Anda di halaman 1dari 21

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pemberian Akupresur pada Anak Usia Prasekolah

2.1.1 Pengertian Anak Usia Prasekolah

Anak prasekolah atau early childhood adalah anak yang berusia antara 3-6

tahun. Pada masa ini pertumbuhan berlangsung dengan stabil, terjadi

perkembangan dengan aktifitas jasmani yang bertambah dan meningkatnya

keterampilan dan proses berpikir (Tanuwidjaya, 2008). Usia 3-6 tahun adalah

usia prasekolah, pada usia prasekolah perkembangan fisik lebih lambat dan

relatif menetap. Sistem tubuh seharusnya sudah matang dan sudah terlatih

(Supartini, 2005). Anak prasekolah adalah anak yang berusia antara 3-6 tahun.

Usia ini anak umumnya mengikuti program anak (3 tahun - 6 tahun) dan

kelompok bermain (usia 3 Tahun), sedangkan pada usia 4-6 tahun biasanya

mereka mengikuti program Taman Kanak-Kanak (Patmonedowo, 2008).

Menurut Noorlaila (2010), dalam perkembangan ada beberapa tahapan

yaitu: 1) sejak lahir sampai usia 3 tahun, anak memiliki kepekaan sensoris dan

daya pikir yang sudah mulai dapat “menyerap” pengalaman-pengalaman melalui

sensorinya, usia setengah tahun sampai kira-kira tiga tahun, mulai memiliki

kepekaan bahasa dan sangat tepat untuk mengembangkan bahasanya, 2) masa

usia 2-4 tahun, gerakan-gerakan otot mulai dapat dikoordinasikan dengan baik,

untuk berjalan maupun untuk banyak bergerak yang semi rutin dan yang rutin,

berminat pada benda-benda kecil, dan mulai menyadari adanya urutan waktu

(pagi, siang, sore, malam).


2.1.2 Ciri-ciri Anak Usia Prasekolah

Muscari (2005), mengemukakan ciri-ciri anak prasekolah meliputi aspek

fisik, sosial, emosi dan kognitif anak.

1. Ciri Fisik

Ciri fisik pada anak usia 3-6 tahun yaitu tinggi badan bertambah rata-

rata 6,25-7,5 cm pertahun, tinggi rata-rata anak usia 4 tahun adalah 2,3 kg

per tahun. Berat badan anak usia 4-6 tahun rata-rata 2-3 kg pertahun, berat

badan rata-rata anak usia 4 tahun adalah16,8 kg (Muscari, 2005).

2. Ciri Sosial

Pada usia 3-6 tahun anak sudah memiliki keterikan selain dengan

orangtua, termasuk kakek nenek, saudara kandung, dan guru sekolah, anak

memerlukan interaksi yang yang teratur untuk membantu mengembangkan

keterampilan sosialnya (Muscari, 2005).

3. Ciri Emosional

Anak prasekolah cenderung mengekspresikan emosinya dengan bebas

dan terbuka, sikap marah, iri hati pada anak prasekolah sering terjadi,

mereka sering kali memperebutkan perhatian guru dan orang sekitar.

4. Ciri Kognitif

Pada usia 3-4 tahun anak sudah dapat menghubungkan satu kejadian

dengan kejadian yang simultan dan anak mampu menampilkan pemikirn

yang egosentrik, pada usia 4-6 tahun anak mampu membuat klasifikasi,

menjumlahkan, dan menghubungkan objek-objek anak mulai menunjukkan

proses berfikir intuifif (anak menyadari bahwa sesuatu adalah benar tetapi

dia tidak dapat mengatakan alasanya ), anak menggunakan banyak kata yang
sesuai tetapi kurang memahami makna sebenarnya serta anak tidak mampu

untuk melihat sudut pandang orang lain (Muscari, 2005).

2.1.3 Tingkat Perkembangan Anak Usia Prasekolah

Tingkat perkembangan anak prasekolah terdiri dari perkembangan

psikososial, perkembangan psikoseksual, dan perkembangan mental.

1. Perkembangan Psikososial

Menurut Nursalam (2005), masalah psikososial yang dihadapi anak

pada usia 3 dan 6 tahun di sebut “inisiatif versus rasa bersalah”. Orang

terdekat anak usia prasekolah adalah keluarga, anak normal telah

menguasai perasaan otonomi, anak mengembangan rasa bersalah ketika

orangtua membuat anak merasa bahwa imajinasinya dan aktivitasnya

tidak dapat mentoleransi pemindahan kepuasan dalam periode pertama.

