Anda di halaman 1dari 123

SPESIFIKASI TEKNIS

BAB I. PEKERJAAN PERSIAPAN

1. LATAR BELAKANG
1.1. Umum
1.2. Lokasi Pekerjaan
Letak administrastratif daerah pekerjaan
1.3. Kondisi daerah pekerjaan
Konsisi daerah pekerjaan berada pada daerah
1.4. Kendala – kendala
Kendala yang mungkin dihadapi
1.5. maksud dan tujuan
Maksud

2. KONDISI CUACA
Iklim di lokasi proyek terdiri dari dua musim: Musim hujan terjadi dari bulan sebtember
sampai dengan Maret dan musim kemarau biasa terjadi mulai bulan april sampai dengan
september hujan rata – rata tahunan sekitar 196 mm dan 80% nya adalah 157 mm jatuh
pada bulan Nopember sampai dengan Maret.

3. LINGKUP PEKERJAAN DALAM KONTRAK


Penyedia harus memenuhi kebutuhan semua tenaga kerja, material, peralatan
pelaksanaan, pekerjaan sementara dan pekerjaan lainnya untuk pelaksanaan. Penyedia
harus melaksanakan pekerjaan dengan baik dan lengkap serta merawat seperti yang
diminta dalam gambar dan spesifikasi teknik atau Petunjuk Direksi. Pekerjaan yang harus
dilaksanakan menurut Kontrak mencakup dibawah ini:
a. Pelaksanaan pekerjaan saluran dan bangunan meliputi seluruh skup pekerjaan sesuai
yang tercakup dalam kontrak.
b. Pelaksanaan pekerjaan, operasi, perawatan dan bongkaran bangunan – bangunan
sementara antara lain:
- Jalan akses masuk sementara berikut jembatan dan fasilitas lainnya.
- Saluran pengelak, bangunan sementara termasuk pembelian, pemancangan,
pembongkaran dan penyerahan steel sheet pile sebanyak yang diperlukan untuk
pelaksanaan coferdam sementara.
- Fasilitas kerja Penyedia seperti kantor lapangan, gudang dan lain – lain.
- Tempat penyimpanan semen berikut material beton dan peralatan pengolah
beton.
- Generator termasuk jaringan listriknya yang diperlukan untuk pelaksanaan
pekerjaan.
- Perlengkapan komunikasi radio/telepon dari lokasi pekerjaan ke kantor proyek
termasuk peralatan lainnya yang perlu.
c. Uji coba embung terhadap kebocoran dengan mengisi embung dengan air minimal ½
tinggi embung.

4. KETENTUAN DAN PERSYARATAN


4.1. Program Pelaksanaan
1) Pejabat Pembuat Komitmen / PPKmenyiapkan Jadual Pelaksanaan untuk semua
pekerjaan yang termasuk dalam Kontrak. Jadual pelaksanaan tersebut untuk
membantu para penawar dan Penyedia didalam menyiapkan Jadual pelaksanaan yang
lebih terperinci.
2) Tiga puluh (30) hari setelah menerima Surat Penunjukan, Penyedia harus
menyerahkan Jadual Pelaksanaan kepada Pejabat Pembuat Komitmen/PPK berisi
Jadual pelaksanaan semua pekerjaan dan pekerjaan sementara yang harus dikerjakan
berdasarkan Kontrak, dengan kurva „S‟. Jadual Pelaksanaan ini harus sesuai dengan
hari kalender, jangka waktu yang diperlukan, tanggal mulai paling awal, tanggal
selesai paling awal dan paling lambat, lama pelaksanaan dan sebagainya.
3) Jadual tersebut diatas diserahkan sesuai dengan modifikasi dan perubahan yang
diperlukan oleh Pejabat Pembuat Komitmen/PPK di dalam waktu yang logis. Jadual
Pelaksanaan yang direvisi yang sudah disetujui dan sudah ditandatangani oleh
Penyedia dan Pejabat Pembuat Komitmen/PPK harus dianggap merupakan Jadual
Pelaksanaan yang mengikat dan menjadi bagian dari Dokumen Kontrak.
4) Jadual Pelaksanaan yang sudah mengikat tersebut harus diperbarui oleh Penyedia
pada setiap jangka waktu 4 (empat) bulan jika diminta oleh Pejabat Pembuat
Komitmen/PPK dan Jadual pelaksanaan yang diperbarui harus disetujui oleh
Penyedia dan Pejabat Pembuat Komitmen/PPK, dan termasuk dalam Dokumen
Kontrak.
5) Jika selama pelaksanaan pekerjaan, rata-rata kecepatan pekerjaan ternyata dibawah
yang disetujui menurut pendapat Pejabat Pembuat Komitmen/PPK, Penyedia harus
dapat menyelesaikan setiap bagian pekerjaan pada waktu yang disetujui, maka
Direksi akan memerintahkan Penyedia untuk menambah pekerja dan atau peralatan
pelaksanaan ke lokasi pekerjaan untuk mengejar ketinggalan pada bagian pekerjaan
tersebut.

4.2. Aspek – aspek yang Perlu Diperhatikan dalam Pelaksanaan Pekerjaan


1) Aspek Keselamatan Kerja
Penyedia pekerjaan konstruksi harus memperhatikan ketentuan kesehatan dan
Undang-Undang Keselamatan Kerja. Ketentuan-ketentuan tersebut harus diadopsi
oleh pelaksana pekerjaan dalam prosedur/manual pekerjaan secara menyeluruh untuk
setiap tahapan pekerjaan, mulai dari tahap pekerjaan persiapan hingga pemeliharaan
setelah penyerahan pekerjaan.
2) Aspek Administrasi
Penyedia pekerjaan konstruksi harus memiliki prosedur dan tata cara administrasi
yang baku dalam bentuk surat menyurat, surat pengumuman, surat undangan dan
surat-surat lainnya untuk menunjang seluruh kegiatan pekerjaan.
Seluruh dokumen pekerjaan mulai dari pekerjaan persiapan, pelaksanaan, serah
terima, dan pemeliharaan harus didokumentasikan secara sistematis sesuai dengan
kelompok pekerjaan, urutan waktu, atau kategori lain yang dianggap penting.
Dokumentasi ini diperlukan guna menunjang laporan proyek (Laporan Mingguan
dan Bulanan).
3) Aspek Ekonomi
Penyedia pekerjaan wajib memperhatikan efektifitas dan efisiensi pelaksanaan.
Termasuk dalam hal ini aspek SDM, peralatan, dan pengadaan bahan. SDM yang
digunakan harus secara efektif dapat memenuhi kebutuhan jadual dan kualitas
pekerjaan. Jumlah dan jenis peralatan-peralatan pendukung pekerjaan harus
diperhitungkan dengan seksama sesuai jadual pekerjaan terutama bila peralatan-
peralatan tersebut diadakan dengan sewa. Pengadaan bahan/material harus
diupayakan efektif sesuai pekerjaan yang dijadualkan.
4) Aspek Sosial dan Budaya
Penyedia pekerjaan konstruksi berkewajiban memperhatikan kondisi sosial dan
budaya masyarakat di lokasi pelaksanaan pekerjaan. Hal-hal yang cukup sensitif,
seperti gangguan kebisingan pada waktu ibadah, waktu istirahat, hal-hal yang
ditabukan, atau lokasi-lokasi yang dianggap suci oleh masyarakat setempat sedapat
mungkin dihindarkan dari gangguan pekerjaan atau personil yang terlibat dalam
pekerjaan.

4.3. SUMBER BAHAN PELAKSANAAN


1) Penyedia bertanggung jawab atas pengadaan material beton, pasangan, bronjong dan
sebagainya dengan jumlah yang cukup dan berkualitas baik. Direksi akan memberi
petunjuk beberapa sumber bahan pelaksanaan yang ada untuk timbunan dan material
beton berikut jarak dari lokasi pekerjaan.
2) Jika Penyedia akan mengambil material untuk beton dan batu dari sumber lain,
Penyedia harus mengatur sedemikian hingga mendapatkan ijin dari instansi terkait
dan membayar semua biaya dan kompensasi yang diperlukan.

4.4. PEKERJAAN PENGERINGAN


Daerah galian harus dikeringkan secukupnya dan dijaga jangan sampai ada air tergenang.
Pengeringan air harus dilakukan selama pelaksanaan pekerjaan saluran, drainase dan
bangunan. Penyedia harus memasang, memelihara semua pipa dan peralatan lain yang
diperlukan untuk pengeringan air agar lokasi pekerjaan bebas dari air sehingga pekerjaan
konstruksi dapat dilakukan sesuai dengan syarat-syarat. Penyedia bertanggung jawab
untuk memperbaiki kerusakan akibat banjir atau kegagalan pengeringan air atau
pekerjaan pengamanan.
Cara pengeringan air yang dilakukan oleh Penyedia harus mendapat persetujuan Direksi,
dan tidak boleh mengganggu jalannya air yang dibutuhkan untuk pengairan pada jaringan
pengairan yang ada.
Apabila pelaksanaan pekerjaan berada di bawah muka air tanah, air tersebut supaya
dipompa dahulu sebelum dilakukan penggalian.
Pengeringan air dilakukan sedemikian rupa, sehingga dapat dipelihara kestabilan dari
dasar dan sisi miring yang digali sehingga semua pelaksanaan konstruksi dikerjakan pada
keadaan kering.
Kisdam, semua tanggul atau pengeringan air sementara harus segera dibongkar atau
diratakan sehingga kelihatan baik dan tidak mengganggu kelancaran aliran air setelah
pekerjaan perbaikan bangunan dan saluran selesai dan disetujui Pejabat Pembuat
Komitmen/PPK.

4.5. PEMAGARAN LOKASI PEKERJAAN


Jika tidak ditentukan lain, maka Penyedia harus membuat dan merawat pagar yang sesuai
dan disetujui Pejabat Pembuat Komitmen/PPK untuk menutup semua areal pekerjaan –
pekerjaan pelaksanaan. Bila pagar dibuat di sepanjang jalan umum dan lain – lain, harus
dibuat tipe yang sesuai dan cukup baik untuk daerah tersebut.

4.6. MATERIAL DAN PERALATAN – PERALATAN YANG HARUS DISEDIAKAN


OLEH PENYEDIA
1) Umum
Penyedia harus menyediakan bahan / material dan peralatan yang memenuhi syarat
untuk menyelesaikan pekerjaan kecuali yang sudah disediakan di dalam kontrak.
Semua peralatan dan material yang merupakan bagian dari pekerjaan harus sesuai
dengan standar yang tercantum dalam spesifikasi atau standar yang ditunjukkan. Jika
Penyedia mengusulkan pengadaan peralatan atau material yang tidak sesuai dengan
standar yang disebutkan diatas harus memberi tahu dan mendapatkan persetujuan
tertulis dari Pejabat Pembuat Komitmen/PPK terlebih dahulu.
2) Peralatan untuk pelaksanaan
Penyedia harus mendatangkan semua peralatan yang memenuhi syarat dalam jumlah
yang cukup untuk pelaksanaan pekerjaan sampai selesai. Pejabat Pembuat
Komitmen/PPK dapat memerintahkan Penyedia untuk menambah peralatan, jika
menurut pertimbangan perlu mencapai progress sesuai dengan kontrak.
Penyedia harus mendatangkan semua mesin dan peralatan, lengkap dengan suku
cadangnya yang cukup, untuk menjamin kelancaran pelaksanaan pekerjaan.
3) Material Pengganti
Penyedia harus berusaha untuk mendapatkan bahan material yang ditentukan dalam
spesifikasi teknik atau gambar, tapi jika material tersebut tidak dapat diperoleh
dengan alasan diluar kemampuan Penyedia, boleh memakai material pengganti
dengan persetujuan Pejabat Pembuat Komitmen/PPK. Tidak boleh ada material
pengganti tanpa persetujuan tertulis dari Pejabat Pembuat Komitmen/PPK.
4) Pemeriksaan Peralatan dan Material
Peralatan dan material yang didatangkan oleh Penyedia harus diperiksa dan sesuai
dengan kontrak pada saat dilokasi berikut ini atau seperti yang ditentukan oleh
Pejabat Pembuat Komitmen/PPK :
i. Tempat produksi atau pabrik
ii. Pengangkutan
iii. Lokasi Proyek
Penyedia harus menyerahkan kepada Pejabat Pembuat Komitmen / PPK semua
spesifikasi peralatan dan material yang diperlukan oleh Pejabat Pembuat Komitmen /
PPK untuk tujuan pemeriksaan. Pemeriksaan peralatan dan material termasuk tempat
dimana berasal tidak berarti melepaskan Penyedia dari tanggung jawabnya untuk
mengadakan peralatan dan material yang tercantum dalam spesifikasi teknik.
5) Program dan Catatan Pengangkutan
Bersama dengan penyerahan jadual pelaksanaan, Penyedia harus menyerahkan
program pengangkutan peralatan dan material secara rinci, dengan urutan
pengangkutan dan pengiriman di lapangan sesuai dengan rencana Jadual Pelaksanaan
tersebut kepada Pejabat Pembuat Komitmen/PPK, Penyedia harus memberitahu
Pejabat Pembuat Komitmen/PPK kedatangan peralatan, material dan pemasangan
peralatan di lapangan.
6) Spesifikasi, Brosur dan Data yang harus diserahkan oleh Penyedia
Penyedia harus menyerahkan 3 (tiga) set spesifikasi lengkap, brosur dan data
mengenai material dan peralatan yang akan didatangkan sesuai kontrak kepada
Pejabat Pembuat Komitmen/PPK untuk disetujui, dalam jangka waktu paling lambat
14 (empat belas) hari sejak diterimanya surat perintah mulai kerja. Bagaimanapun
juga persetujuan terhadap spesifikasi, brosur dan data tersebut tidak akan melepaskan
Penyedia dari spesifikasi, brosur dan data tersebut tidak akan melepaskan Penyedia
dari tanggung jawabnya sesuai dengan Kontrak.

5. PELAKSANAAN PEKERJAAN
5.1. Ketentuan Umum
Pelaksanaan pekerjaan harus dilakukan sesuai ukuran/dimensi yang tertera dalam gambar
atau sesuai dengan volume yang tertera dalam BOQ atau sesuai dengan arahan Pejabat
Pembuat Komitmen/PPK.
Semua bahan dan mutu pekerjaan harus mempergunakan dan sesuai dengan ketentuan
ketentuan dari Standar Nasional Indonesia (SNI) dari edisi / revisi terakhir atau standar
internasional yang secara substantial setara atau lebih tinggi dari standar nasional yang
disyaratkan.
Semua bahan dan mutu pekerjaan yang tidak sepenuhnya diperinci disini atau dicakup
oleh Standar Nasional Indonesia (SNI) haruslah bahan dan mutu pekerjaan kelas utama.
Direksi akan menetapkan apakah semua atau sebagian yang dipesan atau diantarkan
untuk penggunaan dalam pekerjaan sesuai untuk pekerjaan tersebut, dan keputusan
Direksi dalam hal ini pasti dan menentukan.
Apabila ada perbedaan antara standar yang disyaratkan dengan standar yang diajukan
oleh Penyedia, maka Penyedia harus menjelaskan secara tertulis kepada Pejabat Pembuat
Komitmen/PPK, sekurang-kurangnya 7 hari sebelum Pejabat Pembuat Komitmen/PPK
menetapkan setuju atau tidak terhadap pekerjaan yang akan dilaksanakan.
Standar satuan ukuran yang dipergunakan pada dasarnya MKS (Meter Kilogram Second),
sedangkan penggunaan standar satuan lain dapat dipergunakan sepanjang hal tersebut
tidak dapat dielakkan.

5.2. Pekerjaan Persiapan


Pekerjaan Persiapan adalah semua kegiatan yang perlu dilaksanakan baik sebelum,
selama berlangsungnya kontrak dan setelah berakhirnya kontrak. Item pekerjaan yang
termasuk / dimasukan dalam pekerjaan persiapan ini secara detail disajikan berikut ini.
5.2.1. Mobilisasi dan Demobilisasi
Yang dimaksud dengan mobilisasi dan demobilisasi adalah semua kegiatan
yang berhubungan dengan transportasi peralatan yang akan dipergunakan
dalam melaksanakan paket pekerjaan. Penyedia harus sudah bisa
memperhitungkan semua biaya yang diperlukan dalam rangkaian kegiatan
untuk mendatangkan peralatan dan mengembalikannya nanti bila pekerjaan
telah selesai. Penyedia harus menyiapkan dan menyerahkan rencana mobilisasi
peralatan yang akan dipergunakan, termasuk rencana demobilisasinya.
Sebelum dilaksanakan, rencana ini harus mendapat persetujuan terlebih dahulu
dari Direksi. Penyedia harus meminta persetujuan Direksi terlebih dahulu atas
setiap perubahan pada Jadual peralatan yang telah dimasukkan dalam
penawaran. Mata pembayaran yang diterapkan dalam kegiatan mobilisasi dan
demobilisasi adalah Lumpsum.

5.2.2. Pembuatan Jalan Sementara dan Pemeliharaan Jalan Desa


Untuk memperlancar kegiatan pelaksanaan konstruksi maka perlu dibuat jalan
yang sifatnya dipakai sementara selama pelaksanaan kontrak. Penyedia harus
sudah bisa membuat rencana jalan sementara sesuai dengan kondisi lapangan.
Disamping itu jalan-jalan yang sudah ada baik berupa jalan desa yang akan
dipergunakan oleh Penyedia selama pelaksanaan kontrak, terlebih dahulu harus
mendapat izin penggunaan dari aparat / pemilik jalan tersebut, dan kondisi
jalan harus terpelihara dengan baik. Segala biaya yang diperlukan untuk
pembuatan jalan sementara maupun pemeliharaan jalan desa selama masa
kontrak harus sudah diperhitungkan dalam item pekerjaan ini. Satuan
pembayaran yang diterapkan adalah biaya Lumpsum.
Jalan masuk ke dan melalui daerah kerja ialah menggunakan jalan-jalan
setempat yang ada yang berhubungan dengan Jalan Raya yang berdekatan
dengan daerah proyek.
Penyedia hendaknya berpegang pada semua peraturan dan ketentuan hukum
yang berhubungan dengan penggunaan jalan dan arah angkutan umum dan
bertanggung jawab terhadap kerusakan akibat penggunaan jalan tersebut.
Penyedia harus memperbaiki atau memperlebar jalan yang ada, memperbaiki
dan memperkuat jembatan beton sehingga memenuhi kebutuhan pengangkutan,
sejauh yang dibutuhkan untuk pekerjaannya. Semua pekerjaan yang
dimaksudkan Penyedia untuk dikerjakan dalam hubungannya dengan jalan dan
jembatan harus direncanakan sedemikian rupa, sehingga tidak mengganggu
lalulintas dan harus mendapat persetujuan Direksi dan perlu pengaturan sebaik-
baiknya dengan Pemerintah setempat dan Badan Swasta bila diperlukan.
Penyedia dapat menggunakan tanah yang ada dengan sepengetahuan Pejabat
Pembuat Komitmen / PPK untuk keperluan jalan masuk ke daerah kerja,
apabila Penyedia membutuhkan jalan masuk demi kemajuan pekerjaan.
Dalam hal ini Penyedia diminta membuat permohonan tertulis kepada Direksi
jauh sebelumnya, sehingga rencana kompensasi tanah dapat dilakukan.
Pejabat Pembuat Komitmen / PPK tidak bertanggung jawab terhadap
pemeliharaan jalan masuk atau bangunan yang digunakan oleh Penyedia
selama pelaksanaan pekerjaan.
Apabila Penyedia membutuhkan jalan lain yang tidak ditentukan oleh Direksi
harus dikerjakan oleh Penyedia atas bebannya sendiri dan harga untuk semua
pekerjaan tersebut sudah termasuk dalam Harga Kontrak.
Semua hal yang berkaitan dengan pekerjaan jalan sementara ini mengacu pada
SNI- 03-2843-1992 : tentang Tata Cara Pelaksanaan Survey Kondisi Jalan
Tanah/Kerikil.
5.2.3. Laboratorium dan alat Pengujian Lapangan
Ketentuan dan persyaratan untuk laboratorium bahan dan alat pengujian
lapangan adalah sebagai berikut:
i. Penyedia di dalam hal ini tidak diperkenankan melakukan pengujian
laboratorium. Pengujian dilakukan oleh laboratorium yang ditunjuk oleh
Pejabat Pembuat Komitmen/PPK
ii. Penyedia harus menyediakan peralatan pengetesan lain yang diperlukan
seperti yang disebutkan dalam Spesifikasi Teknik untuk mengontrol
material pelaksanaan dan tanah.
iii. Paling lambat 14 (empat belas) hari sejak diterimanya surat perintah mulai
kerja, Penyedia harus menyerahkan jadual pengujian kepada Pejabat
Pembuat Komitmen/PPK untuk mendapatkan persetujuannya. Jadual
pengujian harus mencakup semua pengujian material beton, pengujian
pemadatan tanah triaxial dan pengujian alat – alat laboratorium yang akan
dipakai. Laboratorium yang disediakan Penyedia harus diatur dan dirawat
Penyedia. Pengadaan listrik dan air untuk keperluan laboratorium harus
disediakan oleh Penyedia.
5.2.4. Kantor, Gudang dan Bengkel untuk Penyedia
Penyedia harus menyediakan, memelihara dan memindahkan bangunan
sementara seperti kantor, gudang, bengkel, dan memindahkan bangunan
sementara lainnya setelah selesai pekerjaan.
Kecuali ditentukan lain dalam kontrak, Penyedia harus menyediakan sebuah
bangunan (bisa sewa) dilengkapi dengan peralatan secukupnya serta satu toilet
dan kamar mandi untuk keperluan diatas.
5.2.5. Perumahan dan Brak untuk Staf dan Tenaga Penyedia
Jika tidak ditentukan lain, Penyedia harus menyediakan, merawat dan
membongkar semua bangunan sementara dimana pekerjaan atau Pejabat
Pembuat Komitmen / PPK, Staf Penyedia dan Sub Penyedia akan berada
termasuk perabot, penerangan, air minum, saluran, jalan, tempat parkir, tempat
buangan dan akomodasi yang bersifat sementara. sekurang – kurangnya 7
(tujuh) hari sebelum penanganan pekerjaan ini. Penyedia harus mengirimkan
rencana dan detail usulan bangunan termasuk fasilitasnya kepada Pejabat
Pembuat Komitmen/PPK.
5.2.6. Air Kerja
Penyedia harus menyediakan / membuat sumber air baku untuk tempat tinggal
staf Penyedia, pekerja, laboratorium, bengkel dan tempat lain yang perlu
dilokasi pekerjaan.
5.2.7. Sumber Listrik untuk Pelaksanaan Pekerjaan
Penyedia harus mengatur kebutuhan penerangan listrik di lokasi pekerjaan,
perumahan staf Penyedia, Barak, Laboratorium, Bengkel, Gudang dan Kantor.
Penyedia harus membuat Jaringan Listriknya, mengoperasikan dan merawat
sampai dengan akhir masa perawatan atau lebih cepat sesuai dengan
pengarahan Pejabat Pembuat Komitmen/PPK dan kemudian membongkar
semua fasilitas listrik sementara yang ada antara lain : generator, kawat, alat-
alat penyambung dan lain sebagainya.

5.3. Pekerjaan Survey dan Pengukuran


Yang termasuk Pekerjaan Survey dan Pengukuran adalah pemasangan Bench Mark dan
pelaksanaan pengukuran itu sendiri.
Sebelum melakukan pekerjaan pengukuran, maka pihak Penyedia diminta untuk
mengajukan request kepada Direksi untuk pekerjaan pengukuran ini. Penarikan /
penentuan titik-titik elevasi dilakukan dari patok elevasi yang telah disetujui / ditentukan
oleh Direksi. Jika tidak ada patok elevasi yang dapat dipakai, biasa digunakan elevasi
lokal yang dipindahkan ke Patok Bantu Elevasi (PBE) dari ukuran 4/6, dengan
persetujuan Direksi.
Semua alat ukur topografi yang digunakan harus dikalibrasi dan disetujui oleh Direksi.
Pada saat pelaksanaan pengukuran alat ukur harus dilindungi dari terik matahari/hujan.
Semua pemasangan Patok Bantu Elevasi (PBE) harus diikatkan pada titik atau diletakkan
pada bangunan yang sifatnya tetap/tidak berubah.
Identifikasi PBE harus dilakukan agar fungsi patok tersebut dalam pekerjaan pengukuran
mudah digunakan. Pekerjaan ini diantaranya meliputi : pemberian nomor, pengecatan dan
pemberian catatan lain yang perlu, sehubungan dengan jenis pekerjaan pengukuran yang
dilakukan.
Tiap patok bench mark (BM) tambahan yang dipasang Penyedia harus dibuat dari beton
bertulang klas K-175, dengan ukuran 0.20 x 0.20 x 1.00 m sesuai dengan gambar dari
album Standar Perencanaan Irigasi, atau menurut petunjuk lain dalam gambar.
Tiap BM harus dilengkapi dengan paku kuningan tanda elevasi dan plat nama dari
marmer ukuran 0.12 x 0.12 m pada satu sisi.
Patok-patok BM harus dipasang vertikal dalam galian, kemudian dengan hati-hati diurug
kembali sampai tinggal 0.20 m diatas permukaan tanah. Penempatan patok-patok BM
dilaksanakan Penyedia sesuai dengan petunjuk Direksi.
5.4. Gambar-Gambar Pelaksanaan (Shop drawing)
Dalam memulai, mengerjakan dan mengevaluasi pekerjaan baik untuk saluran-saluran,
bangunan air dan bendung, harus berdasarkan data ketinggian dan posisi yang pasti sesuai
dengan kondisi lapangan. Untuk ini Penyedia harus menyediakan serangkaian alat ukur
berikut tenaga kerjanya untuk keperluan ini.
Gambar-gambar yang harus disiapkan Penyedia adalah :

5.4.1. Gambar-Gambar Pekerjaan Tetap


a) Umum
Semua gambar-gambar yang disiapkan oleh Penyedia haruslah gambar-
gambar yang telah ditanda tangani oleh Direksi, dan apabila ada perubahan
harus diserahkan kepada Direksi untuk mendapat persetujuan sebelum
program pelaksanaan dimulai.
b) Gambar-gambar Pelaksanaan
Penyedia harus menggunakan gambar kontrak sebagai dasar untuk
mempersiapkan Gambar Pelaksanaan. Gambar itu dibuat lebih detail untuk
pekerjaan tetap dan dimana mungkin dapat memperlihatkan penampang
melintang dan memanjang dari beton, pasangan batu, pengaturan batang
pembesian termasuk rencana pembengkokan, pemotongan dan daftar besi
beton, tipe bahan yang digunakan, mutu, tempat dan ukuran yang tepat.
c) Gambar-gambar Bengkel / Gedung
Gambar-gambar bengkel atau gedung disiapkan oleh Penyedia untuk
keperluan penyimpanan peralatan dan bahan-bahan milik Penyedia.
d) Penyedia harus menyediakan 1 (satu) set gambar-gambar lengkap di
lapangan.
Apabila ada pekerjaan dilaksanakan sebelum ada persetujuan Direksi
adalah menjadi resiko Penyedia. Persetujuan Direksi terhadap gambar-
gambar tersebut tidak akan meringankan tanggung jawab Penyedia atas
kebenaran gambar tersebut.
5.4.2. Gambar-Gambar Pekerjaan Sementara
a) Umum
Semua gambar yang disiapkan oleh Penyedia harus terperinci, dan
diserahkan kepada Direksi sebelum tanggal pelaksanaan pekerjaan atau
dalam waktu yang telah ditentukan dalam Kontrak.
Gambar-gambar harus menunjukan detail dari pekerjaan sementara seperti
Cofferdam, tanggul sementara, pengalihan aliran dan sebagainya.
Gambar Perencanaan yang diusulkan Penyedia yang dipakai dalam
pelaksanaan Konstruksi (sah) juga harus diserahkan kepada Direksi
sebanyak 3 (tiga) rangkap.
b) Gambar-gambar untuk Pekerjaan Sementara yang ditinggalkan.
Penyedia hendaknya mengusulkan pekerjaan sementara yang berkaitan
dengan pekerjaan tetap secara lebih mendetail dan diserahkan kepada
Direksi untuk mengubah dan mendapat persetujuan sebelum tanggal
dimulainya pelaksanaan.
c) Gambar-Gambar Purnalaksana / Terlaksana
Selama masa pelaksanaan, Penyedia harus memelihara satu set gambar
yang dilaksanakan paling akhir untuk tiap-tiap pekerjaan. Pada gambar
yang memperlihatkan perubahan yang sudah diberikan sesuai dengan
kontrak, sejauh gambar tersebut sudah dilaksanakan dengan benar
kemudian dicap “SUDAH DILAKSANAKAN”.
Gambar-gambar yang dilaksanakan akan diperiksa tiap bulan di lapangan
oleh Direksi dan tiap hari oleh Pengawas Lapangan, dan apabila
ditemukan hal-hal yang tidak memuaskan dan tidak dilaksanakan, paling
lambat harus diperiksa kembali selama 6 (enam) hari kerja.
Gambar terlaksana (As Built Drawing) harus dibuat di atas kalkir yang
berkualitas baik bila pekerjaan telah diselesaikan 100 % dan dibuat
rekaman dalam bentuk CD.
Dalam waktu 1 (satu) bulan setelah penandatanganan serah terima ke I
(PHO), Penyedia harus sudah menyerahkan gambar terlaksana (As Built
Drawing) yang terdiri dari satu set gambar lengkap dengan ukuran A1,
beserta 1 (satu) set copy blue print dan 3 (tiga) set copy dalam ukuran A3
yang diperkecil dari ukuran A1.
Semua hal yang berkaitan dengan pekerjaan penggambaran mengacu pada
KP-07, SK DJ Pengairan No. 185/KPTSA/A/1986, tentang Kriteria
Perencanaan Bagian Standar Penggambaran, BI-01 dan BI-02 DJ
Pengairan No. 185/KPTSA/A/1986.
Tidak ada pembayaran terpisah untuk pekerjaan persiapan yang termasuk
dalam lingkup 5.4.1 s/d 5.4.2 diatas, dan harus sudah diperhitungkan oleh
Penyedia dalam perhitungan biaya harga satuan pekerjaan lainnya, kecuali
ditunjukkan lain di dalam Daftar Kuantitas dan Harga.
Cara pembayaran pekerjaan lumpsum :
 60% (enam puluh persen) apabila peralatan telah berada di lapangan
 40% (empat puluh persen) apabila pekerjaan telah selesai seluruhnya
BAB II. PEKERJAAN TANAH

1. RUANG LINGKUP
Pekerjaan ini mencakup kegiatan penggalian, penanganan, pembuangan atau
penumpukan tanah atau batu atau bahan lain dari sumber bahan yang diperlukan untuk
penyelesaian dari pekerjaan dalam Kontrak ini untuk pekerjaan galian.
Pekerjaan ini mencakup kegiatan pengadaan, pengangkutan, penghamparan dan
pemadatan tanah atau bahan berbutir yang disetujui untuk pembuatan timbunan, untuk
penimbunan kembali galian pipa atau struktur dan untuk timbunan umum yang
diperlukan untuk membentuk dimensi timbunan sesuai dengan garis, kelandaian, dan
elevasi penampang melintang yang disyaratkan atau disetujui untuk penyelesaian dari
pekerjaan dalam Kontrak ini untuk pekerjaan timbunan.

2. KETENTUAN DAN PERSYARATAN


2.1. Umum
Lingkup dari pekerjaan tanah akan meliputi semua pekerjaan yang berkaitan
sebagai berikut:
 Pembersihan
 Galian termasuk pembentukan dan saluran
 Timbunan kembali, bedding dan pekerjaan pelapisan
 Pembuangan, stok dan penggunaan kembali material dari galian
 Penimbunan
 Pekerjaan lain yang mungkin diarahkan oleh Direksi

Metode untuk setiap pekerjaan tertentu secara tertulis harus diusulkan kepada
Direksi dan mendapatkan persetujuan paling lambat 30 (tiga puluh) hari dihitung
sejak surat perintah mulai kerja.
Penyedia akan menyimpan setiap material pekerjaan galian dari beberapa tempat
dan akan membuang material galian seperti yang telah ditentukan dalam gambar
atau seperti yang diarahkan oleh Direksi.

2.2. Ketelitian dalam pekerjaan tanah


Ketelitian mengenai tinggi dan ukuran dapat diizinkan sebagai diterangkan
dibawah ini, apabila luas rata-rata penampang basah saluran untuk panjang 500
m, seperti yang tertera pada gambar atau yang diperintahkan oleh Direksi.
 Dasar Saluran : + 0.05 m atau - 0.10 m vertikal
 Level Puncak Timbunan : + 0.10 m atau – 0.10 m vertikal
 Dasar Kemiringan : + 0.05 m horisontal
 Puncak Kemiringan Timbunan : + 0.10 m horisontal
Garis sumbu dari saluran, tanggul dan jalan harus diletakkan dengan teliti dan
tidak boleh dipengaruhi oleh toleransi tersebut diatas.
Semua permukaan harus diselesaikan dengan rapi dan halus.

2.3. Pekerjaan Galian


Semua pekerjaan tanah dari beberapa bagian harus dilaksanakan menurut ukuran
ketinggian yang ditunjukkan dalam gambar, atau menurut ukuran dan ketinggian
lain, yang mungkin akan diperintahkan oleh Direksi. Ukuran yang berdasarkan
atau berhubungan dengan ketinggian tanah, atau jarak terusan harus ditunjukkan
kepada Direksi lebih dahulu, sebelum memulai pekerjaan tanah pada setiap
tempat. Yang dimaksud dengan “ketinggian tanah” dalam spesifikasi adalah
tinggi “permukaan tanah” sesudah pembersihan lapangan dan sebelum pekerjaan
tanah dimulai.
Hal yang membedakan jenis galian tersebut di atas hanyalah material yang akan
digali yang berimplikasi terhadap jenis peralatan dan produktifitas hasil galian.
Pekerjaan galian dibedakan atas 4 (empat) kelompok pembayaran sebagai
berikut :
2.3.1. Galian tanah biasa.
Galian tanah biasa adalah pekerjaan galian dengan material hasil galian
berupa tanah pada umumnya, yang dengan mudah dapat dilakukan
secara manual maupun masinal dengan alat berat/Excavator.
Seluruh galian dikerjakan sesuai dengan garis-garis dan bidang-bidang
yang ditunjukkan dalam gambar atau sesuai dengan yang ditunjukkan
dalam gambar kerja atau sesuai dengan yang diarahkan / ditunjukkan
oleh Direksi. Galian tanah biasa dimaksudkan untuk daerah yang bahan
hasil galiannya terdiri dari tanah, pasir dan kerikil.
Bila ada galian yang perlu disempurnakan seharusnya diinformasikan
ke Direksi untuk ditinjau.
Tidak ada galian yang langsung / ditutupi dengan tanah / beton tanpa
diperiksa terlebih dahulu oleh Direksi. seluruh proses pekerjaan
menjadi tanggung-jawab Penyedia. Kemiringan yang rusak atau
berubah, karena kesalahan pelaksanaan harus diperbaiki oleh dan atas
biaya Penyedia.
Apabila pada saat pelaksanaan penggalian terdapat batu-batu besar
dengan diameter lebih besar dari 1.00 m yang tidak dapat disingkirkan
secara manual maupun masinal dengan alat berat/Excavator, maka
pembayaran volume ini akan termasuk kedalam pembayaran item
Galian Batu atas sepengetahuan Pejabat Pembuat Komitmen/PPK.
Pengukuran untuk pembayaran pada galian tanah biasa akan dibuat
dalam meter kubik dimana tanah galian dari permukaan kupasan sampai
yang sesuai ditunjukan dalam garis-garis bidang yang sesuai dalam
gambar. Pembayaran untuk galian tanah biasa dibuat dalam meter kubik
untuk item dalam BoQ.
Selama proses penggalian tanah agar secara langsung dipisahkan dan
ditumpuk pada suatu tempat yang disetujui Direksi, material yang
layak/bisa dipakai untuk timbunan dan material yang tidak layak.
Material yang layak selanjutnya akan dipakai untuk timbunan tanah
biasa dan timbunan kembali, sedangkan material yang tidak layak
selanjutnya akan dibuang keluar daerah embung atau kesuatu tempat
yang tidak akan mengganggu areal pertanian, fungsi jaringan dan
wilayah sungai.
Penyedia harus menguasai medan kerja sehingga penumpukan material
yang bisa dipakai untuk timbunan ditempatkan pada lokasi yang
sedekat-dekatnya dengan lokasi yang memerlukan timbunan dan bisa
langsung ditebar pada bagian yang akan ditimbun.
Harga satuan termasuk upah buruh, bahan dan peralatan yang
diperlukan untuk penggalian, perapihan dan kemiringan talud termasuk
usaha pencegahan bahaya longsor, pembuatan tanggul kecil pada bahu
galian dan timbunan kecil apabila dianggap perlu oleh Direksi.
Peralatan pengangkutan diperhitungkan terhadap pemindahan material
hasil galian ke suatu tempat penimbunan sementara yang disetujui
Direksi sejauh ± 1 km.
Khusus untuk jaringan tersier yang dimensinya relatif kecil dan berada
didaerah persawahan, agar diperhitungkan terhadap tingkat kesukaran
peggalian atau alternatif lain berupa galian secara manual.
2.3.2. Galian Deposit Sungai
Galian deposit sungai adalah pekerjaan galian dengan material berupa
deposit sungai yang terdiri dari pasir, kerikil dan kerakal/boulder, yang
dapat dilakukan dengan excavator tetapi dengan tingkat
produktifitasnya lebih rendah dibandingkan dengan galian tanah biasa,
karena kondisi lapisan endapan relatif lebih padat.
Yang dimaksud dengan galian deposit sungai adalah suatu kegiatan
penggalian pada badan sungai atau daerah tertentu yang material
galiannya merupakan endapan sungai yang terdiri tanah berbatu kerikil
dan kerakal yang padat, sehingga Pelaksanaan secara manual maupun
masinal dengan alat berat/excavator tidak dapat bekerja secara
maksimal.
Harga satuan yang diperhitungkan untuk pekerjaan ini termasuk tenaga
kerja dan alat/excavator, sedangkan untuk keperluan pengangkutan dan
pembuangan ke lokasi diluar daerah kerja yang disetujui oleh direksi
sejauh ± 1 km. Untuk jarak pembuangan yang lebih jauh maka akan
diperhitungkan dalam pekerjaan pembuangan sisa galian. Kecuali untuk
material bahan galian yang selanjutnya akan dipergunakan oleh
Penyedia untuk pekerjaan lain, maka pekerjaan pembuangan tidak
diperhitungkan.
2.3.3. Galian Batu Lapuk
Galian batu lapuk adalah pekerjaan galian dengan material galian
berupa batu yang sudah lapuk. Pekerjaan ini hanya bisa dilakukan
dengan kombinasi alat excavator dan pick hammer.
2.3.4. Galian Batu.
Galian batu termasuk semua batu-batuan padat dan keras di tempat
yang tidak dapat disingkirkan dengan mudah baik dengan metode
manual mempergunakan pacul maupun secara masinal mempergunakan
alat berat/excavator biasa maupun Pick Hammer, kecuali dengan
Excavator yang diperlengkapi dengan Breaker atau dengan Peledakan.
Apabila menggunakan peledakan, maka Penyedia harus sudah
memperhitungkan segala peralatan dan material yang diperlukan
berikut perizinan dan penanganan peledakannya.
2.3.5. Galian untuk pekerjaan pasangan beton.
Dasar dan sisi miring dari galian untuk pondasi di atas atau terhadap
dimana beton akan ditempatkan akan digali sesuai yang diperlukan
seperti ketinggian, garis dan ukuran seperti ditunjukkan dalam gambar
atau seperti diarahkan oleh Direksi. Tidak ada material akan diijinkan
untuk ditambahkan dalam garis baku dari struktur beton.
Jika di beberapa titik dalam galian, material galian berdasarkan
permintaan tertulis dari Direksi diantara batas yang diperlukan untuk
menerima struktur penambahan galian akan segera diisi penuh dengan
beton tipe K-100 atau diisi dengan tanah yang sesuai dan dipadatkan
atas biaya Penyedia.

