Anda di halaman 1dari 18

CLINICAL SCIENCE SESSION(CSS)

PERAN ANTIBIOTIK TERHADAP RHINOSINUSITIS


KRONIK PADA ANAK

Oleh :
Arvin Aditya Prakoso, S.Ked
G1A216105

Pembimbing:
dr. Lusiana Herawati Yammin, Sp.THT-KL

PROGRAM STUDI PROFESI DOKTER


BAGIAN THT-KL RSUD RADEN MATTAHER JAMBI
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS JAMBI
2018
LEMBAR PENGESAHAN

Peran Antibiotik Terhadap Rhinosinusitis Kronik Pada Anak

Oleh :
Arvin Aditya Prakoso, S.Ked
G1A216105

PROGRAM STUDI PROFESI DOKTER


BAGIAN THT-KL RSUD RADEN MATTAHER JAMBI
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS JAMBI
2018

Jambi, Februari 2018


Pembimbing:

dr. Lusiana Herawati Yammin, Sp.THT-KL


KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena dengan rahmat-Nya
penulis dapat menyelesaikan tugas pada Kepaniteraan Klinik Senior Bagian Ilmu
Penyakit THT yang berjudul “Peran Antibiotik Terhadap Rhinosinusitis Kronik Pada
Anak”.

Tugas ini bertujuan agar penulis dapat memahami lebih dalam teori-teori yang
diberikan selama menjalani Kepaniteraan Klinik Senior Bagian Ilmu Penyakit THT,
dan melihat penerapannya secara langsung di lapangan. Pada kesempatan ini penulis
mengucapkan banyak terima kasih kepada dr.Lusiana Herawati Yammin, Sp.THT
sebagai pembimbing yang telah meluangkan waktunya untuk membimbing penulis.
Penulis menyadari bahwa penulisan tugas ini masih banyak kekurangan, oleh
karena itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun
dari semua pihak yang membacanya. Semoga tugas ini dapat memberikan manfaat
bagi semua pihak yang membutuhkan.

Jambi, Februari 2018

Penulis
Laryngoscope Investigative Otolaryngology
VC 2017 The Authors Laryngoscope Investigative Otolaryngology
published by Wiley Periodicals, Inc. on behalf of The Triological Society

Peran Antibiotik Terhadap Rhinosinusitis Kronik Pada


Anak

Itzhak Brook, MD, MSc

Tujuan : Menyajikan peran antibiotik terhadap rinosinusitis kronis pada anak


berdasarkan patofisiologi dan mikrobiologi.

Sumber data : Telaah literatur yang mencari PubMed untuk mikrobiologi dan
pengobatan rininosinusitis kronik pada anak.

Hasil : Rinosinusitis kronis (RSK) adalah kondisi inflamasi sinus paranasal


yang berlangsung selama 12 minggu atau lebih, meskipun telah dilakukan tatalaksana
medis. Mikrobiologi rinosinusitis berkembang melalui beberapa tahap. Fase awal
(akut) umumnya disebabkan oleh virus yang bisa diikuti oleh infeksi bakteri aerobik
pada 2% sampai 10% pasien. Aerob (Staphylococcus aureus) dan anaerob (Prevotella
dan Fusobacteria) merupakan anggota flora oral yang paling mendominasi pada
rongga sinus. Antimikroba adalah salah satu komponen tatalaksana medis dan bedah
komprehensif pada kelainan ini. Karena sebagian besar infeksi ini bersifat
polimikroba dan banyak mengandung beta-laktamase yang memproduksi organisme
aerob dan anaerob, amoxicillin-clavulanate adalah regimen lini pertama untuk
kebanyakan pasien. Clindamycin baik digunakan untuk anak-anak dengan alergi
penisilin dan umumnya sesuai untuk pengobatan Staphylococcus aureus yang resisten
methicillin, diberikan paling sedikit tiga minggu dan dapat diperpanjang hingga 10
minggu pada kasus yang sulit diatasi. Kultur yang bisa didapatkan dari rongga sinus
harus diperoleh dari individu yang belum menunjukkan perbaikan atau memburuk
meskipun sudah mendapatkan terapi.
Kesimpulan : Terapi antimikroba rinosinusitis kronik pada anak harus memadai
dalam melawan patogen aerobik dan anaerob potensial.