Rasa takut pada anak usia 3-6 tahun biasanya lebih tinggi dibandingkan

usia lainnya, rasa takut yang umunya terjadi seperti takut kegelapan,

ditinggal sendiri terutama pada saat menjelang tidur, perasaan takut anak

prasekolah muncul dan berasal dari tindakan dan penilaian orangtua.

Menghadapkan anak dengan objek yang membuatnya takut dalam

lingkungan yang terkendali, dan memberikan anak kesempatan untuk

menurunkan rasa takutnya (Muscari, 2005).

2. Perkembanngan Psikoseksual

Pada tahap ini anak prasekolah termasuk pada tahap falik, dimana

masa ini genitalia menjadi area tubuh yang menarik dan sensitif

(Hidayat, 2005). Tahap falik berlangsung dari usia 3-5 tahun kepuasan

anak berpusat pada genitalia dan masturbasi banyak usia anak


prasekolah melakukan masturbasi untuk kesenangan fisiologis. Anak

usia prasekolah berhubungan dekat dengan orangtua lain jenis tetapi

mengidentifikasi orangtua sejenis, ketika identitas seksual berkembang

kesopanan mungkin menjadi perhatian demikian halnya dengan

ketakutan dengan kastrasi (Muscari, 2005).

3. Perkembangan Mental

Menurut Whalley dan Wong (1998), pada perkembangan kognitif

salah satu tugas yang berhubungan dengan periode prasekolah adalah

kesiapan untuk sekolah dan pelajaran sekolah. Disini terdapat fase

praoperasional pada anak usia 3-6 tahun. Fase ini termasuk

perkambangan prakonseptual pada usia 2-4 tahun, dan fase pikiran

intuitif pada usia 4-6 tahun. Salah satu transisi utama selama kedua fase

adalah pemindahan dari pikiran egosentris menjadi total menjadi

kesadaran sosial dan kemampuan untuk mempertimbangkan sudut

pndang orang lain.

2.1.4 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Anak Prasekolah

Faktor yang mempengaruhi perkembangan yaitu: keturunan, nutrisi,

hubungan interpersonal, tingkat sosial ekonomi, penyakit, bahaya lingkungan,

stres pada masa kanak-kanak dan pengaruh media, pola asuh orang tua.

1. Keturunan

Anak yang mengalami gangguan mental dan fisik yang diturunkan

akan mengubah atau menggangu pertumbuhan emosi, fisik dan interaksi

anak dengan lingkungan sekitar (Nursalam, 2005).


2. Nutrisi

Faktor diet mengatur pertumbuhan pada semua tahap perkembangan.

Selama periode pertumbuhan pranatal yang cepat, nutrisi buruk dapat

mempengaruhi perkembangan dari waktu implantasi ovum sampai

kelahiran. Selama bayi dan anak-anak, kebutuhan kalori dan protein lebih

tinggi dibandingkan pada saat periode perkembangan pascanatal. Nafsu

makan anak akan meningkat sebagai respon terhadap keberagaman sampai

pertumbuhan dimasa remja (Soetjiningsih, 2002).

3. Hubungan Interpersonal

Pada masa anak-anak, hubungan dengan orang terdekat memainkan

peran penting dalam perkembangan, terutama dalam perkembangan emosi,

intelektual dan kepribadian. Anak yang melakukan kontak dengan orang lain

dapat memberikan pengaruh pada anak yang sedang berkembang, tetapi

dengan luasnya rentang kontak dapat menjadi pelajaran dalam

perkembangan kepribadian sehat (Whalley dan Wong, 1998).

4. Tingkat Sosial Ekonomi

Pada anak yang sosial ekonominya rendah tidak mampu memenuhi

nutrisi yang lengkap untuk anaknya sehingga dapat mempengaruhi proses

perkembangan anak baik perkembangan psikososial dan perkembangan

kognitif anak karena gizi yang masuk tidak memenuhi kebutuhan anak

(Whalley dan Wong, 1998).

5. Penyakit

Perubahan pertumbuhan dan perkembangan adalah salah satu

manifestasi klinis dan sejumlah gangguan herediter, gangguan pertumbuhan


pada anak-anak terlihat pada gangguan skeletal, seperti sedikitnya satu

anomali kromosom, gangguan pada pencernaan dan gangguan absropsi

nutrisi tubuh pada anak akan menyebabkan efek merugikan pada

pertumbuhan dan perkembangan anak (Hidayat, 2005).

6. Bahaya Lingkungan

Agen berbahaya yang paling sering dikaitan dengan resiko kesehatan

adalah bahan kimia dan radiasi. Air dan udara serta makanan yang

terkontaminasi dari berbagai sumber telah didokumentasikan dengan baik.

Inhalasi asap rokok secara pasif oleh anak sangat berbahaya pada proses

perkembangan anak (Riyadi dan Sukarmin, 2009).

