Anda di halaman 1dari 9

Pertemuan ke :5

Topik : Akuntansi dan (Nilai-nilai) Agama


Referensi Diskusi Kelas :
 Allimudin, Triyuwono, I., Irianto, G., and Chandararin, G.(2011), “Konsep Harga
Jual Kejujuran : Meraih Keuntungan, Menggapai Kemaslahatan [Honesty Being
Selling Price Concepts : Achieving Profit, Reaching Goodness], Jurnal Akuntansi Multi
Paradigma Vol 2. No.1, April, PP. 70-90. ISSN:2086-7603
 Heru Sulistiyo, 2014, Relevansi Nilai Religius Dalam Mencegah Perilaku Disfungsional
Audit
 Fransiskus Randa, Iwan Triyuwono, Unti Ludigdo, Eko Ganis Sukoharsono, Studi
Etnografi : Akuntabilitas Spritual pada Organisasi Gereja Katolik yang Terinkulturasi
Budaya Lokal
Pembahasan
Konsep Harga Jual Kejujuran: Meraih keuntungan Menggapai
Kemaslahatan
(Alimuddin, dkk)
Abstarak : Secara umum konsep harga jual berbasis nilai kejujuran di dalam islam adalah Consistency
Market Mechanism Yaitu Suatu konsep penetapan harga jual secara konsisten melalui mekanisme pasar
sejak awal penetapan harganya hingga produk tersebut terjual habis.

Pembahasan Adalah:

1. Menyelami konsep kejujuran menurut ajaran agama islam yang menjadi dasar melakukan
aktivitas bisnis.
2. Konsep penetapan harga jual berbasis nilai kejujuran yang islami dengan terlebih dahulu dianalisa
konsep kejujuran dalam menetapkan keuntungan dan perubahan harga .
3. Kemaslahatan yang dapat di gapai melalui harga jual kejujuran.

Metode

Dalam Perkembangan Ilmu pengetahuan, dunia islam telah mengembangkan tiga jenis epistemologi
dalam mengkonstruk ilmu pengetahuan. Ketiga epitemologi tersebut adalah

1. Epistemologi Bayani
2. Epistemologi Burhani
3. Epitemologi Irfani

Hasil & Pembahasan

Hasil : Barang siapa berbinis dengan kejujuran maka dia akan memenangkan persaingan.Hasil survei
James Mc. Kouzes dan Barry Z.
Postner 1997&1993 menunjukkan bahwa karakter kejujuran merupakan peringkat pertama seorang CEO
untuk meraih keberhasilan (Agustian 2004:77)

Demikian juga keberhasilan para mistikus korporat menempatkan kejujuran sebagai rahasia pertama
meraih sukses (Hendrikcks dan Ludeman 2003;2). Hal ini mereka pegang karena pada dasarnya tidak ada
seorang pun yang senang di dustai, apalagi menghabiskan waktu dan tenaga untuk menganalisis jujur
tidaknya perkataan dan perilaku orang. Jujur merupakan fitrah manusia dan tidak perlu di pelajari, cukup
di lakukan apa adanya. Bob Galvin, Mantan Direktur Motorola, mengatakan “ cara mudah dalam
melakukan segala hal adalah dengan bersikap jujur” (Hendricks dan Ludeman 2003;4)

Seorang produsen memiliki kewenangan untuk menghasilkan produk sesuai dengan kemampuanya dan
memodifikasi suatu produk generik sehingga kelihatan menarik. Dia memiliki hak atonom untuk
mengatakan baik dan buruknya produk yang di hasilkan, jika dia mengungkapkan kemanfaatan dan
kelemahan yang melekat pada produk tersebut sebagai panggilan moral, maka menurut pandangan Fuller
(1994), produsen tersebut berlaku jujur, akan tetapi jika dia hanya menonjolkan aspek kemanfaatanya
atau estetikanya saja, maka perilaku produsen tersebut di anggap tidak jujur.

