Anda di halaman 1dari 16

NEUTROPENIA

1. DEFINISI
Febrile neutropenia (FN) adalah suatu keadaan pasien ketika suhu tubuhnya
melalui temperatur oral mencapai >38,5oC atau >38,0oC selama 2 jam dan jumlah hitung
neutrofil <500 sel/mm3 atau <1000 sel/mm3 yang diprediksi akan menurun sampai <500
sel/mm3. Febrile neutropenia merupakan suatu perkembangan dari demam, sering disertai
tanda-tanda infeksi, seperti neutropenia, dengan jumlah hitung abnormal rendah dari
granulosit neutrofil (tipe sel darah putih)
Neutrofil merupakan salah satu dari tipe dari sel darah putih. Ada lima tipe sel
darah putih, yaitu neutrofil, basofil, eosinofil, limfosit dan monosit. Beberapa sel darah
putih disebut granulosit, yang dipenuhi oleh granul-granul yang tiap kantong kecil
mengandung enzim. Neutrofil, eosinofil dan basofil merupakan granulosit-granulosit
yang merupakan bagian dari inisiasi sistem imun. Mereka tidak merespon secara
eksklusif terhadap antigen spesifik, sama halnya dengan limfosit-B dan limfosit-T.
Neutrofil mengandung enzim yang membantu sel membunuh dan mengolah
mikroorganisme yang dikenal dengan fagosit. Neutrofil yang matur memiliki nukleus
yang bersegmen-segmen. Sedangkan neutrofil yang immature memiliki nukleus yang
berpita. Neutrofil diproduksi di sumsum tulang dan dilepaskan ke saluran darah.
Neutrofil memiliki waktu hidup selama 3 hari.

2. KLASIFIKASI
White blood cell count (WBC) sejumlah seldarah putih dalam 1 volume darah.
Jarak normal WBC bervariasi antara 4300 dan 10800 sel per mikroliter atau milimeter
kubik. WBC sama halnya dengan jumlah hitung leukosit dan dapat dengan satuan
Internasional Unit 4,3 x 109 sampai 10,8 x 109 sel per liter. Jumlah persentase dari tipe-
tipe sel darah putih yang berbeda dari WBC disebut WBC differential. Absolute Neutrofil
Count (ANC) ditentukan dari produk WBC dan fraksi neutrofil terhadap sel darah putih
disebut sebagai analisis differensial WBC. Sebagai contoh, jika WBC 10000 per
mikroliter dan sebanyak 70% adalah neutrofil, maka jumlah ANC adalah 7000 per
mikroliter. Jika ANC kurang dari 1500 per mikroliter, maka disebut sebagai neutropenia.
Adapun klasifikasi neutropenia.
a. Mild, jika jarak jumlah ANC dari 1000-1500/ mikroLiter
b. Moderate, jika ANC 500-1000/ mikroLiter
c. Severe, jika ANC kurang dari 500/ mikroLiter

Hasil neutropenia merupakan meningkatnya kerentanan terhadap terjadinya


infeksi bakteri. Derajat resiko terjadinya neutropenia tergantung dari penyebab dan
kegawatan dari neutropenia, kondisi medis pasien, ada atau tidaknya pemmeriksaan
sumsum tulang dan cadangan dari produksi neutrofil. Infeksi yang paling sering terjadi
disebabkan oleh bakteri yang tempat normalnya adalah di kulit. (Stphylococcus Aureus)
atau dari traktus gastrointestinal dan traktus urinarius. Infeksi jamur juga sering terjadi
pada pasien dengan neutropenia. Infeksi terbatas di daerah mulut, genital dan kulit atau
dapat menyebar lewat saluran darah sampai ke paru atau organ lain.

