Anda di halaman 1dari 6

ALDI AFRIYANSYAH 030869735

1. Terangkanlah ketentuan-ketentuan landreform di Indonesia?

DASAR HUKUM LANDREFORM


Dalam membicarakan masalah dasar hukum landreform berarti
membicarakan landreform baik sebagai sutu kebijakan pertanahan maupun sebagai sub system
hukum pertanahan. Oleh karena itu dalam pembahasan ini tidak bisa terlepas dari politik
agraria (pertanahan) nasional sebagaimana yang terdapat dalam Pancasila, Undang-Undang
Dasar 1945, Undang-undang Pokok Agraria dan beberapa peraturan pelaksana lainnya.
1. Pancasila
Konsep keadilan sebagaimana yang dijelaskan oleh Aristoteles dan para pemikir sesudahnya,
demikian juga konsep keadilan sosial yang tercantum dalam sila ke-5 pancasila, memang tidak
mudah untuk dipahami, terlebih bila harus dihadapkan pada kasus yang konkrit. Bagi Indonesia
sesuai dengan Falsafah Pancasila, maka paling tepat kiranya untuk menerapkan asas keadilan
sosial. Keadilan itu sendiri bersifat universal, jauh didalam lubuk hati setiap orang, ada
kesepakatan tentang sesuatu yang dipandang sebagai adil dan tidak adil itu.

Dalam pengertian keadilan, pada umumnya diberi arti sebagai keadilan ”membagi” atau
” distributive justice” yang secara sederhana menyatakan bahwakepada setiap orang diberikan
bagian atau haknya sesuai dengan kemampuan atau jasa dan kebutuhan masing-masing.
Namun perlu dipahami bahwa keadilan itu bukanlah hal yang statis, tetapi sesuatu proses yang
dinamis dan senantiasa bergerak diantara berbagai faktor, termasuk equality atau persamaan
hak itu sendiri.
2. Undang-Undang Dasar 1945
Secara konstitusional pengaturan masalah prekonomian didalamnya termasuk ekonomi sumber
daya alam (SDA) di Indonesia telah diatur dalam UUD 1945. Hal tersebut dapat kita lihat dalam
Pasal 33 UUD 1945 yang selengkapnya berbunyi :

(1) Prekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasarkan atas asas kekeluargaan.

(2) Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang
banyak dikuasai oleh negara.

(3) Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan
dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.

(4) Prekonomian nasional diselengarakan berdasarkan atas demokrasi


ekonomi dengan prinsip kebersamaaan, efisiensi berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan
lingkungan, kemandirian serta dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan
ekonomi nasional.

(5) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan pasal ini diatur dalam undang-undang.

Berdasarkan ketentuan Pasal 33 nampak jelas bahwa dalam rangka meningkatkan kemakmuran
rakyat peranan negara sangat diperlukan. Ikut campurnya negara dalam urusan kesejahteraan
rakyat sebagaimana ketentuan dimaksud mengindikasikan bahwa dalam konstitusi kita dianut
sistem negara welfarestate. Hal ini sekaligus menunjukan bahwa masalah ekonomi, bukan
hanya monopoli ekonomi yang didasarkan pada mekanisme pasar semata-mata tetapi juga
diperlukan peranan negara, terutama yang berkaitan dengan bidang-bidang yang menguasai
hajat hidup orang banyak. Khusus mengenai pembangunan hukum agraria dalam UUD 1945
diatur dalam Pasal 33 ayat 3 yang menyebutkan : ”Bumi air dan kekayaan alam yang
terkandung didalamnya dikuasai ole negara dan dipergunakan sebesar-besar kemakmuran
rakyat.” Lebih lanjut pengaturan masalah agraria yang didalamnya termasuk dalam pertanahan
diatur dalam Undang-Undang Nomor 5 tahun 1960. dengan demikian secara historis dapat
dijelaskan bahwa sebenarnya upaya pengaturan pertanahan (yang didalamnya terdapat
program landreform) di Indonesia telah dimulai sejak indonesia memproklamasikan
kemerdekaannya.
3. Landreform Dalam Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA)
Sebagaimana yang disinggung dimuka, Pasal 33 ayat 3 UUD 1945 itu telah dijabarkan lebih
lanjut didalam Pasal 2 ayat 2 dan 3 Undang-undang Nomor 5 tahun 1960 (UUPA), terutama
tentang pengertian ”dikuasai negara” yaitu member wewenang kepada negara untuk :
(a) mengatur dan menyelenggarakan peruntukan, penggunaan, persediaan dan pemeliharaan
bumi, air dan ruang angkasa tersebut.

