Anda di halaman 1dari 15

KARAKTERISASI DAN SIMULASI MESIN PENGERING GABAH TIPE

VERTIKAL KONTINYU DENGAN ALIRAN UDARA PANAS BERLAWANAN

Oleh :
Cahyawan Catur Edi Margana *) dan Sukmawaty *)

*) Staf Pengajar pada Program Studi Teknik Pertanian, Jurusan Teknologi Pertanian,
Fakultas Pertanian, Universitas Mataram

Penelitian tentang karakteristik dan simulasi mesin pengering gabah tipe vertikal
kontinyu dengan aliran udara panas berlawanan telah dilaksanakan di Program Studi
Teknik Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Mataram. Penelitian ini mempunyai
tujuan mengetahui, pembuatan, analisis serta memvalidasi pengeringan (drying
characteristic) gabah tipe vertikal kontinyu dengan aliran udara panas berlawanan
melalui kegiatan simulasi dengan mesin pengering skala pilot agar dapat digunakan untuk
keperluan scale up mesin pengering tipe vertikal kontinyu dengan aliran udara panas
berlawanan
Metodologi penelitian dilakukan dua dua pendekatan yakni pendekatan
matematik dan pendekatan statistika. Pendekatan matematik dalam penelitian ini
dipergunakan untuk penyelesaian matematik serta simulasi. Pendekatan matematik
diselesaikan dengan pemograman komputer dengan bahasa GW BASIC berdasarkan
model matematika yang disusun. Pendekatan statistika dipergunakan pada pengambilan
data pendukung model matematik dan uji validasinya. Tahapan penelitian ini dapat dibagi
menjadi 3 (tiga) tahapan : a) , tahap penentuan karakteristik pengeringan lapis tipis;
b) tahap penentuan hambatan aliran udara pada sistem dispersi pada ruang pengering dan
c) tahap validasi model matematika pada pengeringan gabah sistem aliran kontinyu.
Hasil penelitian diperoleh bahwa gabah untuk karaketristik pengeringan lapis tipis
baik kondisi statik maupun kondisi dinamik mempunyai pola laju pengeringan menurun.
Pada pengeringan lapis tipis statik gabah, semakin tinggi suhu udara pengering yang
digunakan maka semakin cepat waktu pengeringannya dan semakin banyak jumlah air
yang diuapkan. Sementara pada pengeringan dinamik (sistem tipe vertikal kontinyu
dengan aliran udara panas berlawanan), selain dipengaruhi oleh suhu dan kecepatan
aliran udara panas juga dipengaruhi oleh posisi letak tingkat ketinggian didalam ruang
pengering. Perbandingan hasil actual dan simulasi mempunyai tingkat kesalahan root
mean square rata-rata 8.654 %. Hal ini memberikan indiksi bahwa model matematika
yang diperoleh dapat digunakan untuk menduga berlangsungnya proses pengeringan
sistem vertikal kontinyu dengan aliran udara panas berlawanan kaitannya dengan suhu
udara, kadar air keseimbangan, rasio kadar air, suhu tiap lapisan, kelembaban relatif dan
kadar air bahan akhir pengeringan.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Kata kunci : Karakterisasi, simulasi mesin pengering gabah kontinyu.
PENDAHULUAN

Penanganan pasca panen gabah dewasa ini belum optimal, ini dapat dilihat pada
masih besarnya susut bobot maupun susut mutu gabah dalam tahapan proses. Menurut
Jindal (1999) di negara sedang berkembang, termasuk Indonesia, susut pasca panen
masih mencapai 15 %. Terjadinya susut mutu terjadi pada semua tahapan proses pasca
panen. Salah satu tahapan proses pasca panen gabah yang terpenting adalah pengeringan.
Hasil pengeringan ini akan menjadikan gabah siap digiling atau disimpan untuk waktu
yang lama. Tahapan pengeringan sangat menentukan hasil akhir produk beras. Apabila
pengeringan tidak sempurna akan meningkatkan terjadinya beras pecah pada waktu
penggilingan. Selain itu pengeringan tidak sempurna akan mempermudah jamur dan
mikrobia lainnya tumbuh sehingga mutu beras menjadi jelek bahkan tidak dapat
dikonsumsi (Suharto, 1991).
Pengering gabah mekanis yang ada di lapangan banyak berbentuk bak
(Hall,1980; Ohja,1996) dimana pengeringan dilakukan dengan menempatkan bahan
yang dikeringkan pada bak. Pengeringan dengan bak merupakan pengeringan yang
dilakukan tidak kontinyu artinya bahan dimasukkan ke ruang pengering setelah proses
pengeringan selesai gabah dikeluarkan dan diganti dengan yang bahan baru yang akan
dikeringkan. Kelemahan pengeringan gabah dengan sistem bak adalah: kapasitas tidak
terlalu besar, antara lapisan bawah dengan lapisan atas mempunyai perbedaan kadar air
yang cukup besar sehingga apabila dioperasikan tidak benar maka hasil pengeringannya
tidak merata, memerlukan blower dengan daya yang besar dimana pada akhirnya akan
meninggikan biaya operasi.
Akhir-akhir ini simulasi pengeringan merupakan hal yang sangat penting sebagai
alat yang dapat dipergunakan untuk mempelajari sistem-sistem pengeringan. Studi
model-model pengeringan diarahkan pada teknik strategi pengaturan fan/blower,
penggunaan penambahan sumber energi, teknik-teknik loading serta pengaruh cuaca
pada desain dan performansi pada sistem pengeringan (Brook and Bakke-Arkema,
1978). Untuk mendapatkan desain yang optimal maka perlu dilakukan studi pemodelan
matematik pengering aliran kontinyu dan memvalidasikannya sehingga secara teknis
layak dapat diterima.
Pengeringan merupakan cara untuk menghilangkan sebagian besar air dari suatu
bahan dengan bantuan panas dari sumber alami (sinar matahari) atau buatan (mesin dan
peralatan pengering). Pengeringan menurut Toledo (1984) dapat dilakukan dengan cara,
yaitu : penjemuran, pengeringan buatan dan pengeringan beku.
Treybal, R.E., (1980) membagi alat pengering buatan berdasarkan cara kerjanya
menjadi dua macam yaitu alat pengering buatan sistem batch misalnya pengering tipe bak
dan pengering rak dan alat pengering sistem kontinyu misal pengering aliran, pengering
drum dan pengering putar. Dibanding pengering tipe bak, pengering aliran kontinyu
mempunyai kelebihan tidak memerlukan ruang yang banyak namun mempunyai
kapasitas yang tinggi. Pengeringan dapat dilakukan secara terus-menerus tidak terputus-
putus. Pada pengering gabah tipe aliran kontinyu aliran gabah dan aliran udara panas
berlawanan arah. Dibawah diberikan gambar skematis pengering gabah aliran udara
panas berlawanan kontinyu.
Motor listrik 1 HP

Lubang masuk
gabah ke pengering

Ruang pengering
Bucket elevator

Dapur pembakar
bahan bakar
Panel
thermokontrol Lubang keluaran
dan pembacaan gabah akhir
dengan pengeringan
thermodigital

Gambar 1 : Pengering gabah aliran udara panas berlawanan kontinyu yang


dipergunakan dalam penelitian..

Pemodelan matematika pengeringan aliran gabah berlawanan dengan aliran udara


panas dengan memformulasikan keseimbangan massa dan energi pada elemen volume
dari sistem (Sdx) mengikuti persamaan-persamaan berikut (Hall, 1980) :

dT

h' a
Ta  Tp .................................................(1)
dx Ga .Ca  Ga CaW

dTp h' a h fg  Cw (Ta  Tp ) dW


 
(Ta  Tp )  
.Ga . ...............(2)
dX G p.C p  G p .Cw . M G pC p  G p .CW . M dx

dW G dM
 p. ......................(3)
dx Ga dx

dimana : Ta = Suhu udara pengering (oC).


Tp = Suhu produk (oC).
h’a = Koefisien konvektif (Watt/m2 C)
Cp, Ca = Panas jenis partikel dan udara (KJ/Kg)
hfg = Panas laten penguapan (KJ/Kg)
W = Rasio kelembaban udara (desimal).
M = Kadar air (%, db).
dX = jarak tiap lapis volume pengeringan pada sistem aliran
kontinyu.
Gb dan Ga = debiat aliran massa produk dan udara panas(Kg/detik).
Untuk Kecepatan aliran udara (Vp) pada partikel dispersi (Jindal, 1998 dan Vincent,
1998) adalah :

Vp = Va - Vt ...................................................................... (4)

dimana : Va = kecepatan aliran udara panas (m2/det).


Vp = kecepatan aliran produk (m2/det).
Vt = kecepatan terminal (km/det)
dan : Gp = p . Vp ...........................................................(5)

 Penurunan tekanan udara karena dinamika partikel (Ps, , Pascal) (Cornish and
Charity, 1966) :

Ps R M D  p  f VD 
 f , , , , ...........................................(6)
 f .Va  D  .V .D d   
 f a p f 
dimana : f = massa jenis udara (Kg/m3)
p = massa jenis produk (Kg/m3)
Va = laju udara pemindah (m/det).
R = Radius kolum laju udara (m)
D = diameter pipa (m)
M = laju aliran padatan (m3/det).
dp = diameter produk (m).
 = viscositas udara (Pa.S).
persamaan diatas dapat diselesaikan melalui analisis dimensi dengan theorema PHI
Buckingham (Mohsenin, 1980 dan Kamaruddin, 1990). Setelah analisis dimensi selesai
maka dilanjutkan penentuan nilai konstanta dari persamaan ini berdasarkan analisis
regresi.

Perubahan rasio kelembaban untuk setiap lapis volume pengeringan terhadap rasio
penurunan kadar air lapis tipis diberikan dengan persamaan dibawah :
_
dW  dM
  p. .......... .......... .......... .......... .......... .......... .....( 7)
dx Ga dt

dan
_
dM  _ 
  k  M  M e .......... .......... .......... .......... ......(8)
dt  
Model pengeringan lapis tipis dapat diselesaikan dengan Hukill dalam Zachariah
and Isaacs (1966) dengan persamaan :

M  Me e Cx
 Cx ..........................................................(9)
Mo  Me e  e Kt  1

dimana : M = kadar air gabah (% d.b).


Me = kadar air keseimbangan (% d.b.)
Mo = kadar air awal (% d.b.)
e = bilangan natural.
C = laju pendinginan (1/m)
x = jarak dari titik dimana udara panas masuk dalam kolum ke titik
dimana kadar air dipertimbangkan (m)
K = konstanta pengeringan (1/jam).
t = waktu (menit)

Persamaan 1, 2, 3 dan 6 terdapat 4 nilai yang tidak diketahui yaitu; M, W, T a dan Tp.
Untuk persamaan 3 dan 7 belum diketrahui M dan W. Nilai-nilai tersebut dapat dicari
dengan membuat persamaan keseimbangan dari 4 persamaan diatas. Persamaan diatas
dapat diselesaikan dengan analisis numerik metode Newton – Raphson.
Pengeringan konvensional dengan lantai jemur banyak mendapat masalah yakni
pada musim penghujan, gabah semakin sulit kering serta membuat operator sibuk
terutama pada waktu hujan. Dengan dilarbelakangi bahwa masalah lainnya semakin
terbatasnya lapangan jemuran, mahalnya harga tanah, waktu pengeringan yang tidak
efisien serta untuk meningkatkan daya saing di pasaran maka perlu dilakukan inovasi
teknologi pengeringan artifisial. Pada massa sekarang pengeringan gabah tipe bak
digunakan namun masih sedikit diminati, hal ini disebabkan karena bahan yang
dikeringkan dengan lapis yang begitu tebal akan memerlukan fan/blower yang besar pula
serta efisiensi masih rendah. Didalam perancangan pengering (termasuk pengering tipe
aliran kontinyu ) memerlukan data karakteristik pengeringan suatu produk hasil pertanian
untuk dapat memprediksi parameter-parameter pengeringan untuk semua lapis posisi
pada pengeringan aliran kontinyu.
Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk (1). mengetahui karakterisitik
pengeringan (drying characteristic) gabah sistem aliran kontinyu, (2) medapatkan model
matematika untuk perancangan pengering gabah sistem aliran kontinyu, (3) menganalisis
proses pengeringan gabah sistem aliran kontinyu secara keseluruhan hubungannya
dengan suhu, kadar air akhir, waktu tinggal, kelembaban relatif dan (4) memvalidasi
model matematika pengeringan sistem aliran kontinyu melalui kegiatan simulasi dengan
mesin pengering skala laboratorium, dengan tervalidasikan model matematika tersebut,
maka model matematika tersebut dapat digunakan secara lebih holistik. Manfaat kegiatan
penelitian ini diharapkan dapat dipakai sebagai dasar rancang bangun dan scale up
pengering gabah sistem aliran kontinyu, memperoleh soft ware untuk perancangan dan
scale up mesin pengering dan hardware berarti dengan penelitian ini mendapat peralatan
pengering dengan rancangan yang sistematis yang akan dipergunakan oleh Laboratorium
Mekanisasi Pertanian, Faperta, UNRAM untuk keperluan penelitian dengan jenis produk
lainnya atau untuk scale up.
METODE PENELITIAN

Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada Laboratorium Mekanisasi Pertanian dan
Laboratorim Teknologi Hasil Pertanian, Jurusan Teknologi Pertanian, Universitas
Mataram.

Alat dan Bahan


Alat yang dipergunakan Oven Memert untuk penentuan karakteristik pengeringan
lapis tipis untuk kondisi static, sedang untuk penentuan karakteristik pengeringan dalam
kondisi dinamik sekaligus untuk simulasi pengeringan digunakan pengering gabah aliran
udara berlawanan kontinyu rancangan Program Studi Teknik Pertanian skala pilot, 1 set
alat untuk uji aerodinamika gabah, moisture tester “Kett” dengan kalibrasi, thermodigital,
neraca timbangan digital, dan thermokontrol sisitem on off pada blower keluaran udara
panas sisa pembakaran dan udara masuk plenum. Bahan penelitian adalah gabah dengan
varietas Haji, bahan bakar yang dipergunakan minyak tanah, serutan kayu, sekam, batok
kelapa dan batubara.

Metodologi
Dalam penelitian ini dilakukan dua pendekatan yang pendekatan matematik dan
pendekatan statistika. Pendekatan matematik dalam penelitian ini dipergunakan pada
penyelesaian secara matematik serta simulasi. Pendekatan matematik diselesaikan dengan
pemograman komputer dengan bahasa GW Basic berdasarkan model matematika yang
disusun. Pendekatan statistika dipergunakan pada pengambilan data pendukung model
matematik dan uji validasinya. Pada pendekatan matematik ini diharapkan diperoleh
keluaran konstanta konstanta pada model matematik yang diajukan. Validasi model
matematik ini dilakukan dengan membandingkan hasil simulasi komputer dengan data
aktual penelitian. Diharapkan diperoleh nilai antara hasil simulasi dengan aktual
mempunyai Kesalahan Relatif (%) kecil. Setelah itu dilakukan, Optimalisasi dari hasil
pemodelan tersebut melalui parameter-parameter pengeringan yang optimal, dalam
bentuk optimalisasi matematik secara keseluruhan proses dimana hasil tersebut
direkomendasikan sebagai dasar perancang bangunan mesin pengering gabah tipe aliran
udara panas berlawanan kontinyu.
Penelitian ini dilakukan dalam tiga tahapan, yakni :
A. Tahap Penentuan sifat fisidk, geometrik, termal dan karakteristik pengeringan lapis
tipis (kondisi statik)
B. Tahap penentuan hambatan aliran udara pada sistem dispersi pada ruang pengering.
C. Tahap validasi model matematika pada pengeringan gabah sistem aliran kontinyu.

Tahap Penentuan Karakteristik Pengeringan Lapis Tipis (kondisi statik)


Percobaan diperlukan dalam menentukan karakteristik pengeringan gabah
lapis tipis sebagai dasar untuk simulasi pengeringan pada sistem aliran kontinyu sehingga
diperlukan data yang diperoleh dari penelitian di Laboratorium. Metode penelitian yang
digunakan pada tahap penentuan karakteristik lapis tipis yaitu metode eksperimental
dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) di Laboratorium, dengan perlakuan suhu oven
pengeringan (T), terdiri atas 6 (enam) aras. Penelitian dilakukan dengan menggunakan
oven udara panas terkontrol untuk mengeringkan gabah sampai mencapai kadar air
keseimbangan (Me).
T1 = pengeringan dengan suhu 30 oC
T2 = pengeringan dengan suhu 40 oC
T3 = pengeringan dengan suhu 50 oC
T4 = pengeringan dengan suhu 60 oC
T5 = pengeringan dengan suhu 70 oC
T5 = pengeringan dengan suhu 80 oC
semua perlakuan diulang 3 kali
dari percobaan ini untuk mencari hubungan antara variabel (perlakuan) dengan
parameternya : Moisture Ratio, MR (desimal); Kadar air keseimbangan, EMC (%),
Kelembaban Relatif, RH (%); Konstanta laju pengeringan, k (1/jam). Atau dapat ditulis
sebagai :
MR = f(T)
EMC = f(T,RH)
RH = f(T)
k = f(T).
analisis regresi diselesaikan pada taraf nyata 5 %.
Data pendukung yang diperlukan adalah sifat geometrik terdiri atas diamater
gabah (m), luas permukaan gabah (m2), volume gabah (m3), berat per biji gabah (Kg).
data input yang dibutuhkan adalah data tentang karakteristik pengeringan lapis tipis
gabah, maka telah dilakukan di Laboratorium dengan rancangan percobaan yang sudah
dijelaskan. Sedang data pendukung yang diperlukan lainnya adalah sifat termal terdiri
atas panas jenis (Cp, Cal/g. oC), konduktifitas termal kamba (Kk, W/m.K), difusifitas
termal kamba ( Dk, m2/jam), koefisien pindah panas konvektif (hc,, W/ m3. K) dan panas
laten penguapan (hfg, kcal/kg).

Tahap penentuan hambatan aliran udara pada sistem dispersi


Tahap ini dilakukan berdasarkan problem pada persamaan 6.

Tahap validasi model matematika pada pengeringan gabah sistem aliran udara panas
berlawanan kontinyu.

- Validasi model matematika dari sistem pengeringan gabah sistem aliran udara panas
berlawanan kontinyu. dengan basis persamaan 1,2,3 dan 7.
2
M  M aktual 
  theoritis
M theoritis

% Kesalahan Re latif    *100
n

- Membandingkan antara hasil simulasi dengan data real dari sebuah sistem siklon yang
terkontrol (dengan berdasarkan nilai % Kesalahan Relatif ). Adapun persamaannya :
Parameter pengeringan terdiri dari : Moisture ratio, MR (%) tiap lapis posisi pada
pengering, Kelembaban Relatif, RH (%) tiap lapis posisi pada pengering, Kadar air akhir
tiap lapis posisi pengering, Mf (%) tiap lapis posisi pada pengering, suhu rata-rata tiap
lapis posisi pada pengering, T (oC).

HASIL DAN PEMBAHASAN

Sifat Fisik, Geometrik dan Termal Gabah


Rekapitulasi sifat fisik, geometrik dan termal gabah diberikan pada Gambar
dibawah :
Tabel 1 : Rekapitulasi sifat fisik, geometrik dan termal gabah.

Parameter Nilai kuantitatif

Geometrical Mean Diameter (GMD, cm) 0,3867 ± 0,0067


Diameter Equivalent (De, cm) 0,477 ± 0,0136
Volume Padatan (V, cm3) 0,0953 ± 0,00083
Massa Jenis Padatan (, kg/m3) 1039,3 ± 40,4797
Massa Jenis Curah (x, kg/m3) 545,5 ± 0,000002
Porositas (, desimal) 0,471 ± 0,0481
Keterangan : n = 30 sampel
Kadar air rata-rata = 29.30 %

Tabel 2. : Penentuan beberapa sifat termal pada gabah pada tekanan 1 atmosphere, suhu
normal lingkungan dan kadar air lepas panen pada waktu penelitian
(29,30 %) sebagai input data untuk simulasi.
*)
Parameter Persamaan Prediksi Nilai
kuantitatif *)
Panas Jenis (Cp, Cal/g. oC) Cp = 0.2201 - 0.01301 * Md ; R 2 = 0.94 0.2162
Konduktifitas Termal Kamba (Kk, Kk = 0.0866 + 0.00133 * Md ; R2 = 0.87 0.1256
W/m.K) Dk = 0.000486 + 8.96 * 10 – 6 * Md ; R2 = 0.99 0.0006
Difusifitas Termal Kamba ( Dk, m2/jam) hc, = 8.69 * 104 . G 1.30 11.69 * 104
Koefisien Pindah Panas Konvektif (hc,, hfg = 0.5555 (1094 – 1.026( TC + 17.78 )) ( 1 + 610.326
W/ m3. K) 2.4962 * Exp (-21.7330 * Md ))
Panas Laten Penguapan (hfg, kcal/kg)

Persamaan yang menghitung panas jenis gabah pada berbagai kadar air basis
kering berdasarkan persamaan Morita dan Singh (1979), sedang konduktifitas termal
kamba ditentukan dari persamaan matematik aliran panas transien pada kondisi masaa
infinite pada kondisi awal suhu seragam. Persamaan Difusifitas Termal diatas
berdasarkan perbandingan antara konduktifitas termal dibagi dengan panas jenis dan
densitas kamba (Steffe and Singh, 1980).
Persamaan untuk memprediksi koefisien pindah panas konvektif berdasakan
Wang et al (1978) dengan membandingkan hasil percobaan dengan teoritis dari kurva
pemasanan. Laju aliran udara (G) merupakan laju aliran massa ( kg udara kering/ det.m 2)
melalui gabah dan merupakan koefisien pindah panas volumetrik.
Persamaan panas laten penguapan sebagai fungsi suhu dan kadar air berdasarkan
persamaan yang dikembangkan Pfost et al (1976) untuk berbagai varietas gabah
berdasarkan ploting oleh Otmer (1940) dalam Mujumdar (1980).

Karakteristik Pengeringan Lapis Tipis Gabah dalam Kondisi Statik


Data hasil penelitian tentang karaketristik pengeringan lapis tipis (kondisi statik)
pada gabah dapat dilihat pada Lampiran 1 – 4 (tidak ditampilkan). Sedang hasil analisis
pada taraf nyata 5 % terhadap data tersebut diberikan pada Lampiran 5 – 9. Data tersebut
menunjukkan bahwa suhu ruang pengering berpengaruh nyata Rasio Kadar Air (MR),
Kelembaban Relatif (RH), serta Kadar Air Keseimbangan (ME). Berdasarkan persamaan
logaritmik yang dimodifikasi di atas, maka dapat digambarkan kurva karaketristik
pengeringan gabah pada berbagai suhu pengeringan (Gambar 1).
Berdasarkan Gambar 1 di bawah dapat diketahui bahwa proses pengeringan yang
terjadi pada gabah adalah proses pengeringan dengan laju pengeringan menurun. Oleh
karena itu karakteristik pengeringan lapis tipis gabah dapat diprediksi dengan
menggunakan persamaan laju pengeringan menurun. Hal ini didukung Haryadi (1988)
yang menyatakan bahwa pengeringan produk srelia pada umumnya tidak menunjukkan
adanya periode laju pengeringan konstan, kecuali jika dilakukan pemanenan dalam
keadaan belum masak atau terdapat embun dan air hujan yang menmpel pada permukaan.
Berdasarkan pemaparan tersebut diatas, maka dapat dijelaskan bahwa laju pengeringan
menurun yang terjadi pada gabah terjadi karena kadar air saat panen sudah di bawah titik
kritisnya.

Gambar 1 : Grafik hubungan antara LnMR dengan Waktu (t, Jam) pada Suhu Ruang
Pengering 40 oC, 50 oC, 60 oC, 70 oC, 80 oC dan 90 oC.
Berdasarkan Grafik di atas dapat diketahui bahwa proses pengeringan yang terjadi
pada gabah adalah proses pengeringan dengan laju pengeringan menurun. Oleh karena
itu karakteristik pengeringan lapis tipis gabah dapat diprediksi dengan menggunakan
persamaan laju pengeringan menurun. Hal ini didukung Haryadi (1988) yang menyatakan
bahwa pengeringan produk srelia pada umumnya tidak menunjukkan adanya periode laju
pengeringan konstan, kecuali jika dilakukan pemanenan dalam keadaan belum masak
atau terdapat embun dan air hujan yang menmpel pada permukaan. Berdasarkan
pemaparan tersebut diatas, maka dapat dijelaskan bahwa laju pengeringan menurun yang
terjadi pada gabah terjadi karena kadar air saat panen sudah di bawah titik kritisnya.

Pada suhu ruang pengeringan yang berbeda memiliki persamaan untuk rasio
Kadar Air (MR,%) dengan nilai konstanta laju pengeringan menurun (k) yang berbeda-
beda. Menurut Noomhorm (1998) nilai k dapat dicari berdasarkan fungsi suhu.
Thompson (1967) dan Sabah (1964), nilai k dan y dapat dicari dengan persamaan : k = a
+ b/T – c/T2 . Dengan membuat grafik hubungan nilai k dengan suhu ruang pengeringan,
T maka akan diperoleh persamaan untuk mencari nilai k yang dimaksud. Grafiknya
ditampilkan sebagai berikut :

Gambar 2 : Grafik Hubungan antara nilai k dengan Suhu Ruang Pengering 1/T ( oC).

Grafik tersebut menunjukkan bahwa persamaan untuk konstanta laju pengeringan


gabah adalah k = 2143/T2 + 90.649/T + 1.0307. Persamaan ini menjelaskan bahwa rasio
kadar air berbanding tebalik dengan suhu ruang pengering, yang berarti bahwa semakin
tinggi suhu ruang pengeringan maka rasio kadar air bahan akan menjadi semakin rendah.
Sesuai dengan pendapat Taib dkk (1988), fenomena ini terjadi karena semakin tinggi
suhu udara pengering maka semakin besar energi panas yang dibawa udara sehingga
jumlah massa cairan yang diuapkan dari permukaan bahan akan semakin banyak.

Karakteristik Pengeringan Lapis Tipis Kondisi Dinamik


Pada Pengeringan Gabah Tipe Vertikal Kontinyu dengan Aliran Panas
Berlawanan karaketeristik pengeringannya bersifat dinamik maka dapat didekati dengan
persamaan 9. Dengan penyelesaian numerik Metode Newton-Raphson diperoleh
persamaan sebagai berikut :

MR = EXP(C.X)/((EXP(C.X)+EXP(2142/T^2+90.649/T+1.6307)-1) ….(10)

Dengan penyelesaian dengan metode numerik yang diselesaikan dengan program GW


Basic diperoleh nilai konstanta berkisar -1.14778 1/jam sampai dengan -2.7841 1/jam.

Kadar Air Keseimbangan/ Moisture Equilibrium (ME, % db)

Dari hasil penelitian tentang kadar air keseimbangan. Data dapat menggambarkan
bahwa semakin tinggi suhu ruang pengeringan maka kadar air keseimbangan akan
semakin rendah. Hal ini disebabkan karena suhu ruang pengering yang tinggi
menyebabkan kelembaban relative menjadsi rendah ( kondisi udara menjadi kering,
dengan demikian untuk mencapai keseimbangan kadar air antara bahan dan udara, maka
bahan harus mengeluarkan air lebih banyak bila dibandingkan dengan bahan yang berada
pada suasana kelembaban relatif yang lebih tinggi. Hal ini sesuai dengan pendapat Taib,
dkk (1988) yang menyatakan bahwa setiap bahan pangan yang mengandung air akan
mengalami pelepasan air (desorpsi) ataupun mengalami penyerapan (adsopsi) untuk
mencapai keseimabngan dengan lingkungan.
Memperhatikan data hasil penelitian maka terlihat bahwa pada setiapdata hasil
penelitian maka terlihat bahwa pada setiap perlakuan yang mengakibatkan kelembaban
relative, maka nilai kadar air keseimbangan gabah akan berbeda. Hal ini sesuai dengan
pendapat Noomhorn (1988) yang menyatakan bahwa kadar air keseimbangan suatu bahan
dipengaruhi oleh suhu dan kelembaban.
Signifikansi antara suhu dengan kelembaban relative (ME, % db) dapat dilihat
pada Lampiran 8. Adapun grafik yang menggambarkan hubungan antara ME dengan
suhu medium pengering adalah sebagai berikut :

Gambar 4 : Grafik Hubungan antara Suhu ruang pengering (T, oC) dengan
Kadar Air Keseimbangan (ME, % db).
Penentuan penurunan tekanan udara karena dinamika partikel dengan analisis
similitude
Salah satu metode penyelesaian di bidang keteknikan adalah menggunakan
analisis similitude. Untuk penurunan tekanan udara karena dinamika sangat diperlukan
untuk memperoleh suatu persamaan yang representatif dari fenomena fisik yang cukup
kompleks untuk memprediksi penurunan tekanan udara pada sistem pneumatik beras,
bekatul dan sekam yang merupakan aplikasi aerodinamika. Melalui analisis similitude
diperoleh pengembangan sesuai dengan cara penyelesaian seperti pada Kamaruddin, dkk
(1990) sebagai berikut:
Ps  R   M   D    p    f .Va .D 
 K. . . . . 
 s .Va2  D    f .Va .D   d p    f   
2

Karena dalam penelitian ini kesulitan dalam menentukan radius kolom kecepatan
R
udara maka faktor   diabaikan.. Dengan menggunakan analisis multiple regression
D
dengan tingkat kepercayaan 95% memperoleh persamaan untuk produk gabah:
Ps  M   D    p    f .Va .D 
 0,000583681. . . . 
2  
 s .Va   f .Va .D   d p    f   
2

dengan R2 = 0,7631 dan M.A.E = 0,149995.

Hasil Pemodelan Matematika dan Validasi dengan Menggunakan Berbagai


Penggunaan Bahan Bakar.

Dari hasil penelitian diperoleh analisis pemodelan matematika yang


menggambarkan karaketristik pengeringan sistem aliran udara panas berlawanan
kontinyu. Dengan mendeferensialkan persamaan model matematik yang diajukan seperti
dibawah ini :

Fx = EXP(C.X)/((EXP(C.X)+EXP(2142/T^2+90.649/T+1.6307)-1 – (Mt-(
(-0.0988*T+17.325)/100)/((Mo – (-0.0988*T+17.325))/100 ……………… (11)

dengan penyelesaian numerik (metode Newton Raphson) persamaan diatas dapat


dipergunakan untuk menganalisis proses pengeringan sistem aliran udara panas
berlawanan kontinyu. Dari hasil analisis untuk menduga Moisture Ratio (MR, % db)
untuk setiap jarak dan waktu t diperoleh rata-rata kesalahan relative 8.654 % . Nilai ini
dibawah 10 % sehingga model matemtatik adalah valid (sahih). Sedang analisis data pada
berbagai penggunaan bahan bakar yakni minyak tanah, serutan kayu, sekam, batok kelapa
dan batubara terhadap kadar air waktu t pengeringan (Makhir, % wb), kadar air
keseimbangan (Me, %db) serta moisture ratio (MR, %db) untuk ketinggian 0,7 meter, 1,4
meter dan 2,1 meter berturut-turut mempunyai rata-rata prosentase kesalahan relatif 6,06
%. 0.76 % dan 7,90 %. Sehingga model matematika dengan pengembangan persamaan 7
untuk memperoleh nilai Makhir, Me dan MR adalah valid (sahih).
KESIMPULAN

Berdasarkan hasil pengamatan, analisis data dan pembahasan maka dapat ditarik
kesimpulan sebagai berikut :
1. Gabah dalam karaketristik pengeringan lapis tipis baik statik maupun
dinamik mempunyai pola laju pengeringan menurun.
2. Pada pengeringan lapis tipis statik gabah, semakin tinggi suhu udara
pengering yang digunakan maka semakin cepat waktu pengeringannya dan semakin
banyak jumlah air yang diuapkan. Sementara pada pengeringan dinamik (sistem tipe
vertikal kontinyu dengan aliran udara panas berlawanan), selain dipengaruji oleh suhu
juga dipengaruhi oleh posisi letak tingkat ketinggian didalam ruang pengering.
3. Perbandingan hasil actual dan simulasi mempunyai tingkat kesalahan relatih rata-rata
8.654 %. Hal ini memberikan indiksi bahwa model matematika yang
diperoleh dapat digunakan untuk menduga berlangsungnya proses
pengeringan Sistem Vertikal Kontinyu dengan Aliran Udara Panas
Berlawanan kaitannya dengan suhu udara, kadar air keseimbangan, rasio
kadar air, suhu tiap lapisan, kelembaban relatif dan kadar air bahan.
4. Dengan analisis similitude telah diperoleh persamaan untuk menentukan
kehilangan energi tekan pada sistem aerodinamika udara – gabah yang dapat
diaplikasikan pada pengeringan Sistem Vertikal Kontinyu dengan Aliran Udara
Panas Berlawanan
5. Pada pengujian performansi berbagai jenis bahan bakar model matematika
yang diajukan valid dengan melihat analisis data pada berbagai penggunaan bahan
bakar yakni minyak tanah, serutan kayu, sekam, batok kelapa dan batubara terhadap
kadar air waktu t pengeringan (Makhir, % wb), kadar air keseimbangan (Me, %db) serta
moisture ratio (MR, %db) untuk ketinggian 0,7 meter, 1,4 meter dan 2,1 meter
berturut-turut mempunyai rata-rata prosentase kesalahan relatif 6,06 %. 0.76 % dan
7,90 %.
DAFTAR PUSTAKA
Brook and Baker-Arkema, 1979. Farm Crop Drying , AVI Publishing, New York.

Cornish, G.K. and L.F. Charity, 1966. Pressure Drop in Elbows of a Pneumatic Cveying
System, Trans Am. Soc. Agric. Eng. Vol (9) 1 : 29 – 31

Ohja, 1996. Drying of Paddy, Indian Institute Of Technology, Karagpur, India.

Hall , C.W. , 1980. Farm Crop Drying and Storage, AVI Publishing Company,
New York.
Haryadi, 1988. Kursus Singkat Pengeringan Bahan Pangan. Pusat Antar Universitas.
Pangan dan Gizi. Universitas Gadjah Mada,

Jindal, 1998. Food Process Engineering I, Agricutural and Food Engineering Program.
Asian Instute of Technology, Bangkok, Thailand.

Kamaruddin, A. 1990. Matematika Terapan, JICA-DGHE/IPB PROYEK/ADAET : JTA-


IPB, BOGOR.
Kuntjoko, A., 1989. Teknologi Pengolahan Biji-bijian, Penerbit Paripurna, Jakarta.

Mohsenin, 1980. Thermal Properties of Food and Agricultural Product, Gordon Breach
Co, Pensylvania.

Mujumdar, A.S., 1980. Drying ’80. Vol. 2. Processing. International Symposium of


Chemical Engineers.

Noomhorn, A., 1988. Post Harvest Technology of Cereals, Asian Institute of


Technology, Bangkok, Thailand.

Richey, C.B., Jacobson,P. and C.W. Hall, 1963. Agricultural Engineering Handbook,
Mc. Graw Hill Book Company, New York.

Suharto, 1991. Teknologi Pengawetan Pangan, Penerbit Rineka Cipta, Jakarta.

Taib. G., G. Said dan S. Wiraatmadja, 1988. Operasi Pengeringan. pada Pengolahan
Hasil Pertanian, Medyatama Sarana Perkasa, Jakarta.

Toledo, R.T., 1980. Fundamentals of Food Process Engineering, AVI Publishing, West
Port, Cunecticute.

Treyball, R.E., 1980. Mass-Transfer Operation, Mc Graw Hill Book Company,


New York.

Toledo, R.T., 1980. Fundamentals of Food Process Engineering, AVI Publishing, West
Port, Cunecticute.

Vincent, J.C.,1998. Food Process Engineering II, Agricultural and Food Engineering
Program. Asian Institute of Technology, bangkok, Thailand.

Wang, C.Y., R.P. Singh, 1978. Computer Aided Simulation of Rice Drying. American
Institute of Chemical Engineers Paper, Miami Florida.

Zachariah, G.I. and Isaacs, G.W., 1966. Simulating a Moisture-Control System for a
Continuous-Flow Dryer, Trans. Am. Soc. Agric. Eng. Vlol (9) 3 : 297 –
302.

Zaini, M.A. dan C.C.E. Margana, 1991. Pengeringan. Fakultas Pertanian, Universitas
Mataram.

Zurich, C., R.P. Singh, S.M. Moini, and S.M. Henderson, 1979. Desorption
isotherms of Rough Rice From 10 oC to 40 oC. Trans. of Am. Soc.
of Agric. Eng. 22 (2) : 433 - 436