Anda di halaman 1dari 14

PRAKTIKUM KIMIA ANALITIK III

KROMATOGRAFI KERTAS

I. JUDUL PERCOBAAN : Kromatografi Kertas


II. TANGGAL PERCOBAAN : Sabtu, 10 Maret 2018
III. TUJUAN PERCOBAAN :
1. Untuk mengetahui cara pemisahan pigmen warna dari tinta dengan
menggunakan metode kromatografi kertas.
2. Untuk mengetahui pengaruh jenis tinta terhadap perubahan hasil
percobaan kromatografi kertas.
3. Menentukan Rf suatu senyawa.
IV. TINJAUAN PUSTAKA
Metode pemisahan merupakan aspek penting dalam bidang kimia
karena kebanyakan materi yang terdapat di alam berupa campuran untuk
memperoleh materi murni dari suatu campuran, kita harus melakukan
pemisahan. Berbagai teknik pemisahan dapat diterapkan untuk memisahkan
campuran. Kromatografi konvensional fasa geraknya berwujud cair dan fasa
diam berwujud padat atau cair. Dengan kemajuan teknologi, fasa gerak tidak
selalu cair. Fasa gerak untuk kromatografi modern lebih bervariasi, bisa
berwujud gas, cair atau fluida (Hendayana, 2006).
Kromatografi pertama kali diperkenalkan oleh Michael Twest
(1906) seorang ahli botani dari Rusia. Pengertian kromatografi menyangkut
metode pemisahan yang didasarkan atas distribusi differensial komponen
sampel diantara dua fase. Menurut pengertian ini kromatografi selalu
melibatkan dua fase, yaitu fase diam (stationary phase) dan fase gerak (gerak
phase). Fase diam dapat berupa padatan atau cairan yang terikat pada
permukaan padatan (kertas atau suatu adsorben), sedangkan fase gerak dapat
berupa cairan disebut eluen atau pelarut, atau gas pembawa yang inert.
Gerakan fase gerak ini mengakibatkan terjadinya migrasi differensial
komponen dalam sampel (Soebagio, dkk., 2004).
Kromatografi kertas adalah metode pemisahan dengan kerja dua
fase yaitu fase diam dan fase gerak yang hasil kerja kedua fase ini berupa
rambatan warna yang dapat terlihat pada kertas kromatografi dan bercak yang
ada untuk membandingkan antar totolan dari sampel dan totolan dari baku
(Triwahyuni dan Susilawati, 2003).

1
PRAKTIKUM KIMIA ANALITIK III
KROMATOGRAFI KERTAS

Kromatografi adalah metode fisika untuk pemisahan dalam


komponen-komponen yang akan diditribusikan antara dua fase, salah satunya
merupakan lapisan stasioner dengan permukaan yang luas dengan fase yang
lain berupa zat alir (fluida) yang mengalir lambat (perkolasi) menembus atau
sepanjang lapisan stasioner. Dalam semua teknik kromatografi, zat terlarut
yang dipisahkan beremigrasi sepanjang satu kolom dan tentu saja dasar
pemisahan terletak berbeda-beda laju migrasi untuk zat terlarut yang
berlainan (Underwood, 1994).
Kromatografi kertas merupakan bentuk kromatografi yang paling
sederhana, mudah dan murah. Jenis kromatografi ini terutama banyak
digunakan untuk identifikasi kualitatif walaupun untuk analisis kuantitatif
juga dapat dilakukan. Fasa diam dalam kromatografi berupa air yang terikat
pada selulosa kertas sedangkan fasa geraknya berupa pelarut organik
nonpolar. Berdasarkan kedua hal itu kromatografi kertas dapat digolongkan
kedalam kromatografi partisi. Dalam kromatografi kertas fasa gerak
merembes kedalam kertas karena efek kapiler. Rembesan fasa gerak pada
kertas karena dapat dilakukan dengan teknik menaik (ascending) atau dengan
teknik menurun (descending). Pelaksanaan pemisahan dengan metode
kromatografi kertas terbagi dalam tiga tahap yaitu tahap penotolan cuplikan,
tahap pengembangan dan tahap identifikasi atau penampakan noda.
Kromatografi kertas sangat berguna untuk pemisahan zat anorganik, organik
dan biokimia dalam jumlah yang sedikit. Kromatografi kertas terbukti sangat
berharga dalam biokimia dimana seringkali dijumpai sampel kecil dan
kompleks. Pada tahap penampakan noda atau identifikasi. Jika noda sudah
berwarna dapat langsung diperiksa dan ditentukan harga Rfnya. Harga Rf
dihitung sebagai jarak yang ditempuh oleh komponen dibagi dengan jarak
yang ditempuh oleh eluen (fasa gerak)
Beberapa sifat fisika umum dari molekul yang dipakai sebagai
sampel teknik pemisahan kromatografi adalah:
1. Kecenderungan molekul untuk teradsorpsi oleh partikel-partikel padatan
yang halus.
2. Kecenderungan molekul untuk melarut pada fase cair.

