Anda di halaman 1dari 22

BAB II

ISI

2.1 Pengisian Kartu Status

Pengisian kartu status dilakukan oleh dokter gigipada saat pasien datang diklinik

maupun rumah sakit, Secara umum hal yang pertama dilakukan dalam pengisian kartu status

yaitu : melakukan anamnesa dan mencari riwayat pasien, melakukan pemeriksaan terhadap

pasien (pemeriksaan fisik dan laboratorium, evaluasi dari hasil anamnesa dan hasil

pemeriksaan fisik serta laboratorium) yang akan menuntun kearah perumusan suatu diagnose

dan rencana perawatan.

2.1.1 Pemeriksaan subyektif

Pemeriksaan subyektif setidak-tidaknya berkaitan dengan 7 hal, yakni identitas pasien,

keluhan utama, present illnes, riwayat medik, riwayat kesehatan gigi, riwayat keluarga dan

riwayat sosial.4

a. Identitas pasien diperlukan sebagai pasca tindakan dapat pula sebagai data mortem

(dental forensic), data identitas pasien meliputi :4

1. Nama lengkap : diperlukan untuk membedakan satu pasien dengan pasien lain.4

2. Alamat : diperlukan untuk mengetahui tempat tinggal pasien, pada beberapa

lingkungan tempat tinggal bisa diketahui kadar fluor dalam air yang dikonsumsi

pasien, hal tersebut berpengaruh terhadap kesehatan gigi pasien misalnya pasien

yang tinggal di daerah laut biasanya kadar fluor yang dikonsumsi tinggi.4

3. Umur : mengetahui adanya hubungan antara suatu penyakit terhadap

kelompok umur tertentu. Misalnya prevalensi penyakit periodontal, perkembangan

serta keparahannya, memperlihatkan penyakit periodontal lebih banyak terjadi


pada kelompok umur yang lebih tua dibandingkan yang muda. Serta pada pasien

dengan usia yang lebih tua juga memungkinkan terdapat penyakit sistemik.6

4. Jenis Kelamin : untuk mengetahui faktor resiko penyakit periodontal.6

5. Pekerjaan : menggambarkan status ekonomi pasien, pada beberapa penelitian

diperoleh pasien dengan status ekonomi yang baik memiliki peluang memiliki

jaringan periodontal yang sehat dibanding pada pasien dengan kategori status

ekonomi rendah. Selain itu pekerjaan juga berhubungan dengan faktor resiko

penyakit periodontal.6

6. Pemeriksa : nama operator yang memeriksa pasien

7. Konsul dari : untuk mengetahui adanya riwayat penyakit lain yang diderita pasien

berdasarkan konsul dari bagian sebelumnya

b. Keluhan utama (Chief Complaint )8

Berkaitan dengan apa yang keluhan oleh pasien dan alasan pasien datang

kedokter gigi. Keluhan utama dari pasien akan berpengaruh terhadap pertimbangan

dokter gigi dalam menentukan prioritas perawatan. Contoh

Rasa sakit ataupun ngilu,

rasa tidak nyaman,


Prioritas Perawatan
pembengkakan,

pendarahan, halitosis, rasa

malu, alasan estetis

c. Present illness (Present Illness )8

Mengetahui keluhan utama saja tidak cukup, maka perlu dilakuhkan

pengembangan masalah yang ada dalam keluhan utama yaitu dengan mengidentifikasi

keluhan utama. Misalnya dengan mencari tahu kapan pasien merasakan sakit/ rasa tidak
nyaman sejak pertama kali terasa, apakah keluhan itu bersifat berselang atau terus

menerus, Jika berselang seberapa sering, adakah faktior pemicunya dan sebagainya

Jika rasa sakit terdeskripsikan sebagai masalah utama , maka ada beberapa hal yang

dapat dikembangkan, misalnya sebagai berikut :

Rasa Sakit Deskripsi

Lokasi Gigi-gigi tertentu atau menyeluruh

Faktor pemicu Panas/dingin, bertambah parah saat

mengunyah

Karakter Tumpul, tajam, berdenyut

Keparahan Apakah sampai minum obat

(analgesic) atau membuat sulit tidur

d. Riwayat kesehatan umum (Medical history)8

Riwayat kesehatan umum akan membantu operator dalam hal yaitu:

(1) diagnosis manifestasi oral dari penyakit sistemik

(2) penemuan kondisi sistemik yang dapat mempengaruhi respon jaringan periodontal

terhadap faktor local

(3) penemuan kondisi sistemik yang membutuhkan suatu tindakan pencegahan dan

modifikasi dalam perawatannya.