Contoh produsen tidak jujur seperti pada

1. Pemakain borak secara tersembunyi yang di campurkan ke dalam bahan makanan agar makanan
lebih tahan lama akan tetapi merusak tubuh manusia.
2. Pencampuran bahan makanan yang relatif rendah kualitasnya dengan yang relatif tinggi
kualitansya.
3. Menyuntikan air pada ayam yang sdh di sembelih agar menambah berat badanya.
4. Dalam dunia intelektual di jumpai pemasukan nama-nama tim ahli untuk mengerjakan suatu
kegiatan/proyek tetapi dalam pelaksanaanya tidak semua tenaga ahli tersebut di gunakan.

Pada tujuan utamnya adalah untuk menekan biaya operasional demi untuk meningkatkan keuntungan
materi. Akibat dari perilaku di atas hari ini dia menipu besok dia lagi yang tertipu sehingga yang di
pelajari dalam berbisnis bukan hanya bagaimana berbisnis tetapi juga bagaimana menipu sesama, yang
semestinya tidak perlu menghabiskan waktu yang tidak berguna untuk mempelajari dan
mempraktikkanya.

Konsekuensinya adalah akan menambah biaya opersi perusahaan. Dampak dari perbuatan ini
menyebabkan hukum ketertarikan alam akan bekerja secara otomatis yang menyebabkan bukan hanya
pelaku tetapi juga masyarakat di sekitarnya akan menderita kerugian. Dengan demikian sifat egois yang
materialis akan berdampak buruk bagi kondisi perekonomian suatu daerah atau bangsa.

Menurut Al-Mishri (2008;24-8) pada dasarnya ada tiga jenis kejujuran yang dapat di gunakan di dalam
berusaha agar terjadi kemaslahatan baik pada diri pedagang maupun lingkungannya

1. Kejujuran berniat
Adalah Kejujuran dalam berniat mrupakan komitmen kepada sang Pencipta untuk melaksanakan
sesuatusesuai dengan yg telah dicita-citakan.
2. Kejujuran lahiriah
mengandung makna bahwa pengusaha akan memenuhi ketentuan yang telah disepakati dan
produsen tidak dapat menaikan harga jual yang telah di tetapkan meskipun harga di pasaran
mengalami kenaikan.
3. Kejujuran batiniah
Di dalam berbisnis pengusaha menjadikan Tuhan sebagai pelanggan utama yang harus dipenuhi
dan bukan pemilik/pemimpin perusahaan atau pelanggan manusia yang harus di patuhi

Menurut Gymnastiar 2006 bahwa “Seseorang yang bekerja dengan tingkat kejujuran yang tinggi
bkan hanya memperoleh hasil sesuai dengan perjanjian dengan mitra bisnis tetapi juga mendapatkan hasil
yang tak terhingga nilainya sekarang dan dimasa akan datang.

Dari uraian tersebut di atas maka

 Makna tekstual (Bayani) dari kejujuran adalah satunya kata/niat dengan perbuatan. Kesepakatan
kontrak yang paling tinggi dalam pandangan islam adalah kontrak (Niat) kepada Allah.
 Makna kejujuran dalam perspektif burhaniah adalah satunya niat/kata dengan perbuatan tetapi
dengan tetap memperhatikan kemaslahatan diri dan umat manusia yang terkena dampak
langsung dari perbuatan tersebut
 Sedangkan makna dari perspektif irfani kejujuran adalah perbuatan yang sesuai dengan kata hati
(tuntutan Allah)

Dalam islam tidak ada aturan baku tentang besarnya keuntungan dalam setiap melakukan transaksi bisnis.
Penetapan harga jual yang dilakukan oleh para sahabat Rasulullah saw ada yang mendapatkan
keuntungan kecil dan ada pula yang besar hingga 100% dari harga pokok, tetapi tidak di persoalkan oleh
beliau sepanjang tidak bertentangan dengan ajaran agama.

