Anda di halaman 1dari 12

Pengertian Selected Response Assessment, Jenis, Prinsip dan

Persyaratan Penyusunannya
Written By Altri Ramadoni on 25 August 2016 | 16:49

Salah satu tugas mata kulian pengembangan evaluasi pembelajaran memiliki judul tugas
yaitu Pengertian Selected Response Assesment, Jenis, Prinsip dan Persyaratan
Penyusunannya. Di blog ini terdapat referensi serta makalah yang berhubugan dengan judul tugas
di atas. Jika pembaca tertarik atau membutuhkan makalah silakan tanya atau minta langsung lewat
kolom komentar atau lewat FB penulis. Sebelumnnya kita juga tela membahas mengenai Scientific
Literacy. Semoga artikel ini bermanfaat.

A. Pengertian Selected Response Assesment


Berikut adalah beberapa pengertian menurut ahli :

1. Asesmen tes tipe pilihan (obyektif) adalah tes yang dalam pemeriksaannya dapat dilakukan
secara obyektif, dimaksudkan untuk mengatasi kelemahan-kelemahan dari tes bentuk esay,
dan dalam penggunaannya jumlah soal yang diajukan jauh lebih banyak daripada tes essay,
kadang-kadang untuk tes yang berlangsung selama 60 menit dapat diberikan 30-40 buah soal
(Arikunto, 1996).
2. Dalam Net Investigation Home Page (2002)dikemukakan bahwa soal tipe pilihan ganda
adalah suatu tes pertanyaan obyektif yang terdiri atas suatu pertanyaan yang merupakan
pertanyaan maupun pertanyaan yang tidak lengkap. Jawaban kunci merupakan suatu
jawaban yang sudah disediakan untuk dipilih hanya ada satu jawaban yang benar dan
biasanya usdah disediakn lembar jawaban khusus.
3. Menurut Webster’s Collegiate, tes adalah serangkaian pertanyaan atau latihan atau alat lain
yang digunakan untuk mengkur keterampilan, pengetahuan, intelegensia, kemampuan atau
bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok (Arikunt, 1995)
4. Cronbach dalam Azwar (1987) mendefinisikan tes sebagai “a systematic procedure for
observing a person’s behavior and describing it with the aid of a numerical scale or category
system”.Dengan demikian, tes merupakan prosedur sistematis. Butir-butir tes disusun
menurut cara dan aturan tertentu, prosedur administrasi dan pemberian angka (scoring) harus
jelas dan spesifik, dan setiap orang yang mengambil tes harus mendapat butir-butir yang sama
dan dalam kondisi yang sebanding. Tes berisi sampel perilaku. Populasi butir tes yang bisa
dibuat dari suatu materi tidak terhingga jumlahnya. Keseluruhan butir itu mustahil dapat
seluruhnya tercakup dalam tes. Kelayakan tes lebih tergantung kepada sejauh mana butir-
butir di dalam tes mewakili secara representatif kawasan (domain) perilaku yang diukur. Butir-
butir tes menghendaki subjek agar menunjukkan apa yang diketahui atau apa yang dipelajari
subjek dengan cara menajwab butir-butir atau mengerjakan tugas yang dikehendaki oleh tes.
Respon subjek atas tes merupakan perilaku yang ingin diketahui dari penyelenggaraan tes

Sumber lain :
1. Tes hasil belajar merupakan salah satu jenis tes yang digunakan untuk mengukur perkembangan
atau kemajuan belajar peserta didik setelah mereka mengikuti proses pembelajaran.Asesmen tes tipe
pilihan (obyektif) adalah tes yang dalam pemeriksaannya dapat dilakukan secara obyektif,
dimaksudkan untuk mengatasi kelemahan-kelemahan dari tes bentuk essay, dan dalam
penggunaannya jumlah soal yang diajukan jauh lebih banyak daripada tes essay, kadang- kadang
untuk tes yang berlangsung selama 60 menit dapat diberikan 30-40 buah soal (Ari Kunto 1996)

2. Dalam Arikunto (2005: 164), tes objektif adalah tes yang dalam pemeriksaannya dapat dilakukan
secara objektif.
Berikut kebaikan tes objektif :

 Mengandung lebih banyak segi-segi yang positif, misalnya lebih representatif mewakili isi dan
luas bahan.
 Lebih mudah dan cepat cara memeriksanya.
 Pemeriksaan dapat diserahkan orang lain.
 Dalam pemeriksaan tidak ada unsur subjektif.
Kelemahan tes objektif :

 Persiapan untukn menyusunnya jauh lebih sulit daripada tes essay.