Beberapa hal yang penting ditanyakan adalah:

- Gejala umum, serperti demam, penurunan berat badan, serta gejala umum yang

lainnya

- Gejala yang berkaitan dengan sistem dalam tubuh, seperti batuk dengan sistem

respirasi, kecemasan, depresi, dengan kelainan jiwa

- Perawatan bedah dan radioterapi yang pernah dilakukan


- Alergi makanan dan obat

- Penyakit yang pernah diderita sebelumnya

- Problem medis spesifik seperti terapi kortikosteroid, diabetes melitus,

kecenderungan pendarahn, penyakit jantung, dan resiko endokarditis yang

dapat mempengaruhi prosedur operasi.

e. Riwayat Kesehatan Gigi (Dental History)5

Riwayat dental harus meliputi acuan seperti:

- Kunjungan ke dokter gigi meliputi frekuensi, tanggal terakhir kunjungan, dan

perawatannya. Profilaksis oral atau “pembersihan” oleh dokter gigi termasuk

frekuensi dan tanggal terakhir dibersihkan.

- Kebiasaan kebersihan mulut harus diketahui, seperti frekuensi menyikat gigi,

kebiasaan menyikat gigi sebelum atau sesudah makan, metode menyikat gigi, tipe

sikat gigi dan pasta, serta interval waktu digantinya sikat gigi

- Perawatan ortodontik, seperti durasi dan perkiraan waktu selesai harus dicatat.

- Rasa nyeri di gigi atau di gusi, seperti pemicu nyeri, asal dan durasinya, dan cara

pasien menghilangkan rasa nyeri tersebut.

- Gusi berdarah. Kapan pertama kali diketahui; terjadi spontan atau tidak, terjadi saat

sikat gigi atau saat makan, terjadi pada malam hari atau pada periode yang teratur;

apakah gusi berdarah berhubungan dengan periode menstruasi atau faktor spesifik;

durasi perdarahan dan cara menghentikannya.

- Bau mulut dan daerah impaksi makanan

- Kegoyangan gigi. Apakah terasa hilang atau tidak nyaman pada gigi? Apakah

terdapat kesulitan pada saat mengunyah?


- Kebiasaan buruk seperti grinding teeth atau clenching teeth pada malam hari atau

setiap waktu. Apakah otot gigi terasa sakit pada pagi hari? Kebiasaan lainnya

seperti merokok, menggigit kuku, dan menggigit benda asing.

f. Riwayat sosial (Social history)5

Riwayat sosial yang dapat dipertimbangkan :

1. Apakah pasien masih memiliki keluarga

2. Keadaan sosial ekonomi pasien

3. Pasien pergi keluar negeri

4. Riwayat seksual pasien

5. Kebiasaan merokok, minum alkohol, pengguna obat-obatan

6. Informasi tentang diet makan pasien

g. Riwayat keluarga (Family history)5

Ini berkaitan dengan masalah herediter yang berkaitan dengan riwayat penyakit

keluarga, seperti ayah ibu pernah rawat inap dirumah sakit, ayah ibu pernah berkunjung

kedokter gigi memeriksakan keluhan.

2.1.2 Status pasien

a. Keadaan umum5

Seorang operator harus mencoba menilai pasien secara keseluruhan. Hal-hal yang perlu

dipertimbangkan adalah status mental dan emosional pasien, sikap, dan umur fisiologi.

b. Ekstra oral7

Pemeriksaan ekstra oral ini bertujuan untuk melihat penampakan secara umum dari

pasien, misalnya pembengkakan diuka da leher, pola skeletal, kompetensi umum. Hal

ini dapat dilakukan dengan cara palpasi limfonodi, otot-otot mastikasi dan pemeriksaan

TMJ (Temporo Mandiular Joint) .


c. Pemeriksaan intra oral7,10

Pemeriksaan intra oral adalh pemeriksaan yang dilakukan dalam rongga mulut.

