Anda di halaman 1dari 175

WIRING DAN PENGUJIAN APP TIDAK

LANGSUNG
B.2.1.3.97.3.M

Edisi I
Desember 2014
WIRING DAN PENGUJIAN APP TIDAK LANGSUNG

B.2.1.3.97.3.M

TUJUAN PELAJARAN :

Setelah mengikuti pelatihan ini peserta mampu melaksanakan pengawatan,


pengoperasian, inspeksi APP, mampu memelihara dan mengganti instalasi APP
pengukuran tidak langsung, melaksanakan pengawatan, pemasangan, pengoperasian,
inspeksi dan trouble shoting APP baik single maupun multi tarif sesuai prosedur dan
ketentuan yang berlaku di PT PLN (Persero)

Durasi : 40 JP / 5 Hari Efektif

TIM PENYUSUN :
1. Rijanto (Purnakarya PLN)
2. Fadjar Kurniadi (PLN Udiklat Pandaan)
3. Eko Suprianto (PLN Distribuasi Jatim)
4. Raihan Amin S (PLN Udiklat Pandaan)

TIM VALIDATOR

1. Winayu Siswanto (PLN PUSAT)


2. Umar Rosidi (PLN PUSAT)
3. Hari Kaptono Adi (PLN Pusdiklat)

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal


DAFTAR MATA PELAJARAN

Mata Pelajaran 1

Teori Listrik Terapan Rangkaian 3 Phase

Mata Pelajaran 2
Alat Ukur Listrik dan Penggunaannya

Mata Pelajaran 3

APP, CT, PT dan Perlengkapannya

Mata Pelajaran 4
Sistem Pengawatan APP

Mata Pelajaran 5

Pemeriksaan dan Pengujian APP

Mata Pelajaran 6
Pengoperasian dan pemeliharaan APP

Mata Pelajaran 7
Praktek/Wiring dan Pengujian APP Tidak Langsung

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal


Mata Pelajaran 1

TEORI LISTRIK TERAPAN


RANGKAIAN 3 PHASE

i
1. TEORI LISTRIK TERAPAN
RANGKAIAN 3 PHASE

TUJUAN PELAJARAN : Setelah mengikuti mata pelajaran ini peserta


mampu memahami dan menjelaskan Teori Listrik
Terapan Rangkaian 3 Phase dengan baik dan benar
sesuai Standar Perusahaan

DURASI : 4 JP

PENYUSUN : 1. Rijanto (Purnakarya PLN)


2. Fadjar Kurniadi (PLN Udiklat Pandaan)
3. Eko Suprianto (PLN Distribuasi Jatim)
4. Raihan Amin S (PLN Udiklat Pandaan)

i
DAFTAR ISI

TUJUAN PELAJARAN ............................................................................................................. i


DAFTAR ISI ..............................................................................................................................ii
DAFTAR GAMBAR ..................................................................................................................iii
1. Arus Bolak Balik .............................................................................................................1
1.1. Definisi Arus Bolak Balik ...................................................................................................1
1.2. Karakteristik Arus Bolak-Balik ...........................................................................................2
1.3. Beban pada Arus Bolak-Balik ............................................................................................3
2. Hukum Kirchoff ..............................................................................................................5
2.1. Hukum Kirchoff I ...............................................................................................................5
2.2. Hukum Kirchoff II ............................................................................................................................... 5
3. Daya Pada Arus Bolak-Balik ..........................................................................................6
3.1. Rumus Dasar Arus Bolak Balik 1 phasa ............................................................................7
3.2. Formula Arus bolak balik ...................................................................................................8
4. Arus Bolak Balik 3 Fase..................................................................................................9
4.1. Arus Bolak-balik 3 Phasa Hubungan Bintang (Star) ........................................................10
4.2. Arus Bolak – Balik 3 Phasa Hubungan Delta (Segitiga) ..................................................11
4.3. Arus Bolak Balik 3 Phasa Beban Seimbang ....................................................................12
4.4. Arus Bolak Balik 3 Phasa Beban Tak Seimbang .............................................................13
4.5. Daya Listrik Pada Arus Bolak Balik 3 Phasa ...................................................................13
5. Soal Latihan ..................................................................................................................16

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal ii


DAFTAR GAMBAR

Gambar 1 Arus bolak balik ......................................................................................................... 1


Gambar 2 Vector arus I ............................................................................................................. 3
Gambar 3 Hubungan beban R-L-C ............................................................................................ 4
Gambar 4 Arus bolak-balik 3 phasa hubungan bintang (star) .................................................. 10
Gambar 5 Arus bolak -balik 3 phasa hubungan delta (segitiga) ............................................... 11
Gambar 6 Arus bolak - balik 3 fasa hubungan bintang dan hubungan segitiga ........................ 12
Gambar 7 Arus bolak balik 3 phasa beban seimbang .............................................................. 12
Gambar 8 Arus bolak balik 3 phasa beban tak seimbang ........................................................ 13
Gambar 9 Daya listrik pada arus bolak balik 3 phasa .............................................................. 14

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal iii


TEKNIK DASAR LISTRIK

1. Arus Bolak Balik

1.1. Definisi Arus Bolak Balik

Arus bolak balik ialah arus yang mempunyai besaran maupun arah yang berubah ubah
terhadap waktu

Gambar 1 Arus bolak balik

- Pengertian Arus bolak balik

Arus bolak balik dapat diartikan sebagai Vektor yang berputardengan kecepatan sudut Radial
per detik, bila satu putaran sama dengan jarak 360 derajat maka L ; 2 π dalam waktu T

- Definisi Frekwensi

Frekwensi ialah jumlah perubahann arus per detik atau jumlah sinusoida perdetik.

- Pengertian Frekwensi

F = 50 Hz ; 1 detik menghasilkan 50 gelombang atau 1 gelombang membutuhkan


waktu 1/50 detik.

F = f Hz ; 1 detik menghasilkan 1 gelombang atau 1 gelombang membutuhkan


waktu 1/f detik.

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 1


1.2. Karakteristik Arus Bolak-Balik

Tidak seperti arus searah dimana besar dan polaritas dari arus/tegangan selalu tetap
sepanjang waktu maka pada arus bolak-balik, besar dan polaritas dari arus/tegangan berubah-
rubah terhadap waktu mengikuti bentuk fungsi sinusoidal.

1+ Arus Berkurang
pada arah Posistif

Perubahan
Positif Arus Berkurang
pada arah Posistif

0
1/3
Perubahan
Negatif
Arus Bertambah
Arus Bertambah
pada arah Negatif
pada arah Negatif

1-

Dari karakteristik tersebut maka kita kenal :

1. Tegangan / arus sesaat


2. Tegangan / arus puncak / maksimum
3. Tegangan / arus efektif
4. Tegangan / arus rata rata

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 2


Tegangan Arus

Nilai sesaat : e = V sin ωt I = sin ωt

Nilai maks : V = V I =I

Nilai efektif : Vef = V / √2 Ief = I / √2

Nilai rata rata ; Eav = 0,637 Em Iav = 0,637 Im (0,637 = 2π)

Nilai efektif adalah nilai yang terukur pada alat ukur (Volt meter /Amper meter)

Misalnya tegangan dirumah : 220 volt atau 380 volt.

Vektor Arus I dapat diuraikan menjadi 2 komponen yaitu ;

1. Komponen arus sefase dengan U disebut arus aktif Ia


2. Komponen tegak lurus dengan U disebut arus reaktif Ire

Gambar 2 Vector arus I

1.3. Beban pada Arus Bolak-Balik

Pada sistem arus searah hanya mengenal beban resistive ( R ), tetapi pada sistem arus bolak
balik beban merupakan “ Impedansi” ( Z ) yang biasa dibentuk dari unsur R, L, C.

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 3


Contoh beban :

R (hambatan murni) : Lampu pijar, setrika listrik, heater

L ( hambatan induktif) : Reaktor, komparan

C (hambatan kapasitas) : Kapasitor

Sifat hambatan L (XL) dengan C (XC) saling bertentangan /meniadakan.

XL = 2π.f.L, dan XC = 1/2π.f.C

XL dan XC merupakan bagian imajiner dari impedansi Z

Hubungan dari tiga beban / hambatan digambarkan sebagai berikut :

Z = R + JXL Z = R - J XC

R
φ V Z
-XC
φ
Z XL V
R

(a)
Z=R - JXL - JXC
Z = R - J XL - J XC
(JXL < JXC)
(JXL > JXC)

(b)
-XC XL
R V
φ Z
XL
φ -XC
Z V

R V (c)
φ Z -XC
XL
Z φ
-XC V
XL

Gambar 3 Hubungan beban R-L-C

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 4


2. Hukum Kirchoff
2.1. Hukum Kirchoff I

Pada setiap rangkaian listrik, jumlah aljabar dari arus-arus yang bertemu disatu titik adalah nol.

Notasi : ∑I=0

I5
I2
Jadi :

I 1+(-I2)+(-I 3)+(I 4)+(-I 5)=0

I 1+I 4=I 2+I 3+ I 5


I4
I1
Jumlah arus yang masuk=jumlah

I3 Arus yang keluar atau jumlah arus

Yang bertemu disatu titik adalah

Nol.

2.2. Hukum Kirchoff II

Jumlah aljabar dari hasil kali arus dan tahanan pada setiap konduktor dalam suatu rangkaian
tertutup (mesh) , sama dengan jumlah aljabar dari ggl.

∑ I R = ∑ GGL = ∑E
E1
R1
1. E1 = I . R1
GGL
2. E2 = I . R2

R2 3. GGL = ∑E = E1 + E2
E2

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 5


3. Daya Pada Arus Bolak-Balik
Karena beban Z mempunyai/membentuk pergeseran sudut terhadap V (sebagai referensi)
maka arus beban Ib yang mengalirpun membentuk sudut yang sama searah dengan sudut dari
Z sebesar φ.

Hal ini berakibat timbulnya 3 macam daya.

a. Daya aktif : P (watt)


b. Daya reaktif : Q (VAR)
c. Daya semu : S (VA)

Hubungan dari ketiga macam daya tersebut kita kenal sebagai “segitiga daya”.

P
φ S

Q Q
S
φ
P

Beban bersifat induktif Beban bersifat kapasitif


 
Penjumlahan Vektor P dan Q S = P  JQ

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 6


3.1. Rumus Dasar Arus Bolak Balik 1 phasa

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 7


3.2. Formula Arus bolak balik

Rumus-rumus Daya

1. Daya Semu = Tegangan x Arus (S) = V x I (VA)


2. Daya Aktif =Tegangan x Arus aktif (P ) = V x I akt. = V x I x cos θ (Watt)
3. Daya Reaktif =Tegangan x Arus reaktif (Q) = V x Ire =V x I sin θ (VAR)

Faktor Daya ; perbandingan Daya aktif dengan Daya Semu

Faktor kerja ; Sudut yang dibentuk antara vector Arus dengazn vector Tegangan

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 8


4. Arus Bolak Balik 3 Fase
Pada arus bolak balik 3 fasa secara teknis adalah identik dengan tiga buah karakter listrik
mono phase yang diformasikan secara simetris antara satu dengan yang lainnya.

Karakter arus bolak balik 3 fasa dapat berubah ubah kondisinya sangat tergantung kepada
kondisi pebebanan masing masing fasanya, bila pada masing masing fasa terdapat bebang
yang sama besarnya maka hal tersabut biasa dinamakan Arus bolak balik beban seimbang

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 9


4.1. Arus Bolak-balik 3 Phasa Hubungan Bintang (Star)

Gambar 4 Arus bolak-balik 3 phasa hubungan bintang (star)

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 10


4.2. Arus Bolak – Balik 3 Phasa Hubungan Delta (Segitiga)

Gambar 5 Arus bolak -balik 3 phasa hubungan delta (segitiga)

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 11


IL If
Tegangan Fasa & Line
R. IR . EL = Teg. Line (Fasa – Fasa)
S. IS
Ef
. . Ef = Teg. Fasa (fasa – Netral)
T. .
EL
IT

N. IN .
Hub. Bintang : EL
EL = Ef . 3 Ef = IL = If
3

Hub. Delta : EL = Ef IL = If . 3 IL
If =
3

Gambar 6 Arus bolak - balik 3 fasa hubungan bintang dan hubungan segitiga

4.3. Arus Bolak Balik 3 Phasa Beban Seimbang

URS

UR

URS = URN + (-USN)


-US UST = USN + (-UTN)
UTR = UTN + (-URN)

UT US
UR

Ir
(Ir + Is) I fasa = I line (hub.bintang)
It
Ir = Is = It (beban seimbang)
Ir + Is + It = In = 0
It
Is
UT US

Gambar 7 Arus bolak balik 3 phasa beban seimbang

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 12


4.4. Arus Bolak Balik 3 Phasa Beban Tak Seimbang

Gambar 8 Arus bolak balik 3 phasa beban tak seimbang

4.5. Daya Listrik Pada Arus Bolak Balik 3 Phasa

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 13


UR
DAYA 3 Ф P3Φ = PR + PS + PT
Ir
PR = Ur . Ir Cos Ur.Ir
φr
PS = Us . Is Cos Us.Is
PT = Ut . It Cos Ut.It
It
φt
φs Ir = Is = It =If (IN = 0)
UT US UR = US = UT = Uf (teg.ph-N)
Is

P3Φ = UR.Ir Cos UR,Ir+US.Is cos US,Is+UT.ItCos UT,It


P3Φ = UR.Ir Cos φr + US.Is Cosφs + Ut.It Cosφt
P3Φ = (UR.Ir + US.Is + UT.It) Cos φ

P3Φ = 3 Uf . If Cos φ
P3Ф = UL . IL Cos φ 3
ket : φ = sudut diantara U & I

Gambar 9 Daya listrik pada arus bolak balik 3 phasa

Rumus daya 3 fasa

Untuk menghitung daya semu pada beban seimbang adalah sebagai berikut :

𝑆3∅ = 𝑆𝑟 + 𝑆𝑠 + 𝑆𝑡

𝑆3∅ = 𝐼𝑟. 𝑈𝑟𝑛 + 𝐼𝑠. 𝑈𝑠𝑛 + 𝐼𝑡. 𝑈𝑡𝑛

𝑆3∅ = 3(𝐼. 𝑈𝑓𝑛 )

𝑆3∅ = 3. 𝐼. 𝑈𝑓𝑓 /√3. √3/√3

𝑆3∅ = 𝐼. 𝑈𝑓𝑛 . √3

𝑈𝑓𝑓
𝑆3∅ = 3. 𝐼. → 𝑈𝑓𝑓 = 𝑈𝑓𝑛 . √3
√3

Jadi :𝑆3∅ = 𝐼. 𝑈𝑓𝑓 . √3

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 14


Sehingga rumus daya untuk beban seimbang adalah :

𝑆3∅ = 𝐼. 𝑈𝑓𝑓 . √3 (VA)

𝑃3∅ = 𝐼. 𝑈𝑓𝑓 . √3. cos 𝜑 (W)

𝑄3∅ = 𝐼. 𝑈𝑓𝑓 . √3. sin 𝜑 (VAr)

Dan daya untuk beban tak seimbang adalah

∑𝐼
𝑆3∅ = × 𝑈𝑓𝑓 . √3 (VA)
3

∑𝐼
𝑃3∅ = × 𝑈𝑓𝑓 . √3. cos 𝜑 (W)
3

∑𝐼
𝑄3∅ = × 𝑈𝑓𝑓 . √3. sin 𝜑 (VAr)
3

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 15


5. SOAL LATIHAN :

Pilihlah jawaban yang paling benar ?

1. Daya listrik terdiri dari tiga komponen yaitu :

a. Daya aktif : P (watt)


b. Daya reaktif : Q (VAR)
c. Daya semu : S (VA)
d. Jawaban semua benar

2. Faktor daya (cos φ) adalah perbandingan antara :

a. Daya reaktif dibagi dengan daya semu.

b. Daya nyata dibagi dengan daya reaktif.

c. Daya nyata dibagi dengan daya semu.

d. Jawaban a, b dan c semua benar

3. P = V x I x √3 x Cos φ (Watt) adalah Rumus untuk mencari daya :

a. Daya reaktif 1 phasa

b. Daya Aktif 1 phasa

c. Daya reaktif 3 pahasa

d. Dayaaktif 3 phasa

4. Untuk menghitung besarnya energi listrik aktif 1 phasa digunakan rumus :

a. V x I x Sin φ x t.

b. V x I x Cos φ x t.

c. V x I x √3 x t.

d. VxIxt

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 16


5. Hasil pengukuran pada suatu pelanggan dicatat sebagai berikut :
Arus utama = 100 A, tegangan = 220 V dan cos phi adalah = 0,95. Daya aktifnya adalah
:

a. 20900 VAR

b. 20900 VA

c. 20900 Watt

d. 20900

6. Untuk menghitung besarnya energi listrik reaktif 3 phasa digunakan rumus :

a. VxIxt

b. V x I x√3 x Cos φ x t.

c. V x I x √3 x t.

d. V x I x√3 x Sin φ x t.

7. Jenis beban yang menyebabkan harmonisa, antara lain , kecuali :

a. Lampu hemat energi (LHE), Automatic/Variable speed drive (ASD)

b. DC drive, Power rectifier

c. Pemanas Induksi , Furnaces

d. UPS, Computer

e. Lampu pijar

8. Distorsi harmonisa arus (THDi) dan distorsi tegangan harmonisa (THDv) yang mengalir
pada peralatan listrik dapat menyebabkan dampak, sebagai berikut :

a. Susut (losses) meningkat

b. Daya mampu menurun

c. Mengurangi umur ekonomis

d. Semua jawaban benar

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 17


9. Hukum Ohm menyatakan bahwa :

a. Tegangan melintasi berbagai jenis bahan pengantar adalah berbanding lurus


dengan arus yang mengalir melalui bahan tersebut.
b. Tegangan melintasi berbagai jenis bahan pengantar adalah berbanding terbalik
dengan arus yang mengalir melalui bahan tersebut.
c. Tegangan melintasi berbagai jenis bahan pengantar adalah tidak berbanding lurus
dengan arus yang mengalir melalui bahan tersebut.
d. Semua jawabnya benar

10. Suatu rangkaian listrik terdiri dari 3 buah tahanan dengan nilai R1 = 10 ohm, R2 = 10
ohm, dan R3 = 10 Ω yang dihubungkan secara seri. Besar tahanan pengganti adalah :

a. 1000 Ohm

b. 3,3 Ohm

c. 30 Ohm

d. 0,1 Ohm

11. Suatu rangkaian listrik terdiri dari 3 buah tahanan dengan nilai R1 = R2 = R3 = 15 Ω
yang dihubungkan secara paralel. Besar tahanan pengganti adalah :

a. 45 Ω

b. 15 Ω

c. 1/15 Ω

d. 5Ω

12. Bunyi Hukum Kirchof I tentang arus listrik adalah :

a. Jumlah arus pada titik percabangan < nol.

b. Jumlah arus pada titik percabangan = nol.

c. Jumlah arus pada titik percabangan ≠ nol.

d. Jumlah arus pada titik percabangan > nol.

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 18


13. Kalau diketahui daya pada pelanggan 33 kVA pada sistem 3 fasa, berapa arus nominal
tiap fasanya? :

a. 3 x 35 A

b. 3 x 25 A

c. 3 x 50 A.

d. 3 x 63 A.

14. Arus bolak balik mempunyai nilai efektif, berapakan nilai efektif tegangan di pelanggan?

a. 110 Volt/ 220 Volt

b. 220 Volt

c. 110 Volt

d. 220 Volt / 380 Volt

15. Hitunglah jumlah arus , apabila diketahui :

Z1 = 60 + j 80 

Z2 = 80 - j 60 

Z3 = 80 + j 60 

V = 200 Volt.

a. 0,85 Amp

b. 0,85   20 0 Amp

c. 0,85   200 Amp

0,85 20 Amp


0
d.

