Anda di halaman 1dari 12

MODUL VII

REAKSI NITRASI SINTESIS α–NITRONAFTALEN

Oleh: Rintis Manfaati, ST., MT

I. PENDAHULUAN
Nitrasi adalah proses memasukkan satu atau lebih gugus nitro /nitril ion (NO2+) ke
dalam senyawa organik atau bahan baku yang digunakan. Nitrasi merupakan
salah satu proses yang paling penting di industri sintesa senyawa organik. Produk-
produk nitrasi dipakai secara luas sebagai solvent (nitroparafin), pewarna tekstil
(α-nitronaftalen) , farmasi, bahan vernis/coating (nitro sellulosa) dan bahan
peledak (trinitrotoluen/TNT) dan untuk meningkatkan bilangan cetane pada bahan
bakar diesel (tetranitromethane). Selain itu produk nitrasi digunakan pula sebagai
senyawa intermediat untuk membuat produk lain.
1.1 Latar Belakang
Penerapan proses nitrasi senyawa aromatik umumnya sangat sulit diaplikasikan
pada skala laboratorium. Proses nitrasi biasanya berlangsung padasuhu dan
tekanan yang cukup tinggi, waktu reaksi dan purifikasi yang lama, dan melibatkan
bahan baku berbasiskan petroleum yang bersifat racun dan karsinogenik.
Pemilihan proses nitrasi yang akan digunakan sebagai Modul Praktikum Satuan
Proses harus disesuaikan dengan standar laboratorium seperti mampu
menyediakan kondisi operasi proses, kesehatan dan keselamatan kerja,
ketersediaan bahan baku/agent, dan waktu praktikum.

Pada penelitian ini, proses nitrasi naftalen dipilih karena naftalen tergolong
senyawa organik yang relatif aman. Sampai saat ini, tidak ada hasil penelitian
yang menunjukkan sifat karsinogenik naftalen pada manusia. Hasil penelitian
IARC (The International Agency for Research of Cancer) menunjukkan bahwa
naftalen berpengaruh karsinogenik terhadap hewan.Kondisi operasi nitrasi naftalen
cukup amanuntuk diaplikasikan pada skala laboratorium.Nitrasi naftalen

Reaksi Nitrasi Sintesis α–Nitronaftalen VII - 1


Reaksi Nitrasi Sintesis α–Nitronaftalen VII - 2

berlangsung pada temperatur 35–75oC, tekanan 1 atm, dengan waktu proses


selama 1 jam,dan peralatan proses yang digunakan tersedia di Laboraturium
Satuan Proses.
1.2 Tujuan
Setelah melakukan percobaan ini mahasiswa diharapkan mampu :
1. Memahami karakteristik reaksi nitrasi dan penanganannya yang tepat.
2. Melakukan tahapan-tahapan proses nitrasi.
3. Mengidentifikasi produk nitrasi melalui pengukuran titik leleh.

II. LANDASAN TEORI


Pada proses nitrasi gugus nitro (NO2+) dapat terikat pada atom C sehingga
membentuk senyawa nitroaromatik atau nitroparafinik. Gugus nitro yang terikat
pada atom O membentuk senyawa nitrat ester sedangkan gugus nitro yang terikat
pada atom N membentuk senyawa nitroamina atau nitroamida.Senyawa organik
yang digunakan sebagai bahan baku adalah aromatik dan turunannya, hidrokarbon
parafinik, dan ester. Reagen yang dapat digunakan sebagai nitrating agents reaksi
nitrasi adalah asam nitrat dalam bentuk fuming, concentrated atau larutan encer;
campuran asam (mixed acid) asam nitrat dan asam sulfat, asam nitrat dan asam
fosfat, asam nitrat dan asam asetat anhidrid, asam nitrat dan chloroform; nitrogen
pentaoksida (N2O5) dan nitrogen tetraoksida (N2O4) digunakan untuk nitrasi pada
fasa gas.

Naftalen (C10H8)merupakan senyawa hidrokarbon aromatik polisiklikberbentuk


kristal tak bewarna dengan titik leleh 800C. Naftalen adalah molekul datar dengan
dua cincin benzen yang melebur (berfusi), kedua cincin menggunakan bersama
dua atom karbon.

-Nitronaftalen merupakan senyawa naftalen yang telah mengalami reaksi nitrasi.


