN METODE

A. Materi
 Alat
1. Satu set alat forced convection
2. Compressor

B. Metode
 Prosedur Kerja
1. Dicok steker kompresor ke sumber arus
2. Dicok steker alat forced convection dan ON-kan sumber arus
3. Dihidupkan kompresor
4. Diatur tap selector 1
5. Diatur laju aliran 15, 17, 19, 21, L/min dengan memutar katup pada
kompressor
6. Dihitung waktu 8 menit sambil mempertahankan laju aliran dan dapat
diperoleh sata-sata
7. Setelah selesai praktikum, turunkan laju aliran hingga nol
8. Turunkan atau OFF-kan power supply alat
9. Dicabut steker kompressor dan alat forced convection

28 | P a g e
C. Gambar Rangkaian

29 | P a g e
BAB IV
HASIL KERJA PRAKTEK DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Kerja Praktek


Flow
Temp Press Amp Volt OUTSIDE SURFACE WALL TEMP OR TUBE
Rate
SYM V Ta ∆𝒑 A V To (i)
UNIT L/menit ℃ mmHg A V ℃
INST DIGITAL THERMOMETER
t11 t1 t2 t3 t4 t5 t6 t7 t8 t9 t10
1 15 29.6 0.14 18 1 34.2 35 35.5 35.7 35.8 37.8 39.2 41.5 43.6 46.9
2 17 29.4 0.14 18 1 33.8 34.6 35.2 35.3 35.4 36.7 38.3 41 43.4 46.6
3 19 29.3 0.14 18 1 33.7 34.4 35 35.1 35.3 36.7 38.1 40.5 42.7 45.6
4 21 28.9 0.14 18 1 33.5 34.3 35.2 35.1 35.8 36.7 37.7 39.2 40.6 43.2

30 | P a g e
B. Pembahasan
Pembahasan data ke 3
1. Menghitung Tekanan Absolut
𝑃a = 1,033 + ∆𝑃
= 1,033 + 0,35 kg/cm2
𝑘𝑔 10000 𝑐𝑚2
= 1,383 𝑐𝑚2 × 1 𝑚2

= 13830 kg/m2
2. Menghitung Temperatur Absolut (K)
Ta = t11 + 273
= 29,3 + 273
= 302,3 K
3. Menghitung Spesifik Fluida (𝝏) (kg/m3)
Ta = 302,3 K
𝑋 – 𝑋1 𝑌 − 𝑌1
=
𝑋2 −𝑋1 𝑌2 − 𝑌1
29,3 −0 𝑌 −1,166
=
40 −20 1,091 −1,166
9,3 𝑌 −1,166
=
20 − 0,075

y = 1,131 kg/m3
4. Menghitung laju udara (flow rate of air)
60 293 𝑃a
G’ = 𝜕 V √1,333 104
1000 𝑇𝑎

𝑘𝑔 104 𝐾𝑔
1,131 19 𝑛𝑙/ min60 𝑚𝑖𝑛⁄1 𝑗𝑎𝑚 293 𝐾 (1,3830 𝑋 )
𝑚3 𝑚2
= 1000 𝑙 √ 104𝑘𝑔
1 𝑚3 1,333 . ( 302,3 𝐾)
𝑚2

= 1,143 kg/jam
5. Menghitung panas Flux pada dinding dalam pipa
𝑞 0,86 𝐴 𝑉
qw = =
𝑠 𝜋 𝑑𝑤 𝑥
𝟎,𝟖𝟔 𝒙 𝟏𝟖 𝑨 𝒙 𝟏 𝑽
= 𝟑,𝟏𝟒 (𝟓𝒙𝟏𝟎−𝟑 )𝟖,𝟓𝒙𝟏𝟎−𝟏 𝒎

= 0,1159 x 104 kkal/jam m3

31 | P a g e
6. Menghitung Panas Flux pada Keliling Pipa
𝑄 0,86 𝐴 𝑉
qv = = 𝜋
(𝐷𝑊 2
𝑉 − 𝑑𝑤 2 )𝑋
4

