Anda di halaman 1dari 55

9

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Konseling

2.1.1 Pengertian Konseling

Konseling adalah kegiatan memberikan arahan kepada klien,

termasuk membantu klien dalam menyelesaikan permasalahannya.

Mortensen dan Schmuller (dalam Tamsuri, 2008) merumuskan

konseling sebagai proses konseling sebagai proses seseorang

membantu orang lain meningkatkan pemahaman dan kemampuannya

mengatasi masalah.

Gustad (dalam Tamsuri, 2008) mendefinisikan konseling

sederhana sebagai proses berorientasi pembelajaran dalam hubungan

perorangan. Pada hubungan ini, konselor yang memiliki kompetensi

keterampilan (skill) dan pengetahuan, membantu klien dalam

memenuhi kebutuhannya dengan metode yang tepat melalui program

personal yang menyeluruh. Klien juga dibantu untuk mengenali

dirinya lebih dalam, menerima dirinya, dan belajar mengolah

pemahamannya untuk membentuk persepsi yang lebih jelas. Dengan

demikian, klien dapat menentukan tujuan yang lebih realistis dan

akhirnya menjadi lebih bahagia dan produktif dalam kehidupan

bermasyarakat.
10

2.1.2 Tujuan Konseling

Tujuan konseling dimaksudkan sebagai pemberian layanan

untuk membantu masalah klien, karena masalah klien yang benar-

benar telah terjadi akan merugikan diri sendiri dan orang lain,

sehingga harus segera dicegah dan jangan sampai timbul masalah

baru. Masalah lainnya adalah klien tida mampu dan mengerti tentang

potensi yang ada pada dirinya, konseling berusaha membantu potensi

yang dimilikinya, sehingga dapat digunakan secara efektif. Tujuan

konseling dapat dijelaskan dengan lima poin sebagai berikut.

a. Memfasilitasi perubahan tingkah laku klien

Maksud memfasilitasi perubahan tingkah laku klien adalah

bagaimana bidan dapat memberikan kesempatan kepada klien agar

dapat mengubah tingkah laku. Proses konseling menekankan

adanya perubahan tingkah laku, dengan tujuan memberikan klien

kesempatan agar dapat hidup lebih produktif dan memuaskan

dalam hidupnya. Perubahan tingkah laku sebagai suatu akibat dari

adanya proses konseling, meskipun tingkah laku yang spesifik

bukanlah pada penekanan dalam pengalaman konseling.

Perubahan tingkah laku dalam proses konseling adalah perubahan

dalam cara berpikir dan pemahaman, yaitu dari ketidakmengertian

klien tentang masalah yang dihadapinya menjadi memahami dan

mengerti masalah. Perubahan tingkah laku dapat berupa perubahan

bentuk fisik, dari semula datang dalam keadaan pucat dan gelisah,
11

setelah berlangsungnya proses konseling berubah menjadi tenang

dan wajah tidak pucat lagi.

b. Meningkatkan kemampuan klien untuk menciptakan dan

memelihara hubungan.

Terciptanya hubungan baik antara bidan dengan klien

merupakan hal yang utama dalam proses konseling. Proses

konseling pada intinya adalah menjalin hubungan baik dan

melanggengkan hubungan tersebut sampai konseling berakhir.

Konseling akan berjalan apabila antara bidan dengan klien sudah

ada peningkatan hubungan baik. Hubungan baik dimaksud tidak

hanya hubungan antara bidan dengan klien, akan tetapi bagaimana

klien juga dapat berhubungan dengan lingkungan sekitarnya. Klien

dapat menciptakan hubungan baik dengan dirinya maupun dengan

orang lain, bidan harus berusaha membantu klien memperbaiki

kualitas kehidupannya dengan menjadi semakin efektif dalam

melakukan hubungan antarpribadi maupun interpribadinya.

Semakin baik hubungan sosial klien dengan orang lain, maka

semakin baik pula kemampuan klien untuk mengoreksi dirinya

sendiri.

c. Mengembangkan keefektifan dan kemampuan klien untuk

memecahkan masalah

Secara mendasar, manusia sebagai individu mempunyai

cara untuk menyelesaikan masalah yang dihadapinya, tetapi

karena ketidakmengertian mengenai masalahnya dan kurang


12

memahami tentang dirinya, maka ia akan menghadapi kesulitan

dalam memecahkan masalah. Konseling diarahkan untuk

memanfaatkan kemampuan atau potensi klien. Bidan membantu

klien untuk menggunakan dan meningkatkan keterampilan dalam

memecahkan masalahnya.

d. Meningkatkan kemampuan klien untuk membuat keputusan

Permasalahan kompleks yang dihadapi individu sering kali

merupakan suatu pilihan yang sangat sulit, sedangkan untuk

memilih dibutuhkan adanya suatu keputusan. Keputusan yang

diambil tidaklah mudah karena apabila salah dalam membuat

suatu keputusan akibat yang terjadi akan lebih buruk dan

menimbulkan konflik baru. Tugas bidan adalah membantu klien

memperoleh informasi dan memperjelas masalah-masalah yang

dihadapi klien. Minat, kesempatan, emosi, dan sikap yang baik

akan membantu klien dalam membuat keputusan sendiri secara

realistis.

e. Memfasilitasi perkembangan potensi klien

Karena secara mendasar individu sudah mempunyai

kemampuan atau potensi untuk dapat memecahkan masalahnya

sendiri. Tujuan konseling adalah mengembangkan potensi klien,

yaitu bidan berupa meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan

klien dengan memberi kesempatan kepada klien untuk belajar

menggunakan kemampuan dan minatnya secara optimal. Tujuan


13

ini akan tercapai apabila klien dapat memperbaiki pribadinya

secara efektif.

2.1.3 Fase-fase Proses Konseling

Dalam pelaksanaan konseling diberbagai situasi akan timbul

bermacam-macam variasi. Hal ini terjadi karena konselor menghadapi

klien yang mempunyai temperamen, waktu, dan kepribadian yang

bebeda-beda. Hanya saja, keseluruhan proses konseling yang

dilakukan oleh konselor memiliki kemiripan pola yang dapat dikenali

(Geldard, dalam Soedarmadji, Boy dan Sutijono, 2005). Pola yang

dimaksud adalah fase-fase dalam proses konseling yang terdiri atas

beberapa unsur berikut ini.

a. Persiapan (Preparation)

Proses konseling sebenarnya sudah dimulai sebelum

konselor dan klien bertemu. Klien sering kali belajar terlebih

dahulu untuk menyampaikan apa yang seharusnya dikatakan

kepada konselor. Klien tidak saja memiliki keinginan-keinginan

terhadap proses konseling, melainkan juga menginginkan adanya

pengertian dari konselor. Sering kali klien merasa berat untuk

datang dan melakukan pertemuan konseling. Hal ini dikarenakan

adanya rasa takut pada diri klien untuk menyampaikan masalahnya

kepada konselor.

Begitupun dengan konselor. Pada saat yang bersamaan,

konselor juga memiliki harapan-harapan atau keinginan-keinginan,

dan perasaan-perasaan pribadi terhadap pertemuan konseling.


14

Sementara itu, apa yang menjadi pemikiran dan harapan-harapan

konselor juga akan memengaruhi sesi-sesi pertemuan konseling.

Misalnya, klien dengan masalah pemilihan pemakaian kontrasepsi

(KB) yang akan datang ke klinik konseling. Klien sebelumnya

sudah memikirkan apa yang ia katakan nanti pada konselor. Klien

datang ke klinik konseling sudah siap dengan apa yang harus

disampaikan, sedangkan dipihak konselor sedang memikirkan

apa yang harus disampaikan dan bagaimana sikap serta perasaan

konselor waktu menerima klien tersebut.

b. Pembukaan (Preamble)

Kata Preamble dapat diartikan sebagai proses pembukaan

dalam keseluruhan proses konseling. Pertemuan awal dalam

proses konseling menjadi saat yang sangat penting dan menetukan.

Klien akan mengamati sikap dan prilaku konselor, pada saat inilah

klien menilai konselor. Klien akan menentukan sikap, apakah

proses konseling bisa dilanjutkan atau tidak. Di saat ini pula

konselor diharapkan mampu menciptakan hubungan yang baik

(rapport) dengan klien.

Dengan adanya hubungan yang baik tersebut, klien akan

merasa diterima dan tugas konselor selanjutnya adalah

menciptakan iklim yang kondusif serta memberikan rasa

kepercayaan klien untuk mengungkapan masalahnya. Misalnya,

klien datang ke ruang konseling di suatu ruangan rawat inap

rumah sakit. Klien masuk dengan malu-malu bahkan takut tetapi


15

karena konselor menyambutnya dengan senyuman dan dengan

ucapan yang sopan dan ramah tamah, maka klien akan masuk

dengan tanpas ragu-ragu dalam menyampaikan maksud

kedatangan kepada konselor. Demikian juga konselor harus

memunculkan sikap mau menerima tanpa syarat, sehingga klien

merasa bahwa ia diterima dalam proses konseling tersebut.

c. Memulai Proses (Getting Started)

Jika fase preamble dapat dilewati dengan baik maka

permulaan proses konseling dapat dimulai. Kesiapan klien untuk

memulai proses konseling ditandai dengan sikap duduknya yang

santai, tidak menunjukkan kegugupan dalam berbicara bahkan

tidak menunjukkan kecemasan atau ekspresi yang tegang. Untuk

mengawali proses konseling, konselor dapat memulainya dengan

menanyakan perasaan klien saat ini. Hal ini penting dilakukan

guna mengetahui bagaiman perasaan klien sebenarnya sehingga

hal tersebut akan memudahkan proses konseling. Selain itu dapat

menimbulkan perasaan merasa dipahami pada diri klien.

