Anda di halaman 1dari 11

POPULASI ORANGUTAN (Pongo Pygmaeus) DI KALIMANTAN

Disusun oleh :

KELOMPOK 10

Maria Pricilia Gita P. P. B1A015068


Annisa Nafiah Salma B1A015079
Fiy Jannatin Aliyah B1A015098

TUGAS TERSTRUKTUR EKOLOGI

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2016
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Orangutan sangat rentan terhadap kepunahan. Tingkat reproduksi mereka
sangat lambat, kepadatan rendah dan rentang habitat yang sangat besar berarti
populasi yang layak membutuhkan area yang luas dari hutan hujan bersebelahan.
Mereka juga terbatas pada hutan dataran rendah. Betinanya melahirkan satu bayi
setiap delapan atau sembilan tahun dan hilangnya paling sedikit 1% dari perempuan
setiap tahun dapat menempatkan populasi pada lintasan kepunahan. Orangutan
menunjukkan gaya hidup semi solitari dimana wilayah dari satu laki-laki mencakup
wilayah beberapa betina (Schwitzer et al., 2015).
Konflik manusia dengan orangutan dan pembunuhan terjadi secara luas di
Kalimantan, dengan banyak populasi berisiko mengalami penurunan atau kepunahan
lokal. Risiko pembunuhan yang tinggi ini sangat berhubungan dengan habitat untuk
orangutan dan desa-desa yang lebih besar yaitu lebih dari 60 km daripada
perkebunan kelapa sawit. Tindakan konservasi yang efektif sangat dibutuhkan
(Abram et al., 2015).
Hutan rawa gambut di Kalimantan menjadi semakin lebih terfragmentasi,
spesies yang mendiaminya semakin terancam, terutama spesies langka Borneo yaitu
orangutan Pongo pygmaeus. Daerah gagal proyek pertanian yang dikenal sebagai
Proyek Mega Padi di Kalimantan Tengah, Indonesia, terdiri dari fragmen hutan rawa
gambut yang dilaporkan terdapat orangutan, meskipun tidak ada survei komprehensif
sebelumnya telah dilakukan. Pada sebagian daerah ini dilakukan identifikasi terhadap
fragmen hutan yang tersisa menggunakan citra satelit untuk melihat sarang orangutan
dan menentukan kepadatan, kelimpahan dan distribusi spesiesnya (Cattau et al.,
2015).
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana populasi orangutan di Kalimantan?
2. Apa ancaman yang dihadapi orangutan di Kalimantan?
3. Bagaimana menanggulangi ancaman yang dihadapi orangutan tersebut?
C. Tujuan
1. Mengetahui kondisi populasi orangutan di Kalimantan.
2. Mengetahui ancaman yang dihadapi orangutan di Kalimantan.
3. Memberikan solusi bagi ancaman yang dihadapi orangutan di Kalimantan.
II. METODE
Pemetaan terhadap populasi orangutan dilakukan dengan menggunakan data
satelit pada daerah bekas proyek mega padi. Lalu dilakukan sampling garis lintang
terhadap jarak sarang, menggunakan metode standar untuk mengetahui abundansi
dari orangutan. Untuk mengetahui ancaman yang dihadapi orangutan dilakukan
wawancara kuesioner di 531 desa di Kalimantan pada cakupan wilayah orangutan
berkaitan dengan pengetahuan lokal tentang ancaman terhadap populasi orangutan.
Data ini terintegrasi dengan 39 variabel tata ruang lingkungan sosial-ekonomi
menggunakan pemodelan regresi pohon untuk memprediksi tingkat ancaman dan
tren penduduk di Kalimantan dan untuk mengidentifikasi kombinasi kunci dari
ancaman dan tren yang dapat membantu untuk mengarahkan pada tindakan
konservasi yang tepat (Abram et al., 2015; Cattau et al., 2015).
Untuk mengukur dampak dari penebangan pada struktur hutan, diidentifikasi
spesies tanaman dan dihitung tingginya (m), ukuran yaitu diameter setinggi dada
pada 1,40 m di atas tanah dengan cm dan tutupan tajuk di 10 petak hutan yang dipilih
secara acak (25 X 25 m) yang dicatat antara November 1999 dan Agustus 2002. Plot
ini dibandingkan dengan 10 plot yang dipilih secara acak (25 X 25 m) di hutan
primer. Peta daerah penelitian dibagi dalam grid per daerah (login dan primer) dan
grid dipilih dengan nomor acak generator grid yang dipilih digunakan untuk
membangun plot. Data perilaku dikumpulkan menggunakan metode lapangan standar
berdasarkan standarisasi San Anselmo. Individu orangutan diikuti dari fajar hingga
senja (yaitu dari sarang ke sarang) dengan perilaku (misalnya makan, bergerak, jenis
penggerak) dan variabel ekologi (misalnya jenis pohon). Individu yang ditemukan
secara oportunis dan setelah itu diikuti selama maksimal 10 hari per bulan untuk
memastikan variabilitas data (Hardus et al., 2012).
III. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