PENDAHULUAN

Rinosinusitis kronis (RSK) didefinisikan sebagai kondisi peradangan yang


kompleks dari sinus paranasal dan lapisan nasal yang berlangsung selama 12 minggu
atau lebih, meskipun telah dilakukan tatalaksana medis. Diperkirakan bahwa 5%
sampai 13% infeksi saluran pernapasan atas pada anak-anak dapat berlanjut menjadi
rinosinusitis akut, dan hal ini berlanjut menjadi RSK pada anak (RSKA). RSKA juga
dapat terjadi dan / atau diperburuk oleh rhinitis alergi dan penyakit adenoid.

Faktor-faktor yang dapat meningkatkan perburukan RSK termasuk


penyumbatan dari susunan anatomis, paparan alergen dan iritasi, kecacatan pada
fungsi mukosiliar, imunodefisiensi, dan infeksi bakteri, virus, dan jamur. Hasil akhir
yang sering terjadi adalah peradangan lokal dan pembengkakan mukosa sinonasal
yang menyebabkan kerusakan drainase sinus normal dan infeksi bakteri sekunder.
Namun, dari data yang sudah ada tidak selalu dapat memberikan keyakinnan pada
pasien yang ada dalam kasus ini.

RSK menggambarkan proses peradangan multifaktorial, lebih daripada infeksi


bakteri yang persisten. Manajemen medis RSK saat ini berfokus pada pengendalian
peradangan yang menyebabkan anak-anak mengalami penyumbatan, sehingga
mengurangi timbulnya infeksi. Sebagian besar anak memerlukan antibiotik awal
untuk membersihkan infeksi sinus bakteri akut dan setelah itu untuk mengobati
eksaserbasi akut RSK. Kajian ini menggambarkan peran antibiotik dalam pengelolaan
RSKA.

MIKROBIOLOGI

Etiologi proses peradangan yang tepat terkait dengan RSK masih belum jelas.
Namun, keberadaan bakteri pada rongga sinus sudah tidak dapat dipungkiri. Masuk
akal bahwa pada RSK, pembersihan mukosiliar dan pertahanan tubuh terganggu
dikarenakan rongga sinus menjadi terkolonisasi dengan jumlah flora bakteri hidung
yang banyak. Kebanyakan klinisi percaya bahwa mikroorganisme memainkan peran
utama dalam etiologi dan patogenesis kebanyakan kasus RSK, dan memberikan terapi
antimikroba. Berbeda dengan konsensus mengenai bakteriologi rinosinusitis akut,
tidak ada kesepakatan tentang bakteriologi RSK. Masalah yang membingungkan
banyak penelitian mikrobiologi meliputi: variabilitas dalam metode yang digunakan
untuk sampel pada rongga sinus; Kegagalan untuk mensterilkan daerah di mana
trocar atau endoskopi dilewati; perbedaan sinus atau area yang dijadikan sampel;
kurangnya evaluasi respon inflamasi atau kuantisasi bakteri; efek dari antimikroba
sebelumnya atau saat ini; pemilihan variable pasien (yaitu, usia, jenis kelamin, durasi
dan tingkat penyakit, subjek bedah atau non-bedah); adanya polip hidung dan waktu
kultur; dan metode pengambilan kultur.

RSK mengembangkan pembentukan biofilm yang dapat memainkan peran


utama dalam patogenesis dan persistensi infeksi. Struktur ini dibentuk oleh
mikroorganisme yang melekat dan dikelilingi oleh bahan polimer ekstraselular.
Biofilm ini terbuat dari berbagai organisme dan banyak memberi keuntungan, seperti
ketahanan pasif, kerja sama metabolik yang sinergis, pengaruh produk sampingan
metabolik dan produk sampingan lainnya, melindungi bakteri sensitif beta-laktam
dengan menghasilkan beta-laktamase, korum sensing bakteri, lungkang gen
diperbesar dengan DNA yang lebih efisien, dan banyak sinergi lainnya yang memberi
mereka keunggulan kompetitif. Semakin tinggi keragaman mikroorganisme, semakin
besar survivabilitas biofilm.