Di awali proses konseling ini, sering dijumpai klien yang

menyatakan beberapa permasalahannya kepada konselor. Selain

itu klien juga menungkapkan hal-hal negatif yang ada pada

dirinya. Hal tersebut disampaikan karena konselor dianggap orang

yang ahli dan bisa menyelesaikan masalahnya. Sikap konselor

dalam hal ini sebaiknya mendengarkan semua hal yang

disampaikan oleh klien. Setelah itu, konselor mungkin perlu


16

mengatakan kepada klien, “Saya tidak melihat diri saya sebagai

orang ahli yang dapat menyelesaikan semua permasalahan Anda.

Saya yakin Anda lebih tahu tentang diri Anda sendiri dibanding

saya. Saya berharap dalam pertemuan ini, kita bisa bersama-sama

memecahkan masalah Anda, “atau “Saya bukan tukang sulap

yang dapat memecahkan masalah dengan sekejap, tetapi saya

menghargai Anda dalam menggali kemungkinan-kemungkinan

jalan keluar untuk menyelesaikan masalah Anda dengan cara yang

aman dan rahasia, dengan demikian saya berharap Anda bisa lebih

nyaman,” (Soedarmadji, Boy dan Sutijono, 2005).

d. Mendengarkan dengan Aktif (Active Listening)

Mendengarkan mungkin sesuatu yang sangat sulit atau

bahkan membosankan, apalagi jika yang disampaikan adalah

suatu masalah yang perlu pemecahan. Mendengarkan yang

dimaksud bukan asal mendengarkan saja, akan tetapi konselor

harus dapat menjadi pendengar yang aktif, yang berarti konselor

selalu merespons apa yang disampaikan oleh klien. Dalam proses

konseling, klien tidak hanya menyampaikan perasaan-perasaannya

kepada konselor saja tetapi juga meraba-raba bagaimana kesan

konselor sebenarnya.

Mendengarkan secara aktif akan dapat membantu konselor

untuk mengenal pribadi, sikap, perasaan. Ataupun dunia klien.

Dalam hal ini konselor dapat melakukan pengamatan sikap dan

prilaku klien pada saat menyampaikan masalah atau perasaan-


17

perasaannya. Ungkapan konselor dengan berkata hmm, ok, ya,

atau pemakaian bahasa non-verbal dengan menganggukkan kepala

dapat membuat klien merasa diperhatikan, diterima, dan klien

akan lebih terbuka. Klien sering merasa takut atau cemas ketika

menyampaikan rmaslahnya kepada konselor, seperti perawat,

bidan, atau petugas kesehatan lainnya. Misalnya, klien dengan

masalah persiapan endoskopi datang ke klinik konseling untuk

menyampaikan rasa takutnya karena akan dilakukan tindakan

endoskopi, maka konselor harus benar-benar memperhatikan sikap

dan perasaan klien saat itu. Konselor dengan penerimaan yang

ramah, hangat, dan dengan menggunakan bahasa verbal dan non-

verbal. Konselor harus mendengarkan apa yang disampaikan klien

dengan persiapan endoskopi tersebut dengan penuh perhatian dan

jangan sampai lengah. Dengarkan dengan sikap baik dan

pandangan mata yang memberikan rasa tenang.

e. Mengidentifikasi dan Mengklarifikasi Masalah (Problem

Identification and Clarification)

Konselor sebaiknya mencoba untuk mengidentifiasi dan

mengklarifikasi permasalahan yang telah disampaikan oleh klien

setelah melalui fase-fase tersebut. Pada fase ini konselor

meringkas apa yang menjadi permasalahan klien dan kemudian

mencocokkan atau mengklarifikasi dengan apa yang telah

diringkasnya kepada klien. Apabila klien telah membenarkan apa

yang telah diringkas konselor, maka konseling bisa memasuki fase


18

proses konseling berikutnya. Misalnya, konselor mengatakan,

“Anak ibu sedang di-opname di suatu ruangan di rumah sakit, dan

sekarang Ibu bingung untuk menentukan obatnya, apakah obat

dengan merk paten ataukah generik? Benar begitu. Bu?”

Kemudian klien menjawab, “Ya, Pak.”

f. Memfasilitasi Perubahan Prilaku (Facilitating Change)

Pada fase proses konseling ini, konselor harus menjajaki

apakah klien telah memahami tentang perasaannya dan

permasalahannya. Jika memang sudah memahami, konselor harus

mempermudah klien untuk melakukan perubahan sikap. Konselor

mengajak klien untuk lebih bersikap posotif dan konstruktif

terhadap permasalahan yang dihadapinya.

Dengan kondisi seperti ini, keyakinan klien untuk bisa

berubah perlu dimotivasi dan ditumbuhkan. Sikap ini harus

dijadikan sebagai modal dan energi yang besar bagi klien untuk

melakukan perubahan-perubahan perilaku pada diri sendiri.

Misalnya, klien memahami permasalahan yang dihadapinya, yaitu

membawa pulang bapaknya yang dirawat di rumah sakit secara

paksa (pulang paksa), tidak peduli akan resiko maupun

perawatannya di rumah nanti. Jika menemui kasus seperti ini,

maka konselor harus memberikan motivasi dan menumbuhkan

keyakinan untuk bisa mengubah sikap klien tersebut. Konselor

dapat meyakinkan klien dengan memberikan pertanyaan seperti,

apakah dengan membawa bapaknya pulang akan menyelesaikan


19

permasalahan atau sebaliknya akan meciptakan suatu masalah

baru. Dengan begitu diharapkan klien dapt termotivasi untuk

merubah keinginannya menjadi lebih kontruktif.

g. Mengeksplorasi Kemungkinan-kemungkinan dan Memfasilitasi

Tindakan (Exploring Options and Facilitating Action)

Dalam fase ini tugas konselor adalah membantu klien untuk

mengeksplorasi dirinya sendiri. Konselor mengajak klien untuk

menggali kemungkinan-kemungkinan positif yang dimilikinya

dalam menyelesaikan permasalahannya sendiri. Hal ini dilakukan

karena pada dasarnya yang bisa menyelesaikan masalah klien

adalah diri klien sendiri. Pada waktu melakukan eksplorasi diri,

perlu diperhatikan bahwa situasi ini klien tidak merasa tertekan

dan diharapkan klien bisa menikmati proses konseling. Apabila

klien merasa tertekan maka data-data yang telah terkumpul dan

yang nantinya akan dipakai dalam menyelesaikan masalah,

menjadi prematur, dan selanjutnya akan mengahsilkan keputusan-

keputusan yang prematur pula.

Pada fase ini diperlukan situasi humoris yang bisa membuat

klien rileks bukan situasi yang penuh ketegangan atau keseriusan

karena akan membuat klien tidak bisa menggali kemampuan-

kemampuannya.

h. Terminasi (Termination)

Fase yang terakhir pada proses konseling adalah mengakhiri

pertemuan konseling. Sebelum proses konseling diakhiri


20

seharusnya konselor menyampaikan ringkasan dari keseluruhan

proses konseling yang telah dilakukan. Hal ini perlu dilakukan

agar klien merasa memiliki keputusan dan klien merasa sadar

bahwa ia telah mengambil keputusan untuk dirinya sendiri. Usaha

dalam mengakhiri proses konseling ini diambil bila klien telah

mengambil keputusan untuk mengatasi permasalahannya.

Konselor hendaknya melakukan dengan cara-cara yang manusiawi

dalam memutuskan proses konseling. Misalnya dengan

mengatakan, “Bagus Anda telah membuat suatu keputusan yang

sangat berarti bagi diri sendiri. Saya akan sangat senang jika Anda

sudi menghubungi saya lagi untuk melaporkan apa yang telah

Anda lakukan dengan keputusan itu. Sampai bertemu lagi,” atau

“Kita telah berbicara selama empat puluh lima menit dan Anda

telah membuat keputusan. Sebaiknya kita bertemu lagi dua

minggu mendatang untuk melakukan evaluasi terhadap keputusan

yang telah Anda ambil,” (Soedarmadji, Boy dan Sutijono, 2005).

2.1.4 Keterampilan Dasar Konseling

1. Keterampilan Mendengarkan

Keterampilan mendengarkan terdiri atas tiga komponen,

yaitu attending, parafrase, dan menjelaskan. Berikut ini akan

dijelaskan secara rinci mengenai ketiga komponen tersebut.

a. Attending

Attending adalah suatu sikap berupa pemberian perhatian

kepada klien. Keterampilan ini sangat memerlukan


21

pertimbangkan kultur (budaya), norma-norma, dan makna

tentang pandangan mata, jarak duduk antara konselor dengan

klien. Setiap daerah mempunyai penilaian yang berbeda-beda

mengenai kontak mata, di tempat tertentu kontak mata

diperbolehkan, tetapi di tempat lain dianggap melanggar

norma-norma. Jarak duduk yang dianggap baik dan memenuhi

norma antara konselor dengan klien yaitu ± 1 meter. Attending

mempunyai beberapa komponen. Adapun komponen-

komponen tersebut adalah sebagai berikut.

1) Kontak melalui mata

Memandang orang lain pada mata mereka adalah

suatu cara untuk menunjukkan perhatian yang sungguh-

sungguh, sebab kontak mata adalah salah satu alat pokok

untuk berkomunikasi. Namun, kontak mata bukanlah

kontak yang harus dilakukan terus-menerus. Kontak mata

bisa diartikan sebagai alat yang mengomunikasikan

kekeluargaan atau persahabatan, pengertian, kehangatan,

dan perhatian. Konselor atau klien dapat menangkap

pesan-pesan non verbal melalui mata.