Tabel 1. Spesies Tumbuhan yang Membantu Kehidupan Orangutan

Tabel 2. Perilaku Orangutan


Tabel 3. Rata-rata Densitas Populasi Orangutan di Daerah Bekas Proyek
Mega Padi
Gambar 1. Persebaran Populasi Orangutan di Kalimantan

B. Pembahasan

Populasi orangutan di Kalimantan terdiri dari 3 jenis, yaitu P. p. Pygmaeus


(Sarawak, Kalimantan bagian utara barat), P. p. Wurmbii (Kalimantan bagian selatan
barat dan Kalimantan Tengah), dan P. p. Morio (Kalimantan Timur, Sabah)
(Prayogo et al., 2014). Morfologi orangutan Kalimantan, antara lain:
 Rambut pipih dengan kolom pigmen hitam yang tebal di tengah.
 Orangutan jantan Kalimantan memiliki rambut yang pendek, dan kurang padat.
 Lebih tegap, mempunyai kulit, wajah, dan warna rambut lebih gelap daripada yang
ada di Sumatera.
 Memiliki kantung tenggorokan yang besar dan terjumbai.
 Orangutan jantan Kalimantan memiliki pinggiran (flange) muka yang cenderung
melengkung ke depan (Meijaard et al., 2001 dalam Prayogo et al., 2014).
Menggunakan perkiraan kepadatan berasal dari kawasan hutan rawa
berdekatan dengan Proyek Mega Padi (estimasi densitas sarang 599 ± SE 78 km-2,
dapat diperkirakan populasi asli di daerah ini adalah 3.676 ± SE 479 orang utan,
berkurang sekitar 55-60%. Jika itu berkurang menjadi 1,58 individu per km-2 maka
kepadatannya akan berkurang menjadi 945 ± SE 123 untuk 1.067 ± SE 139 individu,
dengan asumsi tidak ada pengurangan hutan lagi. Maka harus dilakukan penanaman
kembali hutan yang telah hilang. Pengurangan populasi orangutan ini dikarenakan
oleh pembalakan liar dan pengurangan habitat mereka yakni hutan gambut karena
digunakan untuk aktivitas manusia. Selain itu, pengurangan populasi juga karena
terjadinya konflik dengan manusia (Cattau et al., 2015).
Tiga puluh enam persen dari desa di Kalimantan melaporkan bahwa populasi
orangutan menurun dalam dekade terakhir; 21% mengatakan orangutan tidak lagi
hadir; 32% dilaporkan tidak ada perubahan; dan 11% melaporkan mereka belum
pernah melihat orangutan di daerah. Model BRT pada persepsi populasi orangutan
saat ini dibandingkan dengan 10 tahun yang lalu setelah kinerja yang sangat baik.
Peta output dari enam model regresi pohon yang ada di kawasan lindung (diarsir) dan
provinsi (garis hitam). Setiap peta menunjukkan kemungkinan prediksi respon yang
diberikan dipetakan untuk kemungkinan berikut: (a) melihat orangutan di tahun lalu;
(B) risiko konflik orangutan manusia; (c) pembunuhan orangutan terjadi di tahun
sebelum survei oleh siapa saja di desa; (d) orangutan pembunuhan oleh responden
dalam hidup mereka, serta persepsi (e) warga perubahan populasi orangutan 10 tahun
yang lalu dibandingkan dengan waktu wawancara; dan (f) persepsi penduduk desa
pada perubahan masa depan yang dimungkinkan dalam populasi orangutan selama
10 tahun ke depan, dibandingkan dengan saat wawancara.perubahan masa depan
mungkin dalam populasi orangutan selama 10 tahun ke depan, dibandingkan dengan
saat wawancara. Beberapa wilayah yang diteliti menunjukan hasil populasi orang
utan yang stabil tetapi konflik antara menusia dengan orangutan tinggi. Tingkat