Dalam penentuan besarnya keuntungan berbasis kejujuran bahwa menurut

 Analisa Bayani penentuan besarnya keuntungan berbasis nilai kejujuran tidak ada aturan bakunya,
tergantung keputusan penjual namun demikian tidak berarti penjual bebas menaikan besaran
keuntungannya, khususnya jika terjadi kenaikan permintaan. Besarnya keuntungan yang di
tetapkan atas suatu produk tertentu tidak dapat di rubah tanpa ada perubahan besaranya biaya
 Sementara dalam pemahaman secara kontektual (Burhani) penentuan besarnya keuntukan di
tentukan oleh mekanisme pasar tetapi tidak berarti penjual bisa menaikan harga jual jika biaya
masukannya tidak mengalami kenaikan.
 Makna keuntungan menurut metode Irfani adalah proses untuk mendapatkan keuntungan yang
tidak bertentangan dengan etika dan norma agama.
Harga Jual berbasis nilai kejujuran Islam dalam perspektif

 Bayani adalah cost-plus pricing yang di terapkan secara konsisten. Penentuan besarnya margin
menjadi kewenangan penjual dan tidak ada batasan atas beasarnya margin tersebut.
 Buryani (kontekstual) tetap menggunakan konsep kejujuran lahiriah, prinsip pengembang-biakan
harta yang di miliki, agar tidak habis. Dengan pemanfaatan harta tersebut secara optimal akan
tercipta value added baik untuk pemilik maupun yang memanfaatkannya.
 Irfani adalah berdasarkan mekanisme pasar dengan tidak menzalimi orang lain. Penerapan
konsep ini merupakan penjabaran dari konsep kejujuran bathiniah.

Berdasarkan hasil analisis tersebut di atas, maka konsep harga jual berbasis kejujuran harus

1. Memiliki unsur kompetitif agar produk yang di perdagangkan bisa terjual.


2. Harga Jual tersebut di terapkan secara konsisten
Dengan demikian hasil ketiga epistemologidi atas dapat di simpulkan bahwa penetapan harga jual
berdasarkan Bayani,Burhani dan Irfani secara Umum dapat di lihat pada tabel berikut :
RELEVANSI NILAI RELIGIUS DALAM MENCEGAH PERILAKU
DISFUNGSIONAL AUDIT
Oleh : Heru Sulistiyo