Senyawa ini berwarna kuning kristal dengan titik leleh 59 – 60oC, titik didih
304oC, tidak larut dalam air, dan larut dalam etanol, dietileter, kloroform, dan
karbon disulfida. Kegunaan -nitronaftalen diantaranya adalah sebagai bahan
Reaksi Nitrasi Sintesis α–Nitronaftalen VII - 3

kimia perantara pada industri pembuatan obat-obatan, parfum, pestisida, dan


sebagai deblooming agents pada minyak mentah dan bahan bakar.Senyawa ini
dapat dimurnikan hingga 99%. Sifat fisika dan kimia senyawa disajikan pada
Tabel 2.1.
Tabel 2.1. Sifat Fisika dan Kimia Senyawa -nitronaftalen
Sifat Fisika dan Kimia Senyawa -nitronaftalen
Rumus Empiris C10H7NO2
Berat Molekul 173,17
Warna Kuning kecoklatan
Titik Leleh 59 – 60oC
Titil Didih 304oC @760 mmHg (579,20oF)
Specific gravity/Densitas 1,2230 g/cm3

NO2

Struktur Molekul

Nitrasi naftalen menjadi -nitronaftalen menggunakan nitrating agent campuran


asam (mixed acid) HNO3 dan H2SO4.Kondisi operasi reaksi subsitusi
elektrofilikyang berlangsung lebih ringan dibandingkan benzena (Hart Harorld,
1987). eaksi nitrasi adalah reaksi eksoterm sehingga pendinginan dan pengadukan
sangat diperlukan. Nitrasi naftalen menjadi α-nitronaftalen dengan menggunakan
nitrating agent campuran asam (mixed acid) merupakan reaksi substitusi
elektrofilik dengan mekanisme reaksi ditunjukkan oleh Gambar 2.1.

Mekanisme reaksi nitrasi diawali dengan pembentukan elektrofilik (nitril ion,


NO2+). Pada tahap ini terjadi perpindahan proton (muatan positif) dari satu
molekul asam nitrat ke molekul lainnya.Pada tahap kedua, nitril ion yang
terbentuk akan menyerang/menggantikan suatu gugus senyawa organik, pada
umunya adalah H+.
Reaksi Nitrasi Sintesis α–Nitronaftalen VII - 4

1. Pembentukan Elektrolit

2. Ion nitronium menyerang gugus H senyawa organik


NO2 H

+
+
+NO2

Naftalen (C10H8)

3. Re-Aromatization

H NO2

+
+HSO4- +H2SO4

-nitronaftalen

Gambar 2.1. Mekanisme Reaksi Nitrasi


Reaksi secara keseluruhan :
C10H8+ HNO3C10H7NO2+ H2O
Reaksi Nitrasi Sintesis α–Nitronaftalen VII - 5

Pada konsentrasi H2SO484-94%, persentasi ionisasi HNO3 berada pada rentang


40-90%. Semakin tinggi konsentrasi H2SO4yang digunakan semakin besar pula
persentasi proses ionisasi HNO3.Kecepatan proses nitrasi dipengaruhi oleh jenis
bahan baku, konsentrasi HNO3, dan komposisi campuran asam HNO3 dan H2SO4
(mixed acid) yang digunakan. Nilai R (perbandingan massa HNO3 terhadap massa
naftalen) berbeda untuk setiap bahan baku yang digunakan pada proses nitrasi,
semakin tinggi nilai R maka bahan baku tersebut semakin sulit untuk di
nitrasi.Kecepatan proses nitrasi tergantung pada ketersediaan nitril ion yang
terbentuk pada proses ionisasi HNO3 dalam campuran HNO3 dan H2SO4 (mixed
acid). Semakin tinggi konsentrasi H2SO4 yang digunakan maka semakin besar
pula persentase proses ionisasi HNO3. Selain itu, reaksi nitrasi juga dipengaruhi
oleh air yang dihasilkan selama proses. Air yang terbentuk akan mengencerkan
campuran asam dan mempengaruhi proses ionisasi.Nilai R (perbandingan massa
HNO3 terhadap massa naftalen) dan komposisi mixed acid harus diperhitungkan
secara tepat diawal proses nitrasi untuk menghasilkan yield maksimum. Kecepatan
reaksi reaksi nitrasi dengan bahan baku hidrokarbon aromatik ditujukan oleh
persamaan berikut :
Rate = k[HNO3][ArH] (2.1)
Nitrasi naftalen berlangsung pada suhu 65 – 70oC, dengan komposisi mixed acid
yang digunakan ditunjukkan pada Tabel 2.2.

