Anda di halaman 1dari 36

LAPORAN PRAKTIKUM STUDI KASUS FITOTERAPI

PENYAKIT INFEKSI
(DEF4241P)
SEMESTER GENAP

DISUSUN OLEH
KELOMPOK A3
Tsaniya Rizqina (NIM 145070501111027)
Machrozi Alfian (NIM 145070501111029)
Siti Hartinah Munawaroh (NIM 145070501111031)
Octavia Fenanda Larasanti (NIM 145070501111033)
Augustine Lutvianti Pramono (NIM 145070507111001)
Wardah Az Zahrah (NIM 145070507111003)
Ade Putri Delina (NIM 145070507111006)
Agung Febrian Ramadani (NIM 145070507111007)
Tika Yasmin Rahmayanti (NIM 145070507111009)
Shanastasia Swastila (NIM 145070507111011)
Tanti Anggraini (NIM 145070507111013)
Rahmania Nadia Sari (NIM 145070507111015)

PROGRAM STUDI FARMASI

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA

TAHUN AJARAN 2016/2017


1. Patofisiologi Penyakit

1.1 Patofisiologi Cystitis

Cystitis merupakan infeksi saluran kemih bagian bawah yang secara umum disebabkan
oleh bakteri gram negatif yaitu Escherichia coli peradangan timbul dengan penjalaran secara
hematogen ataupun akibat obstruksi saluran kemih bagian bawah, baik akut maupun kronik
dapat bilateral maupun unilateral (Fish dan Sahai, 2001).

Cystitis terutama berasal dari mikroorganisme pada faeces yang naik dari perineum ke
uretra dan kandung kemih serta menempel pada permukaan mukosa. Agar infeksi dapat
terjadi, bakteri harus mencapai kandung kemih, melekat pada dan mengkolonisasi epitelium
traktus urinarius untuk menghindari pembilasan melalui berkemih, mekanisme pertahan
penjamu dan cetusan inflamasi (Fish dan Sahai, 2001).

Bakteri dari vagina bisa berpindah dari uretra ke kandung kemih.Wanita sering menderita
infeksi kandung kemih setelah melakukan hubungan seksual, kemungkinan karena uretra
mengalami cedera pada saat melakukan hubungan seksual. Kadang infeksi kandung kemih
berulang pada wanita terjadi karena adanya hubungan abnormal antara kandung kemih dan
vagina (fistula vesikovaginal) (Fish dan Sahai, 2001).

Infeksi kandung kemih jarang terjadi pada pria dan biasanya berawal sebagai infeksi
uretra yang bergerak menuju prostat lalu ke kandung kemih.Selain itu, infeksi kandung kemih
bisa terjadi akibat pemasangan kateter atau alat yang digunakan selama pembedahan.
Penyebab tersering dari infeksi kandung kemih berulang pada pria adalah infeksi prostat
karena bakteri yang bersifat menetap. Antibiotik dengan segera akan melenyapkan bakteri
dari air kemih di dalam kandung kemih, tetapi antibiotik tidak dapat menembus prostat
dengan baik sehingga tidak dapat meredakan infeksi di dalam prostat. Karena itu, jika
pemakaian antibiotik dihentikan, maka bakteri yang berada di dalam prostat akan cenderung
kembali menginfeksi kandung kemih (Bint, 2003).

Hubungan abnormal antara kandung kemih dan usus (fistula vesikoenterik) kadang
menyebabkan bakteri pembentuk gas masuk dan tumbuh di dalam kandung kemih.
Infeksi ini bisa menyebabkan timbulnya gelembung-gelembung udara di dalam air kemih
(pneumaturia) (Bint, 2003).

Secara normal, air kencing atau urine adalah steril alias bebas kuman. Infeksi terjadi bila
bakteri atau kuman yang berasal dari saluran cerna jalan jalan ke urethra atau ujung saluran
kencing untuk kemudian berkembang biak disana. Maka dari itu kuman yang paling sering
menyebabkan cystitis adalah E. coli yang umum terdapat dalam saluran pencernaan bagian
bawah (Bint, 2003).

ISK ini adalah radang Pertama tama, bakteri akan menginap di urethra dan berkembang
biak disana. Akibatnya, urethra akan terinfeksi yang kemudian disebut dengan nama
urethritis. Jika kemudian bakteri naik ke atas menuju saluran kemih dan berkembang biak
disana maka saluran kemih akan terinfeksi yang kemudian disebut dengan istilah cystitis. Jika
infeksi ini tidak diobati maka bakteri akan naik lagi ke atas menuju ginjal dan menginfeksi
ginjal yang dikenal dengan istilah pyelonephritis (Bint, 2003).

Pasu-ginjal (pyelitis) dan pyelobephiritis dan prostatitis, dimana jaringan-jaringan organ


terkena infeksi. Kombinasi dari infeksi dan obstruksi saluran kemih dapat menimbulkan
dengan cepat kerusakan ginjal serius. Keadaan ini merupakan penyebab penting terjadinya
keracunan (septicaemia) oleh kuman-kuman gram negative, yang dapat membahayakan jiwa
(Bint, 2003).

2. Analisa Kasus

2.1 Kasus

Seorang pasien Ny.KS (32 tahun) datang ke apotek untuk menebus resep nitrofurantoin
100 mg qid x 7 hari, dan membeli oral kontrasepsi Tri-Levlen (pasien sudah menggunakan
Tri-Levlen selama 1 tahun).

Dari hasil assesment diketahui bahwa pasien saat ini dia belum mengalami infeksi
kandung kemih, akan tetapi ia frustasi dengan cystitis yang ia alami secara berulang dan
menanyakan bagaimana cara untuk mencegahnya. Pasien mengalami cystitis secara berulang
sejak usia 26 tahun, setelah ia menikah.

Pasien selalu mengonsumsi jus cranberry sejak pertama kali mengalami cystitis, tetapi
tidak mengalami perubahan gejala.

2.2 Pembahasan Kasus

Menurut kasus diatas, Ny.KS (32 tahun) datang ke apotek untuk menebus resep
nitrofurantoin 100 mg qid x 7 hari dan membeli kontrasepsi oral Tri-levlen, dimana pasien ini
sudah menggunakan kontrasepsi oral tersebut selama 1 tahun. Dari hasil assessment pasien
belum mengalami infeksi kandung kemih, tetapi pasien frustasi dengan cystitis yang ia alami
secara berulang. Pasien mengalami cystitis berulang sejak usia 26 tahun, setelah ia menikah.
Pasien selalu mengonsumsi jus cranberry sejak pertama kali mengalami cystitis, tetapi tidak
mengalami perubahan gejala.

Berdasarkan resep yang ingin pasien tebus, tidak terdapat interaksi antara terapi yang
digunakan oleh pasien dan lifestyle yang dijalani pasien. Nitrofurantion adalah obat yang
digunakan untuk mengobati atau mencegah infeksi saluran kemih tertentu. Nitrofurantion
adalah antibiotik yang bekerja dengan menghentikan pertumbuhan bakteri. Obat ini tidak
akan bekerja untuk infeksi virus (misalnya, pilek, flu). Dosis yang diberikan pada pasien
adalah 100 mg empat kali sehari selama seminggu. Obat ini paling baik disimpan pada suhu
ruangan, dijauhkan dari cahaya langsung dan tempat yang lembap. Nitrofurantoin sebaiknya
dihentikan jika pasien memiliki salah satu dari efek samping yang serius berikut ini
(Medscape, 2017):

 Diare yang berair atau berdarah

 Sesak napas karena kehabisan napas dengan mudah

 Nyeri tiba-tiba pada dada atau ketidaknyamanan, bengek, batuk kering atau
berdahak

 Demam, menggigil, nyeri tubuh, penurunan berat badan yang tidak dapat
dijelaskan

 Neuropati perifer. Mati rasa, kesemutan, atau nyeri di tangan atau kaki

 Mual, nyeri perut bagian atas, gatal-gatal, kehilangan nafsu makan, urin gelap, tinja
berwarna tanah liat, sakit kuning (menguningnya kulit atau mata)

 Kulit pucat, mudah memar, kebingungan atau kelemahan

 Warna pada kulit yang tidak merata, bintik-bintik merah, atau melepuh parah,
mengelupas, dan ruam kulit berwarna merah

 Sakit kepala parah, berdengung di telinga, pusing, gangguan penglihatan, dan nyeri
di belakang mata.
Tri-levlen merupakan kontrasepsi oral dengan kombinasi obat hormon yang digunakan
untuk mencegah kehamilan. Ini mengandung 2 hormon: progestin dan estrogen. Ini bekerja
terutama dengan mencegah pelepasan telur (ovulasi) selama siklus haid (Jawetz, 1991).

Cystitis adalah peradangan kandung kemih, yaitu organ yang bertanggug jawab
mengeluarkan air kemih. Gejala utamanya, meningkatnya frekuensi berkemih, nyeri saat
berkemih dan kadang-kadang darah dalam air kemih, intensitasnya bervariasi dari satu orang
ke orang yang lain. Sistitis lebih cenderung mengenai wanita. Tanda pertama pada wanita
adalah rasa panas, kadang-kadang nyeri seperti disayat pisau saat berkemih, yang perlahan-
lahan menjadi nyeri tajam di bagian bawah perut. Saat peradangan menyambar, penderita
merasakan sakit punggung yang tidak jelas disertai tidak enak badan. Dalam kasus ini pasien
mengalami cystitis ini sejak usia 26 tahun, setelah ia menikah.

Patofiologi dari cystitis ini adalah cystitis merupakan infeksi saluran kemih pada bagian
bawah yang disebabkan oleh bakteri Escherichia coli. Terjadi saat ada kontaminasi bakteri
pada uretra, lalu bakteri tersebut membentuk kolonisasi di uretra dan migrasi menuju bladder.
Pada bladder, bakteri tersebut melakukan kolonisasi dan multiplikasi yang diperantarai oleh
vili dan adesin. Setelah itu terjadi aktivasi dari neutrophil, dan kemudian membentuk biofilm.
Sehingga terjadi kerusakan epitel karena toksin dan enzim protease (Dipiro et al., 2008).

