Anda di halaman 1dari 7

NAMA : lucky jati s

NIM : 6211416104

ROMBEL :3

MAKUL : WANITA DAN OLAHRAGA

ARTIKEL PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN GERAK PADA ANAK

Judul : PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN ANAK

Isi : PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN ANAK

Setiap individu dilahirkan di dunia dengan membawa hereditas tertentu yang


diperoleh melalui warisan dari pihak orang tuanyanya yang menyangkut karakteristik fisik
dan psikis atau sifat-sifat mental. Lingkungan (environment) merupakan factor penting di
samping hereditas yang menentukan perkembangan individu yang meliputi fisik, psikis,
social dan relegius.

Pengertian Pertumbuhan dan Perkembangan

Pertumbuhan adalah bertambahnya jumlah dan besarnya sel di seluruh bagian tubuh
yang secara kuantitatif dapat diukur. Sedangkan perkembangan adalah bertambah
sempurnanya fungsi alat tubuh yang dapat dicapai melalui tumbuh, kematangan dan belajar.

Pertumbuhan dan perkembangan berjalan menurut norma-norma tertentu. Walaupun


demikian seorang anak dalam banyak hal tergantung kepada orang dewasa, misalnya
mengkunsumsi makanan, perawatan, bimbingan, perasaana aman, pencegahan penyakit dan
sebaginya. Oleh karena itu semua orang-orang yang mendapat tugas mengawasi anak harus
mengerti persoalan anak yang sedang tumbuh dan berkembang.

Banyak faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan, diantaranya


adalah faktor lingkungan. Bila lingkungan karena suatu hal menjadi buruk, maka keadaan
tersebut hendaknya diubah (dimodifikasi) sehingga pertumbuhan dan perkembangan anak
dapat berjalan dengan sebaik-baiknya.

Teori Pertumbuhan dan Perkembangan

1. Sigmeun Freud (Perkembangan Psychosexual)


 Fase oral (0 – 1 tahun)
Pusat aktivitas yang menyenagka di dalam mulutnya, anak mendapat
kepuasaan saat mendapat ASI, kepuasan bertambah dengan aktifitas mengisap
jari dan tangannya atau benda – benda sekitarnya.
 Fase anal (2 – 3 tahun)
Meliputi retensi dan pengeluaran feces. Pusat kenikmatanya pada anus
saat BAB, waktu yang tepat untuk mengajarkan disiplin dan bertanggung
jawab.
 Fase Urogenital atau faliks (usia 3 – 4 tahun)
Tertarik pada perbedaan antomis laki dan perempuan, ibu menjadi
tokoh sentral bila menghadapi persoalan. Kedekatan ank laki – laki pada
ibunya menimbulkan gairah sexual dan perasaan cinta yang disebut oedipus
compleks.
 Fase latent (4 – 5 tahun sampai masa pubertas )

Masa tenang tetapi anak mengalami perkembangan pesat aspek


motorik dan kognitifnya. Disebut juga fase homosexual alamiah karena anak –
nak mencari teman sesuai jenis kelaminnya, serta mencari figur (role model)
sesuai jenis kelaminnya dari orang dewasa.

 Fase Genitalia
Alat reproduksi sudah muali matang, heteroseksual dan mulai menjalin
hubungan rasa cinta dengan berbeda jenis kelamin.
2. Piaget (Perkembangan Kognitif)
Meliputi kemampuan intelegensi, kemampuan berpersepsi dan kemampuan
mengakses informasi, berfikir logika, memecahkan masalah kompleks menjadi simple
dan memahami ide yang abstrak menjadi konkrit, bagaimana menimbulkan prestasi
dengan kemampuan yang dimiliki anak.
 Tahap sensori – motor (0 – 2 tahun)
Prilaku anak banyak melibatkan motorik, belum terjadi kegiatan
mental yang bersifat simbolis (berfikir). Sekitar usia 18 – 24 bulan anak mulai
bisa melakukan operations, awal kemampuan berfikir.
 Tahap pra operasional (2 – 7 tahun)

