Anda di halaman 1dari 36

PEDOMAN CARA MEMBUAT CRITICAL BOOK REVIEW/BOOK REPORT

Apa yang dimaksud dengan critical review?


Critical review bukan sekedar laporan atau tulisan tentang isi sebuah buku atau artikel, tetapi
lebih menitikberatkan pada evaluasi (penjelasan, interpretasi dan analisis) kita mengenai
keunggulan & kelemahan buku atau artikel tersebut, apa yang menarik dari artikel tersebut,
bagaimana isi artikel tersebut bisa mempengaruhi cara berpikir kita & menambah pemahaman
kita terhadap suatu bidang kajian tertentu. Dengan kata lain, melalui critical review kita menguji
pikiran pengarang/ penulis berdasarkan sudut pandang kita berdasarkan pengetahuan &
pengalaman yang kita miliki. Maksud pemberian tugas kuliah berupa critical review ini adalah
untuk mengembangkan budaya membaca, berpikir sistematis & kritis, dan mengekspresikan
pendapat (Rosen, 2006: 325).

Bagaimana memulai untuk membuat critical review?


Untuk bisa membuat sebuah critical review, kita harus terbiasa untuk berpikir kritis. Dengan
berpikir kritis berarti kita mengontrol proses berpikir secara sadar (Troyka, 2006:115). Hal ini
sama seperti ketika kita bertemu dengan teman baru, kemudian kita memutuskan apakah kita
menyukai orang tersebut apa tidak (Troyka, 2006:117). Menurut Troyka (2006:117), proses
berpikir kritis terdiri dari beberapa tahap, yaitu: 1) merangkum (menyatakan kembali); 2)
menganalisis (menggali informasi tersirat); 3) mensistesiskan (menghubungkan apa yang telah
dirangkum dan dianalisis dengan pengetahuan dan pengalaman kita); 4) mengevaluasi (membuat
penilaian). Tahapan inilah yang diterapkan pada saat kita melakukan critical review.
Membuat critical review sama dengan membuat sebuah essay pendek.
Ada beberapa langkah yang harus kita lalui sebelum membuat critical review, yaitu:
1. Memilih buku
Idealnya kita memilih sendiri buku yang akan kita bahas berdasarkan minat kita terhadap
bidang tertentu. Dengan menentukan pilihan sendiri akan memperlancar upaya kita untuk
melakukan sebuah critical review, namun untuk sebuah tugas kuliah biasanya buku yang
akan kita bahas sudah ditentukan. Hal ini bukan berarti menghalangi upaya kita melakukan
critical review dengan baik.
2. Membaca kritis
Tentu saja setelah kita memilih buku atau mendapat buku yang ditugaskan, langkah
berikutnya adalah membaca. Menurut Troyka (2006:125-126) membaca artikel atau buku
dengan baik adalah membaca dengan kritis & sistematis, yaitu:
a. Preview, sebagai perkiraan tentang apa yang akan kita baca untuk memper-mudah proses
membaca. Teknik scanning & skimming akan berguna pada tahap ini. Pada saat
melakukan preview, cari informasi singkat dengan mem-baca daftar isi dan bab yang kita
tuju secara cepat: dari keseluruhan daftar isi, kira-kira apa isi buku tersebut, apa
hubungan antara bab sebelum dan bab sesudah dengan bab yang kita tuju, baca semua
sub judul dan lihat semua gambar, tabel, dan penjelasan eksta untuk mendapatkan
gambaran umum tentang isi bab yang kita tuju. Menurut Rosen (2006:69), tahap preview
ini merupakan tahap membaca untuk memahami isi buku secara keseluruhan.
b. Membaca secara dekat dan aktif. Setelah melakukan preview pada bab yang kita tuju,
langkah selanjutnya adalah membaca secara dekat dan aktif untuk lebih menggali
informasi. Tahap membaca secara dekat dan aktif ini dinama-kan tahap membaca untuk
memahami struktur bahan bacaan yang akan kita bahas (Rosen, 2006:70). Hal ini dapat
dilakukan dengan memberi catatan singkat di tepi halaman di samping paragraf yang kita
baca.
1) Membaca secara dekat (close reading); memberi catatan singkat mengenai isi
(rangkuman) paragraf. Dengan kata lain kita mencari pikiran utama setiap paragraf.
2) Membaca secara aktif (active reading); memberi catatan singkat tentang isi paragraf
dikaitkan dengan pengetahuan atau pengalaman kita, atau hal-hal lain yang menarik
perhatian kita yang berhubungan dengan isi paragraf.
c. Review; membaca kembali untuk membandingkan apa yang kita baca pada
langkah preview (1) dan membaca secara dekat dan aktif (2) Review berguna agar kita
lebih memahami bahan bacaan. Oleh karena itu sebaiknya review di-lakukan berkali-kali
dan upayakan selalu menambah materi active reading.
3. Membuat kerangka (outline) dan menulis
Buat kerangka dan kembangkan menjadi tulisan berdasarkan panduan struktur critical review
dan panduan bahasa Indonesia yang baik dan benar serta sesuai dengan Ejaan Yang
Disempurnakan (EYD).

Apa saja yang dibahas dalam critical review?


Struktur sebuah critical review terdiri dari:
1. Informasi bibliografi
Sebagai langkah pertama, selalu sajikan informasi mengenai artikel yang akan kita bahas
(nama pengarang, tahun, judul artikel, bab dan judul bab yang dibahas, halaman, kota dan
nama penerbit).
2. Pengantar (introduction)
Bagian pengantar biasanya berisi pembahasan umum mengenai topik artikel yang akan
dibahas, esensi topik yang akan dibahas dikaitkan dengan isu yang lebih luas (disesuaikan
dengan bidang kajian kita sebagai reviewer), dan penjelasan singkat mengenai struktur
pembahasan critical review kita.
3. Bagian utama (main body)
Pada dasarnya, ada 2 (dua) hal utama dalam sebuah critical review, yaitu:

a. Merangkum-menyatakan kembali apa yang ada di dalam sebuah artikel dengan kata-kata
kita sendiri, bukan menyalin ataupun menerjemahkan.

Pada bagian ini dinyatakan kembali topik pembahasan artikel, struktur dan metoda
pembahasan yang digunakan oleh pengarang/penulis, fokus pembahasan dan
argumen utama pengarang atau penulis, contoh atau bukti pendukung, kesimpulan
pengarang/penulis (pada tahap merangkum kita baru menyajikan kesimpulan
pengarang/penulis artikel, bukan kesimpulan kita tentang artikel tersebut). Sebaiknya
bagian rangkuman itu tidak lebih panjang dari bagian evaluasi.

b. Mengevaluasi.

Mengevaluasi bukan berarti mencari benar atau salah, tetapi menjelaskan kualitas
artikel/buku yang dimaksud (keunggulan dan kelemahan). Semakin banyak kita
membaca artikel/buku lain dengan topik sejenis akan memudahkan kita membuat
penilaian. Beberapa contoh pertanyaan berikut dapat digunakan sebagai panduan untuk
mengevaluasi, yaitu:
1) Siapa pengarang/penulis artikel/buku tersebut? Apakah dia berkompeten dalam bidang
kajian yang dibahas dalam artikel/buku tersebut?
2) Siapa target audience (peneliti, praktisi, mahasiswa) yang dituju dalam artikel/buku
tersebut? Apakah artikel/buku tersebut sesuai dengan target audience yang
dimaksud?
3) Apakah pertanyaan penelitian yang diajukan dalam artikel/buku tersebut menarik dan
relevan?
4) Apakah pembahasan artikel/buku yang dimaksud disajikan secara detail, singkat, atau
menyeluruh oleh pengarang/penulis?
5) Apakah metoda pendekatan yang digunakan oleh pengarang/penulis sudah sesuai?
Jika tidak, mengapa? Kemudian, metoda pendekatan apa yang cocok?
6) Apakah gagasan yang diajukan pengarang/penulis cukup logis dan teratur? Apakah
masih terdapat bias?
7) Bagaimana hubungan antar gagasan yang diajukan oleh pengarang/penulis? Apakah
disajikan secara naratif atau analitis?
8) Apakah contoh atau bukti pendukung yang diberikan oleh pengarang/ penulis logis,
faktual, dan cukup kuat mendukung pikiran utama atau masih sangat terbatas?
Apakah contoh tersebut malah bertentangan? Pertimbang-kan juga jenis contoh/bukti
yang digunakan (data primer atau sekunder).
9) Bandingkan dengan artikel/buku lain dengan topik sejenis, apakah ada kesamaan atau
perbedaan gagasan ataupun metoda pembahasan yang digunakan? Jelaskan kesamaan
atau perbedaan tersebut.
10)Apakah pada bagian kesimpulan dijelaskan bahwa pengarang/penulis dapat mencapai
tujuan yang dimaksud?
11)Apakah masih ada hal-hal yang belum dipertimbangkan pada bagian kesimpulan?
12)Apakah pengarang/penulis memberikan saran studi atau penelitian lanjut terkait
dengan topik pembahasan?
13)Apakah artikel/buku tersebut juga mencantumkan ilustrasi, daftar pustaka ataupun
indeks yang bermanfaat?