7. Stres Pada Masa Kanak-Kanak

Berdasarkan sudut pandang fsikologis dan emosi pada intinya stres

adalah ketidakseimbangan antara tuntutan lingkungan dan sumber koping

individu yang mengandung ekulibrium individu tersebut. Pada anak tampak

lebih rentang mengalami stres bila dibandingkan dengan yang lain. Respon

terhadap stresor dapat berupa prilaku, psikologis, atau fisiologis. Adanya

stres tersebut maka akan menjadi strategi koping yang dapat melindungi

dirinya menghadapi stress (Harjaningrum, 2007).

8. Pengaruh Media Masa

Media dapat memperluas pengetahuan anak tentang dunia tempat

mereka hidup dan berkonstribusi untuk mempersempit perbedaan antar

kelas. Namun media juga besar pengaruhnya terhadap perkembangan anak,

karena anak masa kini terpikat seperti pada beberapa dekade lalu. Anak-

anak masa ini lebih cendrung memilih media dan figur olahraga sebagai
model peran ideal mereka, sedangkan di masa lalu anak lebih suka meniru

orangtua atau walinya. Menurut Chairinniza (2008), faktor penghambat

penyelesaian tugas perkembangan yaitu tingkat perkembangan anak yang

mudur, tidak mendapatkan kesempatan yang cukup, dan tidak mendapat

bimbingan dan arahan yang tepat, tidak ada motivasi, kesehatan buruk, cacat

tubuh, dan tingat kecerdasan yang rendah.

9. Pola Asuh Orangtua

Orang tua perlu mencermati hal-hal yang dibutuhkan anak sebagai

pondasi keberhasilan pertumbuhan dan perkembangan anak. Hal yang

mendasar juga harus diperhatikan seperti konsep diri anak, sikap, rasa

tanggung jawab, dan motivasi dalam diri yang tinggi (Chairnniza, 2008).

2.1.5 Definisi Akupresur

Akupresur atau yang biasa dikenal dengan terapi totok/tusuk jari adalah

salah satu bentuk fisioterapi dengan memberikan pemijatan dan stimulasi pada

titik-titik tertentu pada tubuh (Fengge, 2012). Terapi akupresur merupakan

pengembangan dari ilmu akupuntur, sehingga pada prinsipnya metode terapi

akupresur sama dengan akupuntur yang membedakannya terapi akupresur tidak

menggunakan jarum dalam proses pengobatannya. Akupresur berguna untuk

mengurangi ataupun mengobati berbagai jenis penyakit dan nyeri serta

mengurangi ketegangan dan kelelahan. Proses pengobatan dengan tehnik

akupresur menitikberatkan pada titik-titik saraf di tubuh. Titik-titik akupresur

terletak pada kedua telapak tangan dan kedua telapak kaki. Di kedua telapak

tangan dan kaki kita terdapat titik akupresur untuk jantung, paru-paru, ginjal,

mata, hati, kelenjar tiroid, pankreas, sinus dan otak (Fengge, 2012).
2.1.6 Tujuan Akupresur

Teknik pengobatan akupresur bertujuan untuk membangun kembali sel-sel

dalam tubuh yang melemah serta mampu membuat sistem pertahanan dan

meregenerasi sel tubuh (Fengge, 2012). Umumnya penyakit berasal dari tubuh

yang teracuni, sehingga pengobatan akupresur memberikan jalan keluar

meregenerasikan sel-sel agar daya tahan tubuh kuat untuk mengurangi sel-sel

abnormal. Pengobatan akupresur tidak perlu makan obat-obatan, jamu dan

ramuan sebab dengan terapi akupresur tubuh kita sudah lengkap kandungan obat

dalam tubuh jadi tinggal diaktifkan oleh sel-sel syaraf dalam tubuh. Tubuh

manusia memiliki kemampuan memproduksi zat-zat tertentu yang berguna

untuk ketahanan tubuh. Jika ditambah obat-obatan, yang terjadi adalah

kelebihan dosis yang justru akan mengakibatkan kerusakan organ tubuh

terutama ginjal (Fengge, 2012).

2.1.7 Manfaat Akupresur

Akupresur terbukti bermanfaat untuk pencegahan penyakit, penyembuhan

penyakit, rehabilitasi (pemulihan) dan meningkatkan daya tahan tubuh. Untuk

pencegahan penyakit, akupresur dipraktikan pada saat-saat tertentu secara

teratur sebelum sakit, tujuannya untuk mencegah masuknya penyebab penyakit

dan mempertahankan kondisi tubuh. Melalui terapi akupresur penyakit pasien

dapat disembuhkan karena akupresur dapat digunakan untuk menyembuhkan

keluhan sakit dan dipraktikan ketika dalam keadaan sakit. Akupresur juga dapat

bermanfaat sebagai rehabilitasi (pemulihan) dengan cara meningkatkan kondisi

kesehatan sesudah sakit. Selain itu, akupresur juga bermanfaat untuk


meningkatkan daya tahan tubuh (promotif) walaupun tidak sedang dalam

keadaan sakit (Fengge, 2012).