 Soal-soalnya cenderung mengungkapkan ingatan dan daya pengenalan kembali.
 Banyak kesempatan untuk main untung-untungan.
 Kerjasama antar siswa pada waktu mengerjakan soal tes lebih terbuka.

B. Jenis jenis Selected Response Assessment

a. Tes Pilihan ganda


Tes pilihan ganda merupakan tes yang menggunakan pengertian/pernyataan yang belum lengkap
dan untuk melengkapinya maka kita harus memilih satu dari beberapa kemungkinan jawaban benar
yang telah disiapkan.

Tes pilihan ganda merupakan jenis tes obyektif yang paling banyak digunakan oleh para guru. Tes ini
dapat mengukur pengetahuan yang luas dengan tingkat domain yang bervariasi. Menurut Arikunto
(2005: 164), tes objektif adalah tes yang dalam pemeriksaannya dapat dilakukan secara objektif

Pilihan ganda terdiri atas suatu keterangan atau pemberitahuan tentang suatu pengertian yang belum
lengkap. Untuk melengkapinya harus memilih satu dari beberapa kemungkinan jawaban yang telah
disediakan Pilihan ganda terdiri atas bagian keterangan dan bagian kemungkianan jawaban atau
alternatif. Kemungkinan jawaban terdiri atas satu jawaban yang benar yaitu kunci jawaban dan
beberapa pengecoh

b. Test benar salah


Dalam Arikunto (2005), soal-soalnya berupa pernyataan-pernyataan (statement). Orang yang ditanya
bertugas untuk menandai masing-masing pernyataann dengan melingkari huruf B jika pernyataan itu
betul menurut pendapatnya dan melingkari jawaban S jika salah.

Tes benar salah adalah bentuk tes yang mengajukan beberapa pernyataan yang bernilai benar atau
salah. Biasanya ada dua pilihan jawaban yaitu huruf B yang berarti pernyataan tersebut benar dan S
yang berarti pernyataan tersebut salah. Tugas peserta tes adalah menentukan apakah pernyataan
tersebut benar atau salah. Benar salah adalah kalimat declarative, siswa menilai pernyataan yang
disajikan benar atau salah.
Tes tipe benar salah (true false test) adalah tes yang butir soalnya terdiri dari pernyataan yang disertai
dengan alternatif jawaban yaitu jawaban atau pertanyaan yang benar dan yang salah. Peserta tes
diminta untuk menandai masing-masing jawaban atau pertanyaan itu dengan melingkari ataupun
memberi tanda silang pada huruf ‘B’ jika jawaban atau pertanyaan itu dianggap benar menurut
pendapatnya dan melingkari ataupun memberi tanda silang pada huruf ‘S’ jika jawaban atau
pertanyaan itu menurut pendapatnya dianggap salah

C. Kelebihan dan Kekurangan Selected Response Assessment

Kelebihan :

 Mengandung Lebih Banyak segi-segi yang positif, misalnya lebih representatif mewakili isi dan
luas bahan
 Lebih mudah dan cepat cara memeriksanya
 Pemeriksaan dapat diserahkan orang lain
 Dalam Pemeriksaan tidak ada unsur subjektif
 Tes pilihan ganda memiliki karakteristik yang baik untuk suatu alat ukur hasil belajar siswa.
Karena lebih fleksibel dan efektif.
 Tepat untuk mengukur penguasaan informasi para siswa yang hendak dievaluasi
 Pilihan ganda dapat mengukur kemampuan intelektual atau kognitif, afektif dan Psikomotor
siswa
 Mengandung lebih banyak segi-segi yang positif, misalnya lebih representative mewakili isi
dan luas bahan
 Lebih mudah dan cepat cara memeriksanya
 Pemeriksaan dapat diserahkan orang lain
 Dalam pemeriksaan tidak ada unsure subjektif