Penutup
Sebagai penutup, buat evaluasi atau penilaian secara keseluruhan. Beberapa contoh pertanyaan
berikut dapat digunakan sebagai panduan untuk memudahkan penilaian akhir, yaitu:
1. Apakah maksud dan tujuan pengarang/penulis tercapai?
2. Apakah pengarang atau penulis bersifat subyektif atau obyektif dalam mencapai tujuannya?
3. Apakah pengarang/penulis mengabaikan informasi relevan terkait dengan topik pembahasan?
4. Apa esensi artikel/buku yang ditulis terhadap bidang keilmuan secara umum?
5. Apa manfaat artikel/buku yang ditulis terhadap mata kuliah yang bersangkutan? Apa
pengaruh artikel/buku tersebut bagi kita sebagai reviewer?
6. Apakah ada saran dari kita untuk penelitian atau studi lanjut terkait dengan topik
pembahasan?
7. Apakah kita sebagai reviewer akan membeli buku tersebut atau kita akan me-rekomendasikan
artikel/buku tersebut kepada kolega atau teman kita?
Contoh 1
TUGAS
CRITICAL BOOK REPORT
PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN

Oleh:
JOKO PURNOMO
NIM: 3133119999
REGULER B 2013

UNIVERSITAS NEGERI MEDAN


2016
IDENTITAS BUKU

Judul Buku : Pendidikan Kewarganegaraaan Untuk Perguruan Tinggi


Pengarang :Winarno Narmoatmojo, dkk
Penerbit : Ombak
Tahun Terbit : 2015
Kota Terbit : Yogyakarta
ISBN : 602-258-267-0
Tebal Buku : 200 halaman
Ukuran : 14,5 x 21 cm

RINGKASAN ISI BUKU

BAB I IDENTITAS NASIONAL INDONESIA


Identitas nasional sebuah Negara bangsa adalah penanda yang menjadi ciri khas dari warga
Negara yang terhimpun dalam satu Negara bangsa, baik dalam dimensi fisik maupun
nonfisikyang dimanifestasikan dalam sikap dan perbuatannya.arti pentinng identitas nasional
bagi suatu bangsa adalah sebagai pemersatu bangsa yang bersangkutan sekaligus sebagai
pembeda dengan bangsa lain. Sebagai entitas Negara, Indonesia memiliki sejumlah identitas
nasional, yang diwujudkan dalam bentukbentuk antara lain:
1. Bahasa nasional yakni bangsa Indonesia
2. Bendera Negara yakni Sang Merah Putih
3. Lagu kebangsaan yakni Indonesia Raya
4. Lambang Negara yakni Garuda Pancasila
5. Semboyan Negara yakni Bhineka Tunggal Ika
6. Ideologi nasional yakni Pancasila
Identitas memliki fungsi integratif artinya mengintegrasikan atau menyatukan masyarakat
bangsa itu. Pancasila sebagai identitas berperan penting dalam mengintegrasikan bangsa
Indonesia. Pancasila merupakan “nilai integratif” nya bangsa Indonesia.
BAB II KEWARGANEGARAAN INDONESIA
Warga negara adalah seorang anggota dari suatu negara. Kewarganegaraan adalah bentuk
ikatan atau hubungan antara warga negara dengan negara. Elemen atau atribut kewarganegaraan
meliputi; perasaan akan identitas, hak, kewajiban, peran dan penerimaan akan nilai sosial
bersama. Warga Negara Indonesia adalah orang-orang bangsa Indonesia asli dan orang-orang
bangsa lain yang disahkan dengan undang-undang sebagai warga Negara. Perihal warga Negara
dan kewarganegaraan di atur dalam Pasal 26UUD NRI 1945 dan Undang-Undang No.12 Tahun
2006 tentang Kewarganegraan Indonesia. Status warga Negara meliputi status aktif, pasif,
positif, dan negatif. Peran warga Negara meliputi peran aktif, pasif, positif, dan negatif. Hak dan
kewajiban warga Negara Indonesia secara garis besar diatur dalam UUD NRI 1945 Pasal 27
sampai Pasal 34. Pengaturan dan rincian lanjut tentang hak dan kewajiban warga Negara dalam
berbagai bidang termuat dalam pelbagai undang-undang dan peraturan di bawahnya. Missal,
Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 terdapat hak dan kewajiban warga Negara dalm bidang
pendidikan.

BAB III NEGARA HUKUM DAN KONSTITUSI


Istilah Negara hukum dikenal dengan dua konsep yakni negaraa hukum dalam arti rule of
law. Rechtsstaat dikenal di Negara Eropa Koninental sedang rule of law dikenal di Negara
Anglosaxon. Negara hukum dibedakan menjadi Negara hukum formal dan Negara hukum
material. Indonesia adalah Negara hukum sebagaimana tertuang dalam Pasal 1 Ayat 3 UUD NRI
1945 yakni Indonesia adalah Negara yang berdasar aas hukum. Konstitusi Negara Indonesia
adalah UUD NRI yang disahkan PPKI pada tanggal 18 Agustus 1945 dan telah mengalami
perubahan (amandemen) sebanyak 4 kali. UUD NRI 1945 sebagai konstitusi Negara diharapkan
sebagai “the living constitution”, yakni konstitusi yang hidup, konstitusi yang ditaati baik oleh
penyelenggara Negara maupun warga Negara Indonesia.

BAB IV DEMOKRASI INDONESIA


Secara etimologis demokrasi berarti pemerintahan rakyat (demos artinya rakyat, kratos
artinya pemerintahan). Pengertian umum demokrasi adalah pemerintahan dari rakyat, oleh
rakyat, dan untuk rakyat. Demokrasi dipahami sebagai bentuk pemerintahan, system politik, dan
demokrasi sebagai sikap hidup bernegara. Demokrasi Indonesia adalah deokrasi yang
berlandaskan pada nilai-nilai Pancasila (demokrasi Pancasila) yang meliputi pengertian dalam
arti luas dan sempit. Demokrasi sebagai sikap dan pola hidup benegara adalah sikap dan perilaku
warga Negara yang berkepribadian demokrasi atau berlandaskan nilai-nilai demokrasi, seperti
anti kekerasan, menghargai perbedaan , percaya diri, mampu mengekang diri dam tanggumg
jawab.

BAB V HAK ASASI DAN KEWAJIBAN ASASI MANUSIA


Hak asasi manusia (HAM) sebagai hak-hak mendasar dalam diri manusia, bersifat
universal melekat, dan inheren dalam diri manusia. Hak Asasi dapat dibedakan dalam beberapa
kategori yakni hak asasi pribadi, hak asasi politik, hak asasi ekonomi, hak sosial dan
kebudayaan, hak mendapat pengayoman dan perlakuan sama dalam hukum dan pemerintahan,
dan hak mendapat perlakuan yang sama dalam tata cara peradilan dan perlindungan. Adanya
kewajiban asasi manusai didasarkan prinsip bahwa manusia memiliki tangggung jawab.

BAB VI WAWASAN NUSANTARA


Wawasan nusantara adalah cara pandang dan siakap bangsa Indonesia mengenai diri dan
lingkungannya, dengan mengutamakan persatuan dan kesatuan bangsa serta kesatuan wilayah
dalam penyelenggaraan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Hakikat wawasan
nusantara adalah keutuhan bangsa dan kesatuan wilayah nasional. Dengan wawasan nusantara,
kita memiliki pandangan bahwa wilayah Indonesia dengan segala isi dan kehidupannya
merupakan satu kesatuan yang meliputi kesatuan politik,ekonomi, sosial budaya dan pertahanan
keamanan.

BAB VII KETAHANAN NASIONAL


Ketahanan nasional merupakan konsepsi khas bangsa Indonesia. Konsep ketahanan
nasional dikembangkan oleh Lembaga Pertahanan Nasional pada tahun 1960-an sebagai keuletan
dan daya tahanbangsa Indonesia dalam menghadapi ancaman, terutama ancaman komunisme.
Pengertian ketahanan nasional mencakup 3 yakni ketahanan nasional sebagai doktrin, sebagai
pendekatan dan sebagai kondisi. Unsure-unsur ketahanan nasional maliputi unsure atau gatra: 3
gatra aspek alamiah dan 5 gatra aspek social kemasyarakatan.
KELEBIHAN BUKU:
 Buku karya Winarno Narmoadmojo dkk ini bisa menjadi buku pedoman yang baik bagi para
mahasiswa terutama mahasiswa jurusan PPkn untuk menambah pengetahuan yang lebih baik
lagi.
 Pada buku ini terdapat analisis kasus di setiap materi sehingga pembaca akan lebih memahami
karena diberikan contoh konkrit.
 Sebelum memasuki isi dari suatu bab penulis memberikan keterangan orientasi dengan bahasa
yang baik sehingga dapat memotivasi para pembaca untuk kelanjutan bacaannya.
 Buku ini sangat bagus karena materi-materi yang dibahas dibuat dengan lengkap dan disertai
juga dengan gambar. Buku ini juga terdapat konsep-konsep dan kata kunci di setiap materinya
yang dibahas.
 Di setiap akhir pembahasan bab terdapat saran bacaan untuk pembaca untuk lebih mendalami
materi yang disajikan.
 Dalam buku ini juga disediakan glossarium yang berfungsi menyajikan kata-kata berserta
artinya yang terkait dengan buku tersebut untuk memudahkan kita untuk memahami sesuatu
kata.