Beberapa situasi yang mengharuskan adanya kontak

mata lebih banyak, yaitu pada saat-saat seperti berikut ini.

a) Seseorang secara fisik jauh dari orang lain

b) Topik mudah dan tidak pribadi

c) Tidak ada lagi objek yang dilihat


22

d) Perhatian individu (klien) tertarik pada orang lain atau

objek lain

e) Klien mempunyai status yang lebih rendah

dibandingkan dengan orang lain.

f) Klien mencoba untuk mendominasi atau

mempengaruhi orang lain.

g) Menghadapi klien dengan kepribadian terbuka

(extrovert).

h) Hal tersebut (kontak mata) menjadi salah satu bagian

dari sebuah kebudayaan.

i) Seseorang ingin terlibat dalam diskusi.

j) Menghadapi klien yang bersikap menyamakan antara

mendengar dan berbicara

2) Postur tubuh

Konselor dapat bersikap dengan mencondongkan

badan ke depan secara rileks. Memunculkan suasana rileks

sangat penting dilakukan dalam konseling sebab

ketegangan cenderung akan memindahkan pusat perhatian

klien kepada konselor dan juga bisa menimbulkan respons

ketegangan pada klien.

3) Gerak tubuh atau gesture

Konselor yang banyak berkomunikasi dengan

gerakan tubuh atau sebaliknya dapat mengomunikasikan

pesan tertentu. Diam dengan bersedekap atau berpangku


23

tangan dapat diartikan sebagai komunikasi yang kurang

baik.

4) Tingkah laku verbal konselor

Tingkah laku verbal konselor merupakan respons

konselor terhadap kata-kata klien. Konselor sebaiknya

tidak bertanya, tidak mengambil topik yang baru, atau

menetukan suatu ide karena hal tersebut dapat membantu

klien dalam melakukan penjajakan dengan cara klien dan

cenderung membentuk rasa tanggung jawab selama

wawancara. Konselor dapat menentukan perhatian seperti

apa yang dapat mengontrol tingkah laku klien begitupun

sebaliknya, klien dapat mengontrol konselor dengan

memberikan pendapat atau komentar tentang hal-hal yang

menarik perhatiannya.

Tingkah laku attending merupakan salah satu

metode yang efektif atau disebut juga dengan fail safe

untuk membuka suatu wawancara, sebab dengan metode

ini konselor dapat mengembangkan tujuan klien dalam

melakukan penjajakan diri dan mengurangi intervensi yang

bersifat merusak.

Berikut ini akan dijabarkan mengenai langkah-

langkah agar sikap attending yang kita lakukan

berlangsung efektif.
24

b. Parafrase

Parafrase merupakan suatu metode untuk menyatakan

kembali pesan klien dengan kata-kata yang lebih pendek dan

benar. Parafrase mempunyai tujuan untuk menguji pengertian

konselor tentang apa yang dikatakan klien dan juga untuk

menyatakan pada klien bahwa konselor mencoba mengerti

pesan klien, jika berhasil berarti konselor mengikuti apa yang

disampaikan oleh klien.

Parafrase merupakan suatu bentuk atau perwujudan dari

sikap pengertian seorang konselor. Konselor menerjemahkan

apa yang disampaikan oleh klien dalam bentuk kata-kata yang

lebih tepat tanpa menambah hal-hal baru. Sebaiknya, konselor

bertanya pada diri sendiri, apakah pesan-pesan yang paling

penting dari pikiran dan perasaan klien yang tersampaikan.

Konselor harus mampu menekankan isi, inti, materi atau

pikiran, dan perasaan yang telah disampaikan oleh klien untuk

membentuk parafrase.

Hasil dari parafrase adalah klien akan merasa lebih

mengerti dan memahami pernyataan yang telah

disampaikannya. Adapun pengaruh akhir dari parafrase ialah

klien merasa terdorong untuk meneruskan ceritanya. Hal-hal

yang dapat dilakukan agar parafrase berlangsung efektif, yaitu

dengarkan pesan pokok klien, nyatakan kembali kepada klien

suatu ringkasan sederhana tentang pesan pokok yang sudah


25

disampaikan, dan perhatikan suatu petunjuk atau minta respons

dari klien yang menunjukkan bahwa parafrase anda tepat.

c. Menjelaskan

Sikap menjelaskan mempunyai tujuan untuk

mempertajam pertanyaan-pertanyaan yang masih kurang jelas

atau semu. Dengan bersikap menjelaskan, konselor telah

membuat suatu terkaan tentang pesan pokok yang disampaikan

klien. Konselor juga meminta penjelasan kepada klien apabila

belum bisa menangkap pesan yang disampaikan.

Kesulitan dalam menangkap pesan bisa terjadi karena

banyak faktor, seperti pesan yang disampikan klien mungkin

saja kurang jelas, banyak kata-kata yang membingungkan,

alasan yang diutarakan berbelit-belit, atau gaya bahasa yang

dipakai cukup kompleks. Dengan demikian, seorang konselor

perlu melaukan parafrase jika menemukan kesulitan seperti

yang telah disebutkan. Sebagai contoh, konselor mengatakan,

“Saya kurang jelas bagaimana perasaanmu tentang

pekerjaanmu di ruang perawatan, dapatkah kamu mengulangi

secara singkat dan memberikan sebuah gambaran?” atau “Saya

belum mengerti, bagaiman kalau saudara bercerita lebih

banyak lagi?”

2. Keterampilan Memimpin

Keterampilan ini mempunyai tujuan agar klien terdorong

untuk merespons keterampilan memimpin yang dipakai konselor


26

dalam seluruh proses konseling. Keterampilan memimpin ini

bermanfaat dalam membuka hubungan agar klien bersedia

membuka diri dan berbicara. Sumber-sumber konseling lain

mengatakan bahwa teknik memimpin terkadang digambarkan

sebagai tingkat pemikiran konselor terhadap klien. Teknik

memimpin dalam hal ini mempunyai arti sebagai tindakan

antisipasi terhadap kehendak klien dan merespons dengan cara

yang dapat memotivasi klien.

Memimpin memiliki tujuan yang lebih spesifik, yaitu

memberikan kesempatan klien untuk menjajaki perasaan yang

sedang dialaminya secara bebas, memberikan motivasi pada klien

untuk menjajaki perasaan dan mengamati perasaanya, serta

memberikan motivasi pada klien untuk lebih aktif dan tetap

bertanggung jawab terhadap proses konseling. Keterampilan

memimpin dapat dilakukan dengan beberapa cara seperti berikut

ini.

a. Memimpin secara tidak langsung

Keterampilan ini mempunyai tujuan pokok agar klien

memulai pembicaraan dan tetap bertanggung jawab atas

kelangsungan proses konseling (interview). Biasanya teknik ini

dimanfaatkan untuk membuka suatu wawancara. Sebagai

contoh, konselor mengatakan, “Apa yang ingin saudara

sampaikan?” atau “Barangkali kita bisa mulai dengan


27

menceritakan keadaan saudara sekarang?” atau “ceritakanlah

mengapa saudara datang ke sini?”

Ciri-ciri umum dari teknik keterampilan memimpin tidak

langsung ialah memberikan kesempatan pada klien untuk ide-

idenya sendiri dan mengungkapkannya dalam wawancara.

Konselor kadang-kadang diam sebentar dan melihat dengan

penuh harap pada klien. Beberapa kiat yang dapat dilakukan

agar sukses melakukan keterampilan memimpin secara tidak

langsung, yaitu tentukan tujuan pimpinan dengan jelas,

pertahankan bentuk kepemimpinan yang sifatnya umum dan

semu, dan gunakan sikap diam yang cukup lama agar klien

dapat merespons maksud konselor.

b. Memimpin langsung

Keterampilan ini adalah suatu teknik untuk memusatkan

perhatian klien pada satu topik. Teknik ini mendorong klien

untuk mengamati, menjelaskan, atau memberikan gambaran

mengenai sesuatu yang sedang mereka katakan. Biasanya

terdapat unsur sugesti.

c. Memusatkan (focusing)

Memusatkan pembicaraan pada suatu topik yang

menurut konselor akan memperlancar pemahaman, dapat

digunakan apabila klien menunjukkan ketidakpastian dalam

berbicara. Biasanya hal tersebut terjadi ditahap awal, klien

bicara berbelit-belit dan dengan topik bermacam-macam. Bila


28

dalam proses konseling klien telah membicarakan sesuatu di

luar topik yang bermacam-macam. Bila dalam proses

konseling klien telah membicarakan sesuatu di luar topik

utama permasalahannya, maka konselor dapat menghentikan

klien dan memintanya untuk memusatkan pikirannya pada

topik tersebut. Hal ini dilakukan karena teknik memusatkan

(focusing) bertujuan untuk menekankan pembicaraan pada satu

topik atau ide. Sebagai contoh, seorang konselor berkata,

“Ceritakan secara lebih detail tentang perasaanmu terhadap

kehamilanmu?” atau “Kita telah berbicara banyak tentang hal

tersebut, tetapi saya tidak menangkap adanya perasaan bahagia

di dalamnya. Dapatkah saudara menyebut perasaan yang

saudara rasakan saat ini?” Bisa juga dengan mengatakan,

“Marilah kita hentikan pembicaraan ini sementara waktu,

tutuplah matamu dan renungkan serta hayati apa yang kamu

rasakan?”

Teknik focusing ini cenderung dapat mengurangi

kebingungan, kekacauan dan keragu-raguan. Hasil yang

diharapkan ialah pengungkapan klien mengenai hal-hal yang

berarti, bertambahnya pengertian, dan pemahaman klien.

Beberapa petunjuk agar sukses dalam melakukan teknik

memusatkan yaitu pergunakanlah kepekaan saudara sebagai

petunjuk dalam menentukan waktu yang tepat untuk memakai

teknik memusatkan, perhatikan feedback dari klien tentang


29

topik yang diutamakan, ajari klien untuk memusatkan pada

perasaan yang bersembunyi selama proses konseling.

d. Bertanya

Teknik bertanya dalam keterampilan memimpin

bertujuan untuk mengarahkan klien dan melakukan eksplorasi

lebih jauh. Bertanya bisa dilakukan dengan dua bentuk, yaitu

dengan mengajukan pertanyaan terbuka dan tertutup.