Beberapa penelitian menunjukkan manfaat jus cranberry dalam menurunkan kejadian


ISK. Jus cranberry diperkirakan dapat mencegah adhesi bakteri patogen, terutama E. coli,
pada sel-sel epitel saluran kemih. Jus cranberry dapat dikonsumsi dengan aman pada
kehamilan, tetapi pada beberapa pasien mungkin dapat muncul efek samping gastrointestinal
seperti mual dan muntah karena jus ini bersifat asam (Guay, 2009).

Teori awal mengemukakan bahwa cranberry bekerja dengan mengasamkan urin; Namun,
dengan konsumsi jus cranberry normal, pH urin bisa menurun, namun tidak cukup atau
konsisten untuk menjadi bakteri (Guay, 2009).

Penelitian telah menunjukkan bahwa komponen aktif dari cranberry adalah kelompok
senyawa yang disebut proanthocyanidins (PACs) atau tanin, dan mekanisme kerjanya
menghambat adhesi E. coli P-fimbriated ke uroepithelium. Adhesi bakteri pada sel
merupakan langkah awal dalam proses infeksi. Jika langkah adhesi awal terhambat, bakteri
tidak bisa berkembang biak dan berkoloni, pada dasarnya mencegah infeksi (Howell et al.,
2005).
Diketahui pada kasus ini pasien menggunakan cranberry untuk mengatasi gejala cystitis.
Padahal sebenarnya cranberry digunakan untuk terapi infeksi saluran kemih, pada kasus ini
pasien belum mengalami infeksi saluran kemih, hanya mengalami sistitis. Sehingga apabila
pasien menggunakan cranberry sebagai terapi sistitisnya termasuk belum efektif karena
cranberry untuk mencegah gejala infeksi saluran kemih tergolong grade C, sedangkan apabila
untuk terapi infeksi saluran kemih tergolong grade B.

Untuk pengobatan yang direkomendasikan untuk pasien mengatasi cystitis sebagai


pencegahan preventif agar menghindari terkena cystitis digunakan berbagai macam
pengobatan herbal yang dapat membantu pencegahannya. Salah satunya digunakan Cranberry
(Vaccinium macrocarpon) termasuk golongan pengobatan Urinary Tract Antiseptic dimana
penggunaan herbal ini dapat memberi antiseptic pada organ intim wanita. Dimana mekanisme
kerja dari cranberry sendiri adalah mencegah mengikatnya bakteri untuk menjadi tuan rumah
membrane sel permukaan. (mencegah terikatnya atau penempelan bakteri pada umbrella
cell). Dosis yang digunakan untuk melakukan pencegahan Untuk pencegahan UTI (cystitis)
pada dewasa, direkomendasikan dosis harian juice 30-300ml dari 30% juice murni selama 6
bulan setiap hari. Kapsul mengandung ekstrak cranberry dengan penggunaan 1-6, setara
dengan 90 ml juice cranberry atau cranberry padat 400-450 mg bisa dibuat dalam bentuk
sediaan Crude, extract, juice, tablet, kapsul. Pengobatan selanjutnya untuk mencegah cystitis
bisa digunakan Echinacea tanaman ini termasuk golongan immune enhancher dimana dengan
mekanisme kerja Sediaan akar bekerja dengan imunitas innate. Penelitian dengan beberapa
sediaan Echinaceae menunjukkan adanya peningkatan kerja makrofag di mana sediaan fresh
pressed juice dan dried juice dari bagian aerial dapat menstimulasi pembentukan sitokin
termasuk IL-1, IL-10, dan TNFα. Selain itu, pemurnian polisakarida induce produksi dari IL-
1 dan polisakarida dari arabinogalaktan mampu induce TNFα dan INFβ2 oleh makrofag.
Dalam dosis 3 gram/day bisa membatu untuk mencegah cystitis dengan mekanisme immune
enhancher. Echinacea tersedia dalam bentuk Powdered, galenic, liquid extract, kapsul, tablet
(Howell et al., 2005).

Dalam mencegah cystitis juga diperlukan pencegahan dari kita sendiri selain
menggunakan pengobatan sintetis maupun herbal diperlukan juga menjaga kesehatan daerah
organ intim sehingga terhindar dari penyakit cystitis. Diantaranya yang harus dilakukan untuk
menjaga kesehatan adalah Jangan menahan keinginan untuk buang air kecil, hindari
penggunaan sabun mandi atau sabun pembersih organ intim yang mengandung parfum.,
banyak minum guna mencegah perkembangbiakkan bakteri dalam kandung kemih, kenakan
celana dalam berbahan katun yang lembut., menyeka organ intim dari depan ke belakang
(dari vagina menuju anus) sehabis membasuh. serta menjaga asupan makanan sehingga tubuh
dalam kondisi sehat dan tidak dapat tercemari oleh bakteri penyakit.

2.3 Pembahasan Soal

1. Bagaimana patofisiologi dari cystitis?

Jawab :

Cystitis  lower UTI (bladder)

Penyebab  Escherichia coli

Patofisiologi:

Kontaminasi bakteri pada uretra  bakteri membentuk kolonisasi di uretra, migrasi


menuju bladder kolonisasi dan multiplikasi di bladder (diperantarai oleh vili dan adesin 
aktivasi neutrophil  bakteri membentuk biofilm  kerusakan epitel karena toksin dan
enzim protease. Keadaan dapat menjadi lebih memburuk bila bakteri migrasi ke ginjal 
terjadi kolonisasi di ginjal  toksin merusak jaringan  bacteremia.

Organisme masuk ke urinary tract melalui jalur ascending, hematogenous (descending),


dan linfatik. Pada wanita biasanya akan berkoloni dari flora normal. Selain panjang uretra
yang pendek, pada wanita koloni bisa terjadi karena penggunaan kontrasepsi spermisida dan
diafragma. Adanya hal tersebut dan juga sexual intercourse membuat bakteri sampai ke
kandung kemih (bladder). Saat mencapai bladder, organisme itu akan berkembang dengan
cepat dan bisa naik menuju ureter hingga ke ginjal. Infeksi pada ginjal melalui penyebaran
hematogenous (darah) biasanya terjadi karena adanya diseminasi organisme dari infeksi
primer sebelumnya di tubuh. Infeksi via descending ini rutenya tidak jelas (uncommon) dan
melibatkan jumlah kecil dari patogen. Bakteri yang menjadi penyebab biasanya S. Aureus
yang bisa menyebabkan abses renal. Selain itu ada Candida spp, Mycobacterium tuberculosis,
Salmonella spp., dan enterococci. Sedangkan jalur limfatik, bukti pendukungnya sangat
sedikit mengenai renal lymphatic pada patogenensis UTI meskipun ada hubungan dari
limfatik ke bowel-kidney maupun bladder-kidney namun tidak ada bukti bahwa
mikroorganisme dapat bergerak melalui jalur ini. Setelah bakteri mencapai urinary tract, ada
3 faktor yg menyebabkan perkembang infeksi, yaitu: ukuran inokulum, faktor virulensi, dan
kemampuan inang flora normal dalam mekanisme pertahanan (Dipiro et al., 2008).
2. Apa pengaruh obat herbal yang digunakan (carnberry) terhadap kondisi pasien? Kaitkan
dengan patofisiologi penyakit yang dialami pasien!

Jawab :

Beberapa penelitian menunjukkan manfaat jus cranberry dalam menurunkan kejadian


ISK. Jus cranberry diperkirakan dapat mencegah adhesi bakteri patogen, terutama E. coli,
pada sel-sel epitel saluran kemih. Jus cranberry dapat dikonsumsi dengan aman pada
kehamilan, tetapi pada beberapa pasien mungkin dapat muncul efek samping gastrointestinal
seperti mual dan muntah karena jus ini bersifat asam (Guay, 2009).

Teori awal mengemukakan bahwa cranberry bekerja dengan mengasamkan urin; Namun,
dengan konsumsi jus cranberry normal, pH urin bisa menurun, namun tidak cukup atau
konsisten untuk menjadi bakteri (Guay, 2009).

Faktor virulensi yang penting dalam patogenesis ISK meliputi adhesi bakteri (P fimbriae
dan fimbriae tipe 1) yang menempel pada reseptor karbohidrat pada permukaan sel uroepitel.
Hampir semua ikatan uropatogen Escherichia coli (E. coli) dapat mengekspresikan fimbriae
tipe 1 yang mengikat Untuk reseptor seperti mannose. P-fimbriated E. coli mematuhi urutan
reseptor oligosakarida, dan telah dikaitkan dengan kedua sistitis dan pielonefritis (Guay,
2009).

Penelitian telah menunjukkan bahwa komponen aktif dari cranberry adalah kelompok
senyawa yang disebut proanthocyanidins (PACs) atau tanin, dan mekanisme kerjanya
menghambat adhesi E. coli P-fimbriated ke uroepithelium. Adhesi bakteri pada sel
merupakan langkah awal dalam proses infeksi. Jika langkah adhesi awal terhambat, bakteri
tidak bisa berkembang biak dan berkoloni, pada dasarnya mencegah infeksi (Howell et al.,
2005).
3. Berikan rekomendasi obat bahan alam untuk pasien (kandungan, mekanisme kerja, dosis,
bentuk sediaan)!

Jawab :

a) Cranberry (Vaccinium macrocarpon) (Urinary Tract Antiseptic)

 Kandungan

Fenol (antosianin, proantosianidin), galactosides, arabinosida dari cyanidin dan peonidin,


malvidin, pelargonidin, delphinidin, dan petunidin; flavonols dan PACs, catechins or flavan-
3-ols, phenolic acid derivatives, and triterpenoid, asam (citrit, malic, quinic, asam benzoat)
(Barnes et al., 2007).