KELEMAHAN BUKU:
 Penulis menggunakan dua jenis referensi yaitu bodynote dan footnote. Sebaiknya penulis harus
konsisten dengan jenis tersebut. Artinya, ketika sebuah tulisan menggunakan bodynote, maka
seluruh referensi dari awal hingga akhir tulisan harus menggunakan bodynote. Atau, jika seorang
penulis menggunakan catatan kaki, sejak awal hingga akhir tulisan, penulis harus m
enggunakan catatan kaki untuk menuliskan referensinya.
 Pada pembahasan materi masih terdapat kesalahan penulisan kata seperti yang terdapat di
halaman 156 pada penulisan kata “bangssa” seharusnya “bangsa”.
 Terdapat judul pembahasan yang berulang di materi Bab I tentang Identitas Nasional.
 Dalam saran bacaan sebaiknya tidak mencantumkan blog-blog situs internet, karena isi yang
terdapat dalam blog-blog situs internet belum teruji kebenaraannya.
Contoh 2

TUGAS CBR PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN

Critical Book Report

“PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN:
MEWUJUDKAN MASYARAKAT MADANI”
Pengarang: Sarbaini Shaleh, S.Sos., M. Si

Oleh:
JOKO PURNOMO
NIM: 3133119999
REGULER B 2013

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas


Pendidikan Kewarganegaraan

UNIVERSITAS NEGERI MEDAN


2016
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat dan
Rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas Critical Book Report (CBR) yang
berjudul “Pendidikan Kewarganegaraan: Mewujudkan Masyarakat Madani” dengan lancar. CBR
ini penulis susun untuk memenuhi tugas mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan, semester
enam.
Dalam pembuatan CBR ini, penulis berterima kasih kepada Seluruh pihak yang sudah
memberikan bimbingannya untuk tugas CBR ini sehingga dapat selesai dengan baik dan berjalan
dengan lancar. Adapun CBR ini penulis buat berdasarkan informasi yang ada.
Penulis juga menyadari bahwa tugas CBR ini masih banyak kekurangan oleh karena itu
penulis minta maaf jika ada kesalahan dalam penulisan dan penulis juga mengharapkan kritik
dan saran yang membangun guna kesempurnaan tugas CBR ini.
Akhir kata penulis ucapkan terima kasih semoga dapat bermanfaat dan bisa menambah
pengetahuan bagi pembaca.
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.....................................................................................................
DAFTAR ISI...................................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN...............................................................................................
1.1 Informasi Bibliografi.............................................................................................
1.2 Tujuan Penulisan CBR....................................................................................
1.3 Manfaat Penulisan CBR.................................................................................
BAB II PEMBAHASAN...................................................................................................
2.1 Ringkasan buku yang dkritisi................................................................................
BAB III KAJIAN PUSTAKA...........................................................................................
3.1 Latar Belakang Masalah yang akan dikaji...........................................................
3.2 Permasalahan yang akan dikaji............................................................................
3.3 Kajian teori yang digunakan/konsep yang digunakan..........................................
3.4 Metode yang digunakan........................................................................................
3.5 Analisis Critical book report...................................................................................
BAB IV PENUTUP........................................................................................................
4.1 Kesimpulan...........................................................................................................
4.2 Saran......................................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA......................................................................................................
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Informasi Bibliografi


1.Judul : Pendidikan Kewarganegaraan: Mewujudkan Masyarakat Madani
2.Penulis : Sarbaini Saleh, S. Sos., M.Si
3.ISBN : ISBN 978-602-8208-26-0
4.Penerbit : Citapustaka Media Perintis
5.Tahun terbit : Juni 2010
6.Urutan cetak : Cetakan kedua
7.Tebal buku : 202 halaman

Buku Pendidikan Kewarganegaraan: Mewujudkan Masyarakat Madani ini merupakan


buku hasil revisi yang kedua tahun 2010 dari buku pendidikan kewarganegaran yang
terdahulu yaitu cetakan pertama Tahun 2008. Buku Pendidikan Kewarganegaraan:
Mewujudkan Masyarakat Madani ini disusun untuk membantu para peminat pendiidkan,
teoritis, dan praktisi di bidang pengajaran baik bagi pada mahasiswa (calon guru) maupun
bagi guru atau dosen untuk meningkatkan kelenturan dalam mengelola pembelajaran, serta
juga untuk para relawan yang menghendaki untuk mengabdi dalam dunia pendidikan dan
kepengajaran agar lebih professional.

1.2 Tujuan Penulisan CBR

 Menambah wawasan pembaca mengenai PKN


 Meningkatkan motivasi pembaca dalam melahirkan jiwa masyarakat yang madani melalui
tugas ini
 Menguatkan pemahaman pembaca mengenai betapa pentingnya mempelajari Pendidikan
Kewarganegaraan dalam kaitannya Mewujudkan Masyarakat Madani

1.3 Manfaat Penulisan CBR

 Agar pembaca tanggap terhadap hal-hal penting yang ada didalam bab ini
 Menjadi salah satu referensi buku untuk para mahasiswa yang dipersiapan untu menjadi
guru.
 Untuk memenuhi tugas mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan
 Melatih Kemampuan penulis dalam mengkritisi suatu buku.
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Ringkasan Buku Yang Dikritisi

BAB I : DASAR DAN IDEOLOGI NASIONAL

A. Pancasila sebagai Filsafat dan Dasar Negara


Pancasila yang terdiri dari lima sila sudah tertuang dalam pembukaan UUD 1945 pada
alinea keempat dan diperuntukkan sebagai dasar negara RI. Meskipun dalam pembukaan
UUD 1945 tersebut tidak secara eksplisit disebutkan kata pancasila, namun sudah ada dikenal
luas bahwa lima sila yang dimaksudkan adalah pancasila yang sejatinya dimaksudkan sebagai
dasar negara.
1. Nilai Yang Terkandung Dalam Pancasila
Mengacu kepada pemikiran filsafati, keberadaan pancasila sebagai filsafat pada
hakikatnya merupakan suatu nilai (Kaelan, 2000). Rumusan pancasila sebagaimana yang
terkandung dalam pembukaan UUD 1945 alinea IV adalah sebagai berikut :
 Ketuhanan yang maha esa
 Kemanusiaan yang adil dan beradab
 Persatuan indonesia
 Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan dan
perwakilan
 Keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia

2. Perwujudan Nilai Pancasila sebagai Norma Bernegara


Norma atau kaidah adalah aturan pedoman bagi manusia dalam berperilaku sebagai
perwujudan nilai. Sedangkan nilai yang abstrak dan normatif dijabarkan dalam wujud norma.
Pada gilirannya yang tampak dalam kehidupan dan melingkari kehidupan kita adalah
norma. Dalam hal ini norma yang dikenal dalam kehidupan sehari-hari ada empat macam,
yang mencakup :
a. Norma Agama
Norma ini disebut juga dengan norma religi atas kepercayaan. Norma kepercayaan atau
keagamaan ditujukan kepada kehidupan beriman. Norma ini ditujukan terhadap
kewajiban manusia kepada tuhan dan dirinya sendiri. Sumber norma ini adalah ajaran-
ajaran kepercayaan atau agama yang oleh pengikut-pengikutnya dianggap sebagai
perintah tuhan.
b. Norma Moral (etik)
Norma moral atau etik adalah norma yang paling dasar. Norma moral menentukan
bagaimana kita menilai seseorang. Norma kesusilaan berhubungan dengan manusia
sebagai individu karena menyangkut kehidupan pribadi.
c. Norma Kesopanan
Norma kesopanan disebut juga norma adat, sopan santun, tata krama, atau norma fatsoen.
Maka norma sopan santun didasarkan atas kebiasaan bersama, kepatuhan, atau
kepantasan yang berlaku dalam masyarakat.
d. Norma Hukum
Norma hukum berasal dari kekuasaan luar dari diri manusia yang memaksakan kepada
kita. Masyarakat secara resmi (negara) diberi kuasa untuk memberi sanksi atau
menjatuhkan hukuman. Dalam hal ini pengadilanlah sebagai lembaga yang mewakili
masyarakat resmi untuk menjatuhkan hukuman.

BAB II : HAK DAN KEWAJIBAN WARGA NEGARA

Negara sebagai suatu entitas adalah sesuatu yang abstrak. Adapun yang tampak sebagai
keberadaannya adalah unsur-unsur negara yang berupa rakyat, wilayah, dan pemerintah.
Karena itu salah satu unsur dari negara adalah rakyat. Pemahaman yang baik mengenai
hubungan antara warga negara dengan negara sangat penting untuk mengembangkan
hubungan yang harmonis, konstruktif, produktif, dan demokratis dalam tatanan sosial dan
kenegaraan.

A. Pengertian Warga Negara dan Kewarganegaraan


1. Warga Negara
Warga diartikan sebagai anggota atau peserta. Jadi, warga negara secara sederhana
diartikan sebagai anggota dari suatu negara. Sedangkan istilah warga negara merupakan
terjemahan kata citizen (bahasa inggris) yang mempunyai arti sebagai berikut:
a. Warga negara.
b. Petunjuk dari sebuah kota.
c. Sesama warga negara, sesama penduduk, orang setanah air.
d. Bawahan atau kawula.
2. Kewarganegaraan
Kewarganegaraan (citizenship) artinya keanggotaan yang menunjukkan hubungan ikatan
antara negara dengan warga negara. Istilah kewarganegaraan menjadi dua, yaitu sebagai
berikut:
a. Kewarganegaraan dalam arti yuridis dan sosiologis
1. Kewarganegaraan dalam arti yuridis ditandai dengan adanyaikatan hukum antara
warga negara dengan negara. Adanya ikatan hukum itu menimbulkan akibat-akibat
hukum tertentu. Tanda dari adanya ikatan hukum, misalnya akat kelahiran, surat
pernytaan, bukti kewarganegaraan
2. Kewarganegaraan dalam arti sosiologis, tidak ditandai dengan ikatan hukum, tetapi
ikatan emosional, seperti ikatan perasaan, ikatan keturunan, ikatan nasib, ikatan
sejarah, dan ikatan tanah air. Dengan kata lain, ikatan ini lahir dari penghayatan warga
negara yang bersangkutan.

B. Kedudukan Warga Negara dalam Negara


Hubungan antar warga negara dengan negara terwujud dalam bentuk hak dan kewajiban
antara keduanya. Warga negara memiliki hak dan kewajiban terhadap negaranya.
1. Penentu Warga Negara
Dalam penentuan kewarganegaraan didasarkan pada sisi kelahiran dikenal dua asas ius
soli dan ius sanguinis. Ius artinya hukum atau dalil. Soli berasal dari kata solum yang artinya
negeri atau tanah. Sanguinis bersal dari kata sanguis yang artinya darah.
a. Asas Ius Soli
Asas yang menyatakan bahwa kewarganegaraan seseorang ditentukan dari tempat dimana
orang tersebut dilahirkan.
b. Asas Ius Sanguinis
Asas yang menyatakan bahwa kewarganegaraan seseorang ditentukan berdasarkan
keturunan dari orang tersebut.
Selain dari sisi kelahiran, penentuan kewarganegaraan dapat didasarkan pada aspek
perkawinan yang mengcakup asas kesatuan hukum dan asas persamaan derajat.
a. Asas persamaan hukum didasarkan pandangan bahwa suami isteri adalah suatu ikatan
yang tidak terpecah sebagai inti dari masyarakat
b. Asas persamaan derajat berasumsi bahwa suatu perkawinan tidak menyebabkan
perubahan status kewarganegaraan suami atau istri.