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 19


Mata Pelajaran 2

ALAT UKUR LISTRIK DAN


PENGGUNAANNYA
2. ALAT UKUR LISTRIK DAN
PENGGUNAANNYA

TUJUAN PELAJARAN : Setelah mengikuti mata pelajaran ini peserta


mampu memahami dan menjelaskan Alat Ukur
Listrik dan Penggunaannya dengan baik dan benar
sesuai Standar Perusahaan

DURASI : 2 JP

PENYUSUN : 1. Rijanto (Purnakarya PLN)


2. Fadjar Kurniadi (PLN Udiklat Pandaan)
3. Eko Suprianto (PLN Distribuasi Jatim)
4. Raihan Amin S (PLN Udiklat Pandaan)
DAFTAR ISI

Tujuan Pelajaran ...................................................................................................................i


Daftar Isi ..............................................................................................................................ii
Daftar Gambar ....................................................................................................................iii
Daftar Tabel ........................................................................................................................iv
2. Pengenalan Alat Ukur ................................................................................................1
2.1. Umum ........................................................................................................................1
2.1.1. Menurut Sifat Pengunaannya .................................................................................... 2
2.1.2. Menurut Macam Alat Ukur ......................................................................................... 3
2.2. Klasifikasi Alat Ukur ...................................................................................................3
2.3. Kode Simbol Alat Ukur ...............................................................................................4
2.4. Penggunaan Alat Ukur Dan Pengawatannya .............................................................6
2.4.1. Ampere Meter .............................................................................................................. 6
2.4.2. Volt Meter .................................................................................................................... 6
2.4.3. Cos Phi Meter ............................................................................................................. 7
2.4.4. Frekwensi Meter .......................................................................................................... 7
2.4.5. Watt Meter .................................................................................................................... 8
2.4.6. Kwh-Meter .................................................................................................................... 9
2.4.7. Alat Ukur Tahanan Isolasi ........................................................................................ 10
2.4.8. Phasa Sequance ....................................................................................................... 11
2.4.9. Earth Tester................................................................................................................ 12
2.4.10. Injection Current Test ............................................................................................... 12
2.4.11. Relay Tester ............................................................................................................... 13
2.4.12. Stop Watch ................................................................................................................. 14
2.4.13. Substandar Meter ...................................................................................................... 14
2.4.14. Portabel Current & Voltage Generator ................................................................... 15
2.5. Soal Latihan .............................................................................................................16

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal ii


DAFTAR GAMBAR

Gambar 1 Macam-macam Alat Ukur ...............................................................................1


Gambar 2 Penyambungan Ampere Meter ......................................................................6
Gambar 3 Penyambungan Volt meter .............................................................................6
Gambar 4 Penyambungan Cos φ meter .........................................................................7
Gambar 5 Penyambungan Frekuensi meter ...................................................................8
Gambar 6 Penyambungan Watt meter ............................................................................8
Gambar 7 Penyambungan Kwh meter ............................................................................9
Gambar 8 Penggunaan Alat Ukur Tahanan Isolasi ....................................................... 10
Gambar 9 Penyambungan Phase Sequence ................................................................ 11
Gambar 10 Pengawatan Pengukuran Pentanahan ....................................................... 12
Gambar 11 Injection Current Test ................................................................................. 12
Gambar 12 Relay Tester ............................................................................................... 13
Gambar 13 Stop Watch ................................................................................................. 14
Gambar 14 Substandar Meter ....................................................................................... 14
Gambar 15 Pengujian Meter dengan Substandar Meter ............................................... 15
Gambar 16 Portabel Current & Voltage Generator ....................................................... 15

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal iii


DAFTAR TABEL

Tabel 1 Macam Alat Ukur ................................................................................................3


Tabel 2 Klasifikasi Alat Ukur ...........................................................................................4
Tabel 3 Kode Simbol Alat Ukur .......................................................................................4
Tabel 4 Kode Simbol Alat Ukur .......................................................................................5

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal iv


ALAT UKUR DAN PENGGUNAANNYA

2. Pengenalan Alat Ukur


2.1. Umum

Sebelum melaksanakan pengukuran, terlebih dahulu kita kenal dan mempelajari peralatan alat
ukur tersebut. Kita dapat memilih dan menggunakan alat ukur dengan metode yang benar,
sehingga pada pelaksanaan pengukuran tidak terjadi suatu kesalahan dan akan diperoleh
suatu hasil ukur dengan akurasi dan optimasi yang tinggi.

Untuk mengenal dan mendapatkan hasil ukur sesuai yang dibutuhkan, berikut dijelaskan
tentang alat ukur tersebut.

Menurut Macam Arus :

 Arus searah
 Arus bolak balik
 Arus searah dan arus bolak balik

Gambar 1 Macam-macam Alat Ukur

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 1


Menurut Tipe / Jenis :

Tipe jarum penunjuk

Harga yang kita baca adalah yang ditunjuk oleh jarum penunjuk, harga tersebut adalah
sesaat pada waktu meter tersebut dialiri arus listrik.

Tipe recorder

Harga yang kita baca adalah harga yang ditulis / dicatat pada kertas, pencatatan ini
dilakukan secara otomatis dan terus menerus selama meter tersebut dialiri arus listrik.

Tipe digital

Harga yang dibaca adalah harga sesaat.

2.1.1. Menurut Sifat Pengunaannya

Portable

Alat ini mudah dipergunakan dan dapat dibawah kemana-mana dalam pengukuran

Papan hubung / panel

Alat ini di pasang pada panel secara permanen atau tempat-tempat tertentu, sehingga
tidak dapat dibawah pergi untuk mengukur di tempat lain

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 2


2.1.2. Menurut Macam Alat Ukur

Tabel 1 Macam Alat Ukur

2.2. Klasifikasi Alat Ukur

Menurut kecermatannya alat ukur dibedakan menjadi tiga golongan :

a. Alat ukur dengan tingkat ketelitian tinggi (presisi)


b. Alat ukur dengan tingkat ketelitian menengah
c. Alat ukur dengan tingkat ketelitian rendah

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 3


Tabel 2 Klasifikasi Alat Ukur

2.3. Kode Simbol Alat Ukur


Tabel 3 Kode Simbol Alat Ukur

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 4


Tabel 4 Kode Simbol Alat Ukur

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 5


2.4. Penggunaan Alat Ukur Dan Pengawatannya
2.4.1. Ampere meter

Alat ukur ini digunakan untuk mengetahui besarnya arus / aliran listrik baik berupa :

 Arus listrik yang diproduksi mesin pembangkit ataupun


 Arus listrik yang di distribusikan ke jaringan distribusi, dan lainnya

Cara penyambungan dari ampere meter adalah dengan menghubungkan seri dengan
sumber daya listrik ( power source ) sebagaimana gambar dibawah ini

Gambar 2 Penyambungan Ampere Meter

2.4.2. Volt meter

Alat ukur ini digunakan untuk mengetahui besarnya tegangan listrik baik berupa :

 Tegangan listrik yang diproduksi mesin pembangkit ataupun

 Tegangan listrik yang di distribusikan ke jaringan distribusi, dan lainnya

Cara penyambungan dari ampere meter adalah dengan menghubungkan paralel


dengan beban/sumber listrik ( power source ) sebagaimana gambar dibawah ini.

Gambar 3 Penyambungan Volt meter

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 6


2.4.3. Cos Phi Meter

Alat ini digunakan untuk mengetahui, besarnya faktor kerja ( power faktor ) yang merupakan
beda fase antara tegangan dan arus. Cara penyambungan adalah sama dengan pengukuran
watt meter.

Gambar 4 Penyambungan Cos φ meter

Cos phi meter banyak digunakan / terpasang pada :

 Panel pengukuran mesin pembangkit


 Panel gardu hubung
 Alat pengujian
 Alat penerangan
 Dan lain-lain

2.4.4. Frekwensi Meter

Frekwensi meter digunakan untuk mengetahui gelobang sinussoidal arus bolak balik yang
merupakan jumlah siklus gelombang sinussoidal perdetik ( cycle / second ).

Frekwensi meter mempunyai peranan cukup penting khususnya dalam mensikronisasikan (


memparalelkan ) dua unit mesin pembangkit dan stabilnya frekwensi merupakan petunjuk ke
stabilan mesin pembangkit.

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 7


Gambar 5 Penyambungan Frekuensi meter

2.4.5. Watt Meter

Alat ukur untuk mengetahui besarnya daya nyata ( daya aktif ) pada watt meter terdapat
spoel / belitan arus dan spoel / belitan tegangan, sehingga cara penyambungan watt meter
pada umumnya merupakan kombinasi cara penyambungan volt meter dan ampere meter.

Gambar 6 Penyambungan Watt meter

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 8


Jenis lain dari watt meter adalah :

 KW-meter ( kilo watt meter )


 MW-meter ( mega watt meter )

2.4.6. KWH-meter

Kwh meter digunakan untuk mengukur energi arus bolak balik, merupakan alat ukur yang
sangat penting untuk kwh yang diproduksi, disalurkan ataupun Kwh yang dipakai konsumen-
konsumen listrik.

Alat ukur ini sangat populer dikalangan masyarakat umum, karena banyak terpasang pada
rumah-rumah penduduk ( kosumen listrik ) dan menentukan besar kecilnya energi listrik yang
dipakai oleh konsumen.

Gambar 7 Penyambungan Kwh meter

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 9


2.4.7. Alat Ukur Tahanan Isolasi

Alat Ukur Tahanan Isolasi digunakan untuk mengukur tahanan isolasi dari alat listrik maupun
instalasi-instalasi, output dari alat ukur ini tegangan tinggi arus searah.

Alat Ukur Tahanan Isolasi banyak digunakan petugas dalam mengukur tahanan isolasi pada
:

Kabel instalasi pada rumah-rumah / bangunan


Kabel tegangan rendah
Kabel tegangan tinggi
Transformator, OCB dan peralatan listrik lainnya

JTM 20

Alat Ukur
Tahanan Isolasi

Gambar 8 Penggunaan Alat Ukur Tahanan Isolasi

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 10


2.4.8. Phasa Sequance

Alat ukur ini digunakan untuk mengetahui benar / tidaknya urutan phasa sistem tegangan
listrik 3 phasa. Alat ini sangat penting khususnya dalam melaksanakan penyambungan pada
gardu-gardu ataupun konsumen listrik.

Karena kesalahan urutan phasa menimbulkan :

 Kerusakan pada peralatan / mesin antar lain putaran motor listrik terbalik
 Putaran piringan Kwh meter menjadi lambat atau terhenti sama sekali.
 Dan lain-lain

Gambar 9 Penyambungan Phase Sequence

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 11


2.4.9. Earth Tester

Earth tester digunakan untuk mengukur besar tahanan pentanahan satuannya ohm.

Gambar 10 Pengawatan Pengukuran Pentanahan

2.4.10. Injection Current Test

Injection Current Test digunakan untuk menguji ratio Trafo Arus, Injeksi arus diberikan pada
sisi Primer dari trafo arus (CT)

Gambar 11 Injection Current Test

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 12


2.4.11. Relay Tester

Relay tester berfungsi untuk menguji Rele Sekunder yang dipasang pelanggan TM.

Gambar 12 Relay Tester

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 13


2.4.12. Stop Watch

Stop berfungsi untuk mengetahui waktu pada suatu pekerjaan yang akan kita ukur, contohnya
waktu yang ditempuh putaran piringan kWh meter untuk 5 putaran adalah 25 detik.

Gambar 13 Stop Watch

2.4.13. Substandar Meter

Alat ukur yang berfungsi untuk mengecek tingkat error Current Transformer (CT), error kWh
meter, error pengukuran (CT + kWh meter) dan rasio CT.

Gambar 14 Substandar Meter

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 14


Gambar 15 Pengujian Meter dengan Substandar Meter

2.4.14. Portabel Current & Voltage Generator

Peralatan yang digunakan sebagai dumy load pada pengujian kWh meter dan CT. Dapat juga
digunakan sebagai dumy load pada uji fungsi APP di kubikel 20 kV sebelum diberi tegangan 20
kV.

Gambar 16 Portabel Current & Voltage Generator

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 15


2.5. SOAL LATIHAN

Pilihlah jawaban yang paling benar ?

1. Pengukuran adalah

a. Suatu pembandingan antara suatu besaran dengan besaran lain yang sejenis
secara eksperimen dan salah satu besaran dianggap sebagai standart
b. Suatu penjumlahan antara suatu besaran dengan besaran lain yang sejenis secara
eksperimen dan salah satu besaran dianggap sebagai standart
c. suatu perkalian antara suatu besaran dengan besaran lain yang sejenis secara
eksperimen dan salah satu besaran dianggap sebagai standart
d. suatu pengurangan antara suatu besaran dengan besaran lain yang sejenis secara
eksperimen dan salah satu besaran dianggap sebagai standart

2. Karakteristik dari suatu alat ukur adalah :

a. Ketelitian , Kepekaan

b. Resolusi (deskriminasi) , Repeatibility

c. Efisiensi

d. Semua jawaban benar

3. Efisiensi dari alat ukur antara lain :

a. Sebagai perbandingan antara nilai pembacaan dari alat ukur dan daya yang
digunakan alat ukur pada saat bekerja untuk pengukuran tersebut.
b. Pada Voltmeter efisiensi dinyatakan dalam Ohm per Volt.
V fs I fs .Rm Rm
Evm   
fs P I fs .V fs V fs
c.
d. Semua jawaban betul.

4. Harga / nilai hasil ukur yang dibaca adalah, kecuali :

a. Tipe Jarum Petunjuk, yang ditunjuk oleh jarum petunjuk, harga tersebut adalah
harga sesaat pada waktu meter tersebut dialiri arus listrik
b. Tipe Recorder, yang ditulis / dicatat pada kertas, pencatat ini dilakukan secara
otomatis dan terus menerus selama meter tersebut dialiri arus listrik.

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 16


c. Tipe Integrator, harga dari hasil penjumlahan yang dicatat pada selang waktu
tertentu selama alat tersebut digunakan
d. Digital , harga efektif

5. ........................adalah alat ukur listrik yang berfungsi untuk mengukur besarnya energi
reaktif dalam satuan kVArh

a. KWH meter

b. KVARH meter

c. Watt meter

d. Var meter

6. .................adalah alat ukur listrik yang berfungsi untuk mengukur besarnya tegangan
listrik dalam satuan volt

a. Frekuensi meter

b. Tang Ampere

c. Volt meter

d. Ampere meter

7. ............. adalah alat ukur listrik yang berfungsi untuk mengukur besarnya daya dalam
satuan watt

a. Watt meter

b. Volt meter

c. meter Cos

d. Ampere meter

8. Untuk mengukur tegangan listrik menggunakan ……….. terhubung secara .....................

a. Ampere meter/Seri

b. Ampere meter/paralel

c. Volt meter/Seri

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 17


d. Volt meter/paralel

9. Cara menyambung Amper meter dan Volt meter pada rangkaian listrik adalah :

a. Amper meter disambung seri dan Volt meter disambung parallel

b. Amper meter disambung parallel dan Volt meter disambung seri.

c. Amper meter dan Volt meter disambung seri.

d. Amper meter dan Volt meter disambung parallel

10. Alat Ukur listrik analog Amper meter Skala maksimum 0 - 300 A, Batas Ukur diset pada
300 A, jarum penunjuk berada pada 165 A, besar arus sebenarnya :

a. 165 A

b. 330 A

c. 82,5 A

d. 300 A

11. Alat ukur ini digunakan untuk mengetahui benar/tidaknya urutan phasa system
tegangan listrik-3 phasa adalah :

a. Phasa Squence
b. Cosphi meter (Cos φ).
c. Frekwensi Meter
d. Volt-meter Meter

12. Prinsip kerja kumparan putar ialah :

a. Pada saat arus melalui kumparan magnit dan kumparan putar maka kedua
kumparan menjadi magnit dan terjadi saling tarik atau tolak anatara kutub-kutubnya
sehingga jarum penunjuk bergerak sesuai arah dan besaran listrik yang diukurnya

b. Bila media kawat panas dilalui arus akan memuai maka tali pengikat yang terlilit
pada roller akan menarik kawat oleh kekuatan pegas dan memutar roller sehingga
jarus bergerak

c. Bila didalam medan magnit dengan garis gaya magnit arah yang berputar,
dipasangsebuah tromol berentuk silinder, tromol tersebut

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 18


d. Pada saat arus melalui kumparan putar maka kedua kumparan menjadi magnit dan
terjadi saling tarik atau tolak anatara kutub-kutubnya sehingga jarum penunjuk
bergerak sesuai arah dan besaran listrik yang diukur

13. ..........................adalah alat ukur listrik yang berfungsi untuk mengukur besarnya
getaran listrik (Frekuensi) dalam satuan periode per detik atau Hertz ( Hz )

a. Watt meter

b. Herz meter

c. Frekuensi meter

d. Ohm meter

14. ................adalah alat ukur listrik yang berfungsi untuk mengukur besarnya tahanan
listrik dalam satuan ohm

a. Cosphi meter

b. Ohm meter

c. Tang ampere

d. Ampere meter

15. Prinsip kerja alat ukur induksi adalah :

a. Bila didalam medan magnit dengan garis gaya magnit arah yang berputar,
dipasangsebuah tromol berentuk silinder, tromol tersebut akan berputar menurut
arah putaran garis gaya magnit

b. Pada saat arus melalui kumparan putar maka kedua kumparan menjadi magnit dan
terjadi saling tarik atau tolak anatara kutub-kutubnya sehingga jarum penunjuk
bergerak sesuai arah dan besaran listrik yang diukur

c. Bila media kawat panas dilalui arus akan memuai maka tali pengikat yang terlilit
pada roller akan menarik kawat oleh kekuatan pegas dan memutar roller sehingga
jarus bergerak

d. Pada saat arus melalui kumparan magnit dan kumparan putar maka kedua
kumparan menjadi magnit dan terjadi saling tarik atau tolak anatara kutub-kutubnya
sehingga jarum penunjuk bergerak sesuai arah dan besaran listrik yang diukurnya

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 19


16. ..........................adalah alat ukur listrik yang berfungsi untuk mengukur besarnya
tahanan tanah dalam satuan ohm

a. Megger

b. Ampere meter

c. Ohm meter

d. Earth tester

17. Rumus menghitung harga sebenarnya dari alat ukur analog adalah

a. HS = ( Penunjukan x Skala Maksimum) x Batas Ukur

b. HS = ( Penunjukan : Skala Maksimum) : Batas Ukur

c. HS = ( Penunjukan x Skala Maksimum) : Batas Ukur

d. HS = ( Penunjukan : Skala Maksimum) x Batas Ukur

18. Fungsi Transformator Arus (CT) adalah :

a. Memperkecil besaran arus listrik (amper) pada sistem tenaga listrik menjadi
besaran arus listrik untuk sistem pengukuran atau proteksi.
b. Mengisolasi rangkaian sekunder terhadap rangkaian primer, yaitu memisahkan
instalasi pengukuran dan proteksi dari tegangan tinggi.
c. Memungkinkan standarisasi rating arus untuk peralatan sisi sekunder.
d. Semuanya betul
19. Meter elektronik adalah
a. Alat ukur besaran listrik yang bekerja secara integrasi berdasarkan prinsip elektronik
yang merubah sinyal analog dari arus dan tegangan ke sinyal prosesor modul digital
b. Alat ukur besaran listrik yang bekerja secara integrasi berdasarkan prinsip analog.
c. Alat ukur besaran listrik yang bekerja secara integrasi berdasarkan prinsip elektronik
yang merubah sinyal analog dari arus ke sinyal prosesor modul digital
b. Alat ukur besaran listrik yang bekerja secara integrasi berdasarkan prinsip elektronik
yang merubah sinyal analog dari tegangan ke sinyal prosesor modul digital