 Mekanisme

Pada penelitian in vitro, cranberry juice menurunkan adherensi dari E. coli pada sel epitel
uretra (umbrella cell). Penelitian lain menunjukkan bahwa cranberry juice dengan dosis
tertentu bisa menginhibisi aktivitas haemaglutinasi E. coli. Cranberry menghambat adherensi
bakterial pada umbrella cell sehingga perkembangan dari UTI serta bisa mengurangi gejala
UTI yang berkaitan dengan inflamasi yaitu penghambatan inflammatory cascades sebagai
respon iminologi invasi bakteri. Senyawa utama cranberry dapat menginhibisi COX-2 yang
berperan sebagai senyawa kunci dari inflammatory pathway. Ekstrak cranberry menunjukkan
adanya inhibisi aktivasi nuclear factor κB trascriptional pada limfosit T dan secara signifikan
menekan pelepasan (IL)-1β, IL-6, IL-8, and tumor necrosis factor-α (TNF-α) pada
lipopolisakarida E. coli pada konsentrasi 50 μg/mL. Antosianin dan asam hidroksisinamat
yang diisolasi dari cranberry dapat menurunkan respon inflamasi di sel endotel dengan TNF-
α dengan membatasi upregulation dari sitokin dan molekul adhesi sehingga cranberry bisa
menurunkan gejala UTI, yaitu sebagai antiinflamasi. Selain itum cranberry bisa menjadi
sumber antioksidan yang bisa menurunkan stress oksidatif yang merupakan
immunomodulation yang bisa meningkatkan respon imunitas pada UTI (Vasileiou et al.,
2013).

Selain itu, dua senyawa pada cranberry bisa menginhibisi lectin-mediated adherence E.
coli pada mukosa sel. Salah satu senyawa, yaitu fruktosa dan senyawa lainnya yaitu
nondialysable polymeric. Penelitian selanjutnya ditemukan bahwa exposure dari bakteri
patogen terhadap nondialysable polymeric pada bladder menghasilkan efek bakteriostatik
dengan menghambat ekspresi dari adhesin pada pili di permukaan bakteri (Upton, 2002).
Proantosianidin yang diisolasi dari etil asetat diperoleh adanya kemampuan dalam
menghambat aherensi E. coli dengan kemampuan menghambat aglutinasi pada isolat P-
receptor resin-coated beads dan eritrosit. Konsentrasi proantosianidin di bawah 75 mg/ml
poten dalam exhibite aktivitas antiadherence pada uropatogen yang diisolasi dari P-fimbriated
E.colu terhadap permukaan seluler yang mengandung alpha-Gal(1l4)beta-Gal yang mirip
seperti sel epitel di saluran kemih (WHO, 1999).

 Bukti Ilmiah Efektivitas

Pengaruh cranberry pada kandung kemih dan infeksi saluran kencing lainnya sudah
dikenal. Infeksi yang disebabkan oleh bakteri, Escherichia coli, dikenal kebanyakan orang
sebagai E. coli yang menempel ke dinding kandung kemih atau saluran kemih, dan sangat
sulit untuk mengusir dengan antibiotik setelah ada (Upton et al., 2002).

Cranberry mengandung glikoprotein yang mencegah E. coli dari melakukan infeksi, dan
bertindak dengan cara mencegah, bukan invasi dari bakteri itu sendiri, tetapi dengan
mekanisme yang menyebabkan penyakit ini. Minum jus cranberry secara teratur dapat
mencegah cystitis terjadi pada wanita, atau paling tidak mengurangi frekuensi kejadian
(Upton et al., 2002).

Sekarang, bagaimanapun, ada tubuh yang berkembang bukti bahwa cranberry mungkin
telah menggunakan lebih dari sekedar untuk infeksi kandung kemih. Hal ini dikenal untuk
membantu mencegah penyakit gusi dengan mekanisme yang sama: bakteri akan dicegah dari
pelekatan ke gigi dan gusi dengan cara dari glikoprotein yang sama yang efektif dengan E.
coli dan infeksi saluran kemih (Upton et al., 2002).

Ada juga bukti bahwa jus cranberry dapat membantu dalam memecahkan telinga dan
infeksi pernafasan. Sebuah studi dari kelompok anak-anak pada tahun 2002 telah
menunjukkan bahwa jus cranberry dapat menghambat adhesi ke sel darah merah dari strain
tertentu dari bakteri Haemophilus influenza yang mungkin menyebabkan sebagian besar
infeksi telinga bagian tengah (Upton et al., 2002).

 Dosis

Untuk pencegahan UTI (cystitis) pada dewasa, direkomendasikan dosis harian juice 30-
300 ml dari 30% juice murni selama 6 bulan setiap hari. Kapsul mengandung ekstrak
cranberry dengan penggunaan 1-6, setara dengan 90 ml juice cranberry atau cranberry padat
400-450 mg (WHO, 1999; Barnes et al., 2007).

 Sediaan

Crude, extract, juice, tablet, kapsul (WHO, 1999)

b) Echinacea (Immune Enhancher) (Barnes et al., 2007; Bone, 2013)

 Kandungan

 Akar

Alkilamida (kebanyakan isobutilamida), caffeic acid ester (echinacoside, chicoric acid,


cynarin, essential oil, poluasetilene, polisakarida, alkaloid non-toxic pyrrolizidine

 Aerial

Alkilamida (kebanyakan isobutilamida), caffeic acid ester (echinacosida, chicoric acid,


verbascoside, caftaric acid, chlorogenic dan isochlorogenic acid), flavonoid, essential oil,
polisakarida

 Mekanisme

Sediaan akar bekerja dengan imunitas innate. Penelitian dengan beberapa sediaan
Echinaceae menunjukkan adanya peningkatan kerja makrofag di mana sediaan fresh pressed
juice dan dried juice dari bagian aerial dapat menstimulasi pembentukan sitokin termasuk IL-
1, IL-10, dan TNFα. Selain itu, pemurnian polisakarida induce produksi dari IL-1 dan
polisakarida dari arabinogalaktan mampu induce TNFα dan INFβ2 oleh makrofag.
Penggunaan ekstrak herb 100µl 2 dd1 (dengan kandungan cichoric acid, polisakarida, dan
alkalamida) mampu menstimulasi aktivitas fagositosis makrofag. Inhibisi dari aktivitas
hyaluronidase, stimulasi aktivitas korteks adrenal, dan stimulsi produksi properdin (serum
protein yang bisa menetralisasi bakteri dan virus) juga ditemukan dalam Echinaceae. Inhibisi
jaringan dan hyaluronidase bakterial dengan cara lokalisasi infeksi dan mencegah penyebaran
agen kausatif ke bagian lainnya.

 Dosis

3 gram/day

 Sediaan

Powdered, galenic, liquid extract, kapsul, tablet.

4. Berikan saran kepada pasien terkait pencegahan infeksi saluran kemih!

Jawab :

Cystitis yang sering kambuh tentu sangat mengganggu kenyamanan sekaligus aktivitas
sehari-hari. Terdapat beberapa langkah sederhana yang bisa diterapkan guna menghindari
inflamasi ini sekaligus mencegah kekambuhannya, yaitu:

- Jangan menahan keinginan untuk buang air kecil, segeralah buang air kecil saat terasa.

- Buang air kecil sesering mungkin (setiap 3 jam) untuk mengosongkan kandung kemih.
Menunda buang air kecil merupakan penyebab terbesar ISK.

- Hindari kafein, minuman mengandung karbonat dan alkohol yang dapat mengiritasi
kandung kemih.

- Hindari penggunaan sabun mandi atau sabun pembersih organ intim yang mengandung
parfum.

- Banyak minum air putih guna (6-8 gelas sehari) guna mencegah perkembangbiakkan
bakteri dalam kandung kemih dan mendorong bakteri keluar.
- Kenakan celana dalam berbahan katun yang lembut, yang dapat memperlancar sirkulasi
udara.

- Menyeka organ intim dari depan ke belakang (dari vagina menuju anus) sehabis
membasuh, bukan sebaliknya.

- Menjaga asupan makanan.

- Jangan menggunakan pakaian ketat karena akan membuat tubuh lembab dan bisa memicu
pertumbuhan bakteri.

- Jika menderita infeksi saluran kemih berulang, maka hindari penggunaan alat kontrasepsi
diafragma. Sebaiknya konsultasi dengan dokter untuk memilih alat kontrasepsi lain.

- Minuman ringan yang biasanya mengandung garum kurang baik sebab dapat
memperlambat buang air kecil.

- Buah-buahan, sari buah, jus, baik untuk dikonsumsi sebab dapat melancarkan peredaran
darah.

- Konsultasi ke dokter bila mengalami gejala ISK.

3. Rekomendasi Fitoterapi

3.1 Rekomendasi Tanaman Terapi (Tanaman dari Literatur Terkait Kasus)

3.1.1 Pencegahan

3.1.1.1 Cranberry (Vaccinium macrocarpon) (Urinary Tract Antiseptic)

3.1.1.1.1 Kandungan

Fenol (antosianin, proantosianidin), galactosides, arabinosida dari cyanidin dan peonidin,


malvidin, pelargonidin, delphinidin, dan petunidin; flavonols dan PACs, catechins or flavan-
3-ols, phenolic acid derivatives, and triterpenoid, asam (citrit, malic, quinic, asam benzoat)
(Barnes et al., 2007).

3.1.1.1.2 Mekanisme

Pada penelitian in vitro, cranberry juice menurunkan adherensi dari E. coli pada sel epitel
uretra (umbrella cell). Penelitian lain menunjukkan bahwa cranberry juice dengan dosis
tertentu bisa menginhibisi aktivitas haemaglutinasi E. coli. Cranberry menghambat adherensi
bakterial pada umbrella cell sehingga perkembangan dari UTI serta bisa mengurangi gejala
UTI yang berkaitan dengan inflamasi yaitu penghambatan inflammatory cascades sebagai
respon iminologi invasi bakteri. Senyawa utama cranberry dapat menginhibisi COX-2 yang
berperan sebagai senyawa kunci dari inflammatory pathway. Ekstrak cranberry menunjukkan
adanya inhibisi aktivasi nuclear factor κB trascriptional pada limfosit T dan secara signifikan
menekan pelepasan (IL)-1β, IL-6, IL-8, and tumor necrosis factor-α (TNF-α) pada
lipopolisakarida E. coli pada konsentrasi 50 μg/mL. Antosianin dan asam hidroksisinamat
yang diisolasi dari cranberry dapat menurunkan respon inflamasi di sel endotel dengan TNF-
α dengan membatasi upregulation dari sitokin dan molekul adhesi sehingga cranberry bisa
menurunkan gejala UTI, yaitu sebagai antiinflamasi. Selain itum cranberry bisa menjadi
sumber antioksidan yang bisa menurunkan stress oksidatif yang merupakan
immunomodulation yang bisa meningkatkan respon imunitas pada UTI (Vasileiou et al.,
2013).