3. ETIOLOGI
Beberapa penderita kanker, tuberkulosis, mielofibrosis, kekurangan viatamin B12
dan kekurangan asam folat mengalami neutropenia. Obat-obat tertentu, terutama yang
digunakan untuk mengobati kanker (kemoterapi), bisa mengganggu kemampuan sumsum
tulang dalam membentuk neutrofil. Obat-obatan yang bisa menyebabkan neutropenia:

1. Antibiotik (penisilin, sulfonamid, kloramfenikol)


2. Anti-kejang
3. Obat anti-tiroid
4. Kemoterapi untuk kanker
5. Garam emas
6. Fenotiazin.

Neutropenia mungkin timbul sebagai akibat dari banyak kondisi-kondisi medis:


a. Berbagai penyakit virus, paling sering menyebabkanleukopenia dan
neutropenia pada anak. Beberapa contoh yaitu infeksihepatitis, mononukleosis,
virus sitomegalo, influenza, polimielitis,rubeola, rubella, roseola, smallpox,
psitacosis, demam kolorado Tick,dengue, demam kuning, demam sandfly dan
varicela. Pada bayi dananak yang terinfeksi dengan HIV, neutropenia
disebabkan olehdisfungsi imunitas selular, obat-obatan antivirus atau vitamin B12
ataudefisiensi asam fola
b. Demam tifoid dan paratifoid dan kadang-kadang tularemia dapat
menyebabkan leukopenia. Pada awal perjalanan penyakit demam tifoid ringan, terjadi
leukositosis dan neutrofilia dominan tetapi pada fase bakterimia neutropenia
mendominasi. Selama demam paratifoid karena infeksi Salmonella, terdapat
gambaran klinis dan laboratoris yang serupa. Selama fase demam dan fase pulmonar
tularemia, tidak terdapat leukositosis juga mendominasi. Neutropenia
kadangkala akibat infeksi tuberkulosis atau septikemia. Neutropenia yang terjadi pada
pasien dengan sepsis mungkin merupakan bagian proses endotoksin dan atau
aktivasi baik komplemen dengan generasi C5 pada plasma atau aktivasi dari
sistem koagulasi mengakibatkan koagulasi intravaskular dan syok
c. Neutropenia selektif dapat terjadi setelah terapi dengan sejumlah besar obat.
Sebagian besar obat tersebut merusak prekursor sumsum,sehingga
menghambat replikasi normal sel-sel di sumsum tulang denganakibat neutropenia,
trombositopenia, atau anemia. Antibodi terbentukterhadap kompleks obat-
protein yang bekerja sebagai antigen. Komplemendiikat dan kompleks imun serta
neutrofil yang dilapisi komplemen cepatdikeluarkan dari sirkulasi oleh sel
retikulo endotelial. Obat yangmenginduksi neutrofenia imun dengan aktivitas
sebagai hapten yangmelekat pada permukaan leukosit dan antibodi dibuat
langsung untukmelawan hapten ini. Antibodi pada obat dapat berada dalam
sirkulasitanpa adanya efek sampai obat diberikan lagi, kemudian interaksi
terjadiantara ikatan obat leukosit dengan antibodi mengakibatkan aglutinasi seldan
sequestrasi kapiler paru dan kemungkinan infiltrasi vaskular di limpa.
 Obat antiradang : aminopirin, fenilbutazon
 Obat antibakteri : kloramfenikol, kotrimoksazol
 Antikonvulsi : fenitoin
 Antitiroid : karbimazol
 Obat hipoglikemik : tolbutamid
 Fenotiazin : khlorpromazin, prometazin
 Obat lainnya: mepakrin fenindion, dan banyak lainnya.
Neutropenia yang dicetuskan obat terjadi setidaknya melalui tigamekanisme :
1) Obat-obat yang mungkin merusak sumsum tulang (bone marrow) atau
neutrophils, termasuk kemoterapi kanker;
2) Kekurangan-kekurangan vitamin (megaloblastic anemia yang disebabkan oleh
kekurangan vitamin B12 dan/atau folate);
3) Penyakit-penyakit dari sumsum tulang seperti leukemia-
leukemia,myelodysplastic syndrome, aplastic anemia, myelofibrosis;
d. Terapi Radiasi;
e. Penyakit-penyakit bawaan (sejak lahir) dari fungsi sumsum tulang atau dari produksi
neutrophil, contohnya, Kostmann syndrome;
f. Penghancuran autoimmune dari neutrophils (sebagai kondisi primer atau
berhubungan dengan penyakit lain seperti Felty's syndrome) atau dari obat-obat yang
menstimulasi sistim imun untuk menyerang sel-sel;
g. Hypersplenism, yang merujuk pada perampasan yang meningkat dan/atau
penghancuran dari sel-sel darah oleh limpa (spleen).

