Anda di halaman 1dari 12

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Antioksidan memainkan peranan penting dalam mencegah oksidasi makanan, dimana oksidasi
makanan ini merupakan proses kerusakan yang melibatkan reaksi antara lipid, vitamin, protein ,
gula dengan oksigen reaktif dan spesies nitrogen (ROS). Adapun akaibat dari kerusakan oksidatif
terdapat perubahan dalam kualitas , sensorik dan karakteristik gizi produk makanan. Sayuran dan
buah-buahan dikenal dengan kaya akan antioksidan, dimana salah satunya yaitu buah alvokad
(Persea americana). Alvokad Hass atau orang sering menyebutnya alvocad australia yang
merupakan salah satu tanaman yang berasal dari Meksiko. Alvokad mengandung nutrisi penting
dan bermanfaat bagi kesehatan. Adapun, biji dan kulit dari alvokad kurang dimanfaatkan, namun
biji dan kulit dari alvokad dianggap sebagi sumber antioksidan alternatif karena mengandung
polifenol, karotenoid, dan klorofil.
Keutuhan akan produk pangan yang aman semakin dirasakan di tengah maraknya
penggunaan berbagai bahan tambahan pangan yang berbahaya bagi kesehatan. Bahan pengawet
termasuk salah satu bahan tambahan pangan yang penggunaannya dimaksudkan untuk
memperpanjang daya simpan produk pangan. Bahan pengawet yang dihasilkan oleh Bakteri
Asam Laktat (BAL) disebut Bakteriosin. Nisin adalah salah satu jenis bakteriosin yang
dihasilkan oleh BAL Latococcus lactis, dinilai aman dan diijinkan penggunaannya di berbagai
negara.
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana cara menentukan komposisi, antioksidan dan kapasitas antimikroba dari
ekstrak biji dan kulit alvokad ?
2. Bagaimana mengoptimalkan campuran aditif alami seperti nisin (antimikroba) dengan
biji dan kulit alvokad (antioksidan) melalui RSM ?
3. Apakah campuran dari nisin dan biji serta kulit alvokad dapat dijadikan sebagai
alternatif baru untuk tambahan makanan (aditif)?