Pemerikaaan intra oral berkaitan dengan gigi dan jarimgam sekitar (jaringan lunak dan

jaringan keras) . Pemeriksaan intraoral meliputi kebersihan mulut, halitosis, serta

pemeriksaan status gigi gelili

 Oral-hygiene. Oral hygiene atau kebersihan rongga mulut dinilai dari tingkat

akumulasi debris makanan, plak, material alba, dan stain permukaan gigi.

Pemeriksaan jumlah kualitatif plak dapat membantu menegakkan diagnosis.

- Oral hygiene dinilai dengan menggunakan Oral Hygiene Index Simplifed

(OHIS)11

Tidak semua permukaan gigi diperiksa, permukaan yang diperiksa akan

dijelaskan dalam gambar sebagai berikut.

Gambar 1. Gigi dan permukaan yang diperiksa pada DI-S dan CI-S(Sumber: Marya CM. A

textbook of public health dentistry. New Delhi: Jaypee Brothers Medical Publishers (P) Ltd;

2011. 192)
Gambar 2. Jumlah skor dan kriteria penilaian pada permukaan gigi (Sumber: Mesure de l'indice

de débris OHIS, 2011)

Tabel 1. Kriteria klasifikasi debris (DI-S)11

Skor Kriteria

0 Tidak ada debris atau stain

1 Debris lunak menutupi tidak lebih dari sepertiga

permukaan gigi atau adanya stain eksktrinsik tanpa debris

pada area permukaan yang terselubung

2 Debris lunak yang menutupi lebih dari sepertiga tetapi

tidak lebih dari dua pertiga permukaan gigi.

3 Debris lunak yang menutupi lebih dari dua pertiga

permukaan gigi yang terlihat

Debris index = (nilai bukal) + (nilai lingual) / (jumlah nilai dari permukaan

bukal dan lingual yang diperiksa)


Tabel 2. Kriteria klasifikasi kalkulus (CI-S)

(Sumber: Marya CM. A textbook of public health dentistry. New Delhi: Jaypee Brothers

Medical Publishers (P) Ltd; 2011. 191)

Skor Kriteria

0 Tidak ada kalkulus

1 Kalkulus supragingiva menutupi tidak lebih dari sepertiga

dari permukaan gigi.

2 Kalkulus supragingiva menutupi lebih dari sepertiga

permukaan gigi tetapi tidak lebih dari dua pertiga

permukaan gigi atau adanya bintik-bintik dari kalkulus

subgingiva disekeliling bagian servikal dari gigi atau

keduanya.

3 Kalkulus supragingiva yang menutupi lebih dari dua pertiga

permukaan gigi atau sebuah kumpulan kalkulus disekeliling

bagoan servikal dari gigi atau keduanya.

Calculus index:

Rata-rata nilai debris dan kalkulus individual atau kelompok dikombinalsi untuk

mendapatkan simplified oral hygiene index.

Oral hygiene index = debris index + calculus index.

Tingkat klinis dari oral hygiene dapat dihubungkan berdasarkan skor OHIS

sebagai berikut:

Baik : 0,0 – 1,2

Sedang : 1,3 – 3,0

Kurang : 3,1 – 6,0


- Papillary Bleeding Index (PBI)11

Papillary Bleeding Index pertama kali diperkenalkan oleh Saxer dan

Muhlemann (1975), dan kembali dikutip oleh Muhlemann (1977). Penilaian ini

dilakukan untuk mengevaluasi langsung ke pasien dengan kondisi gingiva dan

penyakit pada gingiva, berdasarkan kondisi pendarahan yang ada pada papilla

gingiva.

Probe yang digunakan adalah probe WHO dan memiliki pita warna

(disebut tanda referensi) yang terletak 3,5 mm sampai 5,5 mm dari ujung probe.

Tanda referensi kode warna ini digunakan saat mendiagnosis.

Gambar 3. Ukuran probe WHO. (Sumber:Error! Hyperlink reference not valid.)12

Probe periodontal dimasukkan ke dalam sulkus gingiva di dasar papilla

pada aspek bukal dan palatal atau lingual ke mesial dan distal (proksimal) gigi

secara koronal.

Intensitas perdarahan dicatat dengan skor sebagai berikut :13

Skor Kriteria

0 Tidak ada perdarahan

1 Hanya satu titik perdarahan

2 Banyak titik perdarahan yang terisolasi atau satu garis

darah yang muncul


3 Adanya perdarahan pada bagian interdental yang

berbentuk segitiga pada saat setelah probing

 Keadaan gingiva10

- Marginal gingiva atau unattached gingiva adalah bagian pinggir dari gingiva

yang mengelilingi daerah leher dari gigi berbentu seperti kerah baju. Biasanya

lebar dari unattached gingiva adalah 1mm.

