Anda di halaman 1dari 4

SOAL LATIHAN KOMPREHENSIF 1

1. Termasuk halusinasi, karena dari tanda dan gejalanya sudah menunjukkan diagnosa
halusinasi yaitu komat-kamit, kontak mata kurang, afek tumpul dan terkadang senyum
sendiri. Penyebabnya sudah diketahui yaitu mengamuk, strategi pelaksanaan yang
diberikan adalah ajarkan cara menghardik halusinasi, latih bercakap-cakap dengan
orang lain, latih aktivitas terjadwal, bantu pemberian obat antipsikotik. Jadi tindakan
keperawatan yang diberikan yang pertama adalah bantu pasien untuk mengenal
halusinasi. (e)
2. Termasuk isolasi sosial, di mana dari tanda dan gejalanya sudah nampak yaitu gelisah,
tidak mau makan, tidak mau keluar ruangan, kontak mata kurang, ketika diajak
berkomunikasi pasien selalu menghindar. Tindakan keperawatan yang diberikan pada
pasien isos ini adalah identifikasi penyebab masalah, karena pada kasus tersebut
belum disebutkan penyebab masalahnya. (a)
3. Berdasarkan ilustrasi kasus, diagnose keperawatan laki-laki tersebut adalah “perilaku
kekerasan”. Hal ini di tunjukkan dengan hasil pengkajian yaitu klien masuk RSJ
karena mengamuk dan mengganggu lingkungan, klien tampak gelisah, bicara
inkoheren serta tangensial. Tindakan kedaruratan yang tepat untuk klien tersebut
adalah lakukan tindakan restrain (b).
4. Berdasarkan ilustrasi kasus, perempuan tersebut mengalami “harga diri rendah”
dimana hal ini ditandai dengan klien mengatakan malu dengan orang lain karena tidak
mempunyai penghasilan tetap, merasa tidak mampu mencapai cita-cita menjadi
pegawai bank serta saat di ajak berbicara pasien sering menunduk. Tindakan
keperawatan yang tepat sesuai dengan SP HDR yaitu identifikasi kemampuan yang
dimiliki klien (d). Secara berturut-turut SP HDR yaitu (1) latih kemampuan pertama,
(2) latih kemampuan kedua, (3) latih kemampuan ketiga. Tetapi sebelumnya, yaitu
identifikasi kemampuan yang dimiliki klien.
5. Berdasarkan data yang dipaparkan, gejala klien lebih banyak menunjukkan bahwa
klien mengalami “halusinasi”. Data yang mendukung yaitu klien senyum-senyum
sendiri, mengatakan senang karena tunangannya dating pada saat sendiri serta
keluyuran dan mengganggu lingkungan. Tindakan keperawatan yang tepat untuk
kasus tersebut yaitu mengajarkan cara mengontrol halusinasi ©.
6. Termasuk isolasi sosial, di mana dari tanda dan gejalanya sudah nampak yaitu tidak
mau berbicara, tidak mau makan, afek tumpul, kontak mata kurang, dari tanda dan
gejala tersebut terapi aktivitas kelompok (TAK) yang diberikan pada pasien tersebut
adalah TAK Sosialisasi. (a)
7. Kata kunci dari ilustrasi tersebut adalah klien “dipasung” oleh keluarganya. Ini
menunjukkan bahwa keluarga klien tidak mengetahui aspek legal etik dari tindakan
yang mereka lakukan. Itu lah sebabnya tindakan keperawatan yang tepat pada kasus
tersebut yaitu menjelaskan aspek legal etik pada keluarga ©.
8. Termasuk isolasi sosial, di mana dari tanda dan gejalanya yaitu bicara lambat, kontak
mata kurang, tidak mau keluar ruangan. Jadi tindakan keperawatan selanjutnya yang
diberikan yaitu Ajak pasien untuk berkomunikasi secara bertahap. (d)
9. Berdasarkan ilustrasi kasus, klien sudah mau berkomunikasi dan mengatakan
memiliki hobi memasak dan bernyanyi. Ini berarti kemampuan yang dimiliki klien
sudah diidentifikasi dan perawat pun sudah memberikan contoh kegiatan yang dapat
dilakukan klien di RSJ. Kemudian hasil yang diharapkan dari tindakan tersebut yaitu
pasien dapat menetapkan rencana kegiatan sesuai kemampuan (e).