2.1.8 Teori Dasar Akupresur

Akupresur sebagai seni dan ilmu penyembuhan berlandaskan pada teori

keseimbangan yang berasal dari ajaran “Taoisme” yang menyimpulkan bahwa

semua isi alam raya dan sifat-sifatnya dapat dikelompokkan kedalam dua

kelompok yang disebut “Yin” dan “Yang”. Pemahaman terhadap Yin dan Yang

yaitu dengan memahami bahwa semua benda-benda yang sifatnya mendekati

api dikelompokkan ke dalam kelompok “Yang” dan semua benda yang sifatnya

mendekati air dikelompokkan ke dalam kelompok “Yin”. Api dan air digunakan

sebagai patokan dalam keadaan wajar dan dari sifat api dan air tersebut

kemudian dirumuskan sifat-sifat penyakit dan bagaimana cara

penyembuhannya. Seseorang dikatakan tidak sehat atau sakit apabila antara Yin

dan Yang di dalam tubuhnya tidak seimbang (Fengge, 2012).

2.1.9 Komponen Dasar Akupresur

Ada tiga komponen dasar akupresur yaitu Ci Sie atau energi vital, sistem

meridian dan titik akupresur.

1. Ci Sie (Energi Vital)

Ci sering diartikan sebagai zat sari-sari makanan dan Sie adalah darah

sehingga secara singkat Ci Sie sering disebut sebagai energi vital. Ada dua

sumber asal energi vital yaitu energi vital bawaan dan energi vital didapat.

Energi vital bawaan berasal dari orangtua, maka sifat, watak, bakat, rupa,

kesehatan fisik dan mental dari kedua atau salah satu orangtua sering muncul
pada anaknya. Sementara itu, energi vital yang didapat bisa berasal dari sari

makanan yang diperoleh dari ibu (selama dalam kandungan) maupun yang

diperoleh sendiri sesudah lahir. Oleh karena itu, kondisi janin sangat tergantung

pada jenis makanan, air dan suhu udara yang diperoleh ibu serta dukungan

sosial dari lingkungannya. Kondisi janin tidak terlepas dari kondisi fisik,

mental/psikis sang ibu. Energi vital inilah yang kemudian memberikan

kehidupan pada manusia (Fengge, 2012).

2. Sistem Meridian

Sistem meridian adalah saluran energi vital yang melintasi seluruh bagian

tubuh seperti jaring laba-laba yang membujur dan melintang untuk

menghubungkan seluruh bagian tubuh. Meridian merupakan bagian dari sistem

saraf, pembuluh darah dan saluran limpa.

Fungsi meridian menurut Fengge (2012):

a. Menghubungkan bagian tubuh yang satu dengan yang lainnya (muka-

belakang, atas-bawah, samping kiri-kanan, bagian luar-bagian dalam).

b. Menghubungkan organ tubuh yang satu dengan organ tubuh lainnya,

menghubungkan organ dengan pancaindra dan jaringan tubuh yang lain.

Sifat hubungan ini bolak balik.

c. Menghubungkan titik-titik akupunktur/akupresur yang satu dengan yang

lainnya, menghubungkan titik akupunktur/akupresur dengan organ dan

menghubungkan jaringan tubuh dengan pancaindra.

d. Merupakan saluran untuk menyampaikan kelainan fungsi organ ke

permukaan tubuh yang dapat diketahui melalui kelainan keadaan titik pijat,

pancaindra atau jaringan tubuh lainnya.


e. Merupakan saluran bagi penyebab penyakit masuk ke dalam organ baik

penyebab dari luar tubuh maupun penyebab penyakit dari dalam tubuh.

Meridian dikelompokan menjadi meridian umum dan meridian istimewa.

Meridian umum adalah meridian paru-paru, usus besar, jantung, limpa,

lambung, usus kecil, kantong kemih, ginjal, selaput jantung, tri pemanas,

kantong empedu dan hati. Meridian istimewa adalah meridian tu dan meridian

ren yang melintas di garis tengah tubuh. Meridian istimewa ini merupakan

pengikat atau penghubungan semua meridian sehingga keempat belas meridian

merupakan mata rantai yang tidak terputus (Sukanta, 2008).