- Sulkus gingiva adalah celah dangkal atau ruang disekitar gigi yang dibatasi oleh

permukaan gigi di satu sisi dan epitel yang melapisi margin free gingiva di sisi

lain.

- Attached gingiva merupakan lanjutan marginal gingiva, meluas dari free

gingiva grove sampai ke mukogingival junction. Attached gingiva ini melekat

erat ke sementum mulai dari sepertiga bagian akar keperiosteum alveolar.


- Interdental gingiva adalah gingiva antara gigi-geligi yang umumnya konkaf dan

membentuk lajur yang menghubungkan papila labial dan papila lingual.

Epitelium lajur biasanya sangat tipis, tidak keratinisasi dan terbentuk hanya dari

beberapa lapis sel.

- Daerah interdental berperan sangat penting karena merupakan daerah

pertahanan bakteri yang paling persisten dan strukturnya menyebabkan daerah

ini sangat peka yang biasanya timbul lesi awal pada gingivitis.

Secara umum, ciri klinis gingivitis (peradangan gingiva) dapat ditandai dengan

adanya salah satu tanda klinis sebagai berikut: kemerahan, pendarahan pada saat

probing, perubahan kontur, dan adanya kalkulus atau plak tanpa bukti radiografi.

Dan biasanya jika disertai dengan poket gingiva akan mengalami pembesaran.

 Karang gigi. Terdiri dari plak bakteri termineralisasi yang terbentuk di permukaan

gigi alami dan protesa gigi. Kalkulus supragingival terletak di mahkota hingga ke

margin gingiva, oleh karena itu terlihat di rongga mulut. Biasanya berwarna putih

atau keputih-putihan, keras dengan konsistensi seperti tanah liat, dan mudah

terlepas dari permukaan gigi. Dua lokasi yang paling umum untuk kalkulus

supragingival adalah permukaan bukal geraham rahang atas. Kalkulus subgingival

terletak di bawah puncak servikal gigi dan oleh karena itu tidak terlihat pada

pemeriksaan klinis.15

 Oklusi. Oklusi gigi dibentuk dari susunan gigi geligi dalam rahang atas dan bawah.

Oklusi ideal merupakan oklusi dimana terdapat hubungan yang tepat dari gigi pada

bidang sagital. Secara fungsional, oklusi gigi seseorang yang normal tergantung

dari fungsi dan dampaknya terhadap jaringan periodonsium, otot dan TMJ. Susunan

gigi yang lengkap pada oklusi sangat penting karena akan menghasilkan proses

pencernaan makanan yang baik. Pemecahan makanan pada proses pengunyahan


sebelum penelanan akan membantu pemeliharaan kesehatan gigi yang baik. Cusp

(tonjol) gigi pada lengkung maksila dan mandibula yang terletak pada posisi normal

dengan gigi antagonisnya akan menghasilkan kontak yang maksimal antara cusp

dan fossa. Oklusi gigi dapat bervariasi dari satu individu dengan individu lainnya.

Selama proses pengunyahan gigi geligi cenderung berada pada posisi istirahat,

dimana pada posisi ini semua otot yang mengontrol posisi mandibula berada dalam

keadaan istirahat. Pada posisi ini terdapat celah antara gigi atas dan bawah yang

disebut free way space. Pada kondisi ini gigi akan memberikan efek mekanis yang

maksimal terhadap makananan.16

 Artikulasi. Artikulasi merupakan hubungan dinamis antara rahang bawah terhadap

rahang atas.16

 Abrasi. Abrasi gigi merupakan hilangnya substansi gigi melalui proses mekanis

yang abnormal. Abrasi pada daerah servikal banyak ditemukan pada orang

berusia lanjut yang menyikat gigi dengan cara kurang benar. Abrasi yang terjadi

membentuk irisan atau parit berbentuk ‘V’ pada akar diantara mahkota dan

gingiva. Hal ini mengakibatkan gigi menjadi sensitif ketika menerima rangsangan

termis baik panas maupun dingin. Abrasi yang lebih lanjut juga dapat beresiko

fraktur (patah) pada daerah servikal gigi. Abrasi dapat terjadi pada setiap gigi,