20. .............. adalah alat ukur listrik yang berfungsi untuk mengukur besarnya arus listrik
dalam satuan ampere

a. Megger

b. Ampere meter

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 20


c. Earth tester

d. Ohm meter

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 21


Mata Pelajaran 3

APP, CT, PT DAN


PERLENGKAPANNYA
3. APP, CT, PT DAN
PERLENGKAPANNYA

TUJUAN PELAJARAN : Setelah mengikuti mata pelajaran ini peserta


mampu memahami dan menjelaskan APP, CT, PT
dan Perlengkapannya dengan baik dan benar
sesuai Standar Perusahaan

DURASI : 4 JP

PENYUSUN : 1. Rijanto (Purnakarya PLN)


2. Fadjar Kurniadi (PLN Udiklat Pandaan)
3. Eko Suprianto (PLN Distribuasi Jatim)
4. Raihan Amin S (PLN Udiklat Pandaan)
DAFTAR ISI

TUJUAN PELAJARAN ...........................................................................................................i


DAFTAR ISI .....................................................................................................................ii
DAFTAR GAMBAR ...............................................................................................................iv
DAFTAR TABEL ....................................................................................................................v
3.1. Alat Pengukur dan Pembatas .......................................................................................1
3.1.1. Definisi .................................................................................................................................. 1
3.1.2. Sistem Pengukuran dan Pembatasan ................................................................................... 2
3.1.3. Batas Daya Pelanggan TM .................................................................................................... 3
3.1.4. Golongan Tarif ...................................................................................................................... 4
3.1.5. Jenis PelangganTM .............................................................................................................. 5
3.1.6. Alat Pengukur ....................................................................................................................... 5
3.1.7. Alat Pembatas..................................................................................................................... 10
3.1.8. Relai .................................................................................................................................... 11
3.1.9. Penyetelan Pembatas ......................................................................................................... 13
3.1.10. Penyetelan Relai Sekunder ................................................................................................. 14
3.2. Trafo Arus ...................................................................................................................15
3.2.1. Fungsi .................................................................................................................................. 15
3.2.2. Standard Trafo Arus & Trafo Tegangan .............................................................................. 16
3.2.3. Kelompok Dasar Trafo Arus ................................................................................................ 16
3.2.4. Konstruksi Trafo Arus ......................................................................................................... 17
3.2.5. Kumparan Trafo Arus.......................................................................................................... 18
3.2.6. Trafo Arus Dengan Multi Ratio ........................................................................................... 18
3.2.7. Rangkaian Arus ................................................................................................................... 20
3.2.8. Beban (Burden)................................................................................................................... 21
3.2.9. Klas Ketelitian (IEC 185 / 1987) .......................................................................................... 23
3.2.10. Klas Ketelitian Trafo Arus Untuk Pengukuran .................................................................... 24
3.2.11. Pengujian Polaritas CT ....................................................................................................... 27
3.2.12. Pengujian Rasio CT.............................................................................................................. 27
3.3. Trafo Tegangan ..........................................................................................................28
3.3.1. Fungsi .................................................................................................................................. 28
3.3.2. Jenis Trafo Tegangan .......................................................................................................... 28

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal ii


3.3.3. Klas Ketelitian (IEC 186/1987) ............................................................................................ 30
3.3.4. Beban (Burden)................................................................................................................... 31
3.3.5. Kapasitas Termal................................................................................................................. 31
3.3.6. Pengujian Rasio PT ............................................................................................................ 32
3.4. Karakteristik Current Transformer (CT) .......................................................................32
3.4.1. Arus pengenal Primer ......................................................................................................... 33
3.4.2. Arus pengenal Sekunder..................................................................................................... 33
3.4.3. Arus thermal kontinyu pengenal ( Icth ) ............................................................................. 33
3.4.4. Tingkat Insulasi ................................................................................................................... 33
3.4.5. Frekuensi Pengenal............................................................................................................. 34
3.4.6. Arus waktu-singkat thermal pengenal ( Ith) ....................................................................... 34
3.4.7. Burden Pengenal ................................................................................................................ 34
3.4.8. Arus dinamik pengenal ( Idyn ) ........................................................................................... 34
3.4.9. Kelas akurasi standar CT Pengukuran................................................................................. 34
3.4.10. Kesalahan Komposit ........................................................................................................... 35
3.4.11. Kelas akurasi standard CT Proteksi ..................................................................................... 36
3.5. Karakteristik Potensial Transformer (PT) ....................................................................36
3.5.1. Tegangan Pengenal............................................................................................................. 36
3.5.2. Keluaran Pengenal .............................................................................................................. 37
3.5.3. Keluaran Thermal Pengenal................................................................................................ 37
3.5.4. Faktor Tegangan Pengenal ................................................................................................. 38
3.5.5. Tingkat Insulasi .................................................................................................................. 38
3.5.6. Kelas Akurasi PT ................................................................................................................. 38
3.5.7. Perlengkapan ...................................................................................................................... 40
3.6. Soal Latihan................................................................................................................41

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal iii


DAFTAR GAMBAR

Gambar 1 Pelebur Jenis Letupan ............................................................................................ 10


Gambar 2 Relai Primer ............................................................................................................ 11
Gambar 3 Relai Sekunder ....................................................................................................... 12
Gambar 4 Karakteristik Kurva Relai Definit .............................................................................. 12
Gambar 5 Karakteristik Kurva Relai Invers .............................................................................. 13
Gambar 6 Tipikal Trafo Arus Dengan Batang Pada Sisi Primer 1000 / 1 A .............................. 17
Gambar 7 Contoh CT TM ........................................................................................................ 17
Gambar 8 Contoh CT TR ......................................................................................................... 18
Gambar 9 Kumparan Trafo Arus .............................................................................................. 18
Gambar 10 Trafo Arus dengan multi Ratio ............................................................................... 18
Gambar 11 Rangkaian arus ..................................................................................................... 20
Gambar 12 Rangkaian arus ..................................................................................................... 20
Gambar 13 Rangkaian arus CT ............................................................................................... 20
Gambar 14 Merperkirakan beban (burden) CT ........................................................................ 22
Gambar 15 Reduksi Beban...................................................................................................... 22
Gambar 16 Pembebanan CT dibawah Normal ........................................................................ 23
Gambar 17 Kesalahan sudut ................................................................................................... 24
Gambar 18 Efek Jika sekunder CT dibuka ............................................................................... 27
Gambar 19 Rangkaian pengujian polaritas CT ........................................................................ 27
Gambar 20 Macam-macam Trafo tegangan ............................................................................ 29
Gambar 21 Diagram Pengawatan PT ...................................................................................... 29
Gambar 22 Potensial Tranfosmer (PT) .................................................................................... 29
Gambar 23 Rangkaian pengujian ............................................................................................ 32

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal iv


DAFTAR TABEL

Tabel 1 Batas Daya Pelanggan TM ........................................................................................... 3


Tabel 2 Jenis Golongan Tarif Dasar Listrik ................................................................................ 4
Tabel 3 Jenis Pelanggan TM ..................................................................................................... 5
Tabel 4 Spesifikasi Meter Elektronik .......................................................................................... 8
Tabel 5 Software Meter Elektronik ............................................................................................. 9
Tabel 6 Karakteristik Relai ....................................................................................................... 14
Tabel 7 Penggunaan Trafo Arus .............................................................................................. 19
Tabel 8 Nilai Batas Kesalahan C.T Untuk Meter ...................................................................... 25
Tabel 9 Kemampuan Ukur CT ................................................................................................. 26
Tabel 10 Batas kesalahan transformasi dan pergeseran sudut untuk PT Pengukuran............. 31
Tabel 11 Batas kesalahan transformator arus pengukuran ...................................................... 35
Tabel 12 Batas kesalahan transformator arus pengukuran ...................................................... 36
Tabel 13 Faktor Tegangan....................................................................................................... 38
Tabel 14 Batas kesalahan dan pergeseran fasa untuk pengukuran ......................................... 39
Tabel 15 Batas kesalahan tegangan dan pergeseran fasa untuk proteksi ............................... 39
Tabel 16 Batas kesalahan tegangan dan pergeseran fasa untuk belitan sekunder untuk
menghasilkan tegangan residual ............................................................................................. 39
Tabel 17 Standarisasi Tangga Daya Untuk Tegangan Menengah ........................................... 40

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal v


APP, CT, PT DAN PERLENGKAPANNYA

3.1. Alat Pengukur dan Pembatas

Alat Pengukur dan Pembatas adalah suatu peralatan yang dipasang pada pelanggan untuk
mengetahui/mengukur pemakaian energi yang digunakan serta membatasi daya yang
digunakan sesuai daya kontraknya.

Pada pelanggan pengukuran TM alat ukur yang digunakan adalah kWh meter untuk mengukur
energi aktip dan kVARh meter untuk mengukur energi reaktip yang digunakan pelanggan
sedangkan pemabatas dayanya digunakan Relai atau pemutus lebur.

3.1.1. Definisi

3.1.1.1. Pengukuran

Yang dimaksud dengan pengukuran adalah pengukuran untuk menetukan besarnya


pemakaian daya dan energi listrik. Dalam pengukuran ini alat ukur yang digunakan adalah :

Meter kWh
Meter kVARh
Meter KVA maximum
Meter Arus
Meter Tegangan

3.1.1.2. Pembatasan

Yang dimaksud dengan pembatasan adalah pembatasan untuk menentukan batas pemakaian
daya sesuai dengan daya tersambung. Pembatasan daya digunakan alat pembatas antara lain
:

Pemutus arus
Pelebur
Relai

Yang dimaksud dengan arus nominal pembatas adalah

S
In  , untuk fase tunggal dalam ampere
E

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 1


S
In  , untuk fase tiga dalam ampere
3 E

Dimana :

In = arus nominal dalam ampere

S = daya terpasang dalam volt ampere

E = tegangan fase netral untuk fase tunggal dalam volt

= tegangan fase-fase untuk fase tiga dalam volt

3.1.1.3. Perlengkapan

Yang dimaksud dengan perlengkapan adalah perlengkapan yang memungkinkan dipasangnya


alat pengukur dan pembatas, sehingga dapat berfungsi sesuai dengan yang disyaratkan.

Perlengkapan yang dimaksud adalah meliputi kotak atau lemari APP, trafo arus, trafo
tegangan, meter arus, meter tegangan dan sakelar waktu.

3.1.1.4. Segel

Pelindung untuk mencegah agar alat atau komponen yang dilindungi dimaksud tidak dibuka
oleh orang yang tidak berwenang.

3.1.2. Sistem Pengukuran dan Pembatasan

3.1.2.1. Sistem Pengukuran

Pengukuran daya dan energi listrik yang digunakan pelanggan dilakukan dengan salah satu
cara dibawah ini :

Untuk sistem tegangan menengah yang tidak dibumikan/resistansi tinggi pengukuran


daya dan energi menggunakan 2 buah trafo arus dan 2 buah trafo tegangan fase-fase.

Untuk sistem tegangan menengah yang dibumikan langsung atau dibumikan dengan
resistansi rendah, pengukuran daya dan energi menggunakan 3 buah trafo arus dan 3
buah trafo tegangan.

3.1.2.2. Sistem Pembatasan Daya

Pembatas daya tersambung dilakukan dengan salah satu cara sebagai berikut :

Tiga buah pelebur tegangan menengah (Namun hal ini tidak disarankan dan secara
bertahab perlu dirubah)

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 2


Sebuah pemutus tenaga tegangan menengah yang dilengkapi dengan relai primer yang
mempunyai karakteristik arus yang disesuai dengan arus nominal untuk daya tersambung.

Sebuah pemutus tenaga tegangan menengah yang dilengkapi relai sekunder melalui trafo
arus.

3.1.3. Batas Daya Pelanggan TM

Secara umum batasan daya untuk pelanggan TR, TM dan TT adalah sebagai berikut:

Tabel 1 Batas Daya Pelanggan TM

 Pelanggan TR < 197 KVA

 Pelanggan TM 200 KVA s/d 30 MVA

 Pelanggan TT > 30 MVA

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 3


3.1.4. Golongan Tarif
Tabel 2 Jenis Golongan Tarif Dasar Listrik

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 4


3.1.5. Jenis PelangganTM
Tabel 3 Jenis Pelanggan TM

Faktor kali 1,02 atau 1,05 disesuaikan dengan dimana posisi dari Alat Ukur kita. Berada di
Gardu Pelanggan atau PLN.

Secara bertahap, pelanggan TM diarahkan ke jenis TM/TM/TM.

3.1.6. Alat Pengukur

Yang dimaksud dengan alat ukur pelanggan TM ialah semua peralatan ukur besaran listrik
yangterpasang pada kotak lemari APP pelanggan TM yang berfungsi sebagai pengukur daya
dan energi terpakai oleh pelanggan dan pengukurannya dilaksanakan pada sisi tegangan
menengah.

Alat ukur yang dipakai adalah :

Meter kWh
Meter kVARh
Meter kVA maks
Meter Arus
Meter Tegangan

Penyambungan pada sambungan listrik tegangan menengah dilakukan dari jaringan tegangan
menengah. Alat ukur yang digunakan anatara lain :

Meter kWh tarif tunggal digunakan untuk mengukur energi listrik (kWh) yang digunakan
pelanggan

Meter kWh tariff ganda digunakan untuk mengukur energi listrik (kWh) selama waktu beban
puncak (WBP) dan Luar Beban Puncak (LWBP)

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 5


Meter kVA maks digunakan untuk mengukur beban tertinggi bulanan pada pelanggan
tertentu

Meter kVARh tariff tunggal digunakan untuk mengukur energi rekatif (kVARh) yang
digunakan pelanggan.

Meter Arus digunakan untuk mengukur arus yang digunakan pelanggan pada saat itu.
Meter Tegangan digunakan untuk mengetahui tenagan masuk saat itu yang digunakan
pelanggan.

3.1.1. Meter kWh

Meter kWh adalah suatu alat ukur integrasi yang digunakan untuk mengukur besarnya energi
aktif yang digunakan pelanggan dalam satuan kilo watt jam (kWh).

Meter yang digunakan pada pelanggan sambungan tegangan menengah ialah :

Meter kWh fase tiga – 3 kawat, untuk JTM fase tiga – 3 kawat
Meter kWh fase tiga – 4 kawat, untuk JTM fase tiga – 4 kawat

Meter kWh tersebut diatas adalah meter kWh kelas 0,5 atau yang lebih teliti.

Meter kWh yang menggunakan tarif ganda harus dilengkapi dengan saklar waktu (time switch)
guna menunjukan pemakaian kWh pada Waktu Beban Puncak (WBP) dan Luar Waktu Beban
Puncak (LWBP).

Waktu beban puncak adalah jam 18.00 s/d 22.00 dan Luar Waktu Beban Puncak adalah jam
22.00 s/d 18.00 waktu setempat.

Jam nyala perbulan adalah jumlah pemakain kWh Jam nyala perbulan adalah jumlah pemakain
kWh perbulan dibagi dengan daya tersambung (kVA).

Data dan Spesifikasi meter kWh :

Nama / merk pabrik


Sistem pengawatan
Tipe meter
Nomor Seri dan tahun pembuatan
Tegangan Acuan Standar, arus dasar, ratio tranformator instrument ukur
Nilai frekuensi pengenal
Kelas meter
Tanda segi empat ganda untuk meter berkotak isolasi
Nama Pemilik

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 6


3.1.2. Meter kVARh

Meter kVARh adalah suatu alat ukur integrasi yang digunakan untuk mengukur besarnya
energi reaktif yang digunakan pelanggan dalam satuan kilo Volt amper reaktip jam (kVARh).

Meter yang digunakan pada pelanggan sambungan tegangan menengah ialah :

Meter kVarh fase tiga – 3 kawat, untuk JTM fase tiga – 3 kawat
Meter kVarh fase tiga – 4 kawat, untuk JTM fase tiga – 4 kawat

Meter kVARh tersebut diatas adalah meter kVARh kelas 2 atau yang lebih teliti.

Data dan Spesifikasi meter kVARh :

Nama / merek pabrik


Sistem pengawatan
Tipe meter
Nomor Seri dan tahun pembuatan
Tegangan Acuan Standar, arus dasar, ratio tranformator instrument ukur
Nilai frekuensi pengenal
Konstanta meter (putaran /kVARh atau VARh/putaran)
Satuan energi listrik (kVARh atau MVARh)
Kelas meter
Tanda segi empat ganda untuk meter berkotak isolasi
Nama Pemilik
Tegangan Penengenal pemindah tarif
Arah putaran kVARh
Tanda bantalan batu ganda magnit apung

3.1.3. Meter kVA Maksimum atau kW Maksimum

Meter kVA maksimum atau kW maksimum yang digunakan ialah meter pengukur daya yang
dapat menunjukkan daya maksimum dengan interval 25 menit

Yang dimaksud dengan daya ukur maksimum dengan interval 15 menit adalah ”Nilai daya
terukur untuk tiap-tiap bulan sama dengan 4 kali nilai tertinggi dari kVA mak atau kW mak yang
dipakai selama tiap 15 menit terus menerus dalam bulan tersebut”.

Untuk mengukur kVA maks dapat juga digunakan meter arus maksimum berdasarkan rumus :

1
kVA Maks = x jumlah I maksimum masing masing fase x 3xE
3

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 7


3.1.4. Meter Elektronik

Pada perkembangan, meter konvensional / elektromekanik dan elemen terkaitnya


sebagaimana pembahasan diatas sudah tidak dipergunakan untuk pemasangan baru. Pada
pemasangan baru memakai meter elektronik.

Pada meter elektronik, fungsi meter elektromagnetik dapat digabungkan menjadi 1, sehingga
pada meter elektronik dapat berfungsi sebagai kWh Meter, kVARh Meter, KVA Max, Lonceng
dsb.

Tabel 4 Spesifikasi Meter Elektronik

SAMBUNGAN
TYPE
TAK LANGSUNG (TM -TT)

PENGAWATAN 3Ф – 4 KAWAT / 3Ф – 3 KAWAT

TEGANGAN 57.7/100 – 230/400 Volt

ARUS 5 (6) Amp.

KELAS 0.5 , 0.2

KONSTANTA 10000 Imp/kWh-kvarh

FREKWENSI 50 - 60 Hz

INTERVAL DEMAND 1, 5, 10, 15, 30, 60 Menit

CHANNEL 12 (Minimum)

O
TEMPERATURE -30 – 70 C

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 8


3.1.5. Software Meter Elektronk

Software Meter Elektronik Merupakan Perangkat Lunak untuk memprogram dan membaca
Meter Elektronik masing-masing Merk dan Type Meter mempunyai tersendiri untuk keperluan
tersebut sebelum dipasang di Lokasi, Meter elektronik diprogram Disetup Parameter listrikya
agar dapat berfungsi sesuai dengan kebutuhan.

Tabel 5 Software Meter Elektronik

Merek meter SW Konfigurasi SW Baca

Landis+Gyr MAP 120 MAP 110

Itron AIMS Seamtris

EDMI EziView EziView

Wasion Wiseam LRU

Elster PMU PMU

Pada display meter pada display meter elektronik ditampilkan:


- Nilai dan besaran parameter yang diukur
- Kode – Kode
- Informasi / Keterangan

Lebih dari seratus item / urutan tampilan yang dapat ditampilkan pada display. Selang waktu
peritem tampilan dan selang waktu tampilan Blank dapat diprogram.

Misalnya 5 detik per item untuk tampilan isi dan 2 detik untuk tampilan Blank antara satu Item
isi dengan Item Isi berikutnya.

3.1.6. Alat komunikasi

Komunikasi dengan Meter Elektronik dapat dilakukan secara :

 Lokal komunikasi (Optical Probe/RS232)


 Remote reading (Modem)

Media komunikasi secara remote dengan menggunakan modem : PSTN, GSM, GPRS, PLC
atau RF.

