Anda di halaman 1dari 15

GOOD CORPORATE GOVERNANCE (GCG)

LATAR BELAKANG MUNCULNYA GCG

Runtuhnya sistem ekonomi komunis menjelang akhir abad ke-20, menjadikan


sistem ekonomi kapitalis sebagai satu-satunya sistem ekonomi yang paling dominan
di seluruh dunia. Sistem ekonomi kapitalis ini makin kuat mengakar berkat arus
globalisasi dan perdagangan bebas yang mampu dipaksakan oleh negara-negara maju
penganut sistem ekonomi kapitalis. Ciri utama sistem ekonomi kapitalis adalah
kegiatan bisnis dan kepemilikan perusahaan dikuasai oleh individu-individu / sektor
swasta.

Timbulnya krisis ekonomi di Indonesia disebabkan oleh tata kelola perusahaan


yang buruk (bad corporate governance) dan tata kelola pemerintahan yang buruk
pula (bad government governance) sehingga memberi peluang besar munculnya
praktik-praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme. Hal ini dapat ditunjukkan pada
beberapa fakta berikut:

 Mudahnya para spekulan mata uang untuk mempermainkan pasar valuta


asing karena tidak adanya alat kendali yang efektif.
 Mudahnya para konglomerat memperoleh dana pinjaman dari perbankan.
 Banyak direksi BUMN termasuk di bank-bank pemerintah juga tidak
independen.
 Para komisaris di BUMN sering kali bukan orang yang professional,
melainkan oknum-oknum birokrasi yang telah memasuki usia pensiun.

PENGERTIAN GCG

Beberapa definisi:
a. Cadbury Committee of United Kingdom; seperangkat peraturan yang
mengatur hubungan antara pemegang saham, pengurus perusahaan, pihak
kreditur, pemerintah, karyawan, serta pemegang kepentingan internal dan
eksternal lainnya yang berkaitan dengan hak-hak dan kewajiban mereka.
b. Sukrisno Agoes; suatu sistem yang mengatur hubungan peran Dewan
komisaris, peran Direksi, pemegang saham, dan pemangku kepentingan
lainnya.
c. Organization for Economic Cooperation and Development; suatu struktur
yang terdiri atas pemegang saham, direktur, manajer, seperangkat tujuan yang
ingin dicapai perusahaan, dan alat-alat yang akan digunakan dalam mencapai
tujuan dan memantau kinerja.
d. Wahyudi Prakarsa; mekanisme administratif yang mengatur hubungan-
hubungan antara manajemen perusahaan, komisaris, direksi, pemegang
saham, dan kelompok-kelompok kepentingan (stakeholders) lainnya
Konsep GCG:

1. Wadah Organisasi (perusahaan, sosial, pemerintahan)


Suatu sistem, proses, dan seperangkat peraturan, termasuk
2. Model prinsip-rinsip, serta nilai-nilai yang melandasi praktis bisnis
yang sehat.
 Meningkatkan kinerja organisasi
 Menciptakan nilai tambah bagi semua pemangku
kepentingan
 Mencegah dan mengurangi manipulasi serta kesalahan
3. Tujuan
yang signifikan dalam pengelolaan organisasi
 Meningkatkan upaya agar para pemangku kepentingan
tidak dirugikan
Mengatur dan mempertegas kembali hubungan, peran,
4. Mekanisme wewenang, dan tanggung jawab.

PRINSIP-PRINSIP GCG
Menurut:

a. Organization for Economic Cooperation and Development:

 Perlakuan yang setara antara pemangku kepentingan (fairness)


 Transparansi (transparency)
 Akuntabilitas (accountability)
 Responsibilitas (responsibility)
b. Keputusan nomor Kep-117/M-MBU/2002:

 Kewajaran (fairness)
 Transparansi
 Akuntabilitas
 Pertanggungjawaban
 Kemandirian
c. National Committee on Governance:

 Transparansi (transparency)
 Akuntabilitas (accountability)
 Responsibilitas (responsibility)
 Independensi (independency)
 Kesetaraan (fairness)
Kesimpulan:

 Perlakuan yang setara (fairness)


o Prinsip agar para pengelola memperlakukan semua pemangku
kepentingan secara adil dan setara.
 Prinsip transparansi
o Kewajiban bagi para pengelola untuk menjalankan prinsip keterbukaan
dalam proses keputusan dan penyampaian informasi.
 Prinsip Akuntabilitas
o Prinsip di mana para pengelola berkewajiban untuk membina sistem
akuntansi yang efektif untuk menghasilkan laporan keuangan yang
dapat dipercaya.
 Prinsip Responsibiltas
o Prinsip di mana para pengelola wajib memberikan
pertanggungjawaban atas semua tindakan dalam mengelola
perusahaan kepada para pemangku kepentingan sebagai wujud
kepercayaan.
 Kemandirian
o Suatu keadaan di mana para pengelola dalam mengambil keputusan
bersifat professional, mandiri, bebas dari konflik kepentingan, dan
bebas dari tekanan/pengaruh dari manapun.

MANFAAT GCG

 Memudahkan akses terhadap investasi domestik maupun asing


 Mendapatkan biaya modal yang lebih murah
 Memberikan keputusan yang lebih baik dalam meningkatkan kinerja
ekonomi perusahaan
 Meningkatkan keyakinan dan kepercayaan dari para pemangku
kepentingan terhadap perusahaan
 Melindungi direksi dan komisaris dari tuntutan hokum.
GCG DAN HUKUM PERSEROAN DI INDONESIA
Kegiatan perusahaan (perseroan) di Indonesia didasarkan atas Undang-Undang
Nomor 1 Tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas. Namun Undang-Undang ini
kemudian dicabut dan diganti dengan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007.
Sebagaimana diatur dalam Pasal 1 ayat 1 UU nomor 40 Tahun 2007, perseroan adalah
badan hukum yang merupakan persekutuan modal, didirikan berdasarkan perjanjian,
melakukan kegiatan usaha dengan modal dasar yang seluruhnya terbagi dalam saham
dan memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam Undang-Undang ini serta peraturan
pelaksanaannya.
Beberapa ketentuan lama yang masih relevan yang terdapat dalam Undang-
Undang Nomor 1 Tahun 1995 masih dipertahankan. Namun ada beberapa ketentuan
baru yang merupakan penyempurnaan rambu-rambu secara besar yang berkaitan
dengan tata kelola perusahaan (corporate governance). Ketentuan yang
disempurnakan, antara lain:
a. Dimungkinkan mengadakan RUPS dengan memanfaatkan teknologi informasi
yang ada, seperti: telekonferensi, video konferensi atau sarana media
elektronik lainnya (Pasal 77).
b. Kejelasan mengenai tata cara pengajuan dan pemberian pengesahan status
badan hukum dan pengesahan Anggaran Dasar Perseroan.
c. Memperjelas dan mempertegas tugas dan tanggung jawab Direksi dan Dewan
Komisaris, termasuk mengatur mengenai komisaris independen dan komisaris
utusan.
d. Kewajiban perseroan untuk melaksanakan tanggung jawab sosial dan
lingkungan.

Secara spesifik, wewenang, tugas, dan tanggung jawab RUPS, Dewan Komisaris, dan
Dewan Direksi dapat diringkas sebagai berikut:
1. RUPS
a. Menyetujui dan menetapkan perubahan Anggaran Dasar Perusahaan (Pasal
19 ayat 1).
b. Menyetujui pembelian kembali dan pengalihan saham Perseroan (Pasal 38
ayat 1).
c. Menyetujui penambahan dan pengurangan modal Perseroan (Pasal 41 ayat
1 dan Pasal 44 ayat 1).
d. Menyetujui dan mengesahkan laporan tahunan termasuk laporan keuangan
Direksi serta laporan tugas pengawasan Komisaris (Pasal 69).
e. Menyetujui dan menetapkan pengunaan laba bersih, penyisihan cadangan
dan dividen, serta dividen interim (Pasal 71 dan Pasal 72).
f. Menyetujui penggabungan, peleburan, pengambilalihan atau pemisahan,
pengajuan pailit, perpanjangan jangka waktu berdirinya, dan pembubaran
perseroan (Pasal 89).
g. Menyetujui pengangkatan dan pemberhentian anggota Direksi dan
Komisaris (Pasal 94 dan Pasal 111).
h. Menetapkan besarnya gaji dan tunjangan anggota Direksi dan Komisaris
(Pasal 96 dan Pasal 113).