tapi biasanya lebih banyak terjadi pada servikal bagian bukal gigi insisivus,

kaninus, dan premolar di kedua rahang. Tindakan menyikat gigi yang baik dan

benar dibutuhkan agar terhindar dari masalah kesehatan gigi. Metode menyikat

gigi yang tidak tepat menyebabkan beberapa kerusakan seperti abrasi gigi,

resesi gingiva, gigi sensitif, dan gigi menjadi rapuh.17

 Status lokalis

- Kegoyangan Gigi9,18
Kegoyangan/Mobilitas gigi berhubungan dengan terganggunya perlekatan

jaringan periodontal. Kondisi tersebut merupakan dampak dari trauma fisik akut

atau kronik, trauma oklusal, kebiasaan parafungsioal, penyakit periodontal,

fraktur akar, rapid orthodontic movement atau lanjutan infeksi pulpa ke daerah

ligamentum periodontal.

Pemeriksaan mobilitas gigi dapat dilakukan dengan menggunakan ujung

handle mirror. Salah satu ujung handle mirror diletakkan pada permukaan bukal

gigi, dan yang satunya diletakkan pada permukaan lingual gigi.

Pemeriksaan Mobilitas Gigi

Klass I Pergerakan fasial lingual sebesar 0.6 - 1.0 mm

Klas II Pergerakan fasial lingual sebesar 1 - 2 mm

Klass III Pergerakan fasial lingual lebih dari 2 mm dan

dapat ditekan ke arah apikal/soket

- Vitalitas pulpa18

Pemeriksaan vitalitas pulpa dilakukan untuk mengetahui respon saraf

sensoris pulpa. Pemeriksaan ini dapat dilakukan dengan menggunakan

rangsangan termal atau listrik untuk mengetahui respon subjektif pasien


(menentukan saraf pulpa masih berfungsi atau tidak) atau dapat dinilai secara

objektif menggunakan alat prndeteksi integritas pembuluh darah pulpa.

Tes vitalitas pulpa dapat dilakukan menggunakan stimulus panas atau

dingin. Secara normal, respon pasien terhadap rangsangan panas atau dingin

akan hilang setelah stimulus termal dihilangkan. Respon abnormal terhadap

stimulus dapat berupa respon yang kurang terhadap stimulus, respon lama atau

sensasi yang menyakitkan saat stimulus dihilangkan, atau sensasi tiba-tiba yang

sangat menyakitkan setelah stimulus diberikan pada gigi.

Tes panas digunakan ketika keluhan utama pasien adalah sakit gigi yang

hebat ketika berkontak dengan minuman atau makanan panas. Apabila pasien

tidak dapat mengidentifikasi gigi yang sensitif, maka tes panas dapat dilakukan.

Tes dapat dilakukan mulai dari gigi posterior. Syringe diisi dengan cairan (air

biasa) yang memiliki suhu yang bisa menyebabkan sensasi menyakitkan. Cairan

tersebut kemudian diinjeksi dari jarum suntik ke gigi yang diisolasi untuk

menentukan apakah responnya normal atau tidak normal. Saat dilakukan tes

panas, respon pasien mungkin tertunda, jadi operator dapat menunggu 10 detik

untuk melihat respon pasien setelah stimulus dilakukan.

Cara lain yang dapat dilakukan untuk tes panas yaitu dengan menggunakan

guttapercha atau compound stick yang dipanaskan. Ketika metode ini

dilakukan, selapis tipis vaselin dapat diaplikasikan ke gigi untuk mencegah

guttapercha atau compound yang panas melekat pada permukaan gigi. Apabila

gigi positif terhadap tes panas lalu dapat reda dengan tes dingin, maka dapat

disimpulkan sebagai nekrosis.

Tes dingin merupakan metode pemeriksaan vitalitas pulpa yang paling

sering dilakukan. Apabila gigi tidak merespon tes dingin, maka pulpa dapat
dianggap nekrosis. Pada gigi akar jamak, biasanya memiliki akar yang

merespon rangsangan dingin sedangkan akar yang satunya mengalami nekrosis

pulpa. Teknik ini biasanya dilakukan pada pasien yang menggunaan mahkota

jaket porselain atau porcelain-fused-to-metal yang tidak memiliki permukaan

gigi asli yang dapat diakses.