A. Latar Belakang Masalah


Perilaku disfungsional audit mencerminkan tidak berfungsinya prosedur audit sesuai
standar yang berakibat langsung maupun tidak langsung mengurangi kualitas audit. Perilaku
disfungsional audit dapat dilakukan dengan cara misalnya: penghentian dini prosedur audit,
mengganti prosedur audit yang tidak sesuai dan mengurangi waktu audit yang semestinya
(Donnelly, Quirin dan O’bryan,2003). Sedangkan Paino, Thani dan Iskandar (2011)
menambahkan bahwa pengumpulan bukti-bukti yang kurang cukup dan proses audit yang tidak
akurat juga sebagai indikator perilaku disfungsional audit. Jika proses audit tidak sesuai dengan
standar yang berlaku berakibat kualitas audit akan menurun. Paino, et. al (2011) mengemukakan
bahwa perilaku disfungsional audit akan merusak kualitas audit dalam jangka panjang.
Kualitas audit yang rendah menghasilkan informasi tidak handal dan tidak relevan bagi
pengambilan keputusan ekonomi, sehingga merugikan pemakai laporan keuangan auditan. Pada
akhirnya berdampak negatif terhadap profesi akuntan publik, akuntan publik akan kehilangan
kepercayaan dari masyarakat dan pada gilirannya akan mematikan profesinya. Oleh karena itu
akuntan publik seharusnya berperilaku profesional, diantaranya diwujudkan dalam bentuk
menghindari perilaku menyimpang dalam audit (Eka dan Ika, 2011).
Ulum (2005) menyatakan bahwa perilaku disfungsional audit disebabkan oleh orientasi
etika auditor yang rendah. Demikian juga Leung (2005) dan Chan dan Leung (2006)
menyebutkan bahwa perilaku disfungsional audit disebabkan auditor berperilaku tidak etis.
Sejalan dengan itu, Agoes dan Ardana (2013) menyebutkan bahwa banyak akuntan yang terseret
dalam praktek tidak etis disebabkan menghadapi tekanan berat dari konflik kepentingan. Konflik
kepentingan tersebut seputar mengenai kepentingan keuangan pribadi auditor, kantor di mana dia
bekerja dan manajemen perusahaan yang diaudit, sehingga mengorbankan prinsip independensi.
Selain kasus tersebut, dunia telah dihebohkan dengan skandal kebangkrutan Enron pada
tahun 2001 dan WorldCom pada tahun 2002 yang melibatkan akuntan besar Arthur Andersen.
Arthur Andersen telah mengorbankan prinsip independensi dengan menjadi konsultan akuntansi,
keuangan, audit internal dan sekaligus audit ekternal bagi Enron. Lebih dari pada itu Arthur
Andersen telah membakar dokumen audit untuk menghilangkan bukti-bukti rekayasa pada saat
penyidikan skandal Enron (Tuanakota, 2013). Atas kejadian tersebut berakibat KAP Arthur
Andersen bangkrut (Widjaya, 2013).
Skandal Enron mengakibatkan integritas etika profesi dan independensi profesi akuntan
publik diragukan Suddaby, Gendron dan Lam (2009). Sedangkan Hartman dan Desjardins
(2011) secara tegas menyebutkan bahwa skandal Enron, dan lainnya sebagai kegagalan etika
yang berdampak luas merugikan para pemangku kepentingan. Etika yang seharusnya menjadi
dasar moral atau nilai-nilai yang menentukan suatu tindakan benar atau salah dan hasilnya baik
atau buruk, ternyata belum mampu mencegah perilaku disfungsional audit.