konflik yang tinggi ini berhubungan dengan kepercayaan memburu orang utan untuk
makanan. Terdapat juga wilayah dimana orang utan langka namun konfliknya
dengan manusia rendah. Hal ini dikarenakan rendahnya manusia bertemu dengan
orangutan menyebabkan konflik yang terjadi dengan manusia jarang terjadi. Pada
daerah yang lain, populasi orang utan rendah dan tingkat konfliknya dengan manusia
tinggi, hal ini dikarenakan pengubahan habitat orangutan sehingga menyebabkan
orangutan sering bertemu manusia (Abram et al., 2015).
Penebangan mempengaruhi dinamika populasi dengan mengurangi atau
menggeser kepadatan orangutan di dalam wilayah yang ditargetkan oleh penebangan.
Dapat dilihat bahwa penebangan juga berdampak pada kegiatan sehari-hari
orangutan sumatera pada hutan yang telah dilakukan penebangan. Penebangan
menurunkan sumber makanan orangutan dan makanan yang berasal dari liana dan
sekaligus menyebabkan orangutan harus berperilaku lebih keras untuk bertahan
hidup, dengan kurang istirahat dan lebih banyak bergerak untuk mencari sumber
makanan. Sejak waktu yang dihabiskan makan tetap sama, digabungkan dengan
waktu bergerak maka terdapat hubungan negatif dimana waktu istirahat orangutan
pada daerah loging menurun. Penurunan waktu istirahat ini menjadikan orangutan
lebih banyak menghabiskan waktu di ketinggian rendah pada hutan dan karena itu
yang lebih terekspos oleh predator dan oleh pemburu. Tidak adanya pohon besar,
buah ara dan liana juga menyebabkan tidak adanya tempat yang tepat bagi orangutan
untuk beristirahat. Secara keseluruhan, peningkatan bergerak waktu dan penurunan
waktu istirahat berpotensi memaksa orangutan untuk menghabiskan lebih banyak
energi pada kegiatan sehari-hari mereka ketika di daerah loging. Dengan adanya
hubungan dengan hutan primer mungkin depat mengurangi dampak dari intensitas
penebangan tinggi dengan menyediakan sumber makanan penting yang tidak lagi
tersedia di hutan yang telah ditebang (Hardus et al., 2012).
Solusi yang dapat dilakukan untuk mengurangi berkurangnya populasi
orangutan di Kalimantan antara lain (Abram et al., 2015):
1. Jika pembunuhan terhadap orangutan terjadi untuk dimakan atau
tertangkap secara tidak sengaja selama berburu, upaya konservasi harus
menargetkan masyarakat pedesaan lokal untuk menjangkau dan mendidik
mereka tentang pentingnya melestarikan orang utan, ditambah dengan
penegakan hukum yang lebih baik.
2. Jika pembunuhan terjadi karena orangutan menjarah kebun penduduk,
maka cara-cara damai untuk mengurangi konflik yang dibutuhkan.
3. Jika pembunuhan lokal terkait dengan pembersihan habitat orangutan,
maka tindakan dapat mencakup sebagai berikut: (1) perlindungan habitat,
misalnya melalui pengawasan terhadap perencanaan penggunaan lahan;
(2) manajemen konservasi yang efektif antara wilayah hutan dan
perkebunan penduduk; (3) kampanye kesadaran masyarakat; dan (4)
memperkuat pemantauan dan penegakan hukum pada wilayah yang
dilindungi dan wilayah perkebunan untuk memastikan tidak ada
orangutan yang terluka.
IV. KESIMPULAN