C. Hak dan Kewajiban Warga Negara Indonesia


1. Wujud Hubungan Warga Negara dengan Negara
Secara teori, status warga negara meliputi status pasif, aktif, negatif, dan positif. Peranan
warga negara juga meliputi peranan yang pasif, aktif, negatif, dan positif.
Di Indonesia, hubungan antara warga negra dengan negara telah diatur dalam UUD
1945. Hubungan antara warga negara dengan negara Indonesia digambarkan dengan baik
dalam peraturan mengenai hak dan kewajiban. Baik itu hak dan kewajiban warga negara
terhadap negara maupun hak dan kewajiban negara terhadap warganya. Ketentuan selanjutnya
mengenai hak dan kewajiban warga negara diberbagai bidang terdapat dalam peraturan
perundaang-undangan dibawah undang-undang dasar.

BAB III : KONSEP DASAR DEMOKRASI

A. Hakikat Demokrasi
1. Pengertian Etimologis Demokrasi
Ditinjau dari sudut bahasa (etimologis), demokrasi berasal dari Bahasa Yunani yaitu
demos yang berarti rakyat dan cratos atau cratein yang berarti pemerintahan atau kekuasaan.
Jadi, secara bahasa, demos-cratein atau demos-cratos berarti pemerintahan rakyat atau
kekuasaan rakyat.
2. Pengertian Terminologis Demokrasi
Dari sudut terminology, banyak sekali defenisi demokrasi yang dikemukakan oleh
beberapa ahli politik. Masing-masing memberikan defenisi dari sudut pandang yang berbeda.
Menurut Harris Soche Demokrasi adalah bentuk pemerintahan rakyat, karena itu
kekuasaan pemerintah itu melekat pada diri rakyat, diri orang banyak dan merupakan hak bagi
rakyat atau orang banyak untuk mengatur, mempertahankan, dan melindungi dirinya dari
paksaan dan pemerkosaan orang lain atau badan yang diserahi untuk memerintah.

3. Demokrasi sebagai Bentuk Pemerintahan


Demokrasi pada masa lalu dipahami hanya sebagai bentuk pemerintahan. Demokrasi
adalah salah satu bentuk pemerintahan. Tetapi sekarang ini demokrasi dipahami lebih luas lagi
sebagai sistem pemerintahan atau politik. Konsep demokrasi sebagai bentuk pemerintahan
berasal dari para filsuf Yunani. Dalam pandangan ini, demokrasi merupakan salah satu bentuk
pemerintahan.

B. Demokratisasi
Di samping kata demokrasi, dikenal juga istilah demokratisasi. Demokratisasi adalah
penerapan kaidah-kaidah atau prinsip-prinsip demokrasi pada ssetiap kegiatan politik
kenegaraan. Tujuannya adalah terbentuknya kehidupan politik yang bercirikan demorasi.
Demokratisasi merujuk pada proses perubahan menuju pada sistem pemerintahan yang lebih
demokratis.

C. Demokrasi di Indonesia
1. Demokrasi Desa
Demokrasi desa memiliki 5 (lima) unsur atau anasir, yaitu:
a. Rapat;
b. Mufakat;
c. Gotongroyong;
d. Hak mengadakan protes bersama, dan
e. Hak menyingkir dari kekuasaan raja absolut.

2. Demokrasi Pancasila
Demokrasi pancasila dapat diartikan secara luas maupun sempit, sebagai berikut:

a. Secara luas demokrasi pancasila berarti kedaulatan rakyat yang didasarkan pada nilai-
nilai pancasila dalam bidang ekonomi, politik, dan sosial.
b. Secara sempit demokrasi pancasila berarti kedaulatan rakyat yang dilaksanakan
menurut hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan.

BAB IV : HAKIKAT NEGARA HUKUM

A. Pengertian dan Tujuan Negara


Istilah Negara merupakan terjemahan dari beberapa kata asing: state (Inggris), staat
(Belanda dan Jerman) atau etat (Prancis). Kata-kata tersebut berasal dari kata Latin status atau
statum yang memiliki pengertian tentang keadaan yang tegak dan tetap. Pengertian status atau
statum lazim diartikan dalam bahasa Inggris dengan standing atau station (kedudukan). Istilah
ini sering pula dihubungkan dengan kedudukan persekutuan hidup antar manusia yang biasa
disebut dengan istilah status civitatis atau status republicae. Dari pengertian yang terakhir
inilah kata status selanjutnya dikaitkan dengan kata Negara.
Sedangkan secara terminologi, Negara diartikan sebagai organisasi tertinggi di antara satu
kelompok masyarakat yang mempunyai cita-citauntuk bersatu, hidup di dalam suatu kawasan
dan mempunyai pemerintahan yang berdaulat. Pengertian ini mengandung nilai konstitutif
dari sebuah Negara yang paling galibnya dimiliki oleh suatu Negara berdaulat: masyarakat
(rakyat), wilayah, dan pemerintahan yang berdaulat.
Sebagai sebuah organisasi kekuasaan dari kumpulan orang-orang yang mendiaminya,
Negara harus memiliki tujuan yang disepakati bersama. Tujuan sebuah Negara dapat
bermacam-macam, antara lain;
a. Bertujuan untuk memperluas kekuasaan.
b. Bertujuan menyelenggarakan ketertiban hukum.
c. Bertujuan untuk mencapai kesejahteraan umum.

Sementara itu, dalam konsep dan ajaran Negara Hukum, tujuan Negara adalah
menyelenggarakan ketertiban hukum, dengan berdasarkan dan berpedoman pada hukum.
Dalam Negara hukum segala kekuasaan dari alat-alat pemerintahannya didasarkan atas
hukum. Semua orang tanpa kecuali harus tunduk dan taat pada hukum, hanya hukumlah yang
berkuasa dalam Negara itu (government no by man but by law = the rule of law).

B. Unsur-unsur Negara
dalam rumusan Konvensi Montevideo tahun 1933 disebut bahwa suatu Negara harus
memiliki 3 (tiga) unsur penting, yaitu rakyat, wilayah dan pemerintahan. Tiga unsur ini perlu
ditunjang dengan unsur lainnya seperti adanya konstitusi dan pengakuan dunia internasional
yang oleh Mahfud disebut dengan unsur deklaratif.
Untuk lebih jelas memahami unsur-unsur pokok dalam Negara ini, akan dijelaskan masing-
masing unsur tersebut:
a. Rakyat
Rakyat dalam pengertian keberadaan suatu Negara adalah sekumpulan manusia yang
dipersatukan oleh suatu rasa persamaan dan bersama-sama mendiami suatu wilayah
tertentu. Tidak bisa dibayangkan jika ada suatu Negara tanpa rakyat. Hal ini mengingat
rakyat atau warga Negara adalah substratum personil dari Negara.
b. Wilayah
Wilayah adalah unsur Negara yang harus terpenuhi karena tidak mungkin ada Negara
tanpa ada batas-batas territorial yang jelas. Secara umum wilayah dalam sebuah Negara
biasanya mencakup daratan, perairan (samudra, laut dan sungat) dan udara. Dalam konsep
Negara modern, masing-masing batas wilayah tersebut di atur dalam perjanjian dan
perundang-undangan internasional.
c. Pemerintah yang berdaulat
Yaitu adanya penyelenggara Negara yang memiliki kekuasaan menyelenggarakan
pemerintahan di Negara tersebut. Pemerintah tersebut memiliki kedaulatan baik ke dalam
maupun ke luar. Kedaulatan ke dalam berarti Negara memiliki kekuasaan untuk ditaati
oleh rakyatnya. Kedaulatan ke luar artinya Negara mampu mempertahankan diri dari
serangan Negara lain.

C. Konsep Negara Hukum

1. Konstitusi dan Konstitusionalisme


Negara adalah sesuatu organisasi kekuasaan yang terdiri atas unsur rakyat (penduduk),
wilayah dan pemerintah. Pemerintah adalah salah satu unsur Negara, wilayah dan pemerintah.
Pemerintah adalah salah satu unsur Negara. Pemerintahlah yang menyelenggarakan dan
melaksanakan tugas-tugas demi terwujudnya tujuan bernegara.
Upaya mewujudkan pemerintahan yang menjamin hak dasar rakyat serta kekuasaan yang
terbatas itu dituangkan dalam suatu aturan bernegara yang umumnya disebut konstitusi
(hukum dasar Negara). Konstitusi atau undang-undang dasar Negara mengatur dan
menetapkan kekuasaan Negara sedemikian rupa sehingga kekuasaan Negara efektif untuk
kepentingan rakyat serta tercegah dari penyalahgunaan kekuasaan. Konstitusi dianggap
sebagai jaminan yang paling efektif bahwa kekuasaan pemerintahan tidak akan
disalahgunakan da hak-hak warga Negara tidak dilanggar.