2
PRAKTIKUM KIMIA ANALITIK III
KROMATOGRAFI KERTAS

3. Kecenderungan molekul untuk teratsir.


Kromatografi merupakan suatu teknik pemisahan dengan proses
berlipat ganda, artinya selama proses berlangsung terjadi berulang kali kontak
adsorbsi; atau partisi dari komponen-komponen yang dipisahkan (Mulja,
1994).
Secara fisik kromatografi kertas memiliki teknik – teknik yang sama
dengan kromatografi lapisan tipis, tetapi sebenarnya merupakan tipe khusus
kromatografi cair-cair yang fase diamnya hanya berupa air yang
diadsorpsikan pada kertas. Teknik sangat sederhana dengan menggunakan
lembaran selulosa yang mengandung kelembaban tertentu. Totolan kecil
cuplikan pada sekitar 3 cm dari satu pinggiran kertas. Lembaran yang telah
diberi totolan dimaukan kedalam bejana pengembang. Pada kromatografi
kertas ini harus dicegah hilangnya kelembaban air dan dijaga agar atmosfer
dalam bejana selalu jenuh dengan fasa gerak.
Kromatografi adalah cara pemisahan campuran zat-zat yang
komponen-komponen yang akan dipisahkan, didistribusikan antara dua fase
yaitu fase stasioner (fase diam) dan fase mobil (fase bergerak). Fase stasioner
cenderung menahan komponen dalam campuran sedangkan fase bergerak
cenderung menghanyutkannya. Pada kromatografi kertas, kertas saring
berperan sebagai fase stasioner sedangkan pelarut berperan sebagai fase
bergerak.
Jika noda sudah berwarna dapat langsung diperiksa dan ditentukan
harga Rfnya. Harga Rf dihitung sebagai jarak yang ditempuh oleh komponen
dibagi dengan jarak yang ditempuh oleh eluen (fasa gerak) (Soebagio, dkk.,
2004).
Faktor retensi (Rƒ) didefinisikan sebagai perbandingan jarak tempuh
zat terhadap jarak tempuh pelarut. Nilai Rƒ biasanya dinyatakan dalam
desimal, dengan dua angka di belakang koma. Jika nilai Rƒ suatu larutan
adalah nol, solut tetap berada pada fasa diam dan oleh karenanya tidak
bergerak. Jika nilai Rƒ = 1 artinya solut tidak mempunyai afinitas terhadap
fasa diam dan bergerak sesuai dengan gerakan pelarut hingga garis depan.
Untuk menghitung nilai Rƒ, ukur jarak tempuh zat dibagi dengan jarak tempuh