2.1.10 Kontraindikasi Akupresur

Akupresur merupakan terapi yang dapat dilakukan dengan mudah dan efek

samping yang minimal. Meskipun demikian, akupresur tidak boleh dilakukan

pada bagian tubuh yang luka, bengkak, tulang retak atau patah dan kulit yang

terbakar (Sukanta, 2008).

2.1.11 Cara Perangsangan Titik Akupresur

Titik akupresur ialah bagian atau lokasi di tubuh sebagai tempat

berakumulasinya energi vital. Pada titik akupresur inilah akan dilakukan

pemijatan terapi akupresur. Di dalam tubuh kita terdapat banyak titik akupresur,

kurang lebih berjumlah 360 titik akupresur yang terletak di permukaan tubuh

dibawah kulit. Pertama kali yang harus diperhatikan sebelum melakukan pijat

akupresur adalah kondisi umum penderita. Pijat akupresur tidak boleh dilakukan

terhadap orang yang sedang dalam keadaan yang terlalu lapar atau pun terlalu
kenyang; dalam keadaan terlalu emosional dan pada perempuan yang sedang

dalam kondisi hamil (Fengge, 2011).

Pijatan bisa dilakukan setelah menemukan titik meridian yang tepat yaitu

timbulnya reaksi pada titik pijat berupa rasa nyeri, linu atau pegal. Terapi

akupresur pijatan bisa dilakukan dengan menggunakan jari tangan (jempol dan

jari telunjuk). Semua titik pijat berpasangan kecuali untuk jalur meridian Ren

dan Tu. Lama dan banyaknya tekanan (pemijatan) tergantung pada jenis pijatan.

Pijatan untuk menguatkan (Yang) dapat dilakukan dengan maksimal 30 kali

tekanan, untuk masing masing titik-titik dan pemutaran pemijatannya secara

jarum jam sedangkan pemijatan yang berfungsi melemahkan (Yin) dapat

dilakukan dengan minimal 50 kali tekanan dan cara pemijatannya berlawanan

jarum jam (Fengge, 2011).

Menurut Fengge (2012), terdapat tiga macam titik akupresur yaitu:

1. Titik akupresur umum

Titik akupresur umum ini terdapat di sepanjang saluran meridian.

Setiap titik umum diberi nama oleh penemunya dalam bahasa Tionghoa

yang memiliki arti tersendiri dan diberi nomor yang bersifat universal.

Misalnya, titik Hegu yang memiliki arti kumpulan jurang. Hegu sama

dengan titik usus besar dengan nomor 4 (UB.4) dan dalam bahasa Inggris

disebut Large Intestine no.4 (LI.4).

2. Titik akupresur istimewa

Titik akupresur istimewa adalah titik yang berserakan (tidak

menentu), ada yang di jalur meridian dan ada pula yang di luar jalur

meridian. Tiap-tiap titik umum mempunyai nama dan fungsi masing-


masing. Misalnya Lamwei, berfungsi sebagai titik untuk mengobati penyakit

usus buntu.

3. Titik nyeri (Yes Point)

Titik nyeri berada di daerah keluhan (daerah yang mengalami masalah)

misalnya sakit perut, sakit kepala, dan lain-lain. Menemukan titik nyeri ini

adalah dengan meraba keluhan kemudian cari titik yang paling sensitif atau

nyeri. Titik ini hanya berfungsi sebagai penghilang rasa sakit setempat saja,

tetapi sering juga berpengaruh pada jaringan tubuh lainnya.

2.2 Enuresis pada Anak Usia Prasekolah

2.2.1 Pengertian Enuresis

Enuresis adalah ketidakmampuan berkemih pada usia dimana kontrol

mikturisi seharusnya sudah dimiliki (Meadow & Simon, 2003). Enuresis atau

mengompol merupakan kondisi yang biasanya terjadi karena saraf dalam

menyuplai kantong kemih lambat matangnya, sehingga si anak tidak berhasil

terbangun ketika kantong kemih penuh dan butuh dikosongkan (Siregar & Sri

Minatun, 2011). Enuresis ialah suatu kelainan fungsional dalam mengendalikan

pengosongan kandung kemih. Dari kelainan fungsional tersebut, maka muncul

masalah yang diakui merupakan salah satu faktor kesulitan untuk memberikan

definisi enuresis. Masalah tersebut ialah batasan umur anak yang dianggap telah

dapat mengendalikan pengosongan kandung kemihnya. Pengertian lain

menyebutkan bahwa enuresis adalah pengeluaran urin yang tidak disadari oleh

anak berumur 5 tahun atau lebih, baik siang maupun malam hari (Suwardi,

2000).
2.2.2 Jenis-Jenis Enuresis

Jenis-jenis enuresis dibagi menjadi dua yaitu:

1. Enuresis noktural / Noctural enuresis (mengompol di malam hari)

Merupakan pengeluaran air kemih yang tidak disadari pada malam

hari oleh seseorang yang pengendalian kandung kemihnya diharapkan sudah

tercapai, dan hal ini terjadi pada malam hari. (Sekarwana, 1993). Noctural

Enuresis terjadi pada anak-anak yang tidak bisa menahan buang air kecil

dalam waktu yang lama seperti pada saat tidur (Meadow & Simon, 2003).