1.3 Tujuan Penelitian


4. Untuk mengetahui komposisi, antioksidan dan kapasitas antimikroba dari ekstrak biji
dan kulit alvokad
5. Untuk mengoptimalkan campuran aditif alami seperti nisin (antimikroba) dengan biji
dan kulit alvokad (antioksidan) melalui RSM
6. Menemukan sebuah alternatif baru untuk tambahan makanan (aditif)
BAB 11 Tinjauan Pustaka
Antioksidan memainkan peranan penting dalam mencegah oksidasi makanan, dimana
oksidasi makanan ini merupakan proses kerusakan yang melibatkan reaksi antara lipid, vitamin,
protein , gula dengan oksigen reaktif dan spesies nitrogen (ROS). Adapun akaibat dari
kerusakan oksidatif terdapat perubahan dalam kualitas , sensorik dan karakteristik gizi produk
makanan. Sayuran dan buah-buahan dikenal dengan kaya akan antioksidan, dimana salah
satunya yaitu buah alvokad (Persea americana). Alvokad Hass atau orang sering menyebutnya
alvocad australia yang merupakan salah satu tanaman yang berasal dari Meksiko. Alvokad
mengandung nutrisi penting dan bermanfaat bagi kesehatan. Adapun, biji dan kulit dari alvokad
kurang dimanfaatkan, namun biji dan kulit dari alvokad dianggap sebagi sumber antioksidan
alternatif karena mengandung polifenol, karotenoid, dan klorofil.
Avokad merupakan komoditas buah tropis yang berasal dari Amerika Latin (Hermanto et al.
2013). Diduga masuk ke Indonesia pada abad ke-18 dan sekarang sudah menyebar hampir di
seluruh pelosok tanah air (Ruk mana 1997). Sejak tahun 2004–2012, Indonesia tercatat sebagai
negara penghasil avokad terbesar kedua di dunia di bawah Meksiko, tetapi Indonesia tidak
pernah tercatat sebagai salah satu negara eksportir di dunia di antara 20 negara eksportir avokad
dunia. Avokad di Indonesia sangat beragam karena terjadinya penyerbukan silang secara alami
selama bertahun-tahun, akibatnya tingkat produktivitas dan kualitas buah (warna, bentuk,
ukuran, ketebalan, dan rasa daging buah dan lain-lain) yang dihasilkan sangat beragam.
Buah alpukat mempunyai kandungan gizi yang tinggi yang berada di dalam daging buahnya,
oleh karena itu banyak dikonsumsi sebagai peningkat gizi pada tubuh manusia. Bagian daging
dan biji alpukat mengandung minyak yang tinggi, sehingga berpotensi dijadikan seumber
minyak Tanaman berbiji umumnya mengandung Lipida pada biji atau buahnya (Eteshola dan
Oraedu,1996). Pada umumnya biji alpukat dianggap tidak bermanfaat sehingga dibuang begitu
saja menjadi limbah yang belum digunakan secara ekonomis. Mengingat bahwa buah alpukat
pada sebagian besar masyarakat baru dimanfaatkan dagingnya, tetapi kulit maupun biji alpukat
belum digunakan sehingga menjadi limbah buangan saja.
Keutuhan akan produk pangan yang aman semakin dirasakan di tengah maraknya
penggunaan berbagai bahan tambahan pangan yang berbahaya bagi kesehatan. Bahan pengawet
termasuk salah satu bahan tambahan pangan yang penggunaannya dimaksudkan untuk
memperpanjang daya simpan produk pangan. Bahan pengawet yang dihasilkan oleh Bakteri
Asam Laktat (BAL) disebut Bakteriosin. Nisin adalah salah satu jenis bakteriosin yang
dihasilkan oleh oleh BAL Latococcus lactis, dinilai aman dan diijinkan penggunaannya di
berbagai negara.
Bahan pengawet ini banyak diaplikasikan untuk produk pangan karena
kemampuannya menghambat bakteri, terutama bakteri Gram positif seperti; Clostridium
botulinum, Staphylococcus aureus, Streptococcus hemolyticus, Listeria monocytogenes,
Bacillusstearothermophilus dan Bacillus subtilis. Nisin aktif bekerja pada pH rendah dan dapat
digunakan secara tunggal maupun kombinasi dengan perlakuan pengawetan lainnya.

Nisin telah dinyatakan aman penggunaannya oleh Badan Pangan Dunia (FAO/WHO)
sebagai pengawet alami sejak 1969 dan diberikan nomor bahan tambahan makanan (food
additive) E234. Pada tahun 1988, nisin diijinkan penggunaannya oleh FDA pada makanan
dalam kaleng untuk menghambat pertumbuhan Clostridium botulinum (Jones et al.,
2005). Saat ini nisin merupakan satu-satunya bakteriosin murni yang disetujui
penggunaannya untuk pengawetan makanan di US, dan juga telah diijinkan penggunaannya
oleh lebih dari 50 negara (Delves-Broughton, 2005; Jones et al., 2005).

Struktur Nisin

Aksi nisi n m elawan sel bakteri bisa bersif at sebagai bakterisidal atau
bakteriostatik tergantung pada konsentrasi nisin, konsentrasi bakteri, dan faktor lain yang
mendukung seperti pH, suhu, aktivitas air, ketersediaan nutrisi dan lain-lain (Sahl, 1991)