Pertanyaan tersebut bukan pertanyaan yang dipakai untuk

memperoleh informasi atau bukan bentuk pertanyaan yang

harus dijawab dengan “ya” atau “tidak”. Pada pertanyaan

terbuka, konselor memberikan kebebasan pada klien untuk

mengadakan proses konseling sesuai dengan keinginan

mereka, sedangkan pada pertanyaan tertutup, konselor tidak

membutuhkan penjelasan klien, karena yang dibutuhkan

adalah penegasan atau kepastian berupa jawaban “ya” atau

“tidak” dari klien.

Beberapa yang harus diperhatikan ketika menggunakan

teknik bertanya dalam keterampilan memimpin adalah sebagai

berikut.

1) Tanyakan pertanyaan yang memunculkan perasaan dan

bukan bersifat informatif.

2) Tanyakan pertanyaan bersifat terbuka dan bukan

pertanyaan tertutup.
30

3) Tanyakan pertanyaan yang mengarah pada penjelasan

klien.

Berikut ini contoh penggunaan teknik bertanya.

1) Pertanyaan terbuka.

Konselor : “Bisakah saudara menjelaskan lebih

banyak lagi tentang hubungan saudara

dengan ibu saudara?”

2) Pertanyaan tertutup.

Konselor : “Apakah hubungan Saudara dengan ibu

saudara baik-baik saja?”

3. Keterampilan Memantulkan

Keterampilan memantulkan adalah suatu teknik untuk

menyatakan kepada klien bahwa konselor (perawat atau bidan) ada

dalam kerangka acuan serta memahami, dan menghayati

permasalahan klien. Pemantulan ada tiga macam yakni

memantulkan perasaan, pengalaman, dan isi. Menurut sudut

pandang konselor, tujuan teknik pemantulan adalah untuk

memahami pengalaman klien serta mengatakan kepada klien

bahwa konselor mencoba untuk mengamati dunia sperti klien

mengamatinya.

a. Memantulkan Perasaan

Memantulkan perasaan adalah menyatakan dengan kata-

kata sendiri mengenai perasaan klien yang bertujuan untuk

memperjelas perasaan yang samar-samar menjadi lebih jelas


31

dan disadari serta untuk membantu klien “memiliki”

perasaannya sendiri.

Kata-kata yang bisa dipakai konselor untuk

memantulkan perasaan klien adalah “Anda merasa” sebagai

upaya konselor untuk membantu klien memiliki perasaan-

perasaan dan biasanya klien merespons dengan kata-kata, “Ya,

itulah”. Sebagai contoh konselor mengatakan “Berarti saudara

memberi perhatian tingkah lakunya,” atau “Saudara selalu

ingin menjadi perawat atau bidan”.

b. Memantulkan Pengalaman

Pemantulan pengalaman merupakan feedback hasil

pengamatan yang luas dari konselor. Pemantulan ini tidak

hanya verbalisasi perasaan-perasaan tetapi juga pengamatan

terhadap peranan yang terkandung dalam gerakan non-verbal

klien.

c. Memantulkan Isi

Memantulkan isi merupakan pengulangan ide-ide

penting yang disampaikan klien dengan kata-kata yang lebih

pendek atau suatu keterampilan yang memberikan kata-kata

kepada klien untuk menyatakan dirinya. Hal ini digunakan

untuk memperjelas ide-ide yang sulit dinyatakan klien. Sebagai

contoh, klien mengatakan, ”Kata-katanya benar-benar

menyinggung melukai hati saya,” lalu konselor menjawab

“Apakah hal itu benar-benar menyakitkan?”.


32

4. Keterampilan Merangkum

Merangkum ialah menyatukan beberapa ide dan perasaan

ke dalam satu pernyataan, biasanya dilakukan di akhir

pembicaraan dan intervie. Penggunaan keterampilan ini mengacu

pada pesan yang disampaikan oleh klien (isi), cara klien

menyatakannya (perasaan), tujuan, waktu (timing), dan efek dari

pernyataan (proses) tersebut. Merangkum merupakan teknik yang

lebih luas daripada parafrase. Misalnya konselor berkata,

“Berdasarkan percakapan saudara tentang organisasi, sekolah, dan

sekarang tentang pekerjaan saudara yang baru, saudara tampaknya

merasa gagal dalam semua bidang itu”.

Tujuan pokok dari keterampilan merangkum adalah agar

klien merasakan adanya kemajuan dalam melakukan eksplorasi

mengenai ide, perasaan, dan menyadari adanya perkembangan

pembelajaran untuk menyelesaikan masalah. Merangkum juga

dapat dipakai untuk mengakhiri dan memperjelas ide yang baru

serta dapat memberikan keyakinan ke pada klien bahwa konselor

merespons pesan klien.

Merangkum bagi konselor dapat digunakan sebagai sarana

yang efektif untuk menilai ketepatan pengamatan. Pedoman yang

digunakan agar sukses melakukan teknik ini adalah jangan

menambah berbagai pikiran atau ide berupa rangkuman,

perhatikan adanya bermacam tema, kumpulkan ide-ide dan

perasaan ke dalam suatu pernyataan, serta tentukan apakah lebih


33

menguntungkan bila anda merangkum atau sebaliknya meminta

klien agar merangkum tema pokok.

Hal-hal yang perlu dipertimbangkan oleh konselor dalam

menggunakan teknik merangkum adalah sebagai berikut.

a. Apakah merangkum digunakan sebagai pemanasan pada suatu

interviu?

b. Apakah merangkum bertujuan untuk menutup interviu?

c. Apakah merangkum digunakan untuk mengumpulkan ide dan

perasaan yang telah disampaikan klien?

d. Apakah merangkum bertujuan untuk mengecek pengertian

yang didapat konselor sehubungan dengan kemajuan interviu?

e. Apakah merangkum digunakan untuk mendorong klien dalam

menjajaki tema secara lebih lengap?

f. Apakah merangkum bertujuan untuk menghentikan hubungan

dengan suatu ringkasan kemajuan yang tercapai?

g. Apakah merangkum bertujuan untuk meyakinkan klien bahwa

interviu telah berjalan dengan proses yang baik?

5. Keterampilan Konfrontasi

Konfrontasi adalah suatu usaha untuk mengenal secara jujur

dan langsung tentang diri klien sebenarnya, apa yang sedang

terjadi dengannya, atau memperkirakan apa yang akan terjadi.

Respons dari konfrontasi ialah tantangan, pengungkapan, atau

bisa juga ancaman. Keterampilan konfrontasi mempunyai risiko

yaitu kemungkinan terjadinya keengganan membuka diri dari


34

pihak klien atau sebaliknya yakni keterbukaan dalam komunikasi.

Konfrontasi merupakan suatu metode menceritakan sesuatu apa

adanya yang memungkinkan timbulnya kecemasan pada diri klien.

Konfrontasi ini dilakukan dengan menyesuaikan waktu yang ada,

dan kesiapan klien untuk dikonfrontasi dengan umpan balik secara

jujur. Bagian-bagian dari keterampilan konfrontasi antara lain

sebagai berikut.

a. Mengenal perasaan

Kecakapan seseorang atau konselor untuk mengenal dan

merespons terhadap perasaan klien didasarkan pada

kemampuan konselor mengenal dirinya sendiri. Konselor

harus menyadari perasaan sendiri yang sering kali adalah

reaksi dari pesan yang disampaikan klien dan sebagai dasar

konselor dalam bertindak.

b. Menggambarkan dan membagi perasaan

Membagi perasaan pribadi dengan klien merupakan

suatu cara pengungkapan diri yang lebih bernilai dibandingkan

dengan respons menjelaskan. Bagi seorang konselor,

menggambarkan perasaan pribadi dapat dimanfaatkan untuk

memperjelas perasaan konselor pada saat itu. Hal ini dapat

dijadikan suatu model atau contoh bagi klien untuk mengenal

dan menyatakan perasaan-perasaannya.


35

c. Balikan dan pendapat

Salah satu keterampilan konfrontasi yang paling bernilai

adalah feedback atau balikan secara jujur kepada klien,

tentang sejauh mana klien mempengaruhi konselor. Hubungan

konseling hanya merupakan kelanjutan dari proses ini dalam

model lain. Feedback atau balikan yang efektif dari orang lain

yang dipercaya dan menarruh perhatian terhadap klien dapat

membantu klien untuk menyadari tentang dirinya.

d. Meditasi

Meditasi merupakan suatu bentuk keterampilan

konfrontasi diri (Self confrontation) orang-orang zaman dulu.

Makna pokok dari meditasi adalah menghentikan aliran ide-ide

dan tindakan, serta memberikan kesempatan kepada klien

untuk menghayati ide-ide tersebut. Manfaat meditasi adalah

terbukanya jalan-jalan baru untuk perasaan-perasaan klien dan

kesadaran klien dalam hubungannya dengan orang lain dan

lingkungan.

e. Mengulang

Mengulang merupakan salah satu metode konfrontasi

dengan cara meminta klien untuk mengulangi sebuah kata,

frase, atau kalimat pendek sebanyak satu kali atau lebih.

Konselor meminta klien untuk memusatkan pada pernyataan

yang dianggap mempunyai makna yang berarti bagi klien,

kemudian klien diminta untuk mengulanginya dalam bentuk


36

yang lebih banyak disertai dengan perasaan-perasaannya yang

berkaitan dengan kata-kata tersebut.

f. Melakukan asosiasi

Keterampilan ini merupakan keterampilan konfrontasi

lain yang bisa digunakan untuk membuat klien merasa lapang

dengan mudah. Klien didorong untuk bercerita atau

menyampaikan segala sesuatu yang terlintas dalam pikirannya.

Hal ini bertujuan supaya klien terlepas dari pernyataan-

pernyataan yang lebih mendetail dan bersifat perasaan.

Sebagai contoh, seorang konselor mengatakan, “Anda sangat

dipengaruhi oleh kakak Anda. Saya minta Anda mengatakan

kata ‘kakak’ berulang-ulang sebanyak mungkin dan ikuti kata

kakak dengan semua hal yang terlintas dipikiran Anda. Lalu

klien menjawab, “Ya, kakak saya, sopan, santun, hormat...”.