2.4. Pekerjaan Galian Tanah Yang Tidak Akan Ditimbun Kembali


Semua pekerjaan galian tanah yang tidak akan ditimbun kembali akan
dilaksanakan sesuai pasal ini, harus dilaksanakan hingga mencapai elevasi
dengan tingkatan dan dimensi yang ditunjukan dalam gambar-gambar atau
ditentukan oleh Direksi. Selama dalam pekerjaan ini mungkin akan dijumpai dan
diperlukan untuk merubah kemiringan (slope) atau dimensi dari penggalian dari
yang ditentukan. Setiap penambahan atau pengurangan dari volume pekerjaan
galian tanah sebagai akibat dari perubahanperubahan tersebut akan
diperhitungkan sesuai petunjuk dan persetujuan Direksi.
Semua tindakan pencegahan yang perlu dilakukan guna melindungi material
yang ada dibawah galian dalam keadaan yang memungkinkan, kerusakan pada
pekerjaan yang disebabkan oleh Penyedia dalam melaksanakan pekerjaan,
termasuk hancurnya material dibawah batas penggalian yang diperlukan, harus
diperbaiki atas biaya Penyedia.
Galian yang melebihi dari ketentuan baik yang dilakukan sengaja maupun akibat
kelalaian Penyedia tidak akan diperhitungkan dalam pembayaran. Penyedia
harus mengisi kembali dengan material yang sesuai dan dilaksanakan atas biaya
Penyedia.
2.5. Luasnya Penggalian
Luasnya penggalian harus sekecil mungkin menurut Direksi. Penggalian dimulai
dari muka tanah dengan harus mengambil lebar yang cukup sesuai gambar atau
ditentukan lain oleh Direksi.
Tidak ada galian yang langsung/ditutupi dengan tanah/ beton tanpa diperiksa
terlebih dahulu oleh Direksi. Seluruh proses pekerjaan menjadi tanggung-jawab
Penyedia. Kemiringan yang rusak atau berubah, karena kesalahan pelaksanaan
harus diperbaiki oleh dan atas biaya Penyedia.
Selama proses penggalian tanah agar secara langsung dipisahkan dan ditumpuk
pada suatu tempat yang disetujui Direksi, material yang layak/bisa dipakai untuk
timbunan dan material yang tidak layak. Material yang layak selanjutnya akan
dipakai untuk timbunan tanah biasa dan timbunan kembali, sedangkan material
yang tidak layak selanjutnya akan dibuang keluar atau kesuatu tempat yang tidak
akan mengganggu areal pekerjaan dan dirapihkan. Penyedia harus menguasai
medan kerja sehingga penumpukan material yang bisa dipakai untuk timbunan
ditempatkan pada lokasi yang sedekat-dekatnya dengan lokasi yang memerlukan
timbunan dan bisa langsung ditebar pada bagian yang akan ditimbun.
Semua galian untuk pondasi bangunan / struktur akan dilaksanakan dalam
kondisi kering (dimana dalam kondisi kering akan dibangun seperti dalam Sub-
bag 4.4 Pekerjaan Pengeringan). Tidak ada tambahan biaya terhadap harga
satuan tender dalam BoQ untuk galian yang disebabkan material menjadi basah.
Galian akan dibuat sepenuhnya sesuai dengan ukuran yang diperlukan dan akan
diselesaikan terhadap garis dan ketinggian yang ditentukan kecuali terdapat batu
menonjol sendiri akan diijinkan untuk melebar dalam garis yang telah ditentukan
tidak lebih dari 20 (dua puluh) sentimeter dimana permukaan tidak dilindungi
dengan beton. Jika permukaan dilindungi dengan beton secara umum harus rata
seperti ditentukan oleh Direksi.
Kecuali seperti secara rinci ditunjukkan dalam gambar atau sebaliknya yang
diarahkan oleh Direksi, keperluan pengukuran untuk pembayaran galian terbuka
terhadap kemiringan seperti disebutkan dibawah ini:

KEMIRINGAN GALIAN

MATERIAL KEMIRINGAN (V:H) DISKRIPSI


Batu 1:0.5 Untuk kemiringan
permanen
Batu Lapuk 1:0.8 Untuk kemiringan
permanen
Tanah 1:1.0 Untuk kemiringan
permanen
Galian Deposit 1:1.0 Untuk kemiringan
Sungai permanen
Dimana diperlukan dan diinstruksikan oleh Direksi, Penyedia akan menggali
saluran terbuka / parit untuk mengalihkan air mengalir keluar dari galian
terbuka.
Biaya keseluruhan dari pekerjaan ini akan ditanggung oleh Penyedia kecuali
dimana saluran tersebut adalah merupakan bagian dari pekerjaan permanen yang
mana pembayaran untuk galian akan dihitung dari harga satuan tender dalam
BoQ.
Penggalian tanah untuk bangunan termasuk pekerjaan galian dari semua tanah,
kerikil, dan batuan kasar. Penggalian untuk bangunan harus dilaksanakan dengan
cara yang paling aman hingga mencapai elevasi yang disetujui Direksi. Kecuali
ditunjukkan dengan jelas pada gambar atau telah ditetapkan oleh Direksi.
Apabila terdapat material alam pada lokasi galian pondasi yang mengganggu
selama pelaksanaan penggalian, maka hal tersebut harus dipadatkan ditempat
atau disingkirkan atau diganti dengan tanah timbunan yang sesuai atau beton
K100 atas biaya Penyedia.
Pekerjaan galian tanah untuk bangunan akan diukur sebagai dasar pembayaran
hingga mencapai elevasi yang diperlihatkan dalam gambar atau bila tidak
diperlihatkan dalam gambar sampai mencapai garis elevasi sesuai dengan syarat-
syarat yang ditentukan.

2.6. Pekerjaan Timbunan


Penyedia akan mengerjakan beberapa macam material timbunan dan penutupan
kembali di lokasi yang ditunjukkan oleh gambar atau ditempat lain seperti
arahan Direksi. Kualitas dari material harus mendapatkan ijin dari Direksi dan
tidak termasuk bahan organik atau bahan lain yang tidak diijinkan.
Penyedia harus semaksimal mungkin menggunakan material hasil galian sebagai
bahan untuk timbunan sejauh secara kualitas memenuhi syarat.
Tidak diizinkan adanya semak, akar, rumput atau material tidak memenuhi
syarat lain yang akan dipakai sebagai bahan timbunan. Kelayakan dari setiap
bagian pondasi untuk penempatan material timbunan dan semua material yang
digunakan dalam konstruksi timbunan adalah sesuai dengan spesifikasi teknik.
Penyedia harus melaksanakan test uji timbunan (trial embankment) untuk
menentukan efektifitas dari beberapa metode pemadatan dari material yang
tersedia untuk pekerjaan timbunan. Sasaran hasil dari uji test timbunan adalah
untuk mengkonfirmasi efektifitas dari metode pemadatan yang berkaitan dengan
jenis dan ukuran dari alat pemadat, jumlah lintasan untuk ketebalan lapisan yang
disyaratkan, efek getaran terhadap kadar air dan aspek lain dari pemadatan.
Pekerjaan ini termasuk penempatan/penghamparan dari material dari borrow
area, galian dan stockpile dengan perbedaan kadar air dan dalam lajur terpisah
untuk pemadatan dengan peralatan pemadat, kecepatan, frekuensi dan jumlah
lintasan yang berbeda. Hasil percobaan ini tidak membebaskan Penyedia dalam
segala hal kewajibannya untuk mendapatkan batas pemadatan sebagai yang
ditentukan dalam kontrak. Apabila ditemukan/dijumpai tanah yang berbeda pada
waktu pelaksanaan dikemudian hari, maka percobaan-percobaan lebih lanjut
harus dilaksanakan terlebih dahulu. Bila hasil percobaan pemadatan tanah
dilaksanakan untuk tanggul pada bangunan yang permanen, percobaan tersebut
akan dianggap sebagai suatu bagian pekerjaan dalam penyelesaian pekerjaan
tersebut, dan apabila pekerjaan tersebut gagal dan tidak memenuhi persyaratan-
persyaratan yang ditentukan Direksi, maka Penyedia harus membongkar kembali
pekerjaan permanen yang didasarkan pada percobaan yang gagal tersebut atas
biaya Penyedia tidak ada pembayaran terpisah atas percobaan tanah yang
dilaksanakan di tempat lain.
Penyedia akan memberikan informasi kepada Direksi paling tidak 30 (tiga
puluh) hari sebelum pelaksanaan test uji timbunan (trial embankment).
Jenis test yang harus dilaksanakan untuk uji timbunan (trial embankment) adalah
sebagai berikut :
 Kepadatan Lapangan (field density)
 Permeability lapangan (field permeability)
 Berat Jenis (specific gravity)
 Kadar Air (water content)
 Konsistensi (consistency/Atterberg Limit)
 Gradasi (gradation) Lapangan dan Laboratorium
 Kepadatan Laboratorium (proctor compaction)
Tidak ada pembayaran terpisah yang akan dibuat untuk test uji timbunan (trial
embankment). Semua biaya untuk pelaksanaan test uji timbunan sudah termasuk
uji pemadatan, penghamparan, dan berikut pembongkaran material serta
berkaitan dengan pengujian, pengambilan contoh uji (sample) adalah sudah
termasuk dalam harga satuan yang dapat diterapkan untuk pekerjaan timbunan
dalam BoQ.

2.7. Jenis Pekerjaan Timbunan


Sesuai dengan kebutuhan dan spesifikasi di lapangan maka kegiatan timbunan
tanah yang akan diberlakukan dalam pekerjaan ini terdiri dari :
 Timbunan tanah kembali dari galian
 Timbunan tanah dengan material dari borrow area
 Timbunan lolos air.

1) Timbunan tanah kembali dari hasil galian.


Yang dimaksud dengan pekerjaan timbunan tanah kembali dari hasil galian
adalah kegiatan penimbunan baik untuk tanggul maupun untuk di belakang
bangunan dengan mempergunakan bahan timbunan dari hasil galian yang
secara spesifikasi teknis bahan tersebut dapat dipertangung jawabkan.
Penimbunan dan pemadatan tanah isian di bangunan boleh dilakukan setelah
umur bangunan sudah dinilai cukup oleh Direksi. Pelaksanaan harus
dilakukan secara hati-hati dengan menggunakan alat yang diijinkan oleh
Direksi. Penimbunan dilaksanakan secara lapis perlapis dengan ketebalan
hampir sesuai dengan spesifikasi alat yang digunakan. Bila tidak ada
instruksi lain dari Direksi maka Penyedia wajib menggunakan tanah hasil
galian untuk penimbunan tanah isian. Bila material tanah hasil galian
bangunan tidak cukup maka Kotraktor dibolehkan menggunakan material
timbunan dari luar (borrow area) atas ijin Direksi.
2) Timbunan tanah dengan material dari borrow area
Yang dimaksud dengan pekerjaan timbunan tanah dengan material dari
borrow area adalah kegiatan penimbunan baik untuk tanggul maupun untuk
di belakang bangunan dengan mempergunakan bahan timbunan dari galian
pada suatu lokasi
borrow dengan jenis dan kualitas tanah yang tertentu dan Penyedia
mengeluarkan biaya untuk pengadaan material tanah timbunan tersebut.
Sumber dari material borrow untuk setiap timbunan harus sesuai dengan
borrow area yang telah disetujui oleh Direksi. Semua bagian dari timbunan
akan dihitung dan dibayar terhadap material terpasang dalam lokasi
timbunan dengan dasar setelah pekerjaan pemadatan.
3) Timbunan Lolos Air
Timbunan kembali lolos air harus ditempatkan berdasarkan garis, ketinggian
dan ukuran seperti ditunjukkan dalam gambar atau seperti arahan Direksi.
Material harus ditangani dan diletakkan sedemikian rupa untuk menghindari
segregasi. Metode dari pelaksanaan timbunan kembali lolos air harus
diusulkan dan mendapat persetujuan dari Direksi.
Timbunan kembali lolos air harus ditimbun secara lapis horisontal dengan
ketebalan tidak lebih dari 50 (lima puluh) cm sentimeter sebelum
dipadatkan dan dipadatkan secara menyeluruh dengan alat pemadat
kapasitas 10 ton (vibratory
roller) atau berdasarkan kepadatan dari uji timbunan yang telah
mendapatkan persetujuan dari Direksi.
Material filter dapat diperoleh dari sungai setempat, galian pondasi
bendung/bangunan air atau lokasi yang telah disetujui Direksi. Material
filter harus terdiri dari material yang layak, awet, pasir dan kerikil
bergradasi baik dengan ukuran partikel kurang dari 8 (delapan) sentimeter.
Juga material tidak boleh mengandung fraksi lolos saringan no.4 dalam
jumlah lebih dari 50% (limapuluh persen) begitu juga lolos saringan no. 200
tidak lebih atau kurang dari 10 % (sepuluh persen).

3. PELAKSANAAN PEKERJAAN

3.1. Pekerjaaan Persiapan


Dari gambar rencana (dokumen kontrak), maka dapat diketahui volume dan lokasi
galian, serta volume dan lokasi timbunan.
a. Penetapan Disposal area :
i. Dilakukan survey awal untuk mencari daerah-daerah tempat pembuangan
hasil galian yang tidak dapat dipakai sebagai material timbunan
ii. Dari beberapa alternatif yang ada, pilih dan tetapkan daerah-daerah
pembuangan yang menguntungkan ditinjau dari segi biaya dan waktu.
Dalam banyak hal daerah yang terdekat biasanya menjadi pilihan yang
baik.
iii. Ukur jarak tempat pembuangan (Disposal Area) dari tempat galian.
Untuk dapat menghitung jumlah dump truck yang diperlukan (ingat cara
menghitung kebutuhan Dump Truck didasarkan atas volume lepas) dan
menghitung biaya angkutan.
b. Penetapan Quarry Tanah Timbunan
i. Bila diperlukan quarry tanah, maka perlu survey awal untuk mencari
daerah-daerah yang tanahnya dapat diambil dan memenuhi syarat untuk
material timbunan.
ii. Dari beberapa alternatif yang ada, pilih dan tetapkan daerah yang
menguntungkan dengan pertimbangan biaya, waktu dan mutu tanahnya.
Usahakan letaknya searah dengan disposal area (atau sebaliknya)
sehingga dump truck yang balik dalam keadaan kosong dapat
dimanfaatkan
iii. Ambil sampel tanahnya, untuk dapat dihitung berat volume kering
maksimumnya di laboratorium, untuk dipergunakan sebagai standar
pengukuran kepadatan dalam pelaksanaan. Karena standar hanya berlaku
untuk jenis tanah yang sama, maka harus diberi tanda supaya tidak
tertukar dengan yang lain.
iv. Agar pengambilan tanah dapat berjalan secara efektif, maka jalan kerja
jalan kerja menuju quarry dan disposal area, perlu dapat perhatian yang
serius serta dilengkapi dengan drainase lingkungan.

c. Penetapan Base Camp


Tetapkan letak base camp, sedekat mungkin dengan lokasi pekerjaan.
Hendaknya diperhatikan juga lingkungan sosial yang ada.
d. Dokumentasi
Perlu dibuat dokumentasi untuk daerah quarry, disposal area, jalan kerja dan
kondisi sepanjang saluran

3.2. Pembersihan Medan


Sebelum memulai pelaksanaan pekerjaan tanah, pembersihan lokasi pekerjaan
dari semua tumbuhan harus dikerjakan oleh Penyedia setelah mendapat
persetujuan dari Direksi.
Pembersihan terdiri dari penebangan pohon-pohon perdu, semak belukar dan
pembabatan rumput liar yang tumbuh sepanjang dasar saluran, talud luar dan
dalam, serta di atas tanggul saluran, sehingga profil saluran terlihat rapih kembali
seperti sebelumnya.
Sampah yang berasal dari pembersihan harus diatur dan disebar disekitar lokasi
yang dijamin tidak akan mengganggu kegiatan pertanian. Pengaturan dari semua
sampah tersebut harus sesuai petunjuk Direksi. Kemudian Penyedia harus
membongkar akar-akar, mengisi lubang-lubangnya dengan tanah dan dipadatkan
kemudian membuang dari tempat pekerjaan semula bahan-bahan hasil
pembersihan lapangan.
Untuk semua pohon dan semak-semak yang tidak harus dibersihkan / tidak harus
ditebang dan tetap berada di tempatnya, maka Penyedia harus melindunginya dari
kerusakan.
Semua bahan yang akan dibakar harus ditumpuk dengan rapi dan apabila keadaan
mengijinkan harus dibakar sampai habis. Penumpukan untuk pembakaran harus
dikerjakan dengan cara dan pada tempat-tempat tertentu agar tidak menimbulkan
resiko terhadap bahaya kebakaran. Semua pembakaran harus sesempurna
mungkin sehingga bahan yang dibakar akan menjadi abu. Penyedia setiap saat
harus mengambil langkah-langkah pencegahan secara khusus untuk mencegah
penyebaran api dan harus mempunyai peralatan sesuai untuk digunakan dalam
pencegahan dan pemadaman.
Pembersihan lokasi pekerjaan termasuk penebangan pohon dan semak belukar,
dimana lokasi tersebut akan dipakai untuk bangunan-bangunan permanen, jalan
masuk, tanggul-tanggul dan saluran-saluran. Sedangkan bidang lain yang
diperlukan untuk menunjang pekerjaan tidak diperhitungkan dalam pembayaran.
Luas areal yang akan dibayar untuk pekerjaan ini adalah dihitung berdasarkan
luasan seperti dalam tabel berikut :
Luas Area
No Diameter Batang (Cm)
(konversi) m2
1 10-15 4
2 15-20 9
3 20-25 16
4 >25 25

3.3. Kupasan / Stripping


1) Kupasan adalah penggalian humus (tanah organik) berikut rumput, yang
akan dilakukan pada semua dasar tanggul, pada lokasi material galian yang
dipakai kembali sebagai bahan timbunan, pada semua dasar jalan, pada
lokasi borrow area yang disetujui, semua lokasi yang tercantum pada
Gambar dan seperti yang diperintahkan Pejabat Pembuat Komitmen/PPK.
2) Pelaksanaan kupasan harus dilakukan dengan cara mengupas semua
material yang tidak cocok untuk timbunan atau untuk pondasi dan semua
bahan organik seperti rumput, tanah lapis atas dan sisa akar, yang tidak
termasuk didalam pembersihan medan. Kedalaman minimum pekerjaan
kupasan adalah 0,20 meter.
3) Bahan hasil kupasan harus ditumpuk. Tumpukan semua material/sampah
hasil kupasan harus mendapat persetujuan Pejabat Pembuat Komitmen/PPK.

3.4. Penggalian Pada Bangunan


Penggalian harus dilaksanakan sedemikian hingga memungkinkan dikerjakan
dengan baik, dapat membuat penyokong bagi tebing galian, dan masih cukup
ruangan untuk pembuatan acuan, pengecoran beton, memasang pasangan batu dan
melaksanakan timbunan, termasuk pemadatan dan kegiatan pekerjaan lainnya.
3.4.1. Pekerjaan Pengeringan
Sebelum melaksanakan pekerjaan bangunan yang membutuhkan
pengeringan (dewatering) dengan alat pompa, Penyedia harus
mengajukan rencana kerja lengkap yang memuat metode, tahap-tahap
pekerjaan dan kebutuhan waktu pengeringan dan dimintakan persetujuan
Direksi paling lambat 7 (tujuh) hari sebelum pelaksanaan pembangunan.
Penyedia harus menjaga agar galian bebas dari air selama masa
pembangunan dan menjamin adanya peralatan pompa yang cukup dan
siap dioperasikan di lapangan setiap waktu guna menghindari
terputusnya kontinuitas pengeringan air. Cara menjaga galian bebas dari
air, pengeringan dan pembuangan air harus dilaksanakan dengan cara
yang dapat disetujui oleh Direksi.
Penyedia harus menjamin setiap waktu adanya peralatan yang baik dan
cukup dilapangan guna menghindari terputusnya pekerjaan pengeringan.
3.4.2. Cara Penggalian
Penyedia harus menyampaikan usul mengenai cara-cara penggalian,
termasuk detail dari konstruksi penahan yang mungkin diperlukan, guna
mendapat persetujuan Direksi secara tertulis sekurang-kurangnya 14
(empat belas) hari
sebelum dimulainya pekerjaan, sehingga keamanan penggaliannya
terjamin.
3.4.3. Kelebihan Penggalian
Penggalian yang melebihi batas yang ditentukan pada gambar atau yang
tidak diperintahkan oleh Direksi harus diisi kembali oleh Penyedia
dengan tanah yang dipadatkan sebagaimana yang dikehendaki Direksi,
tanpa menuntut suatu tambahan pekerjaan.
3.4.4. Perapihan Permukaan Galian
Setiap permukaan galian harus dirapihkan dengan cara manual atau alat
lain yang disetujui oleh Direksi, sehingga bidang pondasi atau bagian lain
dari bangunan atau timbunan yang berhubungan langsung dengan tanah
asli bisa berhubungan baik. Apabila tanah dasar pondasi atau bagian lain
yang dianggap peka oleh Direksi rusak akibat berlangsungnya pekerjaan
maka Penyedia wajib memperbaikinya sesuai dengan petunjuk Direksi
atas biaya Penyedia.
Dasar galian yang akan menerima beton, pasangan batu atau isian
dipadatkan, 0,15 m yang terakhir dari galian harus dirapikan dengan
tangan, atau dengan cara yang mungkin dibenarkan atau diperintahkan
oleh Direksi. Hal ini dilakukan setelah pembersihan semua lumpur pada
waktu akan menempatkan konstruksi diatasnya.

3.5. Pekerjaan galian dengan menggunakan alat berat

3.5.1. Di Lokasi Saluran


a. Untuk menetapkan letak batas-batas galian, dapat dipasang patok-
patok pembantu dan atau tali rafia yang menghubungkan dua profil
yang berdekatan.
b. Berpedoman pada tali batas galian, maka galian kasar dapat
dilaksanakan dengan Excavator. Jumlah Excavator yang diperlukan
dihitung berdasarkan kapasitas alat dan waktu yang tersedia .
c. Galian dari Excavator langsung dimuat ke Dump Truck yang telah
disiapkan (jumlah kebutuhan Dump Truck harus disesuaikan dengan
kapasitas Excavator), dan kemudian diangkut ke tempat yang
ditentukan. Usahakan posisi Dump Truck sedemikian rupa sehingga
swing dari Excavator bersudut kecil.
d. Bila karena suatu hal profil rusak atau berubah posisi, maka sebelum
galian finishing dilakukan, profil tersebut diperbaiki dengan
pedoman patok-patok bantuan yang selalu terjaga.
e. Galian finishing dilakukan oleh tenaga orang dengan cangkul.
Sebenarnya dengan kerjasama yang baik antara pelaksana dan
operator excavator yang mahir, dapat langsung dilakukan penggalian
sampai garis/bidang finishing.
f. Dalam hal desain saluran terdapat saluran gendong, seperti sket di
bawah, sebaiknya pembuatan saluran tersebut didahulukan, karena
dapat berfungsi sebagai saluran drainase.
3.5.2. Di Lokasi Quarry
a. Setelah lokasi quarry di stripping dengan bersih, maka tanah dikupas
dan di stock dengan Bulldozer .
b. Bila musim hujan, sebaiknya stock tanah lepas dibatasi seperlunya
saja, dan dilindungi/ditutupi dengan terpal/plastik .
c. Stock tanah yang ada dimuat ke dalam Dump Truck dengan
pelayanan Wheel Loader untuk diangkut ke tempat pekerjaan
timbunan
d. Alternatif komposisi alat di quarry dapat biasanya berupa : bulldozer
dan loader dan Excavator

3.6. Pembuangan Sisa Galian Yang Tidak Terpakai


Material sisa galian yang tidak bisa dipergunakan untuk timbunan akan dibuang
disuatu tempat didalam dan/atau diluar daerah embung yang disetujui oleh
pemilik sesuai yang ditunjukan dalam gambar atau Direksi. Penyedia harus
merapihkan dan mengatur ketinggian serta meratakannya dengan rapi dan tinggi
maksimum 3.00 m.
Penyedia harus memelihara tanpa mengganggu aliran air disaluran dan jalan
masuk serta yang berhubungan dengan hal tersebut. Sisa galian dari pekerjaan
galian di bendung, mata air dan pompa akan dibuang pada lokasi sekitar lokasi
pekerjaan tersebut diratakan dan dirapihkan dengan tingginya penimbunan sesuai
dengan persetujuan Direksi. Sedangkan sisa galian dari pekerjaan embung bisa
dibuang disekitar lokasi asalkan tidak mengganggu fungsi jaringan dan stabilitas
tanggul/lereng dan material tersebut tidak akan masuk/turun kembali kesaluran
yang mengakibatkan pendangkalan dan penyumbatan saluran. Kalau lokasi
setempat tidak memungkinkan maka material sisa tersebut harus dibuang kesuatu
tempat diluar Daerah embung, diratakan dan dirapihkan. Lokasi pembuangan
harus mendapat persetujuan Direksi dan mendapat ijin pemilik tanah.
Material dari galian saluran pembuang atau saluran yang tidak pergunakan akan
diangkut untuk dibuang ke suatu tempat pembuangan yang telah ditentukan
seperti yang disetujui oleh Direksi.
Sebagian material yang layak pakai akan dtempatkan sementara di lokasi
memenuhi syarat yang akan dipergunakan nantinya atau langsung dipergunakan
sebagai bahan timbunan untuk konstruksi permanen seperti ditentukan oleh
Direksi. Penyedia harus menyediakan/membuat Jadual rincian rencana kerja dari
pekerjaan tanah seperti lokasi dan program galian dari saluran dan penggunaan
material galian untuk pekerjaan timbunan.
Bila diminta seperti ditentukan oleh Direksi, lokasi pembuangan harus di ratakan,
untuk menghindari dari erosi akibat hujan.
Perubahan atau penambahan dari luasan lokasi pembuangan untuk kenyamanan
dari Penyedia sendiri adalah merupakan tanggung jawab dan atas biaya dari
Penyedia serta harus mendapatkan persetujuan dari Direksi.
Penyedia harus mengajukan izin kepada Direksi paling lambat 14 (empat belas)
hari untuk mendapatkan persetujuan berkenaan dengan pembuangan material di
tempat lain selain dari lokasi yang telah disetujui dan untuk perlindungan material
dari erosi.
Biaya pengangkutan pembuangan material galian ke tempat pembuangan dan
untuk perawatan dari lokasi pembuangan yang ditentukan disini harus sudah
terangkum dalam harga satuan per meter kubik untuk pekerjaan galian.

3.7. Longsoran di Talud


Penyedia harus mengambil tindakan pencegahan, yang diperlukan, untuk
mencegah terjadinya longsoran dari talud dan tanggul. Dalam hal terjadinya
longsoran, Penyedia harus memperbaiki semua pekerjaan dan kerusakan yang
bersangkutan dan melaksanakan setiap perubahan yang diperlukan sesuai perintah
Direksi.
3.8. Pelaksanaan Penimbunan
Permukaan tanah pada lokasi rencana pembuatan tanggul harus dibersihkan dan
dikupas atau digali hingga mencapai kedalaman yang ditunjukan dalam gambar.
Permukaan tanah yang telah dikupas atau digali tersebut, sebelum pekerjaan
timbunan untuk tanggul saluran maupun tanggul banjir harus dibuat alur-alur
terbuka sedalam 20.00 cm dengan jarak antara alur lebih kurang 1.00 meter.
Sebelum mulai menimbun, permukaan tanahnya digaruk sampai kedalaman yang
lebih besar dari retak-retak tanah yang ada dan paling tidak sampai kedalaman
0.15 m, dan kadar air tanah yang digaruk harus dijaga, baik secara pengeringan
alami atau pembasahan dengan alat semprot.
Kalau pelaksanaan pemadatan terhenti, permukaan dari timbunan harus digaruk
kembali dan kadar airnya diperiksa kembali sebelum pekerjaan timbunan atau
pemadatan dilanjutkan.
Sebelum pekerjaan penimbunan dilakukan, semua lubang-lubang dan bekas-bekas
yang terjadi pada permukaan tanah, harus diratakan.
Untuk semua pekerjaan tanggul harus dibangun hingga mencapai garis elevasi
yang ditunjukan pada gambar atau yang ditentukan oleh Direksi. Tanah timbunan
untuk tanggul harus bersih dari tunggul-tunggul pohon, akar, rumput, humus-
humus dan unsur lain yang bisa membusuk.
Penyedia harus memperhitungkan tambahan pengisian pemadatan sendiri, dan
penurunan dari tanggul, baik disebutkan atau tidak, maka tinggi, lebar dan ukuran
yang ditunjuk dalam gambar-gambar, harus dilebihkan (freeboard), sehingga
setelah penurunan selesai dan tanggul dirapihkan maka akan tercapai
dimensi/ukuran sesuai dengan gambar.
Secara berurutan material harus ditempatkan agar supaya menghasilkan distribusi
material yang baik sesuai dengan yang disetujui oleh Direksi dan dimana
diperlukan untuk mencapai tujuan ini Direksi akan menunjuk lokasi di area
timbunan dimana material akan ditempatkan.
Penimbunan harus dilakukan lapis perlapis dengan ketebalan maksimum
hamparan material sebelum dipadatkan adalah 30 cm. Penghamparan dan
pemadatan material pada sisi kemiringan luar atau dalam supaya dilebihkan
minimal 30 cm dari garis rencana agar pada saat setelah perapihan didapat
kepadatan yang sama diseluruh bidang rencana. Bila dianggap perlu, Direksi bisa
meminta pada Penyedia untuk melasanakan pemadatan khusus di tempat-tempat
tertentu tanpa mengubah harga satuan.
Hasil akhir pekerjaan timbunan untuk saluran diatas tanah asli harus rapat air dan
tidak boleh ada rembesan pada tanah timbunan yang dianggap membahayakan
oleh /Direksi, maka Penyedia wajib memperbaikinya tanpa ada biaya
penggantian.
Ketika masing-masing lapisan material telah dikondisikan untuk kadar air yang
diperlukan, kepadatan kering lapangan yang dihasilkan minimal 90 % (sembilan
puluh persen) dari kepadatan kering maksimum laboratorium.
Setiap lapis dari material timbunan harus memenuhi kadar air untuk pemadatan
yang dibutuhkan dengan menggunakan alat vibrator roller dengan berat lebih dari
9 (sembilan) ton atau alat pemadat lain yang telah disetujui. Ini akan dapat
dipenuhi dengan dilewati alat pemadat kira-kira 6 (enam) lintasan setiap lapis
(sama dengan lebar kepadatan yang dibutuhkan, bagaimanapun Direksi boleh
mengubah jumlah lintasan dari alat vibrator roller tergantung dari uji coba
timbunan/trial embankment.
Untuk mendapatkan acuan kerja lapangan diperlukan uji coba (trial test) timbunan
dengan menggunakan peralatan yang akan digunakan Penyedia di lapangan. Uji
percobaan ini harus disaksikan oleh Direksi dan dibuat berita acaranya.
Selanjutnya tes kepadatan dilakukan per 50 meter panjang saluran per lapis
timbunan.
Pembayaran pekerjaan timbunan sudah termasuk penggalian di tempat asal
material, pengangkutan, penghamparan, penyiraman (bila perlu), pemadatan dan
tes kepadatan dihitung dalam meter kubik timbunan terlaksana sesuai garis
rencana atau sesuai perintah Direksi.
Penyedia harus merawat timbunan yang telah disetujui hingga akhir penyelesaian
dan penerimaan dari pekerjaan. Penyedia harus bertanggungjawab terhadap erosi
dari permukaan timbunan dan setiap material timbunan yang hilang akibat erosi
harus diganti oleh biaya Penyedia.
Penyedia harus hati-hati dalam pemadatan material timbunan yang berdekatan /
berada di sekitar struktur beton. Kerusakan apapun yang berakibat pada struktur
beton oleh peralatan Penyedia harus diperbaiki dengan biaya Penyedia.
Untuk material yang ditempatkan berdekatan dengan struktur beton,
penempatannya harus ditunda atau menunggu hingga struktur telah mencapai
umur 28 hari atau seperti arahan Direksi. Material akan ditempatkan sepanjang
mungkin disekitar struktur beton untuk memperkecil pembebanan tidak seimbang
pada struktur, yang mana telah dipertimbangkan dalam perencanaan.

3.9.1. Kontrol Pengendalian Pengujian untuk Pekerjaan Timbunan


Semua pengujian rutin yang penting bagi pengendalian mutu dari
pekerjaan timbunan harus dilaksanakan oleh Penyedia seperti yang
ditetapkan sesudah ini atau seperti arahan Direksi.
Penyedia akan bertanggungjawab penuh terhadap pengendalian mutu
dari pekerjaan yang dilaksanakan. Direksi akan melakukan pemeriksaan
dan meneliti semua pekerjaan yang dilaksanakan oleh Penyedia dalam
rangka bahwa Penyedia dapat memenuhi kualitas yang dibutuhkan dan
melaksanakan tes dan pengambilan contoh uji (sample) agar dapat
memenuhi spesifikasi teknik. Direksi akan dan berhak untuk menolak
semua atau sebagian dari pekerjaan yang dilakukan oleh Penyedia jika
pekerjaan tidak dapat memenuhi kebutuhan yang ditetapkan dalam
spesifikasi teknik. Dalam kasus demikian Penyedia akan membongkar
dan mengerjakan ulang dari pekerjaan yang tidak memenuhi dengan
biaya sendiri.
Penyedia akan menyediakan peralatan dan perlengkapan uji dan
menyediakan semua tenaga ahli yang dibutuhkan untuk melaksanakan
semua uji yang diperlukan untuk memenuhi kewajiban menurut
spesifikasi dibawah pengawasan dari Direksi.
Tidak ada pembayaran terpisah untuk pengujian pengendalian mutu.
Semua biaya untuk pelaksanaan uji pengendalian mutu termasuk semua
tenaga, material, peralatan konstruksi dan peralatan, pengambilan contoh
dan
pengujiannya harus sudah termasuk dalam harga satuan dalam BoQ.
3.9.2. Operasi dari Borrow area
Penyedia harus bertanggungjawab penuh terhadap operasi di borrow
area dibawah pengawasan dan instruksi Direksi.
Apabila secara teknis, bahan timbunan dari hasil galian setempat tidak
memungkinkan untuk dipakai, maka harus diambil dari tanah luar
(Borrow area) sesuai yang ditunjukan dalam gambar atau atas perintah
Direksi. Penyedia harus membayar ganti rugi kepada pemilik daerah
tersebut dalam memperoleh tanah timbunan sebagaimana yang
ditunjukan oleh Direksi. Biaya ganti rugi tanah timbunan, biaya
pengupasan dan penggalian tanah telah termasuk dalam harga satuan
penawaran.
Sedapat mungkin kadar air dari bahan tanah timbunan harus diatur dan
dijaga sebelum digali dari lokasi borrow-area, dengan cara memberi atau
menambah air dengan mengalirkannya (bila kurang basah) atau dengan
menggali saluran atau parit pembuang untuk mengurangi kelebihan air.
Material akan di dapatkan dari kebutuhan galian dan borrow area seperti
yang ditunjukkan dalam gambar kerja dan dari kebutuhan dengan galian,
jika demikian mendapat persetujuan tertulis dari Direksi.
Garis batas dari borrow area seperti ditunjukkan dalam gambar kerja
hanya kira-kira dan mungkin akan meluas jika diperlukan dengan
persetujuan dari Direksi. Pada saat perluasan Penyedia tidak akan
mengajukan tambahan biaya terhadap harga satuan untuk material
tersebut dalam BoQ.
Tidak kurang dari 30 (tiga puluh) hari sebelum dimulainya
pengoperasian di lokasi tersebut Penyedia harus mengajukan kepada
Direksi untuk mendapat persetujuan mengenai kelengkapan dari usulan
metode pengoperasian di borrow area, termasuk urutan pengoperasian,
kedalaman pengambilan material dan uraian dari rencana borrow area
yang diusulkan. Apabila terdapat perbedaan tinggi dalam pengoperasian
di borrow area horisontal berm akan dibentuk dan borrow area akan
ditinggalkan dalam keadaan rapi dan dalam kondisi aman untuk
kepuasan Direksi. Dengan demikian Penyedia tidak diizinkan untuk
memulai melaksanakan pekerjaan tersebut sebelum mendapat
persetujuan Direksi.
Lokasi galian pengambilan tanah timbunan harus dibersihkan terlebih
dahulu dan bebas dari kotoran dan sisa-sisa akar pohon, dan secara
seksama dikupas dan dihilangkan bahan-bahan organiknya seperti
rumput, lapisan tanah permukaan dan akar pohon, dengan demikian
tanah timbunan tidak mengandung tunggul, semak belukar, akar, rumput,
humus, gumpalangumpalan tanah dan unsur lain yang mudah membusuk.
Borrow area harus dioperasikan sehingga tidak merusak kegunaan dari
segala bagian dari pekerjaan. Apabila terdapat material yang mempunyai
ukuran lebih dari tiga puluh (30 cm) sentimeter di lokasi borrow area
maka material tersebut harus di pisahkan atau dibuang oleh Penyedia
atau pada saat material sebelum dipadatkan.
Setelah penggalian selesai di borrow area, material kupasan (stripped)
(termasuk material humus dan material tidak dipergunakan yang
mungkin akan ditimbunkan kembali) harus dikembalikan ke borrow area
di mana pada saatnya akan ditutup seperti arahan Direksi untuk
memelihara kesuburan lahan dan mencegah resiko terhadap ternak dan
orang.
Jika dilokasi manapun di borrow area (sebelum atau selama operasi
penggalian) terdapat daerah yang terlalu basah, akan diambil langkah
yang memungkinkan untuk mengurangi kandungan air dengan jalan
pemilihan daerah galian untuk menjamin material dalam kondisi tidak
jenuh air atau dengan cara di jemur atau material di tempatkan dilokasi
stock yang telah di setujui oleh Direksi dan apabila ditemukan kelebihan
kandungan air diijinkan untuk dikeringkan atau dengan menggunakan
alat lain yang telah disetujui.
Pada akhir penyelesaian dari pelaksanaan pekerjaan pembuatan tanggul,
Penyedia harus mengatur dalam borrow area tersebut dengan suatu cara
sedemikian rupa agar elevasi permukaan tanah disekitarnya dan
permukaan tanah borrow area sama tinggi, sehingga air hujan tidak
tergenang di lokasi tersebut kecuali ditentukan lain oleh Direksi.
Untuk menghindari terbentuknya kolam air di borrow area, parit saluran
dari borrow area ke pengeluaran terdekat harus di buat oleh Penyedia
dimana jika parit saluran tersebut diperlukan.
Penyedia tidak diijinkan memindahkan atau membawa material dari
borrow area untuk keperluan Penyedia dan atas kemauan sendiri tanpa
persetujuan dari Direksi.
Kecuali ditentukan lain, tidak ada pembayaran langsung untuk biaya
persiapan, operasi dan pemeliharaan borrow area termasuk pembersihan,
pengupasan, penggalian dan pekerjaan-pekerjaan lain yang diperlukan
hingga syarat-syarat timbunan tersebut sesuai untuk digunakan dalam
pekerjaan pembuatan tanggul.
Akan tetapi biaya tersebut akan diperhitungkan dalam harga satuan pada
sub pasal yang ada sangkut pautnya untuk pekerjaan pembuatan tanggul,
dimana tanah timbunan diambil dari Borrow area.
Pemadatan timbunan tanah harus dilaksanakan hanya jika kadar air
bahan berada dalam rentang 3 % di bawah kadar air optimum sampai 1%
di atas kadar air optimum. Kadar air optimum harus didefinisikan sebagai
kadar air pada kepadatan kering maksimum yang diperoleh jika tanah
dipadatkan sesuai dengan SNI 03-1742-1989 tentang Metode Pengujian
Kepadatan Ringan untuk Tanah.
Timbunan harus dipadatkan mulai dari tepi luar dan bergerak menuju ke
arah sumbu tanggul sedemikian rupa sehingga setiap ruas akan menerima
jumlah energi pemadatan yang sama.

3.9. Pekerjaan Timbunan dengan Menggunakan Alat Berat


Di dalam praktek tidak mudah menetapkan berapa banyak air yang diperlukan
pada saat pemadatan, kecuali pelaksana yang sudah berpengalaman sekali. Tetapi
untuk pedoman kasar, adalah sebagai berikut :
a. Bila selama pemadatan timbul debu, berarti kadar air kurang;
b. Bila selama pemadatan, tanah keluar airnya (becek) berarti kadar airnya
terlalu tinggi.

Hal-hal yang berpengaruh terhadap kepadatan adalah :


a. Tebal lapisan tanah lepas, yang akan dipadatkan;
b. Berat dan energi alat pemadat;
c. Banyaknya lintasan pemadatan;
d. Kadar air.