Gambar 1. Mekanisme Kerja Cranberry (Vasileiou et al., 2013)

Selain itu, dua senyawa pada cranberry bisa menginhibisi lectin-mediated adherence E.
coli pada mukosa sel. Salah satu senyawa, yaitu fruktosa dan senyawa lainnya yaitu
nondialysable polymeric. Penelitian selanjutnya ditemukan bahwa exposure dari bakteri
patogen terhadap nondialysable polymeric pada bladder menghasilkan efek bakteriostatik
dengan menghambat ekspresi dari adhesin pada pili di permukaan bakteri (Upton, 2002).
Proantosianidin yang diisolasi dari etil asetat diperoleh adanya kemampuan dalam
menghambat aherensi E.coli dengan kemampuan menghambat aglutinasi pada isolat P-
receptor resin-coated beads dan eritrosit. Konsentrasi proantosianidin di bawah 75 mg/ml
poten dalam exhibite aktivitas antiadherence pada uropatogen yang diisolasi dari P-fimbriated
E.colu terhadap permukaan seluler yang mengandung alpha-Gal(1l4)beta-Gal yang mirip
seperti sel epitel di saluran kemih (WHO, 1999).

3.1.1.1.3 Dosis

Untuk pencegahan UTI (cystitis) pada dewasa, direkomendasikan dosis harian juice 30-
300 ml dari 30% juice murni selama 6 bulan setiap hari. Kapsul mengandung ekstrak
cranberry dengan penggunaan 1-6, setara dengan 90 ml juice cranberry atau cranberry padat
400-450 mg (WHO, 1999; Barnes et al., 2007).

3.1.1.1.4 Sediaan

Crude, extract, juice, tablet, kapsul (WHO, 1999)

3.1.1.2 Echinacea (Immune Enhancher) (Barnes et al., 2007; Bone, 2013)

3.1.1.2.1 Kandungan

 Akar

Alkilamida (kebanyakan isobutilamida), caffeic acid ester (echinacoside, chicoric acid,


cynarin, essential oil, poluasetilene, polisakarida, alkaloid non-toxic pyrrolizidine

 Aerial

Alkilamida (kebanyakan isobutilamida), caffeic acid ester (echinacosida, chicoric acid,


verbascoside, caftaric acid, chlorogenic dan isochlorogenic acid), flavonoid, essential oil,
polisakarida

3.1.1.2.2 Mekanisme

Sediaan akar bekerja dengan imunitas innate. Penelitian dengan beberapa sediaan
Echinaceae menunjukkan adanya peningkatan kerja makrofag di mana sediaan fresh pressed
juice dan dried juice dari bagian aerial dapat menstimulasi pembentukan sitokin termasuk IL-
1, IL-10, dan TNFα. Selain itu, pemurnian polisakarida induce produksi dari IL-1 dan
polisakarida dari arabinogalaktan mampu induce TNFα dan INFβ2 oleh makrofag.
Penggunaan ekstrak herb 100µl 2 dd1 (dengan kandungan cichoric acid, polisakarida, dan
alkalamida) mampu menstimulasi aktivitas fagositosis makrofag. Inhibisi dari aktivitas
hyaluronidase, stimulasi aktivitas korteks adrenal, dan stimulsi produksi properdin (serum
protein yang bisa menetralisasi bakteri dan virus) juga ditemukan dalam Echinaceae. Inhibisi
jaringan dan hyaluronidase bakterial dengan cara lokalisasi infeksi dan mencegah penyebaran
agen kausatif ke bagian lainnya.

3.1.1.2.3 Dosis

3 gram/day

3.1.1.2.4 Sediaan

Powdered, galenic, liquid extract, kapsul, tablet

3.1.2 Pengobatan UTI (Relaps atau Kekambuhan)

3.1.2.1 Licorice (Glycyrrhiza glabra) (Urinary Tract Demulcents) (Barnes et al., 2007;
Bone, 2013; WHO, 1999)

3.1.2.1.1 Kandungan

Coumarin (Glycyrin, heniarin, liqcoumarin, umbelliferone, GU-7 (3-arylcoumarin


derivative), flavonoid (Flavonols and isoflavones including formononetin, glabrin, glabrol,
glabrone, glyzarin, glycyrol, glabridin and derivatives, kumatakenin, licoflavonol,
licoisoflavones A and B, licoisoflavanone, licoricone, liquiritin and derivatives,
phaseollinisoflavan; chalcones including isoliquiritigenin, licuraside, echinatin, licochalcones
A and B, neo-licuroside), terpenoid (Glycyrrhizin glycoside (1–24%) also known as
glycyrrhizic or glycyrrhizinic acid yielding glycyrrhetinic (orglycyrrhetic) acid and
glucuronic acid following hydrolysis; glycyrrhetol, glabrolide, licoric acid, liquiritic acid and
b-amyrin), volatile oil, asam amino, lignin, etc (Barnes et al., 2007; Bone, 2013).

3.1.2.1.2 Mekanisme

Menurunkan adherensi bakterial pada dinding bladder. Selain itu, agen demulcent bisa
meringankan gejala inflamasi di urinary tract dan juga infeksi seperti cystitis. Efek
antimikrobial dari senyawa isoflavon (glabridin, glabrol, dan derivatnya) bisa digunakan pada
Staphylococcus aureus, Mycobacterium smegmatis dan Candida albican (Barnes et al., 2007;
WHO, 1999).
3.1.2.1.3 Dosis

Powdered root 1–4 g sebagai dekokta 3 dd 1, Liquorice Extract (BPC 1973) 0.6–2.0 g.
Kecuali diresepkan lainnya, dosis sehari rata-rata crude plant 5-15g, setara dengan 200-
800mg glycyrrhizin. Dosis disiapkan, dihitung sesuai kebutuhan (Bone, 2013).

3.1.2.1.4 Sediaan

Crude plant material, dried extract and liquid extract (WHO, 1999)

3.1.2.2 Crataeva (Crataeva nurvala) (Bladder Tonic) (Patil, 2011; Mills, 2005)

3.1.2.2.1 Kandungan

Sterol (lupeol, pentacyclic triterpen), flavonoid, glukosinolat, glukoparin (pada bagian


stem bark), varunaol, spinasterol acetate, taraxasterol and 3-epilupeol, diosgenin, alkaloid
cadabicine dan cadabcine diacetate.

3.1.2.2.2 Mekanisme

Meningkatkan tonus bladder dan mengurangi volume residual di bladder yang


mengurangi residual bakteri di bladder, sebagai antimicotik pada Candida spp.

3.1.2.2.3 Dosis

5,5-8,5 g/day dried bark sebagai dekokta; 6-14 ml/day dari 1:2 liquid extract yang setara
dengan sediaan tablet atau kapsul

3.1.2.2.4 Sediaan

Dried bark sebagai dekokta, liquid extract, tablet, kapsul

3.1.2.3 Buchu (Agathosma betulina (Bergius) Pill.) (Urinary Tract Antiseptic) (Barnes et
al., 2007; Bone, 2013)

3.1.2.3.1 Kandungan

Essential oil, terdiri dari monoterpen diosphenol; limonene, (−)-isomenthone, (+)-


menthone, (−)pulegone, terpinen-4-ol dan sulfur dengan p-menthan-3-on-8-thiol; Flavonoids
(diosmin and rutin).
3.1.2.3.2 Mekanisme

Disinfeksi saluran kemih dan bertindak sebagai diuretik. Ekstrak alkohol pada buchu bisa
melawan microfloral pada UTI.

3.1.2.3.3 Dosis

3-6 g/day daun kering atau infusa; 2- 4 mL/day 1:2 liquid extract, 5-10 mL/day 1:5
tincture.

3.1.2.3.4 Sediaan

Daun kering sebagai dekokta, liquid extract, tincture, tablet, dan kapsul.

3.1.2.4 Andrographis (Andrographis paniculata) (Immune Enhancher saat cystitis akut)


(Bone, 2013; WHO, 1999)

3.1.2.4.1 Kandungan

Diterpenoid lactones, andrographolida, aglikon, glukosida (neoandrographolide,


andrographiside), diterpen dimer, flavonoid, xanthones (di akar)

3.1.2.4.2 Mekanisme

Sebagai antibakterial, ekstrak etanol dapat menghambat pertumbuhan E. coli dan S.


aureus. Dried powder bagian aerial bisa melawan E. coli, S. aureus, S. typhi, dan Shigella sp.
Ekstraknya juga bisa menstimulasi respon imun nonspesifik yang diukur dengan indeks
migrasi makrofag dan fagositosit.

3.1.2.4.3 Dosis

6 g/day

3.1.2.4.4 Sediaan

Crude extract, kapsul, tablet, pil.


3.2 Rekomendasi Terapi untuk Pasien

3.2.1 Echinacea purpurea

Gambar 2. Echinacea purpurea (Rahardjo, 2000)

Echinacea adalah suatu genus dari 9 spesies herba yang tergolong keluarga Asteraceae.
Semua spesies herba tersebut berasal dari kawasan Amerika Utara bagian tengah dan timur.
Nama Echinacea berasal dari bahasa Yunani, echinos, artinya berduri. Dinamakan demikian
karena bagian tengah bunganya seolah memiliki duri-duri (Rahardjo, 2000).

Sebagaimana herba lainnya, kandungan kimia dalam Echinacea sangat kompleks. Semua
spesies Echinachea memiliki kandungan senyawa fenol, yang juga lazim terkandung di
tanaman lain. Spesies E. purpurea memiliki kandungan senyawa fenol jenis cichoric dan
caftaric. Rimpang spesies E. angustifolia dan E. pallida memiliki kandungan echinacoside
yang tertinggi dibanding spesies Echinacea lainnya. Senyawa jenis alkilamida dan
polisakarida juga terkandung di dalam Echinacea (James, 2012).