2. Dewan Komisaris
a. Melakukan tugas dan tanggung jawab pengawasan atas kebijakan
pengurusan, jalannya pengurusan pada umumnya, dan memberikan nasehat
kepada Direksi (Pasal 108 dan Pasal 114).
b. Bertanggung jawab renteng secara pribadi atas kerugian perseroan bila
yang bersangkutan bersalah atau lalai dalam menjalankan tugasnya (Pasal
114 ayat 3 dan ayat 4).
c. Bertanggung jawab renteng secara pribadi atas kepailitan perseroan bila
disebabkan oleh kesalahan dan kelalaian dalam menjalankan tugas
pengawasan dan pemberian nasehat (Pasal 115).
d. Diberi wewenang untuk membentuk komite yang diperlukan untuk
mendukung tugas Dewan Komisaris (Pasal 121).

3. Dewan Direksi
a. Menjalankan pengurusan perseroan untuk kepentingan perseroan sesuai
dengan kebijakan yang dianggap tepat dalam batas yang ditetapkan
Undang-Undang dan Anggaran Dasar Perseroan (Pasal 92).
b. Bertanggung jawab renteng dan penuh secara pribadi atas kerugian
Perseroan bila yang bersangkutan bersalah atau lalai dalam menjalankan
tugasnya (Pasal 97).
c. Mewakili Perseroan baik di dalam maupun di luar pengadilan (Pasal 98).
d. Wajib membuat Daftar Pemegang Saham, risalah RUPS, risalah rapat
Direksi (Pasal 100 ayat 1a).
e. Wajib membuat laporan tahunan (Pasal 100 ayat 1b).
f. Wajib memelihara seluruh daftar, risalah, dokumen keuangan, dan
dokumen Perseroan lainnya ditempat kedudukan Perseroan (Pasal 1c dan
Pasal 2).
g. Wajib meminta persetujuan RUPS untuk mengalihkan kekayaan Perseroan,
atau menjadikan jaminan utang Perseroan (Pasal 102).
Sehubungan dengan sistem hukum yang berkaitan dengan Direksi dan Komisaris,
terdapat dua sistem pengelola puncak (top management) suatu perseroan, yaitu
1. Model Anglo-Saxon (disebut juga single-board system)
Diikuti oleh Amerika dan Inggris. Dalam sistem ini tidak dikenal adanya
pemisahan antara Direksi (selaku pelaksana) dengan Dewan Komisaris
(selaku pengawas).
2. Model Kontinental (disebut juga two-board system)
Diikuti oleh negara-negara Eropa selain Inggris dan Indonesia. Dalam sistem
ini organ Dewan Direksi sebagai eksekutif Perseroan dipisah dengan organ
Dewan Komisaris yang berfungsi sebagai pengawas dan penasehat Direksi.

ORGAN KHUSUS DALAM PENERAPAN GCG


Indra Surya dan Ivan Yustiavananda menyebutkan paling tidak diperlukan
empat organ tambahan untuk melengkapi penerapan GCG, yaitu:
1. Komisaris Independen
2. Direktur Independen
3. Komite Audit
4. Sekretaris Perusahaan (Corporate Secretary)