Mikrobiologi rinosinusitis melibatkan beberapa tahap. Fase awal


(rhinosinusitis akut atau RSA) biasanya disebabkan oleh infeksi virus (rhinovirus,
adenovirus, influenza, atau parainfluenza) yang umumnya berlanjut hingga 10 hari.
Pada beberapa individu, infeksi bakteri sekunder muncul. Patogen bakteri yang paling
umum adalah Streptococcus pneumoniae, Haemophilus influenzae, dan Moraxella
catarrhalis. Jika RSA bakteri tidak hilang, anggota flora orofaring anaerob dan
Staphylococcus aureus muncul sebagai patogen.

Infeksi unik pada anak-anak adalah kejadian otitis media kronis bersamaan
dengan efusi dan RSK maksila. Kecocokan mikrobiologis antara telinga dan sinus
ditemukan pada 22 (69%) dari 32 pasien kultur. Isolat yang paling sering ditemukan
adalah H. influenzae, S. pneumoniae, Prevotella spp, dan Peptostreptococcus spp.

Bakteri anaerobik ditemukan pada lebih dari dua per tiga anak-anak dan orang
dewasa dengan RSK pada penelitian yang menggunakan metode yang memadai
untuk pengumpulan spesimen, transportasi, dan kultivasi. Kultur endoskopik
berulang yang diperoleh dari lima individu dengan RSA yang tidak merespon
terhadap antibiotik mengilustrasikan munculnya bakteri anaerob yang tahan terhadap
antimikroba. Ini termasuk pigmentasi Prevotella spp, Porphyromonas spp,
Fusobacterium nucleatum, dan Peptostreptococcus spp.

Faktor-faktor yang mendorong munculnya organisme anaerobik meliputi


tekanan selektif dari antimikroba yang memungkinkan organisme resisten bertahan,
radang dan edema yang akan mengurangi suplai darah ke sinus, yang menyebabkan
tekanan oksigen rendah, bakteri aerob yang mengambil oksigen akan menurunkan pH
di dalam sinus, dan membuat faktor ekspresi virulensi oleh bakteri anaerob, seperti
kapsul.

Bakteri aerob gram negatif seperti Pseudomonas aeruginosa, Klebsiella


pneumoniae, Enterobacter spp, Proteus mirabilis, dan Escherichia coli, telah
ditemukan di RSK, kebanyakan pada pasien dengan kondisi medis yang
mendasarinya seperti cystic fibrosis (dalam kasus Pseudomonas) atau diabetes, dan
dalam immunocompromised (neutropenia, penyakit kritis, diabetes melitus, atau
HIV).
Bakteri gram negatif secara aerob telah diisolasi lebih sering pada mereka
yang telah berulang kali diobati dengan antibiotik atau telah menjalani operasi sinus.
S. aureus, termasuk staphylococcus aureus resisten methicillin (MRSA), dapat
mengkolonisasi mukosa hidung dan ditemukan lebih sering pada pasien dengan RSK.
Tingkat kembalinya MRSA meningkat dalam dekade terakhir dan menyumbang lebih
dari dua pertiga isolat S. aureus. Biasanya merupakan infeksi polibakterial dan
mungkin bersifat sinergis. Stapylococcus epidermidis adalah bakteri yang
berkolonisasi pada rongga hidung, dan patogenisitasnya patut dipertanyakan.

Jamur dapat menyebabkan rinosinusitis jamur alergi, kolonisasi jamur, atau


sinusitis invasif. Sinusitis jamur invasif umumnya terjadi pada seseorang dengan
immunocompromised dan dapat berlangsung progresif atau lambat.

Sinusitis Odontogenik adalah entitas yang dikenal dengan baik dan


menyumbang sekitar 10-12% kasus sinusitis maksila dan mungkin akut atau kronis.
Kondisi ini jarang terjadi pada anak dibandingkan dengan orang dewasa.
Mikrobiologi sinusitis odontogenik bersifat polimikrobial dan mencerminkan flora
oral aerob dan anaerobik. Hubungan antara abses periapikal dan rinosinusitis
ditemukan pada studi aspirasi pus dari lima abses periapikal rahang atas dan sinus
maksila yang berhubungan.