0,86 (18 𝐴)(1 𝑉)


= 3,14
((6 𝑋 10−3 𝑚)2 –(5 𝑋10−3 𝑚2 ))8,5 𝑋 10−1 𝑚
4

= 0,211 x 107 kkal/jam m3


7. Menghitung Temperatur dinding dalam pipa
𝑞𝑣 𝑥 𝐿2
Twi = Toi − 2𝐾
𝑘𝑘𝑎𝑙
0,211 𝑥 107 ( 5 𝑥 10−4 𝑚)2
𝑗𝑎𝑚 𝑚3
 Tw1 = 33,7 ℃ − 𝑘𝑘𝑎𝑙
2 ( 14 )
𝑗𝑎𝑚 𝑚 ℃

= 33,7℃ − 0,188℃
= 33,68 ℃
𝑞𝑣 𝑥 𝐿2
 Tw2 = To2 − 2𝐾

= 34,4℃ − 0,188℃
= 34,38 ℃
𝑞𝑣 𝑥 𝐿2
 Tw3 = To3 − 2𝐾

= 35℃ − 0,188℃
= 34,98 ℃
𝑞𝑣 𝑥 𝐿2
 Tw4 = To4 − 2𝐾

= 35,1℃ − 0,188℃
= 35,08℃
𝑞𝑣 𝑥 𝐿2
 Tw5 = To5 − 2𝐾

= 35,33℃ −0,188℃
= 35,31 ℃
𝑞𝑣 𝑥 𝐿2
 Tw6 = To6 − 2𝐾

= 36,7 ℃ − 0,188℃
= 36,68 ℃
𝑞𝑣 𝑥 𝐿2
 Tw7 = To7 − 2𝐾

= 38,1℃ − 0,188℃

32 | P a g e
= 38,08℃
𝑞𝑣 𝑥 𝐿2
 Tw8 = To8 − 2𝐾

= 40,5℃ − 0,188℃
= 40,48℃
𝑞𝑣 𝑥 𝐿2
 Tw9 = To9 − 2𝐾

= 42,7℃ − 0,188℃
= 42,68℃
𝑞𝑣 𝑥 𝐿2
 Tw10 = To10 − 2𝐾

= 45,6℃ −0,188℃
= 45,58℃
8. Menghitung Nilai CP (kkal / kg oC)
x−x1 𝑦−𝑦1
=
x2−x 𝑦2−𝑦1

29,3 − 0 𝑦 − 0,241
=
50 − 0 0,243 − 0,241
y = 0,242 kkal /kg oC
9. Menghitung Temperatur dari udara dalam pipa
𝑞𝑤 𝜋 𝑑𝑤
Tbi = Ta + X1
𝑐𝑝 𝐺′
𝑘𝑘𝑎𝑙
0,1159 𝑥 104 (3,14)(5 𝑥 10−3 )𝑚
𝑗𝑎𝑚𝑚2
 Tb1 = 29,3℃ + [ 𝑘𝑘𝑎𝑙 ]5 x 10-3 m
0,242 . 1,143𝑘𝑔/𝑗𝑎𝑚
𝑘𝑔℃

= 29,3℃ + 65,78 . 5 x 10-3


= 29,67℃
 Tb2 = 29,3℃ + 65,78 X2
= 29,2 ℃ + (65,78 ). 15𝑥10−3
= 30,28 ℃
 Tb3 = 29,3 ℃ + (65,78 ) X3
= 29,3 ℃ + (65,78 ). 20𝑥10−3
= 30,61℃
 Tb4 = 29,3 ℃ + (65,78 ) X4

