Anda di halaman 1dari 370

PERATURAN DAERAH

NOMOR 6 TAHUN 2016

TENTANG

RENCANA PEMBANGUNAN
JANGKA MENENGAH DAERAH
KOTA SEMARANG
TAHUN 2016 - 2021

PEMERINTAH KOTA SEMARANG


TAHUN 2016
PROVINSI JAWA TENGAH

PERATURAN DAERAH KOTA SEMARANG

NOMOR 6 TAHUN 2016

TENTANG

RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH


KOTA SEMARANG TAHUN 2016-2021

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

WALIKOTA SEMARANG,

Menimbang : a. bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 263 ayat


(3) dan Pasal 264 ayat (1) dan ayat (4) Undang–Undang
Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah
sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir
dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2015 tentang
Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 23
Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, perlu
menetapkan Peraturan Daerah tentang Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD)
Kota Semarang tahun 2016-2021;
b. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana
dimaksud dalam huruf a, perlu membentuk Peraturan
Daerah tentang Rencana Pembangunan Jangka
Menengah Daerah Kota Semarang Tahun 2016-2021.
Mengingat : 1. Pasal 18 Ayat (6) Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945;
2. Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1950 tentang
Pembentukan Daerah-daerah Kota Besar dalam
Lingkungan Propinsi Djawa Timur, Djawa Tengah,
Djawa Barat dan Dalam Daerah Istimewa Jogjakarta;
3. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang
Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari
Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 75, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3851);
4. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang
Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2003 Nomor 47, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4286);
5. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang
Perbendaharaan Negara (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2004 Nomor 5, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4355);
6. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang
Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggungjawab
Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2004 Nomor 66, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4400);
7. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang
Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004
Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4421);
8. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang
Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan
Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2004 Nomor 126, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4438);
9. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang
Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional
Tahun 2005-2025 (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2007 Nomor 33, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4700);
10. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang
Penanggulangan Bencana (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2007 Nomor 66, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4723);
11. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang
Penataan Ruang (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2007 Nomor 68, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4725);
12. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang
Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009
Nomor 140, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 5059);
13. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang
Pembentukan Peraturan Perundang-undangan
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011
Nomor 53, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4389);
14. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang
Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5587),
sebagaimana telah diubah beberapa kali, terakhir
dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2015 tentang
Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 23
Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 58,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 5679);
15. Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 1976 tentang
Perluasan Kotamadya Daerah Tingkat II Semarang
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1976
Nomor 25, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 3079);
16. Peraturan Pemerintah Nomor 50 Tahun 1992 tentang
Pembentukan Kecamatan di Wilayah Kabupaten-
Kabupaten Daerah Tingkat II Purbalingga, Cilacap,
Wonogiri, Jepara, dan Kendal serta Penataan
Kecamatan di Wilayah Kotamadya Daerah Tingkat II
Semarang dalam wilayah Propinsi Daerah Tingkat I
Jawa Tengah (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 1992 Nomor 89);
17. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang
Pengelolaam Keuangan Daerah (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 140,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 4578);
18. Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2005 tentang
Pedoman Pembinaan dan Pengawasan
Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 165,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 4593);
19. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2006 tentang
Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006
Nomor 25, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4614);
20. Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2006 tentang
Tata Cara Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan
Rencana Pembangunan (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2006 Nomor 96, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4663);
21. Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 2006 tentang
Tata Cara Penyusunan Rencana Pembangunan
Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2006 Nomor 97, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4664);
22. Peraturan Pemerintah Nomor 3 Tahun 2007 tentang
Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah
Kepada Pemerintah, Laporan Keterangan
Pertanggungjawaban Kepala Daerah Kepada Dewan
Perwakilan Rakyat Daerah, dan Informasi Laporan
Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Kepada
Masyarakat (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2007 Nomor 19, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4693);
23. Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2007 tentang
Pengelolaan Uang Negara/Daerah (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 83, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4738);
24. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang
Tahapan, Tata Cara Penyusunan, Pengendalian dan
Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008
Nomor 21, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4817);
25. Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 2016 tentang
Perangkat Daerah (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2016 Nomor 114 Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5887);
26. Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2008 tentang
Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 42,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 4828);
27. Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2008 tentang
Pendanaan dan Pengelolaan Bantuan Bencana
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008
Nomor 42, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4828);
28. Peraturan Presiden Nomor 87 Tahun 2014 tentang
Peraturan Pelaksanaan Undang–Undang Nomor 12
Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan
Perundang–Undangan (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2014 Nomor 199);
29. Peraturan Presiden Nomor 2 Tahun 2015 tentang
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional
Tahun 2015 – 2019 (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2015 Nomor 3);
30. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Tengah Nomor 3
Tahun 2008 tentang Rencana Pembangunan Jangka
Panjang Provinsi Jawa Tengah Tahun 2005-2025
(Lembaran Daerah Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008
Nomor 3 Seri E, Tambahan Lembaran Daerah Provinsi
Jawa Tengah Nomor 9);
31. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Tengah Nomor 5
Tahun 2014 tentang Rencana Pembangunan Jangka
Menengah Daerah Provinsi Jawa Tengah Tahun 2013 -
2018 (Lembaran Daerah Provinsi Jawa Tengah Tahun
2014 Nomor 5, Tambahan Lembaran Daerah Provinsi
Jawa Tengah Nomor 65);
32. Peraturan Daerah Kota Semarang Nomor 11 Tahun
2006 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah
(Lembaran Daerah Kota Semarang Tahun 2007 Nomor
1 Seri E, Tambahan Lembaran Daerah Kota Semarang
Nomor 1), sebagaimana telah diubah dengan
Peraturan Daerah Kota Semarang Nomor 5 Tahun
2013 tentang Perubahan Atas Peraturan Daerah Kota
Semarang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pengelolaan
Keuangan Daerah (Lembaran Daerah Kota Semarang
Tahun 2013 Nomor 5, Tambahan Lembaran Daerah
Kota Semarang Nomor 83);
33. Peraturan Daerah Kota Semarang Nomor 13 Tahun
2006 tentang Pengendalian Lingkungan Hidup
(Lembaran Daerah Kota Semarang Tahun 2007 Nomor
2 Seri E, Tambahan Lembaran Daerah Kota Semarang
Nomor 2);
34. Peraturan Daerah Kota Semarang Nomor 9 Tahun
2007 tentang Tata Cara Penyusunan Rencana
Pembangunan Daerah Kota Semarang (Lembaran
Daerah Kota Semarang Tahun 2008 Nomor 3,
Tambahan Lembaran Daerah Kota Semarang Nomor
13);
35. Peraturan Daerah Kota Semarang Nomor 6 Tahun
2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang
Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025
(Lembaran Daerah Kota Semarang Tahun 2010 Nomor
8, Tambahan Lembaran Daerah Kota Semarang Nomor
43);
36. Peraturan Daerah Kota Semarang Nomor 13 Tahun
2010 tentang Penyelenggaraan Penanggulangan
Bencana di Kota Semarang (Lembaran Daerah Kota
Semarang Tahun 2010 Nomor 15, Tambahan
Lembaran Daerah Kota Semarang Nomor 48);
37. Peraturan Daerah Kota Semarang Nomor 14 Tahun
2011 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW)
Kota Semarang Tahun 2011 – 2031 (Lembaran Daerah
Kota Semarang Tahun 2011 Nomor 14, Tambahan
Lembaran Daerah Kota Semarang Nomor 61);
38. Peraturan Daerah Kota Semarang Nomor 7 Tahun
2014 tentang Rencana Induk Sistem Drainase Kota
Semarang Tahun 2011-2031 (Lembaran Daerah Kota
Semarang Tahun 2014 Nomor 7, Tambahan Lembaran
Daerah Kota Semarang Nomor 92);
39. Peraturan Daerah Kota Semarang Nomor 5 Tahun
2015 tentang Rencana Induk Pembangunan
Kepariwisataan Kota Semarang Tahun 2015-2025
(Lembaran Daerah Kota Semarang Tahun 2015 Nomor
5, Tambahan Lembaran Daerah Kota Semarang
Nomor 98).

Dengan Persetujuan Bersama,


DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DERAH KOTA SEMARANG

dan
WALIKOTA SEMARANG

MEMUTUSKAN:

Menetapkan : PERATURAN DAERAH TENTANG RENCANA


PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA
SEMARANG TAHUN 2016- 2021.

BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
Dalam Peraturan Daerah ini yang dimaksud dengan:
1. Daerah adalah Kota Semarang;
2. Walikota adalah Walikota Semarang;
3. Pemerintah Daerah adalah Walikota sebagai unsur penyelenggara
Pemerintahan Daerah yang memimpin pelaksanaan urusan
pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah otonom;
4. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah yang selanjutnya disingkat DPRD
adalah lembaga perwakilan rakyat daerah yang berkedudukan sebagai
unsur penyelenggara Pemerintahan Daerah;
5. Perangkat Daerah adalah unsur pembantu Walikota dan DPRD dalam
penyelenggaraan Urusan Pemerintahan yang menjadi kewenangan
Daerah;
6. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005 – 2025
yang selanjutnya disebut RPJPN adalah perencanaan pembangunan
nasional untuk periode 20 (dua puluh) tahun terhitung sejak tahun
2005 sampai tahun 2025;
7. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2015 – 2019
yang selanjutnya disebut RPJMN adalah dokumen perencanaan
pembangunan nasional untuk periode 5 (lima) tahun terhitung sejak
tahun 2015 sampai dengan tahun 2019;
8. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah Provinsi Jawa Tengah
Tahun 2005 – 2025 yang selanjutnya disebut RPJPD Provinsi Jawa
Tengah adalah dokumen perencanaan pembangunan daerah Provinsi
Jawa Tengah untuk periode 20 (dua puluh) tahun terhitung sejak tahun
2005 sampai tahun 2025;
9. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Provinsi Jawa Tengah
Tahun 2013 – 2018 yang selanjutnya disebut RPJMD Provinsi Jawa
Tengah adalah dokumen perencanaan pembangunan daerah Provinsi
Jawa Tengah untuk periode 5 (lima) tahun terhitung sejak tahun 2013
sampai tahun 2018;
10. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah Kota Semarang Tahun
2005 – 2025 yang selanjutnya disebut RPJPD Kota Semarang adalah
dokumen perencanaan pembangunan daerah Kota Semarang untuk
periode 20 (dua puluh) tahun terhitung sejak tahun 2005 sampai
dengan tahun 2025;
11. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kota Semarang
Tahun 2016 – 2021 yang selanjutnya disebut RPJMD Kota Semarang
adalah dokumen perencanaan pembangunan daerah untuk periode 5
(lima) tahun terhitung sejak tahun 2016 sampai dengan tahun 2021;
12. Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kota Semarang, yang selanjutnya
disebut RKPD Kota Semarang adalah dokumen perencanaan
pembangunan Kota Semarang untuk periode 1 (satu) tahun;
13. Rencana Strategis Perangkat Daerah, yang selanjutnya disebut Renstra
Perangkat Daerah adalah dokumen perencanaan pembangunan
Perangkat Daerah untuk periode 5 (lima) tahun terhitung mulai tahun
2016 sampai dengan tahun 2021;
14. Rencana Kerja Perangkat Daerah, yang selanjutnya disebut Renja
Perangkat Daerah adalah dokumen perencanaan pembangunan
Perangkat Daerah untuk periode 1 (satu) tahun;
15. Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Semarang Tahun 2011 - 2031 yang
selanjutnya disingkat RTRW adalah hasil perencanaan tata ruang pada
wilayah yang merupakan kesatuan geografis beserta segenap unsur
terkait yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan aspek
administratif;
16. Visi adalah rumusan umum mengenai keadaan yang diinginkan pada
akhir periode perencanaan.
17. Misi adalah rumusan umum mengenai upaya-upaya yang akan
dilaksanakan untuk mewujudkan visi.
18. Strategi adalah langkah-langkah berisikan program-program indikatif
untuk mewujudkan visi dan misi.
19. Program adalah bentuk instrumen kebijakan yang berisi satu atau lebih
kegiatan yang dilaksanakan oleh Perangkat Daerah atau masyarakat,
dikoordinasikan oleh pemerintah daerah untuk mencapai sasaran dan
tujuan pembangunan daerah.

BAB II
RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH
Pasal 2
RPJMD merupakan dokumen perencanaan pembangunan daerah sebagai
landasan dan pedoman bagi Pemerintah Daerah dalam melaksanakan
pembangunan 5 (lima) tahun terhitung sejak Tahun 2016 sampai dengan
Tahun 2021 dan pelaksanaan lebih lanjut dituangkan dalam RKPD.

Pasal 3
(1) RPJMD merupakan penjabaran dari :
a. Visi, Misi, dan Program Walikota terpilih Tahun 2016; dan
b. Tujuan, sasaran, strategi, arah kebijakan pembangunan, dan
program pembangunan yang akan dilaksanakan oleh Perangkat
Daerah, disertai dengan kerangka pendanaan yang bersifat indikatif.
(2) RPJMD berpedoman pada RPJPD dan RPJMN serta memperhatikan :
a. RPJMD Provinsi Jawa Tengah;
b. RTRW; dan
c. RPJMD Kabupaten/Kota sekitar.
BAB III
MAKSUD DAN TUJUAN
Pasal 4
(1) Penetapan RPJMD dimaksudkan sebagai dokumen perencanaan dalam
Penyusunan Renstra-PD, RKPD, Renja-PD, dan perencanaan
penganggaran.
(2) Penetapan RPJMD mempunyai tujuan untuk mewujudkan perencanaan
pembangunan daerah yang sinergis dan terpadu antara perencanaan
pembangunan nasional, provinsi dan kota serta dengan kabupaten/kota
yang berbatasan.

BAB IV
SISTEMATIKA RPJMD
Pasal 5
(1) Sistematika RPJMD Tahun 2016-2021 meliputi:
a. BAB I : PENDAHULUAN
memuat latar belakang, dasar hukum penyusunan,
maksud dan tujuan, hubungan antar dokumen, serta
sistematika penulisan

b. BAB II : GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH


memuat aspek geografi dan demografi, aspek
kesejahteraan masyarakat, aspek pelayanan umum dan
aspek daya saing daerah.

c. BAB III : GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH


SERTA KERANGKA PENDANAAN
memuat kinerja keuangan tahun 2010-2015, kebijakan
pengelolaan keuangan tahun 2010-2015 dan kerangka
pendanaan tahun 2016-2021.

d. BAB IV : ANALISIS ISU-ISU STRATEGIS


memuat analisis permasalahan pembangunan dan isu-
isu strategis pembangunan daerah tahun 2016-2021.

e. BAB V : VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN


memuat visi, misi, tujuan dan sasaran.

f. BAB VI : STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN


memuat strategi dan arah kebijakan pembangunan Kota
Semarang Tahun 2016-2021, dan arah kebijakan
kewilayahan.
g. BAB VII : KEBIJAKAN UMUM DAN PROGRAM PEMBANGUNAN
DAERAH
memuat kebijakan umum yang berisi arah kebijakan
pembangunan berdasarkan strategi yang dipilih dengan
target capaian indikator kinerja serta program prioritas
beserta indikator kinerjanya.

h. BAB VIII : INDIKASI RENCANA PROGRAM PRIORITAS YANG


DISERTAI KEBUTUHAN PENDANAAN
memuat urusan pemerintah dengan Perangkat Daerah
terkait disertai program yang menjadi tanggung jawab
Perangkat Daerah dan target indikator kinerja pada
akhir periode perencanaan yang dibandingkan dengan
pencapaian indikator kinerja pada awal periode
perencanaan.

i. BAB IX : PENETAPAN INDIKATOR KINERJA DAERAH


memuat penetapan indikator kinerja daerah yang
bertujuan untuk memberikan gambaran tentang ukuran
keberhasilan pencapaian visi dan misi pada akhir masa
RPJMD yang ditunjukkan dari akumulasi pencapaian
indikator outcome program pembangunan daerah setiap
tahun atau indikator capaian yang bersifat mandiri
setiap tahun sehingga kondisi kinerja yang diinginkan
pada akhir periode RPJMD dapat dicapai.

j. BAB X : PEDOMAN TRANSISI DAN KAIDAH PELAKSANAAN


memuat pedoman transisi dan kaidah pelaksanaan
untuk menyusun dokumen perencanaan pembangunan
tahun pertama dibawah kepemimpinan kepala daerah
pada periode berikutnya (2021-2026).

k. BAB XI : PENUTUP

(2) RPJMD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sebagaimana tercantum


dalam Lampiran merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari
Peraturan Daerah ini.

BAB V
PENGENDALIAN DAN EVALUASI
Pasal 6
(1) Walikota melakukan pengendalian dan evaluasi pelaksanaan RPJMD.
(2) Pengendalian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:
a. kebijakan perencanaan RPJMD;
b. pelaksanaan RPJMD.

(3) Evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:


a. kebijakan perencanaan RPJMD;
b. pelaksanaan RPJMD;
c. hasil RPJMD.

(4) Pelaksanaan pengendalian dan evaluasi sebagaimana dimaksud pada


ayat (1) dilakukan oleh Kepala Badan Perencanaan Pembangunan
Daerah.

(5) Tata cara pengendalian dan evaluasi pelaksanaan RPJMD sebagaimana


dimaksud pada ayat (4) dilaksanakan sesuai ketentuan peraturan
perundang-undangan.

BAB VI
PERUBAHAN RPJMD
Pasal 7

(1) Perubahan RPJMD hanya dapat dilakukan apabila:


a. hasil pengendalian dan evaluasi menunjukan bahwa proses
perumusan, tidak sesuai dengan tahapan dan tata cara penyusunan
rencana pembangunan daerah;
b. hasil pengendalian dan evaluasi menunjukkan bahwa substansi yang
dirumuskan tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan;
c. terjadi perubahan yang mendasar; dan/atau;
d. merugikan kepentingan daerah dan nasional.

(2) Perubahan yang mendasar sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c,
meliputi terjadinya bencana alam, goncangan politik, krisis ekonomi,
konflik sosial, gangguan keamanan, pemekaran daerah, atau perubahan
kebijakan nasional.

(3) Merugikan kepentingan daerah dan nasional sebagaimana dimaksud


pada ayat (1) huruf d, apabila bertentangan dengan kebijakan daerah
dan nasional.

Pasal 8

RPJMD perubahan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ditetapkan


dengan Peraturan Daerah.
Pasal 9
Dalam hal pelaksanaan RPJMD terjadi perubahan capaian sasaran
tahunan tetapi tidak mengubah target pencapaian sasaran akhir
pembangunan jangka menengah, perubahan target kinerja tahunan
ditetapkan dengan Peraturan Walikota.

BAB VII
KETENTUAN PERALIHAN
Pasal 10
Pada saat RPJMD Tahun 2021-2026 belum tersusun, maka penyusunan
RKPD Tahun 2022 berpedoman pada RPJMD dan RPJPD serta mengacu
pada RPJMD Provinsi Jawa Tengah dan RPJMN.

BAB VIII
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 11
Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan
Peraturan Daerah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Kota
Semarang.

Ditetapkan di Semarang

pada tanggal 16 Agustus 2016

WALIKOTA SEMARANG

ttd

HENDRAR PRIHADI

Diundangkan di Semarang

pada tanggal 16 Agustus 2016

SEKRETARIS DAERAH KOTA SEMARANG

ttd

ADI TRI HANANTO

LEMBARAN DAERAH KOTA SEMARANG TAHUN 2016 NOMOR 6


NOREG PERATURAN DAERAH KOTA SEMARANG, PROVINSI JAWA TENGAH: (6/2016).
PENJELASAN
ATAS
PERATURAN DAERAH KOTA SEMARANG

NOMOR 6 TAHUN 2016

TENTANG

RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH


KOTA SEMARANG TAHUN 2016 - 2021

I. UMUM
RPJMD Kota Semarang merupakan dokumen perencanaan Kota
Semarang untuk periode 5 tahun yang dimaksudkan untuk memberikan
arahan sekaligus menjadi acuan bagi seluruh pelaku pembangunan di
Kota Semarang dalam menyelenggarakan pemerintahan, pengelolaan
pembangunan dan pelayanan kepada masyarakat.
Penyusunan RPJMD ini dilakukan dengan memperhatikan RPJM
Nasional, RPJMD Provinsi Jawa Tengah, memuat visi dan misi, arah dan
kebijakan keuangan daerah, isu – isu strategis, strategi pembangunan
daerah, kebijakan umum dan program pembangunan daerah, indikator
kinerja daerah dari Satuan Kerja Perangkat Daerah, lintas Satuan Kerja
Perangkat Daerah dan program kewilayahan disertai dengan rencana
kerja pendanaan yang bersifat indikatif. RPJMD digunakan sebagai
pedoman penetapan Renstra-PD dan penyusunan RKPD serta digunakan
sebagai instrumen evaluasi penyelenggaraan Pemerintahan Daerah.
Bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 264 ayat (1) Undang-
Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah,
disebutkan bahwa RPJMD ditetapkan dengan Peraturan Daerah.
Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, perlu membentuk
Peraturan Daerah tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Daerah Kota Semarang Tahun 2016 - 2021.
II. PASAL DEMI PASAL

Pasal 1
Cukup jelas.

Pasal 2
Cukup jelas.

Pasal 3
Cukup jelas.

Pasal 4
Cukup jelas.

Pasal 5
Cukup jelas.

Pasal 6
Cukup jelas.

Pasal 7
Cukup jelas.

Pasal 8
Cukup jelas.

Pasal 9
Cukup jelas.

Pasal 10
Cukup jelas.

Pasal 11
Cukup jelas.

TAMBAHAN LEMBARAN DAERAH KOTA SEMARANG NOMOR 107


DAFTAR ISI

DAFTAR ISI -------------------------------------------------------------------- i


DAFTAR GAMBAR ------------------------------------------------------------- v
DAFTAR TABEL --------------------------------------------------------------- ix

BAB I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang -------------------------------------- --------------------- I.1
1.2 Dasar Hukum Penyusunan -------------------------------------- ------- I.3
1.3 Maksud dan Tujuan -------------------------------------- --------------- I.8
1.4 Hubungan Antar Dokumen -------------------------------------- ------- I.9
1.5 Sistematika Penulisan -------------------------------------- ------------- I.13

BAB II. GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH


2.1 Aspek Geografi dan Demografi -------------------------------------- --- II.1
2.1.1 Karakteristik Lokasi dan Wilayah ------------------------------ II.1
2.1.1.1 Luas dan Batas Wilayah Administrasi ------------- II.1
2.1.1.2 Letak dan Kondisi Geografis ------------------------ II.2
2.1.1.3 Karakter Topografi ------------------------------------ II.5
2.1.1.4 Struktur Geologi -------------------------------------- II.8
2.1.1.5 Keadaan Hidrologi dan Hidrogeologi --------------- II.11
2.1.1.6 Kondisi Klimatologi ----------------------------------- II.14
2.1.1.7 Penggunaan Lahan ----------------------------------- II.15
2.1.2 Potensi Pengembangan Wilayah --------------------------------- II.17
2.1.2.1 Kawasan Strategis Bidang Pertumbuhan
Ekonomi ------------------------------------------------- II.18
2.1.2.2 Kawasan Strategis Bidang Sosial Budaya --------- II.19
2.1.2.3 Kawasan Strategis Bidang Pendayagunaan
Sumber Daya Alam atau Teknologi Tinggi --------- II.20
2.1.2.4 Kawasan Strategis Bidang Fungsi dan Daya
Dukung Lingkungan Hidup ------------------------- II.20
2.1.3 Wilayah Rawan Bencana ----------------------------------------- II.21
2.1.3.1 Kawasan Rawan Rob dan Banjir ------------------- II.22
2.1.3.2 Rawan Longsor dan Gerakan Tanah --------------- II.23
2.1.4 Aspek Demografi --------------------------------------------------- II.24
2.1.4.1 Komposisi Penduduk Kota Semarang per Kelompok
Umur ---------------------------------------------------- II.31
2.1.4.2 Komposisi Penduduk Kota Semarang per Tingkat
Pendidikan --------------------------------------------- II.32
2.1.4.3 Komposisi Penduduk Kota Semarang Per- Mata
Pencaharian -------------------------------------------- II.33
2.2 Aspek Kesejahteraan Masyarakat ------------------------------------- II.35
2.2.1 Fokus Kesejahteraan dan Pemerataan Ekonomi ------------ II.35
2.2.1.1 Pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto - II.35
2.2.1.2 Laju Inflasi --------------------------------------------- II.42
2.2.1.3 PDRB Per kapita -------------------------------------- II.44
2.2.1.4 Indeks Gini---------------------------------------------- II.45
2.2.1.5 Kemiskinan -------------------------------------------- II.47
2.2.1.6 Angka Kriminalitas ------------------------------------ II.50

i
2.2.2 Fokus Kesejahteraan Sosial ------------------------------------- II.51
2.2.2.1 Indeks Pembangunan Manusia (IPM) -------------- II.51
2.2.2.2 Indeks Pembangunan Gender (IPG) ---------------- II.54
2.2.2.3 Indeks Pemberdayaan Gender (IDG) --------------- II.56
2.2.2.4 Aspek Pendidikan ------------------------------------- II.57
2.2.2.5 Aspek Kesehatan -------------------------------------- II.60
2.2.2.6 Kepemilikan Tanah ----------------------------------- II.63
2.2.2.7 Kesempatan Kerja ------------------------------------- II.63
2.2.3 Fokus Seni Budaya dan Olahraga ----------------------------- II.67
2.2.3.1 Kebudayaan ------------------------------------------- II.67
2.2.3.2 Olahraga ------------------------------------------------ II.68
2.3 Aspek Pelayanan Umum ------------------------------------------------ II.68
2.3.1 Fokus Urusan Wajib Pelayanan Dasar ------------------------ II.68
2.3.1.1 Urusan Pendidikan ----------------------------------- II.68
2.3.1.2 Urusan Kesehatan ------------------------------------ II.70
2.3.1.3 Urusan Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang - II.71
2.3.1.4 Urusan Perumahan Rakyat dan Kawasan
Permukiman -------------------------------------------- II.73
2.3.1.5 Urusan Ketentraman, Ketertiban Umum dan
Perlindungan Masyarakat --------------------------- II.75
2.3.1.6 Urusan Sosial ------------------------------------------ II.76
2.3.2 Fokus Urusan Wajib Non Pelayanan Dasar ------------------ II.77
2.3.2.1 Urusan Tenaga Kerja --------------------------------- II.77
2.3.2.2 Urusan Pemberdayaan Perempuan Perlindungan
Anak ----------------------------------------------------- II.78
2.3.2.3 Urusan Pangan ---------------------------------------- II.78
2.3.2.4 Urusan Pertanahan ----------------------------------- II.79
2.3.2.5 Urusan Lingkungan Hidup -------------------------- II.80
2.3.2.6 Urusan Adm. Kependudukan & Capil ------------- II.81
2.3.2.7 Urusan Pemberdayaan Masyarakat dan Desa ---- II.82
2.3.2.8 Urusan Pengendalian Penduduk dan Keluarga
Berencana ---------------------------------------------- II.82
2.3.2.9 Urusan Perhubungan -------------------------------- II.83
2.3.2.10 Urusan Komunikasi dan Informatika -------------- II.84
2.3.2.11 Urusan Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah ---- II.84
2.3.2.12 Urusan Penanaman Modal -------------------------- II.85
2.3.2.13 Urusan Kepemudaan dan Olahraga --------------- II.86
2.3.2.14 Urusan Statistik --------------------------------------- II.86
2.3.2.15 Urusan Persandian ----------------------------------- II.87
2.3.2.16 Urusan Kebudayaan ---------------------------------- II.87
2.3.2.17 Urusan Perpustakaan -------------------------------- II.87
2.3.2.18 Urusan Kearsipan ------------------------------------- II.88
2.3.3 Fokus Urusan Pilihan -------------------------------------------- II.88
2.3.3.1 Urusan Kelautan dan Perikanan ------------------- II.88
2.3.3.2 Urusan Pariwisata ------------------------------------ II.89
2.3.3.3 Urusan Pertanian ------------------------------------- II.89
2.3.3.4 Urusan Perdagangan --------------------------------- II.90
2.3.2.5 Urusan Perindustrian -------------------------------- II.90

ii
2.3.4 Fokus Fungsi Penunjang ---------------------------------------- II.91
2.3.5 Fokus Urusan Pemerintahan Umum -------------------------- II.94
2.4 Aspek Daya Saing Daerah ---------------------------------------------- II.95
2.4.1 Fokus Kemampuan Ekonomi Daerah ------------------------- II.95
2.4.1.1 Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga
Perkapita ----------------------------------------------- II.95
2.4.1.2 Pengeluaran Konsumsi Non Pangan Rumah
Tangga Perkapita -------------------------------------- II.96
2.4.2 Fokus Fasilitas Wilayah/ Infrastruktur ----------------------- II.97
2.4.2.1 Aksesibilitas Daerah ---------------------------------- II.97
2.4.2.2 Penataan Wilayah ------------------------------------- II.104
2.4.2.3 Ketersediaan Air Minum ----------------------------- II.106
2.4.2.4 Fasilitas Listrik dan Telepon ------------------------ II.106
2.4.2.5 Ketersediaan Fasilitas Perdagangan & Jasa ------ II.107
2.4.2.6 Iklim Berinvestasi ------------------------------------- II.113
2.4.2.7 Keamanan dan Ketertiban---------------------------- II.113
2.4.2.8 Kemudahan Perijinan -------------------------------- II.114
2.4.2.9 Pengenaan Pajak Daerah ---------------------------- II.115
2.4.3 Fokus Sumber Daya Manusia ---------------------------------- II.116
2.4.3.1 Rasio Ketergantungan -------------------------------- II.116
2.4.3.2 Rasio Penduduk Usia 5 Tahun Keatas Menurut
Pendidikan Tertinggi Ditamatkan ------------------ II.117
2.4.3.3 Rasio Penduduk yang Bekerja Menurut
Pendidikan Yang Ditamatkan ----------------------- II.117
2.4.3.4 Rasio Jumlah Penduduk Menurut Mata
Pencaharian -------------------------------------------- II.118
BAB III. GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH
SERTA KERANGKA PENDANAAN
3.1 Kinerja Keuangan Tahun 2010-2015 ----------------------------------- III.1
3.1.1 Kinerja Pelaksanaan APBD --------------------------------------- III.2
3.1.1.1 Pendapatan Daerah -------------------------------------- III.11
3.1.1.2 Belanja Daerah ------------------------------------------- III.22
3.1.1.3 Pembiayaan Daerah-------------------------------------- III.27
3.1.2 Neraca Daerah ----------------------------------------------------- III.32
3.2 Kebijakan Pengelolaan Keuangan Kota Semarang Tahun
2010-2015 -------------------------------------------------------------- III.36
3.2.1 Analisis Belanja Daerah dan Pengeluaran Pembiayaan
Daerah -------------------------------------------------------------- III.37
3.2.1.1 Proporsi Realisasi Belanja Daerah Dibanding
Anggarah -------------------------------------------------- III.37
3.2.1.2 Analisis Proporsi Belanja untuk Pemenuhan
Kebutuhan Aparatur ------------------------------------ III.38
3.2.1.3 Analisis Belanja Periodik dan Pengeluaran Pembiayaan
yang Wajib & Mengikat serta Prioritas Utama ------ III.38
3.2.2 Analisis Pembiayaan Daerah ------------------------------------- III.42
3.2.2.1 Analisis Sumber Penutup Defisit Riil ----------------- III.42
3.2.2.2 Analisis Realisasi Sisa Lebih Perhitungan
Anggaran -------------------------------------------------- III.42

iii
3.2.2.3 Analisis Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran Tahun
Berkenaan ------------------------------------------------- III.44
3.3 Analisis Proyeksi APBD Tahun 2016-2021 ---------------------------- III.47
3.3.1 Proyeksi Pendapatan Daerah Kota Semarang 2016-2021 --- III.51
3.3.2 Proyeksi Belanja Daerah Kota Semarang 2016-2021 -------- III.51
3.3.3 Proyeksi Belanja dan Pengeluaran Wajib Mengikat serta
Prioritas Utama ---------------------------------------------------- III.53
3.3.4 Proyeksi Pembiayaan Daerah ------------------------------------ III.55
3.3.5 Analisis Kerangka Pendanaan ----------------------------------- III.58

BAB IV. ANALISIS ISU-ISU STRATEGIS


4.1 Permasalahan Pembangunan Kota Semarang ------------------------ IV.1
4.2 Isu-Isu Strategis Pembangunan Daerah Dalam RPJMD Tahun
2016-2021 -------------------------------------------------------------- IV.10
4.2.1 Isu Strategis Pembangunan Jangka Menengah --------------- IV.10
4.2.2 Keterkaitan Hasil Identifikasi Isu Strategis Pembangunan
Jangka Menengah dengan Isu Pokok Pembangunan dari
Visi Misi Walikota dan Wakil Walikota Terpilih --------------- IV.22
4.2.3 Keterkaitan Hasil Identifikasi Isu Strategis Pembangunan
Jangka Menengah dengan Isu Strategus Pembangunan
Jangka Panjang ----------------------------------------------------- IV.23
4.2.4 Penjelasan Isu Strategis Pembangunan Jangka Menengah - IV.25

BAB V. VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN


5.1 Visi -------------------------------------------------------------- V.1
5.2 Misi -------------------------------------------------------------- V.4
5.3 Tujuan -------------------------------------------------------------- V.8
5.4 Sasaran -------------------------------------------------------------- V.10

BAB VI. STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN


6.1 Strategi dan Arah Kebijakan -------------------------------------------- VI.1
6.2 Arah Kebijakan Kewilayahan -------------------------------------------- VI.17
6.2.1 Kawasan Strategis Pertumbuhan Ekonomi -------------------- VI.17
6.2.2 Kawasan Strategis Bidang Sosial Budaya ---------------------- VI.19
6.2.3 Kawasan Strategis Daya Dukung Lingkungan Hidup -------- VI.20

BAB VII. KEBIJAKAN UMUM DAN PROGRAM PEMBANGUNAN DAERAH

BAB VIII. INDIKASI RENCANA PROGRAM PRIORITAS YANG DISERTAI


KEBUTUHAN PENDANAAN

BAB IX. PENETAPAN INDIKATOR KINERJA DAERAH

BAB X. PEDOMAN TRANSISI DAN KAIDAH PELAKSANAAN


10.1 Pedoman Transisi -------------------------------------------------------- X.1
10.2 Kaidah Pelaksanaan ----------------------------------------------------- X.2

BAB XI. PENUTUP

iv
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.1 Kedudukan RPJMD Dalam Sistem Perencanaan


Pembangunan Nasional --------------------------------------- I.12
Gambar 2.1 Pembagian Administratif Wilayah Kota Semarang per
Kecamatan ------------------------------------------------------ II.1
Gambar 2.2 Posisi Strategis Kota Semarang ------------------------------ II.3
Gambar 2.3 Kepadatan Penduduk di Kawasan Strategis Nasional
Kedungsapur Tahun 2011 (jiwa/ha) ------------------------ II.4
Gambar 2.4 Perubahan Lahan Terbangun di Kota Semarang Tahun
1999 – Tahun 2014 -------------------------------------------- II.5
Gambar 2.5 Transek Ketinggian Kota Semarang ------------------------- II.6
Gambar 2.6 Topografi Kota Semarang -------------------------------------- II.7
Gambar 2.7 Batuan Kota Semarang ---------------------------------------- II.8
Gambar 2.8 Topografi Kota Semarang Berdasarkan Karakteristik
Fisik Alam -------------------------------------------------------- II.10
Gambar 2.9 Peta DAS Kota Semarang -------------------------------------- II.12
Gambar 2.10 Peta Air Tanah Kota Semarang ------------------------------- II.13
Gambar 2.11 Peta Zonasi Pengambilan Air Tanah Kota Semarang dan
Sekitarnya ------------------------------------------------------- II.14
Gambar 2.12 Penggunaan Lahan di Kota Semarang Tahun 2014 ------- II.15
Gambar 2.13 Penggunaan Lahan Sawah di Kota Semarang Tahun 2014 II.16
Gambar 2.14 Penggunaan Lahan Kering di Kota Semarang Tahun 2014 II.17
Gambar 2.15 Bahaya Bencana di Kota Semarang ------------------------- II.22
Gambar 2.16 Peta Rencana Pengendalian Bencana Kota Semarang ---- II.24
Gambar 2.17 Perkembangan Demografi Kota Semarang 2010 – 2015 -- II.25
Gambar 2.18 Peta Sebaran Penduduk Kota Semarang Tahun 2015 ---- II.26
Gambar 2.19 Jumlah Penduduk Kota Semarang Dirinci per Kecamatan
Tahun 2010 – 2015 --------------------------------------------- II.27
Gambar 2.20 Sebaran Kepadatan Penduduk di Kota Semarang 2013 -- II.27
Gambar 2.21 Perubahan Sebaran Penduduk Kota Semarang Tahun
2010 – 2015 ----------------------------------------------------- II.28
Gambar 2.22 Perkembangan Penduduk (Lahir, Mati, Datang, Pindah)
di Kota Semarang 2010 – 2015 ------------------------------- II.29
Gambar 2.23 Perkembangan Jumlah Pendatang di Kota Semarang
2010 – 2015 ----------------------------------------------------- II.30
Gambar 2.24 Sebaran Pendatang di Kota Semarang 2010 – 2015 ------ II.30
Gambar 2.25 Piramida Penduduk Kota Semarang Berdasarkan
Kelompok Umur Tahun 2010 dan Tahun 2015 ------------ II.31
Gambar 2.26 Komposisi Penduduk Berdasarkan Tingkat Pendidikan
Di Kota Semarang Tahun 2010 – 2015 ---------------------- II.32
Gambar 2.27 Jumlah Penduduk Berdasarkan Tingkat Pendidikan
di Kota Semarang Tahun 2015 ------------------------------- II.33

v
Gambar 2.28 Mata Pencaharian Penduduk Kota Semarang 2010 –
2015 -------------------------------------------------------------- II.33
Gambar 2.29 Laju Pertumbuhan Ekonomi Kota Semarang
Dibandingkan Dengan Provinsi Jawa Tengah dan
Nasional Tahun 2010 – 2015 --------------------------------- II.38
Gambar 2.30 Laju Pertumbuhan Ekonomi Kota Semarang
Dibandingkan Dengan 5 Kota di Jawa Tengah dan Kota
Besar Lainnya Tahun 2014 ----------------------------------- II.40
Gambar 2.31 Laju Pertumbuhan Ekonomi Kota Semarang
Dibandingkan Kab / Kota di Jawa Tengah Tahun 2014-- II.41
Gambar 2.32 Grafik Laju Inflasi di Kota Semarang Tahun 2011 – 2015 II.42
Gambar 2.33 Perbandingan Laju Inflasi Kota Semarang Dibandingkan
Dengan 5 Kota di Jawa Tengah Tahun 2015 --------------- II.42
Gambar 2.34 Perbandingan Laju Inflasi Kota Semarang Dibandingkan
Kota-Kota Besar Di Indonesia Lainnya Pada Tahun 2015 II.43
Gambar 2.35 Pertumbuhan PDRB Perkapita Kota Semarang Tahun
2010 – 2015 ----------------------------------------------------- II.44
Gambar 2.36 Grafik Perkembangan Indeks Gini di Kota Semarang
Tahun 2010 – 2015 --------------------------------------------- II.45
Gambar 2.37 Grafik Perkembangan Indeks Gini Kota Semarang
Dibandingkan Dengan Kab/Kota Di Jawa Tengah Tahun
2014 -------------------------------------------------------------- II.46
Gambar 2.38 Grafik Perkembangan Tingkat Persentase Kemiskinan
di Kota Semarang Tahun 2010 – 2015 ---------------------- II.47
Gambar 2.39 Perbandingan Persentase Penduduk Miskin Kota
Semarang dengan Kota-Kota Lain dan Provinsi Jawa
Tengah Tahun 2013 -------------------------------------------- II.47
Gambar 2.40 Grafik Perkembangan Persentase Kemiskinan
Kota Semarang Tahun 2010 – 2015 ------------------------- II.49
Gambar 2.41 Grafik Perkembangan IPM Kota Semarang Tahun 2010 –
2015 -------------------------------------------------------------- II.51
Gambar 2.42 Perkembangan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kota
Semarang dan Kab / Kota di Jawa Tengah Tahun 2014 - II.51
Gambar 2.43 Perkembangan IPG Kota Semarang Tahun 2010 – 2015 - II.53
Gambar 2.44 Perbandingan IPG Kota Semarang Dengan Kab/Kota di
Jawa Tahun 2014 ---------------------------------------------- II.54
Gambar 2.45 Perkembangan Indeks Gender (IDG) Kota Semarang
Tahun 2010 – 2015 --------------------------------------------- II.55
Gambar 2.46 Posisi Relatif IDG Kab/Kota Provinsi Jawa Tengah Tahun
2013 -------------------------------------------------------------- II.56
Gambar 2.47 Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) & Tingkat
Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) di Kota Semarang
Tahun 2010 – 2015 --------------------------------------------- II.65

vi
Gambar 3.1 Rata-rata Pertumbuhan Pendapatan Daerah 2010-2015
Dilihat Dari Masing-masing Komponen --------------------- III.12
Gambar 3.2 Persandingan Rata-rata Pertumbuhan PAD 2010-2015
Dengan Dan Tanpa Komponen PBB & BPHTB ------------ III.13
Gambar 3.3 Realisasi Pajak Daerah Tahun 2010-2015 ----------------- III.15
Gambar 4.1 Gambaran Permasalahan Utama dan Permasalahan
Pokok Pembangunan Daerah Kota Semarang ------------- IV.2
Gambar 5.1 Misi Walikota dan Wakil Walikota Semarang -------------- V.4
Gambar 5.2 Pencapaian Semarang Hebat --------------------------------- V.6
Gambar 5.3 Skema keterkaitan Visi–Misi RPJMN 2015–2019 dengan
RPJMD Kota Semarang Tahun 2016–2021 ----------------- V.12
Gambar 5.4 Skema keterkaitan RPJMD Provinsi Jateng 2013–2018
dengan RPJMD Kota Semarang Tahun 2016–2021 ------ V.14
Gambar 6.1 Agenda/Tema RPJMD Kota Semarang 2016-2021--------- VI.2
Gambar 6.2 Terminal Terpadu Mangkang --------------------------------- VI.13
Gambar 6.3 Operasionalisasi BRT ------------------------------------------ VI.13
Gambar 6.4 Manajemen Bank Sampah di Tiap Permukiman ---------- VI.14
Gambar 6.5 Kawasan Strategis Kota Semarang -------------------------- VI.20
Gambar 7.1 Pembangunan Semarang Hebat ------------------------------ VII.1

vii
DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Sebaran Topografi di Kota Semarang ----------------------- II.7


Tabel 2.2 Sebaran Jenis Tanah di Kota Semarang -------------------- II.9
Tabel 2.3 Luas Amblesan Tanah di Kota Semarang ------------------ II.11
Tabel 2.4 Lama dan Luasan Genangan Banjir ------------------------- II.23
Tabel 2.5 Sebaran Penduduk Per Kecamatan Kota Semarang
Tahun 2010 – 2015 -------------------------------------------- II.25
Tabel 2.6 Nilai PDRB dan Kontribusi Sektor Atas Dasar Harga
Berlaku Kota Semarang Tahun 2010 – 2015 (Milyar
Rupiah) ---------------------------------------------------------- II.35
Tabel 2.7 Nilai PDRB dan Kontribusi Sektor Atas Dasar Harga
Konstan 2010 Kota Semarang Tahun 2010 – 2015 (Milyar
Rupiah) --------------------------------------------------------- II.36
Tabel 2.8 Laju Pertumbuhan Produk Domestik Regional Brutto
(PDRB) Menurut Kategori di Kota Semarang Tahun 2010
– 2015 ------------------------------------------------------------ II.39
Tabel 2.9 PDRB Perkapita Kota Semarang Tahun 2010 – 2015
(Juta Rupiah) --------------------------------------------------- II.43
Tabel 2.10 Kondisi Pentahapan Keluarga Pra Sejahtera dan
Keluarga di Kota Semarang; 5 Kota lain di Jawa Tengah
dan Kawasan Strategis Kedungsapur serta Provinsi
Jawa Tengah Tahun 2014 ------------------------------------ II.48
Tabel 2.11 Jumlah Tindak Pidana Menonjol (Crime Index) Menurut
Di Kota Semarang Tahun 2010 – 2015 --------------------- II.49
Tabel 2.12 Perkembangan Indikator Pembentuk IPM Kota
Semarang Tahun 2010 – 2014 ------------------------------- II.52
Tabel 2.13 Capaian Indikator Komposit IPG Kota Semarang Tahun
2014 ------------------------------------------------------------- II.54
Tabel 2.14 Capaian Indikator Komposit IDG Kota Semarang Tahun
2013 ------------------------------------------------------------- II.56
Tabel 2.15 Realisasi Indikator Aspek Pendidikan ---------------------- II.58
Tabel 2.16 Realisasi Indikator Aspek Kesehatan ----------------------- II.59
Tabel 2.17 Realisasi Aspek Kesempatan Kerja ------------------------- II.63
Tabel 2.18 Jumlah Kelompok Kesenian dan Jumlah Gedung
Kesenian di Kota Semarang Tahun 2010 – 2015 --------- II.66
Tabel 2.19 Perkembangan Olahraga di Kota Semarang Tahun 2010
– 2015 ----------------------------------------------------------- II.67
Tabel 2.20 Realisasi Kinerja Urusan Pendidikan ---------------------- II.67
Tabel 2.21 Realisasi Kinerja Urusan Kesehatan ----------------------- II.69
Tabel 2.22 Realisasi Kinerja Urusan Pekerjaan Umum dan
Penataan Ruang ----------------------------------------------- II.70

viii
Tabel 2.23 Realisasi Kinerja Urusan Perumahan Rakyat Dan
Kawasan Permukiman ---------------------------------------- II.72
Tabel 2.24 Daftar Lokasi Lingkungan Perumahan dan Permukiman
Kumuh Kota Semarang --------------------------------------- II.73
Tabel 2.25 Realisasi Kinerja Urusan Ketentraman, Ketertiban
Umum dan Perlindungan Masyarakat --------------------- II.74
Tabel 2.26 Realisasi Kinerja Urusan Sosial ----------------------------- II.75
Tabel 2.27 Realisasi Kinerja Urusan Tenaga Kerja --------------------- II.76
Tabel 2.28 Realisasi Kinerja Urusan Pemberdayaan Perempuan &
Perlindungan Anak -------------------------------------------- II.77
Tabel 2.29 Realisasi Kinerja Urusan Pangan --------------------------- II.77
Tabel 2.30 Realisasi Kinerja Urusan Pertanahan ---------------------- II.78
Tabel 2.31 Realisasi Kinerja Urusan Lingkungan Hidup ------------- II.79
Tabel 2.32 Realisasi Kinerja Urusan Administrasi Kependudukan
Dan Catatan Sipil ---------------------------------------------- II.80
Tabel 2.33 Realisasi Kinerja Urusan Pemberdayaan Masyarakat
dan Desa -------------------------------------------------------- II.80
Tabel 2.34 Realisasi Kinerja Urusan Pengendalian Penduduk dan
Keluarga Berencana ------------------------------------------- II.81
Tabel 2.35 Realisasi Kinerja Urusan Perhubungan ------------------- II.81
Tabel 2.36 Realisasi Kinerja Urusan Komunikasi dan Informatika - II.83
Tabel 2.37 Urusan Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah ------------ II.83
Tabel 2.38 Realisasi Kinerja Urusan Penanaman Modal ------------- II.84
Tabel 2.39 Realisasi Kinerja Urusan Kepemudaan dan Olah Raga - II.84
Tabel 2.40 Realisasi Kinerja Urusan Statistik -------------------------- II.85
Tabel 2.41 Realisasi Kinerja Urusan Persandian ---------------------- II.85
Tabel 2.42 Realisasi Kinerja Urusan Kebudayaan --------------------- II.86
Tabel 2.43 Realisasi Kinerja Urusan Perpustakaan ------------------- II.86
Tabel 2.44 Realisasi Kinerja Urusan Kearsipan ------------------------ II.87
Tabel 2.45 Realisasi Kinerja Urusan Kelautan dan Perikanan ------ II.87
Tabel 2.46 Realisasi Kinerja Urusan Pariwisata ----------------------- II.88
Tabel 2.47 Realisasi Kinerja Urusan Pertanian ------------------------ II.88
Tabel 2.48 Realisasi Kinerja Urusan Perdagangan --------------------- II.89
Tabel 2.49 Realisasi Kinerja Urusan Perindustrian -------------------- II.89
Tabel 2.50 Realisasi Kinerja Fungsi Penunjang Perencanaan -------- II.90
Tabel 2.51 Realisasi Kinerja Fungsi Penunjang Penelitian dan
Pengembangan ------------------------------------------------- II.91
Tabel 2.52 Realisasi Kinerja Fungsi Penunjang Keuangan ----------- II.91
Tabel 2.53 Realisasi Kinerja Fungsi Lain sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan ---------------------------- II.92
Tabel 2.54 Realisasi Kinerja Urusan Pemerintahan Umum ---------- II.93
Tabel 2.55 Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga Per Kapita Kota
Semarang Tahun 2010 – 2014 ------------------------------- II.94

ix
Tabel 2.56 Pengeluaran Konsumsi Non Pangan Rumah Tangga Per
Kapita Kota Semarang Tahun 2010 – 2014 --------------- II.95
Tabel 2.57 Profil Kondisi Jalan Kota Di Kota Semarang Tahun 2010
& 2015 ----------------------------------------------------------- II.96
Tabel 2.58 Arus Lalu Lintas Angkutan Udara Domestik Pesawat,
Penumpang, Bagasi Barang/ Cargo dan Pos Paket di
Bandar Udara Ahmad Yani Kota Semarang Tahun 2010
– 2015 ----------------------------------------------------------- II.97
Tabel 2.59 Arus Lalu Lintas Angkutan Udara Internasional
Pesawat, Penumpang, Bagasi Barang / Cargo dan
Pos Paket di Bandar Udara Ahmad Yani Kota Semarang
Tahun 2010 – 2015 -------------------------------------------- II.98
Tabel 2.60 Banyaknya Kunjungan Kapal dan Bongkar Muat Barang
Di Pelabuhan Laut Tanjung Emas Semarang Tahun
2010 – 2015 ---------------------------------------------------- II.99
Tabel 2.61 Arus Lalu Lintas Penumpang dan Bus yang Masuk di
Terminal Terboyo Kota Semarang Tahun 2010 – 2015 - II.100
Tabel 2.62 Banyaknya Penumpang Kereta Api Melalui PT KA
(Persero) Daerah Operasi IV Kota Semarang
Tahun 2010 – 2015 -------------------------------------------- II.100
Tabel 2.63 Perkembangan Jumlah Ijin Trayek Di Kota Semarang
Tahun 2010 – 2015 -------------------------------------------- II.101
Tabel 2.64 Perkembangan Persentase Pemasangan Rambu-Rambu
Di Kota Semarang Tahun 2010 – 2015 --------------------- II.102
Tabel 2.65 Perkembangan Wartel / Warnet dan Jumlah Peralatan
Komunikasi Di Kota Semarang Tahun 2010 – 2015 ----- II.102
Tabel 2.66 Perkembangan Banyaknya Pelanggan, Pemakaian &
Penjualan Air Minum PDAM Tahun 2010 – 2015 -------- II.105
Tabel 2.67 Perkembangan Jumlah Pelanggan dan Daya
Tersambung Listrik Di Kota Semarang Tahun 2010 –
2015 ------------------------------------------------------------- II.105
Tabel 2.68 Persentase Rumah Tangga Menurut Kepemilikan
Telepon Seluler (HP) Di Kota Semarang Tahun 2010 –
2015 ( Persen ) ------------------------------------------------- II.106
Tabel 2.69 Perkembangan Jenis, Kelas, dan Jumlah Penginapan /
Hotel Di Kota Semarang Tahun 2010 – 2015 ------------- II.107
Tabel 2.70 Perkembangan Jumlah Restoran dan Rumah Makan
Di Kota Semarang Tahun 2010 – 2015 --------------------- II.107
Tabel 2.71 Perkembangan Jumlah Obyek Wisata Di Kota Semarang
Tahun 2010 – 2015 -------------------------------------------- II.108
Tabel 2.72 Perkembangan Jumlah Industri Kota Semarang
Tahun 2010 – 2015 -------------------------------------------- II.108

x
Tabel 2.73 Perkembangan Jumlah Pasar Di Kota Semarang
Tahun 2010 – 2015 -------------------------------------------- II.109
Tabel 2.74 Perkembangan Fasilitas Pendidikan Di Kota Semarang
Tahun 2010 – 2015 -------------------------------------------- II.109
Tabel 2.75 Perkembangan Fasilitas Kesehatan Di Kota Semarang
Tahun 2010 – 2015 -------------------------------------------- II.110
Tabel 2.76 Perkembangan Investasi Kota Semarang Tahun 2010 –
2015 ------------------------------------------------------------- II.111
Tabel 2.77 Perkembangan Jumlah Kriminalitas dan Jumlah Unjuk
Rasa / Demostrasi Di Kota Semarang Tahun 2010 –
2015 ------------------------------------------------------------- II.112
Tabel 2.78 Capaian Survey Kepuasan Masyarakat Pada BPPT Kota
Semarang Tahun 2010 – 2015 ------------------------------- II.113
Tabel 2.79 Perkembangan Jumlah Ijin Di Kota Semarang Tahun
2010 – 2015 ---------------------------------------------------- II.113
Tabel 2.80 Pajak Daerah Kota Semarang Tahun 2010 – 2015 ------- II.114
Tabel 2.81 Rasio Ketergantungan Kota Semarang Tahun 2010 –
2015 ------------------------------------------------------------- II.115
Tabel 2.82 Rasio Penduduk Usia 5 Tahun Ke Atas Menurut
Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan di Kota
Semarang Tahun 2010 – 2015 ( Persen ) ------------------ II.116
Tabel 2.83 Rasio Penduduk Yang Bekerja Menurut Pendidikan
Yang Ditamatkan di Kota Semarang Tahun 2010 – 2015
( Persen ) -------------------------------------------------------- II.116
Tabel 2.84 Rasio Penduduk Menurut Mata Pencaharian di Kota
Semarang Tahun 2010 – 2015 ( Persen ) ------------------ II.117
Tabel 3.1 Ringkasan APBD Kota Semarang Tahun 2010-2015 ----- III.4
Tabel 3.2 Ringkasan Realisasi APBD Kota Semarang Tahun 2010-
2015 -------------------------------------------------------------- III.7
Tabel 3.3 Target dan Realisasi Pendapatan Daerah Kota Semarang
Tahun 2010 – 2015 -------------------------------------------- III.13
Tabel 3.4 Target dan Realisasi Pendapatan Asli Daerah Kota
Semarang Tahun 2010 – 2015 ------------------------------- III.14
Tabel 3.5 Target dan Realisasi Pajak Daerah Kota Semarang
Tahun 2010 – 2015 -------------------------------------------- III.16
Tabel 3.6 Target dan Realisasi Retribusi Daerah Kota Semarang
Tahun 2010 – 2015 -------------------------------------------- III.16
Tabel 3.7 Target dan Realisasi Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah
yang Dipisahkan Kota Semarang Tahun 2010 – 2015 --- III.17
Tabel 3.8 Target dan Realisasi Lain-Lain PAD yang Sah Kota
Semarang Tahun 2010 – 2015 ------------------------------- III.17
Tabel 3.9 Target dan Realisasi Dana Perimbangan Kota Semarang
2010-2015 ------------------------------------------------------ III.18

xi
Tabel 3.10 Target dan Realisasi Dana Bagi Hasil Pajak Kota
Semarang Tahun 2010 – 2015 ------------------------------- III.19
Tabel 3.11 Target dan Realisasi Dana Bagi Hasil SDA Tahun 2010
– 2015 ----------------------------------------------------------- III.19
Tabel 3.12 Target dan Realisasi Dana Alokasi Umum Kota
Semarang Tahun 2010 – 2015 ------------------------------- III.20
Tabel 3.13 Target dan Realisasi Dana Alokasi Khusus Kota
Semarang Tahun 2010 – 2015 ------------------------------- III.21
Tabel 3.14 Target dan Realisasi Lain-Lain Pendapatan Daerah yang
Sah Kota Semarang Tahun 2010 – 2015 ------------------- III.21
Tabel 3.15 Target dan Realisasi Belanja Daerah Kota Semarang
Tahun 2010 – 2015 -------------------------------------------- III.23
Tabel 3.16 Target dan Realisasi Belanja Tidak Langsung Kota
Semarang Tahun 2010-2015 -------------------------------- III.23
Tabel 3.17 Target dan Realisasi Belanja Pegawai Kota Semarang
Tahun 2010-2015 --------------------------------------------- III.24
Tabel 3.18 Target dan Realisasi Belanja Bunga Kota Semarang
Tahun 2010-2015 --------------------------------------------- III.24
Tabel 3.19 Target dan Realisasi Belanja Hibah Kota Semarang
Tahun 2010-2015 --------------------------------------------- III.25
Tabel 3.20 Target dan Realisasi Belanja Bantuan Sosial Kota
Semarang Tahun 2010-2015 -------------------------------- III.26
Tabel 3.21 Target dan Realisasi Belanja Bantuan Keuangan Kota
Semarang Tahun 2010-2015 -------------------------------- III.26
Tabel 3.22 Target dan Realisasi Belanja Tidak Terduga Kota
Semarang Tahun 2010-2015 -------------------------------- III.27
Tabel 3.23 Target dan Realisasi Belanja Langsung Kota Semarang
Tahun 2010-2015 --------------------------------------------- III.27
Tabel 3.24 Target dan Realisasi Pembiayaan Daerah Kota Semarang
Tahun 2010-2015 --------------------------------------------- III.28
Tabel 3.25 Rata-rata Realisasi Pembiayaan Daerah Kota Semarang
Tahun 2010 – 2015 -------------------------------------------- III.30
Tabel 3.26 Perkembangan Anggaran dan Realisasi BUMD Kota
Semarang Tahun 2010 – 2015 ------------------------------- III.33
Tabel 3.27 Rata-Rata Pertumbuhan Neraca Daerah Kota Semarang
Tahun 2013-2015 --------------------------------------------- III.34
Tabel 3.28 Analisis Rasio Likuiditas Kota Semarang Tahun 2015 -- III.36
Tabel 3.29 Rasio Solvabilitas Kota Semarang Tahun 2014 ----------- III.36
Tabel 3.30 Proporsi Realisasi Belanja terhadap Anggaran Belanja
Daerah Kota Semarang Tahun 2010 – 2015 -------------- III.37
Tabel 3.31 Proporsi Realisasi Belanja Pemenuhan Kebutuhan
Aparatur terhadap Total Belanja Kota Semarang Tahun
2010-2015 ------------------------------------------------------ III.38

xii
Tabel 3.32 Realisasi Belanja Pemenuhan Kebutuhan Aparatur Kota
Semarang Tahun 2010 – 2015 ------------------------------- III.40
Tabel 3.33 Realisasi Belanja Periodik dan Pengeluaran Pembiayaan
Wajib dan Mengikat serta Prioritas Utama Kota
Semarang Tahun 2010 – 2015 ------------------------------- III.41
Tabel 3.34 Penutup Defisit Riil Anggaran Kota Semarang Tahun
2010 – 2015 ---------------------------------------------------- III.43
Tabel 3.35 Realisasi Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SiLPA) Kota
Semarang Tahun 2010 – 2015 ------------------------------- III.45
Tabel 3.36 Realisasi Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran Tahun
Berkenaan Kota Semarang Tahun 2010 – 2015 ---------- III.46
Tabel 3.37 Proyeksi Pendapatan Daerah Kota Semarang Tahun
2016-2021 ------------------------------------------------------ III.49
Tabel 3.38 Proyeksi Belanja Daerah Kota Semarang Tahun 2016-
2021 ------------------------------------------------------------- III.52
Tabel 3.39 Proyeksi Belanja dan Pengeluaran Pembiayaan yang
Wajib dan Mengikat serta Prioritas Utama Kota
Semarang Tahun 2016-2021 -------------------------------- III.54
Tabel 3.40 Proyeksi Pembiayaan Daerah Kota Semarang 2016-2021 III.57
Tabel 3.41 Kapasitas Riil Kemampuan Keuangan Daerah untuk
Mendanai Pembangunan Daerah Kota Semarang Tahun
2016 – 2021 ---------------------------------------------------- III.59
Tabel 3.42 Belanja Daerah Prioritas I dan II Kota Semarang Tahun
2016 – 2021 ---------------------------------------------------- III.60
Tabel 3.43 Proyeksi Kerangka Pendanaan RPJMD Kota Semarang
Tahun 2016-2021 --------------------------------------------- III.61
Tabel 4.1 Rumusan Permasalahan: Kualitas Sumber Daya
Manusia Yang Masih Perlu Ditingkatkan ------------------ IV.4
Tabel 4.2 Rumusan Permasalahan: Penyelenggaraan Tata Kelola
Pemerintahan Yang Baik (Good Governance) Masih
Belum Optimal ------------------------------------------------- IV.6
Tabel 4.3 Rumusan Permasalahan: Belum Optimalnya Penyediaan
Infrastruktur Dasar Dan Penataan Ruang ----------------- IV.8
Tabel 4.4 Rumusan Permasalahan: Inovasi Dan Daya Saing Nilai
Tambah Produksi Pada Sektor Perekonomian Masih
Perlu Ditingkatkan -------------------------------------------- IV.9
Tabel 4.5 Identifikasi Masalah, Variabel Penyebab Yang
Mempengaruhi Permasalahan Pembangunan Daerah
dengan Isu Strategis Pembangunan Jangka Menengah
Daerah Kota Semarang --------------------------------------- IV.11
Tabel 4.6 Keterkaitan Isu Strategis Pembangunan Jangka
Menengah Hasil Identifikasi Dengan Permasalahan

xiii
Pokok Pembangunan Walikota dan Wakil Walikota
Terpilih ---------------------------------------------------------- IV.23
Tabel 4.7 Keterkaitan Isu Strategis Pembangunan Jangka
Menengah Daerah Dengan Tahapan Pembangunan
RPJPD Kota Semarang --------------------------------------- IV.25
Tabel 5.1 Indikator Semarang Hebat ----------------------------------- V.7
Tabel 5.2 Tujuan Pembangunan Kota Semarang Tahun 2016-2021 V.9
Tabel 5.3 Misi, Tujuan dan Sasaran Pembangunan Kota Semarang
Tahun 2016-2021 --------------------------------------------- V.10
Tabel 5.4 Sinkronisasi Agenda Prioritas RPJMN 2014–2019
(Nawacita) Dengan RPJMD Kota Semarang Tahun 2016-
2021 ------------------------------------------------------------- V.13
Tabel 5.5 Tujuan dan Sasaran RPJMD Tahun 2016-2021 Kota
Semarang ------------------------------------------------------- V.15
Tabel 6.1 Strategi dan Arah Kebijakan --------------------------------- VI.3
Tabel 7.1 Arah Kebijakan Umum dan Program Prioritas ------------ VII.10
Tabel 8.1 Indikasi Rencana Program Prioritas RPJMD Kota
Semarang 2016 - 2021 ---------------------------------------- VIII.2

xiv
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Perencanaan pembangunan di suatu wilayah memiliki peran yang
sangat signifikan dalam mendorong perkembangan wilayah tersebut.
Perencanaan pembangunan menjadi dasar atau acuan dalam
penyelenggaraan pembangunan di waktu yang akan datang. Berdasarkan
Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan
Pembangunan Nasional, perencanaan pembangunan bertujuan untuk
mendukung koordinasi antarpelaku pembangunan, menjamin terciptanya
integrasi, sinkronisasi dan sinergi baik antardaerah, antarruang, antarfungsi
pemerintah maupun antara Pusat dan Daerah. Selain itu, perencanaan
pembangunan juga bertujuan untuk menjamin keterkaitan dan konsistensi
antara perencanaan, penganggaran, pelaksanaan dan pengawasan,
pengoptimalan partisipasi masyarakat dan menjamin tercapainya
penggunaan sumber daya secara efisien, efektif, berkeadilan dan
berkelanjutan.
Berdasarkan jangka waktunya, perencanaan pembangunan di
Indonesia terdiri dari Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) yang
memuat arahan pembangunan untuk 20 (dua puluh) tahun, Rencana
Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) yang memuat arahan
pembangunan untuk 5 (lima) tahun dan rencana pembangunan
tahunannasional dan daerah.
Sebagaimana perencanaan pembangunan di tingkat nasional,
perencanaan pembangunan di daerah juga dibagi berdasarkan jangka waktu,
yaitu Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) yang memiliki
jangka waktu perencanaan 20 tahun. RPJPD memuat visi, misi dan arah
pembangunan Daerah yang mengacu pada RPJP Nasional. Untuk jangka
waktu perencanaan 5 tahun terdapat Rencana Pembangunan Jangka
Menengah Daerah (RPJMD), yang kemudian dijabarkan ke dalam rencana
kerja tahunan yang tertuang dalam Rencana Kerja Pemerintah Daerah
(RKPD). Salah satu komponen penting dalam perencanaan pembangunan
daerah adalah perencanaan pembangunan lima tahunan yang tertuang
kedalam bentuk RPJMD. RPJMD menjabarkan secara detail visi, misi dan
program Kepala Daerah terpilih dengan berpedoman pada RPJPD dan
memperhatikan RPJMN, memuat arah kebijakan keuangan daerah, strategi

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 I-1


PENDAHULUAN

pembangunan daerah, kebijakan umum, dan program pembangunan daerah


disertai dengan rencana kerja dalam kerangka regulasi dan kerangka
pendanaan indikatif.
Dengan diberlakukannya Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014
tentang Pemerintah Daerah menjadi arah baru dalam penyelenggaraan tata
pemerintahan di Indonesia dimana penyelenggaraan tata pemerintahan
ditekankan untuk mengimplementasikan otonomi daerah secara luas, nyata
dan bertanggung jawab. Sebagai produk hukum terbaru terkait
desentralisasi, keberadaan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang
Pemerintahan Daerah semakin memperkuat peran strategis daerah dalam
meningkatkan kontribusinya dalam pemerataan kesejahteraan masyarakat
melalui pemerataan pendapatan masyarakat, kesempatan kerja, lapangan
usaha, perluasan akses dan peningkatan kualitas pelayanan publik serta
daya saing daerah.
Menurut UU Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah
bahwa Perda tentang RPJMD ditetapkan paling lama 6 (enam) bulan setelah
kepala daerah terpilih dilantik dan merupakan penjabaran dari visi, misi, dan
program kepala daerah yang memuat tujuan; sasaran; strategi; arah
kebijakan; pembangunan daerah dan keuangan daerah; serta program
Perangkat Daerah dan lintas Perangkat Daerah yang disertai dengan
kerangka pendanaan bersifat indikatif untuk jangka waktu 5 (lima) tahun
yang disusun dengan berpedoman pada RPJPD dan RPJMN. Untuk Kota
Semarang, pasangan Kepala Daerah terpilih untuk periode 2016-2021,
Walikota H. Hendrar Prihadi, SE, MM dan Wakil Walikota Ir. Hj. Hevearita
Gunaryanti Rahayu dilantik sebagai Walikota dan Wakil Walikota Semarang
pada tanggal 17 Februari 2016.
RPJMD Tahun 2016-2021, disusun berdasarkan visi dan misi pasangan
Walikota dan Wakil Walikota Semarang terpilih, sekaligus berfungsi sebagai
dokumen perencanaan yang mengakomodasi berbagai aspirasi masyarakat
yang ada dalam lingkup wilayah Kota Semarang dan berpedoman pada
evaluasi pelaksanaan pembangunan periode sebelumnya.
Penyusunan RPJMD Tahun 2016-2021 dilakukan secara integratif yang
merupakan penjabaran periode ke-III dari RPJPD tahun 2005-2025 yang
berkedudukan sebagai dokumen perencanaan induk dengan jangka waktu
20 (dua puluh) tahun. Selain itu RPJMD Tahun 2016-2021 ini juga
berpedoman pada dokumen perencanaan yang telah mempunyai kekuatan
hukum tetap serta mempertimbangkan kajian-kajian kebijakan yang telah

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 I-2


PENDAHULUAN

dilakukan oleh Pemerintah Pusat maupun Pemerintah daerah. RPJMD


Tahun 2016-2021 berpedoman pada RPJMN Tahun 2015-2019 khususnya
Nawacita, RPJMD Provinsi Jawa Tengah Tahun 2013-2018, RTRW Kota
Semarang Tahun 2011-2031, Rencana Induk Sistem Drainase 2011-2031,
Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Kota Semarang Tahun 2015-
2025 dan RTRW Kota/Kabupaten di sekitar Kota Semarang (Kabupaten
Demak, Kabupaten Kendal, Kabupaten Grobogan, Kabupaten Semarang dan
Kota Salatiga).
RPJMD Tahun 2016-2021 adalah dokumen perencanaan komprehensif
lima tahunan, yang selanjutnya digunakan sebagai acuan dalam
penyusunan Rencana Strategis (Renstra) Perangkat Daerah, yaitu dokumen
perencanaan Perangkat Daerah selama 5 (lima) tahunan yang memuat visi,
misi, tujuan, strategi, kebijakan, program dan kegiatan pembangunan yang
disusun sesuai dengan tugas pokok dan fungsi Perangkat Daerah serta
bersifat indikatif. Setiap Perangkat Daerah selanjutnya menjabarkan Renstra
ke dalam Rencana Kerja (Renja) Perangkat Daerah. Dalam siklus
perencanaan pembangunan daerah, RPJMD Tahun 2016-2021 juga menjadi
acuan untuk membuat RKPD Kota Semarang. Sesuai dengan yang
diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 23 tahun 2014 tentang
Pemerintahan Daerah, RKPD menjadi pedoman dalam penyusunan
Kebijakan Umum Anggaran dan Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara
yang selanjutnya menjadi Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja
Daerah (RAPBD). Dengan demikian, RPJMD Tahun 2016-2021 merupakan
pedoman bagi seluruh alur pembangunan dan berkaitan dengan seluruh
stakeholder di Kota Semarang.

1.2 DASAR HUKUM PENYUSUNAN


Dasar hukum penyusunan RPJMD Tahun 2016-2021 adalah sebagai
berikut :

1. Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1950 tentang Pembentukan Daerah-


daerah Kota Besar dalam Lingkungan Propinsi Djawa Timur, Djawa
Tengah, Djawa Barat dan Dalam Daerah Istimewa Jogjakarta;

2. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan


Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 75,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3851);

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 I-3


PENDAHULUAN

3. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara


(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 47,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4286);
4. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 5, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4355);
5. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan
Pengelolaan dan Tanggungjawab Keuangan Negara (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 66, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4400);
6. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan
Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2004 Nomor 104, Tambahan Lembaran NegaraRepublik Indonesia
Nomor 4421);
7. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan
antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 126, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4438);
8. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan
Jangka Panjang Nasional Tahun 2005-2025 (Lembaran NegaraRepublik
Indonesia Tahun 2007 Nomor 33, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4700);
9. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan
Bencana (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 66,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4723);
10. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 68,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4725);
11. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan
Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2009 Nomor 140, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 5059);
12. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan
Peraturan Perundang-undangan (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2011 Nomor 53, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 4389);

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 I-4


PENDAHULUAN

13. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah


(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 244,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5587),
sebagaimana telah diubah beberapa kali, terakhir dengan Undang-
Undang Nomor 9 Tahun 2015 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-
Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 58,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5679);
14. Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 1976 tentang Perluasan
Kotamadya Daerah Tingkat II Semarang (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 1976 Nomor 25, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 3079);
15. Peraturan Pemerintah Nomor 50 Tahun 1992 tentang Pembentukan
Kecamatan di Wilayah Kabupaten-Kabupaten Daerah Tingkat II
Purbalingga, Cilacap, Wonogiri, Jepara, dan Kendal serta Penataan
Kecamatan di Wilayah Kotamadya Daerah Tingkat II Semarang dalam
wilayah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Tengah (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 89);
16. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaam
Keuangan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005
Nomor 140, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
4578);
17. Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2005 tentang Pedoman
Pembinaan dan Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 165,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4593);
18. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2006 tentang Pelaporan
Keuangan dan Kinera Instansi Pemerintah (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2006 Nomor 25, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4614);
19. Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2006 tentang Tata Cara
Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 96,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4663);

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 I-5


PENDAHULUAN

20. Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 2006 tentang Tata Cara


Penyusunan Rencana Pembangunan Nasional (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 97, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4664);
21. Peraturan Pemerintah Nomor 3 Tahun 2007 tentang Laporan
Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Kepada Pemerintah, Laporan
Keterangan Pertanggungjawaban Kepala Daerah Kepada Dewan
Perwakilan Rakyat Daerah, dan Informasi Laporan Penyelenggaraan
Pemerintahan Daerah Kepada Masyarakat (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2007 Nomor 19, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4693);
22. Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Uang
Negara/Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007
Nomor 83, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
4738);
23. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tata Cara
Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana
Pembangunan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2008 Nomor 21, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
4817);
24. Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 2016 tentang Perangkat Daerah
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2016 Nomor 114
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5887);
25. Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan
Penanggulangan Bencana (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2008 Nomor 42, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
4828);
26. Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2008 tentang Pendanaan dan
Pengelolaan Bantuan Bencana (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2008 Nomor 42, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 4828);
27. Peraturan Presiden Nomor 87 Tahun 2014 tentang Peraturan
Pelaksanaan Undang–Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang
Pembentukan Peraturan Perundang–Undangan (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 199);

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 I-6


PENDAHULUAN

28. Peraturan Presiden Nomor 2 Tahun 2015 tentang Rencana


Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2015 – 2019
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 3);
29. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 Tahun 2010 tentang
Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang
Tahapan, Tatacara Penyusunan, Pengendalian, dan Evaluasi
Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah (Berita Negara Republik
Indonesia Tahun 2010 Nomor 517);
30. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Tengah Nomor 3 Tahun 2008 tentang
Rencana Pembangunan Jangka Panjang Provinsi Jawa Tengah Tahun
2005-2025 (Lembaran Daerah Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008 Nomor
3 Seri E, Tambahan Lembaran Daerah Provinsi Jawa Tengah Nomor 9);
31. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Tengah Nomor 5 Tahun 2014 tentang
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Provinsi Jawa
Tengah Tahun 2013 - 2018 (Lembaran Daerah Provinsi Jawa Tengah
Tahun 2014 Nomor 5, Tambahan Lembaran Daerah Provinsi Jawa
Tengah Nomor 65);
32. Peraturan Daerah Kota Semarang Nomor 11 Tahun 2006 tentang
Pengelolaan Keuangan Daerah (Lembaran Daerah Kota Semarang
Tahun 2007 Nomor 1 Seri E, Tambahan Lembaran Daerah Kota
Semarang Nomor 1), sebagaimana telah diubah dengan Peraturan
Daerah Kota Semarang Nomor 5 Tahun 2013 tentang Perubahan Atas
Peraturan Daerah Kota Semarang Nomor 11 Tahun 2006 tentang
Pengelolaan Keuangan Daerah (Lembaran Daerah Kota Semarang
Tahun 2013 Nomor 5, Tambahan Lembaran Daerah Kota Semarang
Nomor 83);
33. Peraturan Daerah Kota Semarang Nomor 13 Tahun 2006 tentang
Pengendalian Lingkungan Hidup (Lembaran Daerah Kota Semarang
Tahun 2007 Nomor 2 Seri E, Tambahan Lembaran Daerah Kota
Semarang Nomor 2);
34. Peraturan Daerah Kota Semarang Nomor 9 Tahun 2007 tentang Tata
Cara Penyusunan Rencana Pembangunan Daerah Kota Semarang
(Lembaran Daerah Kota Semarang Tahun 2008 Nomor 3, Tambahan
Lembaran Daerah Kota Semarang Nomor 13);

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 I-7


PENDAHULUAN

35. Peraturan Daerah Kota Semarang Nomor 6 Tahun 2010 tentang


Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang
Tahun 2005-2025 (Lembaran Daerah Kota Semarang Tahun 2010
Nomor 8, Tambahan Lembaran Daerah Kota Semarang Nomor 43);
36. Peraturan Daerah Kota Semarang Nomor 13 Tahun 2010 tentang
Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana di Kota Semarang
(Lembaran Daerah Kota Semarang Tahun 2010 Nomor 15, Tambahan
Lembaran Daerah Kota Semarang Nomor 48);
37. Peraturan Daerah Kota Semarang Nomor 14 Tahun 2011 tentang
Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Semarang Tahun 2011 –
2031 (Lembaran Daerah Kota Semarang Tahun 2011 Nomor 14,
Tambahan Lembaran Daerah Kota Semarang Nomor 61);
38. Peraturan Daerah Kota Semarang Nomor 7 Tahun 2014 tentang
Rencana Induk Sistem Drainase Kota Semarang Tahun 2011-2031
(Lembaran Daerah Kota Semarang Tahun 2014 Nomor 7, Tambahan
Lembaran Daerah Kota Semarang Nomor 92);
39. Peraturan Daerah Kota Semarang Nomor 5 Tahun 2015 tentang
Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Kota Semarang Tahun
2015-2025 (Lembaran Daerah Kota Semarang Tahun 2015 Nomor 5,
Tambahan Lembaran Daerah Kota Semarang Nomor 98).

1.3 MAKSUD DAN TUJUAN

Dokumen RPJMD Tahun 2016-2021 merupakan salah satu dokumen


perencanaan yang memuat arahan sekaligus menjadi pedoman bagi seluruh
pemangku kepentingan dalam mewujudkan cita-cita dan tujuan
pembangunan Kota Semarang dalam kurun waktu lima tahun ke depan.
Sehingga maksud dari penyusunan RPJMD ini adalah memberikan pedoman
bagi pemangku kepentingan baik di lingkungan pemerintahan, masyarakat,
dunia usaha/swasta dan pihak-pihak terkait lainnya untuk mewujudkan
cita-cita dan tujuan pembangunan daerah Kota Semarang secara sinergis.
Adapun tujuan penyusunan RPJMD Tahun 2016 – 2021 adalah
1. Memberikan landasan dan pedoman pada Walikota dan Wakil
Walikota terpilih dalam pelaksanaan pembangunan jangka waktu
2016-2021;
2. RPJMD menjadi pedoman dalam penyusunan Rencana Strategis
Perangkat Daerah. Penyusunan Renstra Perangkat Daerah ini

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 I-8


PENDAHULUAN

sebagai penjabaran teknis RPJMD pada masing-masing perangkat


daerah untuk lima tahun yang akan datang berdasarkan urusan
dan kewenangan yang ada dalam tugas dan fungsi Perangkat
Daerah.
3. Menyediakan pedoman bagi Perangkat Daerah dalam menyusun
Renstra Perangkat Daerah agar terjadi keselarasan dan
sinkronisasi dalam pencapaian visi, misi, tujuan dan sasaran
RPJMD
4. Menyediakan pedoman dalam penyusunan RKPD yang merupakan
perencanaan tahunan berupa program beserta target dan pagu
yang bersifat indikatif, sebagai bahan lebih lanjut pada
penyusunan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah.
4. Menyediakan instrumen sinkronisasi penyelenggaraan
pembangunan daerah mulai dari perencanaan, penganggaran,
pelaksanaan, pengendalian sampai dengan evaluasi.