B. Perlunya Penerapan Nilai Religius Dalam Mencegah Perilaku Disfungsional Audit.


Auditor dan akuntan publik dalam melaksanakan profesinya wajib melaksanakan standar
audit dan mematuhi kode etik profesi agar terjaga kualitas auditnya. Ketika bertindak untuk
kepentingan publik, maka akuntan publik wajib mematuhi dan menerapkan seluruh prinsip dasar
dan aturan etika profesi yang berlaku (IAPI, 2008 dan IFAC, 2013). Namun demikian, fakta
menunjukkan kontradiktif, terjadi perilaku disfungsional audit yang telah menyebar. Untuk itu
Hartman dan Desjardins (2011) menyarankan agar diterapkan prinsipprinsip dan nilai-nilai yang
relevan. Secara khusus Emerson dan Mckinney (2010) menyatakan pentingnya kembali pada
kepercayaan beragama dalam membentuk sikap dalam bisnis, setelah terjadi kegagalan etika
dalam bisnis tersebut di atas.
Kaitan dengan nilai, perlu diungkapkan juga deklarasi Parliament of the World’s
Religions (1993) yang menyatakan perlunya saling ketergantungan umat beragama di dunia pada
tujuan bersama mengenai kesejahteraan dan penghormatan keseluruhan komunitas makhluk
hidup (manusia, hewan, dan tumbuhan) serta pelestarian bumi, air dan udara. Pencapaian tujuan
bersama tersebut mengingat kekuatan spiritual dari agama yang menawarkan dasar kepercayaan,
makna atau nilai dasar dan standar tertinggi.
Selaras dengan deklarasi tersebut, Organisasi Buruh Dunia atau ILO (2012) menyatakan
bahwa nilai spritual dan religius (agama) dapat menjadi pijakan umum, karena ada banyak untuk
menginspirasi dan membimbing tindakan di masa depan dalam era globalisasi. Nilai spritual dan
religius menjadi penting dalam upaya melakukan globalisasi yang adil. Nilai spritual dan religius
yang kuat mempunyai peran penting di atas semua hubungan pekerjaan, keadilan sosial dan
perdamaian. Lebih dari pada itu, peran penting agama atau religius dalam berbagai aspek
kehidupan manusia telah dibuktikan dalam berbagai penelitian.
Agama sebagai petunjuk bagi hidup manusia mengatur hubungan manusia dengan Tuhan,
manusia dengan manusia, manusia dengan lingkungannya. Agama berperan mengurangi bahkan
mencegah perilaku menyimpang, seperti: vandalisme, mencuri, penyalahgunaan narkoba, sex pra
nikah, perkosaan atau penyerangan dan penyalahgunaan senjata. Pencegahan tersebut dapat
dimungkinkan, karena orang yang memiliki religiusitas yang tinggi mempunyai kendali diri (self
control) yang kuat, sehubungan dengan ajaran agama yang diyakininya melarang perbuatan
tersebut. Casey (2009) menyimpulkan bahwa jika agama dipraktekkan oleh sejumlah besar
orang, maka manfaatnya akan bertambah bagi masyarakat secara keseluruhan.
Agama memainkan peranan yang penting dalam membentuk pribadi yang bersedia
melakukan pemantauan diri (self monitoring) guna introspeksi atas perbuatan yang telah
dilakukan. Sikap pemantauan diri tersebut terbentuk dari perasaan bahwa terdapat kekuatan yang
maha besar, Allah, yang maha melihat setiap gerakan hati, ucapan dan perbuatan, baik yang
tersembunyi maupun dinampakkan. Self monitoring menumbuhkan sikap kendali diri (self
control) yang kuat yang berdampak pada sikap dan perilaku yang benar dan baik, sehingga
perilaku menyimpang tidak terjadi.
McCullough dan Willoughby (2009) mengungkapkan bahwa setidaknya terdapat enam
simpulan penelitian empiris mengenai peran agama, yaitu: (1) Meningkatkan pengendalian diri
(self control), (2) Mengarahkan tujuan yang dipilih, dikejar, dan diorganisir, (3) Memfasilitasi
pemantauan diri (self monitoring), (4) Mendorong pengembangan kekuatan pengaturan diri (self
regulatory); (5) Mengatur dan mendorong terbentuknya seperangkat perilaku pengaturan diri,
dan (6) Berpengaruh terhadap kesehatan, kesejahteraan, dan perilaku sosial yang ditimbulkan
dari pengaruh kontrol diri dan pengaturan diri.
Carter, McCullough, dan Carver (2012) mengemukakan hasil penelitiannya bahwa orang-
orang yang lebih religius cenderung untuk memantau posisi pencapaian tujuan mereka (self-
monitoring) ke tingkat yang lebih besar, yang pada gilirannya berhubungan dengan kontrol diri
(self control). Orang-orang religius cenderung percaya bahwa terdapat kekuatan yang maha
tinggi sedang mengawasi mereka (God), yang terkait dengan pemantauan diri (self-monitoring)
yang lebih besar, yang pada gilirannya terkait dengan kontrol diri (self control) .
Peran agama dalam kehidupan organisasi telah diteliti kaitannya dengan sikap, komitmen
organisasi, kepuasan kerja dan produktifitas kerja. Agama sebagai sumber nilai etika, juga dapat