Ef ek ti v i ta s ni si n se ba ga i ba ha n pe ng awet tergantung dari besarnya


konsentrasi nisin yang ditambahkan. Mekanisme kerja nisin diawali dengan pembentukan
kompleks nisin dengan lipid II (suatu molekul prekursor dalam pembentukan dinding sel
bakteri), kemudian kontak langsung kompleks ini dengan membran si toplasm a sel m
enyebabkan terbentuknya lubang atau pori pada membran sel dan reduksi proton motive
force (PMF) sehingga stabilitas membran terganggu. Akibatnya terjadi kebocoran dan
pelepasan molekul intraseluler maupun masuknya substansi ekstraseluler dari
lingkungan, sehingga menghambat pertumbuhan sel dan diikuti dengan proses
kematian pada sel yang sensitif terhadap nisin (Brötz & Sahl, 2000; Cintas et al., 2001;
Delv es- Broughton, 2005). Sedangkan bagi bakteri penghasil nisin itu sendiri, bakteri
tersebut dapat melindungi diri dari toksin melalui ekspresi protein imunitas yang spesifik
yang disandikan dalam operon bakteriosin. Produksi bakteri osi n pada bakteri asam
laktat umumnya diatur oleh sistem transduksi sinyal 3 komponen yaitu faktor induksi
atau induction factor (IF), Histidine Protein Kinase (HPK), dan Response Regulator (RR)
(Cintas et al., 2001)

Bakteri Gram negatif relatif lebih tahan terhadap nisin karena dinding selnya kurang
permeable (lebih sulit ditembus) dibandingkan dengan bakteri Gram positif. Selain itu
ukuran molekul nisin yang besar sekitar 1800-4600 Da sulit untuk bisa menembus
membran luar sel bakteri Gram negatif (Brötz & Sahl, 2000). Namun dengan beberapa
perlakuan tambahan, maka efek nisin terhadap bakteri Gram negatif bisa lebih baik,
misalnya dengan penambahan bahan pengkelat, osmotic shock, dan sub-lethal heat.
Sedangkan mekanisme nisin terhadap spora bakteri lebih bersifat sporostatik daripada
sporosidal. Spora yang peka terhadap panas akan lebih sensitif terhadap nisin diduga karena
pada kondisi panas nisin mengikat gugus sulphhydryl dari residu protein pada permukaan
spora sehingga m empengaruhi kekuatan spora (Morris et al., 1984).
Nisin sebagai metabolit primer disintesis di dalam ri b osom sebag ai pr epept i da y
ang m engal am i modifikasi pada tahap pasca translasi (Chan-Ick & Yu-Ryang, 2005).
Sekresi nisin terjadi pada fase eksponensial dan diproduksi secara maksimal pada akhir
fase eksponensial (De Vuyst & Vandam 1991) atau pada awal fase stasioner (Usmiati,
2010). Sedangkan bakteriosin lain umumnya disintesis selama fase eksponensial
mengikuti pola sintesis protein melalui jalur ribosomal. Sistem ini diatur oleh plasmid DNA
ekstra kromosomal dan dipengaruhi oleh beberapa faktor terutama pH. Prinsip regulasi
sintesis bakteriosin diatur oleh adanya gen pengkode produksi dan pengkode immunitas
(Abdelbasset & Djamila, 2008; Usmiati, 2010).
Sedangkan untuk memperoleh senyawa nisin, produksi dilakukan melalui kultiv asi
bakteri L. lactis terlebih dahulu. Kultur bakteri L. lactis disegarkan terlebih dahulu
menggunakan medium MRS agar, sedangkan untuk m edi um produksi nisin dapat
digunakan medium TGE (Tripton-glukosa-yeast ekstrak). Produksi nisin dilakukan