Urutan pelaksanaan, sebagai berikut :


a) Percobaan Pemadatan
 Hamparkan tanah lepas setebal yang kita kehendaki, diatas permukaan
yang telah dipadatkan seperlunya (biasanya dalam spesifikasi teknik
ditetapkan tidak boleh lebih dari 30 cm)
 Semprotkan air, bila dirasakan hamparan tanah kadar airnya masih
kurang (tetapi lebih baik agak kurang daripada kelebihan)
 Kemudian dipadatkan dengan alat pemadat Vibro Roller atau Sheep Foot
Roller dan dicoba misalnya dengan 6 lintasan. Sesudah itu diambil
sampel tanah dan diukur kepadatannya (berat volume keringnya). Bila
ternyata masih kurang padat, maka lintasan pemadatan ditambah lagi,
misalnya ditambah dua lintasan. Bila tingkat kepadatannya telah dicapai,
maka cara-cara tersebut dipakai sebagai pedoman selanjutnya.
b) Pemadatan Timbunan
 Dasar tanah yang akan ditimbun, dipadatkan seperlunya, sesuai
persyaratannya.
 Tanah timbunan yang diambil dari quarry atau lokasi galian, dibawa
dengan Dump Truck, ditumpahkan di lokasi tempat timbunan yang telah
dipersiapkan. Jarak tumpukan diatur sedemikian, sehingga bila dihampar
dengan ketebalan 30 cm seluruh permukaan dapat tertimbun.
 Tumpahan tanah dari Dump Truck digusur/diratakan dengan Bulldozer
atau Grader untuk mencapai ketebalan hamparan kurang lebih 30 cm.
Perhatikan kadar airnya secara visual .
 Bila musim hujan, sebaiknya hamparan tanah dibatasi seperlunya saja,
dan dilindungi/ditutupi dengan terpal. Bila hujan cukup deras, pekerjaan
harus dihentikan.
 Lapisan pertama tersebut sebaiknya melebihi lebar kaki timbunan kurang
lebih 50 cm, dikanan dan dikiri. Kemudian setelah kadar air dinilai
cukup, langsung dipadatkan dengan Vibro Roller atau Sheep Foot Roller
dengan lintasan sebanyak percobaan pemadatan yang telah dilakukan
 Bidang pemadatan harus overlapping kurang lebih 15 cm, agar seluruh
permukaan terpadatkan. Lapisan pertama yang telah selesai dipadatkan,
diambil sampelnya setiap jarak 50 meter (atau sesuai spesifikasi), dan
diperiksa kepadatannya .
 Bila kepadatannya telah memenuhi syarat, maka lapisan berikutnya baru
diperbolehkan untuk dihampar .
 Pemadatan lapisan pertama dan kedua dilakukan diantara dua profil yang
ada (daerah profil dilewati dulu) Sesudah dua lapisan selesai dan dapat
dipakai sebagai pedoman, maka profil dapat dibongkar untuk ditimbun
mengikuti lapisan-lapisan yang telah selesai .
 Timbunan dan pemadatan harus dilakukan lapis demi lapis. Untuk
menjamin mutu timbunan (yang berbentuk tanggul) penimbunan
diteruskan sampai separuh kedalaman saluran (untuk saluran yang tidak
lebar)
 Sisa kepala tanggul (di kanan-kiri) ditimbun dari hasil galian profil
saluran, dan juga dipadatkan lapis demi lapis. Dalam proses
pembentukan tanggul harus dipedomani lagi dengan profil saluran.
 Agar diingat bahwa apabila lebar tanggul kurang dari rencana (desain),
penambahan akan sulit, tidak boleh langsung ditambal dari samping.
 Tambahan/pelebaran tanggul yang sudah jadi harus lapis demi lapis dari
bawah dan dengan sambungan bertangga

4. PENGENDALIAN MUTU

4.1. Pekerjaan Galian


a) Penerimaan bahan
1) Pengujian contoh harus dilakukan untuk setiap lapisan tanah dan
batuan yang berbeda.
2) Bahan yang diterima sudah diklasifikasikan ke dalam galian biasa,
galian batu, galian bangunan
b) Pemeriksaan mutu bahan
1) Untuk pekerjaan galian lereng tanah harus dilakukan pemeriksaan
sudut geser dalam, φ dan kohesi tanah beserta informasi mengenai
sumber mata air dan ketinggian muka air tanah.
2) Untuk pekerjaan galian batu harus dilakukan pemeriksaan tingkat
pelapukan (slake durability) dan informasi batuan yang meliputi
kekar, kemiringan.
3) Galian bangunan.
a) Untuk galian lantai pondasi, tembok beton penahan tanah dan
bangunan pemikul beban lainnya, harus dilakukan pemeriksaan
klasifikasi tanah, tingkat kepadatan (konsistensi) dan informasi
kedalaman muka air tanah.
b) Pekerjaan yang berhubungan dengan drainase sebaiknya
dilakukan analisa butir tanah.
c) Pekerjaan yang berhubungan dengan pemompaan, harus
dilakukan pemeriksaan berkaitan dengan kemungkinan bahaya
piping, terutama untuk data ketinggian muka air, jenis tanah
tempat pemompaan dan analisa butir.
d) Pekerjaan yang memerlukan penimbunan kembali harus
memperhatikan mengenai pengendalian mutu timbunan.
e) Pekerjaan yang berhubungan dengan galian buangan ,
pemeriksaan dilakukan pada lokasi tempat pembuangan, yakni
pemeriksaan “kestabilan”, parameter longsoran dan parameter
daya dukung tanah setempat.

4.2. Pekerjaan Timbunan


a) Penerimaan bahan
1) Jumlah data pendukung hasil pengujian yang diperlukan untuk
persetujuan awal mutu bahan akan ditetapkan oleh Pejabat Pembuat
Komitmen/PPK, tetapi bagaimanapun juga harus mencakup seluruh
pengujian yang disyaratkan dalam dengan paling sedikit tiga contoh
yang mewakili setiap sumber bahan yang diusulkan, yang dipilih
mewakili rentang mutu bahan yang mungkin terdapat pada sumber
bahan.
2) Setelah persetujuan mutu bahan timbunan yang diusulkan, Pejabat
Pembuat Komitmen/PPK dapat memintakan pengujian mutu bahan
ulang lagi agar perubahan bahan atau sumber bahannya dapat diamati.
b) Pengujian mutu bahan
Suatu program pengendalian pengujian mutu bahan rutin harus dilaksanakan
untuk mengendalikan perubahan mutu bahan yang dibawa ke lapangan.
Jumlah pengujian harus seperti yang diperintahkan oleh Pejabat Pembuat
Komitmen/PPK tetapi untuk setiap 1000 meter kubik bahan timbunan yang
diperoleh dari setiap sumber bahan paling sedikit harus dilakukan suatu
pengujian untuk menentukan ekspansif tidaknya bahan timbunan, yang
ditentukan oleh nilai aktif.
c) Percobaan Pemadatan di lapangan
Penyedia harus bertanggungjawab dalam memilih metode dan peralatan
untuk mencapai tingkat kepadatan yang disyaratkan. Jika Penyedia tidak
sanggup mencapai kepadatan yang disyaratkan, prosedur pemadatan berikut
ini
harus diikuti :
Percobaan lapangan harus dilaksanakan dengan variasi jumlah lintasan
peralatan pemadat dan kadar air sampai kepadatan yang disyaratkan tercapai
sehingga dapat diterima oleh Pejabat Pembuat Komitmen/PPK. Hasil
percobaan lapangan ini selanjutnya dapat digunakan Penyedia untuk
menetapkan pola lintasan pemadatan, jumlah lintasan, jenis alat pemadat
dan kadar air untuk seluruh pemadatan berikutnya.

5. PENGUKURAN DAN PEMBAYARAN

5.1. Pengukuran
5.1.1. Pekerjaan Pembersihan
Volume untuk dasar pembayaran pekerjaan pembersihan adalah harga
satuan permeter persegi, kecuali ditentukan lain oleh Direksi sampai
batas yang wajar. Pembayaran pekerjaan pembersihan termasuk upah
pekerja, harga-harga bahan dan perlengkapan lain yang diperlukan
untuk menebang, membabat dan menebar disekitar lokasi.
5.1.2. Pekerjaan Kupasan/stripping
Volume untuk dasar pembayaran pekerjaan kupasan/stripping adalah
harga satuan per meter persegi, kecuali ditentukan lain oleh Direksi
sampai batas yang wajar. Pembayaran pekerjaan pembersihan termasuk
upah pekerja, harga-harga bahan dan perlengkapan lain yang diperlukan
untuk menggali, dan mengangkutnya disekitar lokasi.
5.1.3. Pekerjaan Galian
Harga satuan untuk pekerjaan galian ini termasuk tenaga kerja dan
alat/excavator dengan jarak angkut ke lokasi stockpile/lokasi timbunan
dan pembuangan ke lokasi di luar daerah kerja sejauh kurang dari 1.00
km tidak diperhitungkan. Untuk jarak pembuangan yang lebih jauh
maka akan diperhitungkan dalam pekerjaan pembuangan sisa galian.
Kecuali untuk material bahan galian yang selanjutnya akan
dipergunakan oleh Penyedia untuk pekerjaan lain, maka pekerjaan
pembuangan tidak diperhitungkan.
Galian saluran dan struktur lain yang terkait akan termasuk semua
kebutuhan galian untuk mencapai garis, ketinggian dan ukuran seperti
ditunjukan dalam gambar atau seperti diarahkan oleh Direksi, termasuk
galian di tempat/local atau dental, perawatan pondasi dan semua galian
yang lain dalam area kerja.
Pekerjaan galian di luar ketentuan seperti di atas harus diukur untuk
pembayaran sebagai volume di tempat dalam meter kubik bahan yang
dipindahkan, setelah dikurangi bahan galian yang digunakan dan
dibayar sebagai timbunan biasa atau timbunan pilihan dengan faktor
penyesuaian berikut ini :
(1) Bahan Galian Biasa yang dipakai sebagai timbunan harus dibagi
dengan penyusutan (shrinkage) sebesar 0,85 yang mengacu pada
SNI 03-3422-1994, tentang Metode Pengujian Batas Susut Tanah.
(2) Bahan Galian Batu yang dipakai sebagai timbunan harus dibagi
dengan faktor pengembangan (swelling) sebesar 1,2 yang mengacu
pada SNI 13-6425-2000 tentang Metode Pengujian Indeks
Pengembangan Tanah.
Dasar perhitungan ini haruslah gambar penampang melintang profil
tanah asli sebelum digali yang telah disetujui dan gambar pekerjaan
galian akhir meliputi garis, kelandaian dan elevasi sebagai yang
disyaratkan atau diterima. Metode perhitungan haruslah metode luas
ujung rata-rata, menggunakan penampang melintang pekerjaan dengan
jarak tidak lebih dari 25 meter.
a) Pekerjaan galian yang dapat dimasukkan untuk pengukuran dan
pembayaran menurut Bagian ini akan tetap dibayar sebagai galian
hanya jika bahan galian tersebut tidak digunakan dan dibayar
dalam Bagian lain dari Spesifikasi ini.
b) Jika bahan galian dinyatakan secara tertulis oleh Pejabat Pembuat
Komitmen/PPK dapat digunakan sebagai bahan timbunan, namun
tidak digunakan oleh Penyedia sebagai bahan timbunan, maka
volume bahan galian yang tidak terpakai ini dan terjadi semata-
mata hanya untuk cadangan Penyedia dengan exploitasi sumber
bahan (borrow area) tidak akan dibayar.
c) Pekerjaan galian bangunan yang diukur adalah volume dari prisma
yang dibatasi oleh bidang-bidang sebagai berikut :
(1) Bidang atas adalah bidang horisontal seluas bidang dasar
pondasi yang melalui titik terendah dari terain tanah asli. Di
atas bidang horisontal ini galian tanah diperhitungkan sebagai
galian biasa atau galian batu sesuai dengan sifatnya
(2) Bidang bawah adalah bidang dasar pondasi.
(3) Bidang tegak adalah bidang vertikal keliling pondasi.
(4) Pengukuran volume tidak diperhitungkan di luar bidang-
bidang yang diuraikan di atas atau sebagai pengembangan
tanah selama pemancangan, tambahan galian karena
kelongsoran, bergeser, runtuh atau karena sebab-sebab lain.
d) Pengangkutan hasil galian ke lokasi pembuangan akhir atau lokasi
timbunan sebagaimana yang diperintahkan oleh Pejabat Pembuat
Komitmen/PPK dengan jarak yang melebihi 300 meter harus
diukur untuk pembayaran sebagai volume di tempat dalam kubik
meter bahan yang dipindahkan per jarak tempat penggalian sampai
lokasi pembuangan akhir atau lokasi timbunan dalam kilometer.
e) Harga satuan yang diperhitungkan untuk keperluan pembuangan
kelebihan volume galian ke luar daerah kerja yang disetujui oleh
Direksi adalah sejauh > 1 km. Kecuali untuk material bahan galian
yang selanjutnya akan dipergunakan oleh Penyedia untuk pekerjaan
lain maka pekerjaan pembuangan tidak diperhitungkan.
5.1.4. Pekerjaan Timbunan
Untuk timbunan yang tidak diukur dan dibayar dari volume galian maka
:
1) Timbunan harus diukur sebagai jumlah kubik meter bahan
terpadatkan yang dilaksanakan, diselesaikan di tempat dan
diterima.
Volume yang diukur harus berdasarkan gambar penampang
melintang profil tanah asli yang disetujui atau profil galian sebelum
setiap timbunan ditempatkan dan sesuai dengan garis, kelandaian
dan elevasi pekerjaan timbunan akhir yang disyaratkan dan
diterima.
Metode perhitungan volume bahan haruslah metode luas bidang
ujung, dengan menggunakan penampang melintang pekerjaan yang
berselang jarak tidak lebih dari 25 m.
2) Timbunan yang ditempatkan di luar garis dan penampang
melintang yang disetujui, termasuk setiap timbunan tambahan yang
diperlukan sebagai akibat penggalian bertangga pada atau
penguncian ke dalam lereng lama, atau sebagai akibat dari
penurunan pondasi, tidak akan dimasukkan kedalam volume yang
diukur untuk pembayaran kecuali bila :
3) Timbunan tambahan yang diperlukan untuk memperbaiki pekerjaan
yang tidak stabil atau gagal jika Penyedia tidak dianggap
bertanggung-jawab.
4) Timbunan yang digunakan dimana saja di luar batas Kontrak
pekerjaan, atau untuk mengubur bahan sisa atau yang tidak
terpakai, atau untuk menutup sumber bahan, tidak boleh
dimasukkan dalam pengukuran timbunan.

5.2. Dasar Pembayaran


5.2.1. Pekerjaan Galian
Kuantitas galian yang diukur menurut ketentuan di atas, akan dibayar
menurut satuan pengukuran dengan harga yang dimasukkan dalam
Daftar Kuantitas dan Harga untuk masing-masing Mata Pembayaran
yang terdaftar di bawah ini, dimana harga dan pembayaran tersebut
merupakan kompensasi penuh untuk seluruh pekerjaan yang berkaitan,
dan biaya yang diperlukan dalam melaksanakan pekerjaan galian
sebagaimana diuraikan dalam Bagian ini.
5.2.2. Pekerjaan Timbunan
Kuantitas timbunan yang diukur seperti diuraikan di atas, dalam jarak
angkut berapapun yang diperlukan, harus dibayar untuk per satuan
pengukuran dari masingmasing harga yang dimasukkan dalam Daftar
Kuantitas dan Harga untuk Mata Pembayaran terdaftar di bawah,
dimana harga tersebut harus sudah merupakan kompensasi penuh untuk
pengadaan, pemasokan, penghamparan, pemadatan, penyelesaian akhir
dan pengujian bahan, seluruh biaya lain yang perlu atau biaya untuk
penyelesaian yang sebagaimana mestinya dari pekerjaan yang diuraikan
dalam Bagian ini.
BAB III. DEWATERING

1. RUANG LINGKUP
Pekerjaan ini mencakup kegiatan penggalian, penanganan, pembuangan atau
penumpukan tanah atau batu atau bahan lain dari sumber bahan yang diperlukan untuk
penyelesaian dari pekerjaan dalam Kontrak ini untuk pekerjaan galian.
Pekerjaan ini mencakup kegiatan pengadaan, pengangkutan, penghamparan dan
pemadatan tanah atau bahan berbutir yang disetujui untuk pembuatan timbunan, untuk
penimbunan kembali galian pipa atau struktur dan untuk timbunan umum yang
diperlukan untuk membentuk dimensi timbunan sesuai dengan garis, kelandaian, dan
elevasi penampang melintang yang disyaratkan atau disetujui untuk penyelesaian dari
pekerjaan dalam Kontrak ini untuk pekerjaan timbunan.

2. KETENTUAN DAN PERSYARATAN

2.1 Toleransi
1) Pekerjaan Pengelak Tahapan Ganda
a) Beda tinggi tekan antara ujung hulu dan hilir mulut aliran harus selalu kurang dari
5 m.
b) Kecepatan aliran yang masuk melalui ruang antara tidak lebih dari 5 m/dt.
2) Pekerjaan Saluran Pengelak
a) Kecepatan rata-rata umumnya kurang dari 10 m/dt.
b) Berat jenis batu yang digunakan tidak boleh kurang dari 2,5 t/m3 dengan ukuran
batu berkisar antara diameter 15-30 cm.
c) Terkecuali diperintahkan lain oleh Pejabat Pembuat Komitmen/PPK, batu harus
memiliki ketebalan yang tidak kurang dari 15 cm
3) Pekerjaan Penutupan Alur Sungai
a) Konstruksi tanggul harus cukup lebar, biasanya sekitar 15 m.
b) Elevasi puncak minimal 1 m diatas elevasi muka air hulu setelah penimbunan
selesai.
c) Material yang digunakan untuk penutupan sungai adalah material quarry, baik
quarry lepas yang beratnya 500 kg – 1 ton maupun sebagai batuan urug yang
terseleksi yang digunakan dari bongkah besar dengan berat 1 sampai 5 ton.
4) Pekerjaan Bendung Pengelak
a) Desain limpasan bendung pengelak 1% atau 2 % dari umur bendungan.
b) Tinggi bendung pengelak semakin bertambah dan sejumlah proyek sekarang
menggunakan tinggi 50 meter sesuai dengan pertambahan kedalaman kerusakan
sungai dan atau sesuai dengan beda tinggi tenaga 20 atau bahkan 30 meter antara
elevasi muka air maksimum di hulu dan di hilir.
c) Berat volume untuk material kapur (ρ = 2,1) akan 3 kali lebih besar dari material
basalt (ρ = 2,9), atau blok beton (ρ = 2,4) akan memerlukan 60% lebih berat dari
blok granit (ρ = 2,7).

2.2 Persyaratan Bahan


1) Pekerjaan Pengelak Tahapan Ganda
Bahan yang digunakan dapat berupa baja bukan tahan karat, lembaran plastik kedap
air dan material lain yang biasanya tidak diperkenankan untuk bendungan permanen.
2) Pekerjaan Saluran Pengelak
a) Pasangan Batu
(1) Batu
- Batu harus bersih, keras, tanpa bagian yang tipis atau retak dan harus dari
jenis yang diketahui awet. Bila perlu, batu harus dibentuk untuk
menghilangkan bagian yang tipis atau lemah.
- Batu yang digunakan adalah batu belah atau batu bulat, batu kali yang
dipecah salah satu sisinya tidak rapuh tidak keropos, tidak berpori.
- Batu harus rata, lancip atau lonjong bentuknya dan dapat ditempatkan
saling mengunci bila dipasang bersama-sama.
- Untuk batu dari hasil galian, harus dibersihkan dari lapisan tanah yang
menyelimuti agar permukaan batu bersih.
- Berat jenis batu yang digunakan tidak boleh kurang dari 2,5 t/m3 dengan
ukuran batu berkisar antara diameter 15-30 cm. Batu bulat atau batu kali
hanya boleh digunakan setelah salah satu sisinya dipecah atau sesuai
persetujuan Pejabat Pembuat Komitmen/PPK dan digunakan bersama-
sama dengan batu belah.
- Terkecuali diperintahkan lain oleh Pejabat Pembuat Komitmen/PPK, batu
harus memiliki ketebalan yang tidak kurang dari 15 cm, lebar tidak kurang
dari satu setengah kali tebalnya dan panjang yang tidak kurang dari satu
setengah kali lebarnya.
(2) Pasir
- Pasir yang dimaksud disini lebih diutamakan pasir alam yang diambil dari
sungai atau sumber lain yang telah disetujui oleh Pejabat Pembuat
Komitmen/PPK;
- Tempat penimbunan penyimpanan harus bersih dari sampah organik,
sampah kimia, bebas dari banjir serta tidak terkontaminasi dengan bahan
lainnya, seperti air laut/garam dan lain-lainnya yang akan menurunkan
mutu pasangan batu.
3) Pekerjaan Penutupan Alur Sungai
a) Penutupan Sungai Secara Vertikal
- Material yang digunakan untuk penutupan sungai adalah material quarry,
baik quarry lepas yang beratnya 500 kg – 1 ton maupun sebagai batuan urug
yang terseleksi yang digunakan dari bongkah besar dengan berat 1 sampai 5
ton;
- Material yang digunakan unutk penutupan-penutupan penting adalah beton,
baik yang berbentuk kubus maupun struktur yang lebih kompleks;
- Berat volume untuk material kapur (ρ = 2,1) akan 3 kali lebih besar dari
material basalt (ρ = 2,9), atau blok beton (ρ = 2,4) akan memerlukan 60%
lebih berat dari blok granit (ρ = 2,7);
- Bentuk kubus akan lebih baik dalam aliran turbulen dan superkritis dan
bentuk kerakal akan lebih baik untuk kondisi-kondisi lainnya.
b) Penutupan Sungai Secara Horisontal
- Material penutupan horisontal terdiri dari batuan atau beton.
- Material yang digunakan untuk penutupan sungai adalah material quarry,
baik quarry lepas yang beratnya 500 kg – 1 ton maupun sebagai batuan urug
yang terseleksi yang digunakan dari bongkah besar dengan berat 1 sampai 5
ton;
- Material urugan batu yang diklasifikasi atau blok beton harus lebih diperketat,
sejumlah besar material lebih sesuai untuk material kuari daripada untuk
beton mana yang lebih ekonomis untuk digunakan blok beton yang besar;
- Pemilihan material berdasarkan elevasi terandah dan tidak sama dengan
elevasi rata-rata;
c) Pekerjaan Bendung Pengelak
Bahan yang digunakan dapat berupa baja bukan tahan karat, lembaran plastik
kedap air dan material lain yang biasanya tidak diperkenankan untuk bendungan
permanen.

2.3 Persyaratan Kerja


1) Pekerjaan Pengelakan Tahapan Ganda
a) Ujung bendung pengelak yang berhubungan dengan aliran harus dilindungi
dengan urugan batu-batu besar yang berat, bronjong atau turap pancang berongga
atau penuh.
b) Ruang kerja di belakang bendung harus cukup untuk penempatan alat-alat
konstruksi dan jalan masuk.
c) Beda tinggi tekan antara ujung hulu dan hilir mulut aliran harus selalu kurang dari
5 m.
2) Pekerjaan Saluran Pengelak
Kekedapan air pada dinding saluran dan lapisan lindung dapat dicapai dengan
menggunakan beton, tetapi dapat juga digunakan bahan lain (turap, urugan batu,
pasangan batu).
3) Pekerjaan Penutupan Alur Sungai
a) Konstruksi tanggul harus cukup lebar untuk jalan masuk dan ruang gerak alat
angkut, biasanya sekitar 15 m;
b) Elevasi puncak minimal 1 m diatas elevasi muka air hulu setelah penimbunan
selesai;
c) Menjaga tempat kerja agar senantiasa kering dan menjamin fasilitas sanitasi yang
memadai tersedia di lapangan untuk para pekerja;
d) Penutupan sungai pada sungai landai berpasir atau berkerakal dapat dilakukan
dengan alat keruk kapasitas besar.
4) Pekerjaan Bendung Pengelak
a) Bendung pengelak dibangun di alur sungai;
b) Desain limpasan bendung pengelak 1% atau 2 % dari umur bendung;
c) Banjir rencananya sampai pada kisaran minimal 25 tahun;
d) Kondisi tempat kerja harus senantiasa kering dan menjamin fasilitas sanitasi
cukup tersedia untuk pekerja.
5) Pekerjaan Pengeringan Pondasi
a) Alat pengeringan rembesan tersedia dalam berbagai jenis dan dapat dioperasikan
dengan baik;
b) Pada penggalian untuk keperluan struktur pondasi sampai ke bawah muka air
tanah, bagian tersebut sebelumnya harus dikeringkan terlebih dahulu untuk
memudahkan proses penggalian;
c) Proses pengeringan harus dilakukan dengan cara yang benar.

3. PELAKSANAAN PEKERJAAN
3.1 Pengelakan Tahapan Ganda
1) Urutan Pekerjaan
Untuk metode pengelak dengan dua tahap, urutannya sebagai berikut:
a) Laksanakan pembangunan bendung pengelak yang biasanya diperpanjang sampai
alur sungai untuk menyediakan ruang kerja yang kering agar konstruksi bangunan
pengeluaran permanen dan sebagian dari bendung utama dapat dikerjaan,
penggalian dapat dilakukan pada tebing lainnya untuk memperbesar penampang
sungai dan menaikkan kapasitas pengaliran;
b) Bangunan pengeluaran dan sebagian bendungan dibangun pada lokasi yang kering
di belakang bendung pengelak;
c) Bendung pengelak diperbesar dan diperpanjang ke alur sungai untuk
memperbesar lokasi kerja yang kering sebelum aliran sungai dielakkan ke
bangunan pengeluaran permanen;
d) Sebagian atau seluruh bendung pengelak dibongkar sehingga dapat melalui
bangunan pengeluaran permanen;
e) Dibangun bendung pengelak tahap kedua;
f) Bangunan permanen yang belum dilaksanakan dibangun di belakang bendung
pengelak tahap kedua;
g) Penutup sungai hanya berupa penghentian aliran melalui bangunan pengeluaran.

2) Tahap Pengelakan
Pengelakan terdiri atas dua tahap sesuai dengan SNI 03-6456.1-2000, sebagai berikut :
a) Pada tahap pertama, bendung pengelak dibangun dari tiap tebing untuk
pelaksanaan pembangkit tenaga listrik dan pintu air pelayaran, .Kecepatan
permukaan air yang masuk melalui ruang antara tidak lebih dari 5 m/dt yang
merupakan kecepatan maksimum yang dapat diterima untuk lalu lintas air di
sungai dengan kapal motor. Tiga bukaan untuk pelimpah dibuat di belakang
bendung pengelak kanan, digunakan untuk pengelak tahap kedua;
b) Tahap kedua terdiri dari pembuatan bendung pengelak di tengah alur untuk
bangunan pelimpah, bendung pengelak tahap pertama dibongkar untuk
memungkinkan aliran sungai mengalir melalui bukaan pelimpah dan dua pintu
turbin di tebing kanan tempat stasiun pembangkit tenaga listrik yang dibuat
sebelumnya. Pintu air pelayaran digunakan untuk lalu lintas air pada tahap ini.

3.2 Saluran Pengelak


Saluran pengelak kebanyakan digunakan pada lembah lebar. Saluran alami atau alur
dasar kadang-kadang digunakan, tetapi pada kenyataannya kasus diperlukan penggalian.
Oleh karena kecepatan rata-rata umumnya kurang dari 10 m/dt dan kebanyakan volume
galian sebanyak 200 m3/setiap m3/det aliran. Apabila ada tipe aliran tidak
memungkinkan untuk dihitung, model hidraulik perlu dibuat. Keadaan aliran pada bagian
masuk dn bagian keluar dengan bagian yang meruncing menggambarkan belokan tajam
dengan resiko gerusan lokal yang sangat tinggi sesuai dengan SNI 03- 6456.1-2000.

3.3 Penutupan Alur Sungai


Berdasarkan SNI 03-6456.2-2000 pekerjaan penutupan alur sungai adalah sebagai berikut
:
1) Penutupan Sungai Secara Vertikal
Kecepatan penutupan dapat mencapai 1000 ton/jam, tergantung kapasitas angkut serta
jalan masuk. Penyelesaian penutupan yang tinggi, digunakan beberapa blok yang
sangat besar (satu diantaranya diletakkan ke hulu untuk menenangkan air) yang
dirangkai dengan kabel sehingga akan sangat membantu dalam tahap yang sulit.
Kajian tentang ketersediaan kuari sangat diperlukan guna menentukan penutupan.
Penutupan sungai mempunyai dua tahapan yang sangat berbeda, yaitu:
a) Tahap pertama, apabila perbandingan antar kedalaman dan tekanan air cukup
besar, aliran belum mencapai kritis, kecepatannya yang menyinggung material
penutup lebih rendah dari kecepatan rata-rata di alur sungai. Kepadatan serta lebar
tanggul memerlukan diameter material D yang secara kasar sepadan dengan 1/3
tinggi tekan air dan dapat dikurangi menjadi ¼ jika material yang dapat diterima
hanya sedikt atau untuk beda tekan yang kecil.
b) Tahap kedua atau tahap terakhir penutupan kondisi kritis akan muncul dan tidak
dapat dihindarkan. Biasanya kondisi kritis terjadi pada saat ujung timbunan
mendekati penyambungan. Untuk mempertahankan tampang melintang yang tetap
dengan menggunakan material yang jauh lebih besar atau tetap dengan
menggunakan material kecil dengan memperkenankan banyak butir yang hilang.
Pada penutupan kecil (1,5 m sampai 2 m) dapat dihemat banyak material jika
material penutupan (yang dibatasi sampai beberapa ratus m3) ditempatkan
bulldozer dalam beberapa menit. Selama tahap akhir atau ketika aliran kritis
terjadi dalam tahap pertama, perilaku material akan serupa dengan dipergunakan
sebagai pelindung pemecah gelombang.
Penggunaan dua tanggul mengakibatkan tekanan air hampir selalu terbagi dua pada
masing-masing tanggul. Penutupan ganda lebih mudah dilaksanakan dibandingkan
dengan penutupan tunggal.

2) Penutupan Sungai Secara Horisontal


Penutupan dilakukan dengan membuat tanggul secara merata dan serentak melintang
sungai. Untuk meletakkan material secara serentak diperlukan peralatan khusus,
umumnya terdiri dari jembatan, jembatan layang, derek kabel (untuk blok sampai 10
ton atau lebih), atau ban berjalan atau kapal keruk (untuk material ukuran kecil).
Tahapan penutupan secara horisontal adalah sebagai berikut :
a) Pada tahap pertama penutupan, ukuran material ditentukan oleh tinggi tekan air.
b) Pada tahap akhir, ukuran material ditentukan oleh debit per aliran per meter pada
lereng downstream.
c) Pada tahap pertengahan (yang biasanya paling sulit), ditentukan oleh kedua
parameter yaitu oleh tinggi tekan air dan debit per eliran per meter serta produk
yang dihasilkannya misalnya energi per meter.
Ukuran material yang diperlukan dapat diperkecil dengan membuat penutupan alur
sebesar mungkin agar dapat mengurangi debit aliran per meter sehingga energi
maksimum dapat berkurang.
Pekerjaan penutupan alur sungai mengacu dan berpedoman pada.

3.4 Pekerjaan Bendung Pengelak


Berdasarkan SNI 03-6465.2-2000 pembuatan bendung pengelak dapat terbuat dari urugan
batu atau urugan tanah. Bendung urugan batu dengan membran di hulu hampir tidak
pernah digunakan karena pemasangannya memakan waktu yang sangat lama dan
kesulitan dalam pelaksanaan kaki pondasi hulu untuk membran. Penempatan inti
lempung atau urugan dengan spesifikasi dan pemeriksaan kadar air yang tepat akan
mengalami kesulitan jika harus dikerjakan dalam waktu singkat. Untuk mencapai
kekedapan pada bendung pengelak urugan sedang sampai tinggi dilakukan sebagai
berikut :
- dengan inti lempung dipasang di bawah air sebagaimana kebanyakan materialmaterial
transisi dan urugan.
- dengan diahpragma sentral yang dibangun di tempat kering atau di bawah air selama
atau setelah pengurugan.
Dinding turap pancang dapat dihubungkan dengan batuan dasar di tempat kering atau
sebagai alternatif di dalam air (kemungkinan dilengkapi dengan grouting).

3.5 Pekerjaan Pengeringan Pondasi


Penyedia sebaiknya menyediakan, memasang dan mengoperasikan segala jenis pompa
serta peralatan lainnya yang dibutuhkan untuk keperluan pengeringan rembesan pada
berbagai bagian pekerjaan dan juga untuk menjaga agar pondasi bebas dari air, sesuai
dengan ketentuan konstruksi untuk setiap jenis pekerjaan.
Metoda yang digunakan Penyedia untuk memindahkan air dari galian pondasi akan
bergantung pada persetujuan Tenaga Ahli atau Pejabat Pembuat Komitmen/PPK.
Pada penggalian untuk keperluan struktur pondasi sampai ke bawah muka air tanah,
bagian tersebut sebelumnya harus dikeringkan terlebih dahulu untuk memudahkan proses
penggalian.
Proses pengeringan harus dilaksanakan dengan cara yang benar, sehingga dapat
meNcegah terjadinya penurunan daya dukung pondasi, mempertahankan kestabilitasan
pada kaki galian, menghasilkan kegiatan konstruksi yang bebas dari genangan air, dan
menghasilkan pondasi yang kering sehingga ikatan yang baik antara pondasi dengan
material timbunan kembali.
Penyedia perlu mengontrol saluran pembuang di sepanjang galian pondasi atau di tempat-
tempat lain, untuk mencegah adanya akumulasi limpasan air.

4. PENGENDALIAN MUTU
4.1 Penerimaan Bahan
Bahan yang diterima harus diperiksa oleh pengawas penerimaan bahan dengan
mengecek/memeriksa bukti tertulis yang menunjukkan bahwa bahan-bahan yang telah
diterima harus sesuai dengan ketentuan Persyaratan Bahan Pada Pekerjaan dewatering.

4.2 Kondisi Cuaca


Dalam pelaksanaan pekerjaan dewatering harus dilakukan pada saat musim kemarau atau
tidak terjadi hujan.

5. PENGUKURAN DAN PEMBAYARAN


5.1 Pengukuran
Kuantitas pekerjaan dewatering diukur berdasarkan biaya langsung personil, peralatan
dan meterial digunakan dalam pelaksanaan pekerjaan. Biaya langsung personil meliputi
keterlibatan tenaga ahli dan tenaga pendukung. Biaya peralatan dihitung berdasarkan
biaya sewa peralatan atau pembelian. Biaya material dihitung berdasarkan volume
pekerjaan yang dilakukan.
5.2 Dasar Pembayaran
Kuantitas yang ditentukan seperti diuraikan di atas, akan dibayar dengan Harga Kontrak
per satuan pengukuran, untuk Mata Pembayaran yang terdaftar di bawah dan ditunjukkan
dalam Daftar Kuantitas dan Harga, dimana harga dan pembayaran tersebut harus
merupakan kompensasi penuh untuk penyediaan, penanganan, perawatan, semua tenaga
kerja dan setiap peralatan yang diperlukan dan semua biaya lain yang perlu dan biasa
untuk penyelesaian yang sebagaimana mestinya dari pekerjaan yang diuraikan dalam
Bagian ini.
BAB IV. PEKERJAAN PASANGAN

1. RUANG LINGKUP
Pekerjaan ini mencakup pekerjaan pasangan batu yang meliputi bronjong, pasangan batu,
pasangan batu kosong, plesteran dan siaran serta pekerjaan adukan semen.
Pekerjaan ini mencakup pekerjaan penyediaan baik batu yang diisikan ke dalam bronjong
kawat (gabion) maupun pasangan batu kosong pada landasan yang disetujui sesuai
dengan detail yang ditunjukkan dalam pada Gambar sebagaimana yang diperintahkan
oleh Pejabat Pembuat Komitmen/PPK.

2. KETENTUAN DAN PERSYARATAN


2.1. Toleransi
1) Pasangan Batu, Pasangan Batu dengan Mortar, dan Adukan Semen.
a) Sisi muka masing-masing batu dari permukaan pasangan batu dengan
mortar tidak boleh melebihi 1 cm dari profil permukaan rata-rata pasangan
batu dengan mortar di sekitarnya.
b) Untuk pelapisan selokan dan saluran air, profil permukaan rata-rata
selokan dan saluran air yang dibentuk dari pasangan batu dengan mortar
tidak boleh berbeda lebih dari 2 cm dari profil permukaan lantai saluran
yang ditentukan atau disetujui, juga tidak bergeser lebih dari 5 cm dari
profil penampang melintang yang ditentukan atau disetujui.
c) Tebal minimum setiap pekerjaan pasangan batu dengan mortar 10 cm.
d) Profil akhir untuk struktur kecil yang tidak memikul beban seperti lubang
penangkap dan lantai golak tidak boleh bergeser lebih dari 2 cm dari profil
yang ditentukan atau disetujui.
2) Pasangan Batu Kosong dan Bronjong
a) Ukuran batu, 85% minimal ukurannya sama.
b) Rongga antara batu dalam bronjong tidak boleh lebih dari 40%.
c) Lebar dan tinggi bronjong sebesar ± 5%, sedangkan terhadap panjangnya
±3%.
d) Kelebihan / tambahan pada tepi pasangan batu kosong yang horizontal
dibuat selebar 30 cm dari batu-batu yang terpilih.
2.2. Persyaratan Bahan
1) Pasangan Batu
a) Batu
i. Batu harus bersih, keras, tanpa bagian yang tipis atau retak dan harus
dari jenis yang diketahui awet. Bila perlu, batu harus dibentuk untuk
menghilangkan bagian yang tipis atau lemah.
ii. Batu yang digunakan adalah batu belah atau batu bulat, batu kali yang
dipecah salah satu sisinya tidak rapuh tidak keropos, tidak berpori.
iii. Batu harus rata, lancip atau lonjong bentuknya dan dapat ditempatkan
saling mengunci bila dipasang bersama-sama.
iv. Untuk batu dari hasil galian, harus dibersihkan dari lapisan tanah yang
menyelimuti agar permukaan batu bersih.
v. Berat jenis batu yang digunakan tidak boleh kurang dari 2,5 t/m3
dengan ukuran batu berkisar antara diameter 15-30 cm. Batu bulat
atau batu kali hanya boleh digunakan setelah salah satu sisinya
dipecah atau sesuai persetujuan Pejabat Pembuat Komitmen/PPK dan
digunakan bersama-sama dengan batu belah.
vi. Terkecuali diperintahkan lain oleh Pejabat Pembuat Komitmen/PPK,
batu harus memiliki ketebalan yang tidak kurang dari 15 cm, lebar
tidak kurang dari satu setengah kali tebalnya dan panjang yang tidak
kurang dari satu setengah kali lebarnya.
b) Pasir
i. Pasir yang dimaksud disini lebih diutamakan pasir alam yang diambil
dari sungai atau sumber lain yang telah disetujui oleh Pejabat Pembuat
Komitmen/PPK.
ii. Tempat penimbunan penyimpanan harus bersih dari sampah organik,
sampah kimia, bebas dari banjir serta tidak terkontaminasi dengan
bahan lainnya, seperti air laut/garam dan lain-lainnya yang akan
menurunkan mutu pasangan batu.
c) Adukan
Adukan harus adukan semen yang memenuhi kebutuhan dari Bagian
Adukan Semen dari Spesifikasi ini.
2) Pasangan Batu Kosong dan Bronjong
a) Kawat Bronjong yang digunakan adalah sesuai dengan spesifikasi SNI 03-
0090-1999 tentang bronjong kawat dengan Karakteristik sebagai berikut :
Spesifikasi
No. Spesifikasi Teknik Yang Dibutuhkan yang
ditawarkan
I. Jenis Barang : Bronjong Kawat Anyaman Mesin
II. Standar Mutu : SNI No. 03.0090-1999
III. Spesifikasi :
- Lulus uji mutu dari balai Uji Mutu Departemen Perindustrian
Perdagangan Sesuai standart SNI No. 03.0090-1999 dan diutaman
buatan dalam negeri.
Diameter Kawat
- Kawat Ikat Diameter 2 mm, dengan toleransi  4%
1.
a) Kawat Anyaman Diameter 2,7 mm, dengan toleransi  4%
b) Kawat Sisi Diameter 3,4 mm, dengan toleransi  4%
2. Kuat Tarik :
c) Kawat anyam kgf/mm2, minimum 41
d) Kawat Sisi kgf/mm2, minimum 41
e) Kawat pengikat kgf/mm2, minimum 41
3. Jumlah Puntiran :
f) Kawat ikat diameter 2 mm, minimum 38 kali
g) Kawat Anyaman diameter 2,7 mm, minimum 28 kali
h) Kawat Sisi diameter 3,4 mm, minimum 26 kali
4. Lapisan Seng :
i) Kawat ikat diameter 2 mm, minimum 240 gram/m2
- Kawat Anyaman diameter 2,7 mm, minimum 260 gram/m2
- Kawat Sisi diameter 3.4 mm, minimum 275 gram/m2
5. Ukuran Anyaman : 80mm x 100 mm dengan lilitan ganda
6. Ukuran Bronjong Kawat
2.00 x 1.00 x 0.50 dengan toleransi 5%
7. Diafragma / Seket : Setiap 1 (satu) meter panjang
8. Lokasi Penyerahan : Lokasi Pekerjaan

i. Penyedia Jasa harus menempatkan Bronjong Kawat dalam keadaan seperti


diuraikan dibawah ini, termasuk penyiapan permukaan tanahnya.
ii. Batu-batu yang digunakan untuk mengisi bronjong yaitu batu belah hitam
yang keras dan tidak lapuk dengan diameter 15 cm s/d 25 cm.
iii. Bronjong kotak dan bersusun harus mempunyai batas pemisah bagian
dalam dengan bahan kawat dan bentuk anyaman yang sama. Hubungan
antara bronjong harus terikat erat dengan kawat pada ujung-ujungnya
sehingga menjadi satu kesatuan. Bronjong untuk penahan tanah harus
ditempatkan bagian yang bersinggungan dengan tanah diberi lapisan ijuk.
Apabila bronjong ditempatkan pada lapisan saringan maka harus
dikerjakan dengan hati-hati untuk mencegah kerusakan kawatnya. Dan
setiap 2 (dua) meter harus dipasang patok dolken dengan Ǿ 15 cm panjang
3 meter.
iv. Batu
Batu untuk pasangan batu kosong dan bronjong harus terdiri dari batu
yang keras dan awet dengan sifat sebagai berikut :
1) Keausan agregat dengan mesin Los Angeles harus kurang dari 35 %.
2) Berat isi kering oven lebih besar dari 2,3.
3) Peyerapan Air tidak lebih besar dari 4 %.
4) Kekekalan bentuk agregat terhadap natrium sulfat atau magnesium
sulfat dalam pengujian 5 siklus (daur) kehilangannya harus kurang
dari 10 %.
Batu untuk pasangan batu kosong haruslah bersudut tajam, berat tidak
kurang dari 40 kg dan memiliki dimensi minimum 300 mm. Pejabat
Pembuat Komitmen/PPK dapat memerintahkan batu yang ukurannya lebih
besar jika kecepatan aliran sungai cukup tinggi.
v. Penempatan Pasangan Batu Kosong
1. Batu belah dan batu pecah yang dipakai dalam pasangan batu kosong
harus diletakkan pada lapisan dasar dengan cara sedemikian rupa
sehingga pasangan batu kosong yang selesai dikerjakan menjadi stabil
dan tidak akan longsor.
2. Rongga besar yang terbuka diantara batu pecah harus dihindari. Harus
diusahakan agar semua batu belah dapat dijamin dan dipasang dengan
baik pada bidang yang datar. Batu belah harus diletakkan demikian
rupa sehingga tidak menonjol diatas garis yang dicantumkan dalam
gambar atau menurut petunjuk Direksi Pekerjaan. Semua celah dalam
pasangan batu kosong harus diisi (dikunci) dengan batu pecah yang
baik. Banyaknya batu pecah yang dipakai tidak boleh melebihi
volume yang dibutuhkan untuk mengisi rongga diantara batu belah.
3. Lapisan ijuk diatas pondasi dapat dipakai sebagai lapisan dasar sesuai
dengan persyaratan atau menurut petunjuk Direksi Pekerjaan.
4. Lapisan penutup harus dibuat pada bagian atas pasangan batu kosong
dengan kemiringan yang layak sehingga dapat memperkuat lapisan
atas pasangan batu kosong. Lapisan penutup harus terdiri dari batu
pelat pilihan yang lebar diletakkan pada jalur dan arah yang sesuai
dengan gambar atau menurut petunjuk Direksi Pekerjaan.