4. MANIFESTASI KLINIS
Neutropenia dapat terjadi secara tiba-tiba dalam beberapa jam atau beberapa hari
(neutropenia akut) atau bisa berlangsung selama beberapa bulan atau beberapa tahun
(neutropenia kronik). Neutropenia tidak mempunyai gejala yang spesifik, sehingga
cenderung tidak diperhatikan sampai terjadinya infeksi. Pada neutropenia akut, bisa
terjadi demam dan luka terbuka (ulkus, borok) yang terasa nyeri di sekitar mulut dan
anus. Yang akan diikuti oleh pneumonia bakteri dan infeksi lainnya. Pada neutropenia
kronik, perjalanan penyakitnya tidak terlalu berat jika jumlah neutrofilnya tidak terlalu
rendah.

5. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
Neutropenia didiagnosa dengan jumlah sel darah yang dilakukan pada sample
darah yang dikeluarkan dari vena. Untuk menentukan penyebab yang spesifik dari
neutropenia pada situasi yang diberikan, tes-tes lain mungkin diperlukan. Adakalanya
biopsi sumsum tulang mungkin diperlukan untuk mendiagnosa penyebab yang spesifik
dari neutropenia.
Jika seseorang mengalami infeksi yang berulang atau infeksi yang tidak biasa,
maka dicurigai suatu neutropenia dan dilakukan hitung jenis darah komplit untuk
menegakkan diagnosis. Jumlah neutrofil yang sedikit menunjukkan neutropenia.
Selanjutnya dicari penyebab dari neutropenia. Dilakukan aspirasi atau biopsi sumsum
tulang. Contoh sumsum tulang diperiksa dibawah mikroskop untuk menentukan keadaan
sumsum tulang, jumlah prekursor neutrofil dan jumlah sel darah putih.
Dengan menentukan jumlah se prekursor dan pematangannya, bisa diperkirakan
waktu yang diperlukan untuk mengembalikan jumlah neutrofil ke angka yang normal.
Jika jumlah sel prekursornya berkurang, neutrofil yang baru tidak dkan muncul dalam
aliran darah dalam waktu 2 minggu atau lebih; jika jumlahnya cukup dan pematangannya
normal, maka neutrofil yang baru akanmuncul dalam aliran darah dalam waktu beberapa
hari. Kadang pemeriksaan sumsum tulang bisa menemukan adanya penyakit lain,
sepertileukemia atau kanker sel darah lainnya.
Neutropenia (Kekurangan Sel Darah Putih) Neutropenia adalah kondisi dimana
jumlah dari neutrophils dalam aliran darah berkurang. Neutrophils adalah tipe dari sel
darah putih juga dikenal sebagai polymorphonuclear leukocytes atau PMNs. Neutropenia
mempengaruhi kemampuan tubuh untuk melawan infeksi-infeksi. Sel-sel darah putih
juga dikenal sebagai leukocytes. Ada lima tipe-tipe utama dari sel-sel darah putih:
1.basophils,
2. eosinophils,
3. lymphocytes (T-cells dan B-cells),
4. monocytes
5. neutrophils. Beberapa sel-sel darah putih, yang disebut granulocytes, diisi
dengan granules (butir-butir) mikroskopik yang adalah kantong-kantong kecil yang
mengandung enzim-enzim (senyawa-senyawa yang mencerna mikroorganisme-
mikroorganisme). Neutrophils, eosinophils, dan basophils semuanya adalah granulocytes
dan adalah bagian dari sistim imun bawaan dengan aktivitas yang sedikit banyak
nonspecifik, berdasar luas. Mereka tidak merespon secara eksklusif pada specifik
antigens, seperti juga lymphocytes (B-cells dan T-cells). Neutrophils mengandung enzim-
enzim yang membantu sel membunuh dan mencerna mikroorganisme-mikroorganisme
yang telah ia telan dengan proses yang dikenal sebagai phagocytosis. Neutrophil yang