3
PRAKTIKUM KIMIA ANALITIK III
KROMATOGRAFI KERTAS

pelarut (seperti telah disebutkan sebelumnya). Sebagai contoh, jika zat


bergerak sejauh 9,9 cm dan garis depan pelarut bergerak sejauh 12,7 cm,
maka nilai faktor retensinya adalah 9,9/12,7 = 0,779 atau 0,78.
Nilai Rƒ bergantung pada temperatur dan pelarut yang digunakan dalam
percobaan, oleh karena itu, beberapa pelarut menghasilkan beberapa nilai
Rƒ untuk campuran senyawa yang sama (Wikipedia).
V. VARIABEL PERCOBAAN :
A. Variabel Kontrol : Jenis kertas, volume air, ukuran kertas, jenis
eluen (air garam), volume eluen.
B. Variabel Manipulasi : Jenis tinta
C. Variabel Respon : Noda warna yang akan terbentuk.
VI. ALAT DAN BAHAN
A. Alat:
1. Gelas
2. Lidi
3. Gunting
B. Bahan:
1. Tinta spidol
2. Tinta bolpoin
3. Tinta Henna
4. Tinta stabilo
5. Kertas saring
6. Air
7. Garam

4
PRAKTIKUM KIMIA ANALITIK III
KROMATOGRAFI KERTAS

VII. ALUR PERCOBAAN

Air Garam Kertas saring


- dimasukkan ke dalam gelas. - diukur dengan menggunakan penggaris
(p = 14 cm dan l = 4 cm)
- diberikan tanda batas bawah = 1,5 cm dari bawah
dan batas atas = 9 cm dari bawah.
- pada garis batas bawah diberi titik noda dari sampel.

- dipasang dengan ujung yang ada tanda berada di air tetapi


jangan sampai tanda tersebut tercelup air.
- diamati perubahan pada tanda tinta hingga air garam naik tepat
pada tanda batas atas.
- diulangi percobaan dengan jenis tinta yang berbeda.

Noda warna

5
PRAKTIKUM KIMIA ANALITIK III
KROMATOGRAFI KERTAS
VIII. HASIL PENGAMATAN

No. Hasil Pengamatan


Prosedur Percobaan Dugaan/Reaksi Kesimpulan
Perc Sebelum Sesudah
1. Tinta Spidol  Air tidak  Tanda pada kertas Warna akan memisah Komponen dalam
berwarna. saring berubah menjadi beberapa tinta spidol dapat
Air Garam Kertas saring
 Garam menjadi ungu, warna. terurai menjadi
- dimasukkan ke - diukur dengan menggunakan
berbentuk kuning, orange, warna ungu, kuning,
penggaris (p = 14 cm dan l = 4 cm)
dalam gelas. orange, merah, dan
- diberikan tanda batas bawah = serbuk kristal merah, dan biru.
1,5 cm dari bawah dan batas berwarna  Tanda memanjang biru dengan panjang
atas = 9 cm dari bawah.
putih. sejauh 7,5 cm pada 7,5 cm pada kertas
- pada garis batas bawah diberi
titik noda dari tinta spidol  Kertas saring kertas saring. saring.
berwarna  Rf =
- dipasang dengan ujung yang ada tanda berada
putih.
di air tetapi jangan sampai tanda tersebut
tercelup air.
- diamati perubahan pada tanda tinta hingga air
garam naik tepat pada tanda batas atas.

Noda warna

6
PRAKTIKUM KIMIA ANALITIK III
KROMATOGRAFI KERTAS
2. Tinta Bolpoin  Air tidak  Tanda pada kertas Warna akan memisah Komponen dalam
berwarna. saring berubah menjadi beberapa tinta bolpoin dapat
Air Garam Kertas saring
 Garam menjadi hitam dan warna. terurai menjadi
- dimasukkan ke - diukur dengan menggunakan
berbentuk ujungnya kebiruan. warna hitam dan
penggaris (p = 14 cm dan l = 4 cm)
dalam gelas.
- diberikan tanda batas bawah = serbuk kristal  Tanda memanjang ujungnya kebiruan.
1,5 cm dari bawah dan batas dengan panjang 0,3
berwarna sejauh 0,3 cm pada
atas = 9 cm dari bawah.
- pada garis batas bawah diberi putih. kertas saring. cm pada kertas
titik noda dari tinta bolpoin.  Kertas saring saring.
berwarna
- dipasang dengan ujung yang ada tanda berada
di air tetapi jangan sampai tanda tersebut
putih.
tercelup air.
- diamati perubahan pada tanda tinta hingga air
garam naik tepat pada tanda batas atas.