Tabel 2.2. Komposisi Mixed Acid pada Nitrasi Naftalen


Komposisi Persen Massa
H2SO4 59,55%
HNO3 15,85%
H2O 24,60%
HNO3 ratio (R) 1,01

Produk yang dihasilkan memiliki persentase yield sebesar 95% dengan kandungan
nitronaftalen, beberapa naftalen yang tidak bereaksi, dan sedikit asam sisa
(Groggings, 1958).
Reaksi Nitrasi Sintesis α–Nitronaftalen VII - 6

Faktor-fator yang mempengaruhi proses nitrasi adalah :


1. Komposisi Mixed Acid
Campuran asam nitrat dan asam sulfat (mixed acid)merupakan nitrating agent
yang menentukan kefektifan reaksi nitrasi dalam menghasilkan yield produk yang
maksimum.Nilai komposisi ini tidak selalu sama tetapi tergantung pada kondisi
operasi dan peralatan nitrasi yang gunakan sehingga diperlukan adanyapenelitian
awal.
2. HNO3 Ratio (R)
Nilai R adalah perbandingan massa HNO3 terhadap massa bahan baku nitrasi.
Nilai ini menentukan jumlah nitril ion (NO2+) yang harus tersedia agar semua
bahan baku dapat terkonversi secara optimal.
3. Konsentrasi Asam Sulfat
Semakin tinggi konsentrasi asam sulfat maka proses ionisasi asam nitrat akan
semakin besar, artinya pembentukan nitril ion (NO2+) akan maksimal. Dari
Gambar 2.2. dapat dilihat bahwa konsentrasi asam sulfat dibawah 86%
menujukkan persen ionisasi asam nitrat yang sangat kecil, yaitu 20%. Sedangkan
konsentrasi asam sulfat diatas 94% menujukkan ionisasi asam nitrat >90%.

Gambar 2.2. Grafik Hubungan Konsentrasi Asam Sulfat Terhadap


Persen Ionisasi Asam Nitrat
Reaksi Nitrasi Sintesis α–Nitronaftalen VII - 7

4. D.V.S. (Dehydrating Value of Sulfuric acid)


D.V.S. adalah perbandigan antara asam sulfat dengan air yang ada di akhir proses
nitrasi. Nilai D.V.S. dari proses nitrasi naftalen adalah 2,04. Nilai ini dapat
dihitung berdasarkan persamaan berikut :

𝑆 Dimana:
𝐷. 𝑉. 𝑆. = S = Persen massa aktual H2SO4
𝐸𝑁
+𝑊
𝑅 N = Persen massa aktual HNO3
E = Kandungan air diakhir proses nitrasi
R =Rasio asam nitrat
W = Persen massa air
(Groggingss, 1958)

II. RANCANGAN PERCOBAAN


2.1 Alat dan Bahan yang Digunakan
Alat dan bahan yang digunakan disajikan pada Tabel 3.1.
Tabel 3.1. Alat dan Bahan yang digunakan
Alat Bahan
1. Reaktor 250 ml 1 buah 1. Naftalen 5 gram
2. Penangas es 1 buah 2. H2SO4 98% 8,8 ml
3. Kondensor 1 buah 3. HNO3 65% 5,5 Kepala
ml distilasi 1 buah
4. Tabung CaCl2 1 buah 4. H20 (aquadest) 10,7 ml
5. Termometer 1 buah 5. Aquadest100 ml
6. Motor pengaduk 1 buah 6. Etanol 98%
7. Pengaduk gelas 1 buah 7. Kertas saring
8. Selang silikon 75 cm, 3 buah
9. Erlenmeyer 100 ml 2 buah
10. Gelas ukur 500 ml 2 buah
11. Pipet ukur 10 ml 2 buah
12. Corong pisah 500 ml 1 buah
13. Corong kaca 1 buah
14. Corong buchner 1 unit
15. Corong tetes

2.2 Prosedur Percobaan


Semua pekerjaan dilakukan di ruangan asam.
Reaksi Nitrasi Sintesis α–Nitronaftalen VII - 8