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 9


3.1.7. Alat Pembatas

Pada pelanggan Tegangan Menengah pembatasan daya tersambung dilakukan dengan salah
satu cara antara lain :

Tiga buah pelebur tegangan menengah


Sebuah PMT yang dilengkapi dengan relai Primer
Sebuah PMT yang dilengkapi dengan rela Sekunder

Namun untuk jenis pelebur sudah tidak umum dipergunakan sebagai pembatas untuk
pelanggan baru, Dan secara bertahab diarahkan memakai Relai sebagai pembatasnya karena
lebih akurat.

3.1.7.1. Pelebur

Pelebur adalah suatu alat pemutus dengan meleburnya dari komponennya yang dirancang
sedemikian rupa yang disesuaikan dengan ukurannya. Membuka rangkaian dimana pelebur
tersebut dipasang dan memutuskan arus bila arus tersebut melebihi suatu nilai tertentu dalam
waktu yang cukup.
Jenis-jenis pelebur

Pelebur Jenis Pembatas Arus


Pelebur Jenis Letupan

3.1.7.2. Pelebur jenis pembatas arus

Pelebur yang selama kerjanya adalam selang arus tertentu, membatasi arus yang lewat
kesuatu nilai yang cukup rendah dari arus puncak arus perkirannya.

3.1.7.3. Pelebur Jenis Letupan

Pelebur dimana busur listrik yang terjadi waktu pemutusan dipadamkan oleh semprotan gas
yang timbul karena panas busur listrik itu sendiri.

Gambar 1 Pelebur Jenis Letupan

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 10


3.1.8. Relai

Relai pembatas adalah suatu alat yang digunakan untuk membatasi arus yang masuk ke
pelanggan TK.

Jenis Relai Pembatas menurut fungsinya ada 2 macam :

Relai Over Load


Relai Over Current

Menurut prinsip kerjanya ada 3 macam :

Relai magnetis :

Relai ini bekerka berdasarkan prinsip Medan magnit dari statu kumparan listrik.

Relai Thermis :

Relai ini bekerja berdasarkan prinsip elektrostatik dari suatu elemen pemanas/bimetal.

Relai Eelktronik

Relai ini bekerka berdasarkan prinsip elektrostatik dari beberapa komponen elektronik.

Menurut Penempatannya ada 2 macam yaitu :

Relai Primer

Peralatan relai dipasang langsung pada saluran utama tegangan menengah (rel TM
Instalasi saklar pemutus tenaga PMT)

Relai primer yang terpasang pada pelanggan TM secara bertahap akan diganti dengan
Relai sekunder, sehingga tidak ada lagi pelanngan TM yang menggunakan relai primer.

Gambar 2 Relai Primer

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 11


Relai Sekunder

Peralatan relai dipasang atau disambungkan dari sisi sekunder peralatan bantu trafo arus
(CT) yang dipasang pada saluran Utama.

Gambar 3 Relai Sekunder

3.1.8.1. Karakteristik Relai Pembatas

Relai Definit

Sifat karakteristik dari relai definit adalah baru akan bekerja bila arus yang mengalir pada
relai tersebut melebihi besarnya arus seting (Is) yang telah ditentukan. Lamanya selang
waktu relai bekerja uantuk memberikan komandi tripping adalah sesuai dengan waktu
setting (Ts) yang diinginkan. Pada Relai ini waktu bekerjanya ( Tt =Ts) tetap konstan, tidak
dipengaruhi oleh besarnya arus yang mengerjakan relai tersebut.

T (s)

In
1 2 3 4

Gambar 4 Karakteristik Kurva Relai Definit

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 12


Relai Invers

Sifat karakteristik dari relai invers adalah rela baru akan bekerja bila arus yang mengalir
pada relai tersebut melebihi besarnya arus setting (Is) yang telah ditentukan. Lamanya
selang waktu relai bekerja uantuk memberikan komandi tripping adalah sesuai dengan
waktu setting (Ts) yang diinginkan. Pada Relai ini waktu bekerjanya tidak sama dengan
waktu setting, karena sangat tergantung dengan besarnya arus yang mengerjakan relai
tersebut. Makin besar arus yang melabihi arus setting makin cepat relai bekerja.

Gambar 5 Karakteristik Kurva Relai Invers

3.1.9. Penyetelan Pembatas

Besarnya arus nominal perfasa menjadi dasar penyetelan relai pembatas dapat dihitung
dengan menggunakan rumus :

S
In  , untuk fase tiga dalam ampere
3 E

Dimana : S = Daya tersambung

E = Tegangan Nominal Fasa-fasa

Penentuan penyetelan relai primer atau sekunder berdasarkan SPLN No55 : 1990 tentang Alat
Ukur Pembatas dan Perlengkapannya.

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 13


Tabel 6 Karakteristik Relai

Dilihat dari karakteristik diatas dapat disimpulkan bahwa relai yang dipasang pada pembatas
hádala kombinasi antara :

Relai invers yang berfungsi sebagai pembatas


Relai momen (instantaneous) yang berfungsi sebagai pengaman arus lebih

Untuk mendapatkan relai dengan karakteristik diatas, maka dapat dilakukan dengan cara
sebagai berikut :

Memasang 1 buah relai yang mempunyai karakteristik kombinasi


Memasang 2 buah relai yang masing-masing mempunyai karakteristik inverse dan
moment.

3.1.10. Penyetelan Relai Sekunder

Sebagai sumber utama untuk kerja relai sekunder digunakan trafo arus (CT), untuk itu
pemilihan pengenal taro arus harus disesuaikan dengan arus pengenal dari relai sekunder
tersebut.

Contoh Penyetelan :

Daya Semu yang tersambung pada pelanggan 1110 kVA/20KV, pembatasan daya
menggunakan Relai Sekunder dengan In = 5A.

Pemilihan CT :

1110
In = = 32,04 A
20  3

Maka CT yang dipilih adalah 3 x 40/5 A

Maka untuk memenuhi karakteristik point : 1, 2 dan 3 maka relai disetel pada :

32,04
x In Relai
40

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 14


= 0,801 x In Relai

=0,801 x 5 A = 4,005 A

Relai Sekunder tersebut disetel pada 0,801

Untuk memenuhi karakteristik point 4 maka relai disetel pada :

32,04
4 x In Relai
40

= 3,204 x In Relai

= 3,204 x 5 A = 16,02 A

Relai Sekunder tersebut disetel pada 3,204

Kesimpulan :

In
Besarnya penyetelan adalah =
Ip  Ir

Dimana

In = Arus nominal perfasa

Ip =Arus pengenal CT

Ir = Arus nominal Relai

3.2. Trafo Arus


3.2.1. Fungsi

Berikut ini adalah fungsi trafo arus :


• Mentransformasikan dari arus yang besar ke arus yang kecil guna pengukuran atau
proteksi

• Sebagai isolasi sirkit sekunder dari sisi primernya

Standar arus pengenal

Contohnya : 100/5 A, 300/1 A

100 A dan 300 A = IP Merupakan Arus Primer (Ip)

5 A dan 1 A = IS Merupakan Arus Sekunder (Is)

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 15


IP N2
Perbandeingan transformasi ----- = ----- = KCT
IS N1

N2 >> N1 (N1 Jumlah Lilitan Primer, N2 Jumlah Lilitan Sekunder)

KCT : Perbandingan Transformasi Merupakan Nilai Yang Konstan

3.2.2. Standard Trafo Arus & Trafo Tegangan

a. IEC IEC 185 : 1987 CTs

IEC 44-6 : 1992 CTs

IEC 186 : 1987 CTs

b. EUROPEAN BS 7625 PTs

BS 7626 CTs

BS 7628 CT AND PT

c. BRITISH BS 3938 : 1973 CTs

BS 3941 : 1975 PTs

d. AMERICAN ANSI C51.31.1978 CTs AND PTs

e. CANADIAN CSA CAN 3-C13-M83 CTs AND PTs

g. AUSTRALIAN AS 1675-1986 CTs

h. INDONESIA SNI

3.2.3. Kelompok Dasar Trafo Arus

A. Trafo arus untuk pengukuran

- mempunyai ketelitian tinggi pada daerah kerja (daerah pengenalnya)

- cepat jenuh

B. Trafo arus untuk proteksi

- mempunyai daerah ketelitian yang luas

- tidak cepat jenuh

Kinerja relai tergantung dari trafo yang digunakan

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 16


3.2.4. Konstruksi Trafo Arus

Sisi primer merupakan batang Sisi primer merupakan belitan

Gambar 6 Tipikal Trafo Arus Dengan Batang Pada Sisi Primer 1000 / 1 A

Contoh CT TR

Terminal primer Terminal skunder

Gambar 7 Contoh CT TM

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 17


Gambar 8 Contoh CT TR

3.2.5. Kumparan Trafo Arus

Pengenal Primer : 10 - 15 - 30 - 40 - 50 - 60 - 75 - 80 A Dan Kelipatan 10

Pengenal Sekunder : 1 - 2 - 5 A

Primer seri dan parallel Skunder di Tap

Rangkaian seri Tap diprimer Rangkaian paralel P1


Tap di sekunder
P1 P2
P2
P1 C1 C2 P2 P1 C1 C2 P2
P1 P2

1S1 1S2 1S3 2S1 2S2 2S3


S1 S2 S3
1S1 1S2 2S1 2S2 1S1 1S2 2S1 2S2
S1 S2
S1-S2 = 500/5 1S1-1S2 = 500/5
500 /5-5 Amp 1000 /5-5 Amp
500 /5 Amp S1-S3 = 1000/5 1S1-1S3 = 1000/5

2S1-2S2 = 500/5
2S1-2S3 = 1000/5

Gambar 9 Kumparan Trafo Arus

3.2.6. Trafo Arus Dengan Multi Ratio

Contoh : 100 - 200 - 300 - 400 - 500 - 1000 / 5 A

Trafo Arus ini banyak digunakan di Amerika

A - B 100 / 5 A
A - C 200 / 5 A
A - D 300 / 5 A
A - E 400 / 5 A
A - F 500 / 5 A
A - G 1000 / 5 A

Gambar 10 Trafo Arus dengan multi Ratio

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 18


Pengenal Sekunder

A. 5 A Umumnya digunakan bila antara trafo arus dengan alat ukur atau relainya dekat

B. 1 A Umumnya digunakan bila antara trafo arus dengan alat ukur atau relainya jauh.
Umumnya digunakan pada sistem tegangan tinggi atau ekstra tinggi.

C. 2 A Untuk keperluan tertentu.

Contoh Penggunaan Trafo Arus

Bushing CT untuk trafo daya untuk generator unit PLTU Paiton 1 & 2

Trafo daya 470 MVA, (525 +/- 2 * 13,125) / 18 kV, CT Sisi 500 kV

Tabel 7 Penggunaan Trafo Arus

Kode Letak Terminal Rasio A Burden Va Klas Penggunaan

T8, T9, T10 IU, IV, IW 1S1 – 1S2 1000/1 30 0,2 Pengukuran (KWH)

1S1 – 1S3 2000/1 30 0,2 Pengukuran (KWH)

T11, T12, T13 IU, IV, IW 2S1 – 2S2 600/5 100 5P20 Relai F 87 TG2

T14, T15, T16 IU, IV, IW 3S1 – 3S2 600/5 100 5P20 Relai F 87 TG B

T17, T18, T19 IU, IV, IW 1000/1 X Relai F 87 TG B

X Relai F 87 GT B

15 5P20 Indikator suhu Lilitan

IV X Relai F 87 GT B

Relai F 87 GT B

Catatan : Klas X : VK > 800 / 400 RCT < 4 / 2 Ohm

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 19


3.2.7. Rangkaian Arus

Rangkaian arus semuanya seri

kW kvarh
A KW kVA h P2

S1 S2
L

Gambar 11 Rangkaian arus

P1 P2
S1 S2

A K k
W W
h L

Gambar 12 Rangkaian arus

Rangkaian Arus CT 500/1-1-1-1 A

Rangkaian Arus Semuanya Seri Untuk Setiap CT

P1 1S1 1A
KWH KVARH
8V A KW KVA
1S2

2S1 1A
6V
2S2
F 32 F 40 F 51 V

F 87
3S1 1A

P2 2V
3S2

4S1

P2 TIDAK DIGUNAKAN
4S2

Gambar 13 Rangkaian arus CT

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 20


Tujuan salah satu sisi sekunder dibumikan ialah

 jika hubung singkat antara sisi primer dan sisi sekunder, tegangan sirkit sekunder tidak
naik

 Pada dasarnya pembumian dapat dilakukan S1 atau S2

 Dalam beberapa hal letak pembumian sisi sekunder mengikuti buku petunjuk
pemasangan meter atau relainya

 Pembumian tidak mempengaruhi arah arus

3.2.8. Beban (Burden)

Beban (burden) CT yaitu :


• Burden CT adalah kemampuan CT menanggung beban disisi skunder

• Pemilihan kapasitas burden CT yang optimal sebesar 1,5 dari total burden yang
sesungguhnya

Beban pengenal CT

• Beban CT dinyatakan dalam VA


• Nilai beban umum digunakan : 2,5 ; 5 ; 7,5 ; 10 ; 15 ; 30 VA

Arus Pengenal Kontinyu

Besarnya arus yang mengalir secara terus menerus pada CT tersebut

• Umumnya dinyatakan pada sisi primer, misalnya 100/5 A, 200/5 A

Arus Pengenal Waktu Singkat (Short Time Rated Current)

• Arusnya dinyatakan dalam kA


• Waktunya dinyatakan untuk 0,5 ; 1,0 ; 2 ; 3 detik
• Tidak menimbulkan kerusakan
• Umumnya dinyatakan pada keadaan sekunder CT di hubung singkat
• Arus dinyatakan dalam rms (nilai efektif)

Pengenal Arus Dinamik

• Perbandingan dari : Ipuncak / Ipengenal

• Ipuncak : kemampuan arus maksimum CT tanpa menimbulkan suatu kerusakan

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 21


Memperkirakan Beban (Burden)

Beban total yang terhubung ke CT adalah penjumlahan dari :

Gambar 14 Merperkirakan beban (burden) CT

REDUKSI BEBAN

2 KONDISI YG HARUS DIPERTIMBANGKAN

METER MEKANIK METER ELEKTRONIK

Kabel: 2 s/d 4.5 VA kabel: 2 s/d 4.5 VA

2 meter: 20 s/d 24 VA 2 meter: 2 VA

3 meter: 30 s/d 36 VA 3 meter: 6 VA

Beban total: 22 s/d 40.5 VA Beban total: 4 s/d 10.5 VA

Dibakukan 30 atau 50VA Dibakukan 10 atau 15VA

Ratio antara dua kondisi tersebut : 3


banding 1 dan 5 banding 1:

Gambar 15 Reduksi Beban

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 22


Pembebanan CT Di Bawah Normal

• Pembebanan CT tidak boleh melebihi Burden CT


• Pembebanan tidak boleh terlalu rendah (dibawah 25 %
kapasitas Burden

Contoh:

CT 30VA CL0.5 akan tetap dalam kelasnya selama beban


antara 30/4 (25 % dari Burden CT) = 7.5VA and 30VA.
Jika dipasang bersama meter mekanik, beban 22VA: OK!

Jika dipasang bersama meter elektronik, beban 4VA: NO!

Beban CT terlalu kecil atau melebihi Burdennya, maka

kelas tidak akurat lagi

Gambar 16 Pembebanan CT dibawah Normal

CT yang baik :

Bila rasio memenuhi standar

Bila sudut memenuhi standar

3.2.9. Klas Ketelitian (IEC 185 / 1987)

Untuk menunjukkan ketelitian CT dinyatakan dengan kesalahannya suatu alat semakin kecil
kesalahannya semakin teliti alat tersebut.

Pada CT dikenal 2 macam kesalahan yaitu

a. Kesalahan perbandingan 

KT IS - IP
 = ---------------- * 100 %
IP

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 23


KT : Perbandingan transformasi nominal

CT 500 / 5 A KT = 100

b. Kesalahan sudut 

2 = -

1 = +

Gambar 17 Kesalahan sudut

3.2.10. Klas Ketelitian Trafo Arus Untuk Pengukuran

Berikut adalah kelas ketelitian trafo arus untuk pengukuran :

 CT untuk meter teliti untuk daerah rendah 0,1 s/d 1,2 in

 Cepat jenuh, diusahakan 5 kali pengenal telah mulai jenuh.

Supaya CT cepat jenuh dibuat dengan luas penampang jg relatif kecil atau bahan-bahan yang
mempunyai lengkung B vs H cepat jenuh misalnya MU-Metal.

Kelas ketelitian trafo arus untuk meter dapat dilihat pada tabel 1 dan tabel 2 dan kurva
kesalahan CT.

Pengertian Kelas CT

• Untuk CT Proteksi
Contoh : 5P10 artinya : Kemampuan mengukur arus sampai dengan 10 kali In
dengankesalahan +/- : 5 %

• Untuk CT Pengukuran
Contoh: klas 2 artinya: kesalahan +/- : 2 % dengan kemampuan pengukuran dari 5% sd
120%

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 24


Tabel 8 Nilai Batas Kesalahan C.T Untuk Meter

+/- % Kesalahan Rasio Arus Pada % +/- Pergeseran Fase Pada % Dari
Klas Ketelitian
Dari Arus Pengenal Arus Pengenal Menit (1/60 Derajat)

5 20 100 120 5 20 100 120

0,1 0,4 0,2 0,1 0,1 15 8 5 5

0,2 0,75 0,35 0,2 0,2 30 15 10 10

0,5 1,5 0,75 0,5 0,5 90 45 30 30

1,0 3,0 1,5 1,0 1,0 180 90 60 60

Catatan : Beban sekender adalah setiap nilai dari 25 % sampai 100 % beban pengenal

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 25


Tabel 9 Kemampuan Ukur CT

MEASURED POWER FOR A 20kV NETWORK

RATIO 400/5 200/5 100/5 50/5 25/5


P in KW
CLASS CLASS CLASS CLASS CLASS
0.5 0.5S 0.2 0.2S 0.5 0.5S 0.2 0.2S 0.5 0.5S 0.2 0.2S 0.5 0.5S 0.2 0.2S 0.5 0.5S 0.2 0.2S
15000
14000
13 000 CT 50/5 dpt
12 000
11 000
10 000
mengukur:
9 000
8 000
7 000
6 000 Dgn CL0.5:
5 000
4 000
3 000
A Daya pengguna
2 000
1 500
antara 800kW s/d
1 000
900 2000kW
800
700
600
500
Kemampuan 1
400
300
200
s/d 2.5 kali
150
100
90
80
Dgn CL0.2S:
70
60
Daya pengguna
50
40 antara 20kW s/d
30
20
10
2000kW
kemampuan 1 s/d
100 kali

Effect jika sekunder CT terbuka

Pada kondisi normal, primary winding& secondary winding menghasilkan mmf (ampere-
turns) yang saling berlawanan. Secondary mmf sedikit lebih kecil dari pada primary mmf.
Dengan demikian resultante kedua mmf ini sangat kecil. Resultante mmf menghasilkan flux
dalam core. Karena resultantenya kecil, maka flux yang dihasilkan juga kecil. Jadi dalam
kondisi normal flux density dalam core sangat kecil, akibatnya tegangan induksi di
secondary winding juga kecil.

Jika sekunder open circuit (dalam keadaan primary winding energized), primary mmf tetap
tidak berubah, sedangkan secondary mmf turun menjadi nol. Nilai mmf yang besar ini
menghasilkan flux dalam core yang besar pula sehingga core menjadi jenuh (saturasi)
akibatnya core over heating karena adanya eddy current losses dan hysteresis losses yang
besar. Selain itu flux ini menginduksikan teganganyang sangat besar di secondary winding
yang dapat mengakibatkan breakdown pada insulation CT.