digunakan sebagai sumber etika dalam bisnis dan dapat berperan dalam membentuk sikap para
pebisnis dan professional Pengambilan keputusan etis digunakan juga pada keputusan keuangan
pribadi. Individu yang mempunyai religiusitas tinggi akan menghindari resiko keuangan, dan
pada umumnya lebih bijaksana dalam menggunakan uangnya.
Selaras dengan pemantauan diri dan kendali diri, pada akhirnya agama dapat
mempengaruhi perasaan seseorang lebih tenteram, karena orang yang religiusitasnya tinggi
cenderung mengikutkan Tuhan pada setiap gerak langkahnya. Hati menjadi longgar tidak
terbebani, karena setiap masalah yang dihadapi diserahkan kepada Tuhan, akhirnya kebahagiaan
meningkat
Peran agama telah diteliti meningkatkan tanggungjawab sosial dan lingkungan. Guth,
Green, Kellstedt dan Smidt (1995) menemukan sikap konservatif agama, tradisi agama dan
komitmen beragama berpengaruh signifikan terhadap kegiatan perlindungan lingkungan di USA.
Selaras dengan itu Brammer, Williams dan Zinkin (2006) mengungkapkan peran agama terhadap
tanggung jawab sosial perusahaan pada 20 negara di dunia. Individu yang terikat agama lebih
memegang tanggung jawab sosial perusahaan yang lebih luas dibandingkan dengan individu
yang tidak terikat agama.
Peran agama dapat mempengaruhi sikap individu, termasuk di dalam bersikap terhadap
pelaporan keuangan usaha. Religiusitas sesorang akan mempengaruhi tingkat tanggungjawabnya
terhadap informasi yang akan dilaporkannya. Hal ini terkait dengan peningkatan kejujuran,
keadilan dalam informasi. Di samping itu dengan pengungkapan informasi yang jujur dan adil
dapat mengurangi tuntutan hukum.
McGuire, Omer dan Sharp, Nathan (2011) mengungkapkan bahwa religiusitas
menurunkan abnormal accruals, dikarenakan telah terjadi peningkatan praktek pengungkapan
manajemen earning dan manipulasi acrruals. Dilaporkan juga bahwa religiusitas meningkatkan
pelaporan keuangan pada perusahaan yang monitor ekternalnya rendah. Peran nilai religius
dalam bisnis dan pelaporan keuangan dapat dijumpai pada institusi keuangan yang menjalankan
syariah atau hukum Islam. Bisnis bank syariah merupakan contoh nyata dari diterapkannya
hukum agama Islam yang melarang riba. Hal tersebut berimplikasi pada penyusunan standar
akuntansi keuangan bank syariah, baik pada tingkat nasional maupun internasional.
Peran penting agama tersebut disebabkan agama merupakan salah satu sumber etika yang
diakui secara universal. Di samping itu, tidak ada satu agama yang menempatkan etika secara
marjinal pada ajarannya yang bias diterapkan sambil lalu. Setiap agama selalu menempatkan
etika sebagai salah satu inti utama ajarannya (Kholis,2004). Nilai agama bersumber dari Tuhan,
mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya, manusia dengan manusia dan manusia dengan
lingkungannya. Nilai agama cenderung bersifat mutlak, mangatur balasan ketaatan dengan
kehidupan sejahtera dan ketidak taatan dengan kehidupan sengsara, baik di dunia maupun setelah
meninggal dunia
Atas dasar uraian tersebut, maka peran agama relevan digunakan dalam memecahkan
permasalahan mengenai perilaku disfungsional audit. Asumsinya adalah agama memuat nilai-
nilai kebenaran dan kebaikan yang dapat digunakan sebagai kendali sikap, niat dan perilaku bagi
auditor. Auditor akan memiliki self monitoring, self control dan self regulation yang sangat
penting diterapkan dalam menjalankan profesinya. Dengan kemampuan tersebut, maka auditor
akan mudah melaksanakan profesinya secara baik, lebih dari pada akan mampu menghindari
perilaku disfungsional audit.
Akuntabilitas Spritual pada Organisasi Gereja Katolik yang
Terinkulturasi Budaya Lokal
(Fransiskus Randa, Iwan Triyuwono, Unti Ludigdo, Eko Ganis Sukoharsono)
Abstrak : Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan praktik akuntabilitas spritual dan
merekonstruksi konsep akuntabilitas spritual dari nilai budaya lokal melalui pendekatan
interpretif dan metode etnografi pada sebuah Gereja Katolik. Studi etnografi digunakan dalam
penelitian ini. Hasil pemaknaan akuntabilitas spritual yang dipahami komunitas tersebut
mencerminkan hubungan individu dengan Maha Kuasa (hubungan vertikal) dan dinyatakan
dalam kesetiaan setiap anggota untuk menjalankan aktivitas religius, kerelaan berkorban demi
keberlangsungan organisasi Gereja, ketertarikan untuk menjalani hidup bakti memberikan
pelayanan sepenuh hati. Sedangkan rekonstruksi konsep akuntabilitas spritual dilakukan dengan
menempatkan Gereja sebagai tongkonan yang menjalankan aktivitas ritus sebagai perwujudan
akuntabilitas spritual.