(b) Menentukan dan mengatur hubungan-hubungan hukum antara orang-orang dengan bumi,
air dan ruang angkasa.

(c) Menentukan dan mengatur hubungan-hubungan hukum antara orang-orang dan perbuatan-
perbuatan hukum yang mengenai bumi, air dan ruang angkasa.

Sementara wewenang tersebut harus digunakan untuk mencapai sebesar-besar kemakmuran


rakyat dalam arti kebangsaan, kesejahteraan dan kemerdekaan dalam negara hukum Indonesia
yang merdeka, berdaulat, adil dan makmur. Payung bagi pelaksanaan landreform di Indonesia
adalah UUPA (Undang- undang Pokok Agraria, UU No. 5/1960) dan UUPBH (Undang-
undang Perjanjian Bagi Hasil, UU No. 2/1960). Diperlukan waktu 12 tahun, sejak tahun 1948
ketika panitia persiapan dibentuk, untuk menghasilkan kedua undang-undang tersebut. Dengan
lahirnya Undang-undang Pokok Agraria atau yang kita kenal dengan sebutan UUPA maka
UUPA menempati posisi yang strategis dalam sistem hukum nasional Indonesia, karena UUPA
mengandung nilai-nilai kerakyatan dan amanat untuk menyelenggarakan hidup dan kehidupan
yang berprikemanusiaan dan berkeadilan sosial. Nilai-nilai tersebut dicerminkan oleh :
(1) Tanah dalam tataran paling tinggi dikuasai oleh negara dan digunakan sebesar- besar
kemakmuran rakyat

(2) Pemilikan/penguasaan tanah yang berkelebihan tidak dibenarkan

(3)Tanah bukanlah komoditas ekonomi biasa oleh karena itu tanah tidak boleh diperdagangkan
semata-mata untuk mencari keuntungan

(4) Setiap warga negara yang memiliki/menguasai tanah diwajibkan mengerjakan sendiri
tanahnya, menjaga dan memelihara sesuai dengan asas kelestarian kualitas lingkungan hidup
dan prosuktivitas sumber daya alam

(5) Hukum adat atas tanah diakui sepanjang memenuhi persayaratan yang ditetapkan.

Wewenang yanng bersumber dari hak menguasai negara meliputi tanah yang sudah dilekati
oleh sesuat hak atau bekas hak perorangan, tanah yang masih ada hak ulayat dan tanah negara.
Menurut Imam Soetiknjo, hak menguasai negara yang meliputi tanah dengan hak perorangan
adalah bersifat pasif, danmenjadi aktif apabila tanah tersbeut dibiarkan tidak
diurus/diterlantarkan. Terhadap tanah yang tidak dipunyai oleh seseorang/badan hukum
dengan hak apapun dan belum dibuka maka hak menguasai negara bersifat aktif.
Dalam lingkupnya dengan masalah landreform ketentuan tersebut diatas mengisyaratkan
meskipun UUPA mengakui adanya tanah kepemilikan tanah secara perseorangan, tetapi
perlakuan terhadap hak-hak tersebut harus memperhatikan kepentingan masyarakat, dan ini
merupakan kewajiban bagi pemegang hak tersebut. Hal ini tentunya sesuai dengan prinsip-
prinsip landreform seagaimana yang tercantum antara lain dalam Pasal 7, 10 dan 17 UUPA.

2. Bagaimana pendapat saudara mengenai pelaksanaan Landreform di Indonesia


saat ini?