Kelemahan :

 Persiapan untuk menyusunnya jauh lebih sulit dari pada tes essay
 Soal-soal cenderung mengungkapkan ingatan dan daya pengenalan kembali
 Banyak kesempatan untuk main untung-untungan.
 Kerja sama antar siswa pada waktu mengerjakan soal tes lebih terbuka
 Tes pilhan ganda kurang dapat mengukur kecakapan siswa dalam mengorganisasi materi
hasil pembelajaran
D. Prinsip prinsip Selected Response Assessment

1. Valid
PBK harus mengukur obyek yang seharusnya diukur dengan menggunakan jenis alat ukur yang tepat
(Valid). Artinya ada kesesuaian antara alat ukur dengan fungsi pengukuran dan sasaran pengukuran

2. Mendidik
PBK harus memberikan sumbangan positif pada pencapaian hasil belajar siswa

3. Berorientasi Pada Kompetensi


PBK harus menilai pencapaaian kompetensi siswa yang meliputi seperangkat pengetahuan, sikap
dan keterampilan/ nilai yang tereflesikan dalam kebiasaan berfikir dan bertindak.

4. Adil dan Obyektif


PBK harus mempertimbangkan rasa keadilan dan objektifitas siswa

5. Terbuka
PBK hendaknya dilakukan secara terbuka bagi berbagi kalangan (stakeholders)

6. Berkesinambungan
PBK harus dilakukan secara terus menerus atau berkesinambungan dari waktu ke waktu.

7. Menyeluruh
PBK harus dilakukan secara menyeluruh yang mencakup sapek kognitif, afektif dan psikomotor serta
berdasarkan strategi dan prosedur penilaian

8. Bermakna
PBK diharapkan mempunyai makna yang signifikan bagi semua pihak.

D. Persyaratan dan Penyusunan Selected Response Assessment

1. Mengklasifikasikan ranah kognitif dan tujuan pembelajaran berdasarkan prinsip untuk mengukur
apa yang telah dipelajari siswa sesuai dengan tujuan pembelajaran. Cara-cara merumuskan tujuan
pembelajaran yang baik merujuk pada taksonomi tujuan pendidikan menurut Bloom. Bloom
mengklasifikasikan unjuk perbuatan kognitif ke dalam enam tataran perilaku yaitu pengetahuan,
pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi.
2. Merumuskan tujuan khusus pembelajaran atau indicator pencapaian hasil belajar siswa. Untuk
merumuskan tujuan pembelajaran yang baik hendaknya tujuan pembelajaran berpedoman pada
aspek-aspek berikut :

 Berorientasi kepada siswa


 Berorientasi kepada perilaku yang dapat diamati sehingga dapat diukur dan tidak terlalu luas
atau terlalu sempit.
 Berorientasi pada isi/materi yang terhadapnya unjuk kerja siswa dipraktekkan.
 Realistis bagi kebutuhan perkembangan siswa. Pemilihan tipe tes yang akan digunakan lebih
banyak ditentukan oleh kemampuan dan waktu yang tersedia pada penyusun tes daripada
kemampuan peserta tes atau aspek yang ingin diukur.

3. Pengelompokkan tes dan kegunaan tes


a. Pengelompokkan tesberdasarkan bentuknya terdiri dari benttuk uraian dan bentuk obyektif.
b. Kegunaan tes.

Tes dapat digunakan diantaranya untuk kepentingan berikut ini :

1. Seleksi; hasil tes dapat digunakan untuk mengambil keputusan tentang seseorang yang akan
diterima atau ditolak dalam suatu proses seleksi
2. Penempatan; tes digunakan untuk menemtukan tempat yang cocok bagi seseorang untuk
dapat berprestasi dan berproduksi secara efisien dalam suatu proses pendidikan atau
pekerjaan tertentu.
3. Diagnosis dan remedial; tes dapat digunakan juga untuk mengukur kekuatan dan kelemahan
dalam suatu program pendidikan tertentu.
4. Umpan balik; hasil tes dapat digunakan untuk memberikan umpan balik, baik bagi individu
yang menempuh tes maupun bagi guru.
5. Motivasi dan bimbingan belajar; hasil tes seharusnya dapat memotivasi siswa untuk belajar
6. Perbaikan program; hasil tes dapat digunakan untuk bahan masukan untuk perbaikian
program pendidikan selanjutnya.