1.4 HUBUNGAN ANTAR DOKUMEN

Untuk mewujudkan konsistensi perencanaan pembangunan daerah di


Kota Semarang, penyusunan RPJMD tahun 2016-2021 memiliki keterkaitan
yang erat dengan berbagai perencanaan lainnya, baik pada lingkup Kota
Semarang, Provinsi maupun Nasional. Penyusunan RPJMD merupakan
penjabaran atas kebijakan pembangunan yang terdapat dalam RPJPD Kota
Semarang tahun 2005-2025 untuk tahap perencanaan tahun 2016-2020.
Pada tahap tersebut, RPJMD tahun 2016-2021 diprioritaskan pada
pemantapan pembangunan secara menyeluruh diberbagai bidang. Dengan
menekankan pada pencapaian daya saing wilayah dan masyarakat yang
berlandaskan pada keunggulan sumber daya manusia yang berkualitas,
pelayanan dasar yang makin luas, infrastruktur wilayah yang makin
berkualitas, pelayanan dasar yang makin luas,dan kondusivitas wilayah yang
makin mantap serta kemampuan ilmu dan tekhnologi yang makin meningkat.
Dengan fokus kebijakan untuk mewujudkan sumber daya manusia Kota
Semarang yang berkualitas, mewujudkan tata kepemerintahan yang baik
(good governance) dan kehidupan politik yang demokratis dan bertanggung
jawab, mewujudkan kemandirian dan daya saing daerah, mewujudkan tata
ruang wilayah dan infrastruktur yang berkelanjutan, mewujudkan
kesejahteraan sosial masyarakat

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 I-9


PENDAHULUAN

Dalam penyusunan RPJMD berkaitan dengan kewilayahan yaitu dengan


berpedoman pada RTRW Tahun 2011-2031. Penyusunan RPJMD akan
memperhatikan dokumen RTRW yang di dalamnya berisi tentang pola
pengembangan zonasi kewilayahan. RPJMD disusun dengan memperhatikan
pembangunan yang bersifat pemanfaatan ruang di Kota Semarang. Hal ini
untuk menjadi pedoman dalam menyusun kebijakan pembangunan untuk
mengembangkan pusat-pusat pertumbuhan wilayah di Kota Semarang
berdasarkan potensi wilayahnya.
Penyusunan RPJMD juga tidak terlepas dari prioritas kebijakan
pembangunan jangka menengah Provinsi Jawa Tengah. Aspek keterkaitan
dengan RPJMD Provinsi Jawa Tengah yaitu dengan melakukan penyelarasan
terhadap prioritas pembangunan terutama untuk wilayah Kota Semarang.
Kebijakan pembangunan Provinsi Jawa Tengah untuk lima tahun yang akan
datang dapat dilihat dalam misi pembangunnannya. Penyusunan dokumen
ini juga memperhatikan RPJMN Tahun 2015-2019. Penjabaran RPJMN 2015-
2019 dengan memperhatikan nawa cita pembangunan merupakan agenda
pembangunan pemerintah untuk mewujudkan kondisi berdaulat secara
politik, mandiri dalam ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan.
Agenda pembangunan kewilayahan dapat dilihat pada lampiran Buku III
RPJMN yang berisi Agenda Pembangunan Wilayah sehingga dapat
diselaraskan dengan target-target pembangunan di RPJMD dalam
penyusunnya juga memperhatikan dokumen-dokumen lainnya yang
berkaitan dengan target-target pembangunan daerah, antara lain (1)
Dokumen Sustainable Development Goals (SDGs) sebagai kelanjutan dari
MDGs; (2) RAD Pangan dan Gizi (PG), (3) RAD Pengurangan Emisi Gas Rumah
Kaca (GRK); (4) Aksi Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi (PPK); (5)
Dokumen Strategi Penanggulangan Kemiskinan Daerah (SPKD), (6) Dokumen
Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS); (8) RPJM Daerah dan RTRW
Kota/Kabupaten sekitarnya.
Terlepas dari keterkaitan dengan dokumen perencanaan
pembangunan di atas RPJMD menjadi pedoman dalam penyusunan Renstra
Perangkat Daerah. Penyusunan Renstra Perangkat Daerah ini sebagai
penjabaran teknis RPJMD pada masing-masing perangkat daerah untuk lima
tahun yang akan datang berdasarkan urusan dan kewenangan yang ada
dalam tugas dan fungsi Perangkat Daerah. Masing-masing Perangkat Daerah
menyusun dokumen perencanaan teknis operasional dalam menentukan

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 I-10


PENDAHULUAN

arah kebijakan serta indikasi program dan kegiatan untuk jangka waktu 5
(lima) tahun ke depan.
Perencanaan yang ada dalam RPJMD selanjutnya dijabarkan ke dalam
RKPD sebagai suatu dokumen perencanaan tahunan pada Pemerintah Kota
Semarang. Dalam RKPD ini secara teknis dan operasional akan memuat
prioritas sasaran pembangunan berdasakan program dan kegiatan yang
menjadi acuan dalam penyusunan RAPBD Kota Semarang.
Keterkaitan RPJMD dengan dokumen perencanaan lainnya
selanjutnya dapat dilihat pada Gambar 1.1 berikut :

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 I-11


PENDAHULUAN

Pedoman

Pedoman

Gambar 1. 1
Kedudukan RPJMD dalam
Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional
Sumber: Modifikasi Lampiran 3 Permendagri 54 Tahun 2010

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021


I-12
PENDAHULUAN

1.5 SISTEMATIKA PENULISAN


RPJMD Tahun 2016-2021 disusun dengan sistematika sebagai berikut:

BAB I : PENDAHULUAN
Bab ini menjelaskan tentang latar belakang, dasar hukum
penyusunan, tujuan dan maksud penyusunan RPJMD,
hubungan antar dokumen, dan sistematika penulisan
dokumen RPJMD Kota Semarang 2016-2021.

BAB II : GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH


Gambaran umum kondisi daerah menjelaskan tentang
kondisi Kota Semarang secara komprehensif sebagai basis
atau dasar bagi perumusan perencanaan. Dalam bab ini
terdapat beberapa bahasan yaitu (i) Kondisi geografi dan
demografi, (ii) Kesejahteraan Masyarakat, (iii) Pelayanan
Umum, serta (iv) Daya Saing Daerah.

BAB III : GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH


SERTA KERANGKA PENDANAAN
Bab ini menjelaskan analisis pengelolaan keuangan daerah
yang bertujuan untuk memberikan gambaran kapasitas
atau kemampuan keuangan daerah Kota Semarang dalam
mendanai penyelenggaraan pembangunan Kota Semarang.

BAB IV : ANALISIS ISU-ISU STRATEGIS


Bab ini memuat berbagai permasalahan pembangunan dan
isu strategis yang akan menentukan kinerja pembangunan
dalam 5 (lima) tahun mendatang.

BAB V : VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN


Bab ini menguraikan visi dan misi Pemerintah Daerah Kota
Semarang dalam kurun waktu 5 (lima) tahun ke depan
disertai dengan tujuan dan sasaran.

BAB VI : STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN


Bab ini menguraikan strategi dan arah kebijakan
pembangunan Kota Semarang untuk kurun waktu 5 (lima)

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 I-13


PENDAHULUAN

tahun ke depan. Selain itu dalam bab ini juga diuraikan


mengenai kebijakan keuangan daerah Kota Semarang
dalam jangka menengah.

BAB VII : KEBIJAKAN UMUM DAN PROGRAM PEMBANGUNAN


DAERAH
Bab ini menjelaskan mengenai kebijakan umum yang
dirumuskan untuk pembangunan jangka menengah dan
disertai dengan program pembangunan yang menjadi
prioritas pembiayaan daerah yang akan direncanakan.

BAB VIII : INDIKASI RENCANA PROGRAM PRIORITAS YANG


DISERTAI KEBUTUHAN PENDANAAN
Bab ini memuat hubungan urusan Pemerintah dengan
Perangkat Daerah terkait beserta program yang menjadi
tanggung jawab Perangkat Daerah.

BAB IX : PENETAPAN INDIKATOR KINERJA DAERAH


Dalam bab ini dijelaskan mengenai indikator kinerja daerah
Kota Semarang dalam 5 (lima) tahun ke depan.

BAB X : PEDOMAN TRANSISI DAN KAIDAH PELAKSANAAN


Bab ini merupakan bab terakhir yang memuat pedoman
transisi implementasi RPJMD dari periode sebelum dan
sesudahnya, serta kaidah pelaksanaannya.

BAB XI : PENUTUP

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 I-14


BAB II
GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

2.1 ASPEK GEOGRAFI DAN DEMOGRAFI

2.1.1 Karateristik Lokasi Dan Wilayah

2.1.1.1 Luas Dan Batas Wilayah Administrasi

Sebagai Kota Pusat Pemerintahan Provinsi Jawa Tengah, Kota Semarang


memiliki luas wilayah sebesar 373,70 km2 yang lokasinya berbatasan
langsung dengan Kabupaten Kendal di sebelah barat, Kabupaten Semarang
di sebelah selatan, Kabupaten Demak di sebelah timur dan Laut Jawa di
sebelah utara dengan panjang garis pantai berkisar 13,6 km.
Secara administratif, Kota Semarang terbagi atas 16 wilayah Kecamatan
dan 177 Kelurahan. Dari jumlah tersebut, terdapat 2 Kecamatan yang
mempunyai wilayah terluas yaitu Kecamatan Mijen dengan luas wilayah
sebesar 57,55 Km² dan Kecamatan Gunungpati dengan luas wilayah sebesar
54,11 Km². Kedua Kecamatan tersebut terletak di bagian selatan yang
merupakan wilayah perbukitan yang sebagian besar wilayahnya masih
memiliki potensi pertanian dan perkebunan. Sementara itu wilayah
kecamatan dengan mempunyai luas terkecil adalah Kecamatan Semarang
Selatan dengan luas wilayah 5,93 Km² dan Kecamatan Semarang Tengah
dengan luas wilayah sebesar 6,14 Km².

Gambar 2.1
Pembagian Administratif Wilayah Kota Semarang Per Kecamatan

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 II-1

II-1
GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

2.1.1.2 Letak dan Kondisi Geografis

Kota Semarang dilihat berdasarkan posisi astronomi berada di antara


garis 6º 50’ – 7º 10’ Lintang Selatan dan garis 109º 35’ – 110º 50’ Bujur
Timur. Kota Semarang sebagai salah satu kota yang berada di garis pantai
utara pulau jawa memiliki ketinggian antara 0,75 sampai dengan 348,00 di
atas permukaan laut. Pada daerah perbukitan mempunyai ketinggian 90.56
- 348 mdpl yang diwakili oleh titik tinggi yang berlokasi di Jatingaleh dan
Gombel wilayah Semarang Selatan. Tugu, Mijen, dan Gunungpati. Untuk
dataran rendah mempunyai ketinggian 0.75 mdpl.

Kota Semarang memiliki luas wilayah sebesar 373,70 Km2. Berdasarkan


pembagiannya terdiri atas 39,56 Km2 (10,59%) tanah sawah dan 334,14
(89,41%) bukan lahan sawah. Menurut penggunaannya, luas tanah sawah
terbesar merupakan tanah sawah tadah hujan (53,12 %), dan hanya sekitar
19,97 % nya saja yang dapat ditanami 2 (dua) kali. Lahan kering sebagian
besar digunakan untuk tanah pekarangan/tanah untuk bangunan dan
halaman sekitar, yaitu sebesar 42,17 % dari total lahan bukan sawah.

Secara geografis, Kota Semarang memiliki posisi astronomis yaitu di


antara garis 6º50’ - 7º10’ Lintang Selatan (LS) dan garis 109º35’ - 110º50’
Bujur Timur. Berdasarkan posisi lokasinya, Kota Semarang terletak pada
jalur lalu lintas ekonomi Pulau Jawa. Selain itu, berdasarkan posisinya, Kota
Semarang memiliki lokasi strategis sebagai koridor pembangunan di Provinsi
Jawa Tengah yang terdiri dari empat simpul pintu gerbang yaitu koridor
pantai utara, koridor selatan, koridor timur dan koridor barat. Lokasi
strategis Kota Semarang juga didukung dengan keberadaan Pelabuhan
Tanjung Mas, Bandar Udara Ahmad Yani, Terminal Terboyo, Stasiun Kereta
Api Tawang dan Poncol, yang menguatkan peran Kota Semarang sebagai
simpul aktivitas pembangunan di Provinsi Jawa Tengah dan bagian tengah
Pulau Jawa, Indonesia. Lebih lanjut, posisi strategis Kota Semarang terlihat
di Gambar dibawah ini :

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 II-2


GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

Koridor Pantai Koridor


Utara Timur
Koridor
Barat

Koridor
Selatan

Sumber: Bappeda Kota Semarang, 2011


Gambar 2.2
Posisi Strategis Kota Semarang

Dalam konteks pembangunan Provinsi Jawa Tengah, Kota Semarang


juga merupakan bagian dari rangkaian kawasan strategis nasional
KEDUNGSAPUR bersama dengan Kabupaten Kendal, Kabupaten Demak,
Kabupaten Semarang, Kota Salatiga, dan Kabupaten Grobogan. Sebagai kota
metropolitan, Kota Semarang dalam kedudukannya di kawasan strategis
nasional KEDUNGSAPUR menjadi pusat aktivitas perdagangan dan jasa,
industri dan pendidikan. Fungsi inilah yang kemudian berdampak pada
perkembangan pembangunan yang ada di Kota Semarang karena
sebagaimana yang diketahui, aktivitas perdagangan dan jasa, industri dan
pendidikan menjadi aktivitas yang paling banyak mengundang manusia
untuk beraktivitas di dalamnya. Oleh karenanya, Kota Semarang menjadi
salah satu kota yang memiliki daya tarik bagi penduduk pendatang untuk
beraktivitas di dalamnya.

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 II-3


GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

Kepadatan Penduduk per Kelurahan (penddk/ha)

Sumber: Bappeda Kota Semarang, 2015


Gambar 2.3
Kepadatan Penduduk di Kawasan Strategis Nasional
KEDUNGSAPUR Tahun 2011 (Jiwa/Ha)

Selain itu, Kota Semarang juga merupakan bagian dari segitiga pusat
pertumbuhan regional JOGLOSEMAR bersama dengan Jogjakarta dan Solo.
Dalam perkembangannya, Kota Semarang berkembang sebagai kota
perdagangan dan jasa dimana perkembangan aktivitas perdagangan
(perniagaan) dan jasa menjadi tulang punggung pembangunan dalam rangka
mewujudkan kesejahteraan masyarakat.

Sebagai kota metropolitan yang menjadi bagian dari kawasan strategis


nasional KEDUNGSAPUR dan segitiga pusat pertumbuhan regional
JOGLOSEMAR, pertumbuhan dan perkembangan pembangunan Kota
Semarang mengarah ke arah barat, timur dan selatan. Arah pertumbuhan
dan perkembangan pembangunan di Kota Semarang dapat dilihat dari
perubahan luasan lahan terbangun yang terus meningkat dari tahun 1999
hingga 2014. Gambar 2.4 menunjukan perbandingan perubahan luasan
lahan terbangun Kota Semarang pada tahun 1999 dengan luasan lahan

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 II-4


GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

terbangun tahun 2014. Terlihat jelas pada Gambar 2.4 bahwa


kecenderungan arah perkembangan pembangunan Kota Semarang
mengarah ke arah barat, timur dan selatan.

Keterangan:

= Lahan terbangun tahun 1999

= Lahan terbangun tahun 2014

Sumber: Bappeda Kota Semarang, 2015


Gambar 2.4
Perubahan Lahan Terbangun di Kota Semarang
Tahun 1999 dengan Tahun 2014

Perkembangan pembangunan Kota Semarang yang mengarah ke barat,


selatan dan timur juga salah satunya dipengaruhi posisi strategis Kota
Semarang yang berada di tengah-tengah rangkaian kawasan strategis
pertumbuhan ekonomi di Jawa Tengah yaitu KEDUNGSAPUR DAN
JOGLOSEMAR. Oleh karenanya, untuk mendukung dan mendorong aktivitas
perkotaan di Kota Semarang sebagai kota perdagangan dan jasa diwujudkan
dengan adanya kawasan PETAWANGI (Peterongan-Tawang-Siliwangi).
Kawasan PETAWANGI merupakan kawasan strategis yang disediakan
dengan tujuan pembukaan potensi investasi perdagangan, jasa, dan industri
khususnya pada koridor Jalan Siliwangi – Kawasan Pusat Kota – Jalan
Kaligawe dan Jalan Majapahit.

2.1.1.3 Karakter Topografi

Kota Semarang yang terletak di bagian utara Provinsi Jawa Tengah


memiliki kenampakan yang yang umumnya juga dimiliki oleh kota/
kabupaten lain yang berada di Pulau Jawa. Umumnya, sebagian besar

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 II-5


GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

kenampakan geomorfologi Pulau Jawa terdiri dari dataran rendah di bagian


utaranya, serta perbukitan dan pegunungan di bagian selatannya. Gambar
2.15 menjelaskan bahwa secara umum, Kota Semarang didominasi oleh
dataran rendah khususnya pada bagian utaranya dan perbukitan di bagian
selatannya. Sama halnya dengan kenampakan morfologi Pulau Jawa,
semakin mengarah ke selatan, morfologi Kota Semarang cenderung berupa
area perbukitan.

Semarang
A
Pul Semarang

Semarang

A
A B
B

Sumber: Bappeda Kota Semarang, 2015


Gambar 2.5
Transek Ketinggian Kota Semarang

Secara topografis Kota Semarang terdiri dari daerah perbukitan, dataran


rendah dan daerah pantai. Daerah pantai 65,22% wilayahnya adalah dataran
dengan kemiringan 25% dan 37,78% merupakan daerah perbukitan dengan
kemiringan 15-40%. Kondisi lereng tanah Kota Semarang dibagi menjadi 4
jenis kelerengan yaitu :

 Lereng I (0-2%) meliputi Kecamatan Genuk, Pedurungan, Gayamsari,


Semarang Timur, Semarang Utara, Tugu, sebagian wilayah
Kecamatan Tembalang, Banyumanik dan Mijen.

 Lereng II (2-5%) meliputi Kecamatan Semarang Barat, Semarang


Selatan, Candisari, Gajahmungkur, Gunungpati dan Ngaliyan.

 Lereng III (15-40%) meliputi wilayah di sekitar Kaligarang dan Kali


Kreo (Kecamatan Gunungpati), sebagian wilayah kecamatan Mijen
(daerah Wonoplumbon) dan sebagian wilayah Kecamatan
Banyumanik dan Kecamatan Candisari.

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 II-6


GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

 Lereng IV (> 50%) meliputi sebagian wilayah Kecamatan


Banyumanik (sebelah tenggara) dan sebagian wilayah Kecamatan
Gunungpati terutama disekitar Kali Garang dan Kali Kripik.

Berdasarkan data topografi Kota Semarang yang tercantum dalam


RTRW Kota Semarang 2011 – 2031, sebanyak 43,89% luasan wilayah Kota
Semarang memiliki kelerangan yang berkisar 0 – 2% hal ini dikarenakan
sebagian besar Kota Semarang merupakan dataran rendah dengan
ketinggian 2.45 mdpl.

1,96%
2,85%

15,20%
43,89%

36,11%

0-2% 2- 15 % 15 – 25 % 25 – 40 % > 40 %

Sumber : Bappeda Kota Semarang, 2011

Gambar 2.6
Topografi Kota Semarang

Jika dirinci per kecamatan di Kota Semarang, kecamatan yang


mayoritasnya merupakan dataran rendah diantara Kecamatan Pedurungan,
Genuk, Gayamsari, Semarang Timur, Semarang Utara, Semarang Tengah,
Semarang Barat dan Tugu. Sedangkan kecamatan yang memiliki area dengan
perpaduan morfologi dataran rendah dan perbukitan dimiliki oleh Kecamatan
Mijen, Banyumanik, Gajahmungkur, Candisari, dan Tembalang. Sedangkan
kecamatan yang memiliki morfologi perpaduan antara perbukitan dengan
pegunungan berada di Kecamatan Gunungpati dan sebagian kecil berada di
Banyumanik.
Tabel 2.1
Sebaran Topografi Kota Semarang
Luas (Ha)
No. Kecamatan
0-2% 2- 15 % 15 – 25 % 25 – 40 % > 40 %

1 Mijen 453,40 4.279,24 530,92 27,66 88,00


2 Gunungpati 342,05 3.724,41 1.549,75 219,39 305,38
3 Banyumanik 971,73 821,27 864,68 267,95 165,16
4 Gajah Mungkur 202,01 409,33 230,20 20,30 78,94

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 II-7


GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

Luas (Ha)
No. Kecamatan
0-2% 2- 15 % 15 – 25 % 25 – 40 % > 40 %

5 Semarang Selatan 505,67 82,98 25,21 - -


6 Candisari 2,01 455,94 104,41 85,03 12,49
7 Tembalang 1.273,40 1.690,93 897,17 167,31 113,26
8 Pedurungan 2.198,63 - - - -
9 Genuk 2.729,45 - - - -
10 Gayamsari 643,49 - - - -
11 Semarang Timur 561,73 - - - -
12 Semarang Utara 1.702,07 - - - -
13 Semarang Tengah 535,36 - - - -
14 Semarang Barat 1.687,10 297,47 189,73 36,13 -
15 Tugu 2,834,16 109,96 42,78 - -
16 Ngaliyan 484,98 2.219,67 1.496,32 286,91 -
Total 17.127,24 14.091,19 5,931.17 1.110,67 763,22

Sumber : Bappeda Kota Semarang, 2011

2.1.1.4 Struktur Geologi

Berdasarkan komposisi batuannya, Kota Semarang didominasi oleh


batuan endapan permukaan alluvium yaitu sebanyak 46,12% dari seluruh
luasan area Kota Semarang. Lebih lanjut, kondisi komposisi batuan di Kota
Semarang terlihat pada gambar dibawah ini :

4,14% 2,61%
11,13%

46,12%
19,22%

16,78%

Endapan Permukaan Alluvium Lapisan Marin


Batuan Sedimentasi Breksi V Endapan V Lahar Gunung
Endapan V Gunung Ungaran Batuan Vulkanik

Sumber : Bappeda Kota Semarang, 2011


Gambar 2.7
Batuan Kota Semarang

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 II-8


GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

Endapan ini merupakan endapan yang terletak di bawah permukaan air


termasuk ke dalam endapan alluvial, yaitu endapan sekunder yang
terkumpul dalam jumlah dan kadar yang tinggi melalui suatu proses
konsentrasi alam yang letaknya sudah jauh dari batuan induknya dan sudah
sempat diangkut oleh sungai dan ombak laut.

Berdasarkan jenis tanahnya, Kota Semarang memiliki jenis tanah


diantaranya Mediteran Coklat Tua, Latosol Coklat Tua Kemerahan, Asosiasi
Aluvial Kelabu dan Coklat Kekelabuan, dan Aluvial Hidromorf Grumosol
Kelabu Tua. Adapun sebarang jenis tanah di Kota Semarang terpaparkan di
Tabel 2.2 sebagai berikut:

Tabel 2.2
Sebaran Jenis Tanah di Kota Semarang

No. Jenis Tanah Lokasi

 Kecamatan Tugu
 Kecamatan Semarang Selatan
1. Mediteran Coklat Tua
 Kecamatan Gunungpati
 Kecamatan Semarang Timur

 Kecamatan Mijen
2. Latosol Coklat Tua Kemerahan
 Kecamatan Gunungpati

Asosiasi Aluvial Kelabu dan  Kecamatan Genuk


3.
Coklat Kekelabuan  Kecamatan Semarang Tengah

 Kecamatan Tugu
Alluvial Hidromorf Grumosol  Kecamatan Semarang Utara
4.
Kelabu Tua  Kecamatan Genuk
 Kecamatan Mijen

Sumber : Bappeda Kota Semarang, 2009

Kota Semarang memiliki tiga bagian struktur geologi yaitu struktur joint
(kekar), patahan (fault) dan lipatan. Daerah patahan tanah bersifat erosif dan
mempunyai porositas tinggi, struktur lapisan batuan yang diskontinyu (tak
teratur), heterogen, sehingga mudah bergerak atau longsor. Daerah patahan
di Kota Semarang berada di sekitar aliran Kali Garang yang membujur kearah
utara sampai selatan dan berbatasan dengan Bukit Gombel. Patahan ini
bermula dari Ondorante kearah utara hingga Bendan Duwur. Patahan ini
merupakan patahan geser, yang memotong formasi Notopuro, ditandai
adanya zona sesar, tebing terjal di Ondorante dan pelurusan Kali Garang
serta beberapa mata air di Bendan Duwur. Kemudian, daerah patahan
lainnya di Kota Semarang berada di Meteseh, Perumahan Bukit Kencana
Jaya dengan arah patahan melintas dari utara ke selatan. Kota Semarang
juga memiliki gerakan tanah yang terbagi kedalam empat kategori yaitu

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 II-9


GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

gerakan tanah tinggi, gerakan tanah menengah, gerakan tanah rendah dan
gerakan tanah sangat rendah. Sebagian besar, daerah di Kota Semarang
memiliki gerakan tanah sangat rendah. Meskipun demikian, beberapa
daerah memiliki gerakan tanah yang tinggi yaitu Kecamatan Mijen,
Gunungpati, Banyumanik, dan Tembalang. Jika dikaitkan dengan kondisi
topografinya, daerah yang memiliki gerakan tanah tinggi merupakan daerah
perbukitan. Lebih lanjut mengenai kondisi topografi di Kota Semarang
terlihat pada gambar 2.8 di bawah ini :

9,57%
14,78%

58,67% 16,99%

Gerakan Tanah Tinggi


Gerakan Tanah Menengah
Gerakan Tanah Rendah

Sumber : Bappeda Kota Semarang, 2011


Gambar 2.8
Topografi Kota Semarang Berdasarkan Karakteristik Fisik Alam

Beragamnya kondisi topografi Kota Semarang menjadikan Kota


Semarang memiliki beragam karakteristik fisik alam yang harus diperhatikan
dalam pembangunan. Selain daerah perbukitan yang memiliki gerakan tanah
menengah hingga tinggi, Kota Semarang juga memiliki daerah yang rawan
terhadap amblesan tanah. Umumnya, daerah yang memiliki amblesan tanah
merupakan daerah yang berada di dataran rendah dan daerah pantai yang
terdiri dari beberapa kecamatan yaitu Kecamatan Semarang Selatan,
Pedurungan, Genuk, Gayamsari, Semarang Timur, Semarang Utara,
Semarang Tengah, dan Semarang Barat. Berdasarkan Tabel 2.3, Kecamatan
Genuk merupakan kecamatan yang memiliki amblesan tanah tertinggi tiap
tahunnya diantara seluruh kecamatan di Kota Semarang.

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 II-10


GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

Tabel 2.3
Luas Amblesan Tanah di Kota Semarang

Luas Amblesan (Ha)


No. Kecamatan 0-2 2-4 4 -6 6 -8 >8
cm/th cm/th cm/th cm/th cm/th
1 Semarang Selatan 0.67 - - - -
2 Pedurungan 261.18 91.40 408.07 - -
3 Genuk 483.62 504.30 445.54 103.26 544.07
4 Gayamsari 166.89 106.15 126.63 25.56 9.04
5 Semarang Timur 204.19 - - 42.54 12.36
6 Semarang Utara 147.52 - 262.33 294.53 396.83
7 Semarang Tengah 69.34 250.08 28.86 - -
8 Semarang Barat - 403.68 11.63 - -

Sumber : Bappeda Kota Semarang, 2011

2.1.1.5 Keadaan Hidrologi dan Hidrogeologi

Kota Semarang memiliki beberapa ruas sungai yang mengalir yang


berpotensi sebagai potensi air. Sungai yang mengalir di Kota Semarang
diantaranya adalah Kali Garang, Kali Pengkol, Kali Kreo, Kali Banjirkanal
Timur, Kali Babon, Kali Sringin, Kali Kripik, Kali Dungadem dan lain
sebagainya. Kali Garang yang bermata air di gunung Ungaran, alur
sungainya memanjang ke arah Utara hingga mencapai Pegandan tepatnya di
Tugu Soeharto, bertemu dengan aliran Kali Kreo dan Kali Kripik. Kali Garang
sebagai sungai utama pembentuk kota bawah yang mengalir membelah
lembah-lembah Gunung Ungaran mengikuti alur yang berbelok-belok
dengan aliran yang cukup deras. Beberapa sungai yang melintasi Kota
Semarang memiliki debit air yang berbeda-beda. Hal ini tentu saja
berpengaruh pada potensi air di Kota Semarang. Debit Kali Garang
mempunyai debit 53% dari debit total dan Kali Kreo 34,7% selanjutnya Kali
Kripik 12,3%.Sungai-sungai tersebut dikelola dalam 11 DAS, yaitu DAS Tugu,
DAS Babon, DAS Banjir Kanal Barat, DAS Banjir Kanal Timur, DAS Barat,
DAS Bringin, DAS Blorong, DAS Plumbon, DAS Silandak, DAS Tengah dan
DAS Timur (lihat Gambar 2.9). Potensi sumber daya air yang ada di Kota
Semarang tidak hanya berasal dari sungai yang melintas saja tetapi juga
berasal dari air tanah. Penduduk Kota Semarang yang berada di dataran
rendah, banyak memanfaatkan air tanah ini dengan membuat sumur-sumur
gali (dangkal) dengan kedalaman rata-rata 3-18 meter. Sedangkan untuk
peduduk di dataran tinggi hanya dapat memanfaatkan sumur gali pada
musim penghujan dengan kedalaman berkisar antara 20-40 meter.

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 II-11


GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

Sumber : Bappeda Kota Semarang, 2011


Gambar 2.9
Peta DAS Kota Semarang

Peta Hidrogeologi dalam lembar dokumen RTRW 2011-2031 menjelaskan


bahwa tipe akuifer di daerah monitoring merupakan akuifer delta garang
yang dibagi menjadi dua, yaitu tipe akuifer bebas dan akuifer di daerah
monitoring merupakan akuifer delta garang yang dibagi menjadi dua, yaitu
tipe akuifer bebas dan akuifer tertekan. Akuifer bebas memiliki kedalaman
antara 3-18 m, sedangkan akuifer tertekan antara 50-90 m dibawah
permukaan tanah. Akuifer tertekan berada di ujung timur laut kota dan pada
mulut Sungai Garang lama yang terletak pada pertemuan antara lembah
Sungai Garang dengan dataran pantai. Kelompok Akuifer Delta Garang ini
disebut pula kelompok akuifer utama karena merupakan sumber air tanah
yang potensial dan bersifat air tawar. Adapun Peta Hidrogeologi dapat
dijelaskan pada gambar berikut:

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 II-12


GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

Sumber : Bappeda Kota Semarang, 2011


Gambar 2.10
Peta Air Tanah Kota Semarang

Perijinan Air Bawah Tanah (ABT) tahun 2013 sebanyak 55 perijinan dan 2014
sebanyak 56 perijinan. Mulai tahun 2015 penerbitan ijin ABT menjadi
kewenangan Provinsi Jawa Tengah. Pemerintah kota hanya sebatas
memberikan rekomendasi aspek sosial ekonomi masyarakat. Dari data yang
diperoleh pada tahun 2015 terhitung sejumlah 65 Perijinan.
Dari gambar 2.11 di bawah ini dijelaskan bahwa Zona kritis Muka Air Tanah
(MAT) lebih dari 10 m dibawah muka air laut sebagian besar berada di daerah
Semarang bagian utara dan daerah zona kritis di dorong sebagai daerah
konservasi dan pada akuifer diatas 30 m pengambilan air tanah hanya untuk
keperluan rumah tangga. Sedangkan Zona Rawan sebagian besar berada di
pusat kota dan didorong sebagai daerah konservasi dengan kedalaman
akuifer yang dibolehkan pengambilan air tanah pada kedalaman antara 30-
90 m bawah muka tanah (bmt) hanya untuk keperluan selain industri. Zona
aman berada lebih ke arah selatan dengan kedalaman 30 bmt dengan
batasan pengambilan 150 m3/detik boleh pengambilan selain untuk rumah
tangga dengan kajian geologi lebih dalam.

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 II-13


GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

Sumber : D. PSDA & ESDM Kota Semarang, 2013

Gambar 2.11
Peta Zonasi Pengambilan Air Tanah Kota Semarang dan Sekitarnya

2.1.1.6 Kondisi Klimatologi

Kondisi klimatologi Kota Semarang sama seperti kondisi klimatologi di


Indonesia pada umumnya. Kota Semarang memiliki iklim tropis basah yang
dipengaruhi oleh angin muson barat dan muson timur. Dari bulan November
hingga Mei, angin bertiup dari arah Utara Barat Laut menciptakan musim
hujan dengan membawa banyak uap air dan hujan. Lebih dari 80% dari
curah hujan tahunan, turun pada periode ini. Untuk curah hujan di Kota
Semarang, Kota Semarang mempunyai sebaran yang tidak merata sepanjang
tahun, dengan total curah hujan rata-rata pertahun mencapai 9,891 mm per
tahun. Suhu minimum rata-rata yang diukur di Stasiun Klilmatologi
Semarang berubah-berubah dari 21,1ºC pada September ke 24,6 ºC pada
bulan Mei dan suhu maksimum rata-rata berubah dari 29,9 ºC ke 32,9 ºC.
Kelembagaan relatif bulanan rata-rata berubah-ubah dari minimum 61%
pada bulan September ke maksimum 83% pada bulan Januari. Kecepatan
angin bulanan rata-rata di Stasiun Klimatologi Semarang berubah-ubah dari
215 km/hari pada bulan Agustus sampai 286 km/hari pada bulan Januari.
Lamanya sinar matahari yang menunjukkan rasio sebenarnya sampai
lamanya sinar matahari maksimum hari, bervariasi dari 46% pada bulan
Desember sampai 98% pada bulan Agustus.

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 II-14


GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

2.1.1.7 Penggunaan Lahan

Sama halnya dengan daerah lain, penggunaan lahan di Kota Semarang


dibagi kedalam beberapa jenis penggunaan, diantaranya teknis, sederhana
dan non PU, sawah lainnya, pekarangan untuk bangunan dan halaman
sekitar, gembalaan, padang rumput, lapangan dan lainnya, tambak, hutan,
lainnya, setengah teknis, tadah hujan, tanah sawah yang sementara tidak
diusahakan, tegal/kebun, kolam, empang, tebat, rawa, perkebunan dan
tanah kering yang sementara tidak diusahakan. Berdasarkan gambar 2.12,
penggunaan lahan di Kota Semarang didominasi sebagai lahan kering.

3.826,97 Ha
( 10,24 % )

33.543,60 Ha
( 89,76 % )

Lahan Sawah Lahan Kering

Sumber : BPS Kota Semarang, 2015


Gambar 2.12
Penggunaan Lahan di Kota Semarang Tahun 2014

a. Lahan Sawah

Sebagai kota perdagangan dan jasa, Kota Semarang lebih menekankan


pada pengembangan aktivitas perdagangan dan jasa dibandingkan pertanian
mengingat sektor perdagangan dan jasa adalah tulang punggung
perekonomian Kota Semarang. Oleh karenanya, sebagaimana yang
ditampilkan pada Gambar 2.10, luasan lahan Kota Semarang didominasi
oleh penggunaan lahan berupa lahan kering dibandingkan lahan sawah.
Lahan sawah di Kota Semarang sebagian besar berada pada Kecamatan
Gunungpati dan Mijen yaitu seluas 2.271,97 Ha dengan persentase luasnya
mencapai 59,37 % dari luas total lahan sawah atau sebesar 1,55 % dari total
luas lahan Kota Semarang.

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 II-15


GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

Penggunaan lahan sawah dibedakan menjadi teknis, ½ teknis, non-PU,


tadah hujan, dan tanah sawah yang sementara tidak diusahakan.
Berdasarkan pembagiaan penggunaan lahan sawah di Kota Semarang,
diketahui bahwa sebagian besar lahan sawah digunakan sebagai lahan
sawah tadah hujan. Gambar 2.13 menggambarkan kondisi penggunaan
lahan sawah di Kota Semarang tahun 2014.

222,10 Ha (11%) 187,30 Ha (9%) Teknik

1/2 Teknik

357,00 Ha (18%) 508,30 Ha (26%)


Sederhana

Non PU
666,40 Ha (34%)

41,00 Ha (2%) Tadah Hujan


Reservation

Sementara Tdk
Diusahakan

Sumber : BPS Kota Semarang, 2015


Gambar 2.13
Penggunaan Lahan Sawah di Kota Semarang Tahun 2014

b. Lahan Kering

Selain lahan sawah, tanah di Kota Semarang memiliki juga lahan kering
yang digunakan oleh berbagai macam jenis penggunaan diantaranya
pekarangan untuk bangunan dan halaman, tegal/kebun, gembalaan, padang
rumput. Gambar 2.12 menyajikan kondisi penggunakan lahan kering di Kota
Semarang tahun 2014.

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 II-16


GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

1% Pekarangan Utk Bangunan &


6% Halaman Sekitar
3% 7% Tegal/Kebun

Gembalaan. Padang Rumput.


0% 6% Lapangan Dll
3% 49% Kolam. Empang. Tebat. Rawa

Tambak

Perkebunan
25%
Hutan

Sumber : BPS Kota Semarang, 2015


Gambar 2.14
Penggunaan Lahan Kering di Kota Semarang Tahun 2014

Sesuai dengan Gambar 2.14, penggunaan lahan kering di Kota


Semarang didominasi oleh pekarangan untuk bangunan dan halaman
sekitar. Hampir setengah dari total luasan area Kota Semarang digunakan
untuk guna lahan tersebut. Dibandingkan penggunaan lahan sawah di Kota
Semarang, besarnya penggunaan lahan sebagai pekarangan untuk
bangunan dan halaman sekitar di Kota Semarang disebabkan karena
kedudukan Kota Semarang sebagai Ibukota Provinsi Jawa Tengah yang
memiliki aktivitas kekotaan dengan arah pembangunannya sebagai kota
perdagangan dan jasa.

2.1.2 Potensi Pengembangan Wilayah

Secara fisik, perkembangan Kota Semarang dapat diidentifikasi


mengarah ke arah barat, timur dan selatan. Terkait dengan luasan lahan
terbangun, rata-rata pertumbuhan lahan terbangun di Kota Semarang dari
tahun 1999 hingga 2014 mencapai 742,5 Ha/tahun atau sekitar 15% di
tahun 1999 dan 44,1% di tahun 2014. Peningkatan luasan lahan terbangun
terbesar terlihat pada tahun 2009 yang mencapai 1300 Ha. Jika laju
pertambahan lahan terbangun dibiarkan sebagaimana apa adanya tanpa
intervensi perencanaan pembangunan, maka dapat diperkirakan bahwa
dalam kurun waktu 16 hingga 17 tahun ke depan, seluruh luasan wilayah
Kota Semarang akan menjadi lahan terbangun seluruhnya.

Berdasarkan karakteristik wilayah Kota Semarang, dapat diidentifikasi


wilayah yang memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai kawasan
budidaya seperti perikanan, pertanian, pariwisata, industri, pertambangan
dan lain-lain. Berdasarkan RTRW Kota Semarang 2011-2031 pengembangan

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 II-17


GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

struktur ruang Kota Semarang memiliki 3 fokus kebijakan yaitu (i) kebijakan
dan strategi pengembangan fungsi regional dan nasional; (ii) kebijakan dan
strategi pengembangan kawasan metropolitan Semarang; (iii) kebijakan dan
strategi pengembangan struktur pelayanan kegiatan (internal) Kota
Semarang. Sedangkan pengembangan pola ruang memiliki fokus kebijakan
yaitu (i) kebijakan dan strategi pengelolaan kawasan lindung; (ii) kebijakan
dan strategi pengelolaan kawasan budidaya. Selain itu, terdapat potensi
pengembangan wilayah di beberapa kawasan strategis di Kota Semarang
sebagai berikut :

2.1.2.1 Kawasan Strategis Bidang Pertumbuhan Ekonomi

a) Kawasan cepat berkembang. Kawasan cepat berkembang ini perlu


diprioritaskan penataan ruangya karena potensi yang dimiliki apabila
tidak diarahkan justru menimbulkan permasalahan. Sedangkan
kawasan perbatasan di Kota Semarang memiliki peranan yang sangat
penting, karena kawasan inilah yang akan mengintegrasikan
perkembangan Kota Semarang dengan daerah yang ada disekitarnya.
Kawasan cepat berkembang di Kota Semarang adalah kawasan pusat
kota yang terletak pada Koridor Peterongan – Tawang – Siliwangi
(PETAWANGI). Trend perubahan intensitas kegiatan perdagangan di
kawasan PETAWANGI untuk 20 tahun kedepan diperkirakan akan terus
terjadi. Berdasarkan dokumen RTRW 2011-2031, arahan kebijakan
untuk kawasan cepat berkembang dikembangkan untuk :
 Pengembangan kegiatan perdagangan dan jasa skala besar harus
memberikan ruang bagi kegiatan sektor informal untuk melakukan
kegiatannya.
 Pengembangan kegiatan perdagangan dan jasa harus
mempertimbangkan rasio kecukupan ruang parkir dan ruang
terbuka hijau dalam rangka menciptakan kawasan PETAWANGI
yang nyaman.
 Pengaturan pengembangan kegiatan perdagangan dan jasa yang
spesifik per koridor jalan untuk menciptakan spesifikasi
perkembangan kawasan.
 Pengembangan kegiatan perdagangan dan jasa harus menghindari
perkampungan atau kawasan yang memiliki nilai historis bagi Kota
Semarang

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 II-18


GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

b) Kawasan Perlu Kerja Sama dengan Daerah Sekitarnya (Kawasan


Perbatasan).

Kawasan perkotaan Semarang telah tumbuh hingga keluar batas


administrasi Wilayah Kota Semarang. Kondisi ini menyebabkan terdapat
keterkaitan pengembangan antara Wilayah Kota Semarang dengan
Daerah Kabupaten disekitarnya, khususnya di kawasan perbatasan.
Berdasarkan dokumen RTRW Kota Semarang 2011-2031, perlu
dilakukan pengelolaan kawasan di perbatasan sehingga tidak terjadi
konflik antar dua wilayah :
(1) Kawasan Genuk - Sayung
 Pengembangan industri
 Transportasi (pengelolaan pelajon/ commuter)
 Penyediaan perumahan dan fasilitas pendukungnya
 Penanganan rob dan banjir
(2) Kawasan Pedurungan - Mranggen
 Pengembangan industri
 Transportasi (pengelolaan pelajon/ commuter)
 Penyediaan Perumahan dan fasilitas pendukungnya
(3) Kawasan Mangkang – Kaliwungu
 Pengembangan industri
 Transportasi (pengelolaan pelajon/ commuter)
 Penyediaan perumahan dan fasilitas pendukungnya
 Penanganan rob dan banjir
(4) Kawasan Banyumanik – Ungaran
 Perkembangan kawasan perdagangan & jasa
 Penyediaan fasilitas transportasi (terminal)
 Penyediaan perumahan dan fasilitas pendukungnya
(5) Kawasan DAS Kaligarang
 Perkembangan kawasan terbangun di hulu DAS Kaligarang
 Pola kerja sama pengelolaan kawasan DAS Kaligarang dalam
tataran Pemerintah Kabupaten/ Kota

2.1.2.2 Kawasan Strategis Bidang Sosial Budaya

Kawasan strategis bidang sosial budaya di Kota Semarang adalah


Kawasan Cagar Budaya Kota Lama. Kawasan bersejarah Kota Lama
merupakan kawasan cagar budaya yang harus dilindungi dan dilestarikan

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 II-19


GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

keberadaannya. Dalam pemanfaatannya, kawasan cagar budaya dapat


ditingkatkan fungsinya untuk dapat menunjang kegiatan pariwisata, yang
nantinya dapat memberikan kontribusi pendapatan dari sektor pariwisata.
Berdasarkan dokumen RTRW 2011 – 2031, rencana penanganan Kawasan
Kota Lama adalah :
a. Pemeliharaan dan pelestarian bangunan dari pengaruh kegiatan dan
ketahanan kontruksi bangunan
b. Revitalisasi fungsi dan penggunaan bangunan
c. Pengembangan sistem kepariwisataan Kota Semarang yang
terintegrasi dengan pengembangan kawasan Kota Lama

2.1.2.3 Kawasan Strategis Bidang Pendayagunaan Sumber Daya Alam


atau Teknologi Tinggi

Kawasan strategis bidang pendayagunaan sumber daya alam atau


teknologi tinggi di Kota Semarang adalah Kawasan pelabuhan Tanjung
Mas.Berdasarkan dokumen RTRW Kota Semarang 2011-2031, arahan
pengelolaan di kawasan pelabuhan ditekankan pada kegiatan :

a. Memperlancar pergerakan manusia dan barang di dalam kawasan


pelabuhan maupun kawasan pelabuhan dengan kawasan
diluarnya melalui peningkatan jariangan jalan yang memadai dan
pengembangan sistem terminal yang terintegrasi dengan
pergerakan darat (pergerakan jalan raya dan kereta api) dan
pergerakan udara.
b. Perlunya dilakukan penanganan percepatan penurunan
permukaan tanah dan banjir rob.
c. Penyusunan kebijakan penataan ruang kawasan pelabuhan dalam
rangka memadukan kegiatan pelabuhan dengan kawasan yang
ada disekitarnya

2.1.2.4 Kawasan Strategis Bidang Fungsi dan Daya Dukung Lingkungan


Hidup

Kawasan strategis bidang fungsi dan daya dukung lingkungan hidup


adalah Kawasan Bendungan/ Waduk Jatibarang. Pembangunan
Bendungan/ Waduk Jatibarang yang akan difungsikan sebagai pengendali
limpasan air ke kawasan bawah Kota Semarang. Bendungan/ waduk ini
direncanakan berlokasi di Kecamatan Mijen dan Gunungpati.

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 II-20


GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

2.1.3 Wilayah Rawan Bencana

Dalam UU No 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana,


bencana dijelaskan sebagai suatu peristiwa atau rangkaian peristiwa yang
mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat
yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau faktor non alam
maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa
manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak
psikologis. Dalam konteks pembangunan, terdapat istilah kawasan rawan
bencana. Kawasan rawan bencana dijelaskan sebagai suatu wilayah yang
memiliki kondisi atau karakteristik geologis, biologis, hidrologis, klimatologis,
geografis, sosial, budaya, politik, ekonomi dan teknologi yang untuk jangka
waktu tertentu tidak dapat atau tidak mampu mencegah, meredam,
mencapai kesiapan, sehingga mengurangi kemampuan untuk menanggapi
dampak buruk bahaya tertentu (UU No. 24 tahun 2007 tentang
Penanggulangan Bencana). Dalam konteks pembangunan kota,
penyelenggaraan penataan ruang diarahkan untuk dapat mewujudkan
pemanfaatan ruang yang berhasil guna dan berdaya guna serta mampu
mendukung pengelolaan lingkungan hidup yang berkelanjutan, tidak terjadi
pemborosan pemanfaatan ruang, dan tidak menyebabkan terjadinya
penurunan kualitas ruang. Dengan demikian, penataan ruang harus
mempertimbangkan potensi, kondisi, permasalahan, potensi suatu daerah
termasuk juga memperhatikan daerah rawan bencana sebagai basis dalam
mengembangkan dan mengelola suatu daerah. Terlebih pada saat ini efek
pemanasan global yang berdampak pada perubahan iklim juga semakin
memperluas kemungkinan munculnya wilayah rawan bencana dan
memperparah kondisi wilayah rawan bencana jika dalam perjalanannya
tidak ada upaya intervensi pengelolaan seperti mitigasi dan adaptasi
perubahan iklim.

Pada lingkup global, perhatian terhadap perubahan iklim tertuang


dalam salah satu tujuan pembangunan berkelanjutan (Sustainable
Development Goals) yaitu pada tujuan ke-13 yang berbunyi: “Take urgent
action to combat climate change and its impact”. Oleh karenanya, dalam
konteks pembangunan kota, perlu perhatian lebih terhadap perubahan iklim
beserta dampaknya seperti kenaikan muka air laut dan bencana alam.
Terkait dengan wilayah rawan bencana, Kota Semarang memiliki kawasan
rawan bencana. Kondisi ini tidak terlepas dari kondisi fisik alam yang ada di

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 II-21


GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

Kota Semarang. Gambar 2.15 memperlihatkan bahaya bencana yang rentan


terjadi di Kota Semarang. Sebagaimana yang disebutkan dalam RTRW 2011-
2031, Kota Semarang memiliki kawasan rawan bencana yang terdiri dari
kawasan rawan rob, kawasan rawan banjir, rawan longsor dan rawan
gerakan tanah.

Kawasan Rawan Bencana Rob & Banjir


Abrasi Pantai

Banjir

Tanah longsor

Gerakan Tanah

Sumber: Bappeda Kota Semarang, 2015


Gambar 2.15
Bahaya Bencana di Kota Semarang

2.1.3.1 Kawasan Rawan Rob dan Banjir

Perubahan iklim secara langsung berdampak pada Kota Semarang.


Sebagai kota pesisir, Kota Semarang rentan terhadap rob dan banjir.
Kenaikan muka air laut dan amblesan tanah menjadikan Kota Semarang
sering dilanda rob dan banjir pada periode tertentu. Kawasan rawan banjir
adalah tempat-tempat yang secara rutin setiap musim hujan mengalami
genangan lebih dari enam jam pada saat hujan turun dalam keadaan musim
hujan normal. Kawasan rawan banjir merupakan kawasan lindung yang
bersifat sementara, sampai dengan teratasinya masalah banjir secara
menyeluruh dan permanen di tempat tersebut. Di wilayah Kota Semarang,
daerah-daerah yang berpotensi rawan bencana banjir meliputi sebagian
Kecamatan Tugu, Semarang Barat, Semarang Tengah, Semarang Utara, dan
Genuk.

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 II-22


GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

Tabel 2.4
Lama dan Luasan Genangan Banjir
Tahun
No Genangan Banjir Satuan
2014 2015
1 Lama genangan banjir dan rob di Menit 120 60
sungai, saluran drainase dan
gorong-gorong pada saat banjir
2 Panjang Sungai dan saluran meter 206.506 206.506
drainase
3 Kapasitas/fungsi drainase (luas Hektar 37.301 37.301
areal tangkapan)
Kapasitas pengendali banjir Liter / 76.405 77.405
dengan pompa dan polder detik
4 Menurunnya Luas Genangan
banjir dan rob
- Lama Genangan Menit 650 540
- Tinggi Genangan Cm 50 30
- Lebar Genangan Cm 12000 8300
Sumber : Dinas PSDA & ESDM Kota Semarang, 2015

2.1.3.2 Rawan Longsor dan Gerakan Tanah

Kawasan rawan bencana ini merupakan kawasan yang mempunyai


kerentanan terhadap bencana alam yaitu longsor dan gerakan tanah.

Di wilayah Kota Semarang terdapat sebaran daerah yang rawan longsor


diantaranya:

1) Daerah gerakan tanah tersebar di Kecamatan Gunungpati dan


Banyumanik. Hal ini didasarkan dari kondisi geologi kawasan ini
berpotensi terjadi gerakan tanah.
2) Daerah sesar aktif, yaitu daerah yang kondisi geologi kawasan ini
memiliki patahan yang potensial untuk terjadi gerakan tanah.
Berikut sebaran lokasinya:
a. Di sepanjang Kecamatan Mijen dan Gunungpati yaitu melalui
Kelurahan Sumurejo, Mangunsari, Gunungpati, Purwosari,
Limbangan, dan Cangkiran
b. Di sepanjang Kecamatan Banyumanik, yaitu melalui Kelurahan
Jabungan, Padangsari, Plalangan, Sumurboto dan Tinjomoyo
c. Kecamatan Gunungpati, yaitu melalui Kelurahan Sukorejo,
Kalipancur dan Bambankerep.

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 II-23


GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

Sumber: Bappeda Kota Semarang, 2011


Gambar 2.16
Peta Rencana Pengendalian Bencana Kota Semarang

Daerah rawan longsor, yaitu daerah yang kondisi tanahnya berpotensi


terjadi bencana bila dibudiayakan. Lokasi kawasan ini adalah pada lahan
dengan kelerangan > 40%, berada di Kecamatan Gajahmungkur, Candisari,
Tembalang, Banyumanik, Gunungpati, Mijen dan Ngaliyan.

2.1.4 Aspek Demografi

Dalam konteks kependudukan, dalam kurun waktu enam tahun


terakhir terhitung sejak 2010 – 2015, perkembangan penduduk di Kota
Semarang cenderung dinamis. Gambar 2.17 menjelaskan bahwa sejak 2010
– 2015, jumlah penduduk Kota Semarang mengalami peningkatan. Namun,
jika dilihat dari pertumbuhannya, pertumbuhan penduduk Kota Semarang
mengalami penurunan rata-rata pertahun mencapai 0.95% setiap tahunnya.

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 II-24


GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

1.650.000 1,60
1,36
1,40
1.600.000 1,11 1,20
0,96
1.550.000 0,83 0,81 1,00

Persen
JIWA

0,65 0,80
1.500.000 1.527.433 0,60

1.544.358

1.559.198

1.572.105

1.584.906

1.595.267
0,40
1.450.000
0,20
1.400.000 0,00
2010 2011 2012 2013 2014 2015

Jumlah Penduduk Laju Pertumbuhan Penduduk (LPP)

Sumber : Badan Pusat Statistik Kota Semarang, 2016


Gambar 2.17
Perkembangan Demografi Kota Semarang 2010 – 2015

Berdasarkan sebaran atau distribusi penduduknya, kecamatan di Kota


Semarang yang memiliki jumlah penduduk tertinggi dalam kurun waktu
enam tahun terakhir (2010 – 2015) adalah Kecamatan Pedurungan. Adapun
kecamatan lain yang memiliki penduduk relatif lebih tinggi ( >100.000 jiwa )
dibandingkan kecamatan lainnya adalah Kecamatan Semarang Barat,
Tembalang, Banyumanik, Semarang Utara dan Ngaliyan.

Tabel 2.5
Sebaran Penduduk Per Kecamatan Kota Semarang Tahun 2010 – 2015
Tahun
No Uraian
2010 2011 2012 2013 2014 2015
1. Kec. Mijen 52.711 54.875 56.570 57.887 59.425 61.405
2. Kec. Gunungpati 71.174 73.459 75.027 75.885 77.333 78.641
3. Kec. Banyumanik 125.909 127.287 128.225 130.494 131.404 132.508
4. Kec. Gajahmungkur 62.413 63.182 63.430 63.599 63.660 63.707
5. Kec. Smg Selatan 85.309 83.133 82.931 82.293 79.952 79.620
6. Kec. Candisari 80.224 79.950 79.902 79.706 79.646 79.258
7. Kec. Tembalang 133.434 138.362 142.941 147.564 154.697 156.868
8. Kec. Pedurungan 171.599 174.133 175.770 177.143 178.544 180.282
9. Kec. Genuk 85.877 88.967 91.527 93.439 95.218 97.545
10. Kec. Gayamsari 74.748 73.052 73.584 73.745 73.850 74.178
11. Kec. Smg Timur 80.433 79.615 78.889 78.622 78.019 77.331
12. Kec. Smg Utara 127.170 127.417 127.921 128.026 128.134 127.752
13. Kec. Smg Tengah 73.174 72.525 71.674 71.200 70.727 70.259
14. Kec. Smg Barat 159.946 160.112 158.981 158.668 158.510 158.131

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 II-25


GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

Tahun
No Uraian
2010 2011 2012 2013 2014 2015
15. Kec. Tugu 27.846 29.807 30.904 31.279 31.592 31.954
16. Kec. Ngaliyan 115.466 118.482 120.922 122.555 124.195 125.828

Jumlah 1.527.433 1.544.358 1.559.198 1.572.105 1.584.906 1.595.267

Sumber : Badan Pusat Statistik Kota Semarang, 2016

Sumber : Badan Pusat Statistik Kota Semarang, 2016


Gambar 2.18
Peta Sebaran Penduduk Kota Semarang Tahun 2015

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 II-26


GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

200
( dalam ribu jiwa )
180
160
140
120
100
80
60
40
20
0

2010 2011 2012 2013 2014 2015

Sumber : Bn Pusat Statistik Kota Semarang, 2016


Gambar 2.19
Jumlah Penduduk Kota Semarang Dirinci per Kecamatan
Tahun 2010 – 2015

Meskipun relatif memiliki luasan lahan yang lebih sedikit


dibandingkan kecamatan lain yang berada di pinggiran, kecamatan –
kecamatan yang termasuk kedalam area pusat kota memiliki kepadatan
penduduk yang tinggi dibanding kecamatan lain di wilayah pinggiran.
Sebagian penduduk yang memilih bermukim di area pusat kota umumnya
lebih mengutamakan kemudahan akses terhadap aktivitas perdagangan dan
jasa yang sebagian besar terpusat di pusat Kota Semarang.

Garis batas kelurahan

Sumber : Bappeda Kota Semarang, 2015


Gambar 2.20
Sebaran Kepadatan Penduduk di Kota Semarang 2013

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 II-27


GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

Gambar 2.21 di bawah ini menjelaskan bahwa dalam kurun waktu


enam tahun terakhir (2010 – 2015) kecenderungan sebaran penduduk Kota
Semarang mengarah kearah pinggiran seperti di Kecamatan Pedurungan,
Tembalang, Banyumanik dan Ngaliyan. Tren meningkatnya penduduk di
wilayah pinggiran Kota Semarang disebabkan beberapa faktor diantaranya
meningkatnya harga lahan di pusat kota. Selain itu, berkembangnya
aktivitas perdagangan dan jasa yang membutuhkan dukungan industri yang
sebagian besar berada di wilayah pinggiran kota, menjadi daya tarik
tersendiri bagi penduduk untuk bermukim di wilayah tersebut.
Berkembangnya Kota Semarang khususnya pada sektor perdangan dan
industri juga menarik penduduk di daerah sekitar seperti dari Kabupaten
Semarang, Demak dan Kendal untuk beraktivitas khususnya di wilayah
pinggiran Kota Semarang. Kecenderungan peningkatan jumlah penduduk
tentu akan berdampak langsung pada peningkatan pemanfaatan lahan dan
penyediaan infrastruktur di wilayah tersebut. Kondisi yang demikian juga
secara perlahan akan berpengaruh kepada arah perkembangan Kota
Semarang yang tidak lagi terpusat melainkan ke arah pinggiran. Oleh karena
itu pembangunan yang akan datang memerlukan pengelolaan wilayah
pinggiran tidak hanya oleh Pemerintah Kota Semarang saja, tetapi juga
koordinasi wilayah KEDUNGSAPUR.
Garis batas kelurahan Garis batas kelurahan

Gambar 2.21
Perubahan Sebaran Penduduk Kota Semarang
Tahun 2010 – 2015

Pada umumnya, pertumbuhan jumlah penduduk di Kota Semarang


dipengaruhi oleh berbagai faktor diantaranya adalah kelahiran, kematian,
kedatangan dan perpindahan. Secara keseluruhan, dalam kurun enam

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 II-28


GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

tahun terakhir (2010 – 2015) kedatangan dan kepindahan penduduk Kota


Semarang dinilai cukup signifikan dibandingan kelahiran dan kematian.
Gambar 2.22 dibawah ini menampilkan jumlah penduduk yang
datang relatif lebih tinggi dibandingkan jumlah penduduk yang lahir, mati
maupun pindah. Kondisi yang demikian disebabkan salah satunya oleh daya
tarik Kota Semarang sebagai pusat aktivitas khususnya perdagangan dan
jasa, industri dan pendidikan. Sebagian besar penduduk yang datang ke Kota
Semarang memiliki kecenderungan menetap di wilayah pinggiran.

50.000 45.874
44.015
42.181
45.000 40.137
40.000
42.026 33.606
35.000 39.842 30.360
37.619
30.000 34.576
JIWA

32.540
25.000 30.472

20.000 24.910 23.765 24.979


22.724 23.634 22.782
15.000
10.000
10.275 10.454 10.012 10.249 10.860 9.574
5.000
0
2010 2011 2012 2013 2014 2015

Lahir Mati Datang Pindah

Sumber : Badan Pusat Statistik Kota Semarang, 2016


Gambar 2.22
Perkembangan Penduduk (Lahir, Mati, Datang, Pindah)
di Kota Semarang 2010 – 2015

Gambar 2.23 di bawah ini menjelaskan bahwa lima kecamatan dengan


jumlah pendatang tertinggi berada di Kecamatan Tembalang, Pedurungan,
Ngaliyan, Banyumanik dan Semarang Barat.

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 II-29


GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

2010 2011 2012 2013 2014 2015


7.000
6.000
5.000
4.000
3.000
2.000
1.000
0

Sumber : Badan Pusat Statistik Kota Semarang, 2016


Gambar 2.23
Perkembangan Jumlah Pendatang di Kota Semarang 2010 – 2015

Kondisi sebaran penduduk pendatang yang tersebar mengarah ke


wilayah pinggiran Kota Semarang diperkuat dengan data sebaran migran
yang mendominasi bagian timur, selatan dan barat Kota Semarang. Sebaran
penduduk pendatang di Kota Semarang 2010 – 2015 terlihat sebagaimana
gambar 2.24 dibawah ini :

Garis batas kelurahan

Sumber : Bappeda Kota Semarang, 2015


Gambar 2.24
Sebaran Pendatang di Kota Semarang 2010 – 2015

2.1.4.1 Komposisi Penduduk Kota Semarang Per Kelompok Umur

Komposisi penduduk di Kota Semarang enam tahun terakhir (2010-


2015) didominasi oleh penduduk berusia 15 tahun hingga 39 tahun. Hal ini

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 II-30


GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

menunjukkan bahwa Kota Semarang memiliki penduduk usia produktif yang


dapat dimanfaatkan untuk menunjang pembangunan lima tahun kedepan.

Usia Usia
65 + 65 + Lansia
Lansia
60 - 64 60 - 64 (4,71%)
(4,80%)
55 - 59 55 - 59
50 - 54 50 - 54
45 - 49 45 - 49
40 - 44 Usia 40 - 44 Usia
35 - 39 Produktif Produktif
35 - 39
30 - 34 (71,65%) (71,53%)
30 - 34
25 - 29 25 - 29
20 - 24 20 - 24
15 - 19 15 - 19
10 - 14 Usia 10 - 14 Usia
5-9 Muda 5-9 Muda
0-4 (23,56%) 0-4 (23,76%)

100.000 50.000 0 50.000 100.000 100.000 50.000 0 50.000 100.000

Perempuan Laki-laki Perempuan Laki-laki

Tahun 2010 Tahun 2015


Sumber : Badan Pusat Statistik Kota Semarang, 2016
Gambar 2.25
Piramida Penduduk Kota Semarang Berdasarkan Kelompok Umur
Tahun 2010 dan Tahun 2015

Berdasarkan Gambar 2.25 diatas, diketahui bahwa persentase


penduduk Kota Semarang kategori usia muda, usia produktif dan usia lansia
tidak banyak berubah sejak tahun 2010 hingga 2015. Sebagaimana yang
tercantum pada gambar 2.25, baik di tahun 2010 maupun 2015, komposisi
penduduk usia produktif di Kota Semarang memiliki persentase terbesar
yaitu mencapai 71%. Kondisi ini mengindikasikan bahwa Kota Semarang
sudah memasuki tahapan bonus demografi (demographic dividend). Bonus
demografi adalah suatu keadaan kependudukan dimana ketergantungan
penduduk berada pada rentang yang terendah.
Jika dikaitan dengan angka ketergantungan, besarnya proporsi usia
produktif (>50%) menanggung sedikit penduduk usia non produktif
seringkali disebut sebagai bonus demografi. Berdasarkan kondisi tersebut,
bonus demografi dapat menjadi asset terbesar bagi Kota Semarang apabila
penduduk usia produktifnya memiliki kualitas yang cukup baik (baik tingkat
pendidikan, skill, profesionalitas dan kreativitas) sehingga mampu menekan
beban ketergantungan sampai tingkat terendah yang pada akhirnya berguna
untuk mendongkrak pembangunan ekonomi.
Bonus demografi dapat dianggap sebagai peluang (windows
opportunity) jika diiringi dengan peningkatan kesempatan kerja. Terlebih
dengan diberlakukannya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), persiapan yang
matang seperti menyiapkan tenaga kerja yang berkualitas perlu dilakukan

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 II-31


GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

sehingga kehadiran MEA di Kota Semarang akan menjadi peluang Kota


Semarang untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya. Namun
sebaliknya, jika persiapan yang dilakukan untuk menghadapi MEA kurang
matang, maka bukan tidak mungkin peluang bonus demografi dapat
berubah bencana demografi. Kehadiran MEA akan menjadi tantangan
terbesar baik bagi Pemerintah Kota Semarang maupun bagi warganya untuk
meningkatkan kesejahteraan kota. Oleh karena itu, perlu bagi seluruh
pelaku pembangunan untuk lebih memprioritaskan pembangunan manusia
sebagai akhir tujuan dari seluruh pembangunan yang dilakukan di Kota
Semarang

2.1.4.2 Komposisi Penduduk Kota Semarang Per Tingkat Pendidikan

Komposisi penduduk di Kota Semarang enam tahun terakhir (2010-


2015) dalam konteks tingkat pendidikan, didominasi oleh penduduk dengan
tingkat pendidikan Tamatan SD (atau yang sederajat), SMP (atau yang
sederajat) dan SMA (atau yang sederajat). Sedangkan untuk tamatan
Akademi DIII dan Universitas memiliki jumlah yang relatif rendah
dibandingkan tingkat pendidikan lainnya.
325,072

333,435

400
330,797
328,144

335,57
321,570
( dalam ribu jiwa )

300,020

307,739
305,304
302,856
289,781

288,341
297,236

296,788

309,71
295,759
294,884

293,419
292,520

291,066
286,659

299,14

285,235

297,66

350

300

250

200
92,979

95,371
94,617
93,858
91,978

150
95,98

63,207
61,798

64,833
64,320
63,805
63,388
62,887

62,526
62,382
61,133

65,25
63,79

100

50

0
Tdk / Belum Tdk / Belum Tamat SD / MI Tamat SLTP Tamat SLTA Tamat D1 / D2 Tamat D4 / S1
Sekolah Tamat SD / D3 / S2 / S3

2010 2011 2012 2013 2014 2015

Sumber : Badan Pusat Statistik Kota Semarang, 2016


Gambar 2.26
Komposisi Penduduk Berdasarkan Tingkat Pendidikan
Di Kota Semarang Tahun 2010 – 2015

Sama halnya dengan kecenderungan enam tahun terakhir, di tahun 2015,


komposisi penduduk Kota Semarang berdasarkan tingkat pendidikannya
didominasi oleh penduduk dengan tamatan SD yang kemudian disusul oleh
penduduk dengan tingkat pendidikan tamatan SMP dan SMA.

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 II-32


GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

63.795 95.983

Tdk / Belum Sekolah

Tdk / Belum Tamat SD


65.249 299.142
309.712 Tamat SD / MI

Tamat SLTP

Tamat SLTA

Tamat D1 / D2 / D3
335.573
297.655
Tamat D4 / S1 / S2 / S3

Sumber : Badan Pusat Statistik Kota Semarang, 2016


Gambar 2.27
Jumlah Penduduk Berdasarkan Tingkat Pendidikan
di Kota Semarang Tahun 2015

2.1.4.3 Komposisi Penduduk Kota Semarang Berdasarkan Mata


Pencaharian

Komposisi penduduk di Kota Semarang berdasarkan mata pencaharian


dalam waktu lima tahun terakhir sebagian besar adalah buruh industri (lihat
Gambar 2.28 dibawah ini). Jika dikaitkan dengan mayoritas tingkat
pendidikan yang dimiliki oleh penduduk Kota Semarang dimana sebagain
besar hanyalah tamatan SD, SMP dan SMA, maka perlu berbagai upaya
untuk meningkatkan kualitas SDM penduduk Kota Semarang. Terlebih pada
lima tahun kedepan dimana MEA mulai diberlakukan. Upaya peningkatan
kualitas SDM penduduk Kota Semarang perlu diprioritaskan sehingga tenaga
kerja lokal mampu bersaing dengan tenaga kerja asing.
171,712
173,615
175,185
176,635
176,801
177,956

200
( dalam ribu jiwa )

160
95,457
94,837
94,748
93,970
93,247
92,226
86,820
86,256
86,175
85,468
85,051
84,119
83,385
82,844
82,766

82,313
82,087

81,779
81,702
81,281

81,031
80,390

79,552
78,680

120
53,557
53,209
53,160
52,723
52,672
52,095

40,020
39,760
39,723
39,397
39,075
38,646

80
27,141
26,965
26,940
26,718
26,123
25,837

25,744
25,577
25,553
25,344
25,201
24,925
18,673
18,551
18,534
18,382
17,917
17,720

40
2,659
2,677
2,635
2,657
2,581
2,610

2010 2011 2012 2013 2014 2015

Sumber : Badan Pusat Statistik Kota Semarang, 2016


Gambar 2.28
Mata Pencaharian Penduduk Kota Semarang 2010 – 2015

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 II-33


GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

2.2 ASPEK KESEJAHTERAAN MASYARAKAT

2.2.1 Fokus Kesejahteraan dan Pemerataan Ekonomi

2.2.1.1 Pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto

Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) merupakan salah satu tolok


ukur untuk melihat kondisi perekonomian suatu wilayah pada periode
tertentu. Penghitungan PDRB dilakukan atas dasar harga berlaku (harga-
harga pada tahun penghitungan) dan atas dasar harga konstan (harga-harga
pada tahun yang dijadikan tahun dasar penghitungan) untuk dapat melihat
pendapatan yang dihasilkan dari lapangan usaha (sektoral) maupun dari sisi
penggunaan.

PDRB Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB) menggambarkan nilai


tambah barang dan jasa yang dihitung menggunakan harga pada tahun
berjalan. sedang PDRB Atas Dasar Harga Konstan (ADHK) menunjukkan
nilai tambah barang dan jasa tersebut yang dihitung menggunakan harga
yang berlaku pada satu tahun tertentu sebagai tahun dasar. PDRB ADHB
digunakan untuk mengetahui kemampuan sumber daya ekonomi.
pergeseran struktur ekonomi suatu daerah. Sementara itu PDRB ADHK
digunakan untuk mengetahui pertumbuhan ekonomi secara riil dari tahun
ke tahun atau pertumbuhan ekonomi yang tidak dipengaruhi oleh faktor
harga (BPS, 2013).

Besarnya PDRB ADHB dalam kurun waktu 6 tahun terakhir (2010 –


2015) mengalami peningkatan dari Rp. 80.824,10 milyar pada tahun 2010
menjadi sebesar Rp. 134.297,906 milyar pada tahun 2015. Peningkatan
PDRB ADHK 2010 juga sejalan dengan peningkatan PDRB ADHB yang
menunjukkan peningkatan dari Rp. 80.824,10 milyar pada tahun 2010
menjadi sebesar Rp. 109.157,79 milyar pada tahun 2015. Perkembangan
PDRB ADHB dan ADHK dapat dilihat pada tabel 2.6 di bawah ini.

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 II-34


GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

Tabel 2.6
Nilai PDRB dan Kontribusi Sektor Atas Dasar Harga Berlaku Kota Semarang Tahun 2010 – 2015 (Milyar Rupiah)

Tahun
No Kategori / Sub kategori 2010 2011 2012 2013 2014 2015 *)
Rp. % Rp. % Rp. % Rp. % Rp. % Rp. %
A Pertanian, Kehutanan, dan
849,08 1,05 935,16 1,03 995,39 1,00 1.127,32 1,04 1.191,74 0,98 1.362,22 1,01
Perikanan
B Pertambangan dan Penggalian 160,72 0,20 176,76 0,19 184,89 0,19 197,68 0,18 237,36 0,20 270,12 0,20
C Industri Pengolahan 20.032,78 24,79 24.308,84 26,70 27.081,66 27,15 29.630,55 27,24 34.014,76 28,05 37.000,33 27,55
D Pengadaan Listrik, Gas 97,24 0,12 105,37 0,12 112,47 0,11 114,57 0,11 115,32 0,10 123,10 0,09
E Pengadaan Air 99,63 0,12 102,00 0,11 99,27 0,10 101,37 0,09 106,01 0,09 114,42 0,09
F Konstruksi 22.459,13 27,79 24.091,57 26,46 26.644,82 26,71 28.890,04 26,56 32.419,24 26,73 36.287,62 27,02
G Perdagangan besar dan eceran,
reparasi dan perawatan mobil 13.083,37 16,19 14.738,17 16,19 15.143,68 15,18 16.216,45 14,91 17.109,72 14,11 18.953,60 14,11
dan sepeda motor
H Transportasi dan Pergudangan 2.739,45 3,39 2.964,07 3,26 3.265,04 3,27 3.783,64 3,48 4.443,06 3,66 4.999,80 3,72
I Penyediaan Akomodasi & Makan
2.469,89 3,06 2.790,80 3,07 3.235,13 3,24 3.708,67 3,41 4.193,19 3,46 4.586,77 3,42
Minum
J Informasi dan Komunikasi 6.581,51 8,14 7.214,59 7,93 7.645,50 7,66 7.976,71 7,33 8.613,39 7,10 9.488,19 7,07
K Jasa Keuangan 3.606,96 4,46 3.923,15 4,31 4.397,83 4,41 4.803,99 4,42 5.182,18 4,27 5.947,78 4,43
L Real Estate 2.358,52 2,92 2.543,86 2,79 2.690,97 2,70 2.937,75 2,70 3.302,29 2,72 3.697,26 2,75
M, N Jasa Perusahaan 425,23 0,53 497,44 0,55 547,93 0,55 643,16 0,59 712,30 0,59 831,32 0,62
O Administrasi Pemerintahan,
Pertahanan dan Jaminan Sosial 3.008,67 3,72 3.147,23 3,46 3.517,89 3,53 3.774,72 3,47 4.031,88 3,32 4.479,66 3,34
Wajib
P Jasa Pendidikan 1.396,30 1,73 1.887,77 2,07 2.456,87 2,46 2.913,46 2,68 3.329,44 2,75 3.676,69 2,74
Q Jasa Kesehatan dan Kegiatan
488,97 0,60 580,14 0,64 691,32 0,69 777,57 0,71 902,19 0,74 1.014,38 0,76
Sosial
R, S, T Jasa lainnya 966,67 1,20 1.027,19 1,13 1.043,01 1,05 1.185,72 1,09 1.358,82 1,12 1.464,64 1,09
PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO
80.824,10 100,00 91.034,10 100,00 99.753,67 100,00 108.783,39 100,00 121.262,90 100,00 134.297,31 100,00
(PDRB)
Sumber : Badan Pusat Statistik Kota Semarang, 2015
Ket. : *). Data sangat sangat sementara

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 II-35


GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH
Tabel 2.7
Nilai PDRB dan Kontribusi Sektor Atas Dasar Harga Konstan 2010 Kota Semarang Tahun 2010 – 2015 (Milyar Rupiah)
Tahun
No Kategori / Sub kategori 2010 2011 2012 2013 2014 2015 *)
Rp. % Rp. % Rp. % Rp. % Rp. % Rp. %
A Pertanian, Kehutanan, dan
849,08 1,05 903,82 1,05 919,39 1,01 958,83 0,99 990,32 0,96 1.041,93 0,95
Perikanan
B Pertambangan dan Penggalian 160,72 0,20 165,92 0,19 173,03 0,19 179,40 0,18 181,45 0,18 183,86 0,17
C Industri Pengolahan
20.032,78 24,79 21.956,02 25,49 23.700,81 25,96 26,45 27.501,82 26,66 28.754,50 26,34
25.647,85
D Pengadaan Listrik, Gas 97,24 0,12 104,33 0,12 114,15 0,13 123,48 0,13 128,49 0,12 124,26 0,11
E Pengadaan Air 99,63 0,12 101,22 0,12 99,15 0,11 99,28 0,10 102,77 0,10 104,84 0,10
F Konstruksi
22.459,13 27,79 23.022,73 26,73 24.467,35 26,80 26,49 26.845,87 26,02 28.462,91 26,08
25.695,37
G Perdagangan besar dan eceran,
reparasi dan perawatan mobil 13.083,37 16,19 14.300,92 16,60 14.404,60 15,78 15,43 15.684,78 15,20 16.392,74 15,02
14.967,11
dan sepeda motor
H Transportasi dan Pergudangan 2.739,45 3,39 2.877,54 3,34 3.099,05 3,40 3.410,91 3,52 3.751,62 3,64 3.931,80 3,60
I Penyediaan Akomodasi & Makan
2.469,89 3,06 2.651,72 3,08 2.866,79 3,14 3.047,91 3,14 3.281,19 3,18 3.488,72 3,20
Minum
J Informasi dan Komunikasi 6.581,51 8,14 7.117,18 8,26 7.826,30 8,57 8.413,22 8,67 9.422,90 9,13 10.341,28 9,47
K Jasa Keuangan 3.606,96 4,46 3.699,67 4,29 3.809,63 4,17 3.978,33 4,10 4.145,96 4,02 4.468,34 4,09
L Real Estate 2.358,52 2,92 2.505,22 2,91 2.640,25 2,89 2.843,51 2,93 3.050,69 2,96 3.285,25 3,01
M, N Jasa Perusahaan 425,23 0,53 466,45 0,54 497,32 0,54 552,63 0,57 599,07 0,58 658,03 0,60
O Administrasi Pemerintahan,
Pertahanan dan Jaminan Sosial 3.008,67 3,72 3.091,25 3,59 3.117,27 3,41 3.202,26 3,30 3.246,38 3,15 3.413,77 3,13
Wajib
P Jasa Pendidikan 1.396,30 1,73 1.644,24 1,91 1.946,15 2,13 2.126,23 2,19 2.339,22 2,27 2.510,83 2,30
Q Jasa Kesehatan dan Kegiatan
488,97 0,60 537,74 0,62 597,81 0,65 641,18 0,66 712,98 0,69 765,70 0,70
Sosial
R, S, T Jasa lainnya 966,67 1,20 997,01 1,16 1.002,97 1,10 1.096,27 1,13 1.189,92 1,15 1.229,00 1,13
PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO
80.824,10 100,00 86.142,97 100,00 91.282,03 100,00 96.983,37 100,00 103.175,43 100,00 109.157,79 100,00
(PDRB)
Sumber : Badan Pusat Statistik Kota Semarang, 2015Ket. : *). Data sangat sangat sementara

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 II-36


GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

Struktur lapangan usaha sebagian masyarakat Kota Semarang telah


bergeser dari lapangan usaha Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan ke
lapangan usaha ekonomi lainnya yang terlihat dari penurunan peranan
setiap tahunnya terhadap pembentukan PDRB Kota Semarang.
Sumbangan terbesar pada tahun 2015 dihasilkan oleh lapangan usaha
Konstruksi, kemudian lapangan usaha Industri Pengolahan, lapangan
usaha Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan Sepeda Motor,
serta lapangan usaha Informasi dan Komunikasi. Sementara peranan
lapangan usaha lainnya di bawah 5 persen.