Pengertian akuntabilitas secara tradisional menurut Roberts dan Scapens (1985) adalah
suatu hubungan yang meliputi pemberian dan penerimaan dari sesuatu sebab yang dapat di
terima secara akal sehat. Pengertian ini mengasumsikan bahwa setiap individu, kelompok kecil
atau organisasi harus mempunyai kepastian hukum yang menjadi dasar untuk tindakan yang di
ambil. Dengan pemahaman demikian, maka akuntabilitas tidak terbatas pada
pertanggungjawaban akan sesuatu yang diserahterimakan antara dua pihak, tetapi juga
menyangkut aspek moral yang selalu diperjuangkan dalam suatu organisasi. Disamping itu
akuntabilitas juga menyangkut keadaan pertanggungjawaban seseorang terhadapt sifatnya
transenden dengan Yang Maha Kuasa yang disebut spritual.
Spritual dipahami oleh para teologi dan filsuf sebagai sesuatu yang amat luas, tak
tersentuh, jauh diluar sana, bahwa Tuhan yang Maha Kuasa berada dalam semesta yang
metafisis, transenden,sehingga mengisyaratkan nuansa mistis dan supranatural. Pendapatan lain
dikemukakan oleh Rudolf Otto dalam Nasr (2005) bahwa spritualitas sebagai pengalaman yang
suci yang terefleksi dalam perilaku sosial manusia sehingga spritualitas menjadi pusat bagi
aktivitas manusia.
Gereja perlu menyadari bahwa Allah sudah lebih dulu hadir dan bekerja dalam budaya,
sejarah, dan agama jauh hari sebelum agama kristen diperkenalkan kepada mereka (Timo 2005).
Dengan demikian gereja tidak apriori terhadap budaya lokal tetapi berusaha untuk menjajaki dan
mengalami makna Allah dalam pengalaman komunitas tersebut pada konteks historis, budaya
dan agama tertentu untuk menolong komunitas itu hidup lebih baik, dihadapan Allah sesuai
dengan budaya, sejarah dan agama yang dimiliki.
Atas dasar tersebut, maka penelitian ini berbeda dengan penelitian sebelumnya dalam hal:
pertama, penelitian ini dilakukan pada organisasi Gereja katolik yang mana penelitian
sebelumnya sebagian besar dilakukan pada Gereja Protestan yang mempunyai otonomi masing-
masing Gereja. Kedua, penelitian ini menggunakan pendekatan interpretif dengan metode
atnografi yang dapat mengangkat secara natural konsep akuntabilitas spritual apa adanya dalam
organisasi Gereja tersebut. Ketiga, penelitian ini dilakukan pada Gereja tradisional yang
mempunyai kekuatan akan pemahaman nilai-nilai budaya lokal sedang penelitian sebelumnya
lebih banyak dilakukan pada organisasi Gereja yang sudah maju. Keempat, penelitian ini
mengangkat nilai-nilai budaya lokal dalam proses inkulturasi yang mempunyai karakteristik
yang berbeda dengan budaya lokal lainya yang ada di indonesia.
Lokasi penelitian di Paroki Makale Tana Toraja karena berada dalam pengaruh budaya
toraja yang kaya akan budaya lokal yang satu sisi dapat sejalan dengan pewartaan iman kristiani
namun disisi lain juga bertentangan dengan ajaran kristiani (Ada 2009) . kondisi ini
membutuhkan kearifan Gereja untuk dapat melaksanakan proses inkulturasi yang memadai guna
membangun akuntabilitas spritual Gereja Katolik yang dapat diterima secara baik menjadi