4. Dasar-dasar penyusunan tes hasil belajar. Dalam menyusun THB ada beberapa aspek yang perlu
diperhatikan, yaitu sebagai berikut :

 Tes hasil belajar harus mengukur apa-apa yang telah dipelajari dalam proses pembelajaran
sesuai dengan tujuan atau hasil pembelajaran yang diharapkan. Dengan demikian langkah
pertama adalah menentukan hasil belajar yang akan diukur, apakah termasuk ranah kognitif,
afektif, atau psikomotor, kemudian baru rumuskan tujuan pembelajaran khusus yang
mencerminkan perilaku yang akan diukur.
 Tes hasil belajar disusun benar-benar mewakili materi yang telah dipelajari siswa. Untuk
keperluan ini, penyusun tes dapat mengambil sampel materi apa saja yang mewakili dan patut
ditanyakan kepada siswa.
 Pertanyaan-pertanyaan dalam THB hendaknya disesuaikan dengan aspek-aspek tingkat
belajar yang diharapkan. Untuk keperluan ini diperlukan pemahaman tipe dan ragam tes mana
yang cocok untuk mengukur setiap aspek tingkat belajar yang diharapkan, misalnya siswa
akan diukur untuk mengingat kembali fakta, maka tipe pertanyaan yang sesuai adalah
jawaban singkat atau bentuk benar-salah
 Tes hasil belajar disusun sesuai dengan tujuan penggunaan tes, misalnya untuk keperluan
tes awal-tes akhir, tes penugasan, diagnostic, prestasi, formatif, atau sumatif.
 Tes hasil belajar disesuaikan dengan pendekatan pengukuran yang dianut, apakah mengacu
pada kelompok (Norm-referenced Test: penilaian acuan norma) atau mengacu pada criteria
(Criterion-referenced test:penialian acuan criteria)
 Tes hasil belajar hendaknya dapat digunakan untuk memperbaiki prroses pembeljaran.
Prinsip ini merupakan tujuan utama dari pengujian siswa dengan catatan kelima prinsip diatas
dilaksanakan dengan baik dan dilanjutkan dengan adanya tindak lanjut setelah hasil tes
diketahui