Jawaban :

Pelaksanaan landreform diatur oleh Undang-Undang No. 56 Prp. Tahun 1960 tentang
Penetapan Luas Tanah Pertanian, sebagaimana dengan Undang-Undang No. 1 Tahun 1961
telah disahkan menjadi Undang-Undang. Landreform di Indonesia berinduk kepada UUPA,
sebagaimana disebutkan dalam Pasal 7 UUPA sebagai berikut: “Untuk tidak merugikan
kepentingan umum maka pemilikan dan penguasaan tanah yang melampaui batas tidak
diperkenankan”.
Landreform di Indonesia pernah diimplementasikan dalam kurun waktu 1961 sampai
1965, namun kurang berhasil. Landasan hukum pelaksanaan landreform di Indonesia adalah
UUPA No. 5 tahun 1960, yaitu pasal 7 dan 17 untuk sumber pengaturan pembatasan luas tanah
maksimum, pasal 10 tentang larangan tanahabsentee, dan pasal 53 yang mengatur hak-hak
sementara atas tanah pertanian.
Produk hukum yang secara lebih tajam lagi dalam konteks ini adalah UU Nomor 56
tahun 1960 tentang Penetapan Luas Tanah Pertanian, serta PP No 224/ 1961 dan PP No
41/1964 tentang Pembagian Tanah dan Pemberian Ganti Rugi. Saat
programlandreform tersebut diluncurkan, kondisi politik di Indonesia sedang labil. Pada masa
itu dikenal pendekatan “politik sebagai panglima”, dimana tiap kebijakan pemerintah dimaknai
dalam konteks politik. Partai Komunis Indonesia (PKI) kemudian
menjadikanlandreform sebagai alat yang ampuh untuk memikat
simpatisan. Landreform diklaim sebagai alat perjuangan partai mereka, dengan menjanjikan
tanah sebagai factor penarik untuk perekrutan anggota. Pola ini memang kemudian menjadikan
PKI cepat disenangi oleh masyarakat luas terutama di Jawa yang petaninya sudah merasakan
kekurangan tanah garapan. Namun bagi petani bertanah luas, landreform merupakan ancaman
bagi mereka, baik secara politik maupun ekonomi, yaitu kekhawatiran terhadap akan
menurunnya luas penguasaan tanah mereka yang akhirnya berimplikasi kepada penurunan
pendapatan keluarga dan kesejahteraan.
Program landreform hanya berjalan intensif dari tahun 1961 sampai tahun 1965. Namun
demikian, pemerintahan Orde Baru yang berkuasa pada masa berikutnya mengklaim
bahwa landrefrom tetap dilaksanakan meskipun secara terbatas. Dalam makalah Posterman
(2002) diuraikan, bahwa dari tahun 1960 sampai 2000 secara akumulatif tercatat telah berhasil
dilakukan distribusi lahan dalam konteks landreform seluas 850.128 ha. Jumlah rumah tangga
tani yang menerima adalah 1.292.851 keluarga, dengan rata-rata keluarga menerima 0,66 ha.
Data ini sedikit berbeda dengan yang dikeluarkan oleh BPN (Kepala BPN, 2001), dimana dari
total obyek tanah landreform1.601.957 ha, pada kurun waktu 1961-2001 telah
diredistribusikan tanah seluas 837.082 ha (52%) kepada 1.921.762 petani penerima.
Selain itu, untuk tanah absentee dan tanah kelebihan maksimum telah dilakukan ganti rugi oleh
pemerintah seluas 134.558 ha kepada 3.385 orang bekas pemilik, dengan nilai ganti rugi lebih
dari Rp. 88 trilyun. Khusus selama era pemerintahan Orde Baru, untuk menghindari kerawanan
sosial politik yang besar, maka landreform diimplementasikan dengan bentuk yang sangat
berbeda. Peningkatan akses petani kepada tanah dilakukan melalui kebijakan berupa
penyeimbangan sebaran penduduk dengan luas tanah, dengan cara memindahkan penduduk ke
daerah-daerah yang tanahnya luas melalui transmigrasi. Program ini kemudian dibarengi
dengan program pengembangan PIR (Perkebunan Inti Rakyat). Luas tanah yang diberikan
kepada transmigran dan petani plasma mengikuti ketentuan batas minimum penguasaan yaitu
2 ha lahan garapan perkeluarga.
Pembaruan agraria secara umum mensyaratkan dua hal pokok, dalam posisi ibarat dua sisi mata
uang, yaitu komitmen politik pemerintah yang kuat di satu sisi, dan tersedianya modal
social (social capital) misalnya berkembangnya civil society yang memadai. Dapat dikatakan,
keduanya saat ini masih dalam kondisi tidak siap.
Hambatan lain datang dari intervensi yang tak terbantahkan dari ideologi kapitalisme,
khususnya melalui instrumen pasar global, yang telah menembus seluruh aspek kehidupan,
termasuk dalam hal sistem agraria suatu negara. Jika selama ini pemerintah yang menjadi
penguasa terhadap petani dengan menggunakan tanah sebagai alat politiknya, terutama dalam
era “Tanam Paksa”, maka di era pasar bebas ketika komoditas ditentukan oleh kehendak pasar,
maka pasarlah yang menjadi penguasa. Dengan kata lain, sistem agraria yang akan berjalan di
suatu negara, baik penguasaan, pemilikan, dan penggunaan; akan lebih ditentukan oleh pasar
dengan ideologinya sendiri misalnya dengan penerapan prinsip-prinsip efisiensi dan