Tumbuhan Echinacea yang digunakan sebagai obat adalah akarnya. Echinacea


purpurea dan E. pallid digunakan sebagai imunostimulan dan dalam pengobatan infeksi
pernapasan. Kedua spesies dimanfaatkan untuk pembuatan produk farmasetik dan terdapat
sejumlah data mengenai efikasinya. Spesies lain juga digunakan, tetapi tidak cukup data yang
tersedia untuk memvalidasi penggunaannya. Kandungan zat aktif tidak diketahui. Oleh
karena itu, ekstrak kedua spesies ini di pasaran (dan biasanya dianggap aktif secara
farmakologis) dapat digolongkan sebagai tipe C. Kandungan yang menonjol adalah turunan
asam kafeat (sekitar 1%), terutama ekinakosida (E.pallida), asam sikorat (E.purpurea),
alkamida (E.purpurea), sejumlah kecil minyak atsiri dan polisakarida (keduanya dari spesies
Echinacea spp) (Heinrich, 2009).
Echinacea adalah tanaman obat tradisional yang tumbuh di Eropa dan Amerika.
Echinacea purpurea dan polisakarida murni Echinasea memperlihatkan efek aktivitas
imunostimulator pada tikus dan manusia. Echinacea mengaktivasi makrofag dan sel NK yang
ditandai dengan sitokin (TNF-α, IL-1, IL-6), aktivasi fagositosis, proliferasi seluler, dan
mempunyai kemampuan membunuh sel tumor, mengeliminasi bakteri dan jamur patogen in
vitro (Rininger et al., 2000).

NO berdifusi keluar dan menuju ke sel yang terinfeksi, kemudian bereaksi dengan
beberapa makromolekul penting yang mempunyai inti besi-sulfur seperti aconitase, kompleks
I dan II dari rantai transport elektron mitokondria, dan juga menghambat ribonukleotida
reduktase yang penting untuk sintesis DNA. Dengan demikian sintesis DNA dan proliferasi
sel terhambat. Melalui mekanisme inilah makrofag dapat menghambat proliferasi yang cepat
dari sel tumor dan bakteri intraseluler. makrofag dapat menghambat poliferasi yang cepat dari
sel tumor dan bakteri intraseluler (Resno, 2001).

3.2.1.1 Mekanisme Kerja

Jurnal “Applications of the Phytomedicine Echinaceapurpurea (Purple Coneflower) in


Infectious Diseases” telah menunjukkan bahwa beberapa ekstrak Echinacea jelas
mengandung senyawa, atau kombinasi dari senyawa, dengan kemampuan untuk berinteraksi
secara khusus dengan virus dan mikroba. Selain itu, ekstrak ini dapat mempengaruhi berbagai
jalur sinyal sel epitel dan menghambat virus / bakteri yang disebabkan sekresi sitokin /
kemokin dan mediator inflamasi lainnya yang bertanggung jawab untuk gejala paru. Karena
banyak jalur sinyal dapat dipengaruhi oleh Echinacea dalam tipe sel yang berbeda, termasuk
sel-sel kekebalan tubuh, dapat dibayangkan bahwa efek menguntungkan secara keseluruhan
karena kombinasi senyawa tertentu bekerja secara sinergis. Contoh sinergisme dalam
pengobatan herbal telah dijelaskan dan dalam beberapa kasus divalidasi eksperimental, dan
ada kemungkinan bahwa Echinacea tertentu juga menampilkan sinergisme (James, 2012).
3.2.2 Crataeva nurvala Buch-Ham (Varuna)

Gambar 3. Crataeva nurvala Buch-Ham (Bhattarjee et al., 2012)

Crataeva nurvala Buch-Ham C. (nurvala) berasal dari family Capparidaceae umumnya


disebut juga Varuna, adalah tanaman asli India. Tanaman varuna tumbuh di daerah beriklim
panas dan di tempat teduh. Daun Crataeva nurvala Buch-Ham berukuran sedang, panjang
kulitnya 6-15 cm dan lebar 3-10 cm dengan ketebalan yang bervariasi dari 5-15 mm.
Permukaan luar kulit kayu berwarna abu-abu sampai coklat keabu-abuan dan kasar karena
adanya beberapa lentisel kecil dan bulat. Permukaan bagian dalam halus dan berwarna
keputihan-coklat sampai berwarna buff. Bunga berwarna putih atau krem. Buah berbentuk
bulat telur dengan diameter 2,5 cm dan memiliki banyak biji (Bhattarjee et al., 2012).

Kandungan senyawa pada tanaman Crataeva nurvala Buch-Ham di antaranya


triperpenoid, saponin, flavonoid, fitosterol, alkaloid dan glukosilinat. Phytoconstituents
seperti Lupeol dan asetatnya, ceryl alcohol, friedelin, cadabicine Diasetat, asam betulinat dan
diosgenin telah diisolasi dari kulit batang. Buah mengandung glucocapparin, Triacontanol,
cetyl dan ceryl alcohol. Daun menunjukkan adanya L-stachydrine, dodecanoic anhydride,
Metil pentasosanoat, kaemferol-0-α-D-glukosida dan quercitin-3-0-α-D-glukosida. Kulit akar
mengandung Rutin, quercitin, varunol dan β-sitosterol (Bhattarjee et al., 2012).

Kulit batang C. nurvala (Crataeva Bark) bersifat kontrasepsi dan sitotoksik terutama
berguna dalam gangguan kencing, batu kandung kemih ginjal, demam, muntah dan iritasi
lambung (Khattar dan Ankita, 2012). Ekstrak kloroform dari kulit batang C. nurvala
ditemukan efektif terhadap bakteri gram positif (B. cereus) dan gram Negatif (E. coli) yang
memediasi infeksi saluran kencing dan prostatasis pada konsentrasi hambat minimum (MIC)
62,5 Gml. Potensi diuretik NR-AG-II, poli-herbal formulasi yang mengandung ekstrak air C.
nurvala secara in-vivo hasilnya sebanding dengan standar Furesemide PR-2000 (C. nurvala
mengandung formulasi herbal) di Dosis 2 tablet tiga kali sehari selama enam bulan
menunjukkan peningkatan kecepatan aliran puncak urin (Bhattarjee et al., 2012).

Senyawa utama penyusun kulit crataeva (Crataeva Bark) termasuk sterol (terutama
lupeol, triterpen pentasiklik) dan flavonoid. Keluarga capparidaceae ditandai dengan adanya
glukosinolat dan glucocapparin/glukokalemin yang telah diisolasi dari kulit batang nurvala.
Dosis penggunaan C. nurvala sebagai tonik kandung kemih adalah 6-14 ml/ hari, 1:2 cairan
ekstrak maupun kapsul dan 40-100 ml/minggu, 1:2 cairan ekstrak. Dosis 5,5-8,5 g/hari bila
bentuk sediaan dekokta (Mills dan Kerry, 2005).

Gambar 4. Sediaan Kapsul Crataeva Bark (Anonim, 2014)

Kapsul AyuRin Plus membantu mengatasi infeksi kandung kemih, dan juga berfungsi
sebagai antiseptik yang dapat membunuh bakteria atau virus yang mempengaruhi saluran
pembuangan air seni dan menjadi penyebab dari kerusakan jaringan di ginjal. Sebagai
tambahan, K-AyuRin Plus membantu kerja ginjal lebih efektif, dan memperlancar
pembuangan air seni dengan membantu meningkatkan volume cairan yang dikeluarkan oleh
ginjal (Anonim, 2014).

Setiap kapsul AyuRin Plus mengandung Ekstrak Tribulus terrestris 50mg, Ekstrak
Crataeva nurvala 50mg, Ekstrak Bergenia ligulata 50mg, Ekstrak Dolichos biflorus 50mg,
Ekstrak Boerhaavia diffusa 40mg, Ekstrak Vetiveria zizanioides 40mg, Ekstrak Hemidesmus
indicus 30mg, Ekstrak Akar Sida cordifolia 30mg, Ekstrak Asparagus racemosus 30mg,
Ekstrak Piper cubeba 30mg. Setiap 1 kotak berisi 30 kapsul atau 1 kotak berisi 60 kapsul.
Untuk mengatasai Cystitis (infeksi saluran kemih) dosis yang digunakan dalam sehari 2 x 2
kapsul sesudah makan, bertujuan untuk mengurangi rasa sakit pada saat peradangan dan
melancarkan pembuangan cairan air dari ginjal (Anonim, 2014).
3.2.3 Glycyrrhiza glabra (Akar Manis)

Glycyrrhiza glabra atau yang biasa dikenal dengan Licorice memiliki daun yang
menyirip, tingginya mencapai 3-7 kaki. Banyak terdapat pada daerah tropis. Akarnya dipakai
pada umur 3-4 tahun dari tanaman yang tidak berbuah (Luper, 1999).

Gambar 5. Glycyrrhiza glabra (Akar Manis) (Luper, 1999)

Tanaman yang tumbuhnya rendah, mempunyai daun yang banyak, bunganya berbentuk
duri aksial bewarna lavender sampai ungu. Serbuk sarinya berbentuk seperti ginjal. Memiliki
daun yang menyirip, tingginya mencapai 3-7 kaki pada daerah tropis. Akarnya dipakai pada
umur 3-4 tahun dari tanaman yang tidak berbuah. Secara tradisional digunakan untuk terapi
peptik ulcers, asma, faringitis, malaria, nyeri perut, infeksi virus, demulcent. Banyak
dimanfaatkan sebagai ekspektoran, antitusif, dan laksatif. Selain itu juga digunakan sebagai
perasa. Komponen aktif dari akar manis adalah triterpene glycoside glycyrrhizin (glisirizin),
biasa dikenal dengan glycyrrhizic acid atau glycyrrhetinic acid (Luper, 1999).

Gambar 6. Struktur Kimia Glycyrrhiza glabra (Luper, 1999)

Komponen lain dalam akar manis adalah flavonoid (liquiritin dan isoliquiritin),
isoflavonoid (isoflavonol, kumatakenin, licoricone, dan glabrol), kalkon, kumarin
(umbeliferon, herniarn), triterpenoid, saponin, dan fitosterol. Glycyrrhizin dalam akar manis
sebesar 6-14%. Glisirizin memberikan rasa manis 50x lebih manis dari sukrosa (Luper,
1999).