vi. Landasan
Landasan haruslah dari bahan drainase porous dengan gradasi yang dipilih
sedemikian hingga tanah pondasi tidak dapat hanyut melewati bahan
landasan dan juga bahan landasan tidak hanyut melewati pasangan batu
kosong atau bronjong.
vii. Adukan Pengisi (Grout)
Adukan pengisi untuk pasangan batu kosong yang diberikan harus beton
fc‟ 15 MPa atau K-175 seperti yang disyaratkan.
b) Pasangan Batu dengan Mortar
a) Batu
i. Batu harus terdiri atas batu alam atau batu dari sumber bahan yang
tidak terbelah, yang utuh (sound), keras, awet, padat, tahan terhadap
udara dan air, dan cocok dalam segala hal untuk fungsi yang
dimaksud.
ii. Mutu dan ukuran batu harus disetujui oleh Pejabat Pembuat
Komitmen/PPK sebelum digunakan. Batu untuk pelapisan selokan dan
saluran air sedapat mungkin harus berbentuk persegi.
iii. Mutu batu harus sesuai dengan bahan batu pada Bagian Pekerjaan
Pasangan Batu Kosong dan Bronjong dari spesifikasi ini.
iv. Kecuali ditentukan lain oleh Gambar atau Spesifikasi, maka semua
batu yang digunakan untuk pasangan batu dengan mortar harus
mempunyai dimensi lebih besar dari 10 cm.
b) Mortar
Mortar harus merupakan adukan semen yang memenuhi ketentuan Bagian
Adukan Semen dari Spesifikasi ini.
c) Adukan Semen
a) Semen harus memenuhi ketentuan dalam SNI 15-2049-2004
b) Agregat halus harus memenuhi ketentuan dalam AASHTO M45-04
c) Kapur tohor harus memenuhi ketentuan dalam jumlah residu, letupan dan
lekukan (popping & pitting), dan penahan air sisa untuk kapur jenis N
dalam ASTM C207
d) Air
Air yang digunakan untuk campuran, perawatan, atau pemakaian lainnya
harus bersih, dan bebas dari bahan yang merugikan seperti minyak, garam,
asam, basa, gula atau organis. Air harus diuji sesuai dengan; dan harus
memenuhi ketentuan dalam SNI 03-6817-2002 Air yang diketahui dapat
diminum dapat digunakan. Jika timbul keragu-raguan atas mutu air yang
diusulkan dan pengujian air seperti di atas tidak dapat dilakukan, maka
harus diadakan perbandingan pengujian kuat tekan mortar semen dan pasir
dengan memakai air yang diusulkan dan dengan memakai air suling. Air
yang diusulkan dapat digunakan jika kuat tekan mortar dengan air tersebut
pada umur 7 hari dan 28 hari minimum 90 % kuat tekan mortar dengan air
suling pada periode perawatan yang sama.
3) Persyaratan Kerja
i. Pasangan Batu
3.1. Pengajuan Kesiapan Kerja
Penyedia harus mengirimkan contoh dari semua bahan yang akan
digunakan dan dilengkapi dengan data pengujian yang memenuhi seluruh
sifat bahan sesuai dengan pasal ini. Pekerjaan pasangan batu tidak boleh
dimulai sebelum ada persetujuan Pejabat Pembuat Komitmen/PPK.
3.2. Kondisi Tempat Kerja
Kondisi tempat kerja harus senantiasa kering dan menjamin fasilitas
sanitasi cukup tersedia untuk pekerja.
ii. Pasangan Batu Kosong dan Bronjong
Pengajuan Kesiapan Kerja
1) Dua contoh batu untuk pasangan batu kosong (rip rap) dengan lampiran
hasil pengujian seperti yang disyaratkan di atas.
2) Contoh dari keranjang kawat dengan sertifikat dari pabrik bila ada.
iii. Pasangan Batu dengan Mortar
a) Pengajuan Kesiapan Kerja
a) Sebelum mulai menggunakan setiap bahan batu yang diusulkan untuk
pekerjaan pasangan batu dengan mortar, Penyedia harus mengajukan
kepada Pejabat Pembuat Komitmen/PPK dua contoh batu yang
mewakili, masing-masing seberat 50 kg. Satu dari contoh batu akan
disimpan oleh Pejabat Pembuat Komitmen/PPK untuk rujukan selama
periode Kontrak. Hanya batu yang disetujui oleh Pejabat Pembuat
Komitmen/PPK akan digunakan dalam pekerjaan.
b) Pekerjaan pasangan batu dengan mortar tidak boleh dimulai sebelum
Pejabat Pembuat Komitmen/PPK menyetujui formasi yang telah
disiapkan untuk pelapisan.
b) Kondisi Tempat Kerja
Ketentuan yang disyaratkan dalam Persyaratan Pelaksanan Bagian
Pekerjaan Timbunan dari Spesifikasi ini tentang menjaga tempat kerja agar
senantiasa kering dan menjamin fasilitas sanitasi yang memadai tersedia di
lapangan untuk para pekerja, harus juga berlaku untuk pekerjaan pasangan
batu dengan mortar.
Spesifikasi Teknis
Detail Engineering Desain Pembangunan Embung Talun Ombo

iv. Adukan Semen


Dalam pengajuan kesiapan kerja Penyedia harus mengirimkan contoh dari
semua bahan yang akan digunakan dan dilengkapi dengan data pengujian yang
memenuhi seluruh sifat bahan sesuai dengan bagian ini.

3. PELAKSANAAN PEKERJAAN
a) Pasangan Batu
a) Pengaturan Lokasi Pembuatan Adukan
a) Lokasi pembuatan adukan perlu diatur sedemikian rupa agar dapat
menjamin kelancaran pekerjaan. Memudahkan bagi pengawas dan
menjamin tercapainya mutu adukan yang baik dan terlindung.
b) Pengadukan dilakukan sedekat mungkin dengan lokasi konstruksi yang
akan dibangun. Pasir dan semen disiapkan terpisah ditempat kering (lebih
tinggi dari tanah sekitarnya ).
c) Kotak pengaduk dipasang ditempat datar dilokasi yang memudahkan bagi
petugas pengaduk dan pengangkutan adukan ke lokasi bangunan.
d) Drum air ditempatkan didekat kotak pengaduk kotak – kotak takaran
disiapkan secukupnya dilokasi timbunan pasir dan semen. Gerobak
pengangkutan adukan dan ember disiapkan dekat kotak adukan kearah
konstruksi yang akan dibangun.
b) Persiapan Pondasi (Pasangan Batu)
a) Pondasi untuk struktur pasangan batu harus disiapkan sesuai dengan syarat
untuk Bagian Galian Spesifikasi ini.
b) Terkecuali disyaratkan lain atau ditunjukkan pada Gambar, dasar pondasi
untuk struktur dinding penahan harus tegak lurus, atau bertangga yang
juga tegak lurus terhadap muka dari dinding. Untuk struktur lain, dasar
pondasi harus mendatar atau bertangga yang juga horisontal.
c) Lapis landasan yang rembes air (permeable) dan kantung penyaring harus
disediakan jika disyaratkan sesuai dengan ketentuan.
d) Jika ditunjukkan dalam Gambar, atau yang diminta lain oleh Pejabat
Pembuat Komitmen/PPK, suatu pondasi beton mungkin diperlukan. Beton
yang digunakan harus memenuhi ketentuan dari Bagian Beton dari
Spesifikasi ini.
c) Pelaksanaan Pemasangan Batu
1) Lakukan dan periksa persiapan yang meliputi penyediaan batu, pasir dan
air dilokasi kerja, kelengkapan peralatan dan alat bantu seperti kotak
penampung adukan, penampung air, plastik pelindung hujan, tukang batu
dan buruh pembantu, tenaga dan sarana pengangkutan adukan.
2) Ratakan lantai dasar bangunan, pasang profil sesuai gambar design
bangunan. Dalam kotak dan hamparkan serta ratakan pasir setebal 5 - 10
cm sebagai lantai kerja.
3) Periksa dimensi dan elevasi profil dengan alat ukur (oleh juru ukur) dan
minta persetujuan Direksi bila telah selesai gambar kontrak.
4) Sebelum dipasang, batu harus dibersihkan dari lumpur atau tanah yang
melekat serta basahi dengan air agar ikatan dengan adukan menjadi kuat.
5) Pemasangan lapis batu pertama, diawali dengan menghamparkan adukan
setebal 3 - 5 cm, kemudian menyusun batu diatas hamparan dengan jarak 2
– 3 cm (tidak bersinggungan) pukul atau ketok-ketok batu tersebut agar
terikat kuat dengan adukan.
6) Isi rongga diantara batu-batu dengan adukan sampai penuh/mampat
dengan menggunakan sendok adukan.
7) Bila memerlukan suling-suling resapan sesuai design/kontrak (pada
dinding penahan, sayap bendung dan sebagainya). Suling dari pipa paralon
yang dibungkus ijuk diujung pipa bagian dalam dipasang bersamaan
dengan pasangan batu.
8) Letak suling resapan merupakan barisan dalam arah horizontal dengan
jarak tertentu sesuai gambar kontrak. Baris pipa suling berikutnya
(diatasnya) dipasang berselang-seling arah vertikal.
9) Apabila hujan atau setelah selesai, pasangan diitutup plastik agar pasangan
yang masih baru tersebut tidak rusak karena air hujan.
d) Pelaksanaan Kotak Adukan
a) Sebelum pemasangan, batu harus dibersihkan dan dibasahi sampai merata
dan dalam waktu yang cukup untuk memungkinkan penyerapan air
mendekati titik jenuh. Landasan yang akan menerima setiap batu juga
harus dibasahi dan selanjutnya landasan dari adukan harus disebar pada
sisi batu yang bersebelahan dengan batu yang akan dipasang.
b) Adukan dibuat dengan perbandingan 1 bagian semen dan 4 bagian pasir (1
Pc : 4 Ps)
c) Masukkan dan ratakan 2 takar pasir dalam kotak pengaduk, disusul 1 takar
semen dan 2 takar pasir berikutnya.
d) Adukan campuran kering (tanpa air) dengan cangkul sampai rata
(homogen) .
e) Tuangkan air sedikit demi sedikit sambil diaduk terus sampai diperoleh
adukan homogen. Adukan sudah baik apabila sudah terlihat lengket dan
tidak terurai saat dituang serta tidak ada yang tersisa diplat cangkul saat
dituang tidak terlalu kering, sehingga mudah digunakan.
f) Pembuatan adukan harus mengimbangi kecepatan pelaksanaan pasangan
batu. Tidak terlambat dan tidak boleh di buat terlalu banyak, adukan harus
sudah dipasang paling lama 1 jam setelah selesai diaduk.
g) Tebal dari landasan adukan harus pada rentang antara 2 cm sampai 5 cm
dan merupakan kebutuhan minimum untuk menjamin bahwa seluruh
rongga antara batu yang dipasang terisi penuh.
h) Banyaknya adukan untuk landasan yang ditempatkan pada suatu waktu
haruslah dibatasi sehingga batu hanya dipasang pada adukan baru yang
belum mengeras.
i) Jika batu menjadi longgar atau lepas setelah adukan mencapai pengerasan
awal, maka batu tersebut harus dibongkar, dan adukannya dibersihkan dan
batu tersebut dipasang lagi dengan adukan yang baru.
e) Pelaksanaan Plesteran
a) Bagian-bagian tertentu dari pasangan batu sesuai gambar design/kontrak
harus di plester. Plesteran dibuat dari campuran 1 bagian semen dan tiga
bagian pasir yang disaring atau sesuai dengan ketentuan dalam gambar
kontrak.
b) Tebal plesteran dibuat 2 - 3 cm dari permukaan batu.
f) Pelaksanaan Siaran
a) Bagian permukaan pasangan batu yang terlihat, sesuai kontrak atau
petunjuk Direksi harus disiar.
b) Siaran dibuat dari campuran 1 bagian semen dan 2 bagian pasir yang
disaring atau sesuai dengan ketentuan dalam gambar.
c) Sebelum siaran dipasang adukan pasangan diantara batu–batu halus
dikorek sampai kedalaman 1-2 cm dibawah permukaan batu untuk jenis
siar rata dan siar timbul, dan 2-3 cm untuk jenis siar tenggelam, kemudian
pasangan dibersihkan dan disiram air agar terjadi ikatan yang kuat antara
pasangan siaran.

b) Pasangan Batu Kosong dan Bronjong


1) Persiapan
Galian harus memenuhi ketentuan dari Bagian Pekerjaan Galian, termasuk
kunci pada tumit yang diperlukan untuk pasangan batu kosong dan bronjong.
Landasan harus dipasang sesuai dengan ketentuan. Seluruh permukaan yang
disiapkan harus disetujui oleh Pejabat Pembuat Komitmen/PPK sebelum
penempatan pasangan batu kosong atau bronjong.
2) Penempatan Bronjong
a) Keranjang bronjong harus dibentangkan dengan kuat untuk memperoleh
bentuk serta posisi yang benar dengan menggunakan batang penarik atau
ulir penarik kecil sebelum pengisian batu ke dalam kawat bronjong.
Sambungan antara keranjang haruslah sekuat seperti anyaman itu sendiri.
Setiap segi enam harus menerima paling sedikit dua lilitan kawat pengikat
dan kerangka bronjong antara segi enam tepi paling sedikit satu lilitan.
Paling sedikit 15 cm kawat pengikat harus ditinggalkan sesudah
pengikatan terakhir dan dibengkokkan ke dalam keranjang.
b) Batu harus dimasukkan satu demi satu sehingga diperoleh kepadatan
maksimum dan rongga seminimal mungkin. Bilamana tiap bronjong telah
diisi setengah dari tingginya, dua kawat berlebihan agar terjadi penurunan
(settlement). Sisi luar batu yang berhadapan dengan kawat harus
mempunyai permukaan yang rata dan bertumpu pada anyaman.
c) Setelah pengisian, tepi dari tutup harus dibentangkan dengan batang
penarik atau ulir penarik pada permukaan atasnya dan diikat.
d) Bilamana keranjang dipasang satu di atas yang lainnya, sambungan
vertikal harus dibuat berselang seling.

3) Penempatan Pasangan Batu Kosong


a) Pasangan batu kosong harus dibuat pada pondasi yang kuat dan pada garis
dan arah yang tercantum dalam gambar atau sesuai petunjuk Pejabat
Pembuat Komitmen/PPK.
b) Lubang-lubang pada pondasi harus diisi oleh bahan yang baik dan
dipadatkan lapis per lapis setebal 15 cm. Bila pondasinya telah disetujui
oleh Pejabat Pembuat Komitmen/PPK, maka lapisan dasar berupa lapisan
saringan pasir setebal 7,5 cm dan lapis saringan kerikil diatasnya setebal
12,5 cm atau seperti tercantum dalam gambar, harus dibuat.
c) Bahan saringan pasir dan kerikil harus menurut Spesifikasi Teknik.
Lapisan dasar harus diletakkan dengan tebal yang sama dan cukup rata,
meskipun demikian menjadi pondasi yang kuat untuk pemasangan batu
belah dan batu pecah.
d) Batu belah dan batu pecah yang dipakai dalam pasangan batu kosong
harus diletakkan pada lapisan dasar dengan cara sedemikian rupa sehingga
pasangan batu kosong yang selesai dikerjakan menjadi stabil dan tidak
akan longsor.
e) Rongga besar yang terbuka diantara batu pecah harus dihindari. Harus
diusahakan agar semua batu belah dapat dijamin dan dipasang dengan baik
pada bidang yang datar. Batu belah harus diletakkan demikian rupa
sehingga tidak menonjol diatas garis yang dicantumkan dalam gambar atau
menurut petunjuk Pejabat Pembuat Komitmen/PPK. Semua celah dalam
pasangan batu kosong harus diisi (dikunci) dengan batu pecah yang baik.
Banyaknya batu pecah yang dipakai tidak boleh melebihi volume yang
dibutuhkan untuk mengisi rongga diantara batu belah.
f) Lapisan ijuk diatas pondasi dapat dipakai sebagai lapisan dasar sesuai
dengan persyaratan atau menurut petunjuk Pejabat Pembuat
Komitmen/PPK.
g) Lapisan penutup harus dibuat pada bagian atas pasangan batu kosong
dengan kemiringan yang layak sehingga dapat memperkuat lapisan atas
pasangan batu kosong. Lapisan penutup harus terdiri dari batu pelat pilihan
yang lebar diletakkan pada jalur dan arah yang sesuai dengan gambar atau
menurut petunjuk Pejabat Pembuat Komitmen/PPK.
4) Penimbunan Kembali
Seperti ketentuan dari Pekerjaan Bagian Timbunan.
5) Penempatan Pasangan Batu Kosong yang Diisi Adukan
a) Seluruh permukaan batu harus dibersihkan dan dibasahi sampai jenuh
sebelum ditempatkan. Beton harus diletakkan di atas batu yang telah
dipasang sebelumnya selanjutnya batu yang baru akan diletakkan di
atasnya. Batu harus ditanamkan secara kokoh pada lereng dan dipadatkan
sehingga bersinggungan dengan batu-batu yang berdekatan sampai
membentuk ketebalan pasangan batu kosong yang diperlukan.
b) Celah-celah antar batu dapat diisi sebagian dengan batu baji atau batu-batu
kecil, sedemikian hingga sisa dari rongga-rongga tersebut harus diisi
dengan beton sampai padat dan rapi dengan ketebalan tidak lebih dari 10
mm dari permukaan batu-batu tersebut.
c) Lubang sulingan (weep holes) harus dibuat sesuai dengan yang
diperintahkan oleh Pejabat Pembuat Komitmen/PPK.
d) Pekerjaan ini harus dilengkapi peneduh dan dilembabi selama tidak kurang
dari 3 hari setelah selesai dikerjakan

c) Pasangan Batu dengan Mortar


a) Metode Pekerjaan
a) Metoda pekerjaan saluran pasangan batu dengan mortar yang dilaksanakan
setiap satuan waktu harus dibatasi sesuai dengan tingkat kecepatan
pemasangan yang menjamin agar seluruh pekerjaan pasangan batu hanya
dipasang dengan adukan yang baru.
b) Jika pasangan batu dengan mortar digunakan pada lereng sebagai
pelapisan selokan, maka pembentukan penampang selokan pada tahap
awal harus dibuat seolah-olah seperti tidak akan ada pasangan batu dengan
mortar. Pemangkasan tahap akhir hingga batas-batas yang ditentukan
harus dilaksanakan sesaat sebelum pemasangan pasangan batu dengan
mortar.
b) Penyiapan Formasi atau Pondasi
1) Formasi untuk pelapisan pasangan batu dengan mortar harus disiapkan
sesuai dengan ketentuan.
2) Pondasi atau galian parit untuk tumit (cut off wall) dari pasangan batu
dengan mortar atau untuk struktur harus disiapkan sesuai dengan ketentuan
Bagian Galian.
3) Landasan tembus air dan kantung saringan (filter pocket) harus disediakan
jika disyaratkan, sesuai dengan ketentuan.
c) Penyiapan Batu
a) Batu harus dibersihkan dari bahan yang merugikan, yang dapat
mengurangi kelekatan dengan adukan.
b) Sebelum pemasangan, batu harus dibasahi seluruh permukaannya dan
diberikan waktu yang cukup untuk proses penyerapan air sampai jenuh.
d) Pemasangan Lapisan Batu
a) Suatu landasan dari adukan semen paling sedikit setebal 3 cm harus
dipasang pada formasi yang telah disiapkan. Landasan adukan ini harus
dikerjakan sedikit demi sedikit sedemikian rupa sehingga permukaan batu
akan tertanam pada adukan sebelum mengeras.
b) Batu harus ditanam dengan kuat di atas landasan adukan semen
sedemikian rupa sehingga satu batu berdekatan dengan lainnya sampai
mendapatkan tebal pelapisan yang diperlukan di mana tebal ini akan
diukur tegak lurus terhadap lereng. Rongga yang terdapat di antara satu
batu dengan lainnya harus diisi adukan dan adukan ini harus dikerjakan
sampai hampir sama rata dengan permukaan lapisan tetapi tidak sampai
menutupi permukaan lapisan.
c) Pekerjaan harus dimulai dari dasar lereng menuju ke atas, dan permukaan
harus segera diselesaikan setelah pengerasan awal dari adukan dengan cara
menyapunya dengan sapu yang kaku.
d) Permukaan yang telah selesai dikerjakan harus dirawat seperti yang
disyaratkan untuk Pekerjaan Beton dalam Pengerjaan Akhir dari Bagian
Beton dari Spesifikasi ini.
e) Lereng yang bersebelahan dengan bahu jalan harus dipangkas dan
dirapikan untuk memperoleh bidang antar muka yang rapat dan halus
dengan pasangan batu dengan mortar sehingga akan memberikan drainase
yang lancar dan mencegah gerusan pada tepi pekerjaan pasangan batu
dengan mortar.
f) Pemasangan batu harus dilaksanakan dengan cara pemasangan adukan
mortar kemudian diikuti dengan batu sedemikian sehingga semua batu
akan terlapisi dengan adukan mortar. Dalam hal apapun pelaksanaan
pemasangan batu tidak boleh dilakukan dengan cara menumpuk batu
terlebih dahulu batu kemudian dituangkan adukan mortar ke atasnya.
e) Pelaksanaan Pasangan Batu Dengan Mortar Untuk Pekerjaan Struktur
a.) Tumit (cut off wall) dan struktur lainnya yang dibuat dalam galian parit di
mana terdapat kestabilan akibat daya lekat tanah atau akibat disediakannya
cetakan, harus dilaksanakan dengan mengisi galian atau cetakan dengan
adukan setebal 60 % dari ukuran maksimum batu yang digunakan dan
kemudian dengan segera memasang batu di atas adukan yang belum
mengeras. Selanjutnya adukan harus segera ditambahkan dan proses
tersebut diulangi sampai cetakan tersebut terisi penuh. Adukan berikutnya
harus segera ditambahkan lagi sampai ke bagian puncak sehingga
memperoleh permukaan atas yang rata.
b.) Jika bentuk batu sedemikian rupa sehingga dapat saling mengunci dengan
kuat, dan jika digunakan adukan yang liat, pekerjaan pasangan batu
dengan mortar untuk struktur dapat pula dibuat tanpa cetakan,
sebagaimana yang diuraikan untuk Pasangan Batu dalam Bagian Pasangan
Batu dari Spesifikasi ini.
c.) Permukaan pekerjaan pasangan batu dengan mortar untuk struktur yang
terekspos harus diselesaikan dan dirawat seperti yang disyaratkan di atas
untuk pelapisan batu.
d.) Penimbunan kembali di sekeliling struktur yang telah selesai dirawat harus
ditimbun sesuai dengan ketentuan Bagian Timbunan.

d) Adukan Semen
1) Pencampuran
a) Seluruh bahan kecuali air harus dicampur, baik dalam kotak yang rapat
atau dalam alat pencampur adukan yang disetujui, sampai campuran
menunjukkan warna yang merata, kemudian air ditambahkan dan
pencampuran dilanjutkan lima sampai sepuluh menit. Jumlah air harus
sedemikian sehingga menghasilkan adukan dengan konsistensi
(kekentalan) yang diperlukan tetapi tidak boleh melebihi 70 % dari berat
semen yang digunakan.
b) Adukan semen dicampur hanya dalam kuantitas yang diperlukan untuk
penggunaan langsung. Jika diperlukan, adukan semen boleh diaduk
kembali dengan air dalam waktu 30 menit dari proses pengadukan awal.
Pengadukan kembali setelah waktu tersebut tidak diperbolehkan.
c) Adukan semen yang tidak digunakan dalam 45 menit setelah air
ditambahkan harus dibuang.
2) Pemasangan
a) Permukaan yang akan menerima adukan semen harus dibersihkan dari
minyak atau lempung atau bahan terkontaminasi lainnya dan telah dibasahi
sampai merata sebelum adukan semen ditempatkan. Air yang tergenang
pada permukaan harus dikeringkan sebelum penempatan adukan semen.
b) Jika digunakan sebagai lapis permukaan, adukan semen harus ditempatkan
pada permukaan yang bersih dan lembab dengan jumlah yang cukup
sehingga menghasilkan tebal adukan minimum 1,5 cm dan harus dibentuk
menjadi permukaan yang halus dan rata.

4. PENGENDALIAN MUTU
a) Pasangan Batu
1) Penerimaan Bahan
Bahan yang diterima harus diperiksa oleh pengawas penerimaan bahan dengan
mengecek/memeriksa bukti tertulis yang menunjukkan bahwa bahan-bahan
yang telah diterima harus sesuai dengan ketentuan persyaratan bahan.
2) Ketentuan Lubang Sulingan dan Delatasi (Pasangan Batu)
a) Dinding dari pasangan batu harus dilengkapi dengan lubang sulingan.
Kecuali ditunjukkan lain pada Gambar atau diperintahkan oleh Pejabat
Pembuat Komitmen/PPK, lubang sulingan harus ditempatkan dengan jarak
antara tidak lebih dari 2 m dari sumbu satu ke sumbu lainnya dan harus
berdiameter 50 mm.
b) Pada struktur panjang yang menerus seperti dinding penahan tanah, maka
delatasi harus dibentuk untuk panjang struktur tidak lebih dari 20 m.
Delatasi harus 30 mm lebarnya dan harus diteruskan sampai seluruh tinggi
dinding. Batu yang digunakan untuk pembentukan sambungan harus
dipilih sedemikian rupa sehingga membentuk sambungan tegak yang
bersih dengan dimensi yang disyaratkan di atas.
c) Timbunan di belakang delatasi haruslah dari bahan Drainase Porous
berbutir kasar dengan gradasi menerus yang dipilih sedemikian hingga
tanah yang ditahan tidak dapat hanyut jika melewatinya, juga bahan
Drainase Porous tidak hanyut melewati sambungan.
3) Pekerjaan Akhir Pasangan Batu
1) Sambungan antar batu pada permukaan harus dikerjakan hampir rata
dengan permukaan pekerjaan, tetapi tidak sampai menutup batu,
sebagaimana pekerjaan dilaksanakan.
2) Terkecuali disyaratkan lain, permukaan horisontal dari seluruh pasangan
batu harus dikerjakan dengan tambahan adukan tahan cuaca setebal 2 cm,
dan dikerjakan sampai permukaan tersebut rata, mempunyai lereng
melintang yang dapat menjamin pengaliran air hujan, dan sudut yang
dibulatkan. Lapisan tahan cuaca tersebut harus dimasukkan ke dalam
dimensi struktur yang disyaratkan.
3) Segera setelah batu ditempatkan, dan sewaktu adukan masih baru, seluruh
permukaan batu harus dibersihkan dari bekas adukan.
4) Permukaan yang telah selesai harus dirawat seperti yang disyaratkan untuk
Pekerjaan Beton.
5) Jika pekerjaan pasangan batu yang dihasilkan cukup kuat, dan dalam
waktu yang tidak lebih dini dari 14 hari setelah pekerjaan pasangan selesai
dikerjakan, penimbunan kembali harus dilaksanakan seperti disyaratkan,
atau seperti diperintahkan oleh Pejabat Pembuat Komitmen/PPK, sesuai
dengan ketentuan yang berkaitan dengan Bagian Pekerjaan Timbunan.
6) Lereng yang bersebelahan dengan bahu jalan harus dipangkas dan untuk
memperoleh bidang antar muka rapat dan halus dengan pasangan batu
sehingga akan memberikan drainase yang lancar dan mencegah gerusan
pada tepi pekerjaan pasangan batu.
4) Perbaikan dari Pekerjaan yang Tidak memuaskan atau Rusak
 Pekerjaan pasangan batu yang tidak memenuhi toleransi yang diberikan di
atas harus diperbaiki oleh Penyedia dengan biaya sendiri, dengan cara
yang diperintahkan oleh Pejabat Pembuat Komitmen/PPK.
 Penyedia harus bertanggung jawab atas kestabilan dan keutuhan dari
semua pekerja yang telah diselesaikannya dan harus dengan biayanya
sendiri untuk menukar dan mengganti setiap bagian yang rusak atau tidak
baik, yang menurut Direktur Pekerjaan disebabkan oleh kelalaian
Penyedia. Penyedia tidak diminta pertanggungjawabannya terhadap
kerusakan akibat bencana alam, seperti angin topan atau tanah longsor
yang tidak dapat dihindari di tempat pekerjaan, asalkan pekerjaan tersebut
telah diterima dan dinyatakan secara tertulis bisa diterima alasannya oleh
Pejabat Pembuat Komitmen/PPK.
b) Pasangan Batu Kosong dan Bronjong
Bahan yang diterima harus diperiksa oleh pengawas penerimaan bahan dengan
mengecek/memeriksa bukti tertulis yang menunjukkan bahwa bahan-bahan yang
telah diterima harus sesuai dengan ketentuan persyaratan bahan di atas
c) Pasangan Batu dengan Mortar
1) Penerimaan Bahan
Bahan yang diterima harus diperiksa oleh pengawas penerimaan bahan dengan
mengecek/memeriksa bukti tertulis yang menunjukkan bahwa bahan-bahan
yang telah diterima sesuai dengan ketentuan persyaratan bahan di atas.
2) Perbaikan Terhadap Pekerjaan Yang Tidak Memenuhi Ketentuan
a) Pekerjaan pasangan batu dengan mortar yang tidak memenuhi toleransi
yang disyaratkan dalam persyaratan bahan di atas dari Spesifikasi ini harus
diperbaiki oleh Penyedia dengan biaya sendiri dan dengan cara yang
diperintahkan oleh Pejabat Pembuat Komitmen/PPK.
b) Jika kestabilan dan keutuhan dari pekerjaan yang telah diselesaikan
terganggu atau rusak, yang menurut pendapat Pejabat Pembuat
Komitmen/PPK diakibatkan oleh kelalaian Penyedia, maka Penyedia harus
mengganti dengan biayanya sendiri untuk setiap pekerjaan yang terganggu
atau rusak. Penyedia tidak bertanggungjawab atas kerusakan yang timbul
berasal dari alam seperti angin topan atau pergeseran lapisan tanah yang
tidak dapat dihindarkan, dengan syarat pekerjaan yang rusak tersebut telah
diterima dan dinyatakan secara tertulis oleh Pejabat Pembuat
Komitmen/PPK telah selesai.
3) Pemeliharaan Pekerjaan Yang Telah Diterima
Tanpa mengurangi kewajiban Penyedia untuk melaksanakan perbaikan
terhadap pekerjaan yang tidak memenuhi ketentuan atau gagal sebagaimana
disyaratkan di atas, Penyedia juga harus bertanggungjawab atas pemeliharaan
rutin dari semua pekerjaan pasangan batu dengan mortar untuk drainase yang
telah selesai dan diterima selama sisa Periode Kontrak termasuk Periode
Pemeliharaan. Pekerjaan pemeliharaan rutin tersebut harus dilaksanakan dan
harus dibayar terpisah.
d) Adukan Semen
a) Adukan Semen
Adukan yang digunakan untuk pekerjaan akhir atau perbaikan kerusakan pada
pekerjaan beton, sesuai dengan Pasal yang bersangkutan dari Spesifikasi ini,
harus terdiri dari semen dan pasir halus yang dicampur dalam proporsi yang
sama dalam beton yang sedang dikerjakan atau diperbaiki. Adukan yang
disiapkan harus memiliki kuat tekan yang memenuhi ketentuan yang
disyaratkan untuk beton dimana adukan semen dipakai.
b) Adukan Semen untuk Pasangan
Kecuali diperintahkan lain oleh Pejabat Pembuat Komitmen/PPK, adukan
semen untuk pasangan harus mempunyai kuat tekan paling sedikit 50 kg/cm2
pada umur 28 hari. Dalam adukan semen tersebut kapur tohor dapat
ditambahkan sebanyak 10% berat semen.
5. PENGUKURAN DAN PEMBAYARAN
i. Pengukuran
a. Pasangan Batu
1. Pasangan batu harus diukur untuk pembayaran dalam meter kubik sebagai
volume pekerjaan yang diselesaikan dan diterima, dihitung sebagai volume
teoritis yang ditentukan oleh garis dan penampang yang disyaratkan dan
disetujui.
2. Setiap bahan yang dipasang sampai melebihi volume teoritis yang
disetujui harus tidak diukur atau dibayar.
3. Landasan rembes air (permeable bedding), penimbunan kembali dengan
bahan porous atau kantung penyaring harus diukur dan dibayar sebagai
Drainase Porous. Tidak ada pengukuran atau pembayaran terpisah yang
harus dilakukan untuk penyediaan atau pemasangan lubang sulingan atau
pipa, juga tidak untuk acuan lainnya atau untuk galian dan penimbunan
kembali yang diperlukan.
b. Pasangan Batu Kosong dan Bronjong
Kuantitas yang diukur untuk pembayaran haruslah jumlah meter kubik dari
bronjong atau pasangan batu kosong lengkap di tempat dan diterima. Dimensi
yang digunakan untuk menghitung kuantitas ini haruslah dimensi nominal dari
masing masing keranjang bronjong atau pasangan batu kosong seperti yang
diuraikan dalam Gambar atau sebagaimana yang diperintahkan oleh Pejabat
Pembuat Komitmen/PPK.
c. Pasangan Batu dengan Mortar
a) Pekerjaan pasangan batu dengan mortar harus diukur untuk pembayaran
dalam meter kubik sebagai volume nominal pekerjaan yang selesai dan
diterima.
b) Pekerjaan pasangan batu dengan mortar untuk pelapisan pada selokan dan
saluran air, atau pelapisan pada permukaan lainnya, volume nominal harus
ditentukan dari luas permukaan terekspos dari pekerjaan yang telah selesai
dikerjakan dan tebal nominal lapisan untuk pelapisan. Untuk keperluan
pembayaran, tebal nominal lapisan harus diambil yang terkecil dari berikut
ini :
 Tebal yang ditentukan seperti yang ditunjukkan pada Gambar atau
diperintahkan Pejabat Pembuat Komitmen/PPK;
 Tebal aktual rata-rata yang dipasang seperti yang ditentukan dalam
pengukuran lapangan.
c) Pekerjaan pasangan batu dengan mortar yang digunakan bukan untuk
pelapisan, volume nominal untuk pembayaran harus dihitung sebagai
volume teoritis yang ditetapkan dari garis dan penampang yang ditentukan
atau disetujui.
d. Adukan Semen
Adukan semen tidak akan diukur untuk pembayaran yang terpisah. Pekerjaan
ini harus dianggap sebagai pelengkap terhadap berbagai jenis pekerjaan yang
diuraikan dalam Spesifikasi ini.
ii. Dasar Pembayaran
Kuantitas, ditentukan sebagaimana diuraikan di atas, harus dibayar dengan Harga
Kontrak per satuan dari pengukuran untuk Mata Pembayaran yang terdaftar di
bawah dan ditunjukkan dalam Daftar Kuantitas dan Harga, dimana harga dan
pembayaran tersebut harus merupakan kompensasi penuh untuk penyediaan dan
pemasangan semua bahan, untuk galian yang diperlukan dan penyiapan seluruh
formasi atau pondasi, untuk pembuatan lubang sulingan dan sambungan konstruksi,
untuk pemompaan air, untuk penimbunan kembali sampai elevasi tanah asli dan
pekerjaan akhir dan untuk semua pekerjaan lainnya atau biaya lain yang diperlukan
atau lazim untuk penyelesaian yang sebagaimana mestinya dari pekerjaan yang
diuraikan dalam Bagian ini.
BAB V. PEKERJAAN BETON DAN BEKISTING

1. RUANG LINGKUP
Pekerjaan ini mencakup kegiatan pelaksanaan seluruh bangunan beton bertulang, beton
tanpa tulangan, beton pracetak, beton untuk bangunan baja komposit dan waterstop.
Pekerjaan ini mencakup penyiapan tempat kerja untuk pengecoran beton, pengadaan
penutup beton, lantai kerja dan pemeliharaan pondasi seperti pemompaan atau tindakan
lain untuk mempertahankan agar pondasi tetap kering.

2. KETENTUAN DAN PERSYARATAN


a)Toleransi
(1) Bangunan Beton
(1) Batas penyimpangan pada gambar – gambar plat, balok mendatar dan pengganti
pagar
Terlihat : 1 cm setiap 3 m
Tertimbun : 5 cm setiap 3 m
(2) Penyimpangan dalam dimensi potongan melintang dari kolom, pilar, lantai,
dinding, balok dan sebagainya.
Minus : 1 cm
Plus : 5 cm
(3) Penyimpangan pada plat jembatan
Minus : 1 cm
Plus : 2 cm
(4) Dasar pondasi
Penyimpangan ukuran – ukuran dalam perencanaan
Minus : 1 cm
Plus : 5 cm
(5) Salah penempatan atau penyimpangan 2% dari lebar dasar pondasi, terhadap
rencana tidak lebih dari 5 cm.
(6) Pengurangan ketebalan : 5%
(7) Penyimpangan lokasi dan ukuran pada lantai dan dinding yang terbuka : 5 cm
(8) Penyimpangan dari garis unting pada sisi dinding tembok untuk pintu dan
bangunan–bangunan air yang serupa : 0,1%
(9) Penempatan tulangan baja
 Penyimpangan untuk beton pelindung : 10%
 Penyimpangan dari tempat yang seharusnya : 2 cm
(10) Perletakan beton pra cetak
 Penyimpangan terhadap trase yang seharusnya dibangun 1% dari panjang
beton pra cetak yang ada, dan tidak lebih dari 5 cm.
 Penyimpangan terhadap elevasi rencana adalah 1% dari panjang beton pra
cetak yang ada, dan tidak lebih dari 5 cm.
 Penyimpangan garis unting setiap beton pra cetak yang ditempatkan vertikal
tidak boleh lebih dari 1 cm setiap 3 m.