33 | P a g e
= 29,3℃ + (65,78 ). 30𝑥10−3
= 31,27℃
 Tb5 = 29,3℃ + (65,78 ) X5
= 29,3 ℃ + (65,78 ). 50𝑥10−3
= 32,588℃
 Tb6 = 29,3℃ + (65,78 ) X6
= 29,3 ℃ + (65,78 ). 100𝑥10−3
= 35,87℃
 Tb7 = 29,3 ℃ + (65,78 ) X7
= 29,3 ℃ + (65,78 ). 200𝑥10−3
= 42,45 ℃
 Tb8 = 29,3 ℃ + (65,78 ) X8
= 29,3 ℃ + (65,78 ). 400𝑥10−3
= 55,60℃
 Tb9 = 29,3℃ + (65,78 ) X9
= 29,3 ℃ + (65,78 ). 600𝑥10−3
= 159℃
 Tb10 = 29,3 ℃ + (65,78 ) X10
= 29,3 ℃ + (65,78 ). 800𝑥10−3
= 81,91℃
10. Menghitung h(i)
𝑞𝑤
 hi(1) = 𝑇𝑤1 –𝑇𝑏1
𝑘𝑘𝑎𝑙
0,1159 𝑥 104
𝑗𝑎𝑚𝑚3
= 33,68℃ −29,62℃

= 286,25 kkal/jam m2 ℃
𝑘𝑘𝑎𝑙
0,1159 𝑥 104
𝑗𝑎𝑚𝑚3
 hi2 = 34,38℃ −30,28℃

= 283,29 kkal/jam m2 ℃
𝑘𝑘𝑎𝑙
0,1159 𝑥 104
𝑗𝑎𝑚𝑚3
 hi3 = 34,98℃ −30,61℃

= 265,69 kkal/jam m2 ℃

34 | P a g e
𝑘𝑘𝑎𝑙
0,1159 𝑥 104
𝑗𝑎𝑚𝑚3
 hi4 = 35,08℃−31,27℃

= 304,61 kkal/jam. m2 ℃
𝑘𝑘𝑎𝑙
0,1159 𝑥 104
𝑗𝑎𝑚𝑚3
 hi5 = 38,08℃ −32,588℃

= 426,04 kkal/jam m2 ℃
𝑘𝑘𝑎𝑙
0,1159 𝑥 104
𝑗𝑎𝑚𝑚3
 hi6 = 36,68℃ −35,87℃

= 1442,32 kkal/jam m2 ℃
𝑘𝑘𝑎𝑙
0,1159 𝑥 104
𝑗𝑎𝑚𝑚3
 hi7 = 38,08℃ −42,45℃

= -265,28 kkal/jam m2 ℃
𝑘𝑘𝑎𝑙
0,1159 𝑥 104
𝑗𝑎𝑚𝑚3
 hi8 = 40,48℃ −55,60℃

= - 76,68 kkal/jam m2 ℃
𝑘𝑘𝑎𝑙
0,1159 𝑥 104
𝑗𝑎𝑚𝑚3
 hi9 = 42,68℃ −68,76℃

= -44,47 kkal/jam m2 ℃
𝑘𝑘𝑎𝑙
0,1159 𝑥 104
𝑗𝑎𝑚𝑚3
 hi10 = 45,58℃ −81,91℃

= -31,92 kkal/jam m2 ℃
11. Menghitung koefisien transfer panas lokal
(𝒊) hi(4) + hi(5) +hi(1) hi(7)
ho = ∑𝟕𝒊=𝟒 𝒉𝒊 =
𝟒 4
(304,61+426,04 +1442,32 +(−265,28 ))kkal/jam m2 0 c
= 4
2
= 476,92 kkal/jam m ℃
12. Menghitung temperature udara dari koefisien transfer panas
𝑻𝒃𝟒 + 𝑻𝒃𝟕
Tbo = 𝟐
(31,73+ 42,45)
= ℃
2