3.2.3.1 Aktivitas Antibakteri

Karena punya senyawa metabolit sekunder seperti saponin, alkaloid dan flavonoid pada
ekstrak akar licorice, ekstraknya mempunyai efek antibakteri (Sharma, 2013). Studi in vitro
menyatakan bahwa ekstrak aqueous dan etanol menunjukkan aktivitas menghambat
pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus dan Streptococcus pyogenes (Alonso, 2004).

3.2.3.2 Aktivitas Antivirus

Dilaporkan bahwa ekstrak akar manis menghambat pertumbuhan virus, termasuk herpes
simpleks, varicella zoster, dan ensefalitis Jepang, virus influenza, virus stomatitis vesikular,
virus influenza tipe A. Glycyrrhizin akan mengikat sel viurs. Dengan demikian, ditemukan
memiliki aktivitas antiviral yang menonjol. Ini sebelumnya telah digunakan dalam
pengobatan HIV-1 dan hepatitis C kronis. Studi terbaru tentang dua isolat klinis virus SARS
(Severe Acute Respiratory Syndrome virus) [FFM-1 dan FFM-2] memberi wawasan berharga
tentang aktivitas anti-virus. Penelitian tentang aktivitas antivirus ribavirin, 6-azauridin,
pirazofurin, asam mycophenolic dan glycyrrhizin membuktikan bahwa glycyrrhizin adalah
yang paling efisien dalam mengendalikan replikasi virus. Dengan demikian, ini bisa menjadi
ukuran profilaksis yang baik. Glycyrrhizic acid ditemukan memiliki efek khas terhadap virus
herpes terkait sarkoma Kaposi (KSHV) seperti yang ditemukan pada penelitian in vitro.
KSHV juga menjadi laten pada sel yang terinfeksi sama seperti virus herpes lainnya. Sebagai
konsekuensinya, pemberantasan virus secara lengkap menjadi sulit. Hal ini membuktikan
bahwa glychyrrhizic acid dapat menghentikan infeksi laten KSHV ketika semua obat saat ini
ditemukan tidak efektif terhadap infeksi laten. Glycyrrihizic acid menurunkan ekspresi
latency associated nuclear antigen (LANA) pada limfosit B. Hal ini menyebabkan kematian
sel alami (apoptosis) virus KSHV (Curreli et al., 2005).
3.2.4 Vaccinium macrocarpon (Cranberry)

Gambar 7. Vaccinium macrocarpon (Cranberry) (Yarnell, 2002)

Vaccinium macrocarpon (cranberry) merupakan tanaman yang termasuk dalam family


Ericaceae, yang berasal dari Amerika Utara dan Kanada Timur. Selain digunakan sebagai
makanan, cranberry diketahui memiliki efek dalam mengatasi urolithiasis dan beberapa
kondisi lain dan jus cranberry diketahui digunakan untuk mencegah terjadinya infeksi saluran
kemih yang berulang (Yarnell, 2002).

Cranberry terdiri dari 88% air dan campuran kompleks dari asam organic, vitamin c,
flavonoid, antosianin, katekin, dan triterpenoid. Setidaknya 14 asam organic teridentifikasi
terkandung pada cranberry, fraksi hydrofilik dari jus cranberry diketahui mengandung quinic
malic, shikimic, dan asam sitrat dengan konsentrasi 2.67-3.57% w/v dan setidaknya 22 tipe
flavonoid teridentifikasi dalam cranberry dimana quercetin dan myricetin yang paling
dominan ditemukan. Cranberry juga mengandung tannin (anthocyanidins dan
proanthocyanidins) yang diketahui memiliki efek dalam melawan mikroba. Cranberry
digunakan sebagai profilaksis dalam mengatasi kekambuhan infeksi saluran kemih. Dosis jus
cranberry yang dianjurkan sebagai profilaksis infeksi saluran kemih yakni 200ml dua kali
sehari (Guay, 2009).

3.2.4.1 Efek Antimikroba

Mekanisme cranberry sebagai antibakteri ditemukan lebih dari 20 tahun yang lalu.
Cranberry diketahui mengandung proanthocyanidins yang dapat menghambat Escherichia
coli dan mikroba lainnya di epitelium saluran kemih. Selain itu, senyawa ini juga dapat
menghambat H. pylori di mukosa lambung. Senyawa proanthocyanidins diketahui dapat
mengganggu ikatan bakteri tipe 1 dan P fimbriae di kedua lumen saluran kemih dengan
mencegah adesi dari uropatogen (Proteus spp., Pseudomonas spp., dan E. coli) di sel
epithelial saluran kemih. Tanpa adesi, bakteri tidak dapat menginfeksi permukaan mukosa.
Secara in vitro, adesi dimediatori oleh 2 komponen cranberry (fruktosa yang dapat
menghambat fimbrie tipe 1 dan PAC yang menghambat p-fimbriae) yang menghasilkan
gangguan ikatan dari bakteri pada kandung kemih dan gut (Abascal dan Eric, 2008).

Pada uji double blind skala besar, 153 wanita dengan rata-rata usia 78 tahun yang
terjangkit bakteriuria dan pyluria yang diberikan 300ml jus cranberry dengan pemanis
saccharin per hari dan jus placebo, diproleh data dimana wanita yang mengkonsumsi jus
cranberry menghasilkan urin yang steril dibandingkan dengan yang mengkonsumsi jus
placebo. Uji ini tidak menunjukkan efek protektif dari cranberry dalam mengatasi kolonisasi
bakteri baru, namun hanya mengkonversi statusnya dari kolonisasi menjadi non kolonisasi
(Abascal dan Eric, 2008).

3.2.4.2 Efek dalam Mengasamkan Urin

Berdasarkan uji klinis, diketahui cranberry efektif dalam mengatasi cystitis dikarenakan
memiliki efek dalam mengasamkan urine. Cranberry mengandung asam benzoate yang
dikonversi menjadi asam hippuric di urine yang kemungkinan berperan sebagai antimikroba.
Diketahui dengan mengkonsumsi setidaknya 1500 ml jus cranberry sehari dapat
mempertahankan pH urine secara konstisten pada rentang pH 5.5 (Abascal dan Eric, 2008).

4. Pembahasan

Infeksi saluran kemih (ISK) adalah infeksi bakteri yang mengenai bagian dari salura
kemih. Ketika mengenai saluran kemih bawah dinamai sistitis (infeksi kandung kemih)
sederhana, dan ketika mengenai saluran kemih atas dinamai pielonefritis (infeksi ginjal).
Gejala dari saluran kemih bawah meliputi buang air kecil terasa sakit dan sering buang air
kecil atau desakan untuk buang air kecil (atau keduanya), sementara gejala pielonefritis
meliputi demam dan nyeri panggul di samping gejala ISK bawah. Pada orang lanjut usia dan
anak kecil, gejalanya bisa jadi samar atau tidak spesifik. Kuman tersering penyebab kedua
tipe tersebut adalah Escherichia coli, tetapi bakteri lain, virus, maupun jamur dapat menjadi
penyebab meskipun jarang (Geetha et al., 2011).

Infeksi saluran kemih lebih sering terjadi pada perempuan dibandingkan laki-laki, dengan
separuh perempuan mengalami setidaknya satu kali infeksi selama hidupnya. Kekambuhan
juga sering terjadi. Faktor risikonya antara anatomi perempuan, hubungan seksual, dan
riwayat keluarga. Pielonefritis, bila terjadi, biasanya ditemukan setelah infeksi kandung
kemih namun juga dapat diakibatkan oleh infeksi yang ditularkan melalui darah. Diagnosis
pada perempuan muda yang sehat dapat didasarkan pada gejalanya saja. Pada orang dengan
gejala yang samar, diagnosis mungkin sulit karena bakteri mungkin ditemukan tanpa
menyebabkan infeksi. Pada kasus yang kompleks atau apabila pengobatan gagal, kultur urin
mungkin dapat bermanfaat. Pada orang yang sering mengalami infeksi, antibiotik dosis
rendah dapat dikonsumsi sebagai langkah pencegahan (Geetha et al., 2011).

Dalam kasus yang tidak kompleks, infeksi saluran kemih mudah diobati dengan antibiotik
jangka pendek, walaupun resistensi terhadap banyak antibiotik yang digunakan untuk
mengobati kondisi ini cenderung meningkat. Dalam kasus yang kompleks, antibiotik dalam
jangka waktu lebih panjang atau intravena mungkin diperlukan, dan bila gejala belum
membaik dalam dua atau tiga hari, diperlukan pemeriksaan diagnostik lebih lanjut. Pada
perempuan, infeksi saluran kemih adalah infeksi bakteri yang paling sering ditemukan, yaitu
10% mengalami infeksi saluran kemih setiap tahun (Geetha et al., 2011).

Pada kasus pasien dapat diberikan beberapa tanaman herbal yang dapat membantu untuk
penyembuhan dari pasien tersebut yaitu Echinacea purpurea, Hydrastis canadensis (Golden
seal), Glycyrrhiza glabra (akar manis), dan Cranberry.

 Echinacea purpurea (Kathleen dan Head, 2008)

Interaksi obat : Kebanyakan interaksi antara ramuan dan obat belum diteliti secara hati-
hati. Echinacea ditunjukkan menurunkan tingkat beberapa obat antiretroviral (ARV) dalam
darah. Namun belum ada interaksi yang terbukti bermakna atau yang membutuhkan
penyesuaian takaran.

Efek samping obat : Tidak diketahui efek samping dari penggunaan echinacea melalui
mulut atau pada kulit. Peringatan mengenai dampak negatif dari penggunaan echinacea oleh
orang dengan masalah kekebalan berdasarkan penelitian dalam laboratorium. Belum ada
penelitian terhadap manusia yang menemukan efek samping tersebut.