Ngompol pada malam hari atau Noctural Enuresis itu sendiri terbadi menjadi

dua jenis yaitu Nocturnal Enuresis Primer (NEP) dan Noctural Enuresis

Sekunder (NES).

Seseorang dikatakan mengalami Noctural Enuresis Primer (NEP) bila

kebiasaan mengompol sudah terjadi sejak bayi dan berulang terus-menerus

tanpa ada suatu periode waktu berhenti. Hal ini disebabkan saraf yang

mensarafi kandung kemih masih belum sempurna, sehingga anak tidak

terbangun saat urin (air seni) sudah memenuhi kandung kemih, sedangkan

seseorang dikatakan mengalami Noctural Enuresis Sekunder (NES) bila

kebiasaan mengompol terulang kembali setelah 3 sampai 6 bulan berhenti.

Hal ini bisa terjadi karena adanya depresi yang beremosional ataupun karena

adanya penyakit yang mendasarinya, seperti diabetes dan infeksi pada

kandung kemih. NES juga bisa terjadi akibat kurangnya perhatian orangtua,

seperti kehadiran anak kedua dalam keluarga yang menyebabkan anak

pertama merasa tersaingi. Hal ini akan mempengaruhi fisik si anak dalam

bentuk depresi, sehingga akan memicu terjadinya ngompol.


2. Enuresis Diurnal (mengompol di siang hari)

Merupakan pengeluaran air kemih yang tidak disadari pada siang hari

oleh seseorang yang pengendalian kandung kemihnya diharapkan sudah

tercapai, dan hal ini terjadi pada siang hari. Sekitar 1% anak sehat berusia 5

tahun mengompol di siang hari dan kebanyakan dari mereka tidak

mengompol di malam hari. Masalah ini lebih umum ditemui pada anak

perempuan dan biasanya disebabkan inkontinensia urgensi atau

ketidakstabilan kandung kemih (Meadow & Simon, 2003). Setengah dari

anak perempuan yang mengompol di siang hari mengalami bakteriuria.

Bakteriura menyebabkan ketidakstabilan kandung kemih dan inkontinensia

uregensi yang mengakibatkan celana dalam lembab dan bau yang

merupakan predisposisi terhadap infeksi. Terdapat peningkatan insidensi

gangguan emosional pada anak yang mengompol dan disertai infeksi

dibandingkan dengan anak yang hanya mengompol. Dengan pertambahan

usia, terdapat kecenderungan alami untuk tidak mengompol dan hal ini

dipercepat dengan eradikasi bakteriuria dan penatalaksanaan cepat yang

memberi tanggung jawab pada anak untuk buang air lebih sering dan

menjaga kebersihan.

2.2.3 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Enuresis

Beberapa faktor etiologi yang paling sering ditemukan dalam berbagai

penelitian adalah:

1. Genetik/familial Hallgren menemukan sekitar 70% keluarga dengan anak

enuresis, salah satu atau lebih anggota keluarga lainnya juga menderita

enuresis, dan sekitar 40% sekurang-kurangnya satu diantara orangtuanya


mempunyai riwayat enuresis . Penelitian pada anak kembar menunjukkan

bahwa anak kembar monozigot 68% akan mengalami enuresis dan kembar

dizigot sebesar 36% (Suwardi, 2000).

2. Hambatan perkembangan dasar keadaan ini adalah kesulitan mekanisme

hambatan yang mengatur pengosongan kandung kemih. Pengendalian

kandung kemih merupakan keterampilan yang dipelajari sendiri, anak akan

belajar mengkoordinasi penggunaan otot-otot levator ani, diafragma dan

otot-otot abdomen yang menghasilkan voluntary mechanism berkemih.

Melalui mekanisme ini anak dapat menggandakan kapasitas kandung

kemihnya 4,5 tahun dibandingkan dengan kapasitas kandung kemihnya pada

umur 2 tahun. Anak yang gagal menggandakan kapasitas kadung kemihnya

akan menjadi anak enuretik (Suwardi, 2000).