(2) Pekerjaan Water Stop


Penyimpangan pemasangan as dari water stop untuk kearah kanan dan kiri +5 mm

b)Persyaratan Bahan
a)Bangunan Beton
(1) Semen
a) Semen yang digunakan untuk pekerjaan beton harus jenis semen portland
yang memenuhi SNI 15-2049-2004 kecuali jenis IA, IIA, IIIA dan IV.
Apabila menggunakan bahan tambahan yang dapat menghasilkan
gelembung udara, maka gelembung udara yang dihasilkan tidak boleh
lebih dari 5 %, dan harus mendapatkan persetujuan dari Pejabat Pembuat
Komitmen/PPK.
b) Dalam satu campuran, hanya satu merk semen portland yang boleh
digunakan, kecuali disetujui oleh Pejabat Pembuat Komitmen/PPK. Jika di
dalam satu proyek digunakan lebih dari satu merk semen, maka Penyedia
harus mengajukan kembali rancangan campuran beton sesuai dengan merk
semen yang digunakan.
(2) Air
Air yang digunakan untuk campuran, perawatan, atau pemakaian lainnya harus
bersih, dan bebas dari bahan yang merugikan seperti minyak, garam, asam, basa,
gula atau organis. Air harus diuji sesuai dengan; dan harus memenuhi ketentuan
dalam SNI 03-6817-2002 Air yang diketahui dapat diminum dapat digunakan.
Jika timbul keraguan atas mutu air yang diusulkan dan pengujian air seperti di
atas tidak dapat dilakukan, maka harus diadakan perbandingan pengujian kuat
tekan mortar semen dan pasir dengan memakai air yang diusulkan dan dengan
memakai air suling. Air yang diusulkan dapat digunakan jika kuat tekan mortar
dengan air tersebut pada umur 7 hari dan 28 hari minimum 90 % kuat tekan
mortar dengan air suling pada periode perawatan yang sama.
(3) Agregat
1) Ketentuan Agradasi Agregat
a) Gradasi agregat kasar dan halus harus memenuhi ketentuan yang
diberikan, tetapi bahan yang tidak memenuhi ketentuan gradasi tersebut
harus diuji dan harus memenuhi sifat-sifat campuran yang disyaratkan.
b) Agregat kasar harus dipilih sedemikian rupa sehingga ukuran agregat
terbesar tidak lebih dari ¾ jarak bersih minimum antara baja tulangan
atau antara baja tulangan dengan acuan, atau celah-celah lainnya di
mana beton harus dicor.
2) Sifat-sifat Agregat
c) Agregat yang digunakan harus bersih, keras, kuat yang diperoleh dari
pemecahan batu atau koral, atau dari pengayakan dan pencucian (jika
perlu) kerikil dan pasir sungai.
d) Agregat harus bebas dari bahan organik seperti yang ditunjukkan oleh
pengujian SNI 03-2816-1992 dan harus memenuhi sifat-sifat lainnya
bila contoh-contoh diambil dan diuji sesuai dengan prosedur yang
berhubungan.

(4) Batu untuk Beton Siklop


Batu untuk beton siklop harus keras, awet, bebas dari retak, rongga dan tidak
rusak oleh pengaruh cuaca. Batu harus bersudut runcing, bebas dari kotoran,
minyak dan bahan-bahan lain yang mempengaruhi ikatan dengan beton. Ukuran
batu yang digunakan untuk beton siklop tidak boleh lebih besar dari 25 cm.

(5) Bahan Tambah


Bahan tambah yang digunakan sebagai bahan untuk meningkatkan kinerja beton
dapat berupa bahan kimia atau bahan limbah yang berupa serbuk halus sebagai
bahan pengisi pori dalam campuran beton.
1) Bahan Kimia
Bahan tambah yang berupa bahan kimia ditambahkan dalam campuran
beton dalam jumlah tidak lebih dari 5% berat semen selama proses
pengadukan atau selama pelaksanaan pengadukan tambahan dalam
pengecoran beton. Bahan tambah yang digunakan harus sesuai dengan
standar spesifikasi yang ditentukan dalam SNI 03-2495-1991. Bahan
tambah dapat diklasifikasikan sesuai dengan penggunaannya sebagai
berikut :
a) Tipe A - bahan pengurang kadar air
Tipe A berfungsi untuk mengurangi air dalam campuran, dan
pengunaannya bertujuan untuk mengurangi water-cement rasio
dalam campuran sesuai dengan workability yang diinginkan, atau
untuk meningkatkan workability ada angka water-cement rasio yang
telah ditetapkan.
b) Tipe B - bahan untuk memperlambat waktu pengikatan
Tipe B berfungsi untuk memperlambat waktu pengikatan pasta
semen, sehingga akan memperlambat pengerasan dari beton. Bahan
tambah jenis ini digunakan jika iklim di tempat pengecoran terlalu
panas, dimana waktu pengikatan pasta semen dalam keadaan normal
menjadi sangat pendek dikarenakan suhu yang tinggi.
c) Tipe C - bahan untuk mempercepat waktu pengikatan
Tipe C berfungsi untuk mempercepat waktu pengikatan pasta semen,
yang akan mempercepat pengerasan dari beton sehingga
mempercepat kekuatan beton, dan dapat digunakan dalam pabrik
pembuatan beton precast (dimana perlu pelepasan bekisting
secepatnya), atau pekerjaan perbaikan yang sangat penting.
d) Tipe D - campuran bahan pengurang kadar air dan bahan
memperlambat waktu pengikatan
Bahan tambah ini untuk menambah workability, dimana beton
mempunyai kekuatan tinggi dapat dibuat workabel tanpa mengurangi
density, ketahanan dan kekuatannya. Perlambatan waktu pengikatan
sangat berguna untuk waktu pengangkutan adukan beton yang lama
ke tempat pengecoran, pengecoran dalam kondisai yang sangat panas
dan menghindari cold joint.
e) Tipe E - campuran bahan pengurang kadar air dan bahan
mempercepat waktu pengikatan.
Bahan tambah ini untuk menambah workability dan memberikan
kekuatan awal yang tinggi, atau memberikan kekuatan awal yang
lebih tinggi pada workability yang sama. Bahan tambah ini
digunakan pada precast karena memungkinkan pelepasan bekisting
lebih awal dan dipakai untuk pekerjaan perbaikan dimana kekuatan
awal sangat diperlukan.
f) Tipe F - bahan pengurang kadar air dengan tingkat angka tinggi atau
superplasticizer.
Tipe F atau Superplasticizer adalah bahan tambah yang mengurangi
air dalam campuran dengan cukup banyak dan sangat berbeda
dengan Tipe A, D atau E. Penggunaan bahan ini digunakan membuat
beton alir (flow concrete) untuk menjangkau tempat yang tak
terjangkau oleh pengetar dan beton pompa (pumping concrete) pada
jenis bangunan yang rumit.
g) Tipe G - campuran bahan pengurang kadar air dengan tingkat angka
tinggi atau superplasticizer dan bahan memperlambat waktu
pengikatan.
Bahan tambah ini merupakan campuran dari Tipe F dan Tipe B,
tetapi slump loss-nya lebih kecil bila dibandingkan dengan beton
yang menggunakan superplasticizer.
2) Mineral
Bahan tambah yang berupa mineral atau bahan limbah seperti Fly Ash,
Pozzolan, silica fume yang ditambahkan ke dalam campuran beton. Bahan
tambah yang digunakan harus sesuai dengan standar spesifikasi yang
ditentukan dalam SNI 03-2460-1991.
b)Pekerjaan Waterstop
a) Waterstop yang dipergunakan harus terbuat dari bahan polyvinychlorida dalam
bentuk ukuran tertentu pada lokasi seperti yang diberikan pada gambar atau
petunjuk Pejabat Pembuat Komitmen/PPK.
b) Waterstop harus diproduksi dengan proses pencampuran dari suatu campuran
plastik elastis dan bahan dasar polyvinychlorida (PVC) 100% didapat, homogen
dan tidak berlubang-lubang atau cacat lainnya.
c)Persyaratan Kerja
a)Pengajuan Kesiapan Kerja
a) Penyedia harus mengirimkan contoh dari semua bahan yang akan digunakan dan
dilengkapi dengan data pengujian yang memenuhi seluruh sifat bahan sesuai
dengan Pasal ini.
b) Penyedia harus mengirimkan rancangan campuran untuk masing-masing mutu
beton yang akan digunakan, 30 hari sebelum pekerjaan pengecoran beton
dimulai.
c) Penyedia harus menyerahkan secara tertulis seluruh hasil pengujian
pengendalian mutu sesuai dengan ketentuan kepada Pejabat Pembuat
Komitmen/PPK sehingga data tersebut selalu tersedia apabila diperlukan.
d) Pengujian kuat tekan beton yang harus dilaksanakan pada umur 3 hari, 7 hari, 14
hari, dan 28 hari setelah tanggal pencampuran
e) Penyedia harus mengirimkan gambar detail dan perhitungan terinci untuk
seluruh perancah yang akan digunakan, dan harus memperoleh persetujuan dari
Pejabat Pembuat Komitmen/PPK sebelum setiap pekerjaan perancah dimulai.
f) Penyedia harus memberitahu Pejabat Pembuat Komitmen/PPK secara tertulis
mengenai rencana pelaksanaan pencampuran atau pengecoran setiap jenis beton
untuk mendapatkan persetujuannya paling sedikit 24 jam sebelum tanggal
pelaksanaan, seperti yang disyaratkan disertai dengan metode pengecoran,
kapasitas peralatan yang digunakan, tanggung jawab personil dan Jadual
pelaksanaannya
b)Penyimpanan dan Perlindungan Bahan
a) Untuk penyimpanan semen, Penyedia harus menyediakan tempat yang
terlindung dari perubahan cuaca dan diletakkan di atas lantai kayu dengan
ketinggian tidak kurang dari 30 cm dari permukaan tanah serta ditutup dengan
lembaran plastik (polyethylene) selama penyimpanan dan tidak lebih dari 3
bulan sejak disimpan dalam tempat penyimpanan di lokasi pekerjaan. Semen
tidak boleh ditumpuk melebihi melebihi 8 sak ke arah atas.
b) Penyedia harus menjaga kondisi tempat kerja terutama tempat penyimpanan
agregat, agar terlindung dan tidak langsung terkena sinar matahari dan hujan
sepanjang waktu pengecoran.
c) Penyimpanan agregat harus dilakukan sedemikian rupa sehingga jenis agregat
atau ukuran yang berbeda tidak tercampur.

c)Kondisi Tempat Kerja


Setiap pelaksanaan pengecoran beton harus terlindung dari sinar matahari secara
langsung. Sebagai tambahan, Penyedia tidak boleh melakukan pengecoran jika:
e) Tingkat penguapan melampaui 1,0 mm/jam.
f) Selama turun hujan atau bila udara penuh debu atau tercemar.
d)Pencampuran dan Penakaran
4. Rancangan Campuran
Proporsi bahan dan berat penakaran harus ditentukan sesuai dengan SNI 03-
2834-2000.
5. Campuran Percobaan
Penyedia harus membuat dan menguji campuran percobaan dengan rancangan
campuran serta bahan yang diusulkan sesuai dengan SNI 03-2834 - 2000,
dengan disaksikan oleh Pejabat Pembuat Komitmen/PPK, yang menggunakan
jenis instalasi dan peralatan sebagaimana yang akan digunakan dalam
pelaksanaan pekerjaan.
e)Permukaan Tampak
 Semua permukaan beton yang telah selesai harus terlihat padat bersih dan tidak
keropos.
 Semua permukaan yang tampak harus rata atau bulat.
 Pekerjaan plesteran pada permukaan beton tidak diijinkan dan setiap beton yang
kelihatan cacat harus dibongkar hingga kedalaman tertentu dan diganti atau
diperbaiki dengan cara seperti yang diinginkan oleh Pejabat Pembuat
Komitmen/PPK atas biaya Penyedia.
f)Blockout
1) Blockout harus dibuat jika akan memasang bagian–bagian bangunan dari
pekerjaan besi. Permukaan dimana beton block (blockout) akan dibuat,
dikasarkan, dibersihkan, dan dijaga agar tetap lembab untuk paling sedikit 4 jam.
Sesudah permukaan demikian disetujui Pejabat Pembuat Komitmen/PPK, maka
pekerjaan logam dan lainnya seperti tersebut diatas, dapat dilaksanakan.
Penyedia dapat memasang tulangan (jika diperlukan) dan adukan beton dengan
500 kg semen atau lebih per meter kubik, atau beton dari tipe yang sama.
2) Pada saat pengisian beton blockout, haruslah dilakukan berhati–hati, harus
bersatu dengan beton lama, mempunyai ikatan yang baik dengan beton lama dan
semua pekerjaan besinya.
g)Waterstop
a) Untuk penempatan waterstop tipe split flange yang tepat, sebelum pengecoran
beton berakhir bagian split flange harus disambungkan dengan cara yang
disetujui.
b) Alur waterstop dibuat dengan memotong dan menyambung waterstop kearah
memanjang sesuai dengan kebutuhannya, memanaskan ujung–ujungnya sampai
meleleh dan menyambungkannya sampai membentuk sambungan yang
diinginkan.
c) Pemanasan ujung material dikerjakan dengan menggunakan mesin penyambung
yang disarankan oleh pabrik yang membuat waterstop atau mesin listrik lain
yang disetujui.

3. PELAKSANAAN PEKERJAAN
i. Pekerjaan Beton
(1) Pembetonan
a. Penyiapan tempat kerja
i. Penyedia harus membongkar bangunan lama yang akan diganti dengan
beton yang baru atau yang harus dibongkar untuk dapat memungkinkan
pelaksanaan pekerjaan beton yang baru. Pembongkaran tersebut harus
dilaksanakan sesuai dengan persyaratan dalam dari Spesifikasi ini.
ii. Penyedia harus menggali atau menimbun kembali pondasi atau formasi
untuk pekerjaan beton sesuai dengan garis yang ditunjukkan dalam
Gambar Kerja atau sebagaimana yang diperintahkan oleh Pejabat Pembuat
Komitmen/PPK sesuai dengan ketentuan dalam Spesifikasi ini, dan harus
membersihkan serta menggaru tempat di sekeliling pekerjaan beton yang
cukup luas sehingga dapat menjamin dicapainya seluruh sudut pekerjaan.
Jika diperlukan harus disediakan jalan kerja yang stabil untuk menjamin
dapat diperiksanya seluruh sudut pekerjaan dengan mudah dan aman.
iii. Seluruh dasar pondasi, pondasi dan galian untuk pekerjaan beton harus
dijaga agar senantiasa kering. Beton tidak boleh dicor di atas tanah yang
berlumpur, bersampah atau di dalam air. Apabila beton akan dicor di
dalam air, maka harus dilakukan dengan cara dan peralatan khusus untuk
menutup kebocoran seperti pada dasar sumuran atau cofferdam dan atas
persetujuan Pejabat Pembuat Komitmen/PPK.
iv. Sebelum pengecoran beton dimulai, seluruh acuan, tulangan dan benda
lain yang harus berada di dalam beton (seperti pipa atau selongsong) harus
sudah dipasang dan diikat kuat sehingga tidak bergeser pada saat
pengecoran.
v. Bila disyaratkan atau diperlukan oleh Pejabat Pembuat Komitmen/PPK,
maka bahan lantai kerja untuk pekerjaan beton harus dihampar sesuai
dengan ketentuan dari Spesifikasi ini.
vi. Pejabat Pembuat Komitmen/PPK akan memeriksa seluruh galian yang
disiapkan untuk pondasi sebelum menyetujui pemasangan acuan, baja
tulangan atau pengecoran beton. Penyedia dapat diminta untuk
melaksanakan pengujian penetrasi kedalaman tanah keras, pengujian
kepadatan atau penyelidikan lainnya untuk memastikan cukup tidaknya
daya dukung tanah di bawah pondasi.
vii. Jika dijumpai kondisi tanah dasar pondasi yang tidak memenuhi ketentuan,
maka Penyedia dapat diperintahkan untuk mengubah dimensi atau
kedalaman pondasi dan/atau menggali dan mengganti bahan di tempat
yang lunak, memadatkan tanah pondasi atau melakukan tindakan
stabilisasi lainnya sebagaimana yang diperintahkan oleh Pejabat Pembuat
Komitmen/PPK.
viii. Penyedia harus memastikan lokasi pengecoran bebas dari resiko terkena
air hujan dengan memasang tenda seperlunya. Pejabat Pembuat
Komitmen/PPK berhak menunda pengecoran sebelum tenda terpasang
dengan benar. Penyedia juga harus memastikan lokasi pengecoran bebas
dari resiko terkena air pasang atau muka air tanah dengan penanganan
seperlunya.
b. Cetakan Beton
i. Jika disetujui oleh Pejabat Pembuat Komitmen/PPK, maka acuan dari tanah
harus dibentuk dari galian, dan sisi-sisi samping serta dasarnya harus
dipangkas secara manual sesuai dimensi yang diperlukan. Seluruh kotoran
tanah yang lepas harus dibuang sebelum pengecoran beton.
ii. Cetakan harus digunakan, dimana perlu untuk membatasi dan membentuk
beton sesuai dengan keinginan. Cetakan dapat dibuat dari kayu, besi atau
bahan lainnya yang cukup kuat sesuai dengan ukuran–ukuran yang ada di
dalam gambar.
iii. Cetakan harus diperkuat dan ditopang agar mampu menahan berat sendiri
adukan beton, penggetaran beton, beban konstruksi, angin dan tekanan
lainnya dengan tidak berubah bentuk.
iv. Penyedia harus menyerahkan satu set yang lengkap, gambar cetakan sesuai
dengan ketentuan diatas, untuk mendapatkan persetujuan Pejabat Pembuat
Komitmen/PPK, sebelum memulai pekerjaan, walaupun demikian
penyerahan tersebut kepada Pejabat Pembuat Komitmen/PPK untuk
disetujui, tidak mengurangi tanggung jawab Penyedia bagi keberhasilannya.
v. Permukaan cetakan beton yang berhubungan dengan beton harus bebas dari
sampah, paku, alur–alur, belahan, atau cacat–cacat lainnya. Mengisi celah–
celah sambungan cetakan beton harus berhati–hati dan dilaksanakan
sedemikian rupa agar sanggup mengembang dibawah pengaruh kelembaban
beton tanpa menimbulkan perubahan bentuk cetakan, celah–celah harus diisi
secukupnya untuk mencegah hilangnya air semen. Bagaimanapun
penggunaan kertas dengan tegas dilarang.
vi. Pembuatan lubang bagian dalam cetakan untuk pemeriksaan, pembuangan
air dapat dilakukan untuk itu cetakan dapat dibuat sedemikian rupa hingga
dapat dengan mudah ditutup sebelum pengecoran dimulai.
vii. Sebelum pengecoran beton semua baut–baut harus dipasang pada posisinya,
semua yang diperlukan dan alat–alat lain untuk menutup lubang harus
dipasang pada cetakan. Tidak diperbolehkan membuat lubang didalam beton
tanpa persetujuan Pejabat Pembuat Komitmen/PPK.
viii. Penggunaan kawat yang diikat untuk menyangga cetakan tidak diijinkan
dilakukan pada dinding beton yang akan tampak.
ix. Lubang–bekas ikatan kawat harus ditutup dengan beton setelah cetakan
dibongkar.
x. Jika batangan logam digunakan untuk menyangga cetakan ujungnya tidak
boleh kurang dari 3 cm dari permukaan beton yang terbentuk. Semua
permukaan cetakan yang menempel dengan beton harus dilumasi dengan oli
untuk memastikan bahwa cetakan dapat dibuka dengan mudah.
xi. Pelumas harus diterapkan pada cetakan sebelum tulangan dipasang dan
harus berhati–hati mencegah pelumas jangan sampai mengenai besi
tulangan. Sebelum pengecoran dan pembesian semua celah–celah cetakan
yang telah diisi dengan dempul harus dibersihkan dan dikeringkan. Bila
cetakan beton dibuat dan siap untuk pengecoran maka harus diperiksa oleh
Pejabat Pembuat Komitmen/PPK. Tidak diperkenankan mengecor bila
cetakan belum disetujui Pejabat Pembuat Komitmen/PPK.
xii. Penyedia harus memberitahukan kepada Pejabat Pembuat Komitmen/PPK
sekurang–kurangnya 24 (dua puluh empat) jam sebelum cetakan siap untuk
diperiksa.
c. Pencampuran Beton
i. Perbandingan Campuran
i. Beton harus mengandung semen, agregat bergradasi baik, air dan
bahan additive bila diperlukan, dicampurkan bersama – sama dan
digunakan untuk menghasilkan kekuatan yang diharapkan.
ii. Beton diklasifikasikan berdasarkan tekanan pada 7 hari dan umur 28
hari dengan ukuran maksimum agregat dan dibuat mengikuti tabel di
bawah ini :
Tabel 1 Klasifikasi Beton berdasarkan Besarnya Tekanan

Kuat tekan Ukuran Nilai faktor Perkiraan


Kuat tekan
umur 28 agregat air semen kebutu-han
Tipe Campuran Beton umur 7 hari
hari maksimum maksi- semen
(kg/cm2)
(kg/cm2) (mm) mum (%) (kg/m3)
AR : fc‟ = 25 Mpa (K-300) 195 300 20 50 400
A : fc‟ = 20 Mpa (K-250) 147 225 40 (20) 50 330(350)
B : fc‟ = 15 Mpa (K-175) 114 175 40 50 310
C : fc‟ = 10 Mpa (K-125) 82 125 40 57 250
D : fc‟ = 10 Mpa (K-100) 65 100 40 60 200

Tabel 2 Klasifikasi Jenis Beton

Tipe Uraian
AR Beton bertulang untuk melapis permukaan lantai bendung,
mercu dan tembok bendung

A Beton, pipa beton pra cetak, tiang beton pra cetak dan
sebagainya

B Beton bertulang untuk bangunan lainnya dan lining beton

C Beton tumbuk

D Beton tumbuk untuk lantai kerja dan pengisi

iii. Proporsi campuran untuk masing–masing klas beton diatas akan


diberikan oleh Direksi, berdasarkan hasil–hasil test percobaan
campuran yang dikerjakan Penyedia.
iv. Penyedia dapat merubah proporsi dari waktu ke waktu untuk
mendapatkan kepadatan maksimum dari beton, kemudahan
pengerjaan, kekentalan dan kekuatan dengan faktor air semen yang
sekecil mungkin dengan persetujuan Direksi tidak ada tambahan biaya
atas perubahan tersebut.
v. Kandungan air di dalam beton akan diatur oleh Direksi, dalam batas
yang ditetapkan untuk mendapatkan faktor air semen pada beton
dengan kekentalan yang benar. Tidak diperkenankan penambahan air
untuk mengatasi mengerasnya beton sebelum ditempatkan.
Keseragaman kekentalan beton pada setiap adukan adalah perlu.
Slump dari pada adukan beton harus mengikuti tabel di bawah ini,
setelah beton diendapkan.

Tabel 3 Nilai Slump Beton

Besaran Nilai
Tipe Campuran Tipe Konstruksi
Slump
AR Mercu lantai dan tembok 7,5 – 2,5
bendung
Besaran Nilai
Tipe Campuran Tipe Konstruksi
Slump
A Unit beton pra cetak Plat 12,5 – 5,0
dan balok jembatan Klas I 15,0 – 7,5
dan Klas II
B Plat, dinding, balok dari 12,5 – 5,0
tembok dan dermaga talud 5,0 – 2,5
pada transisi

C Konstruksi massal 7,5 – 2,5


D Trotoar, gorong-gorong 7,5 – 5,0
Pondasi 9,0 – 2,5

(2) Penakaran
a) Penyedia harus menyediakan alat penakar yang disetujui Pejabat Pembuat
Komitmen/PPK dan harus memelihara serta mengoperasikan peralatan seperti
yang diperlukan agar secara tepat mengontrol dan menentukan jumlah dari
masing–masing bahan yang dicampurkan, sesuai dengan petunjuk Pejabat
Pembuat Komitmen/PPK.
b) Peralatan harus mampu memproduksi beton sebanyak 1 (satu) hingga 5 (lima)
meter kubik atau lebih per jam secara keseluruhan dengan mencampurkan
agregat, semen, bahan additive (bila perlu), dan air menjadi suatu campuran
yang merata tanpa pemisahan–pemisahan. Juga mampu mengimbangi
perubahan–perubahan kadar air dari agregat, serta merubah berat material–
material yang ikut tercakup.
c) Jumlah masing–masing bahan yang membentuk beton tersebut dapat ditentukan
dengan timbangan kecuali jumlah air yang diukur dengan takaran. Meskipun
demikian material beton dapat juga diukur secara volume, bilamana disetujui
oleh Pejabat Pembuat Komitmen/PPK.
d) Penyedia juga harus menyediakan penguji berat yang standar dan peralatan lain
yang diperlukan untuk mengecek operasi dan tiap – tiap skala pengukuran
pengaduk tersebut, serta melakukan pengujian periodik terhadap perubahan
harga pengukuran dalam pekerjaan–pekerjaan adukan.
(3) Mesin Pengaduk Beton
i. Material beton harus dimasukkan dalam pengaduk yang berpenakar dalam waktu
yang tidak lebih dari satu setengah menit, kecuali sejumlah air yang diperlukan
sudah ada dalam alat pengaduk tersebut.
ii. Seluruh air pencampur harus diberikan sebelum seperempat waktu pencampuran
terlampaui. Waktu pencampuran adukan yang volumenya lebih besar dari 0,75
m3 harus ditambah seperempat menit pada setiap penambahan 0,5 m3.
iii. Alat pencampur beton tidak boleh dibebani volume yang melebihi kapasitas
maksimum, atau dioperasikan melebihi kecepatan yang dianjurkan pabrik
pembuatnya. Alat tersebut dapat menghasilkan beton dengan kekentalan dan
warna yang merata secara menerus dan disetujui Pejabat Pembuat
Komitmen/PPK.
iv. Semua peralatan pencampur harus selalu dibersihkan sebelum melakukan
pekerjaan. Pencampuran pertama setelah pembersihan, tidak boleh digunakan
dalam pekerjaan. Blades penumbuk yang ada dalam alat pencampur perlu
diganti bila telah aus menjadi 2 cm.
(4) Truk Pencampur
i. Material beton juga dicampur di dalam truk pencampur. Drum–drum yang ada
pada truk pencampur harus berputar dengan kecepatan yang dianjurkan oleh
Pabrik.
ii. Operasi pencampuran dapat dimulai dalam waktu 30 menit setelah bahan–bahan
pencampur tersebut berada di dalam pencampur, setelah itu beton dapat diangkut
menuju tempat pekerjaan dan satu jam setelah penambahan air pengecoran harus
selesai.
iii. Pada saat cuaca panas atau pada kondisi adukan beton yang cepat mengeras,
waktu pencampuran harus kurang dari 1 jam, sesuai dengan petunjuk Pejabat
Pembuat Komitmen/PPK.
(5) Mencampur Beton dengan Tenaga Manusia
a) Pekerjaan mencampur beton dengan manual tidak diijinkan kecuali jika situasi
tidak memungkinkan untuk menggunakan mesin pencampur setelah mendapat
persetujuan Pejabat Pembuat Komitmen/PPK.
b) Dalam keadaan seperti itu, beton harus diaduk dengan tangan, sedekat mungkin
ke lokasi dimana beton akan ditempatkan. Harus dilakukan dibak pengaduk yang
bersih dan kedap air. Jika bak dibuat dari kayu, maka sela–sela kayu harus
ditutup agar tidak ada kehilangan air dari adukan.
c) Semua agregat dan semen harus diaduk–aduk dalam keadaan kering sekurang–
kurangnya 3 kali. Kemudian air ditambahkan berangsurangsur dipuncak adukan,
selanjutnya agregat kembali diaduk dalam keadaan basah, sekurang–kurangnya
3 (tiga) kali sebelum adukan diangkat ketempat pengecoran

(6) Pengecoran
a) Pelaksanaan Pengecoran
a) Penyedia harus memberitahukan Pejabat Pembuat Komitmen/PPK secara
tertulis paling sedikit 24 jam sebelum memulai pengecoran beton, atau
meneruskan pengecoran beton jika pengecoran beton telah ditunda lebih
dari 6 jam (finalsetting).
Pemberitahuan harus meliputi lokasi, kondisi pekerjaan, mutu beton dan
tanggal serta waktu pencampuran beton. Pejabat Pembuat Komitmen/PPK
akan memberi tanda terima atas pemberitahuan tersebut dan akan
memeriksa acuan, tulangan dan mengeluarkan persetujuan tertulis untuk
memulai pelaksanaan pekerjaan seperti yang direncanakan. Penyedia tidak
boleh melaksanakan pengecoran beton tanpa persetujuan tertulis dari
Pejabat Pembuat Komitmen/PPK.
b) Walaupun persetujuan untuk memulai pengecoran sudah diterbitkan,
pengecoran beton tidak boleh dilaksanakan jika Pejabat Pembuat
Komitmen/PPK atau wakilnya tidak hadir untuk menyaksikan operasi
pencampuran dan pengecoran secara keseluruhan.
c) Segera sebelum pengecoran beton dimulai, acuan harus dibasahi dengan air
atau diolesi pelumas di sisi dalamnya yang tidak meninggalkan bekas.
d) Pengecoran beton harus dibuat sedemikian rupa hingga penempatan dan
penanganannya mudah dilakukan tanpa adanya pemisahan butiran.
e) Adukan beton dicor lapis demi lapis dengan ketebalan tertentu, berurutan
mulai dari bawah. Agar lapisan yang baru dapat menyatu dengan lapisan
dibawahnya, adukan beton digetar dari lapisan bawah dengan alat penggetar
(vibrator).
f) Tidak diperkenankan melakukan pengecoran bila persiapan besi tulangan
dan bagian – bagian yang ditanam, cetakan dan perancah belum diperiksa
dan disetujui Pejabat Pembuat Komitmen/PPK secara tertulis.
g) Dalam pengecoran beton bertulang, harus dijaga jangan sampai terjadi
pemisahan butiran. Apabila bentuk tulangan pada dasar cetakan cukup rapat,
dicor terlebih dahulu lapisan selimut beton setebal 3 cm, dengan spesi yang
sama dengan yang dibutuhkan oleh beton diatasnya.
h) Jika pengecoran permukaan telah mencapai ketinggian lebih dari yang
ditentukan oleh Direksi, kelebihan ini harus segera dibuang. Semua
pengecoran harus selesai dalam waktu 60 menit telah keluar dari mesin
pengaduk, kecuali jika ditentukan lain oleh Direksi.
i) Beton jangan dicor di dalam atau pada aliran kecuali jika ditentukan atau
disetujui sebelumnya. Air yang mengumpul selama pengecoran harus segera
dibuang. Beton jangan dicor diatas beton lain yang baru saja dicor selama
lebih dari 30 menit, kecuali jika ada konstruksi sambungan yang akan
ditentukan kemudian.
j) Jika pelaksanaan pengecoran dihentikan, lokasi sambungan harus
ditempatkan pada posisi yang benar secara vertikal maupun horizontal,
dengan permukaan dibuat kasar atau bergerigi untuk menahan gesekan dan
membentuk ikatan sambungan beton berikutnya, seperti yang diinginkan
oleh Pejabat Pembuat Komitmen/PPK .
k) Sebelum pengecoran berakhir, permukaan beton harus dibuat kasar atau
disambungkan untuk menyingkap agregat. Permukaan beton harus tetap
lembab dan dilindungi dengan mortel semen (perbandingan berat) 1 : 2
setebal 1 cm.
l) Beton harus dicor pada posisi dan urutan – urutan seperti yang ditunjukkan
dalam gambar, atau atas petunjuk Pejabat Pembuat Komitmen/PPK. Beton
yang dicor ditempatkan langsung pada cetakannya sedemikian rupa untuk
menghindari pemisahan butiran dan penggeseran tulangan beton, acuan,
atau bagian – bagian yang tertanam, serta membentuk lapisan – lapisan yang
tidak lebih tebal dari 40 cm padat.
m) Pengecoran harus secara menerus hingga mencapai sambungan ditentukan
pada gambar atau menurut petunjuk Pejabat Pembuat Komitmen/PPK.
n) Beton tidak boleh diangkut dengan peluncur atau dijatuhkan kereta dorong
lebih tinggi dari 1,5 m kecuali jika diijinkan oleh Pejabat Pembuat
Komitmen/PPK untuk menjatuhkan ketempat penampungan sementara dan
kemudian diambil lagi dengan sekop sebelum dicorkan.
o) Pengecoran beton tumbuk/lantai kerja dikerjakan pada urutan sebelumnya
atau mengikuti petunjuk Direksi dan harus dikerjakan secara menerus
sampai dengan selesai. Bila perlu Penyedia harus bekerja lembur untuk
mencapai target tersebut.

b) Pemadatan
a) Beton harus dipadatkan dengan penggetar mekanis dari dalam atau dari luar
acuan yang telah disetujui. Jika diperlukan dan disetujui oleh Pejabat
Pembuat Komitmen/PPK, penggetaran harus disertai penusukan secara
manual dengan alat yang cocok untuk menjamin kepadatan yang tepat dan
memadai. Alat penggetar tidak boleh digunakan untuk memindahkan
campuran beton dari satu titik ke titik lain di dalam acuan.
b) Pemadatan harus dilakukan secara hati-hati untuk memastikan semua sudut,
di antara dan sekitar besi tulangan benar-benar terisi tanpa menggeser
tulangan sehingga setiap rongga dan gelembung udara terisi.
c) Lama penggetaran harus dibatasi, agar tidak terjadi segregasi pada hasil
pemadatan yang diperlukan.
d) Alat penggetar mekanis dari luar harus mampu menghasilkan
sekurangkurangnya 5000 putaran per menit dengan berat efektif 0,25 kg,
dan boleh diletakkan di atas acuan supaya dapat menghasilkan getaran yang
merata.
e) Posisi alat penggetar mekanis yang digunakan untuk memadatkan beton di
dalam acuan harus vertikal sedemikian hingga dapat melakukan penetrasi
sampai kedalaman 10 cm dari dasar beton yang baru dicor sehingga
menghasilkan kepadatan yang menyeluruh pada bagian tersebut. Apabila
alat penggetar tersebut akan digunakan pada posisi yang lain maka, alat
tersebut harus ditarik secara perlahan dan dimasukkan kembali pada posisi
lain dengan jarak tidak lebih dari 45 cm. Alat penggetar tidak boleh berada
pada suatu titik lebih dari 15 detik atau permukaan beton sudah mengkilap.
f) Jumlah minimum alat penggetar mekanis
g) Apabila kecepatan pengecoran 20 m3/jam, maka harus digunakan alat
penggetar yang mempunyai dimensi lebih besar dari 7,5 cm.
h) Dalam segala hal, pemadatan beton harus sudah selesai sebelum terjadi
waktu ikat awal (initial setting).
(7) Sambungan Pelaksanaan (Construction Joint)
a) Jadual pengecoran beton yang berkaitan harus disiapkan untuk setiap jenis
bangunan yang diusulkan beserta lokasi sambungan pelaksanaan seperti yang
ditunjukkan pada Gambar Rencana untuk disetujui oleh Pejabat Pembuat
Komitmen/PPK. Sambungan pelaksanaan tidak boleh ditempatkan pada
pertemuan elemenelemen bangunan kecuali ditentukan demikian.
b) Sambungan pelaksanaan pada tembok sayap tidak diijinkan. Semua sambungan
konstruksi harus tegak lurus terhadap sumbu memanjang dan pada umumnya
harus diletakkan pada titik dengan gaya geser minimum.
c) Jika sambungan vertikal diperlukan, baja tulangan harus menerus melewati
sambungan sedemikian rupa sehingga membuat bangunan tetap monolit.
d) Pada sambungan pelaksanaan harus disediakan lidah alur dengan ke dalaman
paling sedikit 4 cm untuk dinding, pelat serta antara dasar pondasi dan dinding.
Untuk pelaksanaan pengecoran pelat yang terletak di atas permukaan dengan
cara manual, sambungan konstruksi harus diletakkan sedemikian rupa sehingga
pelat-pelat mempunyai luas maksimum 40 m2.
e) Penyedia harus menyediakan pekerja dan bahan-bahan yang diperlukan untuk
kemungkinan adanya sambungan pelaksanaan tambahan jika pekerjaan terpaksa
mendadak harus dihentikan akibat hujan atau terhentinya pemasokan beton atau
penghentian pekerjaan oleh Pejabat Pembuat Komitmen/PPK.
f) Atas persetujuan Pejabat Pembuat Komitmen/PPK, bonding agent yang dapat
digunakan untuk pelekatan pada sambungan pelaksanaan dan cara
pelaksanaannya harus sesuai dengan petunjuk pabrik pembuatnya.
g) Pada lingkungan air asin atau korosif, sambungan pelaksanaan tidak
diperkenankan berada pada 75 cm di bawah muka air terendah atau 75 cm di
atas muka air tertinggi kecuali ditentukan lain dalam Gambar Kerja.
(8) Beton Siklop
 Batu-batu ini diletakkan dengan hati-hati dan tidak boleh dijatuhkan dari tempat
yang tinggi atau ditempatkan secara berlebihan yang dikhawatirkan akan
merusak bentuk cetakan atau pasangan-pasangan lain yang berdekatan.
 Semua batu-batu pecah harus cukup dibasahi sebelum ditempatkan. Volume
total batu pecah tidak boleh melebihi sepertiga dari total volume pekerjaan beton
siklop.
 Untuk dinding penahan tanah dan pilar yang lebih tebal dari 60 cm, tiap batu
harus dilindungi dengan adukan beton setebal 15 cm; jarak antar batu pecah
maksimum 30 cm dan jarak terhadap permukaan minimum 15 cm. Permukaan
bagian atas dilindungi dengan beton penutup (caping).
(9) Lining Beton
(1) Lining beton harus dilaksanakan ditempat yang telah ditunjukkan pada Gambar
atau ditentukan lain oleh Direksi.
(2) Beton yang digunakan harus dicor ditempat itu juga dan harus sesuai dengan
ketentuan.
(3) Lining harus dilaksanakan setelah penggalian saluran dan tanggul selesai
dilakukan, pada saat perapian sedang dikerjakan.
(4) Pelaksanaan lining dibuat mengikuti Gambar atau petunjuk Direksi,
dilaksanakan sesuai dengan gambar–gambar detail yang ada terutama yang telah
disetujui Pejabat Pembuat Komitmen/PPK.
(5) Sambungan lining harus diisi bitumen (aspal pasir) sesuai gambar atau petunjuk
Pejabat Pembuat Komitmen/PPK.
(10) Pekerjaan Pondasi Beton
i. Sebelum menempatkan beton pada pondasi, Penyedia harus membersihkan
semua kotoran yang ada termasuk minyak, serpihan tanah, reruntuhan, plastik,
sisa kertas dan genangan air yang ada sesuai dengan permintaan Pejabat
Pembuat Komitmen/PPK.
ii. Selama pengecoran Penyedia harus menjaga permukaan yang dicor bersih dari
genangan air.
iii. Pengecoran beton belum boleh dilaksanakan sebelum Pejabat Pembuat
Komitmen/PPK memeriksa dan menyetujui persiapan pekerjaan pondasi
tersebut.
iv. Lapisan lantai kerja beton dapat dicor setelah pekerjaan persiapannya disetujui
oleh Pejabat Pembuat Komitmen/PPK. Ketebalan lapisan lantai kerja beton
harus dibuat sesuai dengan gambar atau atas petunjuk Pejabat Pembuat
Komitmen/PPK.
v. Jika tidak ditentukan lain oleh Pejabat Pembuat Komitmen/PPK, sebelum
melakukan pengecoran, permukaan tanah atau kerikil harus disiram air semen
setelah bersih.
vi. Jika permukaan tersebut berupa cadas, permukaannya dibersihkan dan dibuat
bergerigi agar terbentuk ikatan yang kuat, baru adukan semen ditempatkan
diatasnya.
vii. Adukan semen tersebut harus mempunyai perbandingan semen–pasir yang sama
dengan perbandingan semen pasir yang digunakan untuk beton.
viii. Adukan semen tidak diperlukan pada pondasi, jika lantai kerja beton atau
proteksi pondasi dibuat dengan cara lain.
(11) Pengerjaan Akhir
i. Pembongkaran Cetakan
• Acuan tidak boleh dibongkar dari bidang vertikal, dinding, kolom yang tipis
dan bangunan yang sejenis lebih awal 30 jam setelah pengecoran beton
tanpa mengabaikan perawatan. Acuan yang ditopang oleh perancah di
bawah pelat, balok, gelegar, atau bangunan busur, tidak boleh dibongkar
hingga pengujian kuat tekan beton menunjukkan paling sedikit 85 % dari
kekuatan rancangan beton.
• Untuk memungkinkan pengerjaan akhir, acuan yang digunakan untuk
pekerjaan yang diberi hiasan, tiang sandaran, tembok pengarah (parapet),
dan permukaan vertikal yang terekspos harus dibongkar dalam waktu paling
sedikit 9 jam setelah pengecoran dan tidak lebih dari 30 jam, tergantung
pada keadaan cuaca dan tanpa mengabaikan perawatan.
ii. Permukaan (Pengerjaan Akhir Biasa)
• Kecuali diperintahkan lain, permukaan beton harus dikerjakan segera
setelah pembongkaran acuan. Seluruh perangkat kawat atau logam yang
telah digunakan untuk memegang acuan, dan acuan yang melewati badan
beton, harus dibuang atau dipotong kembali paling sedikit 2,5 cm di bawah
permukaan beton. Tonjolan mortar dan ketidakrataan lainnya yang
disebabkan oleh sambungan cetakan harus dibersihkan.
• Pejabat Pembuat Komitmen/PPK harus memeriksa permukaan beton segera
setelah pembongkaran acuan dan dapat memerintahkan penambalan atas
kekurang sempurnaan minor yang tidak akan mempengaruhi bangunan atau
fungsi lain dari pekerjaan beton. Penambalan harus meliputi pengisian
lubang-lubang kecil dan lekukan dengan adukan semen.
• Jika Pejabat Pembuat Komitmen/PPK menyetujui pengisian lubang besar
akibat keropos, pekerjaan harus dipahat sampai ke bagian yang utuh
(sound), membentuk permukaan yang tegak lurus terhadap permukaan
beton. Lubang harus dibasahi dengan air dan adukan pasta (semen dan air,
tanpa pasir) harus dioleskan pada permukaan lubang. Selanjutnya lubang
harus diisi dengan adukan yang kental yang terdiri dari satu bagian semen
dan dua bagian pasir dan dipadatkan. Adukan tersebut harus dibuat dan
didiamkan sekira 30 menit sebelum dipakai agar dicapai penyusutan awal,
kecuali digunakan jenis semen tidak susut (non shrinkage cement).
iii. Permukaan (Pekerjaan Akhir Khusus)
Permukaan yang terekspos harus diselesaikan dengan pekerjaan akhir berikut
ini, atau seperti yang diperintahkan oleh Pejabat Pembuat Komitmen/PPK :
• Bagian atas pelat, kerb, dan permukaan horisontal lainnya sebagaimana
yang diperintahkan Pejabat Pembuat Komitmen/PPK, harus digaru dengan
mistar bersudut untuk memberikan bentuk serta ketinggian yang diperlukan
segera setelah pengecoran beton dan harus diselesaikan secara manual
sampai rata dengan menggerakkan perata kayu secara memanjang dan
melintang, atau dengan cara lain yang sesuai sebelum beton mulai
mengeras.
• Perataan permukaan horisontal tidak boleh menjadi licin, seperti untuk
trotoar, harus sedikit kasar tetapi merata dengan penyapuan, atau cara lain
sebagaimana yang diperintahkan oleh Pejabat Pembuat Komitmen/PPK,
sebelum beton mulai mengeras.
• Permukaan yang tidak horisontal yang telah ditambal atau yang masih
belum rata harus digosok dengan batu gurinda yang agak kasar (medium),
dengan menempatkan sedikit adukan semen pada permukaannya. Adukan
harus terdiri dari semen dan pasir halus yang dicampur sesuai dengan
proporsi yang digunakan untuk pengerjaan akhir beton. Penggosokan harus
dilaksanakan sampai seluruh tanda bekas acuan, ketidakrataan, tonjolan
hilang, dan seluruh rongga terisi, serta diperoleh permukaan yang rata. Pasta
yang dihasilkan dari penggosokan ini harus dibiarkan tertinggal di tempat.
iv. Perawatan Beton
1) Perawatan dengan Pembasahan
 Segera setelah pengecoran, beton harus dilindungi dari pengeringan
dini, temperatur yang terlalu panas, dan gangguan mekanis. Beton
harus dijaga agar kehilangan kadar air yang terjadi seminimal
mungkin dan diperoleh temperatur yang relatif tetap dalam waktu
yang ditentukan untuk menjamin hidrasi yang sebagaimana mestinya
pada semen dan pengerasan beton.
 Pekerjaan perawatan harus segera dimulai setelah beton mulai
mengeras (sebelum terjadi retak susut basah) dengan menyelimutinya
dengan bahan yang dapat menyerap air. Lembaran bahan penyerap air
ini yang harus dibuat jenuh dalam waktu paling sedikit 7 hari. Semua
bahan perawatan atau lembaran bahan penyerap air harus menempel
pada permukaan yang dirawat.
 Jika acuan kayu tidak dibongkar maka acuan tersebut harus
dipertahankan dalam kondisi basah sampai acuan dibongkar, untuk
mencegah terbukanya sambungan-sambungan dan pengeringan beton.
 Permukaan beton yang digunakan langsung sebagai lapis aus harus
dirawat setelah permukaannya mulai mengeras (sebelum terjadi retak
susut basah) dengan ditutupi oleh lapisan pasir lembab setebal 5 cm
paling sedikit selama 21 hari.
 Beton semen yang mempunyai sifat kekuatan awal yang tinggi, harus
dibasahi sampai kuat tekannya mencapai 70 % dari kekuatan
rancangan beton berumur 28 hari.
2) Perawatan dengan Uap
 Beton yang dirawat dengan uap untuk mendapatkan kekuatan awal
yang tinggi, tidak diperkenankan menggunakan bahan tambahan
kecuali atas persetujuan Pejabat Pembuat Komitmen/PPK.
 Perawatan dengan uap harus dikerjakan secara menerus sampai waktu
dimana beton telah mencapai 70 % dari kekuatan rancangan beton
berumur 28 hari. Perawatan dengan uap untuk beton harus mengikuti
ketentuan di bawah ini:
• Tekanan uap pada ruang uap selama perawatan beton tidak boleh
melebihi tekanan luar.
• Temperatur pada ruang uap selama perawatan beton tidak boleh
melebihi 380C selama 2 jam sesudah pengecoran selesai, dan
kemudian temperatur dinaikkan berangsur-angsur sehingga
mencapai 650C dengan kenaikan temperatur maksimum 140C /
jam secara bertahap.
• Perbedaan temperatur pada dua tempat di dalam ruangan uap tidak
boleh melebihi 5,50C.
• Penurunan temperatur selama pendinginan dilaksanakan secara
bertahap dan tidak boleh lebih dari 110C per jam.
• Perbedaan temperatur beton pada saat dikeluarkan dari ruang
penguapan tidak boleh lebih dari 110C dibanding udara luar.
• Selama perawatan dengan uap, ruangan harus selalu jenuh dengan
uap air.
• Semua bagian bangunanal yang mendapat perawatan dengan uap
harus dibasahi selama 4 hari sesudah selesai perawatan uap
tersebut.
 Penyedia harus membuktikan bahwa peralatannya bekerja dengan
baik dan temperatur di dalam ruangan perawatan dapat diatur sesuai
dengan ketentuan dan tidak tergantung dari cuaca luar.
 Pipa uap harus ditempatkan sedemikian rupa atau balok harus
dilindungi secukupnya agar beton tidak terkena langsung semburan
uap, yang akan menyebabkan perbedaan temperatur pada bagian-
bagian beton.