Kelebihan dan kekurangan : Banyak sekali kandungan kimia yang terdapat dalam
echinacea, yaitu polisakarida, termasuk arabimosa, xylosa, galaktosa, glukosa dan asam
glukuronat. Echinacea juga mengandung minyak esensial, glikoprotein, poliasetilen, betain,
glikosida, seskuiterpen, dan cariophylen. Kandungan kimia lain yaitu echinachen, echinacein,
echinolone, echinacoside, echinacin, tanin, vitamin C, A, dan E, inulin, inuloid, betaine, asam
lemak, asam oleat, dan protein.

Echinacea memiliki berbagai fungsi yang bermanfaat bagi kesehatan, antara lain:

1. Meningkatkan sistem imun untuk melawan infeksi

2. Mencegah dan mengobati influenza, common cold, bronchitis, dll

3. Pendapat lainnya mengatakan bahwa Echinacea dapat mengobati luka pada kulit dan
permasalahan kulit lainnya seperti jerawat dan bisul.

Echinacea juga tidak boleh digunakan dalam jangka waktu panjang yaitu tidak boleh
lebih dari delapan minggu karena dapat menyebabkan sistem imun tubuh menjadi menurun.
Echinacea hanya mempunyai efektivitas pada pemberian 1-2 minggu.

Alasan pemilihan : Akar echinacea ini dipilih karena sebagai peningkat sistem imun
sehingga dapat mengurangi kecenderungan terjadinya infeksi.

Bentuk dan kekuatan sediaan : 3 gram/hari akar echinacea kering, untuk mencegah
berulangnya crystitis pasien.

 Hydrastis canadensis (Golden Seal) (Kathleen dan Head, 2008)

Interaksi obat : Jika Anda mengonsumsi obat lain atau produk toko pada waktu
bersamaan, efek dari Ginger/Golden Seal dapat berubah. Ini dapat meningkatkan resiko Anda
untuk efek samping atau menyebabkan obat Anda tidak bekerja dengan baik. Katakan pada
dokter Anda tentang semua obat, vitamin, dan suplemen herbal yang Anda gunakan, sehingga
dokter Anda dapat membantu Anda mencegah atau mengatur interaksi obat. Ginger/Golden
Seal dapat berinteraksi dengan obat dan produk berikut ini: Aspirin, Clopidogrel, Dalteparin,
dan Warfarin.

Efek samping obat : Berikut adalah daftar efek samping yang memungkinkan yang
dapat terjadi dalam obat-obat yang mengandung Ginger/Golden Seal. Ini bukanlah daftar
yang komprehensif. Efek-efek samping ini memungkinkan, tetapi tidak selalu terjadi.
Beberapa efek samping ini langka tetapi serius. Konsultasi pada dokter Anda jika Anda
melihat efek samping berikut, terutama jika efek samping tidak hilang, Mulas, Diare, Perut
ketidaknyamanan.
Alasan pemilihan : Digunakan sebagai terapi apabila terjadi kekambuhan sistitis pasien,
golden seal ini untuk terapi sama seperti golongan lainnya seperti cranberry yaitu memiliki
grade C sebagai terapi infeksi.

Bentuk dan kekuatan sediaan : 0,5 – 1 gram akar dan rimpang kering 3 kali sehari.

 Glycyrrhiza glabra (Akar Manis) (Adam, 1997)

Interaksi obat : Jika mengonsumsi obat lain atau produk toko pada waktu bersamaan,
efek dari Licorice Extract / Niacinamide dapat berubah. Ini dapat meningkatkan resiko untuk
efek samping atau menyebabkan obat tidak bekerja dengan baik. Katakan pada dokter tentang
semua obat, vitamin, dan suplemen herbal yang digunakan, sehingga dokter dapat membantu
mencegah atau mengatur interaksi obat. Licorice Extract/Niacinamide dapat berinteraksi
dengan obat dan produk berikut ini: Allopurinol, Anti-diabetic drugs, Atorvastatin,
Carbamazepine, Cholestyramine, Clonidine, Primidone, Probenecid, Sulfinpyrazone.

Efek samping obat : Kandungan glycyrrhizin dalam licorice biasanya yang


dikhawatirkan akan menyebabkan seseorang terlalu sensitif terhadap hormon yang ada di
korteks adrenal karena kandungannya terlalu banyak. Efek samping dari kelebihan hormon
ini menyebabkan seseorang menjadi pusing, lelah, tekanan darah menjadi tinggi, dan kena
serangan jantung. Licorice juga menyebabkan menumpuknya cairan sehingga menyebabkan
bagian tubuh menjadi membengkak.Tak hanya glycyrrhizin dalam jumlah banyak saja, kadar
glycyrrhizin dalam jumlah sedikit juga mampu membuat orang mengalami nyeri otot serta
mati rasa pada lengan dan kaki. Penderita gagal jantung, penyakit jantung, kanker yang
sensitif terhadap hormon seperti kanker payudara atau kanker rahim, hipertensi, diabetes,
gagal ginjal, hipokalemia, disfungsi ereksi, serta penyakit liver sebaiknya menghindari
licorice.

Kelebihan dan kekurangan : Licorice mengandung banyak nutrisi yang bermanfaat


untuk kesehatan serta kaya akan flavonoid. Licorice merupakan salah satu jenis tumbuhan
yang kaya akan vitamin B1, B3, B5, dan vitamin E. licorice juga mengandung banyak
mineral penting, seperti fosfor, kalsium, zat besi, kolin, magnesium, kalium, selenium, silicon
serta seng. Senyawa lainnya yang juga terkandung dalam licorice, meliputi glycyrrhizin, beta-
karoten, glabridin, timol, isoliquiritigenin, fenol, asam ferulat serta quercitin.salah satu
manfaat licorise yaitu :
 Mencegah dan mengobati sariawan

Licorice mampu mencegah dan mengobati sariawan berulang yang sering terjadi pada
jaringan dalam mulut maupun gusi. Licorice mampu mengurangi rasa sakit serta peradangan
yang terjadi ketika mengalami sariawan. Selain itu, licorice juga akan mempercepay
penyembuhan sariawan dan meningkatkan system kekebalan tubuh.

 Melindungi organ hati

Licorice juga mampu melindungi kesehatan organ hati. Licorice mengandung


glycyrrhizin yang mampu mengurangi racun serta membantu fungsi organ hati tetap stabil.
Selain itu licorice juga mengandung flavonoid yang memiliki sifat antioksidan serta
menghambat penumpukan lemak pada organ hati. Umumnya gangguan serta kerusakan pada
hati disebabkan oleh adanya stress oksidatif.

 Mencegah gangguan perut

Adanya kandungan glycyrrhizin dalam licorice membuat licorice mampu melindungi


tubuh kita dari pertumbuhan bakteri Helicobacter pylori. Pencegahan pertumbuhan bakteri
Helicobacter pylori mampu menyembuhkan berbagai macam gangguan pada pencernaan.

 Mencegah arthritis rheumatoid

Ekstrak licorice juga memiliki sifat anti-inflamasi. Maka dari itu, licorice telah digunakan
dalam hal mengobati arthritis rheumatoid. Licorice kemungkinan memiliki manfaat dalam
mengurangi kadar sitokin yang menyebabkan inflamasi serta membantu mengurangi rasa
sakit maupun pembengkakan yang terjadi.

 Memperbaiki hormone

Licorice mampu memperbaiki masalah hormonal, seperti mengurangi gejala menopause


maupun mengurangi rasa sakit akibat dari pramenstruasi sindrom. Licorice mengandung
isoflavon yang mampu menjaga keseimbangan kadar hormone dalam tubuh. Mengkonsumsi
licorice bahkan mampu mengurangi hot flashes dan meningkatkan kesehatan fisik maupun
prikologis pada wanita menopause.

 Mencegah kanker
Licorice juga dapat kita gunakan untuk mencegah kanker. Akar licorice mampu
menghambat pertumbuhan sel kanker pada manusia. Licorice mengandung flavonoid seperti
isoliquiritigenin yang mampu menekan pertumbuhan sel bersifat karsinogenik.
Mengkonsumsi licorice juga mampu mengurangi keracunan akibat obat-obat kemoterapi dan
ikut menghambat produksi sel-sel kanker. Ekstrak licorice mampu mencegah kanker
payudara, kanker kolon serta kanker prostat.

 Mencegah infeksi

Licorice mengandung glycyrrihizic yang snagat efektif dalam mencegah berbagai jenis
infeksi karena jamur, virus maupun bakteri. Licorice memiliki sifat antivirus yang juga
mampu menekan pertumbuhan virus herpes dan berbagai virus lainnya yang berbahaya bagi
kesehatan.

Penggunaan dalam dosis besar melebihi sebulan pemakaian kemungkinan tidak aman.
Efek samping yang bisa ditimbulkan dari pemakaian dalam jangka waktu tersebut seperti
detak jantung tidak teratur, hipertensi, kadar kalium tubuh menjadi rendah (hipokalemia)
sehingga membuat badan lemas, kelumpuhan, dan kerusakan otak.

Efek samping lain yang mungkin bisa terjadi akibat mengonsumsi licorice antara lain:

- Sakit kepala.

- Kelelahan.

- Gangguan menstruasi.

- Retensi air dan sodium.

- Penurunan gairah seksual pada pria.

Alasan pemilihan : Glycyrrhiza glabra digunakan sebagai pencegahan juga agar tidak
terjadi cystitis berulang pada pasien, licorice mengandung senyawa yang dapat menurunkan
bakteri yang akan menempel di dinding kandung kemih sehingga mencegah terjadinya
cystitis.

Bentuk dan kekuatan sediaan : 5-15 gram akar kering sehari sekali, setara dengan 200-
600 glycyrrhizin, 2-4 gram dosis tunggal, setelah makan.
 Cranberry (Kathleen dan Head, 2008)

Interaksi obat : Dalam sebuah penelitian, pasien yang meminum omeprazole dengan jus
cranberry memiliki peningkatan penyerapan vitamin B12 dibandingkan dengan yang
mengonsumsi omeprazole dengan air. Tidak ada interaksi yang diketahui antara jus cranberry
dengan anti mikroba kecuali dalam kondisi gangguan pengasaman urin.