pada suhu 30oC selama 72 jam dengan pH awal medium pada pH 7. Isolasi bakteriosin
dilakukan melalui sentrifugasi hasil fermentasi di atas, kemudian dipurifikasi terlebih
dahulu dilakukan pengendapan ammonium sulfat (70-80%), dilanjutkan dengan
kromatografi. Beberapa metode pemurnian dengan kolom kromatografi yang dilaporkan
antara lain penggunaan kromatografi imunoafinitas (Suarez et al., 1997), interaksi hidrofobik
dan kromatografi gel (Gujarathi et al., 2005) dan penggunaan cation exchange
chromatography (DEAE cellulose) (El-Shafie et al., 2008). Dalam produksi nisin beberapa
faktor harus diperhatikan seperti pH, suhu, sumber karbon dan nitrogen, garam, serta fase
pertumbuhannya agar diperoleh aktiv itas nisin yang optimal (Usmiati, 2010).
Sebagai bahan pengawet alami, nisin dapat diaplikasikan pada berbagai jenis produk
pangan seperti produk olahan susu (keju, susu pasteurisasi), produk pangan asam (salad
dressing), sosis, makanan dalam kaleng, dan minuman beralkohol (Delves- Broughton,
2005) seperti disajikan pada Tabel 1. Meskipun dinilai aman (GRAS: Generally
Recognized As Safe)(De Vuyst & Vandamme, 1994; Jones et al., 2005), penggunaan
nisin harus dalam jumlah tertentu, tidak melebihi dosis yang dipersyaratkan, sesuai
jenis produk pangan yang ditambah.

Sebagai bakteriosin, kemampuan nisin sebagai antimikroba memiliki spektrum


penghambatan yang relatif lebih luas dibandingkan bakteriosin lainnya (De Vuyst &
Vandamme, 1994). Umumnya bakteriosin hanya aktif terhadap bakteri Gram positif, tetapi
nisin dilaporkan juga mampu menghambat beberapa jenis bakteri Gram negatif terutama
apabila digunakan bersama-sama dengan cara/bahan pengawet lainnya (Delves-
Broughton, 1993), seperti penggunaan nisin yang dikombinasi kan dengan surfaktan,
bahan pengkelat, dan ajuvan (El-Shafie et al., 2008)

Aksi nisi n m elawan sel bakteri bisa bersif at sebagai bakterisidal atau
bakteriostatik tergantung pada konsentrasi nisin, konsentrasi bakteri, dan faktor lain yang
mendukung seperti pH, suhu, aktivitas air, ketersediaan nutrisi dan lain-lain (Sahl, 1991)

Ef ek ti v i ta s ni si n se ba ga i ba ha n pe ng awet tergantung dari besarnya


konsentrasi nisin yang ditambahkan. Mekanisme kerja nisin diawali dengan pembentukan
kompleks nisin dengan lipid II (suatu molekul prekursor dalam pembentukan dinding sel
bakteri), kemudian kontak langsung kompleks ini dengan membran si toplasm a sel m
enyebabkan terbentuknya lubang atau pori pada membran sel dan reduksi proton motive
force (PMF) sehingga stabilitas membran terganggu. Akibatnya terjadi kebocoran dan
pelepasan molekul intraseluler maupun masuknya substansi ekstraseluler dari
lingkungan, sehingga menghambat pertumbuhan sel dan diikuti dengan proses
kematian pada sel yang sensitif terhadap nisin (Brötz & Sahl, 2000; Cintas et al., 2001;
Delv es- Broughton, 2005). Sedangkan bagi bakteri penghasil nisin itu sendiri, bakteri
tersebut dapat melindungi diri dari toksin melalui ekspresi protein imunitas yang spesifik
yang disandikan dalam operon bakteriosin. Produksi bakteri osi n pada bakteri asam
laktat umumnya diatur oleh sistem transduksi sinyal 3 komponen yaitu faktor induksi
atau induction factor (IF), Histidine Protein Kinase (HPK), dan Response Regulator (RR).
BAB 111 METODE PENELITIAN

3.1. Bahan kimia

Nisin (2,5% w / w seimbang dengan natrium klorida dan padatan susu didenaturasi, 106 IU/g),
2,2’- azobis (2-methylpropionamidine) dihidroklorida (AAPH), Trolox, Folin-Ciocalteu fenol
reagen, gallic acid, quercetin, 2,4,6-tris (2-pyridyl) -s-triazina (TPTZ) dan reagen lainnya yang
dibeli dari Sigma- Aldrich Co (St Louis, MO, USA).