= 36,86 ℃

35 | P a g e
13. Menghitung kekentalan kinematik dari udara pada Tbo
𝑿 – 𝑿𝟏 𝒀 − 𝒀𝟏
=
𝑿𝟐 −𝑿𝟏 𝒀𝟐 − 𝒀𝟏
36,86 −20 𝑌−0,00562
=
40−20 0,00630 − 0,00562

y = 0,00619 m3/jam
14. Menghitung konduktifitas panas dari udara pada Tbo
𝑿 – 𝑿𝟏 𝒀 – 𝒀𝟏
=
𝑿𝟐 −𝑿𝟏 𝒀𝟐 – 𝒀𝟏
36,86 −20 𝑌−0,0221
=
40−20 0,0234 − 0,0221

y = k = 0,0231 kkal /jam m2 ℃


15. Menghitung bilangan reynold
𝟒 𝑮′
Re = 𝝅 𝝏 𝑽 𝒅𝒘
4 𝑥 1,143
= 𝑘𝑔 𝑚3
(3,14)1,131 3 𝑥 0,00619 𝑥 5 𝑥 10−3 𝑚
𝑚 𝑗𝑎𝑚

= 41584,3
16. Menghitung bilangan plandth
𝑿 – 𝑿𝟏 𝒀 − 𝒀𝟏
=
𝑿𝟐 −𝑿𝟏 𝒀𝟐 − 𝒀𝟏
36,86 −20 𝑌−0,71
=
40−20 0,71 − 0,71

y = Pr = 0,71

17. Menghitung bilangan Nusselt


𝒉𝒐 . 𝒅𝒘
NuO = 𝑲
𝒌𝒌𝒂𝒍
𝟒𝟕𝟔,𝟗𝟐 . 𝟎,𝟎𝟎𝟓 𝒎
𝒋𝒂𝒎.𝒎𝟐 ℃
= 𝒌𝒌𝒂𝒍
𝟎,𝟎𝟐𝟑𝟏
𝒋𝒂𝒎.𝒎℃

= 102,802

36 | P a g e
D. Tabulasi Data
MEASUREMENTS CALCULATION
Am
FlowRate Temp Press Volt OUTSIDE SURFACE WALL TEMP OR TUBE
p
SYM V Ta ∆𝑷 A V To (i) Pa Ta Y
UNIT L/menit ℃ mmHg A V ℃ Kg/m2 K Kg/m3
INST DIGITAL THERMOMETER
t11 t1 t2 t3 t4 t5 t6 t7 t8 t9 t10 x 104
1 15 29.6 0.14 18 1 34.2 35 35.5 35.7 35.8 37.8 39.2 41.5 43.6 46.9 1.173 302.6 1.13
2 17 29.4 0.14 18 1 33.8 34.6 35.2 35.3 35.4 36.7 38.3 41 43.4 46.6 1.213 302.4 1.130
3 19 29.3 0.14 18 1 33.7 34.4 35 35.1 35.3 36.7 38.1 40.5 42.7 45.6 1.383 302.3 1.131
4 21 28.9 0.14 18 1 33.5 34.3 35.2 35.1 35.8 36.7 37.7 39.2 40.6 43.2 1.273 301.9 1.132

37 | P a g e
CALCULATION
1 2 3 INSIDE SURRACE WALL TEMP OR TUBE BULK TEMP OF AIR IN TUBE
G’ qw qv Tw ( L ) Tb (i)
kkal Kkal/ja
Kg/ja
/jam m ℃ ℃
m
m2 m3
𝒒𝒗 𝒙 𝑳𝟐 𝒒𝒘 𝝅 𝒅𝒘
17 16 15 Twi = Toi − Tbi = Ta + Xi
𝟐𝑲 𝒄𝒑 𝑮′

Tw1
( x 107 ) Tw1 Tw2 Tw3 Tw4 Tw5 Tw6 Tw7 Tw8 Tw9 Tb1 Tb2 Tb3 Tb4 Tb5 Tb6
0

34.1 34.9 35.4 35.6 35.7 37.7 39.1 41.4 43.5 46.8
0.83 1159 0.211 30.05 30.95 31.41 32.31 34.12 38.65
8 8 8 8 8 8 8 8 8 8
33.7 34.5 35.1 35.2 35.3 36.6 38.2 40.9 43.3 46.5
0.95 1159 0.211 30.57 30.57 30.97 31.75 33.32 37.25
8 8 8 8 8 8 8 8 8 8
33.6 34.3 34.9 35.0 35.3 36.6 36.6 40.4 42.6 45.5
1.143 1159 0.211 30.28 30.28 30.61 31.27 32.588 35.87
8 8 8 8 1 8 8 8 8 8
33.4 34.2 34.7 35.0 35.7 36.6 36.6 39.1 40.5 43.1
1.213 1159 0.211 29.83 29.83 30.14 30.76 32 35.1
8 8 8 8 8 8 8 8 8 8