D. Ciri-ciri Negara Hukum

Negara hukum yang muncul pada abad ke-19 adalah Negara hukum formil atau Negara
hukum dalam arti sempit. Pada uraian sebelumnya telah dikemukakan bahwa Negara bukan
merupakan terjemahan dari istilah Rechtsstaat atau Rule of law. Istilah Rechtsstaat diberikan
oleh para ahli hukum Eropa Continental sedang istilah Rule of law diberikan oleh para ahli
hukum continental memberikan ciri-ciri Rechtsstaat sebagai berikut:
a. Hak asasi manusia
b. Pemisahan atau pembagian kekuasaan untuk menjamin hak asasi manusia yang biasa
dikenal sebagai Trias Politika.
c. Pemerintah berdasarkan peraturan-peraturan.
d. Peralihan administrasi dalam perselisihan.
Adapun AV Dicey dari kalangan ahli hukum Anglo Saxon memberi ciri-ciri Rule of law
sebagai berikut.
a. Supremasi hukum, dalam arti tidak boleh ada kesewenang-wenangan, sehingga
seseorang hanya boleh dihukum jika melanggar hukum.
b. Kedudukan yang sama di depan hukum, baik bagi rakyat biasa maupun bagi pejabat.
c. Terjaminnya hak-hak manusia dalam undang-undang satau keputusan pengadilan.
Ciri-ciri Rechtsstaat atau Rule of Law di atas masih dipengaruhi oleh konsep Negara
hukum formil atau Negara hukum dalam arti sempit. Dari pencirian di atas terlihat bahwa
peranan pemerintah hanya sedikit, karena ada dalil bahwa “Pemerintah yang sedikit ada
pemerintah yang baik”.
Disamping perumusan ciri-ciri Negara hukum seperti di atas, ada pula berbagai pendapat
mengenai ciri-ciri Negara hukum yang dikemukakan oleh para ahli. Menurut Montesquieu,
Negara yang paling baik adalah Negara hukum, sebab di dalam konstitusi di banyak Negara
terkandung tiga inti pokok, yaitu:
a. Perlindungan HAM
b. Ditetapkannya ketatanegaraan suatu Negara, dan
c. Membatasi kekuasaan dan wewenang organ-organ Negara.

BAB V : HAK ASASI MANUSIA

A. Pendahuluan
Islam adalah agama Wahyu yang ajarannya menjadi rahmat bagi sekalian alam (rahmatan
lil’alamin). Sebagai agama Wahyu, ajaran Islam mengatur seluruh aspek kehidupan baik
individu dan masyarakat, duniawi dan ukhrawi, maupun jasmani dan rohani. Dalam hal ini,
tujuan penerapan ajaran dan hukum Islam adalah untuk keselamatan jiwa, badan, harta dan
masyarakat.
Dalam dataran pengalaman agama Islam, umat senantiasa berhadapan dengan berbagai
persoalan kehidupan dari waktu ke waktu. Bahkan Islam juga berkembang, mengalami pasang
surut di pentas sejarah. Sampai kini, kemajuan zaman ditandai dengan fenomena global yang
memunculkan berbagai isu mencakup; kerusakan lingkungan, pasar bebas, penerapan IPTEK
yang canggih, penegakan Hak Asasi Manusia (HAM).

B. Islam dan HAM


Istilah Hak Asasi Manusia mulai popular setelah adanya Universal Declaration of Human
Right yang disetujui Majelis Umum PBB tanggal 10 Desember 1948. Suatu standar
pencapaian yang berlaku umum untuk semua rakyat dan semua bangsa, berkaitan dengan hak
dasar manusia (Nickel, 1996).
Menurut pasal 3-21 DUHAM, hak personal, hak legal, hak sipil dan politik meliputi:
1. Hak untuk hidup, kebebasan dan keamanan pribadi,
2. Hak bebas dari perbudakan dan penghambaan,
3. Hak bebas dari penyiksaan atau perlakuan maupun hukuman yang kejam, tak
berprikemanusiaan ataupun merendahkan derajat kemanusiaan,
4. Hak untuk memperoleh pengakuaan hukum dimana saja secara pribadi,
5. Hak untuk pengmpunan hukum secara efektif,
6. Hak bebas dari penangkapan, penahanan, atau pembuangan yang sewenang-wenang,
7. Hak peradilan yang independen dan tidak memihak.
Adapun hak ekonomi, sosial dan budaya meliputi :
1. Hak atas jaminan sosial,
2. Hak untuk bekerja,
3. Hak atas upah yang sama untuk pekerjaan yang sama,
4. Hak untuk bergabung kedalam serikat-serikat buruh.

C. Islam dan Perdamaian


Islam bukan merupakan agama yang tertutup dan dimonopoli oleh satu bangsa saja, tetapi
merupakan agama yang terbuka bagi semua orang yang mencari dan meyakini kebenaran. Ia
merupakan agama universal bagi seluruh umat manusia yang hidup di segala tempat dan
waktu. Karena itu adalah kewajaran bahwa Islam memperhatikan pentingnya menata
kehidupan yang penuh perdamaian di seluruh penjuru dunia dan di segala waktu.
Perdamaian tidak mungkin terwujud dalam suatu negara bila perdamaian individu tidak
pernah diciptakan. Menurut Qutub (dalam Ali, dkk, 1988), secara konsepsional ada beberapa
tingkatan perdamaian, yaitu:
1. Perdamaian di dalam kesadaran hati nurani manusia. Ini merupakan sendi yang paling
dasar dalam kerangka susunan perdamaian umat manusia.
2. Perdamaian dalam keluarga, yang merupakan hubungan yang pertama dan paling
sederhana bagi manusia.
3. Perdamaian dalam masyarakat baik dalam pergaulan sehari-hari maupun dalam
hubungan tetap antar warga negara.
4. Perdamaian seluruh dunia yang menjamin keselamatan, manusia seluruhnya.
Untuk menegakkan perdamaian secara seutuhnya, maka diperlukan dukungan sikap adil
dalam perilaku bermasyarakat. Adil adalah perhatian terhadap hak-hak individu dan
memberikan hak-hak itu kepada setiap pemiliknya. Pengertian inilah yang didefinisikan
dengan menempatkan sesuatu pada tempatnya, atau memberi pihak lain haknya melalui jalan
yang terdekat. Lawannya adalah kezaliman dalam arti pelanggaran terhadap hak-hak pihak
lain. Keadilan seperti inilah melahirkan keadilan sosial (Shibab, 1996).

\
BAB VI : KETAHANAN NASIONAL

Bertitik tolak dari bagan paradigma ketatanegaraan nasioanl, maka Ketahanan Nasional
(Tannas) merupakan satu dari konsepsi politik ketatanegaraan Republik Indonesia.
A. Pengertian Ketahanan Nasional
Setidaknya tidak ada tiga perspektif atau sudut pandang terhadap konsepsi ketahanan
nasional. Ketiga perspektif tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut,
1. Ketahanan nasional sebagai kondisi. Perspektif ini melihat ketahanan nasional sebagai
suatu penggambaran atas keadaan yang seharusnya dipenuhi.
2. Ketahanan nasional sebagai sebuah pendekatan, metode atau cara dalam menjalankan
suatu kegiatan khususnya pembangunan negara. Dalam perspektif ini, sebagai suatu
pendekatan, ketahanan nasional menggambarkan pendekatan yang integral.
3. Ketahanan nasional sebagai doktrin. Ketahanan nasional merupakan salah satu konsepsi
khas Indonesia yang berupa ajaran konseptual tentang pengaturan dan penyelenggaraan
kehidupan bernegara.

B. Perkembangan Konsep Ketahanan Nasional di Indonesia


1. Sejarah Lahirnya Ketahanan Nasional
Gagasan tentang ketahanan nasional bermula pada awal tahun 1960-an khususnya pada
kalangan militer angkatan darat di SSKAD yang sekarang bernama SESKOAD (Sunardi,
1997). Pada masa itu adalah sedang meluasnya pengaruh komunisme yang berasal dari negara
Uni Soviet dan Cina. Pengaruh komunisme menjalar sampai kawasan Indo Cina sehingga satu
persatu kawasan Indo Cina menjadi negara komunisme seperti Laos, Vietnam, dan Kamboja.
Bahkanm infiltrasi komunis mulai masuk ke Thailad, Malaysia, dan Singapura. Akankah efek
domino itu akan terus menjalar ke Indonesia? Maka muncul kecemasan di kalangan
penyelenggaraan negara dalam menangkal pengaruh komunisme melalui doktrin atau
konsepsi kenegaraan yang tangguh.

BAB VII : MASYARAKAT MADANI

A. Sejarah Masyarakat Madani


Wacana masyarakat madani merupakan konsep yang berasal dari pergolakan politik dan
sejarah masyarakat Eropa Barat yang mengalami proses transformasi dari pola kehidupan
feodal menuju kehidupan masayarakat industri kapirtalis. Jika dicari akar sejarahnya dari
awal, maka perkembagan wacana masyarakat madani dapat dipahami mulai dari Cicoro
sampai Antonio Grsamsel dan de Tbquiville.
Istilah kolonia politike yang dikemukakan oleh Aritoteles ini digunakan untuk
menggambarkan sebuah masyarakat politis dan etis dimana warga negara di dalam
berkedudukan sama di depan hukum. Dalam hal ini hukum sendiri dianggap etos, yakni
seperangkat nilai yang disepakati tidak hanya berkaitan dengan prosedur politik, tetapi juga
sebagai substansi dasar kebijakan (virtue) dari berbagai bentuk interaksi di antara warga
negara.
Sementara Karl Marx memahami masyarakat madani sebagai “masyarakat borjuis” dalam
konteks hubungan produksi kapitalis, keberadaannya merupkan kendala bagi pembebasan
manusia dari penindasan. Karenanya, maka ia harus dilenyapkan untuk mewujudkan
masyarakat tanpa kelas. Sedangkan Antonio Gramsci memahami masyarakat madani sebagai
relasi produksi, tetapi lebih pada sisi ideologis.
Berdasarkan pada berbagai model pengembangan masyarakat madani di atas, model
Grammsci dan Toquiville telah menjadi inspirasi gerakan pro dan demokrasi di Eropa Timur
dan Tengah sekitar akhir dasawarsa 80-an. Pengalaman Eropa Timur dan Tengah tersebut
membuktikan bahwa justru dominasi negara atas masyarakatlah yang melumpuhkan
kehidupan sosial mereka.