Komisaris dan Direktur Independen


Indra Surya dan Ivan Yustiavananda mengungkapkan terdapat dua pengertian
independen terkait konsep komisaris dan direktur independen.
Pertama, komisaris dan direktur independen adalah seseorang yang ditunjuk
untuk mewakili pemegang saham independen (pemegang saham minoritas). Anggota
Direksi dan Komisaris diangkat dan diberhentikan oleh RUPS, sedangkan keputusan
yang diambil dalam RUPS didasarkan atas perbandingan suara para pemegang
saham. Hak suara RUPS didasarkan atas jumlah saham yang dimiliki masing-masing
pemegang saham sehingga para anggota Direksi dan Komisaris akan selalu berpihak
kepada kepentingan pemegang saham mayoritas dan sering kali mengabaikan dan
merugikan pemegang saham minoritas.
Kedua, komisaris dan direktur independen adalah pihak yang ditunjuk
berdasarkan latar belakang pengetahuan, pengalaman, dan keahlian professional yang
dimilikinya untuk sepenuhnya menjalankan tugas demi kepentingan perusahaan.

Selain kedua pengertian tersebut, masih ada pengertian ketiga yang biasa dipakai
dalam kode etik akuntan publik, yang dalam konteks ini sering dikenal dengan istilah
independent in fact dan independent in appearance. Independent in fact menekankan
sikap mental dalam mengambil keputusan dan tindakan didasarkan atas pertimbangan
profesionalisme dari dalam diri yang bersangkutan tanpa campur tangan, pengaruh,
atau tekanan dari pihak luar. Independent in appearance dilihat dari sudut pandang
pihak luar yang mengharapakan calon yang bersangkutan (calon auditor, komisaris,
atau direktur) secara fisik tidak mempunyai hubungan darah (kepentingan langsung)
dengan perusahaan dan/atau dengan para pemangku kepentingan lainnya yang dapat
menimbulkan kerugian bagi pihak luar tentang kenetralan yang bersangkutan.
Aturan dari PT. Bursa Efek Jakarta Nomor Kep-305/BEJ/07-2014 Pasal III.I.6.,
mengenai syarat menjadi direktur independen adalah sebagai berikut:
a. Tidak mempunyai hubungan afiliasi dengan Pemegang Saham Pengendali
Perusahaan tercatat yang bersangkutan sekurang-kurangnya 6 bulan sebelum
penunjukan sebagai direktur tidak terafiliasi.
b. Tidak mempunyai hubungan afiliasi dengan Komisaris dan Direktur lainnya
dari Perusahaan Tercatat.
c. Tidak bekerja rangkap sebagai Direksi pada perusahaan lain.
d. Tidak menjadi Orang Dalam pada lembaga atau profesi penunjang pasar
modal yang jasanya digunakan oleh Perusahaan Tercatat selama 6 bulan
sebelum penunjukan sebagai Direktur.

Komite Audit
Menurut Hananti, tugas, tanggung jawab, dan wewenang Komite Audit adalah
membantu Dewan Komisaris, antara lain:
1. Mendorong terbentuknya struktur pengendalian intern yang memadai (prinsip
tanggung jawab).
2. Meningkatkan kualitas keterbukaan dan laporan keuangan (prinsip
transparansi).
3. Mengkaji ruang lingkup dan ketepatan audit eksternal, kewajaran biaya audit
eksternal, serta kemandirian dan objektivitas audit eksternal (prinsip
akuntabilitas).
4. Mempersiapkan surat uraian tugas dan tanggung jawab komite audit selama
tahun buku yang sedang diperiksa eksternal audit (prinsip tanggung jawab).
Forum for Corporate Governance in Indonesia dan YPPMI Institute
menyebutkan syarat-syarat menjadi anggota Komite Audit adalah:
a. Komite Audit bertanggung jawab kepada Dewan Komisaris.
b. Terdiri atas sekurang-kurangnya 1 orang Komisaris Independen dan sekurang-
kurangnya 2 orang anggota berasal dari luar Emiten atau Perusahaan Publik.
c. Memiliki integritas tinggi, kemampuan, pengetahuan, dan pengalaman yang
memadai sesuai latar belakang pendidikannya, serta mampu berkomunikasi
dengan baik.
d. Salah satu dari anggota Komite Audit memiliki latar belakang pendidikan
keuangan dan akuntansi.
e. Memiliki pengetahuan yang cukup untuk membaca dan memahami laporan
keuangan.
f. Bukan merupakan orang dalam Kantor Akuntan Publik yang memberikan jasa
audit dan/atau non-audit pada Emiten atau Perusahaan Publik yang
bersangkutan dalam satu tahun terakhir sebelum diangkat oleh Komisaris
sebagaimana dimaksud dalam Peraturan VIII.A.2. Tentang Independensi
Akuntan yang memberikan jasa audit di Pasar Modal.
g. Bukan merupakan karyawan kunci Emiten atau Perusahaan Publik dalm satu
tahun terakhir sebelum diangkat Komisaris.
h. Tidak mempunyai saham baik langsung maupun tidak langsung pada Emiten
atau Perusahaan Publik. Dalam hal anggota Komite Audit memperoleh saham
akibat suatu peristiwa hukum, maka dalam jangka waktu paling lama 6 bulan
setelah diperolehnya saham tersebut wajib mengalihkan kepada pihak lain.
i. Tidak mempunyai hubungan afiliasi dengan Emiten, Komisaris, Direktur, atau
Pemegang Saham Utama.
j. Tidak mempunyai hubungan usaha baik langsung maupun tidak langsung
yang berkaitan dengan kegiatan usaha Emiten.
k. Tidak merangkap sebagai anggota Komite Audit pada Emiten atau Perusahaan
Publik lain pada periode yang sama.
l. Sekretaris Perusahaan harus bertindak sebagai Sekretaris Komite Audit.