matang mempunyai nucleus yang terbagi-bagi (ia seringkali disebut 'seg' atau 'poly'),
sementara neutrophil yang belum matang mempunyai nucleus yang berbentuk pita.
Neutrophils dibuat dalam sumsum tulang (bone marrow) dan dilepaskan kedalam aliran
darah. Neutrophil mempunyai jangka hidup kira-kira tiga hari.
Klasifikasi neutropenia Ada tiga pedoman umum yang digunakan untuk
mengklasifikasikan keparahan neutropenia berdasarkan mutlak neutrofil count (ANC)
diukur dalam sel per microliter darah:
1) Neutropenia ringan (1000 < = ANC < 1500) —minimal risiko infeksi
2) Neutropenia moderat (500 < = ANC < 1000) — moderat risiko infeksi
3) Parah neutropenia (ANC < 500) — parah risiko infeksi.
Penyebab Neutropenia
Neutropenia dapat hadir (meskipun ia adalah relatif tidak umum) pada individu-
individu sehat yang normal, khususnya pada beberapa orang-orang keturunan Afrika atau
Arab dan Yahudi-Yahudi Yemenite. Neutropenia mungkin timbul sebagai akibat dari
produksi neutrophils yang berkurang, penghancuran neutrophils setelah mereka
diproduksi, atau penyatuan dari neutrophils (akumulasi dari neutrophils keluar dari
sirkulasi).
Neutropenia mungkin timbul sebagai akibat dari banyak kondisi-kondisi medis:
1. Infeksi-infeksi (lebih umum infeksi-infeksi virus, namun juga infeksi-infeksi bakteri
atau parasit). Contoh-contoh termasuk: HIV, tuberculosis, malaria, Epstein Barr virus
(EBV);
2. Obat-obat yang mungkin merusak sumsum tulang (bone marrow) atau neutrophils,
termasuk kemoterapi kanker;
3. Kekurangan-kekurangan vitamin (megaloblastic anemia yang disebabkan oleh
kekurangan vitamin B12 dan/atau folate)
4. Penyakit-penyakit dari sumsum tulang seperti leukemia-leukemia, myelodysplastic
syndrome, aplastic anemia, myelofibrosis;
5. Terapi Radiasi;
6. Penyakit-penyakit bawaan (sejak lahir) dari fungsi sumsum tulang atau dari produksi
neutrophil, contohnya, Kostmann syndrome;
7. Penghancuran autoimmune dari neutrophils (sebagai kondisi primer atau berhubungan
dengan penyakit lain seperti Felty's syndrome) atau dari obat-obat yang menstimulasi
sistim imun untuk menyerang sel-sel;
8. Hypersplenism, yang merujuk pada perampasan yang meningkat dan/atau
penghancuran dari sesl-sel darah oleh limpa (spleen).
6. PERAWATAN NEUTROPENIA
Perawatan dari neutropenia didasarkan pada penyebab yang mendasarinya,
keparahan, dan kehadiran dari infeksi-infeksi atau gejala-gejala yang berhubungan serta
keadaan kesehatan keseluruhan dari pasien. Sungguh, perawatan harus juga diarahkan
pada segala proses-proses penyakit yag mendasarinya. Perawatan-perawatan yang secara
langsung dialamatkan pada neutropenia mungkin termasuk (catat bahwa semua dari
perawatan-perawatan ini mungkin tidak tepat pada setting yang diberikan):
a. obat-obat antibiotik dan/atau obat-obat anti jamur untuk membantu melawan infeksi-
infeksi;
b. pemasukan dari faktor-faktor pertumbuhan sel-sel darah putih (seperti recombinant
granulocyte colony-stimulating factor (G-CSF, filgrastim) pada beberapa kasus-
kasus dari neutropenia yang parah;
c. transfusi-transfusi granulocyte; atau terapi corticosteroid atau intravenous immune
globulin untuk beberapa kasus-kasus dari neutropenia yang ditengahi oleh imun.