3. Psikologis Frued dalam Kurniawati (2008) menyatakan bahwa anak yang

sulit menahan kencing sewaktu tidur malam berhubungan erat dengan

gangguan psikologis anak. Enuresis sekunder bisa terjadi akibat faktor

psikologis, biasanya terjadi ketika anak tiba-tiba mengalami stres kejiwaan

seperti pelecehan seksual, kematian dalam keluarga, kepindahan, mendapat

adik baru, perceraian orang tua atau masalah psikis lainnya. Langkah awal

yang harus diambil dalam mengatasi enuresis sekunder adalah mengenali

perubahan-perubahan mendadak yang terjadi dalam kehidupan anak. Bila

anak mengalami stres kejiwaan, penanganan secara psikologis lebih

dibutuhkan. Penanganan anak yang mengalami enuresis memang tidak

mudah. Tapi setidaknya kasih sayang, kesabaran serta pengertian orangtua

untuk tidak memarahi atau menghukum ketika anak mengompol akan


membantu membangun kepercayaan dirinya. Pengaruh buruk secara

psikologis dan sosial yang menetap akibat ngompol akan mempengaruhi

kualitas hidup anak sebagai seorang manusia dewasa kelak.

4. Lain-lain, seperti pola tidur, lingkungan termasuk kebiasaan yang kurang

baik, dan lain-lain. Pola tidur nyenyak pada anak berperan penting untuk

terjadinya enuresis, pola tidur yang nyenyak, umumnya ditemukan pada

anak enuresis primer dan kebanyakan laki-laki, anak dengan enuresis

cenderung tidur lebih nyenyak secara bermakna dibandingkan dengan

saudaranya yang tidak enuresis. Terdapat hubungan antara lingkungan anak

dengan enuresis, dilaporkan bahwa enuresis lebih sering terjadi pada anak-

anak dari lingkungan sosial ekonomi rendah. Saat yang baik untuk

memberikan latihan berkemih pada anak yaitu pada umur antara 18 tahun,

saat tingkat pematangan psikologis anak mulai berkembang.

2.2.4 Sebab-Sebab Timbulnya Enuresis

Pada sebagian besar anak, mengompol terjadi begitu saja tanpa ada sebab

yang jelas. Mengompol juga bukan kesalahan langsung pada anak, biasanya ini

terjadi karena produksi urin pada malam hari lebih banyak daripada yang

mampu ditahan oleh kandung kemih anak. Namun sensasi dari penuhnya

kandung kemih ini ternyata belum mampu membangunkan anak yang sedang

terlelap, maka terjadilah mengompol. Mengompol pada anak akan semakin

parah dan memburuk, bisa jadi hal ini adalah ujung dari pertanda suatu masalah

yang mungkin terjadi pada anak, antara lain: (Suwardi, 2000)

1. Stress yang berulang-ulang


Anak awalnya sudah tidak lagi mengompol namun kembali muncul

perilaku ini dikarenakan anak mengalami sesuatu yang membuatnya sangat

tidak nyaman, misalnya awal masuk sekolah, kedatangan adik baru,

menderita suatu penyakit, mendapatkan perlakuan yang buruk dari teman

(bullying), atau anak mengalami pelecehan.

2. Makanan maupun minuman yang mengandung kafein

Makanan atau minuman itu antara lain teh, kopi, cola, dan coklat.

Kafein ini menyebabkan produksi urin yang dihasilkan oleh ginjal

meningkat.

3. Sembelit (konstipasi)

Jumlah feses yang berlebih bisa saja menekan dan mengirutasi bagian

belakang kandung kemih. Anak yang sering mengalami konstipasi

cenderung memiliki masalah mengompol juga.

4. Anak yang mengalami ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder)

Anak yang mengalami gangguan ini akan memiliki resiko lebih besar

menderita bedwetting atau mengompol.

Enuresis pada seorang anak disebabkan tidak hanya oleh satu faktor saja.

Misalnya, enuresis yang dianggap sebagai akibat hambatan perkembangan

fungsional kandung kemih dapat diprovokasi oleh kelainan lokal atau masalah

psikologis. Namun sering pula etiologi enuresis tidak diketahui. Anak yang sulit

menahan kencing sewaktu tidur malam (enuresis nokturnal), berhubungan erat

dengan faktor gangguan psikologis (Kurniawati, 2008). Namun ahli lain

menyatakan bahwa faktor lain seperti keturunan atau adanya kelainan pada

kandung kencing bisa juga menjadi penyebab (Kurniawati, 2008).