6. Keterampilan Menginterpretasi

Menginterpretasi ialah suatu proses atau kegiatan

menjelaskan arti mengenai peristiwa-peristiwa kepada klien,

sehingga klien mempunyai kemampuan melihat permasalahannya

dengan cara atau metode yang baru. Tujuan pokok dari teknik ini

adalah mengajarkan klien untuk menginterpretasikan sendiri

peristiwa-peristiwa dalam kehidupannya. Interpretasi ini lebih

banyak digunakan psikoterapi formal dibandingkan bentuk-bentuk

bantuan lain.
37

Konselor merumuskan asumsinya mengenai semua yang

sedang terjadi dan bagaimana penafsirannya secara realistis

tentang prilaku klien. Namun, konselor tidak harus selalu sharing

dengan mengenai asumsinya ini.

7. Keterampilan Memberikan Informasi

Keterampilan ini sudah terlalu umum sehingga tidak

memerlukan pembicaraan secara mendetail. Keterampilan

memberikan informasi ini dapat dilakukan dengan melakukan

sharing realita-realita sederhana yang dimiliki konselor, sehingga

dapat membantu klien. Berikut ini adalah pedoman yang dapat

digunakan konselor dalam memberikan informasi.

a. Jangan menggunakan nasihat kecuali dalam bentuk saran-saran

yang bersifat sementara berdasarkan keilmuan.

b. Konselor sebaiknya mengetahui tentang berbagai informasi

dari bidang keahliannya.

c. Jangan menggunakan alat tes psikologi jika tidak mempunyai

keahlian.

Nasihat

Memberikan nasihat kepada klien merupakan bentuk

kegiatan pemberian informasi yang sudah biasa dilakukan oleh

konselor. Klien selalu menganggap konselor atau pembimbing

sebagai seorang ahli. Para konselor pemula sering kali

menganggap tugas paling pokok adalah memberi nasihat.

Memberi nasihat adalah suatu kebiasaan lama dalam membantu


38

seseorang dan hal ini merupakan kejadian yang wajar terjadi di

antara orang-orang yang saling mengenal dan saling percaya.

Memberi nasihat secara tradisional adalah suatu hal yang

kontroversial di dalam refrensi-refrensi konseling. Banyak penulis

menyatakan bahwa pemberian nasihat hanya akan menimbulkan

kesan bagi pembimbing sebagai orang sombong yang menganggap

dirinya mengetahui semua yang klien perlukan. Selain itu, nasihat

juga tidak efektif dan memperkuat ketergantungan klien. Namun,

nasihat kadang diperlukan pada kondisi tertentu karena pada

dasarnya nasihat juga dapat bermanfaat jika diberikan oleh

konselor yang mempunyai pengalaman dan pengetahuan serta

dapat dipercaya dengan dasar keahlian yang dimiliki, seperti

hukum, kedokteran, keperawatan, kebidanan, pendidikan, dan lain-

lain.

2.2 Konsep Self Efficacy

2.2.1 Definisi

Bandura 2001 mendefinisikan efikasi diri sebagai “keyakinan

seseorang dalam kemampuan untuk melakukan suatu bentuk kontrol

terhadap keberfungsian orang itu sendiri dan kejadian dalam

lingkungan” (hlm. 10). Bandura beranggapan bahwa “keyakinan atas

efikasi seseorang adalah landasan dari agen manusia” (hlm. 10).

Manusia yang yakin bahwa mereka dapat melakukan sesuatu yang

mempunyai potensi untuk dapat mengubah kejadian di lingkungannya,


39

akan lebih mungkin untuk bertindak dan lebih mungkin untuk menjadi

sukses dari pada manusia yang mempunyai efikasi diri yang rendah.

Efikasi diri bukan merupakan ekspektasi dari hasil tindakan

kita. Bandura (1986, 1997) membedakan antara ekspektasi mengenai

efikasi dan ekspektasi mengenai hasil. Efikasi merujuk pada

keyakinan diri seseorang bahwa orang tersebut memiliki kemampuan

untuk melakukan suatu perilaku, sementara ekspektasi atas hasil

merujuk pada prdiksi dari kemungkinan mengenai konsekuensi

perilaku tersebut.

2.2.2 Klasifikasi Self Efficacy

Secara garis besar, Self Efficacy terbagi atas dua bentuk yaitu

Self Efficacy tinggi dan Self Efficacy rendah.

1. Self Efficacy Tinggi

Dalam mengerjakan suatu tugas, individu yang memiliki

self efficacy yang tinggi akan cendrung memilih terlibat langsung.

Individu yang memiliki self efficacy yang tinggi cendrung

mengerjakan tugas tertentu, sekalipun tugas tersebut adalah tugas

yang sulit. Mereka tidak memandang tugas sebagai suatu

ancaman yang mereka harus hindari. Mereka yang gagal dalam

melaksanakan sesuatu, biasanya cepat mendapatkan kembali self

efficacy mereka setelah mengalami kegagalan tersebut.

Individu yang memiliki self efficacy tinggi menganggap

kegagalan sebagai akibat dari kurangnya usaha yang keras,

pengetahuan dan keterampilan. Di dalam melaksanakan berbagai


40

tugas, orang yang mempunyai self efficacy tinggi adalah sebagi

orang orang yang berkinerja sangat baik. Mereka yang

mempunyai self efficacy tinggi dengan senang hati menyongsong

tantangan.

Individu yang mempunyai self efficacy yang tinggi memiliki

ciri-ciri yaitu mampu menangani masalah yang mereka hadapai

secara efektif, yakin terhadap kesuskesan yang menghadapi

masalah atau rintangan, masalah dipandang sebagai suatu

tantangan yang harus dihadapi bukan untuk dihindari, gigih dalam

usahanya menyelesaikan masalah, percaya pada kemampuan yang

dimilikinya, cepat bangkit dari kegagalan yang dihadapinya, suka

mencari situasi yang baru.

2. Self Efficacy Rendah

Individu yang ragu akan kemampuan mereka (self efficacy

yang rendah) akan menjauhi tugas-tugas yang sulit karena tugas

tersebut dipandang sebagai ancaman bagi mereka. Individu yang

seperti ini memiliki aspirasi yang rendah serta komitmen yang

rendah dalam mencapai tujuan yang mereka pilih atau mereka

tetapkan.

Individu yang memiliki self efficacy yang rendah tidak

berfikir bagaimana cara yang baik dalam menghadapi tugas-tugas

yang sulit. Saat menghadpi tugas yang sulit, mereka juga lamban

dalam membenahi ataupun mendapatkan kembali self efficacy

mereka ketika menghadapi kegagalan.


41

Individu yang mempunyai self efficacy yang rendah

memiliki ciri-ciri yaitu lamban dalam membenahi atau

mendapatkan kembali self efficacy nya ketika menghadapi

kegagalan, menghindari masalah yang sulit (ancaman dipandang

sebagai sesuatu yang harus dihindari), mengurangi usaha dan

cepat menyerah ketika menghdapi masalah, ragu pada

kemampuan diri yang dimilikinya, tidak suka mencari situasi

yang baru, aspirasi dan komitmen pada tugas lemah.

2.2.3 Tahap Perkembangan Self Efficacy

Bandura (1997) menyatakan bahwa self efficacy berkembang

secara teratur. Bayi mulai mengembangkan self efficacy sebagai usaha

untuk melatih pengaruh lingkungan fisik dan sosial. Mereka mulai

mengerti dan belajar mengenai kemampuan dirinya, kecakapan fisik,

kemampuan sosial, dan kecakapan bahasa yang hampir secara konstan

digunakan dan ditujukan pada lingkungan. Awal dari pertumbuhan

self efficacy dipusatkan pada orang tua kemudian dipengaruhi oleh

saudara kandung, teman sebaya, dan orang dewasa lainnya. Self

efficacy pada masa dewasa meliputi penyesuaian pada masalah

perkawinan dan peningkatan karir. Sedangkan self efficacy pada masa

dewasa meliputi penyesuaian pada maslah perkawinan dan

peningkatan karir. Sedangkan self efficacy pada masa lanjut usia sulit

terbentuk sebab pada masa ini terjadi penurunan mental dan fisik,

pensiun kerja, dan penarikan diri dari lingkungan sosial.


42

2.2.4 Dimensi Self Efficacy

Bandura (1997) mengemukakan bahwa self-efficacy individu

dapat dilihat dari tiga dimensi, yaitu :

1. Tingkat (level)

Self-efficacy individu dalam mengerjakan suatu tugas

berbeda dalam tingkat kesulitan tugas. Individu memiliki self-

efficacy yang tinggi pada tugas yang mudah dan sederhana, atau

juga pada tugas-tugas yang rumit dan membutuhkan kompetensi

yang tinggi. Individu yang memiliki self-efficacy yang tinggi

cenderung memilih tugas yang tingkat kesukarannya sesuai

dengan kemampuannya.

2. Keluasan (generality)

Dimensi ini berkaitan dengan penguasaan individu terhadap

bidang atau tugas pekerjaan. Individu dapat menyatakan dirinya

memiliki self-efficacy pada aktivitas yang luas, atau terbatas pada

fungsi domain tertentu saja. Individu dengan self-efficacy yang

tinggi akan mampu menguasai beberapa bidang sekaligus untuk

menyelesaikan suatu tugas. Individu yang memiliki self-efficacy

yang rendah hanya menguasai sedikit bidang yang diperlukan

dalam menyelesaikan suatu tugas.

3. Kekuatan (strength)

Dimensi yang ketiga ini lebih menekankan pada tingkat

kekuatan atau kemantapan individu terhadap keyakinannya. Self-

efficacy menunjukkan bahwa tindakan yang dilakukan individu


43

akan memberikan hasil yang sesuai dengan yang diharapkan

individu. Self-efficacy menjadi dasar dirinya melakukan usaha

yang keras, bahkan ketika menemui hambatan sekalipun.