- Poket9

Kedalaman poket periodontal adalah jarak antara dasar poket dan marginal

gingiva. Kedalaman poket dapat berubah dari waktu ke waktu, seperti pada

pasien dengan penyakit periodontal yang mengalami perubahan posisi marginal

gingiva.

Tanda klinis poket yaitu terjadi perubahan warna (marginal gingiva merah

kebiruan atau zona vertikal kebiruan merah yang memanjang dari margin

gingiva ke gingiva); Tepi "menggulung" yang memisahkan margin gingiva dari

permukaan gigi; Atau gingiva mengalami edema. Pendarahan, supurasi, dan

gigi goyang atau ekstrusi dapat menandakan adanya poket periodontal.

Poket periodontal biasanya tidak menimbulkan sakit, nnamun bisa

enimbulkan gejala seperti nyeri lokal, rasa busuk terlokalisir, peka terhadap

stimulus panas atau dingin, dan sakit tanpa adanya tanda karies.

Poket periodontal dapat dideteksi menggunakan probe periodontal. Poket

tidak dapat dideteksi menggunakan pemeriksaan radiografi karena poket

periodontal merupakan perubahan pada jaringan lunak. Radiografi dapat

menunjukka daerah tulang yang hilang yang mungkin menandakan adanya

poket, tetapi tidak dapat menunjukkan kedalaman poket. Oleh karena itu, tidak

ada perbedaan yang jelas antara kehilangan tulang sebelum dan setelah evaluasi

poket periodontal.
- Loss of attachmen9

Loss of attachment adalah jarak antara dasar poket periodontal dan titik

tetap pada mahkota, seperti CEJ. Bila margin gingiva terletak pada mahkota

anatomis, tingkat perlekatan ditentukan dengan mengurangkan kedalaman

poket dari margin gingiva ke CEJ. Jika keduanya sama, kehilangan perlekatan

adalah nol. Bila margin gingiva bertepatan dengan CEJ, kehilangan

perlekatansama dengan kedalaman poket. Bila margin gingiva terletak lebih ke

apikal daripada CEJ, kehilangan perlekatan lebih besar dari pada kedalaman

poket. Oleh karena itu, jarak antara CEJ dan margin gingiva harus ditambahkan

dengan kedalaman poket.

Pengukuran loss of attachment

0 Kehilangan perlekatan 0 – 3 mm (CEJ)

1 Kehilangan perlekatan 4 – 5 mm (CEJ memiliki tepi hitam)

2 Kehilangan perlekatan 6 – 8 mm

3 Kehilangan perlekatan 9 – 11 mm

4 Kehilangan perlekatan 12 mm atau lebih

- Malposisi

Malposisi gigi mungkin saja dapat menjadi factor penyebab dari premature loss

seperti pada pemakaian alat ortodontik dengan tekanan yang berlebihan.

Malposisi juga dapat menjadi factor lokal dari resesi gingiva dan gingival

bleeding.14

- Migrasi14

Terjadinya migrasi gigi atau perpindahan gigi secara patologis

dikarenakan bila keseimbangan antara faktor-faktor yang menahan gigi secara


fisiologis terganggu oleh penyakit periodontal. Migrasi patologis biasa terjadi

dan mungkin merupakan pertanda awal dari suatu penyakit atau ini dapat

terjadi karena adanya peradangan pada gingiva atau pembentukan poket pada

saat penyakit berkembang. Migrasi patologis paling sering terjadi di region

anterior, namun gigi posterior mungkin juga terinduksi. Gigi bisa bergerak ke

segala arah, dan migrasi biasanya disertai dengan mobilitas dan rotasi. Penting

untuk mendeteksi migrasi pada tahap awal dan mencegah keterlibatan yang

lebih serius dengan cara menghilangkan faktor penyebabnya.

Dua faktor utama berperan dalam menjaga posisi gigi tetap normal :

Kesehatan dan tingkat perlekatan periodontal yang normal dan juga kekuatan

yang diberikan pada gigi. Yang terakhir mencakup kekuatan oklusi dan tekanan

dari bibir, pipi, dan lidah. Faktor-faktor penting yang berkaitan dengan

kekuatan oklusi antara lain : (1) fitur morfologi gigi dan cusp (2) kelengkapan

gigi (3) kecenderungan fisiologis terhadap migrasi mesial (4) lokasi dari titik

kontak gigi (5) atrisi atau gesekan dari arah proksimal, insisal dan oklusal gigi

dan (6) inklinasi aksial gigi. Adanya perubahan pada salah satu dari faktor-

faktor ini akan memulai urutan dari perubahan yang saling terkait dalam

lingkungan sekitar gigi tunggal ataupun kelompok gigi yang dapat

menyebabkan migrasi patologis.