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 26


Jangan pernah membuka Jika beban akan dipindahkan
sekunder CT dalam keadaan atau dihilangkan ketika CT
berbeban sedang beroperasi terminal
sekunder harus di short

Gambar 18 Efek Jika sekunder CT dibuka

3.2.11. Pengujian Polaritas CT

Alat yang digunakan :

1. Batu Batery 1,5 V = 1 Bh


2. CT Yang Di Uji = 1 Bh
3. Mili Amper Meter = 1 Bh
4. Kabel Penyambungan = 4 Bh

mA

MA

S1 S2

P1 P2

Gambar 19 Rangkaian pengujian polaritas CT

Keterangan :

1. Bila mili Amper menunjuk ke kanan polaritas CT benar / ke kanan fungsi S1 u /


memasukkan pada kWh

2. Bila mili Amper menunjuk ke kiri polaritas CT salah / kiri fungsi kWh akan terbalik

3.2.12. Pengujian Rasio CT

Alat Yang Digunakan :

1. Injeksi Arus Test = 1 Bh


2. CT Yang Di Uji = 1 Bh
3. Amper Meter = 2 Bh
4. Kabel Penyambungan = 8 Bh

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 27


Formula pengujian

IS – Ip
Kn = ----------------- X 100 %
Ip

Ket :

Kn : Perbandingan transfomasi
Is : Arus skunder
Ip : Arus primer

3.3. Trafo Tegangan


3.3.1. Fungsi

Mentransformasikan dari tegangan tinggi ke tegangan rendah guna penggukuran atau proteksi
dan sebagai isolasi antara sisi tegangan yang diukur / diproteksikan dengan alat ukurnya/
proteksinya.

3.3.2. Jenis Trafo Tegangan

Jenis-jenis trafo tegangan yaitu sebagai berikut :

a. Trafo Tegangan dengan inti besi seperti Transformator biasa umumnya untuk Tegangan
Rendah Sampai dengan Tegangan Tinggi
b. Trafo Tegangan dengan Kapasitor, di sadap pada Tegangan Menengah, kemudian
diturunkan dengan Transformator ke Tegangan Rendah, umumnya digunakan pada
Tegangan Tinggi dan Tegangan Ekstra Tinggi (Capasitive Voltage Transformer)

Macam Trafo Tegangan

a. Dipasang antara fase dan fase


b. Dipasang antara fase dan tanah
c. Trafo tegangan dengan 3 lilitan, lilitan ketiga untuk relai gangguan bumi
d. Trafo tegangan dengan 3 lilitan, lilitan kedua untuk relai kesatu dan meter lilitan ketiga
untuk relai kedua

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 28


Gambar 20 Macam-macam Trafo tegangan

Gambar 21 Diagram Pengawatan PT

PT (Potential Transformer)
20000/3 Volt 20000 Volt
100 Volt
100/3 Volt

Gambar 22 Potensial Tranfosmer (PT)

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 29


Trafo Tegangan dengan 2 Pengenal Sekunder

Contoh :

A. (20.000/V3) / (100/V3) - (100/3) V

Rangkaian Sekunder 2 buah yang dapat mempunyai karakteristik yang berbeda

B. (20.000/V3) / (100/V3) - (100/3) V


100/3 V Digunakan untuk mendapatkan Tegangan Urutan Nol, dan pada saat gangguan 1
Fase Ke Bumi V0 menjadi 100 V Maksimum
Penandaan
Primer : P1 Dan P2
Sekunder : Pertama 1S1 - 2S2 untuk pengukuran dan proteksi pengaman
cadangan

Kedua 2S1 - 2S2 untuk proteksi pengaman utama


Masing - masing sekunder dapat mempunyai klas ataupun beban mempunyai klas
ataupun burden (beban) sama atau berbeda.

PT dengan 2 sekunder yang sama khususnya digunakan pada GI Tegangan Ekstra Tinggi.

3.3.3. Klas Ketelitian (IEC 186/1987)

Pada PT Dikenal 2 Macam Kesalahan yaitu :


a. Kesalahan Perbandingan

𝐾𝑁 .𝑉𝑆 −𝑉𝑃
𝜀= 𝑉𝑃
× 100%

KN :Perbandingan Transformasi Nominal

PT (20.000/V3) / (100/V3) V KN = 200

b. Kesalahan Sudut
0
Pergeseran sudut sisi sekunder kurang atau lebih dari 180

VS

VP

1 =
VS +

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 30


Penggunaan PT Dibedakan Untuk Pengukuran Dan Untuk Sistem Proteksi

• Untuk pengukuran teliti untuk daerah kerja pada Tegangan Dari 80 % Sampai 120 %
dari Tegangan Pengenal
• Untuk Sistem Proteksi Relatif Ketelitiannya Lebih Rendah, tetapi untuk daerah kerja dari
5 % Sampai 190 % Tegangan Pengenalnya. Dan Pada 2 % Tegangan pengenalnyapun
kesalahan masih tertentu

Trafo Tegangan untuk pengukuran

Standar Klas Ketelitian PT Untuk Pengukuran Ialah :0,1 - 0,2 - 0,5 - 1,0 - 3,0 dan batas
kesalahannya seperti Tabel 10

Tabel 10 Batas kesalahan transformasi dan pergeseran sudut untuk PT Pengukuran

UNTUK SETIAP TEGANGAN DARI 80 % SAMPAI 120 % TEGANGAN PENGENAL DENGAN BEBAN 25
SAMPAI 100 % BEBAN PENGENAL PADA FAKTOR DAYA 0,8 TERTINGGAL

% KESALAHAN RASIO PERGESERAN SUDUT +/-


KLAS
TEGANGAN +/- (MENIT)

0,1 0,1 5
0,2 0,2 10
0,5 0,5 20
1,0 1,0 40
3,0 3,0 -

3.3.4. Beban (Burden)

Burden ialah Beban Sekunder dari Trafo Tegangan, dalam hal ini sangat terkait dengan Klas
Ketelitian PT

Contoh :

• Beban Pengenal 30 Va, Dan Klas 0,2 Jika Dibebani 50 VA Klasnya Menjadi 0,5
• Beban pengenal 50 VA, Dan Klas 0,5 Jika Dibebani 100 VA Klasnya menjadi 1,0

Semakin Besar Bebannya Maka Ketelitiannya Semakin Turun.

3.3.5. Kapasitas Termal

Kapasitas Termal Merupakan Kapasitas PT Dapat Berfungsi Sebagai Transformator Biasa,


Sebagai Contoh PT Diatas Dapat Berkapasitas 500 VA Tanpa Melihat Kesalahannya.

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 31


3.3.6. Pengujian Rasio PT

Alat Yang Digunakan :

1. Auto Trafo = 1 Buah


2. Amper Meter = 2 Buah
3. Volt Meter = 1 Buah

Rangkaian pengujian:

A1
i1
P1 S1 i2

V1 V2

P2 S2

Gambar 23 Rangkaian pengujian

Formula pengujian :

Kn. (Es – Ep)


-------------------- X 100 %
Ep

Ket :

Kn : Perbandingan transformasi
Es : Tegangan skunder
Ep : Tegangan primer

3.4. Karakteristik Current Transformer (CT)

Dalam pemilihan Current Transformer, harus diperhatikan beberapa karakteristik , yaitu :

A. Arus pengenal primer


B. Arus pengenal sekunder
C. Arus thermal kontinyu pengenal (Icth )

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 32


D. Tingkat Insulasi
E. Frekuensi Pengenal
F. Arus waktu-singkat thermal pengenal ( Ith)
G. Burden Pengenal
H. Arus dynamik pengenal ( Idyn )
I. Kelas akurasi standar CT PENGUKURAN
J. Kelas akurasi standar CT Proteksi
K. Kesalahan komposit

3.4.1. Arus pengenal Primer

Yaitu nilai arus primer yang dijadikan dasar unjuk kerja CT Besarannya : 10-15-20-30-40-50-
60-75 A, dan perkaliannya dengan 10 atau 100

Pada IEC 6004-1, nilai arus primer 40 dan 60 A, bukan merupakan nilai yang diutamakan (preferred
value )

3.4.2. Arus pengenal Sekunder

Arus pengenal sekunder adalah nilai arus sekunder yang dijadikan dasar unjuk kerja CT
Besarannya : 1 – 2 – 5 ( SPLN D3.014-1;2009 hanya 5 A )

a. 5 A umumnya digunakan bila antara CT dengan alat ukur atau relai-nya dekat

b. 1 A umumnya digunakan bila antara CT dengan alat ukur atau relay-nya jauh. Umumnya
digunakan pada sistem tegangan tinggi atau ekstra tinggi

c. 2 A untuk keperluan yang spesifik/tertentu

3.4.3. Arus thermal kontinyu pengenal ( Icth )

Arus thermal kontinyu pengenal (Icth) adalah nilai arus yang diperbolehkan mengalir pada
belitan primer, belitan sekunder terhubung dengan burden pengenal, tanpa kenaikan suhu
melebihi nilai yang ditentukan.

Arus thermal kontinyu pengenal adalah 120 % arus primer pengenal.

3.4.4. Tingkat Insulasi

Tingkat insulasi adalah kombinasi nilai-nilai tegangan yang mengkarakterisasi insulasi suatu
CT dengan mempertimbangkan kemampuan dalam menahan stress dielektrik.

a) CT Tegangan Rendah

 Tegangan tertinggi (rms) : 0.72 kV


 Ketahanan tegangan frekuensi daya (rms) : 3 kV

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 33


b) CT Tegangan Menengah

 Tegangan tertinggi (rms) : 24 kV


 Ketahanan tegangan frekuensi daya (rms)

o Belitan primer : 50 kV
o Belitan sekunder : 3 kV

 Ketahanan tegangan impuls petir (peak)

o Belitan primer : 125 kV


o Belitan sekunder :-

3.4.5. Frekuensi Pengenal

Frekuensi pengenal adalah 50 Hz

3.4.6. Arus waktu-singkat thermal pengenal ( Ith)

Arus waktu singkat thermal pengenal (Ith) adalah nilai rms dari arus primer dimana CT dapat
menahannya selama 1(satu) detik tanpa timbul kerusakan, belitan sekunder terhubung singkat.

a) Transformatur arus tegangan rendah : ≥ 60 x In


dimana In : ≥ arus pengenal primer

b) Transformator arus tegangan menengah :

o Arus primer pengenal < 100 A : ≥ 12.5 kA


o Arus primer pengenal ≥ 100 A : ≥ 16 kA

3.4.7. Burden Pengenal

Burden pengenal adalah impedansi dari rangkaian sekunder, dinyatakan sebagai daya semu
yang diserap ( dalam VA) pada faktor daya tertentu dan pada arus sekunder pengenal.

Burden pengenal adalah : 2,5 - 5 – 7,5 – 10 – 15 dan 30 VA

3.4.8. Arus dinamik pengenal ( Idyn )

Arus dinamik pengenal (Idyn) adalah nilai puncak arus primer dimana CT dapat menahannya
tanpa timbul kerusakan elektrikal dan mekanikal yang disebabkan gaya elektrodinamik, belitan
sekunder terhubung singkat.

Arus dinamik pengenal adalah 2.5 kali arus waktu – singkat pengenal ( Ith)

3.4.9. Kelas akurasi standar CT Pengukuran

Kelas akurasi standar CT pengukuran adalah penandaan pada CT dimana kesalahan tetap
berada pada batas-batas yang dispesifikasikan untuk penggunaan yang ditentukan.

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 34


Kelas akurasi standard adalah 0,2s – 0,2 – 0,5s – 0,5 – 1

Kesalahan arus dan pergeseran fasa harus tidak melebihi nilai pada table berikut, pada
frekuensi pengenal dan nilai burden :

 25% sampai 100% burden pengenal, atau


 1 VA sampai 100% burden pengenal untuk transformator arus kelas 0,2 dan 0,2s yang
mempunyai burden pengenal ≤ 15 VA

Burden untuk pengujian akurasi harus mempunyai factor daya 0,8 lagging, kecuali untuk
burden lebih kecil dari 5 A dapat menggunakan factor daya 1,0.
TABEL 1
BATAS KESALAHAN TRANSFORMATOR ARUS PENGUKURAN
Tabel 11 Batas kesalahan transformator arus pengukuran

% arus pengenal
PARAMETER UJI KELAS AKURASI
1 5 20 100 120
0,2 - 0,75 0,35 0,20 0,20
0,2S 0,75 0,35 0,20 0,20 0,20
Kesalahan arus (±) [ %] 0,5 - 1,50 0,75 0,50 0,50
0,5S 1,50 0,75 0,50 0,50 0,50
1,0 - 3,00 1,50 1,01 1,00
0,2 - 30 15 10 10
0,2S 30 15 10 10 10
[menit] 0,5 - 90 45 30 30
0,5S 90 45 30 30 30
1,0 - 180 90 60 60
Pergeseran fase (±)
0,2 - 0,90 0,45 0,30 0,30
0,2S 0,90 0,45 0,30 0,30 0,30
[sentiradian] 0,5 - 2,70 1,35 0,90 0,90
0,5S 2,70 1,35 0,90 0,90 0,90
1,0 - 5,40 2,70 1,80 1,80

3.4.10. Kesalahan Komposit

Pada kondisi ajeg (steady state), nilai rms dari perbedaan antara :

a) Nilai sesaat arus primer, dan


b) Nilai sesaat arus sekunder actual dikalikan dengan rasio CT pengenal, tanda positif dari
arus primer dan sekunder mengikuti konvensi untuk penandaan terminal.

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 35


3.4.11. Kelas akurasi standard CT Proteksi

Kelas akurasi standard CT proteksi Adalah :

 Kelas akurasi standard adalah 5P


 Faktor batas akurasi standard adalah 10 – 15 – 20

Pada frekuensi pengenal dan burden pengenal dengan factor daya 0,8 lagging, kesalahan arus
dan pergeseran fasa pada arus primer pengenal, dan kesalahan komposit pada batas akurasi
TABEL 2
arus primer pengenal harus tidak melebihi nilai pada table berikut :
BATAS KESALAHAN TRANSFORMATOR ARUS PENGUKURAN
Tabel 12 Batas kesalahan transformator arus pengukuran

KESALAHAN PERGESERAN FASE KESALAHAN


KELAS AKURASI
ARUS [%] MENIT SENTIRADIAN KOMPOSIT [%]
5P ±1 ± 60 ± 1.8 5

3.5. Karakteristik Potensial Transformer (PT)

Dalam pemilihan Potensial Transformer, harus diperhatikan beberapa karakteristik, yaitu :

A. Tegangan pengenal
B. Keluaran pengenal
C. Keluaran thermal pengenal
D. Faktor tegangan pengenal
E. Tingkat Insulasi
F. Kelas akurasi PT

3.5.1. Tegangan Pengenal

a) Tegangan Pengenal Primer

Tegangan pengenal Primer fasa-netral : 20 /√3 kV

b) Tegangan Pengenal Sekunder

Tegangan pengenal Sekunder fasa – netral : 100 /√3V

Khusus untuk PT Proteksi yang sekundernta akan dihubung delta terbuka (open delta ) untuk
menghasilkan tegangan residual, tegangan pengenal sekunder adalah 100/3 Volt

SPLN yang digunakan : SPLN D3.014-2:2010

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 36


Trafo tegangan dengan 2 pengenal sekunder :

Contoh :

A. (20.000/√3) / (100/√3) – ( 100/3) V

Rangkaian sekunder 2 buah yang dapat mempunyai karakteristik yang berbeda

B. (20.000/√3) / (100/√3) – ( 100/3) V

100 / 3 V digunakan untuk mendapatkan tegangan urutan fasa nol, dan pada saat
gangguan dari fasa ke bumi Vo menjadi 100 V maksimum

Penandaan :

 Primer : P1 dan P2

 Sekunder :

o Pertama : 1S1 – 1S2 untuk pengukuran dan proteksi pengaman cadangan

o Kedua : 2S1 – 2S2 untuk proteksi pengaman utama

Masing-masing sekunder dapat mempunyai class atau burden yang sama atau berbeda.

PT dengan 2 sekunder yang sama khususnya digunakan pada Gardu Induk Tegangan Ekstra
Tinggi.

3.5.2. Keluaran Pengenal

Keluaran Pengenal dangan factor daya 0.8 lagging :10 – 15 – 25 – 30 – 50 – 75 - 100 VA

Dan harus terpisah untuk masing-masing belitan sekunder untuk fungsi :

o Pengukuran
o Proteksi
o Residual

3.5.3. Keluaran Thermal Pengenal

Hanya untuk PT Proteksi yang belitan sekundernya dimaksudkan untuk menghasilkan


tegangan residual.

15 – 25 – 50 – 75 – 100 VA dengan factor daya lagging 1.0

Belitan ini hanya terbebani saat terjadi gangguan tanah

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 37


3.5.4. Faktor Tegangan Pengenal

Ditentukan oleh :

1. Tegangan operasi maksimum system


2. Kondisi pembumian belitan primer

Tabel 13 Faktor Tegangan

FAKTOR TEGANGAN

Kondisi sistem pembumian titik netral Faktor tegangan dan waktu pengenal
1,2 Un - kontinyu
Langsung ( solid/effective grounded )
1,5 Un - 30 s
1,2 Un - kontinyu
Tahanan Rendah
1,9 Un - 30 s
1,2 Un - kontinyu
Tahanan Tinggi atau tidak dibumikan
1,9 Un - 8 h

3.5.5. Tingkat Insulasi

 Belitan Primer

1) Tegangan tertinggi ( Um ) : 24 kV rms


2) Tegangan ketahanan frekuensi – daya : 50 kV rms
3) Tegangan ketahanan impuls petir 1.2/50 us : 125 kV peak

 Belitan Sekunder

Tegangan ketahanan frekuensi – daya : 3 kV rms

 Antara Seksi Belitan

Tegangan ketahanan frekuensi – daya : 3 kV rms

3.5.6. Kelas Akurasi PT

A. PT PENGUKURAN

o Kelas akurasi standard : 0,2 – 0,5 – 1,0


o Batas kesalahan tegangan dan pergeseran fasa

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 38


Tabel 14BATAS
BatasKESALAHAN
kesalahan dan
DANpergeseran
PERGESERANfasaFASA
untuk pengukuran
UTK PENGUKURAN

PERGSERAN FASA
KELAS
KESALAHAN RASIO TEGANGAN[%] MENIT SENTIRADIAN
0,2 ± 0,2 ± 10 ± 0,3

0,5 ± 0,5 ± 20 ± 0,6

1 ± 1,0 ± 40 ± 1,2

Kesalahan tegangan pengenal dan pergeseran fasa pada frekuensi pengenal harus tidak
melebihi nilai-nilai pada table di atas dengan berbagai nilai tegangan antara 80% dan 120%
tegangan pengenal dan dengan burden antara 25 % dan 100 % beban pengenal, dengan
factor kerja lagging 0.8

B. PT PROTEKSI

o Kelas akurasi standard transformator tegangan adalah 3P


o Batas kesalahan tegangan dan pergeseran fasa

Tabel 15 Batas kesalahan tegangan dan pergeseran fasa untuk proteksi

Kelas Kesalahan rasio Pergeseran Fase


tegangan (%) Menit Centi Radian
3P ± 3 ± 120 ± 3.5

C. KELAS AKURASI BELITAN SEKUNDER

Kelas akurasi belitan sekunder dimaksudkan untuk mengahasilkan tegangan


RESIDUAL

 Kelas akurasi standard belitan tegangan residual adalah 6P

Tabel 16 Batas kesalahan tegangan dan pergeseran fasa untuk belitan sekunder untuk menghasilkan tegangan residual

Kelas Kesalahan rasio Pergeseran Fase


tegangan (%) Menit Centi Radian
6P ± 6 ± 240 ± 7.0

Dari kedua table di atas :

Kesalahan tegangan dan pergeseran fasa pada frekuensi pada table di atas pada 5%
tegangan pengenal dan pada tegangan pengenal dikalikan factor tegangan ( 1.2 atau 1.5
atau 1.9) dengan burden 5 % dan 100% burden pengenal pada factor daya lagging 0.8.