SELECTED RESPONSE ASSESMENT


JUNE 20, 2010 BY EMILIANNUR
BAB I
PENGAHULUAN
Asesmen dalam pembelajaran adalah suatu proses atau upaya formal pengumpulan
informasi yang berkaitan dengan variabel-variabel penting pembelajaran sebagai bahan
dalam pengambilan keputusan oleh guru un-tuk memperbaiki proses dan hasil belajar
siswa (Herman et al., 1992:95; Po-pham, 1995:3). Variabel-variabel penting yang dimaksud
sekurang-kurangya meliputi pengetahuan, pemahaman, keterampilan dan sikap siswa
dalam pembelajaran yang diperoleh guru dengan berbagai metode dan prosedur baik
formal maupun informal, sebagaimana dikemukakan oleh Corner (1991:2-3) sebagai
berikut.
“A general term enhancing all methods customarily used to appraise performance of an
individual pupil or group. It may refer to a broad appraisal including many sources of
evidence and many aspect of pupil’s knowledge, understanding, skills and attitudes; An assess-
ment instrument may be any method and procedure, formal or in-formal, for producing
information about pupil….”
Pengertian asesmen dalam berbagai literatur asing tersebut di atas selaras dengan makna
penilaian yang digariskan dalam Buku Pedoman Penilaian pada kurikulum pendidikan
dasar. Dalam buku tersebut tertulis bahwa, penilaian adalah suatu kegiatan yang dilakukan
oleh guru untuk memberikan berbagai informasi secara berkesinambungan dan
menyeluruh tentang proses dan hasil belajar yang telah dicapai (Depdikbud, 1994:3). Ada
pun yang dimaksud dengan asesmen alternatif (alternative assessment) adalah segala jenis
bentuk asesmen diluar asesmen konvensional (selected respon test dan paper-pencil test)
yang lebih autentik dan signifikan mengungkap secara langsung proses dan hasil belajar
siswa. Herman (1997) memberikan sem-boyan khusus bagi asesmen alternatif dengan
ungkapan “What You Get is What You Assess” (WYGWYA). Dalam beberapa literatur,
asesmen alternatif ini kadang-kadang disebut juga asesmen autentik (authentic
assessment), asesmen portofolio (portfolio assessment) atau asesmen kinerja (performance
assessment).
BAB II
PEMBAHASAN
Istilah yang lebih sering digunakan untuk respon terpilih adalah “objective paper and pencil
test” atau uji tertulis. Istilah ini dapat menimbulkan kesalahpahaman bahwa penilaian yang
dilakukan tidak melibatkan subjektivitas, bahwa segala sesuatu yang terkait dengannya
bersifat “ilmiah“, dan bahwa ada resiko terjadinya kebiasaan yang disebabkan oleh
pendapat penilai.
Tiga langkah dasar yang harus dilakukan oleh pengembang soal ujian: (i) membuat
rancangan atau cetakbiru pengujian yang menyajikan kerangka pencapaian; (ii)
mengidentifikasi unsur spesifik pengetahuan dan pemikiran yang akan dinilai; (iii)
mengubah unsur-unsur tersebut menjadi soal ujian.
Tujuan utama penggunaan asesmen dalam pembelajaran (classroom assessment) adalah
membantu guru dan siswa dalam mengambil keputusan propesional untuk memperbaiki
pembelajaran. Menurut Popham (1995:4-13) asesmen bertujuan untuk antara lain untuk:
(1) mendiagnosa kelebihan dan kelemahan siswa dalam belajar,
(2) memonitor kemajuan siswa,
(3) menentukan jenjang kemampuan siswa,
(4) menentukan efektivitas pembelajaran,
(5) mempengaruhi persepsi publik tentang efektivitas pembelajaran,
(6) mengevaluasi kinerja guru kelas,
(7) mengklarifikasi tujuan pembelajaran yang dirancang guru
Prinsip-prinsip
Guru mempunyai posisi sentral dalam menentukan keberhasilan dan kegagalan kegiatan
penilaian. Untuk itu, dalam pelaksanaan penilaianharus memperhatikan prinsip-prinsip
berikut:
1) Valid
PBK harus mengukur obyek yang seharusnya diukur dengan menggunakan jenis alat ukur
yang tepat atau sahih (valid). Artinya, ada kesesuaian antara alat ukur dengan fungsi
pengukuran dan sasaran pengukuran. Apabila alat ukur tidak memiliki kesahihan yang
dapat dipertanggungjawabkan, maka data yang masuk salah sehingga kesimpulan yang
ditarik juga besar kemungkinan menjadi salah.