Efek samping obat : Berikut adalah daftar efek samping yang memungkinkan yang dapat
terjadi dalam obat-obat yang mengandung Cranberry Fruit Extract. Ini bukanlah daftar yang
komprehensif. Efek-efek samping ini memungkinkan, tetapi tidak selalu terjadi. Beberapa
efek samping ini langka tetapi serius. Konsultasi pada dokter Anda jika Anda melihat efek
samping berikut, terutama jika efek samping tidak hilang. Peningkatan kejadian memar,
Peradangan lambung, Asupan gula atau pembentukan batu ginjal

Kelebihan dan kekurangan : Cranberry Mengandung banyak nutrisi di antaranya


Vitamin A, Vitamin B Carotene, Vitamin C, Kalori rendah, Lutein, Folate, Potasium, dan
Magnesium membuat buah ini memiliki banyak manfaat – manfaat untuk tubuh.

Berikut ini adalah manfaat-manfaat dari buah cranberry, yaitu:

 Meningkatkan kekebalan tubuh terhadap infeksi penyakit

 Mencegah resiko kanker

 Mencegah penyakit stroke

 Menjaga kesehatan jantung

 Memperlancar peredaran darah

 Mencegah infeksi saluran kencing

 Anti pembekuan darah

 Mencegah radang gusi

 Mengurangi plak pada gigi

Kekurangan dari buah cranberry adalah buah cranberry tidak boleh dikonsumsi
bersamaan dengan obat anti pembekuan darah (warfarin) karena dapat menyebabkan kulit
menjadi memar.
Alasan pemilihan : Cranberry digunakan untuk pencegahan agar cystitis pasien tidak
terjadi berulang, dan sebagai pencegahan ini memiliki grade B dibandingkan dengan
golongan yang lainnya, namun apabila digunakan sebagai terapi justru gradenya termasuk C.

Bentuk dan kekuatan sediaan : Cocktail Cranberry: 90 - 150 ml atau 3-16 ons cairan
dua kali sehari.Jus cranberry: 15 - 30 ml sehari.Jus cranberry bubuk terenkapsulasi: 300-400
mg kapsul, 2 x sehari.Cranberry segar atau beku: 1,5 ons, 2 kali sehari.

5. Penutup

5.1 Kesimpulan

Pasien diduga mengalami uncomplicated UTI dengan berbagai factor antara lain pasien
memasuki usia matang untuk melakukan hubungan seksual sehingga bisa menjadi mediasi
berpindahnya koloni bakteria setelah melakukan intercourse. Terapi yang digunakan oleh
pasien dapat menggunakan cranberry sebagai pencegahan UTI masuk ke dalam grade B,
sedangkan untuk pengobatan UTI masuk grade C. Dosis yang diberikan untuk pencegahan
UTI apabila dibuat jus sebesar 10-16 oz/hari sedangkan apabila bentuk kapsul sebesar 400
mg sehari dua kali. Kekambuhan Cystitis pada pasien juga dapat diobati menggunakan
Crateva bark sebagai bladder tonics, diberikan dalam bentuk dekokta 5.5-8.5 ml. Sewaktu
datang ke apotek pasien menebus resep berupa nitrofurantoin 100 mg berfungsi sebagai
antibiotic, padahal pasien juga menggunakan cranberry sebagai prevensi UTI. Sehingga
farmasis perlu menginformasikan untuk menghentikan pengunaan antibiotic karena dapat
memicu terjadinya complicated UTI, dan tidak ada indikasi yang jelas. Apabila pasien
terlanjur meminumnya (menebus resep ulangan) maka antibiotic diminum sampai habis
kemudian dihentikan konsumsinya.

5.2 Saran

Saran kepada pasien terkait pencegahan infeksi saluran kemih dapat dilakukan dengan
menjaga kebersihan vaginal dengan tidak menggunakan pakaian ketat, rajin mengganti
pakaian dalam sehari dua kali, membasuh kemaluan dari arah depan ke belakang, tidak
menggunakan produk kewanitaan pada kemaluan karena dapat mengubah pH kemaluan serta
apabila selesai melakukan intercourse disarankan untuk segera mandi (membersihkan diri)
guna untuk mencegah perpindahan koloni bakteri.
DAFTAR PUSTAKA

Abascal, Kathy dan Eric Yarnell. 2008. Botanical Medicine for Cystitis, 14(2):69-77.
DOI:10.1089/act.2008.14203.

Adam, L. 1997. In Vitro Antiviral Activity of Indigenous Glycyrrhizin, Licorice and


Glycyrrhizic Acid (Sigma) on Japanese Encephalitis Virus. J Commun Dis 29(2):91-99.

Alonso, J. 2004. . www.fitoterapia.net. Barcelona:


Corpus; 905-911.

Anonim, 2014. Gangguan Saluran Kemih dan Ginjal. http://www.klinkstore.com. Diakses


pada tanggal 06 Mei 2017.

Barnes, J., Anderson, L. A., Phillipson, J. D. and Newall, C. A. 2007. Herbal Medicines (Vol.
459). London: Pharmaceutical Press.

Bhattarjee, A., Shastry C., Shashidhara, Aswathanarayana. 2012. Phytochemical and Ethno-
Pharmacological Profile of Crataeva nurvala Buch-Hum (Varuna): A review.
Document heading DOI: 10.1016/S2221-1691(12)60379-7.2012 by the Asian Pacific
Journal of Tropical Biomedicine.

Bint, B. 2003. Penyakit Infeksi Saluran Kencing; Sistitis dan Pielonefritis in Dasar Biologis
Klinis Penyakit Infeksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Bone, Kerry dan S. Mills. 2013. Principles and Practive of Phytotheraphy. Modern Herbal
Medicine. Churcill Livingstone.

Curreli, F, Friedman K, A Flore O. 2005. Glycyrrhizic Acid Alters Kaposi Sarcoma-


Associated Herpesvirus Latency, Triggering p53 Mediated Apoptosis in Transformed B
Lymphocytes. J Clin Invest 2005; 115:642-52.

Dipiro, J. T., Talbert, R. L., Yee, G. C., Wells, B. G. and Posey, L. M. 2008.
Pharmacotherapy A Pathophysiologic Approach. McGrawHill/Appleton & Lange.

Fish, D. N. dan Sahai, J. V. 2001 Urinary Tract Infection, in Koda Kimble, M. A., Yee
Young, L., Kradjan, W. A., Guglielmo, B. J. (Eds), Applied Therapeutics, 7th Edition,
Book 2, 62.1-62.22, Lippicott William and Wilkins, USA.
Geetha, R. V. Roy, Anitha dan T, Lakshmi. 2011. ’ W p n against Urinary Tract
Infections. International Journal of Drug Development & Research. July-September; 3
(3) ISSN 0975-9344.

Guay, David R. P. 2009. Cranberry and Urinary Tract Infections. Drug; 69(7): 775-807.

Heinrich, Michael. 2009. Farmakognosi dan Fitoterapi. Jakarta: EGC.

Howell, A. B., Reed, J. D., Krueger, C. G., Winterbottom, R., Cunningham, D. G., & Leahy,
M. 2005. A-type Cranberry Proanthocyanidins and Uropathogenic Bacterial Anti-
Adhesion Activity. Phytochemistry, 66(18), 2281-2291.

James, B. Hudson. 2012. Applications of the Phytomedicine Echinacea purpurea (Purple


C n fl w ) n In D . Journal of Biomedicine and Biotechnology Volume
2012:16.

Jawetz, E. et al. 1991. Medical Microbiology, 19th ed. Appleton and Lange. Norwalk:
Connecticut/San Mateo Californiam.

Kathleen, A., Head, N. D. 2008. Natural Approaches to Prevention and Treatment of


Infections of the Lower Urinary Tract. Alternative Medicine Review Vol (13); Num
(3).

Khattar, V., Ankita Wal. 2012. Utilities of Crataeva Nurvala. Institute of Pharmacy, Pranveer
Singh International Journal of Pharmacy and Pharmaceutical Sciences ISSN- 0975-
1491. Institute of Technology, Kanpur, U.P, India Vol 4, Suppl 4.

Luper, Scott. 1999. A Review of Plants Used in the Treatment of Liver Disease: Part Two.
Southwest College of Naturopathic Medicine.

Mills, S., and Bone, K. 2005. The Essential Guide to Herbal Safety. Elsevier Health Sciences.

Patil, U. H., and Gaikwad, D. K. 2011. Medicinal Profile of a Scared Drug in Ayurveda:
Crataeva religosa. J Pharm Sci & Res, 3, 923-929.

Rahardjo, M. 2000. Echinacea Tanaman Obat Introduksi Potensial. Warta Penelitian dan
Pengembangan Tanaman Industri 6(2):1-3.

Resno, S. B. 2001. Imunologi: Diagnosa dan Prosedur Laboratorium. Edisi 4. Jakarta: Balai
Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; p.1-131.
Rininger, Joseph, Kickner Shirley, Chigurupati Padmasre, McLean Anne, Franck Zsofia.
2000. Immunopharmacological Activity of Echinacea Preparations Following
Simulated Digestion on Murine Macrophages an Human Peripheral Blood
Minonuclear Cells. Journal of Leucocyte Biology 68:503-9.

Sharma, V, Agrawal R. C, Pandey S. 2013. Phytochemical Screening and Determination of


Anti-Bacterial and Anti-Oxidant Potential of Glycyrrhiza glabra Root Extracts. J
Environ Res Develop; 7(4A):1552-1558.

Upton R, Graff A, Swisher D, eds. 2002. Cranberry Fruit. Vaccinium Macrocarpon Aiton.
In: American Herbal Pharmacopeia. Santa Cruz, CA, American Herbal Pharmacopeia.

Vasileiou, I., Katsargyris, A., Theocharis, S., and Giaginis, C. 2013. Current Clinical Status
on the Preventive Effects of Cranberry Consumption Against Urinary Tract
Infections. Nutrition Research, 33(8), 595-607.

World Health Organization. 1999. WHO Monographs on Selected Medicinal Plants (Vol. 2).
World Health Organization.

Yarnell, Eric. 2002. Botanical Medicine for The Urinary Tract. World Journal of Urology
DOI: 10.1007/s00345-002-0293-0.