3) Perawatan dengan Cara Lain


1) Membran cair
Perawatan membran dilakukan ketika seluruh permukaan beton segera
sesudah air meningggalkan permukaan (kering), terlebih dahulu
setelah beton dibuka cetakannya dan finishing dilakukan. Jika
seandainya hujan turun maka harus dibuat pelindung sebelum lapisan
membran cukup kering, atau seandainya lapisan membran rusak maka
harus dilakukan pelapisan ulang lagi.
2) Selimut kedap air
Metode ini dilakukan dengan menyelimuti permukaan beton dengan
bahan lembaran kedap air yang bertujuan mencegah kehilangan
kelembaban ari permukaan beton. Beton harus basah pada saat
lembaran kedap air ini dipasang. Lembaran bahan ini aman untuk
tidak terbang/pindah tertiup angin dan apabila ada kerusakan/sobek
harus segera diperbaiki selama periode perawatan berlangsung.
4) Form-In-Place
Perawatan yang dilakukan dengan tetap mempertahankan cetakan
sebagai dinding penahan pada tempatnya selama waktu yang
diperlukan beton dalam masa perawatan

4. PENGENDALIAN MUTU
a)Penerimaan bahan
Bahan yang diterima (air, semen, agregat dan bahan tambah bila diperlukan) harus
diperiksa oleh pengawas penerimaan bahan dengan mengecek/memeriksa bukti tertulis
yang menunjukkan bahwa bahan-bahan yang telah diterima harus sesuai dengan
ketentuan persyaratan bahan pada Pekerjaan Beton, Bekisting dan Waterstop.
b)Pengawasan
Direksi pekerja harus menempatkan seorang personal khusus yang mempunyai keahlian
untuk melakukan pengawasan pekerjaan sesuai dengan persyaratan kerja.
c)Perencanaan Campuran
a) Ketentuan Sifat-sifat Campuran
i. Campuran beton yang tidak memenuhi ketentuan kelecakan (misalnya
dinyatakan dengan nilai “slump”) seperti yang diusulkan tidak boleh digunakan
pada pekerjaan, terkecuali bila Pejabat Pembuat Komitmen/PPK dalam beberapa
hal menyetujui penggunaannya secara terbatas. Kelecakan (workability) dan
tekstur campuran harus sedemikian rupa sehingga beton dapat dicor pada
pekerjaan tanpa membentuk rongga, celah, gelembung udara atau gelembung
air, dan sedemikian rupa sehingga pada saat pembongkaran acuan diperoleh
permukaan yang rata, halus dan padat.
ii. Seluruh beton yang digunakan dalam pekerjaan harus memenuhi kuat tekan
yang disyaratkan, atau yang disetujui oleh Pejabat Pembuat Komitmen/PPK, bila
pengambilan contoh, perawatan dan pengujian sesuai dengan SNI 03-1974-
1990, SNI 03-4810-1998, SNI 03-2493-1991, SNI 03-2458-1991.
iii. Jika pengujian beton umur 7 hari menghasilkan kuat tekan beton di bawah
kekuatan yang disyaratkan, maka Penyedia tidak diperkenankan mengecor beton
lebih lanjut, sampai penyebab dari hasil yang rendah tersebut diketahui dengan
pasti dan diambil tindakan-tindakan yang menjamin bahwa produksi beton
berikutnya memenuhi ketentuan yang disyaratkan dalam Spesifikasi. Kuat tekan
beton umur 28 hari yang tidak memenuhi ketentuan yang disyaratkan harus
dipandang sebagai pekerjaan yang tidak dapat diterima dan pekerjaan tersebut
harus diperbaiki sebagaimana disyaratkan di atas. Kekuatan beton dianggap
lebih kecil dari yang disyaratkan jika hasil pengujian serangkaian benda uji dari
suatu bagian pekerjaan yang dilaksanakan lebih kecil dari kuat tekan beton
karakteristik yang diperoleh dari rumus yang diuraikan.
iv. Pejabat Pembuat Komitmen/PPK dapat pula menghentikan pekerjaan dan/atau
memerintahkan Penyedia untuk mengambil tindakan perbaikan dalam
meningkatkan mutu campuran atas dasar hasil pengujian kuat tekan beton umur
3 hari. Dalam keadaan demikian, Penyedia harus segera menghentikan
pengecoran beton yang diragukan tetapi dapat memilih menunggu sampai hasil
pengujian kuat tekan beton umur 7 hari diperoleh, sebelum menerapkan tindakan
perbaikan, pada waktu tersebut Pejabat Pembuat Komitmen/PPK akan menelaah
kedua hasil pengujian umur 3 hari dan 7 hari, dan dapat segera memerintahkan
tindakan perbaikan yang dipandang perlu.
v. Perbaikan atas pekerjaan beton yang tidak memenuhi ketentuan dapat mencakup
pembongkaran dan penggantian seluruh beton. Tindakan tersebut tidak boleh
berdasarkan pada hasil pengujian kuat tekan beton umur 3 hari saja, kecuali bila
Penyedia dan Pejabat Pembuat Komitmen/PPK sepakat dengan perbaikan
tersebut.
b) Penyesuaian Campuran
i. Penyesuaian Sifat Mudah Dikerjakan (Kelecakan atau Workability) Jika sifat
kelecakan pada beton dengan proporsi yang semula dirancang sulit diperoleh,
maka Penyedia boleh melakukan perubahan rancangan agregat, dengan syarat
dalam hal apapun kadar semen yang semula dirancang tidak berubah, juga rasio
air/semen yang telah ditentukan berdasarkan pengujian yang menghasilkan kuat
tekan yang memenuhi tidak dinaikkan. Pengadukan kembali beton yang telah
dicampur dengan cara menambah air atau oleh cara lain tidak diijinkan. Bahan
tambahan untuk meningkatkan sifat kelecakan hanya diijinkan bila telah
disetujui oleh Pejabat Pembuat Komitmen/PPK.
ii. Penyesuaian Kekuatan
Jika beton tidak mencapai kekuatan yang disyaratkan, maka kadar semen dapat
ditingkatkan atau dapat digunakan bahan tambahan dengan syarat disetujui oleh
Pejabat Pembuat Komitmen/PPK.
iii. Penyesuaian Untuk Bahan-bahan Baru
Perubahan sumber atau karakteristik bahan tidak boleh dilakukan tanpa
pemberitahuan tertulis kepada Pejabat Pembuat Komitmen/PPK. Bahan baru
tidak boleh digunakan sampai Pejabat Pembuat Komitmen/PPK menerima bahan
tersebut secara tertulis dan menetapkan proporsi baru berdasarkan atas hasil
pengujian campuran percobaan baru yang dilakukan oleh Penyedia.
iv. Bahan Tambahan (admixture)
Bila perlu menggunakan bahan tambahan, maka Penyedia harus mendapat
persetujuan dari Pejabat Pembuat Komitmen/PPK. Jenis dan takaran bahan
tambahan yang akan digunakan untuk tujuan tertentu harus dibuktikan
kebenarannya melalui pengujian campuran di laboratorium. Ketentuan mengenai
bahan tambahan ini harus mengacu pada SNI 03-2495-1991. Bila akan
digunakan bahan tambahan berupa butiran yang sangat halus, sebagian besar
berupa mineral yang bersifat cementious seperti abu terbang (fly ash),
mikrosilika (silicafume), atau abu slag besi (iron furnace slag), yang umumnya
ditambahkan pada semen sebagai bahan utama beton, maka penggunaan bahan
tersebut harus berdasarkan hasil pengujian laboratorium yang menyatakan
bahwa hasil kuat tekan yang dihasilkan sesuai dengan persyaratan yang
diinginkan pada Gambar Rencana dan disetujui oleh Pejabat Pembuat
Komitmen/PPK. Dalam hal penggunaan bahan tambahan dalam campuran
beton, maka bahan tersebut ditambahkan pada saat pengadukan beton. Bahan
tambahan ini hanya boleh digunakan untuk meningkatkan kinerja beton segar
(fresh concrete). Penggunaan bahan tambahan ini dilakukan dalam hal-hal
sebagai berikut:
a) Meningkatkan kinerja kelecakan adukan beton tanpa menambah air;
b) Mengurangi penggunaan air dalam campuran beton tanpa mengurangi
kelecakan;
c) Mempercepat pengikatan hidrasi semen atau pengerasan beton;
d) Memperlambat pengikatan hidrasi semen atau pengerasan beton;
e) Meningkatkan kinerja kemudahan pemompaan beton;
f) Mengurangi kecepatan terjadinya slump loss;
g) Mengurangi susut beton atau memberikan sedikit pengembangan volume
beton (ekspansi);
h) Mengurangi terjadinya bleeding;
i) Mengurangi terjadinya segregasi.
Untuk tujuan peningkatan kinerja beton sesudah mengeras, bahan tambahan
campuran beton bisa digunakan untuk keperluan-keperluan sebagai berikut:
j) Meningkatkan kekuatan beton (secara tidak langsung)
k) Meningkatkan kekuatan pada beton muda
l) Mengurangi atau memperlambat panas hidrasi pada proses pengerasan
m) beton, terutama untuk beton dengan kekuatan awal yang tinggi.
n) Meningkatkan kinerja pengecoran beton di dalam air atau di laut
o) Meningkatkan keawetan jangka panjang beton
p) Meningkatkan kekedapan beton (mengurangi permeabilitas beton)
q) Mengendalikan ekspansi beton akibat reaksi alkali agregat
r) Meningkatkan daya lekat antara beton baru dan beton lama
s) Meningkatkan daya lekat antara beton dan baja tulangan
t) Meningkatkan ketahanan beton terhadap abrasi dan tumbukan
Walaupun demikian, penggunaan aditif dan admixture perlu dilakukan secara
hati-hati dan dengan takaran yang tepat sesuai manual penggunaannya, serta
dengan proses pengadukan yang baik, agar pengaruh penambahannya pada
kinerja beton bisa dicapai secara merata pada semua bagian beton. Dalam hal ini
perlu dimengerti bahwa dosis yang berlebih akan dapat mengakibatkan
menurunnya kinerja beton, atau dalam hal yang lebih parah, dapat menimbulkan
kerusakan pada beton.
c) Pelaksanaan Pencampuran
i. Penakaran Agregat
i. Seluruh komponen bahan beton harus ditakar menurut berat, untuk mutu
beton fc‟ < 20 MPa diijinkan ditakar menurut volume sesuai SNI 03-3976-
1995. Bila digunakan semen kemasan dalam zak, kuantitas penakaran harus
sedemikian sehingga kuantitas semen yang digunakan adalah setara dengan
satu satuan atau kebulatan dari jumlah zak semen. Agregat harus ditimbang
beratnya secara terpisah. Ukuran setiap penakaran tidak boleh melebihi
kapasitas alat pencampur.
ii. Penakaran agregat harus dilakukan dalam kondisi jenuh kering permukaan
(SSD-saturated surface dry). Apabila hal tersebut tidak dilakukan maka
harus dilakukan koreksi penakaran sesuai dengan kondisi agregat di
lapangan. Untuk mendapatkan kondisi agregat yang jenuh kering
permukaan dapat dilakukan dengan cara menyemprot tumpukan agregat
dengan air secara berkala paling sedikit 12 jam sebelum penakaran untuk
menjamin kondisi jenuh kering permukaan.
iii. Penyedia harus dapat menunjukkan sertifikat kalibrasi yang masih berlaku
untuk seluruh peralatan yang digunakan untuk keperluan penakaran bahan-
bahan beton termasuk saringan agregat pada perangkat ready mix.
ii. Pencampuran
i. Beton harus dicampur dalam mesin yang dijalankan secara mekanis dari
jenis dan ukuran yang disetujui sehingga dapat menjamin distribusi yang
merata dari seluruh bahan.
ii. Pencampur harus dilengkapi dengan tangki air yang memadai dan alat ukur
yang akurat untuk mengukur dan mengendalikan jumlah air yang digunakan
dalam setiap penakaran.
iii. Cara pencampuran bahan beton dilakukan sebagai berikut, pertama
masukkan sebagian air, kemudian seluruh agregat sehingga mencapai
kondisi yang cukup basah, dan selanjutnya masukkan seluruh semen yang
sudah ditakar hingga tercampur dengan agregat secara merata. Terakhir
masukkan sisa air untuk menyempurnakan campuran.
iv. Waktu pencampuran harus diukur mulai pada saat air dimasukkan ke dalam
campuran bahan kering. Seluruh sisa air yang diperlukan harus sudah
dimasukkan sekira seperempat waktu pencampuran tercapai. Waktu
pencampuran untuk mesin berkapasitas ¾ m3 atau kurang harus sekira 1,5
menit; untuk mesin yang lebih besar waktu harus ditingkatkan 15 detik
untuk tiap penambahan 0,5 m3.
v. Bila tidak mungkin menggunakan mesin pencampur, Pejabat Pembuat
Komitmen/PPK dapat menyetujui pencampuran beton dengan cara manual
dan harus dilakukan sedekat mungkin dengan tempat pengecoran.
Penggunaan pencampuran beton dengan cara manual harus dibatasi hanya
pada beton non-bangunan.
d) Pengujian Campuran
1) Pengujian Untuk Kelecakan (Workability)
Satu pengujian "slump", atau lebih sebagaimana yang diperintahkan oleh Pejabat
Pembuat Komitmen/PPK, harus dilaksanakan pada setiap pencampuran beton
yang dihasilkan, dan pengujian harus dianggap belum dikerjakan kecuali
disaksikan oleh Pejabat Pembuat Komitmen/PPK atau wakilnya. Nilai slump
pada setiap campuran tidak boleh berada diluar rentang nilai slump (± 2 cm)
yang disyaratkan .
2) Pengujian Kuat Tekan
a)Penyedia harus membuat sejumlah set benda uji (3 buah benda uji per set)
untuk pengujian kuat tekan berdasarkan jumlah beton yang dicorkan untuk
setiap kuat tekan beton dan untuk setiap jenis komponen bangunan yang
dicor terpisah pada tiap hari pengecoran.
b)Untuk keperluan pengujian kuat tekan beton, Penyedia harus menyediakan
benda uji beton berupa silinder dengan diameter 150 mm dan tinggi 300
mm, dan harus dirawat sesuai dengan SNI 03-4810-1998. Benda uji tersebut
harus dicetak bersamaan dan diambil dari contoh yang sama dengan benda
uji silinder yang akan dirawat di laboratorium.
c)Jumlah set benda uji yang dibuat berdasarkan jumlah kuantitas pengecoran
atau komponen bangunan yang dicor secara terpisah dan diambil jumlah
terbanyak diantara keduanya.
d)Pengambilan benda uji untuk pengecoran yang didapat dari pencampuran
secara manual, setiap 10 meter kubik beton harus dibuat 1 set benda uji dan
untuk setiap komponen bangunan yang dicor terpisah minimal diambil 3 set
benda uji.
e)Jumlah benda uji yang harus dibuat untuk pengecoran hasil produksi ready
mix, diambil pada setiap pengiriman (1 set untuk setiap truk). 1set = 3 buah
benda uji.
f)Setiap set pengujian minimum tersebut harus diuji untuk kuat tekan beton
umur 28 hari.
g)Apabila dalam pengujian kuat tekan benda uji tersebut terdapat perbedaan
nilai kuat tekan yang > 5% antara dua buah benda uji dalam set tersebut,
maka benda uji ketiga dalam set tersebut harus diuji kuat tekannya. Hasil
kuat tekan yang digunakan dalam perhitungan statistik adalah hasil dari 2
buah benda uji yang berdekatan nilainya. viii. Kekuatan beton diterima
dengan memuaskan bila fc karakteristik dari benda uji lebih besar atau sama
dengan fc rencana. fc karakteristik dihitung dengan rumus sebagai berikut :
fc’= fcm ± k.S , di mana S menyatakan nilai deviasi standar dari hasil uji
tekan, dan k adalah konstanta yang tergantung pada jumlah hasil kuat tekan
dari benda uji (k=1,64 untuk jumlah hasil kuat tekan benda uji lebih besar
atau sama dengan dari 30)

Ʃ (fci – f cm)2
h)Nilai hasil uji tekan satupun tidak boleh mempunyai nilai di bawah 0,85 fc‟.
i)Jika salah satu dari kedua syarat tersebut di atas tidak dipenuhi, maka harus
diambil langkah untuk meningkatkan rata-rata dari hasil uji kuat tekan
berikutnya, dan langkah-langkah lain untuk memastikan bahwa kapasitas
daya dukung dari bangunan tidak membahayakan.
j)Jika dari hasil perhitungan dengan kuat tekan menunjukkan bahwa kapasitas
daya dukung bangunan berkurang, maka diperlukan suatu uji bor (core
drilling) pada daerah yang diragukan berdasarkan aturan pengujian yang
berlaku. Dalam hal ini harus diambil paling tidak 3 (tiga) buah benda uji bor
inti pada daerah yang tidak membahayakan bangunan untuk setiap hasil uji
tekan yang meragukan atau terindikasi bermutu rendah seperti disebutkan di
atas.
k)Beton di dalam daerah yang diwakili oleh hasil uji bor inti bisa dianggap
secara bangunan antara lain cukup baik bila rata-rata kuat tekan dari ketiga
benda uji bor inti tersebut tidak kurang dari 0,85 fc‟, dan tidak satupun dari
benda uji bor inti yang mempunyai kekuatan kurang dari 0,75 fc‟. Dalam
hal ini, perbedaan umur beton saat pengujian kuat tekan benda uji bor inti
terhadap umur beton yang disyaratkan untuk penetapan kuat tekan beton
(yaitu 28 hari, atau lebih bila disyaratkan), perlu diperhitungkan dan
dilakukan koreksi dalam menetapkan kuat tekan beton yang dihasilkan.
3) Pengujian Tambahan
Penyedia harus melaksanakan pengujian tambahan yang diperlukan untuk
menentukan mutu bahan atau campuran atau pekerjaan beton akhir, sebagaimana
yang diperintahkan oleh Pejabat Pembuat Komitmen/PPK. Pengujian tambahan
tersebut meliputi :
i. Pengujian yang tidak merusak menggunakan alat seperti Impact Echo,
Ultrasonic Penetration Velocity atau perangkat penguji lainnya (hasil
pengujian tidak boleh digunakan sebagai dasar penerimaan);
ii. Pengujian pembebanan bangunan atau bagian bangunan yang
dipertanyakan;
iii. Pengambilan dan pengujian benda uji inti (core) beton;
iv. Pengujian lainnya sebagaimana ditentukan oleh Pejabat Pembuat
Komitmen/PPK.
e) Perbaikan Atas Pekerjaan Beton Yang Tidak
n - 1 Memenuhi Ketentuan

dimana,
fc’ = Kuat tekan beton karakteristik
fci = Kuat tekan beton yang diuji
fcm = Kuat tekan beton rata-rata
i. Perbaikan atas pekerjaan beton yang tidak memenuhi kriteria toleransi yang
disyaratkan,atau yang tidak memiliki permukaan akhir yang memenuhi
ketentuan,atau yang tidak memenuhi sifat-sifat campuran yang disyaratkan, harus
mengikuti petunjuk yang diperintahkan oleh Pejabat Pembuat Komitmen/PPK
antara lain
ii. Perubahan proporsi campuran beton untuk sisa pekerjaan yang belum dikerjakan;
iii. Penanganan pada bagian bangunan yang hasil pengujiannya gagal;
iv. Perkuatan, pembongkaran atau penggantian sebagian atau menyeluruh pada
bagian pekerjaan yang memerlukan penanganan khusus.
v. Jika terjadi perbedaan pendapat dalam hal mutu pekerjaan beton atau adanya
keraguan dari data pengujian yang ada, Pejabat Pembuat Komitmen/PPK dapat
meminta Penyedia melakukan pengujian tambahan yang diperlukan untuk
menjamin bahwa mutu pekerjaan yang telah dilaksanakan dapat dinilai dengan
adil dengan meminta pihak ketiga untuk melaksanakannya.
vi. Perbaikan atas pekerjaan beton yang retak atau bergeser sesuai dengan ketentuan
dari Spesifikasi ini. Penyedia harus mengajukan detail rencana perbaikan untuk
mendapatkan persetujuan Pejabat Pembuat Komitmen/PPK sebelum memulai
pekerjaan.

5. PENGUKURAN DAN PEMBAYARAN


a. Pengukuran
1. Pekerjaan Beton
1. Cara Pengukuran
1). Beton akan diukur dengan jumlah meter kubik pekerjaan beton yang
digunakan dan diterima sesuai dengan dimensi yang ditunjukkan pada
Gambar Kerja atau yang diperintahkan oleh Pejabat Pembuat
Komitmen/PPK. Tidak ada pengurangan yang akan dilakukan untuk
volume yang ditempati oleh pipa dengan garis tengah kurang dari 20 cm
atau oleh benda lainnya yang tertanam seperti "water stop", baja tulangan,
selongsong pipa (conduit) atau lubang sulingan (weephole).
2). Tidak ada pengukuran tambahan atau yang lainnya yang akan dilakukan
untuk acuan, perancah untuk balok dan lantai pemompaan, penyelesaian
akhir permukaan, penyediaan pipa sulingan, pekerjaan pelengkap lainnya
untuk penyelesaian pekerjaan beton, dan biaya dari pekerjaan tersebut
telah dianggap termasuk dalam harga penawaran untuk Pekerjaan Beton.
3). Kuantitas bahan untuk lantai kerja, bahan drainase porous, baja tulangan
dan mata pembayaran lainnya yang berhubungan dengan bangunan yang
telah selesai dan diterima akan diukur untuk dibayarkan seperti
disyaratkan pada Bagian lain dalam Spesifikasi ini.
4). Beton yang telah dicor dan diterima harus diukur dan dibayar sebagai
beton bangunan atau beton tidak bertulang. Beton Bangunan harus beton
yang disyaratkan atau disetujui oleh Pejabat Pembuat Komitmen/PPK
sebagai fc‟=20 MPa (K-250) atau lebih tinggi dan Beton Tak Bertulang
harus beton yang disyaratkan atau disetujui untuk fc‟=15 MPa (K-175)
atau fc‟=10 Mpa (K-125). Jika beton dengan mutu (kekuatan) yang lebih
tinggi diperkenankan untuk digunakan di lokasi untuk mutu (kekuatan)
beton yang lebih rendah, maka volumenya harus diukur sebagai beton
dengan mutu (kekuatan) yang lebih rendah.
2. Pengukuran Untuk Pekerjaan Beton Yang Diperbaiki
1) Jika pekerjaan telah diperbaiki, kuantitas yang akan diukur untuk
pembayaran harus sejumlah yang harus dibayar bila mana pekerjaan
semula telah memenuhi ketentuan.
2) Tidak ada pembayaran tambahan akan dilakukan untuk tiap peningkatan
kadar semen atau setiap bahan tambah (admixture), juga tidak untuk tiap
pengujian atau pekerjaan tambahan atau bahan pelengkap lainnya yang
diperlukan untuk mencapai mutu yang disyaratkan untuk pekerjaan beton.

b. Dasar Pembayaran
Kuantitas yang diterima dari berbagai mutu beton yang ditentukan sebagaimana yang
disyaratkan di atas, akan dibayar pada Harga Kontrak untuk Mata Pembayaran dan
menggunakan satuan pengukuran yang ditunjukkan di bawah dan dalam Daftar Kuantitas.
Harga dan pembayaran harus merupakan kompensasi penuh untuk seluruh penyediaan
dan pemasangan seluruh bahan yang tidak dibayar dalam Mata Pembayaran lain,
termasuk "water stop", lubang sulingan, acuan, perancah untuk pencampuran,
pengecoran, pekerjaan akhir dan perawatan beton, dan untuk semua biaya lainnya yang
perlu dan lazim untuk penyelesaian pekerjaan yang sebagaimana mestinya, yang
diuraikan dalam Bagian ini.
BAB VI. PEKERJAAN PINTU

1. RUANG LINGKUP
Pekerjaan ini mencakup perencanaan, pengadaan, pengujian, finishing, pengecatan,
pengiriman ke lokasi pekerjaan, penyetelan yang ditunjuk oleh Pejabat Pembuat
Komitmen/PPK.

2. KETENTUAN DAN PERSYARATAN


1) Toleransi Dimensi
a) Pekerjaan besi/baja
a) Batang sambungan geser (struts)
Penyimpangan maksimum terhadap garis lurus, termasuk dari masing-masing flens
ke segala arah : panjang/1000 atau 3 mm, dipilih yang lebih besar.
b) Permukaan yang Dikerjakan dengan Mesin
Penyimpangan permukaan bidang kontak yang dikerjakan dengan mesin tidak
boleh lebih dari 0,25 mm untuk permukaan yang dapat dipahat dalam suatu
segiempat dengan sisi 0,5 m
1) Diameter Lubang
Lubang pada elemen utama : +1,2 mm - 0,4 mm
Lubang pada elemen sekunder : +1,8 mm - 0,4 mm
2) Alinyemen Lubang
Elemen utama, dibuat di bengkel : ± 0,4 mm
Elemen sekunder dibuat di lapangan : ± 0,6 mm
c) Pelenturan Alat Angkat maksimum permukaan terhadap permukaan teoritis harus
kurang dari 1 (satu) milimeter pada setiap panjang 3 (tiga) meter
b) Pekerjaan Kayu
Penyimpangan penampang balok kayu tidak boleh lebih dari dari + 5 mm untuk setiap
panjang balok 2.00 meter
c) Pekerjaan Pengelasan.
Penyimpangan yang tidak dikehendaki akibat kesalahan penjajaran bagian-bagian
yang akan disambung tidak melampaui 0,15 kali ketebalan pada bagian yang lebih
tipis atau 3 mm untuk material yang tebalnya lebih besar 12 mm
2) Persyaratan Bahan
a) Pekerjaan Daun Pintu
a) Pelat Baja.
Persyaratan pekerjaan besi dan baja harus mengikuti sesuai dengan SNI 03-6861-2-
2002. Spesifikasi Bahan bangunan bagian B (bahan bangunan dari besi/baja
b) Kayu.
Tebal pintu kayu pada umumnya diprergunakan ukuran tebal 80 mm, 100 mm dan
120 mm.
Kayu yang akan dipergunakan harus mempunyai persyaratan kekuatan lentur yang
pengujian sesuai SNI 03–3959–1995, Metode Pengujian Kuat Lentur Kayu di
Laboratorium dan persyaratan pengujian kuat Tekan sesuai SNI 03–3958–1995,
Metode Pengujian Kuat tekan Kayu di Laboratorium dan sebelum dipasang harus
diawetkan terlebih dahulu sesuai SNI 03–3233–1009, Tata Cara Pengawetan kayu
untuk bangunan rumah dan gedung.
b) Pekerjaan pengecatan
Semua komponen pintu beserta alat pengangkat, kerangka alur maupun kerangka
ambang baik yang tertanam di beton maupun yang terbuka agar tahan terhadap cuaca
harus dicat dengan “coaltar epoxy resin”, Pengecatan Komponen tersebut harus
memenuhi persyaratan sesuai SNI 06 – 6452 – 2000, Metode Pengujian cat bitumen
sebagai lapis pelindung
c) Pekerjaan alat angkat
a) Stang pintu (alat pengangkat pintu) yang berupa tipe mur penggerak yang
dioperasikan secara manual/elektrik, dipasang pada balok atas pada rangka pintu
untuk menaikkan, menurunkan dan memegang pintu;
b) Bahan Stang Pintu beserta pelengkapnya yang berupa baut, Tongkat batang
Penghubung, Handel Operasi Manual, roda gigi, reduksi, Tumpuan/bantalan,
maupun rangka alur (sponning) harus memenuhi persyaratan sesuai SNI 03-6861-2-
2002 Spesifikasi Bahan bangunan bagian B (bahan bangunan dari besi/baja;
c) Kerangka alur (sponning) harus mampu meneruskan tekanan air pada beton.
Permukaan rangka sponing harus betul dan rata. Pelenturan maksimum permukaan
terhadap permukaan teoritis harus kurang dari 1 (satu) milimeter pada setiap
panjang 3 (tiga) meter.

3) Persyaratan Kerja
(1)Daun Pintu
• Semua tipe pintu terdiri dari daun pintu air, kerangka utama penyekat dan
komponen lain yang diperlukan. Pintu yang digunakan harus sesuai dengan Gambar
dengan konstruksi las, lebar dan tinggi bersih daun pintu;
• Jika detail bangunan pintu tidak ditentukan dalam spesifikasi ini maka Penyedia
harus membuatnya dengan persetujuan Direksi;
• Pelat pintu air harus terletak di bagian hulu. Tebal minimum pelat pintu air adalah 6
(enam) mm, termasuk ke longgaran korosi 2 (dua) milimeter;
• Kerangka utama mendatar terbuat dari profil U dengan kelonggaran korosi 2 (dua)
milimeter. Lendutan balok pada beban penuh harus kurang dari 1/800 bentang pada
beban maximum;
• Seal harus terdiri dari bahan karet yang diklem pada pintu dengan baut, mur dan
cincin baja. Seal harus disambung pada ujungnya dengan cara divulkanisir agar
menerus. Tegangan tarik pada sambungan harus lebih besar dari 50% (lima puluh
persen) pada bagian tanpa sambungan. Seal harus dibentuk sedemikian sehingga
dapat menahan air dengan baik.
(2)Kerangka Pintu
Setiap rangka pintu harus terdiri dari kerangka ambang dasar pintu, kerangka atas dan
kerangka tarik/sponing dan semua komponen lain yang diperlukan pada pemasangan
rangka pintu yang lengkap dan memudahkan operasi pintu. Jika konstruksi rangka
pintu tidak dijelaskan secara rinci disini, maka harus dibuat oleh Penyedia dengan
persetujuan Pejabat Pembuat Komitmen/PPK.
1) Kerangka Ambang
Kerangka ambang harus dibuat yang benar terhindar dari puntir dan bengkokan
agar tidak terjadi bocoran dibawah pintu. Kerangka ambang harus direncanakan
agar dapat meneruskan gaya – gaya yang terjadi pada beton atau pasangan batu kali
tanpa terjadi pelenturan.
2) Kerangka Sponing
Kerangka sponing harus mampu meneruskan tekanan air pada beton. Permukaan
rangka sponing harus betul dan rata. Pelenturan maksimum permukaan terhadap
permukaan teoritis harus kurang dari 1 (satu) milimeter pada setiap panjang 3 (tiga)
meter. Permukaan harus dikerjakan dengan mesin dan diperkeras untuk
memberikan perlindungan terhadap keausan.
3) Kerangka Atas
Balok atas harus diletakkan diatas rangka samping dan harus mendukung
pengangkat roda gigi. Balok atas harus mampu menahan beban pengangkat.
(3) Stang
a) Umum
Stang pintu berupa tipe mur penggerak yang dioperasikan secara manual dan tenaga
listrik, dipasang pada balok atas pada rangka pintu untuk menaikkan, menurunkan
dan memegang pintu. Stang harus terdiri dari peralatan mekanis/listrik, yaitu :
tumpuan, mur penggerak, roda gigi, handel pemutar dan komponen lain yang
memerlukan pengoperasian secara efisien. Stang harus direncanakan agar mampu
menahan beban yang terjadi.
Jika konstruksi stang yang perinciannya tidak diterangkan disini, maka harus dibuat
oleh Penyedia dengan persetujuan Pejabat Pembuat Komitmen/PPK.
b) Peralatan Mekanis, meliputi :
 Tumpuan/bantalan
Tumpuan harus berupa tipe bola, silinder atau datar
 Roda gigi reduksi
Semua roda gigi, kecuali roda gigi reduksi yang terbuat dari brons pospor
tuang, harus dibuat dari baja tuang atau baja tempa. Roda gigi dan bantalan
harus cukup kaku terhadap gerakan. Roda gigi harus mempunyai “rumah” yang
dapat dilepaskan untuk memudahkan pelumasan.
 Kloping
Kloping harus dilengkapi, dengan maksud untuk penyesuaian dan pelekatan
secara tetap pada tongkat sesudah penyesuaian kedudukan pintu dilapangan.
 Ulir Pengangkatan
Ulir pengangkatan harus terbuat dari baja tempa atau bahan lain yang disetujui
dan dikerjakan dengan mesin. Ulir pengangkat yang dapat dihubungkan dengan
roda gigi pinggir harus terdiri dari penopang roda gigi dan bantalan pemandu
sebagai penguat.
 Tongkat Penghubung
Tongkat penghubung dibuat dari batang baja.
 Handel Operasi Manual
Setiap sebatang harus dilengkapi dengan handel operasi manual yang dapat
mengangkat beban penuh sebagaimana direncanakan. Gaya untuk memutar alat
harus lebih kecil dari 15 (lima belas) kilogram.