Sekretaris Perusahaan (Corporate Secretary)


Jabatan sekretaris perusahaan menempati posisi yang sangat tinggi dan strategis
karena berfungsi sebagai pejabat penghubung (liason officer) atau semacam public
relations/investor relations antara perusahaan dengan pihak di luar perusahaan,
khususnya bagi perusahaan-perusahaan besar yang telah mendaftarkan sahamnya di
bursa. Tugas utama sekretaris perusahaan antara lain menyimpan dokumen
perusahaan, Daftar Pemegang Saham, risalah rapat direksi dan RUPS serta
menyimpan dan menyediakan informasi penting lainnya bagi kepentingan seluruh
pemangku kepentingan.

GCG DALAM BADAN USAHA MILIK NEGARA (BUMN)


Tujuan didirikan BUMN terkandung dalam pasal 33 ayat 3 UUD 1945 yang
berbunyi “ Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai
oleh negara dan dipergunakan sebesar-besar kemakmuran rakyat”. Namun dalam
perjalanannya tujuan utama BUMN sudah berubah sama seperti sektor swasta yaitu
mencari keuntungan.
Tiga jenis bentuk hukum BUMN , yaitu:
1. Persero
 Modalnya: terdiri atas saham (perbedaan dengan sasta , sebagian
besar modal dikuasai Pemerintah).
 Tujuannya: mencari keuntungan.
 Contoh : PLN (kelistrikan) , Telkom (telekomunikasi).
2. Perusahaan Umum (Perum)
 Modalnya : setoran modal Pemerintah.
 Tujuannya : tidak sepenuhnya mencari keuntungan tapi juga membawa
misi sosial.
 Contoh : Perumnas (penyedian perumahan memperhatikan daya beli
masyarakat) , Perum Bulog (menyediakan, mendistribusikan ,
mengendalikan harga kebutuhan pokok seperti beras , minyak goreng).
3. Perusahaan Jawatan (Perjan)
 Modalnya : disisihkan dari APBN
 Tujuannya : pelayanan masyarakat
 Contoh : PJKA ( Perusahaan Jawatan Kereta Api) tapi sekarang sudah
tidak ada lagi karena PJKA berganti menjadi Persero.
Persoalan pokok yang dihadapi oleh BUMN adalah rendahnya keuntungan
yang diperoleh dibandingkan dengan total hartanya. Hal ini dapat dilihat antara lain
pada :
 Pemberian remunerasi (imbalan / penghargaan atas jasa yang diberikan
atau disebut juga upah / gaji) yang berlebihan kepada direksi yang tidak
mencerminkan keterkaitan dengan pencapaian target kinerja dan ada
penyalahgunaan fasilitas BUMN untuk manajemen.
 Terlalu kuatnya pemegang saham dalam pemberian paket remunerasi tidak
merangsang direksi untuk melakukan usaha terbaiknya bagi kepentingan
BUMN.
 Transaksi bisnis dengan pihak luar yang dilakukan manajemen tidak