Berdasarkan jurnal dapat disimpulkan bahwa terjadi penurunan pada populasi


orangutan di Kalimantan. Hal ini dikarenakan pembalakan liar, penggunaan habitat
orangutan untuk pertanian, dan karena konflik dengan manusia. Solusi yang dapat
dilakukan untuk menggulangi masalah tersebut adalah dengan membuat peraturan
yang jelas untuk membatasi habitat orangutan dengan wilayah aktivitas manusia
serta memberikan edukasi bagi masyarakat. Untuk meningkatkan populasi
orangutan, maka harus dilakukan pelestarian terhadap habitat orangutan dengan
mengembalikan habitatnya yang telah rusak atau dengan tidak mengurangi
habitatnya lagi.
DAFTAR PUSTAKA

Abram, N. K., E. Meijaard, J. A. Wells, M. Ancrenaz, A. Pellier, R. K. Runting, D.


Gaveau, S. Wich, A. Tjiu, A. Nurcahyo, & K. Mengersen. 2015. Mapping
Perceptions of Species' Threats and Population Trends to Inform
Conservation Efforts: The Bornean Orangutan Case Study. Diversity and
Distributions. pp. 487-499.

Cattau, M. E., S. Husson, & S. M. Cheyne. 2015. Population Status of The Bornean
Orang-Utan Pongo Pygmaeus in a Vanishing Forest in Indonesia: The Former
Mega Rice Project. Fauna and Flora International, Oryx. pp. 473-480.

Hardus, M. E., A. R. Lameira, S. B. J. Menken, & S. A. Wich. 2012. Effects of


logging on orangutan behavior. Biological Conservation. 146(2014). pp. 177-
187.

Meijaard, E., H.D. Rijksen & S.N. Kartikasari. 2001. Di Ambang Kepunahan!
Kondisi Orangutan Liar di Awal Abad ke-21. Penyunting S.N. Kartikasari.
Jakarta: The Gibbon Foundation Indonesia dalam Prayogo, H., A.M. Thohari,
D.D. Sholihin, L.B. Prasetyo & Sugardjito. Karakter Kunci Pembeda Antara
Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaues) dengan Orangutan Sumatra
(Pongo abelii). Bionatura-Jurnal Ilmu-ilmu Hayati dan Fisik. 16(1). pp. 52-
58.

Prayogo, H., A.M. Thohari, D.D. Sholihin, L.B. Prasetyo & Sugardjito. Karakter
Kunci Pembeda Antara Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaues) dengan
Orangutan Sumatra (Pongo abelii). Bionatura-Jurnal Ilmu-ilmu Hayati dan
Fisik. 16(1). pp. 52-58.

Schwitzer, C., R. A. Mittermeier, A. B. Rylands, F. Chiozza, E. A. Williamson, J.


Wallis, & A. Cotton. 2015. Primates in Peril: The World’s 25 Most
Endangered Primates 2014–2016. Arlington: IUCN SSC Primate Specialist
Group (PSG), International Primatological Society (IPS), Conservation
International (CI), & Bristol Zoological Society.