3.2 ekstraksi sampel alpukat

Buah alpukat ( P. americana, Varietas Hass) yang dibeli di Central de Abastos di Mexico Kota
Andwere dipertahankan pada suhu kamar sampai mereka mencapai kematangan yang siap untuk
makan. buah yang matang secara manual dipisahkan biji, daging buah, dan kulit, dan untuk
meperoleh hasil setiap komponen. Biji dan kulit yang bagus di blender dan dikeringkan pada 40
◦C selama 24 jam di oven. kelembaban diukur dengan perbedaan berat. Kemudian, 50 g biji
alpukat kering atau kulit ditambahkan ke 500ml air suling . Campuran ini direbus dan diaduk
dengan pengaduk magnetik selama 30 menit. Ekstrak tersebut disaring dengan kertas saring.
filtrat beku dan liofilisasi sebanyak 5mmHg pada 50◦C (Freezone 2,5; Labconco Corp Kansas,
MO, USA). Bubuk lyophilized disimpan pada 20◦C. Ekstrak dilarutkan dalam air suling pada 50
mg / mL sebelum menguji karakterisasi (warna, kapasitas pembersih radikal, dan komposisi).

2.3. Pengukuran warna

Warna kulit, daging buah, biji dan ekstrak yang dihasilkan diukur menggunakan kolorimeter
(ColorFlex EZ Spectrophotometer 45◦/0◦; Hunter lab,Reston,VA,USA). Koordinat warna
CIELAB (l*, a* dan b*) yang ditetapkan pada 10 sudut pengamat dan sumber cahaya D65.

2.4. Jumlah Kandungan fenolik

Fenolat diukur menggunakan reagen Folin-Ciocalteu dengan fenol. Dua ratus mikroliter ekstrak
dicampur dengan 1 mL Folin-Ciocalteu ini (1 N) dan 0,8 ml 7,5% Na 2 BERSAMA 3.
Campuran diinkubasi pada suhu kamar selama 30 menit. absorbansi diukur pada 760
nmmenggunakan spectro Synergy HT fl uorometer (Biotek Instruments Inc, Winooski, VT,
USA). Hasilnya dinyatakan sebagai mg setara asam galat (GAE) per gram ekstrak (berat kering,
dw).

2.5. Jumlah kandungan Flavanoid

Tiga puluh lima mikroliter ekstrak dicampur dengan 0,0105 mL air dan 0,0105 mL 5%
NaNO2, 0,0105 mL 10% AlCl3 dan 0.140 mL 0,5 M NaOH, dan diinkubasi selama 30 menit
pada suhu kamar dalam kondisi gelap ( Zhishen, Mengcheng, & Jianming, 1999 ). Absorbansi
pada 510 nm diukur menggunakan Synergy HT spectrofluorometer. Hasilnya dinyatakan sebagai
mg quercetin setara per gram ekstrak (dw).

2.6. kandungan tannin

Menentukan senyawa tanin. Dua ratus mikroliter ekstrak dicampur dengan 20 mg poli-
vinylpolypyrrolidone. Setelah 15 menit diinkubasi pada 4◦C, disentrifugasi selama 10
menit pada tabung15.000 g. Kemudian, 0,05 mL supernatan digunakan untuk
menentukan kandungan tanin dengan prosedur yang sama digunakan untuk kandungan
total fenol. Kandungan tanin adalah selisih total fenol dengan fenolat non-diserap.
Hasilnya dinyatakan sebagai miligram GAE per gram ekstrak (dw).