keuntungan.

Secara umum ada empat faktor penting sebagai prasyarat pelaksanaan landreform, yaitu: (1)
elit politik yang sadar dan mendukung, (2) organisasi petani dan masyarakat yang kuat, (3)
ketersediaan data yang lengkap dan akurat, serta (4) ketersediaan anggaran yang memadai.
Untuk Indonesia, dapat dikatakan keempat faktor tersebut saat ini sedang dalam kondisi lemah.
Narasi secara ringkas tentang kondisi keempat aspek tersebut diuraikan berikut ini
Di dalam konsep hukum agraria nasional, bahwa landreform merupakan bagian dari struktur
pembaruan agraria (agrarian reform). Maka dapat dikatakan landreformadalah agrarian
reform dalam arti sempit yaitu hanya mencakup tanah, sedangkan agrarian reform dalam arti
luas mencakup bumi, air dan ruang angkasa. Menurut Boedi Harsono, Program landreform di
Indonesia meliputi :
1. Pembatasan luas maksimum penguasaan tanah.

2. Larangan pemilikan tanah secara apa yang disebut ‘absentee’ atau ‘guntai’.
3. Redistribusi tanah-tanah yang selebihnya dari batas maksimum, tanah-tanah yang terkena
larangan ‘absentee’, tanah-tanah bekas Swapraja dan tanah-tanah negara.
4. Pengaturan soal pengembalian dan penebusan tanah-tanah pertanian yang digadaikan.

5. Pengaturan kembali perjanjian bagi hasil tanah pertanian.

6. Penetapan luas minimum pemilikan tanah pertanian, disertai larangan untuk melakukan
perbuatan-perbuatan yang mengakibatkan pemecahan pemilikan tanah-tanah pertanian
menjadi bagian-bagian yang terlampau kecil.

Adapun larangan pemilikan tanah secara absentee berpangkal pada dasar hukum yang terdapat
dalam Pasal 10 ayat (1) UUPA, yaitu sebagai berikut : “Setiap orang dan badan hukum yang
mempunyai sesuatu hak atas tanah pertanian pada azasnya diwajibkan mengerjakan atau
mengusahakannya sendiri secara aktif, dengan mencegah cara-cara pemerasan”.
Untuk melaksanakan amanat UUPA, maka Pasal 3 ayat (1) PP No. 224/1961 jo. PP No.
41/1964 menentukan sebagai berikut : “Pemilik tanah pertanian yang bertempat tinggal di luar
Kecamatan tempat letak tanahnya, dalam jangka waktu 6 bulan wajib mengalihkan hak atas
tanahnya kepada orang lain di Kecamatan tempat letak tanah itu atau pindah ke Kecamatan
letak tanah tersebut”.
Selanjutnya Pasal 3d PP No. 224/1961 jo. PP No. 41/1964 menentukan : “Dilarang untuk
melakukan semua bentuk memindahkan hak baru atas tanah pertanian yang mengakibatkan
pemilik tanah yang bersangkutan memiliki bidang tanah di luar Kecamatan di mana ia
bertempat tinggal”.
Dengan demikian, terdapat beberapa esensi yang merupakan ketentuan dari absentee, antara
lain :
1. Tanah-tanah pertanian wajib dikerjakan atau diusahakan sendiri secara aktif.