2) Mendidik
PBK harus memberikan sumbangan positif pada pencapaian hasil belajar siswa. Oleh
karena itu, PBK harus dinyatakan dan dapat dirasakan sebagai penghargaan untuk
memotivasi siswa yang berhasil (positive reinforcement) dan sebagai pemicu semangat
untuk meningkatkan hasil belajar bagi yang kurang berhasil (negative reinforcement),
sehingga keberhasilan dan kegagalan siswa harus tetap diapresiasi dalam penilaian.
3) Berorientasi pada kompetensi
PBK harus menilai pencapaian kompetensi siswa yang meliputi seperangkat pengetahuan,
sikap, dan ketrampilan/nilai yang terefleksikan dalam kebiasaan berfikir dan bertindak.
Dengan berpijak pada kompetensi ini, maka ukuran-ukuran keberhasilan pembelajaran
akan dapat diketahui secara jelas dan terarah.
4) Adil dan obyektif
PBK harus mempertimbangkan rasa keadilan dan obyektivitas siswa, tanpa membeda-
bedakan jenis kelamin, latar belakang budaya, dan berbagai hal yang memberikan
kontribusi pada pembelajaran. Sebab ketidakadilan dalam penilaian, dapat menyebabkan
menurunnya motivasi belajar siswa, karena merasa dianaktirikan.
5) Terbuka
PBK hendaknya dilakukan secara terbuka bagi berbagai kalangan (stakeholders) baik
langsung maupun tidak langsung, sehingga keputusan tentang keberhasilan siswa jelas
bagi pihak-pihak yang berkepentingan, tanpa ada rekayasa atau sembunyi-sembunyi yang
dapat merugikan semua pihak.
6) Berkesinambungan
PBK harus dilakukan secara terus-menerus atau berkesinambungan dari waktu ke waktu,
untuk mengetahui secara menyeluruh perkembangan siswa, sehingga kegiatan dan unjuk
kerja siswa dapat dipantau melalui penilaian.
7) Menyeluruh
PBK harus dilakukan secara menyeluruh, yang mencakup aspek kognitif, afektif, dan
psikomotorik serta berdasarkan pada strategi dan prosedur penilaian dengan berbagai
bukti hasil belajar siswa yang dapat dipertanggungjawabkan kepada semua pihak.
8) Bermakna
PBK diharapkan mempunyai makna yang signifikan bagi semua pihak. Untuk itu, PBK
hendaknya mudah dipahami dan dapat ditindaklanjuti oleh pihak-pihak yang
berkepentingan. Hasil penilaian hendaknya mencerminkan gambaran yang utuh tentang
prestasi siswa yang mengandung informasi keunggulan dan kelemahan, minat dan tingkat
penguasaan siswa dalam pencapaian kompetensi yang telah ditetapkan.
Selain harus memenuhi prinsip-prinsip umum penilaian, pelaksanaan PBK juga harus
memegang prinsip-prinsip khusus sebagai berikut: Apapun jenis penilaiannya, harus
memungkinkan adanya kesempatan yang terbaik bagi siswa untuk menunjukkan apa yang
mereka ketahui dan pahami, serta mendemonstrasikan kemampuan yang dimilikinya; Setiap
guru harus mampu melaksanakan prosedur PBK dan pencatatan secara tepat prestasi yang
dicapai siswa.
Selected Response Assessment, termasuk ke dalamnya pilihan ganda (multiple-choice items),
benar-salah (true-false items), menjodohkan atau mencocokkan (matching exercises), dan
isian singkat (short answer fill-in items). Respon terpilih dapat digunakan untuk menilai
aspek pengetahuan, pemikiran, dan afektif.
1. Pilihan ganda (multiple-choice items)
Dalam Arikunto (2005: 164), tes objektif adalah tes yang dalam pemeiksaannya dapat
dilakukan secara objektif. Berikut kebaikan tes objektif:
1. Mengandung lebih banyak segi-segi yang positif, misalnya lebih representative
mewakili isi dan luas bahan
2. Lebih mudah dan cepat cara memeriksanya
3. Pemeriksaan dapat diserahkan orang lain
4. Dalam pemeriksaan tidak ada unsure subjektif
Kelemahan tes objektif:
1. Persapan untukn menyusunnya jauh lebih sulit daripada tes essay
2. Soal-soalnya cendreung mengungkapkan ingatan dan daya pengenalan kembali saa
3. Banyak kesempatan untuk main untung-untungan
4. Kerjasama antar siswa pada waktu mengerjakan soal tes lebih terbuka
Contoh Pilihan ganda (multiple-choice items)
1. Berapakah sudut kemiringan jalan harus didesain agar mobil dapat melaju di
tikungan tanpa tergelincir …