memperhatikan kepentingan pemegang saham.
 Penyusunan past service liabilities yang menguntungkan direksi dan
konisaris , tetapi membebani BUMN.
 Direksi melakukan stratgi diversifikasi untuk meningkatkan ukuran
perusahaan demi pretise dirinya tanpa memperhatikan dampak pada
kinerja perusahaan.
 Intervensi (campur tangan) pemegang saham atau pihak luar secara
berlebihan dalam kegiatan operasional BUMN
 Adanya praktik perusahaan dalam perusahaan yang dilakukan oleh
manajemen.
Keputusan Menteri Negara BUMN Nomor Kep-117/M-MBU/2002 tanggal 1
Agustus 2002 , didalamnya tertulis tujuan dan prinsip GCG yaitu:
1. Tujuan GCG diatur dalam Pasal 4 , yaitu :
 Memaksimalkan nilai BUMN; caranya meningkatkan prinsip
keterbukaan , akuntabilitas , dapat dipercaya , bertanggung jawab , dan
adil agar perusahaan memiliki daya saing kuat baik secara nasional
maupun internasional.
 Mendorong pengelolaan BUMN; dengan cara profesional , transparan
, efisien , seta memberdayakan fungsi dan meningkatkan kemandirian.
 Mendorong agar membuat keputusan dilandasi nilai moral tinggi dan
kepatuhan pada peraturan Perundang-undangan berlaku serta
kesadaran akan tanggung jawab sosial BUMN terhadap para
pemangku kepentingan maupun kelestarian lingkungan BUMN.
 Meningkatkan kontribusi BUMN dalam perekonomian nasional.
 Menyukseskan program privatisasi; (pengalihan kepemilikan dari
milik umum jadi milik pribadi, tapi yang dimaksudkan disini adalah
positifnya yaitu membantu terbentuknya pasar bebas ,
mengembangkan kompetisi kapitalis dan memberikan harga lebih
kompetitif )
2. Prinsip – prinsip GCG diatur dalam pasal 3 , yaitu :
 Transparansi; keterbukaan dalam melaksanakan proses pengambilan
keputusan dan mengemukakan informasi materiil dan relevan tentang
perusahaan.
 Kemandirian; perusahaan dikelola secara profesional tanpa benturan
kepentingan / tekanan dari pihak lain , maupun yang tidak sesuai
dengan peraturan Perundang-undangan dan prinsip perusahaan yang
sehat.
 Akuntabilitas; kejelasan fungsi , pelaksanaan , dan
pertanggungjawabanorgan sehingga pengelolaan perusahaan
terlaksana secara efektif.
 Pertanggungjawaban; kesesuaian dalam pengelolaan perusahaan
terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku dan prinsip
perusahaan yang sehat.
 Kewajaran (fairness); keadilan dalam pemenuhan hak-hak pemangku
kepentingan berdasarkan perjanjian dan peraturan perundang-
undangan yang berlaku.