Gereja yang berbudaya lokal namun tetap dalam kerangka iman dan struktur Gereja Universal.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengambarkan dan memaknai praktik
akuntabilitas spritual pada organisasi Gereja Katolik serta merekonstruksi konsep akuntabilitas
spritual dalam kerangka inkulturasi budaya lokal.
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi kontribusi tentang pemaknaan
akuntabilitas spritual pada Organisasi Gereja dan rekonstruksi konsep akuntabilitas spritual
dalam orgnanisasi Gereja yang ter –inkulturasi budaya lokal.
Pemaknaan praktik akuntabilitas spritual dapat dibagi menjadi empat makna yang
sekaligus merupakan aktivitas umat dan para pemimpin Gereja Katolik sebagai ungkapan
akuntabilitas spritual yaitu: a) Menjalankan aktivitas sekaligus sebagai ungkapan iman mereka,
b) rela berkorban demi kelanjutan organisasi Gereja, c) memilih hidup berbakti dan, d) melayani
dengan sepenuh hati.
Setelah enam hari bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup, maka pada hari minggu
dikhususkan untuk aktivitas religius, semua anggota keluarga berangkat ke gereja. Anak-anak
biasanya lebih dulu menjalankan kegiatan ibadah yang disebut sekolah minngu dan setelah itu
dilanjutkan oleh kegiatan ibadah orang dewasa. Kehidupan spritualitas diaktualisasikan dalam
kehidupan sehari-hari dalam membangkitkan semangat doa secara pribadi untuk menjalin
hubungan yang mesra dengan Tuhan, membantu sesama sebagai wujud keterlibatan sosial dan
melaksanakan perayaan-perayaan yang diwajibkan oleh Gereja.
Kerelaan berkorban demi kelangsungan organisasi, merupakan wujud akuntabilitas umat
selain menjalankan kegiatan religius, setiap invidu juga mengambil peran yang dinyatakan dalam
bentuk persembahan (kolekte). Persembahan yang dilakukan jamaat pada awalnya dinyatakan
dalam bentuk natura, sehingga umat mempersembahkan hasil bumi seperti; beras, ubi, sayur-
mayur, hasil ternak dan lain-lain. Namun sejalan dengan kemajuan perdagangan dimana uang
menjadi media pengganti nilai intristik suatu benda terwakilkan, maka bentuk persembahan pun
beralih dalam bentuk uang. Besarnya persembahan yang diwajibkan kepada umat gereja tidak
diatur secara eksplisit, beberapa komunitas Gereja Kristen lainya mengatur besarnya
persembahan yakni sepersepuluh dari penghasilan. Pada sisi lain penetapan besarnya
persembahan juga tidak ditemukan dalam kitab perjanjian baru. Yesus tidak mementingkan
jumlah tetapi mengutamakan ketulusan hati.
Proses inkulturasi budaya ke dalam Gereja Katolik dapat meningkatkan akuntabilitas
spritual umat tanpa harus bersinggungan dengan pelaksanaan budaya setempat. Proses
inkulturasi ini memungkinkan diterimanya budaya lokal dan melokalkan Gereja Universal.
Pandangan demikian semakin diterima oleh umat dan masyarakat umum sehingga pelaksaaan
upacara yang pada awalnya menjadi unsur religius agama asli (alukta) dapat dijalankan dalam
konteks upacara religius agama Kristen.