B. Pengertian Mayarakat Madani


Dalam mendefiniskan istlilah (term) masyarakat madani ini sangat bergantung kepada
konsidi sosio-kultural suatu bangsa, karena bagaimanapun konsep masyarakat madani
merupakan bangunan istilah yang lahir dari sejarah pergulatan masayarakat Eropa.
Pertama, definisi yang dikemukakan oleh Zbigniew Rau dengan latar belakang kajiannya
pada kawasan Eropa Timur dan Uni Sovyet. Tokoh ini menjelaskan bahwa yang dimaksud
dengan masyarakat madani merupakan suatu masayarakat yang berkembang dari sejarah yang
menghandalkan ruang di mana individu dan perkumpulan tempat mereka bergabung, bersaing
satu sama lain guna mencapai nilai-nilai yang mereka yakini.
Kedua, yang digambarkan oleh Han Sung Joo dengan latar belakang kasus Korea
Sekatan. Joo, mengatakan bahwa masyarakat madani merupakan sebuah kerangak hukum
yang melindungi dan menjamin hak-hak dasar individu, perkumpulan sukarela, suatu ruang
publik, yang mampu mengartikulasikan isu-isu politik, suati runag lingkup, yang mampu
mengandalikan diri dan independen yang secara bersama-sama mengakui norma-norma dan
budaya yang menjadi identitas dan solidaritas yang terbentuk serta gilirannya akan tercipta
kelompok inti dalam civil society.
Ketiga, definisi yang dikemukakan oleh Kim Sunhyuk juga dalam konteks Korea Selatan.
Dikemukakannya bahwa yang dimaksud dengan masyarakat madani adalah suatu satuan yang
terdiri dari kelompok-kelompok yang secara mandiri menghimpun dirinya dan gerakan-
gerakan dalam masyarakat yang secara relatif otonom dari negara yang merupakan satuan-
satuan dasar dari (re) produksi dan masayarakat politik yang guna menyatakan kepedulian
mereka memajukan kepentingan-kepentingan mereka menurut prinsip-prinsip pluralisme dan
pengelolaan yang mandiri.
Akan tetapi secara global dari ketiga batasan di atas dapat ditarik kesimpulan, bahwa
masyarakat madani adalah sebuah kelompok atau tatanan masyarakat yang berdiri sendiri
secara mandiri di hadapan penguasa dan negara memiliki ruang publik (public share) dalam
mengemukakan pendapat, adanya lembaga-lembaga yang mandiri yang dapat menyalurkan
aspirasi dan kepentingan publik.
Dalam konteks pemikiran lain, Simuh (2000: 136) menjelaskan ciri masyarakat madani,
dijelaskannya sebagai berikut:
1. Bahwa budaya itumerupakan krida dari cipta, rasa dan karsa, manusia, maka buaya
madani adalah didukung oleh niali cipta (rasio, teori) yang kuat.
2. Ciri kedua suatu pola budaya yang kuat nilai rasio atau nalarnya adalah berwatak
progresif, yakni melahirkan budaya yang rasional dinamis.
3. Ciri yang ketiga adalah bersifat egalitarian, yakni menghargai bahwa setiap orang
punya derajat yang sama dan harus bersikap mandiri dan mengharagai perbedaan.

C. Karakteristik Masyarakat Madani


Suatu masyarakat dibangun atas beberapa prinsip yang berkenaan dengan ciri-ciri sebagai
bagian tak terpisahkan dengan keberadaan suatu masyarakat. Dalam hal ini, ada beberapa
karakteristik masyarakat madani, anatar lain:
1. Free Public Sphere
Adapun yang dimaksud dengan free public sphere adalah adanya ruang publik yang
bebas sebagai sarana dalam mengemukakan pendapat. Karena dengan menafikan adaya ruang
publik yang bebas dalam tatanan masyarakat madani, maka akan memungkinkan kebebasan
warga negara dalam menyalurkan aspirasinya yang berkenaan dengan kepentingan umum oleh
penguasa yang tiranik dan otoriter.
2. Demokratis
Demokratis merupakan satu intitas yang menjadi penegak wacana masyarakat madani, di
mana dalam menjalani kehidupan, warga negara memiliki kebebasan penuh untuk
menjalankan aktivitas kesehariannya, termasuk dalam berinteraksi dengann lingkungannya.
Penekanan demokrasi (demokratis) di sini dapat mencakup sebagi bentuk aspek kehidupan
seperti politik, sosial, budaya, pendidikan, ekonomi, dan sebagainya.
3. Toleran
Toleran merupakan sikap yang dikembangkan dalam masyarakat madani menunjukkan
sikap saling menghargai dan menghormati aktivitas yang dilakukan oleh orang lain. Toleransi
ini memungkinkan akan adanya kesadaran masing-masing individu untuk menghargai dan
menghormati pendapat serta aktivitas yang dilakukan oleh kelompok masyarakat lain yang
berbeda.
4. Pluralisme
Sebagai sebuah prasyarat penegakan masyarakat madani, maka pluralisme harus
dipahami secara mengakar dengan menciptakan sebuah tatanan kehidupan yang mengahrgai
dan menerima kemajemukan dalam konteks kehidupan sehari-hari.
5. Keadilan Sosial (Social Justice)
Keadilan dimaksudkan untuk menyebutkan keseimbangan dan pembagian yang
proposional terhadap hak dan kewajiban setiap warga negara yang mencakup seluruh aspek
kehidupan.

D. Pengembangan Masyarakat Madani


Adapun yang dimaksudkan dengan pengembangan masyarakat madani adalah suapaya
mewujudkan cita-cita dan karakteristik masyarakat yang diinginkan benar-benar terwujud.
Oleh sebab itu, ada lembaga-lembaga yang diperlukan dan berfungsi mengkritisi kebijakan-
kebijakan penguasa agar tidak menyimpang dari cita-cita masyarakat madani.
Dengan demikian, diperlukan kehadiran Lembaga Swadaya Mayarakat (LSM), Pers,
supermasi hukum, perguruan tinggi dan partai politik.
BAB III

KAJIAN PUSTAKA

3.1 Latar Belakang Masalah yang akan dikaji


Membaca adalah kegiatan yang sangat mendatangkan banyak manfaat. Mereka yang
gemar membaca buku akan mendapatkan banyak informasi sehingga memperluas wawasan
dan pengetahuan mereka serta mempunyai kecenderungan bijak untuk menghadapi
permasalahan. Selain membaca, pembaca juga seharusnya memiliki kemampuan atau
keterampilan dalam mengulas buku baik secara sederhana hingga secara utuh dan kompleks.
Resensi buku berasal dari bahasa Latin yaitu revidere yang artinya pertimbangan atau
pembicaraan tentang buku. Dalam KBBI disebutkan bahwa resensi merupakan ulasan buku.
Jadi resensi adalah uraian singkat mengenai isi suatu buku, majalah, novel, drama atau film.
Adapun tindakan meresensi adalah memberikan suatu penilaian, membahas, mengkritik atau
mengungkapkan kembali isi di dalamnya.
Menulis resensi berarti menyampaikan informasi mengenai ketepatan buku bagi pembaca.
Ulasan dikaitkan dengan selera pembaca dalam upaya memenuhi kebutuhan akan bacaan yang
dapat dijadikan acuan bagi kepentingannya.
Tujuan meresensi adalah untuk memberikan suatu pemahaman dan informasi secara
komprehensif kepada masyarakat atau pembaca tentang isi buku yang diresensi dan mengajak
pembaca untuk mendiskusikanlebih jauh tentang masalah yang ada dalam buku.
Resensi memberikan gambaran umum bagi pembaca terkait dengan buku dan memuat
deskripsi buku baik judul hingga sistematika penyusunan buku. Resensi dapat juga berupa
sinopsis atau cuplikan dari keseluruhan buku yang dapat mempermudah pembaca dalam
mengetahui dan memahami buku secara utuh.
Dengan melakukan resensi pada buku maka dapat dilihat kelebihan maupun kelemahan
buku, juga melakukan ulasan terhadap buku agar pembaca dapat mengetahui isi buku tanpa
harus membaca buku secara keseluruhan. Dengan menggunakan resensi juga dapat diketahui
bagaimana cara mengatasi atau memperbaiki kelemahan yang terdapat dalam buku
sebaliknya, meningkatkan kualitas buku melalui perbaikan-perbaikan. Dengan melakukan
resensi, selain dapat diketahui kelebihan dan kelemahan namun juga dapat dilihat buku secara
deskriptif dan informatif.

3.2 Permasalahan yang akan dikaji


Dalam sebuah buku sudah pasti memiliki kelebihan dan kekurangan didalamnya. Untuk
itu diperlukan resensi sebagai perbandingan buku untuk melihat kelebihan dan kekurangan
tersebut serta memperbaikinya. Buku yang dibandingkan adalah buku Sarbaini Saleh,
S.Sos.,M.Si yang berjudul Pendidikan Kewarganegaraan Mewujudkan Masyarakat
Madani yang diterbitkan pada tahun 2010 dan buku Drs. Payerli Pasaribu, M, Si. yang
berjudul Pendidikan Kewarganegaran yang diterbitkan pada tahun 2016.
Kita bisa melihat bahwa kedua buku tersebut diterbitkan pada tahun yang berbeda.
Apakah dengan perbedaan tahun terbit tersebut menjadi pengaruh perbandingan signifikan
dalam kualitas penulisan maupun kualitas isi. Penulisan perbandingan tidak sebatas pada isi
buku saja, tetapi sistematika penulisan, gaya bahasa, bahkan ilustrasi hal-hal intrinsik buku.
Serta penulis memban

3.3 Kajian teori yang digunakan/konsep yang digunakan


Kajian teori atau konsep yang digunakan dalam menganalisis buku Pendidikan
Kewarganegaraan: Mewujudkan Masyarakat Madani adalah Studi Literatul yaitu cara yang
dipakai untuk menghimpun data-data atau sumber-sumber yang berhubungan dengan topik
yang diangkat dalam suatu penelitian. Studi literatur bisa didapat dari berbagai sumber, jurnal,
buku dokumentasi, internet dan pustaka.