2.7. kapasitas antioksidan secara in vitro


Menguji kapasitas antioksidan, termasuk anion superoksida (O 2 - ), hidroksil (OH ),
Singlet oksigen (O 2 ), peroxynitrite (ONOO - ), Dan hidrogen peroksida (H 2 O 2 )
ditentukan seperti yang dijelaskan sebelumnya. O 2 - didapatkan menggunakan reaksi
oksidasi Xantin. Aktivitas oksidasi Xantin diukur dengan produksi asam urat pada
kapasitas 295 nm dan pembilasan diukur dengan pengurangan tetrazolium nitroblue
pada 560 nm. OH diproduksi oleh reaksi Fenton, dan pengamatan diteruskan oleh
peningkatan fluoresensi (326 nm untuk eksitasi dan 432 nm untuk emisi) yang
diakibatkan dari reaksi OH dengan tereftalat. O 2 diproduksi oleh reaksi H 2 O 2 dan
natrium hipoklorit, dan pembuatannya ditentukan oleh peningkatan fl uorescence (410
nm untuk eksitasi dan 455 nm untuk emisi) yang dihasilkan oleh reaksi dengan 1,3-
diphenylisobenzofuran. ONOO - bereaksi dengan 2,7dichlorodihydro fluoresensi
diasetat dan menghasilkan penyerapan (485 nm untuk eksitasi dan 520 nm untuk
emisi). H 2 O 2 ditentukan dengan menggunakan amplex merah / reagen horseradish
peroksidase. Fluoresensi diukur pada eksitasi 550 nm dan emisi 590 nm. Hasil semua
uji dinyatakan sebagai konsentrasi ekstrak di µg / mL diperlukan untuk menetralkan
50% dari pemberian spesies reaktif (IC 50).
2.8. Oksigen radikal kapasitas absorbansi (ORAC)
The ORAC assay dilakukan menurut ( Huang, Ou, Hampsch-Woodill, Flanagan, &
Sebelum 2002 ). Campuran reaksi yang terkandung: 38,5 mM AAPH (25 m L), 30 nM fl
uorescein (150 m L) dan sampel (25 m L). The reactionwas diinkubasi dan dipantau
selama 1,5 jam pada 485 nm eksitasi dan 526 nm emisi. Daerah di bawah kurva dan
setara dari trolox dihitung oleh Gen5 ™ software (Biotek Instrumen), menggunakan
kurva standar trolox. Hasil dinyatakan sebagai m g trolox setara per gram ekstrak (dw).

2.9. Ferri mengurangi kekuatan antioksidan (FRAP)

The FRAP reagen adalah preparedminutes sebelum memulai pengujian dengan mencampurkan 10
mM TPTZ (1 mL, dilarutkan dalam 40 mM HCl), 20 mM FeCl 3 ( 1 mL) dan 300 mM buffer
asetat, pH 3,6 (10 mL) ( Benzie & Saring, 1996 ). Sampel (200 m L) dicampur dengan FRAP
reagen (1,5 mL). The reactionwas diinkubasi pada 37 C selama 5 menit dan diukur pada 593 nm.
Hasilnya dinyatakan
sebagai mg trolox setara per gram ekstrak (dw).
2.10. kromatografi cair kinerja tinggi ditambah dengan ionisasi electrospray dan deteksi
massa (HPLC-ESI-TOF)
Benih dan kulit ekstrak dilarutkan dalam metanol-air (3: 1) pada konsentrasi 5 mg / mL;
standar polifenol (epicatechin, catechin, asam caffeic, asam ferulic, quercetin, asam galat, dan
rutin) dibuat dengan cara yang sama seperti ekstrak. analisis HPLC dilakukan dengan Ultimate
3000 Basic Automated (ThermoScienti fi c-Dionex, CA, USA), dan Poroshell 120 EC-C18
kolom (2,7 m m, 4.6 50 mm; Agilent Technologies, Santa Clara, CA, USA). phasewas ponsel
dilakukan dengan
menggunakan gradien metanol dan asetonitril dengan fl owof 0.5ml / min pada 25 C.
kromatografi cair digabungkan ke spektrometer massa electrospray ESI-MS MicroTOF (Bruker
Daltonik, Bremen, Jerman), memanfaatkan antarmuka electrospray dioperasikan di
negativemodewith tegangan dari 4,5 kV. Suhu gas pengeringan adalah 190 C, gas pengeringan fl
ow adalah 8 L / min, dan tekanan gas nebulizer adalah 3 bar. Data yang diperoleh dari ion
themolecular diproses dengan cara Kompas Analisis Data 4.1 (Bruker Daltonik) perangkat lunak
dan alat SmartFormula Editor.
2.11. aktivitas antimikroba