38 | P a g e
CALCULATION
BULK TEMP OF AIR IN
LOCAL HEAT TRANSFER COEFICIENT ( x 104 )
TUBE
Tb (i) hi ( i )
℃ kkal/jam m2 ℃
𝒒𝒘 𝝅 𝒅𝒘 𝒒𝒘
Tbi = Ta + Xi hi(i) =
𝒄𝒑 𝑮′ 𝑻𝒘𝒊 −𝑻𝒃𝒊

Tb7 Tb8 Tb9 Tb10 hi (1) hi (2) hi (3) hi (4) hi (5) hi (6) hi (7) hi (8) hi (9) hi (10)
47.70 65.80 83.90 102.01 280.96 288.30 284.94 344.64 700.69 -1333 -136.12 -47.68 -28.76 -21.04
45.1 60.80 76.51 92.21 290.82 289.74 275.47 329.01 564.38 -2033.1 -170.03 -58.50 -35.01 -25.42
42.45 55.60 68.76 81.91 286.25 283.29 265.69 304.61 426.09 1442.32 -265.28 -76.68 -44.47 -31.92
43.30 53.70 66.10 78.50 271.58 260.60 249.93 249.93 306.78 733.65 -320.53 -79.89 -45.45 -32.84

39 | P a g e
CALCULATION
ho Tbo V K Re Pr NuO
kkal/jam m2 ℃ ℃ m3/jam Kkal/jam.m0C -

𝟒 𝑮′
NuO =
(𝒊) 𝑻𝒃𝟒 + 𝑻𝒃𝟕 Re = 𝝅 𝝏 𝜸 𝒅𝒘 𝒉𝒐 − 𝒅𝒘
ho = ∑𝟕𝒊=𝟒 𝒉𝒊 Tbo = -
𝟒 𝟐 𝑲

Ho Tbo Re Pr NuO
-105.94 40.0 0.0063 0.02340 29729.3 0.709 -22.63
-327.44 38.42 0.0062 0.02329 34546.7 0.71 -70.27
476.92 36.86 0.00619 0.02319 41584.3 0.71 102.80
247.08 36.03 0.00616 0.02314 44258.9 0.71 53.38

40 | P a g e
BAB V
KESIMPULAN

A. KESIMPULAN
1. Semakin tinggi flow rate udara maka semakin tinggi pula ∆𝑝 dan
perubahan t11 hingga t10.
2. Semakin tinggi temperature t1 hingga t10 maka semakin tinggi pula Tw (1-

10), Tb(1-10) dan hi(1-10).


3. Semakin tinggi flow rate maka semakin tinggi ∆𝑝 , G’ , Tw , Tb, dan ho
dan semakin kecil pula Tbo, kekentalan kinematik, dan konduktivitas
panas.

41 | P a g e
BAB VI
DAFTAR PUSTAKA

Crristie, J. Geankoplis.(1997).“Transport Process and Unit Operation”.3rd Ed.,


Prentice-Hall Of India.

Luhulima Richard dan Nicolas Titahelu. 2013. Studi Eksperimen Pengaruh


Panjang Karakteristik (Le) Terhadap Karakteristik Perpindahan Panas
Konveksi Natural Pada Pelat Datar. Ambon

Paranita, Darni.2013.”Penuntun Praktikum Operasi Teknik Kimia 1.Medan:PTKI

Medan.

Warren, L, Mc Cabe, Julian C. Smith, dan Peter harriot.(1999). ”Operasi Teknik


Kimia”.Jilid 1, Cetakan ke-4.Jakarta:PT. Erlangga.

Lestari Yeni. 2013. Perpindahan Panas Konveksi. Oku Timur : Sekolah Tinggi
Ilmu Keguruan dan Ilmu Pendidikan.

42 | P a g e