3.4 Metode yang digunakan


Metode yang digunakan dalam menganalisis buku Pendidikan Kewarganegaraan:
Mewujudkan Masyarakat Madani adalah metode kualitatif yaitu penelitian tentang riset yang
bersifat deskriptif dan cenderung menggunakan analisis . Proses dan makna (perspektif
subjek) lebih ditonjolkan dalam penelitian kualitatif. Landasan teori dimanfaatkan sebagai
pemandu agar fokus penelitian sesuai dengan fakta di lapangan.

3.5 Analisis Critical book report

BAB I
 Dalam buku yang menjadi panduan yaitu buku Pendidikan Kewarganegaraan:
Mewujudkan Masyarakat Madani struktur bukunya sudah baik dan tersusun dengan rapi,
hanya saja cara penulisan dalam buku ini masih kurang rapi karena masih banyaknya
penulisan kata yang salah dan peletakan tanda bacanya kurang tepat, penjelasan dalam
penyajian materi juga sudah baik karena telah dijelaskan secara terperinci dan telah
menggunakan pendapat dari beberapa ahli mulai dari ahli dalam negeri maupun luar
negeri walaupun masih banyak menggunakan kata-kata yang sukar untuk dimegerti yang
membuat pembaca untuk sedikit lambat dalam memahaminya.
 Didalam buku ini juga diberikan beberapa contoh ketika menjelaskan beberapa materi
agar lebih jelas atau agar membuat si pembaca cepat menalar. Sedangkan di buku
pembanding pada buku Pendidikan Kewarganegaraan Edisi Revisi (Modul Pembelajaran)
di dalam pembahasan Modul 2 struktur juga sudah baik dan materi yang dijelaskan juga
baik walau masih ada beberapa materi yang kurang lengkap, cara penulisannya dalam
buku ini masih sama seperti buku utama yaitu masih banyak kesalahan dalam penulisan
kata-kata dan peletakan tanda baca juga masih ada yang salah, namun walaupun begitu
dalam buku ini penjelasan yang di buat oleh pengarah lebih mudah untuk dipahami oleh
pembaca dari pada buku utama dan pada penjelasan terdapat juga contoh yang diberikan
pengarang untuk memperjelas bacaan.
 Dalam buku ini pengarah juga memberikan pengertian dan teori dari beberapah ahli
seperti buku utama tadi.

BAB II
 Buku Pendidikan Kewarganegaraan karangan Sarbaini Shaleh, Sudah baik di dalam
memaparkan isi bab ini, sehingga pembaca dapat mengerti tentang isi bab ini. Sedangkan
dalam jurnal pembahasan tentang bab yang terkait sudah baik tetapi kurang meluas.
 Buku Pendidikan Kewarganegaraan karangan Sarbaini Shaleh dan di dalam jurnal, ada
beberapa pendapat ahli dan Undang-undang yang terkait dalam isi bab ini. Sehingga
pembaca dapat menyimpulkan penjelasan dari beberapa ahli dan Undang-undang
tersebut.
 Penulisan buku Pendidikan Kewarganegaraan karangan Sarbaini Shaleh, sudah baik dan
menggunakan apa style. Hanya saja banyak terdapat kesalahan dalam tata letak huruf dan
banyaknya tanda baca yang berlebihan. Sedangkan jurnal yang terkait dalam bab ini
penulisan nya juga sudah baik.

BAB III
 Dalam penjabaran materi buku Pendidikan Kewarganegaraan karangan Sarbaini Shaleh
dan buku Pendidikan Kewarganegaran karangan Payerli Pasaribu, penulis memaparkan
materi dengan secara jelas dan tidak berbelit-belit.
 Pada buku Pendidikan Kewarganegaraan karangan Sarbaini Shaleh, penulis menjelaskan
secara rinci dan teratur pada sub judul pada bab ini. Setiap sub judul diberi pengertian
secara terminologi dan etimonologi yang mudah dimengerti, sedangkan pada buku
Pendidikan Kewarganegaran karangan Payerli Pasaribu, sedikitnya penjabaran dan tidak
adanya pengertian secara terminologi dan etimologis.
 Pada buku Pendidikan Kewarganegaraan karangan Sarbaini Shaleh, terdapat
pendahuluan didalam bab ini yang mempermudah pembaca menganalisis tentang materi
yang akan dipaparkan dibab ini. Sedangkan pada buku Pendidikan Kewarganegaran
karangan Payerli Pasaribu tidak terdapat pendahuluan.
 Dalam buku Pendidikan Kewarganegaraan karangan Sarbaini Shaleh, terdapat
rangkuman dan latihan soal, sehingga pembaca tahu sampai dimana pemahamannya
tentang materi ini. Sedangkan di buku Pendidikan Kewarganegaran karangan Payerli
Pasaribu, tidak terdapat rangkuman dan latihan soal, sehingga pembaca tidak tahu sampai
dimana pemahamannya tentang materi ini, dan kemungkinan beberapa pembaca yang
ingin mengambil inti sari atau kesimpulan dari materi mengalami kesusahan karena harus
membaca keseluruhan materi yang disajikan pada buku tersebut.
 Buku Pendidikan Kewarganegaraan karangan Sarbaini Shaleh, bab ini menjabarkan
demokrasi ke dalam sub judul mencakup secara luas, sedangkan buku Pendidikan
Kewarganegaran karangan Payerli Pasaribu, di dalam sub judul hanya menjelaskan
sedikit tentang demokrasi.
 Buku Pendidikan Kewarganegaraan karangan Sarbaini Shaleh, bab ini menjabaran secara
keseluruhan mengenai demokrasi di Indonesia sehingga pembaca lebih mengerti dan
menambah wawasan pembaca. Sedangkan buku Pendidikan Kewarganegaran karangan
Payerli Pasaribu, di dalam bab ini tidak menjelaskan secara terperinci tentang demokrasi.
 Buku Pendidikan Kewarganegaraan karangan Sarbaini Shaleh dan buku Pendidikan
Kewarganegaran karangan Payerli Pasaribu, cara penulisan menggunakan apa style.
Hanya saja banyak terdapat kesalahan tanda baca dan kata-kata yang salah di dalam bab
ini.
 Buku Pendidikan Kewarganegaraan karangan Sarbaini Shaleh dan buku Pendidikan
Kewarganegaran karangan Payerli Pasaribu, terdapat beberapa pendapat dari ahli.
Sehingga dapat mempermudah pembaca menarik kesimpulan dari setiap pengertian
dalam masing-masing bab.

BAB IV
 Dalam buku yang menjadi panduan yaitu buku Pendidikan Kewarganegaraan:
Mewujudkan Masyarakat Madani struktur bukunya sudah baik dan tersusun dengan rapi,
hanya saja cara penulisan dalam buku ini masih kurang rapi karena masih banyaknya
penulisan kata yang salah dan peletakan tanda bacanya kurang tepat, penjelasan dalam
penyajian materi juga sudah baik karena telah dijelaskan secara terperinci dan telah
menggunakan pendapat dari beberapa ahli mulai dari ahli dalam negeri maupun luar
negeri.
 Kata-kata yang digunakan pengarang dalam menjelaskan materi sudah dapat di mengerti
walaupun ada beberapa kata yang sukar dipahami dan juga pengarang membuat beberapa
contoh cari penjelasan yang telah ia buat. Sedangkan pada jurnal Negara Hukum
Indonesia Kebalikan Nachtwachterstaat yang juga membahas beberapa tentang Negara
hukum struktur dalam penyusunan isi informasi jurnalnya sudah baik, materi yang masuk
sudah baik dan juga jelas karena dengan penguatan refrensi langsung dari UUD 1945.
 Isi jurnal dikatakan baik juga karena dalam pembuatannya peneliti meneliti dengan nyata
apa yang akan di rangkum dalam jurnal ini dan dalam pembuatan jurnal ini juga
menggunakan metode sehingga dapat memperkuat kepercayaan si pembaca pada jurnal
ini. Hanya saja materi yang di paparkan tidak selengkap pada buku utama buku
Pendidikan Kewarganegaraan: Mewujudkan Masyarakat Madani.
 Cara penulisan dalam jurnal ini sudah baik dan rapi sehingga enak dilihat mata dan tidak
membingungkan si pembaca juga. Dan juga dalam jurnal ini peneliti juga banyak
menggunakan refrensi buku.

BAB V
 Buku Pendidikan Kewarganegaraan karangan Sarbaini Shaleh dan Jurnal yang Terkait,
dalam pembahasannya paling menonjol yaitu pemahaman HAM ini lebih menuju dalam
ajaran Islam.
 Di dalam buku Pendidikan Kewarganegaraan karangan Sarbaini Shaleh ini masih
bersifat teori atau pengetahuan sehingga kurang mempermudah pembaca untuk mengerti
pemahaman tentang HAM, sedangkan dengan jurnal ini lebih spesifik lagi dengan contoh
gambaran yang pernah terjadi mengenai HAM dan dilengkapi dengan isu-isu mengenai
HAM yang dapat mempermudah pembaca untuk lebih memahami tentang HAM.
 Pada buku Pendidikan Kewarganegaraan karangan Sarbaini Shaleh dan jurnal yang
terkait, secara keseluruhan bab ini sudah dikatakan cukup baik dari segi pemamahan
materi, hanya saja lebih spesifik lagi dalam mendalami isi dari materi nya.