10. Dari tanda dan gejalanya pada kasus tersebut, pasien mendengar suara-suara, sering
berbicara sendiri, ketakutan, suara pelan. Diagnosa pada kasus ini adalah
Halusinasi.(e)
11. Faktor presipitasi yaitu faktor pencetus terjadinya suatu masalah pada saat ini. Dilihat
dari kasus tersebut yang menjadi faktor presipitasi adalah kekasih pasien memutuskan
hubungan. (b)
12. Termasuk isolasi sosial, di mana data yang diperoleh yaitu klien tidak mau
bersosialisasi, kontak mata kurang, sering menunduk, malu berhadapan dengan orang
lain selain anggota keluarga dan merasa tidak berguna. Tindakan yang diberikan pada
pasien tersebut adalah bantu memilih satu kegiatan untuk dilatih. (d)
13. Termasuk isolasi sosial, di mana data yang diperoleh yaitu klien tidak mau
bersosialisasi, kontak mata kurang, sering menunduk, malu berhadapan dengan orang
lain selain anggota keluarga dan merasa tidak berguna. Tindakan selanjutannya yang
diberikan adalah latih klien melakukan kegiatan yang dipilih. (e)
14. Termasuk Harga Diri Rendah, di mana data yang diperoleh pasien mengatakan
dirinya wanita yang paling tidak beruntung, pasien menunduk saat berbicara, kontak
mata kurang, mengurung diri. Jadi diagnosa pada kasus ini adalah Harga Diri Rendah.
(d)
15. Termasuk Isolasi Sosial, karena dari data pada kasus ini pasien tidak mau keluar,
pasien hanya diam, kontak mata kurang, sesekali menghembuskan napas dengan
panjang lalu kembali tidur serta membisu. Jadi diagnosa keperawatan pada kasus ini
adalah Isolasi sosial. (a)
16. Termasuk Halusinasi, karena dari data pada kasus ini, pasien mengatakan merasa
takut mendengar suara yang ingin membunuhnya dan berteriak tanpa sebab. Tindakan
keperawatan selanjutnya adalah mengajarkan cara mengontrol halusinasi. (e)
17. Berdasarkan ilustrasi kasus, klien mengalami “isolasi social” yang ditandai dengan
data kontak mata minimal, menghindari perawat dan suara lirih. Tindakan
keperawatan pada klien tersebut adalah identifikasi aspek positif yang dimiliki klien
(b).
18. Termasuk Waham Bizare : siar pikir, karena dilihat dari data yang didapat pasien
tampak gelisah, pembicaraan berbeli-belit, afek labil, curiga pada orang lain, pasien
mengatakan bahwa orang lain selalu tahu tentang apa yang dipikirkannya. Waham
Bizare : siar pikir yaitu (waham yang aneh) percaya bahwa pikirannya dapat diketahui
orang lain. Jadi diagnosa keperawatan pada kasus ini adalah waham bizare :siar pikir.
(d)
19. Termasuk Perilaku Kekerasan, karena pasien keluyuran tanpa sebab, berbicara kacau
dan akan melakukan tindakan pemukulan. Jadi tindakan keperawatan yang diberikan
adalah Restrain/ Seclution. (a)
20. Termasuk Halusinasi pendengaran, di mana dari data yang didapatkan pasien
mengatakan sering mendengar suara-suara yang ingin membunuhnya dan suara itu
sangat menakutkan sehingga pasien merasa kesal serta ingin melempar barang agar
suara tersebut hilang, pasien sering berbicara sendiri. Jadi masalah eperawtan pada
kasus ini adalah halusinasi pendengaran. (d)
21. Termasuk waham, karena dari data yang didapat pasien mengtakan “ibu saya mau
meracuni saya karena dia tidak menyukai calon suami saya. Masalah keperawtan pada
kasus ini adalah Waham Curiga. (b)
22. Data : Pasien melakukan tindakan kekerasan pada setiap orang yang ditemuinya,
pasien marah karena merasa dihina dan di maki oleh tetangganya. Jadi masalah
keperawatan pada kasus ini adalah prilaku kekerasan. (e)
23. Dari ilustrasi kasus menunjukkan bahwa klien mengalami “isolasi social” yang
didukung dengan data pasien tidak mau berbicara, pasien selalu duduk sendiri dan
tidak mau berkumpul dengan teman-temannya. Tetapi klien kadang-kadang
mempertahankan kontak mata saat interaksi. Ini berarti klien sudah memiliki
kemajuan. Intervensi selanjutnya yang dapat diberikan yaitu mengajarkan klien
berhubungan social secara bertahap (e).