Lemahnya jaringan pendukung gigi : peradangan jaringan pendukung gigi

pada periodontitis menimbulkan ketidakseimbangan antara gaya yang menjaga

gigi terus pada posisi dan kekuatan oklusal dan otot yang biasanya dibutuhkan

gigi. Gigi dengan jaringan pendukung yang lemah tidak mampu

mempertahankan posisi normalnya di lengkung gigi dan bergerak menjauh dari

kekuatan lawan kecuali jika terdapat kontak proksimal yang menahannya.


Kekuatan yang menggerakkan gigi karna jaringan pendukung lemah dapat

terjadi oleh faktor-faktor seperti kontak oklusal atau tekanan dari lidah. Migrasi

patologis dapat berlanjut setelah hilangnya gigi antagonis. Migrasi patologis

juga merupakan tanda awal dari periodontitis agresif lokal.

- Titik kontak14

Hubungan kontak proksimal merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi

munculnya plak. Jika titik kontak proksimal gigi terbuka (diastema) maka dapat

menyebabkan retensi dari sisa makanan yang menyebabkan munculnya plak

gigi, jika dibiarkan akan menyebabkan kalkulus sehingga terjadilah peradangan

gingiva. Pemeriksaan titik kontak gigi dapat dilakukan dengan benang gigi.

- Food impaction19

Merupakan sisa makanan yang terselip kedalam periodontium oleh karena

tekanan oklusal. Food impaction berhubungan erat dengan kontak, kontur, dan

bentuk gigi yang menciptakan ruang interproksimal dengan adanya interdental

gingiva. Food impaction adalah situasi klinis yang timbul dari proses kompleks

yang melibatkan usia, penyakit periodontal, karies dan gesekan yang berlebihan

dan sebagainya. Ini akan menyebabkan halitosis, radang gusi, periodontitis,

abses gingiva, penyerapan tulang alveolar, akar.

- Trauma

Trauma dari oklusi dapat terjadi akut atau kronik. Trauma akut akibat

oklusi berasal dari dampak oklusal yang tiba-tiba seperti yang disebabkan oleh

menggigit pada benda keras, Restorasi atau peralatan prostetik yang

mengganggu atau mengubah arah kekuatan oklusal pada gigi juga dapat

menyebabkan trauma akut. Trauma akut mengakibatkan sakit gigi, kepekaan

terhadap perkusi, dan peningkatan mobilitas gigi. Jika gaya pergeseran posisi
gigi di hilangkan atau memperbaiki restorasi, cedera akan sembuh dan gejala

mereda. Jika tidak, cedera periodontal dapat memburuk dan berkembang

menjadi nekrosis, disertai dengan pembentukan abses periodontal, atau

mungkin bertahan sebagai kondisi free-symptom chronic. Ketika trauma dari

oklusi adalah hasil dari perubahan pada gaya oklusal, ini disebut primary

trauma from occlusion. Bila hasil dari berkurangnya kemampuan jaringan

untuk melawan gaya oklusal, ini disebut sebagai secondary trauma from

occlusion.18

2.1.3 Pemeriksaan penunjang

Radiografi memegang peranan penting dalam menegakkan diagnosa,

merencanakan perawatan dan mengevaluasi hasil perawatan untuk melihat keadaan

gigi secara utuh.

Ada beberapa Tujuan pemeriksaan radiologi dan laboratorium pada pemeriksaan

periodontal yaitu:

a. Radiografi

 Tujuannya adalah untuk memberikan penjelasan tentang gambaran jaringan

periodontal dan untuk menggambarkan secara jelas cici-ciri radiologis dari

penyakit periodontal.

 Radiografi memainkan peran yang sangat penting dalam diagnosis, studi dan

perawatan penyakit periodontal namun memiliki keterbatasan seperti pada kasus

penyakit periodontal yang mungkin tanpa adanya indikasi radiologis yang

abnormal.

 Pengunaan radiografi pada periodontal untuk mendukung beberapa temuan klinis

atau untuk menghasilkan pentunjuk tambahan bila memungkinkan.