BAB VI
 Pada buku Pendidikan Kewarganegaraan karangan Sarbaini Shaleh, terdapat
pendahuluan didalam bab ini yang mempermudah pembaca menganalisis tentang materi
yang akan dipaparkan dibab ini. Sedangkan pada buku Pendidikan Kewarganegaran
karangan Payerli Pasaribu tidak terdapat pendahuluan.
 Pada buku Pendidikan Kewarganegaraan karangan Sarbaini Shaleh, terdapat sejarah
lahirnya dari ketahanan nasional, sedangkan pada buku Pendidikan Kewarganegaraan
karangan Payerli Pasaribu tidak terdapat sejarah terlahirnya ketahanan nasional. Sehingga
pembaca tidak mengetahui secara rinci bagaimana ketahanan nasional tersebut muncul.
 Pada buku Pendidikan Kewarganegaraan karangan Sarbaini Shaleh, pembahasan tentang
ketahanan nasional sudah baik dan luas penjelasan yang ada dibab ini sehingga pembaca
dapat lebih mengerti. Pada buku Pendidikan Kewarganegaraan karangan Payerli Pasaribu
juga sudah baik didalam penjelasan yang terkait dengan ketahanan nasional apalagi
ditambahkan pembahasan tentang geostrategi terhadap ketahanan nasional tersebut.
 Buku Pendidikan Kewarganegaraan karangan Sarbaini Shaleh dan buku Pendidikan
Kewarganegaran karangan Payerli Pasaribu, cara penulisan menggunakan apa style.
 Dalam buku Pendidikan Kewarganegaraan karangan Sarbaini Shaleh, terdapat
rangkuman dan latihan soal, sehingga pembaca tahu sampai dimana pemahamannya
tentang materi ini. Sedangkan di buku Pendidikan Kewarganegaran karangan Payerli
Pasaribu, tidak terdapat rangkuman dan latihan soal, sehingga pembaca tidak tahu sampai
dimana pemahamannya tentang materi ini, dan kemungkinan beberapa pembaca yang
ingin mengambil inti sari atau kesimpulan dari materi mengalami kesusahan karena harus
membaca keseluruhan materi yang disajikan pada buku tersebut.

BAB VII
 Buku Pendidikan Kewarganegaraan karangan Sarbaini Shaleh dan Jurnal yang terkait ini
sudah dikatakan sudah bagus dari segi pemahaman materi.
 Buku Pendidikan Kewarganegaraan karangan Sarbaini Shaleh dan Jurnal yang terkait,
secara keseluruhan hampir membahas sub bab yang sama dan adanya isi sub bab yang
memilki isi yang sama.
 Di dalam buku Pendidikan Kewarganegaraan karangan Sarbaini Shaleh tidak terdapat
pemahaman yang dihubungkan kepada Islam. Sedagkan Jurnal lebih dilengkapi lagi
pemahaman dalam Islam, dan adanya ditemukan sub bab yang memiliki isi yang berbeda.
Di jurnal juga lebih diluaskan lagi langsung menuju masalah-masalah mengenai
mmasyarakat madani, hal ini sangat baik jika di dalam buku ini juga lebih mendalam lagi
ke segi masalah yang membantu pembaca memahami isi materi dari sub bab yang
dibahas. Secara keseluruhan bab ini sudah bagus.
BAB IV

PENUTUP
4.1 Kesimpulan

Buku karangan Sarbaini Saleh, S.Sos., M.Si yang berjudul Pendidikan Kewarganegaraan:
Mewujudkan Masyarakat Madani ini mempunyai tujuan yang bagus dan sangat membangun
untuk para pembaca. Setelah membaca buku ini maka para pembaca akan mendapat ilmu
pengetahuan dan informasi yang penting dan sangat bermanfaat bagi dirinya yang belum
diketahui sebelumnya.
Hanya saja masih ada kekurangan dalam buku ini seperti penggunaan bahasa yang sukar
untuk dipahami dan tidak adanya indeks pada buku ini. Begitu pula dengan peletakan tanda
bacanya juga masih banyak yang kurang tepat lagi. Buku ini juga tidak mempunyai
rangkuman dan juga latihan sehingga pembaca tidak bisa mengukur sejauh mana ini telah
memahami materi yang telah ia kuasai.

4.2 Saran

Buku karangan Sarbaini Saleh, S.Sos., M.Si yang berjudul Pendidikan Kewarganegaraan:
Mewujudkan Masyarakat Madani memiliki keunggulan dan kelemahan dari berbagai macam
segi, baik dari segi format dan penulisan struktur buku, penggunaan bahasa, penggunaan tanda
baca, kualitas isi buku dan sebagainya. Jadi, apa yang menjadi keunggulan ini maka
hendaknya di tingkatkan lagi agar kualisas buku ini semakin peningkat dan para pembaca
semakin semangat untuk membacanya beberapa tahun kedepannya. Dan apa yang menjadi
kelemahan dari buku ini hendaknya diperbaiki agar kesempurnaan buku ini tercapai.
DAFTAR PUSTAKA

Saleh, Sarbaini. 2010. Pendidikan Kewarganegaraan: Mewujudkan Masyarakat Madani.


Bandung: Citapustaka Media Perintis.
Pasaribu, Payerli. 2016. Pendidikan Kewarganegaraan: Edisi Revisi. Medan: Unimed Press.
jurnal.fh.unila.ac.id/index.php/fiat/article/download/56/57
http://digilib.uinsby.ac.id/8316/2/Bab%202.pdf
http://jurnalhunafa.org/index.php/hunafa/article/view/247
ejournal.unisba.ac.id/index.php/syiar_hukum/article/view/541
jurnal.fh.unila.ac.id/index.php/fiat/article/view/56
ejournal.uin-suka.ac.id/isoshum/sosiologireflektif/article/viewFile/1157/106
PEDOMAN TUGAS JOURNAL REVIEW

I. PENDAHULUAN

Selain tugas rutin, rekayasa ide atau gagasan tertulis, laporan proyek
atau project report, critical book report, dan laporan hasil mini riset, review
jurnal atau hasil dari penelitian ( critical journal / research review) termasuk
salah satu bentuk penugasan yang penting dalam kurikulum KKNI yang berlaku
di Jurusan Pendidikan Antropologi FIS Unimed. Tujuan dari review jurnal atau
hasil dari penelitian sendiri adalah untuk mempermudah dalam membahas inti
hasil penelitian ataupun jurnal yang telah ada.
Review jurnal ataupun hasil penelitian merupakan salah satu strategi
untuk bisa mempermudah memahami inti dari jurnal ataupun dari hasil
penelitian yang telah dilakukan. Oleh sebab itu, setiap mahasiswa khususnya
jurusan Pendidikan Antropologi harus memiliki kompetensi untuk membaca
serta menganalisis agar jurnal ataupun hasil penelitian yang dibahas dapat
dipahami sepenuhnya oleh mahasiswa. Oleh sebab itu sangat dibutuhkan
kriteria seperti apa jurnal ataupun hasil penelitian yang akan boleh direview
oleh mahasiswa. Adapun kriteria jurnal yang akan di review adalah sebagai
berikut;
1. Jurnal yang dipilih adalah jurnal nasional ataupun jurnal
internasional (berbahasa Inggris) yang memuat judul, volume, tahun, nomor
jurnal serta lembaga yang menerbitkannya.
2. Jurnal dapat berupa prosiding hasil seminar internasional baik dalam
bentuk
elektronik atau non eletronik.

3. Jurnal berkaitan dengan topik-topik yang dibahas dalam perkuliahan yang


terdiri dari tiga (3) bidang ke-ilmuan yakni, Antropologi, Sosiologi, Ilmu
Sosial dan Ilmu Politik.

BAB. II. FORMAT PENULISAN REVIEW JURNAL ATAU HASIL PENELITIAN

Berikut ini adalah sistematik penulisan jurnal review atau hasil penelitian ;

1. Cover

Format cover harus seragam baik ukuran hurup maupun tata letaknya.
2. Kata Pengantar (1 halaman)

3. Daftar Isi (1 halaman)

4. Pendahuluan (1 – 2 halaman)

Pendahuluan memuat latar belakang pemilihan jurnal serta relevansinya dengan


topik yang Anda minati.
5. Ringkasan Jurnal ( 3 – 5 halaman)

a. Meyajikan identitas jurnal seperti judul, penulis dan lembaga penulis dan lembaga
yang menerbitkan jurnal
b. Menyajikan ringkasan dari setiap bagian jurnal meliputi :
- pendahuluan

- kajian teori

- metodologi penelitian

- pembahasan

- kesimpulandan saran

6. Pembahasan (4 – 7 halaman)

a. Menjelaskan relevansi antara topik jurnal dengan karya-karya dan bidang keahlian
penulis jurnal
b. Membahas pokok-pokok argumentasi penulis dalam pendahuluan c. Membahas
pemilihan serta cakupan kajian teori
d. Membahas metodologi penelitian yang digunakan dan relevansinya

e. Membahas tentang kerangka berfikir penulis pada bagian pembahasan f.


Membahas tentang kesimpulan dan saran yang diajukan penulis serta
implikasinya pada penelitian berikutnya.

g. Pembahasan bias memuat persetujuan, kritik, sanggahan, uraian penjelas serta


posisi penulis journal review (mahasiswa) terhadap jurnal.
7. Kesimpulan dan saran (1 – 2 halaman)
BAB. III. SISTEMATIKA PENULISAN JURNAL REVIEW ATAU HASIL PENELITIAN

1. Laporan ditulis dalam kertas A4, margin 4 kanan, 4 atas, 3 kiri, 3 bawah, huruf

Times New Romans ukuran 12, danspasi 1,5.

2. Jarak antara judul bab dengan body bab 1,5 spasi x 3

3. Judul bab, sub-bab, sub bab menggunakan penomoran A. 1. a. 1) dst.

4. Penulisan rataan kanan sejajar dengan nomor judul sub bab (tidak ada menjorok)

5. Spasi baris judul sub bab adalah 0 pt atas dan 0 pt bawah.

6. Spasi baris judul sub-sub bab dan seterusnya adalah 12 pt atas dan 6 pt bawah.

7. Nomor halaman menggunakan hurup arab di sampingkan anatas kecuali halaman


judul bab di bawah tengah