2.2.5 Sumber-Sumber Self-efficacy

Bandura (1986) menjelaskan bahwa self-efficacy individu

didasarkan pada empat hal, yaitu:

1. Pengalaman akan kesuksesan

Pengalaman akan kesuksesan adalah sumber yang paling

besar pengaruhnya terhadap self-efficacy individu karena

didasarkan pada pengalaman otentik. Pengalaman akan

kesuksesan menyebabkan self-efficacy individu meningkat,

sementara kegagalan yang berulang mengakibatkan menurunnya

self-efficacy, khususnya jika kegagalan terjadi ketika self-efficacy

individu belum benar-benar terbentuk secara kuat. Kegagalan juga

dapat menurunkan self-efficacy individu jika kegagalan tersebut

tidak merefleksikan kurangnya usaha atau pengaruh dari keadaan

luar.

2. Pengalaman individu lain

Individu tidak bergantung pada pengalamannya sendiri

tentang kegagalan dan kesuksesan sebagai sumber self-

efficacynya. Self-efficacy juga dipengaruhi oleh pengalaman

individu lain. Pengamatan individu akan keberhasilan individu lain

dalam bidang tertentu akan meningkatkan self-efficacy individu

tersebut pada bidang yang sama. Individu melakukan persuasi


44

terhadap dirinya dengan mengatakan jika individu lain dapat

melakukannya dengan sukses, maka individu tersebut juga

memiliki kemampuan untuk melakukanya dengan baik.

Pengamatan individu terhadap kegagalan yang dialami individu

lain meskipun telah melakukan banyak usaha menurunkan

penilaian individu terhadap kemampuannya sendiri dan

mengurangi usaha individu untuk mencapai kesuksesan. Ada dua

keadaan yang memungkinkan self-efficacy individu mudah

dipengaruhi oleh pengalaman individu lain, yaitu kurangnya

pemahaman individu tentang kemampuan orang lain dan

kurangnya pemahaman individu akan kemampuannya sendiri.

3. Persuasi verbal

Persuasi verbal dipergunakan untuk meyakinkan individu

bahwa individu memiliki kemampuan yang memungkinkan

individu untuk meraih apa yang diinginkan.

4. Keadaan fisiologis

Penilaian individu akan kemampuannya dalam mengerjakan

suatu tugas sebagian dipengaruhi oleh keadaan fisiologis. Gejolak

emosi dan keadaan fisiologis yang dialami individu memberikan

suatu isyarat terjadinya suatu hal yang tidak diinginkan sehingga

situasi yang menekan cenderung dihindari. Informasi dari keadaan

fisik seperti jantung berdebar, keringat dingin, dan gemetar

menjadi isyarat bagi individu bahwa situasi yang dihadapinya

berada di atas kemampuannya.


45

2.2.6 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Self Efficacy

Menurut Bandura (1997) tinggi rendahnya self-efficacy

seseorang dalam tiap tugas sangat bervariasi. Hal ini disebabkan oleh

adanya beberapa faktor yang berpengaruh dalam mempersepsikan

kemampuan diri individu. Menurut Bandura (1997) ada beberapa yg

mempengaruhi self-efficacy, antara lain:

1. Budaya

Budaya mempengaruhi self-efficacy melalui nilai (values),

kepercayaan (beliefs), dan proses pengaturan diri (self-regulatory

process) yang berfungsi sebagai konsekuensi dari keyakinan akan

self-efficacy.

2. Gender

Perbedaan gender juga berpengaruh terhadap self-efficacy.

Hal ini dapat dilihat dari penelitian Bandura (1997) yang

menyatakan bahwa wanita lebih efikasinya yang tinggi dalam

mengelola perannya.

3. Sifat dari tugas yang dihadapi

Derajat kompleksitas dari kesulitan tugas yang dihadapi oleh

individu akan mempengaruhi penilaian individu tersebut terhadap

kemampuan dirinya sendiri. Semakin kompleks suatu tugas yang

dihadapi oleh individu maka akan semakin rendah individu tersebut

menilai kemampuannya. Sebaliknya, jika individu diharapkan pada

tugas yang mudah dan sederhana maka akan semakin tinggi individu

tersebut menilai kemampuannya.


46

4. Insentif eksternal

Faktor lain yang mempengaruhi self-efficacy individu adalah

insentif yang diperolehnya. Bandura menyatakan bahwa salah satu

faktor yang dapat meningkatkan self-efficacy adalah competent

contingens incentive, yaitu insentif yang diberikan oleh orang lain

yang merefleksikan keberhasilan seseorang.

5. Status atau peran individu dalam lingkungan

Individu yang memilki status yang lebih tinggi akan

memperoleh derajat kontrol yang lebih besar sehingga self-efficacy

yang dimilikinya juga tinggi. Sedangkan individu yang memiliki

status yang lebih rendah akan memiliki kontrol yang lebih kecil

sehingga self-efficacy yang dimilikinya juga rendah.

6. Informasi tentang kemampuan diri

Individu akan memiliki self-efficacy tinggi, jika ia

memperoleh informasi positif mengenai dirinya, sementara individu

akan memiliki self-efficacy yang rendah, jika ia memperoleh

informasi negatif mengenai dirinya.

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa faktor-

faktor yang dapat mempengaruhi self-efficacy adalah budaya, gender,

sifat dari tugas yang dihadapi, insentif eksternal, status dan peran

individu dalam lingkungan, serta informasi tentang kemampuan dirinya.

2.2.7 Sumber-sumber Self Efficacy

Menurut Bandura (1994) ada sumber yang dapat mempengaruhi

selfefficacy, yaitu:
47

1. Mastery Experience

Merupakan sumber informasi self-efficacy yang paling

berpengaruh. Dari pengalaman masa lalu terlihat bukti apakah

seseorang mengarahkan seluruh kemampuannya untuk meraih

keberhasilan (Bandura, 1997). Umpan balik terhadap hasil kerja

seseorang yang positif akan meningkatkan kepercayaan diri

seseorang. Kegagalan di berbagai pengalaman hidup dapat diatasi

dengan upaya tertentu dan dapat memicu persepsi self-efficacy

menjadi lebih baik karena membuat individu tersebut mampu utuk

mengatasi rintangan-rintangan yang lebih sulit nantinya.

2. Vicarious experience

Merupakan cara meningkatkan self-efficacy dari

pengalaman keberhasilan yang telah ditunjukkan oleh orang lain.

Ketika melihat orang lain dengan kemampuan yang sama berhasil

dalam suatu bidang/tugas melalui usaha yang tekun, individu juga

akan merasa yakin bahwa dirinya juga dapat berhasil dalam bidang

tersebut dengan usaha yang sama. Sebaliknya self-efficacy dapat

turun ketika orang yang diamati gagal walapun telah berusaha

dengan keras. Individu juga akan ragu untuk berhasil dalam

bidang tersebut (Bandura, 1997).

Peran vicarious experience terhadap self-efficacy seseorang

sangat dipengaruhi oleh persepsi diri individu tersebut tentang

dirinya memiliki kesamaan dengan model. Semakin seseorang

merasa dirinya mirip dengan model, maka kesuksesan dan


48

kegagalan model akan semakin mempengaruhi self-efficacy.

Sebaliknya apabila individu merasa dirinya semakin berbeda

dengan model, maka self-efficacy menjadi semakin tidak

dipengaruhi oleh prilaku model (Bandura, 1997). Seseorang akan

berusaha mencari model yang memiliki kompetensi atau

kemampuan yang sesuai dengan keinginannya. Dengan mengamati

perilaku dan cara berfikir model tersebut akan dapat memberi

pengetahuan dan pelajaran tentang strategi dalam menghadapi

berbagai tuntutan lingkungan (Bandura, 1997).

3. Verbal persuasion

Verbal digunakan secara luas untuk membujuk seseorang

bahwa mereka mempunyai kemampuan untuk mencapai tujuan

yang mereka cari. Orang yang mendapat persuasi secara verbal

maka mereka memiliki kemamuan untuk menyelesaikan tugas-

tugas yang diberikan akan mengerahkan usaha yang lebih besar

daripada orang yang tidak dipersuasi bahwa dirinya mampu pada

bidang tersebut (Bandura, 1997).

4. Physiological state

Seseorang percaya bahwa sebagian tanda-tanda psikologis

menghasilkan informasi dalam menilai kemampuannya. Kondisi

stress dan kecemasan dilihat individu sebagai tanda yang

mengancam ketidakmampuan diri. Level of arousal dapat

memberikan informasi mengenai tingkat self-efficacy tergantung

bagaimana arousal itu diinterpretasikan. Bagaimana seseorang


49

menghadapi suatu tugas, apakah cemas atau khawatir (self-efficacy

rendah) atau tertarik (self-efficacy tinggi) dapat memberikan

informasi mengenai self-efficacy orang tersebut. Dalam menilai

kemampuannya seseorang dipengaruhi oleh informasi tentang

keadaan fisiknya untuk menghadapi situsasi tertentu dengan

memperhatikan keadaan fisiologisnya.

2.2.8 Proses-proses Self Efficacy

Bandura (1997) menguraikan proses psikologis self-efficacy

dalam mempengaruhi fungsi manusia. Proses tersebut dapat dijelaskan

melalui cara-cara dibawah ini :

1. Proses kognitif

Dalam melakukan tugas akademiknya, individu menetapkan

tujuan dan sasaran perilaku sehingga individu dapat merumuskan

tindakan yang tepat untuk mencapai tujuan tersebut. Penetapan

sasaran pribadi tersebut dipengaruhi oleh penilaian individu akan

kemampuan kognitifnya. Fungsi kognitif memungkinkan individu

untuk memprediksi kejadian-kejadian sehari-hari yang akan

berakibat pada masa depan. Asumsi yang timbul pada aspek

kognitif ini adalah semakin efektif kemampuan individu dalam

analisis dan dalam berlatih mengungkapkan ide-ide atau gagasan-

gagasan pribadi, maka akan mendukung individu bertindak dengan

tepat untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Individu akan

meramalkan kejadian dan mengembangkan cara untuk mengontrol

kejadian yang mempengaruhi hidupnya. Keahlian ini


50

membutuhkan proses kognitif yang efektif dari berbagai macam

informasi.