Tindakan-tindakan pencegahan mungkin juga diimplementasikan pada pasien-pasien


neutropenic untuk membatasi risiko dari infeksi-infeksi. Tindakan-tindakan ini mungkin
termasuk perhatian yang ketat pada mencucui tangan, penggunaa kamar-kamar pribadi,
atau pada beberapa kasus-kasus, penggunaan dari sarung-sarung tangan, jubah-jubah,
dan/atau masker-masker muka oleh perawat-perawat.

Jika Anda hidup dengan neutropenia , ada banyak hal yang dapat Anda lakukan
untuk meminimalkan risiko infeksi dan mencapai kesehatan optimal . Berikut adalah
beberapa petunjuk ( Sumber: Asosiasi Dukungan Neutropenia , California )
 Bersihkan semua benda-benda di sekitar penderita termasuk tempat tidur,
bangku, dan sebagainya.
 Hindari pisau cukur pisau untuk mencukur . Gunakan alat yang steril .
Pastikan selalu bersih .
 Hindari kebiasaan menggaruk atau mengupil.
 Jangan biarkan kulit anda menjadi kering. Gunakan pelembab .
 Perhatikan kebersihan tangan .Cuci tangan secara teratur dengan sabun
antibakteri . Pastikan tangan Anda dicuci dengan sabun dan air hangat
sebelum makan , setelah menggunakan toilet , dan berjabat tangan .
 Ketika memotong kuku Anda , berhati-hatilah untuk tidak merobek atau
memotong kulit anda dan kutikula. Gunakan remover kutikula atau krim .
 Untuk wanita jangan gunakan tampon , gelembung mandi , mandi garam dan
douche vagina .
 Hindari tempat-tempat yang ramai dan penuh sesak.
 Hindari orang-orang dengan infeksi , termasuk pilek , flu dan luka terbuka .
 Hindari termometer dubur .
 Hindari obat supositoria .
 Jika Anda menerima kemoterapi , menghindari orang-orang yang baru saja
diberikan vaksin
 Jauhkan dari tempat umum tertutup .
 Memakai sepatu , hindari berjalan dengan kaki telanjang .
 Hindari kontak dengan tinja hewan peliharaan atau urin
 Hindari air yang tergenang .
 Dry - membersihkan jaket dan mantel teratur .
 Semua ventilasi udara dan tungku di rumah dibersihkan setidaknya sekali
setahun .
 Ketika orang datang ke rumah , pastikan mereka semua melepas sepatu
mereka .
 Hindari membersihkan gigi dengan benang gigi .
 Sebelum ke dokter gigi , pastikan diskusikan dengan dokter pribadi Anda .
Anda mungkin diminta untuk minum antibiotik sebelum dan sesudah
perawatan gigi .
 Gigi palsu bersih dengan menggunakan air tawar .
 Jangan gunakan sikat gigi yang keras.
 Bilas mulut Anda secara teratur . Jangan gunakan obat kumur komersial atau
produk dengan alkohol di dalamnya .
 Pastikan Anda makan makanan yang mengandung banyak serat ( mencegah
sembelit ) .