strain bakteri: Listeria innocua ( ATCC 33090), Escherichia coli


(JMP101), Lactobacillus sakei, Weissella viridescens, dan Leuconostoc mesenteroides diisolasi
dari produk daging dan identifikasi fi ed oleh rDNA16S di laboratorium kami. Aktivitas
antimikroba ekstrak sendiri atau dalam kombinasi dengan nisin ditentukan dengan metode
turbidimetri yang brothbased ( Othman et al., 2011 ) Dengan beberapa modi fi kation. Empat
puluh mikroliter inokulum (10 3 pembentuk koloni unit per mL) dicampur dengan seratus enam
puluh mikroliter ekstrak, nisin, atau sebagai kombinasi dan kemudian theywere jam dalam
lempeng pembaca Synergy HT. jeda waktu dan laju pertumbuhan maksimum dihitung dengan
menggunakan Gen5 ™ perangkat lunak. jeda waktu dianggap dalam desain campuran karena itu
adalah waktu di mana bakteri tidak tumbuh. Aktivitas antimikroba dari nisin dan kombinasinya
dengan ekstrak diukur hanya dengan L. innocua.

2.12. desain campuran kisi simpleks untuk optimasi respon antimikroba dan
antioksidan

Sebuah desain campuran kisi Augment simplex dimanfaatkan untuk mengetahui pengaruh
interaksi antara nisin, ekstrak biji, dan ekstrak kulit pada sifat antimikroba dan antioksidan.
proporsi komponen dinyatakan sebagai pecahan dari themixturewith sejumlah satu. variabel
respon terdiri antioksidan (metode ORAC) dan antimikroba (assay turbidimetri, diukur
sebagai jeda waktu) kegiatan. Campuran percobaan desain dirancang dan dianalisis
menggunakan Statgraphics Centurion XV, versi 15.2.6 (StatPoint Technologies, USA).
Sebanyak 10 kombinasi disajikan dalam

Tabel 1 . mengikuti persamaan polinomial fungsi X saya adalah fi tted untuk masing-masing
faktor yang
dinilai pada setiap titik eksperimental, di mana Y adalah respon diprediksi dan b 1, b 2, b 3, b
12, b 13, dan b 23
adalah koefisien konstan fi koefisien untuk setiap istilah interaksi linear dan non-linear:

Y ¼ b 1 X 1 þ b 2 X 2 þ b 3 X 3 þ b 12 X 1 X 2 þ b 13 X 1 X 3 þ b 23 X 2 X 3
(1)
Data dianalisis dengan model linear umum. nilai-nilai optimal dari variabel independen
tersebut telah ditetapkan dengan melakukan analisis permukaan respon tiga dimensi dari
variabel independen dan dependen.

2.13. Analisis statistik


aktivitas antioksidan dan karakteristik produk sampingan dan ekstrak dianalisis setidaknya
enam kali dan data dinyatakan sebagai mean ± standar deviasi. ANOVA satu arah dan Tukey
tes beberapa perbandingan dilakukan memanfaatkan Prismver software. 5.0 (GraphPad, San
Diego, CA, USA). SEBUAH p- value <

0,05 dianggap statistik signi fi tidak bisa.


BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN