Anda di halaman 1dari 6

PANDUAN PELAYANAN RUANG ICU

RS ISLAM GONDANGLEGI

RUMAH SAKIT ISLAM GONDANGLEGI


Jl. Hayam Wuruk 66 Telp.(0341) 879047 – 879205
Fax. (0341) 878593 Gondanglegi- MALANG 65174
TAHUN 2017
BAB 1
DEFINISI

A. PENGERTIAN
Intensive Care Unit (ICU) adalah suatu bagian dari rumah sakit yang berada di bawah
bidang pelayanan, dengan staf yang khusus dan perlengkapan yang khusus yang ditujukan untuk
observasi, perawatan dan terapi pasien yang menderita penyakit, cedera atau penyulit yang
mengancam nyawa atau potensial mengancam nyawa dengan prognosis buruk. ICU menyediakan
kemampuan dan sarana, prasarana serta peralatan khusus untuk menunjang fungsi vital dengan
menggunakan ketrampilan staf medis, perawat dan staf lain yang berpengalaman dalam
pengelolaan keadaan tersebut.

B. Tujuan
Sebagaimana yang kita ketahui bahwa Intensive Care Unit (ICU) merupakan ruang
perawatan dengan tingkat resiko kematian pasien yang tinggi. Tindakan keperawatan yang cepat
dan tepat sangat dibutuhkan untuk menyelamatkan pasien. Pengambilan keputusan yang cepat
ditunjang dengan data yang merupakan hasil observasi dan monitoring yang continue oleh
perawat. Tingkat kesibukan dan standart keperawatan yang tinggi membutuhkan managemen
ICU dan peralatan teknologi tinggi yang menunjang.
BAB 2
RUANG LINGKUP PELAYANAN

Ruang lingkup pelayanan yang diberikan di Intensive Care Unit adalah sebagai berikut:

1. Diagnosis dan penatalaksanaan spesifik penyakit akut yang mengancam nyawa dan dapat
menimbulkan kematian dalam beberapa menit sampai beberapa hari.
2. Memberi bantuan dan mengambil alih fungsi vital tubuh sekaligus melakukan pelaksanaan
spesifik problema dasar.
3. Pemantauan fungsi vital tubuh dan penatalaksanaan terhadap komplikasi yang ditimbulkan oleh
penyakit.
4. Memberikan bantuan psikologis pada pasien yang kehidupannya sangat tergantung pada alat /
mesin dan orang lain.
5. Pelayanan Intensive Care Unit Rumah Sakit terdiri dari :
a. ICU
b. HCU
c. Recovery Room
d. PICU
BAB 3
TATA LAKSANA

Sebelum pasien masuk ke ICU, pasien dan atau keluarganya harus mendapatkan
penjelasan secara lengkap mengenai dasar pertimbangan mengapa pasien harus mendapatkan
perawatan di ICU. Serta tindakan kedokteran yang mungkin dilakukan selama pasien di rawat di ICU.
Penjelasan tersebut diberikan oleh kepala ICU atau dokter yang bertugas, atas pernjelasan tersebut
pasien dan/ atau keluarganya dapat menerima/menyatakan persetujuan untuk dirawat di ICU.
Persetujuan dinyatakan dengan menandatangani formulir informed consent.
Pada keadaan sarana dan prasarana ICU yang terbatas pada suatu Rumah Sakit, diperlukan
mekanisme untuk membuat prioritas apabila kebutuhan atau permintaan akan pelayanan ICU lebih
tinggi dari kemampuan pelayanan yang dapat diberikan. Kepala ICU bertanggung jawab atas
kesesuaian indikasi perawatan pasien di ICU. Bila kebutuhan pasien masuk ICU melebihi tempat tidur
yang tersedia, kepala ICU menentukan kondisi berdasarkan prioritas kondisi medis, pasien mana
yang akan dirawat di ICU.

1. Kriteria masuk ICU :


Prioritas kondisi medis
1. Prioritas 1
Pasien sangat kritis, kondisi tidak stabil yang memerlukan terapi intensif dan monitoring
yang tidak bisa dilakukan diruang rawat inap yang lain, misalnya Pasien yang memerlukan
bantuan ventilator, obat vasoaktif continue, ARDS, Syok, dan Hemodinamik tidak stabil.
2. Prioritas 2
Pasien yang memerlukan monitoring ketat dan berpotensi memerlukan terapi intensif,
misalnya eksaserbasi akut yang berat secara medis.
3. Prioritas 3
Pasien kritis kronik yang cenderung masuk tahap recovery, menjalani terapi untuk kasus
akutnya tetapi tidak memerlukan intubasi atau resusitasi jantung paru, misalnya Keganasan
dengan metastase komplikasi dengan infeksi, tamponade jantung atau obstruksi jalan nafas
4. Prioritas 4
Pasien yang secara umum tidak perlu masuk ICU, misalnya Diabetes dan gagal jantung ringan

2. Kriteria keluar ICU


Prioritas pasien dipindahkan dari ICU berdasarkan pertimbangan medis oleh kepala Unit ICU
dan tim yang merawat.
1. Prioritas 1
a. Kebutuhan untuk terapi intensif tidak ada lagi/tidak bermanfaa
b. Terapi telah gagal, sehingga prognose jangka pendek jelek
2. Prioritas 2
Pada pemantauan, ternyata tidak memerlukan terapi intensif
3. Prioritas 3
Kebutuhan terapi intensif tidak ada lagi,kemungkinan sembuh atau manfaat dari terapi
intensif kontinyu kecil,maka mungkin dapat dikeluarkan lebih dini dari ICU.
Misalnya :
Pasien dengan penyakit lanjut seperti paru kronis, penyakit jantung atau liver terminal,
korsinoma yang telah menyebar luas, tidak ada terapi potensial untuk memperbaiki program
nya.
BAB IV
DOKUMENTASI

1. Catatan Perkembangan Pasien Terintegrasi


2. Formulir Observasi Pasien