2. Proses motivasi

Motivasi individu timbul melalui pemikiran optimis dari

dalam dirinya untuk mewujudkan tujuan yang diharapkan.

Individu berusaha memotivasi diri dengan menetapkan keyakinan

pada tindakan yang akan dilakukan, merencanakan tindakan yang

akan direalisasikan. Terdapat beberapa macam motivasi kognitif

yang dibangun dari beberapa teori yaitu atribusi penyebab yang

berasal dari teori atribusi dan pengharapan akan hasil yang

terbentuk dari teori nilai-pengharapan.

Self-efficacy mempengaruhi atribusi penyebab, dimana

individu yang memiliki self-efficacy akademik yang tinggi menilai

kegagalannya dalam mengerjakan tugas akademik disebabkan oleh

kurangnya usaha, sedangkan individu dengan self-efficacy yang

rendah menilai kegagalannya disebabkan oleh kurangnya

kemampuan.

Teori nilai-pengharapan memandang bahwa motivasi diatur

oleh pengharapan akan hasil (outcome expectation) dan nilai hasil

(outcome value) tersebut. Outcome expectation merupakan suatu

perkiraan bahwa perilaku atau tindakan tertentu akan

menyebabkan akibat yang khusus bagi individu. Hal tersebut

mengandung keyakinan tentang sejauhmana perilaku tertentu akan

menimbulkan konsekuensi tertentu. Outcome value adalah nilai


51

yang mempunyai arti dari konsekuensi-konsekuensi yang terjadi

bila suatu perilaku dilakukan. Individu harus memiliki outcome

value yang tinggi untuk mendukung outcome expectation.

3. Proses afeksi

Afeksi terjadi secara alami dalam diri individu dan berperan

dalam menentukan intensitas pengalaman emosional. Afeksi

ditujukan dengan mengontrol kecemasan dan perasaan depresif

yang menghalangi pola-pola pikir yang benar untuk mencapai

tujuan.

Proses afeksi berkaitan dengan kemampuan mengatasi emosi

yang timbul pada diri sendiri untuk mencapai tujuan yang

diharapkan. Kepercayaan individu terhadap kemampuannya

mempengaruhi tingkat stres dan depresi yang dialami ketika

menghadapi tugas yang sulit atau bersifat mengancam. Individu

yang yakin dirinya mampu mengontrol ancaman tidak akan

membangkitkan pola pikir yang mengganggu. Individu yang tidak

percaya akan kemampuannya yang dimiliki akan mengalami

kecemasan karena tidak mampu mengelola ancaman tersebut.

4. Proses seleksi

Proses seleksi berkaitan dengan kemampuan individu untuk

menyeleksi tingkah laku dan lingkungan yang tepat, sehingga

dapat mencapai tujuan yang diharapkan. Ketidakmampuan

individu dalam melakukan seleksi tingkah laku membuat individu

tidak percaya diri, bingung, dan mudah menyerah ketika


52

menghadapi masalah atau situasi sulit. Self-efficacy dapat

membentuk hidup individu melalui pemilihan tipe aktivitas dan

lingkungan. Individu akan mampu melaksanakan aktivitas yang

menantang dan memilih situasi yang diyakini mampu menangani.

Individu akan memelihara kompetensi, minat, hubungan sosial

atas pilihan yang ditentukan.

2.2.9 Peranan Bimbingan dan Konseling Dalam Mengembangkan

Efikasi Diri

Keyakinan akan kemampuan diri menjadi aspek penting untuk

menggerakan proses belajar yang berkesinambungan. Keyakinan akan

kemampuan diri pada individu akan menggerakkan perilaku serta

serangkaian dalam memenuhi tuntutan dari berbagai situasi. Jika

seseorang tidak yakin dapat meraih hasil yang mereka inginkan,

mereka akan sedikit memiliki motivasi untuk bertindak. Bimbingan

konseling merupakan layanan untuk membantu individu untuk

mencapai perkembangan optimal.

Menurut kalisa dkk (dalam jurnal bimbingan konseling, 2012:

16) efikasi diri merupakan salah satu aspek pengetahuan tentang diri

atau self-knowledge yang paling berpengaruh dalam kehidupan

manusia sehari-hari karena efikasi diri yang dimiliki ikut

mempengaruhi individu dalam menentukan tindakan yang akan

dilakukan dalam mencapai suatu tujuan, termasuk perkiraan terhadap

tantangan yang akan di hadapi. Dalam situasi yang sulit individu

dengan efikasi diri yang rendah cenderung akan mudah menyerah.


53

Sementara individu dengan efikasi diri yang tinggi akan berusaha

lebih keras untuk menghadapi tantangan yang ada.

Bimbingan dan konseling merupakan proses pemberian bantuan

dari konselor kepada klien secara bertatap muka untuk membantu

klien keluar dari masalahnya. Salah satu tujuan khusus dari layanan

bimbingan dan konseling adalah agar individu mampu memecahkan

berbagai kesulitan yang dihadapinya secara mandiri.

2.2.10 Kerangka Teori Self-efficacy

Sumber Self-efficacy 1. Aktif memilih


kesempatan yang paling
Pengalaman akan kesuksesan baik.
2. Mengelola situasi B
Self-efficacy tinggi menghindari/ menetralkan E
“saya tahu saya kesulitan. R
dapat 3. Menetapkan tujuan H
menyelesaikan 4. Merencanaan,
pekerjaan tepat A
mempersiapkan &
waktu dengan mutu S
memperaktikkan.
Pengalaman individu lain yang tinggi” I
5. Mencoba dengan keras &
gigih. L
6. Memecahkan masalah
secara kreatif
7. Belajar dari kegagalan

Persuasi verbal 1. Pasif


Self-efficacy rendah 2. Menghindari tugas yang
“saya tidak yakin sulit
dapat melakukan 3. Mengembangkan aspirasi
pekerjaan tepat yang lemah & komitmen
waktu dengan mutu yang rendah
yang tinggi” 4. Fokus pada pribadi yang
G
Keadaan fisiologis tidak efisien
5. Jangan pernah melakukan A
suatu yang lemah G
6. Berhenti atau tidak berani A
karena kegagalan L
7. Menyalahkan kegagalan
padakekurangan diri
8. Khawatir, menjadi
tertekan
9. Berfikir mengenai alasan
kegagalan
54

Gambar 2.2.9 Sumber: Diadaptasi dari Albert Bandura “Regulation Of


Coognitive Processes Tought Perseive Self-efficacy “. Developmental
Pshycology , 1986. Hlm. 166.

2.3 Konsep Seksio Sesarea

2.3.1 Definisi

Istilah sectio caesarea berasal dari perkataan latin caedere yang

artinya memotong. Pengertian ini semula dijumpai dalam Roman Law

(Lex Regia) dan Emperor’s Law (Lex Caesarea), yaitu undang-undang

yang menghendaki supaya janin dalam kandungan ibu-ibu yang

meninggal harus dikeluarkan dari dalamrahim.

Seksio sesarea adalah suatu cara melahirkan janin dengan

membuat sayatan pada dinding uterus melalui dinding depan perut,

seksio sesarea juga dapat didefinisikan sebagai suatu histerotomia

untuk melahirkan janin dari dalam rahim.

2.3.2 Prognosis

Dulu angka morbiditas dan mortalitas untuk ibu dan janin tinggi.

Pada masa sekarang, karena kemajuan yang pesat dalam teknik

operasi, anestesi, penyediaan cairan dan darah, indikasi, dan

antibiotik, angka ini sangat menurun.

Angka kematian ibu pada rumah sakit yang memiliki faslitas

operasi yang baik dan tenaga-tenaga yang cekatan adalah kurang dari

2 per 1000.
55

Nasib janin yang ditolong secara seksio sesarea sangat

bergantung pada keadaan janin sebelum dilakukan operasi. Menurut

data dari negara-negara dengan pengawasan antenatal yang baik dan

fasilitas neonatal yang sempurna, angka kematian perinatal sekitar 4-

7%.

2.3.3 Istilah

1. Seksio Sesarea Primer (Efektif)

Sejak semula telah direncanakan bahwa janin akan dilahirkan

secara seksio sesarea, tidak diharapkan lagi kelahiran biasa,

misalnya, pada panggul sempit (CV kurang dari 8 cm).

2. Seksio Sesarea Sekunder

Kita mencoba menunggu kelahiran biasa (partus percobaan). Jika

tidak ada kemajuan persalinan atau partus percobaan gagal, baru

dilakukan seksio sesarea.

3. Seksio Sesarea Ulang

Ibu pada kehamilan yang lalu menjalani seksio sesarea dan pada

kehamilan selanjutnya juga dilakukan seksio sesarea; ulang.

4. Seksio Sesarea Histerektomi

Suatu operasi yang meliputi pelahiran janin dengan seksio sesarea

yang secara langsung diikuti histerektomi karena suatu indikasi.

5. Operasi Porro

Suatu operasi tanpa mengeluarkan janin dari kavum uteri

(tentunya janin sudah mati), dan langsung dilakukan histerektomi,

misalnya, pada keadaan infeksi rahim yang berat. Seksio sesarea


56

oleh ahli kebidanan disebut obstetric panacea, yaitu obat atau

terapi ampuh bagi semua masalah obstetri.

2.3.4 Frekuensi

Perluasan indikasi seksio sesarea dan kemajuan dalam teknik

operasi dan anestesi serta obat-obat antibiotik menyebabkan

bertambahnya angka kejadian seksio sesarea dari periode ke periode.