 Teknik radiografi yang sering digunakan dalam pemeriksaan periodontal adalah

teknik periapikal, bite-wing, dan panoramik.

b. Laboratorium19

Tujuan pemeriksaan laboratorium :

 Konsep diagnosa penyakit dengan tes laboratorium relatif baru pada ilmu

kedokteran gigi. - Tes ini berguna untuk memprediksi gigi atau lokasi mana yang

akan mengalami kehilangan perlekatan.

 Sebagai tambahan, jakan membantu dalam membedakan pasien yang merespon

atau tidak merespon pengobatan dan dapat digunakan untuk menentukan prognosis

dari keseluruhan pasien atau gigi tertentu.

2.1.4 Diagnosis6

Diagnosis adalah cara menentukan jenis penyaki berdasarkan gejala (simptom)

dan tanda (sign) yang ada. Macam macam diagnosis:

a. Diagnosis medis, yaitu proses penentuan jenis penyakit berdasarkan tanda dan gejala

menggunakan cara dan alat penunjang seperti laboratorium, foto dan klinik.

b. Diagnosis banding/differential diagnostic (DD) yaitu diagnosis yang dilakuhkan

dengan membandingkan tanda klinis suatu penyakit dengan tanda klinis penyakit lain.

2.1.5 Prognosis7

Prognosis adalah prakiraan/ramalan tentang jalannya penyakit (termasuk sesudah

diberikan pengobatan/perawatan tertentu). Jenis prognosis:

1. Prognosis bona(m) : ramalan baik

2. Prognosis dubia ad bona (m) : ramalan ragu-ragu tapi condong kebaik

3. Prognosis dubia ad mala(m) : ramalan ragu-ragu tapi condong ke buruk

4. Prognosis mala(m) : ramalan buruk


DAFTAR ISI

1. J
2.

3.
4. Bimbaun W, Dunne S. Oral diagnosis the clinician’s guide. London: Sunnymede trust;
2010.
5. Leondra A, Gunawan P, Wicaksono D. Status karies dan fluor yang dikonsumsi penduduk
usia12-14 tahun di desa Wiau Lapi Barat. Jurnal fakultas kedokteran gigi Universitas Sam
Ratulangi.
6. Lumentut R, Gunawan P, Mintjelungan C. Status periodontal dan kebutuhan perawatan
pada usia lanjut. Jurnal e-Gigi. 2013; 1(2)
7. Lesar A, Pangemanan D, Zuliari K. Gambaran status kebersihan gigi dan mulut serta status
gingiva pada anak remaja di SMP Advent Watulaney. Jurnal e-Gigi. 2015; 3(2)
8. Bakar Abu, Dunne S.Kedokteran Gigi Klinis ed 2. Quantum sinergis media: Yogyakarta.
2012. Hal 1-18
9. Newman Michael G, Takei Henry H, Klokkevold PR, Carranza FA. Carranza’z clinical
periodontology ed 12. Canada: Elsevier. 2015. 41, 357-362, 394
10. Bakar abu. Kedokteran gigi klinis. Yogyakarta: Quantum sinergis Media. 1-20
11. Marya CM. A textbook of public health dentistry. New Delhi: Jaypee Brothers Medical
Publishers (P) Ltd; 2011. 191-2, 203)
12. Error! Hyperlink reference not valid.
13. Mesure de l'indice de débris OHIS, 2011
14. Newman MG, Takei HH, Klokkevold PR, Carranza FA. Carranza clinical periodontology.
11th ed. Missouri: Elsevier, 2012. 78,82, 144, 151-2,157,217,224, 505.
15. Cohen pathway of the pulp. 9-10, 1-6
16. Suharlini. Fisiologi pengunyahan pada sistem stomatognati. Stomatognatic (J.K.G
Unej):8(3);2011;122-6
17. Kalangie PB dkk. Gambaran abrasi gigi ditinjau dari metode menyikat gigi padda
masyarakat di lingkungan II kelurahan Maasing Kecaatan Tuminting Kota Manado.
Pharmaon; 5 (2);2016
18. Journal of periodontology. Maret, 2000. 851, 854, 857.
19. Gokhale S et al. Food impaction after crown placements. Departement of periodontology
: 2014. 163
20. Vijay G, Raghavan V. Radiology in Periodontic. J Indian Acad Oral Med Radiol 2013; 25(1):24-
9