BAKTERI MEMPRODUKSI BETA-LAKTAMASE

Tingkat pemulihan bakteri penghasil beta laktamase aerob dan anaerobik


(BLPB) di orofaring telah meningkat dalam beberapa tahun terakhir, dan organisme
ini diisolasi di lebih dari separuh pasien dengan infeksi kepala dan leher termasuk
sinusitis. BLPB yang diisolasi pada RSKA adalah S.aureus, H. influenzae, dan M.
cattarrhalis, pigmen Prevotella, Porphyromonas, dan Fusobacterium. BLPB dapat
terlibat langsung dalam infeksi, dapat melindungi tidak hanya diri mereka sendiri dari
aktivitas penisilin tetapi juga organisme penicillin-rentan. Hal ini dapat terjadi ketika
beta laktamase disekresikan ke jaringan atau abses yang terinfeksi dan
menginaktivasi cincin beta-laktam penisilin sebelum dapat membunuh bakteri yang
rentan.

Pemberian antibiotik terakhir dan tingkat kepatuhan berobat meningkatkan


resistansi terhadap organisme antimikroba. Tingginya insidensi kembalinya BLPB
pada infeksi saluran pernapasan bagian atas mungkin karena pemilihan organisme
berikut berdasarkan terapi antibiotik dengan antibiotik beta-laktam.

Aktivitas sebenarnya dari enzim beta-laktamase dan fenomena "perisai"


ditunjukkan pada cairan sinus yang meradang dimana BLPB ditemukan di 10 dari 13
aspirasi RSK. BLPB yang terisolasi adalah Prevotella dan Fusobacterium spp.
Pemulihan BLPB tidak mengherankan, karena semua pasien menerima terapi
antimikroba yang mungkin telah dipilih untuk kemunculan organisme ini.

TERAPI ANTIMIKROBA

Tujuan terapi medis adalah untuk meningkatkan drainase sinus, mengurangi


peradangan kronis, dan membasmi patogen. Hal ini sering membutuhkan kombinasi
glukokortikoid topikal atau oral, antimikroba, dan irigasi hidung. Bila tindakan ini
gagal, pasien harus dirujuk ke otolaryngologist untuk pertimbangan operasi sinus.

Terdapat data yang terbatas dan belum cukup kuat bukti bahwa antibiotik saja
bermanfaat dalam pengobatan RSKA. Pendekatan saat ini adalah menggunakan
antimikroba yang dikombinasikan dengan glukokortikoid topikal atau sistemik, dan
terkadang agen lainnya.

Studi yang meneliti efek terapi medis komprehensif tidak banyak, walaupun
kebanyakan ahli percaya bahwa antimikroba merupakan komponen terapi yang
penting untuk penyakit ini.

Adapun 9 anggota ahli dari otolaringologi mencapai konsensus bahwa 20 hari


terapi antibiotik berturut-turut dapat menghasilkan respons klinis yang baik pada
pasien RSKA dibandingkan dengan terapi antibiotik selama 10 hari. Para ahli juga
mencapai konsensus bahwa kultur langsung terhadap terapi antibiotik dapat
memperbaiki hasil bagi pasien RSKA yang belum merespon terhadap terapi
antibiotik empiris. Para ahli tidak mencapai konsensus bahwa bukti saat ini
mendukung penggunaan terapi antibiotik topikal atau irigasi antral dalam mengelola
anak-anak dengan RSKA.

Percobaan secara acak pada orang dewasa yang membandingkan antimikroba


berbeda menemukan mereka memiliki tingkat kesembuhan yang serupa. Namun,
penelitian observasional menunjukkan bahwa agen yang efektif melawan bakteri
anaerob dan BLPB memberikan keberhasilan yang lebih besar. Brook dan Yocum
secara retrospektif menyelidiki mikrobiologi dan tatalaksana pada 40 anak yang
menderita RSK. Ke 15 pasien yang menerima klindamisin mendapat respon paling
cepat terhadap terapi dan perubahan terapi dan intervensi bedah diperlukan dalam
satu kasus. Dari 16 pasien yang menerima amoksisilin atau ampisilin, 10 orang
merespon terhadap terapi, 6 orang memerlukan perubahan terapi, termasuk 4 orang
yang juga memiliki intervensi bedah. Dari ke 6 pasien yang diobati dengan
eritromisin, 3 orang memerlukan perubahan antibiotik, 2 orang dengan intervensi
bedah. Dari 3 pasien yang menerima cefaclor, 2 pasien sembuh, dan 1 pasien
memerlukan perubahan antibiotik. Percobaan acak terhadap 206 orang dewasa
dengan RSK, menunjukkan tingkat kekambuh yang jauh lebih tinggi pada mereka
yang menerima sefuroxime dibandingkan dengan mereka yang diobati dengan
amoksisilin-klavulanat (7% berbanding 0%).