2. Pemilik tanah pertanian wajib bertempat tinggal di Kecamatan tempat letak tanahnya.

3. Pemilik tanah pertanian yang bertempat tinggal di luar Kecamatan tempat letak tanahnya,
wajib mengalihkan hak atas tanahnya atau pindah ke Kecamatan letak tanah tersebut.

4. Dilarang memindahkan atau mengalihkan hak atas tanah pertanian kepada orang atau
badan hukum yang bertempat tinggal atau berkedudukan di luar Kecamatan tempat letak
tanahnya.

5. Larangan pemilikan tanah secara absentee hanya mengenai tanah pertanian.


Pengecualian terhadap ketentuan penguasaan dan pemilikan tanah secara absentee, bahwa
“Pemilik tanah yang bertempat tinggal di Kecamatan yang berbatasan dengan Kecamatan
tempat letak tanahnya, asalkan masih memungkinkan tanah pertanian itu dikerjakan secara
efisien” (vide Pasal 3 ayat (2) PP No. 224/1961 jo. PP No. 41/1964).
Kemudian masih dalam Pasal 3 ayat (2) tersebut, penilaian tentang apa yang dimaksud
“mengerjakan tanah itu secara effisien”, pertimbangannya dipercayakan kepada Panitya
Landreform Daerah Tingkat II. Jadi sah-sah saja jika misalnya Panitya Landreform Daerah
Tingkat II menetapkan bahwa perkecualian Kecamatan yang berbatasan itu ditetapkan dalam
radius 10 km. Namun yang perlu dipertanyakan, apakah radius tersebut effektif diterapkan
dalam era sekarang, mengingat saat ini transportasi sudah sangat mudah. Kita harus melihat ke
belakang saat Peraturan tersebut diterbitkan, yaitu pada era dimana transportasi masih sulit.
Maka di sini, perlu kebijaksanaan yang matang dari Panitya Landreform Daerah Tingkat II
untuk menetapkan batas-batas ke-effisienan tersebut. Jangan asal ngomong… Sehingga
Notaris/PPAT mempunyai patokan (dasar) untuk membuat Akta Jual Beli jika objeknya tanah
sawah tetapi calon pembeli bertempat tinggal di Kecamatan yang berbatasan dengan
Kecamatan letak objek, dan tidak mengalami kendala jika diproses balik nama di Kantor
Pertanahan setempat.
Mengenai pengertian bahwa pemilik atau calon pemilik bertempat tinggal atau pindah di
Kecamatan tempat letak tanah dimaksud, telah ditegaskan oleh Pedoman Menteri Pertanian
dan Agraria No. III Tahun 1963 tentang Pencegahan Usaha-Usaha Untuk Menghindari Pasal 3
PP No. 224/1961, yaitu sebagai berikut : “Pindah ke Kecamatan letak tanah” sebagai dimaksud
dalam Pasal 3 ayat (1) PP No. 224 Tahun 1961 haruslah diartikan bahwa mereka yang pindah
ke tempat letak tanah benar-benar berumah tangga dan menjalankan kegiatan-kegiatan hidup
bermasyarakat dalam kehidupan sehari-hari di tempat yang baru, sehingga memungkinkan
penggarapan tanah secara efisien”.

Mengamati Pedoman Menteri Pertanian dan Agraria tersebut, maka secara nyata yang
bersangkutan pindah ke tempat letak tanah dimaksud, berumah tangga, dan menjalankan
kegiatan hidup bermasyarakat, bukan sekedar pernyataan KTP. Maka kepada PPAT perlu
memperhatikan Pasal 39 ayat (1) huruf g PP No. 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah,
yang berbunyi :
“PPAT menolak untuk membuat akta, jika : tidak dipenuhi syarat lain atau dilanggar larangan
yang ditentukan dalam peraturan perundang-undangan yang bersangkutan”.
Sanksi bila PPAT mengabaikan ketentuan dimaksud terdapat dalam Pasal 62 PP 24/1997
tersebut. Sementara di dalam UUJN tidak ditentukan secara eksplisit seperti pada PP 24/1997.
Bahkan dalam Pasal 17 UUJN tentang larangan pun tidak ada ketentuan tersebut. Namun
secara implisit ketentuan itu terdapat dalam Pasal 16 ayat (1) huruf d, yaitu : “Dalam
menjalankan jabatannya, Notaris berkewajiban : memberikan pelayanan sesuai dengan
ketentuan dalam undang-undang ini, kecuali ada alasan untuk menolaknya”.