24. Dari hasil pengkajian klien tidak mau mandi, badan kotor dan bau, makan berantakan,
BAB dan BAK dilakukan sembarangan. Jadi diagnosa keperawatan pada kasus ini
adalah Defisit Perawatan Diri. (e)
25. Dari data yang didapat pasien memakai selendang yang dililit di kepala, pasien
banyak bicara dan ngawur, saat ini mengaku sebagai seorang yang bisa mengobati
orang dengan membaca mantra. Jadi maslah keperawatan pada kasus ini adalah
Waham Kebesaran. (e)
26. Stresor presipitasi yaitu faktor pencetus terjadinya suatu masalah pada saat ini. Yang
menjadi stresor presipitasi pada kasus ini adalah keinginan istrinya bercerai. (c)
27. Dari data yang didapat pasien marah-marah, muka merah, pandangan tajam karena
merasa dihina dan dimaki oleh tetangganya. Dlihat dari tanda dan gejala dari pasien
tersebut maka diagnosa keperawatan utama adalah Perilaku Kekerasan. (c)
28. Dari data yang didapat pasien mengatakan dirinya adalah seorang putri yang memiliki
4 kerajaan, dayang-dayang, 100 buah gaun yang indah. Diagnosa keperawatan yang
utama pada kasus ini adalah Waham. (e)
29. Dari data yang didapat pasien mengatakan tampak sedih, ada bekas luka sayatan di
tangan kiri, sesekali pasien mengatakan lebih baik mati saja. Diagnosa keperawatan
utama pada kasus ini adalah Resiko Bunuh Diri. (b)
30. Dari data yang diberikan terdapat lebih dari 3 data yang menunjukkan bahwa klien
mengalami “deficit perawatan diri” yaitu pakaian dan badan kotor serta bau, gigi
kuning, rambut berketombe. Berdasarkan urutan SP DPD hal pertama yang diajarkan
kepada klien yaitu mengajarkan klien mandi yang benar (b), mengajarkan klien
berhias, mengajarkan klien makan minum dan terakhir mengajarkan klien toileting.
31. Stressor predisposisi merupakan sumber stres yang terjadi lebih dari 6 bulan dari saat
pengkajian. Berdasarkan ilustrasi kasus tersebut, stressor predisposisi pada klien
tersebut yaitu mengalami penipuan (b).
32. Berdasarkan data yang didapat diagnose keperawatan klien yaitu “perilaku kekerasan”
yang ditandai dengan data klien masuk RSJ karena marah-marah, mengepal tangan
dan muka tegang. Hal ini menunjukkan bahwa klien tak bisa mengontrol emosinya.
Tindakan keperawatan yang tepat diberikan yaitu latih dengan tarik napas dalam (a).
33. Dari data yang didapat pasien mengamuk, ingin mengakhiri hidupnya dengan cara
gantung diri, dari hasil pengkajian pasien mengatakan “Tolong jaga anak-anak karena
saya akan pergi jauh!” jadi diagnosa keperawatan utama pada kasus ini adalah Resiko
Bunuh Diri. (b)
34. Dari data yang didapat pasien mengatakan malas bertemu dengan orang lain karena
takut di ejek, kontak mata kurang, sering menunduk. Diagnosa keperawatan utama
pada kasus ini adalah Harga Diri Rendah. (c)
35. Dari data yaitu klien tidak mau keluar ruangan, kontak mata kurang dan bila diajak
berkomunikasi klien selalu menghindar menandakan bahwa klien mengalami “isolasi
social”. Maka tindakan keperawatan yang tepat adalah libatkan klien dalam terapi
aktivitas kelompok (b)
36. Berdasarkan ilustrasi kasus, klien mengalami “isolasi social” yang ditandai dengan
data kontak mata kurang, tidak mau keluar ruangan dan menolak untuk berinteraksi.
Tetapi klien sudah mampu berkenalan dengan 1 orang klien lain. Maka tindakan
selanjutnya yaitu mengajarkan klien berkenalan dengan 2 orang atau lebih (b).
37. Diagnose keperawatan klien berdasarkan data yang diperoleh yaitu “resiko bunuh
diri”. Tetapi sekarang klien sudah lebih tenang, kontak mata kurang dan mengatakan
bahwa malu pada keluarga karena gagal berangkat TKI ke luar negeri. Tindakan
keperawatan yang tepat untuk mencegah klien bunuh diri lagi yaitu modifikasi
lingkungan yang aman bagi klien (b).
38. Karena pasien teriak-teriak tanpa sebab pasti, bicara keras dan mencoba meluai diri
sendiri, jadi tindakan keperawatan yang diberikan adalah melakukan Restrain.
Restrain adalah yang mengacu pada susatu bentuk tindakan menggunakan tali untuk
mengekang atau membatasi gerakan ekstremitas individu yang berprilaku di luar
kendali yang bertujuan memberikan keamanan fisik dan psikologis individu. (a)
39. Berdasarkan data yang diperoleh diagnose keperawatan klien yaitu “isolasi social”
yang ditunjukkan dengan data kontak mata kurang, tidak mau keluar ruangan dan
menolak interaksi. Tindakan keperawatan selanjutnya yang dapat diberikan yaitu
diskusikan keuntungan berinteraksi dan kerugian menarik diri (a).
40. Berdasarkan data yang dipaparkan, gejala klien lebih banyak menunjukkan bahwa
klien mengalami “halusinasi”. Data yang mendukung yaitu klien senyum-senyum
sendiri, mengatakan senang karena tunangannya dating pada saat sendiri serta
keluyuran dan mengganggu lingkungan. Tindakan keperawatan yang tepat adalah
mengajarkan klien cara menghardik halusinasi (b).