GCG DAN PENGAWASAN PASAR MODAL DIINDONESIA


Keberadaan pasar modal ditentukan oleh lembaga dan unsur penunjang pasar modal,
antara lain :
1. Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam LK),
yaitu lembaga yang dibentuk oleh pemerintah yang berfungsi mengawasi
kegiatan semua lembaga terkait agar kegiatan pasar modal dan keuangan
berjalan adil dan efektif.
2. Bursa Efek, yaitu lembaga yang menyelenggarakan kegiatan perdagangan
sekuritas pasar modal.
3. Lembaga Kliring, yaitu lembaga yang mirip dengan lembaga kliring uang
giral yang dikenal dalam dunia perbankan Fungsi lembaga kliring ini adalah
menyimpan dan mengatur arus fisik sekuritas tersebut.
4. Emiten, yaitu perusahaan yang menjual instrumen sekuritas untuk
memperoleh dana dari investor di bursa.
5. Underwriter, yaitu perusahaan penjamin bagi emiten agar emiten sukses
dalam menjual instrumen sekuritas tersebut. Fungsi underwriter adalah me
mastikan bahwa instrumen sekuritas yang diterbitkan oleh emiten
dapat terjual habis dengan harga wajar.
6. Investor/Calon Investor, yaitu institusi atau perorangan yang setiap saat
melakukan transaksi pembelian dan penjualan atas instrumen sekuritas yang
di perdagangkan di bursa.
7. Akuntan Publik, yaitu lembaga yang melakukan audit atas kewajaran
laporan keuangan emiten dan memberikan opini audit atas kewajaran laporan
keuangan emiten yang diperiksanya.
8. Notaris, yaitu lembaga hukum yang memberikan dasar keabsahan secara
legal berbagai peristiwa/kegiatan penting di dalam perusahaan, seperti Rapat
Umum Pemegang Saham (RUPS), jual beli aset tetap perusahaan,
peminjaman uang dan sebagainnya.
9. Konsultan Hukum, yaitu lembaga yang diperlukan emiten untuk memeriksa
dan memastikan bahwa emiten yang akan menerbitkan instrumen sekuritas
tersebut tidak memiliki sengketa hukum dengan pihak lain.
10. Konsultan Keuangan, yaitu lembaga yang dapat diminta jasanya oleh emiten
untuk memberikan nasehat di bidang keuangan sebelum menerbitkan sebuah
instrumen sekuritas.

GCG PERBANKAN DI INDONESIA


Peraturan Bank Indonesia nomor 8/4/PBI/2006 tanggal 30 Januari 2006 tentang
Implementasi GCG oleh Bank-Bank Komersial. Secara garis besar, peraturan ini
mengatur tentang:
a. Prosedur pengelolaan melalui penerapan prinsip transparansi, akuntabilitas,
tanggung jawab, independensi dan kesetaraan (Pasal 1 ayat 6);
b. Tujuan Implementasi GCG (Pasal 2), minimal untuk merealisasikan:
 Kejelasan tugas dan tanggung jawab Dewan Komisaris dan Dewan
Direksi.
 Kelengkapan dan implementasi tugas komite dan unit pelaksana fungsi
internal audit bank.
 Kinerja ketaatan, fungsi auditor internal dan eksternal.
 Implementasi manajemen risiko termasuk sistem pengendalian internal.
 Ketentuan dana pihak-pihak terkait (related parties) dan dana dalam
jumlah besar.
 Rencana strategis bank.
 Transparansi kondisi keuangan dan non-keuangan.
c. Jumlah, komposisi, kriteria dan indenendensi Dewan Komisaris (Bab II Pasal
4-18)
d. Jumlah, komposisi, kriteria dan indenendensi Dewan Direksi (Bab III Pasal 19-
37);
e. Komite (Bab IV Pasal 38-48);
f. Ketaatan, Fungsi Auditor Eksternal dan Internal (Bab V Pasal 49-52);
g. Implementasi Manajemen Risiko (Bab VI Pasal 53)
h. Ketentuan Dana (Bab VII Pasal 54-55);
i. Rencana Strategi Bank;
j. Aspek Transparansi Kondisi Bank (Bab IX Pasal 57-58);
k. Konflik Kepentingan dan Pelaporan Internal (Bab X Pasal 59-60);
l. Laporan dan Asesmen Implementasi GCG (Bab XI Pasal 61-66);
m. Implementasi GCG di Cabang Luar Negeri (Bab XII Pasal 67-68);
n. Sanksi-sanksi (Bab XIII Pasal 69-75);
o. Ketentuan Peralihan (Bab XIV Pasal 76-77);
p. Ketentuan Penutup (Bab XV Pasal 78).

Sumber:

Agoes, Sukrisno dan I Cenik Ardana. 2006. Etika Bisnis dan Profesi, 2009, Salemba
Empat.