Seleksi antibiotik tergantung pada faktor-faktor yang termasuk alergi obat,


biaya, dan angka kejadian dan / atau risiko adanya BLPB dan MRSA.

Pemilihan awal terapi antimikroba umumnya bersifat empiris terutama untuk


infeksi yang didapat masyarakat kecuali jika pasien tidak menanggapi terapi
sebelumnya. Agen yang dipilih harus efektif terhadap patogen bakteri yang paling
mungkin, termasuk bakteri aerobik (S. pneumoniae, H. influenzae, dan M.
catarrhalis) dan bakteri anaerob (Fusobacterium nucleatum, pigmentasi Prevotella,
Porphyromonas, dan Peptostreptococcus spp). Cakupan MRSA dapat di indikasikan.

Kultur secara langsung dari rongga sinus atau endoskopi harus dilakukan pada
mereka yang belum menunjukkan perbaikan atau memburuk meskipun mendapat
terapi.

Resistensi antimikroba telah meningkat selama dua dekade terakhir. Ini


termasuk produksi betalaktamase dan sefalosporinase.

Amoksisilin-klavulanat adalah agen oral lini pertama untuk kebanyakan


pasien. Clindamycin dapat diberikan pada mereka yang memiliki alergi penisilin atau
dugaan MRSA. Alternatif agen oral yang mencakup MRSA meliputi trimetoprim-
sulfametoksazol (TMP-SMX) dan linezolid, yang harus ditambahkan ke salah satu
regimen di atas yang mencakup anaerob.

Ketiga regimen ini efektif terhadap kebanyakan mikroorganisme aerob dan anaerob :

 Amoxicillin-clavulanate (pada anak-anak: 45 mg / kg per hari dibagi setiap 12


jam; pada orang dewasa: 500 mg tiga kali sehari atau 875 mg dua kali sehari
atau dua tablet extended release 1.000 mg dua kali sehari). "Dosis tinggi" (2 g
per oral dua kali sehari atau 90 mg / kg / hari per oral dua kali sehari)
amoxicillin-clavulanate direkomendasikan untuk anak-anak dari daerah
geografis dengan tingkat endemik tinggi (± 10%) penicillin-nonsusceptible
invasif (PNS) S pneumoniae, mereka yang memiliki infeksi parah (misalnya,
bukti toksisitas sistemik dengan demam 398C [1028F] atau lebih tinggi, dan
ancaman komplikasi supuratif), tingkat kepatuhan berobat, usia <2 tahun, baru
dirawat inap, penggunaan antibiotik dalam satu bulan terakhir, atau yang
immunocompromised.
 Clindamycin (pada anak-anak: 20-40 mg / kg per hari dibagi secara oral setiap
6-8 jam; pada orang dewasa: 300 mg empat kali sehari atau 450 mg tiga kali
sehari)
 Moksifloksasin (400 mg sekali sehari) umumnya hanya pada orang dewasa

Regimen yang digunakan untuk kasus refrakter meliputi metronidazol yang efektif
melawan anaerob plus agen yang aktif melawan bakteri aerob dan fakultatif :

 Metronidazol (30-50 mg / kg / hari dalam dosis terbagi tiga kali sehari; dosis
harian maksimum: 2.250 mg / hari), ditambahkan salah satu dari berikut ini:
cefuroxime axetil, cefdinir, cefpodoxime proxetil, levofloxacin (umumnya
hanya pada orang dewasa), azitromisin, klaritromisin, atau trimetoprim-
sulfametoksazol (TMP-SMX).

Pasien dengan imunokompromise dan penderita fibrosis kistik atau diabetes


harus diobati dengan antimikroba yang melawan Pseudomonas spp. Kultur yang tepat
harus dilakukan untuk mengetahui pilihan antimikroba terbaik.

Anak-anak dengan infeksi odontogenik bersamaan juga harus dirawat oleh


dokter gigi. Antimikroba hanya bersifat ajuvan untuk mengatasi asal-usul dari infeksi
pada gigi.