Tahap pra konseptual (2 – 4 tahun) anak melihat dunia hanya dalam


hubungan dengan dirinya, pola pikir egosentris. Pola berfikir ada dua yaitu :
transduktif ; anak mendasarkan kesimpulannya pada suatu peristiwa tertentu
(ayam bertelur jadi semua binatang bertelur) atau karena ciri – ciri objek
tertentu (truk dan mobil sama karena punya roda empat). Pola penalaran
sinkretik terjadi bila anak mulai selalu mengubah – ubah kriteria
klasifikasinya. Misal mula – mula ia mengelompokan truk, sedan dan bus
sendiri – sendiri, tapi kemudia mengelompokan mereka berdasarkan
warnanya, lalu berdasarkan besar – kecilnya dst. Tahap intuitif ( 4 – 7 tahun)
Pola fikir berdasar intuitif, penalaran masih kaku, terpusat pada bagian bagian
terentu dari objek dan semata –mata didasarkan atas penampakan objek.

 Tahap operasional konkrit (7 – 12 tahun)


Konversi menunjukan anak mampu menawar satu objek yang diubah
bagaimanapun bentuknya, bila tidak ditambah atau dikurangi maka volumenya
tetap. Seriasi menunjukan anak mampu mengklasifikasikan objek menurut
berbagai macam cirinya seperti : tinggi, besar, kecil, warna, bentuk dst.
 Tahap operasional – formal (mulai usia 12 tahun)
Anak dapat melakukan representasi simbolis tanpa menghadapi objek
– objek yang ia fikirkan. Pola fikir menjadi lebih fleksibel melihat persoalan
dari berbagai sudut yang berbeda.
3. Erikson (Perkembangan Psikososial)
Proses perkembangan psikososial tergantung pada bagaimana individu
menyelesaikan tugas perkembangannya pada tahap itu, yang paling penting adalah
bagaimana memfokuskan diri individu pada penyelesaian konflik yang baik itu
berlawanan atau tidak dengan tugas perkembangannya.
 Trust vs. missstrust ( 0 – 1 tahun)
Kebutuhan rasa aman dan ketidakberdayaannya menyebabkan konflik
basic trust dan mistrust, bila anak mendapatkan rasa amannya maka anak akan
mengembangkan kepercayaan diri terhadap lingkungannya, ibu sangat
berperan penting.
 Autonomy vs shame and doubt ( 2 – 3 tahun)
Organ tubuh lebih matang dan terkoordinasi dengan baik sehingga
terjadi peningkatan keterampilan motorik, anak perlu dukungan, pujian,
pengakuan, perhatian serta dorongan sehingga menimbulkan kepercayaan
terhadap dirinya sebaliknya celaan hanya akan membuat anak bertindak dan
berfikir ragu – ragu. Kedua orang tua objek sosial terdekat dengan anak.
 Initiatif vs Guilty (3 – 6 tahun)
Bila tahap sebelumnya anak mengembangkan rasa percaya diri dan
mandiri, anak akan mengembnagkan kemampuan berinisiatif yaitu perasaan
bebas untuk melalukan sesuatu atas kehendak sendiri. Bila tahap sebelumnya
yang dikembangkan adalah sikap ragu-ragu, maka ia kan selalu merasa
bersalah dan tidak berani mengambil tindakan atas kehendak sendiri.
 Industry vs inferiority (6 – 11 tahun)
Logika anak sudah mulai tumbuh dan anak sudah mulai sekolah,
tuntutan peran dirinya dan bagi orang lain semakin luas sehingga konflik anak
masa ini adalah rasa mampu dan rendah diri. Bila lingkungan ekstern lebih
banyak menghargainya maka akan muncul rasa percaya diri tetapi bila
sebaliknya, anak akan rendah diri.
 Identity vs Role confusion ( mulai 12 tahun)
Anak mulai dihadapkan pada harapan – harapan kelompoknya dan
dorongan yang makin kuat untuk mengenal dirinya sendiri. Ia mulai berfikir
bagaimana masa depannya, anak mulai mencari identitas dirinya serta
perannya, jiak ia berhasil melewati tahap ini maka ia tidak akan bingung
menghadapi perannya