Pembuatan Campuran asam


Perhitungan Persen Massa Komposisi Campuran Asam
Nilai R (perbandingan massa HNO3 terhadap massa naftalen) = 1
(*) Berat jenis HNO3 65% = 1,41 gr/ml
Massa HNO3 gr
= 0,65 × 1,41
ml larutan ml
𝑀𝑎𝑠𝑠𝑎 𝐻𝑁𝑂 𝑔𝑟
= 0,9165
𝑚𝑙 𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡𝑎𝑛 𝑚𝑙
(**)Berat jenis H2SO4 98% = 1,84 gr/ml
Massa H2SO4 gr
= 0,98 × 1,84
ml larutan ml
𝑀𝑎𝑠𝑠𝑎 𝐻2𝑆𝑂4 𝑔𝑟
= 1,8032
𝑚𝑙 𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡𝑎𝑛 𝑚𝑙
𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝐻𝑁𝑂3
(***)𝑅 = 𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑛𝑎𝑓𝑡𝑎𝑙𝑒𝑛

𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝐻𝑁𝑂3 = 𝑅 𝑥 𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑛𝑎𝑓𝑡𝑎𝑙𝑒𝑛 = 1 𝑥 5 𝑔𝑟 = 5 𝑔𝑟


H2SO4 = 50%; HNO3 = 15,85% ; H2O = 34,15%
𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝐻𝑁𝑂3 5 𝑔𝑟
(1) 𝑉𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 𝐻𝑁𝑂3 = 0,9165 𝑔𝑟/𝑚𝑙(∗) = 0,9165 𝑔𝑟/𝑚𝑙 = 𝟓, 𝟓 𝒎𝒍
50 %
(2) 𝑀𝑎𝑠𝑠𝑎 𝐻2𝑆𝑂4 = × 5𝑔𝑟 = 15,8 𝑔𝑟
15,85%
15,8 𝑔𝑟
𝑉𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 𝐻2𝑆𝑂4 = = 𝟖, 𝟖 𝒎𝒍
1,8032 𝑔𝑟/𝑚𝑙 (∗∗)
34,15 %
(3) 𝑀𝑎𝑠𝑠𝑎 𝐻2𝑂 = 15,85 % × 5 𝑔𝑟 = 10,7 𝑔𝑟
12,3 𝑔𝑟
𝑉𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 𝐻2𝑂 = = 𝟏𝟎, 𝟕 𝒎𝒍
1 𝑔𝑟/𝑚𝑙

1. Pasang erlenmeyer 100 ml dalam penangas es dan air , ditahan dengan


menggunakan penjepit dan statif.
2. Buat campuran asam dingin dalam erlemeyer dengan memasukkan bahan
sesuai urutan H20, kemudian H2SO4 terakhir HNO3. Masukkan ke dalam
Corong tetes.
Reaksi Nitrasi Sintesis α–Nitronaftalen VII - 9

Reaksi Nitrasi
Rangkaian reaktor sesuai dengan Gambar 3.1.

1. Reaktor 1 buah
2.Penangas parafin 1 buah
3.Kondensor 1 buah
4.Termometer 1 buah
5.Tabung CaCl2 1 buah
6.Motor pengaduk 1 buah
7.Selang silikon 75 cm, 3 buah

Gambar 3.1 Rangkaian reaktor nitrasi

1. Timbang 5 gram naftalen masukkan reaktor. Operasikan kondensor dan


pengaduk pada kecepatan 125-150 rpm.
2. Teteskan campuran asam dingin dalam corong tetes ke dalam reaktor
dengan penangas air. Suhu dijaga pada rentang 35 – 500C.
3. Setelah semua campuran asam habis, Suhu dinaikkan dijaga pada rentang
65 – 700C, aduk selama 1 jam.
4. Hentikan pengadukan biarkan selama 15 menit sehingga terpisah antara α-
nitronaftalen dan sisa asam (spent acid).
5. Dinginkan campuran reaksi hingga suhu 30-500C (terbentuk kristal α-
nitronaftalen) sampai terbentuk kristal kurang lebih selama 15 menit.
6. Saring kristal nitronaftalen yang terbentuk.

