Anda di halaman 1dari 4

Tugas Individu

Manajemen Sumber Daya Air

REVIEW JURNAL
PENGATURAN HUKUM PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR
DI KOTA BANDAR LAMPUNG

NAMA : SRI RAHAYU NINGSIH


NIM : G41115007

PROGRAM STUDI KETEKNIKAN PERTANIAN


DEPARTEMEN TEKNOLOGI PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2017
Judul : Pengaturan Hukum Pengelolaan Sumber Daya Air Di
Kota

Bandar Lampung
Volume dan Nomor : Vol. 3, No 2
Tahun : 2015
Penulis : Upik Hamidah
Reviewer : Sri Rahayu Ningsih (G41115007)
Tanggal : 18 Maret 2018

Abstrak:

Jurnal yang berjudul “Pengaturan Hukum Pengelolaan Sumber Daya Air Di


Kota Bandar Lampung” ini berisi tentang pengaturan dalam pengolahan sumber
daya air dan pemanfaatan sumber daya alam termasuk air di dalamnya harus
ditujukan untuk sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat. Jurnal ini juga
mengkaji bagaimana kewenangan pemerintah daerah dalam pengelolaan air dan
bagaimana kebijakan pemerintah daerah Kota Bandar Lampung dalam pengelolaan
sumber daya air di daerah.
Abstrak yang disajikan penulis, secara keseluruhan isi dari abstrak ini langsung
menuju ke topic permasalahan jurnal ini. Yang menurut saya, jauh lebih mudah
pembaca memahami jurnal ini.

Pendahuluan:

Paragraf awal pendahuluan, Penulis menuliskan bahwa air merupakan sumber


daya alam yang sangat berharga yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa bagi
kelangsungan hidup manusia. Keberadaan sumber daya air harus dapat
dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk memenuhi berbagai kebutuhan hidup serta
dijamin agar setiap orang mendapatkan haknya atas sumber daya alam tersebut.
Paragraf selanjutnya, penulis menuliskan bahwa pengelolaan sumber daya air
adalah upaya merencanakan, melaksanakan, memantau, dan mengevaluasi
penyelenggaraan konservasi sumber daya air, pendayagunaan sumber daya air, dan
pengendalian daya rusak air. Pemanfaatan sumber daya air di daerah termasuk di
Kota Bandar Lampung meliputi kebutuhan domestik penduduk, industri, pertanian,
dan penggunaan lainnya. Secara kuantitas, kebutuhan air masih dapat dipenuhi dari
cadangan yang ada.
Paragraf selanjutnya, penulis menuliskan bahwa keputusan Mahkamah
Konstitusi Republik Indonesia Nomor 85/PUU-XI/2013 yang menghidupkan
kembali Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1974 tentang Pengairan. Akan tetapi
yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana kewenangan daerah dalam
pengelolaan air berdasarkan UU Pengairan yang notabene bersifat sentralistik,
sehingga tidak sejalan dengan semangat otonomi daerah menurut Undang-Undang
Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah sebagaimana telah diubah
dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2015 yang memberikan kewenangan dan
tanggung jawab daerah secara otonom untuk mengelola sumber daya alam di
wilayahnya termasuk pengelolaan air sesuai dengan tujuannya.

Pembahasan:

Pada bagian pembahasan, penulis membagi sub pokok pembahasan menjadi 3


bagian yaitu :
1. Landasan Konstitusional Pengelolaan Sumber Daya Air
2. Kewenangan Pemerintah Daerah Dalam Pengelolaan Sumber Daya Air
3. Kebijakan Pemerintah Daerah Dalam Pengelolaan Sumber Daya Air di Kota
Bandar Lampung
Dalam sub pokok setiap pembahasan di atas, penulis menguraikan dengan
sangat rinci mengenai pembahasan-pembahasan yang terkait dengan masalah
pengaturan hukum pengolahan sumber daya air menurut keputusan Mahkamah
Konstitusi No 85/PUU-XI/2013 dinyatakan bahwa Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004
tentang Sumber Daya Air bertentangan dengan Undang-Undang Dasar NRI 1945, tidak

mempunyai kekuatan hukum mengikat. . Dalam jurnal ini, pembahasan yang diambil
berupa penjelasan dari inti suatu permasalahan sehingga pembaca dapat lebih
memahami secara detail apa maksud dan tujuan penulis menuliskan jurnal ini.

Kesimpulan:

Pemerintah daerah diberi kewenangan untuk mengurus urusan rumah


tangganya sendiri berdasarkan asas desentralisasi dan otonomi daerah termasuk
dalam pengelolaan sumber daya air menurut Undang-Undang Nomor 23 Tahun
2014 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2015
tentang Pemerintahan Daerah dan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang
Sumber Daya Air. Kebijakan pemerintah daerah termasuk di Kota Bandar
Lampung dalam pengelolaan sumber daya air di daerah hingga saat ini masih
didasarkan pada peraturan di daerah yang berlandaskan pada Undang-Undang
Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air. Meskipun arah pengaturannya
sesuai dengan asas desentralisasi dan otonomi daerah, akan tetapi pengaturan
tersebut notabene diwarnai dengan monopoli dan privatisasi atas sumber daya air
yang justru bertentangan dengan konstitusi dan merugikan hak masyarakat atas
pemenuhan kebutuhan air.

Kelebihan:

Pada jurnal Pengaturan Hukum Pengelolaan Sumber Daya Air Di Kota Bandar
Lampung sudah jelas, Karena sudah jelas hal-hal yang melatar belakangi jurnal ini,
selain itu jurnal ini mengkaji tentang bagaimana kewenangan pemerintah daerah
dalam pengelolaan sumber daya air. Bagaimna cara pembagian urusan antara
pemerintah, pemerintah daerah provinsi dan pemerintah daerah kabupaten/kota
berdasarkan UU Pemda. Serta bagaimana kebijakan pemerintah daerah Kota
Bandar Lampung dalam pengelolaan sumber daya air di daerah.

Kekurangan:

Pada jurnal Pengaturan Hukum Pengelolaan Sumber Daya Air Di Kota Bandar
Lampung memiliki kekurangan dari segi bahasa. Bahasa yang digunakan pada
jurnal ini tingkat tinggi sehingga menyulitkan beberapa pembaca dalam memahami
isi jurnal. Selain itu, isi jurnal ini terlalu banyak pasal UU pengaturan sumber daya
air dan tidak d tuliskan bunyi pasalnya sehingga pembaca sangat sulit untuk
memahami isi pasal tersebut.