Sementara di dalam Penjelasannya dikatakan: “Yang dimaksud dengan “alasan untuk


menolaknya” adalah alasan yang mengakibatkan Notaris tidak berpihak, seperti adanya
hubungan darah atau semenda dengan Notaris sendiri atau dengan suami/istrinya, salah satu
pihak tidak mempunyai kemampuan bertindak untuk melakukan perbuatan, atau hal lain yang
tidak dibolehkan oleh undang-undang”.

Yang dimaksud dengan “hal lain yang tidak dibolehkan oleh undang-undang” tentunya tidak
terbatas pada UUJN, tetapi pengertiannya luas, termasuk larangan tentang kepemilikan tanah
secara absentee sebagaimana diuraikan di atas. Kalau tidak, maka Notaris yang bersangkutan
melanggar ketentuan peraturan perundang-undangan. Jadi, tidak dapat dibenarkan bila ada
Perjanjian Ikatan Jual Beli yang objeknya adalah tanah pertanian (sawah) tetapi pembelinya
berkedudukan absentee. Perjanjian Ikatan Jual beli sekalipun merupakan perjanjian permulaan,
tetapi pada hakikatnya adalah jual-beli.
Tidak ada satu pasal pun dalam peraturan perundang-undangan yang mengecualikan
diperbolehkan dibuat Perjanjian Ikatan Jual Beli terhadap kepemilikan tanah absentee. Dibuat
Perjanjian Ikatan Jual beli karena ada beberapa syarat yang belum bisa dipenuhi, tetapi bukan
berarti belum dipenuhinya syarat itu (misalnya status objek masih berupa tanah sawah) maka
dibuat perjanjian yang isinya justru melanggar ketentuan peraturan perundang-undangan
(larangan pemilikan tanah absentee). Hal ini akan menjadi problem di kemudian hari apabila
si Pembeli hendak menindaklanjuti dengan pembuatan Akta Jual Beli. Sesuai dengan amanat
Pasal 15 ayat (2) huruf e UUJN, seharusnya Notaris menjelaskan (memberikan penyuluhan
hukum) kepada para pihak tentang larangan tersebut.
Ada dua cara untuk mengatasi masalah kepemilikan tanah secara absentee bagi calon pembeli,
yaitu:
1. Pemohon (calon penerima hak) bertempat tinggal secara nyata di Kecamatan tempat letak
objek (lihat uraian di atas).

2. Status tanah sawah (pertanian) tersebut diubah dahulu menjadi tanah pekarangan. Hal ini
biasa dikenal dengan Ijin Pengeringan.

Apabila tanah sawah yang dimaksud sudah tidak produktif, maka tidak ada masalah jika
diberikan Ijin Pengeringan. Namun apabila ternyata tanah pertanian (tanah sawah) itu masih
produktif tetapi dapat diberikan Ijin Pengeringan, maka program landreform – untuk kesekian
kalinya akan kandas di tengah jalan. Padahal Bung Karno dalam Pidato JAREK (Jalannya
Revolusi Kita, yaitu Pidato Presiden tanggal 17 Agustus 1960), menyatakan bahwa : “Revolusi
Indonesia tanpa Landreform adalah sama saja dengan gedung tanpa alas, sama saja dengan
pohon tanpa batang, sama saja dengan omong besar tanpa isi…. Gembar-gembor tentang
Revolusi, Sosialisme Indonesia, Masyarakat Adil dan Makmur, Amanat Penderitaan Rakyat,
tanpa melaksanakan Landreformadalah gembar-gembornya tukang penjual obat di pasar Tanah
Abang atau di Pasar Senen”.