Pengobatan antimikroba umumnya diberikan paling sedikit tiga minggu dan


dapat diperpanjang hingga 10 minggu pada kasus refrakter. Pasien yang mungkin
mendapat manfaat dari terapi yang lebih lama adalah pasien yang sebelumnya gagal
dalam pengobatan, memiliki gejala yang parah, mengalami penyakit yang lebih lama,
atau menjalani operasi yang ekstensif.

Terapi parenteral diberikan kepada anak-anak yang sakit parah, menjalani


operasi, atau di antaranya kepatuhan yang dipertanyakan. Antimikroba parenteral
efektif melawan anaerob dan aerob termasuk ampicillin-sulbactam, piperacillin-
tazobactam, clindamycin, moxifloxacin, carbapenem (yaitu imipenem, meropenem,
doripenem), dan sefalosporin generasi kedua, cefoxitin.

Antimikroba parenteral yang aktif melawan MRSA meliputi vankomisin,


linezolid, dan daptomycin, dan Ceftaroline. Untuk antibiotik aktif P. aeruginosa
termasuk fluoroquinolone (pada orang dewasa) (mis., Ciporofloxacin atau
levofloxacin); sefalosporin generasi ketiga atau keempat dengan aktivitas
antipseudomonal (ceftazidime atau cefepime); aminoglikosida; atau karbapenem
(imipenem atau meropenem).

Metronidazol juga dapat diberikan secara parenteral untuk mengatasi bakteri


anaerob dalam kombinasi dengan agen dengan aktivitas aerobik.

Berbeda dengan sinusitis akut, yang umumnya diobati dengan antimikroba,


banyak klinisi percaya bahwa operasi sinus endoskopi fungsional (FESS) dan bukan
antibiotik merupakan terapi andalan di RSK. Penggunaan antimikroba tanpa
dilakukannya FESS untuk mengeluarkan akumulasi nanah mungkin tidak dapat
membersihkan infeksi. Membran sinus kronis yang meradang dengan vaskularitas
yang berkurang mungkin tidak mencapai konsentrasi antibiotik yang adekuat bahkan
ketika tingkat serum terapeutik. Selanjutnya, penurunan pH dan oksigen di dalam
sinus yang meradang dapat mempengaruhi aktivitas antimikroba yang mengakibatkan
kelangsungan hidup bakteri meskipun memiliki konsentrasi antibiotik tinggi.

DRUG-ELUTING NASAL IMPLANTS

Meskipun pengobatan utama RSK adalah antibiotik dan kortikosteroid,


beberapa pasien dengan RSK yang mengalami refraktori medis memerlukan FESS.
Implan hidung, stent, dan pembalutan dapat digunakan sebagai tambahan untuk
operasi sinus endoskopik terutama untuk mengendalikan perdarahan, dan mencegah
pembentukan adhesi.
Meatus media dapat dilakukan pemasangan spacer, implan atau spons yang
bisa tetap ada dan biodegraded melepaskan obat (kortikosteroid atau antibiotik)
selama periode waktu yang lama tanpa menyebabkan kerusakan jaringan.

Terlepas dari banyak keuntungan dari implan nasal bersalut obat untuk RSK,
masih banyak tantangan yang masih ada termasuk pengembangan sindrom syok
toksik, penyumbatan implan dan pembentukan granulasi. Penelitian lebih lanjut
diperlukan untuk menyediakan data yang cukup untuk menunjukkan keefektifan dan
hasil klinis pada stent bersalut obat, pembalutan atau implan.

KESIMPULAN

S. aureus, dan bakteri Gram-negatif anaerob mendominasi pada RSKA.


Kegigihan infeksi dapat mendorong pertumbuhan bakteri anaerob. Pemilihan awal
terapi antimikroba umumnya empiris dan didasarkan pada mikrobiologi yang
diharapkan dari infeksi sinus. Namun, pada pasien yang gagal menunjukkan
perbaikan yang signifikan atau menunjukkan kemunduran meskipun terapi sudah
dilakukan, penting untuk memilih antimikroba berdasarkan kultur sinus yang tepat.
DAFTAR PUSTAKA