Noda warna

7
PRAKTIKUM KIMIA ANALITIK III
KROMATOGRAFI KERTAS
3. Tinta Henna  Air tidak  Tanda pada kertas Warna akan memisah Komponen dalam

Air Garam Kertas saring berwarna. saring berubah menjadi beberapa tinta henna dapat
 Garam menjadi orange, warna. terurai menjadi
- dimasukkan ke - diukur dengan menggunakan
penggaris (p = 14 cm dan l = 4 cm) berbentuk kuning dan hijau. warna orange,
dalam gelas.
- diberikan tanda batas bawah = serbuk kristal  Tanda memanjang kuning dan hijau .
1,5 cm dari bawah dan batas
berwarna sejauh 3,2 cm pada dengan panjang 3,2
atas = 9 cm dari bawah.
- pada garis batas bawah diberi putih. kertas saring. cm pada kertas
titik noda dari tinta henna.  Kertas saring saring.
berwarna
- dipasang dengan ujung yang ada tanda berada
di air tetapi jangan sampai tanda tersebut putih.
tercelup air.
- diamati perubahan pada tanda tinta hingga air
garam naik tepat pada tanda batas atas.

Noda warna

8
PRAKTIKUM KIMIA ANALITIK III
KROMATOGRAFI KERTAS

IX. ANALISIS DAN PEMBAHASAN


Percobaan yang telah kami lakukan adalah kromatografi kertas
dengan variabel sebagai berikut:
1. Variabel Kontrol : Jenis kertas, volume air, ukuran kertas, jenis
eluen (air garam), volume eluen.
2. Variabel Manipulasi : Jenis tinta
3. Variabel Respon : Noda warna yang akan terbentuk.
Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengetahui bagaimana
proses pemisahan warna penyusun suatu bahan pewarna (tinta) dengan
menggunakan metode kromatografi kertas serta mengetahui pengaruh jenis
tinta yang digunakan terhadap hasil pengamatan, maka dari itu digunakan
tiga tinta berbeda pada percobaan ini yaitu tinta spidol, tinta bolpoin, dan
tinta henna.
Prinsip dari kromatografi kertas adalah adsorbsi dan kepolaran,
dimana adsorbs didasarkan pada panjang komponen dalam campuran yang
diadsorbsi pada permukaan fasa diam dan kepolaran komponen
berpengaruh kerena komponen akan larut dan terbawa oleh pelarut jika
memiliki keplaran yang sama serta kecepatan migrasi pada fase diam dan
fase gerak. Untuk prinsip kerja kromatografi kertas adalah pelarut bergerak
lambat pada kertas, komponen-komponen bergerak pada laju yang berbeda
dan campuran dipisahkan berdasarkan pada perbedaan bercak warna.
Langkah pertama pada percobaan ini yaitu meyiapkan alat dan bahan
dengan benar. Selanjutnya adalah pembuatan eluen dengan cara melarutkan
garam dalam air dan terbentuk larutan air garam yang merupakan senyawa
polar. Kemudian kertas saring yang telah dipotong dengan ukuran yang
sama, diberi noda sampel (tinta spidol, tinta bolpoin, dan tinta henna).
Percobaan pertama dilakukan dengan kertas saring yang berukuran
14 cm x 4 cm. Pertama, merangkai alat percobaan dengan rangkaian gelas
kaca yang telah diisi air garam, kemudian pasang kertas saring pada lidi
yang di letakkan melintang diatas gelas seperti gambar dibawah:

9
PRAKTIKUM KIMIA ANALITIK III
KROMATOGRAFI KERTAS

Langkah selanjutnya yaitu beri tanda menggunakan tinta spidol


hitam pada kertas saring pada batas bawah dengan jarak 1.5 cm dari ujung.
Kemudian masukkan kertas dengan batang kayu yang telah diberi tanda
dengan tinta spidol kedalam gelas dengan bagian yang terdapat tanda
dengan tinta berada di bagian bawah. Tanda yang telah dibuat dengan tinta
pada kertas tidak boleh terkena air garam, jadi hanya sebagian dari bagian
bawah kertas yang menyentuh air. Setelah kertas dimasukkan, ditunggu dan
diamati hingga air garam merambat sampai tanda batas atas untuk
memperoleh hasil akhir berupa komponen-komponen warna penyusun
substansi yaitu bahan pewarna berupa tinta hitam. Dari hasil pengamatan
didapatkan hasil berupa komponen warna penyusun tinta hitam dari paling
bawah adalah ungu, kuning, orange, merah, dan biru. Tanda memanjang
sejauh 7,5 cm pada kertas saring. Maka Rf dapat dihitung dengan:
𝑝𝑎𝑛𝑗𝑎𝑛𝑔 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙
Rf = 𝑝𝑎𝑛𝑗𝑎𝑛𝑔 𝑒𝑙𝑢𝑒𝑛 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑚𝑒𝑚𝑏𝑎𝑠𝑎ℎ𝑖 𝑘𝑒𝑟𝑡𝑎𝑠
7,5 𝑐𝑚
= 7,5 𝑐𝑚

=1
Jika nilai Rƒ = 1 artinya solut tidak mempunyai afinitas terhadap
fasa diam dan bergerak sesuai dengan gerakan pelarut hingga garis depan.
Percobaan kedua dilakukan dengan kertas saring yang berukuran 14
cm x 4 cm. Pertama, merangkai alat percobaan dengan rangkaian gelas kaca
yang telah diisi air garam, kemudian pasang kertas saring pada lidi yang di
letakkan melintang diatas gelas. Langkah selanjutnya yaitu beri tanda

10
PRAKTIKUM KIMIA ANALITIK III
KROMATOGRAFI KERTAS

menggunakan tinta bolpoin hitam pada kertas saring pada batas bawah
dengan jarak 1.5 cm dari ujung. Kemudian masukkan kertas dengan batang
kayu yang telah diberi tanda dengan tinta spidol kedalam gelas dengan
bagian yang terdapat tanda dengan tinta berada di bagian bawah. Tanda
yang telah dibuat dengan tinta pada kertas tidak boleh terkena air garam,
jadi hanya sebagian dari bagian bawah kertas yang menyentuh air. Setelah
kertas dimasukkan, ditunggu dan diamati hingga air garam merambat
sampai tanda batas atas untuk memperoleh hasil akhir berupa komponen-
komponen warna penyusun substansinya. Dari hasil pengamatan didapatkan
hasil berupa komponen warna penyusun tinta hitam dari paling bawah
adalah hitam dan biru. Tanda memanjang sejauh 0,3 cm pada kertas saring.
Maka Rf dapat dihitung dengan:
𝑝𝑎𝑛𝑗𝑎𝑛𝑔 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙
Rf = 𝑝𝑎𝑛𝑗𝑎𝑛𝑔 𝑒𝑙𝑢𝑒𝑛 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑚𝑒𝑚𝑏𝑎𝑠𝑎ℎ𝑖 𝑘𝑒𝑟𝑡𝑎𝑠
0,3 𝑐𝑚
= 7,5 𝑐𝑚

= 0,04
Percobaan ketiga dilakukan dengan kertas saring yang berukuran 14
cm x 4 cm. Pertama, merangkai alat percobaan dengan rangkaian gelas kaca
yang telah diisi air garam, kemudian pasang kertas saring pada lidi yang di
letakkan melintang diatas gelas. Langkah selanjutnya yaitu beri tanda
menggunakan tinta henna pada kertas saring pada batas bawah dengan jarak
1.5 cm dari ujung. Kemudian masukkan kertas dengan batang kayu yang
telah diberi tanda dengan tinta henna kedalam gelas dengan bagian yang
terdapat tanda dengan tinta berada di bagian bawah. Tanda yang telah dibuat
dengan tinta pada kertas tidak boleh terkena air garam, jadi hanya sebagian
dari bagian bawah kertas yang menyentuh air. Setelah kertas dimasukkan,
ditunggu dan diamati hingga air garam merambat sampai tanda batas atas
untuk memperoleh hasil akhir berupa komponen-komponen warna
penyusun substansinya. Dari hasil pengamatan didapatkan hasil berupa
komponen warna penyusun tinta hitam dari paling bawah adalah orange,
kuning, dan hijau. Tanda memanjang sejauh 3,2 cm pada kertas saring.
Maka Rf dapat dihitung dengan:

11
PRAKTIKUM KIMIA ANALITIK III
KROMATOGRAFI KERTAS

𝑝𝑎𝑛𝑗𝑎𝑛𝑔 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙
Rf = 𝑝𝑎𝑛𝑗𝑎𝑛𝑔 𝑒𝑙𝑢𝑒𝑛 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑚𝑒𝑚𝑏𝑎𝑠𝑎ℎ𝑖 𝑘𝑒𝑟𝑡𝑎𝑠
3,2 𝑐𝑚
= 7,5 𝑐𝑚

= 0,43
Dari percobaan yang telah dilakukan dengan menggunakan tiga
jenis tinta didapat kan hasil yakni tinta spidol terdiri dari komponen warna
penyusun yang lebih banyak daripada tinta bolpoin dan henna. Dalam hal
ini fase diam adalah air garam yang terikat pada selulosa kertas saring
sedangkan fase geraknya adalah tinta yang dipisahkan komponen warnanya.
Air garam merupakan senyawa polar yangmana akan mudah menarik
senyawa polar pula. Berdasarkan hasil pengamatan tinta spidol lebih mudah
terurai komponen warnanya. Hal ini membuktikan bahwa senyawa dalam
tinta spidol lebih polar daripada tinta henna dan tinta bolpoin. Dengan
tingkatan: tinta spidol > tinta henna > tinta bolpoin.

X. KESIMPULAN
Berdasarkan percobaan yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa:
1. Komponen dalam tinta spidol dapat terurai menjadi warna ungu,
kuning, orange, merah, dan biru dengan panjang 7,5 cm pada kertas
saring dengan Rf = 1.
2. Komponen dalam tinta bolpoin dapat terurai menjadi warna hitam dan
ujungnya kebiruan. dengan panjang 0,3 cm pada kertas saring dengan
Rf = 0,04.
3. Komponen dalam tinta henna dapat terurai menjadi warna orange,
kuning dan hijau dengan panjang 3,2 cm pada kertas saring dengan Rf =
0,43.
4. Pada kromatografi kertas jenis tinta dapat mempengaruhi hasil
percobaan dengan adanya perbedaan noda warna yang terbentuk dan
panjang substansi yang diuji dengan akhir dari noda warna yang
terbentuk.

12
PRAKTIKUM KIMIA ANALITIK III
KROMATOGRAFI KERTAS

XI. DAFTAR PUSTAKA


Hendayana, Sumar. 2006. Pemisahan kimia . Bandung: PT SKM.
Soebagio, dkk. 2003. Kimia Analitik II. Malang: JICA.
Triwahyuni, Endang dan Erna Susilawati. 2003. Identifikasi Zat Warna
Sintetis pada Agar- agar Tidak Bernerk yang dijual di Pasar Doro
Pekalongan dengan Metode Kromatografi Kertas. Jurnal Litbang.
Vol. II, NO. 1. Semarang.
Wikipedia. Tanpa tahun. Kromatografi Kertas.
https://id.wikipedia.org/wiki/Kromatografi_kertas, diakses pada
tanggal 10 Maret 2018.

XII. LAMPIRAN FOTO

13
PRAKTIKUM KIMIA ANALITIK III
KROMATOGRAFI KERTAS

14