3. PELAKSANAAN PEKERJAAN
a) Perencanaan
Kegiatan perencanaan pintu pada dasarnya tergantung pada beban dan tegangan rencana,
yang meliputi :
1) Beban rencana
1) Pintu
Pintu harus direncanakan dengan kondisi beban sebagai berikut :
a) Beban air
Beban air pada pintu harus seperti yang ditunjukkan pada gambar.
b) Beban – beban lain
c) Reaksi yang diakibatkan oleh berat sendiri. Semua beban yang akan terjadi
pada saat awal, menaikkan atau menurunkan pintu.
2) Rangka Pintu
Beban – beban pada rangka pintu terdiri dari beban pada tumpuan, beban karet
sekat dan semua beban lain yang diakibatkan pengoperasian pintu dan perangkat.
Rangka pintu harus mampu meneruskan beban dari karet sekat pintu ke beton atau
pasangan batu kali pada bangunan.
3) Alat Pengangkat
Alat pengangkat harus direncanakan untuk menaikkan, menurunkan dan
memegang pintu pada setiap posisi di antara keadaan pintu tertutup dan pintu
terbuka penuh. Ketinggian pengangkatan harus seperti pada gambar. Kapasitas
rata – rata pengangkat, tongkat ulir harus mampu menaikkan atau menurunkan
pintu pada kombinasi yang paling membahayakan.
2) Tegangan Rencana
a) Batang Baja
Tegangan yang diijinkan pada beban normal pada batang baja haruslah sebagai
berikut :

Batang Baja Tegangan Izin


a) Tegangan Tarik 1200 kg/cm2
b) Tegangan Desak 1200 kg/cm2
c) Tegangan lentur 1200 kg/cm2
d) Tegangan Geser 700 kg/cm2

Tegangan yang diijinkan pada kondisi beban sementara ditentukan 50% (lima
puluh persen) lebih besar dari pada kondisi beban normal. Tegangan ekivalen
yang diakibatkan kombinasi tegangan biaxial atau triaxial tidak boleh melebihi
tegangan ijin diatas. Bagaimanapun juga tidak diijinkan ada tegangan yang
melebihi 90% (sembilan puluh persen) dari tegangan maksimum material yang
digunakan. Tebal pelat baja untuk pekerjaan pintu adalah minimum 6 (enam) mm.
Modulus kelangsingan atau faktor tekuk pada kerangka baja desak utama harus
kurang dari 159 dan pada baja lainnya harus kurang dari 240.
b) Bagian Mesin
Semua bagian mesin pada alat pengangkat yang dikenal beban normal atau
kondisi beban rata – rata harus direncanakan berdasarkan angka keamanan
terhadap tegangan batas bahan yang digunakan, sebagai berikut :
Angka Keamanan bagi tegangan
Bahan Tarik dan
Tarik Tarik dan geser
Desak
e) Baja untuk generator atau 5,0 5,0 8,7
yang dilas
f) Baja karbon tempa 5,0 5,0 8,7
g) Baja karbon untuk 5,0 5,0 8,7
konstruksi mesin bangunan
h) Baja Batang tahan karat 5,0 5,0 8,7
i) Baja karbon tuang 5,0 5,0 8,8
j) Besi tuang 10,0 3,5 10,0
k) Brons tuang 8,0 8,0 10.0

c) Tegangan Beton
Tegangan beton yang diijinkan pada tumpuan tidak lebih dari 50 kg/cm2 dan
tegangan geser yang diijinkan tidak lebih dari 5,5 kg/cm2, tegangan desak yang
diijinkan pada pasangan batu kali tidak lebih dari 15 kg/cm2.

b) Perakitan dan Pengujian di Bengkel


a) Pintu dan Rangka Pintu
Setiap pintu dengan seal karet harus dirakit dibengkel. Pada saat perakitan, pintu harus
diperiksa mengenai ukuran, kelonggaran dan ketepatan posisinya. Setiap kesalahan
dan ketidak tepatan yang ditemukan harus dikoreksi dengan tepat. Seal karet harus
tepat pada posisinya saat perakitan di bengkel. Rangka sponing, balok atas dan balok
ambang pada rangka pintu harus diperiksa kelurusannya. Semua ukuran rangka pintu
yang berkaitan dengan ukuran pintu harus diperiksa dan setiap kesalahan dan ketidak
tepatan posisinya yang ditemukan harus diperbaiki. Suku cadang harus sesuai dan
dihindari selama perakitan dan pengangkutan.
b) Stang
Setiap stang harus dirakit dibengkel secara lengkap dan diperiksa kehalusan
permukaannya. Semua bagian harus diperiksa untuk menjamin bahwa semua
kelonggaran dan toleransi telah dipenuhi dan tidak ada kesalahan yang terjadi pada
setiap gerakan peralatannya.
Semua bantalan harus diperiksa dengan teliti, semua pelumas dengan gomok dan oli
yang diperlukan harus diuji. Setiap cacat atau ketidak tepatan operasi yang ditemukan
harus diperbaiki dan pengujian diulang kembali.

c) Pemasangan dan Pengujian di Lapangan


(1)Rangka Pintu
a) Rangka pintu harus dirakit dan dipasang pada tempatnya seperti gambar yang
telah disetujui pada posisi yang sesuai dengan toleransi yang diizinkan. Letak baut
atau perlengkapan lain harus dipasang pada rangka pintu dengan posisi yang tepat.
b) Ikatan antara rangka pintu dan penopang harus kuat sehingga pada saat beton
dicor tidak akan merubah posisi rangka pintu. Jika diperlukan untuk menjamin
posisi yang tepat dapat dilengkapi dengan penjepit tambahan.
c) Pemasangan seal karet harus hati–hati agar terletak pada permukaan yang tepat
sesuai dengan toleransi yang diizinkan. Pengecoran tidak diperkenankan bila
belum dirakit dengan lengkap dan teliti. Sewaktu pengecoran beton harus
diperiksa agar ukuran dan bentuknya sesuai gambar dan dalam batas toleransi.
Jika terjadi kesalahan harus segera diperbaiki.
(2)Pintu
Pintu harus dirakit dan dipasang sesuai gambar detail yang disetujui. Pintu–pintu harus
dirakit dan dipasang sesuai dengan toleransi yang diizinkan.
(3)Pengangkat
a) Sebelum dirakit, semua permukaan bantalan, sponing, alur dan lubang oli harus
dibersihkan dan dilumasi dengan oli dan gomok yang akan disetujui. Sesudah
dirakit, setiap sistim pelumasan harus diperiksa. Setiap pengangkat, lengkap
dengan perlengkapannya, harus dipasang sesui dengan gambar yang disetujui.
Pengangkatan harus diletakkan dan distel sehingga sesuai dengan alat pengangkat
pintu.
b) Sesudah pemasangan pengangkat dan sebelum dihubungkan dengan pintu,
pengangkat harus dioperasikan dan diperiksa, sesudah selesai pemeriksaan
tersebut, mur penggerak dihubungkan dengan pintu dan stang, kemudian ditest
dandistel sehingga dapat dioperasikan dengan tepat. Setiap kerusakan atau ketidak
tepatan operasi yang ditemukan selama pengujian harus diperbaiki dan prosedur
pengujian diulang kembali.

(4)Pengecatan
4.1. Setiap ketebalan pengecatan harus mendapat persetujuan dari Pejabat Pembuat
Komitmen/PPK;
4.2. Permukaan yang sudah siap harus dicat dasar sesuai dengan petunjuk pengecatan
dari pabrik;
4.3. Permukaan harus dibersihkan sesaat sebelum pengecatan;
4.4. Pengecatan lapis awal dan lapis akhir harus sesuai dengan cara dan peralatan yang
disarankan dari pabrik;
4.5. Cat yang dipakai harus mempunyai masa pemakaian tidak kurang dari 1 (satu)
tahun dalam keadaan segala cuaca di lokasi pekerjaan;
4.6. Penyedia harus menyediakan cat yang cukup untuk pengecatan di lapangan dan
pengecatan perbaikan di bengkel;
4.7. Semua pengecatan, harus dilakukan secara rata dan halus pada permukaan. Cat
harus diaduk seluruhnya, ditapis dan dijaga kekentalannya agar seragam selama
dipergunakan;
4.8. Tidak diperkenankan melakukan pengecatan pada permukaan logam yang
suhunya kurang dari 10o Celcius;
4.9. Permukaan yang akan dilapisi cat harus bebas dari kelembaban selama
pengecatan;
4.10.Pengecatan dilakukan dengan kuas atau semprot;
4.11.Pengecatan lapis pertama, dilakukan langsung sesudah penyiapan permukaan.
Tiap lapis harus dibiarkan kering dan mengeras lebih dahulu seluruhnya sebelum
dilakukan pengecatan berikutnya;
4.12.Cat yang diproduksi oleh pabrik yang mempunyai nama baik dan disetujui oleh
Pejabat Pembuat Komitmen/PPK;
4.13.Pengecatan dengan tar-epoxy dan atau epoxy resin harus dilaksanakan pada
bagian–bagian dibawah ini :
 Permukaan–permukaan yang tampak dari rangka pintu kecuali yang ada
diatas permukaan tanah.
 Semua daun pintu
 Pengecatan komponen tersebut harus memenuhi persyaratan sesuai SNI 06–
6452–2000, Metode Pengujian Cat Bitumen sebagai lapis pelindung
 Semua logam besi yang permukaannya tidak dihaluskan, kecuali yang
disebutkan diatas harus dicat dengan 1 (satu) lapis cat dasar dan 4 (empat)
lapis cat “chlorinated rubber” atau yang sekualitas. Tebal total lapisan
tersebut termasuk cat dasar harus 0,15 – 0,20 milimeter. Semua peralatan
harus dicat sesuai dengan standar pabrik.
 Semua permukaan logam dengan finishing termasuk sekrup yang tampak
selama pengangkutan atau selama menunggu pemasangan harus dibersihkan
dan dilapisi dengan cat yang mudah larut dalam bensin agar tidak berkarat.
(5)Pengelasan
- Semua pekerjaan las yang diperlukan pada pembuatan dan pemasangan pintu dan
perlengkapan dikerjakan dengan tenaga dengan cara las lindung busur metal atau
las busur otomatis;
- Tes tembus warna harus dikerjakan oleh Penyedia, jika diperlukan oleh standar
spesifikasi ini atau kriteria perencanaan ini;
- Alat ukur yang sesuai harus terpasang untuk pembacaan arus dan tegangan listrik
selama pengelasan berlangsung;
- Semua bagian yang di las yang merupakan pekerjaan akhir dengan mesin harus di
las dahulu sebelum dimesin, kecuali tercantum ketentuan lain;
- Semua pengelasan harus tidak terputus dan kedap air. Ukuran minimum batang
las 4,5 mm;
- Semua cacat pengelasan harus dibersihkan sampai dasar logam yang baik dan
daerah tersebut perlu dites dengan “Ultrasonik” untuk menyakinkan bahwa cacat
telah benar terhapus sebelum dilakukan perbaikan las;
- Semua pekerjaan pengelasan harus memenuhi persyaratan sesuai dengan
Spesifikasi pekerjaan pengelasan BS 5135 – 1984, Proces of Arc welding carbon
and Carbon Manganise steels.
(6)Pekerjaan Alat Angkat
1. Stang pintu (alat pengangkat pintu) yang berupa tipe mur penggerak yang
dioperasikan secara manual/elektrik, dipasang pada balok atas pada rangka pintu
untuk menaikkan, menurunkan dan memegang pintu;
2. Bahan stang pintu beserta pelengkapnya yang berupa baut, tongkat batang
penghubung, handel Operasi Manual, roda gigi, reduksi, tumpuan/bantalan,
maupun rangka alur (sponning) harus memenuhi persyaratan sesuai SNI 03-6861-
2-2002 Spesifikasi Bahan bangunan bagian B (bahan bangunan dari besi/baja);
3. Kerangka alur (sponing) harus mampu meneruskan tekanan air pada beton.
Permukaan rangka sponing harus betul dan rata. Pelenturan maksimum
permukaan terhadap permukaan teoritis harus kurang dari 1 (satu) milimeter pada
setiap panjang 3 (tiga) meter;
4. Kerangka ambang harus dibuat yang benar terhindar dari puntir dan bengkokan
agar tidak terjadi bocoran dibawah pintu. Kerangka ambang harus direncanakan
agar dapat meneruskan gaya–gaya yang terjadi pada beton atau pasangan batu kali
tanpa terjadi pelenturan.

4. PENGENDALIAN MUTU
2.1. Penerimaan Bahan
Bahan yang diterima harus diperiksa oleh pengawas penerimaan bahan dengan
mengecek/memeriksa bukti tertulis yang menunjukkan bahwa bahan-bahan yang telah
diterima harus sesuai dengan ketentuan dan persyaratan (berlaku untuk semua jenis
pekerjaan).
2.2. Jaminan Mutu
Mutu bahan yang dipasok, kecakapan kerja dan hasil akhir harus dipantau dan
dikendalikan sebagaimana yang disyaratkan (berlaku untuk semua jenis pekerjaan)

5. PENGUKURAN DAN PEMBAYARAN


1) Pengukuran
Pengukuran untuk pembayaran atas pintu yang disediakan dan dipasang pada bangunan
harus diukur berdasarkan biaya penyediaan dan biaya pemasangan.
2) Dasar Pembayaran
Pembayaran untuk pengadaan dan pemasangan pintu dibuat berdasarkan harga satuan per
unit seperti yang tercantum dalam Rencana Anggaran Biaya, mencakup biaya–biaya
pengadaan material, pengangkutan, penurunan, pemotongan, finishing, pengecatan semua
bahan, upah pekerja, peralatan yang diperlukan dan penyediaan semua perangkat keras
yang diperlukan termasuk besi beton dan lain – lain.
BAB VII. PEKERJAAN LAIN-LAIN

1. RUANG LINGKUP
Pekerjaan ini mencakup pekerjaan kayu, pintu, besi, pengecatan, tulangan dowel,
pekerjaan gebalan rumput, pengadaan gambar-gambar teknis, perlindungan dan
pengamanan, jalan penghubung sementara dan pembuatan papan nama sebagaimana yang
diperintahkan oleh Pejabat Pembuat Komitmen/PPK.

2. PELAKSANAAN PEKERJAAN
a) Pembongkaran Struktur
1) Bahan Yang Diamankan Dalam Bongkaran
 Semua bahan yang diamankan tetap menjadi milik Pemilik yang sah sebelum
pekerjaan pembongkaran dilakukan. Tidak ada bahan bongkaran yang akan
menjadi milik Penyedia.
 Semua bahan yang diamankan harus disimpan sebagaimana yang diminta oleh
Pejabat Pembuat Komitmen/PPK.
 Terkecuali tidak dituntut secara tertulis oleh Pejabat Pembuat Komitmen/PPK,
semua beton yang dibongkar yang ukuran bahannya cocok untuk pasangan batu
kosong (rip rap) dan tidak diperlukan untuk digunakan dalam proyek, harus
ditumpuk pada lokasi yang ditunjuk oleh Pejabat Pembuat Komitmen/PPK.
2) Bahan Yang Dibuang Dalam Bongkaran
Bahan dan sampah yang tidak ditetapkan untuk dipertahankan atau diamankan dapat
dibakar atau dikubur atau dibuang seperti yang disetujui oleh Pejabat Pembuat
Komitmen/PPK.

b) Pekerjaan Kayu
Penyedia harus menyediakan tempat yang tahan terhadap cuaca. Material kayu harus
disimpan di atas ganjal kayu agar tidak terkena langsung dengan tanah sepanjang waktu
penyimpanan.
a) Segera setelah kayu diterima di tempat pekerjaan, maka kayu-kayu harus ditumpuk
dan disusun sehingga tidak menyentuh tanah secara langsung dan diletakkan pada
tempat yang sudah disediakan dan sesuai dengan persyaratan. Apabila material kayu
tersebut beupa kayu bundar, maka harus disusun sedemikian rupa sehingga setiap
batang beban dari batang yang berdampingan dengan jarak tidak kurang dari 7,5 cm.
Demikian juga balok kayu bentuk persegi harus disusun seperti kayu bundar atau
disusun tegak lurus terhadap lapisan di bawahnya atau dipisahkan dengan tumpuan
pada jarak tertentu untuk mencegah perubahan bentuk kayu.
1) Kayu pada setiap lapisan harus dipisahkan dengan kayu yang berdampingan
dengan jarak horizontal minimal 2,5 cm.
2) Pengerjaan Kayu
Pekerjaan pelaksanaan struktur kayu ini sesuai dengan Gambar Rencana dengan
hasil akhir sesuai dengan persyaratan. Dalam hal pemotongan, pengetaman,
penyambungan tidak tertera atau tidak disyaratkan, maka perlu diusulkan kepada
Pejabat Pembuat Komitmen/PPK untuk menentukannya.
b) Sambungan
Semua sambungan harus dilaksanakan dengan rapi agar diperoleh sambungan yang
cocok tanpa menggunakan pasak atau pengikat. Kecuali disyaratkan lain atau tertera
pada Gambar Rencana, maka bagian kayu struktur tidak boleh disambung untuk
seluruh panjangnya, ujung-ujung balok kayu harus dipotong tegak dan untuk bidang
kontak harus saling berhubungan dengan baik.
Semua lubang-lubang baut dan lubang-lubang penyambung lain dilaksanakan dengan
bor dengan ukuran yang sesuai dan teliti. Semua lubang pen dan sambungan-
sambungan kayu dibentuk sehingga sambungan menjadi rapat. Lubang-lubang untuk
baut harus dibor dengan mata bor yang mempunyai diameter 1,5 mm lebih besar dari
diamater baut, kecuali lubang baut untuk lantai jembatan yang mempunyai diameter
lubang sama dengan diameter baut yang digunakan.
c) Sambungan dengan Pelat Besi
a) Kecuali disyaratkan lain pada Gambar Rencana, semua baut, strip, paku, pelat,
cincin baut dan lain-lain pekerjaan besi harus terbuat dari baja lunak (mild steel).
b) Semua pekerjaan besi setelah fabrikasi dan sebelum dikirim ke lokasi pekerjaan,
harus digosok dan dibersihkan dan dimasukkan dalam minyak “linseed” dalam
keadaan panas atau bahan lain yang telah disetujui.
c) Baut harus mempunyai bentuk kepala baut yang sesuai, persegi atau bundar,
dengan aur persegi, dengan panjang ulir minimum 4 kali diameter baut. Semua
mur harus pas betul tanpa toleransi.
d) Panjang baut yang tertera pada Gambar Rencana hanya merupakan ukuran
perkiraan, dan Penyedia harus menyediakan baut-baut dengan panjang yang
cukup sesuai dengan kondisi di lapangan.
e) Ujung baut tidak boleh lebih dari setengah kali diameter lebih panjang dari mur,
apabila berlebihan maka kelebihan panjang itu harus dipotong.
f) Cincin baut persegi harus digunakan di belakang semua mur dan baut, kecuali
dalam hal kepala baut terbenam pada permukaan kerb, gelagar dan papan lantai
jembatan. Di mana kepala baut harus dipasang terbenam pada lubang persegi
atau bundar, maka cincin baut tidak digunakan.
g) Semua tempat dimana kepala baut terbenam harus diisi padat dengan campuran
aspal pasir untuk mencegah masuknya air ke dalam lubang tersebut.

c) Pekerjaan Besi Tulangan


 Umum
Besi tulangan harus mempunyai diameter dan penampang melintang sama disetiap
bagian besi tulangan itu. Diameter rata–rata besi tulangan yang digunakan dilokasi
pekerjaan tidak boleh lebih besar atau lebih kecil dari 2 (dua) % diameter yang telah
ditentukan. Besi tulangan harus bersih dari serpihan, minyak, kotoran dan cacat–
cacat pembuatannya.
Jika oleh Pejabat Pembuat Komitmen/PPK, Penyedia harus menyerahkan 3 copy
daftar besi tulangan yang dikeluarkan oleh pabrik untuk mendapatkan persetujuan
sebelum mendatangkan besi tulangan di lokasi pekerjaan, dan mutu besi tulangan
harus sesuai dengan spesifikasi dan copy daftar tulangan tersebut.
 Pemasangan Besi Tulangan
a) Sebelum dipasang, besi tulangan harus bersih dari karat, oli, lemak–lemak,
kotoran lain. Penulangan harus dilaksanakan secara teliti dan dipasang ditempat
yang benar sebagaimana ditunjukkan didalam gambar dan dijaga kedudukannya
agar tetap dan tidak berubah selama berlangsungnya pengecoran, penggetaran
dan pemadatan beton.
b) Semua ujung bebas besi tulangan berpenampang bulat biasa harus mempunyai
kait sebagaimana ditunjukkan dalam gambar atau ditentukan oleh Pejabat
Pembuat Komitmen/PPK. Penyedia harus menempatkan tulangan dengan jarak
tertentu dan terikat kuat pada tempatnya.
c) Bagian dalam dari lengkungan besi tulangan, harus bersinggungan dengan besi
tulangan lainnya disekitar tulangan tersebut diikat. Besi tulangan harus diikat
dengan kawat baja lunak yang disetujui Pejabat Pembuat Komitmen/PPK, dan
pengikatan harus cukup kuat dengan tang. Ujung kawat pengikat harus
mengarah kedalam.
d) Penulangan yang sudah siap untuk pengecoran, harus diperiksa dan disetujui
oleh Pejabat Pembuat Komitmen/PPK. Tidak diperkenankan melaksanakan
pengecoran, sebelum penulangannya disetujui Pejabat Pembuat Komitmen/PPK.
e) Penyedia harus memberitahukan kepada Pejabat Pembuat Komitmen/PPK,
sekurangkurangnya 24 (dua puluh empat) jam sebelum penulangan siap dicor.
 Penyiapan Gambar Penulangan
Penyedia dengan biaya sendiri, harus menyiapkan semua gambar–gambar
penulangan secara rinci berdasarkan gambar yang diberikan oleh Pejabat Pembuat
Komitmen/PPK, sebagaimana diperlukan untuk pelaksanaan pekerjaan. Gambar
penulangan tersebut harus mencakup gambar penempatan besi tulangan, daftar besi
tulangan dan gambar lain yang diperlukan untuk memudahkan pembuatan dan
pemasangan tulangan.
 Penyambungan Besi Tulangan
Jika perlu sambungan besi tulangan dibuat lain dari pada yang ditunjukkan didalam
gambar, posisi dan metode dari sambungan harus ditentukan dari perhitungan
kekuatan yang disetujui oleh Pejabat Pembuat Komitmen/PPK.
 Selimut Beton untuk Tulangan
Bila tidak ditunjukkan dalam gambar atau ditetapkan oleh Pejabat Pembuat
Komitmen/PPK, maka tabel dibawah ini dipakai untuk menetapkan tabel selimut
beton yang diperlukan untuk besi tulangan diukur dari sisi luar besi.
Bagian tak
Bagian Bagian Luar terlihat
No. Jenis Bangunan
dalam (cm) (cm)
(cm)
1. Lantai 1,0 1,5 2,0
2. Dinding 1,5 2,0 2,5
3. Balok 2,0 2,5 3,0
4. Kolom 2,5 3,0 3,5
5. Bangunan yang langsung 5,0 - -
menyentuh tanah atau
dipengaruhi cuaca

d) Pekerjaan Besi
 Umum
Pekerjaan–pekerjaan besi tersebut dibedakan dalam 5 (lima) tipe berikut ini :
1) Pekerjaan Besi Struktur
a) Pipa bagi Galvanis
b) Pekerjaan–pekerjaan besi yang tertanam, pelat dan angker pintu–pintu pada
beton.
2) Stang kunci gate valve
3) Pipa Gavanis untuk pagar pengaman
4) Perletakan dan construction joint pada jembatan
5) Pekerjaan–pekerjaan besi yang lain selain pada jembatan
Tidak disediakan gambar detail lebih lanjut tentang pekerjaan–pekerjaan besi selain
yang terlampir dalam dokumen tender. Penyedia harus mengerjakan rencana yang
diperlukan dan menyiapkan gambar–gambar kerja yang lengkap, pelaksanaan dan
pemasangan semua pekerjaan besi sesuai dengan gambar dan spesifikasi yang
disediakan disini atau mengikuti petunjuk Pejabat Pembuat Komitmen/PPK.
Gambar yang dibuat Penyedia harus disetujui oleh Pejabat Pembuat Komitmen/PPK,
sebelum memulai pekerjaan tersebut. Setiap pelaksanaan yang dilakukan sebelum
adanya persetujuan Pejabat Pembuat Komitmen/PPK atas gambar tersebut, adalah
menjadi resiko Penyedia.

 Pengelasan
Semua penjelasan, kecuali ada ketentuan lain, harus dikerjakan sesuai dengan “Code
for Arc and Gas Welding in Building Construction” uraian pekerjaan perapan las dan
prsedur pengelasan yang diusulkan harus disetujui oleh Pejabat Pembuat
Komitmen/PPK sebelum pelaksanaan pengelasan dimulai. Contoh–contoh
pengelasan harus disiapkan oleh setiap tukang las, sebelum memulai pekerjaan pada
bangunan dan selama pelaksanaan sesuai dengan yang diperlukan oleh Pejabat
Pembuat Komitmen/PPK. Tidak ada satupun pengelasan bangunan diijinkan Pejabat
Pembuat Komitmen/PPK menyetujui prosedur pengelasan, kemampuan tukang las
dan pengujiannya.

 Lapis Galvanis
Semua pekerjaan besi yang terletak diluar harus dicat atau digalvanis. Galvanis harus
merupakan hasil proses pencelupan panas, dan untuk semua bagian selain kawat
baja, harus mempunyai ketebalan selimut seng tidak kurang dari 550 gram per meter
persegi dan harus mendapat persetujuan Pejabat Pembuat Komitmen/PPK. Tidak
boleh ada pengaruh mekanis yang akan dilakukan perkuatan tersebut.
Semua pengeboran, pemukulan, pemotongan, pembersihan semua kotoran dan
penyikatan pada semua bagian harus sudah selesai sebelum digalvanis. Permukaan–
permukaan yang berhubungan dengan minyak tidak boleh digalvanis.

 Pekerjaan Besi untuk Bangunan


1) Pipa Baja Gavanis untuk Saringan Batu
1) Penyedia harus memasang pipa–pipa galvanis pada bagian depan pintu
pengambilan, bangunan penguras atau pada lokasi lain sesuai dengan
perencanaan seperti tertera pada rencana, atau petunjuk Pejabat Pembuat
Komitmen/PPK, susunan pipa ini berfungsi sebagai saringan batu.
2) Uraian pekerjaan penerapan las dan prosedur pengelasan yang diusulkan
harus disetujui oleh Pejabat Pembuat Komitmen/PPK sebelum pelaksanaan
pengelasan dimulai. Contoh–contoh pengelasan harus disiapkan oleh setiap
tukang las, sebelum memulai pekerjaan pada bangunan dan selama
pelaksanaan sesuai dengan yang diperlukan oleh Pejabat Pembuat
Komitmen/PPK. Tidak ada satupun penjelasan bangunan diijinkan Direksi
menyetujui prosedur pengelasan, kemampuan tukang las dan pengujiannya.
2) Lapisan Galvanis
Semua pekerjaan besi yang terletak diluar harus dicat atau digalvanis. Galvanis
merupakan hasil proses pencelupan panas, dan untuk semua bagian selain kawat
baja, celupan panas, dan untuk semua bagian selain kawat baja, harus
mempunyai ketebalan selimut seng tidak kurang dari 550 gram per meter persegi
dan harus mendapat persetujuan Pejabat Pembuat Komitmen/PPK. Tidak boleh
ada pengaruh mekanis yang akan dilakukan perkuatan tersebut.
Semua pengeboran, pemukulan, pemotongan, pembersihan semua kotoran dan
penyikatan pada semua bagian harus sudah selesai sebelum digalvanis.
Permukaan–permukaan yang berhubungan dengan minyak tidak boleh
digalvanis.
3) Pekerjaan Besi yang Tertanam
Pekerjaan besi yang tertanam pada bagian–bagian konstruksi beton untuk
pemasangan pintu–pintu harus dilaksanakan sesuai gambar atau petunjuk
Pejabat Pembuat Komitmen/PPK oleh Penyedia. Semua material yang
dipergunakan pada pekerjaan besi yang tertanam dalam beton harus berkualitas
tinggi yang dapat diterima Pejabat Pembuat Komitmen/PPK.
4) Tangga Besi
Tangga besi harus disediakan dan dipasang pada bendung dan bangunan lain
sesuai gambar atau petunjuk Pejabat Pembuat Komitmen/PPK. Tangga besi
terbuat dari besi bulat diameter 19. Besi bulat tersebut harus memenuhi
spesifikasi besi tulangan beton dan material lainnya yang digunakan harus
berkualitas tinggi yang telah disetujui Pejabat Pembuat Komitmen/PPK.
Tangga besi dipasang pada permukaan tegak atau miring dari bangunan seperti
terlihat pada gambar.
5) Pipa Galvanis untuk Pagar Pengaman dan sebagainya
Penyedia harus menyiapkan dan memasang pipa galvanis untuk pagar pengaman
jembatan, gorong–gorong dan jembatan pelayanan pada bagian penguras
bendung, intake, pinggiran dinding tembok tegak, pintu pengambilan dan pada
tempat–tempat yang ditunjukkan dalam gambar rencana atau ditetapkan Pejabat
Pembuat Komitmen/PPK. Pipa tersebut harus dijamin baru dan berkualitas
tinggi.
Semua pipa besi terpasang sesuai gambar. Penjelasan pipa besi hanya dikerjakan
bilamana ditentukan dalam gambar atau mengikuti petunjuk Pejabat Pembuat
Komitmen/PPK. Setelah pipa terpasang dengan lengkap, permukaan yang
terbuka harus dicat.
6) Expansion Joint pada Jembatan
Expansion joint harus dipasang pada tempatnya antara pelat jembatan dan kepala
jembatan seperti terlihat pada gambar. Expansion joint pada jembatan harus
dilaksanakan sesuai standar yang dibuat oleh Bina Marga.

e) Pengecatan
 Semua cat dan bahan lainnya untuk pengecatan permukaan besi yang kelihatan pada
bangunan dan pekerjaan kayu, kecuali untuk pintu air dan pelengkapnya, harus
disediakan oleh Penyedia dan digunakan berdasarkan anjuran pabrik untuk
pengecatan pada lokasi khusus. Kualitas cat dan bahan lainnya harus mendapat
persetujuan Pejabat Pembuat Komitmen/PPK.
 Cat dasar harus dengan warna khusus yang disetujui Direksi Pekerjaaan. Setiap
pengecatan harus dilakukan pada permukaan yang bersih dan kering pada
kelembaban dan suhu udara tertentu dimana penguapan pada permukaan yang dicat
lebih besar dari pengembunan.
 Permukaan yang telah dibersihkan atau dipersiapkan harus segera dicat dasar
secukupnya, bila perlu mengasarkan permukaan yang telah disiapkan lebih dahulu.
 Tidak boleh dilakukan pengecatan pada permukaan yang terlalu panas bila cat yang
digunakan dari jenis yang boleh kena panas. Agar permukaan yang dicat tetap dingin
harus dikerjakan ditempat teduh dan dilindungi dari panas yang berlebihan hingga
cukup kering, agar tidak retak atau melepuh.
 Pekerjaan kayu dan logam yang dicat harus diampelas secara hati–hati, dengan cara
yang sama pada setiap akan melapisi cat berikutnya. Setelah 24 jam lewat dilakukan
pelapisan cat berikutnya, atau cara lain yang ditentukan secara khusus oleh
pabriknya. Untuk penyempurnaan pengecatan Penyedia harus menghilangkan bintik
- bintik cat dan harus melakukan perbaikan atau pengecatan ulang atas pekerjaan
yang tidak sempurna. Pengecatan permukaan bagian luar (diluar) harus dilindungi
dari pengaruh cuaca sampai cat tersebut benar – benar kering dan mengeras.
 Pekerjaan kayu yang akan dicat harus diampelas dengan ampelas kayu, dilicinkan
dan dimeni. Semua lubang, retakkan dan celah–celah harus ditutup lebih dahulu
dengan dempul. Setiap sambungan kayu harus dicat dasar sebelum dirakit. Setelah
pendempulan, seluruh pekerjaan kayu harus dicat dasar kemudian dilanjutkan dengan
cat akhir sesuai petunjuk Pejabat Pembuat Komitmen/PPK.
 Pengecatan besi dan pekerjaan logam, kecuali pintu–pintu air dan pelengkapnya
khusus di atas, harus dilakukan mengikuti prosedur sebagai berikut, tergantung dari
letaknya :
1) Untuk bagian yang Tercelup Didalam Air
Pembersihan dengan sand blasting harus dikerjakan untuk memperoleh logam
putih bersih bebas dari serpihan, karat dan kotoran lainnya menurut keinginan
Pejabat Pembuat Komitmen/PPK. Lapisan pertama pengecatan yang sudah
disiapkan harus dilakukan pada permukaan yang sudah dibersihkan, jangan lebih
lama dari 4 (empat) jam setelah pembersihan.
2) Untuk Bagian yang Tidak Tercelup Didalam Air
Permukaan besi dan logam, selain besi tulangan beton yang harus dipasang
didalam beton atau pekerjaan lain, harus dicat dasar dipabrik dan harus disikat
dengan sikat kawat secara sempurna agar bebas dari karat segera sebelum
dipasang.

f) Tulangan Dowel
1) Tulangan dowel dipasang pada contraction joint seperti tercantum pada gambar atau
sesuai petunjuk Pejabat Pembuat Komitmen/PPK. Tulangan dowel adalah berupa
batang baja polos yang lurus dan memenuhi syarat.
2) Setelah panjang tulangan penyambung harus ditutup dengan selang PVC atau pipa
lain dengan bahan yang disetujui untuk mencegah ikatan dengan beton. Harus
dipasang pada jarak-jarak sesuai gambar atau petunjuk Pejabat Pembuat
Komitmen/PPK. Bagian setengahnya harus direkatkan pada beton dengan kuat.

2.9. Pipa Galvanis


1. Pengadaan Pipa
a. Pipa-pipa yang akan diadakan, secara administratif dan teknis harus mengikuti
ketentuan sebagai berikut :
Lingkup pekerjaan : Pipa yang diadakan adalah jenis Pipa GI (pipa Galvanized Iron /
Galvanized Iron Pipe ) dengan nominal diameter dalam (ID/Internal Diameter) serta
jumlah panjang yang diperlukan sesuai masing-masing diameter adalah :
a. Pipa GI diameter 4”
b. Pipa GI diameter 3”
c. Pipa GI diameter 2”
b. Ketentuan teknis : Pipa yang dipesan dan disuplai harus memenuhi ketentuan teknis
sebagai berikut :
i. Pipa yang diadakan diameter 4”,3”.2” seluruhnya adalah dari jenis Galvanized
Iron ( Galvanized Iron Pipe ).
ii. Pipa yang diadakan harus jenis pipa Galvanis dengan Standard Nasional
Indonesia ( SNI ) SNI No.07-0039-87/BS.1387-85.
iii. Ketebalan pipa harus sesuai dengan standard SNI.
iv. Panjang pipa efektif per-batang adalah 6,00 meter.
v. Sistem sambungan pipa untuk pipa diameter 4” adalah sambungan las,
sehingga ujung-ujung dinding pipa harus mempunyai bentuk tirus ( “V” shape
).
vi. Sistem sambungan pipa untuk pipa diameter 3” dan 2” adalah sambungan
socket, sehingga ujung-ujung pipa harus berulir / drat ( “screw” Shape ) dan
setiap pipa harus disertai dengan 1 (satu) buah socket.
vii. Semua pipa harus dalam kondisi baru (bukan pipa bekas).
viii. Pada setiap pipa harus jelas kelihatan identifikasi merk (nama pabrikan),
standard dan klas pipa.
c. Ketentuan Administratif : Agar diperoleh jaminan kualitas dan kepastian suplai /
pasokan pipa dari produsen, maka dalam penawarannya, penyedia jasa harus
menyampaikan / melampirkan :
i. Surat Dukungan dari Pabrikan;
ii. Surat Jaminan dari pabrikan yang sudah memiliki ISO. 9002;
iii. Surat kesanggupan pabrikan untuk mensuplai barang paling lambat 1 bulan
sejak pemesanan;
iv. Brosur / katalog pipa yang asli.
d. Penyimpanan Pipa : Pada waktu pipa datang ke lokasi pekerjaan dan masih
menunggu pemasangan, maka pipa-pipa tersebut harus disimpan di gudang
lapangan. Penyimpanan di gudang harus mengikuti ketentuan sebagai berikut :
i. Penyusunan / penumpukan pipa - pipa digudang harus dilaksanakan
dengan tenaga / mekanik yang memadai;
ii. Waktu menyusun pipa-pipa ( GIP ) harus diberi alas / bantalan balok kayu
dibawahnya;
iii. Setiap pipa harus disimpan dan disusun rapih, dikelompokkan menurut jenis
dan ukurannya dengan maksimum tinggi tumpukkan 2 ( dua ) meter, agar
memudahkan cara penghitungannya.
iv. Kehilangan pipa digudang / sebelum dipasang menjadi tanggung jawab
Penyedia.
e. Ketentuan lain :
i. Butir pekerjaan pengadaan pipa GI beserta kuantitasnya yang harus ditawar
oleh penyedia jasa sebagaimana tertuang dalam daftar kuantitas dan harga.
ii. Harga satuan pipa yang ditawarkan oleh Penyedia harus sudah
termasuk/meliputi : harga pipa, biaya angkutan sampai di lokasi pekerjaan dan
keuntungan Penyedia yang dituangkan dalam analisa harga satuan pekerjaan.
iii. Pipa akan ditolak oleh Direksi Pekerjaan / Tim Penerima Barang, apabila pipa
yang dikirim tidak sesuai dengan ketentuan teknis diatas.
iv. Pipa yang ditolak oleh Direksi pekerjaan / Tim Penerima Barang, harus segera
diangkut keluar dari lokasi.
v. Biaya pengangkutan pipa yang ditolak menjadi beban sepenuhnya dari
Penyedia.
2. Pemasangan Pipa
Lingkup kegiatan : Lingkup pekerjaan pemasangan pipa antara lain :

2.10. Blok Beton (Paving Block)


1. Umum
Blok beton (paving block) pracetak untuk jalan harus setebal 80 mm sedangkan untuk
trotoar dan median setebal 60 mm dengan derajat mutu perkerasan yang saling
mengunci (interlocking) sebagaimana ditunjukkan dalam Gambar dan harus
merupakan mutu terbaik yang dapat diperoleh secara lokal dan menurut suatu pola
yang dapat diterima oleh Pejabat Pembuat Komitmen/PPK. Blok beton tersebut harus
dibuat dari beton K300 untuk konstruksi jalan masuk embung dan K200 untuk jalan
keliling embung.
2. Pemasangan Blok Beton
i. Perkerasan Blok Beton (paving Block)
Perkerasan blok beton harus dipasang sesuai dengan petunjuk dari pabrik
pembuatnya. Pada umumnya blok beton harus dipasang di atas landasan pasir
dengan tebal gembur sekitar 110 – 120 mm dipadatkan dengan menggunakan
sebuah mesin penggetar (berbentuk) pelat yang menyebabkan pasir dapat
memasuki celah-celah di antara blok beton sehingga membantu proses saling
mengunci (interlocking) dan pemadatan. Percobaan pemadatan harus dilakukan
dengan berbagai ketebalan gembur pasir, sebelum pekerjaan pemadatan ini
dimulai, untuk menentukan ketebalan gembur yang diperlukan dalam mencapai
ketebalan padat 100 mm untuk konstruksi jalan dan 50 mm untuk konstruksi
trotoar dan median. Perkerasan blok beton tidak boleh diisi dengan adukan
semen.
ii. Penyelesaian Akhir
Permukaan blok beton yang selesai dikerjakan harus menampilkan permukaan
yang rata tanpa adanya blok beton yang menonjol atau terbenam dari elevasi
permukaan rata-rata lebih dari 6 mm, yang diukur dengan mistar lurus 3 m pada
setiap titik di atas permukaan blok beton tersebut. Semua sambungan harus rapi
dan rapat, tanpa adanya adukan atau bahan lainnya yang menodai atau mencoreng
permukaan yang telah selesai dikerjakan. Perkerasan blok beton harus
mempunyai lereng melintang minimum 4%.
iii. Pemotongan Blok Beton
Blok beton harus dipotong dengan mesin potong (cutter machine) untuk menye-
suaikan penghalang berbentuk bulat seperti tiang atau pohon, antara kerb dan tepi
blok beton, dan sebagainya.

2.11. Jalan Penghubung Sementara dan Jalan Inspeksi


1) Jika tidak terdapat jalan penghubung untuk mencapai lokasi pekerjaan, Penyedia
harus membuat dan memelihara jalan penghubung sementara kearah lokasi tersebut
pada tempat yang disetujui Direksi. Penyedia juga harus membuat fasilitas yang
diperlukan untuk melintasi sungai, aliran atau jalan air yang ada atau harus
memperbaiki dan memperkuat suatu fasilitas yang ada untuk digunakan menuju
lokasi pekerjaan, jika diperlukan.
2) Penyedia boleh menggunakan jalan umum, jalan desa dan jalan inspeksi pada saluran
yang ada atau saluran baru atau saluran pembuang dengan persetujuan Pejabat
Pembuat Komitmen/PPK. Dalam hal ini, Penyedia harus membayar pembuatan,
pemeliharaannya dan perbaikannya berdasarkan perjanjian bersama antar Penyedia.
Direksi atau Pemberi Tugas tidak akan menerima tuntutan terhadap pemakaian
bersama pada jalan penghubung yang dibuat oleh Penyedia.

2.12. Papan Nama Pekerjaan


a) Penyedia wajib membuat 1 (satu) buah papan nama Pekerjaan, yang ditempatkan di
lokasi tertentu menurut petunjuk Direksi selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari
setelah terbitnya Surat Penunjukan Penyedia Jasa.
b) Papan nama tersebut harus dibuat dengan ketentuan-ketentuan sebagai berikut :
a. Ukuran papan 80 x 120 cm harus dibuat dari bahan kayu kamper yang dilapisi
dengan seng BWG. 30.
b. Tiang penyangga terdiri dari 2 (dua) batang, sedang sebuah penyokong berukuran
3 x 7 cm dibuat dari bahan kayu kruing atau sejenis yang diserut halus.
c. Pemasangan papan sedemikian rupa sehingga tepi bawah papan terletak setinggi
150 cm dari tanah, bawah tiang penyangga dan penyokong ditanam dalam
lobang-lobang yang kemudian di cor dengan beton tumbuk campuran 1:3:5
sedalam 40 cm di dalam tanah dan 10 cm di atas tanah.
d. Pengecatan papan nama tersebut harus dilakukan dengan cat meni sekali, cat
dasar sekali dan cat penutup sekali.
e. Warna-warna diatur menurut ketentuan sebagai berikut :
1) Warna dasar biru laut (dominan)
2) Tulisan putih dengan garis penutup kuning
3) Lambang Pemerintah Provinsi DIY Kuning.
f. Tulisan-tulisan yang akan dimuat, dari atas ke bawah adalah sebagai berikut:
4) Logo Pemerintah Provinsi DIY pada sisi kiri atas dan tulisan Pemerintah
Provinsi DIY di sebelah kanan logo;
5) Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan dan Energi Sumber Daya Mineral DIY;
6) Bidang Sumber Daya Air, Jl. Solo Km.6 Yogyakarta;
7) Pekerjaan "....................................................."
8) Lingkup pekerjaan;
9) Tanggal-tanggal permulaan dan akhir pekerjaan;
10) Besarnya nilai kontrak;
11) Nama dan alamat Konsultan Pengawas;
12) Nama dan alamat Pemborong/Penyedia;
13) Gambar papan nama pekerjaan sebagaimana terlampir;
g. Penyedia wajib memelihara dan merawat papan nama dan menjaganya agar tetap
dalam keadaan baik sampai dengan penyerahan pekerjaan yang terakhir kalinya
kepada Direksi.