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 39


Pada 2% tegangan pengenal batas kesalahan dan pergeseran fasa dengan burden antara 25%
dan 100% burden pengenal pada factor daya 0.8 lagging akan menjadi 2 kali lebih besar.

3.5.7. Perlengkapan

Perlengkapan APP untuk pengkuran energi listrik yang digunakan pelanggan antara lain :
Trafo Arus, Trafo Tegangan, Time Swicth, Selector Switch dll.

Tabel 17 Standarisasi Tangga Daya Untuk Tegangan Menengah

ARUS FAKTOR DAYA


RATIO PT RATIO CT DAYA
NOMINAL KWH KVAR
min 200 5,77
200 10 5 400 400
max 345 9,96
min 380 10,97
200 15 5 600 600
max 500 14,43
min 520 15,01
200 20 5 800 800
max 690 19,92
min 725 20,93
200 25 5 1.000 1.000
max 865 24,97
min 900 25,98
200 30 5 1.200 1.200
max 1.040 30,02
min 1.110 32,04
200 40 5 1.600 1.600
max 1.385 39,98
min 1.455 42,00
200 50 5 2.000 2.000
max 1.730 49,94
min 1.750 50,52
200 60 5 2.400 2.400
max 2.075 59,90
min 2.150 62,07
200 75 5 3.000 3.000
max 2.500 72,17
min 2.600 75,06
200 80 5 3.200 3.200
max 2.770 79,97
min 2.800 80,83
200 100 5 4.000 4.000
max 3.465 100,03
min 3.500 101,04
200 150 5 6.000 6.000
max 5.190 149,83
min 5.400 155,89
200 200 5 8.000 8.000
max 6.930 200,06
min 7.000 202,08
200 250 5 10.000 10.000
max 8.660 250,00
min 8.700 251,15
200 300 5 12.000 12.000
max 10.390 299,94
min 10.500 303,12
200 400 5 16.000 16.000
max 13.850 399,83
min 13.900 401,27
200 500 5 20.000 20.000
max 17.300 499,42
min 17.350 500,87
200 600 5 24.000 24.000
max 20.780 599,88
min 20.850 601,91
200 800 5 32.000 32.000
max 27.700 799,65
min 27.750 801,10
200 1.000 5 40.000 40.000
max 29.000 837,18

Catatan: - Tangga daya keiipatan 5 kVA

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 40


3.6. Soal Latihan

Pilihlah jawaban yang paling benar ?

1. Suatu peralatan yang dipasang pada pelanggan untuk mengetahui/mengukur pemakaian


energi yang digunakan serta membatasi daya yang digunakan sesuai daya kontraknya
adalah :

a. Alat Pengukur

b. Alat Pembatas

c. Alat Pembatas dan Pengukur

d. Alat Pengukur dan Pembatas.

2. Fungsidari Trafo Arus adalah :

a. Mentransformasikan dari arus yang besar ke arus yang kecil guna pengukuran

b. Sebagai isolasi sirkit sekunder dari sisi primernya

c. Mentransformasikan dari arus yang besar ke arus yang kecil guna proteksi

d. Semuanya benar.

3. Burden CT adalah

a. Kemampuan PT menanggung beban disisi primer

b. Kemampuan PT menanggung beban disisi skunder

c. Kemampuan CT menanggung beban disisi primer

d. Kemampuan CT menanggung beban disisi skunder.

4. Fungsi dari Trafo Tegangan adalah :

a. Mentransformasikan dari tegangan tinggi ke tegangan rendah guna penggukuran atau


proteksi dan

b. sebagai isolasi antara sisi tegangan yang diukur / diproteksikan dengan alat ukurnya/
proteksinya

c. a dan b benar

d. Salah semua

5. Perlengkapan APP untuk pengkuran energi listrik yang digunakan pelanggan, kecuali :

a. Trafo Arus
b. Trafo Tegangan
c. Time Swicth
d. Meter kWh

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 41


Jawablah Pertanyaan dibawah ini dengan singkat?

1. Dalam setiap pemilihan CT, karakteristik apa yang harus diperhatikan agar CT yang kita
gunakan bisa optimal sesuai yang kita inginkan ? Jelaskan !

2. Dalam setiap pemilihan PT, karakteristik apa yang harus diperhatikan agar PT yang kita
gunakan bias optimal sesuai yang kita inginkan ? Jelaskan !

Jelaskan pengertian Ith pada karakteristik CT !

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 42


Mata Pelajaran 4

SISTEM PENGAWATAN APP


4. SISTEM PENGAWATAN APP

TUJUAN PELAJARAN : Setelah mengikuti mata pelajaran ini peserta mampu


memahami dan menjelaskan Sistem Pengawatan
APP dengan baik dan benar sesuai Standar
Perusahaan

DURASI : 4 JP

PENYUSUN : 1. Rijanto (Purnakarya PLN)


2. Fadjar Kurniadi (PLN Udiklat Pandaan)
3. Eko Suprianto (PLN Distribuasi Jatim)
4. Raihan Amin S (PLN Udiklat Pandaan)
DAFTAR ISI

TUJUAN PELAJARAN ..............................................................................................................i


DAFTAR ISI ..............................................................................................................................ii
DAFTAR GAMBAR ..................................................................................................................iii
4.1. Pengukuran Langsung ......................................................................................................1
4.2. Pengukuran Tak Langsung ...............................................................................................1
4.3. Soal Latihan ...................................................................................................................16

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal ii


DAFTAR GAMBAR

Gambar 1 Pengukuran Langsung ...................................................................................1


Gambar 2 Pengawatan meter elektronik tak langsung TR ..............................................1
Gambar 3 Pengawatan Meter Elektronik Tak Langsung TR ..........................................2
Gambar 4 Pengawatan Meter Elektronik Tak Langsung TR ..........................................2
Gambar 5 Pengawatan Meter Elektronik Tak Langsung TR ..........................................3
Gambar 6 PT (Potential Transformer) ............................................................................3
Gambar 7 Pengawatan PT (Potential Transformer) .......................................................4
Gambar 8 Pengawatan PT (Potential Transformer) .......................................................4
Gambar 9 Potential transformer (PT) ..............................................................................5
Gambar 10 Diagram pengawatan PT ..............................................................................5
Gambar 11 Diagram pengawatan PT ..............................................................................6
Gambar 12 Current Transformer (CT) ............................................................................6
Gambar 13 Pengawatan Seri dan Pararel ......................................................................7
Gambar 14 Diagram pengawatan 2 CT ..........................................................................7
Gambar 15 Pengawatan 2 CT ........................................................................................8
Gambar 16 Diagram pengawatan CT .............................................................................8
Gambar 17 Pengawatan 3 CT (3P-4W) Metering .........................................................9
Gambar 18 Pengawatan ME 3P - 3W EDMI MK6 .........................................................9
Gambar 19 Pengawatan ME 3P - 3W ACTARIS / ITRON SL 7K ................................. 10
Gambar 20 Pengawatan ME 3P - 4W EDMI MK6 ....................................................... 10
Gambar 21 Pengawatan ME 3P - 4W ACTARIS / ITRON SL 7K ................................. 11
Gambar 22 Pengawatan ME 3P - 4W LANDIS+ GYR ................................................. 12
Gambar 23 pengawatan ME 3P - 4W Modifikasi 3P – 3W 2 CT – 2 PT EDMI MK6 ... 13
Gambar 24 Pengawatan ME 3P - 4W Modifikasi 3P – 3W 2 CT – 2 PT ...................... 14
Gambar 25 Pengawatan ME 3P - 4W MODIFIKASI 3P – 3W 2 CT – 3 PT ................. 14
Gambar 26 Pengawatan CT KE OCR .......................................................................... 15

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal iii


SISTEM PENGAWATAN APP

4.1. Pengukuran Langsung

R S T N

Inst
alasi

PENGUKURAN
LANGSUNG
Gambar 1 Pengukuran Langsung

4.2. Pengukuran Tak Langsung

 Pengawatan Meter Elektronik Tak Langsung TR

PENGAWATAN METER
TAK
LANGSUNG TR
P
S1 P
S1 P
S1
1
S2 1
S2 1
S2
P P P
2 BEBAN
2 2

Gambar 2 Pengawatan meter elektronik tak langsung TR

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 1


 Pengawatan Meter Elektronik Tak Langsung TR
Wiring tegangan dan arus jadi satu

PENGAWATAN METER
ELEKTRONIK TAK LANGSUNG
TR
WIRING TEGANGAN DAN
ARUS JADI SATU

P P P
S1 S1 S1
1 1 1
S2 S2 S2
P P P
2 2
BEBAN 2

Gambar 3 Pengawatan Meter Elektronik Tak Langsung TR

 Pengawatan Meter Elektronik Tak Langsung TR

PENGAWATAN METER
ELEKTRONIK TAK LANGSUNG
TR

P P P
S1 S1 S1
1 1 1
S2 S2 S2
P P P
2 2 2
BEBAN

Gambar 4 Pengawatan Meter Elektronik Tak Langsung TR

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 2


 Pengawatan Meter Elektronik Tak Langsung TR

PENGAWATAN METER
ELEKTRONIK TAK LANGSUNG
TR

P P P
S1 S1 S1
1 1 1
S2 S2 S2
P P P
2 2 2
BEBAN

Gambar 5 Pengawatan Meter Elektronik Tak Langsung TR

 PT (Potential Transformer)

PT (Potential Transformer)

A
Sekunder Primer
20000/3 V
100/3 V

a n N

Gambar 6 PT (Potential Transformer)

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 3


 Pengawatan PT (Potential Transformer)

A A A

100/3
Volt20000/3 Volt

100/3 Volt

a N
n N a n N a n

Gambar 7 Pengawatan PT (Potential Transformer)

 Pengawatan PT (Potential Transformer)

20000/3 Volt
Metering
100/3 Volt

Gambar 8 Pengawatan PT (Potential Transformer)

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 4


 Potential Transformer (PT)

Winding PT
A B
Volt20000 Volt

100 Volt

a b

Gambar 9 Potential transformer (PT)

 Diagram Pengawatan PT

R S T

A B A B
20000 Volt
a b a b 100 Volt

Gambar 10 Diagram pengawatan PT

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 5


 Diagram Pengawatan PT

R S T

20000 Volt
100 Volt

Gambar 11 Diagram pengawatan PT

 Current Transformer (CT)

P1 P2

1S1 1S2 2S1 2S2


Metering Proteksi

Gambar 12 Current Transformer (CT)

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 6


 Pengawatan Seri dan Pararel

SERI PARALEL

P1 C1 C2 P2 P1 C1 C2 P2

1S1 1S2 2S1 2S2 1S1 1S2 2S1 2S2

Gambar 13 Pengawatan Seri dan Pararel

 Diagram Pengawatan 2 CT

P1 C1 C2 P2 P1 C1 C2 dis
a
m
bu
ng
2S2 1S1
P2
1S1 1S2 2S1 1S2 2S1 2S2

Metering Proteksi
Gambar 14 Diagram pengawatan 2 CT

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 7


 Pengawatan 2 CT

Metering Proteksi

Gambar 15 Pengawatan 2 CT

 Diagram Pengawatan CT

CT 1 CT 2 CT 3
P1 P2 P1 P2 P1 P2

1S1 1S2 2S1 2S2 1S1 1S2 2S1 2S2 1S1 1S2 2S1 2S2

Metering Proteksi

Gambar 16 Diagram pengawatan CT

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 8


 Pengawatan 3 CT (3P-4W) Metering

CT 1 CT 2 CT 3

Metering Proteksi

Gambar 17 Pengawatan 3 CT (3P-4W) Metering

 Pengawatan Me 3P - 3W
EDMI MK6

CT

20000 Volt
PT
100 Volt

Gambar 18 Pengawatan ME 3P - 3W EDMI MK6

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 9


 Pengawatan ME 3P - 3W
ACTARIS / ITRON SL 7K

CT

20000 Volt
PT
100 Volt

Gambar 19 Pengawatan ME 3P - 3W ACTARIS / ITRON SL 7K

 Pengawatan ME 3P - 4W
EDMI MK6

CT

PT 20000/3 Volt

100/3 Volt

Gambar 20 Pengawatan ME 3P - 4W EDMI MK6

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 10


 Pengawatan ME 3P - 4W
ACTARIS / ITRON SL 7K

CT

20000/3 Volt
PT

Gambar 21 Pengawatan ME 3P - 4W ACTARIS / ITRON SL 7K

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 11


 Pengawatan ME 3P - 4W
LANDIS+ GYR

CT

20000/3 Volt
PT
100/3 Volt

Gambar 22 Pengawatan ME 3P - 4W LANDIS+ GYR

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 12


 PENGAWATAN ME 3P - 4W
MODIFIKASI 3P – 3W 2 CT – 2 PT EDMI MK6

Nol meter tidak boleh disambung.

Nol meter
tidak boleh
CT disambung

PT 20000 Volt
100 Volt

Gambar 23 PENGAWATAN ME 3P - 4W Modifikasi 3P – 3W 2 CT – 2 PT EDMI MK6

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 13


 Pengawatan ME 3P - 4W
MODIFIKASI 3P – 3W 2 CT – 2 PT
Nol meter tidak boleh disambung.

Nol meter
tidak boleh
CT

20000
PT
100 Volt

Gambar 24 Pengawatan ME 3P - 4W Modifikasi 3P – 3W 2 CT – 2 PT

 PENGAWATAN ME 3P - 4W
MODIFIKASI 3P – 3W 2 CT – 3 PT

CT

20000/3 Volt
PT
100/3 Volt

Gambar 25 PENGAWATAN ME 3P - 4W MODIFIKASI 3P – 3W 2 CT – 3 PT

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 14


 PENGAWATAN CT KE OCR

L
1

L
CT 2 OCR

L
3

I
0
Power
Kontak Rele suplay

Gambar 26 Pengawatan CT KE OCR

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 15


4.3 Soal Latihan

Jawablah pertanyaan dibawah ini dengan singkat ?

1. Jelaskan system pengawatan pengukuran langsung?


2. Jelaskan system pengawatan pengukuran tidak langsung TR?
3. Jelaskan system pengawatan pengukuran tidak langsung TM?
4. Jelaskan system pengawatan CT?
5. Jelaskan system pengawatan PT?

Pilihlah jawaban yang paling benar ?

1. Manfaat diagram adalah untuk :

a. Mengetahui hubungan antar terminal yang disambungkan..


b. Membantu pelaksanaan pemasangan peralatan atau instalasi
a. Untuk memudahkan mencari atau menelusuri gangguan
b. Jawaban semuanya benar.

2. Pernyataan meter kWh yang benar, kecuali :

a. Alat ukur integrasi yang digunakan untuk mengukur besarnya energi aktif yang
digunakan pelanggan dalam satuan kilowat jam (kWh)
b. Pada meter kWh LPB menggunakan pulsa dan kalau listriknya dipakai pulsa akan
berkurang, kalau pulsanya habis relainya akan cut off.
c. Pada meter kWh elektro mekanik yang mempunyai tarip ganda harus dilengkapi
dengan saklar waktu (time switch) untuk menunjukan pemakaian kWh pada beban
puncak (WBP) dan luar bebean puncak (LWBP).
d. Waktu beban puncak adalah jam 22.00 s/d 18. 00, sedangkan luar beban puncak
jam 18.00 s/d jam 22.00.

3. Pada kwh meter 3 phasa 4 kawat , maka kumparan arusnya terdiri dari :

a. 2 set
b. 4 set
c. 3 set
d. 1 set

4. Bagian bagian yang terdapat didalam KWH meter elektromekanik adalah, kecuali :

a. Kumparan Arus

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 16


b. Rem Magnit
c. Kumparan Tegangan
d. Timah segel

5. Kwh meter kelas 1 dipakai untuk pengukuran :

a. primer (tanpa trafo ukur)


b. skunder (memakai trafo ukur)
c. langsung
d. Tidak ada yang benar

6. Alat bantu yang digunakan dalam pengukuran yang menggunakan KWH meter adalah :

a. Semua jawaban benar


b. Trafo Arus
c. Trafo Tegangan
d. Time Switch

7. Pada kwh meter 3 phasa 4 kawat , maka kumparan tegangannya terdiri dari :

a. 3 set
b. 4 set
c. 1 set
d. 2 set

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 17


Mata Pelajaran 5

PEMERIKSAAN DAN
PENGUJIAN APP
5. PEMERIKSAAN DAN PENGUJIAN
APP

TUJUAN PELAJARAN : Setelah mengikuti mata pelajaran ini peserta mampu


memahami dan menjelaskan Pemeriksaan dan
Pengujian APP dengan baik dan benar sesuai
Standar Perusahaan

DURASI : 6 JP

PENYUSUN : 1. Rijanto (Purnakarya PLN)


2. Fadjar Kurniadi (PLN Udiklat Pandaan)
3. Eko Suprianto (PLN Distribuasi Jatim)
4. Raihan Amin S (PLN Udiklat Pandaan)
DAFTAR ISI

TUJUAN PELAJARAN ..............................................................................................................i


DAFTAR ISI ..............................................................................................................................ii
DAFTAR GAMBAR ..................................................................................................................iii
5.1. Pemeriksaan Dan Pengujian .............................................................................................1
5.2. Analisa Dan EvaluasiSalah Pengawatan Pada Meter3 fasa – 4 kawat ..............................1
5.3. Soal Latihan ...................................................................................................................15

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal ii


DAFTAR GAMBAR

Gambar 1 Diagram pengawatan meter 3P – 4W ....................................................................... 1


Gambar 2 Phasor di meter 3P – 4W .......................................................................................... 2
Gambar 3 Diagram pengawatan meter 3p – 4w Urutan fase terbalik ......................................... 3
Gambar 4 Phasor di meter 3P – 4W Urutan fase terbalik........................................................... 3
Gambar 5 Diagram pengawatan meter 3P – 4W Arus fase R-tegangan fase S, arus fase S-
tegangan fase R ........................................................................................................................ 4
Gambar 6 Phasor di meter 3P – 4W Arus fase R-tegangan fase S, arus fase S-tegangan fase
R................................................................................................................................................ 4
Gambar 7 Diagram pengawatan meter 3P – 4W Arus fase R-tegangan fase S, arus fase S-
tegangan fase R, arus fase T-tegangan fase T Polaritas arus fase R dan fase S dibalik ........... 5
Gambar 8 Phasor di meter 3P – 4W Arus fase R-tegangan fase S, arus fase S-tegangan fase
R, arus fase T-tegangan fase T Polaritas arus fase R dan fase S dibalik ................................... 6
Gambar 9 Diagram pengawatan meter 3P – 4W Arus fase R-tegangan fase T, arus fase S-
tegangan fase R, arus fase T-tegangan fase S ......................................................................... 7
Gambar 10 Phasor di meter 3P – 4W Arus fase R-tegangan fase T, arus fase S-tegangan fase
R, arus fase T-tegangan fase S ................................................................................................ 7
Gambar 11 Diagram pengawatan meter 3P – 4W Arus fase R-tegangan fase S, arus fase S-
tegangan fase T, arus fase T-tegangan fase R ......................................................................... 8
Gambar 12 Phasor di meter 3P – 4W Arus fase R-tegangan fase S, arus fase S-tegangan fase
T, arus fase T-tegangan fase R ................................................................................................ 9
Gambar 13 Diagram pengawatan meter 3P – 4W S2 CT fase S dan T tidak terhubung dengan
terminal keluar meter (6-9)...................................................................................................... 10
Gambar 14Phasor di meter 3P – 4W S2 CT fase S dan T tidak terhubung dengan terminal
keluar meter (6-9) ................................................................................................................... 10
Gambar 15 Diagram pengawatan meter 3P – 4W Polaritas arus fase R terbalik ..................... 11
Gambar 16 Phasor di meter 3P – 4W Polaritas arus fase R terbalik ........................................ 12
Gambar 17 Diagram pengawatan meter 3P – 4W Polaritas arus fase R , S dan T terbalik ...... 13
Gambar 18 Phasor di meter 3P – 4W Polaritas arus fase R , S dan T terbalik ......................... 13

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal iii


PEMERIKSAAN DAN PENGUJIAN APP

5.1. Pemeriksaan Dan Pengujian

APP yang telah selesai dipasang harus diperiksa, untuk mengetahui apakah hasil
pemasangannya telah sesuai dengan permintaan kontrak. Bila pemasangan salah akan
mengakibatkan pengukuran yang tidak benar, akibatnya akan timbul losses atau kerugian bagi
PLN.

Pemeriksaan hasil pemasangan APP adalah serangkaian kegiatan pemeriksaan untuk


meyakinkan bahwa pemasangan APP baru yang dipasang ini telah berfungsi sebagaimana
mestinya dan memenuhi persyaratan standard dan siap untuk dioperasikan.

Hal – hal yang perlu diperiksa adalah:

 Memeriksa visual meter


 Memeriksa pengawatan
 Memeriksa resistans isolasi
 Memeriksa urutan fase
 Memeriksa sirkit arus
 Memeriksa putaran piringan
 Pengujian Relay / Tarif Ganda

5.2. Analisa Dan EvaluasiSalah Pengawatan Pada Meter3 fasa – 4 kawat

 Diagram pengawatan meter 3P – 4W

Gambar 1 Diagram pengawatan meter 3P – 4W

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 1


Phasor di meter 3P – 4W

Gambar 2 Phasor di meter 3P – 4W

 Pengukuran di meter 3P – 4W

Daya Aktif (Watt)

P1 = VR * IR * Cos ( IR (0o)-  VR (0o))


P2 = VS * IS * Cos ( IS (120o) -  VS(120o))
P3 = VT * IT * Cos ( IT (240o) -  VT(240o))
Ptotal = P1 + P2 + P3

Daya Reaktif (Var)

Q1 = VR * IR * Sin (IR (0o) - VR (0o))


Q2 = VS * IS * Sin (IS (120o) - VS (120o))
Q3 = VT * IT * Sin (IT (240o) - VT (240o))
Qtotal = Q1 + Q2 + Q3

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 2


 Diagram pengawatan meter 3P – 4W Urutan fase terbalik

Gambar 3 Diagram pengawatan meter 3p – 4w Urutan fase terbalik

Phasor di meter 3P – 4W

Gambar 4 Phasor di meter 3P – 4W Urutan fase terbalik

 Pengukuran di meter 3P – 4W

Daya Aktif (Watt)

P1 = VR * IR * Cos ( IR (0o)-  VR (0o))


P2 = VS * IS * Cos ( IS (240o) -  VS(240o))
P3 = VT * IT * Cos ( IT (120o) -  VT(120o))
Ptotal = P1 + P2 + P3

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 3


Daya Reaktif (Var)

Q1 = VR * IR * Sin (IR (0o) - VR (0o))


Q2 = VS * IS * Sin (IS (240o) - VS (240o))
Q3 = VT * IT * Sin (IT (120o) - VT (120o))
Qtotal = Q1 + Q2 + Q3

 Diagram pengawatan meter 3P – 4W Arus fase R-tegangan fase S, arus fase S-


tegangan fase R, Arus fase T-tegangan fase T

Gambar 5 Diagram pengawatan meter 3P – 4W Arus fase R-tegangan fase S, arus fase S-tegangan fase R

Phasor di meter 3P – 4W

Gambar 6 Phasor di meter 3P – 4W Arus fase R-tegangan fase S, arus fase S-tegangan fase R

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 4


 Pengukuran pada meter

Daya Aktif (Watt)

P1 = VR * IR * Cos ( IR (240o) -  VR (0o)) =1.1.-0,5 = -0,5


P2 = VS * IS * Cos ( IS (0 ) - VS(240 ))
o o
= 1.1. -0,5 = -0,5
P3 = VT * IT * Cos ( IT (120 ) - VT(120 ))
o o
= 1.1. 1 =1
Ptotal = P1 + P2 + P3 = - 0,5 + (– 0,5) + 1 =0

Daya Reaktif (Var)

Q1 = VR * IR * Sin (IR (240o) - VR (0o))


Q2 = VS * IS * Sin (IS (0o) - VS (240o))
Q3 = VT * IT * Sin (IT (120o) - VT (120o))
Qtotal = Q1 + Q2 + Q3

 Arus fase R-tegangan fase S, arus fase S-tegangan fase R, arus fase T-tegangan
fase TPolaritas arus fase R dan fase S dibalik

Gambar 7 Diagram pengawatan meter 3P – 4W Arus fase R-tegangan fase S, arus fase S-tegangan fase R, arus fase T-
tegangan fase T Polaritas arus fase R dan fase S dibalik

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 5


Phasor di meter 3P – 4W

Gambar 8 Phasor di meter 3P – 4W Arus fase R-tegangan fase S, arus fase S-tegangan fase R, arus fase T-tegangan fase T
Polaritas arus fase R dan fase S dibalik

 Pengukuran pada meter

Daya Aktif (Watt)

P1 = VR * IR * Cos ( IR (60o)-  VR (0o))


P2 = VS * IS * Cos ( IS (180o) -  VS(240o))
P3 = VT * IT * Cos ( IT (120o) -  VT(120o))
Ptotal = P1 + P2 + P3

Daya Reaktif (Var)

Q1 = VR * IR * Sin (IR (60o) - VR (0o))


Q2 = VS * IS * Sin (IS (180o) - VS (240o))
Q3 = VT * IT * Sin (IT (120o) - VT (120o))
Qtotal = Q1 + Q2 + Q3

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 6


 Arus fase R-tegangan fase T, arus fase S-tegangan fase R, arus fase T-tegangan
fase S

Gambar 9 Diagram pengawatan meter 3P – 4W Arus fase R-tegangan fase T, arus fase S-tegangan fase R, arus fase T-
tegangan fase S

Phasor di meter 3P – 4W

Gambar 10 Phasor di meter 3P – 4W Arus fase R-tegangan fase T, arus fase S-tegangan fase R, arus fase T-tegangan fase S

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 7


 Pengukuran pada meter

Daya Aktif (Watt)

P1 = VR * IR * Cos ( IR (120o)-  VR (0o))


P2 = VS * IS * Cos ( IS (240o) -  VS(120o))
P3 = VT * IT * Cos ( IT (0o) -  VT(240o))
Ptotal = P1 + P2 + P3

Daya Reaktif (Var)

Q1 = VR * IR * Sin (IR (120o) - VR (0o))


Q2 = VS * IS * Sin (IS (240o) - VS (120o))
Q3 = VT * IT * Sin (IT (0o) - VT (240o))
Qtotal = Q1 + Q2 + Q3

 Arus fase R-tegangan fase S, arus fase S-tegangan fase T, arus fase T-tegangan
fase R

Gambar 11 Diagram pengawatan meter 3P – 4W Arus fase R-tegangan fase S, arus fase S-tegangan fase T, arus fase T-
tegangan fase R

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 8


Phasor di meter 3P – 4W

Gambar 12 Phasor di meter 3P – 4W Arus fase R-tegangan fase S, arus fase S-tegangan fase T, arus fase T-tegangan fase R

 Pengukuran pada meter

Daya Aktif (Watt)

P1 = VR * IR * Cos ( IR (240o)-  VR (0o))


P2 = VS * IS * Cos ( IS (0o) -  VS(120o))
P3 = VT * IT * Cos ( IT (120o) -  VT(240o))
Ptotal = P1 + P2 + P3

Daya Reaktif (Var)

Q1 = VR * IR * Sin (IR (240o) - VR (0o))


Q2 = VS * IS * Sin (IS (0o) - VS (120o))
Q3 = VT * IT * Sin (IT (120o) - VT (240o))
Qtotal = Q1 + Q2 + Q3

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 9


 Arus fase R-tegangan fase R, arus fase S-tegangan fase S, arus fase T-tegangan
fase T

S2 CT fase S dan T tidak terhubung dengan terminal keluar meter (6-9)

Gambar 13 Diagram pengawatan meter 3P – 4W S2 CT fase S dan T tidak terhubung dengan terminal keluar meter (6-9)

Phasor di meter 3P – 4W

Gambar 14Phasor di meter 3P – 4W S2 CT fase S dan T tidak terhubung dengan terminal keluar meter (6-9)

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 10


 Pengukuran pada meter

Daya Aktif (Watt)

P1 = VR * IR * Cos ( IR (0o)-  VR (0o))


P2 = VS * IS * Cos ( IS (90o) -  VS(120o))
P3 = VT * IT * Cos ( IT (270o) -  VT(240o))
Ptotal = P1 + P2 + P3

Daya Reaktif (Var)

Q1 = VR * IR * Sin (IR (0o) - VR (0o))


Q2 = VS * IS * Sin (IS (90o) - VS (120o))
Q3 = VT * IT * Sin (IT (270o) - VT (240o))
Qtotal = Q1 + Q2 + Q3

 Arus fase R-tegangan fase R, arus fase S-tegangan fase S, Arus fase T-tegangan
fase TPolaritas arus fase R terbalik

Gambar 15 Diagram pengawatan meter 3P – 4W Polaritas arus fase R terbalik

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 11


Phasor di meter 3P – 4W

Gambar 16 Phasor di meter 3P – 4W Polaritas arus fase R terbalik

 Pengukuran pada meter

Daya Aktif (Watt)

P1 = VR * IR * Cos ( IR (180o) -  VR (0o))


P2 = VS * IS * Cos ( IS (120o) -  VS(120o))
P3 = VT * IT * Cos ( IT (240o) -  VT(240o))
Ptotal = P1 + P2 + P3

Daya Reaktif (Var)

Q1 = VR * IR * Sin (IR (180o) - VR (0o))


Q2 = VS * IS * Sin (IS (120o) - VS (120o))
Q3 = VT * IT * Sin (IT (240o) - VT (240o))
Qtotal = Q1 + Q2 + Q3

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 12


 Arus fase R-tegangan fase R, arus fase S-tegangan fase S, Arus fase T-tegangan
fase TPolaritas arus fase R , S dan T terbalik

Gambar 17 Diagram pengawatan meter 3P – 4W Polaritas arus fase R , S dan T terbalik

Phasor di meter 3P – 4W

Gambar 18 Phasor di meter 3P – 4W Polaritas arus fase R , S dan T terbalik

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 13


 Pengukuran pada meter

Daya Aktif (Watt)

P1 = VR * IR * Cos ( IR (180o) -  VR (0o))


P2 = VS * IS * Cos ( IS (300o) -  VS(120o))
P3 = VT * IT * Cos ( IT (60o) -  VT(240o))
Ptotal = P1 + P2 + P3

Daya Reaktif (Var)

Q1 = VR * IR * Sin (IR (180o) - VR (0o))


Q2 = VS * IS * Sin (IS (300o) - VS (120o))
Q3 = VT * IT * Sin (IT (60o) - VT (240o))
Qtotal = Q1 + Q2 + Q3

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 14


5.3. Soal Latihan

Pilihlah jawaban yang paling benar ?

1. Hal – hal yang perlu diperiksa APP kecuali:

a. Memeriksa visual meter

b. Memeriksa pengawatan

c. Memeriksa instalasi rumah pelannggan

d. Memeriksa urutan fase

2. Diagram pengawatan meter 3P – 4W Arus fase R-tegangan fase S, arus fase S-


tegangan fase R, Arus fase T-tegangan fase T, maka :
a. Ptotal = -0,5
b. Ptotal = +0,5
c. Ptotal = +1
d. Ptotal = 0
3. Diagram pengawatan meter 3P – 4W Arus fase R-tegangan fase S, arus fase S-
tegangan fase R, arus fase T-tegangan fase TPolaritas arus fase R dan fase S dibalik,
maka Daya Aktif (Watt) :
a. P1 = VR * IR * Cos ( IR (60o)-  VR (0o))
b. P2 = VS * IS * Cos ( IS (180o) -  VS(240o))
c. P3 = VT * IT * Cos ( IT (120o) -  VT(120o))
d. Benar semua
4. Pemeriksaan hasil pemasangan APP adalah :
a. Serangkaian kegiatan pemeriksaan untuk meyakinkan bahwa pemasangan APP
baru yang dipasang ini telah berfungsi sebagaimana mestinya
b. Memenuhi persyaratan standard
c. Siap untuk dioperasikan
d. Semuanya benar
5. Tujuan dari pembelajaran ini adalah setelah mengikuti mata pelajaran ini peserta
mampu memahami dan menjelaskan :
a. Pemeriksaan dan Pengujian APP dengan baik dan benar sesuai Standar
Perusahaan
b. Pemeriksaan APP dengan baik dan benar sesuai Standar Perusahaan
c. Pengujian APP dengan baik dan benar sesuai Standar Perusahaan
d. APP dengan baik dan benar sesuai Standar Perusahaan

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 15


Mata Pelajaran 5

PENGOPERASIAN DAN
PEMELIHARAAN APP
5. PENGOPERASIAN DAN
PEMELIHARAAN APP

TUJUAN PELAJARAN : Setelah mengikuti mata pelajaran ini peserta


mampu memahami dan menjelaskan Pengoperasian
dan pemeliharaan APP dengan baik dan benar
sesuai Standar Perusahaan

DURASI : 4 JP

PENYUSUN : 1. Rijanto (Purnakarya PLN)


2. Fadjar Kurniadi (PLN Udiklat Pandaan)
3. Eko Suprianto (PLN Distribuasi Jatim)
4. Raihan Amin S (PLN Udiklat Pandaan)
DAFTAR ISI

TUJUAN PELAJARAN ..............................................................................................................i


DAFTAR ISI ..............................................................................................................................ii
DAFTAR GAMBAR ..................................................................................................................iii
DAFTAR TABEL ......................................................................................................................iv
5.1. Sistem Pengoperasian Meter TM & TR ...........................................................................1
5.1.1. SOP Pemasangan/Penggantian Meter ............................................................................................. 1
5.1.2. Pengawatan ..................................................................................................................................... 2
5.1.3. Commissioning ................................................................................................................................. 9
5.2. Pemeliharaan Alat Pengukur dan Pembatas .................................................................10
5.3. Pemeliharaan Preventif APP .........................................................................................11
5.3.1. Pemeliharaan Meter ...................................................................................................................... 11
5.3.2. Pemeliharaan Trafo Arus (CT) dan Trafo Tegangan (PT)................................................................ 11
5.3.3. Pemeliharaan Sistem Pengawatan ................................................................................................ 14
5.3.4. Pemeliharaan Pembatas ................................................................................................................ 15
5.3.5. Pemeliharaan Perlengkapan APP ................................................................................................... 16
5.4. Pemeliharaan Korektif ...................................................................................................17
5.5. Soal Latihan ..................................................................................................................18

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal ii


DAFTAR GAMBAR

Gambar 1 Pengawatan Standar 3P-4W Semua Meter Dengan 3PT – 3CT ............................... 2
Gambar 2 Pengawatan 3P-3W Meter EDMI Dengan 3PT – 2CT ............................................... 2
Gambar 3 Pengawatan 3P-3W Meter Actaris Dengan 3PT – 2CT ............................................. 3
Gambar 4 Pengawatan 3P-3W Meter LANDYS+GYR Dengan 3PT – 2CT ................................ 3
Gambar 5 Pengawatan Standar 3P-4W Semua Meter Dengan 2PT–3CT ................................. 4
Gambar 6 Pengawatan 3P-3W Meter EDMI Dengan 2PT – 2CT ............................................... 4
Gambar 7 Pengawatan 3P-3W Meter ACTARIS Dengan 2PT – 2CT......................................... 5
Gambar 8 Pengawatan 3P-3W Meter LANDYS+GYR Dengan 2PT – 2CT ................................ 5
Gambar 9 Pengawatan meter TM pengawatan terbalik ............................................................. 6
Gambar 10 Pengawatan meter TM pengawatan terbalik ........................................................... 7
Gambar 11 Pengawatan meter TM pengawatan terbalik ........................................................... 8
Gambar 12 Perbedaan Wiring - Setting ..................................................................................... 8
Gambar 13 Form standart setting meter .................................................................................... 9
Gambar 14 Form instantaneous .............................................................................................. 10
Gambar 15 Rangkaian Pengujian Ratio CT ............................................................................. 12
Gambar 16 Kurva waktu trip pembatas VS arus beban ........................................................... 16

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal iii


DAFTAR TABEL

Tabel 1 Bagan alur proses penggantian meter elektronik dengan pola supply errect ................. 1
Tabel 2 Unjuk kerja pembatas ................................................................................................. 15

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal iv


5.1. Sistem Pengoperasian Meter TM & TR
5.1.1. SOP Pemasangan/Penggantian Meter
Tabel 1 Bagan alur proses penggantian meter elektronik dengan pola supply errect

BAGAN ALUR PROSES PENGGANTIAN METER ELEKTRONIK


DENGAN POLA SUPPLY ERRECT

PIHAK KETIGA
NO URAIAN KEGIATAN KANTOR DISTRIBUSI KANTOR APJ/AJ
(REKANAN)

1 Penanda tanganan kontrak perjanjian (SPK)

2 Penyiapan material Meter Elektronik &


kelengkapannya

3 Parameterisasi meter elektronik & pengaktifan


pengaman (jumper sw itch) serta pengujian
ketelitian secara sampling

4 Peneraan & penyegalan oleh dinas metrologi

5 Penyimpanan sementara meter elektronik


yang telah tersegel metrologi ke gudang APJ/AJ

6 Pelaksanaan penggantian meter mekanik ke


meter elektronik.
- Pembuatan/persetujuan Perintah Kerja (PK)
- Com issioning m eter & kom unikasinya
- Pembuatan Berita Acara penggantian
- Pembuatan/pengisian PDL via CMS
- Registrasi data pelanggan ke dalam data
base server AMR APJ/AJ.

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 1


5.1.2. Pengawatan

Salah satu faktor utama yang menyebabkan APP dapat bekerja dengan baik untuk mengukur
energi listrik dan membatasi daya sesuai kontrak adalah sistem pengawatannya. Berikut ini
adalah sistem pengawatan APP:

Pengawatan Meter TM

 Pengawatan Standar 3P-4W Semua Meter Dengan 3PT – 3CT

1 2 3 4 5 6 7 8 9

a a a

b b b

B B B

s1 s2
A A A
R
P1 P2

s1 s2

S
P1 P2
s1 s2

T
P1 P2

Gambar 1 Pengawatan Standar 3P-4W Semua Meter Dengan 3PT – 3CT

 Pengawatan 3P-3W Meter EDMI Dengan 3PT – 2CT

1 2 3 4 5 6 7 8 9

a a a

b b b
B B B

s1 s2
A A A
R
P P
1 2

s1 s2

T
P P
1 2

Gambar 2 Pengawatan 3P-3W Meter EDMI Dengan 3PT – 2CT

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 2


 Pengawatan 3P-3W Meter Actaris Dengan 3PT – 2CT

1 2 3 4 5 6 7 8 9

a a a

b b b
B B B

s1 s2
A A A
R P2
P1

s1 s2

T P1 P2

Gambar 3 Pengawatan 3P-3W Meter Actaris Dengan 3PT – 2CT

 Pengawatan 3P-3W Meter LANDYS+GYR Dengan 3PT – 2CT

1 2 3 4 5 6 7 8 9

a a a

b b b
B B B

s1 s2
A A A
R
P1 P2

s1 s2

T
P1 P2

Gambar 4 Pengawatan 3P-3W Meter LANDYS+GYR Dengan 3PT – 2CT

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 3


 Pengawatan Standar 3P-4W Semua Meter Dengan 2PT–3CT

1 2 3 4 5 6 7 8 9

a b a b

A B A B s2
s1

R
P1 P2

s1 s2

S
P1 P2

s1 s2

T
P1 P2

Gambar 5 Pengawatan Standar 3P-4W Semua Meter Dengan 2PT–3CT

 Pengawatan 3P-3W Meter EDMI Dengan 2PT – 2CT

1 2 3 4 5 6 7 8 9

a b a b

A B A B s1 s2

R
P1 P2

s1 s2

T
P1 P2

Gambar 6 Pengawatan 3P-3W Meter EDMI Dengan 2PT – 2CT

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 4


 Pengawatan 3P-3W Meter ACTARIS Dengan 2PT – 2CT

1 2 3 4 5 6 7 8 9

a b a b

A B A B s2
s1

R
P1 P2

s1 s2

T
P1 P2

Gambar 7 Pengawatan 3P-3W Meter ACTARIS Dengan 2PT – 2CT

 Pengawatan 3P-3W Meter LANDYS+GYR Dengan 2PT – 2CT

1 2 3 4 5 6 7 8 9

a b a b

A B A B s2
s1

R
P1 P2

s1 s2

T
P1 P2

Gambar 8 Pengawatan 3P-3W Meter LANDYS+GYR Dengan 2PT – 2CT

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 5


 Pengawatan Meter TM Pengawatan Terbalik

Gambar 9 Pengawatan meter TM pengawatan terbalik

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 6


Gambar 10 Pengawatan meter TM pengawatan terbalik

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 7


Gambar 11 Pengawatan meter TM pengawatan terbalik

 Perbedaan Wiring – Setting

SETTING DATA ENERGI DATA PENGUKURAN


WIRING TANGGAL
NO KONF. PHASOR Export Import Export Import TEGANGAN (V) ARUS (A)
METER JAM COS PHI
METER Wh Wh Varh Varh R S T R S T

5/23/2008 16:00 413.42 0 2.81 1.49 106.07 0 105.27 4.57 0 4.93 -0.98

1 3P-3W 3P-4W 5/23/2008 16:30 409.43 0 3.8 0.04 106.2 65.67 105.44 4.55 2.53 4.86 -0.92

5/23/2008 17:00 413.71 0 5.06 0 106.18 105.57 105.44 4.6 4.11 4.9 -1.00

5/23/2008 16:00 405.73 0.00 2.85 1.61 106.24 105.56 105.43 4.48 4.05 4.83 -1.00

2 3P-3W 3P-3W 5/23/2008 16:30 410.16 0.00 3.70 0.05 106.35 105.71 105.59 4.56 4.06 4.86 -1.00

5/23/2008 17:00 414.33 0.00 4.65 0.00 106.34 105.72 105.60 4.60 4.11 4.91 -1.00

Gambar 12 Perbedaan Wiring – Setting

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 8


5.1.3. Commissioning

Pekerjaan commissioning dilaksanakan setelah pemasangan APP, dengan tujuan memastikan


bahwa pemasangan APP telah dilakukan dengan benar dan APP bekerja dengan baik.

Form Comissioning Untuk Quality Control Pemasangan ME

Gambar 13 Form standart setting meter

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 9


Gambar 14 Form instantaneous

5.2. Pemeliharaan Alat Pengukur dan Pembatas

Pemeliharaan terhadap Alat Pengukur dan Pembatas (APP) harus dilakukan secara rutin per-
periode waktu tertentu yang sudah ditentukan oleh masing-masing unit PT PLN (Persero),
bertujuan untuk:

a. Menjaga akurasi titik pengukuran sebagai usaha penekanan susut.


b. Menjaga unjuk kerja pembatas/pengaman.
c. Mengidentifikasi permasalahan yang terjadi pada APP dan cara penanganannya.
d. Menyelamatkan dan meningkatkan pendapatan (revenue) perusahaan.

Setiap pekerjaan pemeliharaan terhadap sebagian dan atau seluruh APP harus dibuat Berita
Acara Pemeliharaan APP.

Berita Acara tersebut dibandingkan dengan Data Induk Langganan untuk pemutakhiran data.

Pemeliharaan APP meliputi pemeliharaan preventif dan korektif. Pemeliharaan preventif adalah
pemeriksaan APP secara berkala untuk memastikan bahwa fungsi APP bekerja dengan baik.
Pemeliharaan korektif adalah tindakan perbaikan terhadap gangguan atau kerusakan terhadap
material APP dengan tujuan agar APP berfungsi kembali dengan baik.

Secara umum pemeliharaan terhadap APP harus dilakukan upaya pembersihan APP dari
segala macam kotoran, debu dan lain-lain yang dapat mengganggu fungsi APP.

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 10


5.3. Pemeliharaan Preventif APP
5.3.1. Pemeliharaan Meter

Pemeliharaan terhadap meter dilakukan untuk tetap menjaga akurasi pengukuran energi pada
sistem pengukuran langsung dan sistem pengukuran tidak langsung.

Pemeliharaan terhadap meter meliputi:

A. Pemeriksaan Fisik Meter (secara visual)

Pemeriksaan fisik meter bertujuan untuk melihat kondisi meter energi secara visual atau
tampak mata. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pemeriksaan ini antara lain:

Tahun pembuatan meter energi, maksudnya adalah jika didapati tahun pembuatan meter
energi yang terpasang ± 10 (sepuluh) tahun maka dianjurkan untuk dilakukan tera ulang atau
penggantian meter.

Kondisi meter energi, maksudnya untuk melihat apakah fisik meter dalam kondisi baik atau
tidak. Hal ini dilakukan untuk mengidentifikasi dengan segera jikalau terjadi kerusakan pada
meter diakibatkan oleh gangguan internal/teknis dan atau gangguan eksternal/nonteknis,
sehingga dapat dilakukan proses penyelesaian terhadap masalah/gangguan yang terjadi.

Kondisi segel meter, maksudnya untuk melihat apakah kondisi segel masih baik.

Jika permasalahan pada meter energi diakibatkan oleh gangguan internal/teknis maka
penyelesaiannya adalah dengan pemeliharaan dan atau P2TL bertujuan untuk mendapatkan
tagihan energi terpakai namun tidak terukur oleh meter energi.

Jika permasalahan pada meter energi diakibatkan oleh gangguan eksternal/nonteknis maka
penyelesaiannya adalah dengan proses P2TL.

B. Pemeriksaan Error Meter Energi

Pemeriksaan error dilakukan untuk mengetahui tingkat akurasi meter apakah masih berada
dikelasnya atau tidak.Pemeriksaan error meter energi dapat dilakukan dengan cara manual
ataupun dengan bantuan alat khusus.

5.3.2. Pemeliharaan Trafo Arus (CT) dan Trafo Tegangan (PT)

Sebagaimana telah diketahui bersama bahwa peranan CT dan PT sangat penting dalam
sistem pengukuran karena keakuratan trafo instrument ini sangat menentukan tingkat akurasi
pengukuran oleh meter energi.

Oleh karena itu, pemeliharaan berkala terhadap trafo instrument ini juga harus diprioritaskan
untuk tetap menjaga akurasinya.

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 11


Pemeliharaan terhadap CT dan PT meliputi:

A. Pemeriksaan dan pemeliharaan fisik tampak mata (visual) pada CT dan PT.
Pekerjaan pemeliharaan ini bertujuan untuk:
1. Memeriksa kondisi body CT dan PT.
2. Memeriksa kondisi titik sambung pada CT dan PT.
3. Membersihkan kotoran/debu pada CT dan PT.

B. Pengujian error ratio CT


1. Catat data yang tertera pada nameplate CT (merk, tipe, ratio pengenal CT)
2. Lakukan pengujian dengan injeksi arus primer secara bertahap mulai dari 20%, 40%,
60%, 80% dan 100% dari arus primer pengenal CT.
3. Ukur dan catat arus keluaran pada sisi sekunder CT.

INJEKSI PENGUKURAN
ARUS A A ARUS
PRIMER SEKUNDER

CT YANG DIUJI

Gambar 15 Rangkaian Pengujian Ratio CT

4. Hitung error dengan membandingkan arus pengenal dan arus terukur.


5. Tuangkan hasil uji kedalam form pengujian error ratio CT

CONTOH FORM PENGUJIAN ERROR RATIO CT

PHASA R
ARUS TERUKUR ERROR RATIO
ARUS UJI
NO. SISI SEKUNDER CT (%)
PRIMER (A)
(A)
………………..
1 20% x In CT ………………..

………………..
2 40% x In CT ………………..

………………..
3 60% x In CT ………………..

………………..
4 80% x In CT ………………..

………………..
5 100% x In CT ………………..

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 12


PHASA S
ARUS TERUKUR ERROR RATIO
ARUS UJI
NO. SISI SEKUNDER CT (%)
PRIMER (A)
(A)
………………..
1 20% x In CT ………………..

………………..
2 40% x In CT ………………..

………………..
3 60% x In CT ………………..

………………..
4 80% x In CT ………………..

………………..
5 100% x In CT ………………..

PHASA T
ARUS TERUKUR ERROR RATIO
ARUS UJI
NO. SISI SEKUNDER CT (%)
PRIMER (A)
(A)
………………..
1 20% x In CT ………………..

………………..
2 40% x In CT ………………..

………………..
3 60% x In CT ………………..

………………..
4 80% x In CT ………………..

………………..
5 100% x In CT ………………..

6. Buat laporan analisa dan evaluasi serta rekomendasi saran penanganan masalah.

C. Pengujian error ratio PT.


1. Catat data yang tertera pada nameplate PT (merk, tipe, ratio pengenal PT).
2. Lakukan pengujian dengan pemberian tegangan uji pada sisi primer PT.
3. Ukur dan catat tegangan keluaran pada sisi sekunder PT.
4. Hitung error dengan membandingkan tegangan pengenal dan tegangan terukur.
5. Tuangkan hasil uji kedalam form pengujian error ratio PT.

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 13


CONTOH FORM PENGUJIAN ERROR RATIO PT
PHASA R
TEGANGAN ERROR RATIO PT
TEGANGAN UJI
NO. TERUKUR SISI (%)
(V)
SEKUNDER (V)
………………..
1 …………………. ………………..

PHASA S
TEGANGAN ERROR RATIO PT
TEGANGAN UJI
NO. TERUKUR SISI (%)
(V)
SEKUNDER (V)
………………..
1 …………………. ………………..

PHASA T
ERROR RATIO PT
TEGANGAN UJI TEGANGAN TERUKUR
NO. (%)
(V) SISI SEKUNDER (V)

………………..
1 …………………. ………………..

6. Buat laporan analisa dan evaluasi serta rekomendasi saran penanganan masalah.

Pengukuran Burden yang Dibebankanpada CT dan PT

Pengukuran burden CT dan PT dimaksudkan untuk mengetahui besar burden (VA) sistem
pengawatan, meter energi, rele pembatas, titik sambung dan sebagainya yang ditanggung oleh
CT dan PT.

Hal ini perlu dilakukan karena besar burden (VA) juga berpengaruh pada tingkat akurasi
pengukuran CT dan PT. Oleh karena itu burden nominal CT dan PT harus selalu disesuaikan
dengan bebannya, artinya burden nominal CT dan PT harus lebih besar dari beban yang
ditanggungnya.

Nilai beban burden yang ditanggung oleh CT dan PT dapat berubah naik seiring berjalannya
waktu oleh karena sangatlah penting untuk secara rutin melakukan pemeliharaan ini sehingga
unjuk kerja CT dan PT tetap baik untuk terus menjaga akurasi pengukuran oleh meter energi.

5.3.3. Pemeliharaan Sistem Pengawatan

Pemeliharaan terhadap sistem pengawatan dilakukan untuk selalu menjaga kondisi fisik kabel
pengawatan dan titik sambung pengawatan baik, karena tidak boleh ada satupun gangguan
dalam menjalankan tugasnya sebagai penghantar arus dan catu tegangan kepada meter
energi untuk mengukur pemakaian energi listrik oleh pelanggan.

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 14


Selain itu pemeliharaan terhadap sistem pengawatan APP juga dilakukan untuk melihat apakah
unjuk kerjanya masih sama dengan kondisi awal dipasang.

Pemeliharaan terhadap pengawatan harus rutin dilakukan untuk mencegah terjadinya


gangguan pada peralatan yang dapat menyebabkan tidak terukurnya energi listrik.

Untuk pengawatan ini dianjurkan untuk menggunakan kabel jenis serabut, maka jika dalam
pemeliharaan ditemui adanya kabel pejal pada sistem pengawatan dan atau didapati
penampang kabel pengawatan arusnya 2.5 mm2 maka temuan tersebut harus segera dibuat
laporannya dan direncanakan untuk dilakukan penggantian dengan kabel jenis serabut dan
penampang ≥ 4 mm2.

5.3.4. Pemeliharaan Pembatas

Pemeliharaan terhadap pembatas meliputi:

1. Pemeliharaan MCB
2. Pemeliharaan MCCB
3. Pemeliharaan Rele Pembatas (overload relay)

Pemeliharaan ini dilakukan untuk mengetahui unjuk kerja pembatas sesuai dengan TDL 2003
yaitu:

Tabel 2 Unjuk kerja pembatas

WAKTU TRIP
ARUS UJI

Tidak trip sebelum 60 menit


1.05 x In

Trip sebelum 20 menit


1.20 x In

Trip sebelum 10 menit


1.50 x In

Koordinasi dengan OCR


4.00 x In

Berdasarkan rumusan berikut:


t  TW  ln  2
 I  2


2 
  I    k  I s  

Dimana:

t = waktu trip pembatas


TW = konstanta thermis
Ln = bilangan logaritma natural

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 15


I = arus beban (uji)
k = konstanta 1.05
Is = arus setting

Kurva Waktu Trip Pembatas VS Arus Beban


100.00

10.00

1.00
1.05 1.20 1.50 4.00

0.10
t trip (menit)

Gambar 16 Kurva waktu trip pembatas VS arus beban

Pemeliharaan terhadap pembatas dilakukan dengan cara mekanis dan elektris.

a. Mekanis : ON/OFF pembatas secara manual


b. Elektris : Uji unjuk kerja pembatas (ON/OFF) dengan bantuan alat.

5.3.5. Pemeliharaan Perlengkapan APP

Pemeliharaan terhadap perlengkapan APP meliputi:

1. Pemeliharaan Kotak APP


2. Pemeliharaan Pipa Pengaman Sistem Pengawatan
3. Pemeliharaan Sistem Pentanahan

Pemeliharaan pada perlengkapan APP juga tidak kalah pentingnya dengan pemeliharaan
lainnya, dikarenakan dampak keamanan terhadap gangguan ekternal yang disebabkan oleh
alam ataupun orang tak bertanggungjawab sering terjadi jika perlengkapan pelindung APP
yang disebutkan diatas tidak dalam kondisi baik.

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 16


5.4. Pemeliharaan Korektif

Pemeliharaan korektif adalah tindakan perbaikan terhadap gangguan atau kerusakan terhadap
material APP dengan tujuan agar APP berfungsi kembali dengan baik. Di dalam pelaksanaan
penggantian material APP yang rusak/terganggu agar berpedoman pada SOP yang ada.

Setelah selesai perbaikan/penggatian, harus dibuat Berita Acara Pemeliharaan dan Berita
Acara perhitungan energi listrik (kWH) tidak terukur selama kerusakan peralatan tersebut
dengan memperhatikan penggunaan energi listrik rata-rata minimal 3 bulan terakhir.

Setelah itu, lakukan mutasi PDL dan penagihan energi listrik tidak terukur berdasarkan Berita
Acara yang ada.

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 17


5.5 Soal Latihan

Pilihlah jawaban yang paling benar ?

1. Pengawatan meter TM untuk pengawatan Standar 3P-4W Semua Meter Dengan


a. 3PT – 3CT dan 2PT–2CT
b. 2PT–3CT
c. 3PT – 3CT
d. 3PT – 3CT dan 2PT–3CT.
2. Pekerjaan commissioning dilaksanakan setelah pemasangan APP, dengan tujuan :
a. Memastikan bahwa pemasangan APP telah dilakukan dengan benar dan
b. Memastikan bahwa pemasangan APP bekerja dengan baik
c. Memastikan bahwa pemasangan APP telah tidak dilakukan dengan benar dan APP
bekerja dengan baik
d. Memastikan bahwa pemasangan APP telah dilakukan dengan benar dan APP bekerja
dengan baik.
3. Pemeliharaan terhadap Alat Pengukur dan Pembatas (APP) harus dilakukan secara rutin
per-periode waktu tertentu yang sudah ditentukan oleh masing-masing unit PT PLN
(Persero), bertujuan untuk:
a. Menjaga akurasi titik pengukuran sebagai usaha penekanan susut. Dan Menjaga
unjuk kerja pembatas/pengaman.
b. Mengidentifikasi permasalahan yang terjadi pada APP dan cara penanganannya.
c. Menyelamatkan dan meningkatkan pendapatan (revenue) perusahaan
d. Semuanya benar.
4. Pemeliharaan terhadap pembatas meliputi:
a. Pemeliharaan MCB
b. Pemeliharaan MCCB
c. Pemeliharaan Rele Pembatas (overload relay)
d. Semuannya benar
5. Tindakan perbaikan terhadap gangguan atau kerusakan terhadap material APP dengan
tujuan agar APP berfungsi kembali dengan baik disebut :
a. Pemeliharaan korektif.
b. Pemeliharaan prefentif
c. Pemeliharaan tambahan
d. Pemeliharaan Campuran

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 18


Mata Pelajaran 7

PRAKTEK/WIRING DAN
PENGUJIAN APP TIDAK
LANGSUNG
7. PRAKTEK/WIRING DAN PENGUJIAN
APP TIDAK LANGSUNG

TUJUAN PELAJARAN : Setelah menyelesaikan pokok bahasan peserta


mampu Mengawatkan dan menerapkan sistem
pengukuran, pada Meter kWh elektronik secara
benar sesuai standar teknis yang berlaku di
perusahaan

DURASI : 16 JP

PENYUSUN : 1. Rijanto (Purnakarya PLN)


2. Fadjar Kurniadi (PLN Udiklat Pandaan)
3. Eko Suprianto (PLN Distribuasi Jatim)
4. Raihan Amin S (PLN Udiklat Pandaan)
DAFTAR ISI

TUJUAN PELAJARAN ..............................................................................................................i


DAFTAR ISI ..............................................................................................................................ii
PRAKTEK WIRING DAN PENGUKURAN ................................................................................1
TUGAS PRAKTEK ....................................................................................................................1
1. BENDA KERJA DAN ALAT KERJA PENIMBANGAN ......................................................2
1.1 PENGAWATAN METER ELEKTRONIK 3 FASE ................................................................3
2. BENDA KERJA DAN ALAT KERJA PENIMBANGAN ......................................................4
2.1 PENGAWATAN METER ELEKTRONIK 3 FASE ................................................................5

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal ii


PRAKTEK WIRING DAN PENGUKURAN

TUGAS PRAKTEK

Laksanakan pengukuran Arus, Tegangan dan Cos Phi masing-masing phase pada
beban dibandingan dengan pengukuran di Meter elektronik 3 fase pengukuran tidak
langsung TR dan TM sesuai prosedur yang berlaku.

Gunakan lembar praktek pengawatan Meter Elektronik 3 fase pengukuran tidak


langsung.

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 1


1. BENDA KERJA DAN ALAT KERJA PENIMBANGAN

METER ELEKTRONIK 3 FASE PENGUKURAN LANGSUNG TR

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 2


1.1 PENGAWATAN METER ELEKTRONIK 3 FASE

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 3


2. BENDA KERJA DAN ALAT KERJA PENIMBANGAN

METER ELEKTRONIK 3 FASE PENGUKURAN TIDAK LANGSUNG TM

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 4


2.1 PENGAWATAN METER ELEKTRONIK 3 FASE

PENGUKURAN TIDAK LANGSUNG TM

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 5


WIRING DAN PENGUJIAN APP TIDAK LANGSUNG B.2.1.3.97.3.M
©2014