2. a. d.
b. e.
c.
1. Berapakah gaya mendatar F yang harus diberikan ke mobil bermassa M, sehingga
massa m1 dan m2yang dihubungkan oleh seutas tali melalui sebuah katrol ringan
tetap diam terhadap mobil….
2. a.
b.
c.
d.
e.

2. Benar-salah (true-false items)


Dalam Arikunto (2005: 165), soal-soalnya berupa pernyataan-pernyataan (statement).
Orang yang ditanya bertugas untuk menandai masing-masing pernyataann dengan
meligkari huruf B jika pernyataan itu betul menurut pendapatnya dan melingkari jawaban
S jika salah.
Kebaikan tes benar-salah:
1. Dapat mencakup bahan yang luas dan tidak banyak memakan tempat karena
biasanya pertanyaaannya singkat
2. Mudah menyusunnya
3. Dapat digunakan berkali-kali
4. Dapat dilihat secara cepat dan objektif
5. Petunjuk cara mengerjakan mudah dimengerti
Kelemahan tes benar salah:
1. Sering membingungkan
2. Mudah ditebak/didugabanyak masalah yang tidak dapat dinyatakan hanya dua
kemungkinan benar atau salah
3. Hanya dapat mengungkap daya ingat dan pengenalan kembali
Contoh salah satu tes bentuk uraian adalah :
B S : Ibukota Peru berjumlah lima buah.
B S : Manado adalah Ibukota propinsi Sulawesi Utara
3. Menjodohkan atau mencocokkan (matching exercises)
Dalam Arikunto (2005: 172), Matching test dapat diganti dengan istilah
mempertandingkan, mencocokkan, memasangkan atau menjodohkan. Dapat terdiri dari
satu seri pertanyaan dan satu seri jawaban.
Contoh matching exercises:
4. Isian singkat (short answer fill-in items)
Tes bentuk isian dapat digunakan dalam bentuk paragraf-paragraf yang merupakan
rangkaian cerita atau karangan atau berupa satu pernyataan. Beberapa bagian kalimatnya
yang merupakan kata-kata penting telah dikosongkan terlebih dahulu. Tugas peserta tes
adalah mengisi bagian-bagian yang kosong dengan jawaban yang sesuai.
Salah satu contoh tes isian adalah sebagai berikut :
1. Yang merupakan nama asli dari Sultan Hamengkubuwono X adalah …..
2. Para filsuf zaman modern menegaskan bahwa pengetahuan tidak berasal dari kitab
suci atau ajaran agama, tidak juga dari para penguasa, tetapi dari diri manusia
sendiri. Namun tentang aspek mana yang berperan ada beda pendapat. Aliran
……………….. beranggapan bahwa sumber pengetahuan adalah rasio: kebenaran
pasti berasal dari rasio (akal). Aliran ……………, sebaliknya, meyakini pengalamanlah
sumber pengetahuan itu, baik yang batin, maupun yang inderawi. Lalu muncul
aliran ……………. yang mencoba memadukan kedua pendapat berbeda itu.
BAB III
PENUTUP
1. Kesimpulan
Istilah yang lebih sering digunakan untuk respon terpilih adalah “objective paper and pencil
test” atau uji tertulis. Istilah ini dapat menimbulkan kesalahpahaman bahwa penilaian yang
dilakukan tidak melibatkan subjektivitas, bahwa segala sesuatu yang terkait dengannya
bersifat “ilmiah“, dan bahwa ada resiko terjadinya kebiasaan yang disebabkan oleh
pendapat penilai.
Selected Response Assessment, termasuk ke dalamnya pilihan ganda (multiple-choice items),
benar-salah (true-false items), menjodohkan atau mencocokkan (matching exercises), dan
isian singkat (short answer fill-in items). Respon terpilih dapat digunakan untuk menilai
aspek pengetahuan, pemikiran, dan afektif.
B. Saran
Agar semua pendidik lebih memperhatikan bagaimana aturan dalam asesmen SR ini,
sehingga semua bentuk soal dapat lebih terarah dan mudah dimengerti.
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi. (2005). Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta : Erlangga.
Djunaidi Lababa (—-). Tes Prestasi Hasil
Belajar. http://evaluasipendidikan.blogspot.com/2008/03/tes-prestasi-hasil-belajar.html
Edi Hendri Mulyana. Asesmen dalam Pembelajaran Sains SD. http://re-
searchengines.com/0405edi.html