 Intimacy vs Isolation (dewasa awal)
Individu sudah mulai mencari pasangan hidup. Kesiapan membina
hubungan dengan orang lain, perasaan kasih sayang dan keintiman, sedang
yang tidak mampu melakukannya akan mempunyai perasaan terkucil atau
tersaing.
 Generativy vs self absorbtion (dewasa tengah)
Adanya tuntutan untuk membantu orang lain di luar keluarganya,
pengabdian masyarakat dan manusia pada umumnya. Pengalaman di masa lalu
menyebabkan individu mampu berbuat banyak untuk kemanusiaan, khususnya
generasi mendatang tetapi bila tahap – tahap silam, ia memperoleh banyak
pengalaman negatif maka mungkin ia terkurung dalam kebutuhan dan
persoalannya sendiri.
 Ego integrity vs Despair (dewasa lanjut)
Memasuki masa ini, individu akan menengok masa lalu. Kepuasan
akan prestasi, dan tindakan-tindakan dimasa lalu akan menimbbulkan perasaan
puas. Bila ia merasa semuanya belum siap atau gagal akan timbul kekecewaan
yang mendalam.
4. Kohlberg (Perkembangan Moral)
 Pra-konvensional
Mulanya ditandai dengan besarnya pengaruh wawasan kepatuhan dan
hukuman terhadap prilaku anak. Penilaian terhadap prilaku didasarkan atas
akibat sikap yang ditimbulkan oleh prilaku. Dalam tahap selanjutnya anak
mulai menyesuaikan diri dengan harapan – harapan lingkungan untuk
memperoleh hadiah, yaitu senyum, pujian atau benda
 Konvensional
Anak terpaksa menyesuaikan diri dengan harapan lingkungan atau
ketertiban sosial agar disebut anak baik atau anak manis
 Purna konvensional
Anak mulai mengambil keputusan baik dan buruk secara mandiri.
Prinsip pribadi mempunyai peranan penting. Penyesuaian diri terhadap segala
aturan di sekitarnya lebih didasarkan atas penghargaannya serta rasa
hormatnya terhadap orang lain.
5. Hurolck (Perkembangan Emosi)
Menurut Hurlock, masa bayi mempunyai emosi yang berupa kegairahan
umum, sebelum bayi bicara ia sudah mengembangkan emosi heran, malu, gembira,
marah dan takut. Perkembangan emosi sangat dipengaruhi oleh faktor kematangan
dan belajar. Pengalaman emosional sangat tergantung dari seberapa jauh individu
dapat mengerti rangsangan yang diterimanya. Otak yang matang dan pengalaman
belajar memberikan sumbangan yang besar terhadap perkembangan emosi,
selanjutnya perkembngan emosi dipengaruhi oleh harapan orang tua dan lingkungan.
6. Perkembangan Psikososial
Teori perkembangan ini dikemukakan oleh Sigmund Freud. Beliau
mengemukakan bahwa : Di dalam jiwa individu terdapat tiga komponen yaitu :
 Id : nangis, minta minum,makan, dll.
 Ego : lebih rasional, tetapi masa bodoh terhadap lingkungan.
 Super Ego : lebih memikirkan lingkungan.

Perkembangan berhubungan dengan bagian-bagian fungsi tubuh dan


dipandang sebagai aktifitas yang menyenangkan. Insting seksual memainkan peranan
penting dalam perkembangan kepribadian. Menurut Freud perkembangan manusia
terjadi dalam beberapa fase dimana setiap fasenya mempunyai waktu dan ciri-ciri
tertentu dan fase ini berjalan secara kontinyu.
Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak

Proses pertumbuhan dan perkembangan anak, tidak selamanya berjalan sesuai


yang diharapkan. Hal ini disebabkan karena banyak faktor yang mempengaruhinya,
baik faktor yang dapat diubah/dimodifikasi yaitu faktor keturunan, maupun faktor
yang tidak dapat diubah/dimodifikasi yaitu faktor lingkungan. Apabila ada faktor
lingkungan yang menyebabkan gangguan terhadap proses tumbuh kembang anak,
maka faktor tersebut perlu diubah (dimodifikasi).

Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan


anak tersebut adalah sebagai berikut:

a. Faktor Keturunan (herediter)


 Seks
kecepatan pertumbuhan dan perkembangan pada seorang anak wanita
berbeda dengan anak laki-laki
 Ras
Anak keturunan bangsa Eropa lebih tinggi dan besar dibandingkan
dengan anak keturunan bangsa Asia.
b. Faktor Lingkungan
 Lingkungan eksternal
1. Kebudayaan : Kebudayaan suatu daerah akan mempengaruhi
kepercayaan adat kebiasaan dan tingkah laku dalam merawat dan
mendidik anak.
2. Status sosial ekonomi keluarga Keadaan sosial ekonomi keluarga dapat
mempengaruhi pola asuhan terhadap anak. Misalnya orang tua yang
mempunyai pendidikan cukup mudah menerima dan menerapkan ide-
ide utuk pemberian asuhan terhadap anak
3. Nutrisi Untuk tumbuh kembang, anak memerlukan nutrisi yang
adekuat yang didapat dari makan yang bergizi. Kekurangan nutrisi
dapat diakibatkan karena pemasukan nutrisi yang kurang baik kualitas
maupun kuantitas, aktivitas fisik yang terlalu aktif, penyakit-penyakit
fisik yang menyebabkan nafsu makan berkurang, gangguan absorpsi
usus serata keadaan emosi yang menyebabkan berkurangnya nafsu
makan.
4. Penyimpangan dari keadaan normal Disebabkan karena adanya
penyakit atau kecelakaan yang dapat menggangu proses pertumbuhan
dan perkembangan anak.
5. OlahragaOlahraga dapat meningkatkan sirkulasi, aktivitas fisiologi,
dan menstimulasi terhadap perkembangan otot-otot.
6. Urutan anak dalam keluarganya kelahiran anak pertama menjadi pusat
perhatian keluarga, sehingga semua kebutuhan terpenuhi baik fisik,
ekonomi, maupun sosial.
 Lingkungan internal
o IntelegensI
Pada umumnya anak yang mempunyai intelegensi tinggi, perkembangannya
akan lebih baik jika dibandingkan dengan yang mempunyai intelegensi kurang.

o Hormon
Ada tiga hormon yang mempengaruhi pertumbuhan anak yaitu:
somatotropin, hormon yang mempengaruhi jumlah sel untuk merangsang sel otak
pada masa pertumbuhan, berkuragnya hormon ini dapat menyebabkan gigantisme;
hormon tiroid, mempengaruhi pertumbuhan, kurangnya hormon ini apat
menyebabkan kreatinisme; hormon gonadotropin, merangsang testosteron dan
merangsang perkembangan seks laki-laki dan memproduksi spermatozoa. Sedangkan
estrogen merangsang perkembangan seks sekunder wanita dan produksi sel
telur.kekurangan hormon gonadotropin ini dapat menyebabkan terhambatnya
perkembangan seks.
o Emosi
Hubungan yang hangat dengan ornag lain seperti ayah, ibu, saudara, teman
sebaya serta guru akan memberi pengaruh pada perkembangan emosi, sosial dan
intelektual anak. Pada saat anakberinteraksi dengan keluarga maka kan
mempengaruhi interaksi anak di luar rumah. Apabila kebutuhan emosi anak tidak
dapat terpenuhi

Pola Pertumbuhan dan Perkembangan

Pola pertumbuhan dan perkembangan terjadi secara terus menerus. Pola ini dapat
merupakan dasar bagi semua kehidupan manusia, petunjuk urutan dan langkah dalam
perkembangan anak ini sudah ditetapkan tetapi setiap orang mempunyai keunikan secara
individu. Pertumbuhan fisik dapat dilihat secara lebih nyata, namun sebenarnya disertai pula
dengan pertumbuhan psikososial anak dan diikuti dengan hal-hal dibawah ini:

1. Directional Trends : pertumbuhan dan perkembangan berjalan secara teratur,


berhubungan dengan petunjuk atau gradien atau reflek dari perkembangan fisik dan
maturasi dari fungsi neuromuscular. Prinsip-prinsip ini meliputi:
 Cephalocandal atau Head to tail direction (dari arah kepala ke kaki) misalnya:
mengangkat kepala, duduk kemudian mengangkat dada dan menggerakkan
ekstremitas bagian bawah.
 Proximadistal atau near to far direction (menggerakkan anggota gerak yang
paling dekat dengan pusat dan pada anggota gerak yang lebih jauh dari pusat)
misalnya: bahu dulu baru jari-jari
 Mass to specific atau simple to complex (menggerakkan daerah yang lebih
sederhana dulu baru kemudian yang lebih komplex) misalnya: mengangkat nahu
dulu baru kemudian menggerakkan jari – jari yang lebih sulit atau melambaikan
tangan baru bisa memainkan jari.
2. Sequential Trends
Semua dimensi tumbuh kembang dapat diketahui maka sequence dari tumbuh
kembang tersebut dapat diprediksi, dimana hal ini berjalan secara teratur dan
kontinyu. Semua anak yang normal melalui setiap tahap ini. Setiap fase dipengaruhi
oleh fase sebelumnya. Misal : tengkurap – merangkak – berdiri – berjalan.
3. Masa Sensitif
Pada waktu-waktu yang terbatas selama proses tumbuh kembang dimana anak
berinteraksi terutama dengan lingkungan yang ada, kejadian yang spesifik. Masa-
masa tersebut adalah sebagai berikut:
- Masa kritis yaitu masa yang apabila tidak dirangsang/berkembang maka hal ini
tidak akan dapat digantikan pada masa berikutnya
- Masa sensitif mengarah pada perkembangan dan mikroorganisme. Misalnya
pada saat perkembangan otak, ibunya menderita flu maka kemungkinan anak
tersebut akan hydrocepallus/encepalitis.
- Masa optimal yaitu suatu masa diberikan rangsangan optimal maka akan
mencapai puncaknya. Misalnya: anak usia 3 tahun/saat perkembangan otak
dirangsang dengan bacaan-bacaan/gizi yang tinggi, maka anak tersebut dapat
mencapai tahap perkembangan yang optimal. Perkembangan ini berjalan
secara pasti dan tepat, tetapi tidak sama untuk setiap anak. Misalnya:
• ada yang lebih dulu bicar baru jalan atau sebaliknya
• ada yang badannya lebih dulu berkembang kemudian subsistemnya dan
sebaliknya dan sebagainya.

7. PENUTUP
a Kesimpulan

Pertumbuhan adalah bertambahnya jumlah dan besarnya sel di seluruh bagian


tubuh yang secara kuantitatif dapat diukur. Sedangkan perkembangan adalah
bertambah sempurnanya fungsi alat tubuh yang dapat dicapai melalui tumbuh,
kematangan dan belajar. Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi pertumbuhan dan
perkembangan anak tersebut adalah sebagai berikut:

1. Faktor keturunan

2. Faktor lingkungan

b Saran

Perkembangan anak masih sangat dipengaruhi oleh lingkungan keluarga.


Sebagai orang tua harus mengetahui pertumbuhan dan perkembangan anaknya
terutama pada usia ini karena pertumbuhan anak-anak sangat pesat yang harus
diimbangi dengan pemberian nutrisi dan gizi yang seimbang.

Sumber : http://ntb.bkkbn.go.id/_layouts/mobile/dispform.aspx?List=8c526a76-8b88-
44fe-8f81-2085df5b7dc7&View=69dc083c-a8aa-496a-9eb7-b54836a53e40&ID=699