Konsep Asuhan Keperawatan


A. Pengkajian
Pengkajian pada neutropenia meliputi :
1. Riwayat penyakit
2. Kaji adanya tanda-tanda anemia :
a. Pucat
b. Kelemahan
c. Sesak
d. Nafas cepat
3. Kaji adanya tanda-tanda leucopenia
a. Demam
b. Infeksi
4. Kaji adanya tanda-tanda trombositopenia :
a. Ptechiae
b. Purpura
c. Perdarahan membran mukosa
5. Kaji adanya tanda-tanda invasi ekstra medulola :
a. Limfadenopati
b. Hepatomegali
c. Splenomegali
6. Kaji adanya pembesaran testis
7. Kaji adanya :
a. Hematuria
b. Hipertensi
c. Gagal ginja
d. Inflamasi disekitar rectal
e. Nyeri
B. Diagnosa Keperawatan
1. Resiko infeksi berhubungan dengan menurunnya sistem pertahanan tubuh
2.Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan akibat anemia
3. Resiko terhadap cedera : perdarahan yang berhubungan dengan penurunan
jumlah trombosit
4. Resiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan mual dan
muntah
5. Perubahan membran mukosa mulut : stomatitis yang berhubungan dengan efek
samping agen kemoterapi
6. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan
anoreksia, malaise, mual dan muntah, efek samping kemoterapi dan atau
stomatitis
7. Nyeri yang berhubungan dengan efek fisiologis dari leukaemia
8. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan pemberian agens kemoterapi,
radioterapi, imobilitas.
9. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan alopesia atau perubahan cepat pada
penampilan.
C. Rencana Keperawatan
1. Resiko infeksi berhubungan dengan menurunnya sistem pertahanan tubuh
Tujuan : Anak tidak mengalami gejala-gejala infeksi
Intervensi :
a) Pantau suhu dengan teliti
Rasional : untuk mendeteksi kemungkinan infeksi
b) Tempatkan anak dalam ruangan khusus
Rasional : untuk meminimalkan terpaparnya anak dari sumber infeksi
c) Anjurkan semua pengunjung dan staff rumah sakit untuk menggunakan teknik
mencuci tangan dengan baik
Rasional : untuk meminimalkan pajanan pada organisme infektif
d) Evaluasi keadaan anak terhadap tempat-tempat munculnya infeksi seperti tempat
penusukan jarum, ulserasi mukosa, dan masalah gigi
Rasional : untuk intervensi dini penanganan infeksi
e) Inspeksi membran mukosa mulut. Bersihkan mulut dengan baik
Rasional : rongga mulut adalah medium yang baik untuk pertumbuhan organism
f) Berikan periode istirahat tanpa gangguan
Rasional : menambah energi untuk penyembuhan dan regenerasi seluler
g) Berikan diet lengkap nutrisi sesuai usia
Rasional : untuk mendukung pertahanan alami tubuh
h) Berikan antibiotik sesuai ketentuan
Rasional : diberikan sebagai profilaktik atau mengobati infeksi khusus
2. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan akibat anemia
Tujuan : terjadi peningkatan toleransi aktifitas
Intervensi :
a) Evaluasi laporan kelemahan, perhatikan ketidakmampuan untuk berpartisipasi
dala aktifitas sehari-hari
Rasional : menentukan derajat dan efek ketidakmampuan
b) Berikan lingkungan tenang dan perlu istirahat tanpa gangguan
Rasional : menghemat energi untuk aktifitas dan regenerasi seluler atau
penyambungan jaringan
c) Kaji kemampuan untuk berpartisipasi pada aktifitas yang diinginkan atau
dibutuhkan
Rasional : mengidentifikasi kebutuhan individual dan membantu pemilihan
intervensi
d) Berikan bantuan dalam aktifitas sehari-hari dan ambulasi
Rasional : memaksimalkan sediaan energi untuk tugas perawatan diri
3. Resiko terhadap cedera/perdarahan yang berhubungan dengan penurunan
jumlah trombosit
Tujuan : klien tidak menunjukkan bukti-bukti perdarahan
Intervensi :
a) Gunakan semua tindakan untuk mencegah perdarahan khususnya pada
daerah ekimosis
Rasional : karena perdarahan memperberat kondisi anak dengan adanya
anemia
b) Cegah ulserasi oral dan rectal
Rasional : karena kulit yang luka cenderung untuk berdarah