Proses Pemurnian Produk


Pemurnian dari sisa asam
1. Larutkan produk α-nitronaftalen kotor dalam air yang mendidih (100 ml)
untuk menghilangkan sisa asam yang tertinggal.
2. Saring kembali pada kertas saring yang sudah ditimbang. Diamkan selama
24 jam pada suhu 25°C.
Reaksi Nitrasi Sintesis α–Nitronaftalen VII - 10

Pemurnian dari naftalen sisa


1. Larutkan produk α-nitronaftalen pada 25 ml larutan etanol 96%.
2. Lakukan pengadukan dengan batang pengaduk selama 5 menit.
3. Siapkan gelas kimia 50 ml yang sudah ditimbang untuk menampung
nitronaftalen yang terlarut dalam etanol 96%.
4. Saring padatan pengotor dengan kertas saring yang sudah ditimbang.
5. Diamkan gelas kimia yang yang berisi nitronaftalen terlarut selama 48 jam
pada suhu 25°C.
6. Uji titik lelehnya. Titik leleh α-nitronaftalen adalah 59 – 610C.

2.3 Diagram Alir Percobaan


Pembuatan Nitrasi
H2O Erlenmeyer Labu leher tiga
H2SO4 dalam penangas dalam penangas Naftalen
HNO3 es Teteskan air
mixed acid
sampai habis Temperatur 35-50°C

Atur temperatur
pada 60-65 °C dan
aduk selama 1 jam

Settle selama 15 menit


pada temperatur 60-
65 °C

Saring kristal Diamkan selama 15


yang menit pada temperatur
terbenetuk 25 °C (kristalisasi)

Gambar 3.2. Diagram Alir Proses Sintesis α-nitronaftalen


Reaksi Nitrasi Sintesis α–Nitronaftalen VII - 11

Pemisahan dan Pemurnian


Larutkan kristal dalam Lakukan proses Saring kristal yang
100 ml air panas rekristalisasi terbentuk

Larutkan kembali Keringkan selama


Saring pengotor yang
kristal dalam 24 jam pada
tidak larut
ethanol 96% 25 ml temperatur 25°C

Keringkan titrat
selama 48 jam pada
temperatur 25°C

Gambar 3.3 Diagram Alir Proses pemisahan dan purifikasi α-nitronaftalen

IV. TABEL PENGAMATAN


Tabel 3. Tabel data percobaan
Bahan Berat/Volume Konsentrasi Berat jenis Titik leleh
Naftalen
(C10H8)
H20
H2SO4
HNO3
α-nitronaftalen

V. KESELAMATAN KERJA
a. Praktikum harus dilakukan di lemari asam. Reaksi nitrasi sangat eksoterm
sehingga penggunaan penangas es harus dilakukan.
b. Wajib mengenakan jas lab, sarung tangan, masker dan kaca mata
pelindung.
c. Asam sulfat, asam nitrat dan campuran asamnya merupakan asam kuat
yang bersifat korosif dan menyebabkan iritasi.Jika mengenai kulit akan
Reaksi Nitrasi Sintesis α–Nitronaftalen VII - 12

menyebabkan luka. Uap kedua asam tersebut bila terhirup akan menyulitkan
pernafasan sehingga harus disimpan di lemari asam. Jangan sampai kontak
dengan kulit atau mata, dan jangan sampai terhirup uapnya.
d. Jika terkena bahan-bahan kimia diatas harus segera dicuci dengan air
bersih.

VI. PENGOLAHAN DATA


1. Identifikasi titik leleh produk yang terbentuk. Bandingkan dengan literatur.
2. Hitung massa senyawa secara stiokiometris/teoritis.
3. Hitung Persentasi Yield/rendemen menggunakan persamaan :
(Massa α-nitronaftalen)hasil percobaan
Persentasi Hasil = x 100%
(Massaα-nitronaftalen)teoritis

DAFTAR PUSTAKA
1. Fessenden, R. and Fessenden, J., 1982.,”Organic Chemistry”, 2nd Edition,
Willard Grant Press Publisher, Massachusetts, USA.
2. Groggins, P. H., “Unit Processes in Organic Synthesis”, fifth Edition,
International Student Edition, Mc. Graw – Hill Kogakusha, Ltd.
3. Hart Harold, Terj. Achmadi Suminar, “Kimia Organik, Suatu Kuliah
Singkat”, Penerbit Erlangga, Jakarta, 1987.