1. Clement PAR, Bluestone CD, Gordts F, et al. Management of rhinosinusitis in


children. Consensus Meeting, Brussels, Belgium, September 13 1996. Arch
Otolaryngol Head Neck Surg 1998;124:31–34.
2. Subcommittee on Management of Sinusitis and Committee on Quality
Improvement. Clinical practice guideline: management of sinusitis. Pediatrics
2001;108:798–808.
3. Wald ER, Guerra N, Byers C. Upper respiratory tract infections in young children:
duration of and frequency of complications. Pediatrics 1991;87:129–133.
4. Smart BA. The impact of allergic and nonallergic rhinitis on pediatricsinusitis. Cur
Allergy Asthma Rep 2006;6:221–227.
5. Tosca MA, Riccio AM, Marseglia GL, et al. Nasal endoscopy in asthmatic
children: assessment of rhinosinusitis and adenoiditis incidence, correlations with
cytology and microbiology. Clin Exp Allergy 2001;31:609–615.
6. Brook I. Acute and chronic bacterial sinusitis. Infect Dis Clin North Am
2007;21:427–448.
7. Bhattacharyya N. The role of infection in chronic rhinosinusitis. Curr Allergy
Asthma Rep 2002;2:500–506.
8. Wald EW. Microbiology of acute and chronic sinusitis in children and adults. Am J
Med Sci 1998;316:13–20.
9. Biel MA, Brown CA, Levinson RM, et al. Evaluation of the microbiology of
chronic maxillary sinusitis. Ann Otol Laryngol Rhinol 1998;107:942–945.
10. Dlugaszewska J, Leszczynska M, Lenkowski M, Tatarska A, Pastusiak T, Szyfter
W. The pathophysiological role of bacterial biofilms in chronic sinusitis. Eur Arch
Otorhinolaryngol 2016;273:1989–1994.
11. Wolcott R, Costerton JW, Raoult D, Cutler SJ. The polymicrobial nature of
biofilm infection. Clin Microbiol Infect 2013:19:107–112.
12. Brook I. Bacteriologic features of chronic sinusitis in children. JAMA
1981;246:967–969.
13. Brook I. Bacteriology of acute and chronic sphenoid sinusitis. Ann Otol Rhinol
Laryngol 2002;111:1002–1004.
14. Brook I. Bacteriology of acute and chronic ethmoid sinusitis. J Clin Microbiol
2005;43:3479–3480.
15. Nord CE. The role of anaerobic bacteria in recurrent episodes of sinusitis and
tonsillitis. Clin Infect Dis 1995;20:1512–1524.
16. Brook I, Thompson D, Frazier E. Microbiology and management of chronic
maxillary sinusitis. Arch Otolaryngol Head Neck Surg 1994;120:1317–1320.
17. Finegold SM, Flynn MJ, Rose FV, et al. Bacteriologic findings associated with
chronic bacterial maxillary sinusitis in adults. Clin Infect Dis 2002; 35:428–433.
18. Brook I, Yocum P, Shah K. Aerobic and anaerobic bacteriology of concurrent
chronic otitis media with effusion and chronic sinusitis in children. Arch Otolaryngol
Head Neck Surg 2000;126:174–176.
19. Erkan M, Ozcan M, Arslan S, et al. Bacteriology of antrum in children with
chronic maxillary sinusitis. Scand J Infect Dis 1996;28:283–285.
20. Brook I, Frazier EH, Foote PA. Microbiology of the transition from acute to
chronic maxillary sinusitis. J Med Microbiol 1996;45:372–375.
21. Aust R, Drettner B. Oxygen tension in the human maxillary sinus under normal
and pathological conditions. Acta Otolaryngol 1974;78:264–267.
22. Carenfelt C, Lundberg C. Purulent and non-purulent maxillary sinus secretions
with respect to Po2, Pco2 and pH. Acta Otolaryngol 1977;84: 138–44.
23. Shapiro ED, Milmoe GJ, Wald ER, et al. Bacteriology of the maxillary sinuses in
patients with cystic fibrosis. J Infect Dis 1982;146:589–593.
24. Nadel DM, Lanza DC, Kennedy DW. Endoscopically guided cultures in chronic
sinusitis. Am J Rhinol 1998;12:233–241.
25. Decker CF. Sinusitis in the immunocompromised host. Curr Infect Dis Rep
1999;1:27–32.
26. Brook I. Role of encapsulated anaerobic bacteria in synergistic infections. Crit
Rev Microbiol 1987;14:171–193.
27. Brook I, Frazier EH. Correlation between microbiology and previous sinus
surgery in patients with chronic maxillary sinusitis. Ann Otol Rhinol Laryngol
2001;110:148–151.
28. Manarey CR, Anand VK, Huang C. Incidence of methicillin-resistant
Staphylococcus aureus causing chronic rhinosinusitis. Laryngoscope 2004;114:939–
941.
29. Brook I, Foote PA, Hausfeld JN. Increase in the frequency of recovery of
meticillin-resistant Staphylococcus aureus in acute and chronic maxillary sinusitis. J
Med Microbiol 2008;57:1015–1017.
30. McCoul ED, Jourdy DN, Schaberg MR, Anand VK. Methicillin-resistant
Staphylococcus aureus sinusitis in nonhospitalized patients: a systematic review of
prevalence and treatment outcomes Laryngoscope. 2012;122: 2125–2131.
31. Brook I. Microbiology of acute and chronic maxillary sinusitis associated with an
odontogenic origin. Laryngoscope 2005;115:823–825.
32. Brook I, Frazier EH, Gher ME Jr. Microbiology of periapical abscesses and
associated maxillary sinusitis. J Periodontol 1996;67:608–610.
33. Brook I. Beta-lactamase producing bacteria in head and neck infection.
Laryngoscope 1988;98:428–431.
34. Brook I, Yocum P, Frazier EH. Bacteriology and beta-lactamase activity in acute
and chronic maxillary sinusitis. Arch Otolaryngol Head Neck Surg 1996;122:418–
422.
35. Brook I. The role of beta-lactamase-producing bacteria in the persistence of
streptococcal tonsillar infection. Rev Infect Dis 1984;6:601–607.
36. Brook I, Gober AE. Emergence of beta-lactamase-producing aerobic and
anaerobic bacteria in the oropharynx of children following penicillin chemotherapy.
Clin Pediatr 1984;23:338–341.
37. Tuner K, Nord CE. Emergence of beta-lactamase-producing microorganisms in
the tonsils during penicillin treatment. Eur J Clin Microbiol 1986;5:399–404.
38. Mandal R, Patel N, Ferguson BJ. Role of antibiotics in sinusitis. Curr Opin Infect
Dis 2012;25:183–192.
39. Brietzke SE, Shin JJ, Choi S, et al. Clinical consensus statement: pediatric chronic
rhinosinusitis. Otolaryngol Head Neck Surg 2014;151:542–553.
40. Namyslowski G, Misiolek M, Czecior E, et al. Comparison of the efficacy and
tolerability of amoxycillin/clavulanic acid 875 mg b.i.d. with cefuroxime 500 mg
b.i.d. in the treatment of chronic and acute exacerbation of chronic sinusitis in adults.
J Chemother 2002;14:508–517.
41. Legent F, Bordure P, Beauvillain C, Berche P. A double-blind comparison of
ciprofloxacin and amoxycillin/clavulanic acid in the treatment of chronic sinusitis.
Chemotherapy 1994;40(Suppl 1):8–15.
42. Brook I, Yocum P. Management of chronic sinusitis in children. J Laryngol Otol
1995;109:1159–1162.
43. Brietzke SE, Shin JJ, Choi S, et al. Clinical consensus statement: pediatric chronic
rhinosinusitis. Otolaryngol Head Neck Surg 2014;151:542–553.
44. Bush K, Jacoby GA. Updated functional classification of beta-lactamases.
Antimicrob Agents Chemother. 2010;54:969–976.
45. Chow AW, Benninger MS, Brook I, et al. Infectious Diseases Society of
America. IDSA clinical practice guideline for acute bacterial rhinosinusitisin children
and adults. Clin Infect Dis 2012;54:e72–e11.
46. Sedaghat AR, Gray ST, Wilke CO, Caradonna DS. Risk factors for development
of chronic rhinosinusitis in patients with allergic rhinitis. Int Forum Allergy Rhinol
2012;2:370–375.
47. Weitzel EK, Wormald PJ. A scientific review of middle meatal packing/ stents.
Am J Rhinol 2008;22:302–307.
48. Bednarski KA, Kuhn FA. Stents and drug-eluting stents. Otolaryngol Clin N Am
2009;42:857–866.
49. Parikh A, Anand U, Ugwu MC, Feridooni T, Massoud E, Agu RU. Drugeluting
nasal implants: formulation, characterization, clinical applications and challenges.
Pharmaceutics 2014;6:249–267.