Gambaran lebih jauh struktur perekonomian Kota Semarang dapat


dilihat dari peranan masing-masing sektor terhadap pembentukan total
PDRB Kota Semarang. Sektor Primer yang terdiri dari sektor Pertanian,
Kehutanan, dan Perikanan serta Pertambangan dan Penggalian adalah
sebagai penyedia kebutuhan dasar dan bahan, peranannya menurun
menjadi 1,21 persen pada tahun 2015, dibanding tahun 2014 yang sebesar
1,18 persen. Hal yang sama terjadi dengan sektor sekunder yang terdiri
dari sektor industri pengolahan; Pengadaan Listrik, Gas; Pengadaan Air
serta sektor Konstruksi yang peranannya meningkat dari 53,20 persen
pada tahun 2014 naik menjadi 54,75 persen pada tahun 2015. Sektor
tersier yang sifat kegiatannya sebagai jasa, peranannya mengalami
penurunan dari 45,69 persen tahun 2014 menjadi 44,04 persen pada
tahun 2015. Pada tahun 2015 sumbangan terbesar diperoleh dari sektor
Industri Pengolahan sebesar 27,55 persen, peranannya cenderung
menurun dibanding tahun 2014 yang mencapai 28,05 persen. Sumbangan
dari sektor Konstruksi merupakan terbesar kedua yaitu sebesar 26,73
persen pada tahun 2014 mengalami sedikit kenaikan menjadi 27,02 persen
pada tahun 2015. Dan kontribusi terbesar ketiga adalah dari sektor
Perdagangan besar dan eceran, reparasi dan perawatan mobil dan sepeda
motor, yaitu sebesar 14,11 pada tahun 2014 cenderung stagnan, yaitu
sebesar 14,11 pada tahun 2015.

Laju pertumbuhan ekonomi Kota Semarang tahun 2015 mencapai


5,80 persen, lebih rendah jika dibandingkan tahun 2014 dengan
pertumbuhan 6.38 persen. Angka tersebut berada diatas Provinsi Jawa
Tengah dan diatas Nasional. Selama kurun waktu tahun 2011 dan 2013 -

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 II-37


GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

2015, LPE Kota Semarang berada di atas LPE Provinsi Jawa Tengah dan
LPE Nasional. Seperti terlihat pada gambar 2.29 di bawah.

7,00
6,58
6,38
6,50 6,17 6,25
6,03
6,00 5,80
5,56
5,97
5,50
5,02
5,34 5,40
5,00 5,30 5,30
5,14
4,50 4,79

4,00
2011 2012 2013 2014 2015

LPE Kota Semarang LPE Jawa Tengah LPE Nasional

Sumber : Badan Pusat Statistik, 2015


Gambar 2.29
Laju Pertumbuhan Ekonomi Kota Semarang Dibandingkan Dengan Provinsi
Jawa Tengah dan Nasional Tahun 2010 – 2015

Pada tahun 2015, pertumbuhan ekonomi tertinggi ADHK dicapai oleh


kategori Jasa Perusahaan sebesar 9,84 persen. Kategori Pengadaan Listrik
dan Gas merupakan satu-satunya kategori yang mengalami kontraksi 3,29
persen. Laju pertumbuhan tertinggi kedua yaitu kategori Informasi dan
Komunikasi sebesar 9,75 persen, diikuti lapangan usaha Jasa Keuangan
tumbuh sebesar 7,78 persen, Real Estate tumbuh sebesar 7,69 Persen,
Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial tumbuh sebesar 7,40 persen, Jasa
Pendidikan tumbuh sebesar 7,34 persen, Penyediaan Akomodasi dan
Makan Minum tumbuh sebesar 6,32 persen, Konstruksi tumbuh sebesar
6,52, Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan tumbuh sebesar 5,21 persen,
Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib
mengalami pertumbuhan sebesar 5,16 persen. PDRB ADHB dan tabel
PDRB ADHK menurut kategori dan sub kategorinya secara lengkap tersaji
pada tabel 2.8 di bawah ini.

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 II-38


GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

Tabel 2.8
Laju Pertumbuhan Produk Domestik Regional Brutto (PDRB)
Menurut Kategori di Kota Semarang Tahun 2010 – 2015
Tahun
No Kategori / Sub kategori
2010 2011 2012 2013 2014 2015
Atas Dasar Harga Berlaku :
Pertanian, Kehutanan, dan
A - 10,14 6,44 13,40 9,13 10,59
Perikanan
B Pertambangan dan Penggalian - 9,98 4,59 7,04 16,33 17,33
C Industri Pengolahan - 21,35 11,41 8,90 14,15 9,91
D Pengadaan Listrik, Gas - 8,35 6,74 2,78 4,48 1,92
E Pengadaan Air - 2,37 -2,67 2,88 6,01 5,68
F Konstruksi - 7,27 10,60 8,96 12,90 10,70
Perdagangan besar dan eceran,
G reparasi dan perawatan mobil - 12,65 2,75 7,25 7,35 8,71
dan sepeda motor
H Transportasi dan Pergudangan - 8,20 10,15 15,99 17,48 12,38
Penyediaan Akomodasi & Makan
I - 12,99 15,92 12,80 13,66 10,59
Minum
J Informasi dan Komunikasi - 9,62 5,97 4,63 9,07 8,75
K Jasa Keuangan - 8,77 12,10 10,02 9,13 12,64
L Real Estate - 7,86 5,78 8,89 13,09 11,58
M,
Jasa Perusahaan - 16,98 10,15 16,58 12,35 15,84
N
Administrasi Pemerintahan,
O Pertahanan dan Jaminan Sosial - 4,61 11,78 7,51 8,16 9,52
Wajib
P Jasa Pendidikan - 35,20 30,15 18,53 15,34 9,46
Jasa Kesehatan dan Kegiatan
Q - 18,64 19,16 12,64 16,15 12,15
Sosial
R,
S, Jasa lainnya - 6,26 1,54 12,92 15,85 7,35
T
LAJU PERTUMBUHAN - 12,63 9,58 9,07 12,05 10,15
Atas Dasar Harga Konstan 2010 :
A Pertanian, Kehutanan, dan
- 6,45 1,72 4,29 3,28 5,21
Perikanan
B Pertambangan dan Penggalian - 3,23 4,29 3,68 1,14 1,33
C Industri Pengolahan - 9,60 7,95 8,22 7,23 4,55
D Pengadaan Listrik, Gas - 7,29 9,41 8,17 4,06 (3,29)
E Pengadaan Air - 1,59 -2,04 0,12 3,52 2,01
F Konstruksi - 2,51 6,27 5,02 4,48 6,02
G Perdagangan besar dan eceran,
reparasi dan perawatan mobil - 9,31 0,73 3,91 4,79 4,51
dan sepeda motor
H Transportasi dan Pergudangan - 5,04 7,70 10,06 9,99 4,80
I Penyediaan Akomodasi & Makan
- 7,36 8,11 6,32 7,65 6,32
Minum
J Informasi dan Komunikasi - 8,14 9,96 7,50 12,00 9,75
K Jasa Keuangan - 2,57 2,97 4,43 4,21 7,78
L Real Estate - 6,22 5,39 7,70 7,29 7,69

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 II-39


GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

Tahun
No Kategori / Sub kategori
2010 2011 2012 2013 2014 2015
M, Jasa Perusahaan
- 9,69 6,62 11,12 8,40 9,84
N
O Administrasi Pemerintahan,
Pertahanan dan Jaminan Sosial - 2,74 0,84 2,73 1,38 5,16
Wajib
P Jasa Pendidikan - 17,76 18,36 9,25 10,02 7,34
Q Jasa Kesehatan dan Kegiatan
- 9,97 11,17 7,25 11,20 7,40
Sosial
R, Jasa lainnya
S, - 3,14 0,60 9,30 8,54 3,28
T
LAJU PERTUMBUHAN - 6,58 5,97 6,25 6,38 5,80

Sumber : Badan Pusat Statistik Kota Semarang, 2016

Dibandingkan dengan kota-kota lain, pertumbuhan ekonomi Kota


Semarang lebih tinggi dibandingkan dengan Kota Yogyakarta yang sebesar
5,16% dan Kota Banjarmasin yang sebesar 6,25%. Namun angka
pertumbuhan sebesar 6,38%, masih lebih rendah jika dibandingkan Kota
Surabaya, Kota Makasar, Kota Bandung dan Kota Mataram. Untuk
selengkapnya dapat dilihat pada Gambar 2.30 di bawah ini :.

9,00 7,69 8,1


7,34 7,39
8,00 6,38 6,25
7,00
5,16
6,00
5,00
4,00
3,00
2,00
1,00
0,00

Sumber : Badan Pusat Statistik, 2015

Gambar 2.30
Laju Pertumbuhan Ekonomi Kota Semarang Dibandingkan Dengan 5 Kota di
Jawa Tengah dan Kota Besar Lainnya Tahun 2014

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 II-40


GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

7,00

6,00

6,38
6,00
5,80
5,73
5,59
5,52
5,48
5,00

5,38
5,32
5,31
5,26
5,26
5,24
5,15
5,15
5,12
5,10
5,07
5,04
5,03
5,00
4,92
4,88
4,87
4,80
4,78
4,63
4,59
4,54
4,00
4,39
4,27
4,26
4,16
4,03

3,00
2,96

2,00

1,00

Sumber : Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Tengah, 2015

Gambar 2.31
Laju Pertumbuhan Ekonomi Kota Semarang Dibandingkan Dengan
Kab / Kota di Jawa Tengah Tahun 2014

2.2.1.2 Laju Inflasi

Inflasi adalah meningkatnya harga-harga secara umum dan terus


menerus. Kenaikan harga dari satu atau dua barang saja tidak dapat
disebut inflasi kecuali bila kenaikan itu meluas (atau mengakibatkan
kenaikan harga) pada barang lainnya. Dampak dari inflasi salah satunya
adalah menurunnya daya beli masyarakat. yang dapat diartikan bahwa
tingkat kesejahteraan masyarakat terganggu karena ketidakmampuan
penduduk dalam mengkonsumsi barang ataupun jasa.

Kondisi inflasi di Kota Semarang menunjukkan kondisi yang fluktuatif


selama periode tahun 2011 – 2015. Angka inflasi meningkat dari tahun
2011 sebesar 2,87% mencapai angka tertinggi pada tahun 2014 sebesar
8,53%, selanjutnya pada tahun 2015 menurun menjadi hanya 2,56%.

Tingginya tingkat inflasi Kota Semarang dipengaruhi oleh indeks


kelompok pengeluaran yang mengalami kenaikan terutama kenaikan
indeks kelompok bahan makanan dan indeks kelompok transportasi.
Perkembangan tingkat inflasi di Kota Semarang selanjutnya dapat dilihat
pada gambar 2.32 di bawah ini.

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 II-41


GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

8,53
9,00 8,19
8,00
7,00
6,00 4,85
5,00
4,00 2,87
2,56
3,00
2,00
1,00
0,00
2011 2012 2013 2014 2015
Kota Semarang

Sumber : Badan Pusat Statistik Kota Semarang, 2016

Gambar 2.32
Grafik Laju Inflasi di Kota Semarang Tahun 2011 – 2015

Dibandingkan dengan tingkat inflasi dengan kota lain di Provinsi Jawa


Tengah, tingkat inflasi Kota Semarang pada tahun 2015 angkanya sedikit
lebih tinggi dari tingkat inflasi Kota Purwokerto (2,52%) namun masih
dibawah inflasi Provinsi Jawa Tengah, artinya fluktuasi harga di Kota
Semarang cenderung rendah dibadingkan dengan 4 Kota di Jawa Tengah.
Sedangkan jika dibandingkan dengan tingkat inflasi Provinsi Jawa Tengah,
tingkat inflasi Kota Semarang masih lebih rendah. Untuk lebih jelasnya
dapat dilihat pada Gambar 2.33 berikut ini.

4,50
4,00
3,50
3,00
2,50
2,00 3,95
1,50 3,28
2,63 2,52 2,56 2,56 2,73
1,00
0,50
0,00
Kota Kota Kota Kudus Kota Kota Kota Tegal JAWA
Cilacap Purwokerto Semarang Surakarta TENGAH

Sumber : Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Tengah, 2016

Gambar 2.33
Perbandingan Laju Inflasi Kota Semarang Dibandingkan Dengan 5 Kota di
Jawa Tengah Tahun 2015

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 II-42


GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

Sumber : Badan Pusat Statistik, 2016

Gambar 2.34
Perbandingan Laju Inflasi Kota Semarang Dibandingkan Kota-Kota Besar Di
Indonesia Lainnya Pada Tahun 2015

2.2.1.3 PDRB Per kapita

PDRB per kapita merupakan PDRB suatu daerah dibagi dengan


jumlah penduduk pada pertengahan tahun yang tinggal di daerah tersebut.
PDRB per kapita atas dasar harga berlaku menunjukkan nilai PDRB per
kepala atau per satu orang penduduk. Di tahun 2015, PDRB per kapita
Kota Semarang mencapai Rp. 78.947.034,90 dengan pertumbuhan sebesar
8,33%. nilai PDRB menurut kategori dapat dilihat pada tabel 2.9 di bawah
ini :

Tabel 2.9
PDRB Per kapita Kota Semarang Tahun 2010 – 2015 ( Juta Rupiah )
Tahun
No Kategori / Subkategori
2010 2011 2012 2013 2014 2015
Pertanian, Kehutanan, dan
A 0,54 0,59 0,62 0,69 0,74 0,80
Perikanan
B Pertambangan dan Penggalian 0,10 0,11 0,11 0,12 0,14 0,16
C Industri Pengolahan 12,84 15,30 16,75 17,94 20,12 21,75
D Pengadaan Listrik, Gas 0,06 0,07 0,07 0,07 0,07 0,07
E Pengadaan Air 0,06 0,06 0,06 0,06 0,06 0,07
F Konstruksi 14,40 15,17 16,48 17,66 19,59 21,33
Perdagangan besar dan eceran,
G reparasi dan perawatan mobil dan 8,39 9,28 9,37 9,88 10,42 11,14
sepeda motor
H Transportasi dan Pergudangan 1,76 1,87 2,02 2,30 2,66 2,94
Penyediaan Akomodasi & Makan
I 1,58 1,76 2,00 2,22 2,48 2,70
Minum

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 II-43


GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

Tahun
No Kategori / Subkategori
2010 2011 2012 2013 2014 2015
J Informasi dan Komunikasi 4,22 4,54 4,73 4,86 5,22 5,58
K Jasa Keuangan 2,31 2,47 2,72 2,94 3,16 3,50
L Real Estate 1,51 1,60 1,66 1,78 1,98 2,17
M, N Jasa Perusahaan 0,27 0,31 0,34 0,39 0,43 0,49
Administrasi Pemerintahan,
O Pertahanan dan Jaminan Sosial 1,93 1,98 2,18 2,30 2,44 2,63
Wajib
P Jasa Pendidikan 0,90 1,19 1,52 1,77 2,01 2,16
Q Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial 0,31 0,37 0,43 0,47 0,54 0,60
R, S,
Jasa lainnya 0,62 0,65 0,65 0,72 0,82 0,86
T

P D R B Per Kapita 51,81 57,31 61,71 66,17 72,88 78,95

Sumber : Badan Pusat Statistik Kota Semarang, 2015

Jika dilihat dari pertumbuhannya, PDRB per kapita Kota Semarang


dari tahun 2010 hingga 2015 mengalami pergerakan yang fluktuatif. Pada
tahun 2011 mencapai 10,61% dan menurun di 2 tahun berikutnya namun
meningkat lagi di tahun 2014 dan di tahun 2015 menjadi 8,33%.

11,00 10,61
10,14
10,00

9,00 8,33
7,68
8,00
7,22

7,00

6,00

5,00
2011 2012 2013 2014 2015

Sumber : Badan Pusat Statistik Kota Semarang, 2015


Gambar 2.35
Pertumbuhan PDRB Perkapita Kota Semarang Tahun 2010 – 2015

2.2.1.4 Indeks Gini

indeks Gini atau koefisien Gini adalah salah satu ukuran umum
untuk distribusi pendapatan atau kekayaan yang menunjukkan seberapa
merata pendapatan dan kekayaan didistribusikan di antara populasi.

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 II-44


GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

Indeks Gini memiliki kisaran 0 sampai 1. Nilai 0 menunjukkan distribusi


yang sangat merata yaitu setiap orang memiliki jumlah penghasilan atau
kekayaan yang sama persis. Nilai 1 menunjukkan distribusi yang timpan
sempurna yaitu satu orang memiliki segalanya dan semua orang lain tidak
memiliki apa-apa.

Perkembangan indeks Gini Kota Semarang menunjukkan pada tahun


2013 sebesar 0,3514, menurun jika dibandingkan dengan kondisi 2 tahun
berikutnya yaitu 0,3545 tahun 2011 dan 0,3518 tahun 2012. Besaran
indeks Gini Kota Semarang tahun 2014 sebesar 0,3807 menunjukkan
bahwa tingkat pemerataan pendapatan dan kekayaan termasuk kategori
sedang. Dan untuk kondisi 2015 adalah sebesar 0,3517 Kondisi indeks
Gini Kota Semarang dalam enam tahun terakhir dapat dilihat pada tabel
2.36 di bawah ini.

0,40
0,3807
0,38
0,3545 0,3518
0,36

0,34 0,3514 0,3517

0,32
0,3224
0,30

0,28
2010 2011 2012 2013 2014 2015 *)

Sumber : Badan Pusat Statistik Kota Semarang, 2015


Ket. : *). Data sangat sangat sementara / Data diolah
Gambar 2.36
Grafik Perkembangan Indeks Gini di Kota Semarang Tahun 2010 – 2015

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 II-45


GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

INDEKS GINI 2014 – Kota Semarang Dg kota-kota di Jawa Tengah lainnya


0,45
0,40 Indeks Gini JaTeng: 0,38

0,39
0,35

0,38
0,38
0,38
0,37
0,36
0,36
0,36
0,36
0,35
0,35
0,35
0,34
0,34
0,34
0,34
0,34
0,34
0,30

0,33
0,33
0,33
0,33
0,32
0,32
0,32
0,31
0,31
0,31
0,31
0,30
0,30
0,29
0,29

0,25
0,28
0,28

0,20
0,15
0,10
0,05
-

Sumber : Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Tengah, 2015

Gambar 2.37
Grafik Perkembangan Indeks Gini Kota Semarang Dibandingkan Dengan
Kab/Kota Di Jawa Tengah Tahun 2014

2.2.1.5 Kemiskinan

Dalam menentukan penduduk kategori miskin, BPS menggunakan


konsep kemampuan memenuhi kebutuhan dasar (basic needs approach).
Dengan pendekatan ini, kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan
dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan
makanan yang diukur dari sisi pengeluaran. Garis kemiskinan merupakan
penjumlahan dari garis kemiskinan makanan dan garis kemiskinan non
makanan. Penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita
perbulan di bawah garis kemiskinan dikategorikan sebagai Penduduk
Miskin.

Penduduk miskin di Kota Semarang dalam enam tahun terakhir


menunjukkan kondisi yang fluktuatif. Ini dapat dilihat dari tingkat
keimiskinan Kota Semarang pada tahun 2014 sebear 4,90%, mengalami
penurunan dari tahun 2013 yang sebesar 5,25%, sedang pada tahun 2012
adalah sebesar 5,13%. Kondisi tahun 2012 sebetulnya sudah menurun
sangat baik jika dibandingkan dengan tahun 2011 sebesar 5,68%. Dan
data terkahir di tahun 2015 adalah sebesar 5,04 %. Sementara itu kondisi
tahun 2011 menunjukkan tingkat kemiskinan paling tinggi jika

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 II-46


GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

dibandingkan dengan 6 tahun lainnya. Perkembangan tingkat kemiskinan


Kota Semarang dapat dilihat pada Gambar 2.38 di bawah ini.

5,80 5,68

5,60
5,40 5,25
5,20 5,04
5,00 5,12 5,13
4,80
4,90
4,60
4,40
2010 2011 2012 2013 2014 2015 *)

Sumber : Badan Pusat Statistik Kota Semarang, 2016


Ket. : *). Data sangat sangat sementara / Data diolah
Gambar 2.38
Grafik Perkembangan Tingkat Persentase Kemiskinan
di Kota Semarang Tahun 2010 – 2015
Tingkat kemiskinan Kota Semarang pada tahun 2015 sebesar 5,04%
jika dibandingkan dengan rata-rata tingkat kemiskinan Jawa Tengah
sebesar 14,44% menunjukan kondisi yang lebih baik yaitu berada di
bawahnya. Jika dibandingkan dengan kota lainnya yang ada di Jawa
Tengah, tingkat kemiskinan di Kota Semarang menunjukkan kondisi yang
lebih baik dibandingkan lima kota lainnya, walaupun dilihat dari luas
wilayah dan jumlah penduduk Kota Semarang lebih besar. Untuk lebih
jelasnya posisi relatif tingkat kemiskinan Kota Semarang dapat dilihat
melalui gambar 2.39 di bawah ini.

Sumber : Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Tengah, 2015


Gambar 2.39
Perbandingan Persentase Penduduk Miskin Kota Semarang dengan Kota-
Kota Lain dan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2013

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 II-47


GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

Dibandingkan dengan kabupaten/ kota lain di Jawa Tengah dan kota


sewilayah Kedungsapur, jumlah Keluarga Pra Sejahtera Kota Semarang
relatif lebih kecil. Selanjutnya Persentase Pentahapan Keluarga Sejahtera
Kota Semarang dan 5 Kota lain di Jawa Tengah serta Kawasan Strategis
Kedungsapur Tahun 2014 tersaji lengkap pada tabel 2.10 di bawah ini.

Tabel 2.10
Kondisi Pentahapan Keluarga Pra Sejahtera dan Keluarga Sejahtera
di Kota Semarang; 5 Kota lain di Jawa Tengah dan Kawasan Strategis
Kedungsapur serta Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014

Keluarga Keluarga Keluarga Keluarga Keluarga


No Kota / Kabupaten Pra Sejahtera Sejahtera Sejahtera Sejahtera
Sejahtera I II III III Plus

1 Kab. Grobogan 60,06 12,66 13,56 12,29 1,43


2 Kab. Demak 35,89 23,30 23,24 14,03 3,54
3 Kab. Semarang 25,71 22,84 16,65 31,27 3,53
4 Kab. Kendal 34,61 14,45 16,13 30,95 3,85
5 Kota Magelang 14,48 20,16 14,66 40,77 9,93
6 Kota Surakarta 8,35 17,98 23,66 33,29 16,71
7 Kota Salatiga 11,10 14,01 21,10 43,52 10,27
8 Kota Semarang 10,06 18,03 22,38 38,79 10,74
9 Kota Pekalongan 15,20 19,43 25,74 28,10 11,53
10 Kota Tegal 16,92 25,34 21,12 30,71 5,91
11 Prov. Jawa Tengah 26,11 20,70 23,40 25,38 4,42

Sumber : Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Tengah, 2015

Sampai saat ini, kemiskinan masih menjadi tantangan besar bagi


setiap daerah dalam melaksanakan kegiatan pembangunan. Berbagai
upaya telah dilakukan oleh pemerintah melalui program dan kegiatan
untuk menurunkan angka kemiskinan. Upaya-upaya tersebut baik
dilakukan oleh pemerintah pusat maupun daerah. Dalam melaksanakan
program dan kegiatan penanggulangan kemiskinan perlu adanya
ketepaduan antara pemerintah kota, dunia usaha, perguruan tinggi dan
masyarakat yang peduli terhadap pengentasan kemiskinan.

Berdasarkan pendataan warga miskin Kota Semarang yang dilakukan


Pemerintah Kota Semarang dapat diketahui jumlah penduduk rawan
miskin dari tahun 2010-2015 sebagaimana pada gambar 2.40 di bawah ini :

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 II-48


GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

30,00

26,54 26,44 26,44


27,00

24,00
21,49 21,49
20,82
21,00

18,00

15,00
2010 2011 2012 2013 2014 2015

Sumber : Bappeda Kota Semarang, 2015

Gambar 2.40
Grafik Perkembangan Persentase Kemiskinan
Kota Semarang Tahun 2010 – 2015

2.2.1.6 Angka Kriminalitas

Dinamika perkembangan Kota Semarang yang pesat dengan


kemajemukan masyarakat akan berdampak pada perubahan sosial di
masyarakat. Disisi lain peningkatan jumlah penduduk yang tidak
seimbang dengan ketersediaan fasilitas akan berdampak negatif seperti
semakin bertambahnya tingkat pengangguran, bertambahnya angka
kemiskinan, akan memicu meningkatnya angka kriminalitas. Selama 6
tahun dari tahun 2010 – 2015, jumlah tindak pidana menonjol (crime index)
menurut jenis adalah sebagai berikut :

Tabel 2.11
Jumlah Tindak Pidana Menonjol (Crime Index) Menurut Jenis
Di Kota Semarang Tahun 2010 – 2015

Jumlah di Tahun
Jenis Tindak Pidana
2010 2011 2012 2013 2014 2015
a. Pencurian dgn pemberatan 147 539 521 419 441 476
b. Pencurian ranmor 407 884 768 566 633 667
c. Pencurian dgn kekerasan 15 58 92 82 88 206
d. Penganiayaan berat 13 171 206 200 203 42
e. Pembunuhan 1 7 14 2 10 6
f. Perkosaan 6 5 3 3 3 215
g. Uang palsu 0 2 2 3 1 1
h. Narkotika 0 40 63 61 79 463

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 II-49


GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

Jumlah di Tahun
Jenis Tindak Pidana
2010 2011 2012 2013 2014 2015
i. Perjudian 14 81 92 88 42 110
j. Pemerasan / Ancaman 36 94 150 116 N/A N/A
k. Lainnya 1 14 11 13 2.005 606
Jumlah 640 1.895 1.922 1.553 3.505 2.792

Sumber :Badan Pusat Statistik Kota Semarang dan Badan Kesatuan Bangsa dan Politik
Kota Semarang, 2016

Selama tahun 2015, jumlah kasus tindak pidana di Kota Semarang


yang terjadi di wilayah hukum Polrestabes Kota Semarang adalah sejumlah
2.792 kejadian, sedikit meningkat jika dibandingkan dengan kasus di
tahun 2013 yang sebanyak 1.553 kejadian. Dari jumlah kejadian tindak
pidana tersebut, yang paling menonjol di tahun 2015 adalah kejadian
curanmor yang sebanyak 667 kejadian dan pencurian dengan pemberatan
476 kejadian.

2.2.2 Fokus Kesejahteraan Sosial

2.2.2.1 Indek Pembangunan Manusia (IPM)

Indeks Pembangunan Manusia atau Human Development Index (HDI)


merupakan indeks pembangunan manusia yang dipergunakan untuk
mengukur keberhasilan upaya membangun kualitas hidup manusia,
dalam hal ini berarti kualitas hidup masyarakat/penduduk yang dijadikan
sebagai salah satu ukuran kinerja di masing-masing daerah. Ukuran
pencapaian keberhasilan suatu daerah diihat melalui 3 dimensi dasar
pembangunan yaitu (1) lamanya hidup, (2) pengetahuan/tingkat
pendidikan dan (3) standar hidup layak. Indikator yang mewakili ketiga
dimensi tersebut yaitu Angka Harapan Hidup (AHH) untuk mengukur
peluang hidup, Harapan Lama Sekolah (HLS) dan Rata-rata Lama Sekolah
(RLS) untuk mengukur status tingkat pendidikan, serta pengeluaran rill
per kapita disesuaikan untuk mengukur akses terhadap sumberdaya
untuk mencapai standar hidup layak.

Dalam kurun waktu 6 tahun terakhir (2010 - 2015), perkembangan


menunjukkan adanya peningkatan pada tiap tahunnya. Hal ini
menunjukkan bahwa kinerja pembangunan sumberdaya manusia di Kota
Semarang telah menunjukkan perbaikan yang berarti. Pada gambar 2.41
di bawah, terlihat bahwa pada tahun 2010, capaian IPM Kota Semarang

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 II-50


GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

adalah sebesar 76,96 dan terus mengalami peningkatan menjadi sebesar


80,23 pada tahun 2015. Jika diakumulasikan, telah terjadi peningkatan
sebesar 3,27 selama periode tersebut.

81,00 80,23
80,00 79,24
78,68
79,00 78,04
77,58
78,00 76,96
77,00
76,00
75,00
2010 2011 2012 2013 2014 2015
Sumber : Badan Pusat Statistik Kota Semarang dan Provinsi Jawa Tengah, 2016
Gambar 2.41
Grafik Perkembangan IPM Kota Semarang Tahun 2010 – 2015

Berdasarkan posisi relatif IPM tahun 2014, capaian IPM Kota


Semarang yang sebesar 79,24 lebih rendah dari capaian IPM Kota Salatiga
yang sebesar 79,98. Dibandingkan dengan capaian IPM Provinsi Jawa
Tengah yang sebesar 68,78, capaian IPM Kota Semarang masih lebih tinggi
dengan perbedaan capaian sebesar 10,46. Untuk melihat posisi relatif
perkembangan IPM Kota Semarang dapat dilihat pada gambar 2.42 ini.

Sumber : Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Tengah, 2015


Gambar 2.42
Perkembangan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kota Semarang dan
Kab / Kota di Jawa Tengah Tahun 2014

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 II-51


GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

Indikator pembentuk IPM Kota Semarang, meliputi usia harapan


hidup, Harapan Lama Sekolah, Rata-rata Lama Sekolah dan pengeluaran
per kapita yang disesuaikan, mengalami kenaikan dalam kurun waktu
2010 – 2015. Pencapaian indikator pembentuk IPM, baik usia harapan
hidup, angka melek huruf, rata-rata lama sekolah maupun pengeluaran
perkapita yang disesuaikan juga sudah berada di atas pencapaian
indikator pembentuk IPM Provinsi Jawa Tengah.

Pada tahun 2014, terdapat metode baru untuk menghitung IPM dan
indikator kompositnya. Capaian indikator komposit IPM Kota Semarang
pada tahun 2015 adalah sebagai berikut Angka Harapan Hidup (AHH) Kota
Semarang sebesar 77,20, kemudian indikator komposit Rata-rata Lama
Sekolah (Mean Years of Schooling) sebesar 10,20 tahun, Harapan Lama
Sekolah (Expected Years of Schooling) sebesar 14,33 tahun, dan
Pengeluaran Per kapita Disesuaikan yang didekati dengan indikator Paritas
Daya Beli (PPP) yang sebesar Rp. 13.589,- (ribu rupiah).

Tabel perkembangan indikator pembentuk IPM Kota Semarang tahun


2010 – 2014 yang dibandingkan dengan Provinsi Jawa Tengah dapat dilihat
pada Tabel 2.12 di bawah ini.

Tabel 2.12
Perkembangan Indikator Pembentuk IPM
Kota Semarang Tahun 2010 – 2014
Angka Harapan Rata-rata Paritas Daya
Harapan Lama Lama Beli
Tahun
Hidup Sekolah Sekolah (PPP-Ribu
(AHH) (HLS) (RLS) Rupiah)
2010 77,17 13,12 9,61 11.987,-
2011 77,17 13,26 9,80 12.271,-
2012 77,18 13,37 9,92 12.488,-
2013 77,18 13,66 10,06 12.714,-
2014 77,18 13,97 10,19 12.802,-
2015 77,20 14,33 10,20 13.589,-

Keterangan : Data IPM dan Pembentuk IPM (Metode Baru) Provinsi Jawa Tengah untuk
Tahun 2010 – 2013 tidak tersedia
Sumber : Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Tengah, 2015

2.2.2.2 Indeks Pembangunan Gender (IPG)

Indeks Pembangunan Gender (IPG) adalah indeks pencapaian


kemampuan dasar pembangunan manusia yang sama seperti IPM, hanya
saja data yang ada dipilah antara laki-laki dan perempuan. IPG digunakan

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 II-52


GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

untuk mengetahui kesenjangan pembangunan manusia antara laki-laki


dan perempuan. Dikatakan tidak ada kesenjangan pembangunan apabila
nilai IPG sama dengan IPM. Pada kurun waktu 2010 – 2015 capaian IPG
Kota Semarang cenderung mengalami kenaikan, dari tahun 2010 sebesar
92,66% menjadi 95,60% pada tahun 2015, seperti terlihat pada gambar
2.43 berikut ini :

96,00 95,56 95,60


95,17

95,00
94,17

94,00 93,58

93,00 92,66

92,00
2010 2011 2012 2013 2014 2015 *)

Ket. : *). Data sangat sangat sementara / Data diolah


Sumber : Badan Pusat Statistik Kota Semarang, 2015
Gambar 2.43
Perkembangan IPG Kota Semarang Tahun 2010 – 2015

Berdasarkan posisi relatifnya, capaian IPG Kota Semarang pada tahun


2014 berada pada peringkat ke-5 diantara kabupaten/kota lain di Jawa
Tengah, berada dibawah Kota Surakarta, Kab. Sukoharjo, Kab.
Karanganyar, dan Kab. Klaten. Posisi IPG Kab/Kota dalam wilayah Provinsi
Jawa Tengah selengkapnya dapat dilihat pada Gambar 2.44 berikut ini.

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 II-53


GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

Sumber : Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Tengah, 2015


Gambar 2.44
Perbandingan IPG Kota Semarang Dengan Kab/Kota di Jawa Tengah
Tahun 2014

Capaian IPG Kota Semarang Tahun 2014 jika dilihat dari indikator
komposit pembentuknya, terlihat bahwa perempuan unggul di dua
indikator komposit yaitu Angka Harapan Hidup dan Angka Harapan Lama
Sekolah. Sementara dua indikator komposit lainnya diungguli oleh laki-laki,
yaitu Angka Rata-rata Lama Sekolah dan Pengeluaran. Hal ini
menunjukkan bahwa perempuan dalam memperoleh manfaat
pembangunan di bidang pendidikan dan perekonomian cenderung lebih
rendah dibandingkan dengan laki-laki, sehingga perlu upaya-upaya yang
dilakukan pemerintah agar hasil pembangunan dapat dirasakan secara
merata oleh laki-laki dan perempuan.

Untuk melihat secara lengkap indikator komposit pembentuk IPG,


dapat dilihat pada tabel 2.13 di bawah ini.

Tabel 2.13
Capaian Indikator Komposit IPG Kota Semarang Tahun 2014

Capaian
No Indikator Komposit IPG
Laki-laki Perempuan

1 Angka Harapan Hidup (tahun) 75,15 79,11

2 Harapan Lama Sekolah (tahun) 14,07 13,91

3 Rata-rata Lama Sekolah (Tahun) 10,99 9,62

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 II-54


GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

Capaian
No Indikator Komposit IPG
Laki-laki Perempuan

4 Pengeluaran (ribu rupiah) 14.429 12.685

Sumber : Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Tengah, 2015

2.2.2.3 Indeks Pemberdayaan Gender (IDG)

Indeks Pemberdayaan Gender (IDG) merupakan indeks komposit yang


tersusun dari beberapa variabel yang mencerminkan tingkat keterlibatan
perempuan dalam proses pengambilan keputusan dalam bidang politik dan
ekonomi. Pada tahun 2010 capaian IDG Kota Semarang adalah sebesar
63,46% dan terus mengalami peningkatan sampai dengan tahun 2015
mencapai sebesar 76,08%, seperti terlihat pada gambar 2.45 berikut ini.

80 75,58 76,08
75 70,62
70 66,61
63,46 64,48
65

60

55
2010 2011 2012 2013 2014 *) 2015 *)

Sumber : Badan Pusat Statistik Kota Semarang, 2015


Ket. : *). Data sangat sangat sementara / Data diolah
Gambar 2.45
Perkembangan Indeks Gender (IDG) Kota Semarang
Tahun 2010 – 2015

Jika dibandingkan dengan Kab/Kota lain di Provinsi Jawa Tengah,


capaian IDG Kota Semarang pada tahun 2013 berada di urutan ke-9
diantara kab/kota di Jawa Tengah dengan capaian sebesar 70,62%.
Capaian ini berada di bawah capaian Provinsi Jawa Tengah yaitu sebesar
70,62%. Selengkapnya dapat dilihat pada gambar 2.46 di bawah ini.

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 II-55


GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

78,93
80,91
77,45
90,00

75,11
72,96
71,66
71,22
71,04
70,62
70,21
69,56
69,33
69,27
68,66
68,67
68,03
67,65
67,59
67,32
67,02
67,03
66,56
65,99
80,00

65,62
65,50
65,15
61,10
61,03
59,76
58,77
57,92
56,58
70,00

51,91
51,14
48,96
60,00 47,92

50,00
40,00
30,00
20,00
10,00
-

Sumber : BPS dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, 2015
Gambar 2.46
Posisi Relatif IDG Kab/Kota Provinsi Jawa Tengah Tahun 2013

IDG terdiri atas tiga indikator pembentuk, yaitu 1) keterlibatan


perempuan dalam parlemen, 2) perempuan sebagai manager, profesional,
administrasi, dan teknisi, dan 3) sumbangan perempuan dalam
pendapatan kerja. Terlihat bahwa capaian indikator keterlibatan
perempuan dalam parlemen, dan sumbangan perempuan dalam
pendapatan kerja capaiannya masih rendah, sedangkan perempuan
sebagai tenaga manager, professional, administrasi, dan teknisi
capaiannya cukup baik. Secara rinci capaian indikator komposit
pembentuk IDG dapat dilihat pada tabel di berikut ini.

Tabel 2.14
Capaian Indikator Komposit IDG Kota Semarang Tahun 2013

No Indikator Komposit IDG Capaian

1 Keterlibatan perempuan dalam parlemen (%) 18,00

2 Perempuan sebagai tenaga manager, professional,


46,07
administrasi, dan teknisi (%)

3 Sumbangan perempuan dalam pendapatan kerja (%) 35,54

Sumber : Badan Pusat Statistik Kota Semarang dan Kementerian Pemberdayaan


Perempuan dan Perlindungan Anak , 2015

2.2.2.4 Aspek Pendidikan

Pendidikan ditujukan untuk meningkatkan kualitas sumber daya


manusia, sehingga tercipta sumber daya manusia yang berkualitas melalui
peningkatan mutu pendidikan dan penyelenggaraan pendidikan. Dalam

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 II-56


GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

lingkup Sustainable Development Goals aspek pendidikan menjadi salah


satu aspek terpenting untuk diperhatikan dalam rangka mewujudkan
pembangunan yang berkelanjutan di tahun 2030. Sebelumnya,
pelaksanaan SDGs ini diawali dengan pelaksanaan MDGs yang telah
selesai di tahun 2014. Berdasarkan laporan capaian pelaksanaan MDGs di
Kota Semarang, disebutkan bahwa keberhasilan capaian pada aspek
pendidikan di Kota Semarang dilihat melalui Angka Partisipasi Murni
untuk jenjang pendidikan SD/MI/Paket A, proporsi murid kelas 1 yang
berhasil menamatkan SD/MI/Paket A dan angka melek huruf penduduk
usia 15-24 tahun perempuan dan laki-laki. Status capaian MDGs Kota
Semarang menunjukan bahwa Angka Partisipasi Murni SD/MI tahun 2015
sebesar 92,08%, Angka Partisipasi Murni SMP sebesar 81,24%, Proporsi
murid kelas 1 yang berhasil menamatkan SD/ MI sebesar 99. Berdasarkan
Laporan dan Evaluasi Pelaksanaan MDG’s Kota Semarang 2013 – 2015,
dalam aspek pendidikan, Kota Semarang telah dinilai berhasil mencapai
target yang ditetapkan.

Pendidikan anak usia dini (PAUD) merupakan upaya pemerintah


untuk menciptakan generasi emas pada 100 tahun Indonesia merdeka
pada tahun 2045. Program PAUD diarahkan pada pengembangan
keterampilan fisik (motorik), kecerdasan (intelektual, emosional dan
spritual), sosio-emosional (sikap, perilaku, dan agama), bahasa dan
komunikasi sesuai dengan keunikan dan tahap-tahap perkembangan anak
usia dini. Dan sampai saat ini layanan PAUD dilaksanakan dalam berbagai
bentuk, yaitu :
I. Layanan dibawah naungan Kementrian Pendidikan dan
Kebudayaan, antara lain :
(1) Taman kanak-kanak (TK);
(2) Kelompok Bermain (KB);
(3) Taman Penitipan Anak (TPA);
(4) Satuan PAUD Sejenis (SPS) yang terintegrasi dengan posyandu.
II. Layanan dibawah naungan Kementrian Agama dan dikoordinasikan
oleh Kanwil Kemenag Kota Semarang, antara lain :
(1) Raudhatul Athfal (RA);
(2) Busatanul Atfal (BA);
(3) Taman Pendidikan Al Qur’an (TPQ);

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 II-57


GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

III. Layanan dibawah naungan Badan Kependudukan dan Keluarga


Berencana Nasional (BKKBN), yaitu Bina Keluarga Balita (BKB).

Selain melihat dari pencapaian MDG’s di Kota Semarang, perlu


diketahui bagaimana kinerja pembangunan Pemerintah Kota Semarang
khususnya di bidang pendidikan dengan melihat beberapa indikator baik
yang tercantum dalam Standar Pelayanan Minimal (SPM) Pendidikan
maupun dalam indikator minimal yang ada di Permendagri No. 54 Tahun
2010 khususnya pada urusan pendidikan diantaranya adalah :

1. Angka Melek Huruf;


2. Angka Rata-Rata Lama Sekolah;
3. Angka Partisipasi Kasar;
4. Angka Partisipasi Murni;
5. Angka Pendidikan yang Ditamatkan.

Tabel 2.15
Realisasi Indikator Aspek Pendidikan

Tahun
No Uraian
2010 2011 2012 2013 2014 2015*)
1 Angka Melek Huruf 99,97 99,95 99,91 99,96 99,97 99,96

2 Rata Lama Sekolah 9,61 9,80 9,92 10,06 10,19 10,19

3 Angka Partisipasi Kasar (APK)


PAUD **) 26,24 42,20 53,72 57,38 58,95 76,40

SD/MI 105,77 105,69 107,25 107,45 107,35 107,54

SLTP/MTS 111,85 110,31 112,20 117,19 116,43 110,07

SMA/SMK/MA 116,71 111,39 119,56 118,97 121,87 113,81

4 Angka Partisipasi Murni (APM)


SD/MI 90,85 90,55 92,58 92,22 91,90 92,08

SLTP/MTS 79,53 79,24 79,14 80,23 82,97 81,24

SMA/SMK/MA 79,54 79,29 84,11 81,87 83,67 76,41

5 Angka Pendidikan Yang Ditamatkan *)


Tamat SD/MI/Paket A - 22,87 22,87 22,87 32,00 22,88
Tamat
20,29 20,29 20,29 20,29 20,29 20,29
SMP/MTs/Paket B
Tamat
SMA/SMK/MA/Paket 21,11 21,11 21,11 21,11 21,11 21,11
C
Tamat D1/D2/D3 4,35 4,35 4,35 4,35 4,35 4,34

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 II-58


GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

Tahun
No Uraian
2010 2011 2012 2013 2014 2015*)
Tamat D4/S1/S2/S3 4,45 4,45 4,45 4,45 4,45 4,44

Sumber : Badan Pusat Statistik, **) D. Pendidikan Kota Semarang, 2015

2.2.2.5 Aspek Kesehatan

Perkembangan pembangunan kesejahteraan sosial dapat dilihat juga


dari aspek kesehatan. Selain aspek pendidikan, aspek kesehatan juga
memegang peranan penting dalam menentukan kualitas sumber daya
manusia di Kota Semarang. Standar Pelayanan Minimal (SPM) Kesehatan
menjelaskan bahwa terdapat beberapa indikator yang dapat digunakan
untuk mengetahui kualitas pelayanan kesehatan di suatu wilayah
diantaranya Angka Kelangsungan Hidup Bayi, Angka Usia Harapan Hidup,
Persentase Balita Gizi Buruk. Jika melihat dari indikator yang tercantum
dalam SPM Kesehatan, capaian Kota Semarang dalam meningkatkan
kualitas kesehatan warganya dapat dilihat sebagai berikut:

Tabel 2.16
Realisasi Indikator Aspek Kesehatan
Tahun
No Uraian
2010 2011 2012 2013 2014 2015
Angka Kelangsungan
1 Hidup bayi (per 1.000 87,8 87,85 89,33 90,56 90,63 91,62
Kelahiran Hidup)
Angka Kematian
2 Balita/ AKABA (per 20,3 14,9 12,3 11,3 11,3 10,4
1.000 kelahiran hidup)
Jumlah Kematian
3 433 314 293 251 253 229
Bayi/AKB (kasus)
4 Persentase Gizi Buruk 1,01% 1,05% 0,69% 0,87% 0,38% 0,40%
5 Unmet need KB (jiwa) 34.664 34.876 32.242 32.496 29.413 28.818
Jumlah Kematian Ibu
6 19 31 22 29 33 35
Maternal (kasus)
IR DBD (per 100.000
7 368,7 73,87 70,9 134,09 92,43 98,61
pddk)
Kasus HIV/AIDS yang
8 N/A 427 520 430 453 456
ditemukan
9 Kasus AIDS 61 59 104 75 40 51
ODHA yang aktif
10 n.a n.a n.a n.a n.a 35
minum ARV (%)
Penemuan &
11 penanganan penderita 60 61 70 69,5 73 75,68
TB BTA + (%)
Sumber : D. Kesehatan Kota Semarang, 2016

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 II-59


GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

Berbeda dengan indikator minimal yang tercantum baik dalam


Permendagri No. 54 Tahun 2010 dan SPM Kesehatan, pentingnya aspek
kesehatan menjadi tujuan yang harus diwujudkan pada pelaksanaan
Sustainable Development Goals di Kota Semarang. Sama halnya dengan
aspek pendidikan, aspek kesehatan juga perlu diperhatikan guna
mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan di tahun 2030.
Sebelumnya, pelaksanaan SDGs ini diawali dengan pelaksanaan MDGs
yang telah selesai di tahun 2014.

Berdasarkan laporan capaian pelaksanaan MDGs di Kota Semarang,


terdapat beberapa tujuan yang terkait erat dengan aspek kesehatan
diantaranya Menurunkan Angka Kematian Anak (tujuan 4), Meningkatkan
Kesehatan Ibu (tujuan 5), Memerangi HIV/ AIDs, Malaria dan Penyakit
Menular Lainnya (tujuan 6).

Menurunkan angka kematian anak yang merupakan tujuan ke-4 dari


MDGs menjadi suatu tantangan tersendiri bagi Pemerintah Kota Semarang
untuk lebih meningkatkan kualitas kesehatan anak. Pada tujuan ke-4,
terdapat beberapa indikator yaitu Angka Kematian Bayi (AKB) per 1.000
kelahiran hidup, Angka Kematian Balita (AKBA) per 1.000 kelahiran hidup,
Persentase anak usia 1 tahun yang diimunisasi campak.

Pada tujuan ke-5 MDGs, aspek kesehatan khususnya ibu menjadi


perhatian utama dengan indikatornya terdiri dari:

1. Angka Kematian Ibu per 100.000 kelahiran hidup;


2. Proporsi kelahiran yang ditolong tenaga kesehatan terlatih;
3. Angka pemakaian kontrasepsi/Contraceptive Prevalence Rate
(CPR) pada perempuan menikah usia 15-49 tahun (cara modern
dan semua cara);
4. Tingkat kelahiran pada remaja (per 1.000 perempuan usia 15 – 19
tahun);
5. Cakupan pelayanan antenatal (K4); dan
6. Unmet need KB (Kebutuhan keluarga berencana / KB yang tidak
terpenuhi)

Angka Kematian Ibu per 100.000 kelahiran hidup dan Unmet need KB
perlu membutuhkan perhatian khusus mengingat capaiannya mengalami
penurunan di tahun 2015. Terkait dengan pencapaian target Angka

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 II-60


GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

Kematian Ibu, salah satu upaya untuk menekan kasus kematian pada ibu
melahirkan adalah meningkatkan pelayanan kelahiran melalui tenaga
kesehatan. Selain terkait dengan kesehatan ibu, MDGs juga masih
memiliki tujuan lain yang terkait erat dengan aspek kesehatan diantaranya
adalah tujuan ke-6 yaitu “Memerangi HIV/AIDs, Malaria, dan Penyakit
Menular Lainnya”.Adapun target yang akan dicapai terdiri dari 3 target
utama yaitu:

1. Mengendalikan penyebaran kasus HIV dan AIDS dan menurunkan


jumlah kasus baru dengan indikator:
 Persentase kasus Infeksi Menular Seksual yang diobati
 Persentase ODHA yang aktif minum ARV
 Persentase Penggunaan kondom pada hubungan seks beresiko
tinggi terakhir.
 Persentase penduduk 15-24 tahun yang memiliki pengetahuan
komprehensif tentang HIV/AIDS
2. Mewujudkan akses terhadap pengobatan HIV/AIDS bagi semua
yang membutuhkan sampai dengan tahun 2015 dengan indikator
persentase penduduk terinfeksi HIV yang aktif minum ARV
(antiretroviral)
3. Mengendalikan penyebaran dan mulai menurunkan jumlah kasus
baru TBC dan penyakit utama lainnya hingga tahun 2015, dengan
indikator:
 Proporsi kasus TB yang ditemukan.
 Proporsi kasus TB yang disembuhkan melalui DOTS (cure rate).
 Persentase keberhasilan pengobatan kasus TB
 Angka Kesakitan DBD (per 100.000 penduduk).
 Kematian DBD

Terkait dengan ke tiga target tersebut, Pemerintah Kota Semarang


telah berhasil mencapai target khususnya pada pengendalian penyebaran
dan penemuan jumlah kasus HIV/AIDS pada tahun 2015 dan target untuk
mewujudkan akses terhadap pengobatan HIV/ AIDS bagi semua yang
membutuhkan sampai dengan tahun 2021. Sementara itu, pada target ke-
3 yaitu mengendalikan penyebaran dan mulai menurunkan jumlah kasus
baru malaria dan penyakit utama lainnya hingga tahun 2015, Pemerintah

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 II-61


GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

Kota Semarang belum mencapai target dan perlu memberikan pehatian


lebih pada beberapa indikator yaitu :

 Tingkat kematian karena tuberculosis (per 100.000 penduduk)


 Proprosi kasus Tuberculosis yang berhasil diobati dalam
program DOTS
 Angka kesakitan DBD (per 100.000 penduduk)

2.2.2.6 Kepemilikan Tanah

Kebijakan pada urusan pertanahan diarahkan pada upaya


peningkatan tertib administrasi pertanahan dan pemecahan masalah-
masalah atau konflik pertanahan. Kewenangan Pemerintah Kota dalam
urusan Pertanahan adalah dalam penyelesaian sengketa tanah garapan,
penyelesaian masalah ganti kerugian dan santunan tanah untuk
pembangunan, penyelesaian masalah tanah kosong, pemberian izin lokasi,
penetapan tanah ulayat, serta mempunyai kewenangan dalam
Perencanaan penggunaan tanah. Pengadaan tanah untuk kepentingan
umum pada tahun 2014 yang dapat diselesaikan adalah sejumlah 956
bidang dari 1.107 bidang tanah, sedangkan di tahun 2015 terdapat 35 dari
147 bidang tanah. Untuk bidang tanah yang sudah jelas kepemilikannya
namun belum terselesaikan, diupayakan melalui jalur hukum.

Dari tahun 2011 sampai dengan tahun 2015 terdapat 104 pengaduan
kasus pertanahan dan seluruhnya dapat diselesaikan. Sedangkan untuk
peningkatan tertib administrasi pertanahan di tahun 2015 telah
dilaksanakan kegiatan Penataan, Penguasaan, Pemilikan, Penggunaan dan
Pemanfaatan Tanah (P5T) di 177 kelurahan.

2.2.2.7 Kesempatan Kerja

Kesempatan kerja merupakan hubungan antara angkatan kerja


dengan kemampuan penyerapan tenaga kerja. Dengan demikian
kesempatan kerja dapat diartikan sebagai permintaan atas tenaga kerja.
Pertambahan angkatan kerja harus diimbangi dengan investasi yang dapat
menciptakan kesempatan kerja. Dengan demikian, dapat menyerap
pertambahan angkatan kerja. Dalam ilmu ekonomi, kesempatan kerja
berarti peluang atau keadaan yang menunjukkan tersedianya lapangan
pekerjaan sehingga semua orang yang bersedia dan sanggup bekerja dalam
proses produksi dapat memperoleh pekerjaan sesuai dengan keahlian,

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 II-62


GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

keterampilan dan bakatnya masing-masing. Untuk melihat kesempatan


kerja, dapat dilihat dari beberapa indikator yakni :

1. Jumlah penduduk yang bekerja


Jumlah penduduk yang bekerja menunjukkan tingkat
penyerapan angkatan kerja. Dalam lingkup Kota Semarang jumlah
penduduk yang bekerja dari tahun 2010-2015 menunjukkan
fluktuasi yang cukup bervariasi dimana naik turunnya relatif
dipengaruhi oleh ketersediaan peluang kerja dan daya saing
pencari kerja dalam pasar kerja. Kenaikan jumlah penduduk yang
bekerja terjadi pada tahun 2010-2012 sebesar 9,55%, tahun 2012-
2013 sebesar 24,97%, tahun 2013-2014 sebesar 10,99%
kemudian perlahan turun di tahun 2015 mencapai 16,7%.

2. Jumlah angkatan kerja


Jumlah angkatan kerja menunjukkan ketersediaan pencari
kerja pada usia kerja, dimana fluktuasi perkembangannya
dipengaruhi jumlah lulusan sekolah pada usia kerja dan
penempatan pencari kerja. Dalam lingkup Kota Semarang jumlah
angkatan kerja dari tahun 2010-2011 menunjukkan kenaikan
sebesar 61.900 orang, tahun 2011-2012 menurun sebesar 61.956
orang, tahun 2012-2014 naik sebesar 121.786 orang dan dari
tahun 2014-2015 terjadi penurunan sebesar 126.857 orang.

Tabel 2.17
Realisasi Aspek Kesempatan Kerja
Tahun
No Uraian
2010 2011 2012 2013 2014 2015
1 Tingkat Kesempatan 88,10 88,77 89,93 91,11 92,85 89,19
Kerja
2 Jumlah penduduk 674.676 684.313 637.582 796.806 884.406 736.406
yang bekerja
3 Jumlah angkatan kerja 709.016 770.916 708.960 874.532 952.532 825.675
4 Jumlah lowongan kerja 12.384 14.132 13.637 21.719 14.818 30.129
5 Pencari kerja yang 8.560 9.003 10.263 18.819 13.277 9.136
ditempatkan
6 Kapasitas Pelatihan 380 380 420 660 420 432
pencari kerja/tenaga
kerja
7 Penyelesaian 231 193 192 211 214 175
perselisihan hubungan
industrial/PHK

Sumber. Dinas Tenaga Kerja Kota Semarang, 2016

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 II-63


GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

3. Tingkat Pengangangguran Terbuka (TPT).


Tingkat Pengangangguran Terbuka (TPT) adalah
perbandingan jumlah pengangguran terhadap jumlah angkatan
kerja. Dengan melihat TPT, secara langsung dapat
mengindikasikan seberapa luas kesempatan kerja yang ada di
wilayah tersebut. Semakin tinggi TPT di suatu wilayah
mengindikasikan bahwa semakin sempitnya kesempatan kerja
yang ada di wilayah tersebut. Dalam lingkup Kota Semarang
indeks TPT dari tahun 2010-2015 mengalami kenaikan khususnya
di tahun 2012 hingga 2014 dan kemudian perlahan turun di tahun
2015 mencapai 5,77%.

4. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK).


Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) adalah suatu
indikator ketenagakerjaan yang memberikan gambaran tentang
penduduk yang aktif secara ekonomi dalam kegiatan sehari-hari
merujuk pada suatu waktu dalam periode survey. Sama halnya
dengan tingkat pengangguran terbuka, tingkat partisipasi
angkatan kerja di suatu wilayah juga dapat mengindikasikan
seberapa besar kesempatan kerja di wilayah tersebut. Semakin
tinggi TPAK mengindikasikan semakin luas kesempatan kerja.
Dalam lingkup Kota Semarang, TPAK mengalami pergerakan yang
fluktuatif dari tahun 2010 hingga 2015 yang secara lengkap tersaji
dalam gambar 2.45 dibawah ini.

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 II-64


GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

12,00 90,00

77,51
10,00 80,00
9,98 68,23 66,79
8,00 6,92 70,00
63,05
7,76 T
T 6,00 60,00
60,61
5,96
P
5,82 5,77
P 4,00 54,71 50,00 A
T K
2,00 40,00

0,00 30,00
2010 2011 2012 2013 2014 2015
Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK)

Sumber : Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Tengah, 2016


Ket. : *). Data sangat sangat sementara / Data diolah
**). Data TPAK sumber Disnakertrans Kota Semarang.
Gambar 2.47
Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) & Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja
(TPAK) di Kota Semarang Tahun 2010 – 2015

Aspek ketenagakerjaan juga diatur dalam SPM Bidang


Ketenagakerjaan dimana hal tersebut dijabarkan kedalam 5 (lima)
pelayanan ketenagakerjaan yaitu: Pelayanan pelatihan kerja, Pelayanan
penempatan tenaga kerja, Pelayanan penyelesaian perselisihan hubungan
industri, Pelayanan kepesertaan Jaminan Ketenagakerjaan, dan Pelayanan
pengawasan ketenagakerjaan.

Dari kelima pelayanan tersebut, capaian di tahun 2014 yang belum


tercapai ada pada pelayanan pelatihan kerja. Laporan capaian SPM Kota
Semarang 2014 menjelaskan bahwa pada tahun 2013 relasisasi besaran
tenaga kerja yang mendapatkan pelatihan berbasis kompetensi jauh
dibawah target yaitu hanya mencapai 25,39% dengan target 40%. Kondisi
tersebut tidak berubah di tahun 2014 dimana realisasi tidak mampu
mencapai target yaitu hanya sebesar 30,42% dengan target 40%. Oleh
karenanya perlu penanganan khusus oleh Pemerintah Kota Semarang
untuk meningkatkan pelayanan di bidang ketenagakerjaan khususnya
pada pelayanan pelatihan kerja. Hal ini sangat penting mengingat pelatihan
kerja menjadi salah satu faktor yang sangat berpengaruh dalam
menentukan kualitas sumber daya tenaga kerja di Kota Semarang.

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 II-65


GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

Tidak hanya SPM, aspek ketenagakerjaan juga ikut menjadi salah satu
fokus tujuan dalam SDGs yaitu pada tujuan kedelapanyang terkait erat
denganpeningkatan keberlanjutan pertumbuhan ekonomi dan kesempatan
kerja bagi semua. Sebelumnya, pelaksanaan SDGs ini diawali dengan
pelaksanaan MDGs yang telah selesai di tahun 2015. Dalam konteks
ketenagakerjaan, berdasarkan Laporan Capaian MDGs Kota Semarang,
Pemerintah Kota Semarang telah mencapai target yang ada pada masing-
masing indikator yang terdiri dari 1) Laju pertumbuhan PDRB per tenaga
kerja, 2) Rasio kesempatan kerja terhadap penduduk usia 15 tahun ke atas,
3) Proporsi tenaga kerja yang berusaha sendiri dan pekerja bebas keluarga
terhadap total kesempatan kerja.

2.2.3 Fokus Seni Budaya dan Olahraga

2.2.3.1 Kebudayaan

Kebudayaan merupakan keseluruhan gagasan, perilaku, dan karya


cipta manusia yang dapat menuntun kehidupan manusia agar lebih
bermartabat. Pembangunan kebudayaan tidak dapat dilepaskan dari
pengaruh budaya baru di era globalisasi, namun demikian harus tetap
berpijak pada nilai-nilai luhur yang terkandung dalam Pancasila, sehingga
terwujud karya-karya seni budaya yang memiliki kepribadian. Disisi lain
kesenian merupakan hasil karya yang mengacu pada nilai keindahan
(estetika) dan mewujudkan dari proses pengendapan makna relasi antar
manusia dan manusia dengan lingkungan hidupnya. Berkaitan dengan
aktivitas seni budaya di Kota Semarang, terlihat bahwa dalam kurun waktu
2010 – 2015 jumlah grup kesenian meningkat dari 364 menjadi 415 grup
kesenian, sedangkan untuk gedung kesenian meningkat masih sama
dengan tahun lalu yaitu sebanyak 14 buah. Perkembangan kesenian
tertera pada tabel 2.18 dibawah ini :

Tabel 2.18
Jumlah Kelompok Kesenian dan Jumlah Gedung Kesenian
di Kota Semarang Tahun 2010 – 2015

Tahun
No Uraian
2010 2011 2012 2013 2014 2015

1 Jumlah Group Kesenian 288 305 373 336 364 415

2 Jumlah Gedung Kesenian 13 13 13 13 14 14

Sumber : Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, 2016

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 II-66


GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

2.2.3.2 Olahraga

Jumlah klub olahraga di Kota Semarang sampai dengan akhir tahun


2015 adalah sebanyak 608 buah. Peningkatan jumlah klub olahraga juga
diikuti dengan peningkatan fasilitas olahraga (GOR, Stadion, lapangan
olahraga) yang sampai dengan akhir tahun 2015 sebanyak 115 buah,
selengkapnya terlihat pada Tabel 2.19

Tabel 2.19
Perkembangan Olahraga di Kota Semarang Tahun 2010 – 2015

Tahun
No Uraian
2010 2011 2012 2013 2014 2015

Jumlah Organisasi
1 36 42 42 42 42 46
Olahraga - (buah)

Jumlah Klub Olahraga –


2 561 608 608 608 608 608
(buah)

Jumlah Gedung Olahraga


3 - - 115 115 115 115
– (buah)

Sumber : Dinas Pemuda dan Olahraga, 2016

2.3 ASPEK PELAYANAN UMUM

2.3.1 Fokus Urusan Wajib Pelayanan Dasar

2.3.1.1 Urusan Pendidikan

Pembangunan pendidikan memiliki fungsi strategis untuk


meningkatkan kualitas sumberdaya manusia. Keberhasilan pembangunan
pendidikan akan mampu memberikan kontribusi bagi terciptanya insan
yang mandiri dan bermartabat. Pendidikan diharapkan dapat
meningkatkan kompetensi masyarakat terutama kemampuan
memecahkan masalah. Hasil rekapitulasi penyelenggaraan urusan
pendidikan di Kota Semarang selama tahun 2010 sampai dengan tahun
2015 bisa dilihat pada tabel 2.20 berikut :

Tabel 2.20
Realisasi Kinerja Urusan Pendidikan

Tahun
No Uraian
2010 2011 2012 2013 2014 2015
Pendidikan Dasar:
528,20 506,728 572,23 556,16 572,47 544,61
1 Rasio guru/murid (SD)
(1:19) (1:20) (1:17) (1:18) (1:17) (1:18)

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 II-67


GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

Tahun
No Uraian
2010 2011 2012 2013 2014 2015
642,10 595,81 643,84 732,17 715,84 700,71
Rasio guru/murid (SMP)
(1:16) (1:17) (1:16) (1:14) (1:14) (1:17)
1.490 1.683 1.685 1.789
Rasio guru/murid per 1.509 1.702
2 (1:20:34 (1:17:34 (1:18:33 (1:17:32
kelas rata-rata (SD) (1:19:35) (1:20:32)
) ) ) )
1.862 2.097 2.362 2.386
Rasio guru/murid per 1.889 2.336
(1:17:32 (1:16:31 (1:14:31 (1:14:30
kelas rata-rata (SMP) (1:16:34) (1:17:30)
) ) ) )
Pendidikan Menengah:
871,23 862,11 906,50 909,5 866,45 863,93
1 Rasio guru/murid (SM)
(1:11) (1:12) (1:11) (1:11) (1:12) (1:14)
2.612 2.924 2.934 2.795
Rasio guru/murid per 2.640 2.880
2 (1:12:33 (1:11:31 (1:11:31 (1:12:31
kelas rata-rata (SM) (1:11:33) (1:14:30)
) ) ) )
Penduduk yang berusia
3 > 15 tahun melek huruf 99,97 99,95 99,91 99,96 99,97 99,96
(tidak buta aksara) (%)
Fasilitas Pendidikan:
Persentase sekolah 90,60 92,96 92,19 92,70 92,73 93,36
1 pendidikan SD/MI
kondisi bangunan baik
Persentase sekolah 98,96 98,84 97,92 98,11 98,80 98,43
2 SMP/MTs kondisi
bangunan baik
Persentase sekolah 99,26 99,44 99,05 98,87 98,52 99,06
3 SMA/SMK/MA kondisi
bangunan baik
Pendidikan Anak Usia Dini:
Jumlah Siswa pada
1 40.706 42.565 42.817 43.466 44.417 44.571
jenjang TK / RA
Fasilitas Pendidikan:
Angka Putus Sekolah
1 0,02 0,05 0,03 0,05 0,03 0,02
(APTS) SD/MI (%)
Angka Putus Sekolah
2 0,30 0,15 0,11 0,07 0,09 0,07
(APTS) SMP/MTs (%)
Angka Putus Sekolah
3 (APTS) SMA/SMK/MA 0,41 0,55 0,71 0,57 0,39 0,32
(%)
Angka Kelulusan:
Angka Kelulusan (AL)
1 99,98 100 100 100 99,58 99,98
SD/MI
Angka Kelulusan (AL)
2 96,48 98,54 99,54 99,75 98,86 99,82
SMP/MTs
Angka Kelulusan (AL)
3 98,96 99,85 99,87 99,79 98,42 99,83
SMA/SMK/MA
Angka Melanjutkan (AM)
4 104,39 102,84 102,69 102,18 104,27 104,65
dari SD/MI ke SMP/MTs
Angka Melanjutkan (AM)
5 dari SMP/MTs ke 118,16 112,73 116,40 112,54 118,51 120,84
SMA/SMK/MA
Persentase Guru yang
6 memenuhi kualifikasi
S1/D-IV
- Jenjang SD / MI 70,60 70,75 71,10 71,14 75,65 77,50

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 II-68


GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

Tahun
No Uraian
2010 2011 2012 2013 2014 2015
- Jenjang SMP/MTs 85 86,19 88 88,93 90,10 92,41

- Jenjang SMA/SMK/MA 90 90,53 91,76 92,94 94,42 96,30

Sumber : Badan Pusat Statistik, Bappeda & Dinas Pendidikan Kota Semarang, 2016

2.3.1.2 Urusan Kesehatan

Perkembangan pada urusan kesehatan selama periode 2010 – 2015


bisa dilihat pada tabel 2.21 berikut :
Tabel 2.21
Realisasi Kinerja Urusan Kesehatan

Tahun
No Uraian
2010 2011 2012 2013 2014 2015
1 Rasio posyandu per 13,02 13,36 13,92 14,35 14,95 14,70
satuan balita
2 Rasio puskesmas, poliklinik, pustu per 1.000 satuan penduduk
- Rasio Puskesmas 0,231 0,231 0,231 0,231 0,231 0,231

- Rasio Poliklinik 0,20 0,11 0,11 0,11 0,11 0,11

- Rasio Pustu 0,0192 0,0191 0,0192 0,193 0,194 0,194

3 Rasio Rumah Sakit per


0,0147 0,0147 0,0147 0,0147 0,0147 0,0147
1.000 penduduk
4 Rasio dokter per 1.000 2,18 1,12 1,18 1,29 1,40 1,53
satuan penduduk
5 Rasio tenaga medis per 2,39 1,90 1,93 2,01 2,08 2,12
1.000 satuan penduduk

6 Cakupan komplikasi 96,65 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00


kebidanan yang ditangani
(%)
7 Cakupan pertolongan 93,00 96,08 98,33 97,87 97,87 97,53
persalinan oleh tenaga
kesehatan yang memiliki
kompetensi kebidanan
(%)
8 Cakupan Kelurahan 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00
Universal Child
Immunization (UCI) (%)
9 Cakupan Balita Gizi 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00
Buruk mendapat
perawatan (%)
10 Cakupan penemuan dan 50 61 70 69,5 73 60
penanganan penderita
penyakit TBC BTA (%)
11 Cakupan penemuan dan 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00
penanganan penderita
penyakit DBD (%)
12 Cakupan pelayanan 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00
kesehatan rujukan pasien
masyarakat miskin (%)

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 II-69


GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

Tahun
No Uraian
2010 2011 2012 2013 2014 2015
13 Cakupan kunjungan bayi 109,81 99,57 99,30 98,72 98,89 98,03

14 Cakupan puskesmas 231,25 231,25 231,25 231,25 231,25 231,25

15 Cakupan pembantu 19,21 19,15 19,22 19,30 19,45 19,45


puskesmas

Sumber : Badan Pusat Statistik & Dinas Kesehatan Kota Semarang, 2015

2.3.1.3 Urusan Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR)

Perkembangan urusan pekerjaan umum dan penataan ruang


dijabarkan berdasarkan beberapa variabel yang ditunjukkan pada tabel
2.22 berikut ini :

Tabel 2.22
Realisasi Kinerja Urusan Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang

Tahun
No Uraian
2010 2011 2012 2013 2014 2015
a Pekerjaan Umum :
1 Proporsi panjang 77,10 78,81 81,37 81,78 82,60 88,07
jaringan jalan dalam
kondisi baik (%)
2 Rasio Jaringan Irigasi 75,00 76,00 77,00 78,00 79,00 80,00
(%)
3 Penyediaan air baku 65,5% 66% 66,5% 67% 67,5% 68%

4 Rasio tempat ibadah 0,0131 0,0130 0,0128 0,0127 0,0126 0,0125


per 1.000 penduduk
6 Rasio tempat 2,21 2,26 2,31 2,35 2,40 2,45
pembuangan sampah
(TPS) per 1000
penduduk (%)
8 Panjang jalan dalam 345,5 349,2 353,5 357,8 360,2 364,7
kondisi baik (> 40
KM/Jam )
9 Jumlah titik reklame 915 1.932 1.061 1.025 1.119 623
yang tertata dan
terpelihara dengan baik
10 Jumlah kegiatan 54 60 60 60 60 60
penertiban reklame
11 Jumlah reklame ilegal 4.732 5.091 27.228 35.891 39.400 27.031
yang dibongkar/
ditertibkan
13 Sempadan sungai yang 55,00 50,00 48,70 47,10 46,00 44,20
dipakai bangunan liar
(%)
14 Drainase dalam 74,00 75,00 76,00 77,00 78,00 79,00
kondisi baik/
pembuangan aliran air
tidak tersumbat (%)

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 II-70


GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

Tahun
No Uraian
2010 2011 2012 2013 2014 2015
15 Luas irigasi dalam 1781 1836 1896 1961 2031 2106
kondisi baik
16 Persentase 77 79 81 83 85 87
penanganan sampah
17 Tempat pembuangan
sampah (TPS) per 0,221 0,226 0,231 0,235 0,240 0,245
satuan pddk (%)
18 Timbulan sampah (m3) - - - 5.807,2 5.995,4 6.189,0
3 7 0

19 Timbulan sampah - - - 2.237,3 2.422,6 2.602,2


terlayani (m3) 8 5 7
Rumah tangga
20 pengguna air minum 87,2 87,4 87,6 87,8 88 88,13
(%)
Rumah tangga ber-
21 85,53 85,58 85,63 85,68 85,73 85,78
Sanitasi (%)
b Penataan Ruang
1 Rasio Ruang Terbuka - - - - - 43,26
Hijau per Satuan Luas
Wilayah Kota Smg (%)
2 Rasio bangunan ber- 52,04 52,62 52,80 52,93 53,04 53,25
IMB per satuan
bangunan (%)
3 Simpangan dalam tata 0 0 0 0 0 5,54
ruang (%)

Sumber : Badan Pusat Statistik, Binamarga, D.PSDA, DKP, D. PJPR & DTKP Kota Semarang,
2016

Identifikasi permasalahan pemanfaatan ruang berupa Simpangan


Pemanfaatan Ruang terhadap rencana pola ruang mencapai 5,54%, jika
dilihat dari wilayah per kecamatan, yang terbesar justru terjadi di
kecamatan Gunungpati mencapai 10% dari total luas simpangan yang ada.
Jumlah daya tampung sampah apabila menggunakan open damping
dalam kajian Masterplan Persampahan adalah 330.723,05 M3 yang akan
tercapai pada 2015. Namun karena pelaksanaan pembuangan sampahdi
TPA saat ini merupakan campuran antara open dumping dan sanitary
landfill sehingga umur TPA jadi bisa lebih lama
Terlaksananya peningkatan pengelolaan reklame di Kota Semarang,
dimana di sepanjang tahun 2010-2015 telah dilaksanakan melalui
intensifikasi penagihan tunggakan reklame, penandaan reklame, dan
penertiban reklame ilegal yang jumlahnya meningkat secara signifikan
sejak diberlakukannya Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor
20/PRT/M/2012 tentang Pedoman Pemanfaatan dan Penggunaan Bagian-

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 II-71


GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

bagian Jalan, dimana tidak diperbolehkan lagi memasang reklame


melintang di jalan (bando), di median jalan termasuk delta, baik di Jalan
Nasional, Provinsi, maupun Kota. Secara umum hasil pengelolaan reklame
adalah sebagai berikut :

2.3.1.4 Urusan Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (PRKP)

Perkembangan dalam urusan perumahan rakyat dan kawasan


permukiman dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel 2.23
Realisasi Kinerja Urusan Perumahan Rakyat Dan Kawasan Permukiman
Tahun
No Uraian
2010 2011 2012 2013 2014 2015
Rumah tangga pengguna
1 100 100 100 100 100 100
listrik (%)
Luas Lingkungan
2 0,64 0,63 0,60 0,56 1,11 0,99
pemukiman kumuh (%)

3 Rasio rumah layak huni (%) 80,19 80,25 80,25 80,9 81,05 81,23

Pemugaran rumah
4 204 408 610 1.186 1.598 1.598
layak huni
Jumlah RTLH yang
n.a 204 545 414 676 412
diperbaiki per tahun (unit)
Rasio permukiman
5 99,37 99,40 99,44 99,16 99,26 99,45
layak huni
6 Rasio tempat pemakaman - 10,32 35,92 35,80 35,68 34,35
umum per 1.000 penduduk
Sumber : DTKP Kota Semarang, 2016

Dari penjelasan tabel diatas dijelaskan bahwa rumah layak huni telah
mencapai 81,23%, sedangkan rumah rumah tidak layak huni (RTLH) saat
ini sebanyak 15.804 Unit (18,77%) berdasarkan data dari Pemutakhiran
Basis Data Terpadu (PBDT) tahun 2015. Sampai dengan tahun 2015
terdapat 2.251 unit RTLH yang telah diperbaiki, sehingga masih ada
sejumlah 23.553 unit RTLH yang masih harus diperbaiki.

Berdasarkan SK Walikota Semarang No. 050/801/2014 tentang Penetapan


Lokasi Lingkungan Perumahan dan Permukiman Kumuh Kota Semarang
telah diputuskan sebesar 415,83 ha atau 4,16 km2 atau mencapai 1,11%
dari wilayah Kota Semarang.

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 II-72


GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

Tabel 2.24
Daftar Lokasi Lingkungan Perumahan dan Permukiman Kumuh Kota
Semarang
Lokasi
No Luas (ha)
Kecamatan Kelurahan
1 Tugu Mangunharjo 1,56
Mangkang Kulon 3,79
Mangkang Wetan 13,59
2 Genuk Genuksari 6,19
Banjardowo 3,38
Terboyo Kulon 0,62
Trimulyo 6,00
3 Semarang Barat Tambakharjo 2,67
Ngemplak Simongan 1,32
Krobokan 16,16
4 Semarang Tengah Brumbungan 2,68
Bangunharjo 4,00
Kembangsari 5,00
Jagalan 1,36
Miroto 7,00
Kauman 2.00
Pekunden 5,00
Sekayu 2,32
5 Semarang Timur Bugangan 8,34
Rejosari 1,30
Mlatiharjo 11,52
Mlatibaru 3,93
Rejomulyo 8,43
Kemijen 15,86
6 Semarang Utara Tanjung Mas 37,63
Bandarharjo 33,44
Panggung Kidul 26,00
Kuningan 23,09
Dadapsari 27,24
7 Candisari Jomblang 1,10
Karanganyar Gunung 1,67
8 Pedurungan Gemah 5,50
Muktiharjo Kidul 13,76
Penggaron Kidul 2,19
9 Semarang Selatan Lamper Lor 4,71
Lamper Kidul 1,53
Peterongan 1,33

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 II-73


GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

Lokasi
No Luas (ha)
Kecamatan Kelurahan
Lamper Tengah 7,39
10 Tembalang Tandang 3,12
Sendangguwo 4,36
Rowosari 7,07
Meteseh 10,42
11 Gayamsari Sawah Besar 6,14
Kaligawe 7,35
Tambakrejo 5,23
Gayamsari 1,57
12 Mijen Purwosari 3,45
Jatibarang 0,86
13 Banyumanik Ngesrep 0,59
Padangsari 0,49
Jabungan 11,68
Tinjomoyo 5,53
Srondol Kulon 3,67
Gedawang 5,54
14 Gunungpati Patemon 0,14
Sekaran 3,19
Sadeng 2,47
Sukorejo 2,60
Nongkosawit 3,77
15 Ngaliyan Wonosari 3,12
Kalipancur 1,32
Purwoyoso 1,65
Jumlah Total 415,83
Sumber : SK Walikota Semarang No. 050/801/2014

2.3.1.5 Urusan Ketentraman, Ketertiban Umum dan Perlindungan


Masyarakat

Perkembangan dalam urusan ketentraman, ketertiban umum dan


perlindungan masyarakat dapat dilihat pada tabel 2.25 di bawah ini:
Tabel 2.25
Realisasi Kinerja Urusan Ketentraman, Ketertiban Umum dan Perlindungan
Masyarakat
Tahun
No Uraian
2010 2011 2012 2013 2014 2015
Rasio jumlah Polisi
1 Pamong Praja per 1,72 1,72 1,64 1,55 1,48 1,32
10.000 penduduk

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 II-74


GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

Tahun
No Uraian
2010 2011 2012 2013 2014 2015
Rasio Pos Siskamling
2 per jumlah 18,23 18,23 26,19 28,42 30,33 31,66
desa/kelurahan
Rasio Penegakan
3 46 56 66 76 86 96
PERDA
Cakupan patroli
4 - - - - - 3.600
petugas Satpol PP
Rasio Petugas
Perlindungan
5 41,76 42,00 42,04 47,44 46,58 37,96
Masyarakat (Linmas) di
Kabupaten / kota
Cakupan pelayanan
6 0,0012 0,0012 0,0012 0,0009 0,0014 0,0011
bencana kebakaran
Tingkat waktu tanggap
(response time rate / 15
Menit setelah
7 pengaduan) daerah 80,91 81,46 75,69 68,72 78,11 92,13
layanan Wilayah
Manajemen Kebakaran
(WMK)
Sumber : Satpol PP, D. Kebakaran Kota Semarang, 2016

2.3.1.6 Urusan Sosial

Pada urusan Sosial terdapat sejumlah 3 variabel, yaitu: Sarana sosial


seperti panti asuhan, panti jompo dan panti rehabilitasi; PMKS yg
memperoleh bantuan sosial; dan Penanganan penyandang masalah
kesejahteraan sosial.
Tabel 2.26
Realisasi Kinerja Urusan Sosial

Tahun
No Uraian
2010 2011 2012 2013 2014 2015
1 Jumlah Sarana Sosial : 117 117 119 125 132 132
- Panti Asuhan 102 102 104 108 115 115
- Panti Jompo 6 6 6 8 10 10
- Panti Rehabilitasi 2 2 2 2 2 2
- Rumah Singgah 7 7 7 7 5 5
- Sarana Sejenis
0 0 0 0 0 0
Lainnya
2 PMKS yg memperoleh
3.218 3.218 3.411 4.411 2.300 1.051
bantuan sosial
3 Penanganan
penyandang masalah
3.542 3.542 4.218 3.542 4.651 3.921
kesejahteraan sosial
(orang)
Sumber : Disospora Kota Semarang, 2016

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 II-75


GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

2.3.2 Fokus Urusan Wajib Non Pelayanan Dasar

2.3.2.1 Urusan Tenaga Kerja

Keberhasilan dalam pelaksanaan Urusan Tenaga Kerja diukur


melalui beberapa indikator. Diantara 5 indikator yang ada, 4 capaian
diantaranya mengalami fluktuasi selama tahun 2010 – 2015. Untuk
Tingkat Pengangguran Terbuka, Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja, Angka
sengketa pengusaha–pekerja, Penempatan tenaga kerja, dan keselamatan
masih menjadi permasalahan dalam Urusan ketenagakerjaan ini. Hal ini
diantaranya disebabkan karakteristik pencari kerja di Kota Semarang yang
cenderung memilih pekerjaan sesuai dengan latar belakang pendidikannya,
sehingga menjadi peluang kerja bagi pencari kerja dari daerah lain.
Realisasi kinerja pada Urusan Wajib Ketenagakerjaan dapat dilihat
pada tabel 2.27 berikut.:

Tabel 2.27
Realisasi Kinerja Urusan Tenaga Kerja

Tahun
No Uraian
2010 2011 2012 2013 2014 2015
1 Angka sengketa
pengusaha-pekerja 231 193 192 211 214 180
per tahun

2 Tingkat partisipasi
angkatan kerja (%) 54,71 60,61 68,23 66,79 77,51 63,05

3 Pencari kerja yang


ditempatkan 8.560 9.003 10.263 18.819 13.277 9.136

4 Keselamatan dan
perlindungan (%) - 8,36 6,46 7,60 8,30 8,83

5 Penyelesaian
Perselisihan buruh
dan pengusaha thd - 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00
kebijakan pemerintah
daerah (%)
Sumber : Disnakertrans Kota Semarang, 2016

2.3.2.2 Urusan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak

Hasil yang dicapai oleh Pemerintah Kota Semarang pada pelaksanaan


urusan Pemberdayaan Perempuan Dan Perlindungan Anak selama tahun
2010 – 2015 dapat dilihat pada beberapa indikator di tabel 2.28 sebagai
berikut :

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 II-76


GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

Tabel 2.28
Realisasi Kinerja Urusan Pemberdayaan Perempuan & Perlindungan Anak

Tahun
No Uraian
2010 2011 2012 2013 2014 2015
Persentase partisipasi
1 perempuan di lembaga 42.50 40.00 43.47 43,41 43,21 42.11
pemerintah
Partisipasi perempuan
2 67.00 60,00 63,47 63,14 53,21 61.11
di lembaga swasta (%)
3 Rasio KDRT (%) 0,60 0,60 0,61 0,60 0,59 0,59
Penyelesaian
pengaduan
Perlindungan
4 171 81 125 109 243 310
perempuan dan anak
dari tindakan
kekerasan
Sumber : Bapermasper Kota Semarang, 2016

2.3.2.3 Urusan Pangan

Pada urusan Pangan ada 2 variabel yang menjadi ukuran


perkembangannya yaitu Regulasi Ketahanan Pangan dan Ketersediaan
Pangan Utama dengan realisasi kinerja yang terlihat seperti tabel 2.29
dibawah ini:
Tabel 2.29
Realisasi Kinerja Urusan Pangan

Tahun
No Uraian
2010 2011 2012 2013 2014 2015
1 Ketersediaan pangan - 142,958 288,466 288,607 277,531 191,760
utama per 1.000
penduduk
2 Rata-rata jumlah - 201.260 429.698 435.058 421.773 368.593
ketersedian padi
dalam setahun (ton)
3 Rata-rata jumlah - 3.101 3.675 3.731 5.375 6.210
ketersedian jagung
dalam setahun (ton)
4 Rata-rata jumlah - 16.414 16.401 14.931 12.712 36.933
ketersedian palawija
dalam setahun (ton)
Sumber : Kantor Ketahanan Pangan Kota Semarang, 2016

2.3.2.4 Urusan Pertanahan

Pada urusan pertanahan yang telah dilaksanakan meliputi kegiatan


pengadaan tanah untuk kepentingan umum melalui Tim P2T (Panitia
Pengadaan Tanah) Pemerintah Kota Semarang, Fasilitasi penyelesaian

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 II-77


GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

konflik tanah negara dan upaya tertib administrasi pertanahan melalui


penyediaan data base pertanahan di 177 kelurahan.
Selain itu indikator kinerja yang digunakan lainnya adalah
Tertib Administrasi Pertanahan berupa data kepemilikan bidang tanah
(%), Fasilitasi Penyelesaian Kasus Tanah Negara (%), serta Pengadaan
Tanah untuk Kepentingan Umum. Pengadaan tanah tersebut diantaranya
digunakan untuk Normalisasi Kali Bringin, Pelebaran Jalan Kartini –
Jolotundo - Gajah, Pembangunan Under Pass Jatingaleh, Pembangunan
Jalur Ganda Rel Kereta Api Lintas Tegal – Pekalongan – Semarang,
Pembangunan Jalur Ganda Rel Kereta Api Lintas Semarang – Bojonegoro,
dan Pembangunan Jalan Tol Batang-Semarang II.
Realisasi Pengadaan Tanah untuk Kepentingan Umum pada tahun
2014 dan 2015 masih menyisakan pekerjaan karena menunggu
penyelesaian kasus sengketa tanah yang ada. Selain itu pengadaan tanah
untuk pembangunan Jalan Tol Batang – Semarang II di tahun 2015 baru
dalam tahap pengumuman.
Realisasi kinerja pada Urusan Pertanahan dapat dilihat pada tabel
2.30 berikut:
Tabel 2.30
Realisasi Kinerja Urusan Pertanahan
Tahun
No Uraian
2010 2011 2012 2013 2014 2015
Tertib Administrasi
Pertanahan (%)
1 - 19,17 21.46 23.37 25.64 26,27
(peningkatan Data Base
Pertanahan)
100% 100% 100% 100% 100%
Penyelesaian kasus tanah
2 - /20 /19 /25 /20 /20
Negara (%)
kasus kasus kasus kasus kasus
956 dari 35 dari
1.107 147
Pengadaan Tanah untuk
3. NA NA NA bidang bidang
kepentingan umum
tanah tanah

Sumber : BPN dan Bag. Tapem Kota Semarang , 2016

2.3.2.5 Urusan Lingkungan Hidup

Kinerja urusan lingkungan hidup terjabarkan dalam program-


program untuk mencapai target capaian kinerja dan sasaran-sasarannya.
Salah satu hasil yang menonjol adalah untuk kesekian kalinya, tercatat
mulai tahun 2012, secara berturut-turut Kota Semarang sukses
memperoleh penghargaan Adipura untuk kategori kota metropolitan

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 II-78


GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

terbersih. Hal ini menunjukkan bahwa Pemerintah Kota memiliki


kepedulian dalam pengendalian pencemaran serta memiliki komitmen
dalam mewujudkan kota bersih dan hijau (clean and green city).

Berikut capaian kinerja urusan lingkungan hidup dari tahun 2010-


2015, yang secara umum kondisinya ditunjukkan pada tabel berikut ini:
Tabel 2.31
Realisasi Kinerja Urusan Lingkungan Hidup

Tahun
No Uraian
2010 2011 2012 2013 2014 2015
1 Pencemaran status mutu 48 50 54 60 60 60
air
2 Cakupan penghijauan 10 15 21 26 31,5 36,5
wilayah rawan longsor
dan Sumber Mata Air
3 Cakupan pengawasan
terhadap pelaksanaan 4,97 8,19 10,76 9,35 8,92 13,98
amdal (jumlah
perusahaan yang diawasi)
4 Penegakan hukum 100 100 100 100 100 100
lingkungan (%)
5 Indek kualitas lingkungan - - - - - 45
hidup (RPJMN) (%)
6 Presentase jumlah usaha 40 58 68 97 100 100
dan atau kegiatan yang
mentaati persayaratan
administrasi dan teknis
pencegahan pencemaran
air (%)
7 Presentase jumlah usaha 25 38,5 47 82 100 100
dan atau kegiatan sumber
tidak bergerak yang
mentaati persayaratan
administrasi dan teknis
pencegahan pencemaran
udara (%)
8 Pencegahan Pencemaran 90 125 96,2 102,5 100 100
Air (%)
9 Pencegahan Pencemaran 75 75 64,2 75 100 100
Udara dan Sumber Tidak
Bergerak (%)
10 Penyediaan informasi - - - 95.84 88.12 100
status kerusakan
dan/atau tanah untuk
produksi biomass (%)
Sumber : Bappeda, BLH, dan DKP Kota Semarang, 2016

2.3.2.6 Urusan Administrasi Kependudukan dan Catatan Sipil

Kota Semarang Penerapan KTP Nasional berbasis NIK yang didukung


dengan ketersediaan database kependudukan skala kota. Untuk Rasio
Penduduk ber-KTP per Satuan Penduduk penurunan terjadi karena terbit
Peraturan Presiden Nomor 112 Tahun 2013 yang mengatur bahwa KTP Non

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 II-79


GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

Elektronik berlaku sampai dengan 31 Desember 2014, sehingga untuk


tahun 2015 kepemilikan KTP yang dihitung adalah e-KTP atau KTP
elektronik. Sedangkan penurunan Rasio Bayi Berakte Kelahiran (%)
disebabkan karena masih kurangnya kesadaran masyarakat dalam
pengurusan akte kelahiran meskipun telah dilakukan jemput bola dan
pemerintah telah membuka pelayanan pada Tempat Pelayanan Data
Kependudukan (TPDK) di setiap Kecamatan.

Realisasi kinerja pada Urusan Kependudukan dan Catatan Sipil dapat


dilihat pada tabel 2.32 berikut.

Tabel 2.32
Realisasi Kinerja Urusan Administrasi Kependudukan Dan Catatan
Sipil
Tahun
No Uraian
2010 2011 2012 2013 2014 2015
1 Rasio bayi berakte - 81,85 90,96 92,15 92,07 91,38
kelahiran (%)
2 Rasio pasangan - 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00
berakte nikah (%)
3 Kepemilikan KTP (%) - 96,00 96,00 96,00 96,00 91,54

4 Kepemilikan akta - 64,00 65,00 65,00 68,00 74,00


kelahiran per 1000
penduduk
5 Ketersediaan 1 1 1 1 1 1
database
kependudukan skala
Kota
6 Penerapan KTP 1 1 1 1 1 1
Nasional berbasis
NIK
Sumber : Dispendukcapil Kota Semarang, 2016

2.3.2.7 Urusan Pemberdayaan Masyarakat dan Desa

Kondisi pada urusan pemberdayaan masyarakat dapat dilihat pada


tabel 2.33 dibawah ini.
Tabel 2.33
Realisasi Kinerja Urusan Pemberdayaan Masyarakat dan Desa

Tahun
No Uraian
2010 2011 2012 2013 2014 2015
1 Rata-rata jumlah 5 5 5 5 15 15
kelompok binaan lembaga
pemberdayaan
masyarakat (LPM)
2 Rata-rata jumlah 32 32 32 32 32 32
kelompok binaan PKK

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 II-80


GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

Tahun
No Uraian
2010 2011 2012 2013 2014 2015
3 Perkembangan Jumlah - 8 12 14 17 17
LSM
4 Persentase LPM - 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00
Berprestasi
5 Persentase PKK aktif 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00

6 Persentase Posyandu aktif 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00

7 Swadaya Masyarakat 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00


terhadap Program
pemberdayaan
masyarakat (%)
8 Pemeliharaan Pasca 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00
Program pemberdayaan
masyarakat (%)
Sumber : Bapermasper Kota Semarang, 2016

2.3.2.8 Urusan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana

Hasil yang dicapai oleh Pemerintah Kota Semarang pada pelaksanaan


urusan Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera selama tahun 2010
sampai dengan 2014 dapat dilihat pada beberapa indikator sebagai
berikut :
Tabel 2.34
Realisasi Kinerja Urusan Pengendalian Penduduk dan Keluarga
Berencana
Tahun
No Uraian
2010 2011 2012 2013 2014 2015
1 Rata-rata jumlah
anak per keluarga 2,04 2,06 2,16 2,12 2,02 2,02

2 Rasio akseptor KB
76,39 76,02 76,09 76,46 76,47 75,79
per 1.000 PUS
3 Keluarga Pra
Sejahtera dan 113.251 113.037 114.007 117.470 116.720 116.631
Keluarga Sejahtera I

Sumber : Bapermasper Kota Semarang, 2016

2.3.2.9 Urusan Perhubungan

Kondisi umum perkembangan Urusan perhubungan sampai dengan


tahun 2015 dapat dilihat seperti yang ditunjukkan pada tabel di bawah ini:

Tabel 2.35
Realisasi Kinerja Urusan Perhubungan
Tahun
No Uraian
2010 2011 2012 2013 2014 2015
1 Jumlah arus penumpang angkutan umum :
- Bus 3.036.398 3.445.280 7.793.539 4.767.769 4.085.195 2.042.598

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 II-81


GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

Tahun
No Uraian
2010 2011 2012 2013 2014 2015
- Kereta Api 2.118.944 1.999.169 1.481.107 1.638.381 2.114.889 2.220.633
- Kapal Laut 470.558 507.207 520.579 803.759 223.237 234.399
- Pesawat 4.132.807 2.510.492 2.902.978 3.716.894 4.390.462 4.609.985
Udara
2 Rasio ijin
trayek per 33/1500000
0,026 0,020 0,0019 0,0018 0,0018
jumlah =0,0026
penduduk
3 Jumlah uji kir 5192 6833 7507 6997 7647 8095
angkutan
umum
4 Jumlah 1 1 1 1 1 1
pelabuhan
laut
5 Jumlah 1 1 1 1 1 1
pelabuhan
udara
6 Jumlah 5 5 5 5 5 5
terminal bus
7 Jumlah 2 2 2 2 2 2
stasiun kereta
api
8 Persentase 0,0269 0,0281 0,0279 0,0438 0,0288 0,0301
angkutan
darat
9 Lama 2Jam 2Jam 2Jam 2Jam 2Jam 2Jam
pengujian
kelayakan
angkutan
umum (KIR)
10 Biaya 30.000 30.000 30.000 30.000 30.000 30.000
Pengujian
Kelayakan
Angkutan
Umum (KIR)
11 Persentase 87,50 76,00 60,00 70,59 100,00 100,00
pemasangan
Rambu -
Rambu
Sumber : Dishubkominfo Kota Semarang, 2016

Dari tabel diatas menjelaskan bahwa pada kinerja Presentase pemasangan


rambu-rambu sebesar 100 persen adalah berdasarkan pada target
pemasangan rambu-rambu sebanyak 3.203 unit.

2.3.2.10 Urusan Komunikasi dan Informatika

Pada urusan Komunikasi dan Informatika perkembangan Jumlah


jaringan komunikasi, Rasio wartel/warnet, Jumlah surat kabar
nasional/lokal, Jumlah penyiaran radio/TV lokal, Web site milik
pemerintah daerah, dan Pameran/expo, perkembangannya sebagaimana
ditunjuukan pada tabel 2.36 berikut ini :

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 II-82


GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

Tabel 2.36
Realisasi Kinerja Urusan Komunikasi dan Informatika

Tahun
No Uraian
2010 2011 2012 2013 2014 2015
1 Jumlah jaringan - - - - - 40
komunikasi lokasi
2 Jumlah surat kabar nasional/lokal
- Surat kabar nasional 9 9 4 4 6 6
- Surat kabar lokal 5 5 6 6 5 5
3 Jumlah penyiaran radio/TV nasional dan lokal
- Jml penyiaran radio
5 5 4 4 5 5
nasional
- Jumlah penyiaran
12 12 12 12 37 14
radio lokal
- Jumlah penyiaran TV
10 10 11 11 12 12
nasional
- Jumlah penyiaran TV
5 5 5 5 3 4
lokal
4 Web site milik
1 1 1 1 1 1
pemerintah daerah
5 Pameran/expo
 Ketahanan
- 8 8 8 12 14
Pangan
 Dinkop&UMKM 5 20 19 10 11 12
 Badan Perijinan
Pelayanan 5 4 2 5 4 7
Terpadu
Sumber : Setda Kota Semarang, 2016

2.3.2.11 Urusan Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah

Hasil yang telah dicapai pada urusan Koperasi, Usaha Kecil dan
Menengah dari tahun 2010 – 2015 diantaranya adalah sebagai berikut :

Tabel 2.37
Urusan Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah
Tahun
No Uraian
2010 2011 2012 2013 2014 2015
Persentase koperasi
1 77,17 77,2 78,62 78,72 79,26 79,94
aktif (%)
Jumlah UKM non
2 10.692 11.142 11.208 11.383 11.585 11.692
BPR/LKM UKM
3 Jumlah BPR/LKM 2 2 2 2 2 2
Usaha Mikro dan
4 8.554 8.914 9.132 9.307 9.563 10.757
Kecil
Jumlah UMKM
(Usaha Mikro Kecil
5 N/A N/A N/A N/A N/A 996
dan Menengah ) yang
memiliki IUMK
Sumber : Dinas Koperasi dan UKM Kota Semarang, 2016

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 II-83


GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

Data tabel 2.38 menjelaskan bahwa mulai tahun 2015 Pemerintah Kota
Semarang telah mengembangkan sistem UMKM berijin, dan di tahun 2015
telah terdata sebanyak 996 UMKM yang memiliki IUMK.

2.3.2.12 Urusan Penanaman Modal

Pelaksanaan Penanaman Modal kota Semarang 2010-2015, untuk


capaian kinerja pada urusan Penanaman Modal dapat dikatakan baik, hal
ini menunjukkan bahwa penyelenggaraan program pada urusan
Penanaman Modal dapat dilaksanakan sesuai dengan arah kebijakan dan
sasaran yang telah ditetapkan. Pada perkembangannya ditunjukkan pada
tabel 2.38 berikut ini:
Tabel 2.38
Realisasi Kinerja Urusan Penanaman Modal

Tahun
No Uraian
2011 2012 2013 2014 2015
Jumlah investor berskala
1 26 62 67 111 138
nasional (PMDN/PMA)
Jumlah nilai investasi
berskala nasional
2 2.878.287 3.675.239 5.372.164 7.924.515 9.570.413
(PMDN/PMA) (juta
rupiah)
Rasio daya serap tenaga
3 16.515 20.370 26.337 39.505 27.852
kerja
Kenaikan / penurunan
4 Nilai Realisasi PMDN 804.854 796.951 1.696.924 2.552.351 1.645.898
(juta rupiah)
Sumber : BPPT Kota Semarang, 2016

2.3.2.13 Urusan Kepemudaan dan Olah Raga

Pada urusan pemuda dan olahraga, dari enam variabel capaian


datanya adalah sebagai berikut:
Tabel 2.39
Realisasi Kinerja Urusan Kepemudaan dan Olah Raga
Tahun
No Uraian
2011 2012 2013 2014 2015
Jumlah organisasi 47 47 48 60 60
1
pemuda
Jumlah organisasi 36 42 42 42 46
2
olahraga
Jumlah kegiatan 12 12 9 10 15
3
kepemudaan
4 Jumlah kegiatan olahraga 18 18 19 20 24
Gelanggang / balai remaja 3 3 3 3 3
5
(selain milik swasta)
6 Lapangan olahraga - - - - 275
Sumber : Dinsospora Kota Semarang, 2016

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 II-84


GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

2.3.2.14 Urusan Statistik

Menurut Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor.54 tahun 2010,


indikator keberhasilan pada urusan Statistik diantaranya adalah
Ketersediaan Buku Daerah Dalam Angka dan Buku PDRB Kab/Kota.
Indikator tersebut selama kurun waktu 2010 s.d 2015 telah terpenuhi,
bahkan tidak pada kedua jenis produk tersebut saja, rata-rata tersusun 12
s.d 13 jenis produk buku statistik daerah pada setiap tahunnya. Selain dari
jenis buku, aksesbilitas data-data tersebut semakin mudah.
Realisasi kinerja Urusan Statistik dilihat pada tabel 2.40 berikut :
Tabel 2.40
Realisasi Kinerja Urusan Statistik

Tahun
No Uraian
2010 2011 2012 2013 2014 2015
1 Buku ”Kota/Kabupaten 1 1 1 1 1 1
Dalam Angka”
2 Buku ”PDRB 1 1 1 1 1 1
Kota/Kabupaten”
3 Banyaknya Publikasi 12 12 12 13 14 13
Data (jenis)
Sumber : Bappeda Kota Semarang, 2016

2.3.2.15 Urusan Persandian

Urusan Persandian untuk pengamanan informasi yaitu pola


hubungan komunikasi sandi antar Perangkat Daerah. Sampai dengan saat
ini kinerja dapat diukur dengan peningkatan jumlah sistem informasi di
Perangkat Daerah untuk meningkatkan pengelolaan manajemen dengan
pemanfaatan teknologi.
Tabel 2.41
Realisasi Kinerja Urusan Persandian
Tahun
No Uraian
2010 2011 2012 2013 2014 2015
1 Rasio Pelayanan Persandian 100% 100% 100% 100% 100% 100%

Sumber : Setda Kota Semarang, 2016

2.3.2.16 Urusan Kebudayaan

Pada urusan Kebudayaan capaian perkembangannya tersaji dalam


tabel 2.42 berikut ini.
Tabel 2.42
Realisasi Kinerja Urusan Kebudayaan

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 II-85


GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

Tahun
No Uraian
2010 2011 2012 2013 2014 2015
Penyelenggaraan
1 55 67 86 145 199 222
festival seni dan budaya
Sarana
2 penyelenggaraan seni 98 98 67 133 134 173
dan budaya
Benda, Situs dan
3 Kawasan Cagar Budaya 315 315 315 315 315 315
yang dilestarikan
Sumber : Disbudpar Kota Semarang, 2016

2.3.2.17 Urusan Perpustakaan

Pada Urusan Perpustakaan perkembangannya ditunjukkan pada


tabel 2.43 berikut :
Tabel 2.43
Realisasi Kinerja Urusan Perpustakaan

Tahun
No Uraian
2010 2011 2012 2013 2014 2015
1 Jumlah
Perpustakaan Milik 1 1 1 1 1 1
Pemerintah Daerah
2 Jumlah
Perpustakaan Milik
126 131 156 170 186 186
Non Pemerintah
Daerah
3 Jumlah
pengunjung
1.349.110 1.518.766 1.731.142 1.751.143 1.756.224 875.321
perpustakaan per
tahun
4 Persentase Koleksi
buku yang tersedia
45,52 45,06 45,55 46,48 68,26 71,63
di perpustakaan
daerah
Sumber : Kantor Perpustakaan & Arsip Kota Semarang , 2016

Dari data pada tabel 2.43 diatas menunjukkan bahwa jumlah


pengunjung perpustakaan per tahun terlihat menurun, hal ini dikarenakan
metode yang digunakan untuk menentukan jumlah pengunjung
perpustakaan di tahun 2015 tidak lagi mencantumkan jumlah pengunjung
di rumah pintar.

2.3.2.18 Urusan Kearsipan

Pada urusan Kearsipan yaitu Pengelolaan arsip secara baku dan


Peningkatan SDM pengelola kearsipan. Kondisinya ditunjukkan sebagai
berikut :

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 II-86


GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

Tabel 2.44
Realisasi Kinerja Urusan Kearsipan

Tahun
No Uraian
2010 2011 2012 2013 2014 2015
1 Pengelolaan arsip secara
85,48 88,71 96,77 98,39 100,00 100,00
baku
2 Persentase peningkatan
SDM pengelola 58,06 67,74 77,42 79,03 80,65 88,71
kearsipan
Sumber : Kantor Perpustakaan & Arsip Kota Semarang, 2016

2.3.3 Fokus Urusan Pilihan

2.3.3.1 Urusan Kelautan dan Perikanan

Pada urusan Kelautan dan Perikanan, secara rinci perkembangan


pembangunan urusan Kelautan dan Perikanan per variabel dapat dilihat
pada Tabel 2.45 berikut ini.

Tabel 2.45
Realisasi Kinerja Urusan Kelautan dan Perikanan

Tahun
No Uraian
2010 2011 2012 2013 2014 2015
1 Produksi
perikanan

Produksi 342,68 658,15 715,53 1.296,50 1.485,50 2.136,29


perikanan
Tangkap (ton)

Produksi 583,62 1.672,98 1.823,83 1.826,19 1.854,38 2.705,19


perikanan
Budidaya (ton)

2 Konsumsi ikan 22,68 23,37 24,04 24,93 25,93 30,26


(kg/kapita/ thn)

3 Cakupan bina 10 18 119 125 308 370


kelompok
nelayan (klp)

Sumber : Dinas Perikanan dan Kelautan Kota Semarang, 2016

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 II-87


GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

2.3.3.2 Urusan Pariwisata

Pada urusan Pariwisata kondisinya ditunjukkan pada tabel 2.46 berikut


ini :
Tabel 2.46
Realisasi Kinerja Urusan Pariwisata

Tahun
No Uraian
2010 2011 2012 2013 2014 2015
Kunjungan
1 1.909.923 2.100.923 2.712.442 3.192.899 4.007.192 4.376.359
wisata
Kontribusi
sektor
2 pariwisata 65.767.643.499 78.344.794.420 87.978.572.590 107.163.316.629 132.920.743.789 149.719.450.268
terhadap
PDRB
Sumber : Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang, 2016

2.3.3.3 Urusan Pertanian

Kondisi pada Urusan Pertanian tahun 2010-2015 ditunjukkan


sebagaimana tabel 2.47 berikut ini:
Tabel 2.47
Realisasi Kinerja Urusan Pertanian

Tahun
No Uraian
2010 2011 2012 2013 2014 2015
Produksi padi atau
1 bahan pangan utama 43.063 43.289 43.766 43.858 43.897 43.941
lokal lainnya per (ton)
Cakupan bina
2 - 12 14 18 25 28
kelompok petani
Produksi Komoditas
3 Holtikultura Utama 9.164 9.956 10.079 10.115 10.279 10.642
Lokal (ton)
Produksi Komoditas
4 1.381 925 795 412 223 146
Perkebunan (ton)

Pendapatan Rumah 9.361.0 9.957.2 10.054. 10.153. 10.254. 10.355.


5
Tangga Petani (Rp) 00 00 230 420 310 300
Sumber : D. Pertanian Kota Semarang, 2016
Dari data tabel 2.47 terlihat produksi komoditas perkebunan yang
menurun, hal ini disebabkan tuntutan dan perkembangan industri terkait
banyaknya produk-produk hasil olahan dari kelapa sehingga para petani
kelapa di Kota Semarang banyak yang menggantinya dengan tanaman
buah-buahan seperti kelengkeng.

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 II-88


GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

2.3.3.4 Urusan Perdagangan

Pada urusan Perdagangan, perkembangannya dapat dilihat pada tabel


2.48 berikut ini :
Tabel 2.48
Realisasi Kinerja Urusan Perdagangan

Tahun
No Uraian
2010 2011 2012 2013 2014 2015
Ekspor Bersih
1 -3.111.533 -3.191.284 -3.204.476 777.244 -2.424.126 293.293
Perdagangan
Cakupan bina
kelompok
2 10% 15% 20% 25% 30% 35%
pedagang/usaha
informal
Sumber : Disperindag dan Dinas Pasar Kota Semarang, 2016

2.3.3.5 Urusan Perindustrian

Pembangunan urusan industri diarahkan untuk menumbuh


kembangkan industri secara intensif dengan mengutamakan
industri/usaha kecil dan menengah melalui peningkatan pengetahuan dan
ketrampilan sumber daya manusia. Perkembangan urusan industri dapat
dilihat dari beberapa variabel yaitu kontribusi sektor industri terhadap
PDRB dan pertumbuhan industri. Perkembangan pelayanan pada urusan
industri dapat dilihat dari perkembangan jumlah industri dan jumlah
kelompok pengrajin yang ada di Kota Semarang. Jumlah industri yang ada
di Kota Semarang, tahun 2014 sebesar 3.621 unit, bertambah 32
dibandingkan tahun 2013 yang sebanyak 3.589 unit. terdapat peningkatan
sebesar 0,84% atau 30 unit usaha. Berdasarkan perkembangan urusan
perindustrian terdapat lima variabel perkembangan, kelima variabel
tersebut telah dicapai sesuai dengan target yang ditentukan. Variabel-
variabel tersebut adalah sebagai berikut.
Tabel 2.49
Realisasi Kinerja Urusan Perindustrian

Tahun
No Uraian
2010 2011 2012 2013 2014 2015
1 Kontribusi kategori Industri 24,79 26,70 27,15 27,24 28,05 27,55
Pengolahan terhadap PDRB
(atas dasar harga berlaku)
2 Kontribusi kategori Industri 24,78 25,49 25,96 26,45 26,66 26,34
Pengolahan terhadap PDRB
(atas dasar harga konstan)
3 Pertumbuhan Industri 2.867 3.539 3.559 3.589 3.621 3.644

4 Cakupan bina kelompok 60 72 105 163 448 530


pengrajin

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 II-89


GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

Tahun
No Uraian
2010 2011 2012 2013 2014 2015
5 Berkembangnya industri 160 163 160 163 395 478
kreatif terutama industri IKM IKM IKM IKM IKM IKM
kecil/home industri
6 Jumlah kluster industri 1 2 3 4 10 10
7 Produksi dan transaksi 1,62% 2,56% 5,26% 4,00% 71,74% 81,06%
penjualan IKM
8 Peningkatan penataan 2,58% 3,00% 3,00% 3,00% 3,00% 3,00%
struktur IKM
9 Penataan kawasan sentra- 2 4 8 12 16 20
sentra industri potensial sentra sentra sentra sentra sentra sentra

Sumber : Disperindag Kota Semarang, 2016

2.3.4 Fokus Fungsi Penunjang

Fungsi penunjang yang menjadi kewenangan daerah meliputi fungsi


Perencanaan, Keuangan, Kepegawaian serta Pendidikan dan Latihan,
Penelitian dan Pengembangan; serta Fungsi Lain sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan.

A. Perencanaan

Dalam fungsi perencanaan, ketersediaan dokumen perencanaan


pembangunan serta dokumen perencanaan teknis strategis merupakan
salah satu kinerja yang harus dilaksanakan.

Selama tahun 2010-2015 pelaksanaan fungsi Perencanaan


menghasilkan kinerja sebagai berikut :

Tabel 2.50
Realisasi Kinerja Fungsi Penunjang Perencanaan

Tahun
No Uraian
2010 2011 2012 2013 2014 2015

Tersedianya dokumen
RKPD yang telah
1 2 2 2 2 2 2
ditetapkan dg Perwal
tepat waktu
Kesesuaian Program
2 RPJMD dengan Program N/A 81,48 87,77 88,51 92,05 89,69
RKPD (%)
Sumber : Bappeda Kota Semarang, 2016

B. Penelitian dan Pengembangan

Tujuan yang akan dicapai Pemerintah dalam fungsinya sebagai


fungsi Penelitian dan Pengembangan yaitu untuk mencapai kualitas

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 II-90


GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

perencanaan berbasis penelitian dan pengembangan yang salah satu


caranya melalui semakin berkembangnya jejaring /network dengan
stakeholder lain yang terkait (pemerintah, swasta, akademisi). Untuk
mewujudkan hal tersebut terdapat beberapa kendala antara lain masih
terdapatnya kesenjangan antara implementasi dan kebijakan dan belum
optimalnya data/informasi dan hasil-hasil kajian penelitian dan
pengembangan serta inovasi daerah.
Selama tahun 2010-2015 pelaksanaan fungsi Penelitian dan
Pengembangan menghasilkan kinerja sebagai berikut:
Tabel 2.51
Realisasi Kinerja Fungsi Penunjang Penelitian dan Pengembangan

Tahun
No Uraian
2010 2011 2012 2013 2014 2015

Jumlah Penelitian yang


1 dilaksanakan oleh 9 9 5 4 5 4
bid.Litbang Bappeda

Sumber : Bappeda Kota Semarang, 2016

C. Keuangan

Belum optimalnya upaya peningkatan sistem pengelolaan dan pelaporan


keuangan dan aset daerah, Masih terdapat sarana prasarana yang belum
sesuai standar, Belum optimalnya pengelolaan aset, Belum optimalnya
tingkat akuntabilitas pelaporan keuangan Instansi Pemerintah, Belum
optimalnya pelaksanaan pendataan, pengawasan dan pemeriksaan pajak
daerah, Penerapan Analisis Standar Belanja (ASB) masih belum optimal.

Tabel 2.52
Realisasi Kinerja Fungsi Penunjang Keuangan

Tahun
No Uraian
2010 2011 2012 2013 2014 2015

Persentase Realisasi
1 PAD terhadap Realisasi 20,20 25,39 30,77 33,11 35,96 36,71
Pendapatan Daerah (%)

Sumber : DPKAD Kota Semarang, 2016

D. Kepegawaian serta Pendidikan dan Pelatihan

Kurang optimalnya kinerja aparatur terhadap pelayanan masyarakat, Belum


optimalnya penerapan SOP pelayanan, Belum meratanya persebaran pegawai di

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 II-91


GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

setiap Perangkat Daerah dari segi jumlah maupun kualitas, Belum maksimalnya
integrasi antara sistem informasi kepegawaian dengan data kompetensi pegawai,
Belum optimalnya pengembangan dan pembinaan aparatur jabatan fungsional,
Disiplin aparatur masih perlu ditingkatkan, Kualitas mental dan pola pikir
aparatur perlu ditingkatkan, Masih belum mencukupinya jumlah pegawai dan
kompetensi pegawai, Tingkat pemahaman hukum masyarakat dan aparatur
masih perlu ditingkatkan, Masih adanya SOTK yang tumpang tindih dengan
Perangkat Daerah lain.

E. Fungsi Lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-


undangan

Untuk melaksanakan fungsi-fungsi lain yang tidak termasuk kedalam


fungsi pelayanan dasar wajib, non wajib maupun pilihan yang sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan akan ditangani oleh perangkat daerah
yaitu Sekretariat DPRD, Inspektorat serta Sekretariat Daerah. Masalah yang
harus ditangani antara lain belum optimalnya pelaksanaan legislasi daerah,
belum maksimalnya sistem pengendalian Internal yang dilakukan secara
prosedural, Upaya pengawasan masih perlu ditingkatkan.
Adapun terkait dengan tingkat efektivitas pengawasan fungsional atas
penyelenggaraan pemerintahan daerah, dapat dilihat dari opini yang diberikan
oleh BPK atas pemeriksaan Laporan Keuangan Daerah. Semakin tinggi tingkat
opini yang diberikan oleh BPK menunjukkan semakin efektifnya pelaksanaan
pengawasan fungsional dalam penyelenggaraan pemerintah daerah

Tabel 2.53
Realisasi Kinerja Fungsi Lain sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan
Tahun
No Uraian
2010 2011 2012 2013 2014 2015

Opini BPK atas


pemeriksaan
1 WDP WDP WDP WTP WTP WDP
Laporan Keuangan
Daerah
Jumlah Raperda 26 26 14 12 11 10
2
yang diselesaikan perda perda perda perda perda perda
Sumber : Inspektorat, Set. DPRD Kota Semarang, 2016

2.3.5 Fokus Urusan Pemerintahan Umum

Urusan pemerintahan umum di daerah lebih menyangkut kepada hal-


hal yang berkaitan dengan kehidupan berbangsa & bernegara termasuk
diantaranya kehidupan berpolitik. Menurunnya penerapan nilai-nilai

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 II-92


GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

kebangsaan/nasionalisme, gotong royong, budi pekerti, dan


kesetiakawanan sosial di kalangan masyarakat serta belum optimalnya
pengawasan dan pendataan terkait dengan pendidikan ideologi asing, dan
organisasi sosial politik masyarakat masih sering menjadi simpul-simpul
masalah yang berkembang di masyarakat,

Pada urusan Pemerintahan Umum ini merupakan pelaksanaan


kegiatan dalam hal politik yang menyangkut Pembinaan terhadap LSM,
Ormas dan OKP dan yang ditunjuukan pada tabel berikut ini:
Tabel 2.54
Realisasi Kinerja Urusan Pemerintahan Umum

Tahun
No Uraian
2010 2011 2012 2013 2014 2015
1 Kegiatan pembinaan
terhadap LSM, Ormas 15 19 21 21 21 N/A
dan OKP
2 Kegiatan pembinaan
2 2 2 2 2 N/A
politik daerah
Sumber : Kesbangpol Kota Semarang, 2016

2.4 ASPEK DAYA SAING DAERAH


Daya saing daerah adalah kemampuan perekonomian daerah dalam
mencapai pertumbuhan tingkat kesejahteraan yang tinggi dan
berkelanjutan dengan tetap terbuka pada persaingan dengan provinsi
dan kabupaten/kota lainnya yang berdekatan, nasional atau internasional.
Aspek daya saing daerah terdiri dari kemampuan ekonomi daerah,
fasilitas wilayah atau infrastruktur, iklim berinvestasi dan sumber daya
manusia.

2.4.1 Fokus Kemampuan Ekonomi Daerah

2.4.1.1 Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga Per Kapita

Kebutuhan makanan merupakan kebutuhan utama, sehingga


kecenderungan untuk memenuhi kebutuhan tersebut akan semakin
meningkat. Namun kebutuhan ini mempunyai titik jenuh, sehingga pada
tingkat pendapatan yang lebih tinggi pengeluaran akan dialihkan ke
kebutuhan lain. Oleh karena itu persentase pengeluaran makanan dan non
makanan dapat dijadikan sebagai indikator tingkat kesejahteraan
penduduk. Besarnya konsumsi untuk makanan menandakan bahwa
sebagian besar penduduk masih mementingkan kebutuhan pokok.

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 II-93


GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

Pengeluaran konsumsi rumah tangga dapat dilihat pada Tabel 2.55


dibawah ini :
Tabel 2.55
Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga Per Kapita
Kota Semarang Tahun 2010 – 2014

Tahun
No Kelompok Barang
2010 2011 2012 2013 2014
Rata-rata Pengeluaran
A 284,19 305,35 329,82 399,23 426,31
Konsumsi (Ribu Rp)
Distribusi Pengeluaran
B
Konsumsi (%)
1 Padi-padian 14,37 11,62 12,54 10,85 10,41
2 Umbi-umbian 0,59 0,36 0,22 0,31 0,32
Ikan / udang / cumi /
3 4,84 5,04 5,69 4,87 4,45
kerang
4 Daging 4,70 4,59 5,74 5,07 4,44
5 Telur dan Susu 9,15 8,23 7,18 7,61 8,21
6 Sayur-sayuran 5,65 6,47 5,67 6,49 5,71
7 Kacang-kacangan 4,43 3,32 3,32 2,96 2,96
8 Buah-buahan 4,04 6,23 5,75 5,55 5,86
9 Minyak dan Lemak 2,92 3,26 3,90 2,61 2,47
10 Bahan Minuman 3,22 3,14 1,87 2,99 2,95
11 Bumbu-bumbuan 1,90 1,43 1,20 1,08 1,09
12 Konsumsi Lainnya 3,31 1,96 2,48 1,92 1,90
13 Makanan dan Minuman Jadi 31,31 36,70 35,33 38,21 39,84

14 Tembakau dan sirih 9,57 7,64 9,12 9,49 9,39

Jumlah 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00

Sumber : Badan Pusat Statistik Kota Semarang, 2015

2.4.1.2 Pengeluaran Konsumsi Non Pangan Rumah Tangga Per Kapita

Semakin tinggi pendapatan masyarakat maka relatif tinggi


pengeluaran masyarakat untuk kebutuhan non pangan, hal ini terjadi
pada masyarakat Kota Semarang. Sebagaimana gambaran kondisi yang
ditunjuukan pada tabel di bawah ini.

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 II-94


GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

Tabel 2.56
Pengeluaran Konsumsi Non Pangan Rumah Tangga Per Kapita
Kota Semarang Tahun 2010 – 2014

Tahun
No Kelompok Barang
2010 2011 2012 2013 2014
Rata-rata Pengeluaran Konsumsi
A 370,35 444,56 430,83 671,24 631,91
(Ribu Rp)
Distribusi Pengeluaran
B
Konsumsi (%)
Perumahan dan Fasilitas Rumah
1 51,29 40,50 45,50 36,51 37,59
tangga
2 Aneka Barang dan Jasa 33,06 38,78 38,74 38,69 39,84
- Kesehatan 4,67 6,32 12,11 13,05 7,85
- Pendidikan 10,10 10,99 10,35 9,04 10,23
- Lainnya 18,29 21,48 16,27 16,60 21,76
Pakaian, Alas kaki dan Tutup
3 3,92 4,19 3,42 4,53 4,66
Kepala
4 Barang Tahan Lama 6,02 8,29 6,05 10,32 8,29
5 Pajak, Pungutan dan Asuransi 4,39 4,39 2,63 5,93 5,47
Keperluan Pesta dan Upacara /
6 1,32 3,84 3,67 4,01 4,15
Kenduri
Jumlah 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00
Sumber : Badan Pusat Statistik Kota Semarang, 2015

2.4.2 Fokus Fasilitas Wilayah / Infrastruktur

Ketersediaan fasillitas wilayah / infrastruktur Kota Semarang meliputi


aksesibilitas wilayah, penataan wilayah, ketersediaan air minum,
ketersediaan fasilitas listrik dan telepon, fasilitas perdagangan dan jasa
serta ketersediaan fasilitas lainnya. Ketersediaan infrastruktur yang
memadai merupakan salah satu daya tarik Kota Semarang dalam
meningkatkan daya saing daerah.
2.4.2.1 Aksesbilitas Daerah

Kota Semarang selain merupakan ibu kota Provinsi Jawa Tengah,


juga merupakan jalur perlintasan dari wilayah barat (Jakarta) menuju
wilayah Timur (Surabaya) dan Selatan (Jogyakarta) atau sebaliknya
sehingga Kota Semarang merupakan penopang jalur distribusi
perekonomian Jawa Tengah. Kondisi infrastruktur merupakan unsur
penting yang perlu mendapatkan perhatian agar dapat berfungsi dengan
optimal. Dalam mendukung aksesibilitas, panjang jalan yang dikelola oleh
Pemerintah Kota Semarang sampai dengan tahun 2015 adalah sebesar

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 II-95


GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

2.691 km. Daya saing lainnya di bidang Sarana prasarana perhubungan


adalah dimilikinya pelabuhan udara/laut, terminal bus, stasiun kereta
api yang mampu menghubungkan seluruh kota di Indonesia.
Kota Semarang selain merupakan ibu kota Provinsi Jawa Tengah, juga
merupakan jalur perlintasan dari wilayah barat (Jakarta) menuju wilayah
Timur (Surabaya) dan Selatan (Yogyakarta) atau sebaliknya sehingga Kota
Semarang merupakan penopang jalur distribusi perekonomian Jawa
Tengah. Ketersediaan sarana yang memadai dalam mendukung
aksesibilitas daerah di Kota Semarang antara lain:

1) Sarana jalan di Kota Semarang terdiri dari Jalan Nasional, Provinsi


dan Pemerintah Kota Tahun 2014 dengan panjang total sepanjang
2.690,34 km dengan rasio panjang jalan dengan rasio kondisi jalan
baik mencapai di atas 55% dan rasio jalan rusak ringan mencapai
40%. Selengkapnya dapat dilihat pada tabel dibawah ini :
Tabel 2.57
Profil Kondisi Jalan Kota Di Kota Semarang Tahun 2010 & 2015

Tahun 2010 Tahun 2015

Kondisi Jalan Kondisi Jalan


No Kecamatan
Baik Sedang Rusak Baik Sedang Rusak
(m) (m) (m) (m) (m) (m)
1. Banyumanik 108.841 136.588 81.303 126.957 185.612 14.163
2. Candisari 67.215 31.790 10.285 78.575 31.215 -
3. Gajahmungkur 31.630 32.567 20.205 43.777 35.194 4.931
4. Gayamsari 47.089 21.413 14.338 64.092 16.708 2.040
5. Genuk 56.518 72.926 33.666 79.439 79.177 4.494
6. Gunungpati 66.895 87.205 78.965 88.893 115.119 29.053
7. Mijen 63.205 39.196 69.620 88.141 74.164 9.716
8. Ngaliyan 75.359 64.405 74.214 99.087 91.399 23.492
9. Pedurungan 112.958 73.634 37.515 142.163 68.867 13.077
10. Smg Barat 167.836 115.990 42.329 188.183 134.367 4.310
11. Smg Selatan 40.436 20.484 19.113 57.987 19.057 2.989
12. Smg Tengah 74.424 27.191 17.543 92.697 20.604 5.857
13. Smg Timur 37.359 39.937 14.727 51.747 36.960 3.316
14. Smg Utara 89.376 41.871 11.815 108.997 32.718 1.347
15. Tembalang 105.348 85.060 84.540 132.023 132.434 10.491
16. Tugu 25.963 12.980 5.770 39.658 4.378 677

TOTAL (m) 1.170.452 903.236 615.948 1.482.416 1.077.973 129.953


PANJANG (km) 1.170 903 616 1.483 1.078 130

Sumber : Dinas Bina Marga Kota Semarang, 2015

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 II-96


GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

2) Data jembatan sampai dengan tahun 2015 terdata sebanyak 200


buah atau sepanjang 4.600 meter. Dan yang kondisinya terdata
secara detil masih sejumlah 33 buah dengan perincian data
jembatan dalam kondisi baik sekali sejumlah 20 buah dan kondisi
jembatan yang rusak ringan sejumlah 12 buah. Sumber:
binamarga.semarangkota.go.id/simojan.

3) Bandar Udara Internasional Ahmad Yani yang dapat melayani


penumpang domestik antar pulau juga dapat melayani penumpang
internasional. Pada tahun 2015 jumlah kedatangan penumpang dari
pintu domestik mencapai 1.781.719 penumpang meningkat dari
tahun 2014 sebesar 1.671.740 penumpang, sedangkan dari sektor
keberangkatan mencapai 1.751.687 penumpang meningkat
dibanding tahun 2014 dengan jumlah 1.642.072 penumpang.
Sedangkan jika dilihat dari pintu kedatangan internasional mencapai
68.044 penumpang, meningkat dibandingkan tahun 2014 lalu yaitu
sebanyak 77.712 penumpang.

Tabel 2.58
Arus Lalu Lintas Angkutan Udara Domestik Pesawat, Penumpang,
Bagasi Barang / Cargo dan Pos Paket di Bandar Udara Ahmad Yani
Kota Semarang Tahun 2010 – 2015
N Tahun Satu-
Uraian
o 2010 2011 2012 2013 2014 2015 an
Pesawat
1. 7.498 7.596 9.701 11.720 13.261 14.953 Buah
Datang
Pesawat
2. 7.500 7.596 9.701 11.721 13.324 14.944 Buah
Berangkat
Penumpang
3. 828.270 911.481 1.212.191 1.366.938 1.671.740 1.781.719 Orang
Datang
Penumang
4. 799.527 884.643 1.188.853 1.425.328 1.642.072 1.751.687 Orang
Berangkat

Penumpang
5. 278 0 100 892 40 9.251 Orang
Transit

Bagasi
6. 6.039.552 7.244.051 8.112.876 8.831.522 10.190.060 10.801.265 Kg
Bongkar
Bagasi
7. 3.813.256 6.764.643 7.853.165 8.473.123 10.170.787 11.089.374 Kg
Muat
Barang
8. 4.130.763 5.812.090 5.721.292 5.982.200 8.404.091 8.427.750 Kg
Bongkat
Bagasi
9. 3.506.025 3.813.571 3.255.744 3.564.865 5.179.258 5.601.663 Kg
Muat

Sumber : PT ( Persero ) Angkasa Pura I Bandar Udara Ahmad Yani Semarang, Badan
Pusat Statistik Kota Semarang, 2015

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 II-97


GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

Tabel 2.59
Arus Lalu Lintas Angkutan Udara Internasional Pesawat, Penumpang,
Bagasi Barang / Cargo dan Pos Paket di Bandar Udara Ahmad Yani
Kota Semarang Tahun 2010 – 2015

Tahun
Satu-
No Uraian
an
2010 2011 2012 2013 2014 2015

Pesawat
1. 187 254 208 534 647 567 Buah
Datang

Pesawat
2. 187 254 208 534 647 567 Buah
Berangkat
Penumpang
3. 11.086 18.636 15.201 59.335 77.712 68.044 Orang
Datang
Penumang
4. 12.192 20.023 17.055 56.738 75.670 67.822 Orang
Berangkat

Penumpang
5. 0 0 0 0 0 0 Orang
Transit

Bagasi
6. 167.448 266.162 226.464 675.763 950.289 903.765 Kg
Bongkar

7. Bagasi Muat 124.721 207.826 193.618 434.886 585.912 555.729 Kg

Barang
8. 2.005 2.627 4.630 9.151 113.008 193.044 Kg
Bongkat

9. Bagasi Muat 142.479 81.184 431.341 588.441 130.737 263.971 Kg

Sumber : PT ( Persero ) Angkasa Pura I Bandar Udara Ahmad Yani Semarang, Badan
Pusat Statistik Kota Semarang, 2015

4) Pelabuhan Tanjung Emas yang merupakan pelabuhan pelayaran


nusantara untuk melayani penumpang kapal antar Provinsi, namun
demikian beberapa kapal pesiar internasional juga dapat singgah
dipelabuhan ini. Selain itu pelabuhan Tanjng Emas juga untuk
melayani angkutan barang yaitu dengan adanya Terminal Peti Kemas
untuk melayani bongkar muat muatan baik nasional maupun
internasional. Pada tahun 2015 jumlah kunjungan kapal untuk
pelayaran nusantara mencapai 1.036 kapal, untuk pelayaran rakyat
mencapai 546 kapal, untuk pelayaran khusus (non pelayaran)
sejumlah 152 kapal, untuk pelayaran luar negri mencapai sebesar
679 kapal.

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 II-98


GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

Tabel 2.60
Banyaknya Kunjungan Kapal dan Bongkar Muat Barang
Di Pelabuhan Laut Tanjung Emas Semarang Tahun 2010 – 2015
Tahun
No Uraian Satuan
2010 2011 2012 2013 2014 2015

1. Pelayaran Nusantara

- Kunjungan
779 796 818 1.036 1.036 1.036 Kapal
Kapal
- Bongkar
1.989.778 2.050.414 2.378.856 2.561.984 2.561.984 2.561.984 Ton
Barang
- Muat
159.815 184.461 162.898 205.155 205.155 205.155 Ton
Barang
2. Pelayaran Rakyat
- Kunjungan
618 552 557 546 546 546 Kapal
Kapal
- Bongkar
89.257 42.778 42.858 41.130 41.130 41.130 Ton
Barang
- Muat
172.508 145.764 143.332 183.316 183.316 183.316 Ton
Barang
3. Pelayaran Khusus (Non Pelayaran)
- Kunjungan
135 109 137 152 152 152 Kapal
Kapal
- Bongkar
772.390 703.893 833.881 851.802 851.802 851.802 Ton
Barang
- Muat
10.135 0 2.675 1.743 1.743 1.743 Ton
Barang
4. Pelayaran Luar Negeri
- Kunjungan
705 764 747 679 679 679 Kapal
Kapal
- Bongkar
2.122.405 2.760.699 3.141.081 3.925.062 3.925.062 3.925.062 Ton
Barang
- Muat
1.998.053 1.975.441 2.135.157 2.633.202 2.633.202 2.633.202 Ton
Barang
Sumber : Administrator Pelabuhan Tanjung Emas Semarang dan BPS Kota Semarang,
2015

5) Terminal bus untuk melayani angkutan bus didalam kota, antar kota
bahkan antar Provinsi. Beberapa terminal di Kota Semarang
berdasarkan tipe pelayanan yaitu: Tipe A terminal berada di
Kelurahan Mangkang Kulon Kecamatan Tugu, terminal penumpang
B di kelurahan Terboyo Kecamatan Genuk dan Terminal tipe B
penggaron di kecamatan Pedurungan. Terminal dengan Tipe C yaitu
di kelurahan Cangkiran kecamatan Mijen, di kelurahan Cepoko
Kecamatan Gunungpati, di Kelurahan Tanjung Mas kecamatan
Semarang Utara dan Meteseh Kecamatan Tembalang.

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 II-99


GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

Tabel 2.61
Arus Lalu Lintas Penumpang dan Bus yang Masuk di Terminal Terboyo
Kota Semarang Tahun 2010 – 2015
Tahun
No Uraian Satuan
2010 2011 2012 2013 2014 2015
1. Penumpang Jurusan Barat
- Naik 123.385 97.996 80.324 73.708 84.769 106.582 Orang
- Turun 123.176 97.249 80.115 69.189 82.093 100.144 Orang
2. Penumpang Jurusan Timur
- Naik 218.504 255.051 288.187 506.040 635.710 828.906 Orang
- Turun 218.145 248.950 284.691 471.488 471.488 765.595 Orang
3. Penumpang Jurusan Selatan
- Naik 257.385 300.004 339.270 416.176 416.176 630.735 Orang
- Turun 255.690 295.932 338.009 388.270 388.270 588.551 Orang
Jumlah
Bus
4. 192.665 187.518 156.840 133.864 116.443 123.540 Buah
Antar
Provinsi
Jumlah
Bus
5. 32.050 33.535 25.682 16.310 28.887 37.157 Buah
Antar
Provinsi
Sumber : BPS Kota Semarang, 2016

6) Stasiun kereta api di Kota Semarang untuk melayani angkutan


penumpang dan barang. Untuk pelayanan angkutan kelas Eksekutif
dan Bisnis pelayanan di utamakan di Stasiun Tawang, sedangkan
pelayanan angkutan penumpang kelas ekonomi dan bisnis
dipusatkan di Stasiun Poncol.
Tabel 2.62
Banyaknya Penumpang Kereta Api
Melalui PT KA (Persero) Daerah Operasi IV Kota Semarang
Tahun 2010 – 2015
Tahun
No Uraian Satuan
2010 2011 2012 2013 2014 2015
1. Kelas Eksekutif
- Argo Sindoro 82.871 95.374 89.365 100.197 125.621 125.621 Orang
- Argo Muria 76.487 80.499 72.587 81.134 97.958 97.958 Orang
- Kamandanu - - - - - - Orang
- Harina 70.190 98.819 68.630 108.915 85.170 85.170 Orang
- Rajawali 73.407 121.951 65.453 8.911 - - Orang
- Argobromo
90.569 71.572 77.211 88.666 101.266 101.266 Orang
Anggrek

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 II-100


GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

Tahun
No Uraian Satuan
2010 2011 2012 2013 2014 2015
- Sembrani 52.440 56.204 57.665 64.499 74.815 74.815 Orang
- Gumarang 22.743 26.565 20.344 25.285 28.605 28.605 Orang
- Bangunkarta 31.252 26.833 19.205 30.662 31.357 31.357 Orang
- Kaligung
- - 104.016 656.029 905.892 905.892 Orang
Mas
- Cepu Ekpres - - 47.710 31.642 185.199 185.199 Orang
- Blora Jaya - - 100.917 70.590 386.018 386.018 Orang
2. Kelas Bisnis
- Fajar Utama 137.588 131.190 111.330 131.861 119.788 119.788 Orang
- Senja
166.746 158.735 107.222 136.123 36.488 36.488 Orang
Utama
- Harina - - 17.136 43.020 43.020 43.020 Orang
- Gumarang 35.587 29.504 21.027 31.252 31.252 31.252 Orang
- Rajawali - - 33.234 6.279 - - Orang
- Senja Kediri - - 14.509 25.075 - - Orang
- Kaligung
- - - - - - Orang
Mas
- Blora Jaya - - 174.234 402.588 - - Orang
3. Kelas Ekonomi
- Tawangjaya 323.822 343.355 482.712 274.426 119.788 119.788 Orang
- KBL Bergigi - - 8.651 - 36.488 36.488 Orang
- Tegal Arum 197.555 188.607 115.800 102.222 43.020 43.020 Orang
- Kertajaya 146.070 118.947 114.222 92.863 31.252 31.252 Orang
- Matarmaja 72.763 48.857 44.214 35.647 - - Orang
- Brantas 64.763 102.000 58.914 32.458 - - Orang

Sumber : BPS Kota Semarang, 2016

Tabel 2.63
Perkembangan Jumlah Ijin Trayek Di Kota Semarang Tahun 2010 – 2015

Jenis Tahun
No Satuan
Transportasi 2010 2011 2012 2013 2014 2015
1. Izin Trayek
antarkota 16 16 16 16 16 16 Trayek
antarprovinsi
2. Izin Trayek
76 76 76 88 88 88 Trayek
perkotaan
3. Izin Trayek
0 0 0 0 0 0 Trayek
Perdesaan

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 II-101


GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

Jenis Tahun
No Satuan
Transportasi 2010 2011 2012 2013 2014 2015
4. Jumlah Izin
92 92 92 104 104 104 Trayek
Trayek
Sumber : Dinas Perhubungan, Komunikasi & Informasi, 2016

Tabel 2.64
Perkembangan Persentase Pemasangan Rambu-Rambu
Di Kota Semarang Tahun 2010 – 2015

Tahun
No Uraian Satuan
2010 2011 2012 2013 2014 2015
Pemasangan
1. 140 114 120 120 165 111 Unit
Rambu-Rambu
Jumlah
Rambu-Rambu
2. Yang 160 150 200 170 165 111 Unit
Seharusnya
Tersedia
Persentase
3. Pemasangan 87,50 76,00 60,00 70,59 100,00 100,00 Persen
Rambu-Rambu
Sumber : Dinas Perhubungan, Komunikasi & Informasi, 2016

Tabel 2.65
Perkembangan Wartel / Warnet dan Jumlah Peralatan Komunikasi
Di Kota Semarang Tahun 2010 – 2015

Jenis Tahun
No Satuan
Transportasi 2010 2011 2012 2013 2014 2015
1. Jumlah Wartel 250 270 257 157 26 26 SST
2. Jumlah Warnet 197 280 302 157 278 284 Unit
3. Jumlah menara telekomunikasi :
• Pemancar
10 10 10 10 10 - Unit
televisi
• Pemancar
34 34 34 34 34 - Unit
radio
• BTS 493 504 609 881 881 - Unit
4. Jumlah Tower 493 504 609 569 654 - Unit
Sumber : Dinas Perhubungan, Komunikasi & Informasi, 2016

2.4.2.2 Penataan Wilayah

Peraturan Daerah Kota Semarang 14 Tahun 2011 tentang Rencana


Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Semarang tahun 2011-2031. Adapun
tujuan penataan ruang di Kota Semarang adalah “Mewujudkan Kota
Semarang sebagai pusat perdagangan dan jasa skala nasional yang

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 II-102


GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

mempertimbangkan keserasian fungsi pelayanan regional dan lokal”.


Tujuan penataan ruang Kota Semarang dapat tercapai dengan menerapkan
beberapa kebijakan dan strategi penataan ruang Kota Semarang sebagai
berikut:
1. Kebijakan & Strategi Pengembangan Struktur Ruang
Kebijakan dan strategi pengembangan struktur ruang Kota
Semarang dilakukan melalui:
A. Kebijakan dan strategi pengembangan fungsi regional dan nasional
meliputi:
1) Kebijakan peningkatan peranan Kota Semarang sebagai pintu
gerbang Provinsi Jawa Tengah melalui peningkatan fasilitas
transportasi Darat, Laut dan Udara.
2) Kebijakan pembukaan potensi investasi perdagangan, jasa, dan
industri melalui penyediaan kawasan strategis pada koridor
Jalan Siliwangi-Kawasan Pusat Kota-Jalan Kaligawe dan Jalan
Majapahit.
3) Kebijakan pengembangan fungsi jasa perhotelan dan convention
centre sebagai pendukung tumbuhnya kegiatan ekonomi skala
regional, nasional dan internasional di kawasan atas dengan
dukungan alam yang hijau dan nyaman.
B. Kebijakan dan strategi pengembangan kawasan metropolitan
Semarang meliputi:
1) Kebijakan perwujudan kondisi ruang kota yang mampu
memanfaatkan dan mengoptimalkan potensi sebagai simpul
perkembangan nasional dan regional, dalam mewujudkan
pertumbuhan ekonomi yang berdaya saing global.
2) Kebijakan pengembangan ruang kota yang memacu
perkembangan potensi pusat perkembangan regional segitiga
Semarang, Solo dan Jogyakarta (JOGLOSEMAR).
3) Menciptakan kondisi ruang kota yang mampu mendorong
keterikatan dan pengembangan timbal balik dengan kawasan
metropolitannya (KEDUNGSAPUR).
C. Kebijakan dan strategi pengembangan struktur pelayanan
kegiatan Kota Semarang meliputi:
1) Kebijakan pemantapan pelayanan fungsi primer.
2) Kebijakan pengembangan pelayanan fungsi sekunder.

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 II-103


GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

3) Pengembangan pelayanan perbatasan


2. Kebijakan dan Strategi Pengembangan Pola Ruang
Kebijakan dan strategi pola ruang meliputi kebijakan dan strategi
pengelolaan kawasan lindung dan kawasan budidaya.
A. Kebijakan peningkatan pengelolaan Kawasan Lindung meliputi:
1) Mempertahankan dan merevitalisasi kawasan-kawasan resapan
air atau kawasan yang berfungsi hidrologis untuk menjamin
ketersediaan sumber daya air dan kesuburan tanah serta
melindungi kawasan dari bahaya longsor dan erosi.
2) Pelestarian dan perlindungan kawasan cagar budaya yang
ditetapkan dari alih fungsi.
3) Peningkatan penyediaan dan kualitas Ruang Terbuka Hijau
(RTH).
B. Kebijakan pengembangan kawasan budidaya meliputi:
1) Pengendalian alih fungsi lahan yang tidak sesuai dengan
peruntukan yang ditetapkan rencana tata ruang.
2) Mewujudkan pemanfaatan ruang yang effisen dan kompak.
3) Peningkatan pengelolaan kawasan pesisir.
4) Pengarahan jenis pengembangan kegiatan industri dalam
rangka peningkatan kualitas lingkungan perkotaan.

2.4.2.3 Ketersediaan Air Minum

Untuk pelayanan umum terhadap fasilitas air minum di Kota


Semarang dapat dikatakan mengalami peningkatan lebih baik. Jumlah
pemakaian air melalui PDAM kota Semarang pada tahun 2015 tercatat
45,99 juta M3. Bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya mengalami
kenaikan sebesar 3,39 %. Pemakaian terbanyak terdapat pada pelanggan
Rumah Tangga sebanyak 37,50 juta M3 atau sekitar 81,52 % dari seluruh
pemakaian air minum. Kalau dilihat dari jumlah pelanggan / sambungan,
mengalami peningkatan sebesar 5,53 % dari tahun sebelumnya. Secara
lengkap dapat dilihat pada tabel 2.66

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 II-104


GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

Tabel 2.66
Perkembangan Banyaknya Pelanggan, Pemakaian & Penjualan Air Minum
PDAM Tahun 2010 – 2015

No Uraian 2010 2011 2012 2013 2014 2015

Jumlah
1. 134.617 138.775 141.563 144.626 152.014 160.427
Pelanggan
Pemakaian Air
2. 36.290,34 39.888,90 42.059,15 43.162,54 44.488,54 45.996.714
( Ribu M3 )

Penjualan Air
3. 125.289,40 137.414,92 147.106,34 156.163,91 163.453,65 170.330,48
( Juta Rp )

Sumber : BPS Kota Semarang, 2016; Kota Semarang Dalam Angka 2015

2.4.2.4 Fasilitas Listrik dan Telepon

Perkembangan jaringan telekomunikasi beberapa tahun terakhir


cukup menggembirakan, terlihat dengan banyaknya satuan sambungan
yang dipasarkan kepada masyarakat. Jika dilihat dari sebaran tiap
kecamatan yang ada, maka jaringan telepon telah menjangkaunya seluruh
kelurahan yang ada di tiap-tiap kecamatan. Ketersediaan daya listrik
sangat memungkinkan bagi pengembangan investasi. Sedangkan untuk
fasilitas telepon seiring dengan perkembangan teknologi untuk jaringan
tetap (jaringan telepon lokal, SLI, SLJJ, dan tertutup) mengalami
kecenderungan menurun. Tetapi untuk jaringan bergerak yakni satelit dan
telepon seluler mengalami perkembangan cukup pesat. Jangkauan
komunikasi saat ini tidak menjadi suatu permasalahan, melalui layanan
jaringan bergerak yang ditawarkan oleh perusahaan penyedia jaringan
telepon antara lain Telkomsel, Indosat, XL, Axis, Tri, dll pelanggan secara
cepat dapat menggunakannya. Secara lengkap dapat dilihat tabel 2.67
Tabel 2.67
Perkembangan Jumlah Pelanggan dan Daya Tersambung Listrik
Di Kota Semarang Tahun 2010 – 2015

Tahun
No Uraian
2010 2011 2012 2013 2014 2015
Jumlah 1.079.66
1. N/A 406.792 411.575 411.575 411.575
Pelanggan 3
Daya 1.679.26 1.040.764. 1.097.490. 1.097.490 1.097.490
2. N/A
Tersambung 7.915 115 457 .457 .457
Rumah
tangga
3. 317.685 340.219 356.787 370.750*) 386.337*) 405.732*)
pengguna
listrik (unit

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 II-105


GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

Tahun
No Uraian
2010 2011 2012 2013 2014 2015
Juml
Rumah 438.537 429.268 435.184 442.089 443.541 471.327
Tangga
Rasio
Elektrifikasi 72,44 79,26 81,99 83,86 87,10 86,08
(RE)
Sumber : Badan Pusat Statistik Kota Semarang, 2016
Ket : *) Data sangat sangat sementara/ data tahun sebelumnya

Tabel 2.68
Persentase Rumah Tangga Menurut Kepemilikan Telepon Seluler (HP)
Di Kota Semarang Tahun 2010 – 2015 ( Persen )

Tahun
No Uraian
2010 2011 2012 2013 2014 2015 *)
Rumah Tangga
1. Memiliki Telepon 86,07 89,71 93,99 94,90 95,01 95,01
Seluler (HP)
Rumah Tangga Tidak
2. Memiliki Telepon 13,93 10,29 6,01 5,10 4,99 4,99
Seluler (HP)
Sumber : Hasil SUSENAS BPS Provinsi Jawa Tengah, 2015
Ket. : *). Data sangat sangat sementara / Data tahun sebelumnya

2.4.2.5 Ketersediaan Fasilitas Perdagangan dan Jasa

Kota Semarang sebagai kota perdagangan dan jasa, dapat dilihat dari
ketersediaan fasilitas hotel, penginapan, restoran/rumah makan, pasar
modern dan pasar tradisional. Sampai dengan tahun 2014 jumlah fasilitas
perdagangan dan jasa mengalami peningkatan, jumlah restoran / rumah
makan / kedai sebanyak 434 buah. Perkembangan fasilitas perdagangan
dan jasa di Kota Semarang pada tahun 2014 mengalami peningkatan hal
ini dapat dilihat dari bertambahnya jumlah hotel sebanyak 40 buah dan
Restoran / rumah makan sebanyak 236 buah. Jumlah hotel berbintang
sebanyak 54 buah; hotel non bintang 70 buah, jumlah industri sebanyak
3.600 buah; pasar tradisional sebanyak 50 buah; pasar lokal sebanyak 23
buah. Disamping itu juga terdapat fasilitas pendidikan, tempat wisata alam
dan wisata buatan. Hal ini menunjukkan bahwa Kota Semarang memilki
daya tarik bagi investor untuk investasi dan para wisatawan baik domestik
maupun manca negara untuk berkunjung di Kota Semarang. Secara
lengkap dapat dilihat pada tabel 2.67 dibawah ini :

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 II-106


GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

Tabel 2.69
Perkembangan Jenis, Kelas, dan Jumlah Penginapan / Hotel
Di Kota Semarang Tahun 2010 – 2015
Tahun
No Uraian Satuan
2010 2011 2012 2013 2014 2015
1. Hotel bintang 5
a. Jumlah Hotel 5 5 6 6 6 6 Buah
b. Jumlah kamar 964 964 1.225 1.246 1.246 1.246 Kamar
Jumlah tempat
c. 1.459 1.459 1.729 1.730 1.730 1.730 Buah
tidur
2. Hotel bintang 4
a. Jumlah Hotel 2 2 2 4 5 6 Buah
b. Jumlah kamar 293 293 293 723 880 989 Kamar
Jumlah tempat
c. 514 514 514 1.004 1.161 1.270 Buah
tidur
3. Hotel bintang 3
a. Jumlah Hotel 10 11 11 12 14 14 Buah
b. Jumlah kamar 1.060 1.162 1.162 1.431 1.659 1.659 Kamar
Jumlah tempat
c. 1.863 2.020 2.020 2.168 2.398 2.398 Buah
tidur
4. Hotel bintang 2
a. Jumlah Hotel 8 10 10 12 14 15 Buah
b. Jumlah kamar 415 512 569 802 802 910 Kamar
Jumlah tempat
c. 684 824 767 1.091 1.091 1.199 Buah
tidur
5. Hotel bintang 1
a. Jumlah Hotel 9 9 9 10 13 13 buah
b. Jumlah kamar 415 415 415 446 563 563 kamar
Jumlah tempat
c. 762 762 762 819 936 936 buah
tidur
6. Hotel Melati
a. Jumlah Hotel 50 51 57 62 70 70 buah
b. Jumlah kamar 1.142 1.173 1.386 1.495 1.671 1.671 kamar
Jumlah tempat
c. 1.790 1.837 2.072 2.204 2.380 2.380 buah
tidur
Jumlah total
7. 84 88 95 106 122 124 buah
penginapan
Sumber : Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang, 2015

Tabel 2.70
Perkembangan Jumlah Restoran dan Rumah Makan
Di Kota Semarang Tahun 2010 – 2015

Tahun
No Jenis Usaha Satuan
2010 2011 2012 2013 2014 2015
1. Restoran 46 57 70 124 121 137 buah
2. Rumah Makan 115 121 124 139 146 165 buah

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 II-107


GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

Tahun
No Jenis Usaha Satuan
2010 2011 2012 2013 2014 2015
3. Bar 25 25 37 48 58 74 buah
4. Cafe 9 9 25 32 79 85 buah
Jasa Boga
5. 1 2 2 2 2 11 buah
Catering
Pusat Penjualan
6. 2 2 2 2 2 3 buah
Makanan
7. Panti Pijat 19 33 37 38 32 35 buah
8. Karaoke 11 32 46 59 59 48 buah
9. Spa - - - 4 6 9 buah
10. Klub Malam 1 2 3 5 4 5 buah
Sumber : Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang, 2016

Tabel 2.71
Perkembangan Jumlah Obyek Wisata
Di Kota Semarang Tahun 2010 – 2015

Tahun
No Uraian Satuan
2010 2011 2012 2013 2014 2015
Jumlah
1. 29 38 39 44 45 62 buah
Obyek Wisata
Obyek Wisata
a. 4 4 4 8 8 10 buah
Alam
Obyek Wisata
b. 10 16 16 17 17 23 buah
Budaya
Obyek wisata
c 15 18 19 19 20 29 buah
buatan
Sumber : Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang, 2016

Tabel 2.72
Perkembangan Jumlah Industri Kota Semarang
Tahun 2010 – 2015

Tahun
No Uraian
2010 2011 2012 2013 2014 2015 *)
1. Jumlah Industri 3.506 3.539 3.559 3.589 3.600 3.600
- Industri Kecil Formal 1.618 1.619 1.619 1.627 1.630 1.630
- Industri Kecil Non Formal 1.058 1.075 1.090 1.095 1.098 1.098
- Industri Menengah 666 679 684 697 697 697
- Industri Besar 164 166 166 170 175 175
Sumber : Dinas Perindustrian & Perdagangan Kota Semarang, 2015
Ket. : *). Data sangat sangat sementara

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 II-108


GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

Tabel 2.73
Perkembangan Jumlah Pasar Di Kota Semarang
Tahun 2010 – 2015

Tahun
No Uraian Satuan
2010 2011 2012 2013 2014 2015 *)
1. Pasar Tradisional 47 49 50 50 50 50 buah
2. Pasar Lokal 22 22 23 23 23 23 buah
3. Pasar Regional - - - - - - buah
Pasar Swalayan /
4. 183 303 436 436 536 536 buah
Supermarket / Toserba
5. Hipermarket 0 2 5 5 5 5 buah
6. Pasar Grosir 3 1 3 3 3 3 buah
7. Mal/Plaza 14 14 15 15 15 15 buah
8. Pertokoan/Warung/Kios 1.634 1.634 1.970 1.970 1.970 1.970 buah
Sumber : Sistem Informasi Pembangunan Daerah (SIPD) Kota Semarang dan Dinas Pasar
Kota Semarang, 2015
Ket. : *). Data sangat sangat sementara

Tabel 2.74
Perkembangan Fasilitas Pendidikan
Di Kota Semarang Tahun 2010 – 2015
Tahun
No Uraian Satuan
2010 2011 2012 2013 2014 2015
1. Jumlah PAUD (SPS) 24 97 294 319 319 319 buah
Negeri - - - - -
Swasta 24 97 294 319 319 319
Jumlah Taman Kanak-
2. 621 629 629 633 643 644 buah
kanak (TK)
Negeri 3 3 3 3 3 3
Swasta 618 626 626 630 640 641
Jumlah RA/BA 77 99 108 113 114 124
3. Jumlah Sekolah Dasar (SD) 630 630 524 525 527 571 buah
Negeri 458 456 347 347 347 338
Swasta 172 174 177 178 180 183
Jumlah MI 78 79 78 79 78 81
Negeri 1 1 1 1 1 1
Swasta 77 78 77 78 77 80
Jumlah Sekolah Menengah
4. 197 171 170 173 175 180 buah
Pertama (SMP)
Negeri 41 41 41 41 42 43
Swasta 156 130 130 130 131 137
Jumlah MTs 32 33 34 35 35 35
Negeri 2 2 2 2 2 2
Swasta 30 31 32 33 33 33
Jumlah Sekolah Menengah
5. 77 77 76 74 73 71 buah
Atas (SMA)
Negeri 16 16 16 16 16 16

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 II-109


GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

Tahun
No Uraian Satuan
2010 2011 2012 2013 2014 2015
Swasta 61 61 60 58 57 55
Jumlah MA 22 23 23 23 23 24
Negeri 2 2 2 2 2 2
Swasta 20 21 21 21 21 22
Jumlah Sekolah Menengah
6. 77 83 89 88 88 87 buah
Kejuruan (SMK)
Negeri 11 11 11 11 11 11
Swasta 66 72 78 77 77 76
Jumlah Sanggar Kegiatan
7. 1 1 1 1 1 1 buah
Belajar (SKB)
Negeri 1 1 1 1 1 1
Swasta - - - - - -
Jumlah Pusat Kegiatan
8. 39 39 39 39 34 33 buah
Belajar Masyarakat (PKBM)
Negeri - - - - - -
Swasta 39 39 39 39 34 33
Sumber : Dinas Pendidikan Kota Semarang, 2016

Tabel 2.75
Perkembangan Fasilitas Kesehatan
Di Kota Semarang Tahun 2010 - 2015
Tahun
No Uraian Satuan
2010 2011 2012 2013 2014 2015
1. Rumah Sakit Umum :

a. Rumah Sakit Swasta 10 10 10 10 10 10 buah


Rumah Sakit Umum
b. 2 2 2 2 2 2 buah
Daerah
Rumah Sakit Umum
c. 1 1 1 1 1 1 buah
Pusat
Rumah Sakit TNI /
d. 3 3 3 3 3 3 buah
POLRI
Rumah Sakit Khusus,
e. 9 9 9 9 9 9 buah
terdiri dari :
- RS Jiwa 1 1 1 1 1 1 buah
- RS Bedah Plastik 1 1 1 1 1 1 buah
- Rumah Sakit Ibu
3 3 3 3 3 3 buah
dan Anak ( RSIA )
- Rumah Sakit
3 3 3 2 2 2 buah
Bersalin ( RSB )
Rumah Bersalin ( RB )
2. 6 6 6 6 6 6 buah
/ BKIA
Puskesmas , terdiri
3. 37 37 37 37 37 37 buah
dari :
a. Puskesmas Perawatan 13 13 12 12 12 12 buah
Puskesmas Non
b. 24 24 25 25 25 25 buah
Perawatan
4. Puskesmas Pembantu 34 35 35 35 35 35 buah

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 II-110


GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

Tahun
No Uraian Satuan
2010 2011 2012 2013 2014 2015
5. Puskesmas Keliling 37 37 37 37 37 37 buah
6. Posyandu yang ada 1.529 1.533 1.556 1.559 1.561 1.561 buah
7. Posyandu Aktif 1.529 1.055 1.150 1.202 1.214 1.214 buah
8. Apotik 369 381 403 406 401 401 buah
Laboratorium
9. 30 30 30 32 30 30 buah
Kesehatan Swasta
10. Klinik Spesialis 14 14 31 36 37 37 buah
11. Klinik 24 Jam 9 13 9 7 buah
12. Toko Obat 65 20 12 23 20 20 buah
13. BP Umum 51 139 72 80 83 83 buah
14. BP Gigi 8 24 25 25 8 8 buah
Dokter Umum
15. 1.176 1.327 1.512 1.640 1.798 1.798 buah
Praktek Swasta
Dokter Spesialis
16. 649 681 691 730 745 745 buah
swasta
17. Dokter gigi swasta 294 328 358 393 415 415 buah

Sumber : Profil Kesehatan Kota Semarang, 2016

2.4.2.6 Iklim Berinvestasi

Daya tarik investor untuk memanamkan modalnya sangat


dipengaruhi faktor-faktor seperti tingkat suku bunga, kebijakan
perpajakan dan regulasi perbankan, sebagai infrastruktur dasar yang
berpengaruh terhadap kegiatan investasi. Iklim investasi juga sangat
dipengaruhi oleh faktor-faktor lain yang mendorong berkembangnya
investasi antara lain kemudahan proses perijinan. Secara lengkap dapat
dilihat pada tabel berikut ini :
Tabel 2.76
Perkembangan Investasi Kota Semarang Tahun 2010 – 2015

No Uraian 2010 2011 2012 2013 2014 2015 Satuan


Jumlah
1. Investor Dalam 2.966 3.529 2.741 2.866 4.405 4.405 Investor
Negeri (PMDN)
Jumlah
2. Investor Asing 11 17 43 33 45 45 Investor
(PMA)
Jumlah Milyar
3. 357,82 997,04 3.675,24 5.372,16 7.924,52 7.924,52
Investasi Rp.
Jumlah
MIlyar
a Investasi 150,63 437,34 1.554,97 4.129,10 5.332,51 5.332,51
Rp.
PMDN

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 II-111


GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

No Uraian 2010 2011 2012 2013 2014 2015 Satuan


Jumlah Milyar
b 207,19 559,70 2.120,27 1.243,06 2.592,01 2.592,01
Investasi PMA Rp.
Sumber : Badan Pelayanan Perijinan Terpadu Kota Semarang (data diolah), 2015

2.4.2.7 Keamanan dan Ketertiban

Kondisi keamanan dan ketertiban Kota Semarang relatif kondusif bagi


berlangsungnya aktivitas masyarakat maupun kegiatan investasi. Berbagai
tindakan kejahatan kriminalitas, unjuk rasa dan mogok kerja yang
merugikan dan mengganggu keamanan dan ketertiban masyarakat dapat
ditanggulangi dengan sigap oleh aparatur Pemerintah. Situasi tersebut juga
didorong oleh pembinaan keamanan dan ketertiban masyarakat dengan
melibatkan partisipasi masyarakat dalam menjaga keamanan
lingkungannya. Secara lengkap dapat dilihat pada tabel dibawah ini :
Tabel 2.77
Perkembangan Jumlah Kriminalitas dan Jumlah Unjuk Rasa / Demostrasi
Di Kota Semarang Tahun 2010 – 2015

Tahun Satuan
No Uraian
2010 2011 2012 2013 2014 2015
Jumlah
Kriminalitas
1. Tindak Pidana 640 1.895 1.922 1.553 3.505 2.792 kasus
Menonjol (Crime
Index)
Pencurian dgn
a. 147 539 521 419 441 476 kasus
pemberatan
b. Pencurian ranmor 407 884 768 566 633 667 kasus
Pencurian dgn
c. 15 58 92 82 88 206 kasus
kekerasan
Penganiayaan
d. 13 171 206 200 203 42 kasus
berat
e. Pembunuhan 1 7 14 2 10 6 kasus
f. Perkosaan 6 5 3 3 3 215 kasus
g. Kenakalan remaja 0 0 0 0 0 0 kasus
h. Uang palsu 0 2 2 3 1 1 kasus
i. Narkotika 0 40 63 61 79 463 kasus
j. Perjudian 14 81 92 88 42 110 kasus
Pemerasan /
k. 36 94 150 116 N/A N/A kasus
Ancaman
l. Lainnya 1 14 11 13 2.005 696 kasus

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 II-112


GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

Tahun Satuan
No Uraian
2010 2011 2012 2013 2014 2015
Jumlah Aksi
2. Unjuk Rasa /
Demonstrasi
a. Jumlah Aksi 78 126 99 66 24 24 Aksi
b. Jumlah Peserta 5.500 6.650 5.150 3.600 9.934 9.934 orang
Sumber : BPS Kota Semarang dan Kantor Salpol PP & Linmas Kota Semarang, 2016

2.4.2.8 Kemudahan Perijinan

Bahwa dalam rangka peningkatan kualitas pelayanan perijinan yang


berkelanjutan maka perlu dilakukan evaluasi terhadap
penyelenggaraannya. Untuk itu telah dilakukan survey kepuasan
masyarakat sebagai alat ukur yang komprehensif kegiatan tentang tingkat
kepuasan masyarakat yang diperoleh dari hasil pengukuran atas pendapat
masyarakat dalam memperoleh pelayanan. Ruang lingkup survey
kepuasan masyarakat tersebut antara lain: persyaratan, prosedur, waktu
pelayanan, biaya, produk layanan, kompetensi pelaksana, perilaku
pelaksana, maklumat pelayanan serta penangan pengaduan. Adapun hasil
survey kepuasan masyarakat terhadap pelayanan yang telah dilakukan
dapat dilihat secara lengkap dapat dilihat pada tabel 2.76 dibawah ini :
Tabel 2.78
Capaian Survey Kepuasan Masyarakat Pada BPPT Kota Semarang
Tahun 2010 – 2015
No Uraian 2010 2011 2012 2013 2014 2015 Satuan
Survey
1 Kepuasan 79,5 99,21 73 78,21 76,42 72,19 %
Masyarakat
Sumber : Badan Pelayanan Perijinan Terpadu (BPPT) Kota Semarang, 2015
Tabel 2.79
Perkembangan Jumlah Ijin Di Kota Semarang Tahun 2010 – 2015

No Uraian 2010 2011 2012 2013 2014 2015

1. Bidang Ekonomi
a. Jumlah Total Pengajuan 9.055 10.164 10.095 9.689 9.943 11.447
b. Jumlah Ijin Yang Terbit 9.054 10.165 10.093 9.691 9.943 11.424
Bidang Kesejahteraan
2.
Rakyat (Kesra)
a. Jumlah Total Pengajuan 2.717 2.584 2.777 2.204 3.006 4.368
b. Jumlah Ijin Yang Terbit 2.296 2.373 2.630 1.801 3.162 4.280

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 II-113


GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

No Uraian 2010 2011 2012 2013 2014 2015

3. Bidang Pembangunan
a. Jumlah Total Pengajuan 4.897 3.347 4.264 3.876 4.273 4.631
b. Jumlah Ijin Yang Terbit 4.713 3.474 4.215 3.839 4.113 4.570

Sumber : Badan Pelayanan Perijinan Terpadu (BPPT) Kota Semarang, 2015

2.4.2.9 Pengenaan Pajak Daerah

Pajak Daerah adalah PAD yang tarifnya diatur dengan Peraturan


Daerah (Perda) Kota Semarang. Pengelolaan Pajak dilakukan oleh Dinas
Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (DPKAD) Kota Semarang.
Rincian Pajak Daerah ditunjukkan sebagaimana tabel di bawah ini :
Tabel 2.80
Pajak Daerah Kota Semarang Tahun 2010 – 2015
Tahun
No Uraian
2010 2011 2012 2013 2014 2015
28.374.010. 34.040.038 37.927.674 44.674.905 50.589.695 49.790.610.
1 Pajak Hotel 396 .542 .833 .002 .464 634

Pajak 28.247.021. 33.052.975 39.406.951 48.387.960 62.752.745 71.309.824.


2
Restoran 411 .112 .705 .623 .542 768

Pajak 6.589.282.2 8.838.252. 10.416.687 12.405.484 14.670.566 13.824.988.


3
Hiburan 53 654 .455 .804 .132 392

Pajak 16.429.600. 17.522.424 17.195.403 22.921.879 22.505.204 23.346.921.


4
Reklame 795 .149 .162 .365 .838 458
Pajak
94.639.332. 104.366.87 114.180.20 137.411.66 163.497.26 168.662.279
5 Penerangan 867 6.365 2.647 0.918 9.631 .975
Jalan
Pajak
Pengambilan 1.122.774. 1.367.379.
6 52.327.400 41.265.440 25.199.830 109.361.840
Bahan Galian 154 075
Golongan C
3.348.797.8 4.495.856. 4.912.611. 5.658.633. 7.508.343. 8.742.569.3
7 Pajak Parkir 25 241 413 242 122 08

Pajak Air 3.451.382. 4.371.739. 4.679.097. 4.873.574. 5.179.186.8


8 -
Tanah 908 057 924 208 01
Pajak Sarang
9 - 0 0 0 0 0
Burung Walet
154.275.05 208.003.74 220.909.15 254.085.54 199.463.884
10 Pajak BPHTB -
6.827 7.971 6.797 0.258 .563

161.334.46 185.292.33 211.001.44 200.189.522


11 Pajak PBB - -
8.066 2.200 7.064 .571
177.680.37 360.084.12 598.872.26 683.708.48 791.509.58 740.619.150
PAJAK DAERAH
2.947 8.238 0.463 9.950 6.089 .310

Sumber : Data Dinas Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Kota Semarang Tahun 2016

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 II-114


GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

2.4.3 Fokus Sumber Daya Manusia

2.4.3.1 Rasio Ketergantungan

Sejak tahun 2010 hingga 2015, angka rasio ketergantungan


mengalami pergerakan yang fluktuatif. Sempat mengalami penurunan di
tahun 2011, namun kembali meningkat sampai dengan tahun 2015.
Secara numerik dapat dilihat dengan angka ketergantungan yang
berada di bawah 50. Artinya penduduk usia produktif (15-64 tahun)
menanggung sedikit penduduk usia non produktif (<15 dan >64 tahun).;
dimana kualitas penduduk (baik tingkat pendidikan, skill, profesionalitas
dan kreativitas) mampu menekan beban ketergantungan sampai tingkat
terendah yang berguna untuk mendongkrak pembangunan ekonomi.
Secara lengkap dapat dilihat pada tabel berikut ini :
Tabel 2.81
Rasio Ketergantungan Kota Semarang Tahun 2010 – 2015

N Tahun
Uraian
o 2010 2011 2012 2013 2014 2015
Penduduk Usia < 15
1 359.792 364.652 368.438 372.387 376.065 378.996
th (ribu jiwa)
Penduduk Usia > 15
1.108.74 1.133.96 1.141.09
2 th & < 65 th (ribu 1.094.385 1.116.479 1.125.178
2 3 8
jiwa)
Penduduk Usia > 65
3 73.256 70.964 74.281 74.540 74.877 75.173
th (ribu jiwa)
Jumlah Penduduk 1.544.35 1.584.90 1.595.26
4 1.527.433
8
1.559.198 1.572.105
6 7
(ribu jiwa)
Rasio
5 39,57 39,29 39,65 39,72 39,77 39,80
Ketergantungan(%)
Sumber : Badan Pusat Statistik Kota Semarang, 2016

2.4.3.2 Rasio Penduduk Usia 5 Tahun Ke Atas Menurut Pendidikan


Tetinggi yang Ditamatkan
Rasio penduduk usia 5 tahun ke atas yang bekerja menurut
pendidikan yang ditamatkan selama empat tahun terakhir yang paling
dominan adalah lulusan SD ke bawah. Secara keseluruhan sejak Tahun
2010 – 2015 rasio lulusan SD ke bawah, SMP, maupun DI/II/III dan
Universitas mengalami penurunan persentase jika dibandingkan dengan
jumlah penduduk, sebagaimana terlihat pada tabel berikut ini :

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 II-115


GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

Tabel 2.82
Rasio Penduduk Usia 5 Tahun Ke Atas Menurut Pendidikan Tertinggi yang
Ditamatkan di Kota Semarang Tahun 2010 – 2015 ( Persen )

Tahun
No Uraian
2010 2011 2012 2013 2014 2015
1 Sekolah Dasar Ke Bawah 46,47 46,34 46,27 46,20 45,81 49,81
2 Sekolah Menengah Pertama 18,93 18,88 18,85 18,82 18,66 20,29
3 Sekolah Menengah Atas 19,69 19,64 19,61 19,58 19,42 21,11
Diploma I / II / III dan
4 8,21 8,18 8,17 8,16 8,09 8,80
Universitas
Sumber : Badan Pusat Statistik Kota Semarang, 2016

2.4.3.3 Rasio Penduduk yang Bekerja Menurut Pendidikan yang


Ditamatkan
Rasio penduduk yang bekerja menurut pendidikan yang ditamatkan
selama empat tahun terakhir yang paling dominan adalah agregat lulusan
SD/MI dan SMP. Secara keseluruhan sejak Tahun 2010 – 2015 rasio
lulusan SD ke bawah, SMP, SMA maupun DI/II/III dan Universitas
mengalami pergerakan yang fluktuatif jika dibandingkan dengan jumlah
penduduk, sebagaimana terlihat pada tabel berikut ini.
Tabel 2.83
Rasio Penduduk Yang Bekerja Menurut Pendidikan Yang Ditamatkan
di Kota Semarang Tahun 2010 – 2015 ( Persen )

Tahun
No Uraian
2010 2011 2012 2013 2014 2015
1 SD Ke bawah 20,87 20,61 20,13 14,36 14,36 14,36
2 SMP 21,27 21,44 25,54 22,63 22,63 22,63
3 SMA 33,20 32,44 32,11 36,55 36,55 36,55
D.I / D.II / D.III dan
4 24,67 25,52 22,22 26,46 26,46 26,46
Universitas
Sumber : Badan Pusat Statistik Kota Semarang, 2016

2.4.3.4 Rasio Jumlah Penduduk Menurut Mata Pencaharian


Distribusi persentase jumlah penduduk kota semarang paling banyak
berada di pekerjaan buruh industri yang selam 5 tahun berada di kisaran
25 persen. Dan peringkat kedua dan ketiga terbesar adalah PNS & TNI /
Polri sebesar 13 % dan 12 %. Untuk pergerakan distribusi persentase
selama tahun 2010 – 2015 cenderung berfluktuatif. Data selengkapnya
dapat dilihat pada tabel berikut:

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 II-116


GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

Tabel 2.84
Rasio Penduduk Menurut Mata Pencaharian di Kota Semarang
Tahun 2010 – 2015 ( Persen )

Tahun
No Uraian
2010 2011 2012 2013 2014 2015
1 Petani Sendiri 3,86 3,86 3,91 3,92 3,91 3,91
2 Buruh Tani 2,65 2,65 2,69 2,70 2,69 2,69
3 Nelayan 0,39 0,39 0,39 0,39 0,39 0,39
4 Pengusaha 7,79 7,79 7,72 7,73 7,72 7,72
5 Buruh Industri 25,67 25,67 25,65 25,54 25,65 25,65
6 Buruh Bangunan 12,02 12,02 12,02 12,04 12,02 12,02
7 Pedagang 12,58 12,58 12,51 12,53 12,51 12,51
8 Angkutan 3,73 3,73 3,71 3,72 3,71 3,71
9 PNS & TNI/Polri 13,79 13,79 13,76 13,78 13,76 13,76
10 Pensiunan 5,78 5,78 5,77 5,78 5,77 5,77
11 Lainnya 11,76 11,76 11,87 11,88 11,87 11,87
Sumber : Badan Pusat Statistik Kota Semarang , 2016

Hasil evaluasi dari pelaksanaan program pembangunan daerah


dalam RPJMD tahun 2010-2015 masih terdapat sebanyak 3 indikator atau
0,98% dengan capaian kurang baik. Urusan yang capaiannya tergolong
kurang baik tersebut yaitu urusan pekerjaan umum, perhubungan,
ketenagakerjaan, pemuda dan olahraga, dan urusan otonomi daerah,
pemerintahan umum, administrasi keuangan daerah, perangkat daerah,
kepegawaian dan persandian. Dari 3 indikator tersebut, sebanyak 2
indikator dengan status kinerja rendah yaitu (1) Tingkat pengendalian
ruang wilayah strategis dan cepat tumbuh dalam kota, hal ini dikarenakan
kondisi keterbatasan pemilikan lahan di dalam kota untuk pengembangan
wilayah; (2) Tingkat kinerja lembaga perwakilan rakyat dalam pelaksanaan
fungsi legislasi, fungsi anggaran dan fungsi pengawasan, hal ini
disebabkan oleh dinamika perubahan regulasi perundangan dari
Pemerintah Pusat yang terlalu berdampak terhadap kebijakan di
pemerintah kota khususnya dalam penyusunan peraturan daerah.
Kemudian dari 3 indikator tersebut, 1 indikator dengan status kinerja
sangat rendah yaitu Jumlah LPJU baru yang terpasang, namun jika dilihat
dari kondisi saai ini rasio LPJU yang ada sudah memadai di semua wilayah
kecamatan.

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 II-117


BAB III
GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH SERTA
KERANGKA PENDANAAN

Keuangan daerah merupakan faktor strategis yang turut


menentukan kualitas penyelenggaraan pemerintahan daerah,
mengingat kemampuannya akan mencerminkan daya dukung
manajemen pemerintahan daerah terhadap penyelenggaraan urusan
pemerintahan yang menjadi tanggung jawabnya.
Dalam konteks pembangunan, penyelenggaraan fungsi
pemerintahan daerah dan pembangunan daerah akan berjalan secara
optimal apabila didukung dengan kemampuan keuangan daerah yang
mencukupi kebutuhan pembangunan daerah dan penyelenggaraan
pemerintahan daerah. Oleh karenanya, dalam rencana pembangunan
daerah, analisis pengelolaan keuangan daerah perlu dilakukan untuk
mengetahui gambaran tentang kapasitas atau kemampuan keuangan
daerah untuk mendanai atau mendukung penyelenggaraan
pembangunan daerah.
Tingkat kemampuan keuangan daerah, dapat diukur dari
kapasitas pendapatan asli daerah, rasio pendapatan asli daerah
terhadap jumlah penduduk dan Produk Domestik Regional Bruto
(PDRB). Untuk memahami tingkat kemampuan keuangan daerah,
maka perlu dicermati kondisi kernja keuangan daerah, baik kinerja
keuangan masa lalu maupun kebijakan yang melandasi
pengelolaannya.

3.1 KINERJA KEUANGAN TAHUN 2010 – 2015


Perkembangan kinerja keuangan pemerintah daerah tidak terlepas
dari batasan pengelolaan keuangan daerah sebagaimana diatur dalam
UU Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, UU Nomor 1
Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara, PP Nomor 58 Tahun 2005
tentang Pengelolaan keuangan Daerah, Permendagri Nomor 13 Tahun
2006, Permendagri Nomor 59 Tahun 2007 tentang Pedoman
Pengelolaan keuangan Daerah dan secara spesifik pengelolaan
keuangan daerah Kota Semarang diatur dalam Perda Kota Semarang
Nomor 11 Tahun 2006 tentang Keuangan Daerah, sebagaimana telah
diubah dengan Peraturan Daerah Kota Semarang Nomor 5 Tahun 2013

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 III-1


GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH SERTA
KERANGKA PENDANAAN

tentang Perubahan Atas Peraturan Daerah Kota Semarang Nomor 11


Tahun 2006 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah.
Berdasarkan ketentuan tersebut, kinerja keuangan pemerintah
daerah terkait erat dengan aspek kinerja pelaksanaan APBD dan aspek
kondisi neraca daerah. Penyusunan APBD bertujuan untuk
menyelaraskan kebijakan ekonomi makro dan sumber daya yang
tersedia, mengalokasikan sumber daya secara tepat sesuai kebijakan
pemerintah dan mempersiapkan kondisi bagi pelaksanaan pengelolaan
anggaran secara baik. Dalam penyusunan APBD, terdapat beberapa
aspek yang perlu diperhatikan dalam penyusunan anggaran yaitu
penyelerasan antara kebijakan (policy), perencanaan (planning), dengan
penganggaran (budgeting) antara Pemerintah dengan pemerintah
daerah.
Kinerja pelaksanaan APBD tidak terlepas dari struktur dan akurasi
belanja (belanja langsung dan belanja tidak langsung) pendapatan
daerah yang meliputi Pendapatan Asli Daerah (PAD, Dana Perimbangan
dan Lain-lain pendapatan yang sah. Sementara itu neraca daerah akan
mencerminkan perkembangan dari kondisi asset pemerintah kota
Semarang, kondisi kewajiban pemerintah daerah serta kondisi ekuitas
dana yang tersedia.

3.1.1 Kinerja Pelaksanaan APBD


Struktur APBD Kota Semarang terdiri atas 3 (tiga) komponen
utama yaitu (1) Pendapatan, (2) Belanja, dan (3) Pembiayaan.Masing-
masing komponen memiliki struktur masing-masing sebagai berikut:

A. Pendapatan Daerah
Pendapatan Daerah merupakan hasil akumulasi dari Pendapatan
Asli Daerah, Pendapatan Transfer, dan Lain-lain Pendapatan yang Sah.
Pendapatan Asli Daerah terdiri dari beberapa komponen diantaranya
adalah: (1) Pajak Daerah, (2) Retribusi Daerah, (3) Hasil Pengelolaan
Kekayaan Daerah yang Dipisahkan, (4) Lain-lain PAD yang Sah.
Sedangkan Pendapatan Transfer Kota Semarang terdiri dari beberapa
komponen diantaranya: (1) Transfer Pemerintah Pusat – Dana
Perimbangan, yang terdiri dari (a) Dana Bagi Hasil Pajak, (b) Dana Bagi
Hasil Bukan Pajak (SDA), (c) Dana Alokasi Umum, dan (d) Dana Alokasi
Khusus. (2) Transfer Pemerintah Pusat yang terdiri dari (a) Dana

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 III-2


GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH SERTA
KERANGKA PENDANAAN

Otonomi Khusus, (b) Dana Penyesuaian, (3) Transfer Pemerintah


Provinsi yang terdiri dari (a) Pendapatan Bagi Hasil Pajak, (b)
Pendapatan Bagi Hasil Lainnya (bantuan keuangan propinsi/ pemda
lainnya). Lain-lain Pendapatan yang Sah terdiri dari beberapa
komponen diantaranya (1) Pendapatan Hibah, (2) Pendapatan Dana
Darurat, dan (3) Pendapatan Lainnya.

B. Belanja Daerah
Belanja Daerah Kota Semarang merupakan akumulasi dari belanja
langsung dan tidak langsung daerah Kota Semarang. Belanja Tidak
Langsung terdiri dari beberapa komponen: (a) Belanja pegawai, (b)
Belanja bunga, (c) Belanja Subsidi, (d) Belanja Hibah, (e) Belanja
bantuan sosial, (f) Belanja bagi hasil, (g) Belanja bantuan keuangan, (h)
Belanja tidak terduga. Sedangkan Belanja Langsung terdiri dari
beberapa komponen diantaranya (a) Belanja pegawai, (b) Belanja barang
dan jasa dan (c) Belanja modal.

C. Pembiayaan Daerah
Pembiayaan Daerah Kota Semarang merupakan selisih dari
penerimaan pembiayaan dan pengeluaran pembiayaan. Penerimaan
Pembiayaan terdiri dari beberapa komponen diantaranya adalah (a) Sisa
Lebih Perhitungan Tahun Anggaran sebelumnya, (b) Pencairan dana
cadangan, (c) Hasil penjualan kekayaan daerah yang dipisahkan, (d)
Penerimaan pinjaman daerah dan obligasi daerah, dan (e) Penerimaan
kembali pemberian pinjaman. Sedangkan Pengeluaran Pembiayaan
terdiri dari beberapa komponen diantaranya adalah (a) Pembentukan
dana cadangan, (b) Penyertaan modal (investasi) daerah, (c) Pembayaran
pokok utang, (d) Pembayaran kegiatan lanjutan, dan (e) Pengeluaran
perhitungan pihak ketiga.
Perkembangan APBD Kota Semarang dalam kurun waktu tahun
2010-2015 pada tabel 3.1, mengalami tren peningkatan dari tahun ke
tahun. Di tahun 2010 terlihat bahwa belanja daerah lebih besar dari
pendapatan, sedangkan untuk tahun 2011 hingga 2014 belanja daerah
lebih kecil dari pendapatan. Pembiayaan daerah mengalami kondisi
fluktuatif.

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 III-3


GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH SERTA
KERANGKA PENDANAAN
Tabel 3.1.
Ringkasan APBD Kota Semarang Tahun 2010-2015
KODE TAHUN
URAIAN
REK 2010 2011 2012 2013 2014 2015

PENDAPATAN
1 1.594.662.575.000 1.992.693.893.000 2.278.353.606.000 2.594.562.688.000 2.865.509.578.000 3.263.824.536.000
DAERAH
Pendapatan Asli
1.1 314.653.496.600 447.032.951.000 667.883.642.000 778.866.930.000 891.280.705.000 1.107.053.257.000
Daerah
1.1.1 Pajak Daerah 162.510.000.000 286.576.562.000 501.850.000.000 587.050.000.000 642.700.000.000 783.000.000.000
1.1.2 Retribusi Daerah 83.247.627.000 87.178.314.000 96.899.998.000 104.730.906.000 104.484.420.000 103.340.009.000
Hasil Pengolahan
1.1.3 Kekayaan Daerah 5.338.489.000 6.005.800.000 6.361.379.000 6.872.760.000 7.989.867.000 9.306.898.000
Yang dipisahkan
Lain-lain PAD
1.1.4 63.557.380.600 67.272.275.000 62.772.265.000 80.213.264.000 136.106.418.000 211.406.350.000
yang Sah
Dana
1.2 947.735.972.000 997.281.109.000 1.107.004.326.000 1.219.637.347.000 1.266.631.093.000 1.306.428.964.000
Perimbangan
Dana Bagi Hasil
1.2.1 276.700.000.000 232.621.304.000 97.310.000.000 114.600.538.000 120.850.000.000 125.281.000.000
Pajak
Dana bagi Hasil
557.500.000 557.500.000 557.500.000 1.057.500.000 2.059.000.000 2.200.000.000
Bukan Pajak
Dana Alokasi
1.2.2 640.186.272.000 715.700.805.000 936.865.926.000 1.054.002.569.000 1.104.739.473.000 1.126.847.634.000
Umum
Dana Alokasi
1.2.3 30.292.200.000 48.401.500.000 72.270.900.000 49.976.740.000 38.982.620.000 52.100.330.000
Khusus
Lain-lain
1.3 Pendapatan 332.273.106.400 548.379.833.000 503.465.638.000 596.058.411.000 707.597.780.000 850.342.315.000
Daerah Yang Sah
1.3.1 Hibah - - - - - -
1.3.2 Dana Darurat - - - - - -
Dana Bagi Hasil
Pajak dari
1.3.3 149.904.264.000 221.149.709.000 222.401.850.000 244.901.850.000 345.255.000.000 392.158.000.000
Propinsi atau
Kabupaten/Kota
Dana Penguatan
Desentralisasi
1.3.4 - 238.671.449.000 191.552.502.000 266.894.650.000 283.917.499.000 355.298.952.000
Fiskal &
Percepatan

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 III-4


GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH SERTA
KERANGKA PENDANAAN

KODE TAHUN
URAIAN
REK 2010 2011 2012 2013 2014 2015
Pembangunan
Daerah
Bantuan
Keuangan dari
1.3.5 propinsi atau 182.368.842.400 88.558.675.000 89.511.286.000 84.261.911.000 78.425.281.000 82.155.340.000
Pemerintah
Daerah Lainnya
Dana Insentif
1.3.6 - - - 20.730.023.000
Daerah
BELANJA
2 1.898.877.510.618 2.260.097.665.000 2.418.386.486.000 3.184.087.019.000 3.727.961.283.850 4.358.328.271.526
DAERAH
Belanja Tidak
2.1 1.056.178.207.618 1.193.449.007.000 1.192.089.486.000 1.329.550.219.000 1.350.905.524.850 1.683.530.502.900
Langsung
Belanja Pegawai
2.1.1 905.852.577.618 1.023.178.319.000 1.122.536.681.000 1.261.572.130.000 1.271.120.556.150 1.508.021.694.600

2.1.2 Belanja Bunga 1.080.000.000 1.080.000.000 7.728.937.000 1.000.000.000 250.000.000 -


2.1.3 Belanja Subsidi - - - - - -
Belanja Hibah
2.1.4 36.155.450.000 52.120.625.000 38.822.367.000 43.719.559.000 57.956.904.850 80.633.775.000
Belanja Bantuan
2.1.5 110.801.612.000 114.781.495.000 18.964.745.000 4.006.400.000 7.794.905.000 4.875.000.000
Sosial
2.1.6 Belanja Bagi Hasil - - - - - -
Belanja Bantuan
2.1.7 788.568.000 788.568.000 788.567.000 788.567.000 870.105.000 984.262.000
Keuangan
Belanja Tidak
2.1.8 1.500.000.000 1.500.000.000 3.248.189.000 18.463.563.000 22.461.480.000 89.015.771.300
Terduga
2.2 Belanja Langsung 842.699.303.000 1.066.648.658.000 1.226.297.000.000 1.854.536.800.000 2.377.055.759.000 2.674.797.768.626
2.2.1 Belanja Pegawai 113.076.690.036 142.332.362.493 155.162.265.834 172.175.946.224 137.673.630.082 159.188.977.295
Belanja Barang
2.2.2 423.396.196.962 511.950.960.112 521.907.006.751 632.619.454.779 928.942.801.796 1.166.259.301.809
dan Jasa
2.2.3 Belanja Modal 306.226.416.002 412.365.335.395 549.227.727.415 1.049.741.398.997 1.310.439.327.122 990.118.124.350
PEMBIAYAAN
3 304.214.935.618 267.403.772.000 140.032.880.000 589.524.331.000 872.000.132.000 1.094.503.735.526
DAERAH NETTO
3.1 PENERIMAAN
313.114.935.618 272.303.772.000 207.718.808.732 635.424.331.000 920.179.046.000 1.136.190.735.526
PEMBIAYAAN

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 III-5


GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH SERTA
KERANGKA PENDANAAN

KODE TAHUN
URAIAN
REK 2010 2011 2012 2013 2014 2015
3.1.1 Pengunaan SILPA 313.114.935.618 195.198.552.000 207.718.808.732 635.424.331.000 912.721.021.842 1.073.208.844.976
Pencairan Dana
3.1.2 - - - - 7.458.024.158 62.981.890.550
Cadangan
Hasil Penjualan
3.1.3 Kekayaan Daerah - - - - - -
yang Dipisahkan
Penerimaan
3.1.4 - - - - - -
Pinjaman Daerah
Penerimaan
Kembali
3.1.5 - 77.105.220.000 - - - -
Pemberian
Pinjaman Daerah
3.2 PENGELUARAN
8.900.000.000 4.900.000.000 67.685.928.732 45.900.000.000 48.178.914.000 41.686.000.000
PEMBIAYAAN
3.2.1 Pembentukan
- - 30.000.000.000 15.000.000.000 25.439.914.000 0
Dana Cadangan
Penyertaan Modal
3.2.2 Pemerintah 7.000.000.000 3.000.000.000 35.000.000.000 29.000.000.000 20.839.000.000 41.686.000.000
Daerah
Pembayaran
3.2.3 1.900.000.000 1.900.000.000 1.900.000.000 1.900.000.000 1.900.000.000 1.000.000
Pokok Hutang
Pemberian
3.2.4 - - - - - -
Pinjaman Daerah
Pengembalian sisa
3.2.5 - - 785.928.732 - - -
dana DPPID
Sisa Lebih
Pembiayaan
101 Anggaran Tahun 0 0 0 0 0 0
Berkenaan
(SILPA)

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 III-6


GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH SERTA
KERANGKA PENDANAAN
Tabel 3.2.
Ringkasan Realisasi APBD Kota Semarang Tahun 2010-2015

TAHUN Rata2
KODE
URAIAN Kenaikan
REK 2010 2011 2012 2013 2014 2015 Realisasi
PENDAPATAN
1 1.623.567.254.798 2.053.919.562.042 2.533.676.148.800 2.796.570.726.860 3.166.016.041.565 3.390.172.448.717 16,11%
DAERAH
Pendapatan
1.1 327.992.258.750 521.538.058.477 779.616.535.594 925.919.310.506 1.138.367.228.493 1.244.594.020.738 31,91%
Asli Daerah
1.1.1 Pajak Daerah 177.680.372.947 360.084.128.238 597.519.522.248 683.708.489.950 791.509.586.089 816.208.853.784 40,38%
Retribusi
1.1.2 80.559.886.995 84.487.321.935 84.877.260.948 102.785.108.993 110.491.080.293 89.728.179.483 3,03%
Daerah
Hasil
Pengolahan
1.1.3 Kekayaan 6.210.426.962 5.981.529.358 6.777.319.253 7.650.778.888 8.036.099.560 10.530.576.700 11,72%
Daerah Yang
dipisahkan
Lain-lain PAD
1.1.4 63.541.571.846 70.985.078.946 90.442.433.144 131.774.932.675 228.330.462.551 328.126.410.771 40,36%
yang Sah
Dana
1.2 967.153.006.791 969.374.571.789 1.167.239.525.118 1.191.097.523.757 1.274.767.390.279 1.270.371.271.674 5,87%
Perimbangan
Dana Bagi Hasil
1.2.1 295.955.494.744 204.199.594.973 156.564.967.132 120.223.608.244 137.759.893.153 95.124.155.500 -18,78%
Pajak
Dana bagi Hasil
719.040.047 1.072.671.816 1.537.731.986 1.878.324.513 3.031.059.126 1.738.332.174 26,68%
Bukan Pajak
Dana Alokasi
1.2.2 640.186.272.000 715.700.805.000 936.865.926.000 1.054.002.569.000 1.104.739.473.000 1.126.847.634.000 12,40%
Umum
Dana Alokasi
1.2.3 30.292.200.000 48.401.500.000 72.270.900.000 14.993.022.000 29.236.965.000 46.661.150.000 36,89%
Khusus
Lain-lain
Pendapatan
1.3 328.421.989.257 563.006.931.776 586.820.088.088 679.553.892.597 752.881.422.793 875.207.156.305 23,70%
Daerah Yang
Sah
1.3.1 Hibah - - - - - - -
1.3.2 Dana Darurat - - - - - - -
Dana Bagi Hasil
Pajak dari
1.3.3 Propinsi atau 152.436.681.857 234.691.238.426 309.030.650.088 266.894.650.000 399.557.971.017 432.645.344.655 26,00%
Kabupaten/
Kota

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 III-7


GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH SERTA
KERANGKA PENDANAAN

TAHUN Rata2
KODE
URAIAN Kenaikan
REK 2010 2011 2012 2013 2014 2015 Realisasi
Dana Penguatan
Desentralisasi
Fiskal &
1.3.4 - 239.992.018.350 191.552.502.000 329.977.231.976 283.917.499.000 355.298.952.000 32,76%
Percepatan
Pembangunan
Daerah
Bantuan
Keuangan dari
1.3.5 propinsi atau 175.985.307.400 88.323.675.000 86.236.936.000 82.682.010.621 69.405.952.776 82.155.340.000 -10,80%
Pemerintah
Daerah Lainnya
Dana Insentif
1.3.6 - - - 5.107.519.650
Daerah
BELANJA
2 1.732.662.151.376 2.036.582.638.750 2.053.334.797.225 2.473.490.609.437 2.957.432.639.078 3.018.858.152.493 12,09%
DAERAH
Belanja Tidak
2.1 1.014.661.219.765 1.143.176.142.944 1.125.140.641.858 1.189.315.029.305 1.294.686.029.499 1.361.662.523.163 6,16%
Langsung
2.1.1 Belanja Pegawai 874.593.479.502 986.366.107.310 1.085.345.253.318 1.142.988.541.942 1.171.769.031.216 1.323.678.903.513 8,72%
2.1.2 Belanja Bunga 1.080.000.000 764.141.700 723.905.100 378.295.400 250.000.000 - -43,23%
2.1.3 Belanja Subsidi - - - - - - 0,00%
2.1.4 Belanja Hibah 32.681.440.321 50.113.503.179 30.708.338.580 41.621.315.866 113.718.345.363 34.097.478.825 30,67%
Belanja
2.1.5 105.517.732.817 104.553.067.830 7.485.436.900 2.731.600.000 6.301.500.000 1.998.500.000 -18,97%
Bantuan Sosial
Belanja Bagi
2.1.6 - - - - - - 0,00%
Hasil
Belanja
2.1.7 Bantuan 788.567.125 788.567.125 788.567.000 788.567.000 870.104.900 865.658.275 1,97%
Keuangan
Belanja Tidak
2.1.8 - 590.755.800 89.140.960 806.709.097 1.777.048.020 1.021.982.550 199,47%
Terduga
Belanja
2.2 718.000.931.611 893.406.495.806 928.194.155.367 1.284.175.580.132 1.662.746.609.579 1.657.195.629.330 19,16%
Langsung
2.2.1 Belanja Pegawai 102.476.916.441 125.947.959.518 129.902.913.654 147.891.489.190 135.165.891.359 133.048.408.412 5,94%
Belanja Barang
2.2.2 399.034.924.073 461.754.142.715 446.437.459.464 545.272.678.680 727.399.487.313 838.106.540.994 16,63%
dan Jasa
2.2.3 Belanja Modal 216.489.091.097 305.704.393.573 351.853.782.249 591.011.412.262 800.181.230.907 686.040.679.924 29,08%

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 III-8


GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH SERTA
KERANGKA PENDANAAN

TAHUN Rata2
KODE
URAIAN Kenaikan
REK 2010 2011 2012 2013 2014 2015 Realisasi
3 PEMBIAYAAN
DAERAH
304.293.447.418 190.381.885.440 155.116.218.198 589.640.904.421 864.625.442.489 1.031.521.970.234 58,02%
NETTO (= 3.1 -
3.2)
3.1 PENERIMAAN
313.114.935.618 195.198.550.840 207.718.808.732 635.457.569.774 912.721.021.842 1.073.208.844.976 47,18%
PEMBIAYAAN
Pengunaan
3.1.1 313.114.935.618 195.198.550.840 207.718.808.732 635.457.569.772 912.721.021.842 1.073.208.844.976 47,18%
SILPA
Pencairan Dana
3.1.2 - - - - - -
Cadangan
Hasil Penjualan
Kekayaan
3.1.3 - - - - - - -
Daerah yang
Dipisahkan
Penerimaan
3.1.4 Pinjaman - - - - - - -
Daerah
Penerimaan
Kembali
3.1.5 Pemberian - - - - - - -
Pinjaman
Daerah
3.2 PENGELUARAN
8.821.488.200 4.816.665.400 52.602.590.534 45.816.665.353 48.095.579.353 41.686.874.742 185,09%
PEMBIAYAAN
3.2.1 Pembentukan
- - 30.000.000.000 15.000.000.000 25.439.914.000 0
Dana Cadangan
Penyertaan
Modal
3.2.2 7.000.000.000 3.000.000.000 20.000.000.000 29.000.000.000 20.839.000.000 41.686.000.000 125,28%
Pemerintah
Daerah
Pembayaran
3.2.3 1.821.488.200 1.816.665.400 1.816.665.500 1.816.665.353 1.816.665.353 874.742 -20,04%
Pokok Hutang
Pemberian
3.2.4 Pinjaman - - - - - - -
Daerah
Pengembalian
3.2.5 - - 785.925.034 - - - -
sisa dana DPPID

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 III-9


GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH SERTA
KERANGKA PENDANAAN

TAHUN Rata2
KODE
URAIAN Kenaikan
REK 2010 2011 2012 2013 2014 2015 Realisasi
Sisa Lebih
Pembiayaan
101 Anggaran Tahun 195.198.550.840 207.718.808.732 635.457.569.773 912.721.021.845 1.073.208.844.977 1.402.836.266.458
Berkenaan
(SILPA)
Catatan : Data 2015 LKPJ 2016
Sumber: DPKAD Kota Semarang, 2010-2015 (diolah, 2015)

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 III-10


GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH SERTA
KERANGKA PENDANAAN

3.1.1.1 Pendapatan Daerah

Pendapatan Daerah Kota Semarang mengalami tren


peningkatan tiap tahunnya, rata-rata pertumbuhan realisasi
pendapatan daerah Kota Semarang Tahun 2010 sampai dengan
tahun 2015 sebesar 16,11%. Pertumbuhan pada masing-masing pos
penerimaan pendapatan mengalami pertumbuhan yang positif, PAD
mengalami pertumbuhan rata-rata sebesar 31,91%, Dana
Perimbangan Daerah Kota Semarang mengalami pertumbuhan rata-
rata sebesar 5,87%, dan Pendapatan Daerah yang berasal dari Lain-
lain Pendapatan Daerah Yang Sah mengalami pertumbuhan rata-
rata sebesar 23,70%.
Dilihat dari pertumbuhan Penerimaan PAD 5 (lima) tahun
terakhir (2010-2015) mengalami pertumbuhan sebesar 31,91% per
tahun atau melebih target yang ditetapkan dalam RPJMD 2010-2015
yakni sebesar 12,5% pertahun. Peningkatan ini terjadi disebabkan
oleh kebijakan pemerintah pusat berkaitan Pajak Bea Perolehan Hak
Atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) dan penambahan dari Pajak
Bumi dan Bangunan (PBB) yang semula berada di pos Dana
Perimbangan bergeser ke Pos Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang
dimulai tahun 2011, sehingga Pendapatan Asli Daerah pada Pos
Pajak Daerah mengalami kenaikan yang sangat signifikan.
Dari kontribusi penerimaan PAD terhadap APBD secara total
selama kurun waktu 5 (lima) tahun terakhir mengalami peningkatan
dari tahun 2010 sebesar 20,20% menjadi 36,53% pada tahun 2015,
hal ini menunjukan ketergantungan Pemerintah Kota Semarang
terhadap Dana Perimbangan dan Pendapatan lain yang sah semakin
menurun.
Hasil perhitungan kontribusi realisasi masing-masing
komponen pendapatan daerah terhadap total pendapatan daerah
menunjukan bahwa Dana Perimbangan memiliki rata-rata
pertumbuhan terendah yakni hanya 5,87%. Sementara itu rata-rata
pertumbuhan PAD sebesar 31,91% tanpa mengurangi komponen
PBB-BPHTB sedangkan Lain-Lain Pendapatan Daerah yang Sah
sebesar 23,70%.

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 III-11


GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH SERTA
KERANGKA PENDANAAN

Jika dirinci per sub komponen, gambar 3.1 menyajikan tentang


kontribusi masing-masing sub komponen pendapatan daerah dirinci
per sub komponen.

RATA-RATA RATA-RATA

RATA-RATA

Sumber: DPKAD Kota Semarang (diolah, 2015)

Gambar 3.1
Rata-rata Pertumbuhan Pendapatan Daerah 2010-2015 Dilihat Dari
Masing-masing Komponen

Untuk Pendapatan Asli Daerah, kontribusi terbesar diberikan


dari Pajak Daerah dengan persentase kontribusi rata-rata sebesar
51%. Disusul oleh Lain-lain Pendapatan Asli Daerah Yang Sah
dengan kontribusi sebesar 32%. Hal ini dikarenakan pada tahun
2011 ada penambahan kontribusi Pajak Daerah dari Pajak Bea
Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) dan di tahun
2012 ada penambahan dari Pajak Bumi dan Bangunan (PBB).
Penambahan menyebabkan anomali pertumbuhan di tahun 2011
dan 2012. Apabila disandingkan, analisa perbandingan Pendapatan
Asli Daerah sebagai berikut :

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 III-12


GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH SERTA
KERANGKA PENDANAAN

Gambar 3.2
Persandingan Rata-rata Pertumbuhan PAD 2010-2015 Dengan Dan
Tanpa Komponen PBB & BPHTB

Pendapatan pajak daerah terbesar berasal dari pengelolaan


BPHTB dan PBB Pedesaan Dan Perkotaan ternyata memiliki
kontribusi yang cukup signifikan. Di tahun 2014, perolehan
pendapatan pajak daerah dari BPHTB meningkat 64,7% di tahun
2014 dari realisasi tahun 2011. Sementara itu, PBB Pedesaan dan
Perkotaan meningkat 60,5% di tahun 2014 dari realisasi tahun 2011.
Jika dilakukan perbandingan antara realisasi dengan target
pendapatan, realisasi anggaran pendapatan daerah Kota Semarang
telah melampaui target yang telah ditetapkan dimana antara tahun
2010-2015 rata-rata realisasi mencapai 106,37%. Realisasi
pendapatan tertinggi dicapai di tahun 2012 dengan persentase
realisasi mencapai 111,21%. Persentase realisasi terendah dicapai di
tahun 2010 sebesar 101,81%.

Tabel 3.3.
Target dan Realisasi Pendapatan Daerah Kota Semarang
Tahun 2010 – 2015

Target Anggaran
Target RPJMD Realisasi Kelebihan/
Tahun Pendapatan Daerah %
2010-2015 Pendapatan Daerah Kekurangan
(APBD-P)
2010 1.378.069.725.000 1.594.662.575.000 1.623.567.254.798 101,81% 28.904.679.798
2011 1.713.581.233.923 1.992.693.893.000 2.053.919.562.042 103,07% 61.225.669.042
2012 1.928.691.520.339 2.278.353.606.000 2.533.676.148.800 111,21% 255.322.542.800
2013 2.107.776.916.723 2.594.562.688.000 2.796.570.726.860 107,79% 202.008.038.860
2014 2.304.734.720.409 2.865.509.578.000 3.166.016.041.565 110,49% 300.506.463.565
2015* 2.552.029.032.166 3.263.824.536.000 3.390.172.448.717 103,87% 126.347.912.717
Total 11.984.883.148.560 14.589.606.876.000 15.563.922.182.783 106,37% 974.315.306.783
*Data unaudited
Sumber: DPKAD Kota Semarang 2010-2015 (diolah, 2015)

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 III-13


GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH SERTA
KERANGKA PENDANAAN

Jika dirinci per masing-masing komponen, maka target dan


realisasi masing-masing komponen pendapatan daerah adalah
sebagai berikut:
a) Pendapatan Asli Daerah
Selama periode Tahun Anggaran 2010-2015, total target
anggaran PAD berdasarkan RPJMD 2010-2015 sebesar Rp
3.762.916.462.555.- dan APBD-P 2010-2015 sebesar Rp
4.206.770.981.600,-. Realisasinya lebih besar dari target yakni
sebanyak Rp. 4.938.027.412.559,-atau sebanyak 116,11%. Realisasi
anggaran PAD tertinggi terjadi di tahun 2014 dengan angka realisasi
127,72% dan terendah adalah realisasi di tahun 2010 yang hanya
104,24%.

Tabel 3.4.
Target dan Realisasi Pendapatan Asli Daerah Kota Semarang
Tahun 2010 – 2015
Target RPJMD Target Anggaran Kelebihan/
Tahun Realisasi PAD %
2010-2015 PAD (APBD-P) Kekurangan
2010 294.383.726.298 314.653.496.600 327.992.258.750 104,24% 13.338.762.150
2011 427.311.654.923 447.032.951.000 521.538.058.477 116,67% 74.505.107.477
2012 631.317.018.562 667.883.642.000 779.616.535.594 116,73% 111.732.893.594
2013 711.276.812.452 778.866.930.000 925.919.310.506 118,88% 147.052.380.506
2014 799.162.912.447 891.280.705.000 1.138.367.228.493 127,72% 247.086.523.493
2015* 899.464.337.873 1.107.053.257.000 1.244.594.020.738 112,42% 137.540.763.738
Total 3.762.916.462.555 4.206.770.981.600 4.938.027.412.559 116,11% 731.256.430.959
*Data unaudited
Sumber: DPKAD Kota Semarang 2010-2015 (diolah, 2015)

Pajak daerah merupakan kontribusi wajib kepada Daerah yang


terutang dari orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa
berdasarkan Undang-Undang, dengan tidak mendapatkan imbalan
secara langsung dan digunakan untuk keperluan Daerah bagi
sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Pajak Daerah memiliki
beberapa jenis, yaitu:
1. Pajak Hotel
2. Pajak Restoran
3. Pajak Hiburan
4. Pajak Reklame
5. Pajak Penerangan Jalan
6. Pajak Pengambilan Bahan Galian C
7. Pajak Parkir

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 III-14


GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH SERTA
KERANGKA PENDANAAN

8. Pajak Air Tanah


9. Pajak sarang Burung Walet
10. Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan (BPHTB)
11. PBB Pedesaan dan Perkotaan

Gambar 3.3
Realisasi Pajak Daerah Tahun 2010-2015

Jika dilihat dari kondisinya, Pertumbuhan Pajak Daerah


cenderung sama dengan pertumbuhan PAD secara total.Dalam
kurun waktu 5 tahun, Pajak Daerah Kota Semarang tumbuh rata-
rata 40,38% dimana kenaikan tertinggi terjadi antara tahun 2011
dan 2012 pada saat Pemerintah Kota mendapat limpahan
Pendaerahan Pajak Pusat yaitu PBB dan BPHTB. Pajak daerah
dipengaruhi oleh gejolak perekonomian dimana melemahnya
aktivitas perekonomian akan berpengaruh signifikan pada kondisi
pajak daerah. Di Kota Semarang, jenis pajak daerah berupa BPHTB
baru masuk kedalam komponen pajak daerah pada tahun 2011 dan
jenis pajak daerah PBB masuk kedalam komponen pajak daerah
pada tahun 2012 sehingga berpengaruh terhadap kondisi
keseluruhan pajak daerah. Di sisi lain kondisi perbandingan Pajak
Daerah yang sejalan dengan PAD juga mengindikasikan bahwa pajak
daerah memiliki kontribusi cukup signifikan bagi PAD sehingga turut
mempengaruhi pola pergerakan tren pendapatan daerah.
Pajak Daerah Kota Semarang, pada tahun 2010 hingga 2015
mengalami pertumbuhan rata-rata sebesar 116,32%.

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 III-15


GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH SERTA
KERANGKA PENDANAAN

Tabel 3.5.
Target dan Realisasi Pajak Daerah Kota Semarang
Tahun 2010 – 2015
Target Anggaran
Target RPJMD Realisasi Pajak Kelebihan/
Tahun Pajak Daerah %
2010-2015 Daerah Kekurangan
(APBD-P)
2010 155.760.000.000 162.510.000.000 177.680.372.947 109,34% 15.170.372.947
2011 275.562.250.000 286.576.562.000 360.084.128.238 125,65% 73.507.566.238
2012 460.007.531.250 501.850.000.000 597.519.522.248 119,06% 95.669.522.248
2013 517.508.472.656 587.050.000.000 683.708.489.950 116,47% 96.658.489.950
2014 582.197.031.738 642.700.000.000 791.509.586.089 123,15% 148.809.586.089
2015* 654.971.660.706 783.000.000.000 816.208.853.784 104,24% 33.208.853.784
Total 2.646.006.946.350 2.963.686.562.000 3.426.710.953.256 116,32% 463.024.391.256
*Data unaudited
Sumber: DPKAD Kota Semarang 2010-2015 (diolah, 2015)

Komponen lain dari PAD adalah retribusi daerah. Retribusi


Daerah adalah pungutan daerah sebagai pembayaran atas jasa atau
pemberian izin tertentu yang khusus disediakan dan atau diberikan
oleh Pemerintah Daerah untuk kepentingan orang pribadi atau
badan. Dalam kurun waktu tahun 2010-2015 retribusi daerah
mengalami pertumbuhan rata-rata 3,03%. Pertumbuhan Retribusi
Daerah cenderung tidak sejalan dengan pola pertumbuhan PAD,
dikarenakan PAD yang bersumber dari Retribusi Daerah lebih
banyak dipengaruhi olehfaktor intern mencakup komitmen
Pemerintah Daerah dalam melaksanakan aturan pemungutan
Retribusi Daerah dan juga kepatuhan masyarakat untuk membayar
Retribusi Daerah.
Realisasi retribusi daerah tahun 2010 sampai 2015 mengalami
realisasi sebesar 95,33%. Realisasi terendah ada di tahun 2015
dengan persentase realisasi 86,83%.

Tabel 3.6.
Target dan Realisasi Retribusi Daerah Kota Semarang
Tahun 2010 – 2015
Target Anggaran
Target RPJMD Realisasi Kelebihan/
Tahun Retribusi Daerah %
2010-2015 Retribusi Daerah Kekurangan
(APBD-P)
2010 82.057.313.000 83.247.627.000 80.559.886.995 96,77% (2.687.740.005)
2011 84.253.796.954 87.178.314.000 84.487.321.935 96,91% (2.690.992.065)
2012 94.785.521.573 96.899.998.000 84.877.260.948 87,59% (12.022.737.052)
2013 106.633.711.769 104.730.906.000 102.785.108.993 98,14% (1.945.797.007)
2014 119.962.925.740 104.484.420.000 110.491.080.293 105,75% 6.006.660.293
2015* 134.958.291.458 103.340.009.000 89.728.179.483 86,83% (13.611.829.517)
Total 622.651.560.494 579.881.274.000 552.928.838.647 95,33% (26.952.435.353)
*Data unaudited
Sumber: DPKAD Kota Semarang 2010-2015 (diolah, 2015)

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 III-16


GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH SERTA
KERANGKA PENDANAAN

Komponen lain dari PAD adalah Hasil pengelolaan Kekayaan


daerah yang dipisahkan. Dalam kurun waktu tahun 2010-2015 hasil
pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan mengalami
pertumbuhan rata-rata 11,72%. Jika dilihat dari kondisinya,
realisasi PAD dan hasil pengelolaan kekayaan daerah yang
dipisahkan berjalan kurang seimbang. Ini dikarenakan laba yang
diperoleh BUMD belum sejalan dengan perusahaan pada umumnya.
Kondisi target dan realisasi hasil pengelolaan kekayaan daerah
yang dipisahkan selama tahun 2010 hingga 2015 mengalami rata-
rata realisasi 107,91% per tahun, dimana realisasi tertinggi ada di
tahun 2010 sebesar 116,33% dan realisasi terendah ada di tahun
2011 sebesar 99,60%.

Tabel 3.7.
Target dan Realisasi Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang
Dipisahkan Kota Semarang Tahun 2010 – 2015
Target
Anggaran Hasil Realisasi Hasil
Target RPJMD Pengelolaan Pengelolaan Kelebihan/
Tahun %
2010-2015 Kekayaan Kekayaan Kekurangan
Daerah (APBD- Daerah
P)
2010 5.338.489.338 5.338.489.000 6.210.426.962 116,33% 871.937.962
2011 6.005.800.505 6.005.800.000 5.981.529.358 99,60% (24.270.642)
2012 7.974.557.342 6.361.379.000 6.777.319.253 106,54% 415.940.253
2013 10.016.543.579 6.872.760.000 7.650.778.888 111,32% 778.018.888
2014 10.245.109.967 7.989.867.000 8.036.099.560 100,58% 46.232.560
2015* 11.931.810.081 9.306.898.000 10.530.576.700 113,15% 1.223.678.700
Total 51.512.310.812 41.875.193.000 45.186.730.721 107,91% 3.311.537.721
*Data unaudited
Sumber: DPKAD Kota Semarang 2010-2015 (diolah, 2015)

Komponen PAD yang terakhir adalah Lain-Lain PAD yang Sah.


kondisi realisasi Lain-Lain PAD yang Sah tahun 2010 sampai dengan
tahun 2015 realisasinya mencapai 139,47% per tahun. Realisasi
terendah di tahun 2010 yang hanya sebesar 99,98% dan yang
tertinggi di tahun 2015 dengan realisasi sebesar 167,76%.

Tabel 3.8.
Target dan Realisasi Lain-Lain PAD yang Sah Kota Semarang
Tahun 2010 – 2015
Target Anggaran Realisasi Lain-
Target RPJMD Kelebihan/
Tahun Lain-Lain PAD yang Lain PAD yang %
2010-2015 Kekurangan
Sah (APBD-P) Sah
2010 51.227.923.960 63.557.380.600 63.541.571.846 99,98% (15.808.754)
2011 61.489.807.464 67.272.275.000 70.985.078.946 105,52% 3.712.803.946

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 III-17


GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH SERTA
KERANGKA PENDANAAN

Target Anggaran Realisasi Lain-


Target RPJMD Kelebihan/
Tahun Lain-Lain PAD yang Lain PAD yang %
2010-2015 Kekurangan
Sah (APBD-P) Sah
2012 68.549.408.397 62.772.265.000 90.442.433.144 144,08% 27.670.168.144
2013 77.118.084.447 80.213.264.000 131.774.932.675 164,28% 51.561.668.675
2014 86.757.845.002 136.106.418.000 228.330.462.551 167,76% 92.224.044.551
2015 97.602.575.628 211.406.350.000 328.126.410.771 155,21% 116.720.060.771
Total 442.745.644.898 621.327.952.600 913.200.889.933 139,47% 291.872.937.333
*Data unaudited
Sumber: DPKAD Kota Semarang 2010-2015 (diolah, 2015)

b) Dana Perimbangan
Dana Perimbangan adalah dana yang bersumber dari
pendapatan APBN yang dialokasikan kepada Daerah untuk
mendanai kebutuhan Daerah dalam rangka pelaksanaan
Desentralisasi, terdiri atas dana Bagi Hasil; dana Alokasi Umum;
dan dana Alokasi Khusus. DAU dan DBH jenis transfer dana dari
Pemerintah Pusat kepada daerah yang bersifat block grant (bantuan
umum) sedangkan DAK adalah jenis transfer dana dari Pemerintah
kepada daerah yang bersifat specific grant (bantuan spesifik).
Selama periode Tahun Anggaran 2010-2015, total target
anggaran Dana Perimbangan RPJMD sebesar Rp.
6.168.647.439.234,. Realisasi sebesar Rp. 6.840.003.289.408,- atau
terealisasi sebesar 100,04%. Realisasi terbesar terjadi tahun 2012
yang realisasinya mencapai 105,44%, dan yang paling rendah pada
tahun 2011 yakni sebesar 97,20%.

Tabel 3.9.
Target dan Realisasi Dana Perimbangan
Kota Semarang 2010-2015
Target Anggaran
Target RPJMD Realisasi Dana Kelebihan/
Tahun Dana Perimbangan %
2010-2015 Perimbangan Kekurangan
(APBD-P)
2010 890.476.695.702 947.735.972.000 967.153.006.791 102,05% 19.417.034.791
2011 953.040.271.000 997.281.109.000 969.374.571.789 97,20% (27.906.537.211)
2012 933.035.963.700 1.107.004.326.000 1.167.239.525.118 105,44% 60.235.199.118
2013 1.026.313.892.070 1.219.637.347.000 1.191.097.523.757 97,66% (28.539.823.243)
2014 1.127.716.714.077 1.266.631.093.000 1.274.767.390.279 100,64% 8.136.297.279
2015* 1.238.063.902.685 1.306.428.964.000 1.270.371.271.674 97,24% (36.057.692.326)
Total 6.168.647.439.234 6.844.718.811.000 6.840.003.289.408 100,04% (4.715.521.592)
*Data unaudited
Sumber: DPKAD Kota Semarang 2010-2015 (diolah, 2015)

Dana Perimbangan tahun 2010 hingga tahun 2015 tumbuh


rata-rata sebesar 5,87% per tahun, dengan kontribusi terbesar dari
Dana Alokasi Umum dengan peningkatan rata-rata sebesar 12,40%
per tahun. Besarnya Dana Perimbangan yang diterima, ditentukan

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 III-18


GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH SERTA
KERANGKA PENDANAAN

oleh Pemerintah setiap tahunnya dengan memperhitungkan potensi


objek pendapatan yang belum tergali.
Komponen pertama dari Dana Perimbangan adalah Dana Bagi
Hasil Pajak, selama tahun 2010 sampai dengan 2015 Dana Bagi
Hasil Pajak terealisasi sebesar 108,41% dimana realisasi terbesar di
tahun 2012 yakni sebesar 160,89% dan realisasi terendah di tahun
2015 yang hanya sebesar 75,93%. Ini dikarenakan beberapa jenis
Bagi Hasil Pajak seperti Bagi Hasil Pajak PBB dan Bagi Hasil Pajak
PPh OPDN dan Pasal 21 nilainya dibawah target anggaran
sebelumnya.

Tabel 3.10.
Target dan Realisasi Dana Bagi Hasil Pajak Kota Semarang
Tahun 2010 – 2015
Target Anggaran
Realisasi Dana Kelebihan/
Target RPJMD Dana Bagi Hasil %
Tahun Bagi Hasil Pajak Kekurangan
2010-2015 Pajak
(APBD-P)
2010 219.440.723.702 276.700.000.000 295.955.494.744 106,96% 19.255.494.744
2011 188.121.304.000 232.621.304.000 204.199.594.973 87,78% (28.421.709.027)
2012 96.521.000.000 97.310.000.000 156.564.967.132 160,89% 59.254.967.132
2013 111.043.332.000 114.600.538.000 120.223.608.244 104,91% 5.623.070.244
2014 125.814.998.000 120.850.000.000 137.759.893.153 113,99% 16.909.893.153
2015* 140.867.915.000 125.281.000.000 95.124.155.500 75,93% (30.156.844.500)
Total 881.809.272.702 967.362.842.000 1.009.827.713.746 108,41% 42.464.871.746
*Data unaudited
Sumber: DPKAD Kota Semarang 2010-2015 (diolah, 2015)

Komponen Dana Perimbangan kedua adalah Dana Bagi Hasil


Bukan Pajak atau SDA, realisasi Dana Bagi Hasil SDA dalam kurun
waktu 2010 sampai 2015 sebesar 166,84% dimana realisasi
terendah di tahun 2015 sebesar 79,02% dan realisasi terbesar di
tahun 2012 sebesar 275,83%. Ini dikarenakan realisasi dari jenis
Bagi Hasil dari Iuran Eksplorasi nilainya cukup tinggi melebihi target
anggaran sebelumnya.

Tabel 3.11.
Target dan Realisasi Dana Bagi Hasil SDA Tahun 2010 – 2015
Target
Realisasi Dana
Anggaran Kelebihan/
Target RPJMD Bagi Hasil %
Tahun Dana Bagi Kekurangan
2010-2015 SDA
Hasil SDA
(APBD-P)
2010 557.500.000 557.500.000 719.040.047 128,98% 161.540.047
2011 557.500.000 557.500.000 1.072.671.816 192,41% 515.171.816
2012 557.500.000 557.500.000 1.537.731.986 275,83% 980.231.986

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 III-19


GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH SERTA
KERANGKA PENDANAAN

Target
Realisasi Dana
Anggaran Kelebihan/
Target RPJMD Bagi Hasil %
Tahun Dana Bagi Kekurangan
2010-2015 SDA
Hasil SDA
(APBD-P)
2013 557.500.000 1.057.500.000 1.878.324.513 177,62% 820.824.513
2014 557.500.000 2.059.000.000 3.031.059.126 147,21% 972.059.126
2015* 557.500.000 2.200.000.000 1.738.332.174 79,02% (461.667.826)
Total 3.345.000.000 6.989.000.000 9.977.159.662 166,84% 2.988.159.662
*Data unaudited
Sumber: DPKAD Kota Semarang 2010-2015 (diolah, 2015)

Komponen Dana Perimbangan selanjutnya adalah Dana


Alokasi Umum, realisasi DAU dalam kurun waktu tahun 2010
sampai dengan tahun 2015 sebesar 100% terhadap APBD-P. Alokasi
pendapatan daerah yang bersumber dari dana Perimbangan yang
diterima oleh Daerah, diatur dalam UU Nomor 33 tahun 2004
tentang Perimbangan Keuangan Pusat dan Keuangan Daerah.
DAU diberikan berdasarkan celah fiskal/keuangan dan alokasi
dasar. Celah fiskal/keuangan merupakan kebutuhan daerah yang
dikurangi dengan kapasitas fiskal/keuangan daerah. Kebutuhan
daerah merupakan variabel-variabel yang ditetapkan Undang-
Undang antara lain penduduk, luas wilayah,penduduk miskin dan
indeks harga, perhitungan kapasitas keuangan didasarkan atas PAD
dan Dana Bagi Hasil yang diterima daerah, sedangkan alokasi dasar
merupakan pemenuhan gaji PNS.

Tabel 3.12.
Target dan Realisasi Dana Alokasi Umum Kota Semarang
Tahun 2010 – 2015
Target Anggaran
Realisasi Dana Kelebihan/
Target RPJMD Dana Alokasi %
Tahun Alokasi Umum Kekurangan
2010-2015 Umum
(APBD-P)
2010 640.186.272.000 640.186.272.000 640.186.272.000 100,00% 0
2011 715.959.967.000 715.700.805.000 715.700.805.000 100,00% 0
2012 787.555.963.700 936.865.926.000 936.865.926.000 100,00% 0
2013 866.311.560.070 1.054.002.569.000 1.054.002.569.000 100,00% 0
2014 952.942.716.077 1.104.739.473.000 1.104.739.473.000 100,00% 0
2015* 1.048.236.987.685 1.126.847.634.000 1.126.847.634.000 100,00% 0
Total 5.011.193.466.532 5.578.342.679.000 5.578.342.679.000 100,00% 0
*Data unaudited
Sumber: DPKAD Kota Semarang 2010-2015 (diolah, 2015)

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 III-20


GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH SERTA
KERANGKA PENDANAAN

Komponen Dana Perimbangan selanjutnya adalah Dana


Alokasi Khusus. DAK merupakan usulan kegiatan dari daerah ke
Pemerintah Pusat sesuai dengan prioritas dan kebutuhan daerah.
Realisasi Dana Alokasi Khusus tahun 2010 sampai dengan tahun
2015 sebesar 82,43%.
Realisasi tahun 2010-2012 mencapai target 100%, dan
realisasi terendah pada tahun 2013 yang tercatat sebesar 30,00%.

Tabel 3.13.
Target dan Realisasi Dana Alokasi Khusus Kota Semarang
Tahun 2010 – 2015
Target Anggaran
Realisasi Dana Kelebihan/
Target RPJMD Dana Alokasi %
Tahun Alokasi Khusus Kekurangan
2010-2015 Khusus
(APBD-P)
2010 30.292.200.000 30.292.200.000 30.292.200.000 100,00% 0
2011 48.401.500.000 48.401.500.000 48.401.500.000 100,00% 0
2012 48.401.500.000 72.270.900.000 72.270.900.000 100,00% 0
2013 48.401.500.000 49.976.740.000 14.993.022.000 30,00% (34.983.718.000)
2014 48.401.500.000 38.982.620.000 29.236.965.000 75,00% (9.745.655.000)
2015* 48.401.500.000 52.100.330.000 46.661.150.000 89,56% (5.439.180.000)
Total 272.299.700.000 292.024.290.000 241.855.737.000 82,43% (50.168.553.000)
*Data unaudited
Sumber: DPKAD Kota Semarang 2010-2015 (diolah, 2015)
c) Lain-Lain Pendapatan Daerah yang Sah

Selama periode Tahun Anggaran 2010-2015, total target


anggaran Lain-Lain Pendapatan Daerah yang Sah berdasarkan
RPMD Kota Semarang Tahun 2010-2015 sebesar Rp
2.023.319.246.772,- dengan realisasi sebesar Rp3.785.891.480.816,-
atau sebesar 185,07%. Realisasi anggaran dibandingkan target
anggaran terbesar terjadi tahun 2015 mencapai 227,62% dan
terendah tahun 2012 sebesar 168,95%.
Tabel 3.14.
Target dan Realisasi Lain-Lain Pendapatan Daerah yang Sah
Kota Semarang Tahun 2010 – 2015
Target Anggaran
Realisasi Lain-Lain
Target RPJMD Lain-Lain Kelebihan/
Tahun Pendapatan %
2010-2015 Pendapatan Daerah Kekurangan
Daerah yang Sah
yang Sah (APBD-P)
2010 193.209.303.000 332.273.106.400 328.421.989.257 169,98% 135.212.686.257
2011 333.229.308.000 548.379.833.000 563.006.931.776 168,95% 229.777.623.776
2012 364.338.538.077 503.465.638.000 586.820.088.088 161,06% 222.481.550.011

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 III-21


GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH SERTA
KERANGKA PENDANAAN

Target Anggaran
Realisasi Lain-Lain
Target RPJMD Lain-Lain Kelebihan/
Tahun Pendapatan %
2010-2015 Pendapatan Daerah Kekurangan
Daerah yang Sah
yang Sah (APBD-P)
2013 370.186.212.202 596.058.411.000 679.553.892.597 183,57% 309.367.680.395
2014 377.855.093.884 707.597.780.000 752.881.422.793 199,25% 375.026.328.909
2015* 384.500.791.609 850.342.315.000 875.207.156.305 227,62% 490.706.364.696
Total 2.023.319.246.772 3.538.117.083.400 3.785.891.480.816 185,07% 1.762.572.234.044
*Data unaudited
Sumber: DPKAD Kota Semarang 2010-2015 (diolah, 2015)

Lain-Lain Pendapatan daerah yang Sah di Kota Semarang


bersumber dari beberapa komponen, yaitu Dana Bagi Hasil Pajak
dari Provinsi, Dana Penyesuaian dan Otonomi Khusus, Bantuan
Keuangan dari Propinsi atau Pemda lainnya dan Dana Insentif
Daerah. Kontribusi Lain-Lain Pendapatan daerah yang sah terbesar
berasal dari Dana Bagi Hasil Pajak Dari Provinsi atau Pemerintah
Daerah Lainnya yang pertumbuhan rata-rata sebesar 26,00% per
tahun.

3.1.1.2 Belanja Daerah


Belanja daerah dikelompokkan menjadi Belanja Tidak
Langsung dan Belanja Langsung. Kelompok belanja tidak langsung
merupakan belanja yang dianggarkan tidak terkait secara langsung
dengan pelaksanaan program dan kegiatan. Sedangkan kelompok
belanja langsung merupakan belanja yang dianggarkan terkait
secara langsung dengan pelaksanaan program dan kegiatan. Belanja
tidak langsung terdiri dari Belanja Pegawai; Belanja Hibah dan
Bantuan Sosial; Belanja Bantuan Keuangan; dan Belanja Tidak
Terduga. Sementara itu belanja langsung terdiri dari belanja
pegawai; belanja barang dan jasa; dan belanja modal.
Realisasi Belanja Daerah selama periode tahun 2010-2015
dibandingkan dengan target RPJMD Kota Semarang Tahun 2010-
2015 rata-rata sebesar 95,31% per tahun, dengan persentase
realisasi belanja terbesar ada pada tahun 2014 yakni sebesar
110,70 % dan terendah sebesar 85,41% di tahun 2011.

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 III-22


GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH SERTA
KERANGKA PENDANAAN

Tabel 3.15.
Target dan Realisasi Belanja Daerah Kota Semarang
Tahun 2010 – 2015
Target Anggaran
Target RPJMD Realisasi Belanja Kelebihan/
Tahun Belanja Daerah %
2010-2015 Daerah Kekurangan
(APBD-P)
2010 2.018.318.000.000 1.898.877.510.518 1.732.662.151.376,00 85,85% (285.655.848.624)
2011 2.384.487.000.000 2.260.097.665.000 2.036.582.638.750,00 85,41% (347.904.361.250)
2012 2.371.171.000.000 2.418.386.486.000 2.053.334.797.225,00 86,60% (317.836.202.775)
2013 2.499.014.000.000 3.184.087.019.000 2.473.490.609.437,00 98,98% (25.523.390.563)
2014 2.671.467.000.000 3.737.509.710.000 2.957.435.259.381,00 110,70% 285.968.259.381
2015* 2.893.708.000.000 4.358.328.271.526 3.018.858.152.493,00 104,32% 125.150.152.493
Total 14.838.165.000 17.857.286.662.044 14.272.363.608.662 95,31% (565.801.391.338)
*Data unaudited
Sumber: DPKAD Kota Semarang 2010-2015 (diolah, 2015)

Lebih lanjut, hasil penilaian PEFINDO (2015) terhadap kondisi


belanja daerah Kota Semarang mengungkapkan bahwa Kota
Semarang belum menerapkan kebijakan belanja jangka panjang
terkait dengan investasi pembangunan infrastruktur dan
pendanaannya. Rata-rata realisasi belanja modal, seperti untuk
tanah, peralatan dan mesin, gedung dan bangunan, jalan, irigasi dan
jaringan, aset tetap lainnya dan aset lainnya yakni sebesar 12,49%.
Belanja Daerah terbagi menjadi 2, yaitu belanja langsung dan
belanja tidak langsung. Berikut adalah kondisi belanja daerah Kota
Semarang tahun 2010-2015:

a) Belanja Tidak Langsung

Belanja tidak langsung Kota Semarang berdasarkan target


RPJMD Kota Semarang Tahun 2010-2015 sebesar Rp
6.327.047.000.000,-, dengan realisasi belanja sebesar
Rp7.128.641.587.533,- atau mengalami realisasi rata-rata 113,47%
per tahun. Dengan persentase realisasi belanja tidak langsung
terbesar di tahun 2011 sebesar 129,23% dan terendah di tahun 2015
sebesar 104,61%.
Tabel 3.16.
Target dan Realisasi Belanja Tidak Langsung Kota Semarang
Tahun 2010-2015
Target Anggaran
Target RPJMD Realisasi Belanja Kelebihan/
Tahun Belanja Tidak %
2010-2015 Tidak Langsung Kekurangan
Langsung (APBD-P)
2010 920.725.000.000 1.056.178.207.618 1.014.661.220.765 110,20% 93.936.220.765
2011 884.591.000.000 1.193.449.007.000 1.143.176.142.944 129,23% 258.585.142.944

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 III-23


GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH SERTA
KERANGKA PENDANAAN

Target Anggaran
Target RPJMD Realisasi Belanja Kelebihan/
Tahun Belanja Tidak %
2010-2015 Tidak Langsung Kekurangan
Langsung (APBD-P)
2012 972.942.000.000 1.192.089.486.000 1.125.140.641.858 115,64% 152.198.641.858
2013 1.070.128.000.000 1.329.550.219.000 1.189.315.029.304 111,14% 119.187.029.304
2014 1.177.033.000.000 1.350.905.524.850 1.294.686.029.499 110,00% 117.653.029.499
2015* 1.301.628.000.000 1.570.413.534.000 1.361.662.523.163 104,61% 60.034.523.163
Total 6.327.047.000.000 7.692.585.978.468 7.128.641.587.533 113,47% 801.594.587.533
*Data unaudited
Sumber: DPKAD Kota Semarang 2010-2015 (diolah, 2015)

Belanja tidak langsung memiliki komponen terdiri atas Belanja


Pegawai, Belanja Hibah, Belanja Bunga, Belanja Bantuan Sosial,
Belanja Bantuan Keuangan (parpol) dan Belanja Tidak Terduga.
Realisasi belanja Pegawai Kota Semarang Tahun 2010 – 2015
berdasarkan target RPJMD Kota Semarang Tahun 2010-2015 rata-
rata sebesar 104,70% per tahun. Realisasi belanja pegawai tertinggi
terjadi di tahun 2012 dengan realisasi mencapai 111,68% sedangkan
realisasi terendah pada tahun 2010 sebesar 93,61%.

Tabel 3.17.
Target dan Realisasi Belanja Pegawai Kota Semarang Tahun 2010-2015

Target Anggaran
Target RPJMD Realisasi Belanja Kelebihan/
Tahun Belanja Pegawai %
2010-2015 Pegawai Kekurangan
(APBD-P)
2010 934.314.000.000 905.852.577.618 874.593.479.502 93,61% (59.720.520.498)
2011 883.511.000.000 1.023.178.319.000 986.366.107.310 111,64% 102.855.107.310
2012 971.862.000.000 1.122.536.681.000 1.085.345.253.318 111,68% 113.483.253.318
2013 1.069.048.000.000 1.261.572.130.000 1.142.988.541.942 106,92% 73.940.541.942
2014 1.175.953.000.000 1.271.120.556.150 1.171.769.031.216 99,64% (4.183.968.784)
2015* 1.300.548.000.000 1.478.550.417.000 1.361.662.523.163 104,70% 61.114.523.163
Total 6.335.236.000.000 7.062.810.680.768 6.622.724.936.451 104,70% 287.488.936.451
*Data unaudited
Sumber: DPKAD Kota Semarang 2010-2015 (diolah, 2015)

Target dan realisasi belanja Bunga Kota Semarang Tahun 2010


– 2015 berdasarkan RPJMD Kota Semarang Tahun 2010-2015 rata-
rata realisasinya sebesar 49,33% per tahun dengan realisasi
pencapaian tertinggi pada tahun 2010 yang tercatat sebesar 100%
sedangkan realisasi terendah di tahun 2015 atau tidak ada belanja
bunga, sebagaimana tabel 3.18.

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 III-24


GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH SERTA
KERANGKA PENDANAAN

Tabel 3.18.
Target dan Realisasi Belanja Bunga Kota Semarang Tahun 2010-2015

Target
Target RPJMD Anggaran Realisasi Kelebihan/
Tahun %
2010-2015 Belanja Bunga Belanja Bunga Kekurangan
(APBD-P)
2010 1.080.000.000 1.080.000.000 1.080.000.000 100,00% 0
2011 1.080.000.000 1.080.000.000 764.141.700 70,75% (315.858.300)
2012 1.080.000.000 7.728.937.000 723.905.100 67,03% (356.094.900)
2013 1.080.000.000 1.000.000.000 378.295.400 35,03% (701.704.600)
2014 1.080.000.000 250.000.000 250.000.000 23,15% (830.000.000)
2015* 1.080.000.000 0 0 0,00% (1.080.000.000)
Total 6.480.000.000 11.138.937.000 3.196.342.200 49,33% (3.283.657.800)
*Data unaudited
Sumber: DPKAD Kota Semarang 2010-2015 (diolah, 2015)

Realisasi belanja Hibah Kota Semarang Tahun 2010 – 2015


berdasarkan target RPJMD Kota Semarang Tahun 2010-2015 rata-
rata sebesar 103,96% per tahun. Tingkat pencapaian realisasi
tertinggi pada tahun 2014 yakni sebesar 224,43% sedangkan
terendah pada tahun 2012 yakni sebesar 60,61%.

Tabel 3.19.
Target dan Realisasi Belanja Hibah Kota Semarang Tahun 2010-2015

Target Anggaran
Target RPJMD Realisasi Belanja Kelebihan/
Tahun Belanja Hibah %
2010-2015 Hibah Kekurangan
(APBD-P)
2010 36.155.000.000 36.155.450.000 32.681.440.321 90,39% (3.473.559.679)
2011 50.669.000.000 52.120.625.000 50.113.503.179 98,90% (555.496.821)
2012 50.669.000.000 38.822.367.000 30.708.338.580 60,61% (19.960.661.420)
2013 50.669.000.000 43.719.559.000 41.621.315.866 82,14% (9.047.684.134)
2014 50.669.000.000 57.956.904.850 113.718.345.363 224,43% 63.049.345.363
2015* 50.669.000.000 77.901.855.000 34.097.478.825 67,29% (16.571.521.175)
Total 289.500.000.000 306.676.760.850 302.940.422.134 103,96% 13.440.422.134
*Data unaudited
Sumber: DPKAD Kota Semarang 2010-2015 (diolah, 2015)

Realisasi belanja Bantuan Sosial Kota Semarang Tahun 2010 –


2015 berdasarkan target RPJMD Kota Semarang Tahun 2010-2015
rata-rata sebesar 34,50% per tahun. Tingkat pencapaian realisasi
tertinggi pada tahun 2010 yakni sebesar 95,23% dan yang terendah
pada tahun 2015 yang tercatat sebesar 1,57%.

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 III-25


GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH SERTA
KERANGKA PENDANAAN

Tabel 3.20.
Target dan Realisasi Belanja Bantuan Sosial Kota Semarang
Tahun 2010-2015
Target Anggaran
Target RPJMD Realisasi Belanja Kelebihan/
Tahun Belanja Bantuan %
2010-2015 Bantuan Sosial Kekurangan
Sosial (APBD-P)
2010 110.802.000.000 110.801.612.000 105.517.732.817 95,23% -5.284.267.183
2011 114.968.000.000 114.781.495.000 104.553.067.830 90,94% -10.414.932.170
2012 99.519.000.000 18.964.745.000 7.485.436.900 7,52% -92.033.563.100
2013 99.468.000.000 4.006.400.000 2.731.600.000 2,75% -96.736.400.000
2014 110.664.000.000 7.794.905.000 6.301.500.000 5,69% -104.362.500.000
2015* 127.088.000.000 2.277.000.000 1.998.500.000 1,57% -125.089.500.000
Total 662.509.000.000 258.626.157.000 228.587.837.547 34,50% -433.921.162.453
*Data unaudited
Sumber: DPKAD Kota Semarang 2010-2015 (diolah, 2015)

Realisasi Belanja Bantuan Keuangan Kota Semarang Tahun


2010 – 2015 berdasarkan target RPJMD Kota Semarang tahun 2010-
2015 rata-rata sebesar 103,86% per tahun. Tingkat realisasi tertinggi
pada tahun 2015 yakni sebesar 109,86% sedangkan terendah pada
tahun 2010 yang tercatat sebesar 99,95%.

Tabel 3.21.
Target dan Realisasi Belanja Bantuan Keuangan Kota Semarang Tahun
2010-2015
Target
Anggaran Realisasi
Target RPJMD Belanja Belanja Kelebihan/
Tahun %
2010-2015 Bantuan Bantuan Kekurangan
Keuangan Keuangan
(APBD-P)
2010 789.000.000 788.568.000 788.567.125 99,95% (432.875)
2011 779.000.000 788.568.000 788.567.125 101,23% 9.567.125
2012 788.000.000 788.567.000 788.567.000 100,07% 567.000
2013 788.000.000 788.567.000 788.567.000 100,07% 567.000
2014 788.000.000 870.105.000 870.105.000 110,42% 82.105.000
2015* 788.000.000 984.262.000 865.658.275 109,86% 77.658.275
Total 4.720.000.000 5.008.637.000 4.890.031.525 103,60% 170.031.525
*Data unaudited
Sumber: DPKAD Kota Semarang 2010-2015 (diolah, 2015)

Realisasi belanja Tidak Terduga Kota Semarang Tahun 2010 –


2015 dari target RPJMD Kota Semarang Tahun 2010-2015 rata-rata
sebesar 47,62% per tahun. Tingkat realisasi tertinggi pada tahun
2015 yakni sebesar 68,13% sedangkan terendah pada tahun 2010.

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 III-26


GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH SERTA
KERANGKA PENDANAAN

Tabel 3.22.
Target dan Realisasi Belanja Tidak Terduga Kota Semarang
Tahun 2010-2015
Target Anggaran Realisasi
Target RPJMD Kelebihan/
Tahun Belanja Tidak Belanja Tidak %
2010-2015 Kekurangan
Terduga (APBD-P) Terduga
2010 1.500.000.000 1.500.000.000 0 0,00% (1.500.000.000)
2011 1.500.000.000 1.500.000.000 590.755.800 39,38% (909.244.200)
2012 1.500.000.000 3.248.189.000 89.140.960 5,94% (1.410.859.040)
2013 1.500.000.000 18.463.563.000 806.709.097 53,78% (693.290.903)
2014 1.500.000.000 22.461.480.000 1.777.048.020 118,47% 277.048.020
2015 1.500.000.000 10.700.000.000 1.021.982.550 68,13% (478.017.450)
Total 9.000.000.000 57.873.232.000 4.285.636.427 47,62% (4.714.363.573)
*Data unaudited
Sumber: DPKAD Kota Semarang 2010-2015 (diolah, 2015)

b) Belanja Langsung

Dalam kurun waktu tahun 2010-2015, Realisasi Belanja


Langsung sebesar Rp. 7.058.691.833.198,- atau sebesar 98,05% dari
target RPJMD Kota Semarang Tahun 2010-2015 yang tercatat
sebesar Rp 7.199.308.000.000. Tingkat realisasi terbesar pada tahun
2014 yang tercatat sebesar 135,22% sedangkan realisasi terendah
pada tahun 2010 yang tercatat sebesar 62,99%.
Tabel 3.23.
Target dan Realisasi Belanja Langsung Kota Semarang
Tahun 2010-2015
Target Anggaran
Target RPJMD Realisasi Belanja Kelebihan/
Tahun Belanja Langsung %
2010-2015 Langsung Kekurangan
(APBD-P)
2010 1.139.835.000.000 842.699.303.000 718.000.931.611 62,99% (421.834.068.389)
2011 1.198.859.000.000 1.066.648.658.000 893.406.495.806 74,52% (305.452.504.194)
2012 1.144.641.000.000 1.226.297.000.000 928.194.155.367 81,09% (216.446.844.633)
2013 1.175.349.000.000 1.854.536.800.000 1.284.175.580.132 109,26% 108.826.580.132
2014 1.229.701.000.000 2.377.055.759.000 1.662.746.609.579 135,22% 433.045.609.579
2015 1.310.923.000.000 2.051.169.135.418 1.657.195.629.330 126,41% 346.272.629.330
Total 7.199.308.000.000 9.418.406.655.418 7.143.719.401.825 98,25% (55.588.598.175)
Sumber: DPKAD Kota Semarang 2010-2015 (diolah, 2015)

Belanja langsung Kota Semarang, terdiri dari Belanja langsung


untuk kebutuhan aparatur dan Belanja Program/kegiatan
Pembangunan. Realisasi belanja untuk kebutuhan aparatur tahun
2010-2015 sebesar Rp. 1.353.134.002.394,- atau sebesar 19,17%
dari total belanja langsung sebesar Rp. 7.058.691.833.198,-,
sedangkan untuk belanja program/kegiatan pembangunan adalah
sebesar RP. 5.705.557.830.804,- atau sebesar 80,83%.

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 III-27


GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH SERTA
KERANGKA PENDANAAN

3.1.1.3 Pembiayaan Daerah

Pembiayaan Daerah merupakan penerimaan yang dibayar


kembali dan/ataupengeluaran yang akan diterima kembali, baik
pada tahun anggaran yang bersangkutan maupun tahun-tahun
anggaran berikutnya. Gambaran dari kebijakan pembiayaan daerah
pada tahun-tahun anggaran sebelumnya sebagai bahan untuk
menentukan kebijakan pembiayaan dimasa yang akan datang dalam
rangka penghitungan kapasitas pendanaan pembangunan daerah.
Pembiayaan daerah pada RPJMD Kota Semarang Tahun 2010-
2015 ditarget setiap tahun mengalami penurunan dan diharapkan
pada tahun 2015 pembiayaan daerah menjadi Rp. 50.000.000.000,-.
Realisasi pembiayaan daerah berdasarkan target RPJMD Kota
Semarang Tahun 2010-2015 sebesar Rp. 3.134.495.958.597,- atau
sebesar 350,50% dari target yang ditetapkan sebesar Rp.
894.584.935.618,-.

Tabel 3.24.
Target dan Realisasi Pembiayaan Daerah Kota Semarang
Tahun 2010-2015
Target RPJMD Target Realisasi
Kelebihan/
Tahun 2010-2015 AnggaranPembiayaan Pembiayaan %
Kekurangan
Daerah APBD-P Daerah
2010 282.114.935.618 304.214.935.618 304.214.935.618 107,83% 22.100.000.000
2011 176.005.000.000 267.403.772.000 190.381.885.440 108,17% 14.376.885.440
2012 192.479.000.000 140.032.880.000 155.116.218.198 80,59% -37.362.781.802
2013 118.986.000.000 589.524.331.000 589.640.904.419 495,55% 470.654.904.419
2014 75.000.000.000 872.000.132.000 864.625.442.489 1152,83% 789.625.442.489
2015 50.000.000.000 1.094.503.735.526 1.031.516.572.433 2063,03% 981.516.572.433
Total 894.584.935.618 3.267.679.786.144 3.135.495.958.597 350,50% 2.240.911.022.979
Sumber: Bappeda Kota Semarang (diolah, 2015)

Dari data tabel tersebut diatas menunjukan bahwa realisasi


pembiayaan daerah pada tahun 2013, 2014 dan 2015 mengalami
peningkatan yang sangat signifikan. Dari sisi Penerimaan
Pembiayaan, realisasi penerimaan pembiayaan terbesar berasal dari
Sisa Lebih Perhitungan Anggaran Tahun Lalu (SiLPA) yang tercatat
selama tahun 2010-2015 sebesar Rp. 3.266.954.335.587,- dan
Pencairan Dana Cadangan sebesar Rp. 70.459.914.708,-.
Meningkatnya SiLPA yang sangat signifikan merupakan akibat dari
alokasi anggaran pada program/kegiatan pembangunan yang tidak

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 III-28


GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH SERTA
KERANGKA PENDANAAN

dilaksanakan dan/atau alokasi anggaran yang tidak diserap, hal ini


menunjukkan bahwa kinerja pengelolaan keuangan daerah selama
periode tahun 2010-2015 belum berjalan secara optimal. Dari sisi
Pengeluaran Pembiayaan daerah, selama tahun 2010-2015 realisasi
pengeluaran pembiayaan daerah dipergunakan untuk:
- Pembentukan Dana Cadangan, yang diperuntuk untuk
Penyelenggaraan Pemilihan Walikota dan Wakil Walikota
Semarang Tahun 2015.
- Penyertaan modal perusahaaan milik daerah yakni (Bank
Jateng Cab. Semarang, Perusda RPH & BPH, Perusda
Percetakan, Perusa Bank Pasar dan Perusda BPR/BKK),
- Pembayaran Pokok Hutang dan
- Pengembalian Sisa Dana DPPID.
Selama enam tahun terakhir dari tahun 2010 sampai dengan
tahun 2015, Perusahaan Daerah belum mampu secara signifikan
memberikan kontribusi terhadap penerimaan pendapatan daerah.

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 III-29


GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH SERTA
KERANGKA PENDANAAN

Tabel 3.25.
Rata-rata Realisasi Pembiayaan Daerah Kota Semarang Tahun 2010 – 2015

TAHUN 2010 TAHUN 2011 TAHUN 2012 TAHUN 2013 TAHUN 2014 TAHUN 2015
NO URAIAN JUMLAH
Realisasi Realisasi Realisasi Realisasi Realisasi Realisasi
PEMBIAYAAN
3 DAERAH
304.293.447.418 190.381.885.440 155.116.218.198 589.640.904.419 864.625.442.489 1.031.516.572.433 3.135.574.470.397
NETTO (= 3.1 -
3.2)
3.1 PENERIMAAN
313.114.935.618 195.198.550.840 207.718.808.732 635.457.569.772 912.721.021.842 1.073.203.447.175 3.337.414.333.979
PEMBIAYAAN
3.1.1 Pengunaan
313.114.935.618 195.198.550.840 207.718.808.732 635.457.569.772 905.242.914.000 1.010.221.556.625 3.266.954.335.587
SILPA
3.1.2 Pencairan Dana
- - - - 7.478.024.158 62.981.890.550 70.459.914.708
Cadangan
Hasil Penjualan
3.1.3 Kekayaan
- - - - - -
Daerah yang
Dipisahkan
Penerimaan
3.1.4
Pinjaman - - - - - -
Daerah
Penerimaan
Kembali
3.1.5
Pemberian - - - - - -
Pinjaman
Daerah
3.2 PENGELUARAN
8.821.488.200 4.816.665.400 52.602.590.534 45.816.665.353 48.095.579.353 41.686.874.742 201.839.863.582
PEMBIAYAAN
3.2.1 Pembentukan
- - 30.000.000.000 15.000.000.000 25.439.914.000 0 70.439.914.000
Dana Cadangan
Penyertaan
3.2.2 Modal
7.000.000.000 3.000.000.000 20.000.000.000 29.000.000.000 20.839.000.000 41.686.000.000 121.525.000.000
Pemerintah
Daerah

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 III-30


GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH SERTA
KERANGKA PENDANAAN

TAHUN 2010 TAHUN 2011 TAHUN 2012 TAHUN 2013 TAHUN 2014 TAHUN 2015
NO URAIAN JUMLAH
Realisasi Realisasi Realisasi Realisasi Realisasi Realisasi
Penyertaan
3.2.2.1
Modal ( Bank 2.000.000.000 - - 15.000.000.000 8.339.000.000 18.361.000.000 42.700.000.000
Jateng )
Penyertaan
Modal (Dana
3.2.2.2
Bergulir UKM, - - - - - -
LKM &
Koperasi)
3.2.2.3 Penyertaan
5.000.000.000 - 20.000.000.000 10.000.000.000 10.000.000.000 20.000.000.000 65.000.000.000
Modal (PDAM)
Penyertaan
3.2.2.4
Modal Perusda - - - 1.000.000.000 1.000.000.000 1.000.000.000 3.000.000.000
BPR / BKK
Penyertaan
3.2.2.5
Modal Bank - - - 1.000.000.000 - 1.000.000.000 2.000.000.000
Pasar
Penyertaan
3.2.2.6
Modal Perusda - 3.000.000.000 - 1.000.000.000 - 1.325.000.000 5.325.000.000
Percetakan
Penyertaan
3.2.2.7
Modal Perusda - - - 1.000.000.000 1.500.000.000 - 2.500.000.000
RPH & BHP
3.2.3 Pembayaran
1.821.488.200 1.816.665.400 1.816.665.500 1.816.665.353 1.816.665.353 874.742 9.089.024.548
Pokok Hutang
Pemberian
3.2.4
Pinjaman - - - - - -
Daerah
Pengembalian
3.2.5
sisa dana - - 785.925.034 - - - 785.925.034
DPPID
Sumber: DPKAD Kota Semarang, 2010-2015

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 III-31


GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH SERTA
KERANGKA PENDANAAN

3.1.2 Neraca Daerah


Analisis Neraca daerah bertujuan untuk mengetahui
kemampuan keuangan pemerintah daerah melalui perhitungan rasio
likuiditas, solvabilitas dan rasio aktivitas serta kemampuan asset
daerah untuk penyediaan dana pembangunan daerah. Neraca
Daerah menggambarkan posisi keuangan pemerintah daerah
mengenai aset, kewajiban, dan ekuitas pada tanggal neraca tersebut
dikeluarkan.Unsur yang dicakup oleh sebuah neraca terdiri dari
aset, kewajiban dan ekuitas. Perkembangan neraca daerah Kota
Semarang tahun 2010-2015 dan rata-rata pertumbuhannya terlihat
di tabel 3.26.
Aset Pemerintah Kota Semarang dari kurun waktu tahun 2013
sampai dengan tahun 2015 mengalami pertumbuhan yang
meningkat rata-rata sebesar 28,82% (tabel 3.26). Aset memberikan
informasi tentang sumber daya yang dimiliki dan dikuasai
pemerintah Kota Semarang yang mampu memberi manfaat ekonomi
dan sosial bagi pemerintah dan masyarakat. Pemerintah Kota
Semarang pada tahun 2015 memiliki aset total sebesar Rp
15.660.868.697.440,-atau meningkat sebesar 107,01% dibanding
tahun 2014 yang sebesar Rp 7.565.283.848.059,- , peningkatan
terbesar adalah pada aset tetap yang meningkat sangat signifikan
yakni sebesar 132,48%.
Kewajiban menggambarkan tentang kondisi utang pemerintah
daeah dengan pihak ketiga. Kewajiban daerah sendiri dapat dibangi
menjadi 2, yakni kewajiban jangka panjang dan kewajiban jangka
pendek.Di tahun 2014, Pemerintah Kota Semarang memiliki jumlah
kewajiban yang harus dilaksanakan sebesar Rp 27.069.052.431.
Angka ini meningkat 1% dibanding kewajiban tahun 2013 sebesar
Rp 27.415.290.205. Ekuitas dana adalah selisih antara aset dengan
kewajiban pemerintah daerah. Di tahun 2014, nilai ekuitas dana
Pemerintah Kota Semarang mencapai Rp 15.147.458.705.353 dan
meningkat 51% dari tahun 2013 yang hanya sebesar Rp
7.402.393.039.253.

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 III-32


GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH SERTA
KERANGKA PENDANAAN

Tabel 3.26.
Perkembangan Anggaran dan Realisasi BUMD Kota Semarang Tahun 2010 – 2015

2010 2011 2012


NO URAIAN
Anggaran Realisasi Anggaran Realisasi Anggaran Realisasi
1 Perusahaan Daerah RPH & BHP 31.045.922 29.877.700 31.158.328 33.744.600 33.698.720 39.017.100
2 Perusahaan Daerah Percetakan 140.519.500 0 146.806.000 0 223.522.280 101.166.915
3 Perusahaan Daerah Bank Pasar 166.923.578 167.492.521 198.000.000 175.866.325 279.500.000 302.940.370
4 Perusahaan Daerah BPR / BKK 0 0 0 0 574.658.000 309.669.986
5 Bank Jateng Cabang Semarang 5.000.000.000 6.013.056.741 5.629.835.672 5.771.918.433 5.250.000.000 6.024.524.882
JUMLAH ANGGARAN 5.338.489.000 6.210.426.962 6.005.800.000 5.981.529.358 6.361.379.000 6.777.319.253

2013 2014 2015


NO URAIAN
Anggaran Realisasi Anggaran Realisasi Anggaran Realisasi
1 Perusahaan Daerah RPH & BHP 37.237.146 40.024.700 40.150.000 40.263.443 99.057.023 0
2 Perusahaan Daerah Percetakan 179.481.482 181.801.835 157.178.000 186.582.943 181.627.616 69.361.514
3 Perusahaan Daerah Bank Pasar 361.116.372 330.515.110 385.769.000 191.206.550 339.229.079 91.006.744
4 Perusahaan Daerah BPR / BKK 1.044.925.000 6.049.636.864 1.406.770.000 934.594.286 1.186.984.282 1.035.606.835
5 Bank Jateng Cabang Semarang 5.250.000.000 1.048.800.379 6.000.000.000 6.683.452.338 7.500.000.000 9.334.601.607
JUMLAH ANGGARAN 6.872.760.000 7.650.778.888 7.989.867.000 8.036.099.560 9.306.898.000 10.530.576.700

Sumber: DPKAD Kota Semarang, 2010-2015

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 III-33


GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH SERTA
KERANGKA PENDANAAN

Tabel 3.27. Rata-Rata Pertumbuhan Neraca Daerah Kota Semarang Tahun 2013-2015

Tk.
No Uraian 2013 2014 2015 Pertumb
(%)
1 ASET 14.942.228.456.870 14.752.011.257.325 15.660.868.697.440 2,75%
1.1 ASET LANCAR 1.042.372.527.574 14.752.011.257.325 1.180.796.595.962 6,66%
1.1.1 Kas 922.751.717.344 1.086.300.120.262 1.203.791.855.520
1.1.2 Investasi Jangka Pendek - - -
1.1.3 Piutang 35.133.114.982 39.672.385.278 43.918.359.921
1.1.4 Belanja Dibayar Di Muka 7.241.621.151 3.170.117.701 2.378.120.347
1.1.6 Piutang Lainnya 46.450.219.364 10.461.768.493 52.754.796.143
1.1.7 Persediaan 30.795.854.733 44.361.323.750 (122.046.535.969)
1.2 INVESTASI JANGKA PANJANG 78.105.882.735 66.465.922.740 100.055.857.602 17,82%
1.2.1 Investasi Non Permanen 3.781.112.967 3.619.379.238 3.356.751.971
1.2.2 Investasi Permanen 74.324.769.768 62.846.543.502 96.699.105.631
1.3 ASET TETAP 13.717.885.116.131 6.119.616.888.621 14.226.857.060.638 38,55%
1.3.1 Tanah 10.809.811.533.805 10.809.811.533.805 10.862.926.513.191
1.3.2 Peralatan dan Mesin 957.835.854.744 989.497.933.801 1.140.779.561.749
1.3.3 Gedung dan Bangunan 1.656.851.392.286 1.457.131.509.262 1.872.765.197.493
1.3.3 Jalan, Irigasi dan Jaringan 1.654.555.357.306 1.279.544.234.937 1.987.265.452.595
1.3.4 Aset Tetap Lainnya 73.945.990.040 62.232.661.307 88.708.674.161
1.3.5 Konstruksi dalam Pengerjaan 102.732.023.730 109.950.402.504 87.286.319.793
1.3.6 Akumulasi Penyusutan (1.537.847.035.780) (1.401.823.977.729) (1.812.874.658.344)
1.4 DANA CADANGAN 0 0 39.562.373.739 -
1.4.1 Dana Cadangan- 0 0 39.562.373.739
1.5 ASET LAINNYA 103.864.930.430 195.235.321.214 113.596.809.499 23,08%
1.5.1 Tagihan Penjualan Angsuran - - -
1.5.2 Tagihan Tuntutan Kerugian Daerah - - -
1.5.3 Kemitraan dengan Pihak Kedua 11.056.831.000 66.053.931.000 11.056.831.000
1.5.4 Aset Tak Berwujud 18.358.331.532 18.095.485.406 24.603.348.302
1.5.5 Aset lain-lain 74.449.767.898 111.085.904.808 77.936.630.197

JUMLAH ASET DAERAH 14.942.228.456.870 14.752.011.257.325 15.660.868.697.440 2,75%

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 III-34


GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH SERTA
KERANGKA PENDANAAN

Tk.
No Uraian 2013 2014 2015 Pertumb
(%)
2 KEWAJIBAN 27.069.052.431 27.415.290.205 128.618.072.540 185,21%
2.1 KEWAJIBAN JANGKA PENDEK 27.067.052.431 27.392.290.205 128.558.072.540 185,26%
2.1.1 Utang Perhitungan Pihak Ketiga (PFK) 4.522.375.560 4.442.638.263 6.820.256.343
2.1.2 Utang Bunga 874.741 62.604.529 -
2.1.3 Bagian Lancar Utang Jangka Panjang - 1.816.665.353 -
2.1.4 Pendapatan Diterima Dimuka 2.054.073.350 1.964.887.805 13.124.433.770
2.1.5 Utang Belanja 20.489.728.780 19.105.494.255 108.613.382.427
2.1.6 Utang Jangka Pendek Lainnya - -
-
2.2 KEWAJIBAN JANGKA PANJANG 2.000.000 23.000.000 60.000.000 605,43%
2.2.1 Utang Dalam Negeri - Sektor Perbankan - -
-
2.2.2 Utang Dalam Negeri - Obligasi - -
-
2.2.3 Premium (Diskonto) Obligasi - -
-
2.2.4 Pendapatan Diterima Dimuka 2.000.000 23.000.000
-
2.2.5 Utang Jangka Panjang Lainnya - - 60.000.000

JUMLAH KEWAJIBAN 27.069.052.431 27.415.290.205 128.618.072.540 185,21%

3 EKUITAS DANA 15.147.458.705.353 7.402.393.039.253 15.532.250.624.900 29,35%


3.1 EKUITAS DANA 15.147.458.705.353 7.402.393.039.253 15.532.250.624.900

Sumber: DPKAD Kota Sermarang, 2010-2015

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 III-35


GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH SERTA
KERANGKA PENDANAAN

Gambaran kondisi neraca daerah tersebut lebih lanjut dapat


digunakan sebagai bahan analisis kemampuan keuangan
pemerintah daerah melalui perhitungan rasio, dimana terdapat 2
jenis Rasio yang digunakan, yakni rasio likuiditas dan
solvabilitassebagaimana terjabarkan sebagai berikut:

a. Rasio Likuiditas
Rasio likuiditas digunakan untuk mengukur kemampuan
pemerintah daerah dalam memenuhi kewajiban jangka pandek. Data
rasio likuiditas tahun terakhir 2015 dapat dilihat pada tabel 3.28:

Tabel 3.28. Analisis Rasio Likuiditas Kota Semarang Tahun 2015

Ratio Rumus 2015


Ratio Lancar Aset Lancar 19.680
Kewajiban Jangka
Panjang

Rasio Quick (Quick Ratio) Aset Lancar - Persediaan 8,24


Kewajiban Jangka Pendek
Rasio total hutang Total Hutang 0,0000038
terhadap total asset Total Aset
Sumber: DPKAD Kota Semarang, 2013-2015

Hasil analisis diatas menunjukan bahwa Pemerintah Kota


Semarang memiliki kondisi pendanaan yang cukup kuat dilihat dari
hasil analisis ratio lancar, quick ratio dan rasio total hutang terhadap
total aset juga bernilai sangat kecil. Hal ini menunjukkan bahwa
kapabilitas keuangan pemerintah Kota Semarang cukup kuat dalam
pelunasan kewajiban-kewajiban daerahnya.

b. Rasio Solvabilitas
Rasio solvabilitas digunakan untuk mengukur kemampuan
pemerintah daerah dalam memenuhi kewajiban-kewajiban jangka
panjang. Rasio solvabilitas tahun 2015 dapat dilihat di tabel 3.29:
Tabel 3.29. Rasio Solvabilitas Kota Semarang Tahun 2014

Rasio Rumus 2014


(Persentase)
Kewajiban/
Rasio Kewajiban terhadap Aset 0,19%
Aset
Rasio Kewajiban terhadap Kewajiban/
0,37%
Ekuitas Ekuitas
Sumber: DPKAD Kota Semarang, 2013 – 2014

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 III-36


GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH SERTA
KERANGKA PENDANAAN

3.2 KEBIJAKAN PENGELOLAAN KEUANGAN KOTA SEMARANG


TAHUN 2010-2015
3.2.1 Analisis Belanja Daerah dan Pengeluaran Pembiayan Daerah

Memahami kinerja belanja daerah bertujuan untuk memperoleh


gambaran realisasi dari kebijakan pembelanjaan dan pengeluaran
pembiayaan daerah pada periode tahun anggaran sebelumnya yang
digunakan sebagai bahan untuk menentukan kebijakan
pembelanjaan dan pengeluaran pembiayaan dimasa mendatang.
Beberapa hal yang perlu dipahami dari analisis ini mencakup
proporsi realisasi belanja daerah dibanding anggaran, analisis
proporsi belanja untuk pemenuhan kebutuhan aparatur, analisis
belanja periodik dan pengeluaran pembiayaan yang wajib dan
mengikat serta prioritas utama.

3.2.1.1 Proporsi Realisasi Belanja Daerah Dibanding Anggaran

Belanja daerah Kota Semarang dibagi menjadi belanja langsung


dan belanja tidak langsung. Belanja langsung memiliki delapan
komponen belanja yaitu belanja pegawai, belanja bunga, belanja
subsidi, belanja hibah, belanja bantuan sosial, belanja bagi hasil,
belanja bantuan keuangan, dan belanja tidak terduga. Sedangkan
untuk belanja langsung daerah Kota Semarang, terdiri dari belanja
pegawai, belanja barang dan jasa dan belanja modal.

Tabel 3.30. Proporsi Realisasi Belanja terhadap Anggaran Belanja Daerah


Kota Semarang Tahun 2010 – 2015
Proporsi
2010 2011 2012 2013 2014 2015
Uraian Rata-
(%) (%) (%) (%) (%) (%)
rata (%)
Belanja Tidak Langsung 58,56% 56,13% 54,80% 48,08% 43,78% 41,47% 50,47%
Belanja Pegawai 86,20% 86,28% 96,46% 96,10% 90,51% 96,52% 92,01%
Belanja Bunga 0,11% 0,07% 0,06% 0,03% 0,02% 0,00% 0,05%
Belanja Subsidi - - - 0 0 0 -
Belanja Hibah 3,22% 4,38% 2,73% 3,50% 8,78% 3,13% 4,29%
Belanja Bantuan Sosial 10,40% 9,15% 0,67% 0,23% 0,49% 0,18% 3,52%
Belanja Bagi Hasil - - - 0,00% 0,00% 0,00% 0,00%
Belanja Bantuan Keuangan 0,08% 0,07% 0,07% 0,07% 0,07% 0,08% 0,07%
Belanja Tidak Terduga 0& 0,05% 0,01% 0,07% 0,14% 0,09% 0,07%
Belanja Langsung 41,44% 43,87% 45,20% 51,92% 56,22% 58,53% 49,53%
Belanja Pegawai 14,27% 14,10% 14,00% 11,52% 8,13% 8,10% 11,69%
Belanja Barang dan Jasa 55,58% 51,68% 48,10% 42,46% 43,75% 51,52% 48,85%
Belanja Modal 30,15% 34,22% 37,91% 46,02% 48,12% 40,38% 39,47%
Sumber: DPKAD, Kota Semarang, 2010-2015

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 III-37


GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH SERTA
KERANGKA PENDANAAN

Tabel proporsi realisasi belanja terhadap anggaran belanja Kota


Semarang 2010-2015 menunjukan bahwa selama enam tahun
terakhirempat tahun terakhir proporsi belanja tidak langsung
terhadap anggaran belanja memiliki proporsi lebih besar dibanding
belanja langsung. Proporsi penggunaan belanja tidak langsung rata-
rata sebesar 50,47% sedangkan belanja langsung hanya 49,53%.
Ini mengindikasikan bahwa belanja langsung yang notabene
berhubungan dengan program-program pembangunan kota,
pencapaian kesejahteraan masyarakat dan pelayanan publik belum
maksimal. Sementara itu, pada komponen belanja tidak langsung
proporsi terbesar digunakan untuk belanja pegawai. Sedangkan
untuk belanja langsung proporsi terbesar untuk belanja barang dan
jasa.

3.2.1.2 Analisis Proporsi Belanja untuk Pemenuhan Kebutuhan


Aparatur
Selain gambaran mengenai belanja daerah baik belanja
langsung maupun tidak langsung, perlu diketahui juga gambaran
proporsi anggaran belanja untuk pemenuhan kebutuhan aparatur
Kota Semarang. Kebutuhan belanja aparatur Kota Semarang selama
periode tahun 2010-2015 antara lain meliputi Belanja Pegawai
untuk Gaji dan Tunjangan, Tambahan Penghasilan, dan Belanja
Penerimaan Anggota dan Pimpinan DPRD serta Operasional KDH/
WKDH), Belanja Bunga, Belanja Bantuan Keuangan dan Belanja
Langsung untuk kebutuhan operasional rutin perkantoran yang
harus diselenggarakan.
Proporsi belanja aparatur terhadap total pengeluaran memiliki
kondisi fluktuatif dimana proporsi tertinggi di tahun 2010 sebesar
62,69%.
Tabel 3.31.
Proporsi Realisasi Belanja Pemenuhan Kebutuhan Aparatur terhadap
Total Belanja Kota Semarang Tahun 2010-2015
Total Belanja untuk Total Pengeluaran
Tahun
Pemenuhan Kebutuhan (Belanja + Pengeluaran %
Anggaran
Aparatur Pembiayaan Daerah)
2010 1.086.192.210.382 1.732.662.151.376 62,69%
2011 1.200.312.619.500 2.036.582.638.750 58,94%
2012 1.269.801.879.039 2.053.334.797.224 61,84%
2013 1.344.389.282.604 2.473.490.609.436 54,35%
2014 1.434.769.283.942 2.957.435.259.381 48,51%
2015 1.361.912.732.416 2.686.040.155.327 50,70%
Sumber: DPKAD Kota Semarang, 2010-2015

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 III-38


GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH SERTA
KERANGKA PENDANAAN

Adapun rincian mengenai total belanja untuk memenuhi


kebutuhan aparatur Kota Semarang sebagaimana tabel Realisasi
Belanja Pemenuhan Kebutuhan Aparatur Kota Semarang Tahun
2010-2015.

3.2.1.3 Analisis Belanja Periodik dan Pengeluaran Pembiayaan


yang Wajib dan Mengikat serta Prioritas Utama

Selain belanja untuk pemenuhan kebutuhan aparatur Kota


Semarang, perlu diketahui juga bagaimana gambaran pengeluaran
wajib dan mengikat serta prioritas utama Kota Semarang. Belanja
untuk pengeluaran wajib dan mengikat serta prioritas utama adalah
menyangkut pelayanan dasar wajib yang diamanatkan oleh
peraturan perundang-undangan dan menyangkut kebutuhan
operasional rutin perkantoran yang harus diselenggarakan.
Pengeluaran wajib dan mengikat mencakup pengeluaran untuk
bidang pendidikan dan kesehatan. Total pengeluaran wajib dan
mengikat serta prioritas utama pada tabel di atas menjadi dasar
untuk menentukan kebutuhan anggaran belanja yang tidak dapat
dihindari dan tidak dapat ditunda dalam rangka penghitungan
kapasitas riil keuangan daerah dan analisis kerangka pendanaan.
Tabel 3.33 adalah rincian pengeluaran wajib dan mengikat serta
prioritas utama Kota Semarang Tahun 2010-2015:

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 III-39


GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH SERTA
KERANGKA PENDANAAN

Tabel 3.32. Realisasi Belanja Pemenuhan Kebutuhan Aparatur Kota Semarang Tahun 2010 – 2015

Urusan 2010 (Rp) 2011 (Rp) 2012 (Rp) 2013 (Rp) 2014 (Rp) 2015
Belanja Tidak
Langsung 876.462.046.627 987.918.816.135 1.086.857.725.418 1.144.155.404.342 1.172.889.136.216 1.075.960.876.751
Belanja Gaji dan
Tunjangan,
Belanja Tambahan
Penghasilan, dan
Belanja
1.084.323.643.257 1.198.759.910.675 1.268.289.406.939 1.343.222.420.204 1.433.649.178.942 1.361.047.074.141
Penerimaan
Anggota dan
Pimpinan DPRD
serta Operasional
KDH/ WKDH
Belanja Bantuan
788.567.125 788.567.000 788.567.000 870.105.000 865.658.275 788.567.125
Keuangan
Belanja Bunga 1.080.000.000 764.141.700 723.905.100 378.295.400 250.000.000 -
Belanja Langsung 209.730.163.755 212.393.803.365 182.944.153.621 200.233.878.262 261.880.147.726 285.951.855.665
Belanja Langsung
untuk kebutuhan
operasional rutin
209.730.163.755 212.393.803.365 182.944.153.621 200.233.878.262 261.880.147.726 285.951.855.665
perkantoran yang
harus
diselenggarakan.
Total 1.086.192.210.382 1.200.312.619.500 1.269.801.879.039 1.344.389.282.604 1.434.769.283.942 1.361.912.732.416

Sumber: DPKAD Kota Semarang, 2010-2015

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 III-40


GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH SERTA
KERANGKA PENDANAAN

Tabel 3.33. Realisasi Belanja Periodik dan Pengeluaran Pembiayaan Wajib dan Mengikat serta Prioritas Utama
Kota Semarang Tahun 2010 – 2015

Anggaran Rata-
Rata
No
Uraian 2010 2011 2012 2013 2014 2015 Pertumb
uhan
BELANJA TIDAK LANGSUNG
Belanja Gaji,
Tunjangan dan
874.593.479.502 986.366.107.310 1.085.345.253.318 1.142.988.541.942 1.171.769.031.216 1.075.095.218.476 4,48
1 termasuk( Anggota dan
Pimpinan DPRD serta
Operasional KDH)
Belanja Bantuan
2 788.567.125 788.567.000 788.567.000 870.105.000 865.658.275 788.567.125
Keuangan
3 Belanja Bunga 1.080.000.000 764.141.700 723.905.100 378.295.400 250.000.000 - (29,04)
4 Belanja Bagi Hasil - - - - -
BELANJA LANGSUNG
Belanja Langsung
untuk kebutuhan
209.730.
1 operasional rutin 209.730.163.755 212.393.803.365 182.944.153.621 200.233.878.262 261.880.147.726 285.951.855.665
163.755
perkantoran yang
harus diselenggarakan
PENGELUARAN PEMBIAYAAN
Pembentukan Dana
1 0 0 30.000.000.000 15,000,000,000 25.439.914.000
Cadangan
Pembayaran Pokok
2 1.821.488.200 1.816.665.400 1.816.665.500 1.816.665.353 - -
Hutang
TOTAL (A+B+C)
Sumber: DPKAD Kota Semarang, 2010-2015

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 III-41


GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH SERTA
KERANGKA PENDANAAN

3.2.2 Analisis Pembiayaan Daerah

Pembiayaan merupakan transaksi keuangan daerah yang


bertujuan untuk menutup selisih antara Pendapatan Daerah dan
Belanja Daerah ketika terjadi defisit anggaran. Sumber pembiayaan
dapat berasal dari Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SiLPA) tahun
lalu, penerimaan, penerimaan pinjaman obligasi, transfer dari dana
cadangan maupun hasil penjualan aset daerah yang dipisahkan.
Sedangkan pengeluaran dalam pembiayaan adalah angsuran hutang,
bantuan modal dan transfer ke dana cadangan.

3.2.2.1 Analisis Sumber Penutup Defisit Riil

Analisis ini dilakukan untuk memberi gambaran masa lalu


tentang kebijakan anggaran untuk menutup defisit riil anggaran
Pemerintah Daerah yang dilakukan. Tabel 3.34 berikut menyajikan
gambaran realisasi penutup defisit riil anggaran Kota Semarang
tahun 2010-2015.

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 III-42


GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH SERTA
KERANGKA PENDANAAN

Tabel 3.34. Penutup Defisit Riil Anggaran Kota Semarang Tahun 2010 – 2015

NO Uraian 2010 (Rp) 2011 (Rp) 2012(Rp) 2013 (Rp) 2014 (Rp.) 2015 (Rp)
A. Pendapatan
1. Realisasi Pendapatan
1.623.567.254.798 1.813.927.543.692 2.342.123.646.801 2.466.593.494.884 2.882.095.765.066 3.033.103.312.563
Daerah
Jumlah A 1.623.567.254.798 1.813.927.543.692 2.342.123.646.801 2.466.593.494.884 2.882.095.765.066 3.033.103.312.563
B Dilkurangi Realisasi Belanja :
1. Realisasi Belanja Daerah 1.732.662.151.376 2.036.582.638.750 2.053.334.797.224 2.473.490.609.436 2.957.435.259.381 2.686.040.155.327
Realisasi Pengeluaran
2. 8.821.488.200 4.816.665.400 52.602.590.534 45.816.665.353 48.095.579.353 41.686.874.742
Pembiayaan Daerah
Jumlah B 1.741.483.639.576 2.041.399.304.150 2.105.937.387.758 2.519.307.274.789 3.005.530.838.734 2.727.727.030.069

Surplus/ Defisit riil (A-B) (117.916.384.778) (227.471.760.458) 236.186.259.043 (52.713.779.905) (123.435.073.668) 305.376.282.494

C Ditutup Oleh Realisasi Penerimaan Pembiayaan :


1. Sisa Lebih Perhitungan
Anggaran (SiLPA) Tahun 313.114.935.618 195.198.550.840 207.718.808.732 635.457.569.772 905.242.914.000 1.010.221.556.625
Anggaran sebelumnya
2. Pencairan Dana Cadangan - - - - 7.478.024.158 62.981.890.550

Total Realisasi Penerimaan


313.114.935.618 195.198.550.840 207.718.808.732 635.457.569.772 912.720.938.158 1.073.203.447.175
Pembiayaan Daerah (C)

Sisa lebih pembiayaan


anggaran tahun berkenaan 195.198.550.840 (32.273.209.618) 443.905.067.775 582.743.789.867 789.285.864.490 1.378.579.729.669
(A-B) + C
Sumber: DPKAD Kota Semarang, 2010-2015

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 III-43


GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH SERTA
KERANGKA PENDANAAN

Berdasarkan pada tabel penutup defisit riil tabel 3.34


menunjukkan bahwa pada tahun 2012 dan tahun 2015 terjadi
surplus dimana realisasi pendapatan daerah lebih besar dari
belanja daerah dan pengeluaran pembiayaan. Namun apabila
dilihat dari sisa lebih pembiayaan anggaran tahun berkenaan
pada tahun 2011 terjadi defisit dimana tercatat minus Rp.
32.273.209.618,-. Mulai tahun 2012 sisa lebih pembiayaan
anggaran tahun berkenanan terjadi surplus sampai dengan tahun
2015 dimana desifit anggaran ditutup dengan penerimaan
pembiayaan dari SiLPA.
3.2.2.2 Analisis Realisasi Sisa Lebih Perhitungan Anggaran
Analisis ini dilakukan untuk memberi gambaran tentang
komposisi sisa lebih perhitungan anggaran. Dengan mengetahui
SILPA realisasi anggaran periode sebelumnya, dapat diketahui
kinerja APBD tahun sebelumnya yang lebih rasional dan terukur.
Gambaran masa lalu terkait komposisi realisasi anggaran SiLPA
Pemerintah Kota Semarang Tahun 2010-2015 tersaji di tabel 3.35.
Dari tabel 3.35 terlihat bahwa realisasi SiLPA berasal dari
beberapa komponen, seperti pelampauan pendapatan bersumber
dari pelampauan penerimaan PAD, pelampauan penerimaan dana
perimbangan, pelampauan penerimaan lain-lain pendapatan
daerah yang sah; sisa penghematan belanja atau akibat lainnya;
dan Kewajiban kepada Pihak Ketiga sampai dengan Akhir Tahun
Belum Terselesaikan. Pelampauan Penerimaan PAD menunjukan
angka positif dari tahun ke tahun.
3.2.2.3 Analisis Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran Tahun
Berkenaan
Analisis ini bertujuan untuk memperoleh gambaran secara riil
sisa lebih pembiayaan anggaran yang dapat digunakan dalam
penghitungan kapasitas pendanaan pembangunan daerah. Tabel
3.35 menyajikan data tentang realisasi SiLPA Kota Semarang
tahun 2010-2015:

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 III-44


GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH SERTA
KERANGKA PENDANAAN

Tabel 3.35. Realisasi Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SiLPA) Kota Semarang Tahun 2010 – 2015

N 2010 2011 2012 2013 2014 2015


Uraian
o Rp Rp Rp Rp Rp Rp

1. Jumlah SILPA 195.198.550.840 207.718.808.732 635.457.569.772 912.721.021.842 1.073.208.844.976 1.194.348.650.680

Pelampauan
94.528.521.459
a. Penerimaan 13.338.762.150 74.505.107.477 111.732.893.593 147.052.380.506 247.086.523.493
PAD
Pelampauan
Penerimaan (36.057.692.326)
b. 19.417.034.791 (27.906.537.211) 60.235.199.118 (28.539.823.243) 8.136.297.279
Dana
Perimbangan
Pelampauan
Penerimaan
Lain-Lain 24.864.841.305
c. (3.851.117.143) 14.627.098.776 83.354.450.088 83.495.481.597 45.283.642.793
Pendapatan
Daerah Yang
Sah
Sisa
Penghematan 1.157.468.175.393
d. 166.215.359.242 223.515.026.250 365.051.688.775 710.596.409.563 780.077.070.922
Belanja Atau
Akibat Lainnya
Pelampauan
(46.455.320.409)
e. Penerimaan - (77.105.221.160) - 33.238.772 (7.458.024.158)
Pembiayaan
Penghematan
83.334.647 125.258
f. Pengeluaran 78.511.800 83.334.600 15.083.338.198 83.334.647
Pembiayaan
Sumber: DPKAD Kota Semarang, 2010-2015

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 III-45


GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH SERTA
KERANGKA PENDANAAN

Tabel 3.36. Realisasi Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran Tahun Berkenaan Kota Semarang Tahun 2010 – 2015

No. Uraian 2010 2011 2012 2013 2014 2015

Saldo Kas Neraca


1. 202.376.026.624 217.378.783.110 644.108.071.333 922.751.717.344 1.086.300.120.262 1.206.953.761.696
Daerah

Dikurangi :
Pendapatan
2. Retribusi belum 3.918.250 16.497.750 61.249.000 65.432.500 - -
disetor
Utang
3. Perhitungan Pihak 7.173.557.534 9.643.476.628 7.380.104.207 4.963.433.263 4.522.466.794 4.820.347.578
Ketiga
4. Dana BOS - - 1.209.148.354 5.001.829.739 8.568.808.492 7.784.763.438
Sisa Lebih (Riil)
Pembiayaan 195.198.550.840 207.718.808.732 635.457.569.772 912.721.021.842 1.073.208.844.976 1.194.348.650.680
Anggaran
Sumber: DPKAD Kota Semarang, 2010-2015

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 III-46


GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH SERTA
KERANGKA PENDANAAN

3.3 ANALISIS PROYEKSI APBD TAHUN 2016-2021


3.3.1 Proyeksi Pendapatan Daerah Kota Semarang 2016-2021
Kemampuan keuangan daerah pemerintah Kota Semarang
dalam kurun waktu 5 tahun kedepan untuk membiayai
pembangunan dan memberikan pelayanan publik kepada
masyarakat secara optimal, dirumuskan dengan mempertimbangkan
data realisasi penerimaan pendapatan daerah tahun sebelumnya,
serta data-data yang mempengaruhi penerimaan pendapatan
daerah, antara lain :
a) Indikator ekonomi makro, mencakup:
 Rata-Rata Inflasi Kota Semarang tahun 2010-2015 sebesar
5,7% pertahun
 Rata-Rata Laju Pertumbuhan Ekonomi Kota Semarang tahun
2010-2015 sebesar 6,11% pertahun
b) Kebijakan di bidang keuangan negara

Proyeksi penerimaan pendapatan daerah Kota Semarang tahun


2016-2021 dirumuskan dengan mendasarkan pada evaluasi
penerimaan pendapatan daerah tahun 2010-2015, serta
mempertimbangan komponen pos penerimaan pendapatan yang
bersumber dari Pemerintah Provinsi maupun Pusat.

Penerimaan Pendapatan daerah sesuai dengan tren


pertumbuhan rata-rata historis dengan tidak menyertakan tahun
2010, 2011,2012 yang mengalami pertumbuhan abnormal, sehingga
data historis yang digunakan adalah 3 (tiga) tahun terakhir (2013,
2014, 2015). Rata-rata pertumbuhan penerimaan pendapatan
daerah Kota Semarang Tahun 2013 sampai dengan 2015 mengalami
pertumbuhan sebesar 10,54%, dengan Pos Pendapatan Asli Daerah
(PAD) mengalami pertumbuhan rata-rata sebesar 16,37%, Pos Dana
Perimbangan rata-rata sebesar 5,05% dan Pos Penerimaan
Pendapatan Lain-lain yang sah rata-rata sebesar 12,22%.
Mendasarkan pada pertumbuhan rata-rata penerimaan
pendapatan daerah 2013 sampai dengan 2015, dan faktor-faktor
yang mempengaruhi penerimaan pendapatan di Kota Semarang
maka penerimaan pendapatan daerah tahun 2016-2021
diproyeksikan akan mengalami peningkatan rata-rata sebesar 9,30%

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 III-47


GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH SERTA
KERANGKA PENDANAAN

per tahunnya. Pendapatan Asli Daerah akan meningkat kondisinya


dengan proyeksi rata-rata pertumbuhan sebesar 12,50% per tahun.
Dana Perimbangan juga akan terus meningkat kondisinya dengan
rata-rata pertumbuhan 4,18% per tahun dan Lain-Lain Pendapatan
yang Sah yang diproyeksikan mengalami peningkatan pertumbuhan
rata-rata sebesar 18,05% per tahun.
Sementara itu, jika dilihat dari masing-masing komponen Untuk
jenis komponen Pendapatan Asli Daerah, diprediksikan bahwa Pajak
Daerah akan mengalami peningkatan dengan rata-rata pertumbuhan
sebesar 12,70%, rata-rata pertumbuhan Retribusi Daerah 13,41%,
rata-rata pertumbuhan Pengelolaan Kekayaan Daerah yang
Dipisahkanmenurun 9,40% dan Lain-lain PAD yang Sah diprediksi
mengalami peningkatan dengan rata-rata sebesar 12,11% per tahun.
Untuk jenis komponen Dana Perimbangan, Dana Bagi Hasil
Pajak diprediksikan akan meningkat dengan rata-rata pertumbuhan
sebesar 10,01% pertahun. Dana Bagi Hasil Bukan Pajak akan
meningkat dengan rata-rata sebesar 10,00% per tahun. Dana Alokasi
Umum akan meningkat rata-rata sebesar 4,60% per tahun dan Dana
Alokasi Khusus diasumsikan sama dengan DAK yang diterima di
tahun 2016.
Sedangkan untuk jenis komponen pendapatan Lain-lain
Pendapatan Daerah yang sah; untuk Pos Dana Bagi Hasil Pajak dari
Provinsi atau Kabupaten/Kota akan meningkat rata-rata sebesar
14,25% per tahun, Pos Bantuan Keuangan dari Provinsi atau
Pemerintah Daerah lainnya akan mengalami kenaikan rata-rata
sebesar 12,50% per tahun dan Pos Dana Insentif Daerah mengalami
kenaikan rata-rata sebesar 12,50%.

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 III-48


GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH SERTA
KERANGKA PENDANAAN
Tabel 3.37.
Proyeksi Pendapatan Daerah Kota Semarang Tahun 2016-2021
Rata-rata
ANGG. 2016 ANGG. 2017 ANGG. 2018 ANGG. 2019 ANGG. 2020 ANGG. 2021
NO. URAIAN kenaikan
Rp Rp % Rp % Rp % Rp % Rp % %
PENDAPATAN
1
DAERAH
Pendapatan
1.1 1.232.373.211.000 1.461.617.271.000 18,6 1.553.044.597.000 6,26 1.767.853.137.000 13,83 1.973.181.728.000 11,61 2.213.654.606.000 12,19 12,5
Asli Daerah
1.1.1 Pajak Daerah 858.764.751.000 1.055.695.471.000 22,93 1.087.570.000.000 3,02 1.223.957.000.000 12,54 1.377.000.000.000 12,5 1.549.300.000.000 12,51 12,7
Retribusi
1.1.2 105.548.677.000 109.744.130.000 3,97 130.736.463.000 19,13 169.107.140.000 29,35 178.116.346.000 5,33 194.658.231.000 9,29 13,41
Daerah
Hasil
Pengelolaan
1.1.3 Kekayaan 22.084.633.000 26.172.110.000 18,51 25.981.738.000 -0,73 27.905.555.000 7,4 31.119.385.000 11,52 34.320.489.000 10,29 9,4
Daerah Yang
dipisahkan
Lain-lain PAD
1.1.4 245.975.150.000 270.005.560.000 9,77 308.756.396.000 14,35 346.883.442.000 12,35 386.945.997.000 11,55 435.375.886.000 12,52 12,11
yang Sah
Dana
1.2 1.762.670.018.000 1.811.208.346.000 3,23 1.881.206.444.000 4,35 1.968.775.541.000 5,14 2.062.376.086.000 5,25 2.162.516.280.000 5,35 4,66
Perimbangan
Dana Bagi Hasil
1.2.1 153.457.483.000 153.527.483.000 0,05 172.718.417.000 12,5 194.308.219.000 12,5 218.596.745.000 12,5 245.921.340.000 12,5 10,01
Pajak
Dana bagi Hasil
3.200.824.000 3.200.824.000 - 3.600.927.000 12,5 4.051.042.000 12,5 4.557.423.000 12,5 5.127.101.000 12,5 10
Bukan Pajak
Dana Alokasi
1.2.2 1.211.708.204.000 1.260.176.532.000 4 1.310.583.593.000 4 1.376.112.773.000 5 1.444.918.411.000 5 1.517.164.332.000 5 4,6
Umum
Dana Alokasi
1.2.3 394.303.507.000 394.303.507.000 2,12 394.303.507.000 2,28 394.303.507.000 2,46 394.303.507.000 2,64 394.303.507.000 2,83 2,46
Khusus
Lain-lain
Pendapatan
1.3 430.160.000.000 615.160.000.000 43,01 692.055.000.000 12,5 759.577.500.000 9,76 854.524.677.000 12,5 961.340.272.000 12,5 18,05
Daerah Yang
Sah
1.3.1 Hibah - - - - - - - - - - - -
1.3.2 Dana Darurat - - - - - - - - - - - -
Dana Bagi Hasil
Pajak dari
1.3.3 430.160.000.000 535.160.000.000 24,41 602.055.000.000 12,5 658.327.500.000 9,35 740.618.434.000 12,5 833.195.741.000 12,5 14,25
Propinsi atau
Kabupaten/Kota
Dana Penguatan
Desentralisasi
Fiskal &
1.3.4 - - - - - - - - - - - -
Percepatan
Pembangunan
Daerah

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 III-49


GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH SERTA
KERANGKA PENDANAAN
Rata-rata
ANGG. 2016 ANGG. 2017 ANGG. 2018 ANGG. 2019 ANGG. 2020 ANGG. 2021
NO. URAIAN kenaikan
Rp Rp % Rp % Rp % Rp % Rp % %
- Dana
Percepatan
Pembangunan
Infrastruktur
Pendidikan
- - - - - - - - - - - -
(DPPIP) dan
Dana Penguatan
Infrastruktur
dan Prasarana
Daerah (DPIPD)
- Tambahan
Penghasilan
Bagi Guru
PNSD dan
Tunjangan - - - - - - - - - - - -
Profesi Guru
PNSD pada
Daerah/ Prop/
Kab./ Kota
- Dana Bantuan
Operasional - - - - - - - - - - - -
Sekolah
Bantuan
Keuangan dari
1.3.5 propinsi atau - 75.000.000.000 - 84.375.000.000 12,5 94.921.875.000 12,5 106.787.103.000 12,5 120.135.498.000 12,5 12,5
Pemerintah
Daerah Lainnya
Dana Insentif
1.3.6 - 5.000.000.000 - 5.625.000.000 12,5 6.328.125.000 12,5 7.119.140.000 12,5 8.009.033.000 12,5 12,5
Daerah
Jumlah
Pendapatan 3.425.203.229.000 3.887.985.617.000 13,51 4.126.306.041.000 6,13 4.496.206.178.000 8,96 4.890.082.491.000 8,76 5.337.511.158.000 9,15 9,30
Daerah

Sumber: DPKAD, 2016

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 III-50


GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH SERTA
KERANGKA PENDANAAN

3.3.2 Proyeksi Belanja Daerah Kota Semarang 2016-2021


Analisis proyeksi belanja daerah perlu dilakukan guna
mendapatkan gambaran mengenai kondisi belanja daerah Kota
Semarang dalam kurun waktu 5 tahun kedepan guna membiayai
belanja langsung atau belanja program untuk RPJMD.
Proyeksi Belanja dirumuskan berdasarkan tren pertumbuhan
historis realisasi belanja tahun 2010-2015, prioritas pembangunan
serta proporsi belanja tidak langsung dan belanja langsung. Proyeksi
Belanja daerah Kota Semarang Tahun 2016-2021 rata-rata akan
meningkat sebesar 4,86% per tahun, dengan perincian Belanja tidak
langsung rata-rata sebesar 3,31% per tahun dan Belanja Langsung
rata-rata sebesar 6,17% per tahun.

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 III-51


GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH SERTA
KERANGKA PENDANAAN

Tabel 3.38.
Proyeksi Belanja Daerah Kota Semarang Tahun 2016-2021

Kenaikan
% % % % % Rata-rata
No BELANJA DAERAH 2016 2017 2018 2019 2020 2021
+/ - +/ - +/ - +/ - +/ - per
tahun

BELANJA TIDAK
1 1.633.209.712.000 1.758.241.058.000 7,66% 1.808.334.085.000 2,85% 1.846.224.807.000 2,10% 1.883.592.334.000 2,02% 1.920.188.087.000 1,94% 3,31%
LANGSUNG
Belanja Pegawai 1.567.703.870.000 1.685.256.796.000 7,50% 1.710.535.651.000 1,50% 1.744.746.366.000 2,00% 1.779.641.290.000 2,00% 1.815.234.117.000 2,00% 3,00%
Bel Bunga - - - - - -
Bel Hibah 35.230.880.000 42.000.000.000 19,21% 56.078.558.000 33,52% 58.446.685.000 4,22% 60.034.461.000 2,72% 60.672.408.000 1,06% 12,15%
Bel Bant Sosial 19.290.700.000 25.000.000.000 29,60% 30.705.865.000 22,82% 32.002.535.000 4,22% 32.871.923.000 2,72% 33.221.232.000 1,06% 12,08%
Bel Bant Keuangan 984.262.000 984.262.000 0,00% 1.014.011.000 3,02% 1.029.221.000 1,50% 1.044.660.000 1,50% 1.060.330.000 1,50% 1,50%
Bel Tdk Terduga
10.000.000.000 5.000.000.000 -50,00% 10.000.000.000 100% 10.000.000.000 0,00% 10.000.000.000 0,00% 10.000.000.000 0 10,00%
(a+b) :
BELANJA
2 2.554.708.702.000 2.503.709.079.000 -2,00% 2.199.079.169.000 -12,17% 2.532.281.371.000 15,15% 3.021.490.157.000 19,32% 3.340.123.071.000 10,55% 6,17%
LANGSUNG
Belanja Pegawai 231.221.432.000 226.605.561.000 -2,00% 199.034.134.000 -12,17% 229.191.580.000 15,15% 273.468.862.000 19,32% 302.307.672.000 10,55% 6,17%
Belanja Barang dan
1.172.003.619.000 1.148.606.922.000 -2,00% 1.008.854.255.000 -12,17% 1.161.714.809.000 15,15% 1.386.145.277.000 19,32% 1.532.321.992.000 10,55% 6,17%
Jasa
Belanja Modal 1.151.483.651.000 1.128.496.596.000 -2,00% 991.190.780.000 -12,17% 1.141.374.982.000 15,15% 1.361.876.018.000 19,32% 1.505.493.407.000 10,55% 6,17%

JUMLAH 1 + 2 4.187.918.414.000 4.261.950.137.001 1,77% 4.007.413.254.001 -5,97% 4.378.506.178.000 9,26% 4.905.082.491.000 12,03% 5.260.311.158.000 7,24% 4,86%

Sumber: Analisis, 2016

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 III-52


GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH SERTA
KERANGKA PENDANAAN

3.3.3 Proyeksi Belanja dan Pengeluaran Wajib Mengikat serta


Prioritas Utama

Analisis proyeksi belanja dilakukan untuk memperoleh


gambaran kebutuhan belanja tidak langsung daerah dan
pengeluaran pembiayaan yang bersifat wajib dan mengikat serta
prioritas utama. Analisis dilakukan dengan proyeksi 5 (lima) tahun
ke depan untuk penghitungan kerangka pendanaan pembangunan
daerah. Hasil proyeksi belanja dan pengeluaran wajib mengikat serta
prioritas utama Kota Semarang tahun 2016-2021 sebagai tabel 3.39.

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 III-53


GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH SERTA
KERANGKA PENDANAAN

Tabel 3.39.
Proyeksi Belanja dan Pengeluaran Pembiayaan yang Wajib dan Mengikat serta Prioritas Utama
Kota Semarang Tahun 2016-2021
Proyeksi
No Uraian
2016 2017 2018 2019 2020 2021
I BELANJA TIDAK LANGSUNG 1.578.688.132.000 1.691.241.058.000 1.721.549.662.000 1.755.775.587.000 1.790.685.950.000 1.826.294.447.000
Belanja Gaji dan Tunjangan,
Belanja Penerimaan Anggota
1 1.567.703.870.000 1.685.256.795.000 1.710.535.651.000 1.744.746.366.000 1.779.641.290.000 1.815.234.117.000
dan Pimpinan DPRD serta
Operasional KDH
2 Belanja Bunga - - - - - -
3 Belanja Subsidi - - - - - -
4 Belanja Bagi Hasil - - - - - -
5 Belanja Bantuan Keuangan 984.262.000 984.262.000 1.014.011.000 1.029.221.000 1.044.660.000 1.060.330.000
6 Belanja Tidak Terduga 10.000.000.000 5.000.000.000 10.000.000.000 10.000.000.000 10.000.000.000 10.000.000.000
II BELANJA LANGSUNG 268.305.561.000 278.393.048.000 265.683.645.000 310.676.902.000 331.824.370.000 385.981.060.000
Belanja Langsung untuk
kebutuhan operasional rutin
perkantoran yang harus 268.305.561.000 278.393.048.000 265.683.645.000 310.676.902.000 331.824.370.000 385.981.060.000
diselenggarakan (habis
pakai, jasa kantor, dll).
III PENGELUARAN PEMBIAYAAN 33.429.945.000 24.239.000.000 118.892.787.000 117.700.000.000 75.000.000.000 77.200.000.000
1 Pembentukan Dana Cadangan - - 45.000.000.000 45.000.000.000 - -
Penyertaan Modal Pemerintah
2 33.429.945.000 24.239.000.000 73.892.787.000 72.700.000.000 75.000.000.000 77.200.000.000
Daerah
3 Pembayaran Pokok Hutang -
- - - - -
TOTAL BELANJA WAJIB DAN
PENGELUARAN YANG WAJIB
1.880.423.638.000 1.993.873.106.000 2.106.126.049.000 2.184.152.489.000 2.197.510.320.000 2.289.475.507.000
MENGIKAT SERTA PRIORITAS
UTAMA
Sumber: Analisis, 2016

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 III-54


GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH SERTA
KERANGKA PENDANAAN

3.3.4 Proyeksi Pembiayaan Daerah

Analisis ini dilakukan untuk memperoleh gambaran sisa lebih


riil perhitungan anggaran. Hasil analisis dapat digunakan untuk
menghitung kapasitas penerimaan pembiayaan daerah dengan
proyeksi 5 (lima) tahun ke depan. Analisis dilakukan berdasarkan
data dan informasi yang dapat mempengaruhi besarnya sisa lebih riil
perhitungan anggaran dimasa yang akan datang, yakni:
1) Angka rata-rata pertumbuhan saldo kas neraca daerah dan rata-
rata pertumbuhan kewajiban kepada pihak ketiga sampai dengan
akhir tahun belum terselesaikan sertakegiatan lanjutan;
2) Asumsi indikator makro ekonomi
 Laju pertumbuhan rata-rata PDRB Kota Semarang di tahun
2010 hingga 2015 adalah 9,59%
 Rata-Rata Inflasi Kota Semarang tahun 2010-2015 sebesar
5,7% pertahun
 Rata-Rata Laju Pertumbuhan Ekonomi Kota Semarang tahun
2010-2015 sebesar 6,11% pertahun
3) Kebijakan penyelesaian kewajiban daerah
4) Kebijakan efisiensi belanja daerah dan peningkatan potensi
pendapatan;

Dari perhitungan proyeksi pendapatan dan proyeksi belanja


daerah pada tahun 2016-2021 Kota Semarang akan mengalami
defisit dan surplus anggaran. Pada tahun 2016 diproyeksikan
mengalami defisit anggaran sebesar Rp. 762.715.185.000,-. Pada
tahun 2017 mengalami defisit anggaran sebesar Rp.
319.613.376.000,-, dan pada tahun 2020 akan mengalami defisit
anggaran sebesar Rp. 15.000.000.000,-. Sedangkan pada tahun
2018, 2019 dan 2021 mengalami surplus anggaran. Terjadinya
surplus/defisit anggaran tersebut akan menjadi pertimbangan dalam
merumuskan proyeksi kebijakan pembiayaan daerah.
Pembiayaan Daerah Kota Semarang Tahun 2016-2021,
dirumuskan dengan memperhatikan Realisasi Sisa Lebih
Pertihungan Anggaran (SilPA) Kota Semarang pada tahun 2015
tercatat sebesar Rp. 1.194.348.650.000,-, Pembentukan Dana
Cadangan untuk Persiapan Pemilu PILKADA Kota Semarang Tahun

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 III-55


GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH SERTA
KERANGKA PENDANAAN

2020, Penyertaan Modal Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), serta


terjadinya surplus/defisit proyeksi pendapatan dan proyeksi belanja
daerah.
Rumusan kebijakan proyeksi Pembiayaan Daerah Kota Semarang
Tahun 2016-2021 sebagai berikut:
- Pos Penerimaan Pembiayaan, dialokasikan penerimaan SilPA
dengan perincian pada tahun 2016 sebesar
Rp. 796.145.130.000,- dan sebesar Rp. 398.203.500.000,-,
pada tahun 2017 yang berasal dari SilPA Tahun 2015 yang
tercatat sebesar Rp. 1.194.348.650.000,-, Disamping itu
berkaitan Pemilu PILKADA Kota Semarang Tahun 2020, maka
pada tahun 2020 diproyeksikan ada penerimaan pembiayaan
dari Pencairan Dana Cadangan sebesar Rp. 90.000.000.000,-.
- Pos Pengeluaran Pembiayaan, diproyeksikan untuk
Pembentukan Dana Cadangan dalam rangka Pemilu PILKADA
yang dibentuk selama 2 tahun berturut-turut, yang
diperkirakan sebesar Rp 45.000.000.000 masing-masing di
tahun 2018 dan 2019.

Secara rinci kebijakan proyeksi Pembiayaan Daerah Kota Semarang


Tahun 2016-2021 dapat dilihat pada tabel 3.40.

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 III-56


GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH SERTA
KERANGKA PENDANAAN

Tabel 3.40.
Proyeksi Pembiayaan Daerah Kota Semarang 2016-2021

Proyeksi
No Uraian
2016 2017 2018 2019 2020 2021
3.1 PENERIMAAN PEMBIAYAAN 796.145.130.000 398.203.520.000 - - 90.000.00.000 -
3.1.1 SILPA 796.145.130.000 398.203.520.000 - - - -
3.1.2 Pencairan Dana Cadangan - - - - 90.000.000.000 -
Hasil Penjualan Kekayaan Daerah
3.1.3 - - - - - -
yang Dipisahkan
3.1.4 Penerimaan Pinjaman Daerah - - - - - -
Penerimaan Kembali Pemberian
3.1.5 - - - - - -
Pinjaman Daerah
3.2 PENGELUARAN PEMBIAYAAN 33.429.945.000 24.239.000.000 118.892.787.000 117.700.000.000 75.000.000.000 77.200.000.000
3.2.1 Pembentukan Dana Cadangan - - 45.000.000.000 45.000.000.000 - -
Penyertaan Modal Pemerintah
3.2.2 33.429.945.000 24.239.000.000 73.892.787.000 72.700.000.000 75.000.000.000 77.200.000.000
Daerah
3.2.2.1 Penyertaan Modal ( Bank Jateng ) 19.305.000.000 9.339.000.000 15.100.000.000 16.200.000.000 18.500.000.000 20.700.000.000
Penyertaan Modal Holding
3.2.2.2 Company PT Bhumi Pandanaran - 10.000.000.000 22.500.000.000 22.500.000.000 22.500.000.000 22.500.000.000
Sejahtera
3.2.2.3 Penyertaan Modal ( PDAM ) 10.000.000.000 - 30.000.000.000 30.000.000.000 30.000.000.000 30.000.000.000
3.2.2.4 Penyertaan Modal BKK 1.000.000.000 900.000.000 2.000.000.000 2.000.000.000 2.000.000.000 2.000.000.000
3.2.2.5 Penyertaan Modal Bank Pasar 2.000.000.000 4.000.000.000 4.292.787.000 2.000.000.000 2.000.000.000 2.000.000.000
Penyertaan Modal Perusda
3.2.2.6 1.124.945.000 - - - - -
Percetakan
Penyertaan Modal RPH dan BHP - - - - - -
III PEMBIAYAAN DAERAH 762.715.185.000 373.964.520.000 (118.892.787.000) (117.700.000.000) 15.000.000.000 (77.200.000.000)

Sumber: Analisis, 2016

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 III-57


GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH SERTA
KERANGKA PENDANAAN

3.3.5 Analisis Kerangka Pendanaan


Analisis Kerangka pendanaan bertujuan untuk menghitung
kapasitas riil keuangan daerah yang akan dialokasikan untuk
pendanaan program pembangunan jangka menegah daerah
selama 5 (lima) tahun ke depan. Langkah awal yang harus
dilakukan adalah mengidentifikasi seluruh penerimaan daerah
sebagaimana telah dihitung pada bagian di atas dan ke pos-pos
mana sumber penerimaan tersebut akan dialokasikan.
Suatu kapasitas riil keuangan daerah adalah total
penerimaan daerah setelah dikurangkan dengan berbagai pos atau
belanja dan pengeluaran pembiayaan yang wajib dan mengikat
serta prioritas utama. Untuk menentukan proyeksi kapasitas
kapasitas riil keuangan daerah yang akan digunakan untuk
membiayai program/ kegiatan selama 5 (lima) tahun kedepan
(2016-2021) dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Daerah (RPJMD) Kota Semarang sebagaimana tabel 3.42.
Pada tabel 3.42, maka dapat diketahui belanja daerah yang
menjadi prioritas I dan II. Belanja Daerah Prioritas I adalah
belanja daerah yang meliputi belanja untuk membiayai program
pembangunan. Belanja Daerah prioritas II merupakan belanja
daerah yang nantinya untuk Bantuan sosial dan hibah yang
sifatnya wajib dilaksanakan berdasarkan aspirasi.
Dari Proyeksi penerimaan pendapatan, proyeksi belanja
daerah serta proyeksi pembiayaan daerah tersebut diatas, dapat
dirumuskan Kerangka Pendanaan RPJMD Tahun 2016-2021
sebagaimana tabel 3.43. Proyeksi kapasitas kapasitas riil
keuangan daerah yang akan digunakan untuk membiayai
program/ kegiatan selama 5 (lima) tahun ke depan (2016-2021)
dalam RPJMD.

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 III-58


GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH SERTA
KERANGKA PENDANAAN

Tabel 3.41.
Kapasitas Riil Kemampuan Keuangan Daerah untuk Mendanai Pembangunan Daerah
Kota Semarang Tahun 2016 – 2021

Proyeksi
No Uraian
2016 (Rp) 2017 (Rp) 2018 (Rp) 2019 (Rp) 2020 (Rp) 2021 (Rp)
Penerimaan
1. 3.425.203.229.000 3.887.985.617.000 4.126.306.041.000 4.496.206.178.000 4.890.082.491.000 5.337.511.158.000
Pendapatan
Pencairan dana
2. - - - 90.000.000.000 -
cadangan -
Sisa lebih riil
3. perhitungan anggaran 796.145.130.000 398.203.520.000 - - - -
sebelumnya (SILPA)
Total Penerimaan 4.221.348.359.000 4.286.189.137.000 4.126.306.041.000 4.496.206.178.000 4.980.082.491.000 5.337.511.158.000
Dikurangi :
TOTAL BELANJA
WAJIB DAN
PENGELUARAN YANG
1. 1.880.423.638.000 1.993.873.106.000 2.106.126.049.000 2.184.152.489.000 2.197.510.320.000 2.289.475.507.000
WAJIB MENGIKAT
SERTA PRIORITAS
UTAMA
Kapasitas riil
2.340.924.721.000 2.292.316.031.000 2.020.179.947.000 2.312.053.689.000 2.782.572.171.000 3.048.035.651.000
kemampuan keuangan
Sumber: Analisis, 2016

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 III-59


GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH SERTA
KERANGKA PENDANAAN

Tabel 3.42.
Belanja Daerah Prioritas I dan II Kota Semarang Tahun 2016 – 2021

PRIORITAS 2016 (Rp) 2017 (Rp) 2018 (Rp) 2019 (Rp) 2020 (Rp) 2021 (Rp)

Belanja Daerah
2.286.403.141.000 2.225.316.031.000 1.933.395.524.000 2.221.604.469.000 2.689.665.787.000 2.954.142.011.000
Prioritas I
Belanja Daerah untuk
2.286.403.141.000 2.225.316.031.000 1.933.395.524.000 2.221.604.469.000 2.689.665.787.000 2.954.142.011.000
membiayai Program
Pembangunan
Belanja Daerah
54.521.580.000 67.000.000.000 86.784.423.000 90.449.220.000 92.906.384.000 93.893.640.000
Prioritas II

Belanja Hibah 35.230.880.000 42.000.000.000 56.078.558.000 58.446.685.000 60.034.461.000 60.672.408.000

Belanja Bantuan Sosial 19.290.700.000 25.000.000.000 30.705.865.000 32.002.535.000 32.871.923.000 33.221.232.000

Belanja Daerah I+II 2.340.924.721.000 2.292.316.031.000 2.020.179.947.000 2.312.053.689.000 2.782.572.171.000 3.048.035.651.000

Sumber: Analisis, 2016

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 III-60


GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH SERTA
KERANGKA PENDANAAN

Tabel 3.43.
Proyeksi Kerangka Pendanaan RPJMD Kota Semarang Tahun 2016-2021
TAHUN ANGGARAN
KODE URAIAN
2016 2017 2018 2019 2020 2021
I PENDAPATAN 3.425.203.229.000 3.887.985.617.000 4.126.306.041.000 4.496.206.178.000 4.890.082.491.000 5.337.511.158.000
PENDAPATAN ASLI
1.1 1.232.373.211.000 1.461.617.271.000 1.553.044.597.000 1.767.853.137.000 1.973.181.728.000 2.213.654.606.000
DAERAH
1.1.1 Pajak Daerah 858.764.751.000 1.055.695.471.000 1.087.570.000.000 1.223.957.000.000 1.377.000.000.000 1.549.300.000.000
1.1.2 Retribusi Daerah 105.548.677.000 109.744.130.000 130.736.463.000 169.107.140.000 178.116.346.000 194.658.231.000
Pengelolaan
1.1.3 Kekayaan Daerah 22.084.633.000 26.172.110.000 25.981.738.000 27.905.555.000 31.119.385.000 34.320.489.000
Yang Dipisahkan
Lain-Lain PAD Yang
1.1.4 245.975.150.000 270.005.560.000 308.756.396.000 346.883.442.000 386.945.997.000 435.375.886.000
Sah
DANA
1.2 1.762.670.018.000 1.811.208.346.000 1.881.206.444.000 1.968.775.541.000 2.062.376.086.000 2.162.516.280.000
PERIMBANGAN
Dana Bagi Hasil
1.2.1 153.457.483.000 153.527.483.000 172.718.417.000 194.308.219.000 218.596.745.000 245.921.340.000
Pajak
Dana Bagi Hasil
1.2.2 3.200.824.000 3.200.824.000 3.600.927.000 4.051.042.000 4.557.423.000 5.127.101.000
Bukan Pajak
1.2.3 Dana Alokasi Umum 1.211.708.204.000 1.260.176.532.000 1.310.583.593.000 1.376.112.773.000 1.444.918.411.000 1.517.164.332.000
Dana Alokasi
1.2.4 394.303.507.000 394.303.507.000 394.303.507.000 394.303.507.000 394.303.507.000 394.303.507.000
Khusus
LAIN-LAIN
1.3 PENDAPATAN YANG 430.160.000.000 615.160.000.000 692.055.000.000 759.577.500.000 854.524.677.000 961.340.272.000
SAH
Dana Bagi Hasil
Pajak Dari Provinsi
1.3.1 430.160.000.000 535.160.000.000 602.055.000.000 658.327.500.000 740.618.434.000 833.195.741.000
Pemerintah Daerah
Lainnya
Bantuan Keuangan
1.3.2 Dari Provinsi Atau - 75.000.000.000 84.375.000.000 94.921.875.000 106.787.103.000 120.135.498.000
Pemerintah Daerah

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 III-61


GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH SERTA
KERANGKA PENDANAAN

TAHUN ANGGARAN
KODE URAIAN
2016 2017 2018 2019 2020 2021
Lainnya
Dana Intensif
1.3.3 - 5.000.000.000 5.625.000.000 6.328.125.000 7.119.140.000 8.009.033.000
Daerah
II BELANJA DAERAH 4.187.918.414.000 4.261.950.137.000 4.007.413.254.000 4.378.506.178.000 4.905.082.491.000 5.260.311.158.000
BELANJA TIDAK
2.1 1.633.209.712.000 1.758.241.058.000 1.808.334.085.000 1.846.224.807.000 1.883.592.334.000 1.920.188.087.000
LANGSUNG
2.1.1 Belanja Pegawai 1.567.703.870.000 1.685.256.796.000 1.710.535.651.000 1.744.746.366.000 1.779.641.290.000 1.815.234.117.000
2.1.2 Belanja Bunga - - - - - -
2.1.3 Belanja Subsidi - - - - - -
2.1.4 Belanja Hibah 35.230.880.000 42.000.000.000 56.078.558.000 58.446.685.000 60.034.461.000 60.672.408.000
Belanja Bantuan
2.1.5 19.290.700.000 25.000.000.000 30.705.865.000 32.002.535.000 32.871.923.000 33.221.232.000
Sosial
2.1.6 Belanja Bagi Hasil - - - - - -
Belanja Bantuan
2.1.7 984.262.000 984.262.000 1.014.011.000 1.029.221.000 1.044.660.000 1.060.330.000
Keuangan
Belanja Tidak
2.1.8 10.000.000.000 5.000.000.000 10.000.000.000 10.000.000.000 10.000.000.000 10.000.000.000
Terduga
BELANJA
2.2 2.554.708.702.000 2.503.709.079.000 2.199.079.169.000 2.532.281.371.000 3.021.490.157.000 3.340.123.071.000
LANGSUNG
2.2.1 Belanja Pegawai 231.221.432.000 226.605.561.000 199.034.134.000 229.191.580.000 273.468.862.000 302.307.672.000
Belanja Barang dan
2.2.2 1.172.003.619.000 1.148.606.922.000 1.008.854.255.000 1.161.714.809.000 1.386.145.277.000 1.532.321.992.000
Jasa
2.2.3 Belanja Modal 1.151.483.651.000 1.128.496.596.000 991.190.780.000 1.141.374.982.000 1.361.876.018.000 1.505.493.407.000
SURPLUS/DEFISIT
(762.715.185.000) (373.964.520.000) 118.892.787.000 117.700.000.000 (15.000.000.000) 77.200.000.000
(I-II)
PEMBIAYAAN
III 762.715.185.000 373.964.520.000 (118.892.787.000) (117.700.000.000) 15.000.000.000 (77.200.000.000)
DAERAH
PENERIMAAN
3.1 796.145.130.000 398.203.520.000 - - 90.000.000.000 -
PEMBIAYAAN
3.1.1 Pengunaan SILPA 796.145.130.000 398.203.520.000 - - - -
3.1.2 Pencairan Dana - - - - 90.000.000.000 -

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 III-62


GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH SERTA
KERANGKA PENDANAAN

TAHUN ANGGARAN
KODE URAIAN
2016 2017 2018 2019 2020 2021
Cadangan
Hasil Penjualan
3.1.3 Kekayaan Daerah - - - - - -
yang Dipisahkan
Penerimaan
3.1.4 - - - - - -
Pinjaman Daerah
Penerimaan Kembali
3.1.5 Pemberian Pinjaman - - - - - -
Daerah
PENGELUARAN
3.2 33.429.945.000 24.239.000.000 118.892.787.000 117.700.000.000 75.000.000.000 77.200.000.000
PEMBIAYAAN
Pembentukan Dana
3.2.1 - - 45.000.000.000 45.000.000.000 - -
Cadangan
Penyertaan Modal
3.2.2 33.429.945.000 24.239.000.000 73.892.787.000 72.700.000.000 75.000.000.000 77.200.000.000
Pemerintah Daerah
Penyertaan Modal
3.2.2.1 19.305.000.000 9.339.000.000 15.100.000.000 16.200.000.000 18.500.000.000 20.700.000.000
(Bank Jateng)
Penyertaan Modal
Holding Company PT
3.2.2.2 - 10.000.000.000 22.500.000.000 22.500.000.000 22.500.000.000 22.500.000.000
Bhumi Pandanaran
Sejahtera
Penyertaan Modal
3.2.2.3 10.000.000.000 - 30.000.000.000 30.000.000.000 30.000.000.000 30.000.000.000
(PDAM)
Penyertaan Modal
3.2.2.4 1.000.000.000 900.000.000 2.000.000.000 2.000.000.000 2.000.000.000 2.000.000.000
BKK
Penyertaan Modal
3.2.2.5 2.000.000.000 4.000.000.000 4.292.787.000 2.000.000.000 2.000.000.000 2.000.000.000
Bank Pasar
Penyertaan Modal
3.2.2.6 1.124.945.000 - - - - -
Perusda Percetakan
Penyertaan Modal
- - - - - -
RPH dan BHP

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 III-63


BAB IV
ANALISIS ISU-ISU STRATEGIS

Mengidentifikasi berbagai faktor yang mempengaruhi keberhasilan di


masa lalu serta hal-hal yang masih belum berjalan secara optimal melalui
perumusan permasalahan agar dapat disusun perencanaan pembangunan
untuk jangka lima tahun ke depan. Selanjutnya rumusan permasalahan
tersebut dikelompokkan menjadi isu strategis yang merupakan
permasalahan utama untuk dijadikan prioritas. Analisis isu strategis
menghasilkan rumusan kebijakan yang bersifat antisipatif dan solutif atas
berbagai kondisi yang tidak ideal di masa depan untuk meningkatkan
efektivitas perencanaan pembangunan. Dengan demikian, rumusan tentang
permasalahan pembangunan dan isu strategis merupakan bagian penting
dalam penentuan kebijakan pembangunan jangka menengah Kota
Semarang.

4.1 PERMASALAHAN PEMBANGUNAN KOTA SEMARANG


Permasalahan pembangunan daerah merupakan kesenjangan antara
sasaran pembangunan yang ingin dicapai di masa mendatang dengan
kondisi riil saat perencanaan pembangunan disusun. Untuk meminimalisir
kesenjangan tersebut dalam rangka mewujudkan visi dan misi kepala daerah
terpilih, maka diperlukan perumusan yang tepat terkait analisis
permasalahan daerah. Berdasarkan hasil analisis permasalahan
pembangunan daerah pada masing-masing bidang urusan sesuai dengan
kondisi objektif daerah, serta kesepakatan dari para pemangku kepentingan
(stakeholders) pembangunan daerah maka diketahui permasalahan utama
Kota Semarang.
Permasalahan utama ini dijabarkan ke dalam 4 (empat) pokok
permasalahan sebagai berikut:
1. Kualitas sumber daya manusia yang masih perlu ditingkatkan
2. Penyelenggaraan tata kelola pemerintahan yang baik (Good Governance)
masih belum optimal
3. Belum optimalnya penyediaan infrastruktur dasar dan penataan ruang
4. Inovasi dan daya saing nilai tambah produksi pada sektor perekonomian
masih perlu ditingkatkan

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 IV-1


ANALISIS ISU-ISU STRATEGIS

Kualitas sumber
daya manusia
yang masih perlu
ditingkatkan
Inovasi dan daya
saing nilai tambah Penyelenggaraan tata
produksi pada kelola pemerintahan
sektor MASALAH yang baik (Good
perekonomian Governance) masih
masih perlu belum sesuai harapan
ditingkatkan

Belum optimalnya
penyediaan
infrastruktur
dasar dan
penataan ruang

Gambar 4.1
Gambaran Permasalahan Utama dan Permasalahan Pokok Pembangunan
Daerah Kota Semarang

Permasalahan pembangunan daerah Kota Semarang diidentifikasi


melalui kajian data dan informasi pembangunan daerah khususnya data
strategis pembangunan. Berikut penjabaran permasalahan pembangunan
Kota Semarang berdasarkan gambaran umum kondisi pembangunan daerah
Kota Semarang:

1. Kualitas Sumber Daya Manusia Yang Masih Perlu Ditingkatkan


Sumber Daya Manusia memiliki peran penting dalam proses
pembangunan daerah. Sumber daya manusia dalam pembangunan daerah
haruslah memiliki kualifikasi tertentu berdasarkan kontribusi di bidangnya
masing-masing. Sumber daya manusia yang berkualitas dan berdaya saing
secara otomatis akan memberikan sumbangsih atas keberhasilan setiap
capaian kinerja pembangunan daerah. Hal tersebut secara positif akan
berdampak pada ketercapaian visi dan misi pembangunan daerah serta
menjadi daya dorong perwujudan target dari aspek-aspek pembangunan baik
dari sektor ketenagakerjaan, kehidupan sosial masyarakat, hingga
infrastruktur dasar kehidupan masyarakat.

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 IV-2


ANALISIS ISU-ISU STRATEGIS

Kualitas SDM terkait dengan permasalahan pokok antara lain


rendahnya akses dan mutu pendidikan, rendahnya akses dan mutu
pelayanan kesehatan, dan pendapatan per kapita yang dipengaruhi oleh
sektor ekstratif skala besar. Pendidikan ditujukan untuk meningkatkan
kualitas sumber daya manusia, sehingga tercipta sumber daya manusia yang
berkualitas melalui peningkatan mutu pendidikan dan penyelenggaraan
pendidikan. Sebagaimana telah diuraikan pada Bab 2, berdasarkan indikator
pada sektor pendidikan, kondisi di Kota Semarang relatif sudah baik.
Permasalahan pada kualitas sumber daya manusia yang masih perlu
ditingkatkan adalah yang terkait dengan kelulusan pada pendidikan
menengah, yang antara lain diindikasikan pada rata-rata lama sekolah yang
hanya 10,19 tahun. Hal lain yang masih memerlukan perhatian dari sektor
pendidikan adalah yang terkait dengan pendidikan karakter, budi pekerti
dan wawasan kebangsaan. Masih adanya kasus yang terkait dengan
kenakalan remaja, penyalahgunaan narkotika dan obat-obatan terlarang,
serta seks bebas menunjukkan perlunya penguatan pendidikan karakter
sejak dini.
Di sisi lain, dari komposisi penduduk Kota Semarang selama enam
tahun terakhir (2010-2015) berdasarkan tingkat pendidikan masih
didominasi oleh penduduk dengan tingkat pendidikan tamat SD (atau yang
sederajat), SMP (atau yang sederajat) dan SMA (atau yang sederajat).
Sedangkan untuk tingkat pendidikan tamat Akademi D-III dan Universitas
memiliki jumlah yang relatif rendah dibandingkan tingkat pendidikan
lainnya. Sebagai kota metropolitan, peningkatan jumlah penduduk dengan
pendidikan yang ditamatkan pada tingkat menengah dan Perguruan Tinggi
menjadi menjadi suatu keniscayaan untuk meningkatkan kualitas sumber
daya manusia.
Permasalahan berikutnya yang mempengaruhi SDM yang belum
berkualitas adalah akses dan mutu pelayanan kesehatan. Peningkatan
layanan kesehatan sangat perlu dilakukan mengingat kesehatan merupakan
kunci utama individu dalam melaksanakan aktivitasnya. Jika dilihat dari
indikator yang tercantum dalam SPM Kesehatan, capaian Kota Semarang
dalam meningkatkan kualitas kesehatan warganya dapat dilihat angka
kelangsungan hidup bayi per 1.000 kelahiran pada tahun 2014 sebesar
90,63% menurun menjadi 90,44% pada tahun 2015. Sedangkan persentase
gizi buruk meningkat dari tahun 2014 sebesar 0,38% menjadi 0,40% pada
tahun 2015.

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 IV-3


ANALISIS ISU-ISU STRATEGIS

Masih cukup tingginya angka pengangguran terbuka serta kualitas


dan kompetensi tenaga kerja merupakan hal lain yang menjadi
permasalahan untuk meningkatkan lagi kualitas sumber daya manusia. Dari
sisi kesejahteraan, meskipun angka kemiskinan Kota Semarang sudah
rendah, upaya penurunan kemiskinan perlu terus dilakukan. Selain hal yang
bersifat fisik, kualitas SDM juga ikut dipengaruhi oleh hal yang bersifat non
fisik, antara lain melalui kegiatan seni dan budaya.
Rumusan permasalahan yang terkait dengan Sumber Daya Manusia,
selanjutnya dilakukan analisa untuk melihat akar permasalahan dari pokok
masalah yang ada. Hal ini dilakukan untuk menentukan solusi terhadap
permasalahan yang ada. Rumusan dan akar permasalahan pada Sumber
Daya Manusia sebagaimana dijelaskan pada tabel 4.1.

Tabel 4.1.
Rumusan Permasalahan:
Kualitas Sumber Daya Manusia Yang Masih Perlu Ditingkatkan
MASALAH AKAR MASALAH
1. Masih perlunya peningkatan kompetensi
pendidik dan tenaga Kependidikan
2. Masih perlunya pengoptimalan kualitas
pelayanan pendidikan (pendidikan
1) Kualitas kelulusan pendidikan inklusi, Semarang Knowledge Sharing)
yang masih perlu ditingkatkan 3. Masih perlunya peningkatan pendidikan
pembentukan karakter
4. Masih perlunya peningkatan kuantitas
dan kualitasnya Sarana dan Prasarana
Pendidikan
1. Belum optimalnya budaya perilaku hidup
sehat pada masyarakat
2. Belum optimalnya kompetensi dan
kapasitas tenaga medis dan non medis
sesuai dengan standar kompetensi
3. Kurangnya kesiapan prasarana dan
2) Belum seluruh lapisan
sarana pelayanan kesehatan pada
masyarakat mendapat akses ke
pelaksanaan Jaminan Kesehatan Nasional
pelayanan kesehatan yang
(BPJS)
bermutu.
4. Masih perlunya peningkatan kualitas dan
kuantitas sarana dan prasarana
Kesehatan
5. Belum terpenuhnya seluruh Standar
Operasional Prosedur pelayanan
kesehatan
1. Peningkatan kualitas dan kompetensi
seluruh tenaga kerja sesuai dengan
3) Tingginya tingkat pengangguran
kebutuhan pasar tenaga kerja masih perlu
terbuka
dioptimalkan

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 IV-4


ANALISIS ISU-ISU STRATEGIS

MASALAH AKAR MASALAH


2. Pertumbuhan ketersediaan lapangan kerja
formal belum seimbang dengan
ketersediaan tenaga kerja
3. Masih diperlukan peningkatan minat
kewirausahaan
1. Tingkat dan cakupan pelayanan
perlindungan dan pemberdayaan PMKS
masih perlu ditingkatkan
2. Jumlah bantuan sosial sarpras /
pemenuhan kebutuhan sosial dasar
(sanitasi, air minum, RTLH) masih perlu
4) Masih belum tuntasnya
ditingkatkan
pengentasan kemiskinan
3. Pemberian jaminan sosial bagi
penyandang cacat fisik dan mental serta
lanjut usia tidak potensial masih perlu
ditingkatkan
4. Perluasan akses pelayanan sosial
kesehatan (BPJS) dan pendidikan
1. Upaya pelestarian dan pengelolaan cagar
budaya masih perlu dioptimalkan
5) Pengembangan kekayaan dan
2. Penyelenggaraan festival seni dan budaya
keragaman budaya masih perlu
masih perlu dioptimalkan
ditingkatkan
3. Sarana dan prasarana untuk pementasan
seni dan budaya masih perlu dioptimalkan
1. Peran dan fungsi kelembagaan
masyarakat dalam pembangunan masih
perlu dioptimalkan
2. Koordinasi lintas sektor untuk
6) Perlu peningkatan
melaksanakan pemberdayaan masyarakat
pemberdayaan masyarakat
masih perlu dioptimalkan
dalam pembangunan
3. Tingkat partisipasi masyarakat dalam
pembangunan masih perlu ditingkatkan
4. Mitigasi dan adaptasi kebencanaan masih
perlu ditingkatkan

2. Penyelenggaraan tata kelola pemerintahan yang baik (Good


Governance) masih belum sesuai harapan
Untuk mewujudkan good governance di lingkungan pemerintahan,
terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan dan ditindaklanjuti dalam
realisasinya yakni akuntanbilitas, transparansi, dapat diprediksi, dan
partisipasi. Jika keseluruhan faktor tersebut dilaksanakan secara
menyeluruh dan seksama maka dapat dipastikan bahwa penyelenggaraan
Pemerintahan daerah akan berjalan pada koridor pencapaian pembangunan
daerah sebagai pendukung peningkatan capaian kinerja pembangunan
nasional.

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 IV-5


ANALISIS ISU-ISU STRATEGIS

Pembangunan berkelanjutan menjadi pokok perhatian dalam


perencanaan pembangunan daerah Kota Semarang. Penyelenggaraan
pemerintahan di lingkungan Pemerintah Kota Semarang masih menghadapi
permasalahan yang terkait dengan penyalahgunaan wewenang serta praktek
korupsi, kolusi dan nepotisme yang antara lain diindikasikan dengan masih
adanya pengaduan dari masyarakat terhadap oknum ASN yang melakukan
pungutan liar serta masih adanya oknum ASN yang terlibat kasus hukum.
Penyelenggaraan tata kepemerintahan yang baik di Kota Semarang juga
harus didukung dengan ketersediaan sarana prasarana pelayanan yang
memadai dan sesuai dengan standar pelayanan yang ada,
kapabilitas,kapasitas dan kompetensi aparatur pelayanan yang baik, dengan
jumlah yang mencukupi .
Rumusan permasalahan yang berhubungan dengan tata kelola
pemerintahan yang baik dapat dilihat pada tabel 4.2.
Tabel 4.2.
Rumusan Permasalahan:
Penyelenggaraan Tata Kelola Pemerintahan Yang Baik (Good Governance)
Masih Belum Optimal
MASALAH AKAR MASALAH
1. Sistem pengelolaan dan pelaporan keuangan
dan aset daerah masih perlu dikembangkan
lagi
2. Pengelolaan asset masih perlu dioptimalkan
lagi
3. Pelaksanaan pendataan, pengawasan dan
1) Upaya pengawasan
pemeriksaan pajak daerah masih perlu
masih perlu
dioptimalkan
ditingkatkan
4. Sistem pengendalian Internal yang dilakukan
secara prosedural masih perlu ditingkatkan
lagi
5. Tingkat akuntabilitas pelaporan keuangan
Instansi Pemerintah masih perlu dioptimalkan
lagi
1. Persebaran pegawai di setiap Perangkat
Daerah masih belum merata dari segi jumlah
maupun kualitas
2. Integrasi sistem informasi kepegawaian
dengan data kompetensi pegawai masih belum
dimaksimalkan
2) Perlu peningkatan
3. Peningkatan pengembangan dan pembinaan
disiplin aparatur
aparatur jabatan fungsional masih perlu
dioptimalkan
4. Masih adanya SOTK yang tumpang tindih
dengan Perangkat Daerah lain
5. Kualitas mental dan pola pikir aparatur perlu
lebih ditingkatkan

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 IV-6


ANALISIS ISU-ISU STRATEGIS

MASALAH AKAR MASALAH


6. Jumlah, kapabilitas, kapasitas dan
kompetensi aparatur masih perlu peningkatan
1. Kinerja aparatur pelayan masyarakat masih
perlu ditingkatkan
3) Masih terdapat sarana
2. Peningkatan sarana prasarana pelayanan
prasarana pelayanan
3. Penggunaan teknologi informasi dalam
publik yang belum
pelayanan perlu lebih ditingkatkan
sesuai standar
4. Penerapan SOP pelayanan masih belum
berjalan dengan optimal
1. Kesadaran dan kepatuhan masyarakat
terhadap Perda perlu ditingkatkan
2. Jumlah aparatur pengawas dan penindak
pelanggaran Perda masih perlu ditingkatkan
3. Menurunnya penerapan nilai-nilai
4) Masih tingginya jumlah kebangsaan/nasionalisme, gotong royong,
pelanggaran Perda budi pekerti, dan kesetiakawanan sosial di
kalangan masyarakat
4. Pengawasan dan pendataan terhadap
pendidikan ideologi asing, dan organisasi
sosial politik masyarakat masih perlu
ditingkatkan

3. Belum optimalnya penyediaan infrastruktur dasar dan penataan


ruang
Pembangunan infrastruktur merupakan salah satu aspek penting dan
vital untuk mempercepat proses pembangunan daerah. Infrastruktur juga
memegang peranan penting sebagai roda penggerak pertumbuhan ekonomi.
Gerak laju dan pertumbuhan ekonomi suatu daerah tidak dapat dipisahkan
dari ketersediaan infrastruktur seperti transportasi, telekomunikasi,
sanitasi, dan energi. Pengembangan infrastruktur merupakan salah satu
faktor kunci keberhasilan pembangunan secara keseluruhan. Hal ini
mengingat dampaknya yang hampir mempengaruhi indikator kunci
keberhasilan pembangunan dasar, baik pendidikan, kesehatan, maupun
ekonomi.
Pembangunan infrastruktur berkualitas dengan kapasitas yang
memadai dan merata merupakan faktor penting untuk mendorong
konektivitas antar wilayah sehingga dapat mempercepat dan memperluas
pembangunan ekonomi. Dibutuhkan jaringan infrastruktur yang efektif guna
meningkatkan keterkaitan sektor primer berbasis pertanian dengan sektor
industri pendukungnya melalui kluster dan pengembangan kawasan
berdasarkan potensi dan unggulan komoditas daerah. Kualitas dan
kapasitas infrastruktur yang memadai akan memperlancar konektivitas,

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 IV-7


ANALISIS ISU-ISU STRATEGIS

menurunkan biaya transportasi dan biaya logistik sehingga dapat


meningkatkan daya saing produk dan mempercepat laju pertumbuhan
ekonomi.
Rumusan permasalahan yang berhubungan dengan penyediaan
infrastruktur dasar dan penataan ruang dapat dilihat pada tabel 4.3.
Tabel 4.3.
Rumusan Permasalahan:
Belum Optimalnya Penyediaan Infrastruktur Dasar Dan Penataan Ruang
MASALAH AKAR MASALAH
(1) Belum optimalnya 1. Rencana Detail Tata Ruang Kota (RDTRK) dan
pemanfaatan tata ruang Peraturan Zonasi sebagai pedoman dalam
yang sesuai dengan pemberian ijin pemanfaatan ruang dan ijin
arahan rencana tata mendirikan bangunan belum berjalan maksimal.
ruang wilayah (RTRW) 2. Peningkatan kesesuaian pada peruntukan tata
maupun daya dukung ruang masih perlu dioptimalkan
lingkungan 3. Fungsi lahan yang belum dioptimalkan
1. Masih ada saluran dan gorong-gorong yang belum
berfungsi optimal
2. Infrastruktur pengendali Rob dan Banjir belum
(2) Masih terjadinya terbangun secara menyeluruh
genangan banjir dan 3. Saluran drainase belum terintegrasi secara
rob menyeluruh
4. Terjadinya penurunan tanah yang semakin tinggi
khususnya di daerah pesisir
5. Terjadinya perubahan cuaca yang ekstrim
1. Jaringan jalan belum terbangun secara
menyeluruh
2. Peningkatan fasilitas perlengkapan jalan masih
perlu dioptimalkan
(3) Belum optimalnya
3. Integrasi jaringan jalan dan fasilitas jalan yang
pengembangan sistem
masih perlu dioptimalkan
transportasi terpadu.
4. Kualitas pelayanan angkutan umum masih perlu
ditingkatkan
5. Pengelolaan sarana dan prasarana transportasi
masih perlu dioptimalkan
1. Ketersediaan lahan untuk instalasi sanitasi
komunal di kawasan pesisir Semarang sangat
sulit didapatkan.
(4) Belum seluruh Rumah
2. Upaya peningkatan pelayanan pengelolaan air
Tangga memiliki
minum dan air limbah masih perlu dioptimalkan
sanitasi yang baik
3. Penyediaan Prasarana Sarana Umum (PSU)
lingkungan perumahan dan permukiman masih
perlu ditingkatkan
1. Pelayanan pengelolaan persampahan masih perlu
ditingkatkan
(5) Kurangnya penanganan 2. Peran serta dan kesadaran masyarakat dalam
tingkat pencemaran dan pengelolaan lingkungan masih perlu
kerusakan lingkungan dioptimalkan
3. Penanganan lahan kritis masih perlu
ditingkatkan

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 IV-8


ANALISIS ISU-ISU STRATEGIS

MASALAH AKAR MASALAH


4. Ruang Terbuka Hijau (RTH) di wilayah perkotaan
masih perlu ditingkatkan
5. Pencemaran udara, air dan tanah perlu
dikendalikan
6. Penurunan kualitas dan daya dukung
lingkungan.

4. Inovasi dan daya saing nilai tambah produksi pada sektor


perekonomian masih perlu ditingkatkan
Perekonomian suatu wilayah menjadi salah satu tolok ukur utama
dalam melihat tingkat kesejahteraan masyarakat baik secara makro maupun
mikro. Hal tersebut merupakan poin penting mengingat kehidupan
masyarakat sangat ditentukan oleh perekonomian terkait dengan finansial
atau kebutuhan. Salah satu problem yang menghambat percepatan
kemajuan Kota Semarang adalah rendahnya inovasi dan daya saing (the low
of competitiveness) nilai tambah produksi. Secara teori, variabel daya saing
ini menjadi faktor kunci peningkatan pertumbuhan ekonomi baik skala
nasional, regional, dan global. Daya saing dalam hal ini terkait dengan
kapasitas produksi, kapasitas inovasi, dan kemampuan daerah Kota
Semarang menarik investasi dalam kerangka meningkatkan struktur
perekonomian. Rumusan permasalahan yang berhubungan dengan inovasi
dan daya saing nilai tambah produksi pada sektor perekonomian dapat
dilihat pada tabel 4.4.
Tabel 4.4.
Rumusan Permasalahan:
Inovasi Dan Daya Saing Nilai Tambah Produksi Pada Sektor Perekonomian
Masih Perlu Ditingkatkan
MASALAH AKAR MASALAH
(1) Penataan penyediaan dan 1. Penganekaragaman pangan masih perlu
distribusi bahan pangan dioptimalkan
perlu dioptimalkan
1. Penyelenggaraan intensifikasi pertanian masih
perlu dioptimalkan;
(2) Produksi dan kualitas 2. Pengawasan/pengendalian produksi dan
produk pertanian dan distribusi produk ternak masih perlu
peternakan perlu dioptimalkan
ditingkatkan 3. Pengembangan pertanian perkotaan/urban
farming masih perlu dioptimalkan
4. Semakin berkurangnya lahan pertanian
(3) Produktifitas hasil 1. Keterbatasan lahan untuk budidaya perikanan.
perikanan perlu 2. Tingginya alih profesi dari petani perikanan
ditingkatkan; keaktivitas perkotaan;

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 IV-9


ANALISIS ISU-ISU STRATEGIS

MASALAH AKAR MASALAH


1. Belum optimalnya upaya pembinaan dan
(4) Kontribusi kategori- pengendalian pedagang informal di ruang publik;
kategori pada sektor 2. Belum optimalnya pengendalian pasar dan ritel
perdagangan dan jasa- modern;
jasa perlu dioptimalkan 3. Pasar rakyat belum sepenuhnya tertata dengan
baik;
1. Belum optimalnya pengembangan industri yang
berwawasan lingkungan;
2. Pola kemitraan antara UMKM dengan usaha
(5) Produk-produk unggulan
besar belum optimal.
daerah belum
3. Akses permodalan dan pasar Industri Kecil
dikembangkan dengan
Menengah (IKM) masih terbatas;
maksimal
4. Belum optimalnya hubungan kerjasama usaha
antara IKM dengan industri besar;
5. Industri kreatif masih perlu dikembangkan.
1. Pelayanan dan regulasi penanaman modal masih
(6) Peningkatan jumlah PMA
perlu ditingkatkan;
maupun PMDN masih
2. Daya saing daerah dalam menarik investasi masih
belum maksimal
perlu ditingkatkan;
1. Belum optimalnya upaya pengembangan dan
(7) Belum optimalnya pengelolaan objek dan daya tarik wisata;
pengembangan destinasi 2. Belum optimalnya keikutsertaan swasta dan
wisata masyarakat dalam pengembangan
kepariwisataan.

4.2 ISU-ISU STRATEGIS PEMBANGUNAN DAERAH DALAM RPJMD


TAHUN 2016 – 2021
4.2.1 Isu-Isu Strategis Pembangunan Jangka Menengah
Identifikasi isu-isu strategis pembangunan jangka menengah Kota
Semarang tahun 2016-2021 dilakukan berdasarkan permasalahan
pembangunan daerah yang muncul diberbagai bidang urusan
penyelenggaraan pemerintahan daerah selama tahun 2010-2015 yang
mempengaruhi keberhasilan kinerja penyelenggaraan pemerintahan daerah
pada periode tersebut dan/atau diperkirakan akan berdampak signifikan
bagi daerah dan masyarakat Kota Semarang dimasa mendatang.
Isu strategis pembangunan jangka menengah Kota Semarang
dirumukan berdasarkan identifikasi permasalah pada tiap urusan
penyelenggaraan pemerintahan dapat dilihat pada tabel 4.5.

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 IV-10


ANALISIS ISU-ISU STRATEGIS

Tabel 4.5.
Identifikasi Masalah, Variabel Penyebab Yang Mempengaruhi Permasalahan
Pembangunan Daerah dengan Isu Strategis Pembangunan Jangka Menengah
Daerah Kota Semarang
Variabel Penyebab
No. Urusan Pemerintahan Daerah yang Mempengaruhi Isu Strategis
Permasalahan
A. Urusan Wajib Pelayanan Dasar
Pendidikan
Pengembangan PAUD belum Ketersediaan sarana Peningkatan
optimal prasarana pelayanan
Pendidikan Pendidikan
Ketersediaan dan daya tampung
pendidikan dasar SD/MI dan
SMP/MTs yang memadai dan
terjangkau masih perlu
ditingkatkan
Pelayanan Pendidikan Kualitas Pendidikan
berkualitas belum optimal dan Tenaga
A.1 (pendidikan inklusi, Semarang Kependidikan
Knowledge Sharing).
Tingkat kompetensi pendidik
dan tenaga kependidikan belum
optimal
Tingkat kualitas kelulusan
pendidikan belum optimal
Belum optimalnya pendidikan Ketersediaan
pembentukan karakter moral kurikulum berbasis
dan beragama karakter
Penyediaan sarana dan Ketersediaan sarana
prasarana pendidikan belum prasarana
optimal Pendidikan
Kesehatan
Akses masyarakat terhadap Akses Masyarakat Peningkatan
tingkat pelayanan kesehatan terhadap Pelayanan pelayanan
yang bermutu perlu Kesehatan yang kesehatan
ditingkatkan untuk seluruh Bermutu
lapisan masyarakat
Masih beredarnya bahan-bahan Ketersediaan Perda
berbahaya dan mudahnya yang mengatur
memperoleh bahan-bahan secara jelas
berbahaya tersebut serta peredaran dan
belum adanya regulasi dari sangsi bahan-bahan
pemerintah yang mengatur berbahaya
A.2 secara jelas peredaran bahan-
bahan tersebut
Tingkat kesadaran masyarakat
untuk berperilaku hidup
sehat belum sepenuhnya
menjadi budaya hidup
masyarakat
Belum optimalnya kompetensi Kualitas dan Peningkatan
dan kapasitas tenaga medis dan kuantitas tenaga pelayanan
non medis sesuai dengan medis dan non medis kesehatan
standar kompetensi
Standar Operasional Prosedur
pelayanan kesehatan belum
dipenuhi seluruhnya

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 IV-11


ANALISIS ISU-ISU STRATEGIS

Variabel Penyebab
No. Urusan Pemerintahan Daerah yang Mempengaruhi Isu Strategis
Permasalahan
Persentase posyandu aktif masih Kesadaran
perlu ditingkatkan Masyarakat terhadap
Perilaku Hidup Sehat
dan Kesehatan
Lingkungan
Masih terdapat balita dengan
gizi buruk
Masih tingginya Angka Demam
Berdarah Dengue (DBD)
Kurang memadainya kondisi Ketersediaan Sarana
sarana dan prasarana dan Prasarana
Puskesmas, puskesmas Kesehatan
pembantu dan pusling yang ada
Kurangnya kesiapan
prasarana dan sarana
pelayanan kesehatan pada
pelaksanaan Jaminan Kesehatan
Nasional (BPJS)
Masih terdapat kematian ibu
Masih terdapat kematian bayi
Sarana dan prasarana Rumah
Sakit Umum Daerah (RSUD)
masih perlu ditingkatkan
Pekerjaan Umum dan Penataan
Ruang
Belum optimalnya upaya Ketersediaan Peningkatan
peningkatan kualitas dan Jaringan Jalan dan infrastruktur
pemeliharaan jalan lingkungan sarana prarana berkelanjutan
pendukung yang
berkualitas
Belum optimalnya upaya
peningkatan kapasitas dan
kualitas jalan perkotaan
Belum optimalnya upaya Ketersediaan Sarana Penanganan rob
peningkatan kapasitas saluran dan Prasarana dan banjir
drainase Pengendalian rob
dan banjir
Belum optimalnya upaya
A.3 peningkatan pemeliharaan
saluran drainase
Jaringan drainase belum
terhubung dengan optimal
Masih adanya titik-titik
genangan banjir dan rob
Belum efektifnya pengaturan tata Ketersediaan Perda Peningkatan tata
ruang dan Zonasi sebagai Rencana Detail Tata ruang dan
pedoman dalam pemberian ijin Ruang Kota (RDTRK), kualitas
pemanfaatan ruang dan ijin Zonasi lingkungan
mendirikan bangunan hidup
Fungsi lahan yang tidak optimal Tingkat pengendalian
tata ruang
Masih adanya bangunan liar
Masih adanya ketidaksesuaian
peruntukan tata ruang

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 IV-12


ANALISIS ISU-ISU STRATEGIS

Variabel Penyebab
No. Urusan Pemerintahan Daerah yang Mempengaruhi Isu Strategis
Permasalahan
Kesadaran dan peran serta Ketersediaan Ruang
masyarakat dalam pengelolaan Terbuka Hijau (RTH)
lingkungan belum optimal
Belum optimalnya penanganan
lahan kritis
Penurunan kualitas dan daya
dukung lingkungan
Masih kurangnya Ruang
Terbuka Hijau (RTH) di wilayah
perkotaan
Belum optimalnya upaya Tingkat Pelayanan Peningkatan
peningkatan pelayanan Pengelolaan Air pelayanan publik
pengelolaan air minum dan air Minum dan Air
limbah Limbah
Belum optimalnya upaya
peningkatan pengolahan air
baku
Kapasitas resapan air belum
memadai
Kapasitas tandon air masih
belum mencukupi
Belum optimalnya upaya Adanya Kawasan-
pengurangan luasan kawasan Kumuh
permukiman kumuh
Perumahan Rakyat dan
Kawasan Permukiman
Masih kurangnya ketersediaan Ketersediaan Peningkatan
perumahan yang layak dan Perumahan yang kesejahteraan
terjangkau terutama bagi Layak dan masyarakat
Masyarakat Berpenghasilan Terjangkau bagi
Rendah (MBR) MBR
Belum optimalnya penanganan Kualitas lingkungan
A.4 kawasan kumuh perumahan dan
permukiman
Belum optimalnya penyediaan Regulasi penyediaan Peningkatan
Prasarana Sarana Umum (PSU) PSU lingkungan infrastruktur
lingkungan perumahan dan perumahan dan berkelanjutan
permukiman permukiman
Belum optimalnya pengelolaan Tingkat Pelayanan
kebencanaan kebakaran Penanggulangan
Bencana Kebakaran
Ketentraman, ketertiban
umum, dan perlindungan
masyarakat
Kesadaran dan kepatuhan Kesadaran dan Peningkatan
masyarakat terhadap Perda pemahaman pelayanan publik
perlu ditingkatkan Masyarakat terhadap
Peraturan
A.5 perundang-
undangan,
Masih tingginya jumlah Ketersediaan sarana
pelanggaran Perda prasarana, SDM dan
sistem pengelolaan
keamanan dan
ketertiban
masyarakat

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 IV-13


ANALISIS ISU-ISU STRATEGIS

Variabel Penyebab
No. Urusan Pemerintahan Daerah yang Mempengaruhi Isu Strategis
Permasalahan
Jumlah personil masih belum Kuantitas dan Peningkatan
mencukupi dan kemampuan kapabilitas,kapasitas pelayanan
SDM masih perlu ditingkatkan serta kompetensi publik
SDM
Masih maraknya Mental, moral dan
penyalahgunaan narkotika, obat budi pekerti
terlarang, psikotropika, dan zat
adiktif lainnya di kalangan
Pelajar, mahasiswa, pekerja
serta masyarakat umum lainnya
Sosial

Belum optimalnya tingkat dan Ketersediaan sarana Penanggulangan


cakupan pelayanan prasarana, SDM dan kemiskinan dan
perlindungan dan sistem pengelolaan pengangguran
pemberdayaan PMKS perlindungan dan
pemberdayaan PMKS
Pengentasan kemiskinan belum Integrasi program
tuntas dan penanganganannya penanggulangan
belum optimal Kemiskinan
Belum adanya pemberian Ketersediaan sarana
A.6 jaminan sosial bagi penyandang prasarana, SDM dan
cacat fisik dan mental serta sistem pengelolaan
lanjut usia tidak potensial perlindungan dan
pemberdayaan PMKS
Belum optimalnya mitigasi Ketersediaan sarana Peningkatan
bencana dan Prasarana serta pelayanan publik
integrasi pengelolaan
kebencanaan
Belum optimalnya koordinasi
lintas sektor dalam
pengelolaan kebencanaan
B. Urusan Wajib Non Pelayanan Dasar
Tenaga Kerja
Kualitas dan kompetensi tenaga Tingkat Kualitas dan Peningkatan
kerja belum memadai sesuai Kompetensi Tenaga kesejahteraan
dengan kebutuhan pasar tenaga Kerja sosial
B.1 kerja masyarakat
Masih cukup tingginya tingkat Tingkat
pengangguran terbuka Pengangguran
Masih rendahnya jaminan Kasus
kesejahteraan dan perlindungan ketenagakerjaan
tenaga kerja
Pemberdayaan Perempuan dan
Perlindungan Anak
Belum optimalnya upaya Tingkat partisipasi Peningkatan
perlindungan perempuan dan Perempuan dalam kesejahteraan
anak terhadap kekerasan, Pembangunan sosial
diskriminasi dan eksploitasi masyarakat
B.2
Belum optimalnya upaya Kasus KDRT dan
peranserta dan pemberdayaan eksploitasi anak
perempuan dalam pembangunan
daerah

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 IV-14


ANALISIS ISU-ISU STRATEGIS

Variabel Penyebab
No. Urusan Pemerintahan Daerah yang Mempengaruhi Isu Strategis
Permasalahan
Terbatasnya fungsi dan peran Tingkat partisipasi
kelembagaan perempuan Perempuan dalam
masyarakat dalam Pembangunan
pembangunan
Pangan
Belum optimalnya penataan Tingkat ketersediaan Peningkatan
penyediaan dan distribusi bahan bahan pangan Ekonomi dan
B.2 pangan; daya saing
Belum optimalnya
penganekaragaman pangan

Pertanahan
Masih munculnya konflik Status kepemilikan Tata Kelola dan
B.3 kepentingan pertanahan hak atas tanah Reformasi
Birokrasi

Lingkungan Hidup
Masih tingginya tingkat Tingkat Peningkatan tata
pencemaran dan kerusakan permasalahan ruang dan
lingkungan Lingkungan hidup kualitas
B.4 lingkungan
hidup
Belum optimalnya pelayanan Tingkat Pelayanan
pengelolaan persampahan Pengelolaan
Persampahan
Administrasi kependudukan
dan pencatatan sipil
Belum optimalnya tertib Tingkat Pelayanan Peningkatan
administrasi kependudukan Administrasi pelayanan publik
Kependudukan
B.5
Belum optimalnya
pengembangan data pilah
kependudukan
Belum optimalnya Sistem
Kependudukan terpadu
Pemberdayaan Masyarakat dan
Desa
Belum optimalnya Tingkat kesadaran Peningkatan
pemberdayaan masyarakat dan masyarakat dalam kesejahteraan
pembangunan berspektif gender Pembangunan sosial
Belum optimalnya peran dan
fungsi kelembagaan
masyarakat dalam
pembangunan
B.6
Belum optimalnya koordinasi
lintas sektor untuk
melaksanakan pemberdayaan
masyarakat

Menurunnya partisipasi
masyarakat dalam
pembangunan

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 IV-15


ANALISIS ISU-ISU STRATEGIS

Variabel Penyebab
No. Urusan Pemerintahan Daerah yang Mempengaruhi Isu Strategis
Permasalahan
Pengendalian Penduduk dan
Keluarga Bencana
Belum optimalnya upaya Peningkatan Penanggulangan
pemberdayaan kapasitas dan kapasitas warga kemiskinan dan
potensi ekonomi keluarga untuk miskin pengangguran
mendorongpeningkatan
kesejahteraan
Masih terbatasnya akses Kapasitas keluarga
B.7 keluarga miskin terhadap sistem miskin
ekonomi formal
Masih rendahnya pasangan usia Tingkat Pelayanan Peningkatan
subur (PUS) yang menjadi Keluarga Berencana kesejahteraan
akseptor KB sosial
masyarakat
Belum optimalnya penggunaan Kapasitas dan
data miskin keluarga sebagai Potensi Ekonomi
sasaran program Keluarga
Perhubungan
Moda transportasi massal Tingkat Kemacetan Peningkatan
Lalulintas pelayanan publik
Bertambahnya simpul-simpul Tingkat Pelayanan
B.8 kemacetan Angkutan Umum
Kualitas layanan angkutan Tingkat Pelayanan
umum masih perlu ditingkatkan Sarana dan
Prasarana
Perhubungan
Belum optimalnya angkutan
umum terpadu
Belum optimalnya fasilitas
perlengkapan jalan
Belum optimalnya pengelolaan
perparkiran on street dan off
street
Komunikasi dan Informatika
Belum optimalnya Tingkat Pelayanan Peningkatan
penyelenggaraan informasi Komunikasi dan pelayanan publik
publik Informatika
Kerjasama bidang informasi Keterbukaan
komunikasi yang dilaksanakan informasi publik
oleh Pemda dengan media massa
masih perlu ditingkatkan

Masih terdapat aplikasi


B.9 pelayanan publik berbasis online
yang masih belum terintegrasi
Pelayanan kepada masyarakat
terkait perkembangan dan
pengunaan teknologi informasi
dan komunikasi perlu
ditingkatkan
Belum optimalnya pengawasan
dan pengendalian base tower
system (BTS)

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 IV-16


ANALISIS ISU-ISU STRATEGIS

Variabel Penyebab
No. Urusan Pemerintahan Daerah yang Mempengaruhi Isu Strategis
Permasalahan
Koperasi, Usaha Kecil dan
Menengah
Masih rendahnya kuantitas dan Tingkat pengelolaan Peningkatan
kualitas Koperasi sehat dan aktif KUMKM yang Ekonomi dan
terintegrasi daya saing
Belum memadainya kemampuan
B.10
SDM dan kelembagaan UMKM
Terbatasnya akses UMKM
terhadap permodalan dan pasar
Pola kemitraan antara UMKM
dengan usaha besar belum
optimal
Penanaman Modal
Pelayanan dan regulasi Tingkat Pelayanan Peningkatan
penanaman modal perlu Penanaman Ekonomi dan
ditingkatkan Modal daya saing
Daya saing daerah dalam
menarik investasi perlu
B.11 ditingkatkan
Peningkatan jumlah PMA
maupun PMDN belum maksimal

Menurunnya serapan tenaga


kerja oleh PMA maupun PMDN

Kepemudaan dan Olahraga


Belum terpenuhinya standar Peran serta Pemuda Peningkatan
mutu organisasi kepemudaan dalam Pembangunan Kesejahteraan
dan organisasi keolahragaan Sosial
Masih rendahnya peranserta Ketersediaan Sarana
pemuda dalam pembangunan dan Prasarana
Olahraga
Belum terpenuhinya standar
mutu organisasi olahraga dari
B.12 berbagai cabang olahraga
Cabang olahraga prestasi masih
perlu ditingkatkan

Belum memadainya
ketersediaan dan persebaran
sarana prasarana olahraga
Belum optimalnya peran serta
masyarakat terhadap olahraga
rekreasi

Statistik
Belum optimalnya pemanfaatan Tingkat Pelayanan Tata Kelola dan
data statistik dalam pengelolaan dan Kualitas Data Reformasi
pembangunan Statistik Birokrasi
B.13 Daerah
Belum optimalnya ketersediaan
dan kelengkapan data statistik
yang mutakhir

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 IV-17


ANALISIS ISU-ISU STRATEGIS

Variabel Penyebab
No. Urusan Pemerintahan Daerah yang Mempengaruhi Isu Strategis
Permasalahan
Persandian
Pengembangan sarana Tingkat keamanan Tata Kelola
B.14 prasarana Teknologi Informasi informasi Pemerintahan
persandian masih perlu dan Reformasi
ditingkatkan dilingkup Birokrasi
penyelenggaraan pemerintahan
Kebudayaan
Belum optimalnya upaya Tingkat Pelestarian Peningkatan
pelestarian dan pengelolaan seni dan kebudayaan Kesejahteraan
cagar budaya Sosial
Upaya penyelenggaraan festival Ketersediaan sarana
seni dan budaya masih perlu prasarana seni dan
B.15 ditingkatkan budaya
Belum optimalnya upaya
pengembangan kekayaan dan
keragaman Budaya
Sarana dan prasarana untuk
pementasan seni dan budaya
masih perlu ditambah
Perpustakaan
Belum tumbuhnya minat dan Tingkat Pelayanan Peningkatan
B.16 budaya baca masyarakat Perpustakaan pelayanan publik
Belum optimalnya penyediaan
sarana dan prasarana
kepustakaan
Kearsipan
Belum optimalnya pengelolaan Tingkat Pelayanan Tata Kelola
arsip Kearsipan Pemerintahan
Belum optimalnya sarana dan Reformasi
B.17 prasarana kearsipan Birokrasi
Belum optimalnya budaya tertib
arsip
Kompetensi aparatur di bidang
kearsipan masih perlu
ditingkatkan
C. Urusan Pilihan
Kelautan dan Perikanan
Produktifitas hasil perikanan Tingkat Kualitas dan Peningkatan
masih perlu ditingkatkan produktivitas Ekonomi dan
Tingginya alih profesi dari petani perikanan daya saing.
C.1
perikanan ke aktivitas perkotaan
Rendahnya pendapatan nelayan
Keterbatasan lahan untuk
budidaya perikanan
Pariwisata
Belum optimalnya upaya Pengelolaan dan Peningkatan
C.2 pengembangan dan pengelolaan Daya tarik wisata Ekonomi dan
objek dan daya tarik wisata daya saing.
Belum optimalnya
pengembangan destinasi wisata

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 IV-18


ANALISIS ISU-ISU STRATEGIS

Variabel Penyebab
No. Urusan Pemerintahan Daerah yang Mempengaruhi Isu Strategis
Permasalahan
Belum optimalnya keikutsertaan
swasta dan masyarakat dalam
pengembangan kepariwisataan
Pertanian
Belum optimalnya Kualitas dan Peningkatan
penyelenggaraan intensifikasi Produktivitas sektor Ekonomi dan
pertanian pertanian daya saing.
Belum optimalnya pertanian
perkotaan/urban farming
Terbatasnya SDM dalam
mendampingi kegiatan pertanian
di masyarakat
C.3 Semakin berkurangnya lahan
pertanian
Produksi dan kualitas produk
pertanian dan peternakan masih
perlu ditingkatkan

Belum optimalnya
pengawasan/pengendalian
produksi dan distribusi produk
ternak
Perdagangan
Upaya pembinaan dan Pengelolaan sarana Peningkatan
pengendalian pedagang informal prasarana Ekonomi dan
di ruang publik masih perlu perdagangan daya saing.
ditingkatkan
Belum optimalnya pengendalian Kemitraan usaha
C.4 pasar dan ritel modern

Pasar rakyat belum sepenuhnya


tertata dengan baik

Belum optimalnya upaya


hubungan kerjasama pelaku
usaha perdagangan
Perindustrian
Belum optimalnya Tingkat pengelolaan Peningkatan
pengembangan industri yang IKM dan Industri Ekonomi dan
berwawasan lingkungan Kreatif daya saing.
Belum memadainya kualitas dan Kemitraan usaha
kapasitas SDM dan IKM dan Industri
kelembagaan IKM Kreatif

C.5 Akses permodalan dan pasar


Industri Kecil Menengah (IKM)
masih terbatas

Belum optimalnya hubungan


kerjasama usaha antara IKM
dengan industri besar
Perlu dikembangkan industri
kreatif

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 IV-19


ANALISIS ISU-ISU STRATEGIS

Variabel Penyebab
No. Urusan Pemerintahan Daerah yang Mempengaruhi Isu Strategis
Permasalahan
D. Fungsi Penunjang
Perencanaan Pembangunan
Pemanfaatan data dan dokumen Ketersediaan, Tata Kelola
perencanaan dalam penyusunan kualitas Data dan Pemerintahan
perencanaan dan pelaksanaan Kajian bahan dan Reformasi
pembangunan belum optimal penyusunan Birokrasi
Perencanaan
Pembangunan
Penyerapan aspirasi Konsistensi proses /
masyarakat dalam proses mekanisme
perencanaan pembangunan perencanaan
D.1 belum optimal
Sistem informasi tentang
perencanaan dan evaluasi
pembangunan belum optimal
dan berkesinambungan
Koordinasi perencanaan
horisontal dan vertikal serta
lintas sektoral belum optimal
Kualitas dokumen perencanaan, Konsistensi dokumen
evaluasi, laporan kinerja dan perencanaan dan
keuangan Perangkat Daerah penganggaran
belum optimal
Penelitian dan Pengembangan
Masih terdapatnya kesenjangan Kajian dan Hasil Tata Kelola
antara implementasi dan penelitian Pemerintahan
kebijakan dan Reformasi
D.2 Birokrasi
Belum optimalnya
data/informasi dan hasil-hasil
kajian penelitian dan
pengembangan serta inovasi
daerah
Keuangan
Belum optimalnya upaya Kualitas Sumberdaya Tata Kelola
peningkatan sistem pengelolaan Aparatur Pemerintahan
dan pelaporan keuangan dan dan Reformasi
aset daerah Birokrasi

Masih terdapat sarana prasarana Sistem tata kelola


yang belum sesuai standar pemerintahan

Belum optimalnya pengelolaan


D.3 aset
Belum optimalnya tingkat
akuntabilitas pelaporan
keuangan Instansi Pemerintah
Belum optimalnya pelaksanaan
pendataan, pengawasan dan
pemeriksaan pajak daerah

Penerapan Analisis Standar


Belanja (ASB) masih belum
optimal

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 IV-20


ANALISIS ISU-ISU STRATEGIS

Variabel Penyebab
No. Urusan Pemerintahan Daerah yang Mempengaruhi Isu Strategis
Permasalahan
Kepegawaian serta pendidikan
dan pelatihan
Kurang optimalnya kinerja Kompetensi, Tata Kelola
aparatur terhadap pelayanan kapasitas dan Pemerintahan
masyarakat kapabilitas aparatur dan Reformasi
daerah Birokrasi
Belum optimalnya penerapan
SOP pelayanan
Belum meratanya persebaran
pegawai di setiap Perangkat
Daerah dari segi jumlah
maupun kualitas
Belum maksimalnya integrasi
antara sistem informasi
kepegawaian dengan data
kompetensi pegawai
D.4
Belum optimalnya
pengembangan dan pembinaan
aparatur jabatan fungsional
Disiplin aparatur masih perlu
ditingkatkan
Kualitas mental dan pola pikir
aparatur perlu ditingkatkan
Masih belum mencukupinya
jumlah pegawai dan kompetensi
pegawai
Tingkat pemahaman hukum
masyarakat dan aparatur masih
perlu ditingkatkan
Masih adanya SOTK yang
tumpang tindih dengan
Perangkat Daerah lain
E. Fungsi Lainnya
Belum optimalnya pelaksanaan Kompetensi, Tata Kelola
legislasi daerah kapasitas dan Pemerintahan
kapabilitas wakil dan Reformasi
rakyat Birokrasi
E.1 Belum maksimalnya sistem Konsistensi
pengendalian Internal yang pengawasan internal
dilakukan secara prosedural
Upaya pengawasan masih perlu
ditingkatkan
F. Urusan Pemerintahan Umum
Jumlah personil masih belum Tingkat kesadaran Peningkatan
mencukupi dan kemampuan bermasyarakat dan pelayanan
SDM masih perlu ditingkatkan berbangsa publik
Masih maraknya
penyalahgunaan narkotika, obat
terlarang, psikotropika, dan zat
F.1
adiktif lainnya di kalangan
Pelajar, mahasiswa, pekerja serta
masyarakat umum lainnya
Menurunnya penerapan nilai-
nilai kebangsaan/nasionalisme,
gotong royong, budi pekerti, dan

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 IV-21


ANALISIS ISU-ISU STRATEGIS

Variabel Penyebab
No. Urusan Pemerintahan Daerah yang Mempengaruhi Isu Strategis
Permasalahan
kesetiakawanan sosial di
kalangan masyarakat
Belum optimalnya pengawasan Ketersediaan data
dan pendataan terkait dengan dan SDM
pendidikan ideologi asing, dan
organisasi sosial politik
masyarakat

Berdasarkan permasalahan dan variabel penyebab tersebut pada tabel di


atas maka dapat dirumuskan isu strategis RPJMD ke depan adalah sebagai
berikut :
1. Peningkatan kesejahteraan sosial masyarakat
2. Peningkatan pelayanan pendidikan
3. Peningkatan pelayanan kesehatan
4. Penanggulangan kemiskinan dan pengangguran
5. Tata kelola pemerintahan dan reformasi birokrasi
6. Peningkatan pelayanan publik
7. Penanganan rob dan banjir
8. Peningkatan infrastruktur berkelanjutan
9. Peningkatan tata ruang dan kualitas lingkungan hidup
10. Peningkatan ekonomi dan daya saing

4.2.2 Keterkaitan Hasil Identifikasi Isu Strategis Pembangunan Jangka


Menengah Dengan Isu Pokok Pembangunan dari Visi Misi Walikota
dan Wakil Walikota Terpilih.
Sesuai dengan amanat Peraturan Kementrian dalam Negeri Nomor 54
Tahun 2010, isu strategis pembangunan jangka menengah hasil identifikasi
perlu disandingkan dengan permasalahan pokok pembangunan yang
tercantum dalam visi dan misi Walikota dan Wakil Walikota terpilih.
Hal ini untuk melihat keselarasan antara isu strategis pembangunan
jangka menengah hasi identifikasi dengan permasalahan pokok
pembangunan pada visi dan misi Walikota dan Wakil Walikota Terpilih,
sebagaimana tercantum pada tabel 4.6.

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 IV-22


ANALISIS ISU-ISU STRATEGIS

Tabel 4.6.
Keterkaitan Isu Strategis Pembangunan Jangka Menengah Hasil Identifikasi
Dengan Permasalahan Pokok Pembangunan
Walikota dan Wakil Walikota Terpilih
Permasalahan Pokok
Isu Strategis Pembangunan Jangka
Pembangunan Walikota dan
Menengah Hasil Identifikasi
Wakil Walikota Terpilih
1. Peningkatan kesejahteraan sosial 1. Sumber Daya Manusia
masyarakat Berkualitas
2. Peningkatan pelayanan pendidikan
3. Peningkatan pelayanan kesehatan

4. Penanggulangan kemiskinan dan 2. Pelayanan Publik


pengangguran
5. Tata kelola pemerintahan dan
reformasi birokrasi
6. Peningkatan pelayanan publik
7. Penanganan rob dan banjir 3. Pembangunan berkelanjutan
8. Peningkatan infrastruktur
berkelanjutan
9. Peningkatan tata ruang dan kualitas
lingkungan hidup
10. Peningkatan ekonomi dan daya saing 4. Inovasi dan daya saing
Daerah

4.2.3 Keterkaitan Hasil Identifikasi Isu Strategis Pembangunan Jangka


Menengah dengan Isu Strategis Pembangunan Jangka Panjang

Mengingat RPJMD Kota Semarang Tahun 2016-2021 merupakan


penjabaran dari tahapan pembangunan periode ketiga RPJPD Kota
Semarang Tahun 2005-2025 yang ditetapkan melalui Peraturan Daerah Kota
Semarang Nomor 6 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka
Panjang Daerah Kota Semarang Tahun 2005-2025, maka isu strategis
pembangunan jangka menengah hasil identifikasi juga harus selaras dengan
Tahapan Pembangunan Jangka Panjang yang termuat dalam RPJPD Kota
Semarang Tahun 2005-2025. Untuk melihat keselarasan dan keterkaitan
antara isu strategis pembangunan jangka menengah hasil identifikasi
dengan tahapan Pembangunan Jangka Panjang yang termuat dalam RPJPD
Kota Semarang Tahun 2005-2025.
Pada periode ketiga pelaksanaan RPJPD merupakan tahap penguatan,
yakni:

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 IV-23


ANALISIS ISU-ISU STRATEGIS

1) Penguatan sumberdaya manusia Kota Semarang yang berkualitas, adalah


pembangunan yang diprioritaskan pada peningkatan kualitas
sumberdaya manusia yang memiliki tingkat pendidikan dan derajat
kesehatan yang tinggi, berbudi luhur disertai toleransi yang tinggi dengan
tetap memiliki kadar keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan YME.
2) Penguatan tata pemerintahan yang baik (good governance) dan kehidupan
politik yang demokratis dan bertanggungjawab, adalah penyelenggaraan
pemerintah yang diprioritaskan pada pelaksanaan otonomi daerah secara
nyata, efektif, efisien dan akuntabel dengan menerapkan prinsip-prinsip
tata kelola pemerintahan yang baik sehingga mampu memberikan
pelayanan yang prima kepada masyarakat yang disertai dengan
penegakan supremasi hukum dan hak asasi manusia.
3) Penguatan kemandirian dan daya saing daerah, adalah pembangunan
yang diprioritaskan pada peningkatan kemampuan perekonomian daerah
dengan struktur perekonomian yang kokoh berlandaskan keunggulan
kompetitif yang berbasis pada potensi ekonomi lokal, berorientasi pada
ekonomi kerakyatan dan sektor ekonomi basis yang mempunyai daya
saing baik ditingkat lokal, nasional maupun internasional.
4) Penguatan tata ruang wilayah dan infrastruktur yang berkelanjutan,
adalah pembangunan yang diprioritaskan pada optimalisasi pemanfaatan
tata ruang dan peningkatan pembangunan infrastruktur wilayah yang
terencana, selaras, serasi, seimbang dan berkeadilan dengan tetap
memperhatikan konsep pembangunan yang berwawasan lingkungan dan
berkelanjutan.
5) Penguatan Kesejahteraan Sosial Masyarakat, adalah pembangunan yang
diprioritaskan pada penanggulangan kemiskinan, penanganan
penyandang masalah kesejahteraan sosial, pengurangan pengangguran
dan perlindungan perempuan dan anak serta mitigasi bencana.
Keterkaitan Isu Strategis pembangunan Jangka Menengah Daerah
dengan tahapan pembangunan RPJPD Kota Semarang Periode ketiga
sebagaimana tabel 4.7.

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 IV-24


ANALISIS ISU-ISU STRATEGIS

Tabel 4.7.
Keterkaitan Isu Strategis Pembangunan Jangka Menengah Daerah Dengan
Tahapan Pembangunan RPJPD Kota Semarang

Tahapan Pembembangunan Jangka Isu Strategis Pembangunan Jangka


Panjang Dalam RPJPD Kota Semarang Menengah Kota Semarang
Tahap III Tahun 2005-2025 Tahun 2016-2021

1) Penguatan sumberdaya manusia Kota 1) Peningkatan pelayanan pendidikan


Semarang yang berkualitas 2) Peningkatan Pelayanan Kesehatan
2) Penguatan tata kepemerintahan yang 3) Tata Kelola dan Reformasi Birokrasi
baik (good governance) dan 4) Peningkatan pelayanan publik
kehidupan politik yang demokratis
dan bertanggungjawab
3) Penguatan kemandirian dan daya 5) Peningkatan Ekonomi dan daya saing
saing daerah daerah

4) Penguatan tata ruang wilayah dan 6) Penanganan rob dan banjir


infrastruktur yang berkelanjutan, 7) Peningkatan infrastruktur
berkelanjutan
8) Peningkatan tata ruang dan kualitas
lingkungan hidup
5) Penguatan Kesejahteraan Sosial 9) Peningkatan kesejahteraan sosial
Masyarakat masyarakat
10) Penanggulangan kemiskinan dan
pengangguran

4.2.4 Penjelasan Isu Strategis Pembangunan Jangka Menengah


Penjelasan dari isu-isu strategis pembangunan jangka menengah
daerah Kota Semarang Tahun 2016-2021 tersebut dapat diuraikan sebagai
berikut:

A. Peningkatan kesejahteraan sosial masyarakat


Pembangunan kesejahteraan sosial masyarakat mencakup
kesejahteraan dan pemerataan ekonomi, kesejahteraan sosial, seni budaya
dan olah raga. Peningkatan pembangunan kesejahteraan sosial masyarakat
dilaksanakan untuk memenuhi kebutuhan dasar hidup, rasa aman dan
tentram serta adil dalam segala bidang; penguatan karakter berbasis
kearifan lokal, penguatan nilai-nilai kebangsaan dan budi pekerti;
pelestarian dan pengembangan seni budaya; peningkatan prestasi pemuda
dan olah raga.

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 IV-25


ANALISIS ISU-ISU STRATEGIS

B. Penanggulangan kemiskinan dan pengangguran


Kemiskinan adalah kondisi tidak terpenuhinya kebutuhan sehari-hari
secara layak. Kemiskinan merupakan salah satu permasalahan krusial di
Kota Semarang mengingat terdapat 5,04% penduduk Kota Semarang yang
terkategorikan miskin pada tahun 2015 menurut BPS. Kemiskinan dapat
disebabkan oleh kurangnya kesempatan kerja, beban ekonomi keluarga,
keterbatasan akses permodalan, tingkat pendidikan yang rendah.
Pembangunan penanganan kemiskinan melalui gerakan bersama
penanggulangan kemiskinan daerah secara komprehensif dan terpadu.
Pengangguran merupakan salah satu permasalahan krusial di kawasan
perkotaan termasuk Kota Semarang. Penanganannya dilakukan melalui
perluasan kesempatan kerja, peningkatan kemampuan dan keterampilan
pencari kerjaserta perluasan jaringan kerja.

C. Peningkatan Kualitas Pendidikan


Pembangunan sektor pendidikan mempunyai peran penting dalam
peningkatan pelayanan dasar SDM. Untukmewujudkan hal ini, dilakukan
melalui peningkatan kelembagaan sumber daya manusia dan tata laksana
yang meliputi penyediaan prasarana dan sarana sesuai standar, peningkatan
kualitas tenaga pendidik dan kependidikan, pengelolaan sistem pendidikan
yang berkualitas, termasuk pendidikan karakter, pengembangan
nasionalisme substansi, pengembangan Semarang Knowledge Sharing, dan
pendidikan inklusi.

D. Peningkatan Kualitas Kesehatan


Peningkatan kualitas pembangunan kesehatan merupakan pelayanan
dasar salah satu pilar utama dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat.
Pelaksanaan pembangunan kesehatan dilakukan melalui peningkatan
kualitas kelembagaan, sumber daya manusia, dan tata kelola meliputi antara
lain
Peningkatan kualitas prasarana dan sarana kesehatan, kualitas tenaga
medis dan paramedis, perbaikan sistem pelayanan dengan memperhatikan
keterjangkauan dan ketersediaan pelayanan untuk seluruh masyarakat Kota
Semarang termasuk masyarakat miskin. Pembangunan kesehatan juga
diarahkan pada peningkatan kualitas kesehatan tingkat pertama dan
peningkatan perilaku masyarakat untuk hidup bersih dan sehat.

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 IV-26


ANALISIS ISU-ISU STRATEGIS

E. Tata Kelola Pemerintahan dan Reformasi Birokrasi


Prioritas utama Kota Semarang dalam peningkatan kualitas tata kelola
pemerintahan meliputi kapabilitas, integritas, akuntabilitas, ketaatan pada
hukum, kredibilitas dan transparansi. Langkah utama untuk mewujudkan
tata kelola pemerintahan yang berkualitas di Kota Semarang dilakukan
melalui penciptaan struktur pemerintah yang efisien, peningkatan kapasitas
aparatur dan peningkatan kualitas perencanaan pembangunan yang lebih
baik melalui peningkatan ketersediaan dan kualitas data.
Fokus Reformasi Birokrasi yang dilakukan oleh Pemerintah Kota
Semarang terkait dengan meningkatkan sistem pengawasan internal dan
pengendalian kebijakan Kepala Daerah melalui evaluasi tingkat maturitas
SPIP maupun tingkat leveling kapabilitas APIP, meningkatkan integritas dan
kapabilitas Aparatur Sipil Negara (ASN). Peningkatan pengendalian dan
penggelolaan keuangan dan aset daerah juga menjadi fokus lain dari
pembenahan reformasi dan birokrasi di Kota Semarang. Hal ini dikarenakan
belum optimalnya pengelolaan, pengamanan, dan pemanfataan aset daerah,
sehingga perlu adanya sistem yang terintegrasi mengenai pengelolaan aset.

F. Peningkatan Pelayanan Publik


Prioritas utama Kota Semarang dalam peningkatan pelayanan publik
adalah terwujudnya pelayanan yang prima (one stop service) meliputi
penguatan sistem dan akses pelayanan berbasis teknologi informasi yang
terpadu (smart city); pelayanan yang cepat, mudah, murah, terjangkau,
inklusif dan berkualitas.
Peningkatan pelayanan publik diupayakan melalui peningkatan
kualitas dan manajemen pelayanan publik yang meliputi peningkatan
kapasitas organisasi Perangkat Daerah yang mengarah pada kepuasan
masyarakat.

G. Penanganan Banjir dan Rob


Banjir dan rob merupakan ancaman bencana yang masih dihadapi
oleh Kota Semarang dan diprioritaskan penanganannya. Letak kota
Semarang yang berada dipinggir pantai Utara Jawa Tengah dan sebagian
wilayah mengalami penurunan muka tanah menjadikan Kota Semarang
sebagai langganan rob dan banjir. Luas genangan rob dan banjir pada tahun
2015 masih seluas 2.600 ha, dengan lama genangan maksimal 9 jam dengan
ketinggian genangan rata-rata 50 cm.

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 IV-27


ANALISIS ISU-ISU STRATEGIS

Pelaksanaan penanganan banjir dilakukan melalui penguatan


kelembagaan, peningkatan kualitas sumber daya manusia, dan
pengembangan tata laksana, kerjasama penanganan banjir dan rob dengan
berbagai pihak termasuk masyarakat, Pemerintah Provinsi dan Pusat serta
kerjasama Internasional. Penanganan rob dan banjir meliputi perbaikan
sistem sungai dan saluran, polder serta pembangunan tandon air dan sumur
resapan/ biopori dan penanganan konservasi lahan.

H. Peningkatan infrastruktur yang berkelanjutan


Pembangunan infrastruktur yang berkelanjutan mengandung
pengertian dimana pembangunan infrastruktur tidak hanya untuk
kepentingan generasi saat ini, namun juga generasi yang akan datang.
Pembangunan infrastruktur menyangkut pengembangan tata kelola
infrastruktur yang baik, sistem transportasi yang terintegrasi, berkualitas
dan berkelanjutan, serta peningkatan jejaring kerjasama penyediaan
pelayanan infrastrukur.

I. Peningkatan tata ruang dan kualitas lingkungan hidup


Pembangunan tata ruang dan kulitas lingkungan hidup untuk
mewujudkan perlindungan fungsi ruang dan mencegahserta menanggulangi
dampak negatif terhadap lingkungan, mewujudkan ruang kota yang
berkualitas.
Pembangunan tata ruang dan kualitas lingkungan hidup mencakup
ketersediaan produk hukum pengaturan tata ruang (RTRW, RDTRK, zonasi)
yang dapat dijadikan acuan dalam membangun ruang kota; peningkatan
kualitas kelembagaan, sumber daya manusia, dan tata laksana dengan
mempertimbangkan keseimbangan antara kebutuhan ruang dan daya
dukung lingkungan.

J. Peningkatan Ekonomi dan daya saing daerah


Struktur perekonomian daerah Kota Semarang yang didominasi oleh
sektor konstruksi dan industri pengolahan, pada satu sisi memberikan
dampak positif terhadap laju pertumbuhan ekonomi daerah. Disisi lain
perekonomian yang didominasi oleh sektor konstruksi dan industri
pengolahan strukturnya relatif lemah dan sangat rawan terhadap adanya
gejolak perekonomian. Oleh karena itu, kegiatan-kegiatan ekonomi
kerakyatan yang berbasis sumber daya lokal berupa UKM dan Koperasi

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 IV-28


ANALISIS ISU-ISU STRATEGIS

harus lebih ditingkatkan kinerjanya agar dapat berperan lebih signifikan


dalam perekonomian daerah.
Pembangunan ekonomi dan daya saing daerah melalui peningkatan
kapasitas KUMKM/IKM, pengembangan Ekonomi kreatif/berbasis
pengetahuan dan inovasi; pengembangan ekonomi berbasis kearifan lokal
dan keunggulan daerah.

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 IV-29


BAB V
VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN

Perencanaan pembangunan daerah adalah suatu proses penyusunan


tahapan-tahapan pembangunan yang melibatkan berbagai unsur pemangku
kepentingan guna pemanfaatan dan pengalokasian sumber daya yang ada.
Sesuai dengan Peraturan Daerah Kota Semarang Nomor 6 Tahun 2010
tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah Kota Semarang
Tahun 2005-2025, RPJMD 2016-2021 merupakan tahapan ketiga
pembangunan jangka panjang daerah Kota Semarang.

Sebagaimana diamanatkan dalam RPJPD Tahun 2005-2025 disebutkan


bahwa tahapan dan skala prioritas pembangunan daerah yang ditetapkan
merupakan cerminan dari urgensi permasalahan yang akan diselesaikan,
tanpa mengabaikan permasalahan lainnya. Oleh karena prioritas yang
dirumuskan dalam setiap tahapan dapat berbeda-beda, akan tetapi semua
itu harus tetap berkesinambungan dari periode ke periode berikutnya dalam
rangka pencapaian sasaran pokok pembangunan jangka panjang daerah.

Visi RPJPD Kota Semarang Tahun 2005-2025 yang telah ditetapkan


adalah “Semarang Kota Metropolitan yang Religius, Tertib dan
Berbudaya”.

KOTA METROPOLITAN, mengandung arti bahwa Kota Semarang


mempunyai sarana prasarana yang dapat melayani seluruh aktivitas
masyarakat kota dan hinterland-nya dengan aktivitas ekonomi utama berupa
perdagangan, jasa, dan industri serta didukung sektor ekonomi lainnya
untuk mewujudkan masyarakat yang sejahtera. Metropolitan juga
mengandung makna dapat menjamin kehidupan masyarakatnya yang aman,
tentram, lancar, asri, sehat dan berkelanjutan.

RELIGIUS, mengandung arti bahwa masyarakat Kota Semarang


meyakini kebenaran ajaran dan nilai-nilai agama/kepercayaan serta
mengamalkannya dalam wujud keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan
Yang Maha Esa serta tindakan nyata dalam keseharian, dengan menjunjung
tinggi toleransi dan kepedulian dalam menjalankan kehidupannya.

TERTIB, mempunyai arti bahwa setiap masyarakat secara sadar


menggunakan hak dan menjalankan kewajibannya dengan sebaik-baiknya

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 V-1


VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN

sehingga terwujud kehidupan pemerintahan dan kemasyarakatan yang


teratur dan pasti, senantiasa berpedoman pada sistem ketentuan
perundang-undangan yang esensial untuk terciptanya sikap disiplin, teratur,
menghargai waktu sebagai ciri perilaku hidup masyarakat yang maju.

BERBUDAYA, mempunyai arti bahwa setiap perilaku kehidupan


masyarakat yang dilandasi oleh etos kerja, tata cara, adat istiadat, tradisi,
kearifan lokal, norma yang hidup dan berkembang dalam masyarakat serta
diyakini sebagai nilai-nilai budi pekerti yang luhur yang diwujudkan dalam
perilaku interaksi sosial sebagai identitas penyelenggaraan pemerintahan
dan pelaksanaan pembangunan.

Visi tersebut mengandung pengertian bahwa selama tahun 2005 hingga


2025 Kota Semarang diharapkan menjadi kota yang dihuni oleh masyarakat
yang senantiasa menjunjung tinggi nilai-nilai agama, etos kerja, tata cara,
adat istiadat, tradisi, norma kearifan lokal yang hidup dan berkembangan
yang diyakini sebagai nilai-nilai yang luhur yang diwujudkan dalam perilaku
interaksi sosial serta sadar menggunakan hak dan kewajibannya sesuai
dengan peraturan perundangan yang berlaku sehingga terwujud kehidupan
pemerintahan dan kemasyarakatan yang teratur, sejahtera dan didukung
oleh aktivitas ekonomi utama yang berupa perdagangan, jasa, dan industri
serta ditunjang oleh standar pelayanan kota berskala metropolitan yang
mampu melayani seluruh aktivitas masyarakat kota dan daerah hinterland-
nya dengan aman, tentram, nyaman, lancar, asri, sehat dan berkelanjutan..

Berdasarkan ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 23 tahun 2014


tentang Pemerintahan Daerah disebutkan bahwa RPJMD disusun dengan
berpedoman pada RPJPD dan RPJMN untuk menjamin konsistensi arahan
pelaksanaan pembangunan. Berdasarkan ketentuan Peraturan Menteri
Dalam Negeri Nomor 54 Tahun 2010, Visi dalam RPJMD adalah Visi Kepala
Daerah Dan Wakil Kepala Daerah Terpilih yang disampaikan pada waktu
Pemilihan Kepala Daerah. Visi dan misi pembangunan Kota Semarang tahun
2016-2021 juga merupakan penjabaran dari visi dan misi Presiden dan Wakil
Presiden yang terangkum dalam kerangka ideologi Tri Sakti dan Agenda
Nasional Nawa Cita. Selain itu, visi dan misi pembangunan Kota Semarang
tahun 2016-2021 juga merupakan perwujudan visi dan misi Gubernur dan
Wakil Gubernur Provinsi Jawa Tengah serta visi dan misi Rencana
Pembangunan Jangka Panjang Daerah Kota Semarang Tahun 2005-2025.

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 V-2


VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN

Visi dan misi ini akan menjadi arahan pembangunan Kota Semarang selama
lima tahun yang akan datang dan terjabarkan ke dalam tujuan dan sasaran
pembangunan yang lebih khusus dan terfokus.

5.1 VISI
RPJMD Tahun 2016-2021 merupakan penjabaran dari tahapan
pembangunan periode ketiga RPJPD Kota Semarang Tahun 2005-2025. Tema
pembangunan RPJPD periode ketiga menjadi salah satu rujukan kepala
daerah dalam menyusun Visi dan Misi Kota Semarang untuk tahun 2016-
2021. Visi pembangunan daerah Kota Semarang Tahun 2016-2021
berdasarkan visi Walikota dan Wakil Walikota Semarang terpilih adalah
sebagai berikut :

“Semarang Kota Perdagangan dan Jasa yang Hebat Menuju


Masyarakat Semakin Sejahtera”
Visi tersebut mengandung maksud bahwa Semarang sebagai kota
metropolitan berwawasan lingkungan akan menjadi kota yang handal dan
maju dalam pedagangan dan jasa, dengan dukungan infrastuktur yang
memadai serta tetap menjadi daerah yang kondusif untuk meningkatkan
kesejahteraan warganya dengan dukungan pengembangan politik,
keamanan, sosial, ekonomi, dan budaya.

HEBAT, mengandung arti masyarakat Kota Semarang yang bergerak


untuk mencapai keunggulan dan kemuliaan, serta kondisi perkotaan yang
kondusif dan modern dengan tetap memperhatikan lingkungan
berkelanjutan demi kemajuan perdagangan dan jasa. Semarang yang Hebat
dapat terlihat antara lain melalui kontribusi kategori-kategori yang terkait
dengan perdagangan dan jasa-jasa terhadap PDRB dan kontribusi kategori
Industri Pengolahan terhadap PDRB yang semakin meningkat, nilai investasi
yang semakin besar, laju pertumbuhan ekonomi yang tiap tahun terus
meningkat, serta luas genangan banjir dan rob yang semakin menurun.

SEJAHTERA, mengandung arti bahwa dalam lima tahun ke depan


masyarakat Kota Semarang akan semakin meningkat kesejahteraannya
dengan pemenuhan kebutuhan pendidikan, kesehatan, pelayanan dasar
maupun sarana dan prasarana penunjang. Peningkatan kesejahteraan
tersebut antara lain ditunjukkan melalui peningkatan nilai Indeks
Pembangunan Manusia (IPM) dan Indeks Pembangunan Gender (IPG) serta
penurunan angka kemiskinan, dan tingkat pengangguran.

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 V-3


VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN

5.2 MISI
Untuk mewujudkan Visi ”SEMARANG KOTA PERDAGANGAN DAN
JASA YANG HEBAT MENUJU MASYARAKAT SEMAKIN SEJAHTERA”
dirumuskan 4 (empat) misi pembangunan daerah sebagai berikut:

Mewujudkan kehidupan masyarakat yang


berbudaya dan berkualitas. 1
Mewujudkan Pemerintahan
2 yang semakin handal untuk meningkatkan
pelayanan publik.

Mewujudkan kota metropolitan yang dinamis


dan berwawasan lingkungan. 3
Memperkuat ekonomi kerakyatan berbasis
4 keunggulan lokal dan membangun iklim usaha
yang kondusif.

Gambar 5.1
Misi Walikota dan Wakil Walikota Semarang

Misi 1. Mewujudkan Kehidupan Masyarakat yang Berbudaya dan


Berkualitas

Pembangunan diprioritaskan pada peningkatan kualitas sumberdaya


manusia yang memiliki tingkat pendidikan dan derajat kesehatan yang tinggi
serta menjunjung tinggi budaya asli Kota Semarang.

Misi 2. Mewujudkan Pemerintahan yang Semakin Handal untuk


Meningkatkan Pelayanan Publik

Penyelenggaraan pemerintahan diprioritaskan pada pelaksanaan


otonomi daerah secara nyata, efektif,efisien dan akuntabeldengan
menerapkan prinsip-prinsiptata kelola pemerintahan yang baik (good
governance) sehingga mampu memberikan pelayanan yang prima kepada
masyarakat yang disertai dengan penegakan supremasi hukum dan hak
asasi manusia.

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 V-4


VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN

Misi 3. Mewujudkan Kota Metropolitan yang Dinamis dan Berwawasan


Lingkungan

Pembangunan diprioritaskan pada optimalisasi pemanfaatan tata ruang


dan peningkatan pembangunan infrastruktur wilayah yang terencana,
selaras, serasi, seimbang dan berkeadilan dengan tetap memperhatikan
konsep pembangunan yang berwawasan lingkungan dan berkelanjutan.

Misi 4. Memperkuat Ekonomi Kerakyatan Berbasis Keunggulan Lokal


dan Membangun Iklim Usaha yang Kondusif

Pembangunan diprioritaskan pada peningkatan kemampuan


perekonomian daerah dengan struktur perekonomian yang kokoh
berlandaskan keunggulan kompetitif yang berbasis pada potensi ekonomi
lokal, berorientasi pada ekonomi kerakyatan dansektor ekonomi basis yang
mempunyai daya saing baik di tingkat lokal, nasional maupun internasional
serta meningkatkan investasi pada sektor industri besar untuk menyerap
tenaga kerja (Penanaman Modal Asing) yang didukung oleh keberadaan
kawasan berikat, kawasan industri dan pergudangan serta dibangunnya
sentra-sentra industri kecil dan rumah tangga.

Pesan mendasar visi yang dijabarkan dalam misi-misi pembangunan


Kota Semarang dalam waktu lima tahun kedepan adalah untuk membuat
masyarakat semakin sejahtera, maka upaya untuk meningkatkan pelayanan
publik, pengembangan kehidupan berdemokrasi, pemerataan dan keadilan
harus benar-benar dilaksanakan secara konsisten di daerah. Karena itulah,
dalam rangka mewujudkan Visi dan Misi diperlukan semangat baru dalam
pelaksanaan pembangunan yang berlandaskan nilai dasar bangsa Indonesia
dan masyarakat Semarang khususnya, yakni kegotongroyongan. Semangat
baru tersebut tertuang dalam slogan:

“Bergerak Bersama Membangun Semarang”

Makna slogan Bergerak Bersama Membangun Semarang diartikan


satu sikap yang terwujud dalam bentuk inisiatif dan penuh semangat untuk
menyumbangsihkan tenaga dan pikiran dalam rangka membangun Kota
Semarang. Sikap ini diperlukan untuk menumbuhkan kesadaran dan
kecintaan aparatur dan masyarakat akan kotanya. Melalui pernyataan ini
akan timbul sikap kepeloporan, sinergi dan kolaborasi untuk menjaga

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 V-5


VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN

kotanya dan melakukan inovasi dan kreativitas dalam membangun kota


dengan tidak meninggalkan budaya dan karakter lokal.

Sebagaimana halnya Visi dan Misi Walikota dan Wakil Walikota terpilih
berpedoman pada RPJPD Kota Semarang Tahun 2005-2025, maka janji-janji
yang telah disampaikan pada saat kampanye merupakan substansi yang
terkait erat dengan pencapaian Visi dan Misi. Janji-janji dimaksud yang
tercantum dalam RPJMD Tahun 2016-2021, selanjutnya akan menjadi
pedoman pembangunan selama 5 (lima) tahun dan dituangkan dalam
Renstra Perangkat Daerah dan RKPD. Seperti yang telah disebutkan
sebelumnya, sesuai dengan visi dan misi, maka keberhasilan Kota Semarang
menjadi Semarang yang Hebat dan semakin Sejahtera secara umum terlihat
pada gambar 5.2:

Semarang Kota Perdagangan


dan Jasa yang Hebat.

Menuju masyarakat
semakin sejahtera.

Gambar 5.2
Pencapaian Semarang Hebat

Dari gambar 5.2, pencapaian yang ingin diwujudkan Kota Semarang


adalah Semarang Hebat yang dijabarkan dalam target indikator selama lima
tahun. Indikator dan target capaian di akhir periode RPJMD adalah seperti
yang terlihat pada tabel 5.1.

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 V-6


VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN

Tabel 5.1
Indikator Semarang Hebat

No Indikator Kondisi awal (2015) Target 2021


Laju Pertumbuhan Ekonomi
1. 5,8 6,1
(persen)
Kontribusi kategori-kategori
yang terkait dengan
2. 30,99 31,41
perdagangan dan jasa-jasa
terhadap PDRB (persen)
Kontribusi kategori Industri
3. Pengolahan terhadap PDRB 27,30 27,54
(persen)
Nilai investasi (dalam juta
4. 9.570.413 15.448.277
rupiah)
Luas genangan banjir dan rob
5. 41,6 33
(persen)
Indeks Pembangunan
6. 79,28 81,24
Manusia (point)
Indeks Pembangunan Gender
7. 95,56 96
(point)
8. Angka Kemiskinan (persen) 5,04 4,55
9. Tingkat Pengangguran
5,77 4,57
Terbuka (persen)

Laju Pertumbuhan Ekonomi Kota Semarang ditargetkan mencapai


6,65% di tahun 2021. Sebagai kota perdagangan dan jasa, kontribusi
kategori-kategori pembentuk PDRB Atas Dasar Harga Berlaku yang terkait
dengan perdagangan dan jasa ditargetkan meningkat menjadi 31,41%.
Kategori-kategori tersebut adalah Perdagangan besar dan eceran, reparasi
dan perawatan mobil dan sepeda motor; Transportasi dan Pergudangan;
Penyediaan Akomodasi & Makan Minum; Jasa Keuangan; Jasa Perusahaan;
Jasa Pendidikan; Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial; serta jasa lainnya.
Sedangkan kontribusi kategori Industri Pengolahan terhadap PDRB Atas
Dasar Harga Berlaku ditargetkan meningkat menjadi 27,54%. Nilai investasi
yang masuk ke Kota Semarang sampai tahun 2021 ditargetkan sebesar Rp.
15.448.277 juta. Luas wilayah yang tergenang banjir dan rob di tahun 2021
diharapkan hanya akan sebesar 33% dari keseluruhan luas wilayah Kota
Semarang.

Indeks Pembangunan Manusia (IPM) merupakan indeks pembangunan


manusia yang dipergunakan untuk mengukur keberhasilan upaya
membangun kualitas hidup manusia. Nilai IPM Kota Semarang di tahun
2021 diharapkan akan berada pada posisi 81,24. Indeks Pembangunan
Gender (IPG) adalah indeks pencapaian kemampuan dasar pembangunan

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 V-7


VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN

manusia yang sama seperti IPM, hanya saja data yang ada dipilah antara
laki-laki dan perempuan. IPG digunakan untuk mengetahui kesenjangan
pembangunan manusia antara laki-laki dan perempuan. Nilai IPG Kota
Semarang di 2021 ditargetkan akan dapat mencapai nilai 96. Meskipun
angka kemiskinan di Kota Semarang adalah yang terendah dibandingkan
Kabupaten/Kota di Jawa Tengah, dalam lima tahun ke depan angka
kemiskian (berdasarkan kriteria BPS) akan dapat menurun menjadi 4,55%
di tahun 2021. Tingkat pengangguran terbuka di Kota Semarang ditargetkan
sebesar 4,57% di tahun 2021.

5.3 TUJUAN
Untuk mencapai keempat misi pembangunan Kota Semarang dalam
jangka menengah, maka dirumuskan tujuan dan sasaran pada masing-
masing misi tersebut. Perumusan tujuan adalah tahap perumusan strategis
yang menunjukkan tingkat prioritas tertinggi dalam perencanaan
pembangunan jangka menengah daerah yang selanjutnya akan menjadi
dasar penyusunan arsitektur kinerja pembangunan daerah secara
keseluruhan. Perumusan tujuan merupakan salah satu tahap perencanaan
kebijakan (policy planning) yang memiliki titik kritis (critical point) dalam
penyusunan RPJMD. Hal ini mengingat bilamana visi dan misi Walikota dan
Wakil Walikota tidak dijabarkan secara teknokratis dan partisipatif ke dalam
tujuan, maka program Walikota dan Wakil Walikota terpilih akan mengalami
kesulitan dalam operasionalisasinya ke dalam sistem penyelenggaraan
pemerintahan.

Tujuan merupakan dampak (impact) keberhasilan pembangunan daerah


yang diperoleh dari pencapaian berbagai program prioritas terkait. Selaras
dengan penggunaan paradigma penganggaran berbasis kinerja maka
perencanaan pembangunan daerah pun menggunakan prinsip yang sama.
Pengembangan rencana pembangunan daerah lebih ditekankan pada target
kinerja, baik pada dampak, hasil, maupun keluaran dari suatu kegiatan,
program, dan sasaran. Perumusan tujuan dari visi dan misi Walikota dan
Wakil Walikota terpilih juga menjadi landasan perumusan visi,misi, tujuan
dan sasaran Renstra Perangkat Daerah untuk periode 5 (lima) tahun. Tujuan
adalah pernyataan-pernyataan tentang hal-hal yang perlu dilakukanuntuk
mencapai visi, melaksanakan misi dengan menjawab isu strategis daerah dan
permasalahan pembangunan daerah. Rumusan tujuan merupakan dasar
dalam menyusun pilihan-pilihan strategi pembangunan dan sarana untuk

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 V-8


VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN

mengevaluasi pilihan tersebut. Perumusan tujuan dan keterkaitannya


dengan misi RPJMD Tahun 2016-2021 disajikan pada tabel 5.2:

Tabel 5.2
Tujuan Pembangunan Kota Semarang Tahun 2016-2021
Misi Tujuan
1. Mewujudkan Kehidupan 1.1 Meningkatkan kualitas Sumber Daya
Masyarakat yang Berbudaya dan Manusia
Berkualitas
1.2 Meningkatkan nilai-nilai budaya
masyarakat

2. Mewujudkan pemerintahan yang 2.1 Mewujudkan tata kelola pemerintahan


semakin handal untuk yang baik dan melayani
meningkatkan pelayanan publik
2.2 Meningkatkan kualitas pelayanan publik

2.3 Mewujudkan Kota Semarang yang


tentram, tertib dan nyaman

3. Mewujudkan Kota Metropolitan 3.1 Mewujudkan tata ruang yang terpadu dan
yang dinamis dan berwawasan berkelanjutan
lingkungan
3.2 Mewujudkan sistem pengelolaan
Drainase Kota Semarang yang terintegrasi
3.3 Mewujudkan sistem transportasi Kota
Semarang yang terintegrasi dan
berkelanjutan

3.4 Meningkatkan pelayanan sarana dan


prasarana dasar perkotaan

3.5 Meningkatkan kualitas lingkungan hidup


perkotaan
4. Memperkuat ekonomi kerakyatan 4.1 Menjamin ketahanan pangan bagi
berbasis keunggulan lokal dan penduduk
membangun iklim usaha yang
kondusif 4.2 Meningkatkan sektor perdagangan dan
jasa

4.3 Mendorong pengembangan investasi dan


ekonomi lokal berdaya saing global

5.4 SASARAN
Sasaran adalah hasil yang diharapkan dari suatu tujuan yang
diformulasikan secara terukur, spesifik, mudah dicapai, rasional, untuk
dapat dilaksanakan dalam jangka waktu 5 (lima) tahun ke depan. Hasil
rumusan sasaran pembangunan Kota Semarang Tahun 2016-2021
berdasarkan misi dan, tujuan adalah sebagai berikut :

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 V-9


VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN

Tabel 5.3
Misi, Tujuan dan Sasaran Pembangunan Kota Semarang
Tahun 2016-2021

Misi Tagline Tujuan Sasaran

Meningkatnya derajat
1
kesehatan masyarakat
Meningkatnya kualitas
2
pendidikan masyarakat
Misi 1: Meningkatnya kualitas
Mewujudkan 3
Meningkatkan kualitas daya saing tenaga kerja
Kehidupan 1
SEMARANG Sumber Daya Manusia Meningkatnya
Masyarakat 4
SEHAT DAN kesejahteraan masyarakat
yang
CERDAS Meningkatnya
Berbudaya
dan pembangunan yang
Berkualitas 5 berperspektif gender dan
kapasitas pemberdayaan
masyarakat
Terwujudnya pelestarian
Meningkatkan nilai-nilai
2 6 dan pengembangan
warisan budaya masyarakat
warisan budaya
Terwujudnya pemerintah
yang bersih dan bebas
7
Korupsi, Kolusi dan
Mewujudkan tata kelola Nepotisme (KKN)
Misi 2: 3 pemerintahan yang baik dan Meningkatnya kapasitas
Mewujudkan melayani 8
dan akuntabilitas kinerja
Pemerintahan
yang Semakin SEMARANG Meningkatnya integritas
9
Handal untuk MELAYANI aparatur
Meningkatkan
Meningkatkan kualitas Terwujudnya pelayanan
Pelayanan 4 10
pelayanan publik prima
Publik
Mewujudkan Kota Meningkatnya
5 Semarang yang tentram, 11 ketentraman dan
tertib dan nyaman kenyamanan masyarakat

Mewujudkan tata ruang Meningkatnya


6 yang terpadu dan 12 keterpaduan rencana tata
berkelanjutan ruang

Mewujudkan sistem
Menurunnya luas
7 pengelolaan Drainase Kota 13
genangan banjir dan rob
Semarang yang terintegrasi
Misi 3:
Mewujudkan Mewujudkan sistem
Kota transportasi Kota Semarang Menurunnya kemacetan
Metropolitan SEMARANG 8 14
yang terintegrasi dan jalan
yang Dinamis TANGGUH berkelanjutan
dan
Berwawasan
Lingkungan
Meningkatkan pelayanan Terwujudnya sarana dan
9 sarana dan prasarana dasar 15 prasarana dasar perkotaan
perkotaan yang berkualitas

Pengendalian pencemaran
Meningkatkan kualitas
10 16 dan perusakan lingkungan
lingkungan hidup perkotaan
hidup

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 V-10


VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN

Misi Tagline Tujuan Sasaran

Meningkatnya kualitas
17 dan kuantitas
ketersediaan pangan
Menjamin ketahanan Meningkatnya pendapatan
Misi 4: 11 18
pangan bagi penduduk petani
Memperkuat
Ekonomi Meningkatnya
Kerakyatan 19 kesejahteraan masyarakat
SEMARANG pelaku usaha perikanan
Berbasis
BERDAYA Meningkatnya sektor
Keunggulan Meningkatkan sektor
SAING 12 20 perdagangan dan jasa
Lokal dan perdagangan dan jasa
Membangun unggulan
Iklim Usaha Meningkatnya produk-
21
yang Kondusif produk unggulan daerah
Mendorong pengembangan
Meningkatnya Daya Tarik
13 investasi dan ekonomi lokal 22
Wisata (DTW)
berdaya saing global
Meningkatnya iklim
23
investasi kota

5.5 KETERKAITAN VISI–MISI WALIKOTA TAHUN 2016–2021 DENGAN


DOKUMEN PERENCANAAN LAINNYA
Penjabaran visi misi Walikota Semarang, tujuan dan sasaran seperti
yang diuraikan di atas disusun juga dengan kaitan untuk mendukung
pencapaian prioritas RPJMN tahun 2015-2019, dan RPJMD Provinsi Jawa
Tengah tahun 2013-2018. Keterkaitan dukungan tersebut dijelaskan melalui
bagan berikut :

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 V-11


VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN

Visi RPJMN 2015-2019: Visi RPJMD Kota Semarang 2016-2021:

Terwujudnya Indonesia Yang Berdaulat, “Semarang Kota Perdagangan dan Jasa


Mandiri, Dan Berkepribadian Berlandaskan yang Hebat Menuju Masyarakat Semakin
Gotong-Royong Sejahtera”

Misi 1: Misi 1:

Mewujudkan keamanan nasional Mewujudkan Kehidupan


yang mampu menjaga kedaulatan Masyarakat yang Berbudaya dan
wilayah, menopang kemandirian Berkualitas
ekonomi dengan mengamankan
sumber daya maritim, dan
mencerminkan kepribadian
Indonesia sebagai negara kepulauan

Misi 2: Misi 2:
Mewujudkan masyarakat maju, Mewujudkan Pemerintahan yang
berkeseimbangan, dan demokratis Semakin Handal untuk
berlandaskan negara hukum Meningkatkan Pelayanan Publik

Misi 3:

Mewujudkan politik luar negeri


bebas-aktif dan memperkuat jati diri
sebagai negara maritim

Misi 3:
Misi 4:
Mewujudkan Kota Metropolitan
Mewujudkan kualitas hidup yang Dinamis dan Berwawasan
manusia Indonesia yang tinggi, Lingkungan
maju, dan sejahtera

Misi 5:

Mewujudkan bangsa yang berdaya


saing

Misi 6:

Mewujudkan Indonesia menjadi Misi 4:


negara maritim yang mandiri, maju,
Memperkuat Ekonomi Kerakyatan
kuat, dan berbasiskan kepentingan
Berbasis Keunggulan Lokal dan
nasional Membangun Iklim Usaha yang
Kondusif

Misi 7:

Mewujudkan masyarakat yang


berkepribadian dalam kebudayaan

Gambar 5.3
Skema keterkaitan Visi–Misi RPJMN 2015–2019 dengan RPJMD Kota
Semarang Tahun 2016–2021

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 V-12


VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN

Tabel 5.4
Sinkronisasi Agenda Prioritas RPJMN 2014–2019 (Nawacita) Dengan RPJMD
Kota Semarang Tahun 2016-2021

Penjabaran dalam RPJMD Kota Semarang


9 Agenda Prioritas RPJMN
Tahun 2016-2021
Agenda 1: Diterjemahkan dalam sasaran daerah yang
Menghadirkan kembali negara untuk diturunkan dari:
melindungi segenap bangsa dan Misi 2. dengan fokus Meningkatnya ketentraman
memberikan rasa aman kepada seluruh dan kenyamanan masyarakat;
warga negara Misi 1. dengan fokus Meningkatnya kualitas
Sumber Daya Manusia.

Agenda 2: Diterjemahkan dalam sasaran daerah yang


Membuat Pemerintah selalu hadir diturunkan dari Misi 2. dengan fokus
dengan membangun tata kelola - Meningkatnya kapasitas, akuntabilitas kinerja
pemerintahan yang bersih, efektif, dan integritas aparatur serta;
demokratis, dan terpercaya - Meningkatnya kualitas pelayanan publik.

Agenda 3: Diterjemahkan dalam sasaran daerah yang


Membangun Indonesia dari pinggiran diturunkan dari Misi 3. dengan fokus
dengan memperkuat daerah-daerah Meningkatnya keterpaduan rencana tata ruang
dan desa dalam kerangka negara untuk Terwujudnya sarana dan prasarana dasar
kesatuan perkotaan yang berkualitas dengan memperhatikan
kualitas lingkungan hidup perkotaan.

Agenda 4: Diterjemahkan dalam sasaran daerah yang


Memperkuat kehadiran negara dalam diturunkan dari Misi 2. dengan fokus Terwujudnya
melakukan reformasi sistem dan pemerintah yang bersih dan bebas Korupsi, Kolusi
penegakan hukum yang bebas korupsi, dan Nepotisme (KKN).
bermartabat, dan terpercaya

Agenda 5: Diterjemahkan dalam sasaran daerah yang


Meningkatkan kualitas hidup manusia diturunkan dari
Indonesia Misi 1. dengan fokus Meningkatnya kualitas
Sumber Daya Manusia (kesehatan, pendidikan,
tenaga kerja).
Misi 3. dengan fokus
- Terwujudnya sarana dan prasarana dasar
perkotaan yang berkualitas;
- Pengendalian pencemaran dan perusakan
lingkungan hidup.
Misi 4. dengan fokus Meningkatnya kualitas dan
kuantitas ketersediaan pangan.

Agenda 6: Diterjemahkan dalam sasaran daerah yang


Meningkatkan produktivitas rakyat dan diturunkan dari Misi 4. dengan fokus
daya saing di pasar Internasional - Meningkatnya kualitas dan kuantitas
sehingga bangsa Indonesia bisa maju ketersediaan pangan
dan bangkit bersama bangsa-bangsa - Meningkatnya produk-produk unggulan daerah;
Asia lainnya - Meningkatnya iklim investasi kota

Agenda 7: Diterjemahkan dalam sasaran daerah yang


Mewujudkan kemandirian ekonomi diturunkan dari Misi 4. dengan fokus
dengan menggerakkan sektor-sektor - Meningkatnya sektor perdagangan dan jasa
strategis ekonomi domestik - Meningkatnya daya tarik wisata (DTW)

Agenda 8: Diterjemahkan dalam sasaran daerah yang


Melakukan revolusi karakter bangsa diturunkan dari Misi 2. dengan fokus
- Meningkatnya integritas aparatur
- Terwujudnya pelayanan publik yang prima

Agenda 9: Diterjemahkan dalam sasaran daerah yang


Memperteguh kebhineka-an dan diturunkan dari Misi 1. dengan fokus
memperkuat restorasi sosial Indonesia Meningkatnya nilai-nilai budaya masyarakat
melalui pelestarian dan pengembangan kearifan
budaya lokal

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 V-13


VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN

Visi RPJMD Prov. Jateng 2013-2018: Visi RPJM Kota Semarang 2016-2021:

MENUJU JAWA TENGAH SEJAHTERA DAN “Semarang Kota Perdagangan dan Jasa yang
BERDIKARI “Mboten Korupsi, Mboten Hebat Menuju Masyarakat Semakin
Ngapusi” Sejahtera”

Misi 1:
Membangun Jawa Tengah Misi 1:
berbasis Trisakti Bung Karno,
Berdaulat di Bidang Politik, Mewujudkan Kehidupan
Berdikari di Bidang Ekonomi, dan Masyarakat yang Berbudaya dan
Berkepribadian di Bidang Berkualitas
Kebudayaan

Misi 2:
Mewujudkan Kesejahteraan
Masyarakat yang Berkeadilan, Misi 2:
Kemiskinan dan Pengangguran
Mewujudkan Pemerintahan yang
Semakin Handal untuk
Meningkatkan Pelayanan Publik
Misi 3:
Mewujudkan Pemerintahan
Provinsi Jawa Tengah yang Bersih,
Jujur dan Transparan, “Mboten
Korupsi, Mboten Ngapusi”

Misi 3:
Misi 4:
Memperkuat Kelembagaan Sosial Mewujudkan Kota Metropolitan
Masyarakat untuk Meningkatkan yang Dinamis dan Berwawasan
Persatuan dan Kesatuan Lingkungan

Misi 5:
Memperkuat Partisipasi
Masyarakat dalam Pengambilan
Keputusan dan Proses
Pembangunan yang Menyangkut
Hajat Hidup Orang Banyak

Misi 4:
Misi 6: Memperkuat Ekonomi
Meningkatkan Kualitas Pelayanan Kerakyatan Berbasis
Publik untuk Memenuhi Keunggulan Lokal dan
Kebutuhan Dasar Masyarakat Membangun Iklim Usaha yang
Kondusif
Misi 7:
Meningkatkan Infrastruktur
untuk Mempercepat
Pembangunan Jawa Tengah yang
Gambar 5.4
Berkelanjutan dan Ramah Skema keterkaitan RPJMD Provinsi Jateng
Lingkungan 2013–2018dengan RPJMD Kota Semarang
Tahun 2016–2021

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 V-14


VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN
Tabel 5.5
Tujuan dan Sasaran RPJMD Tahun 2016-2021 Kota Semarang
Kinerja Kinerja
Awal Akhir
Target Kinerja Sasaran
Tujuan Sasaran Indikator Kinerja Satuan Periode Periode
RPJMD RPJMD
2015 2016 2017 2018 2019 2020 2021 2021
Misi 1: Mewujudkan Kehidupan Masyarakat yang Berbudaya dan Berkualitas
SEMARANG SEHAT DAN CERDAS
1 Meningkatkan
kualitas Indeks Pembangunan
poin 80,23 80,28 80,62 80,95 81,28 81,62 81,96 81,96
Sumber Daya Manusia (IPM)
Manusia
Angka Harapan Hidup
Tahun 77,20 77,21 77,21 77,22 77,23 77,24 77,24 77,24
(AHH)

Angka Kematian Bayi


Kasus 229 225 221 217 213 209 205 205
(AKB)

Meningkatnya Per
1 derajat kesehatan 1.000
Angka Kematian Balita
masyarakat kelahi- 10,4 20 16 15,75 15,5 15,25 14,75 14,75
(AKBa)
ran
hidup

Persentase Gizi Buruk % 0,4 0,39 0,38 0,37 0,36 0,35 0,34 0,34

Per
Incident Rate (IR) Demam 100.000
98,61 98,5 98 97,5 97 96,5 96 96
Berdarah Dengue (DBD) pendu-
duk

Meningkatnya Rata-rata Lama Sekolah


Tahun 10,20 10,35 10,49 10,64 10,79 10,94 11,10 11,10
kualitas (RLS)
2
pendidikan Harapan Lama Sekolah
masyarakat Tahun 14,33 14,36 14,40 14,43 14,47 14,50 14,54 14,54
(HLS)

Tingkat Partisipasi
% 63,05 63,35 63,65 63,95 64,25 64,55 64,85 64,85
Angkatan Kerja
Meningkatnya
3 kualitas daya saing
tenaga kerja
Tingkat Pengangguran
% 5,77 5,57 5,37 5,17 4,97 4,77 4,57 4,57
Terbuka

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 V-15


VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN

Kinerja Kinerja
Awal Akhir
Target Kinerja Sasaran
Tujuan Sasaran Indikator Kinerja Satuan Periode Periode
RPJMD RPJMD
2015 2016 2017 2018 2019 2020 2021 2021
Meningkatnya
4 kesejahteraan Angka Kemiskinan % 5,04 4,99 4,94 4,89 4,65 4,6 4,55 4,55
masyarakat
Meningkatnya Indeks Pembangunan
pembangunan yang poin 95,60 95,65 95,72 95,79 95,86 95.,93 96 96
Gender (IPG)
berperspektif
gender dan
5
kapasitas Indeks Pemberdayaan
pemberdayaan poin 76,08 76,58 77,08 77,58 78,08 78,58 79,08 79,08
Gender (IDG)
masyarakat

2 Meningkatkan Terwujudnya
nilai-nilai pelestarian dan
warisan pengembangan
Jumlah seni budaya dan
budaya 6 warisan budaya Unit 10 11 12 13 14 15 16 16
tradisi yang dilestarikan
masyarakat lokal

Misi 2: Mewujudkan Pemerintahan yang Semakin Handal untuk Meningkatkan Pelayanan Publik
SEMARANG MELAYANI
3 Mewujudkan Terwujudnya
tata kelola pemerintah yang Opini/
7 Opini BPK WDP WDP WTP WTP WTP WTP WTP WTP
pemerintahan bersih dan bebas Predikat
yang baik dan KKN
melayani

Meningkatnya Predikat Akuntabilitas


kapasitas dan Kinerja Pemerintah Kategori
8 CC CC CC CC B B A A
akuntabilitas Daerah (Evaluasi atas / nilai
kinerja penerapan Sakip)

Kota Kota
Kota Kota Kota
dengan Kota dengan Kota dengan Kota dengan dengan
dengan dengan dengan
Predikat Kinerja Penyeleng- Penyelengga Penyelengga Penyelengga Penyeleng-
Meningkatnya Kategori Penyelengg Penyelen- Penyelengg
9 Penyelenggaraan garaan -raan -raan -raan garaan
integritas aparatur / nilai a-raan ggaraan araan
Pemerintah Daerah Pemerinta- Pemerinta- Pemerinta- Pemerinta- Pemerinta
Pemerinta- Pemerintah Pemerinta-
han han Daerah han Daerah han Daerah han
han Daerah an Daerah han Daerah
Daerah Terbaik Terbaik Terbaik Daerah
Terbaik Terbaik Terbaik
Terbaik Terbaik
RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 V-16
VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN

Kinerja Kinerja
Awal Akhir
Target Kinerja Sasaran
Tujuan Sasaran Indikator Kinerja Satuan Periode Periode
RPJMD RPJMD
2015 2016 2017 2018 2019 2020 2021 2021
Angka
Meningkatkan
Indeks /
kualitas Terwujudnya Survei Kepuasan
4 10 Perang- 75 / 15 77 / 20 79 / 20 81 / 25 83 / 25 85 / 30 87 / 30 87 / 30
pelayanan pelayanan prima Masyarakat (SKM)
kat
publik
Daerah

Mewujudkan
Meningkatnya Angka
Kota Semarang
ketentraman dan Angka Kriminalitas Krimina- 2.792 2.500 2.400 2.200 2.100 2.000 1.800 1.800
5 yang tentram, 11
kenyamanan litas
tertib dan
masyarakat
nyaman

Misi 3: Mewujudkan Kota Metropolitan yang Dinamis dan Berwawasan Lingkungan


SEMARANG TANGGUH
Mewujudkan Persentase kesesuaian
tata ruang Meningkatnya pemanfaatan ruang
6 yang terpadu 12 keterpaduan dengan perencanaan % 5,4 5,4 4,5 4 3,5 3 2 2
dan rencana tata ruang Tata Ruang (simpangan)
berkelanjutan

Mewujudkan
sistem
Menurunnya luas
pengelolaan Prosentase luas
7 13 genangan banjir persen 41,6 40,17 38,74 37,31 35,88 34,45 33 33
Drainase Kota genangan banjir dan rob
dan rob
Semarang yang
terintegrasi
Mewujudkan
sistem
transportasi
Kota Semarang Menurunnya Jumlah simpul
8 14 Simpul 8 8 7 6 5 4 3 3
yang kemacetan jalan kemacetan
terintegrasi
dan
berkelanjutan
Meningkatkan Persentase rumah tangga
Terwujudnya pengguna air minum /
pelayanan Persen 88,13 88,5 89 91 93 95 97 97
sarana dan jumlah seluruh
sarana dan
9 15 prasarana dasar rumah tangga x 100%
prasarana
perkotaan yang
dasar Persentase rumah tangga
berkualitas persen 85,78 85,82 85,87 85,92 85,97 86,02 86,07 86,07
perkotaan ber sanitasi

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 V-17


VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN

Kinerja Kinerja
Awal Akhir
Target Kinerja Sasaran
Tujuan Sasaran Indikator Kinerja Satuan Periode Periode
RPJMD RPJMD
2015 2016 2017 2018 2019 2020 2021 2021
Luas lingkungan
Persen 0,99 0,80 0,60 0,40 0,20 0 0 0
permukiman kumuh

Meningkatkan
Pengendalian
kualitas
pencemaran dan Indeks Kualitas
10 lingkungan 16 skor 45,38 45,38 47 49 51 53 55 55
perusakan Lingkungan Hidup (IKLH)
hidup
lingkungan hidup
perkotaan

Misi 4: Memperkuat Ekonomi Kerakyatan Berbasis Keunggulan Lokal dan Membangun Iklim Usaha yang Kondusif

SEMARANG BERDAYA SAING

Meningkatnya
kualitas dan
Ketersediaan pangan Kkl/kapi
17 kuantitas
penduduk ta/hari 3.049 3.050 3.051 3.052 3.053 3.054 3.055 3.055
ketersediaan
pangan
Menjamin
ketahan
11 Meningkatnya Pendapatan rumah Rp /
pangan bagi 18 10.355.300 10.452.000 10.554.520 10.659.040 10.763.560 10.868.080 10.972.600 10.972.600
pendapatan petani tangga petani tahun
penduduk

Meningkatnya
Rp/
kesejahteraan Jumlah pendapatan per
19 17.500.000 18.000.000 19.800.000 21.750.000 22.958.000 23.353.800 24.989.180 24.989.180
masyarakat pelaku kapita nelayan
tahun
usaha perikanan

Kontribusi kategori-
kategori perdagangan
Meningkatkan Meningkatnya % 30,99 31,06 31,13 31,20 31,27 31,34 31,41 31,41
dan jasa-jasa terhadap
sektor sektor PDRB
12 20
perdagangan perdagangan dan
dan jasa jasa unggulan
Laju Pertumbuhan
% 5,8 5,85 5,90 5,95 6,00 6,05 6,10 6,10
Ekonomi

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 V-18


VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN

Kinerja Kinerja
Awal Akhir
Target Kinerja Sasaran
Tujuan Sasaran Indikator Kinerja Satuan Periode Periode
RPJMD RPJMD
2015 2016 2017 2018 2019 2020 2021 2021

Kontribusi kategori
Meningkatnya
sektor Industri
21 produk-produk % 27,30 27,34 27,38 27,42 27,46 27,50 27,54 27,54
Pengolahan terhadap
unggulan daerah
PDRB
Mendorong
pengembangan
investasi dan Meningkatnya
13 Jumlah kunjungan
ekonomi lokal 22 daya tarik wisata Orang 4.376.359 4.660.822 4.987.080 5.361.111 5.790.000 6.282.150 6.847.543 6.847.543
wisatawan
berdaya saing (DTW)
global

Meningkatnya Rupiah
23 iklim investasi Nilai Investasi (dalam 9.570.413 10.500.000 11.500.000 13.500.000 16.500.000 20.500.000 24.500.000 24.500.000
kota juta)

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 V-19


BAB VI
STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN

Strategi dan arah kebijakan merupakan rumusan perencanaan


komprehensif tentang bagaimana pemerintah daerah mencapai tujuan dan
sasaran RPJMD dengan efektif dan efisien. Dengan pendekatan yang
komprehensif, strategi juga dapat digunakan sebagai sarana untuk
melakukan transformasi, reformasi, dan perbaikan kinerja birokrasi.
Perencanaan strategis tidak saja mengagendakan aktivitas pembangunan,
tetapi juga segala program yang mendukung dan menciptakan layanan
masyarakat tersebut dapat dilakukan dengan baik, termasuk di dalamnya
upaya memperbaiki kinerja dan kapasitas birokrasi, sistem manajemen, dan
pemanfaatan teknologi informasi.
Dalam merumuskan strategi dan arah kebijakan RPJMD Kota
Semarang 2016-2021, juga mempertimbangkan kebijakan dalam penguatan
Sistem Inovasi Daerah (SIDa) yaitu: membangun basis data, menyusun
regulasi, mengembangkan mekanisme insentif dan disinsentif, menguatkan
jejaring antar pemangku kepentingan, membangun sistem difusi inovasi
berbasis teknologi informasi dan forum komunikasi antarpemangku
kepentingan, menumbuhkan prakarsa kreativitas penemuan baru melalui
pendidikan formal dan informal, membangun sistem apresiasi kreativitas
yang inovatif, membangun penguatan kelembagaan vertikal dan horizontal
melalui komunikasi dan koordinasi antar lembaga, meningkatkan kualitas
layanan infrastruktur fisik yang berstandar internasional, meningkatkan
pemahamanan dan kepedulian masyarakat terhadap keterbukaan informasi
dan pengetahuan yang mendukung perdagangan dan jasa.

6.1. Strategi dan Arah Kebijakan


Strategi dan arah kebijakan merupakan rumusan perencanaan
komprehensif tentang bagaimana Pemerintah Kota Semarang melakukan
upaya untuk mencapai visi, misi, tujuan dan sasaran serta target kinerja
RPJMD dengan efektif dan efisien selama 5 (lima) tahun ke depan.
Arsitektur perencanaan pembangunan daerah dipisahkan menjadi dua
yakni Perencanaan Strategis yaitu perencanaan pembangunan daerah yang
menekankan pada pencapaian visi dan misi pembangunan daerah, dan

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 VI-1


STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN

Perencanaan Operasional yaitu perencanaan yang menekankan pada


pencapaian kinerja layanan pada tiap urusan.
Perencanaan Strategis dimaksudkan untuk menerjemahkan visi
danmisi kepala daerah ke dalam rencana kerja. Segala sesuatu yang secara
langsung dimaksudkan untuk mewujudkan tujuan dan sasaran RPJMD
maka dianggap strategis. Sedangkan perencanaan operasional dimaksudkan
untuk mewujudkan tujuan dan sasaran pembangunan RPJMD yang
dituangkan secara lebih rinci ke dalam masing-masing misi berdasarkan
pendekatan urusan baik urusan wajib maupun urusan pilihan.
Untuk memudahkan pemahaman terhadap kesinambungan
pembangunan setiap tahun dalam jangka 5 (lima) tahun, terlebih dahulu
disederhanakan dalam agenda atau tema pembangunan setiap tahun di
masing-masing tahap. Atas dasar tema pembangunan inilah disusun arah
kebijakan lebih jelas agar RPJMD mudah dituangkan dalam RKPD.
Selanjutnya, tahapan-tahapan dimaksud dijadikan sebagai dasar dan
disesuaikan dengan pentahapan RKPD.

Penguatan SEMARANG HEBAT


Pemantapan
struktur Perwujudan
Semarang
Ekonommi Semarang
sehat, cerdas,
didukung
tangguh, Hebat
oleh
melayani dan
Peningkatan
Pengembangan berdaya saing
Sektor
infrastruktur
untuk
Perdagangan Tahun
Penyiapan memecahkan
dan Jasa Tahun 2021
infrastruktur masalah besar 2020
untuk perkotaan dan Tahun
mendukung daya saing
Kota SDM 2019
Metropolitan Tahun
yang sejahtera
dan melayani 2018
Tahun
2017

Gambar 6.1
Agenda/Tema RPJMD Kota Semarang 2016-2021

Rumusan Strategi dan Arah Kebijakan RPJMD Kota Semarang Tahun


2016-2021 berdasarkan masing-masing sasaran serta tema pembangunan
adalah sebagai berikut:

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 VI-2


Tabel 6.1
STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN

Misi Tagline Tujuan Sasaran Indikator Kinerja STRATEGI Arah Kebijakan

1 Meningkatkan kualitas Indeks Pembangunan 1 Peningkatan pelayanan kesehatan


Sumber Daya Manusia Manusia (IPM) dasar dan rujukan dan pelayanan
kesehatan miskin
dan

2 Pengendalian penyakit menular


Berbudaya

Angka Harapan
Hidup (AHH)

Meningkatnya derajat 3 Peningkatan Penyehatan lingkungan


1 Angka Kematian Bayi
kesehatan masyarakat Peningkatan
(AKB)
yang

SEMARANG SEHAT DAN CERDAS

1 kualitas pelayanan
kesehatan
Angka Kematian
Kehidupan Masyarakat

Balita (AKBa)
4 Peningkatan kesehatan ibu dan
Berkualitas

Persentase Gizi
bayi, reproduksi remaja dan
Buruk
keluarga

Incident Rate (IR)


Demam Berdarah
Dengue (DBD)
1 Peningkatan pelayanan Pendidikan
Rata-rata Lama
untuk semua masyarakat
Sekolah (RLS) Peningkatan mutu
Meningkatnya kualitas
Misi 1: Mewujudkan

2 2 dan kualitas
pendidikan masyarakat 2 Peningkatan kesejahteraan tenaga
Harapan Lama pendidikan
pendidik
Sekolah (HLS)
1 Peningkatan jaringan tenaga krja
Tingkat Partisipasi
Angkatan Kerja
Meningkatnya kualitas Perluasan
3 3 2 Peningkatan ketrampilan
daya saing tenaga kerja Tingkat kesempatan kerja
masyarakat
Pengangguran
Terbuka

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 VI-3


STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN

Misi Tagline Tujuan Sasaran Indikator Kinerja STRATEGI Arah Kebijakan

Meningkatnya
Pemberdayaan
4 kesejahteraan Angka Kemiskinan 4 1 Penurunan jumlah keluarga miskin
masyarakat miskin
masyarakat
Meningkatnya Indeks Pembangunan Pemberdayagunaan
pembangunan yang Gender (IPG) peran serta Peningkatan pemberdayaan
1
5 berperspektif gender dan Indeks 5 masyarakat dalam masyarakat berbasis komunitas dan
kapasitas pemberdayaan Pemberdayaan berbagai sektor gender
masyarakat Gender (IDG) pembangunan

Meningkatkan nilai- Terwujudnya pelestarian Jumlah seni budaya


Pengembangan Pelestarian Seni, Budaya yang
2 nilai budaya 6 dan pengembangan dan tradisi yang 6 1
budaya lokal berbasis kearifan lokal
masyarakat warisan budaya lokal dilestarikan

Peningkatan pengawasan dan


Terwujudnya pemerintah
pengendalian penyelenggaraan
Misi 2: Mewujudkan Pemerintahan yang Semakin

7 yang bersih dan bebas Opini BPK 1


Handal untuk Meningkatkan Pelayanan Publik

pemerintahan daerah
KKN
Predikat
Akuntabilitas Kinerja Peningkatan peran dan kinerja
Meningkatnya kapasitas
8 Pemerintah Daerah 2 lembaga pengelolaan keuangan
dan akuntabilitas kinerja
(Evaluasi atas daerah
SEMARANG MELAYANI

penerapan Sakip)

Mewujudkan tata 7 Reformasi birokrasi Peningkatan kualitas perencanaan


3
kelola pemerintahan pembangunan daerah
3
yang baik dan
Peningkatan akuntabilitas kinerja
melayani
Predikat Kinerja 4 penyelenggaraan pemerintahan
Meningkatnya integritas
9 Penyelenggaraan daerah
aparatur
Pemerintah Daerah Pengembangan pemanfaatan
teknologi informasi dalam
5 penyelenggaraan pemerintahan
(digitalisasi kinerja)

Peningkatan kapasitas sumber daya


6 aparatur pemerintahan yang
profesional (kompetensi birokrasi)

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 VI-4


STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN

Misi Tagline Tujuan Sasaran Indikator Kinerja STRATEGI Arah Kebijakan

Peningkatan
Meningkatkan kualitas Terwujudnya pelayanan Survei Kepuasan kualitas dan Peningkatan penyelenggaraan
4 10 8 1
pelayanan publik prima Masyarakat (SKM) manajemen pelayanan publik yang lebih baik
pelayanan publik
1 Peningkatan masyarakat yang tertib
dan patuh terhadap peraturan
Peningkatan peran perundang-undangan
Mewujudkan Kota
Meningkatnya serta masyarakat 2 Peningkatan ketentraman dan
Semarang yang
5 11 ketentraman dan Angka Kriminalitas 9 dalam menjaga kenyamanan melalui pemberdayaan
tentram, tertib dan
kenyamanan masyarakat ketertiban dan masyarakat
nyaman
kenyamanan

Persentase
Misi 3: Mewujudkan Kota Metropolitan yang Dinamis

kesesuaian
Mewujudkan tata ruang Meningkatnya Pembenahan izin pemanfaatan
pemanfaatan ruang
6 yang terpadu dan 12 keterpaduan rencana 1 ruang dan bangunan sesuai dengan
sesuai dengan
berkelanjutan tata ruang peraturan
Penataan Tata Ruang
(simpangan)
Mewujudkan sistem
dan Berwawasan Lingkungan

Persentase luas
pengelolaan Drainase Menurunnya genangan Pembenahan sistem jaringan
7 13 genangan banjir dan 2
SEMARANG TANGGUH

Kota Semarang yang banjir dan rob drainase perkotaan


rob
terintegrasi
Mewujudkan sistem Pembenahan
transportasi Kota penataan kota yang
Menurunnya kemacetan Jumlah simpul 10 Peningkatan kualitas layanan
8 Semarang yang 14 berwawasan 3
jalan kemacetan tranportasi umum
terintegrasi dan lingkungan
berkelanjutan
Persentase rumah
tangga pengguna air
bersih / jumlah
Meningkatkan Terwujudnya sarana dan seluruh rumah
pelayanan sarana dan prasarana dasar tangga x 100% Peningkatan kualitas infrastruktur
9 15 4
prasarana dasar perkotaan yang Persentase Rumah dasar perkotaan
perkotaan berkualitas Tangga bersanitasi
Luas lingkungan
permukiman kumuh

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 VI-5


STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN

Misi Tagline Tujuan Sasaran Indikator Kinerja STRATEGI Arah Kebijakan

10 Meningkatkan kualitas 16 Pengendalian


Indeks Kualitas
lingkungan hidup pencemaran dan Pengendalian pencemaran dan
Lingkungan Hidup 5
perkotaan perusakan lingkungan kerusakan lingkungan
(IKLH)
hidup
Meningkatnya kualitas Peningkatan ketersediaan bahan
Misi 4: Memperkuat Ekonomi Kerakyatan Berbasis Keunggulan Lokal

Ketersediaan pangan
17 dan kuantitas 1 pangan, distribusi, akses, mutu dan
penduduk
ketersediaan pangan keamanan pangan

Meningkatnya Pendapatan Rumah Pengembangan budidaya pertanian,


Menjamin ketahan 18 Peningkatan 2
11 pendapatan petani Tangga Petani 11 perkebunan dan peternakan unggul
pangan bagi penduduk Produksi Pangan
dan Membangun Iklim Usaha yang Kondusif

Meningkatnya
kesejahteraan Jumlah pendapatan Peningkatan produksi dan
19 3
masyarakat pelaku usaha per kapita nelayan pemasaran perikanan
SEMARANG BERDAYA SAING

perikanan
Kontribusi kategori-
Peningkatan peran sektor
kategori perdagangan Pengembangan
Meningkatnya sektor 1 perdagangan dan jasa dalam
Meningkatkan sektor dan jasa-jasa kawasan
12 20 perdagangan dan jasa 12 pengembangan ekonomi kota
perdagangan dan jasa terhadap PDRB perdagangan dan
unggulan
Laju Pertumbuhan jasa Pengoptimalan pemanfaatan sarpras
2
Ekonomi perdagangan dan jasa
Kontribusi kategori
Meningkatnya produk- sektor Industri Peningkatan kualitas dan kuantitas
21 1
Mendorong produk unggulan daerah Pengolahan terhadap produk daerah yang unggul
pengembangan PDRB
13 investasi dan ekonomi Meningkatnya daya tarik Jumlah kunjungan Penguatan dan
22 2 Peningkatan Produktivitas IKM
lokal berdaya saing wisata (DTW) wisatawan 13 Pengembangan
global Sektor Unggulan Peningkatan kualitas kelembagaan
Meningkatnya iklim
23 Nilai Investasi 3 dan usaha koperasi (kemudahan
investasi kota
pemberian bantuan modal)
Peningkatan pengelolaan
4
kepariwisataan
Penyediaan regulasi dan kebijakan
5
yang pro investasi

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 VI-6


A. STRATEGI : Peningkatan Kualitas Pelayanan Kesehatan

Peningkatan Kualitas Pelayanan Kesehatan


Peningkatan pelayanan kesehatan dasar
dan rujukan dan pelayanan kesehatan
miskin

Pengendalian penyakit menular.

Peningkatan Penyehatan lingkungan

Peningkatan kesehatan ibu dan


bayi, reproduksi remaja dan
keluarga

Strategi peningkatan kualitas pelayanan kesehatan dilaksanakan dengan


arah kebijakan sebagai berikut:
1) Peningkatan pelayanan kesehatan dasar dan rujukan; dan pelayanan
kesehatan Masyarakat Miskin, dengan arahan pada peningkatan
kualitas Puskesmas melalui puskesmas terakreditasi, puskesmas yang
sesuai standar, puskesmas prespektif gender, puskesmas branding,
fasilitas Unit Reaksi Cepat layanan kesehatan di tiap kecamatan serta
pembangunan RSUD type D.
2) Pengendalian penyakit menular, dengan arahan pada keberhasilan
pengobatan TB (success rate), penurunan Incident Rate (IR) Demam
Berdarah Dengue (DBD), serta penanganan Orang Dengan HIV/AIDS
(ODHA).
3) Peningkatan Penyehatan lingkungan, dengan arahan pada perluasan
Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dan peningkatan promosi
kesehatan;
4) Peningkatan kesehatan ibu dan bayi, reproduksi remaja dan keluarga,
dengan arahan pada peningkatan prevalensi balita gizi buruk,
peningkatan jumlah puskesmas yang memilikigizi center, peningkatan
prosentase terpenuhinya peralatan kesehatan RS type B Pendidikan
RSUD Kota Semarang, serta penurunan angka kematian ibu maternal
dan angka kematian bayi

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 VI-7


STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN

B. STRATEGI : Peningkatan Mutu Dan Kualitas Pendidikan

Peningkatan mutu dan kualitas pendidikan

Peningkatan pelayanan
Peningkatan kesejahteraan
pendidikan untuk semua
tenaga pendidik
masyarakat.

1) Peningkatan pelayanan pendidikan untuk semua masyarakat, dengan


arahan pada peningkatan kualitas pendidikan, peningkatan penerima
beasiswa bagi warga miskin, peningkatan kualitas dan kuantitas
pendidikan luar sekolah / non formal, peningkatan kualitas pendidik
dan tenaga kependidikan, peningkatan satuan pendidikan yang
melaksanakan muatan lokal pendidikan karakter dan pembelajaran
luar sekolah serta pengembangan nasionalisme substansi.
2) Peningkatan kesejahteraan tenaga pendidik, dengan arahan pada
peningkatan manajemen dan mutu pendidikan;

C. STRATEGI : Perluasan Kesempatan Kerja


Dari strategi perluasan kesempatan kerja, arah kebijakannya adalah
sebagai berikut:
1) Meningkatkan ketrampilan masyarakat, dengan arahan pada
optimalisasi jejaring pelatihan tenaga kerja berbasis kompetensi serta
pelatihan berbasis kewirausahaan;
2) Meningkatkan jaringan tenaga kerja, dengan arahan pada
peningkatan kesempatan kerja serta peningkatan pencari kerja yang
ditempatkan;

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 VI-8


STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN

D. STRATEGI : Pemberdayaan Masyarakat Miskin


Dari strategi pemberdayaan masyarakat miskin, dilaksanakan melalui
arah kebijakan penurunan jumlah keluarga miskin dengan arahan pada
peningkatan penanganan PMKS melalui panti-panti, rumah
penampungan dan rumah Rehabilitasi Sosial, serta peningkatan cakupan
pelayanan jaminan kesehatan bagi masyarakat miskin.

E. STRATEGI : Pengembangan Budaya Lokal

Pengembangan budaya lokal

Pengembangan nilai - nilai budaya lokal

Peningkatan peran serta lembaga seni


budaya dan masyarakat dalam
pengembangan budaya seni tradisional

Pengembangan produk-produk
berbasis kearifan lokal

Memperkuat kelembagaan masyarakat


seni budaya tradisional

Meningkatkan peran lembaga dan


masyarakat dalam melestarikan dan
mengembangkan nilai-nilai budaya
dan kearifan lokal masyarakat

Strategi pengembangan budaya lokal dilaksanakan dengan arah


kebijakan Pelestarian Seni, Budaya yang berbasis kearifan lokal, dengan
arahan pada pengembangan nilai - nilai budaya lokal melalui pelestarian
kawasan, dan bangunan cagar budaya serta situs budaya; Peningkatan
peran serta lembaga seni budaya dan masyarakat dalam pengembangan
budaya seni tradisional; pengembangan produk-produk berbasis kearifan
lokal; Memperkuat kelembagaan masyarakat seni budaya tradisional;
Meningkatkan peran lembaga dan masyarakat dalam melestarikan dan
mengembangkan nilai-nilai budaya dan kearifan lokal masyarakat.

F. STRATEGI : Pemberdayagunaan Peran Serta Masyarakat Dalam


Berbagai Sektor Pembangunan
Strategi pemberdayagunaan peran serta masyarakat dalam berbagai
sektor pembangunan dilaksanakan dengan arah kebijakan meningkatkan
pemberdayaan masyarakat berbasis komunitas dan gender, dengan
arahan pada keberlanjutan program pembangunan berbasis masyarakat,

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 VI-9


STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN

fasilitasi kegiatan yang mengarah pada kesejahteraan gender serta


peningkatan penggunaan teknologi tepat guna.

G. STRATEGI : Reformasi Birokrasi

Peningkatan Reformasi Birokrasi Dan Tata Kelola Pemerintahan


Peningkatan Peningkatan
pengawasan dan Pengembangan kapasitas
pengendalian Peningkatan pemanfaatan sumber daya
penyelenggaraa Peningkatan aparatur
peran dan Peningkatan teknologi
n pemerintahan kinerja lembaga akuntabilitas pemerintahan
kualitas kinerja informasi dalam
daerah pengelolaan perencanaan penyelenggaraa yang profesional
penyelenggaraa (kompetensi
keuangan pembangunan n pemerintahan
n pemerintahan birokrasi)
daerah daerah daerah (digitalisasi
kinerja)

Strategi Reformasi Birokrasi dilaksanakan dengan arah kebijakan sebagai


berikut:
(1) Peningkatan pengawasan dan pengendalian penyelenggaraan
pemerintahan daerah, dengan arahan pada penyelesaian tindak lanjut
hasil pemeriksaan lembaga pemeriksa internal dan eksternal serta
peningkatan maturitas Sistem Pengendalian Internal Pemerintah
(SPIP);
(2) Peningkatan peran dan kinerja lembaga pengelola keuangan daerah
dengan arahan pada peningkatan kemandirian keuangan daerah, dan
peningkatan pengelolaan aset daerah yang optimal, tertib dan
akuntabel;
(3) Meningkatkan kualitas perencanaan pembangunan daerah, dengan
arahan pada kesesuaian program di RPJMD dengan program di RKPD
tahunan;
(4) Peningkatan akuntabilitas kinerja penyelenggaraan pemerintahan
daerah dengan arahan pada peningkatan kualitas laporan kinerja
pemerintah daerah, dan peningkatan koordinasi hubungan antar
lembaga dalam rangka otonomi daerah;
(5) Pengembangan pemanfaatan teknologi informasi dalam
penyelenggaraan pemerintahan, dengan arahan pada pengembangan

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 VI-10


STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN

Pusat Data Informasi Publik; dan peningkatan penggunaan teknologi


informasi dalam pelayanan publik;
(6) Peningkatan kapasitas sumber daya aparatur pemerintahan yang
profesional, diarahkan pada Peningkatan kapasitas aparatur
pemerintahan yang profesional;

H. STRATEGI : Peningkatan Kualitas Dan Manajemen Pelayanan Publik


Strategi peningkatan kualitas dan manajemen pelayanan publik
dilaksanakan dengan arah kebijakan sebagai berikut:
Arah kebijakan sebagai berikut peningkatan penyelenggaraan pelayanan
publik yang lebih baik, dengan arahan pada peningkatan kualitas
penyelenggaraan pelayanan publik.

I. STRATEGI : Peningkatan Peran Serta Masyarakat Dalam Menjaga


Ketertiban Dan Kenyamanan

Peningkatan Peran Serta Masyarakat Dalam


Menjaga Ketertiban Dan Kenyamanan

Peningkatan masyarakat yang tertib dan patuh


terhadap peraturan perundang-undangan

Peningkatan ketentraman dan


kenyamanan melalui pemberdayaan
masyarakat

Strategi peningkatan peran serta masyarakat dalam menjaga ketertiban


dan kenyamanan dengan arah kebijakan sebagai berikut:
1) Peningkatan masyarakat yang tertib dan patuh terhadap peraturan
perundang-undangan, dengan arahan pada penegakan peraturan
perundang-undangan daerah, peningkatan cakupan penanganan
gangguan ketentraman, ketertiban dan kenyamanan umum, serta
peningkatan fasilitasi pembinaan politik dan wawasan kebangsaan;
2) Peningkatan ketentraman dan kenyamanan lingkungan dengan
arahan pada peningkatan cakupan rasio petugas perlindungan

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 VI-11


STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN

masyarakat dan pemberdayaan masyarakat untuk menjaga


kenyamanan lingkungan.

J. STRATEGI : Pembenahan penataan kota yang berwawasan lingkungan


Strategi Pembenahan penataan kota yang berwawasan lingkungan
dilaksanakan dengan arah kebijakan sebagai berikut:
1) Pembenahan izin pemanfaatan ruang dan bangunan sesuai dengan
peraturan, yaitu dengan sistem perizinan satu pintu (artinya perizinan
didaftarkan dan diselesaikan pada ruangan dan gedung yang sama);
2) Pembenahan sistem jaringan drainase perkotaan yang untuk
mendukung sistem pengendalian rob dan banjir; pengelolaan sistem
drainase, normalisasi, revitalisasi sungai jaringan drainase skala kota
yang menyeluruh dan berkesinambungan, dengan fokus penanganan
pada sub sistem Kali Mangkang, Kali Beringin, Kali Banger Banjir
Kanal Timur, Kali Tenggang dan Kali Babon.
3) Peningkatan kualitas layanan tranportasi umum terintegrasi yaitu
dengan pengawasan kelaiakan angkutan umum, peremajaan
angkutan umum baik yang dikelola pemerintah kota maupun swasta,
yang disertai dengan mengembangkan transportasi massal, dengan
kebijakan diarahkan pada pengembangan sistem angkutan umum
massal berbasis rel;
Pembenahan manajemen transportasi, pada efektifitas dan efisiensi
pelayanan publik bagi pengguna transportasi umum yang diharapkan
akan berimbas pada jumlah pengguna transportasi umum;

Gambar 6.2
Terminal Terpadu Mangkang

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 VI-12


STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN

Pengintegrasian sistem transportasi antarmoda difokuskan pada


beroperasinya BRT koridor 1 s/d 6 menuju penambahan 2 koridor lagi
di Kota Semarang, dan juga adanya intregasi antara BRT-bandara-
terminal-stasiun;

Gambar 6.3
Operasionalisasi BRT
4) Peningkatan kualitas infrastruktur dasar perkotaan dengan arahan
pada peningkatan jalan dan jembatan antara lain melalui
pembangunan jalan outer ring road Arteri Utara dan Mangkang-Mijen,
pembangunan jalan Srondol-Sekaran, pembangunan jalan Jangli-
Undip, peningkatan jalan-jalan inner dan middle ringroad,
pembangunan jalan yang menuju tempat wisata; peningkatan sarana
prasarana dasar perkotaan antara lain melalui pembangunan pasar
Johar, rintisan techno park, pembangunan simpang susun Srondol-
Sekaran, pengembangan smart city, peningkatan pelayanan jaringan
air bersih; pembenahan kawasan kumuh perkotaan; pembangunan
Kampung bahari; peningkatan TPA Jatibarang dan pengelolaan bank
sampah di lingkungan permukiman;
5) Peningkatan penyediaan prasarana dan sarana umum (PSU)
lingkungan perumahan yang difokuskan kepada pembangunan,
penataan dan perbaikan sarana prasarana lingkungan permukiman
untuk membentuk lingkungan permukiman yang sehat dan
berkualitas serta meningkatkan sarana dan prasana pelayanan publik
seperti gerakan 1000 taman;

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 VI-13


STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN

Gambar 6.4
Manajemen Bank Sampah di Tiap Permukiman

6) Pengendalian pencemaran dan kerusakan lingkungan diarahkan pada


Meningkatkan pengawasan terhadap sumber pencemaran dan juga
pengendalian pencemaran dan perusakan lingkungan, diarahkan
pada Peningkatan pengendalian pencemaran dan perusakan

K. STRATEGI : Peningkatan Produksi Pangan

Peningkatan Produksi Pangan


Peningkatan ketersediaan bahan pangan,
distribusi, akses, mutu dan keamanan pangan.

Pengembangan budidaya pertanian,


perkebunan dan peternakan unggul.

Peningkatan produksi dan pemasaran


perikanan.

Strategi peningkatan produksi pangan dengan arah kebijakan sebagai


berikut:
1) Peningkatan ketersediaan bahan pangan, distribusi, akses, mutu dan
keamanan pangan, dengan arahan pada ketersediaan pangan utama,

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 VI-14


STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN

beragam, bergizi seimbang, bermutu dan aman serta terjangkau daya


beli masyarakat;
2) Pengembangan budidaya pertanian, perkebunan dan peternakan
unggul, dengan arahan pada peningkatan produksi pertanian utama
dan pengembangan wilayah pengembangan pertanian perkotaan;
3) Peningkatan produksi dan pemasaran perikanan, diarahkan pada
Peningkatan pengelolaan, pemanfaatan teknologi, dan pemasaran
hasil perikanan.

L. STRATEGI : Pengembangan Kawasan Perdagangan Dan Jasa

Pengembangan kawasan perdagangan dan jasa

Peningkatan peran sektor perdagangan dan


jasa dalam pengembangan ekonomi kota.

Pengoptimalan pemanfaatan sarpras


perdagangan dan jasa

Strategi pengembangan kawasan perdagangan dan jasa dengan arah


kebijakan sebagai berikut:
1) Peningkatan peran sektor perdagangan dan jasa dalam pengembangan
ekonomi kota dengan arahan pada peningkatan kerjasama
perdagangan internasional;
Pengoptimalan pemanfaatan sarpras perdagangan dan jasa, dengan
arahan pada peningkatan ketersediaan sarana dan prasarana
perdagangan yang representatif antara lain melalui pembangunan
pasar Johar

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 VI-15


STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN

M. STRATEGI : Penguatan dan Pengembangan Sektor Unggulan

Penguatan dan Pengembangan Sektor Unggulan

Peningkatan
Penyediaan regulasi dan
kualitas dan
kebijakan yang pro
kuantitas produk
investasi
daerah yang
unggul

Peningkatan pengelolaan
Peningkatan Produktivitas IKM
kepariwisataan
Peningkatan kualitas kelembagaan dan usaha
koperasi (kemudahan pemberian bantuan modal)

Strategi penguatan dan pengembangan sektor unggulan dengan arah


kebijakan sebagai berikut:
1) Peningkatan kualitas dan kuantitas produk daerah yang unggul,
dengan arahan pada Peningkatan pproduktifitas dan pengembangan
pemasaran UMKM;
2) Peningkatan produktivitas IKM, dengan arahan pada pengembangan
industri kecil menengah dan Industri Kreatif ;
3) Peningkatan kualitas kelembagaan usaha Koperasi, dengan arahan
pada pada peningkatan pengelolaan koperasi.
4) Peningkatan pengelolaan kepariwisataan, dengan arahan pada
peningkatan kunjungan wisatawan, peningkatan pengelolaan obyek
wisata, serta kemitraan kepariwisataan.
5) Penyediaan regulasi dan kebijakan yang pro investasi, seperti (1)
Kemudahan berinvestasi; (2) Meningkatkan promosi dan daya tarik
investasi; (3) Penyederhanaan prosedur perijinan serta optimalisasi
pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam pelayanan
perijinan investasi; (4) Peningkatan kerjasama dan kemitraan pelaku
usaha dalam promosi investasi di Kota Semarang.

6.2. Arah Kebijakan Kewilayahan


Kawasan strategis adalah wilayah yang penataan ruangnya diprioritaskan
karena mempunyai pengaruh sangat penting dalam lingkup kota terhadap
ekonomi, sosial, budaya, dan/atau lingkungan.
Adapun rencana pengembangan kawasan strategis di Kota Semarang adalah :

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 VI-16


STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN

a. Kawasan strategis pertumbuhan ekonomi


b. Kawasan strategis sosial budaya
c. Kawasan strategis daya dukung lingkungan hidup

6.2.1 Kawasan Strategis Pertumbuhan Ekonomi


Kawasan strategis pertumbuhan ekonomi di Kota Semarang adalah kawasan
cepat berkembang dan kawasan perlu kerja sama dengan daerah sekitarnya
(kawasan perbatasan). Kawasan cepat berkembang ini perlu diprioritaskan
penataan ruangnya karena potensi yang dimiliki apabila tidak diarahkan
justru menimbulkan permasalahan. Sedangkan kawasan perbatasan di Kota
Semarang memiliki peranan yang sangat penting, karena kawasan inilah
yang akan mengintegrasikan perkembangan Kota Semarang dengan daerah
yang ada disekitarnya.

1. Kawasan Segitiga Peterongan – Tawang – Siliwangi


Kawasan pusat kota yang terletak pada Kawasan Segitiga Peterongan –
Tawang – Siliwangi. Kawasan segitiga ini memiliki kekuatan pengembangan
yang sangat besar, potensi pengembangan pada kawasan ini adalah kegiatan
perdagangan dan jasa.
Secara umum Kawasan Segitiga Peterongan – Tawang – Siliwangi adalah
kawasan yang memiliki kepadatan bangunan yang tinggi. Dalam kawasan
saat ini telah terjadi transformasi kegiatan perdagangan dan jasa dari skala
kecil dan menengah ke skala besar. Hal ini terbukti dengan tumbuhnya
beberapa pusat perbelajaan dan fungsi jasa (perkantoran swasta dan hotel)
yang mengalihfungsikan lahan yang sebelumnya berfungsi sebagai pertokoan
dan permukiman.
Tren perubahan intensitas kegiatan perdagangan di Kawasan Segitiga
Peterongan – Tawang – Siliwangi untuk 20 tahun ke depan diperkirakan akan
terus terjadi, sehingga diperlukan kebijakan penanganan sebagai berikut :
a. Pengembangan kegiatan perdagangan dan jasa skala besar harus
memberikan ruang bagi kegiatan sektor informal untuk melakukan
kegiatannya.
b. Pengembangan kegiatan perdagangan dan jasa harus mempertimbangkan
rasio kecukupan ruang parkir dan ruang terbuka hijau dalam rangka
menciptakan Kawasan Segitiga Peterongan – Tawang – Siliwangi yang
nyaman.

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 VI-17


STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN

c. Pengaturan pengembangan kegiatan perdagangan dan jasa yang spesifik


per koridor jalan untuk menciptakan spesifikasi perkembangan kawasan.
d. Pengembangan kegiatan perdagangan dan jasa harus menghindari
perkampungan atau kawasan yang memiliki nilai historis bagi Kota
Semarang

2. Pelabuhan Tanjung Emas


Pelabuhan Tanjung Mas merupakan fasilitas nasional yang ada di Kota
Semarang. Kawasan ini memerlukan penanganan khusus karena :
a. Memiliki kegiatan yang spesifik yang memberikan kontribusi yang besar
dalam mendukung pergerakan barang dan jasa yang melewati laut.
b. Memiliki permasalahan limitasi alam yang tinggi, yaitu berupa penurunan
permukaan tanah.
c. Kegiatan yang berkembang disekitar kawasan pelabuhan belum
sepenuhnya mendukung dan terintegrasi dengan kegiatan pelabuhan
Tanjung Mas.
Mempertimbangkan permasalahan yang dihadapi kawasan pelabuhan ini,
maka arahan pengelolaan di kawasan pelabuhan ditekankan pada kegiatan :
a. Memperlancar pergerakan manusia dan barang di dalam kawasan
pelabuhan maupun kawasan pelabuhan dengan kawasan diluarnya
melalui peningkatan jariangan jalan yang memadai dan pengembangan
sistem terminal yang terintegrasi dengan pergerakan darat (pergerakan
jalan raya dan kereta api) dan pergerakan udara.
b. Perlunya dilakukan penanganan percepatan penurunan permukaan
tanah dan banjir rob.
c. Penyusunan kebijakan penataan ruang kawasan pelabuhan dalam rangka
memadukan kegiatan pelabuhan dengan kawasan yang ada disekitarnya.

6.2.2 Kawasan Strategis Bidang Sosial Budaya


Kawasan strategis bidang sosial budaya di Kota Semarang adalah meliputi :

1. Kawasan Masjid Agung Semarang di Kecamatan Semarang Tengah;

2. Kawasan Masjid Agung Jawa Tengah di Kecamatan Gayamsari;

3. Kawasan Gedong Batu di Kecamatan Semarang Barat; dan

4. Kawasan Kota Lama di Kecamatan Semarang Utara.

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 VI-18


STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN

Kawasan strategis bidang sosial budaya merupakan kawasan cagar budaya


yang harus dilindungi dan dilestarikan keberadaannya. Hal ini dimaksudkan
untuk mempertahankan kekayaan budaya berupa peninggalan-peninggalan
sejarah yang berguna untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dari
ancaman kepunahan yang disebabkan oleh kegiatan alam maupun manusia.

Dalam pemanfaatannya, kawasan cagar budaya dapat ditingkatkan


fungsinya untuk dapat menunjang kegiatan pariwisata, yang nantinya dapat
memberikan kontribusi pendapatan dari sektor pariwisata.

Rencana penanganan kawasan Masjid Agung Semarang dilakukan melalui :

 Penataan kawasan pemeliharaan dan pelestarian bangunan dari


pengaruh kegiatan dan ketahanan kontruksi bangunan; dan

 Revitalisasi fungsi dan penggunaan bangunan.

Rencana penanganan kawasan Masjid Agung Jawa Tengah dilakukan


melalui :

 Penataan kawasan Masjid Agung Jawa Tengah; dan

 Pengembangan sistem kepariwisataan yang terintegrasi dengan


pengembangan Kawasan Masjid Agung Jawa Tengah.

Rencana penanganan kawasan Gedong Batu dilakukan melalui :

 Penataan kawasan Gedong Batu; dan

 Pengembangan sistem kepariwisataan yang terintegrasi dengan


pengembangan Kawasan Gedong Batu.

Rencana penanganan Kawasan Kota Lama adalah :

 Pemeliharaan dan pelestarian bangunan dari pengaruh kegiatan dan


ketahanan kontruksi bangunan

 Revitalisasi fungsi dan penggunaan bangunan

 Pengembangan sistem kepariwisataan Kota Semarang yang terintegrasi


dengan pengembangan kawasan Kota Lama

6.2.3 Kawasan Strategis Daya Dukung Lingkungan Hidup


Kawasan strategis bidang fungsi dan daya dukung lingkungan hidup adalah :
1. Kawasan Waduk Jatibarang.

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 VI-19


STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN

Pembangunan Waduk Jatibarang yang difungsikan sebagai pengendali


limpasan air ke kawasan bawah Kota Semarang.
Selain fungsi hidrologi kawasan Kawasan Waduk Jatibarang juga
dijadikan kawasan wisata dengan berbagai fasilitas pendukungnya.
Adanya percampuran fungsi konservasi dan budidaya ini menyebabkan
kawasan Waduk Jatibarang perlu dikelola dengan baik agar fungsi
budidaya tidak sampai menganggu fungsi konservasi.
2. Kawasan Reklamasi Pantai
Kawasan reklamasi pantai ditetapkan berada di wilayah Kecamatan
Semarang Utara yang pengembangannya dalam rangka pengoptimalan
kawasan pesisir dengan memperhatikan dampak lingkungan.

Gambar 6.5
Kawasan Strategis Kota Semarang

Sedangkan untuk kawasan Industri direncanakan pada kawasan :


a. Kawasan berikat yang meliputi Kawasan Industri Lamicitra Nusantara di
Kecamatan Semarang Utara, dan Kawasan Industri Wijayakusuma di
Kecamatan Tugu.
b. Kawasan industri dan pergudangan yang meliputi :
1). Peningkatan kualitas kawasan peruntukan Industri di Kecamatan
Genuk dengan luas kurang lebih 303 (tiga ratus tiga) hektar

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 VI-20


STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN

2). Peningkatan kualitas Kawasan Industri Tugu melalui pengembangan


Kawasan Industrial Estate dengan luas kurang lebih 495 hektar;
3). Peningkatan kualitas Kawasan Industri Candi melalui Kawasan
Industrial Estate dengan luas kurang lebih 450 hektar;
4). Peningkatan kualitas kawasan industri dan Pergudangan Tanjung
Emas melalui pengembangan Kawasan Industrial Estate beserta
pergudangan;
5). Peningkatan kualitas kawasan Industri di Kecamatan Mijen dengan
luas kurang lebih 175 hektar;
6). Peningkatan kualitas Kawasan peruntukan Industri di Kecamatan
Pedurungan dengan luas kurang lebih 58 hektar;
7). Peningkatan kualitas Kawasan Industri Merdeka Wirastama di
Kecamatan Genuk dengan luas kurang lebih 300 hektar;
8). Peningkatan kualitas kawasan Pembangkit Listrik Tenaga Uap
Tambak Lorok di Kecamatan Semarang Utara; dan
9). Peningkatan kualitas Kawasan Depo Pertamina di Kecamatan
Semarang Timur.
c. Pengembangan industri kecil dan rumah tangga yang meliputi :
1). Peningkatan kualitas industri kecil dan rumah tangga Bugangan di
Kecamatan Semarang Timur dan kawasan Lingkungan Industri Kecil
(LIK) di Kecamatan Genuk;
2). Industri kecil dan rumah tangga yang tidak menimbulkan polusi dapat
berlokasi di kawasan permukiman dan diarahkan berbentuk cluster ;
3). Industri kecil dan rumah tangga yang menimbulkan polusi diarahkan
ke kawasan industri.

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 VI-21


BAB VII
KEBIJAKAN UMUM DAN PROGRAM PEMBANGUNAN DAERAH

Perumusan program pembangunan daerah bertujuan untuk


menggambarkan keterkaitan antara bidang urusan pemerintahan daerah
dengan rumusan indikator kinerja sasaran. Perumusan prioritas program
pembangunan daerah merupakan rencana pembangunan yang konkrit
dalam bentuk program unggulan yang secara khusus berhubungan dengan
visi dan misi pembangunan Kepala Daerah terpilih. Dalam mewujudkan
capaian keberhasilan pembangunan, Pemerintah Kota Semarang
menetapkan beberapa program unggulan yang menjadi prioritas pembiayaan
yang wajib dilaksanakan oleh Perangkat Daerah di lingkungan Pemerintah
Kota Semarang.

Penetapan program pembangunan yang disesuaikan dengan strategi


dan arah kebijakan pembangunan daerah adalah sebagai berikut:

1. STRATEGI: Peningkatan kualitas pelayanan kesehatan


A. Arah kebijakan: Peningkatan pelayanan kesehatan dasar dan
rujukan dan pelayanan kesehatan miskin
Program pembangunan meliputi :
1) Program upaya kesehatan masyarakat
2) Program standarisasi pelayanan kesehatan
3) Program Pengadaan, peningkatan, dan perbaikan sarpras
kesehatan dan jaringannya
4) Program pengadaan, peningkatan sarana dan prasarana rumah
sakit / rumah sakit jiwa/ rumah sakit paru-paru / rumah sakit
mata
B. Arah kebijakan: Pengendalian penyakit menular.
Program pembangunan meliputi Program pencegahan dan
penanggulangan penyakit menular
C. Arah kebijakan: Peningkatan Penyehatan lingkungan
Program pembangunan meliputi
Program Promosi kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat
D. Arah kebijakan: Peningkatan kesehatan ibu dan bayi,
reproduksi remaja dan keluarga
Program pembangunan meliputi :
1) Program Perbaikan Gizi Masyarakat

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 VII-1


KEBIJAKAN UMUM DAN PROGRAM PEMBANGUNAN DAERAH

2) Program Peningkatan Keselamatan Ibu Melahirkan dan Anak

2. STRATEGI: Peningkatan mutu dan kualitas pendidikan


A. Arah kebijakan: Peningkatan pelayanan Pendidikan untuk
semua masyarakat
Program pembangunan meliputi :
1) Program Pendidikan Anak Usia Dini
2) Program Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun
3) Program Pendidikan Menengah
4) Program Pendidikan Non Formal
5) Program Peningkatan Kualitas Pendidik dan tenaga
Kependidikan
B. Arah kebijakan: Peningkatan Kesejahteraan Tenaga Pendidik
Program pembangunan meliputi Program Manajemen Pelayanan
Pendidikan

3. STRATEGI : Perluasan kesempatan kerja


A. Arah kebijakan : Peningkatan ketrampilan masyarakat
Program pembangunan meliputi Program Peningkatan Kualitas dan
Produktivitas Tenaga Kerja
B. Arah kebijakan : Peningkatan jaringan tenaga kerja
Program pembangunan meliputi Program Peningkatan Kesempatan
Kerja

4. STRATEGI : Pemberdayaan masyarakat miskin


Arah kebijakan: Penurunan jumlah keluarga miskin
Program pembangunan meliputi :
1) Program Pemberdayaan Fakir Miskin, Komunitas Adat Terpencil
(KAT) dan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS)
Lainnya
2) Program Pemberdayaan Kelembagaan Kesejahteraan Sosial
3) Program Pelayanan Kesehatan Masyarakat Miskin

5. STRATEGI : Pemberdayagunaan peran serta masyarakat dalam berbagai


sektor pembangunan
Arah kebijakan: Peningkatan pemberdayaan masyarakat berbasis
komunitas dan gender

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 VII-2


KEBIJAKAN UMUM DAN PROGRAM PEMBANGUNAN DAERAH

Program pembangunan meliputi :


1) Program Peningkatan Partisipasi Masyarakat Dalam Membangun
Kelurahan
2) Program Peningkatan peran serta dan kesetaraan gender dalam
pembangunan
3) Program Pemberdayaan lembaga ekonomi pembangunan kelurahan

6. STRATEGI : Pengembangan budaya lokal


Arah kebijakan: Pelestarian Seni, Budaya yang berbasis kearifan
lokal
Program pembangunan meliputi :
1) Program Pengembangan Nilai Warisan Budaya
2) Program Pengelolaan Kekayaan Cagar Budaya

7. STRATEGI : Reformasi birokrasi


A. Arah kebijakan: Peningkatan pengawasan dan pengendalian
penyelenggaraan pemerintahan daerah
Program pembangunan meliputi Program Peningkatan Sistem
Pengawasan Internal dan Pengendalian Kebijakan Kepala Daerah
B. Arah kebijakan: Peningkatan peran dan kinerja lembaga
pengelolaan keuangan daerah
Program pembangunan meliputi :
1. Program Peningkatan dan pengembangan pengelolaan keuangan
daerah
2. Program Pengelolaan Aset Daerah
C. Arah kebijakan: Peningkatan kualitas perencanaan
pembangunan daerah
Program pembangunan meliputi Program Perencanaan
Pembangunan Daerah
D. Arah kebijakan: Peningkatan akuntabilitas kinerja
penyelenggaraan pemerintahan daerah
Program pembangunan meliputi Program Peningkatan Akuntabilitas
Kinerja Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah
E. Arah kebijakan: Pengembangan pemanfaatan teknologi
informasi dalam penyelenggaraan pemerintahan (digitalisasi
kinerja)

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 VII-3


KEBIJAKAN UMUM DAN PROGRAM PEMBANGUNAN DAERAH

Program pembangunan meliputi Program optimalisasi pemanfaatan


teknologi informasi
F. Arah kebijakan: Peningkatan kapasitas sumber daya aparatur
pemerintahan yang profesional (kompetensi birokrasi)
Program pembangunan meliputi :
1) Program Peningkatan Profesionalisme Tenaga Pemeriksa dan
aparatur pengawasan
2) Program Pembinaan dan pengembangan Aparatur

8. STRATEGI : Peningkatan kualitas dan manajemen pelayanan publik


Arah kebijakan: Peningkatan penyelenggaraan pelayanan publik yang
lebih baik
Program pembangunan meliputi Program Pembinaan dan Peningkatan
Organisasi Perangkat Daerah

9. STRATEGI : Peningkatan peran serta masyarakat dalam menjaga


ketertiban dan kenyamanan
A. Arah kebijakan: Peningkatan masyarakat yang tertib dan patuh
terhadap peraturan perundang-undangan
Program pembangunan meliputi :
1) Program Pengendalian Dan Penanganan Ketentraman Dan
Ketertiban Umum
2) Program Pendidikan Politik Masyarakat
3) Program Pengembangan Wawasan kebangsaan

B. Arah kebijakan: Peningkatan ketentraman dan kenyamanan


melalui pemberdayaan masyarakat
Program pembangunan meliputi Program Peningkatan Ketentraman
dan Kenyamanan Lingkungan

10. STRATEGI : Pembenahan penataan kota yang berwawasan lingkungan


A. Arah kebijakan: Pembenahan izin pemanfaatan ruang dan
bangunan sesuai dengan peraturan
Program pembangunan meliputi Program Pengendalian
Pemanfaatan Ruang
B. Arah kebijakan: Pembenahan sistem jaringan drainase
perkotaan

RPJMD KOTA SEMARANG 2016-2021 VII-4


KEBIJAKAN UMUM DAN PROGRAM PEMBANGUNAN DAERAH

Program pembangunan meliputi Program Pengendalian Banjir dan


Rob
C. Arah kebijakan: Peningkatan kualitas layanan transportasi
umum
Program pembangunan meliputi Program Peningkatan Pelayanan
Angkutan
D. Arah kebijakan: Peningkatan kualitas infrastruktur dasar
perkotaan
Program pembangunan meliputi:
1) Program Pembangunan Sarana dan Prasarana Dasar
Perkotaan
2) Program Pembangunan Jalan dan Jembatan
E. Arah kebijakan: Pengendalian pencemaran dan kerusakan
lingkungan
Program pembangunan meliputi Program Pengendalian
Pencemaran dan Perusakan Lingkungan

11. STRATEGI : Peningkatan Produksi Pangan


A. Arah kebijakan: Peningkatan ketersediaan bahan pangan,
distr