c) Gunakan jarum yang kecil pada saat melakukan injeksi
Rasional : untuk mencegah perdarahan
d) Menggunakan sikat gigi yang lunak dan lembut
Rasional : untuk mencegah perdarahan
e) Laporkan setiap tanda-tanda perdarahan (tekanan darah menurun, denyut
nadi cepat, dan pucat)
Rasional : untuk memberikan intervensi dini dalam mengatasi perdarahan
f) Hindari obat-obat yang mengandung aspirin
Rasional : karena aspirin mempengaruhi fungsi trombosit
g) Ajarkan orang tua dan anak yang lebih besar ntuk mengontrol perdarahan
hidung
Rasional : untuk mencegah perdarahan
4. Resiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan mual dan
Muntah
Tujuan :
a) Tidak terjadi kekurangan volume cairan
b) Pasien tidak mengalami mual dan muntah
Intervensi :
a) Berikan antiemetik awal sebelum dimulainya kemoterapi
Rasional : untuk mencegah mual dan muntah
b) Berikan antiemetik secara teratur pada waktu dan program kemoterapi
Rasional : untuk mencegah episode berulang
c) Kaji respon anak terhadap anti emetic
Rasional : karena tidak ada obat antiemetik yang secara umum berhasil
d) Hindari memberikan makanan yang beraroma menyengat
Rasional : bau yang menyengat dapat menimbulkan mual dan muntah
e) Anjurkan makan dalam porsi kecil tapi sering
Rasional : karena jumlah kecil biasanya ditoleransi dengan baik
f) Berikan cairan intravena sesuai ketentuan
g) Rasional : untuk mempertahankan hidrasi
Nyeri yang berhubungan dengan efek fisiologis dari leukaemia
Tujuan : pasien tidak mengalami nyeri atau nyeri menurun sampai tingkat
yang dapat diterima anak
Intervensi :
a) Mengkaji tingkat nyeri dengan skala 0 sampai 5
Rasional : informasi memberikan data dasar untuk mengevaluasi
kebutuhan
atau keefektifan intervensi
b) Jika mungkin, gunakan prosedur-prosedur (misal pemantauan suhu non
invasif, alat akses vena
Rasional : untuk meminimalkan rasa tidak aman
c) Evaluasi efektifitas penghilang nyeri dengan derajat kesadaran dan sedasi
Rasional : untuk menentukan kebutuhan perubahan dosis. Waktu
pemberian atau obat
d) Lakukan teknik pengurangan nyeri non farmakologis yang tepat
Rasional : sebagai analgetik tambahan
e) Berikan obat-obat anti nyeri secara teratur
Rasional : untuk mencegah kambuhnya nyeri
Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan pemberian agens
kemoterapi, radioterapi, imobilitas
Tujuan : pasien mempertahankan integritas kulit
Intervensi
a) Berikan perawatan kulit yang cemat, terutama di dalam mulut dan
daerah perianal
Rasional : karena area ini cenderung mengalami ulserasi
b) Ubah posisi dengan sering
Rasional : untuk merangsang sirkulasi dan mencegah tekanan pada
kulit
c) Mandikan dengan air hangat dan sabun ringan
Rasional : mempertahankan kebersihan tanpa mengiritasi kulit
d) Kaji kulit yang kering terhadap efek samping terapi kanker
Rasional : efek kemerahan atau kulit kering dan pruritus, ulserasi dapat
terjadi dalam area radiasi pada beberapa agen kemoterapi
e) Anjurkan pasien untuk tidak menggaruk dan menepuk kulit yang
kering
Rasional : membantu mencegah friksi atau trauma kulit
f) Dorong masukan kalori protein yang adekuat
Rasional : untuk mencegah keseimbangan nitrogen yang negative
g) Pilih pakaian yang longgar dan lembut diatas area yang teradiasi
Rasional : untuk meminimalkan iritasi tambahan

DAFTAR PUSTAKA

Heather L, Gerald RD. Outpatient management of febrile neutropenia:concern for the future. J
Support Oncol 2008;6:217-218
Isaacs David :Evidence-Based Pediatric Infectious Disease. Wiley. P:117-119. 2008
Katzung Bertram, Master Susan, Trevor Anthony :Basic and Clinical Pharmacology 12/E:
Lange. P:593-599. 2011

Shrestha PN, Sah K, Rana R. Empirical oral antibiotic therapy for childrenwith low risk
febrile neutropenia during cancer chemotherapy. J NepalPaediatr Soc 2007;29:22-25.