2.2.5 Sisi Negatif Enuresis pada Anak

Menurut Kurniawati (2008) sisi negatif enuresis pada anak diantaranya:

1. Anak akan mengalami gangguan psikologis

2. Perasaan cemas akan selalu ada pada diri anak

3. Minder terhadap teman-temannya

4. Infeksi saluran kemih

5. Penurunan kapasitas kandung kemih akibat konstipasi

2.3 Pengaruh Terapi Akupresur Terhadap Frekuensi Enuresis pada Anak

Usia Prasekolah

Anak yang mengalami kesulitan menahan kencing berhubungan erat dengan

faktor psikologis. Dampak secara sosial dan kejiwaan yang ditimbulkan akibat

enuresis dapat menggangu kehidupan seorang anak. Pengaruh buruk secara

psikologis dan sosial yang dapat di terima oleh anak akibat enuresis akan

mempengaruhi kualitas hidupnya ketika dewasa (Fatmawati & Mariyam, 2013).

Enuresis merupakan salah satu bentuk gangguan tumbuh kembang pada anak usia

prasekolah yang harus diperhatikan. Enuresis adalah pengeluaran air kemih yang

tidak disadari, yang terjadi pada saat pengendalian proses berkemih diharapkan

sudah tercapai (Windiani, 2008). Berbagai penyebab enuresis pada anak antara

lain faktor genetik, hormonal, anatomi, kondisi medis seperti konstipasi, infeksi

saluran kencing, problem psikologis, kapasitas kandung kemih yang kecil,

gangguan tidur, keterlambatan perkembangan, dan imaturitas fungsi sistem saraf

pusat. Enuresis dapat memberikan dampak terhadap perkembangan anak. Anak

akan mengalami gangguan perilaku internal ataupun eksternal. Anak akan merasa
rendah diri, tidak percaya diri, atau lebih agresif. Sekitar 15% anak yang

mengalami enuresis dapat mengatasi sendiri atau remisi secara spontan tiap

tahunnya, namun jika enuresis tidak mendapatkan penanganan dini dan tepat akan

berdampak terhadap perkembangan anak (Windiani, 2008).

Salah satu cara untuk mengatasi enuresis pada anak yaitu dengan melakukan

terapi akupresur. Akupresur sebagai salah satu terapi komplementer dalam

mengatasi enuresis pada anak telah dibuktikan oleh beberapa penelitian, salah satu

diantaranya adalah penelitian Elvira (2015). Penelitian tersebut bertujuan untuk

mengetahui efektifitas terapi akupresur terhadap frekuensi enuresis pada anak usia

prasekolah di Kota Pontianak. Hasil penelitian tersebut menyimpulkan bahwa

terapi akupresur efektif terhadap frekuensi enuresis pada anak usia prasekolah.

Akupresur merupakan terapi tusuk jari dengan memberikan penekanan dan

pemijatan pada titik tertentu pada tubuh yang didasarkan pada prinsip ilmu

akupunktur (Fengge, 2012). Penekanan ujung-ujung jari tangan pada daerah

tertentu dipermukaan kulit yang berdampak positif terhadap kondisi fisik, mental

dan sosial (Hartono, 2012).

Fungsi dari terapi akupresur sendiri yaitu salah satunya memperbaiki jaringan

tubuh dan otot, dan pada kasus enuresis akupresur difungsikan untuk

memperbaiki fungsi ginjal dan meningkatkan fungsi otot detrusor pada kandung

kemih. Pada saat dilakukan terapi akupresur, akan menekan titik tertentu pada

tubuh, dengan menekan titik tersebut akan merangsang keluarnya hormon

endorphin, hormon ini merupakan hormon yang dapat menimbulkan rasa

kebahagian dan ketenangan, sehingga pada anak yang mengalami enuresis yang

disebabkan oleh rasa cemas, takut, stres dan masalah psikologis, terapi akupresur
sangat dapat membantu (Elvira, 2015). Menurut Supriatin (2015) mengatakan

bahwa akupresur dapat menurunkan mual muntah akibat kemoterapi pada anak

yang menderita leukeumia dan akupresur dapat diterapkan sebagai terapi non

farmakologi untuk mengurangi mual muntah akibat kemoterapi pada anak di

RSUP dr. Hasan Sadikin Bandung. Hal ini di perkuat dengan pendapat Munjidah

(2015) dimana dalam penelitiannya mengatakan bahwa pijat terapi akupresur Tui

Na efektif dalam mengatasi kesulitan makan pada balita di RW 02 Kelurahan

Wonokromo Surabaya. Analisis data melalui uji Chi Square dengan nilai

kemaknaan alpha 0,05. Hasil penelitian menunjukkan nilai p 0,009 < α 0,05

sehingga dapat di simpulkan bahwa semakin rutin pijat akupresur Tui Na

dilakukan, maka kesulitan makan pada balita akan teratasi.