2.14. Keamanan, Kesehatan dan Perlindungan terhadap Kebakaran


a) Umum
Selama dalam pelaksanaan Penyedia harus selalu memperhatikan hal-hal antara lain
mengenai sanitasi dan fasilitasnya, penerangan, bahan bakar, sarana oleh raga, alat
pemadam kebakaran, ketenangan dan lain-lain. Untuk itu Penyedia harus membagi-
bagi tugas dengan membentuk struktur organisasi, sehingga dapat dengan mudah
mengontrolnya.
b) Tindakan Pencegahan untuk Keselamatan dan Keamanan
Penyedia harus mengadakan tindakan pencegahan atas risiko kehilangan dan
keselamatan pekerja selama dalam pelaksanaan dengan melengkapi sepatu lapangan,
topi, sabuk pengaman atau sejenisnya. Pada tempat-tempat yang diperlukan
Penyedia, harus memasang penerangan, tanda dan penjaga atau alat pengamanan
lainnya. Penyedia harus mentaati peraturan tentang keselamatan kerja yang telah
dikeluarkan oleh pemerintah. Penyedia dapat mengadakan pertemuan berkala antara
kepala bagian keamanan dengan Direksi guna meningkatkan keamanan. Penyedia
harus melaporkan kepada Direksi selambat-lambatnya 24 (dua puluh empat) jam
setelah kejadian kecelakaan kerja. Penyedia harus selalu menyediakan alat pemadam
kebakaran yang selalu siap pakai di tempat lokasi pekerjaan atau ditempat-tempat
yang ditunjukkan Direksi. Penyedia juga harus bertanggung jawab atas keselamatan
dan keamanan tenaga kerja dari sub Penyedia. Penyedia harus menyediakan fasilitas
PPPK untuk tenaga kerjanya yang selalu siap pakai setiap saat.
c) Keamanan
Penyedia harus mengambil tindakan-tindakan pencegahan yang perlu sebelum semua
resiko kematian atau kecelakaan terjadi pada setiap orang yang dipekerjakan pada
pekerjaan atau orang lain yang mempunyai cukup alasan berada di lokasi pekerjaan.
Penyedia juga harus menjaga keselamatannya sesuai petunjuk Direksi. Penyedia
harus memperhatikan hal-hal yang perlu terhadap rusaknya barang-barang milik
Pemberi Tugas atau milik orang lain yang berdekatan dengan lokasi pekerjaan.
Penyedia harus mentaati peraturan pencegahan kecelakaan dan peraturan
keselamatan sepanjang waktu pelaksanaan. Penyedia harus melaporkan kepada
Direksi semua kejadian mengenai kematian atau luka serius pada setiap orang yang
ada dilokasi pekerjaan yang terlibat oleh pekerjaan Penyedia.
d) Penyimpanan Bahan Bakar
Penyedia harus merencanakan tempat penyimpanan bahan bakar pada tempat yang
aman dari jangkauan api dan mudah untuk mengadakan bongkar muatan atau
penanganannya. Penyedia harus mengurus ijin kepada pemerintah untuk menyimpan
bahan bakar di tempat/lokasi pekerjaan, ongkos atau biaya yang dikeluarkan oleh
Penyedia dalam mendapatkan ijin menjadi tanggungannya sendiri.
e) Pemadam Kebakaran
Penyedia harus menyediaka fasilitas pemadam kebakaran sesuai dengan yang
disyaratkan dalam peraturan pemerintah atau petunjuk Direksi. Tidak diperkenankan
membakar hasil pembersihan dan hasil tebangan pohon pada saat musin kemarau
tanpa seijin Direksi. Penyedia harus memadamkan semua api atau bara api yang ada
di lokasi atau sekitarnya, kecuali bila api itu merupakan sumber api alam.

2.11. Gambar Teknis


1) Gambar yang disediakan oleh Pejabat Pembuat Komitmen / PPK
Gambar-gambar yang disediakan oleh Pejabat Pembuat Komitmen/PPK hanyalah
semata-mata untuk maksud penawaran. Setelah perjanjian Kontrak ditandatangani,
berdasarkan gambar tersebut, Penyedia dapat mempersiapkan dan membuat gambar
pelaksanaan (construction drawing). Penyedia harus bekerja berdasarkan pada
gambar pelaksanaan.
2) Gambar yang dibuat oleh Penyedia
a) Umum
Semua gambar yang dibuat oleh Penyedia, harus menurut atau sesuai dengan
ukuran yang ditetapkan oleh Direksi. Penyedia harus menyerahkan gambar-
gambar tersebut kepada Pejabat Pembuat Komitmen/PPK untuk dikoreksi dan
disahkan sebelum pekerjaan yang dimaksud dimulai. Sebagai koreksi dari
Direksi dapat menghasilkan gambar-gambar yang sama atau berbeda sama sekali
dengan Dokumen Tender. Tidak ada tambahan biaya khusus untuk maksud
tersebut di atas.
b) Gambar-gambar Pelaksanaan (Construction Drawing)
Setelah penandatanganan kontrak, Penyedia harus membuat gambar pelaksanaan
berdasarkan gambar kontrak atau dengan perubahan-perubahan seperlunya
sesuai dengan pelaksanaan di lapangan nantinya.
Penyedia harus mengerjakan pekerjaan di lapangan sesuai/menurut gambar
pelaksanaan yang telah disetujui oleh Direksi. Semua gambar baik bentuk
maupun ukurannya harus skalatis namun Penyedia tidak diperkenankan
mengerjakan pekerjaan dengan mengukur skala pada gambar, tapi harus
menggunakan dimensi/angka yang tertera dalam gambar. Pada bagian-bagian
tertentu untuk memperjelas dalam pelaksanaan harus dibuat gambargambar
detail dengan skala besar. Gambar-gambar tambahan bila dirasa perlu dapat
dibuat oleh Penyedia, guna memperjelas dalam pelaksanaan.
Semua biaya yang dikeluarkan untuk maksud tersebut di atas menjadi
tanggungan Penyedia.
c) Gambar Kerja
Penyedia dapat membuat gambar kerja berdasarkan gambar pelaksanaan.
Gambar kerja dibuat untuk mengetahui rangkaian urutan kerja suatu kegiatan, di
dalam gambar kerja antara lain harus memperlihatkan bentuk bangunan yang
akan dicor, penulangannya, material yang digunakan, letak bangunan, dimensi
dan detail-detail lain yang diperlukan. Semua gambar kerja harus disetujui oleh
Direksi sebelum digunakan
d) Gambar Tata Letak Bangunan Sementara
Tiga puluh (30) hari setelah pengumuman pemenang, Penyedia harus
mengajukan kepada Direksi lay out (tata letak) bangunan-bangunan pendukung
sebanyak tiga (3) set untuk mendapat koreksi dan persetujuannya. Gambar lay
out tersebut harus mencantumkan, letak kantor Direksi, letak gudang, bangunan,
penimbunan, bengkel dan fasilitas-fasilitas lain yang diperlukan selama dalam
pelaksanaan.
e) Gambar Purnalaksana (As Built Drawing)
Selama dalam pelaksanaan/pekerjaan berjalan, Penyedia dapat mempersiapkan
gambar purnalaksana (as built drawing) yang mencakup semua jenis pekerjaan
yang dikerjakan. Format gambar purnalaksana harus disetujui oleh Direksi.
Gambar purnalaksana dapat digunakan oleh Direksi sebagai alat untuk
memeriksa pekerjaan yang dilaksanakan di lapangan.
Bila untuk semua jenis pekerjaan telah dilaksanakan oleh Penyedia sesuai
dengan gambar pelaksanaan serta sudah dapat diterima oleh Direksi, maka
Penyedia dapat menggambar hasil pelaksanaan tersebut menjadi gambar
purnalaksana. Setelah disetujui oleh Direksi, Gambar (purnalaksana) ini secara
bersama-sama ditandatangani oleh Penyedia dan Direksi.
Paling lambat 7 (Tujuh) hari sebelum penyerahan pekerjaan (Penyerahan I) ,
Penyedia harus menyerahkan kepada Direksi gambar purnalaksana tersebut
sebanyak 1 (satu) set dalam bentuk kalkir A3 minimum 80 gram, beserta
copynya sebanyak 4 (empat) set dan Softcopy dalam bentuk CD yang telah
ditandatangani oleh Direksi dan Pejabat Pembuat Komitmen/PPK.

2.12. Pasang Kuda-kuda baja ringan + reng untuk atap Metal


Penyedia harus menyediakan dan memasang atap (Pasang Kuda-kuda baja ringan + reng
untuk atap Metal)seperti yang tertera didalam gambar-gambar atau petunjuk dari Pejabat
Pembuat Komitmen/PPK.
Pekerjaan rangka atap baja ringan adalah pekerjaan pembuatan dan pemasangan struktur
atap berupa rangka batang yang telah dilapisi lapisan anti karat. Rangka batang
berbentuk segitiga,trapesium dan persegi panjang yang terdiri dari :
1. Rangka utama atas (top chord)
2. Rangka utama bawah (bottom chord)
3. Rangka pengisi (web). Seluruh rangka tersebut disambung menggunakan baut
menakik sendiri (self drilling screw) dengan jumlah yang cukup.
4. Rangka reng (batten) langsung dipasang diatas struktur rangka atap utama dengan
jarak sesuai dengan ukuran jarak genteng.
Pekerjaan rangka atap baja ringan meliputi:
1. Pengukuran bentang bangunan sebelum dilakukan fabrikasi
2. Pekerjaan pambuatan kuda-kuda dikerjakan di Workshop permanen (Fabrikasi),
3. Pengiriman kuda-kuda dan bahan lain yang terkait ke lokasi proyek
4. Penyediaan tenaga kerja beserta alat/bahan lain yang diperlukan untuk pelaksanaan
pekerjaan
5. Pekerjaan pemasangan seluruh rangka atap kuda-kuda meliputi struktur rangka kuda-
kuda (truss), balok tembok (top plate/murplat), reng, sekur overhang, ikatan angin dan
bracing (ikatan pengaku)
6. Pemasangan jurai dalam (valley gutter)

Pekerjaan rangka atap baja ringan tidak meliputi:


1. Pemasangan penutup atap
2. Pemasangan kap finishing atap
3. Talang selain jurai dalam
4. Accesories atap

Persyaratan Material Rangka Atap


Material struktur rangka atap Properti mekanikal baja (Steel mechanical properties)
• Baja Mutu Tinggi G 550
• Kekuatan Leleh Minimum 550 Mpa
• Tegangan Maksimum 550 Mpa
• Modulus Elastisitas 200.000 Mpa
• Modulus geser 80.000 Mpa

Lapisan anti karat :


Material baja harus dilapisi perlindungan terhadap serangan korosi, dua jenis lapisan anti
karat (coating):
Galvanised (Z220)
• Pelapisan Galvanised
• Jenis Hot-dip zinc
• Kelas Z22
• katebalan pelapisan 220 gr/m2
• komposisi 95% zinc, 5% bahan campuran
Galvalume (AZ100)
• Pelapisan Zinc-Aluminium

ST-110
• Jenis Hot-dip-allumunium-zinc
• Kelas AZ100
• katebalan pelapisan 100 gr/m2
• komposisi 55% alumunium, 43,5% zinc dan 1,5% silicon.

Multigrip ( MG )

Konektor antara kuda-kuda baja ringan dengan murplat (top plate) berfungsi untuk
menahan gaya lateral tiga arah, standart teknis sebagai berikut:
• Galvabond Z275
• Yield Strength 250 MPa
• Design Tensile Strength 150 MPa

Brace System (bracing)


• BOTTOM CHORD BRACING, Pengaku/ikatan pada batang tarik bawah (bottom
chord) pada kuda-kuda baja ringan.
• LATERAL TIE BRACING, Pengaku/bracing antara web pada kuda-kuda baja
ringan,sekaligus berfungsi untuk mengurangi tekuk lokal (buckling) pada batang tekan
(web),standar teknis mengacu pada desain struktur kuda-kuda tersebut.
• DIAGONAL WEB BRACING (IKATAN ANGIN), Pengaku/bracing diagonal antara
web pada kuda-kuda baja ringan dengan bentuk yang sama dan letak berdampingan.
• STRAP BRACE (PITA BAJA), Yaitu pengaku /ikatan pada top chord dan bottom
chord kuda-kuda baja ringan, Untuk kebutuhan strap brace berdasarkan perhitungan
desain struktur.
• Talang Jurai Dalam (Valley Gutter), Pertemuan dua bidang atap yang membentuk
sudut tertentu, pada pertemuan sisi dalam harus manggunakan talang dalam (Valley
Gutter) untuk mengalirkan air hujan. Ketebalan material jurai dalam minimal 0,45 mm
dengan detail profil seperti gambar diatas.

Alat Sambung (Screw)

Baut menakik sendiri (self drilling screw) digunakan sebagai alat sambung antar elemen
rangka atap yang digunakan untuk fabrikasi dan instalasi, spesifikasi screw sebagai
berikut:
• Kelas Ketahanan Korosi Minimum Kelas 2
• Panjang (termasuk kepala baut) 16mm
• Kepadatan Alur 16 alur/inci
• Diameter Bahan dengan alur 4,80 mm
• Diameter Bahan tanpa alur 3,80 mm
Kekuatan Mekanikal
• Gaya geser satu baut 5,10 KN
• Gaya aksial 8,60 KN
• Gaya Torsi 6,90 KN

Persyaratan Pra-Konstruksi
1. Kontraktor wajib memberikan pemaparan produk sebelum pelaksanaan pemasangan
rangka atap baja ringan, sesuai dengan RKS (Rencana Kerja dan Syarat) .
2. Produk yang dipaparkan sesuai dengan surat dukungan dan brosur yang dilampirkan
pada dokumen tender.
3. Kontraktor wajib menyerahkan gambar kerja yang lengkap berserta detail dan
bertanggung jawab terhadap semua ukuran-ukuran yang tercantum dalam gambar
kerja. Dalam hal ini meliputi dimensi profil, panjang profil dan jumlah alat sambung
pada setiap titik buhul.
4. Perubahan bahan/detail karena alasan apapun harus diajukan ke Konsultan Pengawas,
Konsultan Perencana dan Pihak DIreksi untuk mendapatkan persetujuan secara
tertulis.
5. Eleman utama rangka kuda-kuda (truss) dilakukan fabrikasi diworkshop permanen
dengan menggunakan alat bantu mesin JIG yang menjamin keakurasian hasil perakitan
(fabrikasi)
6. Kontraktor wajib menyediakan surat keterangan keahlian tenaga dari Fabrikan
penyedia jasa Rangka Atap Baja ringan,
7. Kontraktor wajib menyertakan hasil uji lab dari bahan baja ringan dari badan
akreditasi nasional (instansi yang berwenang sesuai dengan kompetensinya).
Persyaratan Pelaksanaan
1. Pembuatan dan pemasangan kuda-kuda dan bahan lain terkait, harus dilaksanakan
sesuai gambar dan desain yang telah dihitung dengan aplikasi khusus perhitungan baja
ringan sesuai dengan standar perhitungan mengacu pada standar peraturan yang
berkompeten.

2. Semua detail dan konektor harus dipasang sesuai dengan gambar kerja.
3. Perakitan kuda-kuda harus dilakukan di workshop permanen dengan menggunakan
mesin rakit (Jig) dan pemasangan sekrup dilakukan dengan mesin screw driver yang
dilengkapi dengan kontrol torsi.
4. Pihak kontraktor harus menyiapkan semua struktur balok penopang dengan kondisi
rata air (waterpas level) untuk dudukan kuda-kuda sesuai dengan desain sistem rangka
atap.
5. Pihak kontraktor harus menjamin kekuatan dan ketahanan semua struktur yang dipakai
untuk tumpuan kuda-kuda. Berkenaan dengan hal itu, pihak konsultan ataupun tenaga
ahli berhak meminta informasi mengenai reaksi-reaksi perletakan kuda-kuda.
6. Pihak kontraktor bersedia menyediakan minimal 8 (delapan) buah genteng yang akan
dipakai sebagai penutup atap, agar pihak penyedia konstruksi baja ringan dapat
memasang reng dengan jarak yang setepat mungkin, dan penyediaan genteng tersebut
sudah harus ada pada saat kuda-kuda tiba dilokasi proyek.
7. Jaminan Struktural
• Jaminan yang dimaksud di sini adalah jika terjadi deformasi yang melebihi
ketentuan maupun keruntuhan yang terjadi pada struktur rangka atap Baja Ringan,
meliputi kuda-kuda, pengaku-pengaku dan reng.
• Kekuatan struktur Baja Ringan dijamin dengan kondisi sesuai dengan Peraturan
Pembebanan Indonesia dan mengacu pada persyaratan-persyaratan seperti yang
tercantum pada “Cold formed code for structural steel”(Australian Standard/New
Zealand Standard 4600:1996) dengan desain kekuatan strukural berdasarkan
”Dead and live loads Combination (Australian Standard 1170.1 Part 1) & “Wind
load”(Australian Standard 1170.2 Part 2) dan menggunakan sekrup berdasarkan
ketentuan “Screws-self drilling-for the building and construction
industries”(Australian Standard 3566).
2.13. Asesoris Pagar Jembatan (topi pagar jembatan)
Asesoris pagar jembatan digunakan untuk keindahan jembatan dengan bentuk yang
bervariasi. Penyedia jasa harus menyediakan asesoris jembatan, bentuk asesoris jembatan
tidak mengikat dan sesuai dengan petunjuk Pejabat Pembuat Komitmen.
2.14. Geotextile Nonwoven 200 mg
Geotextile Non Woven adalah jenis Geotextile yang tidak teranyam, berbentuk seperti
karpet kain. Umumnya bahan dasarnya terbuat dari bahan polimer Polyesther (PET) atau
Polypropylene (PP).
Peruntukan geotextile non woven dipergunakan sebagai separator yang berfungsi untuk
mencegah terjadinya pencampuran antara tanah dasar dengan agregat penutupnya (lapis
bawah pasangan batu kosong pada kolam embung). Spesifikasi ini bisa dipergunakan
untuk kondisi selain dibawah pasangan batu kosong.
Geptextile harus memenuhi syarat seperti tabel berikut
Penyedia harus menyediakan dan memasang lapisan “geotextile” seperti tampak pada
gambar atau seperti yang ditentukan oleh Direksi.
Pelaksanaan pemasangan geotextile sebagai separator diantaranya:
1. Lokasi pemasangan geotextile harus diratakan dengan cara membersihkan, memangkas
dan menggali atau menimbun hingga mencapai elevasi rencana.
2. Lokasi spot tanah lunak atau daerah dengan kondisi buruk akan teridentifikasi saat
pekerjaan persiapan lahan.
3. Geotextile harus digelarkan secara lepas tanpa kerutan atau lipatan pada tanah dasar
yang telah disiapkan. Tepi dari gulungan-gulungan geotextile yang bersebelahan
harus ditumpang tindihkan (overlap).
4. Pada bagian-bagian tertentu geotextile dapat dipotong disesuaikan dengan kebutuhan
dilapangan.
5. Sebelum dilakukan penimbunan material diatasnya, geotextile harsu diperiksa untuk
memastikan bahwa tidak terjadi kerusakan (misal berlubang, robek atau terkoyak)
selama pemasangan.
Jika dalam pelaksanaan pekerjaan geotextile mangalami keruskan, penyedia jasa harus
segera memperbaikinya.

2.15. Pemasangan Pergola


Pemasangan pergola/kanopi dilakukan sesuai dengan gambar-gambar. Pemasangan harus
direncanakan dengan hati-hati dan disiapkan pemotongan yang memenuhi persyaratan
minimum. Untuk pemasangan agar memenuhi persyaratan terhadap kelurusan, ketepatan
posisi dan level.
Pemasangan Pergola/Kanopi menggunakan pipa GI Ø 4”, pipa GI Ø 2”, besi Ø 12 mm
serta wiremesh Ø 6mm dengan spasi 15x15 cm.
Pelaksanaan sambungan-sambungan pada pergola/kanopi menggunakan las elektrik
dengan mesin-mesin las dengan kuat arus yang disetujui, jenis voltage rendah.
bahan dan untuk menjaga agar bagian-bagian yang disambung benar-benar menempel.
Tahapan dari pengelasan lapangan harus direncanakan hal ini. Jangan mengelas tanpa
memasang alat pelindung diri. Bagian-bagian las yang rusak harus dipotong dengan pahat
(chisel) dan dibuang.
2.16. Pekerjaan Perlengkapan
Guna Keperluan transportasi Pengawasan, Penyedia harus menyediakan pinjaman
kendaraan dengan ketentuan sebagai berikut :
i. 1 (Satu) buah kendaraan roda 4 (empat) jenis minibus dan
ii. 1 (Satu) buah kendaraan roda 2 (dua)
i. Kondisi kendaraan 80 %
ii. Tahun Pembuatan minimum 2008 (untuk roda 4)
iii. Tahun pembuatan minimum 2010 (untuk roda 2)
iv. Kendaraan yang dipinjam sudah termasuk biaya penyediaan kendaraan termasuk
biaya operasional dan pemeliharaan.
v. Kendaraan – kendaraan tersebut akan dikembalikan kepada penyedia setelah
Penyerahan Pekerjaan Kedua Selesai (FHO)

3. PENGUKURAN DAN PEMBAYARAN


1. Pengukuran
1.1 Pembongkaran Struktur
Kuantitas yang dihitung untuk pembongkaran untuk semua jenis bahan harus
berdasarkan jumlah aktual dari hasil pembongkaran dalam meter kubik, kecuali
untuk pembongkaran bangunan gedung, pembongkaran rangka baja, pembongkaran
lantai jembatan kayu, pembongkaran jembatan kayu dalam meter persegi dan
pembongkaran batangan baja dalam meter panjang. Untuk pengangkutan hasil
bongkaran ke tempat penyimpanan atau pembuangan yang melebihi 5 km harus
dibayar per kubik meter per kilometer.
1.2 Pekerjaan Gebalan Rumput
Pengukuran untuk pembayaran gebalan rumput akan dilakukan atas areal
pelaksanaan dalam meter persegi sampai pada batas-batas seperti yang ditentukan
di dalam gambar atau seperti yang diperintahkan oleh Direksi.
1.3 Pekerjaan Kayu
Pengukuran untuk pembayaran atas kayu yang disediakan dan dipasang pada
bangunan harus diukur panjang setiap batang dan ukuran potongan melintang sesuai
dengan keperluannya.
1.4 Pekerjaan Besi Tulangan
Perhitungan pengukuran untuk pembayaran semua pengadaan dan pemasangan besi
tulangan, dibuat berdasarkan berat rencana besi tulangan yang dilaksanakan dalam
beton sesuai dengan gambar atau petunjuk oleh Pejabat Pembuat Komitmen/PPK.
1.5 Pekerjaan Besi
a. Pipa galvanis untuk saringan batu
Pengukuran untuk pembayaran terhadap pipa dibuat berdasarkan panjang yang
terpasang sesuai dengan gambar atau seperti yang disetujui oleh Pejabat
Pembuat Komitmen/PPK.
b. Tangga Besi
Pengukuran untuk pembayaran terhadap pipa dibuat berdasarkan panjang yang
terpasang sesuai dengan gambar atau seperti yang disetujui oleh Pejabat
Pembuat Komitmen/PPK.
c. Pipa galvanis untuk pagar pengaman dan sebagainya
Pengukuran untuk pembayaran pipa pagar pengaman dibuat berdasarkan
panjang pipa terpasang sesuai dengan gambar atau menurut petunjuk Pejabat
Pembuat Komitmen/PPK.
d. Expantion joint pada Jembatan
Pengukuran untuk pembayaran expantion joint dibuat berdasarkan meter
panjang terpasang sesuai dengan gambar atau menurut petunjuk Pejabat
Pembuat Komitmen/PPK.
1.6 Pengecatan
Pengukuran untuk pembayaran atas pekerjaan pengecatan pada bangunan harus
diukur berdasarkan luasan.
1.7 Tulangan dowel
Pengukuran untuk pembayaran tulangan dowel dibuat sesuai dengan jumlah berat
tulangan dowel yang terpasang pada bangunan sesuai gambar atau petunjuk Pejabat
Pembuat Komitmen/PPK.
1.8 Pipa
a. Pipa Galvanis : Pengukuran untuk pembayaran terhadap pengadaan,
pemasangan pipa Galvanis harus dibuat sesuai dengan panjang pipa Galvanis
yang dilaksanakan sesuai gambar atau petunjuk Pejabat Pembuat
Komitmen/PPK.
1.9 Blok Beton / Paving Block
Kuantitas yang diukur untuk perkerasan blok beton haruslah luas perkerasan blok
beton baru dalam meter persegi, lengkap terpasang di tempat dan diterima, dan
kuantitas landasan pasir aktual digunakan dihitung dengan menggunakan cara yang
disyaratkan sebagai berikut :
Pengukuran Bahan Porous untuk Bahan Penyaring (Filter)
a. Timbunan hanya boleh diklarifikasikan dan diukur sebagai bahan porous untuk
bahan penyaring (filter) bilamana digunakan pada lokasi atau untuk maksud-
maksud dimana bahan porous untuk penimbunan atau landasan atau bahan
penyaring (filter) atau selimut drainase yang telah ditentukan atau disetujui
secara tertulis oleh Pejabat Pembuat Komitmen/PPK dan bilamana bahan
tersebut telah diterima oleh Pejabat Pembuat Komitmen/PPK sebagai bahan
Drainase Porous yang cocok menurut persyaratan.
b. Kuantitas bahan porous untuk penyaring (filter) yang diukur untuk pembayaran
haruslah jumlah meter kubik bahan yang telah dipadatkan dan diperlukan untuk
menimbun sampai hingga garis yang ditentukan atau disetujui. Setiap bahan
yang dipasang melebihi volume teoritis yang telah disetujui harus dianggap
sebagai timbunan biasa ataupun timbunan pilihan, sebagaimana yang
diperintahkan oleh Pejabat Pembuat Komitmen/PPK dan tidak boleh diukur
tanpa mengabaikan mutu bahannya.
c. Seluruh bahan porous untuk penyaring (filter) yang disetujui untuk digunakan
dan diterima pada Kontrak dan yang memenuhi ketentuan pengukuran seperti
yang diuraikan di atas harus diukur dan dibayar.
Tidak ada pengukuran terpisah yang dilakukan untuk pembongkaran ubin lama atau
blok beton lama yang rusak atau untuk melaksanakan penggetaran pada
pemasangan blok beton.
1.10 Jalan Penghubung Sementara atau Jalan Inspeksi
Pengukuran untuk pembayaran jalan penghubung sementara disesuaikan dengan
dengan jenis pekerjaan yang berkaitan dalam pembuatan jalan inspeksi yang
dilaksanakan sesuai gambar atau petunjuk Pejabat Pembuat Komitmen/PPK.
1.11 Papan Nama Pekerjaan
Pengukuran untuk pembayaran papan nama Pekerjaan disesuaikan dengan jumlah
set papan nama Pekerjaan yang dilaksanakan sesuai gambar atau petunjuk Pejabat
Pembuat Komitmen/PPK.
1.12 Gambar Teknis
Pengukuran untuk pembayaran gambar teknis disesuaikan dengan jumlah set
gambar yang harus sesuai atau petunjuk Pejabat Pembuat Komitmen/PPK.
1.13 Pasang Kuda-kuda baja ringan + reng untuk atap Metal zinc alume+Metal zinc
alume
Pengukuran untuk pembayaran atap baja ringan dengan jenis pekerjaan yang
berkaitan dalam pembuatan pekerjaan atap yang dilaksanakan sesuai gambar atau
petunjuk Pejabat Pembuat Komitmen/PPK.
1.14 Asesoris Pagar Jembatan
Pengukuran untuk pembayaran Asesoris Pagar Jembatan dengan disesuaikan
dengan jumlah asesoris pagar jembatan yang dilaksanakan sesuai gambar atau
petunjuk Pejabat Pembuat Komitmen/PPK.
1.15 Geotextile Nonwoven 200 mg
Pengukuran untuk pembayaran pekerjaan geotextile dengan jenis pekerjaan yang
berkaitan dalam pemasangan geotextile yang dilaksanakan sesuai gambar atau
petunjuk Pejabat Pembuat Komitmen/PPK.
2. Dasar Pembayaran
a) Pembongkaran Struktur
Pekerjaan diukur seperti ditentukan di atas harus dibayar berdasarkan Harga Kontrak
per satuan pengukuran untuk Mata Pembayaran yang terdaftar di bawah dan
ditunjukkan dalam Daftar Kuantitas dan Harga, dimana harga dan pembayaran
tersebut harus merupakan kompensasi penuh untuk pembuangan atau pengamanan,
penanganan, pengangkutan, penyimpanan dan pengamanan dari kerusakan, untuk
semua pekerja, peralatan, perkakas, dan semua pekerjaan lainnya yang diperlukan
untuk menyelesaikan pekerjaan yang sebagaimana mestinya seperti disyaratkan.
b) Pekerjaan Gebalan Rumput
Pembayaran akan dilakukan atas dasar jumlah meter persegi yang telah diukur
seperti tersebut diatas dengan ketentuan harga satuan per meter persegi yang
tercantum di dalam Bill of Quantities.
c) Pekerjaan Kayu
Pembayaran untuk pengadaan dan pemasangan kayu pada bangunan dibuat
berdasarkan harga satua per meter kubik seperti yang tercantum dalam Rencana
Anggaran Biaya, mencakup biaya–biaya pengadaan material, pengangkutan,
penurunan, pemotongan, finishing, pengecatan semua bahan, upah pekerja, peralatan
yang diperlukan dan penyediaan semua perangkat keras yang diperlukan termasuk
besi beton dan lain – lain.
d) Pekerjaan Besi Tulangan
Pembayaran untuk pengadaan dan pemasangan besi tulangan akan dibuat dalam
harga satuan perkilogram seperti yang tercantum dalam Daftar Kuantitas dan Harga,
mencakup biaya upah kerja, material dan peralatan, termasuk biaya-biaya
pengangkutan, penempatan, penurunan, penyimpanan, pemotongan, pengikatan,
pembersihan, pemasangan, dan penempatan pada posisinya untuk semua besi
tulangan seperti yang diperlihatkan dalam gambar atau ditentukan oleh Direksi.
e) Pekerjaan Besi
a. Pipa galvanis untuk saringan batu
Pembayaran untuk pengadaan material, pemasangan, pengangkutan dan
finishing semua pekerjaan pipa besi dibuat berdasarkan harga satuan per meter
panjang seperti yang tercantum dalam Daftar Kuantitas dan Harga. Harga satuan
harus mencakup upah kerja, harga bahan.
b. Tangga Besi
Pembayaran pekerjaan tangga besi dibuat dalam harga satuan pekerjaan besi
tulangan berdasarkan kenyataan yang terpasang seperti yang tercantum dalam
Daftar Kuantitas dan Harga. Harga satuan harus sudah mencakup semua biaya
upah pekerjaan, material, peralatan dan biaya tak terduga untuk penyempurnaan,
penyimpanan, pengangkutan besi bulat, pembuatan, pemasangan, pengecatan,
mur, baut dan pekerjaan atau material lainnya yang diperlukan.
c. Pipa galvanis untuk pagar pengaman dan sebagainya
Pembayaran pipa besi pengaman harus dihitung berdasarkan harga satuan meter
panjang pipa, seperti yang tercantum dalam Daftar Kuantitas dan Harga. Harga
satuan mencakup biaya upah pekerja, peralatan, pengadaan bahan, pembuatan,
pengangkutan, pemasangan, pengecatan pipa pengaman, penutup,
pembengkokan dan sebagainya sesuai dengan kebutuhan.
d. Expantion joint pada Jembatan
Pembayaran expansion joint dibuat berdasarkan harga satuan per meter panjang
yang dilaksanakan sesuai gambar seperti yang tercantum dalam Daftar Kuantitas
dan Harga, mencakup semua upah pekerja, pengadaan material, peralatan,
pengangkutan, pemasangan, baut, angker dan pekerjaan lainnya yang
diperlukan.
f) Pengecatan
Pembayaran untuk pengadaan dan pengecatan dibuat berdasarkan harga satuan per
unit seperti yang tercantum dalam Rencana Anggaran Biaya, mencakup biaya–biaya
pengadaan material, pengecatan semua bahan, upah pekerja, peralatan yang
diperlukan dan penyediaan semua perangkat keras yang diperlukan termasuk besi.
g) Tulangan dowel
Pembayaran untuk tulangan dowel harus dibuat berdasarkan harga satuan kilogram
besi batang tulangan dalam Daftar Kuantitas dan Harga. Harga satuan mencakup
semua biaya pengadaan, pemasanagn seperti dinyatakan diatas, berikut penutup
selang PVC, tabung atau pipanya.
h) Blok Beton / Paving Block
Kuantitas yang diukur harus dibayar dengan harga satuan Kontrak per satuan
pengukuran untuk Mata Pembayaran yang terdaftar di bawah dan diberikan dalam
Daftar Kuantitas, dimana harga dan pembayaran tersebut sudah merupakan
kompensasi penuh untuk pengadaan semua bahan, pekerja, peralatan, perkakas dan
keperluan biaya lainnya yang diperlukan untuk penyelesaian pekerjaan yang
mememenuhi ketentuan dari Spesifikasi ini.
i) Pasang Kuda-kuda baja ringan + reng untuk atap Metal
Kuantitas yang diukur harus dibayar dengan harga satuan Kontrak per satuan
pengukuran untuk Mata Pembayaran yang terdaftar di bawah dan diberikan dalam
Daftar Kuantitas, dimana harga dan pembayaran tersebut sudah merupakan
kompensasi penuh untuk pengadaan semua bahan, pekerja, peralatan, perkakas dan
keperluan biaya lainnya yang diperlukan untuk penyelesaian pekerjaan yang
mememenuhi ketentuan dari Spesifikasi ini.
j) Pekerjaan Asesoris Pagar Jembatan
Pembayarannya dibuat berdasarkan harga satuan perbuah seperti yang tercantum
dalam Daftar Kuantitias dan Harga, mencakup upah pekerja, material, peralatan
termasuk pengadaan, dan transportasi.
k) Geotextile non woven 200mg
Pembayaran untuk geotextile akan didasarkan pada harga satuan setiap meter persegi
yang dimaksudkan didalam Daftar Kuantitas dan Harga, dan harus dianggap sudah
termasuk semua konpensasi untuk penyediaan tenaga kerja, material, perlengkapan
prasarana, alat-alat-kerja, dan sebagainya untuk menghasilkan pekerjaan yang
lengkap, memenuhi syarat dengan teknik pelaksanaan terbaik dan sepenuhnya sesuai
dengan ketentuan tersebut didalam spesifikasi ini.
l) Pemasangan Pergola
Pembayaran untuk pemasangan pergola akan didasarkan pada harga satuan setiap
buah yang dimaksudkan didalam Daftar Kuantitas dan Harga, dan harus dianggap
sudah termasuk semua kompensasi untuk penyediaan tenaga kerja, material,
perlengkapan prasarana, alat-alat-kerja, dan sebagainya untuk menghasilkan
pekerjaan yang lengkap, memenuhi syarat dengan teknik pelaksanaan terbaik dan
sepenuhnya sesuai dengan ketentuan tersebut didalam spesifikasi ini.
Demikian Spesifikasi ini dibuat dan ditetapkan untuk Pelaksanaan Pekerjaan di Dinas Pekerjaan
Umum Bidang Pengairan kab. Kulon Progo
SPESIFIKASI TEKNIS
Kegiatan : Pembangunan Embung dan Bangunan Penampung Air lainnya
Pekerjaan : Pembangunan Embung Talun Ombo
Lokasi : Desa Sidomulyo, Kec. Pengasih, Kab. Kulon Progo
Tahun Anggaran : 2018

No. Bahan Jenis, Tipe dan Merk Bahan yang Ditawarkan

1 Pasir pasang/beton - Pasir berasal dari pertambangan pasir di kali progo dan penjual pasir memiliki surat izin
pertambangan dan masih beroperasi, Pasir dari butiran mineral keras, bersih, kadar lumpur
maksimum 5% pasir halus tidak mengandung zat organik dan angka kehalusan yang lolos ayakan
0,3 mm minimal 15%, untuk pasir beton seusai dengan ketentuan SNI.036880-2002.

2 Semen - Semen yang digunakan berjenis PC (Portland Cemen) Jenis I Merk Holcim didatangkan ke lokasi
pekerjaan dalam kondisi baru dan kemasan tidak rusak, serta tidak lembab, memenuhi ketentuan
dan syarat syarat Peraturan Semen Portland Indonesia (SNI 15.2049.1994), 1 (satu) merk semen
untuk seluruh pekerjaan

3 Air - Air bersumber dari air tanah, bersih, tidak mengandung lumpur, minyak, benda - benda terapung
yang bisa dilihat secara visual dan asam - asam zat ornganik dan sebagainya, Tidak mengandung
benda-benda tersuspensi lebih dari 2 gram/liter.Tidak mengandung garam-garam yang dapat larut
dan dapat merusak beton (asam-asam, zat organic, dan sebagainya) lebih dari 15 gram/ liter.
Kandungan clorida (Cl) tidak lebih dari 500 ppm dan senyawa sulfat (sebagai SO3) tidak lebih
dari 100 ppm.

4 Split / Batu pecah - Split / batu pecah berasal dari pertambangan batu di Kulon Progo dan penjual split / batu pecah
memiliki surat izin pertambangan dan perdagangan yang masih berlaku. Split / batu pecah Split
yang diperoleh dari pemecah batu, keras dan tidak berpori dan tidak boleh mengandung lumpur
lebih dari 1%, Batu pecah adalah butiran mineral hasil pecahan batu alam yang dapat melalui
ayakan berlubang persegi 76 mm dan tertinggal di atas ayakan berlubang persegi 2 mm, Kerikil
dan batu pecah harus keras, bersih serta besar butirannya dan gradasinya tergantung pada
penggunaannya

5 Batu belah - Batu berasal dari sungai/kali, penjual batu memiliki izin usaha pertambangan yang masih berlaku,
Batu harus bersih, keras, tanpa bagian yang tipis atau retak dan harus dari jenis yang diketahui
awet. Bila perlu, batu harus dibentuk untuk menghilangkan bagian yang tipis atau lemah.Batu
yang digunakan adalah batu belah atau batu bulat, batu kali yang dipecah salah satu sisinya tidak
rapuh tidak keropos, tidak berpori.Batu harus rata, lancip atau lonjong bentuknya dan dapat
ditempatkan saling mengunci bila dipasang bersama- sama.Untuk batu dari hasil galian, harus
dibersihkan dari lapisan tanah yang menyelimuti agar permukaan batu bersih.Berat jenis batu
yang digunakan tidak boleh kurang dari 2,5 t/m3 dengan ukuran batu berkisar antara diameter 15-
30 cm

6 Besi Beton Polos - Menggunakan besi beton dengan merk Krakatau Steel (KS). Besi bersih dari lapisan
minyak/lemak dan bebas dari cacat seperti serpih-serpih, Tidak boleh mengandung serpih-serpih,
lipatan-lipatan, retak-retak, gelombang-gelombang, cerna-cerna yang dalam, atau berlapis-
lapis.Untuk tulangan utama (tarik / tekan lentur) harus digunakan baja tulangan deform (BJTD),
dengan jarak antara dua sirip melintang tidak boleh lebih dari 70 % diameter nominalnya, dan
tinggi siripnya tidak boleh kurang dari 5 % diameter nominalnya. Sebelum pengiriman baja
tulangan dilakukan, Penyedia Jasa/ Penyedia Barang / Jasa Pemborongan harus menunjukan
sample, hasil uji Tarik, berat dan Diameter yang akan digunakan. Hal ini akan mempermudah dan
dapat menjaga kualitas. Di lokasi proyek Penyedia Barang / Jasa Pemborongan harus
menyediakan alat scalemate untuk mengukur diameter tulangan polos dan dimasukkan dalam
dokumen penawaran data teknis.
7 Kawat pengikat - Menggunakan kawat pengikat berukuran minimal 1 mm merk Krakatau Steel (KS), berkualitas
baik dan tidak berkarat.

8 -
Kayu Begesting / Perancah
Menggunakan kayu kualitas baik, tua, kering dan tidak bercacat pecah-pecah Kayu berasal dari
untuk kolam
toko / supplier wilayah Yogyakarta yang memiliki Surat Keterangan Asal Usul (SKAU)

Demikian spesifikasi bahan yang kami tawarkan untuk melengkapi persyaratan lelang pada pekerjaan ini, dan spesifikasi ini tetap
mengacu pada Spesifikasi Teknis Pembangunan Embung Talun Ombo

Wates, 28 Maret 2018


Dibuat Oleh,
Penawar
CV. Sinar Buana

H. Suharmanto, ST
Direktur