Hal tersebut tergambar dari frekuensi seksio sesarea yang dilakukan di

rumah sakit Dr. Pirngadi Medan:

Mochtar (1968) : 2,5%

Mochtar dkk. (1971) : 4,9%

Aziz dkk. (1974) : 6,4%

Mochtar dkk. (1981) :10%

Frekuensi di negara-negara maju sekitar : 7-10%

2.3.5 Indikasi

1. Plasenta previa sentralis dan leteralis (posterior).

2. Panggul sempit.

Holmer mengambil batas terendah untuk melahirkan janin vias

naturalis ialah CV = 8 cm. Panggul dengan CV (conjugata vera) <

8 cm dapat dipastikan tidak dapat melahirkan secara normal, harus

diselesaikan dengan seksio sesarea. Conjugata vera antara 8 dan

10 cm boleh dilakukan partus percobaan; baru setelah gagal,

dilakukan seksio sesarea sekunder.

3. Disproporsi sefalopelvik: yaitu ketidakseimbangan antara ukuran

kepala dan ukuran panggul.


57

4. Ruptura uteri mengancam

5. Partus lama (prolonged labor).

6. Partus takmaju (Obstructed labor).

7. Distosia serviks.

8. Pre-eklamsi dan hipertensi.

9. Malpresentasi janin:

a. Letak lintang:

Greenhill dan Eastman spendapat bahwa :

1) Jika panggul terlalu sempit, seksio sesarea adalah cara

terbaik dalam semua kasus letak lintang dengan janin

hidup dan ukuran normal;

2) Semua primigravida dengan janin letak lintang harus

ditolong dengan seksio sesarea, walaupun tidak ada

perkiraan panggul sempit;

3) Multipara dengan janin letak lintang dapat lebih dulu

dicoba ditolong dengan cara-cara lain.

b. Letak bokong

Seksio sesarea dianjurkan pada letak bokong pada kasus

1) Panggul sempit

2) Primigravida

3) Janin besar dan berharga

c. Presentasi dahi dan muka (letak defleksi) jika reposisi dan

cara-cara lain tidak berhasil.

d. Presentasi rangkap jika reposisi tidak berhasil.


58

e. Gameli; menurut Eastman, seksio sesarea dianjurkan

1) Jika janin pertama letak lintang atau presentasi bahu.

2) Jika terjadi interlok (locking of the twins).

3) Pada kasus distosia karena tumor.

4) Pada gawat janin, dan sebagainya.

Dahulu, seksio sesarea dilakukan atas indikasi yang terbatas

pada panggul sempit dan plasenta previa. Seperti telah diterangkan

sebelumnya, meningkatnya angka kejadian seksio sesarea pada zaman

sekarang ini antara lain disebabkan oleh berkembangnya indikasi dan

makin kecilnya risiko dan mortalitas pada seksio sesarea. Kedua hal

tersebut tercapai berkat kemajuan teknik operasi dan anestesi, serta

ampunya antibiotik dan kemoterapi.

Seksio sesarea postmortem adalah seksio sesarea segera pada

ibu hamil cukup bulan yang meninggal tiba-tiba, sedangkan janin

masih hidup.

2.3.6 Jenis-jenis Operasi seksio Sesarea

1. Abdomen (Seksio Sesarea Abdominalis)

a. Seksio sesarea transperitonealis:

1) Seksio sesarea klasik atau korporal dengan insisi

memanjang pada korpus uteri.

2) Seksio sesarea ismika atau profunda atau low servical

dengan insisi pada segmen bawah rahim.


59

3) Seksio sesarea ekstraperitonealis, yaitu seksio sesarea

tanpa membuka peritonium parietale; dengan demikian,

tidak membuka kavum abdominalis.

2. Vagina (Seksio Seasrea Vaginais)

Menurut arah sayatan pada rahim, seksio sesarea dapat

dilakukan sebagai berikut:

a. Sayatan memanjang (longitudinal) menurut Kronig.

b. Sayatan melintang (transversal) menurut Kerr.

c. Sayatan huruf T (T-Incision).

3. Seksio Sesarea Klasik (Korporal)

Dilakukan dengan membuat sayatan memanjang pada

korpus uteri kira-kira sepanjang 10 cm.

Kelebihan:

a. Pengeluaran janin lebih cepat.

b. Tidak mengakibatkan komplikasi tertariknya kandung kemih.

c. Sayatan dapat diperpanjang ke proksimal atau distal.

Kekurangan:

a. Infeksi mudah menyebar secara intra-abdominal karena tidak

ada reperitonealisasi yang baik.

b. Pada persalinan berikutnya, lebih mudah terjadi ruptur uteri

spontan.

Saat ini, teknik tersebut sudah jarang dipergunakan karena

banyak kekurangannya. Namun pada kasus-kasus tertentu, seperti


60

pada kasus operasi berulang, yang memiliki banyak perlengketan

organ, seksio sesarea klasik ini dapat dipertimbangkan.

4. Seksio Sesarea Ismika (Profunda)

Dilakukan dengan membuat sayatan melintang konkaf pada

segmen bawah rahim (low servical transversal) kira-kira

sepanjang 10 cm.

Kelebihan:

a. Penjahitan luka lebih mudah.

b. Penutupan luka dengan reperitonealisasi yang baik.

c. Tumpang tindih peritoneal flap sangat baik untuk menahan

penyebaran isi uterus ke rongga periotoneum.

d. Perdarahan kurang.

e. Dibandingkan dengan cara klasik, kemungkinan ruptur uteri

spontan lebih kecil.

Kekurangan:

a. Luka dapat melebar ke kiri, kanan, dan bawah sehingga dapat

menyebabkan putusnya a. uterina yang mengakibatkan

perdarahan dalam jumlah banyak.

b. Tingginya keluhan pada kandung kemih setelah pembedahan.

2.3.7 Komplikasi

1. Infeksi Peurperal (Nifas)

a. Ringan; dengan kenaikan suhu beberapa hari saja.

b. Sedang; dengan kenaikan suhu yang lebih tinggi, disertai

dehidrasi dan perut sedikit kembung.


61

c. Berat; dengan peritonitis, sepsis dan ileus paralitik. Infeksi

berat sering kita jumpai pada partus terlantar; sebelum timbul

infeksi nifas, telah terjadi infeksi intra partum karena ketuban

yang telah pecah terlalu lama.

Penanganannya adalah dengan pemberian cairan, elektrolit dan

antibiotik yang adekuat dan tepat.

2. Perdarahan karena:

a. Banyak pembuluh darah yang terputus dan terbuka.

b. Atonia uteri.

c. Perdarahan pada placental bed.

3. Luka kandung kemih, emboli paru dan keluhan kandung kemih

bila reperitonialisasi terlalu tinggi.

4. Kemungkinan ruptur uteri spontan pada kehamilan mendatang.

Adapun komplikasi pada persalinan seksio sesarea, antara lain

diuraikan di bawah ini:

1. Rasjidi (2009) menguraikan bahwa komplikasi utama persalinan

seksio sesarea adalah kerusakan organ-organ seperti vesika

urinaria dan uterus saat dilakukan operasi dan komplikasi yang

berhubungan dengan anestesi, perdarahan, infeksi, dan

tromboemboli. Kematian ibu lebih besar pada persalinan seksio

sesarea dibandingkan persalinan pervaginam.

2. Sementara itu, Aksu, Kucuk, Duzgun, (2011) menyatakan bahwa

risiko komplikasi akibat tindakan operasi sesarea adalah vena

thrombosis, karena berbagai faktor seperti trombophilia, American


62

college of Obstetricians and Gynecologists (ACOG) membuat

kategori pasien pasca operasi seksio sesarea menjadi dua yaitu

risiko rendah sampai risiko tinggi.

3. Bonney &m Jenny (2010) menjelaskan bahwa komplikasi pasca

operasi seksio sesarea pada insisi segmen bawah rahim dapat

terjadi:

a. Berkurangnya vaskuler bagian atas uterus sehingga berisiko

mengalami ruptur membrane.

b. Ileus dan peritonitis.

c. Pasca operasi obstruksi.

d. Masalah infeksi karena masuknya mikroorganisme selama

pasca operasi.

4. Sedangkan Leifer (2012) menyatakan bahwa komplikasi pada ibu

yang dilakukan seksio sesarea yaitu:

a. Terjadi aspirasi.

b. Emboli pulmonal.

c. Perdarahan.

d. Infesi urinaria.

e. Injuri pada bladder.

f. Thrombophelibitis.

g. Infeksi pada luka operasi.

h. Komplikasi yang berhubungan dengan efek anestesi serta

terjadinya injury.

i. Masalah respirasi pada fetal.


63

2.3.8 Anestesi Pada Operasi Seksio Sesarea

Beberapa studi tentang anestesi pada operasi seksio sesarea

diuraikan berikut ini:

1. Penelitian oleh Henke, Elser, Gorlinger (2010) teknik operasi

seksio sesarea terdiri dari spinal anestesi dan umum.

a. Operasi seksio sesarea dengan spinal anestesi umunya sering

digunakan karena lebih baik 62% dibandingkan anestesi

umum.

b. Royal college of Anesthesia di UK menggunakan standar

anestesi spinal dan hasilnya sebanyak 85% menurunkan angka

kematian ibu dan bayi, serta biaya murah dan lien selamat.

2. Henke, Elser, Gorlinger (2010) menyatakan bahwa pada operasi

sesarea ibu dianjurkan untuk menggunakan spinal anestesi.

a. Anestesi spinal membuat pertengahan ke bawah tubuh ibu mati

rasa, tetapi ibu akan tetap terjaga dan menyadari apa yang

sedang terjadi.

b. Ibu merasakan elahiran bayi tanpa merasakan kesakitan dan

dilakukan di lumbal tiga atau lumbal empat menggunakan

injeksi 2.2 ml dengan hyperbaric bupivacaine 0,5% dan

sufentanil 6 g.

3. Nielsen et al, menjelaskan bahwa efek anestesi terhadap pasca

seksio sesarea adalah ibu merasakan adanya nyeri akut yang

berisiko terhadap perkembangan pasca pembedahan.